Anda di halaman 1dari 5

Dari artikel penelitian yang ditulis oleh Razi Maulana (2008) mengutip dari sumber

Syahrum et. al. (1994), Greenspan et. al. (1998), dan (Deuster et.,al. (1999), menyatakan bahawa
hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin, yang langsung dialirkan dalam
peredaran darah dan mempengaruhi organ tertentu yang disebut organ target. Hormon-hormon
yang berhubungan dengan siklus menstruasi ialah:
1. GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone) merupakan hormon yang diproduksi oleh
hipotalamus diotak. GNRH akan merangsang pelepasan FSH (folicle stimulating
hormone) di hipofisis. Bila kadar estrogen tinggi, maka estrogen akan memberikan
umpanbalik ke hipotalamus sehingga kadar GNRH akan menjadi rendah, begitupun
sebaliknya. Fungsi dari GnRH:
a. menstibmulasi produksi FSH dan LH
b. mengatur pelepasan FSH dan LH oleh kelenjar hipofisis
2. PIH (prolactine inhibiting hormone)
mengeluarkan prolaktin.

yang

menghambat

hipofisis

untuk

A. Hormon-hormon yang dihasilkan gonadotropin hipofisis meliputi :


1. Luteinizing Hormon (LH)
LH dihasilkan oleh sel-sel asidofilik (afinitas terhadap asam), bersama dengan FSH berfungsi
mematangkan folikel dan sel telur, merangsang terjadinya ovulasi, pembentukan korpus luteum,
serta sintesis steroid seks. Folikel yang melepaskan ovum selama ovulasi disebut korpus rubrum
yang disusun oleh selsel lutein dan disebut korpus. Fungsinya:
Laki-laki: menstimulasi produksi sperma dalam proses spermatogenesis dengan cara
menstimulasi sel intestisial leydig pada testis untuk mensekresikan testosteron
Perempuan: membentuk korpus luteum dari folikel yang telah pecah, dan produksi progesteron
oleh korpus luteum
2. Folikel Stimulating Hormon (FSH)
FSH dihasilkan oleh sel-sel basofilik (afinitas terhadap basa). Hormon ini mempengaruhi
ovarium sehingga dapat berkembang dan berfungsi pada saat pubertas. FSH mengembangkan
folikel primer yang mengandung oosit primer dan keadaan padat (solid) tersebut menjadi folikel
yang menghasilkan estrogen. Fungsinya:
Laki-laki: menstimulasi produksi sperma dengan cara mempengaruhi reseptor testosteron pada
tubulus semineferus
Perempuan: menstimulasi pertumbuhan dan pematangan folikel serta produksi estrogen pada
corpus luteum
3. Prolaktin Releasing Hormon (PRH)
Secara pilogenetis, prolaktin adalah suatu hormon yang sangat tua serta memiliki susunan yang
sama dengan hormon pertumbuhan (Growth hormone, Somatogotropic hormone, thyroid
stmulating hormone, Somatotropin). Secara sinergis dengan estradia, prolaktin mempengaruhi
payudara dan laktasi, serta berperan pada pembentukan dan fungsi korpus luteum.
B. Steroid ovarium

Ovarium menghasilkan progesteron, androgen, dan estrogen. Banyak dari steroid yang
dihasilkan ini juga disekresi oleh kelenjar adrenal atau dapat dibentuk di jaringan perifer melalui
pengubahan prekursor-prekursor steroid lain; konsekuensinya, kadar plasma dari hormonhormon ini tidak dapat langsung mencerminkan aktivitas steroidogenik dari ovarium.

