Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PENDAHULUAN

Keadaan demam sejak zaman hipocrates sudah diketahui sebagai pertanda penyakit.
Demam pada umumnya dapat dartikan suhu tubuh diatas 37,2C dan hiperpireksia jika suhu
tubuh sampai setinggi 41,2C atau lebih. Suhu pasien biasanya diukur dengan termometer air
raksa dan tempat pengambilannya dapat di aksila, oral, atau rektum. Dalam keadaan biasa
perbedaan ini berkisar sekitar 0,5C, suhu rektal lebih tinggi daripada suhu oral. Beberapa tipe
demam yang dijumpai antara lain demam septik, demam remitten, demam intermitten, demam
kontinyu dan demam siklik. Suatu tipe demam kadang-kadang dapat dihubungkan dengan suatu
penyakit tertentu, misalnya tipe demam intermitten untuk malaria. Keluhan demam mungkin
dapat dihubungkan dengan suatu sebab yang jelas, seperti misalnya: abses, pneumonia, infeksi
saluran kemih atau malaria, tetapi kadang-kadang sama sekali tidak dapat dihubungkan dengan
suatu sebab yang jelas. Kausa demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan
toksemia, karena keganasan atau reksi terhadap pemakaian obat. Juga gangguan pada pusat
regulasi suhu sentral dapat menyebabkan peninggian temperatur seperti heat stroke, perdarahan
otak, koma atau gangguan sentral lainnya. Oleh karena itu, dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut
dalam upaya penegakkan diagnosis penyebab demam.
Salah satu penyakit yang menyebabkan demam adalah pneumonia. Pneumonia adalah
infeksi saluran napas bawah akut yang menimbulkan angka kesakitan dan kematian tinggi serta
kerugian produktivitas kerja. Pnemonia menyerang bagian parenkim paru, distal dari bronkiolus
terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius