Anda di halaman 1dari 25

SISTEM REPRODUKSI

FAKULTAS KEDOKTERAAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA Makassar, 27 Maret 2019

LAPORAN KELOMPOK PBL


“Gangguan Haid”

Di susun oleh :
Kelompok 10
NUR KHUSNUL KHATIMAH BANI P (11020150156)
ANDI AYULIA MULFAWATI (11020160010)
JIHAN AINUN HIDAYAH (11020160020)
M. ARIF MUNANDAR K (11020160030)
AINUN (11020160050)
MUSTIKA (11020160060)
SRI NURJANNAH RIFAL (11020160080)
MUHAMMAD AL-QHIDAM (11020160087)
SAYYIDATUL AULIYA (11020160146)
NUR AKHSAN DIANA A.R (11020160160)
MEISY GITA SILVA (11020160161)
Tutor : dr. Dahlia,M.kes,MARS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2019
Skenario 2

Seorang perempuan, berusia 35 tahun, P3A0, datang ke poliklinik dengan keluhan


sering spotting diluar siklus haid dan jika haid meagalami menoragia, riwayat haid
sebelumnya normal dan dari anamnesis juga diketahui pasien adalah akseptor IUD
sejak 2 bulan yang lalu.

A. Kata Kunci
1. Perempuan berusia 35 tahun P3A0
2. keluhan sering spotting diluar siklus haid
3. jika haid meagalami menoragia
4. pasien adalah akseptor IUD sejak 2 bulan yang lalu

B. Pertanyaan

1. Jelaskan fisiologi siklus haid beserta hormon yang berperan?


2. Jelaskan etiologi gangguan haid?
3. Jelaskan klasifikasi pada gangguan haid?
4. Jelaskan patofiologi terjadinya gangguan haid sesuai skenario?
5. Sebutkan langkah-langkah diagnosis pada skenario?
6. Apa penanganan awal pada skenario?
7. Apa presfektif islam yang di berkenaan dengan skenario?
C. Jawaban pertanyaan
1. Jelaskan fisiologi siklus haid beserta hormon yang berperan?
Menstruasi adalah siklus, peluruhan lapisan uterus yang teratur, sebagai
respons terhadap interaksi hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus, hipofisis,
dan ovarium. Siklus menstruasi dapat dibagi menjadi dua fase:
1) Fase folikular atau proliferative
2) Fase luteal atau sekretori.
Panjang siklus menstruasi adalah jumlah hari antara hari pertama
perdarahan menstruasi dari satu siklus hingga awal menstruasi pada siklus
berikutnya. Durasi rata-rata siklus menstruasi adalah 28 hari dengan sebagian
besar panjang siklus antara 25 hingga 30 hari. Pasien yang mengalami siklus
menstruasi yang terjadi pada interval kurang dari 21 hari disebut
polymenorrheic, sedangkan pasien yang mengalami siklus menstruasi
berkepanjangan lebih besar dari 35 hari, disebut oligomenoreheik. Volume
khas darah yang hilang selama menstruasi adalah sekitar 30 mL. Setiap jumlah
yang lebih besar dari 80 mL dianggap abnormal.
HORMON
Hormon disekresikan dengan cara umpan balik negatif dan positif
untuk mengendalikan siklus menstruasi. Sekresi hormon dimulai pada
hipotalamus di mana hormon pelepas gonadotropin (GnRH) disekresikan
dengan cara yang meningkat, pulsatil begitu masa pubertas dimulai. GnRH
kemudian diangkut ke hipofisis anterior di mana ia mengaktifkan reseptor G-
protein 7-transmembrannya. Ini memberikan sinyal ke hipofisis anterior untuk
mengeluarkan hormon folikel perangsang (FSH) dan hormon luteinizing (LH).
FSH dan LH memberikan input ke ovarium. Dalam folikel ovarium, ada 2 jenis
sel yang bertanggung jawab untuk produksi hormon, sel teka, dan sel
granulosa. LH menstimulasi sel teka untuk menghasilkan progesteron dan
androstenedion dengan mengaktifkan enzim, desmolase kolesterol. Setelah
androstenedion disekresikan, hormon berdifusi ke sel granulosa terdekat. Di
sini, FSH menstimulasi sel granulosa untuk mengubah androstenedion menjadi
testosteron kemudian 17-beta-estradiol dengan mengaktifkan enzim,
aromatase. Ketika kadar 17-beta-estradiol atau progesteron meningkat
berdasarkan fase siklus menstruasi, ada umpan balik negatif kembali ke
hipofisis anterior untuk menurunkan kadar FSH dan LH yang diproduksi dan
selanjutnya, tingkat 17-beta-estradiol dan progesteron diproduksi.
Pengecualian untuk hal ini adalah selama ovulasi, dalam kasus ini, setelah
jumlah kritis dari 17-beta-estradiol diproduksi, itu memberikan umpan balik
positif kepada hipofisis anterior untuk menghasilkan peningkatan jumlah FSH
dan LH. Sistem umpan balik ini diwakili dalam gambar 1. Selain itu, dalam
sistem umpan balik, sel-sel granulosa menghasilkan inhibin dan aktivin, yang
masing-masing menghambat dan merangsang pelepasan FSH dari hipofisis
anterior. Mekanisme umpan balik ini dikendalikan dengan meningkatkan,
untuk meningkatkan produksi hormon, atau menurunkan regulasi untuk
menurunkan produksi hormon, reseptor GnRH pada hipofisis anterior.
MEKANISME
1) Fase 1: Follicular, atau Fase Proliferatif

