Anda di halaman 1dari 620

Transparansi dan Publikasi Laporan

Bank

DISCLAIMER
Isi kodifikasi ini adalah himpunan peraturan Bank Indonesia yang disusun secara sistematis
berdasarkan kelompok dan topik tertentu untuk memudahkan pembaca memahami peraturan
dan menelusuri rekam jejak keberlakuan suatu peraturan Bank Indonesia. Penyusunan kodifikasi
ini telah melalui proses pemeriksaan dan editing terkait keakuratan dan kelengkapan peraturan
yang dikodifikasikan. Namun demikian mengingat bahwa peraturan Bank Indonesia dapat
berubah dari waktu ke waktu, maka setiap akses dan penggunaan atas kodifikasi ini agar
dilakukan secara bijaksana dengan memperhatikan tanggal unggah dan sumber orisinal dari
masing-masing peraturan Bank Indonesia yang dirujuk.1

1
Peraturan Bank Indonesia dapat diakses pada situs resmi Bank Indonesia http://www.bi.go.id/ atau melalui fasilitas
pencarian peraturan pada situs resmi Bank Indonesia (http://www.bi.go.id/web/id/Peraturan/Search/).

KodiifikasiP
Peratu
uranBaankInd
donesiaa

Lik
kuiiditasR
Rup
piah
h

Tra
anspa
aran
nsida
anPu
ublik
kasi
Lap
poran
nBank

TimPeny
yusun
RamlanG
Ginting
C
ChandraM
Murniadi
DudyIsk
kandar
GaantiahWuryandani
Zu
ulkarnainS
Sitompul
SitiAsttiyah
WahyuYu
uwana
KomalaDewi
W
WirzaAyuN
Novriana
RiskaRossdiana
S
SafyraPrim
madhyta

PusatRisetd
danEdukasiBankSentraal(PRES)
BankIndoneesia
Telp:02129
9817321
Fax.:02123
311580
email:PRES@
@bi.go.id
HakCipta
2013,BankIndonesia

2013

LikuiditasRupiahTransparansidanPublikasiLaporanBank

DAFTARISI

Paragraf
DaftarIsi
RekamJejakRegulasiTransparansidanPublikasiLaporanBank
DasarHukum
RegulasiTerkait
RegulasiBankIndonesia

TransparansidanPublikasiLaporanBank
KetentuanUmum
LaporanTahunan
LaporanKeuanganPublikasiTriwulanan
LaporanKeuanganPublikasiBulanan
LaporanKeuanganKonsolidasi
LaporanKeuanganKonsolidasiyangDisajikanpadaLaporanTahunan
LaporanKeuanganKonsolidasiyangDisajikan pada LaporanKeuangan
PublikasiTriwulanan
LaporanTertentukepadaBankIndonesia

LaporanPublikasiLain
LainLain
PelaksanaanPedomanAkuntansiPerbankanIndonesia
PelaksanaanPedomanAkuntansiPerbankanSyariah

Sanksi
SanksiLaporanTahunan
SanksiLaporanKeuanganTahunandanLaporanKeuanganPublikasi
Triwulanan
SanksiLaporanKeuanganPublikasiBulanan
SanksiLaporanKeuanganKonsolidasi
SanksiLaporanPublikasiLain

Halaman
Hal.ixiv
Hal.xv
Hal.xvi
Hal.xvi
Hal.xvixvii

Par.12
Par.36
Par.714
Par.1517
Par.1824

Hal.15
Hal.624
Hal.2434
Hal.3436
Hal.3642

Par.1920
Par.21

Hal.3739
Hal.39 40

Par.2224

Hal.4042

Par.2526
Par.2732

Hal.4243
Hal.4348

Par.31
Par.32

Hal.4445
Hal.4548

Par.3339

Hal.4851

Par.3335

Hal.4849

Par.36
Par.37
Par.38
Par.39

Hal.5051
Hal.51
Hal.51
Hal.51

Par.4047
Par.48

Hal.5165
Hal.6568

Par.48

Hal.6568

Par.4950
Par.5155
Par.5663
Par.6467
Par.68
Par.69
Par.7072

Hal.6869
Hal.6976
Hal.7683
Hal.8386
Hal.86
Hal.8687
Hal.8794

Par.7071
Par.7273

Hal.8789
Hal.8994

TransparansiKondisiKeuanganBank
HubunganantaraBank,AkuntanPublik,danBankIndonesia
Sanksi
SanksibagiAkuntanPublikdanKantorAkuntanPublik

TransparansiKondisiKeuanganBankPerkreditanRakyat
KetentuanUmum
LaporanTahunan
LaporanKeuanganPublikasi
HubunganAntaraBPR,AkuntanPublik,danBankIndonesia
TanggungJawabLaporanKeuangan
KeadaanMemaksa
Sanksi
LaporanTahunan
LaporanKeuanganPublikasi

LikuiditasRupiahTransparansidanPublikasiLaporanBank

HubunganantaraAkuntanPublikdanKantorAkuntanPublik

LainLain
KetentuanPenutup

Par.7475

Hal.94

Par.7678
Par.7980

Hal.9496
Hal.96

TransparansiKondisiKeuanganBankPerkreditanRakyatSyariah
KetentuanUmum
LaporanTahunan
LaporanKeuanganPublikasiTriwulanan
HubunganantaraBPRS,AkuntanPublik,DewanPengawasSyariahdan
BankIndonesia
LaporanKeuanganKonsolidasian
TanggungJawabLaporanKeuangan
PedomanAkuntansiPerbankanSyariah
Sanksi
LaporanTahunan
LaporanKeuanganPublikasi
AkuntanPublikdanKantorAkuntanPublik

Par.8182
Par.8386
Par.8791
Par.9295

Hal.9697
Hal.98101
Hal.101105
Hal.105108

Par.9697
Par.98
Par.99
Par.100103

Hal.108
Hal.108
Hal.108
Hal.109111

Par.100101
Par.102
Par.103

Lainlain
KeadaanMemaksa(ForceMajeure)

Par.104105
Par.106

Lampiran

Lampiran1PedomanAkuntansiPerbankanSyariahIndonesiaTahun2013

BagianIPendahuluan

I.1LatarBelakang

I.2AsasdanKarakteristikTransaksiSyariah

Hal.109
Hal.109110
Hal.110111

Hal.111
Hal.111112

Hal.113350
Hal.114122
Hal.114115
Hal.116120

A. AsasTransaksiSyariah

Hal.116118

B. KarakteristikTransaksiSyariah

Hal.119120

Hal.120121

Hal.120

I.3TujuandanRuangLingkup

A. Tujuan

B. RuangLingkup

I.4AcuanPenyusunan

I.5KetentuanLain

BagianIILaporanKeuanganBankSyariah

II.1KetentuanUmumLaporanKeuangan

A. TujuanLaporanKeuangan

B. TanggungJawabatasLaporanKeuangan

C. KomponenLaporanKeuangan

D. BahasaLaporanKeuangan

E. MataUangFungsionaldanPelaporan

F. KebijakanAkuntansi

G. Penyajian

H. KonsistensiPenyajian

I. MaterialitasdanAgregasi

J. SalingHapus

K. PeriodePelaporan

L. InformasiKomparatif

Hal.121
Hal.121
Hal.122

Hal.123138
Hal.123129
Hal.123
Hal.123
Hal.123124
Hal.124
Hal.124
Hal.124125
Hal.125
Hal.126
Hal.126
Hal.126
Hal.127
Hal.127

ii

LikuiditasRupiahTransparansidanPublikasiLaporanBank

M. LaporanKeuanganInterim

Hal.128

N. LaporanKeuanganKonsolidasian

Hal.128129

II.2KeterbatasanLaporanKeuangan

Hal.130

II.3MetodePencatatanTransaksiMataUangAsing

Hal.131138

Hal.139150

BagianIIIKeterterapanPSAK50,55,dan60

III.1DefinisiInstrumenKeuangan

III.2Klasifikasi

A. AsetKeuangan

B. LiabilitasKeuangan

III.3PengakuandanPengukuran

A. PengakuandanPenghentianPengakuan

B. Pengukuran

C. PenurunanNilai

D. NilaiWajar
III.4EstimasiPenurunanNilaiKolektifdenganKeterbatasanPengalamanKerugian
Spesifik

A. Cakupan

Hal.139140
Hal.141142
Hal.141142
Hal.142
Hal.143146
Hal.143
Hal.143144
Hal.144145
Hal.145146
Hal.147150

Hal.147

B. Penerapan

Hal.147148

C. KondisiKeterbatasan

Hal.149

D. PeriodePenerapanEstimasi

Hal.150

E. Pengungkapan

Hal.150

Hal.151177

IV.1Murabahah

Hal.151165

A. Definisi

Hal.151

B. DasarPengaturan

Hal.151

C. Penjelasan

Hal.151157

D. PerlakuanAkuntansi

Hal.157

Hal.157159

BagianIVAkadJualBeli

D.1.PengakuandanPengukuran

D.2.Penyajian

Hal.159160

Hal.160164

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

Hal.164165

Hal.166171

Hal.168169

IV.2Istishna

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran
D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

IV.3.Salam

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran

Hal.166
Hal.166
Hal.166168
Hal.168170

Hal.169170

Hal.170171

Hal.171
Hal.172175
Hal.172
Hal.172
Hal.172173
Hal.173174
Hal.173174

iii

LikuiditasRupiahTransparansidanPublikasiLaporanBank

D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

Hal.174

Hal.174175

E.1.BankSebagaiPembeli

Hal.174

E.2.BankSebagaiPenjual

Hal.174175

Hal.175

F. Pengungkapan

IV.4.Persediaan

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran

D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal
F. Pengungkapan

BagianVAkadBagiHasil
V.1.PembiayaandanMudharabah

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran
D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

V.2.PembiayaanMusyarakah

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran

D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

V.3.DanaSyirkahTemporer

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran

D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal
F. Pengungkapan

BagianVIAkadSewa
VI.1IjarahatasAsetBerwujud

A. Definisi

B. DasarPengaturan

Hal.176177
Hal.176
Hal.176
Hal.176
Hal.177
Hal.177
Hal.177

Hal.177
Hal.177

Hal.178192

Hal.178182
Hal.178
Hal.178
Hal.178179
Hal.180
Hal.180
Hal.180

Hal.181
Hal.181182
Hal.183187
Hal.183
Hal.183
Hal.183184
Hal.184185
Hal.184185
Hal.185

Hal.185186
Hal.186187
Hal.188192
Hal.188
Hal.188
Hal.188189
Hal.189190
Hal.189190
Hal.190

Hal.190191
Hal.191192

Hal.193202
Hal.193199
Hal.193
Hal.193

iv

LikuiditasRupiahTransparansidanPublikasiLaporanBank

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran

D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal
F. Pengungkapan
VI.2IjarahatasJasa

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran
D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

BagianVIIAkadPinjamanQardh
VII.1PinjamanQardhyangDiberikan

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran

D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

VII.2PinjamanQardhyangDiterima

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran
D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

BagianVIIISuratBerharga

VIII.1InvestasipadaSuratBerharga

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

C.1.InvestasipadaSukukdanSuratBerhargaLainyangSejenis

C.2.InvestasipadaReksadanaSyariah

C.3.TagihanReverseRepoSyariah

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran

D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

Hal.193195
Hal.195196
Hal.195196
Hal.196

Hal.197198
Hal.198199
Hal.200202
Hal.200
Hal.200
Hal.200
Hal.200201
Hal.200
Hal.200201

Hal.201202
Hal.202

Hal.203207
Hal.203205
Hal.203
Hal.203
Hal.203204
Hal.204
Hal.204
Hal.204

Hal.204205
Hal.205
Hal.206207
Hal.206
Hal.206
Hal.206
Hal.206
Hal.206
Hal.206

Hal.206207
Hal.207

Hal.208225
Hal.208216
Hal.208
Hal.208
Hal.208
Hal.208210
Hal.210
Hal.210211

Hal.211212
Hal.211212
Hal.212

Hal.211212

LikuiditasRupiahTransparansidanPublikasiLaporanBank

E.1.SukukdalamKategoriDiukurpadaNilaiWajar

E.2.SukukdalamKategoriBiayaPerolehan
E.3.ReksadanaSyariahdalamKategoriDiukurpadaNIlaiWajarmelaluiLaba
Rugi

E.4.ReksadanaSyariahdalamKategoriTersediauntukDijual

E.5.TagihanReverseRepoSyariah

F. Pengungkapan
VIII.2.Penyertaan

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran

D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

VIII.3.SuratBerhargayangDiterbitkan

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran

D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

E.1.SuratBerhargadenganAkadIjarahdanAkadLain

E.2.SuratBerhargadenganAkadMudharabahdanMusyarakah

F. Pengungkapan

BagianIXPenempatanpadaBankIndonesiadanBankLain
IX.1.Kas

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran
D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

IX.2.PenempatanpadaBankIndonesia

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran

D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

Hal.212213

Hal.214

Hal.213214

Hal.214215
Hal.215

Hal.215216
Hal.217221
Hal.217
Hal.217
Hal.217219
Hal.219
Hal.219
Hal.219

Hal.219220
Hal.220221
Hal.222225
Hal.222
Hal.222
Hal.222
Hal.222223
Hal.222223
Hal.223

Hal.223224
Hal.223224
Hal.224

Hal.225

Hal.226236
Hal.226227
Hal.226
Hal.226
Hal.226
Hal.227
Hal.227
Hal.227

Hal.227
Hal.227
Hal.228230
Hal.228
Hal.228
Hal.228229
Hal.229
Hal.229
Hal.229

Hal.229230
Hal.230

vi

LikuiditasRupiahTransparansidanPublikasiLaporanBank

IX.3.PenempatanpadaBankLain

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran

D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

IX.4.SimpanandariBankLain

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran

D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal
F. Pengungkapan

BagianXAsetTetap,AsetTidakBerwujud,danAsetyangDiambilalih
X.1.AsetTetap

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan
D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran
D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

X.2.AsetTidakBerwujud

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

X.3.AsetyangDiambilalih

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran
D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

BagianXILiabilitasLain
XI.1.Simpanan

Hal.231234
Hal.231
Hal.231
Hal.231
Hal.231232
Hal.231232
Hal.232

Hal.232233
Hal.233234
Hal.235236
Hal.235
Hal.235
Hal.235
Hal.235236
Hal.235236
Hal.236

Hal.236
Hal.236

Hal.237254
Hal.237247
Hal.237
Hal.237
Hal.237243
Hal.243244
Hal.243244
Hal.244

Hal.244245
Hal.245247

Hal.248251

Hal.248
Hal.248
Hal.248249
Hal.249
Hal.249
Hal.249251
Hal.252254
Hal.252
Hal.252
Hal.252
Hal.252253
Hal.252
Hal.253

Hal.253
Hal.253254

Hal.255269
Hal.255256

vii

LikuiditasRupiahTransparansidanPublikasiLaporanBank

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran
D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

XI.2.LiabilitasSegera

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran

D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

XI.3.LiabilitasLainnya

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran

D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal
F. Pengungkapan
XI.4.HutangPajak

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran

D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

XI.5.EstimasiKerugianKomitmendanKontinjensi

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran
D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

G. KetentuanLainlain

XI.6.PinjamanSubordinasi

Hal.255
Hal.255
Hal.255
Hal.255256
Hal.255256
Hal.256

Hal.256
Hal.256
Hal.257259
Hal.257
Hal.257
Hal.257
Hal.257
Hal.257
Hal.257

Hal.258259
Hal.259
Hal.260261
Hal.260
Hal.260
Hal.260
Hal.260261
Hal.260261
Hal.261

Hal.261
Hal.261
Hal.262263
Hal.262
Hal.262
Hal.262
Hal.262
Hal.262
Hal.262

Hal.263
Hal.263
Hal.264266
Hal.264
Hal.264
Hal.264
Hal.264265
Hal.264265
Hal.265

Hal.265266
Hal.266
Hal.266
Hal.267269

viii

LikuiditasRupiahTransparansidanPublikasiLaporanBank

A. Definisi

B. DasarPengaturan

C. Penjelasan

D. PerlakuanAkuntansi

D.1.PengakuandanPengukuran
D.2.Penyajian

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

G. KetentuanLainlain

BagianXIIEkspordanImpor
XII.1.TagihandanKewajibanAkseptasi

Hal.267
Hal.267
Hal.267268
Hal.268
Hal.268
Hal.268

Hal.268269
Hal.269
Hal.269

Hal.270305
Hal.270305

A. Definisi

Hal.270271

B. DasarPengaturan

Hal.271273

C. Penjelasan

Hal.273281

D. PengakuandanPengukuran

Hal.281287

D.1.PengakuandanPengukuran

Hal.281285

D.2.Penyajian

Hal.286287

E. IlustrasiJurnal

Hal.287304

F. Pengungkapan

Hal.304305

G. KetentuanLainlain

Hal.305

Hal.306320

BagianXIIIEkuitas

XIII.1.Ekuitas

A. Ekuitas
XIII.2.ModalDisetor

Hal.306

Hal.306

Hal.307310
Hal.307

A. Definisi

B. DasarPengaturan

Hal.307

C. Penjelasan

Hal.307

D. PerlakuanAkuntansi

Hal.308309

D.1.PengakuandanPengukuran

Hal.308

Hal.308309

E. IlustrasiJurnal

Hal.309

F. Pengungkapan

Hal.309310

G. KetentuanLainlain

Hal.310

D.2.Penyajian

Hal.311315

XIII.3.TambahanModalDisetor
A. Definisi

Hal.311

B. DasarPengaturan

Hal.311

C. Penjelasan

Hal.311312

D. PerlakuanAkuntansi

Hal.313

D.1.PengakuandanPengukuran

Hal.313

D.2.Penyajian

Hal.313

E. IlustrasiJurnal

Hal.313314

F. Pengungkapan

Hal.314315

Hal.316317

XIII.4.PenghasilanKomprehensifLain

A. Definisi

Hal.316

B. DasarPengaturan

Hal.316

C. Penjelasan

Hal.316

ix

LikuiditasRupiahTransparansidanPublikasiLaporanBank

D. PerlakuanAkuntansi

Hal.316

E. IlustrasiJurnal

Hal.317

F. Pengungkapan

Hal.317

XIII.5.SaldoLaba

Hal.318320

A. Definisi

Hal.318

B. DasarPengaturan

Hal.318

C. Penjelasan

Hal.318

D. PerlakuanAkuntansi

Hal.319

E. IlustrasiJurnal

Hal.319

F. Pengungkapan

Hal.319320

Hal.321330

BagianXIVLaporanLabaRugiKomprehensif

XIV.1.Pengertian

Hal.321322

XIV.2.KomponenLabaRugi

Hal.323326

A. Definisi

Hal.323

B. DasarPengaturan

Hal.323

C. Penjelasan

Hal.323324

D. PerlakuanAkuntansi

Hal.325326

E. IlustrasiJurnal

Hal.326

F. Pengungkapan

Hal.326

Hal.327330
Hal.327

XIV.3.KomponenPenghasilanKomprehensifLain

A. Definisi

B. DasarPengaturan

Hal.327

C. Penjelasan

Hal.327328

D. PerlakuanAkuntansi

Hal.328329

E. IlustrasiJurnal

Hal.329329

F. Pengungkapan

Hal.330

Hal.331332

BagianXVLaporanPerubahanEkuitas

A. Definisi

Hal.331

B. DasarPengaturan

Hal.331

C. Penjelasan

BagianXVILaporanArusKas

Hal.331332

Hal.333336

A. Definisi

Hal.333

B. DasarPengaturan

Hal.333

C. Penjelasan

BagianXVIILaporanRekonsiliasiPendapatandanBagiHasil

Hal.333336

Hal.337340

A. Definisi

Hal.337

B. DasarPengaturan

Hal.337

C. Penjelasan

Hal.337339

D. Pengungkapan

Hal.340

Hal.341343
Hal.341

BagianXVIIILaporanSumberdanPenyaluranDanaZakat

A. Definisi

B. DasarPengaturan

Hal.341

C. Penjelasan

Hal.341342

D. PerlakuanAkuntansi

Hal.342

E. IlustrasiJurnal

Hal.342

F. Pengungkapan

Hal.342343

LikuiditasRupiahTransparansidanPublikasiLaporanBank

BagianXIXLaporanSumberdanPenggunaanDanaKebajikan

Hal.344346

A. Definisi

Hal.344

B. DasarPengaturan

Hal.344

C. Penjelasan

Hal.344345

D. PerlakuanAkuntansi

Hal.345

E. IlustrasiJurnal

F. Pengungkapan

Hal.346

Hal.347350
Hal.347

BagianXXCatatanAtasLaporanKeuangan

Hal.345346

A. Definisi

B. DasarPengaturan

Hal.347

C. Penjelasan

Hal.347350

Lampiran2PedomanPenyusunanLaporanTahunanBankUmumdanLaporan

TertentuyangDisampaikankepadaBankIndonesia

A. PetunjukUmum

B. PetunjukKhusus

1. PedomanPengisianPengungkapanStrukturPermodalan

2. PedomanPengisianPengungkapanTagihanBersihBerdasarkanWilayah

3. PedomanPengisianPengungkapanTagihanBersihBerdasarkanSisaJangkaWaktuKontrak

4. PedomanPengisianPengungkapanTagihanBersihBerdasarkanSektorEkonomi

5. PedomanPengisianPengungkapanTagihandanPencadanganBerdasarkanWilayah

6. PedomanPengisianPengungkapanTagihandanPencadanganBerdasarkanSektorEkonomi

7. PedomanPengisianPengungkapanRincianMutasiCadanganKerugianPenurunanNilai

Hal.351396

8. PedomanPengisianPengungkapanTagihanBersihBerdasarkanKategoriPortofoliodanSkala
Peringkat
9. PedomanPengisianPengungkapanRisikoKreditPihakLaws(CounterpartyCreditRisk)
10. PedomanPengisianPengungkapanTagihanBersihBerdasarkanBobotRisikosetelah
MemperhitungkanDampakMitigasiRisikoKredit

11. PedomanPengisianPengungkapanTagihanBersihdanTeknikMitigasiRisikoKredit
12. PedomanPengisianPengungkapanTransaksiSekuritisasi
13. PedomanPengisianPengungkapanRingkasanAktivitasTransaksiSekuritisasidimanaBank
BertindaksebagaiKrediturAsal
14. PedomanPengisianPengungkapanPerhitunganATMRRisikoKreditdenganMenggunakan
PendekatanStandar

15. PedomanPengisianPengungkapanRisikoPasarMenggunakanMetodeStandar
16. PedomanPengisianPengungkapanRisikoPasardenganModalInternal(ValueatRisk/VaR)
17. PedomanPengisianPengungkapanRisikoOperasional
18. PedomanPengisianPengungkapanProfilMaturitasRupiahdanValas

Lampiran3
Lampiran3a
Lampiran4
Lampiran4a
Lampiran5
Lampiran5a
Lampiran6
Lampiran7

LaporanPosisiKeuangan/NeracaTriwulanan(BankUmum)
LaporanPosisiKeuangan/NeracaBulanan(BankUmum)
LaporanLabaRugiKomprehensifTriwulanan(BankUmum)
LaporanLabaRugiBulanan(BankUmum)
LaporanKomitmendanKontinjensiTriwulanan(BankUmum)
LaporanKomitmendanKontinjensiBulanan(BankUmum)

LaporanTransaksiSpotdanDerivatifTriwulanan(BankUmum

LaporanKualitasAsetProduktifdanInfomrasiLainnyaTriwulanan
(BankUmum)
Lampiran7a LaporanKualitasAsetProduktifdanInformasiLainnyaBulanan
(BankUmum)
Lampiran8.1
LaporanPerhitunganKewajibanPenyediaanModalMinimum

Hal.352353
Hal.354396
Hal.354355
Hal.356357
Hal.358359
Hal.360362
Hal.363364
Hal.364366
Hal.367368
Hal.368370
Hal.371373
Hal.374376
Hal.377379
Hal.380381
Hal.381383

Hal.383389
Hal.390
Hal.390391
Hal.392
Hal.393396

Hal.397398
Hal.399400
Hal.401402
Hal.403404
Hal.405
Hal.406407
Hal.408
Hal.409410

Hal.411412

Hal.413414

xi

LikuiditasRupiahTransparansidanPublikasiLaporanBank

Lampiran8.a.1
Lampiran8.2
Lampiran8.a.2
Lampiran9
Lampiran10
Lampiran10a
Lampiran11
Lampiran11a
Lampiran12
Lampiran13
Lampiran14
Lampiran15.1
Lampiran15.2
Lampiran16
Lampiran17
Lampiran17a
Lampiran18
Lampiran18a
Lampiran19
Lampiran19a
Lampiran20
Lampiran20a
Lampiran20b
Lampiran20c
Lampiran21
Lampiran21a
Lampiran22
Lampiran23
Lampiran24
Lampiran25
Lampiran26

TriwulananBankUmum(BankUmum)
LaporanPerhitunganKewajibanPenyediaanModalMinimum
BulananBankUmum(BankUmum)

LaporanPerhitunganKewajibanPenyediaanModalMinimum
TriwulananBankAsing(BankUmum)

LaporanPerhitunganKewajibanPenyediaanModalMinimum
BulananBankAsing(BankUmum)
LaporanRasioKeuanganTriwulanan(BankUmum)

PedomanPenyusunanLaporanPosisiKeuangan/Neraca
Triwulanan(BankUmum)

PedomanPenyusunanLaporanPosisiKeuangan/NeracaBulanan
(BankUmum)

PedomanPenyusunanLaporanLabaRugiKomprehensif
Triwulanan(BankUmum)

PedomanPenyusunanLaporanLabaRugiBulanan(BankUmum)
PedomanPenyusunanLaporanKomitmendanKontinjensi(Bank
Umum)

PedomanPenyusunanLaporanTransaksiSpotdanDerivatif(Bank
Umum)

PedomanPenyusunanLaporanKualitasAsetProduktifdan
InformasiLainnya(BankUmum)

PedomanPerhitunganModalBankUmum(BankUmum)

PedomanPerhitunganModalBankAsing(BankUmum)

PedomanPerhitunganRasioKeuangan(BankUmum)

Neraca(BUSdanUUS)

NeracaPublikasiBulanan(BUSdanUUS)
LaporanLaba/RugidanSaldoLaba(BUSdanUUS)

LaporanLaba/RugidanSaldoLabaPublikasiBulanan(BUSdan
UUS)
KomitmendanKontinjensi(BUSdanUUS)