1. Estrogen
Estrogen yang terdapat secara alami adalah 17-estradiol, estron, dan estriol.Zat-zat ini adalah
steroid C18 yang tidak memiliki gugus metil angular.Hormon ini disekresikan terutama oleh sel
granulosa folikel ovarium, korpus luteum, dan plasenta.Biosintesisnya tergantung pada enzim
aromatase (CYP19) yang mengubah testoteron menjadi estradiol dan androstenedion menjadi
estron (dapat juga terjadi di hati, lemak, otot, dan otak).
Fase pubertas terjadi perkembangan sifat seks primer. Kemudian juga terjadi perkembangan sifat
seks sekunder. Selanjutnya akan berlangsung siklus pada uterus, vagina dan kelenjar mammae.
Hal ini disebabkan oleh pengaruh hormon estrogen. Terhadap uterus, hormon estrogen
menyebabkan endometriummengalami proliferasi, yaitu lapisan endometrium berkembang dan
menjadi lebih tebal. Hal ini diikuti dengan lebih banyak kelenjar-kelenjar, pembuluh darah arteri
maupun vena. Hormon estrogen dihasilkan oleh teka interna folikel. Estradiol (E2) merupakan
produk yang paling penting yang disekresi oleh ovarium karena memiliki potensi biologik dan
efek fisiologik yang beragam terhadap jaringan perifer sasaran. Peninggian kadar estradiol
plasma berkorelasi erat dengan peningkatan ukuran folikel pra-ovulasi. Setelah lonjakan LH,
kadar estradiol serum akan mencapai kadar terendah selama beberapa hari dan terjadi
peningkatan kedua kadar estradiol plasma yang akan mencapai puncaknya pada pertengahan fase
luteal, yang akan mencerminkan sekresi estrogen oleh korpus luteum. Studi kateterisasi telah
menunjukkan bahwa peningkatan kadar estradiol plasma pada fase pra-evolusi dan pertengahan
fase luteal dari siklus. Fungsi estrogen:
Uterus dan organ kelamin wanita: ovarium, tuba fallopii, uterus dan vagina, semuanya bertambah
besar. Selain itu, genitalia eksterna bertambah membesar, dengan deposisilemak pada mons
pubis dan labia mayora dan disertai pembesaran labia minora.
Tuba Fallopii: jaringan kelenjar lapisan tersebut berproliferasi, dan yang penting, estrogen
menyebabkan jumlah sel-sel epitel bersilia yang membatasi tuba fallopii bertambah banyak.
Payudara: estrogen menyebabkan (1) perkembangan jaringan stroma payudara, (2) pertumbuhan
sistem duktus yang luas, (3) deposit lemak pada payudara.
Tulang rangka: menghambat aktivitas osteoklastik dan menyebabkan terjadinya penggabungan
epifisis dengan tulang panjang.
Deposisi protein: peningkatan total protein tubuh, yang terbukti adanya keseimbangannitrogen
yang sedikit positif apabaila diberikan estrogen
Metabolisme dan penyimpanan lemak: meningkatkan laju kecepatan metabolismeseluruh tubuh.
Juga meningkatkan jumlah simpanan lemak dalam jaringan subkutan.
Pada distribusi rambut: setelah pubertas akan tumbuh rambut pada aksila dan pubis
Pada kulit: kulita berkembang menjadi tekstur yang halus dan lembut juga lebihvaskular
Keseimbangan elektrolit: terjadinya retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal
2. Progesteron