Gambar.1 Siklus Haid

Fase pertama dari siklus menstruasi adalah fase folikuler atau proliferatif.
Ini terjadi dari hari nol hingga hari 14 dari siklus menstruasi, berdasarkan
durasi rata-rata 28 hari. Keragaman panjang siklus menstruasi terjadi karena
variasi panjang fase folikuler. Hormon utama selama fase ini adalah estrogen,
khususnya 17-beta-estradiol. Peningkatan hormon ini terjadi oleh upregulasi
reseptor FSH dalam folikel pada awal siklus. Namun, ketika fase folikuler
berlanjut ke akhir, peningkatan jumlah 17-beta-estradiol akan memberikan
umpan balik negatif ke hipofisis anterior. Tujuan fase ini adalah menumbuhkan
lapisan endometrium rahim. 17-beta-estradiol mencapai ini dengan
meningkatkan pertumbuhan lapisan endometrium rahim, merangsang
peningkatan jumlah stroma dan kelenjar, dan meningkatkan kedalaman arteri
yang memasok endometrium, arteri spiral. Selain itu, fase ini juga penting
untuk menciptakan lingkungan yang ramah dan membantu kemungkinan
sperma yang masuk. 17-beta-estradiol mencapai ini dengan membuat saluran
di dalam leher rahim yang memungkinkan untuk masuknya sperma. Saluran
dibuat dalam perubahan lendir serviks yang melimpah, berair dan elastis.
Selama fase ini, folikel primordial mulai matang menjadi folikel Graafia.
Folikel di sekitarnya mulai mengalami degenerasi yaitu saat folikel Graafia
menjadi folikel yang matang. Ini mengatur folikel untuk ovulasi, langkah
selanjutnya.
Ovulasi
Ovulasi selalu terjadi 14 hari sebelum menstruasi; oleh karena itu,
dengan siklus 28-hari rata-rata, ovulasi terjadi pada hari ke-14. Pada akhir fase
proliferasi, kadar 17-beta-estradiol berada pada level tinggi karena pematangan
folikel dan peningkatan produksi hormon. Selama ini saja, 17-beta-estradiol
memberikan umpan balik positif untuk produksi FSH dan LH. Ini terjadi ketika
tingkat kritis 17-beta-estradiol tercapai, setidaknya 200 pikogram per mililiter
plasma. Tingginya kadar FSH dan LH yang ada selama waktu ini disebut
lonjakan LH. Akibatnya, folikel dewasa pecah, dan oosit dilepaskan.
Perubahan pada serviks seperti yang diinisiasi selama fase folikuler semakin
meningkat sehingga memungkinkan peningkatan lendir serviks yang lebih
berair untuk lebih mengakomodasi kemungkinan sperma. Kadar 17-beta-
estradiol jatuh pada akhir ovulasi.
2) Fase 2: Fase Luteal atau Secretory
Fase berikutnya dari siklus menstruasi adalah fase luteal atau sekretori.
Fase ini selalu terjadi dari hari ke 14 hingga hari ke 28 dari siklus. Progesteron
yang distimulasi oleh LH adalah hormon dominan selama fase ini untuk
mempersiapkan corpus luteum dan endometrium untuk kemungkinan
implantasi sel telur yang dibuahi. Ketika fase luteal berakhir, progesteron akan
memberikan umpan balik negatif ke hipofisis anterior untuk menurunkan kadar
FSH dan LH dan selanjutnya, kadar 17-beta-estradiol dan progesteron. Corpus
luteum adalah struktur yang terbentuk di ovarium di lokasi pecahnya folikel
matang untuk menghasilkan 17-beta-estradiol dan progesteron, yang
mendominasi pada akhir fase karena sistem umpan balik negatif. Endometrium
bersiap dengan meningkatkan suplai pembuluh darahnya dan menstimulasi
lebih banyak sekresi lendir. Hal ini dicapai oleh progesteron yang menstimulasi
endometrium untuk memperlambat proliferasi endometrium, mengurangi
ketebalan lapisan, mengembangkan kelenjar yang lebih kompleks,
mengakumulasi sumber energi dalam bentuk glikogen, dan menyediakan lebih
banyak area permukaan dalam arteri spiral. Berlawanan dengan perubahan
lendir serviks yang terlihat selama fase proliferatif dan ovulasi, progesteron
menurun dan mengental lendir serviks sehingga tidak elastis, karena periode
waktu pembuahan telah lewat, dan pemasukan sperma tidak lagi menjadi
prioritas. Selain itu, progesteron meningkatkan suhu hipotalamus, sehingga
suhu tubuh meningkat selama fase luteal. Menjelang akhir fase sekretori, kadar
17-beta-estradiol dan progesteron dalam plasma diproduksi oleh corpus
luteum. Jika kehamilan terjadi, ovum yang dibuahi ditanamkan di dalam
endometrium, dan corpus luteum akan bertahan dan mempertahankan kadar
hormon. Namun, jika tidak ada sel telur yang dibuahi ditanamkan, maka corpus
luteum mengalami kemunduran, dan kadar serum 17-beta-estradiol dan
progesteron menurun dengan cepat.
Haid
Ketika kadar hormon menurun, lapisan endometrium seperti yang telah diubah
sepanjang siklus menstruasi tidak dapat dipertahankan. Ini disebut mens,
dianggap sebagai hari ke 0 hingga siklus 5 dari siklus menstruasi berikutnya.
Durasi menstruasi bervariasi. Mens atau perdarahan menstruasi adalah ketika
ada peluruhan lapisan endometrium dan darahnya. Untuk melanjutkan proses
siklus menstruasi, folikel primordial mulai berkembang dan memulai fase
folikel lagi dengan harapan kehamilan.
Siklus menstruasi biasanya paling tidak teratur di sekitar ekstrem
kehidupan reproduksi ( menarche dan menopause) karena anovulasi dan
perkembangan folikel yang tidak adekuat. Fase luteal dari siklus relatif konstan
pada semua wanita, dengan durasi 14 hari. Variabilitas dari panjang siklus
biasanya berasal dari berbagai panjang siklus.
Fase folikel dapat berkisar dari 10 hingga 16 hari. Fase folikuler dimulai
dari hari pertama menstruasi hingga ovulasi. Temperatur yang lebih rendah
pada bagan suhu tubuh basal, dan yang lebih penting, perkembangan folikel
ovarium, mencirikan fase ini. Folliculogenesis dimulai selama beberapa hari
terakhir dari siklus menstruasi sebelumnya sampai pelepasan folikel dewasa
saat ovulasi.