KomitmendanKontinjensiPublikasiBulanan(BUSdanUUS)
KualitasAktivaProduktifdanInformasiLainnya(BUSdanUUS)
KualitasAktivaProduktifdanInformasiLainnyaPublikasiBulanan
(BUSdanUUS)
KualitasAktivaProduktifdanInformasiLainnya(BUSdanUUS)
PedomanPenyusunanLaporanKualitasAktivaProduktifdan
InformasiLainnya(BUSdanUUS)
PerhitunganKewajibanPenyediaanModalMinimumTahunan(BUS
danUUS)
PerhitunganKewajibanPenyediaanModalMinimum(BUSdanUUS)
TabelPerhitunganRasioKeuangan(BUSdanUUS)
PedomanPenyusunanNeraca(BUSdanUUS)
PedomanPenyusunanLaba/RugidanPerubahanSaldoLaba(BUS
danUUS)
PedomanPenyusunanLaporanKomitmendanKontinjensi(BUSdan
UUS)
PedomanPerhitunganKewajibanPenyediaanModalMinimum(BUS
danUUS)

Hal.414415
Hal.416
Hal.417

Hal.418419
Hal.420421
Hal.422423
Hal.424428

Hal.429433
Hal.434
Hal.435436
Hal.437439

Hal.440442
Hal.443444
Hal.445450
Hal.451452
Hal.453454
Hal.455
Hal.456

Hal.457
Hal.458
Hal.459460
Hal.461
Hal.462463
Hal.464466

Hal.467468

Hal.469470
Hal.471472
Hal.473478
Hal.479482

Hal.483

Hal.484486

xii

LikuiditasRupiahTransparansidanPublikasiLaporanBank

Lampiran27

PedomanPerhitunganAktivaTertimbangMenurutRisiko(ATMR)
BerdasarkanLBUS(BUSdanUUS)
PedomanPerhitunganModal(BUSdanUUS)
PedomanPerhitunganRasioKeuangan(BUSdanUUS)
LaporanSumberdanPenggunaanDanaZIS(BUSdanUUS)
LaporanSumberdanPenggunaanDanaQardh(BUSdanUUS)
LaporanPerubahanDanaInvestasiTerikat(BUSdanUUS)
DistribusiBagiHasil(BUSdanUUS)
InformasiKeuanganUsahaSyariah(BUSdanUUS)
PedomanPenyusunanNeracaUUS(BUSdanUUS)
PedomanPenyusunanLaba/RugiUUS(BUSdanUUS)
PedomanPenyusunanKomitmendanKontinjensiUUS
PenyesuaianPedomanAkuntansiPerbankanIndonesia(PAPI)2008
PermohonanPendaftaranAkuntanPubliksebagaiAuditorBank
(BUSdanUUS)
DaftarRiwayatHidup(BUSdanUUS)
LaporanPemeriksaanatasBank(BankdanUUS)
PermohonanPendaftaranAkuntanPubliksebagaiAuditorBank
(BankUmum)
DaftarRiwayatHidup(BankUmum)
LaporanPemeriksaanatasPTBank(BankUmum)
PenyusunanLaporanKeuanganPublikasi(BPRSeptember2013)

Lampiran28
Lampiran29
Lampiran30
Lampiran31
Lampiran32
Lampiran33
Lampiran34
Lampiran35
Lampiran36
Lampiran37
Lampiran38
Lampiran39a
Lampiran39b
Lampiran40
Lampiran41a
Lampiran41b
Lampiran42
Lampiran43A

BabIPenjelasanUmum
I. TujuanPenyusunanLaporanKeuanganPublikasi
II. BPRPelapor
III. PenyampaianPertanyaan

BabIIPedomanPengisianLaporanKeuanganPublikasi
Tabel1Neraca
PenjelasanPosposNeraca
Aktiva
Pasiva
Tabel2LaporanLabaRugi
PenjelasanLaporanLabaRugi
Pendapatan
Beban
Tabel3LaporanKomitmendanKontinjensi
PenjelasanLaporanKomitmendanKontinjensi
Komitmen
Kontinjensi
Tabel4KualitasAktivaProduktifdanInformasiLainnya
PenjelasanFormulirKualitasAktivaProduktifdanInformasiLainnya

Lampiran43

PenyusunanLaporanKeuanganPublikasi(BPR)

BabIPenjelasanUmum
BabIIPedomanPengisianLaporanKeuanganPublikasi
LaporanNeraca
PenjelasanPosposNeraca
I.

Aset

Hal.487489

Hal.490492
Hal.493496
Hal.497
Hal.498
Hal.499
Hal.500
Hal.501
Hal.502506
Hal.507510
Hal.511
Hal.512516
Hal.517518
Hal.519520
Hal.521
Hal.522524
Hal.525526
Hal.527
Hal.528547
Hal.529
Hal.529
Hal.529
Hal.529

Hal.530547
Hal.530531
Hal.532537
Hal.532533
Hal.534537
Hal.538
Hal.539541
Hal.539
Hal.539541
Hal.542
Hal.543
Hal.543
Hal.543
Hal.544
Hal.545546

Hal.548583
Hal.549
Hal.550583
Hal.550551
Hal.552562
Hal.552557

xiii

LikuiditasRupiahTransparansidanPublikasiLaporanBank

II.

Kewajiban

III.

Ekuitas

LaporanLabaRugi
PenjelasanLaporanLaba/Rugi
I.

PendapatanOperasional

II.

BebanOperasional

III.

Laba/RugiOperasional

IV.

PendapatanNonOperasional

V.

BebanNonOperasional

VI.

Laba/RugiNonOperasional

VII.

TaksiranPajakPenghasilan

VIII.

Laba/RugiBersih

LaporanKualitasAktivaProduktif
PenjelasanLaporanKualitasAktivaProduktif
I.

PenempatanpadaBankLain

II.

KredityangDiberikan

III.

Kolektibilitas

IV.

Rasiorasio

LaporanKomitmendanKontinjensi
PenjelasanLaporanKomitmendanKontinjensi
I.

Komitmen

II.

KredityangDiberikan

LaporanInformasiLainnya
PenjelasanInformasiLainnya
I.

PengurusBank

II.

PemilikBankdanPemegangSaham

Lampiran44
Lampiran45
Lampiran46
Lampiran47
Lampiran48
Lampiran49
Lampiran50
Lampiran51
Lampiran52

ContohPerjanjianantarBPRdanKantorAkuntanPublik
Neraca(BPRS)
PerhitunganLabaRugi(BPRS)
DaftarKomitmendanKontinjensi(BPRS)
KualitasAktivaProduktif&InformasiLainnyaPublikasi
(BPRS)
LaporanSumberdanPenggunaZIS(BPRS)
LaporanSumberdanPenggunaanQardh(BPRS)
TabelDistribusiBagiHasil(BPRS)
LaporanPerubahanDanaInvestasiTerikat(MudharabahMuqayyadah)
(BPRS)

Hal.557560
Hal.560562
Hal.563
Hal.564574
Hal.564567
Hal.567571
Hal.571
Hal.571572
Hal.572573
Hal.573
Hal.573
Hal.574
Hal.575
Hal.576578
Hal.576
Hal.576
Hal.577
Hal.577578
Hal.579
Hal.580581
Hal.580
Hal.580581
Hal.582
Hal.583
Hal.583
Hal.583

Hal.584592
Hal.593
Hal.594
Hal.595
Hal.596
Hal.597
Hal.598
Hal.599
Hal.600

xiv

LikuiditasRupiahTransparansidanPublikasiLaporanBank

RekamJejakRegulasiTransparansidanPublikasiLaporanBank

xv

LikuiditasRupiah

TransparansidanPublikasiLaporanBank

DasarHukum:
UndangUndangNomor21Tahun2008tentangPerbankanSyariah
UndangUndangNomor23Tahun1999tentangBankIndonesiasebagaimanatelahdiubahbeberapakali,
terakhirdenganUndangUndangNomor6Tahun2009
UndangUndang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang
undangNomor10Tahun1998

RegulasiTerkait:
PeraturanBankIndonesiaNomor14/12/PBI/2012tentangLaporanKantorPusatBankUmum
PeraturanBankIndonesiaNomor12/23/PBI/2010tentangPenilaianKemampuandanKepatutan
PeraturanBankIndonesiaNomor8/13/PBI/2006tentangBatasMaksimumPemberianKreditBankUmum
Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/7/PBI/2002 tentang Prinsip Kehatihatian dalam Rangka Pembelian
KreditolehBankdariBadanPenyehatanPerbankanNasional
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/1/DPNP 2013 perihal Transparansi Informasi Suku Bunga Dasar
Kredit
SuratEdaranBankIndonesiaNomor14/31/DPNP2012perihalLaporanKantorPusatBankUmum
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/26/DPNP 2011 Perubahan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor
13/8/DPNP2011perihalPenilaianKemampuandanKepatutan
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/14/DPNP 2005 perihal Batas Maksimum Pemberian Kredit Bank
Umum

RegulasiBankIndonesia:
Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/3/PBI/2013 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank
PerkreditanRakyat
PeraturanBankIndonesiaNomor14/14/PBI/2012tentangTransparansiDanPublikasiLaporanBank
Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/50/PBI/2005 tentang Perubahan atas PBI 3/22/PBI/2001 tentang
TransparansiKondisiKeuanganBank
Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/47/PBI/2005 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank
PerkreditanRakyatSyariah
PeraturanBankIndonesiaNomor3/22/PBI/2001tentangTransparansiKondisiKeuanganBank
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43/DPNP 2013 perihal Perubahan atas Surat Edaran Bank
Indonesia Nomor 15/29/DKBU tanggal 31 Juli 2013 perihal Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan
PublikasiBankPerkreditanRakyat
SuratEdaranBankIndonesiaNomor15/29/DKBU2013perihalLaporanTahunandanLaporanKeuangan
PublikasiBankPerkreditanRakyat
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/26/DPbS 2013 perihal Pelaksanaan Pedoman Akuntansi
PerbankanSyariahIndonesia
SuratEdaranBankIndonesiaNomor13/30/DPNP2011perihalPerubahanKetigaatasSuratEdaranBank
Indonesia Nomor 3/30/DPNP 2001 perihal Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dan Bulanan Bank
UmumsertaLaporanTertentuyangDisampaikankepadaBankIndonesia
SuratEdaranBankIndonesiaNomor14/35/DPNPTahun2012tentangLaporanTahunanBankUmumdan
LaporanTahunanTertentuyangDisampaikankepadaBankIndonesia.
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 12/14/DKBU 2010 perihal Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Bank
PerkreditanRakyat
SuratEdaranBankIndonesiaNomor12/11/DPNP2010perihalPerubahanKeduaatasSuratEdaranBank
Indonesia Nomor 3/30/DPNP 2001 perihal Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dan Bulanan Bank
UmumsertaLaporanTertentuyangDisampaikankepadaBankIndonesia
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/33/DPNP Tahun 2009 perihal Perubahan atas Surat Edaran No.
11/4/DPNPtanggal27Januari2009tentangPelaksanaanPedomanAkuntansiPerbankanIndonesia.
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/4/DPNP tanggal 27 Januari 2009 perihal Pelaksanaan Pedoman
AkuntansiPerbankanIndonesia

xvi

LikuiditasRupiahTransparansidanPublikasiLaporan
Bank

SuratEdaranBankIndonesiaNomor8/11/DPbStahun2006perihalPerubahanSENo.7/56/DPbStahun
2005 tentang Laporan Tahunan, Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dan Bulanan serta Laporan
tertentudariBankyangDisampaikankepadaBankIndonesia
SuratEdaranBankIndonesiaNomor7/57/DPbs2005HubunganantaraBankyangMelaksanakanKegiatan
UsahaBerdasarkanPrinsipSyariah,KantorAkuntanPublik,AkuntanPublik,DewanPengawasSyariahdan
BankIndonesia
SuratEdaranBankIndonesiaNomor7/56/DPbStahun2005perihalLaporanTahunan,LaporanKeuangan
Publikasi Triwulanan dan Bulanan serta Laporan tertentu dari Bank yang Disampaikan kepada Bank
Indonesia
SuratEdaranBankIndonesiaNomor7/52/DPbStahun2005perihalTransparansiKondisiKeuanganBank
PembiayaanRakyatSyariah
SuratEdaranBankIndonesiaNomor7/10/DPNPtahun2005perihalPerubahanatasSE3/30/DPNP2001
perihal Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dan Bulanan Bank Umum serta Laporan Tertentu yang
DisampaikankepadaBankIndonesia
SuratEdaranBankIndonesiaNomor3/32/DPNP2001perihalHubunganAntaraBank,AkuntanPublikdan
BankIndonesia
SuratEdaranBankIndonesiaNomor3/30/DPNP2001perihalLaporanKeuanganPublikasiTriwulanandan
BulananBankUmumsertaLaporanTertentuyangDisampaikankepadaBankIndonesia

xvii

LikuiditasRupiah

Paragraf

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi

Moneter

LikuiditasRupiah

BABI

TransparansidanPublikasiLaporanBank
KetentuanUmum

Pasal1
14/14/PBI/2012
Ayat114

1. Bank adalah Bank Umum sebagaimana dimaksud dalam Undang


UndangNomor7Tahun1992tentangPerbankansebagaimanatelah
diubah dengan UndangUndang Nomor 10 Tahun 1998, termasuk
kantor cabang bank asing dan Bank Umum Syariah sebagaimana
dimaksud dalam UndangUndang Nomor 21 Tahun 2008 tentang
PerbankanSyariah.
2. Pengendalian adalah perseorangan atau perusahaan/badan, baik
secaralangsungmaupuntidaklangsungyang:
a. memilikilebihdari50%(limapuluhpersen)sahamyangmemiliki
haksuarapadasuatuperusahaan/badanlain;
b. memiliki 50% (lima puluh persen) atau kurang saham yang
memilikihaksuarapadasuatuperusahaan/badanlain,tetapi:
1) terdapat perjanjian dengan pemegang saham lain sehingga
memilikihaksuaralebihdari50(limapuluhpersen);
2) mempunyai kewenangan untuk mengatur kebijakan
keuangan dan operasional perusahaan/badan lain
berdasarkananggarandasaratauperjanjian;
3) mempunyai kewenangan untuk menunjuk atau mengganti
sebagian besar direksi dan dewan komisaris atau organ
lainnya yang setara dan mengendalikan perusahaan/badan
lain melalui direksi dan dewan komisaris atau organ lainnya
tersebut;dan/atau
4) mampu menguasai suara mayoritas pada rapat direksi dan
dewan komisaris atau organ lainnya yang setara dan
mengendalikanperusahaan/badanmelaluidireksidandewan
komisarisatauorganlainnyatersebut.
3. Perusahaan Induk (parent company/holding company) adalah badan
hukum/perusahaan yang mengkonsolidasikan satu atau lebih
perusahaan anak dalam suatu kelompok usaha dan melakukan
PengendalianterhadapBank.
4. Perusahaan Induk di Bidang Keuangan (financial parent
company/financial
holding
company)
adalah
badan
hukum/perusahaan yang mengkonsolidasikan seluruh aktivitas satu
atau lebih perusahaan anak pada kelompok usaha yang bergerak di
bidangkeuangandanmelakukanPengendalianterhadapBank.
5. Perusahaan Anak adalah badan hukum yang dimiliki atau
dikendalikanolehBank,baiksecaralangsungmaupuntidaklangsung,
yangterdiridari:
a. Perusahaan Subsidiari (subsidiary company) yaitu Perusahaan
AnakdengankepemilikanBanklebihdari50%(limapuluhpersen);
dan/atau
b. PerusahaanPartisipasi(participationcompany)adalahPerusahaan
Anak dengan kepemilikan Bank 50% (lima puluh persen) atau
kurang,namunBankmemilikiPengendalianterhadapperusahaan.

Ketentuan

LikuiditasRupiah

Paragraf

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
6. Perusahaan Afiliasi adalah Perusahaan Anak dari Perusahaan Induk

atau dari Perusahaan Induk di Bidang Keuangan yang tergabung

dalam suatu kelompok usaha yang sama dengan Bank karena

dikendalikanolehPerusahaanIndukyangsama.

7. Pihak Terkait adalah pihak yang terkait dengan Bank sebagaimana

dimaksud dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai Batas

MaksimumPemberianKredit.

8. Pihakpihak Berelasi adalah pihakpihak berelasi sebagaimana

dimaksud dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan tentang

PengungkapanPihakpihakBerelasi.

9. Akuntan Publik adalah akuntan publik sebagaimana dimaksud dalam

UndangUndangtentangAkuntanPublik.

10. Laporan Tahunan adalah laporan lengkap mengenai kinerja suatu

Bankdalamkurunwaktu1(satu)tahun.

11. Laporan Keuangan Tahunan adalah laporan keuangan akhir tahun

Bankyangdisusunberdasarkanstandarakuntansikeuangan.

12. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan adalah laporan keuangan

yang disusun berdasarkan standar akuntansi keuangan dan

dipublikasikan setiap triwulan, sesuai dengan ketentuan Bank

Indonesia.

13. Laporan Keuangan Publikasi Bulanan adalah laporan keuangan yang

disusunberdasarkanLaporanBulananBankUmumdandipublikasikan

setiapbulan,sesuaidenganketentuanBankIndonesia.

14. TahunBukuadalahtahuntakwimatautahunyangdimulaidaribulan

JanuarisampaidenganbulanDesember.
SE7/56/DPbS
15. UnitUsahaSyariah,yangselanjutnyadisebutUUS,adalahunitkerjadi
2005
kantor pusat bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha secara
RomawiI.7
konvensionalyangberfungsisebagaikantorindukdarikantorcabang

syariah dan atau unit syariah, atau unit kerja di kantor cabang dari

bank yang berkedudukan diluar negeri yang melaksanakan kegiatan

usaha secara konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari

kantorcabangpembantusyariahdanatauunitsyariah.

Dalamrangkatransparansikondisikeuangan,Bankwajibmenyusundan
Pasal2
14/14/PBI/2012 menyajikanlaporankeuangan,yangterdiriatas:
a. LaporanTahunan;
Hurufa

A. BankUmumKonvensional
SE14/35/DPNP
1. Publikasi Laporan Tahunan Bank dimaksudkan untuk
2012
memberikan informasi berkala mengenai kondisi Bank secara
RomawiI.1I.6

menyeluruh, termasuk perkembangan usaha dan kinerja Bank

serta kelompok usaha. Seluruh informasi tersebut diharapkan

dapat meningkatkan transparansi kondisi keuangan Bank

kepadapublikdanmenjagakepercayaanmasyarakatterhadap

lembagaperbankan

2. LaporanTahunanselaindisampaikankepadapemegangsaham,

wajib disampaikan paling kurang kepada Bank Indonesia dan

lembaga lain yang berkepentingan terhadap perkembangan

usaha Bank, seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia

(YLKI),lembagapemeringkatdiIndonesia,asosiasiperbankandi

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

SE7/56/DPbS
2005
RomawiI.1I.3,
I.6,I.11

3.

4.

5.

6.

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
Indonesia, Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia
(LPPI), 2 (dua) lembaga penelitian di bidang ekonomi dan
keuangan, dan 2 (dua) majalah ekonomi dan keuangan.
Sedangkanlaporantahunantertentuhanyawajibdisampaikan
kepada Bank Indonesia. Batas waktu penyampaian Laporan
Tahunan dan laporan tahunan tertentu paling lama 5 (lima)
bulansetelahTahunBukuberakhir.
LaporanTahunanwajibdisusununtuk1(satu)TahunBukudan
disajikan paling kurang dengan perbandingan 1 (satu) Tahun
Bukusebelumnya.
Laporan Tahunan wajib dicantumkan dalam website Bank
paling lama 1 (satu) hari kerja setelah batas waktu
penyampaian Laporan Tahunan, dan dipelihara dalam website
Bank paling kurang untuk 2 (dua) periode laporan berturut
turut.
LaporanTahunanBankharusdisusundalamBahasaIndonesia.
Dalam hal Laporan Tahunan juga dibuat selain dalam Bahasa
Indonesia, baik dalam dokumen yang sama maupun terpisah,
maka Laporan Tahunan dimaksud harus memuat informasi
yangsama.
Mata uang yang digunakan dalam Laporan Tahunan adalah
Rupiah.

B. BankUmumSyariahdanUnitUsahaSyariah
1. SesuaidenganUndangUndangNomor7Tahun1992tentang
PerbankansebagaimanatelahdiubahdenganUndangundang
Nomor10Tahun1998,Bankdiwajibkanuntukmenyampaikan
keterangan dan penjelasan yang berkaitan dengan kegiatan
usaha Bank dalam rangka pemantauan keadaan usaha Bank
olehpublikdanBankIndonesia.
2. Dalam rangka pemenuhan informasi yang disampaikan Bank
yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip
syariah (Bank) dan UUS untuk mencapai dan memelihara
kepercayaan investasimasyarakatterhadapBanksertaupaya
meningkatkan transparansi kondisi keuangan Bank kepada
publik, maka informasi dalam laporan tersebut harus bisa
menyajikanhakdankewajibandaripihakterkait,memberikan
kontribusiuntukmelindungiasetBankdanpemenuhanprinsip
syariah dalam semua transaksi, serta dapat memberikan
informasi yang berguna tentang perkembangan usaha dan
kinerja Bank kepada para pihak terkait (stakeholders) dalam
hubungannyadenganBank.
3. Bentuk penyampaian keterangan dan pengumuman atau
publikasikegiatanusahaBankdalamrangkapemantauanoleh
publik dan Bank Indonesia adalah berupa Laporan Tahunan,
Laporan Keuangan Publikasi, dan Laporan Informasi Tertentu
yangditetapkanolehBankIndonesia.;
4. Apabila Laporan Tahunan, Laporan Keuangan Publikasi dan
Laporan Informasi Tertentu juga dibuat selain dalam Bahasa
Indonesia,baikdalamdokumenyangsamamaupunterpisah,
makaLaporandimaksudharusmemuatinformasiyangsama.

LikuiditasRupiah

Paragraf

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
5. AngkaangkadalamLaporanwajibdisajikandalammatauang

Rupiah.

b. LaporanKeuanganPublikasiTriwulanan;
Pasal2

14/14/PBI/2012

Hurufb
A. BankUmumKonvensional
SE3/30/DPNP
2001
1. Sesuai dengan Undangundang Nomor 7 Tahun 1992 tentang
RomawiI
PerbankansebagaimanatelahdiubahdenganUndangundang

Nomor10Tahun1998,Bankdiwajibkanuntukmenyampaikan

keterangan dan penjelasan yang berkaitan dengan kegiatan

usaha Bank dalam rangka pemantauan keadaan usaha Bank

olehpublikdanBankIndonesia.

2. Bentuk penyampaian dan pengumuman atau publikasi

keterangandaninformasisebagaimanadimaksudpadaangka

1 yang ditetapkan Bank Indonesia adalah laporan keuangan

tahunan dan laporan berkala lainnya dengan waktu

penyampaiandanpengumumansecaratahunan,semesteran,

triwulananmaupunbulanan.

3. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan disusun antara lain

untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan,

kinerjaatauhasilusahaBanksertainformasikeuanganlainnya

kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan

perkembangan usaha Bank. Agar laporan keuangan Bank

dapatdiperbandingkan,perluditetapkanbentukdancakupan

penyajianyangdidasarkanpadaPernyataanStandarAkuntansi

Keuangan (PSAK) yang relevan untuk industri perbankan,

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI), serta

ketentuandanpedomanyangditetapkanolehBankIndonesia.

4. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan yang wajib disajikan

adalah laporan keuangan untuk posisi akhir Maret, Juni,

September dan Desember. Laporan Keuangan Publikasi

Triwulananiniselainwajibdiumumkandalamsuratkabarjuga

akan diumumkan dalam home page Bank Indonesia. Bank

Indonesia juga akan mengumumkan Laporan Bulanan Bank

Umum dalam bentuk Laporan Keuangan Publikasi Bulanan

padahomepageBankIndonesia.
SE12/11/DPNP
5. Perlakuan akuntansi untuk pospos dalam Laporan Keuangan
2010
PublikasiTriwulanandanLaporanKeuanganPublikasiBulanan
Nomor6
didasarkan pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan

(PSAK)yangberlaku,PedomanAkuntansiPerbankanIndonesia

(PAPI) serta ketentuan dan pedoman terkait yang ditetapkan

olehBankIndonesia.

SE7/56/DPbS
B. BankUmumSyariahdanUnitUsahaSyariah
2005
1. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan disusun untuk
RomawiI.4,I.5,
memberikaninformasimengenaiposisikeuangan,kinerjaatau
I.8,I.9,I.10,I.11
hasil usaha Bank dan UUS serta informasi keuangan lainnya

kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan

perkembangan usaha Bank dan UUS. Agar Laporan Keuangan

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

Pasal2
14/14/PBI/2012
Hurufce

2.

3.

4.

5.

6.

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
Publikasidapatdiperbandingkan,perluditetapkanbentukdan
cakupan penyajian yang didasarkan pada Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK) yang relevan untuk perbankan
syariah, Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia
(PAPSI),sertaketentuanyangditetapkanolehBankIndonesia.
Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan yang wajib disajikan
olehBankadalahlaporankeuanganuntukposisiakhirMaret,
Juni, September dan Desember. Laporan Keuangan Publikasi
Triwulananiniselainwajibdiumumkandalamsuratkabarjuga
akan diumumkan dalam home page Bank Indonesia. Bank
Indonesia juga akan mengumumkan Laporan Bulanan dalam
bentuk Laporan Keuangan Publikasi Bulanan pada homepage
BankIndonesia.
Unit Usaha Syariah harus menyajikan informasi keuangan
syariahsecaratriwulananuntukposisiMaret,Juni,September
dan Desember berupa neraca, laba rugi, komitmen dan
kontinjensi sebagaimana tercantum dalam lampiran 16,
informasi perhitungan bagi hasil sebagaimana tercantum
dalam Lampiran 15, dan pedoman penyusunan neraca, laba
rugi dan komitmen dan kontinjensi sebagaimana tercantum
dalam Lampiran 17, Lampiran 18 dan Lampiran 19 (Lampiran
34, Lampiran 33, Lampiran 35, Lampiran 36 dan Lampiran 37
dalamkodifikasiini).Informasikegiatanusahasyariahtersebut
harus ditanda tangani oleh Dewan Pengawas Syariah dan
PimpinanUnitUsahaSyariah.
Khusus untuk pelaporan publikasi UUS posisi bulan Juni dan
Desember, selain menyajikan laporan , harus pula
menyajikan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat,
Infaq dan Shadaqah (ZIS) sebagaimana tercantum dalam
Lampiran 12 (Lampiran 30 dalam kodifikasi ini); Laporan
SumberdanPenggunaanDanaQardhsebagaimanatercantum
dalam Lampiran 13 (Lampiran 31 dalam kodifikasi ini) ; serta
Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat, jika ada
sebagaimana tercantum dalam Lampiran 14 (Lampiran 32
dalamkodifikasiini).
UUS melalui kantor pusatnya harus menyajikan laporan
publikasitriwulanan,termasukjugaakandiumumkankedalam
homepageBankIndonesia.
AngkaangkadalamLaporanwajibdisajikandalammatauang
Rupiah.

c. LaporanKeuanganPublikasiBulanan;
Penjelasan tentang ini untuk Bank Umum Konvesional dapat dilihat
padaParagraf2butirb.A.4danbutirb.A.5diatas,sedangkanuntuk
Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah dapat dilihat pada
Paragraf2butirb.B.2danbutirb.B.6.

d. LaporanKeuanganKonsolidasi;dan
e. LaporanPublikasiLain.