Progesteron adalah suatu steroid C21


yang disekresi oleh korpus luteum,
plasenta, dan folikel (dalam jumlah
kecil). Kadar progesteron adalah
rendah selama fase folikuler, kurang
dari 1 ng/ml (3,8 nmol/l) dan kadar
progesteron akan mencapai puncak
yaitu antara 10-20 mg/ ml (32-64
nmol) pada pertengahan fase luteal.
Selama fase luteal, hampir semua
progesteron
dalam
sirkulasi
merupakan hasil sekresi langsung
korpus luteum. Pengukuran kadar
progesteron
plasma
banyak
dimanfaatkan untuk memantau ovulasi. Kadar progesteron di atas 4-5 ng/ml (12,7-15.9 nmol/l)
mengisyaratkan bahwa ovulasi telah terjadi. Perkembangan uterus yang sudah dipengaruhi
hormon estrogen selanjutnya dipengaruhi progesteron yang dihasilkan korpus luteum menjadi
stadium sekresi, yang mempersiapkan endometrium mencapai optimal. Kelenjar mensekresi zat
yang berguna untuk makanan dan proteksi terhadap embrio yang akan berimplantasi.
Pembuluh darah akan menjadi lebih panjang dan lebar. Fungsi progesteron:
- Uterus: meningkatkan perubahan sekretorik pada endometrium uterus, selama separuh terakhir
siklus seksual bulanan wanita, sehingga mempersiapkan uterus untuk menerima ovum yang
sudah dibuahi. Selain itu juga fungsinya mengurangi frekuensi dan intensitas kontraksi terus
sehingga membantuk mencegah terlepasnya implant
- Tuba fallopii: meningkatkan sekresi pada mukosa yang membatasi tuba fallopii. Sekresi ini
dibutuhkan untuk nutrisi ovum yang telah dibuahi dan sedang membelah sewaktu ovum
bergerak dalam tuba fallopii sebelum berimplantasi
- Payudara: meningkatkan perkembangan lobulus dan alveoli payudara, sehingga berproliferasi
dan sekretorik
3. Androgen
Androgen merangsang pertumbuhan rambut di daerah aksila dan pubes serta mampu
meningkatkan libido. Androgen terbentuk selama sintesis steroid di ovarium dan adrenal, sebagai
pembekal estrogen. Androgen pada wanita dapat berakibat maskulinisasi, maka pembentukan
yang berlebih akan menyebabkan gangguan yang berarti. Fase folikuler dan fase luteal kadar
rata-rata testosteron plasma berkisar antara 0,2 ng/mg-0,4ng/mg (0,69-1,39 nmol/l) dan sedikit
meningkat pada fase pra-ovulasi.
(Maulana, R., 2008. Hubungan Karakteristik Wanita Usia Produktif dengan Premenstrual
Syndrome (PMS) di Poli Obstetri dan Gynekology BPK RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh
Tahun 2008.)

Faktor-faktor yang Berperan dalam Siklus Menstruasi


Produksi FSH dan LH berada di bawah pengaruh releasing hormone (FSHRH dan LHRH) melalui rangsangan hipotalamus ke hipofisis. Penyaluran RH ini sangat dipengaruhi oleh
mekanisme umpan balik estrogen terhadap hipotalamus. Begitu juga dengan pengaruh dari luar,
seperti cahaya, bau-bauan melalui bulbus olfakorius dan hal-hal psiko logik (Norwitz, 2001).
Faktor-faktor lain yang ikut mempengaruhi termasuk ras, usia menarche ibu, status nutrisi, lemak
tubuh, teman dekat dan iklim. Studi menunjukkan pada level lemak tubuh 17% sangat diperlukan
bagi tubuh untuk memulai menstruasi.
1. Faktor enzim
Dalam fase proliferasi estrogen mempengaruhi tersimpannya enzimenzim hidrolitik
dalam endometrium, serta merangsang pembentukan glikogen dan asam-asam mukopolisakarida.
Zat-zat yang terakhir ini ikut berperan dalam pembangunan endometrium, khususnya dengan
pembentukan stroma di bagian bawahnya. Pada pertengahan fase luteal sintesis
mukopolisakarida terhenti, yang berakibat mempertinggi permeabilitas pembuluh-pembuluh
darah yang sudah berkembang sejak permulaan fase proliferasi. Dengan demikian lebih banyak
zat-zat makanan mengalir ke stroma endometrium sebagai persiapan untuk implantasi ovum
apabila terjadi kehamilan. Jika kehamilan tidak terjadi, maka dengan menurunnya kadar
progesterone, enzim-enzim hidrolitik dilepaskan, karena itu timbul gangguan dalam metabolisme
endometrium yang mengakibatkan regresi endomentrium dan perdarahan.
2. Faktor vaskuler
Mulai fase proliferasi terjadi pembentukan sistem vaskularisasi dalam lapisan fungsional
endometrium. Pada pertumbuhan endometrium ikut tumbuh pula arteri-arteri, vena-vena. Dengan
regresi endometrium timbul statis dalam vena serta saluran-saluran yang menghubungkannya
dengan arteri, dan akhirnya terjadi nekrosis dan perdarahan dengan pembentukan hematom baik
dari arteri maupun dari vena.
3. Faktor prostaglandin
Endometrium mengandung banyak prostaglandin E2 dan F2. dengan desintegrasi
endometrium, prostaglandin terlepas dan menyebabkan berkontraksinya miometrium sebagai
suatu faktor untuk membatasi perdarahan pada haid.
4. Ketidakseimbangan Hormon
Menstruasi iregular dapat disebabkan terlalu banyak atau sedikit hormon, yang dapat
disebabkan oleh masalah tiroid, sindrom polikistik ovarium, obat-obatan, perimenopause, sakit,
gaya hidup, olah raga berlebihan, dan stres.
5. Stress
Beban pikiran sangat berpengaruh terhadap kondisi tubuh, termasuk periode menstruasi.
Kondisi pikiran yang tidak stabil dapat menyebabkan kelenjar adrenal mengeluarkan kortisol.
Hal ini berefek pada estrogen, progesteron dan menurunkan produksi Gonadotropinreleasing
hormone (GnRH)sehingga menghambat terjadinya ovulasi atau menstruasi. Stress menyebabkan