Gambar.2 Penurunan Produksi Steroid

Penurunan produksi steroid oleh corpus luteum dan penurunan dramatis


inhibin A memungkinkan kenaikan hormon perangsang folikel (FSH) selama
beberapa hari terakhir dari siklus menstruasi (Gbr. 2). Faktor lain yang
berpengaruh pada tingkat FSH pada fase luteal akhir terkait dengan
peningkatan sekresi pulsatil GnRH sekunder akibat penurunan kadar estradiol
dan progesteron. Peningkatan FSH ini memungkinkan untuk perekrutan kohort
folikel ovarium di setiap ovarium, salah satunya ditakdirkan untuk berovulasi
selama siklus menstruasi berikutnya. Begitu menstruasi terjadi, kadar FSH
mulai menurun karena umpan balik negatif dari estrogen dan efek negatif dari
inhibin B yang dihasilkan oleh folikel yang sedang berkembang (Gbr.2). FSH
mengaktifkan enzim aromatase dalam sel granulosa, yang mengubah androgen
menjadi estrogen. Penurunan kadar FSH menyebabkan produksi lingkungan
mikro yang lebih androgenik dalam folikel yang berdekatan dengan folikel
dominan yang tumbuh. Juga, sel-sel granulosa dari folikel yang tumbuh
mengeluarkan berbagai peptida yang dapat memainkan peran autokrin /
parakrin dalam menghambat perkembangan folikel yang berdekatan.
Selama fase folikuler, kadar estradiol serum meningkat secara paralel
dengan pertumbuhan ukuran folikel serta peningkatan jumlah sel granulosa.
Reseptor FSH ada secara eksklusif pada membran sel granulosa. Peningkatan
kadar FSH selama fase luteal akhir menyebabkan peningkatan jumlah reseptor
FSH dan akhirnya peningkatan sekresi estradiol oleh sel granulosa. Penting
untuk dicatat bahwa peningkatan jumlah reseptor FSH disebabkan oleh
peningkatan populasi sel granulosa dan bukan karena peningkatan konsentrasi
reseptor FSH per sel granulosa. Setiap sel granulosa memiliki sekitar 1500
reseptor FSH pada tahap sekunder perkembangan folikel dan jumlah reseptor
FSH relatif konstan untuk sisa perkembangan. Peningkatan sekresi estradiol
tampaknya meningkatkan jumlah total reseptor estradiol pada sel granulosa. Di
hadapan estradiol, FSH menstimulasi pembentukan reseptor LH pada sel
granulosa yang memungkinkan sekresi sejumlah kecil progesteron dan 17-
hidroksiprogesteron (17-OHP) yang dapat memberikan umpan balik positif
pada hipofisis yang diprioritaskan estrogen untuk meningkatkan hormon
luteinizing (LH). FSH juga menstimulasi beberapa enzim steroidogenik
termasuk aromatase, dan 3β-hydroxysteroid dehydrogenase (3β-HSD).
Berbeda dengan sel granulosa, reseptor LH terletak pada sel teka selama
semua tahap siklus menstruasi. LH terutama merangsang produksi
androstenedion, dan pada tingkat yang lebih rendah produksi testosteron dalam
sel teka. Pada manusia, androstenedion kemudian diangkut ke sel-sel granulosa
di mana aromatized menjadi estrone dan akhirnya dikonversi menjadi estradiol
oleh 17-β-hydroxysteroid dehydrogenase tipe I. Ini dikenal sebagai hipotesis
dua sel, dua-gonadotropin dari regulasi estrogen. sintesis dalam ovarium
manusia.
Fase Luteal
Fase ini biasanya 14 hari panjang pada kebanyakan wanita. Setelah
ovulasi, sel-sel granulosa yang tersisa yang tidak dilepaskan dengan oosit terus
membesar, menjadi vakuolat dalam penampilan, dan mulai menumpuk pigmen
kuning yang disebut lutein. Sel granulosa luteinized bergabung dengan sel
theca-lutein yang baru terbentuk dan stroma di sekitar ovarium untuk menjadi
apa yang dikenal sebagai corpus luteum. Corpus luteum adalah organ endokrin
transien yang sebagian besar mensekresi progesteron, dan fungsi utamanya
adalah mempersiapkan endometrium prima estrogen untuk implantasi sel telur
yang dibuahi. Lamina basal larut dan kapiler menyerang ke dalam lapisan sel
granulosa sebagai respons terhadap sekresi faktor angiogenik oleh granulosa
dan sel thecal.
Delapan atau sembilan hari setelah ovulasi, kira-kira sekitar waktu
implantasi yang diharapkan, puncak vaskularisasi tercapai. Rongga sentral
corpus luteum juga dapat terakumulasi dengan darah dan menjadi hemoragik
corpus luteum. Masa hidup corpus luteum tergantung pada dukungan LH yang
berkelanjutan. Fungsi Corpus luteum menurun pada akhir fase luteal kecuali
human chorionic gonadotropin (HCG) diproduksi oleh kehamilan. Jika
kehamilan tidak terjadi, corpus luteum mengalami luteolisis di bawah pengaruh
estradiol dan prostaglandin dan membentuk jaringan parut yang disebut corpus
albicans.

Referensi :
Reed, Beverly G., and Bruce R. Carr. "The normal menstrual cycle and the control
of ovulation." Endotext [Internet]. MDText. com, Inc., 2015.
Thiyagarajan, Dhanalakshmi K., and Rebecca Jeanmonod. "Physiology, Menstrual
Cycle." StatPearls [Internet]. StatPearls Publishing, 2018.

2. Jelaskan etiologi gangguan haid?


Kompartemen I: Gangguan pada uterus
1. Sindrom Asherman

Pada sindrom Asherman, amenore sekunder terjadi setelah kerusakan


endometrium. Umumnya hal ini disebabkan kuretase berlebihan yang kemudian
menghasilkan jaringan parut intrauterin. Pola yang khas yaitu sinekia multipel yang
tampak pada histerogram. Diagnosis dengan histeroskopi lebih akurat karena dapat
mendeteksi perlekatan minimal yang tidak tampak pada histerogram. Perlekatan
dapat terjadi secara sebagian atau seluruh- nya menutup rongga endometrium atau
kanalis servikalis. Sindrom Asherman dapat juga terjadi setelah pembedahan
uterus, meliputi seksio saesaria atau miomektomi. Pasien dengan sindrom
Asherman dapat memiliki masalah lain selain amenore, termasuk keguguran dan
dismenore. Pasien dengan abortus berulang, infertilitas, atau kegagalan kehamilan
harus menjalani pemeriksaan rongga endometrium dengan histerogram atau
histeroskopi. Terapi sindrom Asherman meliputi dilatasi dan kuretase untuk
melepaskan sinekia dan bila diperlukan dapat dilakukan histerogram untuk
memastikan rongga uterus telah bebas dari sinekia. Histeros- kopi dengan
melisiskan secara langsung perlekatan, memberikan hasil yang lebih baik daripada
dilatasi dan kuretase “buta”. Untuk mencegah rongga uterus dari perlekatan
digunakan kateter Folley intra uterin.

Kompartemen II: Gangguan pada ovarium


2. Tumor ovarium
Amenorea yang terjadi dapat disebabkan oleh tumor ovarium yang tidak
memroduksi hormon maupun oleh tumor ovarium yang memroduksi hormon.
Tumor ovarium yang tidak memroduksi hormon akan merusak seluruh jaringan
ovarium. Hormon yang diproduksi oleh tumor ovarium ialah androgen dan
estrogen. Androgen yang tinggi menekan sekresi gonadotropin, sehingga
menyebabkan amenorea, hirsutisme, hipertrofi klitoris, perubahan suara, dan akne.
Tumor yang memroduksi estrogen jarang menyebabkan amenorea, namun sering
terjadi perdarahan yang memanjang akibat hiperplasia endometrium.
3. Kegagalan ovarium dini/premature ovarian failure (POF)
Sekitar 1% wanita akan mengalami kegagalan ovarium dini (deplesi dini dari
folikel ovarium) sebelum usia 40 tahun. Etiologi dari kegagalan ovarium dini pada
sebagian besar kasus belum diketahui dan lebih sering terjadi pada keluarga yang
memiliki sindrom X fragil; hal ini berguna bila kegagalan ovarium dini familial
diidentifikasi. Perlu ditekankan bahwa pembawa mutasi X fragil ialah pada
peningkatan risiko untuk kegagalan ovarium dini. Gangguan autosomal dominan
yaitu sindrom blefaro-fimosis (kelainan kelopak mata), telah diidentifi- kasi
berhubungan dengan kegagalan ovarium dini, yang disebabkan oeh mutasi dalam
gen faktor transkripsi (FOXL2) pada kromosom 3. Selain itu, kegagalan ovarium
dini dapat disebabkan oleh destruksi folikel karena infeksi, misalnya ooforitis
gondok, atau kerusakan fisik (misalnya radiasi atau kemoterapi).
4. Sindroma ovarium polikistik (SOPK)
Sindrom ovarium polikistik adalah suatu anovulasi kronik yang menyebabkan
infertilitas dan bersifat hiperandrogenik, di mana terjadi gangguan hubungan
umpan balik antara pusat (hipotalamus-hipofisis) dan ovarium sehingga kadar
estrogen selalu tinggi yang berakibat tidak pernah terjadi kenaikan kadar FSH yang
cukup adekuat.
Gambaran klinis SOPK sangat bervariasi, tetapi secara umum dapat dijumpai
gangguan menstruasi dan gejala hiperandrogenisme. Keadaan klinis yang
ditemukan ialah gangguan menstruasi dengan siklus menstruasi tidak teratur atau
tidak menstruasi sama sekali, terkadang disertai terjadinya perdarahan uterus
disfungsional. Gejala hiperandrogenisme berupa hirsutisme, kelainan seboroik
pada kulit dan rambut serta kebotakan dengan pola seperti yang ditemukan pada
pria. Tes laboratorium yang dilakukan berupa tes hormonal, tidak saja penting
untuk diagnosis tetapi juga sangat penting untuk melihat kelainan secara
keseluruhan. Kelainan endokrin yang ditemukan ialah peningkatan konsentrasi LH
dan aktivitas androgen yaitu testosteron dan androste- nedion. Pada pemeriksaan
ultrasonografi transvaginal didapatkan gambaran lebih dari 10 kista pada salah satu
ovarium dengan ukuran <1 cm.
Kompartemen III: Gangguan pada hipofisis anterior
5. Sindrom Sheehan
Penyebab terbanyak amenorea karena gangguan di hipofisis ialah sindrom
Sheehan yang terjadi akibat adanya iskemik atau nekrosis adenohipofisis. Kelainan
ini sering dijumpai pada postpartum dengan perdarahan banyak. Perlu diketahui,
bahwa adenohipofisis sangat sensitif dalam kehamilan. Gejala baru muncul bila 3⁄4
dari adenohipofisis mengalami kerusakan. Bila hal ini terjadi, maka semua hormon
yang dihasilkan oleh adenohipofisis akan mengalami gangguan.
6. Amenorea galaktorea
Pada wanita dengan oligomenore, amenore, galaktorea atau infertilitas, harus
diperiksa kadar prolaktin serum. Hiper-prolaktinemia diperkirakan terjadi pada 9%
wanita dengan amenore, 25% wanita dengan galaktorea, dan 70% wanita dengan
amenore dan galaktorea. Prolaktin merupa- kan hormon yang diproduksi oleh sel-
sel laktotrof yang terletak di bagian distal lobus anterior hipofisis. Pengeluaran
prolaktin dihambat oleh prolactin inhibiting factor (PIF) yang identik dengan
dopamin. Bila PIF ini tidak berfungsi, atau produksinya berkurang maka akan
terjadi hiperprolaktinemia. Tidak berfungsinya PIF dapat disebabkan oleh:
gangguan di hipotalamus; obat-obatan (psikofarmaka, estrogen, domperidon,
simetidin); kerusakan pada sistem portal hipofisis; dan tumor hipofisis yang
menghasilkan prolaktin (prolaktinoma), hipertiroid, dan akromegali.
Hiperprolaktinemia mengakibatkan reaksi umpan balik terhadap hipotalamus,
sehingga terbentuk dopamin dalam jumlah besar yang akan menghambat
pengeluaran gonadotropin-releasing hormone (GnRH) dan dengan sendirinya akan
terjadi penurunan sekresi FSH dan LH. Hiperprolaktinemia juga menyebabkan
penurunan sensitivitas ovarium terhadap FSH dan LH, memicu produksi asi, serta
memicu sintesis androgen suprarenal.
Pada hiperprolaktinemia didapatkan kadar prolaktin yang tinggi di dalam darah
(normal 5-25 ng/ml). Bila didapatkan kadar prolaktin yang tinggi harus dicari ada
tidaknya prolaktinoma dengan mengguna- kan MRI atau CT scan. Umumnya
terjadi gangguan haid mulai dari oligomenorea sampai amenorea yang sangat
bergantung dari kadar prolaktin serum. Kadar prolaktin >100 ng/ml selalu
menyebabkan amenorea. Hiperprolaktinemia mengakibatkan timbul- nya gangguan
pada pertumbuhan folikel, sehingga ovulasi tidak terjadi. Kadang- kadang pasien
mengeluh sakit kepala yang disertai dengan amenorea, serta gangguan penglihatan.
Bila hal ini ditemukan maka harus dipikirkan adanya prolaktinoma.
Kompartemen IV: Gangguan pada sistem saraf pusat
7. Amenore hipotalamik
Gangguan hipotalamus didiagnosis dengan menyingkirkan lesi hipofisis.
Gangguan ini sering berhubungan dengan keadaan yang penuh dengan tekanan.
Penyebab fungsional yang paling sering ditemukan berupa gangguan psikis.
Gangguan fungsional seperti ini paling banyak dijumpai pada wanita pengungsi,
dipenjara, sering mengalami stres, atau hidup dalam ketakutan. Pasien dengn
amenore hipotalamik (hipogonadotropin hipogonadisme) memiliki defisiensi dari
sekresi pulsatil GnRH. Tingkat penekanan GnRH menentukan bagaimana klinis
pasien ini. Penekanan ringan dapat berhubungan dengan efek marginal dari
reprofuksi, khususnya fase luteal yang tidak adekuat. Penekanan sedang dapat
menghasilkan anovulasi dengan ketidak- teraturan menstruasi, dan penekanan
yang kuat bermanifestasi sebagai amenore hipotalamik.
8. Anoreksia nervosa dan bulimia
Wanita yang mengalami gangguan pola makan seperti anoreksia nervosa dan
bulimia dapat menyebabkan gangguan psikis, dan neurotik, sehingga dapat terjadi
kerusakan organ (atrofi). Bila kerusakan tersebut mengenai hipotalamus, maka
dengan sendirinya hipotalamus tidak dapat lagi memroduksi GnRH. Pengeluaran
FSH dan LH dari hipofisis pun berhenti. Akibatmya pematangan folikel dan ovulasi
di ovarium tidak terjadi. Anoreksia nervosa diagnosis bila ditemukan gejala berikut:
a) Onset antara usia 10 dan 30 tahun.