LikuiditasRupiah

Paragraf

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
BABII
LaporanTahunan
(1) Bank wajib menyusun Laporan Tahunan yang paling kurang
Pasal3
mencakup:
14/14/PBI/2012
a. Informasiumumyangmeliputi:

1. kepengurusan;

2. kepemilikan;

3. perkembangan usaha Bank dan kelompok usaha Bank

termasukperkembanganusahaUnitUsahaSyariah(UUS);

4. strategi dan kebijakan manajemen termasuk strategi dan

kebijakanmanajemenUUS;dan

5. laporanmanajementermasuklaporanmanajemenUUS;

b. LaporanKeuanganTahunanyangmeliputi:

1. LaporanPosisiKeuangan(Neraca);

2. LaporanLabaRugiKomprehensif;

3. LaporanPerubahanEkuitas;

4. LaporanArusKas;

5. catatanataslaporankeuangan,termasukinformasimengenai

komitmendankontinjensi;

c. opinidariAkuntanPublik;

d. jenis risiko dan potensi kerugian (risk exposures) yang dihadapi

BanksertapraktekmanajemenrisikoyangditerapkanBank;

e. seluruhasperktransparansidaninformasiyangdiwajibkanuntuk

LaporanKeuanganPublikasiTriwulanan;

f. aspek pengungkapan (disclosure) lain sebagaimana diwajibkan

dalam Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku, dalam hal

belum tercakup dalam huruf a sampai dengan huruf e di atas;

dan

g. informasilain.

(2) Bagi Bank Umum Konvensional, selain pengungkapan sebagaimana

dimaksudpadaayat(1),wajibdilakukanpengungkapanmengenai:

a. permodalanbank;dan

b. jenis risiko, potensi kerugian, dan penerapan manajemen risiko,

palingkuranguntukrisikokredit,risikopasar,risikooperasional,

risikolikuiditas,risikostrategic,risikoreputasi;risikokepatuhan;

danrisikohukum.

(3) Bagi Bank Umum Syariah (BUS) dan Bank Umum Konvensional yang

memiliki UUS, selain laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

hurufb,wajibmenyampaikan:

a. laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, Infaq, dan

Shadaqah(ZIS);

b. laporanSumberdanPenggunaanDanaQardh;dan

c. laporanPerubahanDanaInvestasiTerikat.

(4) LaporanKeuanganTahunanwajibdiauditolehAkuntanPublik.

(5) LaporanTahunansebagaimanadimaksudpadaayat(1),ayat(2),ayat

(3) wajib disusun untuk 1 (satu) Tahun Buku dan disajikan paling

kurangdenganperbandingan1(satu)TahunBukusebelumnya.

(6) Dalam hal terdapat perubahan cakupan Laporan Tahunan

sebagaimanadimaksuddalamPasal3(Paragraf3dalamkodifikasiini)

akandiaturlebihlanjutdenganSuratEdaranBankIndonesia.

LikuiditasRupiah

Paragraf

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
A. BankUmumKonvensional
SE14/35/DPNP
CakupanLaporanTahunan
2012
LaporanTahunanpalingkurangmencakuphalhalsebagaiberikut:
RomawiII
1. InformasiUmum

InformasiUmumdalamLaporanTahunanpalingkurangmemuat:

a. kepengurusan, yang meliputi susunan anggota Dewan

Komisaris,Direksi,danpejabateksekutifbesertajabatandan

ringkasanriwayathidupnya;

b. rincian kepemilikan, berupa nama pemilik dan persentase

kepemilikansaham;

c. perkembangan usaha Bank dan kelompok usaha Bank, yang

memuatdatamengenai:

1) ikhtisar data keuangan penting, yang paling kurang

mencakup pendapatan bunga bersih, laba operasional,

laba sebelum pajak, laba bersih, laba bersih per saham,

aset produktif, dana pihak ketiga, pinjaman diterima,

total biaya dana (cost of fund), modal sendiri, jumlah

lembarsahamyangditempatkandandisetor;dan

2) rasio keuangan yang wajib disajikan, yang paling kurang

mencakup rasio keuangan sebagaimana diatur dalam

ketentuan Bank Indonesia mengenai transparansi dan

publikasilaporanBank.

d. strategi dan kebijakan manajemen dalam pengembangan

usahaBank;

e. laporan manajemen yang memuat informasi mengenai

pengelolaan Bank oleh pengurus dalam rangka good

corporategovernance,danpalingkurangmencakup:

1) strukturorganisasi;

2) aktivitasutama;

3) teknologiinformasi;

4) jenis produk dan jasa yang ditawarkan, termasuk

penyalurankredirkepadadebiturUsahaMikro,Kecil,dan

Menengah(UMKM);

5) tingkatsukubungapenghimpunandanpenyediaandana;

6) perkembanganperekonomiandantargetpasar;

7) jaringankerjadanmitrausahabaikdidalamdan/ataudi

luarnegeri;

8) jumlah,jenis,danlokasikantor;

9) kepemilikan Direksi, Komisaris, dan pemegang saham

dalamkelompokusahaBank;

10) perubahanperubahan penting yang terjadi di Bank dan

kelompokusahaBankdalamtahunyangbersangkutan;

11) halhal penting yang diperkirakan terjadi di masa

mendatang;dan

12) sumber daya manusia, meliputi jumlah, struktur

pendidikan, pelatihan, dan pengembangan sumber daya

manusia.

2. LaporanKeuanganTahunan

LaporanKeuanganTahunanpalingkurangmencakup:

a. Laporan Keuangan Bank yang telah diaudit oleh Akuntan

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
Publik,yangmeliputi:
1) LaporanPosisiKeuangan(Neraca);
2) LaporanLabaRugiKomprehensif;
3) LaporanPerubahanEkuitas;
4) LaporanArusKas;dan
5) Catatan atas Laporan Keuangan, termasuk informasi
mengenaiKomitmendanKontinjensi.
b. Bagi Bank yang memiliki Perusahaan Anak, selain Laporan
Keuangan Bank secara individual sebagaimana dimaksud
pada huruf a, Laporan Keuangan Tahunan juga mencakup
Laporan Keuangan Konsolidasi yang telah diaudit oleh
Akuntan Publik, yang merupakan konsolidasi Laporan
Keuangan Bank dan Perusahaan Anak, yang paling kurang
terdiriatas:
1) LaporanPosisiKeuangan(Neraca);
2) LaporanLabaRugiKomprehensif;
3) LaporanPerubahanEkuitas;dan
4) KomitmendanKontinjensi.
c. Bagi Bank yang merupakan bagian dari suatu kelompok
usaha, selain laporan sebagaimana dimaksud pada huruf a
dan huruf b, Bank juga wajib menyampaikan Laporan
KeuanganTahunanyangterdiriatas:
1) Laporan Keuangan Perusahaan Induk yang telah diaudit
oleh Akuntan Publik, yang merupakan hasil konsolidasi
dariseluruhperusahaandidalamkelompokusahasesuai
dengan standar akuntansi yang berlaku, yang paling
kurangmeliputi:
a) LaporanPosisiKeuangan(Neraca);
b) LaporanLabaRugiKomprehensif;
c) LaporanPerubahanEkuitas;dan
d) KomitmendanKontinjensi;
2) Laporan Keuangan Perusahaan Induk di Bidang
Keuangan, yang telah diaudit oleh Akuntan Publik, yang
merupakan hasil konsolidasi dari seluruh perusahaan di
dalamkelompokbidangkeuangansesuaidenganstandar
akuntansiyangberlaku,danpalingkurangmeliputi:
a) LaporanPosisiKeuangan(Neraca);
b) LaporanLabaRugiKomprehensif;
c) LaporanPerubahanEkuitas;dan
d) KomitmendanKontinjensi.
Dalam hal kelompok usaha tidak memiliki Perusahaan Induk
di Bidang Keuangan maka laporan keuangan yang
disampaikan adalah Laporan Keuangan Perusahaan Induk
yangtelahdiauditolehAkuntanPublik.
3. OpinidariAkuntanPublik
Opini dari Akuntan Publik antara lain memuat pendapat atas
LaporanKeuanganTahunansebagaimanadimaksuddalamangka
2.
4. Pengungkapan Permodalan serta Pengungkapan Eksposur Risiko
danPenerapanManajemenRisikoBank

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
a. Pengungkapan permodalan serta pengungkapan eksposur
risiko dan penerapan manajemen risiko bertujuan untuk
meningkatkan transparansi kepada publik dengan
menetapkan persyaratan pengungkapan minimum, sehingga
publikdapatmenilaiprofilrisikodankecukupanpermodalan
Bank.
b. Bank harus memiliki kebijakan tertulis yang disetujui oleh
Direksi mengenai pengungkapan sebagaimana diatur dalam
angka ini. Kebijakan antara lain terkait dengan isi
pengungkapan yang akan dilaporkan dan pengendalian
internaldalamprosespengungkapan.
c. Pengungkapan dilakukan dengan mengacu pada Pedoman
pengungkapansebagaimanatercantumdalamlampiran,yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Edaran Bank
Indonesiaini.
Pengungkapan informasi sebagaimana dimaksud pada huruf a,
terdiriatas:
a. PengungkapanPermodalan
Pengungkapanpalingkurangmencakup:
1) Pengungkapan kualitatif, yang antara lain memuat
informasitentang:
a) Struktur permodalan yang memuat penjelasan
mengenai instrumen modal yang diterbitkan oleh
Bank antara lain: karakteristik, jangka waktu
instrumen,fituropsibeli,fiturstepup,tingkatimbal
hasil,danperingkat(apabilatersedia);dan
b) Kecukupan permodalan yang berisi penjelasan
mengenai pendekatan yang digunakan Bank dalam
menilaikecukupanmodaluntukmendukungaktivitas
yang dilakukan, baik saat ini maupun yang akan
datang.
2) Pengungkapankuantitatifmengenaistrukturpermodalan
Bank sebagaimana dimaksud pada Tabel 1.a dan Tabel
1.b.(padaLampiran2dalamkodifikasiini)
b. Pengungkapan Eksposur Risiko dan Penerapan Manajemen
Risiko
Pengungkapanpalingkurangmencakup:
1) Pengungkapan mengenai penerapan Manajemen Risiko
Banksecaraumum,yangmencakupinformasimengenai:
a) PengawasanaktifDewanKomisarisdanDireksi;
b) Kecukupankebijakan,prosedur,danpenetapanlimit;
c) Kecukupan proses identifikasi, pengukuran,
pemantauan, dan pengendalian risiko, serta Sistem
InformasiManajemenRisiko;dan
d) Sistempengendalianinternyangmenyeluruh.
2) Pengungkapan mengenai eksposur risiko dan penerapan
ManajemenRisikoBanksecarakhusus,yangterdiridari:
a) RisikoKredit,yangmencakup:
(1) Pengungkapan kualitatif, yang mencakup antara
lain:

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank
Ketentuan
(a) Pengungkapan kualitatif, yang mencakup
antaralain:
i. Informasi
mengenai
penerapan
manajemen risiko untuk risiko kredit,
termasuk:
i.1. organisasimanajemenrisikokredit;
i.2. strategi manajemen risiko kredit
untuk aktivitas yang memiliki
eksposur risiko kredit yang
signifikan;
i.3. kebijakan
pengelolaan
risiko
konsentrasikredit;dan
i.4. mekanisme
pengukuran
dan
pengendalianrisikokredit.
ii. definisi tagihan yang telah jatuh tempo
dan tagihan yang mengalami penurunan
nilai/impairment;dan
iii. penjelasan mengenai pendekatan yang
digunakanuntukpembentukanCadangan
Kerugian Penurunan Nilai (CKPN)
individual dan kolektif, serta metode
statistik yang digunakan dalam
perhitunganCKPN.
(b) Pengungkapan kuantitatif sebagaimana
dimaksud pada Tabel 2.1.a sampai dengan
Tabel2.6.b(padaLampiran2dalamkodifikasi
ini),yangmencakup:
i. Pengungkapan
Tagihan
Bersih
Berdasarkan Wilayah sebagaimana Tabel
2.1.a dan Tabel 2.1.b (pada Lampiran 2
dalamkodifikasiini);
ii. Pengungkapan
Tagihan
Bersih
Berdasarkan Sisa Jangka Waktu Kontrak
sebagaimanaTabel2.2.adanTabel2.2.b
(padaLampiran2dalamkodifikasiini);
iii. Pengungkapan
Tagihan
Bersih
Berdasarkan
Sektor
Ekonomi
sebagaimanaTabel2.3.adanTabel2.3.b
(padaLampiran2dalamkodifikasiini);
iv. PengungkapanTagihandanPencadangan
Berdasarkan Wilayah sebagaimana Tabel
2.4.a dan Tabel 2.4.b (pada Lampiran 2
dalamkodifikasiini);
v. PengungkapanTagihandanPencadangan
Berdasarkan
Sektor
Ekonomi
sebagaimanaTabel2.5.adanTabel2.5.b
(pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini);
dan
vi. Pengungkapan Rincian Mutasi Cadangan
Kerugian Penurunan Nilai sebagaimana

10

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank
Ketentuan
Tabel 2.6.a dan Tabel 2.6.b (pada
Lampiran2dalamkodifikasiini).
(2) Pengungkapan Risiko Kredit dengan Pendekatan
Standar,yangterdiridari:
(a) Pengungkapankualitatif,yangmencakup:
i. informasi
mengenai
kebijakan
penggunaan
peringkat
dalam
perhitungan Aset Tertimbang Menurut
Risiko(ATMR)untukrisikokredit;
ii. kategori portofolio yang menggunakan
peringkat;
iii. lembaga pemeringkat yang digunakan;
dan
iv. pengungkapan risiko kredit pihak lawan
(counterparty credit risk), termasuk jenis
instrumen
mitigasi
yang
lazim
diterima/diserahkanolehBank.
(b) Pengungkapan kuantitatif sebagaimana
dimaksud pada Tabel 3.1.a sampai dengan
Tabel 3.2.c.2 (pada Lampiran 2 dalam
kodifikasiini),yangmencakup:
i. Pengungkapan
Tagihan
Bersih
Berdasarkan Kategori Portofolio dan
Skala Peringkat sebagaimana Tabel 3.1.a
dan Tabel 3.1.b (pada Lampiran 2 dalam
kodifikasiini);dan
ii. Pengungkapan Risiko Kredit Pihak Lawan
(Counterparty Credit Risk) sebagaimana
Tabel 3.2.a, Tabel 3.2.b.1, Tabel 3.2.b.2,
Tabel 3.2.c.1, dan Tabel 3.2.c.2. (pada
Lampiran2dalamkodifikasiini)
(3) Pengungkapan Mitigasi Risiko Kredit dengan
menggunakan Pendekatan Standar, yang terdiri
dari:
(a) Pengungkapankualitatif,yangmencakup:
i. informasi mengenai kebijakan Bank
untukjenisagunanutamayangditerima;
ii. kebijakan, prosedur, dan proses untuk
menilaidanmengelolaagunan;
iii. pihakpihak
utama
pemberi
jaminan/garansi dan kelayakan kredit
(credit worthiness) dari pihakpihak
tersebut;dan
iv. informasi tingkat konsentrasi yang
ditimbulkan dari penggunaan teknik
mitigasirisikokredit.
(b) Pengungkapan kuantitatif sebagaimana
dimaksud pada Tabel 4.1.a sampai dengan
Tabel4.2.b(padaLampiran2dalamkodifikasi
ini),yangmencakup:

11

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank
Ketentuan
i. Pengungkapan
Tagihan
Bersih
Berdasarkan Bobot Risiko setelah
Memperhitungkan Dampak Mitigasi
Risiko Kredit sebagaimana Tabel 4.1.a
dan Tabel 4.1.b (pada Lampiran 2 dalam
kodifikasiini);dan
ii. PengungkapanTagihanBersihdanTeknik
Mitigasi Risiko Kredit sebagaimana Tabel
4.2.a dan Tabel 4.2.b (pada Lampiran 2
dalamkodifikasiini).
(4) PengungkapanSekuritisasiAset,yangterdiridari:
(a) Pengungkapan kualitatif, yang mencakup
antaralain:
i. pengungkapan umum manajemen risiko,
yang mencakup halhal seperti tujuan
Bank melakukan aktivitas sekuritisasi
aset, sejauh mana aktivitas sekuritisasi
asetyangdilakukandapatmemindahkan
risiko kredit dari Bank ke pihak lain atas
transaksi yang menjadi underlying
aktivitas sekuritisasi aset, fungsi yang
dijalankan Bank dalam aktivitas
sekuritisasi aset, dan penjelasan
mengenaiketerlibatanBankdalamsetiap
fungsi;
ii. ringkasan kebijakan akuntansi untuk
aktivitassekuritisasiaset,yangmencakup
antara lain transaksi yang diperlakukan
sebagai penjualan atau pendanaan,
pengakuan keuntungan dari aktivitas
sekuritisasi, dan asumsi yang digunakan
untuk menilai ada tidaknya keterlibatan
berkelanjutan dari aktivitas sekuritisasi,
termasuk perubahan dari periode
sebelumnyadandampakdariperubahan
dimaksud;dan
iii. nama lembaga pemeringkat yang
digunakan dalam aktivitas sekuritisasi
aset dan eksposur sekuritisasi aset yang
diperingkat oleh lembaga pemeringkat
dimaksud.
(b) Pengungkapan kuantitatif sebagaimana
dimaksud pada Tabel 5.1.a sampai dengan
Tabel5.2.b(padaLampiran2dalamkodifikasi
ini),yangmencakup:
i. Pengungkapan Transaksi Sekuritisasi
sebagaimanaTabel5.1.adanTabel5.1.b
(pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini);
dan

12

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
ii. Ringkasan Aktivitas Transaksi Sekuritisasi
dimana Bank Bertindak sebagai Kreditur
Asal sebagaimana Tabel 5.2.a dan Tabel
5.2.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi
ini).
(5) Pengungkapan kuantitatif Perhitungan ATMR
Risiko Kredit Pendekatan Standar sebagaimana
dimaksudpadaTabel6.1.1sampaidenganTabel
6.2.7(padaLampiran2dalamkodifikasiini).
b) RisikoPasar,yangmencakup:
(1) Perhitungan risiko pasar dengan menggunakan
MetodeStandar,yangantaralainterdiriatas:
(a) Pengungkapan kualitatif, yang mencakup
antaralain:
i. Informasi
mengenai
penerapan
manajemenrisikotermasuk:
i.1. Organisasimanajemenrisikopasar;
i.2. Pengelolaan portofolio trading book
dan banking book serta metodologi
valuasiyangdigunakan;dan
i.3. Mekanisme pengukuran risiko pasar
untuk keperluan pemantauan risiko
secara periodik maupun untuk
perhitungan kecukupan modal, baik
pada banking book maupun trading
book.
ii. cakupan portofolio (trading dan banking
book) yang diperhitungkan dalam
Kewajiban Penyediaan Modal Minimum
(KPMM);dan
iii. langkahlangkah dan rencana dalam
mengantisipasirisikopasaratastransaksi
mata uang asing baik karena perubahan
kurs maupun fluktuasi suku bunga,
termasuk penjelasan mengenai semua
penyediaan dana dan ikatan tanpa
proteksi atau lindung nilai, serta utang
yang suku bunganya berfluktuasi atau
yangtidakditentukanterlebihdahulu.
(b) Pengungkapankuantitatifyangpalingkurang
mencakup pengungkapan risiko pasar
menggunakan metode standar sebagaimana
dimaksud pada Tabel 7.1 (pada Lampiran 2
dalamkodifikasiini).
(2) Perhitungan risiko pasar dengan menggunakan
ModelInternal,yangterdiriatas:
(a) Pengungkapan kualitatif, yang mencakup
antaralain:
i. Informasi
mengenai
penerapan
manajemenrisiko,termasuk:

13

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
i.1. organisasimanajemenrisikopasar;
i.2. pengelolaanportofoliotradingbook
serta metodologi valuasi yang
digunakan;dan
i.3. mekanismepengukuranrisikopasar
untuk keperluan pemantauan risiko
secara periodik maupun untuk
perhitungankecukupanmodalpada
tradingbook.
ii. portofolio yang tercakup dalam Model
Internal dan kebijakan valuasi yang
digunakan untuk menghitung posisi
dalamtradingbook;
iii. untuksetiapportofolioyangdicakupoleh
ModelInternaldiungkapkankarakteristik
model yang digunakan, deskripsi stress
testing yang digunakan terhadap
portofoliodandeskripsipendekatanyang
digunakan untuk backtesting/validasi
terhadap akurasi dan konsistensi Model
Internal dan proses pengembangan
model;
iv. portofolio yang menggunakan Model
Internal yang telah disetujui oleh Bank
Indonesia;dan
v. jumlah frekuensi penyimpangan antara
Value at Risk (VaR) dan kerugian aktual
selamaperiodelaporan.
(b) Pengungkapankuantitatif,yangpalingkurang
mencakuppengungkapanrisikopasardengan
menggunakan model internal (Value at Risk/
VaR) sebagaimana Tabel 7.2.a dan Tabel
7.2.b(padaLampiran2dalamkodifikasiini).
c) RisikoOperasional,yangmencakup:
(1) Pengungkapan kualitatif, yang antara lain
mencakup informasi mengenai penerapan
manajemen risiko untuk risiko operasional,
termasuk:
(a) organisasimanajemenrisikooperasional;
(b) mekanisme yang digunakan Bank untuk
mengidentifikasi dan mengukur risiko
operasional;dan
(c) mekanisme untuk memitigasi risiko
operasional.
(2) Pengungkapan kuantitatif mengenai risiko
operasional, sebagaimana dimaksud pada Tabel
8.1.a dan Tabel 8.1.b (pada Lampiran 2 dalam
kodifikasiini).

14

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
d) RisikoLikuiditas,yangmencakup:
(1) Pengungkapan kualitatif, yang antara lain
mencakup informasi mengenai penerapan
manajemen risiko untuk risiko likuiditas,
termasuk:
(a) organisasimanajemenrisikolikuiditas;
(b) indikator peringatan dini permasalahan
likuiditas;dan
(c) mekanisme pengukuran dan pengendalian
risikolikuiditas.
(2) Pengungkapan kuantitatif mengenai risiko
likuiditas,yangpalingkurangmencakup:
(a) Pengungkapan Profil Maturitas Rupiah
sebagaimanadimaksudpadaTabel9.1.adan
Tabel9.1.b(padaLampiran2dalamkodifikasi
ini);dan
(b) Pengungkapan Profil Maturitas Valas
sebagaimanadimaksudpadaTabel9.2.adan
Tabel9.2.b(padaLampiran2dalamkodifikasi
ini).
e) Risiko Hukum, yang berisi pengungkapan kualitatif
mengenai penerapan manajemen risiko untuk risiko
hukumyangantaralainmencakup:
(1) organisasimanajemenrisikohukum;dan
(2) mekanismepengendalianrisikohukum.
f) Risiko Stratejik, yang mengungkapan informasi
kualitatif mengenai penerapan manajemen risiko
untukrisikostratejikyangantaralainmencakup:
(1) organisasimanajemenrisikostratejik;
(2) kebijakanyangmemungkinkanBankuntukdapat
mengidentifikasi dan merespon perubahan
lingkungan bisnis, baik eksternal maupun
internal;dan
(3) mekanisme untuk mengukur kemajuan yang
dicapaidarirencanabisnisyangditetapkan.
g) Risiko Kepatuhan, yang mengungkapkan informasi
kualitatif mengenai penerapan manajemen risiko
untukrisikokepatuhanyangmencakup:
(1) organisasimanajemenrisikokepatuhan;
(2) strategi manajemen risiko dan efektivitas
penerapan manajemen risiko untuk risiko
kepatuhan, terutama dalam rangka memastikan
penyusunankebijakandanprosedurtelahsesuai
dengan standar yang berlaku secara umum,
ketentuan,
dan/atau
peraturan
perundangundanganyangberlaku;dan
(3) mekanismepemantauandanpengendalianrisiko
kepatuhan.

15

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
h) Risiko Reputasi, yang mengungkapkan informasi
kualitatif mengenai penerapan manajemen risiko
reputasiyangantaralainmencakup:
(1) organisasi manajemen risiko reputasi, termasuk
pelaksanaan manajemen risiko untuk risiko
reputasi oleh unitunit terkait (Corporate
Secretary,Humas,danunitbisnisterkait);
(2) kebijakan dan mekanisme dalam rangka
meningkatkan kualitas pelayanan kepada
nasabah dan pemangku kepentingan lainnya
(stakeholders) untuk mengendalikan risiko
reputasi;dan
(3) pengelolaanrisikoreputasipadasaatkrisis.
5. Aspek Transparansi sesuai Laporan Keuangan Publikasi
Triwulanan
Laporan Keuangan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam butir
2.a dan butir 2.b wajib dilengkapi dengan seluruh aspek
pengungkapan (disclosure) sebagaimana dipersyaratkan untuk
laporankeuanganpublikasitriwulanan.
Pengungkapantersebutpalingkurangmencakup:
a. transaksispotdantransaksiderivatif;
b. jumlah dan kualitas aset produktif dan informasi lainnya,
antaralainuntuk:
1) penyediaandanakepadapihakterkait;
2) penyediaandanakepadadebiturUsahaMikro,Kecil,dan
Menengah(UMKM);
3) kredit yang memerlukan perhatian khusus (antara lain
kredityangdirestrukturisasidankreditproperti);dan
4) jumlahcadanganpenyisihankerugian;
c. rasiokeuanganBank,antaralain:
1) persentase pelanggaran dan pelampauan Batas
MaksimumPemberianKredit(BMPK);dan
2) rasioPosisiDevisaNeto(PDN);dan
d. perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum
(KPMM).
6. AspekPengungkapanyangterkaitdenganKelompokUsaha
a. struktur kelompok usaha Bank, yang paling kurang terdiri
atas:
1) struktur kelompokusaha Bank,yangdisajikanmulaidari
Bank, perusahaan anak, perusahaan afiliasi, perusahaan
induk di bidang keuangan, dan/atau perusahaan induk
sampai dengan pemegang saham pengendali terakhir
(ultimateshareholder);
2) struktur keterkaitan kepengurusan dalam kelompok
usahaBank;dan
3) pemegang saham yang bertindak atas nama pemegang
saham lain (shareholders acting in concert). Pengertian
pemegang saham yang bertindak atas nama pemegang
saham lain adalah pemegang saham perorangan atau
perusahaan/badanhukumyangmemilikitujuanbersama

16

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

SE7/56/DPbs
B.
2005
RomawiII

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
yaitu mengendalikan Bank, berdasarkan atau tidak
berdasarkansuatuperjanjian.
b. transaksi antara Bank dengan pihakpihak berelasi dalam
kelompok usaha Bank, dengan memperhatikan halhal
sebagaiberikut:
1) informasitransaksidenganpihakpihakberelasidisajikan
baik yang dilakukan Bank maupun yang dilakukan oleh
setiapperusahaanataubadanhukumdidalamkelompok
usahaBankyangbergerakdibidangkeuangan;
2) pihakpihak yang berelasi adalah pihakpihak
sebagaimanadiaturdalamPernyataanStandarAkuntansi
Keuangan(PSAK)yangberlaku;
3) jenis transaksi dengan pihakpihak yang berelasi, antara
lainmeliputi:
a) kepemilikansilang(crossshareholdings);
b) transaksi dari suatu kelompok usaha yang bertindak
untukkepentingankelompokusahayanglain;
c) pengelolaan likuiditas jangka pendek dalam
kelompokusaha;
d) penyediaan dana yang diberikan atau diterima oleh
perusahaanlaindalamsatukelompokusaha;
e) eksposur kepada pemegang saham mayoritas antara
lain dalam bentuk pinjaman, komitmen dan
kontinjensi;dan
f) pembelian, penjualan dan/atau penyewaan aset
dengan perusahaan lain dalam suatu kelompok
usaha, termasuk yang dilakukan dengan repurchase
agreement.
c. pemberianpenyediaandana,komitmenmaupunfasilitaslain
yangdapatdipersamakandenganitudarisetiapperusahaan
ataubadanhukumyangberadadalamsatukelompokusaha
dengan Bank kepada debitur yang telah memperoleh
penyediaandanadariBank.
7. AspekPengungkapansesuaiStandarAkuntansiKeuangan
Aspek pengungkapan (disclosure) lain sebagaimana diwajibkan
dalam Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku, dalam hal
belumtercakupdalamangka1sampaidenganangka6diatas.
8. InformasiLain
Cakupandalaminformasilainterdiridari:
a. asetBankyangdijaminkan;
b. transaksitransaksi penting lainnya dalam jumlah yang
signifikan;dan
c. informasi kejadian penting setelah tanggal laporan Akuntan
Publik(subsequentevent).
BankUmumSyariahdanUnitUsahaSyariah
LaporanTahunanBankpalingsedikitmencakup:
1. InformasiUmum
InformasiUmumdalamLaporanTahunanpalingsedikitberisi:
a. kepengurusan, meliputi susunan Dewan Komisaris, Direksi,

17

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

b.
c.

d.
e.

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
Dewan Pengawas Syariah dan pejabat eksekutif beserta
jabatandanringkasanriwayathidupnya;
rincian Kepemilikan Saham, berupa nama pemilik dan
besarankepemilikan;
perkembangan usaha Bank dan kelompok usaha Bank, yang
memuatdatamengenai:
1) Ikhtisar data keuangan penting paling sedikit mencakup
pendapatan penyaluran dana, laba rugi bersih, laba
operasi, laba sebelum pajak, aktiva produktif, sumber
dana dan komposisinya, pembiayaan dan komposisinya,
modal sendiri, jumlah lembar saham yang ditempatkan
dandisetor;dan
2) Rasio keuangan yang wajib disajikan paling sedikit
mencakup rasio keuangan sebagaimana diatur dalam
ketentuan Bank Indonesia tentang Transparansi Kondisi
Keuangan Bank khususnya Bab tentang Laporan
Keuangan Publikasi Bank Umum sepanjang tidak
bertentangandenganprinsipsyariah.
sasaran, strategi dan kebijakan manajemen yang digunakan
dalampengembanganusahaBank
laporan manajemen yang menyajikan informasi mengenai
pengelolaan Bank oleh pengurus atau manajemen dalam
rangka good corporate governance, dan paling sedikit
mencakup:
1) stukturorganisasi;
2) aktivitasutama;
3) teknologiinformasi;
4) jenis produk dan jasa yang ditawarkan, termasuk
penyaluranKreditUsahaKecil(KUK);
5) tanggungjawabsosialperusahaan;
6) realisasi bagi hasil/imbalan dan metode penghitungan
distribusibagihasil;
7) perkembanganperekonomiandantargetpasar;
8) jaringankerjadanmitrausahabaikdidalamdanataudi
luarnegeri;
9) jumlah,jenisdanlokasikantor;
10) kepemilikan Direksi, Komisaris dan pemegang saham
dalam kelompok usaha Bank, dan perubahan dari tahun
sebelumnya;
11) perubahanperubahan penting yang terjadi di Bank dan
kelompokusahaBankdalamtahunyangbersangkutan;
12) halhal penting yang diperkirakan terjadi di masa
mendatang;
13) sumber daya manusia, meliputi jumlah, struktur
pendidikan,pelatihandanpengembanganSDM;
14) pengungkapan remuneration policy yang mencakup fees
andsalariesdanfasilitasyangditerimalainnyatermasuk
bonus dan tantiem untuk direksi sampai dengan satu
level di bawah direksi, komisaris, dan Dewan Pengawas
Syariah;dan

18

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
15) pemeringkatan oleh perusahaan pemeringkat yang
diakui,jikaada.
f. UUS melalui kantor pusatnya harus menyajikan informasi
kegiatanUUSyangmencakuppalingsedikit:
1) sasaran, strategi dan kebijakan manajemen yang
digunakandalampengembanganUnitUsahaSyariah;
2) perkembangan usaha syariah, yaitu penyaluran dana
besertakomposisinya,lababersih,ReturnonAsset(ROA),
Non Performing Financing (NPF), sumber dana beserta
komposisinya, jumlah aset dan informasi lainnya yang
relevan;
3) jenisprodukdanjasayangditawarkan;
4) tanggungjawabsosialperusahaan;dan
5) realisasi bagi hasil/imbalan dan metode penghitungan
distribusibagihasil.
2. LaporanKeuangan
Laporan Keuangan Tahunan ini paling sedikit mencakup halhal
sebagaiberikut;
a. LaporanKeuangan,yangterdiridari:
1) Neraca;
2) LaporanLabaRugi;
3) LaporanArusKas;
4) LaporanPerubahanEkuitas;
5) LaporanPerubahanDanaInvestasiTerikat;
6) LaporanSumberdanPenggunaanDanaZakat,Infaq,dan
Shadaqah(ZIS);
7) LaporanSumberdanPenggunaanDanaQardh;dan
8) Catatan atas Laporan Keuangan, termasuk informasi
mengenaiKomitmendankontinjensisertahakminoritas.
b. Laporan Keuangan Konsolidasi yang telah diaudit yang
merupakan konsolidasi Laporan Keuangan Bank dan
PerusahaanAnak,yangterdiridari:
1) Neraca;
2) LaporanLabaRugi;
3) LaporanPerubahanEkuitas;
4) LaporanArusKas;
5) Catatan atas Laporan Keuangan, termasuk informasi
mengenaikomitmendankontinjensisertahakminoritas.
Laporan keuangan konsolidasi ini disertai dengan opini dari
AkuntanPublik.
c. Laporan Keuangan Perusahaan Induk di bidang keuangan
yangtelahdiauditolehAkuntanPublik,yangterdiridari:
1) LaporanKeuanganPerusahaanIndukdibidangkeuangan
merupakan hasil konsolidasi dari seluruh perusahaan di
dalamkelompokbidangkeuangansesuaidenganstandar
akuntansiyangberlaku,danmeliputi:
a) Neraca;
b) LaporanLabaRugi;
c) LaporanPerubahanEkuitas;dan
d) DaftarKomitmendanKontinjensi;

19

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
2) Dalam hal kelompok usaha tidak memiliki Perusahaan
Induk di bidang keuangan maka laporan keuangan yang
disampaikan adalah Laporan Keuangan Perusahaan
Induk.
d. LaporanKeuanganPerusahaanIndukyangtelahdiauditoleh
Akuntan Publik, yang merupakan hasil konsolidasi dari
seluruhperusahaandidalamkelompokusahasesuaidengan
standarakuntansiyangberlaku,yangterdiridari:
1) Neraca;
2) LaporanLabaRugi;
3) LaporanPerubahanEkuitas;dan
4) DaftarKomitmendanKontinjensi.
3. OpinidariAkuntanPublik
OpinidariAkuntanPublikantaralainmemuatpendapatAkuntan
Publikataslaporankeuangankonsolidasisebagaimanadimaksud
dalamangka2.hurufb.
4. AspekTransparansiyangTerkaitdenganKelompokUsaha
Sesuai dengan Pasal 25 Peraturan Bank Indonesia No.
3/22/PBI/2001 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank
(PBI),dinyatakanbahwaLaporanTahunanyangdisampaikanoleh
Bankwajibmemuatpulainformasiyangterkaitdengankegiatan
didalamkelompokusaha,yangterdiridari:
a. StrukturkelompokusahaBank,yangdisajikansampaidengan
pemilik terakhir (ultimate shareholder), serta struktur
keterkaitan kepengurusan dan pemegang saham yang
bertindak atas nama pemegang saham lain (shareholders
acting in concert). Pengertian pemegang saham yang
bertindakatasnamapemegangsahamlainadalahpemegang
saham perorangan atau perusahaan/badan hukum yang
memiliki tujuan bersama yaitu mengendalikan Bank,
berdasarkanatautidakberdasarkansuatuperjanjian.
b. Transaksi dengan pihakpihak yang mempunyai hubungan
istimewa(relatedpartytransaction),denganmemperhatikan
halhalsebagaiberikut:
1) informasitransaksidenganpihakpihakyangmempunyai
hubungan istimewa disajikan baik yang dilakukan Bank
maupun yang dilakukan oleh setiap perusahaan atau
badan hukum di dalam kelompok usaha Bank yang
bergerakdibidangkeuangan;
2) pihakpihakyangmempunyaihubunganistimewaadalah
pihakpihak sebagaimana diatur dalam Pernyataan
StandarAkuntansiKeuangan(PSAK)yangberlaku;
3) jenis transaksi dengan pihakpihak yang mempunyai
hubunganistimewa,antaralainmeliputi;
a) kepemilikansilang(crossshareholders);
b) transaksi dari suatu kelompok usaha yang bertindak
untukkepentingankelompokusahayanglain;
c) pengelolaanlikuiditasjangkapendekyangdipusatkan
dalamkelompokusaha;

20

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
d) penyediaan dana yang diberikan atau diterima oleh
perusahaanlaindalamsatukelompokusaha;
e) eksposur kepada pemegang saham mayoritas antara
laindalambentukpinjaman,komitmendangaransi;
f) pembelian atau penjualan aset dengan perusahaan
lain dalam suatu kelompok usaha, termasuk yang
dilakukandenganrepurchaseagreement.
c. Pemberianpenyediaandana,komitmenmaupunfasilitaslain
yangdapatdipersamakandenganitudarisetiapperusahaan
ataubadanhukumyangberadadalamsatukelompokusaha
dengan Bank kepada debitur yang telah memperoleh
penyediaandanadariBank.
5. Aspek Transparansi sesuai PSAK yang berlaku,dan Pedoman
AkuntansiPerbankanSyariahIndonesia
LaporanKeuanganTahunansebagaimanadimaksuddalamangka
2 huruf a dan angka 2 huruf b wajib memenuhi seluruh aspek
pengungkapan (disclosure) sebagaimana ditetapkan dalam
PernyataanStandarAkuntasiKeuanganuntukperbankansyariah
danPAPSIyangberlaku.
Pengungkapantersebutpalingsedikitterdiridari:
a) Laporan Keuangan yang meliputi neraca, laporan laba rugi,
laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, laporan
perubahan dana investasi terikat jika ada, laporan sumber
danpenggunaandanazakat,infaqdanshadaqah(ZIS),serta
laporansumberdanpenggunaandanaqardh;
b) KomitmendanKontinjensi;
c) Jumlah aktiva produktif yang diberikan kepada pihak yang
mempunyaihubunganistimewa;
d) Jumlah aktiva produktif yang telah direstrukturisasi dan
informasi lain tentang aktiva produktif yang direstrukturisasi
selamaperiodeberjalan;
e) Klasifikasi aktiva produktif menurut jangka waktu, dan
kualitasaktivaproduktif;
f) Persentase pelanggaran dan pelampauan Batas Maksimum
PemberianKredit;
g) Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) yang telah
dibentuk dibandingkan dengan Penyisihan Penghapusan
AktivaProduktif(PPAP)yangwajibdibentuk;
h) Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum
(KPMM);
i) RasioPosisiDevisaNeto;
j) AktivaBankyangdijaminkan;
k) BeberaparasiokeuanganBank;dan
l) KreditUsahaKecil(KUK).

6. EkposurdanManajemenRisiko
Informasi mengenai eksposur dan manajemen risiko paling
sedikit mencakup informasi mengenai identifikasi risiko (risk
identification) dan pengukuran terhadap risk exposure yang
dihadapi bank (risk measurement) serta praktek manajemen

21

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

Pasal4
14/14/PBI/2012

SE14/35/DPNP
2013
RomawiIV

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
risiko lainnya yaitu pemantauan (risk monitoring) dan
pengendalianrisiko(riskcontrolling).
7. InformasiLain
Cakupandalaminformasilainterdiridari:
a. Langkahlangkah dan rencana dalam mengantisipasi risiko
pasaratastransaksimatauangasingkarenaperubahankurs.
b. Transaksitransaksi penting lainnya dalam jumlah yang
signifikan.
c. Informasi kejadian penting setelah tanggal laporan Akuntan
Publik(subsequentevent).
d. Karakteristik kegiatan usaha Bank dan jasa utama yang
disediakan.
e. Peranan, tugas dan kewenangan Dewan Pengawas Syariah
dalammelakukanpengawasansyariahatasoperasionalBank
berdasarkanfatwadanketentuanhukumlainnya.

(1) Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 (Paragraf 3


dalam kodifikasi ini), selain disampaikan kepada pemegang saham,
wajibdisampaikanpalingkurangkepada:
a. BankIndonesia;
b. YayasanLembagaKonsumenIndonesia(YLKI);
c. LembagaPemeringkatdiIndonesia;
d. AsosiasiperbankandiIndonesia;
e. LembagaPengembanganPerbankanIndonesia(LPPI);
f. 2(dua)LembagaPenelitiandibidangekonomidankeuangan;
g. 2(dua)Majalahekonomidankeuangan,
palinglama5(lima)bulansetelahTahunBukuberakhir.
(2)PenyampaianlaporankepadaBankIndonesiasebagaimanadimaksud
pada ayat (1) huruf a disampaikan dengan disertai surat pengantar
penyampaian Laporan Tahunan yang memuat informasi mengenai
penyampaian Laporan Tahunan kepada pihakpihak sebagaimana
dimaksudpadaayat(1)hurufbsampaidenganhurufg.

A. BankUmumKonvensional
Batas Waktu Penyampaian Laporan Tahunan Dan Laporan Tahunan
Tertentu
1. Laporan Tahunan wajib disampaikan paling lama 5 (lima) bulan
setelahTahunBukuberakhir.
2. Bank dinyatakan terlambat menyampaikan Laporan Tahunan,
apabila Bank menyampaikan Laporan Tahunan kepada Bank
Indonesia setelah batas akhir waktu penyampaian laporan
sebagaimanadimaksudpadaangka1sampaidenganpalinglama
1(satu)bulansejakbatasakhirwaktupenyampaianlaporan.
3. BankdinyatakantidakmenyampaikanLaporanTahunanapabila:
a. BankbelummenyampaikanLaporanTahunan;dan/atau
b. Bank belum menyampaikan Laporan Keuangan Tahunan yang
diaudit oleh Akuntan Publik yang terdaftar di Bank Indonesia
sampai dengan berakhirnya batas waktu keterlambatan
sebagaimanadimaksudpadaangka2.

22

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank
Ketentuan

Contoh:
UntukLaporanTahunanyangberakhirpadabulanDesember
2012:
a.batasakhirwaktu
penyampaian
:31Mei2013

b.terlambatmenyampaikan

:1Junis.d.30Juni2013

c.tidakmenyampaikan

:1

Juli

2013

seterusnya.

dan

4. Bank yang dinyatakan tidak menyampaikan Laporan Tahunan


sebagaimanadimaksudpadaangka3tetapwajibmenyampaikan
LaporanTahunan.
5. Batas waktu penyampaian laporan tahunan tertentu mengacu
padaketentuanangka1sampaidenganangka4.

SE14/35/DPNP
2013
RomawiV

SE7/56/DPbS
2005
RomawiIV

AlamatPenyampaianLaporan
Laporan Tahunan Bank dan laporan tahunan tertentu disampaikan
kepadaBankIndonesiadenganalamat:
a. Departemen Pengawasan Bank, Jl. M.H. Thamrin No. 2, Jakarta
10350,bagiBankyangberkantorpusatatauKantorCabangBank
Asing yang berada di wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia;
atau
b. Kantor Perwakilan Bank Indonesia setempat, bagi Bank yang
berkantorpusatdiluarwilayahkerjakantorpusatBankIndonesia.

B. BankUmumSyariahdanUnitUsahaSyariah
Batas Waktu Dan Alamat Penyampaian Laporan Tahunan Bank
Syariah
1. Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Tahunan Bank
sebagaimanadimaksuddalamAngkaII(Paragraf3HurufBdalam
kodifikasi ini) wajib disampaikan selambatlambatnya 5 (lima)
bulansetelahTahunBukuberakhir.
2. Bank dianggap terlambat menyampaikan laporan, apabila Bank
menyampaikan Laporan Tahunan melampaui batas akhir waktu
penyampaian laporan, tetapi belum melampaui 1 (satu) bulan
sejak batas akhir waktu penyampaian laporan. Selanjutnya Bank
dianggaptidakmenyampaikanlaporanapabilalebihdari1(satu)
bulan sejak batas akhir waktu penyampaian, Bank tidak
menyampaikan Laporan Tahunan atau Laporan Keuangan
TahunantidakdiauditolehAkuntanPublikyangterdaftardiBank
Indonesia.
Contoh:
Untuk Laporan Tahunan yang berakhir pada bulan Desember
2005:
a.batasakhirwaktupenyampaian : 31Mei2006
b.terlambatmenyampaikan
: 1 Junis.d.30Juni2006
c.tidakmenyampaikan
:1Juli2006dan
seterusnya,atauLaporan
KeuanganTahunantidak

23

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank
Ketentuan

diauditolehAkuntan
PublikyangTerdaftardi
BankIndonesia.
3. Laporan Tahunan dan Laporan Tahunan Tertentu Bank
disampaikankepadaBankIndonesiadenganalamat:
a. Direktorat Perbankan Syariah, Jl.M.H.Thamrin No.2 Jakarta
10110, bagi Bank yang berkantor pusat atau Kantor Cabang
Bank Asing yang berada diwilayah kerja kantor pusat Bank
Indonesia;atau
b. Kantor Bank Indonesia setempat, bagi Bank yang berkantor
pusatdiluarwilayahkerjakantorpusatBankIndonesia.

(1) Bank dinyatakan terlambat menyampaikan Laporan Tahunan apabila


Bank menyampaikan Laporan Tahunan kepada Bank Indonesia
setelah batas akhir waktu penyampaian laporan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 (Paragraf 4 dalam kodifikasi ini) sampai
dengan paling lama 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu
penyampaianlaporan.
(2)BankdinyatakantidakmenyampaikanLaporanTahunanapabila:
a. BankbelummenyampaikanLaporanTahunan;dan/atau
b. Bank belum menyampaikan Laporan Keuangan Tahunan
sebagaimanadimaksuddalamPasal3ayat(1)hurufb(Paragraf
3 ayat (1) huruf b dalam kodifikasi) yang diaudit oleh Akuntan
PublikyangterdaftardiBankIndonesia,
sampaidenganberakhirnyabataswaktuketerlambatansebagaimana
dimaksudpadaayat(1).
(3) Bank yang dinyatakan tidak menyampaikan Laporan Tahunan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetap wajib menyampaikan
LaporanTahunan.

(1)BankwajibmengumumkanLaporanTahunandalamwebsiteBank.

Yang dimaksud dengan website Bank adalah website berdomain


Indonesia yang bukan merupakan bagian dari website perusahaan
indukataukelompokusahaBank.

(2) PengumumanLaporanTahunansebagaimanadimaksudpadaayat(1)
paling lama dilakukan 1 (satu) hari kerja setelah batas waktu
penyampaianLaporanTahunansebagaimanadimaksuddalamPasal4
(Paragraf4dalamkodifikasiini).
(3) Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dipelihara
dalam website Bank paling kurang untuk 2 (dua) periode laporan
berturutturut.

Pasal5
14/14/PBI/2012

Pasal6
14/14/PBI/2012

BABIII

LaporanKeuanganPublikasiTriwulanan

Pasal7
14/14/PBI/2012

(1)Bankwajibmenyusun LaporanKeuanganPublikasiTriwulanandalam
matauangrupiah,yangpalingkurangmencakup:
a.Laporankeuangan,yangterdiriatas:
1. LaporanPosisiKeuangan(Neraca);dan
2. LaporanLabaRugiKomprehensif;

24

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

SE3/30/DPNP
2001
RomawiII.1.a
II.1.c

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
b.komitmendankontinjensi;
c.transaksispotdantransaksiderivatif;
d. jumlah dan kualitas aset produktif dan informasi lainnya, antara
lainuntuk:
1. penyediaandanakepadapihakterkait;
2. penyediaan dana kepada debitur Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah(UMKM);
3. kredit yang memerlukan perhatian khusus (antara lain kredit
yangdirestrukturisasidankreditproperti);dan
4. jumlahcadanganpenyisihankerugian;
e.rasiokeuanganBank,antaralain:
1. persentase pelanggaran dan pelampauan Batas Maksimum
PemberianKredit(BMPK);dan
2. rasioPosisiDevisaNeto(PDN).
f.perhitunganKewajibanPenyediaanModalMinimum(KPMM);dan
g. informasi mengenai komposisi pemegang saham dan susunan
pengurus.
(2) Bagi Bank Umum Syariah (BUS) dan Bank Umum Konvensional yang
memiliki UUS, dalam Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan
sebagaimanadimaksudpadaayat(1)hurufawajibpulamemuat:
a. laporanSumberdanPenggunaanDanaZakat,InfaqdanShadaqah
(ZIS);
b. laporanSumberdanPenggunaanDanaQardh;dan
c. LaporanPerubahanDanaInvestasiTerikat,
untukpelaporanpublikasiposisibulanJunidanDesember.
(3) Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) dan ayat (2) wajib disajikan paling kurang dalam
bentukperbandingandenganLaporanKeuanganPublikasiTriwulanan
tahunsebelumnya.
(4) Ketentuan mengenai penetapanperiodepembandinguntukLaporan
PublikasiTriwulanandiaturdenganSuratEdaranBankIndonesia.

A. BankUmumKovensional
Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan Posisi Akhir Maret dan
September
1. PedomanUmum
a. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan yang disajikan terdiri
dari laporan keuangan Bank secara individu dan laporan
keuanganBanksecarakonsolidasidengananakperusahaan.
b. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan wajib disusun dalam
bahasaIndonesiadanangkaangkayangdisajikandalamjutaan
Rupiah.
c. Format Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan merupakan
standar minimal yang wajib dipenuhi. Apabila terdapat pos
yang jumlahnya material dan tidak terdapat dalam format
tersebut, Bank dapat menyajikan pos tersebut secara
tersendiri, namun apabila pos dimaksud jumlahnya tidak
materialdapatdigabungkandenganposlainyangsejenis.

25

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi
SE12/11/DPNP
2010
RomawiII.1.d

SE3/30/DPNP
2001
RomawiII.1.e
II.1.g

SE13/30/DPNP
2011
RomawiII.2

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
d. Pospos yang memiliki saldo nihil dalam format Laporan
KeuanganPublikasiTriwulananyangdiumumkandisuratkabar
tetapharusdicantumkandenganmembergarispendek()pada
posyangbersangkutan,kecualiditetapkansecarakhususdalam
Lampiran.
e. PenyajianLaporanKeuanganPublikasiTriwulanan
1) Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan wajib disajikan
sekurangkurangnya dalam bentuk perbandingan dengan
laporanpadaperiodeyangsamatahunsebelumnya;
2) Posisi pembanding hendaknya disajikan sesuai format yang
samadenganposisiLaporanKeuanganPublikasiTriwulanan
yangdiumumkan;
3) Khususuntukperlakuanakuntansiyangbaruberlakudalam
posisi laporan maka penyajian posisi pembanding
hendaknya mengacu kepada PSAK Nomor 25 tentang Laba
atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan
MendasardanPerubahanKebijakanAkuntansi;
f. Bagi bank yang tidak memiliki anak perusahaan, kolom
konsolidasidapatditiadakan.
g. UntukpengisianpemilikBankdalamformatLaporanKeuangan
Publikasi Triwulanan, nama pemegang saham yang wajib
dicantumkan adalah perorangan atau perusahaan yang
memiliki saham sebesar 5% (lima perseratus) atau lebih dari
modalBank,baikmelaluiatautidakmelaluiPasarModal.
2. Cakupan
a. Laporan yang wajib disajikan dalam Laporan Keuangan
PublikasiTriwulananpalingkurangterdiriatas:
1) PosisiKeuangan/Neraca;
2) LabaRugiKomprehensif;
3) KomitmendanKontinjensi;
4) TransaksiSpotdanDerivatif;
5) KualitasAsetProduktifdanInformasilainnya;
6) PerhitunganKewajibanPenyediaanModalMinimum,dan
7) RasioKeuangan.
FormatlaporansebagaimanabutirII.2.a.1)sampaidenganbutir
II.2.a.7) (butir A.2.a.1) sampai dengan butir A.2.a.7) dalam
kodifikasi ini) masingmasing menggunakan format
sebagaimanadimaksudpadaLampiran1,Lampiran2,Lampiran
3, Lampiran 4, Lampiran 5, Lampiran 6, dan Lampiran 7
(Lampiran3,Lampiran4,Lampiran5,Lampiran6,Lampiran7,
Lampiran8,Lampiran9dalamkodifikasiini).
b. Dalam penyusunan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan
sebagaimanadimaksuddalamhurufa,Bankwajibberpedoman
pada:
1) PedomanPenyusunanLaporanPosisiKeuangan/Neraca;
2) PedomanPenyusunanLaporanLabaRugiKomprehensif;
3) PedomanPenyusunanLaporanKomitmendanKontinjensi;
4) PedomanPenyusunanLaporanTransaksiSpotdanDerivatif;
5) Pedoman Penyusunan Laporan Kualitas Aset Produktif dan
Informasilainnya;

26

LikuiditasRupiah

Paragraf

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
6) PedomanPerhitunganModal;dan

7) PedomanPerhitunganRasioKeuangan.

Pedoman penyusunan laporan sebagaimana butir II.2.b.1)

sampai dengan butir II.2.b.7) (butir A.2.b.1) sampai dengan

butir A.2.b.7) dalam kodifikasi ini) masingmasing adalah

sebagaimana pada Lampiran 8, Lampiran 9, Lampiran 10,

Lampiran 11, Lampiran 12, Lampiran 13, dan Lampiran 14

(Lampiran 10, Lampiran 11, Lampiran 13, Lampiran 15,

Lampiran16dalamkodifikasiini).

SE7/56/DPbS
B.BankUmumSyariahdanUnitUsahaSyariah
2005
LaporanKeuanganPublikasiTriwulananPosisiAkhirBulanMaretDan
RomawiV
September

1. PedomanUmum

a. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan yang disajikan terdiri

dari laporan keuangan Bank secara individu dan laporan

keuanganBanksecarakonsolidasidengananakperusahaan.

b. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan wajib disusun dalam

bahasaIndonesiadanangkaangkayangdisajikandalamjutaan

Rupiah.

c. Format Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan merupakan

standar minimal yang wajib dipenuhi. Apabila terdapat pos

yang jumlahnya material dan tidak terdapat dalam format

tersebut, Bank dapat menyajikan pos tersebut secara

tersendiri, namun apabila pos dimaksud jumlahnya tidak

materialdapatdigabungkandenganposlainyangsejenis.

d. Pospos yang memiliki saldo nihil dalam format Laporan

KeuanganPublikasiTriwulananyangdiumumkandisuratkabar

tetap harus dicantumkan dengan memberi garis pendek ()

padaposyangbersangkutan.

e. PenyajianLaporanKeuanganPublikasiTriwulanan

1) Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan wajib disajikan

paling sedikit dalam bentuk perbandingan dengan laporan

padaperiodeyangsamatahunsebelumnya.

2) Posisi pembanding hendaknya disajikan sesuai format yang

sama dengan posisi Laporan Keuangan Publikasi Triwulan

yangdiumumkan.

3) Khususuntukperlakuanakuntansiyangbaruberlakudalam

posisi Laporan, maka penyajian posisi pembanding

hendaknya

4) mengacu kepada PSAK Nomor 25 tentang Laba atau Rugi

Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan

PerubahanKebijakanAkuntansi.

f. Bagi Bank yang tidak memiliki anak perusahaan, kolom

konsolidasidapatditiadakan.

g. UntukpengisianpemilikBankdalamformatLaporanKeuangan

Publikasi Triwulanan, nama pemegang saham yang wajib

dicantumkan adalah perorangan atau perusahaan yang

memiliki saham sebesar 5% (lima perseratus) atau lebih dari

modalBank,baikmelaluiatautidakmelaluiPasarModal.

27

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

Ketentuan

Pasal8
14/14/PBI/2012
Ayat(1)

TransparansidanPublikasiLaporanBank

2. Cakupan
a. Laporan yang wajib disajikan dalam Laporan Keuangan
PublikasiTriwulananpalingsedikitterdiridari:
1) Lampiran1:Neraca(Lampiran17dalamkodifikasiini)
2) Lampiran2:LaporanLabaRugidanSaldoLaba(Lampiran
18dalamkodifikasiini)
3) Lampiran3:KomitmendanKontinjensi(Lampiran19
dalamkodifikasiini)
4) Lampiran4:KualitasAktivaProduktifdanInformasi
Lainnya(Lampiran20dalamkodifikasiini)
5) Lampiran5:PerhitunganKewajibanPenyediaanModal
Minimum(Lampiran21dalamkodifikasiini)
6) Lampiran6:RasioKeuangan(Lampiran22dalam
kodifikasiini)
7) Lampiran15:TabelDistribusiBagihasil(Lampiran33
dalamkodifikasiini)
b. Dalam penyusunan Laporan Keuangan Publikasi
Triwulanansebagaimanadimaksuddalamhurufa,untukkolom
laporan keuangan Bank secara individu, Bank wajib
berpedomanpadapedomanpenyusunansebagaiberikut:
1) Lampiran4b: PedomanPenyusunanKAPberdasarkan
LBUS(Lampiran20bdalamkodifikasiini)
2) Lampiran4c: PedomanPenyusunanLaporanKualitas
AktivaProduktifdanInformasilainnya
(Lampiran20cdalamkodifikasiini)
3) Lampiran7: PedomanPenyusunanNeraca(Lampiran
23dalamkodifikasiini)
4) Lampiran8: PedomanPenyusunanLaporanLabaRugi
danPerubahanSaldoLaba(Lampiran24
dalamkodifikasiini)
5) Lampiran9: PedomanPenyusunanKomitmendan
Kontinjensi(Lampiran25dalamkodifikasi
ini)
6) Lampiran10: PedomanPerhitunganRasioKewajiban
PenyediaanModalMinimum(Lampiran
26dalamkodifikasiini)
7) Lampiran10a: PedomanPerhitunganAktivaTertimbang
MenurutRisiko(Lampiran27dalam
kodifikasiini)
8) Lampiran10b: PedomanPerhitunganModal(Lampiran
28dalamkodifikasiini)
9) Lampiran11: PedomanPerhitunganRasioKeuangan
(Lampiran29dalamkodifikasiini)

(1) Bank wajib mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan


sebagaimanadimaksuddalamPasal7(Paragraf7dalamkodifikasiini)
palingkurang4(empat)kalidalam1(satu)tahunyaitulaporanposisi
akhir bulan Maret, bulan Juni, bulan September, dan bulan
Desember.

28

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

SE3/30/DPNP
2001
RomawiIII,IV

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan posisi akhir bulan Maret,
bulan Juni, dan bulan September menyajikan laporan keuangan
interim sedangkan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan posisi
akhirbulanDesembermenyajikanlaporankeuanganakhirtahun.

A. BankUmumKonvensional
1. LaporanKeuanganPublikasiTriwulananPosisiJuni
Format dan cakupan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan
untuk posisi Juni adalah sama dengan format dan cakupan
Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan untuk posisi Maret
dan September (Paragraf 7 ayat (4) huruf A dalam kodifikasi
ini) dengan beberapa tambahan yang ditetapkan sebagai
berikut:
1. Bagi Bank yang merupakan bagian dari suatu kelompok
usaha, selain menyajikan laporan keuangan Bank secara
individu dan laporan keuangan Bank secara konsolidasi
dengan anak perusahaan, Bank wajib menyajikan Neraca,
LaporanLabaRugi,LaporanPerubahanEkuitas,danDaftar
Komitmen dan Kontinjensi perusahaan induk di bidang
keuangan yang merupakan hasil konsolidasi dari seluruh
perusahaan di dalam kelompok bidang keuangan sesuai
dengan standar akuntansi yang berlaku. Dalam hal
kelompokusahatidakmemilikiperusahaanindukdibidang
keuangan, Bank wajib menyajikan Neraca, Laporan Laba
Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Daftar Komitmen
dan Kontinjensi perusahaan induk yang merupakan hasil
konsolidasi dari seluruh perusahaan di dalam kelompok
usahasesuaidenganstandarakuntansiyangberlaku.
2. NeracadanLaporanLabaRugiperusahaanindukdibidang
keuangan atau perusahaan induk wajib disajikan dalam
bentukperbandingandenganposisiyangsamapadatahun
sebelumnya.
2. LaporanKeuanganPublikasiTriwulananPosisiAkhirDesember
Format dan cakupan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan
untuk posisi Desember adalah sama dengan format dan
cakupan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan untuk posisi
Maret,JunidanSeptember(Paragraf7ayat(4)hurufAdalam
kodifikasiini)denganbeberapatambahansebagaiberikut:
1. Bagi Bank yang merupakan bagian dari suatu kelompok
usaha, selain menyajikan laporan keuangan Bank secara
individu dan laporan keuangan Bank secara konsolidasi
dengan anak perusahaan, Bank wajib menyajikan Neraca,
LaporanLabaRugi,LaporanPerubahanEkuitas,danDaftar
Komitmen dan Kontinjensi perusahaan induk di bidang
keuangan yang merupakan hasil konsolidasi dari seluruh
perusahaan di dalam kelompok bidang keuangan sesuai
dengan standar akuntansi yang berlaku. Dalam hal
kelompokusahatidakmemilikiperusahaanindukdibidang
keuangan, Bank wajib menyajikan Neraca, Laporan Laba
Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Daftar Komitmen

29

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

SE7/56/DPbs
2005
RomawiVI

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
dan Kontinjensi perusahaan induk yang merupakan hasil
konsolidasi dari seluruh perusahaan di dalam kelompok
usahasesuaidenganstandarakuntansiyangberlaku.
2. Laporan keuangan sebagaimana dimaksud dalam angka 1
wajib diaudit oleh Akuntan Publik. Dalam penyajian
LaporanKeuanganPublikasiTriwulananwajibdicantumkan
nama Akuntan Publik yang bertanggung jawab (partner in
charge), nama Kantor Akuntan Publik dan opini yang
diberikan.
3. FormatNeracadanLaporanLabaRugiperusahaanindukdi
bidang keuangan atau perusahaan induk disesuaikan
denganNeracadanLaporanLabaRugiyangdisajikandalam
laporanaudit(auditreport).
4. NeracadanLaporanLabaRugiperusahaanindukdibidang
keuangan atau perusahaan induk wajib disajikan dalam
bentukperbandingandenganposisiyangsamapadatahun
sebelumnya.

B. BankUmumSyariahdanUnitUsahaSyariah
LaporanKeuanganPublikasiTriwulananPosisiJunidanPosisiAkhir
Desember
FormatdancakupanLaporanKeuanganPublikasiuntukposisiJuni
dan posisi akhir Desember adalah sama dengan format dan
cakupan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan untuk posisi
MaretdanSeptember(Paragraf7ayat(4)hurufBdalamkodifikasi
ini) dengan beberapa tambahan laporan dan informasi yang
ditetapkansebagaiberikut:
1. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana ZIS sebagaimana
tercantum dalam Lampiran 12 (Lampiran 30 dalam kodifikasi
ini), Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardh
sebagaimana tercantum dalam Lampiran 13 (Lampiran 31
dalam kodifikasi ini), dan Laporan Perubahan Dana Investasi
Terikat jika ada sebagaimana tercantum dalam Lampiran 14
(Lampiran32dalamkodifikasiini).
2. BagiBankyangmerupakanbagiandarisuatukelompokusaha,
selainmenyajikanlaporankeuanganBanksecaraindividudan
laporan keuangan Bank secara konsolidasi dengan anak
perusahaan,Bankwajibmenyajikanneraca,laporanlabarugi,
laporan perubahan ekuitas, serta daftar komitmen dan
kontinjensi perusahaan induk di bidang keuangan yang
merupakanhasilkonsolidasidariseluruhperusahaandidalam
kelompok bidang keuangan sesuai dengan standar akuntansi
yang berlaku. Dalam hal kelompok usaha tidak memiliki
perusahaanindukdibidangkeuangan,Bankwajibmenyajikan
neraca, laporan laba rugi, dan daftar komitmen dan
kontinjensiperusahaanyangmerupakanhasilkonsolidasidari
seluruh perusahaan di dalam kelompok usaha sesuai dengan
standarakuntansiyangberlaku.
3. Neraca dan Laporan laba rugi perusahaan induk di bidang
keuanganatauperusahaanindukwajibdisajikandalambentuk

30

LikuiditasRupiah

Paragraf

10

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
perbandingan dengan posisi yang sama pada tahun

sebelumnya.

4. KhususuntukposisiakhirDesember,

a. Laporan keuangan sebagaimana dimaksud dalam angka 2

wajib diaudit oleh Akuntan Publik, dan wajib

mencantumkan nama Akuntan Publik yang bertanggung

jawab (partner in charge), serta nama Kantor Akuntan

Publikdanopiniyangdiberikan.

b. FormatNeracadanLaporanLabaRugiperusahaanindukdi

bidang keuangan atau perusahaan induk disesuaikan

denganNeracadanLaporanLabaRugiyangdisajikandalam

laporanaudit(auditreport).

Pasal8
(2) Dalam hal diperlukan, selain mengumumkan laporan sebagaimana
14/14/PBI/2012
dimaksud pada ayat (1), Bank Indonesia dapat meminta Bank untuk
Ayat(2)
mengumumkan:
a.laporankeuanganpublikasiselainperiodesebagaimanadimaksud
padaayat(1);dan/atau
b.informasilainyangakanditentukanolehBankIndonesia.

Pertimbangan Bank Indonesia untuk meminta Bank


mengumumkan laporan keuangan publikasi selain periode
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau informasi lain yang
ditentukanBankIndonesiaantaralainpertimbangantransparansi
publik dalam rangka tindakan penyehatan Bank, transparansi
mengenai produk/jasa tertentu yang diterbitkan/dilaksanakan
olehBank,sertaprosesmerger,konsolidasi,danakuisisiBank.

Pasal9
(1) Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana
14/14/PBI/2012
dimaksud dalam Pasal 8 (Paragraf 8 dalam kodifikasi ini) wajib
ditandatangani oleh paling kurang 2 (dua) orang anggota Direksi
Bank.

Penandatanganan oleh Direksi Bank dilakukan dengan


mencantumkannamanyasecarajelas.

(2) Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan untuk posisi


akhirbulanDesembersebagaimanadimaksuddalamParagraf8ayat
(1) wajib mencantumkan nama Kantor Akuntan Publik yang
melakukan audit Laporan Keuangan Tahunan berikut nama Akuntan
Publikyangbertanggungjawabdalamaudit(partnerincharge)serta
opiniyangdiberikan.

(1) Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana


Pasal10
dimaksuddalamPasal7ayat(1)(Paragraf7ayat(1)dalamkodifikasi
14/14/PBI/2012
ini) wajib dilakukan paling kurang dalam 1 (satu) surat kabar harian

berbahasa Indonesia yang mempunyai peredaran luas di tempat

kedudukan kantor pusat Bank atau di tempat kedudukan Kantor

CabangBankAsing.

31

LikuiditasRupiah

Paragraf

11

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
Pengumuman pada surat kabar harian yang mempunyai peredaran

luas dimaksudkan agar informasi dalam laporan keuangan dapat

diketahuiolehmasyarakatluas.

(2) Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana

dimaksudpadaayat(1)dilakukanpalinglambatpada:

a tanggal 15 bulan kedua setelah berakhirnya bulan laporan untuk

laporan posisi akhir bulan Maret, bulan Juni, dan bulan

September;
b tanggal15Apriltahunberikutnyauntuklaporanposisiakhirbulan
Desember.

(1) BankwajibmenyampaikankepadaBankIndonesia:
Pasal11
a. bukti pengumuman berupa fotokopi atau guntingan surat kabar
14/14/PBI/2012
yang memuat pengumuman Laporan Keuangan Publikasi

Triwulanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1)

(Paragraf 10 ayat (1) dalam kodifikasi ini) paling lambat 5 (lima)

harikerjasetelahpengumumandisuratkabar;dan

b. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan secara online melalui

Laporan Kantor Pusat Bank Indonesia (LKPBU) sesuai tata cara,

format, dan jangka waktu yang ditetapkan Bank Indonesia dalam

ketentuanmengenailaporankantorpusatbankumum.

(2) Selama penyampaian laporan secara online sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) huruf b belum dapat dilakukan, Bank harus

menyampaikan softcopy laporan secara offline kepada Bank

Indonesiadalambentukcompactdisc.

(3) Penyampaian softcopy laporan dalam bentuk compact disc kepada

BankIndonesiasebagaimanadimaksudpadaayat(2)dilakukanpaling

lama5(lima)harikerjasejaktanggalpengumumandisuratkabar.

SE3/30/DPNP
A. BankUmumKonvensional
2001
AlamatPenyampaianLaporan
RomawiVII
1. Guntingan surat kabar atau fotokopi Laporan Keuangan

Publikasi Triwulanan disampaikan kepada Bank Indonesia

denganalamat:

a. DirektoratPengawasanBank,Jl.M.H.ThamrinNo.2Jakarta

10110, sesuai dengan Direktorat yang mengawasi Bank

yang bersangkutan, dengan tembusan kepada Direktorat

Perizinan dan Informasi Perbankan, bagi Bank yang

berkantor pusat atau Kantor Cabang dari bank yang

berkedudukandiluarnegeri,diwilayahkerjakantorpusat

BankIndonesia;atau

b. KantorBankIndonesiasetempat,dengantembusankepada

Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan, bagi Bank

yang berkantor pusat di luar wilayah kerja kantor pusat

BankIndonesia.

2. Disket yang berisi informasi Laporan Keuangan Publikasi

Triwulanan disampaikan kepada Direktorat Perizinan dan

Informasi Perbankan, Jl. M.H. Thamrin No.2 Jakarta 10110,

ataumelaluiemaildenganalamatcfs@bi.go.id.

32

LikuiditasRupiah

Paragraf

12

SumberRegulasi

SE7/56/DPbs
2005
RomawiIX

Pasal12
14/14/PBI/2012

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
3. Laporan tertentu sebagaimana dimaksud dalam angka VI
(Paragraf 23 dalam kodifikasi ini) disampaikan kepada Bank
Indonesiadenganalamat:
a. DirektoratPengawasanBank,Jl.M.H.ThamrinNo.2Jakarta
10110, sesuai dengan Direktorat yang mengawasi Bank
yang bersangkutan, bagi Bank yang berkantor pusat atau
KantorCabangdaribankyangberkedudukandiluarnegeri,
diwilayahkerjakantorpusatBankIndonesia;atau
b. KantorBankIndonesiasetempat,bagiBankyangberkantor
pusatdiluarwilayahkerjakantorpusatBankIndonesia.

B. BankUmumSyariahdanUnitUsahaSyariah
1. Fotokopi atau guntingan surat kabar Laporan Keuangan
Publikasi Triwulanan, serta Laporan Tertentu disampaikan
kepadaBankIndonesiadenganalamat:
a. Direktorat Perbankan Syariah, Jl. M.H. Thamrin No.2
Jakarta 10110, dengan tembusan kepada Direktorat
Perizinan dan Informasi Perbankan, bagi Bank yang
berkantor pusat atau Kantor Cabang dari bank yang
berkedudukandiluarnegeri,diwilayahkerjakantorpusat
BankIndonesia;atau
b. KantorBankIndonesiasetempat,dengantembusankepada
Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan, bagi Bank
yang berkantor pusat di luar wilayah kerja kantor pusat
BankIndonesia.
2. Disket yang berisi informasi Laporan Keuangan Publikasi
Triwulanan disampaikan kepada Direktorat Perizinan dan
Informasi Perbankan, Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta 10110,
ataudenganmelaluiemaildengancfs@bi.go.id.

(1) Bank dinyatakan terlambat mengumumkan Laporan Keuangan


PublikasiTriwulananapabilaBankmengumumkanLaporanKeuangan
Publikasi Triwulanan setelah batas akhir waktu pengumuman
sebagaimanadimaksuddalamPasal10ayat(2)(Paragraf10ayat(2)
dalamkodifikasiini)sampaidenganpalinglama1(satu)bulansejak
batasakhirwaktupengumumanlaporan.
(2) Bank dinyatakan terlambat menyampaikan bukti pengumuman
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf (Paragraf 11
ayat(1)dalamkodifikasiini)apabilabuktipengumumandisampaikan
setelahbatasakhirwaktupenyampaiansampaidenganpalinglama1
(satu) bulan sejak batas akhir waktu penyampaian bukti
pengumuman.
(3) Selama belum dimungkinkan pelaporan secara online, Bank
dinyatakan terlambat menyampaikan softcopy Laporan Keuangan
Publikasi Triwulanan dalam bentuk compact disc sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) (Paragraf 11 ayat (2) dalam
kodifikasi ini) apabila disampaikan setelah batas akhir waktu
penyampaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3)
(Paragraf11ayat(3)dalamkodifikasiini)sampaidenganpalinglama
1(satu)bulansejakbatasakhirwaktupenyampaianlaporan.

33

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

13

Pasal13
14/14/PBI/2012

14

Pasal14
14/14/PBI/2012

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
(4) Bank dinyatakan tidak mengumumkan atau tidak menyampaikan
Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan apabila Laporan Keuangan
Publikasi Triwulanan belum diumumkan atau belum disampaikan
sampaidenganberakhirnyabataswaktuketerlambatansebagaimana
dimaksudpadaayat(1),ayat(2),danayat(3).

Bank Indonesia mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan


yangdisampaikanolehBanksebagaimanadimaksuddalamPasal11ayat
(1)hurufbatauayat(2)(Paragraf11ayat(1)hurufbatauayat(2)dalam
kodifikasiini),padawebsiteBankIndonesia.

Ketentuan dalam Pasal ini dimaksudkan untuk lebih mempermudah dan


memperluas akses masyarakat dalam memperoleh informasi mengenai
kondisikeuanganBank.

(1) BankwajibmengumumkanLaporanKeuanganPublikasiTriwulanan
dalamwebsiteBank.
(2) Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama 1 (satu) hari kerja
setelah batas waktu pengumuman Laporan Keuangan Publikasi
Triwulanandalamsuratkabar.
(3) Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dipelihara
dalam website Bank paling kurang untuk 2 (dua) periode laporan
berturutturut.

15

BABIV

LaporanKeuanganPublikasiBulanan

Pasal15
14/14/PBI/2012

(1) Bank wajib mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi Bulanan


melaluiwebsiteBankIndonesia.
(2) Laporan Keuangan Publikasi Bulanan sebagaimana dimaksud pada
ayat(1)palingkurangmemuat:
a. laporankeuangan,yangterdiriatas:
1. LaporanPosisiKeuangan(Neraca);dan
2. LaporanLabaRugi;
b. komitmendankontinjensi;
c. PerhitunganKPMM;dan
d. kualitasasetproduktifdaninformasilainnya,antaralain:
1. jumlahpenyediaandana;
2. kreditkepadadebiturUMKM;
3. kredit yang memerlukan perhatian khusus (antara lain kredit
yangdirestrukturisasidankreditproperti);dan
4. cadanganpenyisihankerugian.

SE3/30/DPNP
2001
RomawiV

A. BankUmumKonvensional
1. LaporanBulananBankUmumyangdisampaikanolehBankkepada
Bank Indonesia untuk posisi bulan Januari sampai dengan
DesemberakandiumumkanpadahomepageBankIndonesia.
2. Format yang digunakan untuk Laporan Keuangan Publikasi
Bulanan tersebut ditetapkan sesuai format pada Lampiran 1a,
Lampiran 2a, Lampiran 3a, Lampiran 5a, dan Lampiran 6a
(Lampiran 3a, Lampiran 4a, Lampiran 5a, Lampiran 7a, Lampiran
8.a.1,danLampiran8.a.2dalamkodifikasiini).

34

LikuiditasRupiah

Paragraf

16

SumberRegulasi

SE7/56/DPbs
2005
RomawiVII

Pasal16
14/14/PBI/2012

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
3. Penyusunan penyajian publikasi berpedoman pada Lampiran 8,
Lampiran9,Lampiran10,Lampiran12danLampiran13(Lampiran
10, Lampiran 11, Lampiran 12, Lampiran 14, dan Lampiran 15
dalam kodifikasi ini). Laporan Keuangan Publikasi Bulanan
merupakan laporan keuangan Bank secara individu yang
merupakan gabungan antara kantor pusat Bank dengan seluruh
kantorBank.

B. BankUmumSyariahdanUnitUsahaSyariah
1. Laporan Bulanan yang disampaikan oleh Bank kepada Bank
Indonesia untuk posisi bulan Januari sampai dengan Desember
akandiumumkanpadahomepageBankIndonesia.
2. Format yang digunakan untuk Laporan Keuangan Publikasi
Bulanan tersebut sebagaimana tercantum dalam Lampiran 1a,
Lampiran 2a, Lampiran 3a, Lampiran 4a, Lampiran 5a (Lampiran
17a, Lampiran 18a, Lampiran 19a, Lampiran 20a, dan Lampiran
21adalamkodifikasiini).
3. Penyusunan penyajian publikasi sebagaimana tercantum dalam
Lampiran 4b, Lampiran 4c, Lampiran 7, Lampiran 8, Lampiran 9,
Lampiran10(Lampiran20b,Lampiran20c,Lampiran23,Lampiran
24,Lampiran25dalamkodifikasiini).
4. Laporan keuangan Publikasi Bulanan merupakan laporan
keuanganBanksecaraindividuyangmerupakangabunganantara
kantorpusatBankdenganseluruhkantorBank.

(1) Laporan Keuangan Publikasi Bulanan sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 15 ayat (1) (Paragraf 15 ayat (1) dalam kodifikasi ini) disusun
berdasarkan data Laporan Bulanan Bank Umum (LBU) yang telah
direklasifikasi oleh Bank Indonesia dengan berpedoman pada
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan dan ketentuan Bank
Indonesia.

Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Bulanan oleh Bank


melalui Bank Indonesia didasarkan pada LBU dengan maksud agar
terdapatkesesuaianinformasiyangditerimaolehBankIndonesiadan
publik serta untuk menghindari duplikasi pelaporan oleh Bank
mengingatBanktelahmenyampaikanLBUkepadaBankIndonesia.
Tujuan reklasifikasi LBU adalah untuk memfasilitasi pelaku pasar
(market participant) dalam menilai laporan keuangan dan laporan
lainnyadariBank.
LBU yang dipergunakan sebagai dasar reklasifikasi merupakan
laporan keuangan gabungan antara kantor pusat Bank dengan
seluruhkantorBank.