perubahan sistemik dalam tubuh, khususnya system persarafan dalam hipotalamus melalui
perubahan proklatin atau endogen opiat yang d apat memengaruhi elevasi kortisol basal dan
menurunkan hormone lutein (LH) yang menyebabkan amenorrhea.
6. Penyakit
Siklus menstruasi yang tidak teratur dalam waktu lama merupakan tanda-tanda adanya
penyakit pada saluran reproduksi. Misalnya, fibroid, kistas, endometriosis, polip, sindrom
polikistik ovarium, infeksi pada saluran reproduksi maupun kelainan genetik. Adanya penyakitpenyakit endokrin seperti diabetes, hipotiroid, serta hipertiroid yang berhubungan dengan
gangguan menstruasi. Prevalensi amenorrhea dan oligomenorrhea lebih tinggi pada pasien
diabetes. Penyakit polystic ovarium berhubungan dengan obesitas , resistensi insulin, dan
oligomenorrhea . Amenorrhea dan oligome norrhea pada perempuan dengan penyakit polystic
ovarium berhubungan dengan insensitivitas hormone insulin dan menjadikan perempuan tersebut
obesitas . Hipertiroid berhubungan dengan oligomenorrhea dan lebih lanjut menjadi amenorrhea.
Hipotiroid berhubungan dengan polymenorrhea dan menorraghia.
7. Perubahan rutinitas
Perubahan rutinitas dalam hidup dapat berpengaruh pada kondisi fisik. Misalnya, mereka
yang harus berganti jam kerja dari pagi menjadi malam. Hal ini biasa terjadi hingga tubuh
menyesuaikan dengan pola atau rutinitas baru.
8. Gaya hidup dan berat badan
Pilihan gaya hidup termasuk pola makan, mengkonsumsi alkohol, atau pemakai narkoba
mempengaruhi metabolisme progesteron dan estrogen. Terlalu banyak mengkonsumsi kafein dan
rokok serta kelebihan dan kekurangan berat badan juga berpengaruh pada kadarhormonal di
tubuh. Pada kasus tertentu bahkan dapat menghentikan menstruasi (amenorrhea) karena
hipotalamus tidak dapat melepaskan GnRH. Masalah ini biasa terjadi pada wanita yang sangat
sibuk dan atlet.
9. Diet
Diet dapat memengaruhi fungsi menstruasi. Vegetarian berhubungan dengan anovulasi,
penurunan respons hormone pituitary , fase folikel yang pendek, tidak normalnya siklus
menstruasi (kurang dari 10 kali/tahun). Diet rendah lemak berhubungan dengan panjangnya
siklus menstruasi dan periode perdarahan. Diet rendah kalori seperti daging merah dan rendah
lemak berhubungan dengan amenorrhea.
(Wolfenden, Elizabeth M., 2010. Causes of Irregular Menstrual Bleeding. Available from:
http://www.livestrong.com/article/94169-causes-irregularmenstrual-bleeding/)
(Kusmiran, E. 2011. Kesehatan Reproduksi Remaja Dan Wanita. Jakarta: Salemba Medika.)