b) Penurunan berat badan sebanyak 25% atau 15% di bawah normal untuk usia

dan tinggi badan.


c) Kelakuan khusus: penyangkalan, gambar tubuh yang berubah, perlakuan

yang tidak biasa terhadap makanan.


d) Sedikitnya satu dari berikut ini: rambut halus (lanugo), bradikardi,

overaktivitas, episode makan berlebihan (bulimia), muntah, yang dapat


diinduksi oleh diri sendiri. 5. Amenore.
e) Tidak ada penyakit medis yang diketahui.

f) Tidak ada kelainan psikiatrik lain

Bulimia merupakan sebuah sindrom yang ditandai dengan makan berlebihan


yang episodik dan diikuti dengan induksi muntah, puasa, dan penggunaan laksatif
dan diuretik, bahkan enema. Tampaknya ini merupakan permasalahan yang
berkembang pada wanita muda. Perilaku bulimik sering tampak pada pasien dengan
anoreksia nervosa. Pasien dengan bulimia memiliki insidensi gejala depresif yang
tinggi atau gangguan kecemasan. Baik anoreksia nervosa maupun bulimia menetap
sebagai masalah kronis yang berjangka waktu lama yang ditemukan pada 50%
kasus.
9. Olah raga dan amenore
Atlet wanita dengan olahraga yang penuh tekanan memiliki peningkatan
insidensi bermakna dari ketidakteraturan menstruasi dan amenore akibat efek
penekanan hipotalamus. Bila latihan dimulai sebelum menarke, menarke dapat
tertunda hingga 2-3 tahun, dan insidensi berikutnya dari ketidakteraturan
menstruasi lebih tinggi. Olahraga menurunkan gonado- tropin dan meningkatkan
prolaktin, hormon pertumbuhan, testosteron, ACTH, steroid adrenal, dan endorfin
sebagai akibat dari sekresi yang meningkat maupun bersihan yang berkurang.

Hormon yang melepaskan kortiko- tropin (CRH) secara langsung menghambat


sekresi GnRH hipotalamik, mungkin dengan meningkatkan sekresi opioid endogen.
Wanita dengan amenore hipo- talamik (termasuk olahragawan dan wanita dengan
gangguan pola makan) memper- lihatkan hiperkortisolisme (karena peningkatan
CRH dan ACTH), yang menunjukkan bahwa ini merupakan jalur dimana tekanan
mengganggu fungsi reproduktif. Atlet amenore yang memiliki kadar kortisol
kembali ke rentang normal memperoleh kembali fungsi menstrual dalam 6 bulan,
kebalikan dengan atlet yang mempertahankan kadar kortisol yang meningkat dan
terus mengalami amenore.

Terdapat beberapa perbedaan penting antara reaksi anorektik dan anoreksia


nervosa sejati. Pasien dengan anoreksia nervosa sejati memiliki persepsi yang salah
tentang realitas dan kurang kesadaran diri terhadap penyakit dan masalahnya
sedangkan pasien dengan reaksi anorektik memiliki kemampuan untuk menilai diri
sendiri. Atlet wanita yang bertanding dapat mengalami reaksi anorektik mereka
dengan sengaja berusaha untuk mengurangi berat badan. Seorang dokter harus
waspada akan masalah ini dan akan ditemui oleh pasien karena keluhan yang terjadi
baik amenore maupun penurunan berat badan yang tidak terkontrol lagi.