(2) Sebelumdilakukanpengumuman,LBUyangtelahdireklasifikasioleh
Bank Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disampaikan
kepada Bank secara online melalui Laporan Kantor Pusat Bank
Umum (LKPBU) untuk dilakukan penelitian dan penyesuaian
mengenai akurasi laporan serta penambahan informasi yang
diperlukan dalam rangka penyusunan Laporan Keuangan Publikasi
Bulanan.

35

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
(3) Bank wajib menyampaikan Laporan Keuangan Publikasi Bulanan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Bank Indonesia secara
onlinemelaluiLaporanKantorPusatBankUmum(LKPBU).
(4) BankIndonesiamengumumkanLaporanKeuanganPublikasiBulanan
yang disampaikan oleh Bank sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
melaluiwebsiteBankIndonesia.
(5) Tatacara,format,danjangkawaktupenyampaianLaporanKeuangan
Publikasi Bulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3)
melaluiLaporanKantorPusatBankUmum(LKPBU)berpedomanpada
ketentuan Bank Indonesia mengenai laporan kantor pusat bank
umum.

17

Pasal17
14/14/PBI/2012

(1) Selama penyampaian LBU yang telah direklasifikasi kepada Bank


secara online sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2)
(Paragraf 16 ayat (2) dalam kodifikasi ini) belum dapat dilakukan,
BankIndonesiamenyampaikanlaporandimaksudkepadaBanksecara
offline.
(2) Selama penyampaian Laporan Keuangan Publikasi Bulanan
sebagaimanadimaksuddalamPasal16ayat(3)(Paragraf16ayat(3)
dalamkodifikasiini)belumdapatdilakukansecaraonline,Bankharus
menyampaikanlaporandimaksudsecaraofflinedalamjangkawaktu
palinglama10(sepuluh)harikerjasetelahBankmenerimaLBUyang
telahdireklasifikasi.
(3) BankIndonesiamengumumkanLaporanKeuanganPublikasiBulanan
berdasarkan Laporan Keuangan Publikasi Bulanan yang disampaikan
Bank sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lama 60 (enam
puluh)harisetelahbulanlaporan.

18

BABV

LaporanKeuanganKonsolidasi

Pasal18
14/14/PBI/2012

(1)

(2)

(3)

(4)

Bank yang merupakan bagian dari suatu kelompok usaha dan/atau


BankyangmemilikiPerusahaanAnakwajibmenyampaikanlaporan
keuangan konsolidasi yang disusun berdasarkan standar akuntansi
keuangan.
Laporankeuangankonsolidasisebagaimanadimaksudpadaayat
(1) disajikan pada Laporan Keuangan Tahunan dan Laporan
KeuanganPublikasiTriwulanan.
Bank Indonesia berwenang menetapkan cakupan perusahaan yang
laporan keuangannya wajib dikonsolidasikan dengan laporan
keuangan Bank selain yang telah ditetapkan dalam standar
akuntansikeuangan.
Penyertaan Bank yang mengakibatkan timbulnya Pengendalian
namun hanya bersifat sementara dikecualikan dari penyusunan
laporankeuangankonsolidasisebagaimanadimaksudpadaayat
(1).

Yang dimaksud dengan bersifat sementara antara lain


Pengendalian yang akan dilepaskan dalam jangka waktu paling
lama 12 (dua belas) bulan sejak posisi laporan keuangan pada
tahun perolehan Pengendalian atau penyertaan modal sementara
dalamrangkarestrukturisasikredit.

36

LikuiditasRupiah

Paragraf

19

20

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi

Ketentuan

BagianKesatu

Laporan Keuangan Konsolidasi yang Disajikan pada Laporan


Tahunan

Pasal19
14/14/PBI/2012

Pasal20
14/14/PBI/2012

(1) Bank yang merupakan bagian dari suatu kelompok usaha dan/atau
Bank yang memiliki Perusahaan Anak dalam menyusun Laporan
Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 (Paragraf 3 dalam
kodifikasi ini), selain menyajikan Laporan Keuangan Tahunan secara
individual,jugawajibmenyajikanLaporanKeuanganTahunansecara
konsolidasi.
(2)LaporanKeuanganTahunansecarakonsolidasisebagaimanadimaksud
padaayat(1)yangtelahdiauditolehAkuntanPublik,terdiriatas:
a. LaporanKeuanganKonsolidasiBank;
b. Laporan Keuangan Konsolidasi Perusahaan Induk di Bidang
Keuangan;dan

Yang dimaksud dengan laporan keuangan konsolidasi


Perusahaan Induk di Bidang Keuangan adalah hasil konsolidasi
dari laporan keuangan seluruh perusahaan di dalam kelompok
usahadibidangkeuangansesuaidenganstandarakuntansi.

c. LaporanKeuanganKonsolidasiPerusahaanInduk.

Yang dimaksud dengan laporan keuangan konsolidasi


Perusahaan Induk adalah hasil konsolidasi dari seluruh laporan
keuangan perusahaan di dalam kelompok usaha sesuai dengan
standarakuntansi.

(3) DalamhalkelompokusahatidakmemilikiPerusahaanIndukdiBidang
Keuangan maka cukup disajikan Laporan Keuangan Konsolidasi
PerusahaanInduksebagaimanadimaksudpadaayat(2)hurufc.
(4) Dalam hal audit Laporan Keuangan Tahunan perusahaan lain di luar
Bank dilakukan oleh Akuntan Publik yang berbeda dengan Akuntan
Publik yang mengaudit Laporan Keuangan Tahunan Bank maka Bank
dalam menyajikan Laporan Keuangan Tahunan secara Konsolidasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib mencantumkan nama
Kantor Akuntan Publik yang melakukan audit Laporan Keuangan
TahunanberikutnamaAkuntanPublikyangbertanggungjawabdalam
audit(partnerincharge)sertaopiniyangdiberikan.
(5) LaporanKeuanganKonsolidasisebagaimanadimaksudpadaayat(2),
palingkurangmeliputi:
a. LaporanPosisiKeuangan(Neraca);
b. LaporanLabaRugiKomprehensif;
c. LaporanPerubahanEkuitas;dan
d. komitmendankontinjensi.
Bankyangmerupakanbagiandarisuatukelompokusahadan/atauBank
yang memiliki Perusahaan Anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19
ayat (1) (Paragraf 19 ayat (1) dalam kodifikasi ini), dalam Laporan
Tahunan selain wajib menyajikan Laporan Keuangan Tahunan secara
konsolidasi,jugawajibmenyampaikaninformasisebagaiberikut:
a. strukturkelompokusahaBank;

37

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
StrukturkelompokusahaBankdisajikansebagaiberikut:
1. mulai dari Bank, Perusahaan Anak, Perusahaan Afiliasi,
Perusahaan Induk di Bidang Keuangan, dan/atau Perusahaan
Induk sampai dengan pemegang saham pengendali terakhir
(ultimateshareholder).
2. strukturketerkaitankepengurusandanpemegangsaham
yang bertindak atas nama pemegang saham lain (shareholder
actinginconcert).
Pemegang saham yang bertindak atas nama pemegang saham lain
adalahpemegangsahamperoranganatauperusahaanyangmemiliki
tujuan bersama untuk mengendalikan Bank yang didasarkan atau
tidakdidasarkanatassuatuperjanjian.

b. transaksiantaraBankdenganPihakpihakBerelasi;

ContohtransaksidenganPihakpihakBerelasimeliputi:
1. kepemilikansilang(crossshareholdings);
2. transaksi dimana suatu kelompok usaha bertindak untuk
kepentingankelompokusahayanglain;
3. pengelolaan likuiditas jangka pendek yang dipusatkan dalam
kelompokusaha;
4. penyediaan dana yang diberikan atau diterima oleh perusahaan
laindalamsatukelompokusaha;
5. eksposur kepada pemegang saham mayoritas antara lain dalam
bentukpinjaman,komitmendankontinjensi;dan
6. pembelian, penjualan, dan penyewaan aset dengan perusahaan
lain dalam suatu kelompok usaha, termasuk yang dilakukan
denganrepurchaseagreement.

c. transaksi dengan Pihakpihak Berelasi yang dilakukan oleh setiap


perusahaan di dalam kelompok usaha Bank yang bergerak di bidang
keuangan;

Contoh transaksi dengan Pihakpihak Berelasi yang dilakukan oleh


setiap perusahaan di dalam kelompok usaha Bank yang bergerak di
bidangkeuanganmeliputi:
1. kepemilikansilang(crossshareholdings);
2. transaksi dimana suatu kelompok usaha bertindak untuk
kepentingankelompokusahayanglain;
3. pengelolaan likuiditas jangka pendek yang dipusatkan dalam
kelompokusaha;
4. penyediaan dana yang diberikan atau diterima oleh perusahaan
laindalamsatukelompokusaha;
5. eksposur kepada pemegang saham mayoritas antara lain dalam
bentukpinjaman,komitmendankontinjensi;dan
6. pembelian, penjualan, dan penyewaan aset dengan perusahaan
laindalamsuatukelompokusaha,termasukyangdilakukandengan
repurchaseagreement.

38

LikuiditasRupiah

Paragraf

21

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
d. penyediaan dana, komitmen maupun fasilitas lain yang dapat
dipersamakan dengan itu dari setiap perusahaan yang berada dalam
satu kelompok usaha dengan Bank kepada debitur yang telah
memperolehpenyediaandanadariBank;dan
e. pengungkapan mengenai permodalan, jenis risiko, potensi kerugian,
dan manajemen risiko sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2)
(Paragraf3ayat(2)dalamkodifikasiini)secarakonsolidasi,bagiBank
UmumKonvensional.

BagianKedua

Laporan Keuangan Konsolidasi yang Disajikan pada Laporan


KeuanganPublikasiTriwulanan

Pasal21
14/14/PBI/2012
ayat(1)(3)

SE7/10/DPNP
2005
Nomor4.b

(1) Bank yang merupakan bagian dari suatu kelompok usaha dan/atau
Bank yang memiliki Perusahaan Anak dalam menyusun Laporan
KeuanganPublikasiTriwulanansebagaimanadimaksuddalamPasal7
(Paragraf7dalamkodifikasiini),selainmenyajikanLaporanKeuangan
PublikasiTriwulanansecaraindividual,jugawajibmenyajikanLaporan
KeuanganPublikasiTriwulanansecarakonsolidasi.
(2) Bank yang memiliki Perusahaan Anak, dalam menyusun Laporan
KeuanganPublikasiTriwulanansebagaimanadimaksuddalamPasal7
(Paragraf7dalamkodifikasiini)wajibmenyajikan:
a. laporankeuanganBanksecaraindividual;dan
b. laporankeuanganBanksecarakonsolidasi.
(3) Bankyangmerupakanbagiandarikelompokusaha,dalammenyusun
Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 7 (Paragraf 7 dalam kodifikasi ini) untuk posisi akhir
bulanJunidanDesember,wajibmenyajikan:
a. laporankeuanganBanksecaraindividual;dan
b. laporankeuanganPerusahaanIndukdiBidangKeuangan;atau
c. laporan keuangan Perusahaan Induk apabila tidak terdapat
laporankeuanganPerusahaanIndukdiBidangKeuangan.

Sesuaipasal26ayat(2)PeraturanBankIndonesiaNomor3/22/2001
tanggal 13 Desember 2001 tentang Transparansi kondisi Keuangan
Bank (sebagaimana telah dicabut oleh PBI Nomor 14/14/PBI/2012
tentang Transparansi dan Publikasi Laporan Bank pada tanggal 18
Oktober 2012 dan diatur kembali oleh Pasal 21 ayat (3) PBI
14/14/PBI/2012/Paragraf21ayat(3)dalamkodifikasiini),dalamhal
Bank merupakan bagian dari kelompok usaha, selain menyajikan
laporan keuangan Bank secara individual serta Laporan keuangan
konsolidasi Bank yang merupakan hasil konsolidasi dari laporan
keuangan Bank dan Perusahaan Anak, untuk posisi akhir bulan Juni
danDesember,Bankdiwajibkanpulamenyajikan:
1) Laporankeuanganperusahaanindukdibidangkeuangan;atau
2) Laporan keuangan perusahaan induk apabila tidak terdapat
laporankeuanganperusahaanindukdibidangkeuangan.
Laporan yang wajib disajikan meliputi Neraca, Laporan Laba Rugi,
Laporan Perubahan Ekuitas serta Daftar Komitmen dan Kontinjensi.
Penyajian disesuaikan dengan transaksi yang dilakukan oleh
perusahaaninduk.

39

LikuiditasRupiah

Paragraf

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
(4) Dalam hal Bank sebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga memiliki
Pasal21
perusahaan anak, dalam menyusun Laporan Triwulanan, juga wajib
14/14/PBI/2012
menyajikan laporan keuangan triwulanan Bank secara konsolidasi
ayat(4)(6)
sebagaimanadimaksudpadaayat(2)hurufb.

(5) Laporan Keuangan Konsolidasi sebagaimana dimaksud pada

ayat(2)hurufb,palingkurangmeliputi:

a. LaporanPosisiKeuangan(Neraca);

b. LaporanLabaRugiKomprehensif;
c. LaporanPerubahanEkuitas;dan
d. komitmendankontinjensi.
(6) Laporan keuangan triwulanan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) dan ayat (3) untuk posisi akhir bulan Desember wajib
diauditolehAkuntanPublik.

BagianKetiga

LaporanTertentukepadaBankIndonesia

22

Pasal22
14/14/PBI/2012

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

Bankyangmerupakanbagiandarikelompokusahadan/atauBank
yang memiliki Perusahaan Anak, selain menyampaikan Laporan
Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 (Paragraf 4 dalam
kodifikasi ini) kepada Bank Indonesia, Bank wajib menyampaikan
laporantahunantertentu.
Laporan tahunan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
palingkurangmencakup:
a. Laporan tahunan Perusahaan Induk dan laporan tahunan
PerusahaanIndukdiBidangKeuangan;
b. Laporan tahunan pemegang saham langsung yang memiliki
saham mayoritas atau laporan tahunan perusahaan yang
melakukanPengendalianlangsungkepadaBank;dan
c. LaporantahunanPerusahaanAnak.
ApabilakelompokusahatidakmemilikiPerusahaanIndukdiBidang
Keuangan,makalaporantahunantertentusebagaimanadimaksud
pada ayat (2) huruf a yang wajib disampaikan oleh Bank adalah
laporantahunanPerusahaanInduk.
Apabila kelompok usaha tidak memiliki laporan tahunan
PerusahaanIndukdanlaporantahunanPerusahaanIndukdiBidang
Keuangan,makalaporantahunantertentusebagaimanadimaksud
pada ayat (2) huruf a yang wajib disampaikan oleh Bank adalah
laporan keuangan tahunan Perusahaan Induk dan laporan
keuangantahunanPerusahaanIndukdiBidangKeuangan.
Apabilakelompokusahatidakmemilikiperusahaanindukdibidang
keuangan dan tidak memiliki laporan tahunan Perusahaan Induk
maka laporan tahunan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf a yang wajib disampaikan oleh Bank adalah laporan
keuangantahunanPerusahaanInduk.
Bataswaktupenyampaianlaporantahunanataulaporankeuangan
tahunan Perusahaan Induk dan Perusahaan Induk di Bidang
KeuangankepadaBankIndonesiamengacupadaPasal4(Paragraf
4dalamkodifikasiini).

40

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi
SE14/35/DPNP
2013
RomawiIII

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
A. BankKonvensionalUmum
1. Selain menyampaikan Laporan Tahunan, Bank yang
merupakan bagian dari kelompok usaha dan/atau Bank yang
memiliki Perusahaan Anak, wajib menyampaikan laporan
tahunan tertentu kepada Bank Indonesia yang paling kurang
mencakup:
a. Laporan tahunan Perusahaan Induk dan laporan tahunan
PerusahaanIndukdiBidangKeuangan;
b. Laporan tahunan pemegang saham langsung yang memiliki
saham mayoritas atau laporan tahunan perusahaan yang
melakukanpengendalianlangsungkepadaBank;dan
c. LaporantahunanPerusahaanAnak.
2. Apabila kelompok usaha tidak memiliki Perusahaan Induk di
Bidang Keuangan, maka laporan tahunan tertentu yang wajib
disampaikan oleh Bank adalah laporan tahunan Perusahaan
Induk.
3. Apabila kelompok usaha tidak memiliki laporan tahunan
Perusahaan Induk dan laporan tahunan Perusahaan Induk di
Bidang Keuangan, maka laporan tahunan tertentu yang wajib
disampaikan oleh Bank adalah laporan keuangan tahunan
Perusahaan Induk dan laporan keuangan tahunan Perusahaan
IndukdiBidangKeuangan.
4. Apabila kelompok usaha tidak memiliki perusahaan induk di
bidang keuangan dan tidak memiliki laporan tahunan
Perusahaan Induk maka laporan tahunan tertentu yang wajib
disampaikan oleh Bank adalah laporan keuangan tahunan
PerusahaanInduk.
5. Batas waktu penyampaian laporan tahunan atau laporan
keuangan tahunan Perusahaan Induk dan Perusahaan Induk di
BidangKeuangankepadaBankIndonesiamengacupadaangka
IV(Paragraf4HurufAdalamkodifikasiini).

SE7/56/DPbS
2005
RomawiIII

B.

Pasal23
14/14/PBI/2012
Ayat(1)

(1)

BankUmumSyariahdanUnitUsahaSyariah
SelainmenyampaikanLaporanTahunan,dalamhalBankmerupakan
bagian dari kelompok usaha dan atau Bank memiliki Perusahaan
Anak,wajibmenyampaikanLaporanTahunan(annualreport)dari:
1. PerusahaanInduk;
2. PerusahaanIndukdibidangkeuangan;dan
3. PerusahaanAnak,
Kepada Bank Indonesia selambatlambatnya 5 (lima) bulan setelah
TahunBukuterakhir.

23

Bank wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia laporan secara


triwulanan mengenai transaksi antara Bank dengan PihakPihak
Berelasi.

Yang dimaksud dengan Bank dalam ayat ini adalah selain


Bankyangmerupakanbagiandarikelompokusahadan/atauBank
yangmempunyaiPerusahaanAnak,jugatermasukBankyangtidak
merupakan bagian dari kelompok usaha dan/atau tidak
mempunyaiPerusahaanAnak.

41

LikuiditasRupiah

Paragraf

24

25

SumberRegulasi
SE3/30/DPNP
2001
RomawiVI.1
(BankUmum);
SE7/56/DPbs
2005
RomawiVIII.1
(BUSdanUUS)

(2)
Pasal23
14/14/PBI/2012
Ayat(2)

SE3/30/DPNP
2001
RomawiVI.2
(BankUmum);
SE7/56/DPbs
2005
RomawiVIII.2
(BUSdanUUS)

Pasal23
(3)
14/14/PBI/2012
Ayat(3)

Pasal24
14/14/PBI/2012

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
Transaksi antara Bank dengan Pihakpihak yang Mempunyai
HubunganIstimewa
Halhalyangwajibdilaporkan,sekurangkurangnyameliputi:
a. namapihakyangmemilikihubunganistimewadenganBank;
b. hubunganketerkaitandenganBank;
c. jenistransaksi;
d. jumlahataunominaltransaksi;dan
e. KualitasAktivaProduktifuntuktransaksipenyediandana.
Bagi Bank yang merupakan bagian dari kelompok usaha selain
wajib menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), juga wajib menyampaikan laporan mengenai pemberian
penyediaan dana, komitmen maupun fasilitas lain yang dapat
dipersamakan dengan itu dari setiap perusahaan yang berada
dalam satu kelompok usaha dengan Bank kepada debitur yang
telahmemperolehpenyediaandanadariBank.
Pemberianpenyediaandana,komitmenmaupunfasilitaslainyang
dapat dipersamakan dengan itu dari setiap perusahaan yang
beradadalamsetiapkelompokusahadenganBankkepadadebitur
yangtelahmemperolehpenyediaandanadariBank,bagiBankyang
merupakanbagiandarikelompokusaha.
Halhalyangwajibdilaporkan,sekurangkurangnyameliputi:
a. namadebitur;
b. jumlahdankualitaspenyediaandanayangdiberikanolehBank;
c. nama kelompok usaha pemberi penyediaan dana serta
hubunganketerkaitandenganBank;dan
d. jenis penyediaan dana dan jumlah penyediaan dana yang
diberikanolehkelompokusaha.

Batas waktu penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam


ayat(1)danayat(2)mengacupadaketentuandalamPasal10ayat
(2) dan Pasal 12 (Paragraf 10 ayat (2) dan Paragraf 12 dalam
kodifikasiini).

Dalam hal terdapat perubahan cakupan Laporan Konsolidasi


sebagaimanadimaksuddalamPasal18,Pasal19,Pasal20,Pasal21,Pasal
22, dan Pasal 23 (Paragraf 18, Paragraf 19, Paragraf 20, Paragraf 21,
Paragraf22,danParagraf23dalamkodifikasiini)akandiaturlebihlanjut
denganSuratEdaranBankIndonesia.

BABVI

LaporanPublikasiLain

Pasal25
14/14/PBI/2012

(1) LaporanPublikasiLainsebagaimanadimaksuddalamPasal2hurufe
(Paragraf2hurufedalamkodifikasiini)meliputi:
a. LaporanSukuBungaDasarKredit(SBDK);dan

YangdimaksuddenganLaporanSukuBungaDasarKredit
(SBDK)adalahlaporanyangmenyajikanperhitungansukubunga
dasarkredityangantaralainmencakuphargapokokdanauntuk

42

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
kredit(HPDK),biayaoverhead,danmarjinkeuntungan(profit
margin)yangditetapkanBankdalamkegiatanperkreditan.

b. LaporanPublikasiLainnya.

Laporan Publikasi Lainnya yang wajib disampaikan oleh Bank


diaturlebihlanjutdalamSuratEdaranBankIndonesia.

(2) Bank wajib mengumumkan Laporan Publikasi Lain sebagaimana


dimaksudpadaayat(1)secaraberkala.
(3) Bank Indonesia berwenang meminta Bank untuk menyampaikan
Laporan Publikasi Lainnya sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangan industri perbankan diluar periode penyampaian
sebagaimanadimaksudpadaayat(2).

26

Pasal26
14/14/PBI/2012

(1) Laporan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) sebagaimana dimaksud


padaPasal25ayat(1)(Paragraf25ayat(1)dalamkodifikasiini)huruf
a wajib diumumkan di surat kabar yang memiliki peredaran luas
paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah akhir bulan Maret, Juni,
September,danDesember.
(2) Bank dinyatakan terlambat mengumumkan Laporan SBDK apabila
Bank mengumumkan Laporan SBDK setelah batas akhir waktu
pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan
paling lama 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu pengumuman
laporan.
(3) BankdinyatakantidakmengumumkanLaporanSBDKapabilaLaporan
SBDK belum diumumkan sampai dengan berakhirnya batas waktu
keterlambatansebagaimanadimaksuddalamayat(2).
(4) Format,cakupan,dantatacarapenyampaiansertapersyaratanBank
yang wajib mengumumkan laporan SBDK berpedoman pada Surat
Edaran Bank Indonesia mengenai transparansi informasi suku bunga
dasarkredit.

BABVII

Lain Lain

27

Pasal27
14/14/PBI/2012

(1) BagiBankyangbelummemilikiwebsiteuntukmemenuhikewajiban
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 14 (Paragraf 6 dan
Paragraf14dalamkodifikasiini),wajibmemenuhikewajibantersebut
palinglambatpadaakhirbulanDesember2012.
(2) Bank wajib mencantumkan alamat website Bank pada Laporan
TahunandanLaporanKeuanganPublikasiTriwulananyangdicetak.

28

Pasal28
14/14/PBI/2012

Laporan Tahunan, Laporan Keuangan Tahunan, Laporan Keuangan


Publikasi Triwulanan, Laporan Keuangan Publikasi Bulanan, Laporan
KeuanganKonsolidasi,danLaporanPublikasiLainyangdiwajibkankepada
BanksebagaimanadiaturdalamPeraturanBankIndonesiainisepenuhnya
menjaditanggungjawabpengurusBank.

Tanggung jawab pengurus Bank termasuk Laporan Keuangan Publikasi


Triwulanan dan Laporan Keuangan Publikasi Bulanan yang disajikan
pada website Bank Indonesia berdasarkan data dan informasi yang
disampaikanolehBankkepadaBankIndonesia.

43

LikuiditasRupiah

Paragraf
29

30

31

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
Pasal29
Kantor Cabang Bank Asing wajib menyusun laporan keuangan
14/14/PBI/2012 sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia ini dengan
menggabungkan laporan keuangan Kantor Cabang Bank Asing dan
seluruhlaporankeuangandarisetiapkantordiIndonesia.

BagiKantorCabangBankAsingtidakdiwajibkanuntukmelaporkandan
menyajikanlaporankeuangankantorpusatBank,PerusahaanIndukdan
PerusahaanIndukdiBidangKeuangandaribankasingtersebut.

Bagi Bank Umum yang melakukan pembelian kredit dari BPPN, tetap
SE7/10/DPNP
wajib mencantumkan informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24
2005
Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/7/PBI/2002 tanggal 27 September
Nomor4.a
2003tentangPrinsipKehatihatian dalamRangkaPembelianKreditoleh
BankdariBadanPenyehatanPerbankanNasional.

PelaksanaanPedomanAkuntansiPerbankanIndonesia
A. DalamrangkapeningkatantransparansikondisikeuanganBankdan
SE11/4/DPNP
penyusunan laporan keuangan yang relevan, komprehensif, andal
2009
dan dapat diperbandingkan, Bank wajib menyusun dan menyajikan
Nomor14
laporan keuangan berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi

Keuangan yang relevan bagi Bank, Pedoman Akuntansi Perbankan

Indonesia (PAPI), dan ketentuan lain yang ditetapkan oleh Bank

Indonesia.

B. PAPImerupakanpetunjukpelaksanaanyangberisipenjabaranlebih

lanjutdaribeberapaPernyataanStandarAkuntansiKeuangan(PSAK)

yangrelevanbagiindustriperbankan.

C. Penyesuaian PAPI 2001 menjadi PAPI 2008 diperlukan terkait

denganditerbitkannyaPSAKNo.50(Revisi2006)tentangInstrumen

Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan, dan PSAK No. 55 (Revisi

2006)tentangInstrumenKeuangan:PengakuandanPengukuran.