Referensi : Suparman E. 2016. Amenorea sekunder tinjauan dan diagnosis


:Universitas Sam Ratulangi .Manado.hal 145-148

3. Jelaskan klasifikasi pada gangguan haid?


Gangguan siklus haid
a. Polimenorea
Siklus haid lebih pendek dari normal, yaitu kurang dari 21 hari, perdarahan
kurang lebih sama atau lebih banyak daripada haid normal.Penyebabnya adalah
gangguan hormonal, kongesti ovarium karena peradangan, endometriosis, dan lai-
lain.Pada gangguan hormonal terjadi gangguan ovulasi yang menyebabkan
pendeknya masa luteal. Diagnosis dan pengobatan membutuhkan pemeriksaan
hormonal dan laboratorium lain.
b. Oligomenorea
Siklus haid lebih panjang dari normal, yaitu lebih dari 35 hari, dengan
perdarahan yang lebih sedikit. Umumnya pada kasus ini kesehatan penderita tidak
terganggu dan fertilitas cukup baik.3
c. Amenorea
Keadaan dimana tidak adanya haid selama minimal 3 bulan berturut-
turut.Amenorea dibagi menjadi 2, yaitu amenorea primer dan sekunder.Amenorea
primer ialah kondisi dimana seorang perempuan berumur 18 tahun atau lebih tidak
pernah haid, umumnya dihubungkan dengan kelainan-kelainan kongenital dan
genetik.Amenorea sekunder adalah kondisi dimana seorang pernah mendapatkan
haid, tetapi kemudian tidak mendapatkan haid, biasanya merujuk pada gangguan
gizi, gangguan metabolisme, tumor, penyakit infeksi, dan lain-lain. Ada pula
amenorea fisiologis yaitu masa sebelum pubertas, masa kehamilan, masa laktasi,
dan setelah menopause.
Gangguan volume dan lama haid
1) Hipermenorea (menoragia)
Merupakan perdarahan haid yang lebih banyak dari normal, atau lebih lama
dari 8 hari.Penyebab kelainan ini terdapat pada kondisi dalam uterus.Biasanya
dihubungkan dengan adanya mioma uteri dengan permukaan endometrium yang
lebih luas dan gangguan kontraktilitas, polip endometrium, gangguan peluruhan
endometrium, dan sebagainya. Terapi kelainan ini ialah terapi pada penyebab
utama.
2) Hipomenorea
Merupakan perdarahan haid yang lebih pendek dan atau lebih sedikit dari
normal.Penyebabnya adalah terdapat pada konstitusi penderita, kondisi uterus,
gangguan endokrin, dan lain-lain.Terapi hipomenorea adalah bersifat psikologis
untuk menenangkan penderita, kecuali bila sudah didapatkan penyebab nyata
lainnya. Kondisi ini tidak memperngaruhi fertilitas.

Referensi : Kusmiran E.2013. Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita.


Jakarta:Salemba Medika
3) Jelaskan patofiologi terjadinya gangguan haid sesuai skenario?
Patofisiologi Menoragia
Menoragia adalah perdarahan yang terjadi pada masa menstruasi dengan
jumlah yang banyak dapat disertai gumpalan darah bahkan disertai dismenorhea.
menoragia adalah perdarahan haid yang jumlah total darahnya melebihi 80 ml
dalam satu siklus, dan durasi lebih dari 7 hari, untuk frekuensi ganti pembalut dapat
lebih dari 2-5 kali dalam sehari. Penyebab menoragia sangat dipengaruhi kondisi
dalam uterus. Yang berkaitan dengan fibrin dan platelet yang mempengaruhi proses
pembekuan darah. Hal ini dapat terjadi apabila terdapat gangguan pembekuan
darah, misalnya pada penyakit von Willebrands dan trombositopenia. Dapat pula
disebabkan karena adanya adanya polip, mioma, dan hiperplasia endometrium.
Kondisi yang paling sering menyebabkan menoragia karena mioma uteri.
Selebihnya dari tiga kejadian tersebut dapat disebabkan oleh kelainan
endokrinologik. Penyakit lain yang mungkin untuk menyebabkan terjadinya
perdarahan abnormal adalah kelainan ginjal atau kelainan pada hati. Apabila
menoragia berlangsung secara terus-menerus dapat pula disebabkan oleh karena
penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR). Berdasarkan penyebab
tersebut, Menoragia terjadi akibat adanya mioma uteri, polip endometrium dan atau
hiperplasia endometrium menyebabkan terganggunya kontraktilitas otot rahim,
serta permukaan endometrium lebih lebar sehingga pembuluh darah membesar
serta beresiko mengalami nekrosis sehingga perdarahan akan terjadi.
Perubahan siklus menstruasi umumnya terjadi pada responden yang
menggunakan kontrasepsi IUD. Perubahan siklus tersebut terjadi pada 3 bulan
pertama dan akan mengalami penurunan setelah 3 bulan selanjutnya. Perubahan
siklus yang terjadI diakibatkan karena rusaknya protein dikarenakan oleh beberapa
enzim. Selain itu, enzim tersebut juga mengakibatkan terjadinya penghancuran
bekuan darah yang terkumpul di endometrium. Menurut penelitian Zannah, dkk.
(2011), bahwa setelah melakukan pemasangan kontrasepsi IUD terdapat 3
responden dari beberapa responden mengalami perubahan siklus menstruasi berupa
lebih lamanya waktu menstruasi di setiap bulannya, seperti waktu menstruasi yang
sebelumnya hanya sekitar 4 sampai 5 hari menjadi berkisar 7 hari.
Referensi :
Wiknjosastro, Hanifa. 2011. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo

Kusuma,N. Hubungan antara metode dan lama pamakaian dengan keluhan


kesehatan subyektif pada akseptor.Universitas Airlangga.Surabaya.Jawa
timur.2016

4. Sebutkan langkah-langkah diagnosis pada skenario?


Anamnesi dan Pemeriksaan Fisik
Pada anamnesis perlu diketahui usia menarke, frekuensi, durasi, dan sifat
perdarahan. Riwayat perdarahan pada keluarga termasuk riwayat perdarahan
postpartum penting diketahui untuk mencari kelainan perdarahan pada keturunan.
Anamnesis mengenai riwayat penggunaan obat-obat dan kontrasepsi hormonal juga
perlu ditanyakan.
Pemeriksaan fisik harus sebaiknya dilakukan walaupun sebagian besar
kasus normal. Takikardi dan hipotensi dapat memberikan petunjuk ketidakstabilan
hemodinamik akut yang memerlukan intervensi cepat. Adanya takikardia,
penampilan pucat, atau bunyi bising pada auskultasi jantung mengarah pada
anemia. Petekia atau memar yang berlebihan dapat mengarah pada defek platelet
atau kelainan perdarahan lainnya. Pemeriksaan inspeksi pada genitalia cukup untuk
menegakkan diagnosis pada kebanyakan pasien. Pemeriksaan bimanual dan
spekulum disarankan pada pasien yang aktif secara seksual atau pada pasien yang
tidak mengalami respon terhadap terapi.
Evaluasi laboratorium
Evaluasi laboratorium direkomendasi-kan pada pasien dengan PUA.
Seluruh pasien dengan kelainan pada pemeriksaan darah awal atau hasil positif pada
kelainan pembekuan darah sebaiknya dilakukan pemeriksaan penyakit von
Willebrand dan kelainan koagulopati lainnya termasuk faktor VIII, antigen faktor
von Willebrand dan aktivitas kofaktor ristocetin von Willebrand. Pemeriksaan
kelainan tiroid, kelainan hati, sepsis atau leukemia diindikasikan bila ditemukan
gejala klinis.
Pada pasien dengan keluhan perdarahan yang dinilai dalam batas normal,
pemeriksaan hemoglobin telah cukup untuk mendeteksi anemia. Pemeriksaan darah
lengkap dengan hitung diferensiasi sel darah putih dan hitung platelet sebaiknya
dilakukan pada pasien yang anamnesis dan pemeriksaan fisiknya mengarah pada
HMB dan anemia.

Referensi : John J. E. Wantania.2016. Perdarahan uterus abnormal - menoragia pada


masa remaja. Bagian SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas KedokteranUniversitas Sam
Ratulangi.

5. Apa penanganan awal pada skenario?


a. Perdarahan irreguler, dapat dalam bentuk metroragia, menometroragia,
oligomenorea, brakimenorea memiliki penanganan yang hampir sama,
yaitu:
1) Kombinasi esterogen progestin
Berikan pil kontrasepsi kombinasi dosis 1 x 1 tablet sehari, diberikan
secara siklik selama 3 bulan.
2) Progestin
Bila terdapat kontraindikasi pemakaian pil kontrasepsi kombinasi,
dapat diberi progestin misalnya: MPA 10 mg 1x1 tablet per hari.
Pengobatan dilakukan selama 14 hari dan dihentikan selama 14 hari.
Pengobatan progestin diulang selama 3 bulan.
Bila pengobatan medikamentosa gagal sebaiknya dipertimbangkan untuk
dirujuk ke tempat pengobatan dengan fasilitas yang lebih lengkap.
Pemakaian USG transvagina atau infus salin sonohisterografi dilakukan
untuk menndeteksi mioma uteri dan polip endometrium. Kegagalan terapi
medikamentosa bisa menjadi pertimbangan untuk melakukan tindakan
bedah, misalnya ablasi endometrium, reseksi histeroskopi, dan
histerektomi.
b. Menoragia. Pengobatan medikamentosa untuk menoragia dapat dilakukan
seperti dibawah ini, yaitu:
1) Kombinasi esterogen progestin
Tata cara pengobatan sesuai pada pengobatan perdarahan ireguler.
2) Prgestin
Diberikan bila terdapat kontraindikasi pemakaian esterogen. Tata cara
pengobatan sesuai pada pengobatan perdarahan ireguler.
3) NSAID (Obat anti inflamasi nonsteroid)
Asam mefenamat diberikan dengan dosis 250 -500 mg 2 -4 kali sehari.
Ibuprofen diberikan dengan dosis 600 – 1.200 mg per hari. NSAID dapat
memperbaiki hemostasis endometrium dan mampu menurunkan jumlah
darah haid 20 -50%. Efek samping secara umum adalah dapat
menimbulkan keluhan gastrointestinal dan merupakan konraindikasi
pada perempuan dengan ulkus peptikum.
4) Antifibrinolisis
Dapat diberikan traneksamat yang bekerja menghambat plasminogen
secara reversibel dan bila diberikan saat haid mampu menurunkan
jumlah perdarahan %. Efek sampingnya adalah keluhan gastrointestinal
dan tromboemboli.
c. Dismenorea
1) NSAID (Obat anti inflamasi nonsteroid)
NSAID adalah terapi awal yang sering digunakan untuk disminorea.
nSAID mempunyai efek anlgetik yang secara langsung menghambat
sintesis prostaglandi dan menekan jumlah darah haid yang keluar. Studi
buta ganda mebadingkan penggunaan melosikam dengan mefenamat
memberikan hasil yang sama untuk mengataasi keluhan disminorea.
2) Pil kontrasepsi kombinasi
Bekerja dengan cara mencegah ovulasi dan pertumbuhan endometrium
sehingga mengurangi jumlah darah hadi dan sekresi prostaglandin serta
kram uterus. Penggunaan pil kontrasepsi kombinasi sangat efektif
menguraangi disminorea dan sekaligus membuat siklus haid menjadi
teratur.
3) Progestin
Progestin dapat digunakan untuk pengobatan dismenorea, misalnya
medroksi progesteron asetat (MPA) 5 mg atau didrogesteron 2 x 10 mg
mulai haid hari ke-5 sampai 25.
Bila penggunaan obat tersebut gagal mengatasi nyeri hadi sebaiknya
pertibangkan untuk mencari penyebab dismenorea sekunder.

Referensi : Prawihardjo, Sarwono. 2011. Ilmu Kandungan, edisi ketiga.


Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo.

d. Apa presfektif islam yang di berkenaan dengan skenario?


Haid
Menurut bahasa, haid berarti sesuatu yang mengalir. Dan menurut arti syara’ ialah
darah yang terjadi pada wanita secara alami, bukan karena suatu sebab, dan pada
waktu tertentu.
Hadist tentang Haid:
Dalil pertama:
Firman Allah subhaanahu wa ta’aala :
[ ‫تقربوهن وال المحيض في النساء فاعتزلوا أذى هو قل المحيض عن ویسألونك‬
‫] یطـهرن حتى‬
“ Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah : “ haid itu adalah suatu
kotoran”, oleh sebab itu , hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu
haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci…” (QS. Al
Baqarah : 222)
Dalam ayat ini, yang dijadikan Allah sebagai batas akhir larangan adalah
kesucian, bukan berlalunya sehari semalam, atau tiga hari, ataupun lima belas hari.
Hal ini menunjukkan bahwa illat ( alasan ) hukumnya(larangan menjauhui istri)
adalah haid, yakni ada atau tidaknya. Jadi, jika ada haid berlakulah hukum itu dan
jika telah suci ( tidak haid) tidak berlaku lagi hukum-hukum haid tersebut.
Dalil kedua :
Diriwayatkan dalam shahih Muslim bahwa Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi
wa sallam bersabda kepada Aisyah yang mendapatkan haid ketika dalam keadaan
Ihram untuk umrah :