D. PAPI 2008 merupakan acuan dalam penyusunan dan penyajian

laporan keuangan Bank. Mengingat sifat PAPI merupakan petunjuk

pelaksanaan dari PSAK maka untuk halhal yang tidak diatur dalam

PAPItetapmengacukepadaPSAKyangberlaku.
SE11/33/DPNP
E. PenyesuaianPAPI2008
2009
1) Menyikapi berbagai tantangan dan permasalahan yang
Nomor4A
dihadapiBankdalammelakukanpersiapanpenerapanPSAKNo.

55 (Revisi 2006) mengenai Instrumen Keuangan: Pengakuan

dan Pengukuran yang merupakan standar akuntansi yang

kompleks dan sejalan dengan standar akuntansi yang berlaku

secara internasional, maka dipandang perlu untuk melakukan

penyesuaian terhadap PAPI 2008, khususnya pada Bab III

Penjelasan Umum angka 2 mengenai Ketentuan Transisi

denganmenambahkanhurufD.

2) PenyesuaianPAPI2008yangmemuatestimasipenurunannilai

kredit secara kolektif dengan keterbatasan pengalaman

kerugian spesifik sebagaimana tercantum dalam Lampiran

merupakanacuanbagiBankdalampenyusunandanpenyajian

laporan keuangan serta menjadi acuan bagi Akuntan Publik

dalammelakukanpemeriksaanlaporankeuanganBank.

44

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
Pemeriksaan Oleh Akuntan Publik Atas Estimasi Penurunan
NilaiKolektif
a) Dalam pelaksanaan audit, Akuntan Publik bertanggung
jawabuntuk:
i. menilai kewajaran penilaian sendiri (selfassessment)
yang dilakukan oleh manajemen dalam rangka
menetapkan keberadaan kondisi keterbatasan Bank
sebagaimana dimaksud dalam penyesuaian PAPI 2008;
dan
ii. menilai kewajaran estimasi manajemen dalam
menentukanpenurunannilaikreditsecarakolektif.
b) Apabila dalam pelaksanaan audit, Akuntan Publik
menemukan bahwa Bank tidak berada dalam kondisi
keterbatasantetapitetapmenerapkanestimasipenurunan
nilai kredit secara kolektif sebagaimana dimaksud dalam
penyesuaian PAPI 2008, maka Bank dinilai tidak
menerapkan PSAK No. 55 (Revisi 2006) dan PAPI 2008,
sertamelanggarSuratEdaranini.
c) Akuntan Publik yang menemukan Bank yang tidak
menerapkan PSAK No. 55 (Revisi 2006) dan PAPI 2008,
serta melanggar Surat Edaran ini sebagaimana dimaksud
pada angka 2) harus memberitahukan mengenai temuan
tersebut dalam laporan hasil audit dan Surat Komentar
(ManagementLetter)yangwajibdisampaikankepadaBank
Indonesia sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank
Indonesiamengenaitransparansikondisikeuanganbank.
TransparansiPenerapanEstimasiPenurunanNilaiKolektif
Dalam rangka memberikan informasi yang lebih transparan
kepada masyarakat dan pengguna laporan keuangan Bank,
Bank yang menerapkan estimasi penurunan nilai kredit secara
kolektif sebagaimana diatur dalam penyesuaian PAPI 2008
wajib mengungkapkan informasi tersebut dalam Catatan atas
LaporanKeuangandalamLaporanTahunansebagaimanadiatur
dalamSuratEdaranBankIndonesiamengenailaporantahunan
bankumum.
Sanksi
Pelanggaran dalam penerapan Surat Edaran ini dikenakan
sanksi sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia
mengenaitransparansikondisikeuanganbank.

3)

4)

5)

32

SE15/26/DPbs
2013

PelaksanaanPedomanAkuntansiPerbankanSyariah
PelaksanaanPedomanAkuntansiPerbankanSyariah
I. KetentuanUmum
A. Dalam rangka peningkatan transparansi kondisi keuangan bagi
Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah, selanjutnya disebut
Bank Syariah, dan penyusunan laporan keuangan yang relevan,
komprehensif, andal dan dapat diperbandingkan, Bank Syariah
menyusun dan menyajikan laporan keuangan berdasarkan
PernyataanStandarAkuntansiKeuangan(PSAK)yangrelevanbagi
Bank Syariah, Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia
(PAPSI),danketentuanlainyangditetapkanolehBankIndonesia.

45

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
B. PAPSI merupakan petunjuk pelaksanaan yang berisi penjabaran
lebih lanjut dari beberapa Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan(PSAK)yangrelevanbagiindustriperbankansyariah.
C. Dengan diterbitkannya antara lain PSAK khusus tentang transaksi
syariah, PSAK No. 50 (Revisi 2010) tentang Instrumen Keuangan:
Penyajian,PSAKNo.55(Revisi2011)tentangInstrumenKeuangan:
Pengakuan dan Pengukuran, dan PSAK No. 60 tentang Instrumen
Keuangan:Pengungkapan,sertaPSAKNo.48(Revisi2009)tentang
Penurunan Nilai Aset maka perlu dilakukan penyesuaian atas
PAPSI 2003 menjadi PAPSI 2013 sebagaimana dimaksud pada
Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat
EdaranBankIndonesiaini.
D. PAPSI 2013 merupakan pedoman dalam penyusunan dan
penyajian laporan keuangan Bank Syariah. Untuk halhal yang
tidak diatur dalam PAPSI 2013 tetap berpedoman kepada PSAK
yang berlaku beserta pedoman pelaksanaannya sepanjang tidak
bertentangandenganprinsipsyariah.
II. PengakuanPendapatanPendapatandalamTransaksiJualBeli
A. Sesuai dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor: 84/DSN
MUI/XII/2012 tanggal 21 Desember 2012 tentang Metode
PengakuanPendapatanMurabahahdiLembagaKeuanganSyariah
(LKS) maka pengakuan pendapatan murabahah untuk Bank
Syariah dapat dilakukan dengan menggunakan metode anuitas
ataumetodeproporsional.
B. Pengakuan pendapatan dengan menggunakan metode anuitas
atau metode proporsional hanya dapat digunakan untuk
pengakuanpendapatanpembiayaanatasdasarjualbeli.
C. Dalam hal Bank Syariah menggunakan metode anuitas maka
pencatatantransaksimurabahahwajibmenggunakan:
1. PSAK 55 (Revisi 2011): Instrumen Keuangan: Pengakuan dan
Pengukuran,selanjutnyadisebutPSAK55;
2. PSAK 50 (Revisi 2010): Instrumen Keuangan: Penyajian,
selanjutnyadisebutPSAK50;
3. PSAK 60: Instrumen Keuangan: Pengungkapan, selanjutnya
disebutPSAK60;dan
4. PSAKlainyangrelevan.
D. DalamhalBankSyariahmenggunakanmetodeproporsionalmaka
pencatatan transaksi murabahah wajib menggunakan PSAK 102 :
AkuntansiMurabahah.
E. Penggunaan salah satu metode pengakuan pendapatan wajib
digunakanuntukseluruh jenisportofoliopembiayaanmurabahah
dan diungkapkan dalam kebijakan akuntansi serta dilakukan
secarakonsisten.
III. PendapatandanBebanTerkaitdenganTransaksiMurabahah
A. Dalam praktik penyaluran pembiayaan murabahah, Bank Syariah
dapat:
1. menerima pendapatan di luar marjin keuntungan seperti
pendapatanadministrasi;dan/atau
2. mengeluarkan biaya yang terkait langsung dengan transaksi
murabahahsepertibiayakomisi,biayasurvei,danbiayalain.

46

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
B. Dalam hal Bank Syariah menerapkan pengakuan pendapatan
denganmetodeanuitas,makapendapatandanbiayasebagaimana
dimaksud dalam huruf A digabungkan dengan nilai pembiayaan
murabahah. Selanjutnya nilai tersebut diamortisasi selama masa
akad dengan menggunakan metode effective rate sebagaimana
diaturdalamPSAK55,PSAK50,danPSAK60sertaPSAKlainyang
relevan.
C. Dalam hal Bank Syariah menerapkan pengakuan pendapatan
dengan metode proporsional maka pendapatan dan biaya
sebagaimana dimaksud dalam huruf A diakui selaras dengan
pengakuan pendapatan murabahah secara proporsional selama
masaakad.
D. Pendapatan dan biaya sebagaimana dimaksud dalam huruf A
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pendapatan
murabahah sehingga wajib dibagihasilkan kepada pemilik dana
pihakketiga(shahibulmaal).

IV. PembentukanCadanganKerugian
A. Bank Syariah wajib membentuk cadangan kerugian penurunan
nilai (CKPN) atas aset keuangan dan aset non keuangan sesuai
denganstandarakuntansikeuanganyangberlaku.
B. Dalam rangka menerapkan prinsip kehatihatian, Bank Syariah
wajib mempertimbangkan CKPN yang dibentuk berdasarkan
ketentuanBankIndonesiapadasaatmemperhitungkancadangan
kerugianasetkeuangandanasetnonkeuangan.
C. DalamhalterdapatselisihkurangantaraCKPNyangdibentukoleh
BankSyariahdengankewajibanpembentukancadangankerugian
sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia maka kekurangan CKPN
tersebutakandiperhitungkansebagaipengurangfaktormodalinti
dalam perhitungan rasio kewajiban pemenuhan modal minimum
(KPMM).

V. Estimasi Penurunan NIlai Pembiayaan secara Kolektif dengan


KeterbatasanPengalamanKerugianSpesifik
A. DalamhalBankSyariahtidakmemilikiketersediaandatakerugian
pembiayaansecaraspesifikuntukmelakukanperhitunganestimasi
penurunan nilai secara kolektif sebagaimana yang diatur dalam
PSAK 55 bagi Bank Syariah yang menerapkan metode anuitas
dalam pengakuan pendapatan murabahah maka tata cara
perhitunganestimasipenurunannilaisecarakolektifberpedoman
padabutirIII.4LampiranSuratEdaranBankIndonesiaini.
B. Bank Syariah dapat menerapkan estimasi penurunan nilai
pembiayaansecarakolektifsebagaimanadimaksuddalamhurufA
palinglamasampaidengantanggal31Desember2014.Terhitung
sejak 1 Januari 2015, Bank Syariah harus mengukur penurunan
nilai pembiayaan dan membentuk CKPN atas pembiayaan secara
kolektif dengan menggunakan data pengalaman kerugian spesifik
atau kerugian historis dari peer group atas pembiayaan secara
kolektif.

47

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi
C.

D.

E.

F.

33

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
Dalam rangka penerapan estimasi penurunan nilai pembiayaan
secara kolektif dengan menggunakan data pengalaman kerugian
spesifik, Bank wajib menyampaikan rencana tindak (action plan)
yangakandilakukan.
Ketentuanmengenaiestimasipenurunannilaipembiayaansecara
kolektif sebagaimana dimaksud dalam huruf B, merupakan acuan
bagi Bank Syariah dalam menyusun dan menyajikan laporan
keuangan serta menjadi acuan bagi Akuntan Publik dalam
melakukanpemeriksaanlaporankeuanganBankSyariah.
Halhal yang harus dilakukan oleh Akuntan Publik dalam
pemeriksaanatasestimasipenurunannilaikolektifadalahsebagai
berikut:
1. Dalam pelaksanaan audit, Akuntan Publik bertanggung jawab
untuk:
a. menilaikewajaranpenilaiansendiri(selfassessment)yang
dilakukan oleh manajemen Bank Syariah dalam
menetapkan
keberadaan
kondisi
keterbatasan
pengalaman kerugian spesifik sebagaimana dimaksud
dalamLampiranSuratEdaranBankIndonesiaini;dan
b. menilaikewajaranestimasiolehmanajemenBankSyariah
dalam menentukan penurunan nilai pembiayaan secara
kolektif.
2. Apabiladalampelaksanaanaudit,AkuntanPublikmenemukan
bahwaBankSyariahtidakberadadalamkondisiketerbatasan
pengalaman kerugian spesifik namun menerapkan estimasi
penurunan nilai pembiayaan secara kolektif maka Bank
Syariah dinilai tidak menerapkan PSAK 55 beserta pedoman
pelaksanaannya dan melanggar Surat Edaran Bank Indonesia
ini.
3. TemuanAkuntanPubliksebagaimanadimaksuddalamangka2
harus diungkapkan oleh Akuntan Publik dalam laporan hasil
audit dan Surat Komentar (Management Letter) dan wajib
disampaikan kepada Bank Indonesia sebagaimana diatur
dalam ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai
transparansikondisikeuanganbank.
Dalam rangka memberikan informasi yang lebih transparan
kepada masyarakat dan pengguna laporan keuangan Bank, Bank
Syariah yang menerapkan estimasi penurunan nilai pembiayaan
secara kolektif wajib mengungkapkan informasi tersebut dalam
Catatan atas Laporan Keuangan dalam Laporan Tahunan
sebagaimanadiaturdalamSuratEdaranBankIndonesiamengenai
laporantahunanbankumum.

BABVIII
BagianKesatu

Sanksi
SanksiLaporanTahunan

Pasal30
14/14/PBI/2012

(1) BankyangterlambatmenyampaikanLaporanTahunankepadaBank
IndonesiasebagaimanadimaksuddalamPasal5ayat(1)(Paragraf5
ayat (1) dalam kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban
membayar sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) per hari
keterlambatan.

48

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

34

Pasal31
14/14/PBI/2012

35

Pasal32
14/14/PBI/2012

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
(2) Bank yang tidak menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana
dimaksuddalamPasal5ayat(2)(Paragraf5ayat(2)dalamkodifikasi
ini) kepada pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1)
(Paragraf4ayat(1)dalamkodifikasiini)dikenakansanksi:
a. kewajiban membayar sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta
rupiah;dan
b. pengumuman nama yang dikenakan sanksi dan alasan
pengenaansanksipadawebsiteBankIndonesia.

Bank yang tidak mengumumkan Laporan Tahunan pada website Bank


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 (Paragraf 6 dalam kodifikasi ini)
dikenakansanksiadministratifberupa:
(1) tegurantertulis;dan
(2) kewajibanmembayarsebesarRp10.000.000,00(sepuluhjutarupiah)
per hari, paling banyak sebesar Rp50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah).

Penerapan sanksi tidak diberlakukan dalam hal terjadi kerusakan


sistem teknologi informasi Bank yang disertai dengan bukti dan
dokumenpendukungyangdisampaikankepadaBankIndonesia.

(1) Apabila menurut penilaian Bank Indonesia, Laporan Tahunan yang


disampaikan kepada Bank Indonesia dan/atau yang diumumkan di
dalam website Bank secara material tidak sesuai dengan keadaan
sebenarnya dan/atau tidak disajikan sesuai ketentuan dalam
PeraturanBankIndonesiainidan/atauPernyataanStandarAkuntansi
Keuanganyangberlaku,dikenakan:
a. sanksi teguran tertulis paling banyak 2 (dua) kali dengan
tenggangwaktu2(dua)mingguuntuksetiapteguran;
b. sanksi kewajiban membayar paling sedikit sebesar
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak
sebesarRp500.000.000,00(limaratusjutarupiah)apabilasetelah
diberi teguran tertulis 2 (dua) kali, Bank tidak memperbaiki
dan/atau mengumumkan kembali laporan dimaksud pada
websiteBank;dan
c. sanksiadministratiflainsebagaimanadimaksuddalamPasal
52 Undangundang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
sebagaimana telah diubah dengan Undangundang Nomor 10
Tahun1998danPasal58UndangundangNomor21Tahun2008
tentangPerbankanSyariah,berupa:
1. penurunantingkatkesehatanBank;
2. pencantumananggotapengurus,pegawaiBank,
pemegang saham dalam daftar orangorang yang dilarang
menjadipemilikdanpengurusBank;dan/atau
3. pembekuankegiatanusahatertentu.
(2) Nama Bank yang dikenakan sanksi dan alasan pengenaan sanksi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), akan diumumkan oleh Bank
Indonesia melalui website Bank Indonesia berdasarkan data yang
tersediadiBankIndonesia.

49

LikuiditasRupiah

Paragraf

36

SumberRegulasi
BagianKedua
Pasal33
14/14/PBI/2012

TransparansidanPublikasiLaporanBank
Ketentuan

SanksiLaporanKeuanganPublikasiTriwulanan
(1) Bank yang terlambat mengumumkan dan/atau terlambat
menyampaikanLaporanKeuanganPublikasiTriwulanansebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) (Paragraf 12 ayat (1) dalam
kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp
1.000.000,00 (satu juta rupiah) per hari keterlambatan untuk setiap
laporan.
(2) Bank yang tidak mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi
TriwulanansebagaimanadimaksuddalamPasal12ayat(2)(Paragraf
12ayat(2)dalamkodifikasiini),dikenakansanksi:
a. kewajiban membayar sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta
rupiah);dan
b. pengumuman nama Bank yang dikenakan sanksi dan Laporan
KeuanganPublikasiTriwulananberdasarkandatayangtersediadi
BankIndonesiapadawebsiteBankIndonesia.

Ketentuan dalam ayat ini dimaksudkan untuk tujuan kelangsungan


informasiyangditerimaolehmasyarakatdalamrangkapeningkatan
transparansiperbankanIndonesia.

(3) Bank yang mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan


namun tidak menyampaikan fotokopi atau guntingan surat kabar
yang memuat Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan kepada Bank
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf a
(Paragraf 11 ayat (1) huruf a dalam kodifikasi ini), dikenakan sanksi
kewajiban membayar sebesar Rp30.000.000,00 (tiga puluh juta
rupiah).
(4) Apabila menurut penilaian Bank Indonesia, Laporan Keuangan
Publikasi Triwulanan secara material tidak sesuai dengan keadaan
sebenarnya dan/atau tidak disajikan sesuai ketentuan dalam
PeraturanBankIndonesiainidan/atauPernyataanStandarAkuntansi
Keuangan yang berlaku, atau Surat Komentar (Management Letter)
dari Akuntan Publik menyatakan adanya kelemahan mendasar dari
sistempelaporandataBankkeBankIndonesia,dikenakan:
a. sanksitegurantertulissebanyak2(dua)kaliolehBankIndonesia
dengantenggangwaktu2(dua)mingguuntuksetiapteguran;
b. sanksi kewajiban membayar paling sedikit sebesar
Rp100.000.000,00(seratusjutarupiah)danpalingbanyaksebesar
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) apabila setelah diberi
teguran tertulis 2 (dua) kali, Bank tidak memperbaiki dan/atau
mengumumkankembalilaporandimaksud;dan
c. sanksi administratif lain sebagaimana dimaksud dalam
Paragraf 52 Undangundang Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undangundang
Nomor 10 Tahun 1998 dan Paragraf 58 Undangundang Nomor
21Tahun2008tentangPerbankanSyariah,berupa:
1. penurunantingkatkesehatanBank;
2. pencantumananggotapengurus,pegawaiBank,
pemegangsahamdalamdaftarorangorangyang
dilarangmenjadipemilikdanpengurusBank;dan/atau
3. pembekuankegiatanusahatertentu.

50

LikuiditasRupiah

Paragraf

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi

Ketentuan
(5) Nama Bank yang dikenakan sanksi dan alasan pengenaan sanksi
sebagaimana dimaksud pada ayat (4), akan diumumkan oleh Bank
Indonesia melalui website Bank Indonesia berdasarkan data yang
tersediadiBankIndonesia.

BagianKetiga

SanksiLaporanKeuanganPublikasiBulanan

37

Pasal34
14/14/PBI/2012

Sanksi atas keterlambatan penyampaian dan koreksi atas Laporan


Keuangan Publikasi Bulanan berpedoman pada ketentuan mengenai
LaporanKantorPusatBankUmum(LKPBU).

BagianKeempat

SanksiLaporanKeuanganKonsolidasi

38

Pasal35
14/14/PBI/2012

(1) Bank yang terlambat menyampaikan Laporan Keuangan Konsolidasi


kepada Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat
(2)danPasal21ayat(2)(Paragraf19ayat(2)danParagraf21ayat(2)
dalam kodifikasi ini) dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar
Rp1.000.000,00(satujutarupiah)perhariketerlambatan.
(2) Bank yang tidak menyampaikan Laporan Keuangan Konsolidasi
sebagaimanadimaksuddalamPasal19ayat(2)danPasal21ayat(2)
(Paragraf 19 ayat (2) dan Paragraf 21 ayat (2) dalam kodifikasi ini),
dikenakansanksisebagaiberikut:
a. sanksi kewajiban membayar sebesar Rp100.000.000,00 (seratus
jutarupiah);dan
b. pengumuman nama Bank dan/atau perusahaan yang tidak
menyampaikanLaporanKeuanganKonsolidasi.

PengumumannamaBankatauperusahaandapatdilakukanmelalui
websiteBankIndonesia.

BagianKelima

SanksiLaporanPublikasiLain

Pasal36
14/14/PBI/2012

(1) Bank yang terlambat mengumumkan Laporan SBDK sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2) (Paragraf 26 ayat (2) dalam
kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar
Rp1.000.000,00(satujutarupiah)perhariketerlambatan.
(2) Bank yang tidak mengumumkan Laporan SBDK sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 26 ayat (3) (Paragraf 26 ayat (3) dalam
kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar
Rp50.000.000,00(limapuluhjutarupiah).

BABV

TransparansiKondisiKeuanganBank
HubunganantaraBank,AkuntanPublik,danBankIndonesia

39

40

Pasal16
3/22/PBI/2001

(1)

Dalam memberikan penugasan audit terhadap Laporan Keuangan


TahunansebagaimanadimaksuddalamPasal3ayat(2),Bankwajib
menunjuk Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik yang telah
terdaftardiBankIndonesia.
(2) Penunjukan Akuntan Publik dan atau Kantor Akuntan Publik yang
samaolehBankpalinglamadilakukanuntukperiodeaudit5(lima)
TahunBukuberturutturut.

51

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

Ketentuan
Pengaturan ini dimaksudkan agar terdapat penilaian dari pihak
yang berbeda dalam rangka meningkatkan independensi profesi
AkuntanPublik.
Perhitungan jangka waktu 5 (lima) tahun dimulai sejak berlakunya
PeraturanBankIndonesiainiatausejakTahunBuku2001.

SE3/32/DPNP
2001
RomawiI

SE7/57/DPbs
2005
RomawiI

TransparansidanPublikasiLaporanBank

A. BankUmumKonvensional
1. Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia tersebut di atas,
dikemukakan bahwa dalam rangka turut serta menciptakan
disiplin pasar (market discipline) perlu diupayakan transparansi
kondisi keuangan dan kinerja Bank sehingga dapat lebih
memudahkan penilaian bagi kepentingan publik dan peserta
pasarmelaluipublikasilaporankepadamasyarakatluas.
2. Dalam rangka meningkatkan integritas laporan keuangan Bank
maka Laporan Keuangan Tahunan Bank wajib diaudit oleh
Akuntan Publik dan untuk memperoleh keyakinan yang
memadai tentang kemampuan dan kesesuaian tugasnya,
Akuntan Publik yang mengaudit Bank harus independen,
kompeten, profesional dan objektif serta menggunakan
kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama (due
professionalcare)
3. Dalam rangka meningkatkan kualitas hasil audit, perlu
ditetapkan persyaratan Akuntan Publik yang diperkenankan
melakukan audit terhadap Bank. Akuntan Publik yang
diperkenankan untuk mengaudit Bank adalah Akuntan Publik
yang terdaftar di Bank Indonesia. Oleh karena itu dalam
melakukan penunjukan Akuntan Publik, Bank hendaknya
memperhatikan daftar Akuntan Publik yang diumumkan Bank
IndonesiapadahomepageBankIndonesia.
4. Sesuai dengan Pasal 16 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia
tersebut di atas (Paragraf 40 ayat (2) dalam kodifikasi ini),
penunjukan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik yang
sama oleh Bank paling lama dilakukan untuk periode audit 5
(lima) tahun buku berturutturut dan mulai berlaku sejak
dikeluarkannyaketentuanBankIndonesiadimaksud,yaitusejak
laporankeuanganuntukTahunBuku2001.
5. Agar dari audit yang dilakukan Akuntan Publik diperoleh
informasi kondisi keuangan Bank yang optimal, perlu adanya
komunikasiyangaktifdantransparanantaraAkuntanPublikdan
BankIndonesia.

B. Bank yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip


SyariahdiIndonesia
1. Pengertian Bank dalam Surat Edaran ini adalah Bank
sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor
3/22/PBI/2001 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia
Nomor 7/50/PBI/2005 (sebagaimana telah dicabut dan diatur
kembali oleh PBI 14/14/PBI/2012 tentang Transparansi dan
PublikasiLaporanBank)danBPRSsebagaimanadimaksuddalam
PeraturanBankIndonesiaNomor7/47/PBI/2005.

52

LikuiditasRupiah

Paragraf

41

SumberRegulasi

Pasal17
3/22/PBI/2001

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
2. Dalam rangka turut serta menciptakan disiplin pasar (market
discipline) perlu diupayakan transparansi kondisi keuangan dan
kinerja Bank sehingga dapat lebih memudahkan penilaian bagi
kepentingan publik dan peserta pasar melalui publikasi laporan
kepadamasyarakatluas.
3. Dalam rangka meningkatkan integritas laporan keuangan Bank
maka laporan Keuangan Tahunan Bank wajib diaudit oleh
Akuntan Publik, dimana khusus untuk BPRS yang wajib diaudit
adalahBPRSyangberasetdiatasRp.10.000.000.000,00(sepuluh
miliarrupiah).Untukmemperolehkeyakinanyangmemadaiatas
kualitas hasil audit, maka Akuntan Publik yang mengaudit Bank
harus terdaftar di Bank Indonesia serta dalam melakukan audit
harusindependen,kompeten,profesionaldanobjektif.
4. Komunikasi aktif dan transparan antara Akuntan Publik dengan
pihakpihak yang melakukan pengawasan yaitu Bank Indonesia
dan Dewan Pengawas Syariah perlu dilakukan agar dapat
dihasilkan informasi kondisi keuangan Bank yang optimal.
Komunikasi dengan Dewan Pengawas Syariah diperlukan
mengingat Dewan Pengawas Syariah adalah dewan yang
melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan prinsip syariah
yangadadiBank.

(1)

Laporan Keuangan Tahunan Kantor Cabang Bank Asing atau Bank


yang sebagian sahamnya dimiliki oleh pihak asing dapat diaudit
secara konsolidasi oleh Kantor Akuntan Publik yang sama dengan
Kantor Akuntan Publik yang mengaudit kantor pusat Bank atau
PerusahaanIndukBank.