‫تطهري حتى بالبيت تطوفي ال أن غير الحاج یفعل ما افعلي‬

“lakukankanlah apa yang dilakukan jamaah haji, hanya saja jangan melakukan
thawaf di Ka’bah sebelum kamu suci”( HR. Muslim :4/ 30)
Kata Aisyah: “ Setelah masuk hari raya kurban, barulah aku suci”.
Dalam shahih Al- Bukhari, diriwayatkan bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam
bersabda kepada Aisyah :
" ‫انتظري‬، ‫" التنعيم إلى فاخرجي طهرت فإذا‬
“Tunggulah, jika kamu suci, maka keluarlah ke tan’im”.
Dalam hadits ini, yang dijadikan Nabi ‘alaihi wa sallam sebagai batas akhir
larangan adalah kesucian, bukan suatu masa tertentu, ini menunjukkan bahwa
hukum tersebut berkaitan dengan haid, yakni ada dan tidaknya.
Istihadhah
Istihadhah adalah keluarnya darah terus menerus pada seorang wanita tanpa henti
sama sekali atau berhenti sebentar seperti sehari atau dua hari dalam sebulan.
Dalil kondisi pertama, yakni keluarnya darah terus menerus tanpa henti sama sekali,
hadits riwayat Al Bukhari dari Aisyah Radhiayallahu ‘anha bahwa Fathimah binti
Abu Hubaisy berkata kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam :
" ‫أستحاض إني هللاا رسول یا‬. ‫ روایة وفي‬: ‫" أطهر فال أستحاض‬
“ Ya rasulullah , sungguh aku istihadhah (tak pernah suci) Dalam riwayat lain :
Aku mengalami istihadhah, maka tak pernah suci”.
Dalam kondisi kedua, yakni darah tidak berhenti kecuali sebentar, hadits dari
Hamnah binti Jahsy ketika datang kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan
berkata :
‫تحسينه البخاري وعن تصحيحه أحمد اإلمام عن ونقل وصححه والترمذي‬. " ‫أستحاض إني هللاا رسول یا‬
‫داود وأبو أحمد رواه " شدیدة آبيرة حيضة‬
“Ya Rasulullah, sungguh aku sedang mengalami Istihadhah yang deras sekali” (
HR. Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi dengan menyatakan shahih, disebutkan
pula bahwa hadits ini menurut Imam Ahmad shahih, sedang menurut Al Baihaqi
hasan.
Hadist tentang istihadhah:

:‫ت‬ْ َ‫ فَقَال‬- ‫سلَّ َم‬ َّ ‫ص َّلى‬


َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ -‫ي‬ ْ ‫سأ َ َل‬
َّ ‫ت النَّ ِب‬ َ :‫اط َمةَ ِب ْنت أَ ِبي ُح َبي ٍْش‬
ِ َ‫ «أ َ َّن ف‬- ‫َّللاُ َع ْن َها‬
َّ ‫ي‬ َ ‫ض‬ ِ ‫ َر‬- َ‫شة‬َ ‫َعا ِئ‬ ‫َع ْن‬
ِ ‫ص َالة َ قَد َْر ْال َی َِّام الَّتِي ُك ْن‬
‫ت‬ َّ ‫ َولَ ِك ْن دَ ِعي ال‬،‫إن ذَلِكَ ِع ْر ٌق‬ َّ ‫ َال‬:َ‫ص َالة َ؟ قَال‬ َّ ‫ع ال‬ ُ َ‫ أَفَأَد‬،‫ط ُه ُر‬ ُ ‫أ ُ ْست َ َح‬
ْ َ ‫اض فَ َال أ‬ ‫إنِِّي‬
‫ص ِلِّي‬
َ ‫ ث ُ َّم ا ْغتَ ِس ِلي َو‬،‫يضينَ فِي َها‬ِ ‫ت َِح‬
dari 'Aisyah 'anha, ia berkata: "Fathimah binti Abi Hubaisy bertanya kepada Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Wahai Rasulullah, aku terkena istihadhah, sehingga
aku tidak bersuci, apakah aku harus meninggalkan shalat? ' Maka beliau bersabda,
" "Jangan, karena itu hanyalah darah penyakit. Akan tetapi tinggalkanlah shalat
selama masa haidmu, setelah itu mandi dan kerjakanlah shalat." [HR. Al-Bukhari
dan Muslim]

َ ‫ فَإِذَا ذَه‬،‫ص َالة َ فِي َها‬


‫َب قَد ُْرهَا فَا ْغ ِس ِلي َع ْنك الد ََّم‬ َ ‫ت ْال َح ْي‬
َّ ‫ فَاتْ ُر ِكي ال‬:ُ‫ضة‬ َ ‫ت ِب ْال َح ْي‬
ْ َ‫ فَإِذَا أ َ ْق َبل‬،‫ض ِة‬ َ ‫َوفِي ِر َوا َی ٍة " َو َل ْي‬
ْ ‫س‬
‫ص ِِّلي‬َ ‫و‬.
َ

Dalam riwayat yang lain: "itu bukanlah darah haid. Apabila datang masa haid,
hendaklah kamu meninggalkan shalat. Apabila telah berlalu masa-masa haidnya,
hendaklah kamu mandi dan mendirikan shalat." (HR. Al-Bukhrari)

Makna Dan Faedah Hadist :


1) Ada perbedaan antara darah haid dan darah istihadhah. Adapun darah
istihadzah adalah darah yang keluar kapan saja, sedangkan darah haid hanya
keluar pada waktu tertentu.
2) Darah istihadhah jika menimpa wanita, maka tidak menghalanginya untuk
mengerjakan shalat, atau ibadah yang lainnya, karena hukum wanita
mustahadhah (yang tertimpa istihadhah) adalah suci.
3) Adapun darah haid jika menimpa wanita maka menghalanginya utk
melakukan shalat dan tidak perlu mengantinya.
4) Darah Haid najis maka wajib dicuci.
5) Orang yang terus menerus mengeluarkan darah istihadzah tidak wajib
mandi tiap-tiap masuk waktu shalat, ini karena tidak adanya dalil yang
shahih yang menunjukan perintah
DAFTAR PUSTAKA
1. Reed, Beverly G., and Bruce R. Carr. "The normal menstrual cycle and the
control of ovulation." Endotext [Internet]. MDText. com, Inc., 2015.
2. Thiyagarajan, Dhanalakshmi K., and Rebecca Jeanmonod. "Physiology,
Menstrual Cycle." StatPearls [Internet]. StatPearls Publishing, 2018.
3. Suparman E. 2016. Amenorea sekunder tinjauan dan diagnosis :Universitas
Sam Ratulangi .Manado.hal 145-148
4. Wiknjosastro, Hanifa. 2011. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo
5. Kusuma,N. Hubungan antara metode dan lama pamakaian dengan keluhan
kesehatan subyektif pada akseptor.Universitas Airlangga.Surabaya.Jawa
timur.2016
6. Referensi : Prawihardjo, Sarwono. 2011. Ilmu Kandungan, edisi ketiga.
Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo.
7. John J. E. Wantania.2016. Perdarahan uterus abnormal - menoragia pada masa
remaja. Bagian SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas KedokteranUniversitas
Sam Ratulangi.
8. Kusmiran E.2013. Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita.
Jakarta:Salemba Medika