Yang dimaksud dengan audit secara konsolidasi oleh Kantor


Akuntan Publik adalah audit terhadap kantor pusat dari Kantor
CabangBankAsingatauauditterhadapperusahaanindukdaribank
yang sebagian sahamnya dimiliki pihak asing yang dilaksanakan
oleh Kantor Akuntan Publik yang sama, yang ditunjuk oleh kantor
pusatatauperusahaaninduk.
Pengaturan dalam ayat ini berpedoman juga pada ketentuan yang
ditetapkanolehMenteriKeuangan.

(2)

Kantor Cabang Bank Asing atau Bank yang sebagian sahamnya


dimiliki oleh pihak asing sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dapat mengajukan permohonan kepada Bank Indonesia untuk
dikecualikandariketentuansebagaimanadimaksuddalamPasal16
ayat(2).(Paragraf40ayat(2)dalamkodifikasiini)
Pengecualian sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) wajib disertai
alasanyangjelas.

Alasan untuk dapat diberikan pengecualian dalam ayat ini antara


lain adanya ketentuan di negara asal maupun kebijakan internal
yang menjamin adanya independensi yang cukup dari Akuntan
Publikyangmelakukanauditlaporankeuangan.

(3)

53

LikuiditasRupiah

Paragraf
42

SumberRegulasi
Pasal18
(1)
3/22/PBI/2001
(2)

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
Penunjukan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik dalam
rangka audit Laporan Keuangan Tahunan Bank wajib didasarkan
padaperjanjiankerja.
Perjanjian kerja antara Bank dan Kantor Akuntan Publik
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), sekurangkurangnya
mencakup:

Bagi beberapa Bank yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku


wajib diaudit oleh instansi pemerintah seperti Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan, istilah perjanjian kerja disesuaikan
denganketentuanyangberlaku.

a. namaKantorAkuntanPublik;
b. AkuntanPublikyangbertanggungjawabterhadapaudit(partner
incharge);
c. kewajiban Akuntan Publik untuk melaksanakan audit sesuai
StandarProfesionalAkuntanPublik;
d. ruanglingkupaudit;
e. jangkawaktupenyelesaianaudit;

Jangkawaktupenyelesaianauditdisesuaikandenganbatasakhir
penyampaianLaporanKeuanganTahunankeBankIndonesia.

f. pernyataan dari Bank mengenai izin kepada Kantor Akuntan


Publik dan kewajiban Kantor Akuntan Publik untuk
menyampaikanpulasecaralangsungkepadaBankIndonesia:
1) laporanhasilaudit;
2) SuratKomentar(ManagementLetter);
3) informasi lainnya yang dibutuhkan oleh Bank Indonesia dari
AkuntanPublikyangdilakukansetiapsaatapabiladiperlukan;

Yang dimaksud dengan informasi lainnya yang dibutuhkan


olehBankIndonesiameliputiinformasiyangdiberikansecara
tertulismaupunmelaluipertemuandenganAkuntanPublik.

(3)

(4)

4) informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf b


(Paragraf43ayat(2)dalamkodifikasiini);
g. Kewajiban Akuntan Publik untuk memberitahukan kepada Bank
Indonesiasebelumpelaksanaanaudit.
Laporan hasil audit dan Surat Komentar (Management Letter)
sebagaimanadimaksuddalamayat(2)huruffangka1)danangka2)
wajib disampaikan kepada Bank Indonesia selambatlambatnya 4
(empat)bulansetelahTahunBuku.
Ruanglingkupauditsebagaimanadimaksuddalamayat(2)hurufd
sekurangkurangnyamencakup:
a. penggolongan Kualitas Aktiva Produktif dan kecukupan
Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang dibentuk Bank,
yangdidasarkanataspenilaiansekurangsekurangnyamencakup
70% (tujuh puluh perseratus dari setiap jenis aktiva produktif
Bankdengansekurangkurangnyamencakup25(duapuluhlima)

54

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
debiturterbesaratauberdasarkanhasilkomunikasiantaraBank
IndonesiadenganAkuntanPublik;
b. penilaian terhadap ruparupa aktiva termasuk namun tidak
terbataspadaagunanyangdiambilaliholehBank;
c. halhallainyangdiaturdalamStandarAkuntansiKeuangandan
Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia yang berlaku,
termasukcatatanatasLaporanKeuangan;
d. pendapatterhadapkewajaranatastransaksidenganPihakpihak
yang Mempunyai Hubungan Istimewa maupun transaksi yang
dilakukandenganperlakuankhusus;

PihakpihakyangMempunyaiHubunganIstimewaadalahpihak
pihaksebagaimanadiaturdalamPernyataanStandarAkuntansi
Keuanganyangberlaku.

e. jumlahdankualitaspenyediaandanakepadaPihakTerkait;
f. rincian pelanggaran Batas Maksimum Pemberian Kredit yang
meliputi nama debitur, kualitas penyediaan dana, persentase
danjumlahpelanggaranBatasMaksimumPemberianKredit;
g. rincian pelampauan Batas Maksimum Pemberian Kredit yang
meliputi persentase dan jumlah pelampauan Batas Maksimum
PemberianKredit;
h. perhitunganKewajibanPenyediaanModalMinimum;
i. halhal lain yang ditentukan berdasarkan hasil komunikasi Bank
IndonesiadenganKantorAkuntanPubliksebagaimanadimaksud
dalamPasal20(Paragraf44dalamkodifikasiini);

Penetapan halhal lain pada huruf ini akan disusun oleh Bank
Indonesia bersamasama dengan Kantor Akuntan Publik dan
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ruang lingkup
audit.

j. transaksiSpotdantransaksiDerivatif;
k. rasioPosisiDevisaNeto;dan
l. keandalan sistem pelaporan Bank kepada Bank Indonesia dan
pengujian terhadap keandalan laporanlaporan yang
disampaikanolehBankkepadaBankIndonesia.
Perubahan cakupan perjanjian kerja dan ruang lingkup audit
sebagaimanadimaksuddalamayat(2)danayat(4)akanditetapkan
denganSuratEdaranBankIndonesia.

(5)

43

Pasal19
7/50/PBI/2005

(1)

Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik yang melakukan audit


terhadapLaporanKeuanganTahunanBankwajib:
a. melakukan audit sesuai dengan Standar Profesional Akuntan
Publik, serta perjanjian kerja dan ruang lingkup audit
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 (Paragraf 42 dalam
kodifikasiini);

55

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
b. memberitahukan kepada Bank Indonesia selambatlambatnya 7
(tujuh)harikerjasejakditemukannya:
1) pelanggaran peraturan perundangundangan di bidang
keuangandanperbankan;dan
2) keadaanatauperkiraankeadaanyangdapatmembahayakan
kelangsunganusahaBank;

Keadaanatauperkiraankeadaanyangdapatmembahayakan
kelangsungan usaha Bank termasuk namun tidak terbatas
pada:
1. kekuranganKewajibanPenyediaanModalMinimum;
2. kekuranganpembentukanPenyisihanPenghapusanAktiva
Produktifyangmaterial;
3. pelanggaranBatasMaksimumPemberianKredit;
4. kewajibanGiroWajibMinimum;
5. kecurangan(fraud)yangbernilaimaterial.

c. menyampaikan laporan hasil audit dan Management letter


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) huruf f angka 1)
danangka2)(Paragraf42ayat(2)huruffangka1)danangka2)
dalamkodifikasiini)kepadaBankIndonesia;dan
d. memenuhi ketentuan rahasia Bank sebagaimana diatur dalam
UndangUndang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 10
Tahun1998.
Bagi Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik yang melakukan
audit terhadap Bank yang melaksanakan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip syariah, selain memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), juga wajib memperoleh
pendapat dari Dewan Pengawas Syariah mengenai ketaatan Bank
terhadap pelaksanaan prinsip syariah sebelum menerbitkan
LaporanAuditatasLaporanKeuanganBank.
Dewan Pengawas Syariah harus memberikan pendapat
sebagaimanadimaksudpadaayat(2)kepadaAkuntanPublik.

(2)

(3)

44

Pasal20
3/22/PBI/2001

(1)

SE3/32/DPNP
2001
RomawiIII

A.

(2)

Dalam rangka persiapan dan pelaksanaan audit Akuntan Publik


dapatmemintainformasikepadaBankIndonesiamengenaikondisi
Bankyangakandiaudit.
Bank Indonesia dapat meminta informasi kepada Akuntan Publik
meskipun perjanjian kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18
ayat(1)(Paragraf42ayat(1)dalamkodifikasiini)telahberakhir.
BankUmumKonvensional:
KomunikasiBankIndonesiadenganAkuntanPublik
1. Sesuai dengan Pasal 20 Peraturan Bank Indonesia tersebut di
atas (Paragraf 44 dalam kodifikasi ini), Akuntan Publik dapat
meminta informasi dari Bank Indonesia mengenai kondisi Bank
yang diaudit dalam rangka persiapan dan pelaksanaan audit.
SelainituBankIndonesiadapatmemintainformasidariAkuntan
Publik meskipun perjanjian kerja antara Akuntan Publik dan
Banktelahberakhir.

56

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

SE7/57/Dpbs
B.
2005
RomawiIII

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
2. Apabila dalam pelaksanaan audit, Akuntan Publik menemukan
pelanggaran peraturan perundangundangan yang berlaku di
bidang keuangan dan perbankan serta keadaan dan perkiraan
keadaanyangdapatmembahayakankelangsungan usahaBank,
Akuntan Publik wajib menyampaikan pemberitahuan kepada
Bank Indonesia selambatlambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak
ditemukan. Keadaan dan atau perkiraan keadaan yang dapat
membahayakan kelangsungan usaha Bank, antara lain keadaan
danatauperkiraankeadaantentang:
a. kekurangan Kewajiban Penyisihan Penyediaan Modal
Minimum;
b. kekurangan pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva
Produktifyangmaterial;
c. pelanggaranBatasMaksimumPemberianKredit;
d. KekuranganGiroWajibMinimum;atau
e. kecurangan(fraud)yangbernilaimaterial.
3. Pemberitahuansebagaimanadimaksuddalamangka2tersebut
di atas, harus disusun dengan menggunakan formulir sesuai
format pada Lampiran 2 (Lampiran 42 dalam kodifikasi ini).
Pemberitahuan tersebut bersifat rahasia sampai dengan
ditetapkanlebihlanjutolehBankIndonesia.

Bank yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip


SyariahdiIndonesia
Komunikasi antara Kantor Akuntan Publik, Akuntan Publik, Dewan
PengawasSyariahdanBankIndonesia
1. Akuntan Publik dapat meminta informasi dari Bank Indonesia
mengenaikondisiBankyangdiauditdalamrangkapersiapandan
pelaksanaan audit. Selain itu, Bank Indonesia dapat meminta
informasi dari Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik
meskipunperjanjiankerjaantaraAkuntanPublikdanBanktelah
berakhir.
2. Bank harus memberikan kesempatan kepada Bank Indonesia
agar dapat memiliki akses informasi langsung terhadap Kantor
Akuntan Publik dan Akuntan Publik dalam hal Bank Indonesia
menganggap bahwa hal tersebut adalah dalam rangka
melindungi integritas keuangan Bank atau dalam keadaan lain
yangdianggapperludalamrangkapengawasan.
3. Dalam hal adanya perjanjian kerjasama antara Bank dengan
pihak luar (outsourcing agreement), Bank harus memberikan
kesempatan kepada Akuntan Publik yang bertugas sebagai
auditor eksternal Bank untuk memperoleh akses terhadap
informasi yang relevan yang diperlukan untuk memenuhi
tanggung jawab pihak luar tersebut. Apabila diperlukan akses
tersebut, antara lain adalah melakukan pemeriksaan ditempat
penyedia outsourcing (outsourcing provider), serta melaporkan
hasilnyakepadaBankIndonesia,jikadiminta.
4. AkuntanPubliksebelummenerbitkanlaporanauditataslaporan
keuangan Bank wajib memperoleh pendapat dari Dewan
Pengawas Syariah (DPS) mengenai ketaatan Bank terhadap

57

LikuiditasRupiah

Paragraf

45

SumberRegulasi

Pasal21
3/22/PBI/2001

SE3/32/DPNP
2001
RomawiII

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
pelaksanaan prinsip syariah. Dalam mengeluarkan pendapat
mengenai ketaatan terhadap prinsip syariah harus mengacu
kepada ketentuan Bank Indonesia tentang Tugas dan Peran
DewanPengawasSyariah(DPS).
5. Apabila dalam pelaksanaan audit, Akuntan Publik menemukan
pelanggaran peraturan perundangundangan yang berlaku di
bidang keuangan dan perbankan serta keadaan dan perkiraan
keadaanyangdapatmembahayakankelangsungan usahaBank,
Akuntan Publik wajib menyampaikan pemberitahuan kepada
Bank Indonesia selambatlambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak
ditemukan. Keadaan dan atau perkiraan keadaan yang dapat
membahayakankelangsunganusahaBankantaralain:
a. Kekurangan Kewajiban Penyisihan Penyediaan Modal
Minimum;
b. Kekurangan pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva
Produktifyangmaterial;
c. PelanggaranBatasMaksimumPemberianKredit;
d. Kecurangan(fraud)yangbernilaimaterial.
6. Pemberitahuansebagaimanadimaksudangka5tersebutdiatas,
harus disusun dengan menggunakan formulir sebagaimana
diatur dalam Lampiran 2 (Lampiran 40 dalam kodifikasi ini).
Pemberitahuan tersebut bersifat rahasia, sampai dengan
ditetapkanlebihlanjutolehBankIndonesia.

(1)

KantorAkuntanPublikdanAkuntanPublik(partnerincharge)yang
melakukanauditBankwajibterdaftardiBankIndonesia.
(2) KantorAkuntanPublikdanAkuntanPublikyangakanmendaftarke
Bank Indonesia wajib memenuhi persyaratan sebagaimana
ditetapkandalamSuratEdaranBankIndonesia.

Pokokpokok ketentuan yang diatur dalam Surat Edaran Bank


Indonesiaantaralainmengenaibuktikompetensidanpengalaman.

A. Persyaratan Akuntan Publik yang Melakukan Audit Bank (Bank


UmumKonvensional)
1. Laporan Keuangan Tahunan Bank wajib diaudit oleh Akuntan
Publik. Kantor Akuntan Publik serta Akuntan Publik (partner in
charge) yang melakukan audit Bank wajib terdaftar di Bank
Indonesia dengan memenuhi persyaratan sebagaimana
ditetapkandalamSuratEdaranini.
2. PersyaratanbagiKantorAkuntanPublikdanAkuntanPublikyang
terdaftardiBankIndonesiaditetapkansebagaiberikut:
a. MempunyaiizinpraktekdariMenteriKeuangan;
b. tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan atau
dihukumkarenaterbuktimelakukantindakpidanadibidang
keuangansertatidaktermasukdalamdaftarkreditmacet;
c. memilikiakhlakdanmoralyangbaik;
d. memiliki pengalaman dan kompetensi audit di bidang
perbankan;

58

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
e. sanggup secara terus menerus mengikuti program
pendidikandibidangakuntansidanperbankan;
f. sanggup melakukan audit sesuai Standar Profesional
AkuntanPublik(SPAP)danKodeEtikProfesi;
g. bersikap independen dan profesional dalam penugasan
audit;
h. bersedia memberitahukan kepada Bank Indonesia apabila
ditemukan pelanggaran terhadap peraturan perundang
undangan di bidang keuangan dan perbankan serta kondisi
atau perkiraan kondisi yang dapat membahayakan
kelangsunganusahaBank;dan
i. berkedudukan sebagai Rekan (partner in charge) pada
Kantor Akuntan Publik dengan memenuhi persyaratan
sebagaiberikut:
1) dalam melakukan audit, Akuntan Publik menerapkan
sekurangkurangnya 2 (dua) jenjang pengendalian atau
supervisi yaitu Akuntan Publik yang bertanggung jawab
(partner in charge), dan pengawas menengah yang
melakukanpengawasanterhadapstafpelaksana;
2) bersedia untuk menjalani review eksternal oleh Ikatan
Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik (IAI
KAP) tentang pengendalian mutu di Kantor Akuntan
Publikyangbersangkutan.
3. Permohonan pendaftaran Kantor Akuntan Publik dan Akuntan
Publik yang akan melakukan audit terhadap Bank diajukan
secara tertulis kepada Bank Indonesia dengan menggunakan
formulir sesuai format pada Lampiran 1a (Lampiran 41a dalam
kodifikasiini)dandisertaidengandokumen:
a. dokumenyangmenyangkutAkuntanPublik:
1) daftar riwayat hidup sesuai dengan fomulir sesuai
format pada Lampiran 1b (Lampiran 41b dalam
kodifikasiini);
2) izinpraktikdariMenteriKeuangan;
3) ijasahpendidikanformaldibidangakuntansi;
4) NomorPokokWajibPajak;
5) Sertifikatprogrampelatihandibidangperbankan;
6) surat pernyataan yang menyatakan bahwa Akuntan
Publik tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan
ataudihukumkarenaterbuktimelakukantindakpidana
dibidangkeuangansertatidakmemilikikreditmacetdi
Bank;
7) surat pernyataan kesanggupan untuk mengikuti secara
terus menerus program pendidikan di bidang akuntansi
danperbankan;
8) surat pernyataan yang menyatakan bahwa Akuntan
Publik sanggup melakukan audit sesuai dengan Standar
Profesional Akuntan Publik dan Kode Etik Profesi, serta
senantiasa bersikap independen dan profesional dalam
melakukanpenugasanaudit;

59

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

SE3/32/DPNP
2001
RomawiVI

4.

5.

6.

7.

8.

9.

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
9) surat pernyataan yang menyatakan bahwa Akuntan
Publik yang bersangkutan bersedia memberitahukan
kepada Bank Indonesia apabila ditemukan pelanggaran
terhadap peraturan perundangundangan yang berlaku
di bidang keuangan dan perbankan, serta keadaan dan
perkiraan keadaan yang dapat membahayakan
kelangsunganusahaBank;dan
10) rekomendasi untuk pendaftaran di Bank Indonesia dari
Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan
Publik(IAIKAP).
b. dokumenyangberkaitandenganKantorAkuntanPublik:
1) NomorPokokWajibPajak;
2) izin praktik dari Menteri Keuangan Republik Indonesia
bagi Akuntan Publik yang bertindak sebagai pimpinan
KantorAkuntanPublikyangbersangkutan;
3) bagan organisasi yang menunjukkan bahwa dalam
melakukanaudit,AkuntanPublikmenerapkansekurang
kurangnya 2 (dua) jenjang pengendalian atau supervisi
yaitu Akuntan Publik yang bertanggung jawab (partner
in charge), dan pengawas menengah yang melakukan
pengawasanterhadapstafpelaksana;
4) suratpernyataanbahwaKantorAkuntanPublikBersedia
untuk menjalani review eksternal oleh Ikatan Akuntan
Indonesia (IAI) tentang pengendalian mutu di Kantor
AkuntanPublikyangbersangkutan.
Dalam rangka memberikan persetujuan atau penolakan
sebagaimana dimaksud dalam angka 3, Bank Indonesia
melakukan:
a. penelitianataskelengkapandankebenarandokumen;dan
b. wawancaraterhadapAkuntanPublik,apabiladiperlukan.
Persetujuan atau penolakan atas permohonan sebagaimana
dimaksud dalam angka 4, diberikan dalam jangka waktu
selambatlambatnya 45 (empat puluh lima) hari sejak
diterimanyapermohonantersebutsecaralengkap.
NamaAkuntanPublikdanKantorAkuntanPublikyangterdaftar
di Bank Indonesia dicantumkan dalam homepage Bank
Indonesia.
Setiap perubahan yang berkenaan dengan data dan informasi
dari Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik sebagaimana
dimaksud dalam angka 3 wajib dilaporkan secara tertulis oleh
Akuntan Publik dan atau Kantor Akuntan Publik kepada Bank
Indonesia selambatlambatnya 14 (empat belas) hari sejak
terjadinyaperubahantersebut.
Untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan Akuntan
Publik dalam melakukan audit terhadap Bank, Bank Indonesia
akan melakukan program pendidikan dan pelatihan bagi
AkuntanPublik.
Berdasarkan penilaian terhadap pelanggaran yang dilakukan
oleh Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik, sesuai dengan
ketentuan pada angka IV (Huruf A angka 1 s.d angka 7 dalam

60

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

B.
SE7/57/DPNP
2005
RomawiII

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
kodifikasi ini), Bank Indonesia dapat mengajukan usul kepada
Menteri Keuangan dan Ikatan Akuntan Indonesia untuk
pencabutanizinKantorAkuntanPublikdanAkuntanPublik.
Persyaratan dan Tata Cara Permohonan Pendaftaran Kantor
Akuntan Publik dan Akuntan Publik (Bank yang Melaksanakan
KegiatanUsahaBerdasarkanPrinsipSyariahdiIndonesia)
1. Kantor Akuntan Publik serta Akuntan Publik (partner in charge)
yang melakukan audit Bank wajib terdaftar di Bank Indonesia
denganmemenuhipersyaratansebagaimanayangditetapkan.
2. PersyaratanbagiKantorAkuntanPublikdanAkuntanPublikyang
terdaftar di Bank Indonesia sebagaimana dimaksud pada angka
1ditetapkansebagaiberikut:
a. mempunyaiizinpraktekdariMenteriKeuangan;
b. tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan atau
dihukumkarenaterbuktimelakukantindakpidanadibidang
keuangansertatidaktermasukdalamdaftarkreditmacet;
c. memilikiakhlakdanmoralyangbaik;
d. memiliki pengalaman dan kompetensi audit di bidang
perbankan;
e. sanggup secara terus menerus mengikuti program
pendidikandibidangakuntansidanperbankan;
f. sanggup melakukan audit sesuai Standar Profesional
AkuntanPublik(SPAP)danKodeEtikProfesi;
g. bersikap independen dan profesional dalam penugasan
audit;
h. bersedia memberitahukan kepada Bank Indonesia apabila
ditemukan pelanggaran terhadap peraturan perundang
undangan di bidang keuangan dan perbankan serta kondisi
atau perkiraan kondisi yang dapat membahayakan
kelangsunganusahaBank;dan
i. berkedudukan sebagai rekan (partner in charge) pada
Kantor Akuntan Publik dengan memenuhi persyaratan
sebagaiberikut:
1) dalam melakukan audit, Akuntan Publik menerapkan
sekurangkurangnya 2 (dua) jenjang pengendalian atau
supervisi yaitu Akuntan Publik yang bertanggung jawab
(partner in charge), dan pengawas menengah yang
melakukanpengawasanterhadapstafpelaksana;
2) bersedia untuk menjalani review eksternal oleh Ikatan
Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik (IAI
KAP) tentang pengendalian mutu di Kantor Akuntan
Publikyangbersangkutan.
3. Akuntan Publik yang dapat melakukan audit terhadap Bank,
selainterdaftardiBIdenganmemenuhiketentuansebagaimana
dimaksud dalam angka 2, juga harus memenuhi ketentuan
sebagaiberikut:
a. memiliki pengetahuan dan atau pengalaman serta
kompetensi audit dibidang perbankan dan atau keuangan
syariah;

61

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
b. mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang memadai
tentangoperasionalperbankandanataukeuangansyariah;
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b,
dibuktikan dengan adanya sertifikat atau surat tertentu, atau
yangdapatdipersamakandenganitudarilembagayangkredibel
dibidangnya.
4. Permohonan pendaftaran Kantor Akuntan Publik dan Akuntan
Publik yang akan melakukan audit terhadap Bank diajukan
secara tertulis kepada Bank Indonesia dengan menggunakan
formulir sesuai format pada Lampiran 1a (Lampiran 39a dalam
kodifikasiini)dandisertaidengandokumen:
a. dokumenyangmenyangkutAkuntanPublik;
1) daftar riwayat hidup sesuai dengan formulir sesuai
format pada Lampiran 1b (Lampiran 39b dalam
kodifikasiini);
2) izinpraktikdariMenteriKeuangan;
3) ijazahpendidikanformaldibidangakuntansi;
4) NomorPokokWajibPajak;
5) Sertifikat program pelatihan di bidang perbankan,
termasuk sertifikat di bidang keuangan dan perbankan
syariah;
6) surat pernyataan yang menyatakan bahwa Akuntan
Publik tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan
ataudihukumkarenaterbuktimelakukantindakpidana
dibidangkeuangansertatidakmemilikikreditmacetdi
Bank;
7) surat pernyataan kesanggupan untuk mengikuti secara
terus menerus program pendidikan di bidang akuntansi
danperbankan;
8) surat pernyataan yang menyatakan bahwa Akuntan
Publik sanggup melakukan audit sesuai dengan Standar
Profesional Akuntan Publik dan Kode Etik Profesi, serta
senantiasa bersikap independen dan profesional dalam
melakukanpenugasanaudit;
9) surat pernyataan yang menyatakan bahwa Akuntan
Publik yang bersangkutan bersedia memberitahukan
dan melaporkan kepada Bank Indonesia apabila
ditemukanpelanggaranterhadapperaturanperundang
undangan yang berlaku di bidang keuangan dan
perbankan, serta keadaan dan perkiraan keadaan yang
dapatmembahayakankelangsunganusahaBank;dan
10) rekomendasi untuk pendaftaran di Bank Indonesia dari
Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan
Publik(IAIKAP)
b. dokumenyangberkaitandenganKantorAkuntanPublik:
1) NomorPokokWajibPajak;
2) izin praktik dari Menteri Keuangan Republik Indonesia
bagi Akuntan Publik yang bertindak sebagai pimpinan
KantorAkuntanPublikyangbersangkutan;

62

LikuiditasRupiah

Paragraf

46

SumberRegulasi

SE7/57/DPNP
2005
RomawiVI

SE7/57/DPNP
2005
RomawiVII

Pasal22
3/22/PBI/2001

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
3) bagan organisasi yang menunjukkan bahwa dalam
melakukanaudit,AkuntanPublikmenerapkansekurang
kurangnya 2 (dua) jenjang pengendalian atau supervisi
yaitu Akuntan Publik yang bertanggung jawab (partner
in charge), dan pengawas menengah yang melakukan
pengawasanterhadapstafpelaksana;dan
4) suratpernyataanbahwaKantorAkuntanPublikbersedia
untuk menjalani review eksternal oleh Ikatan Akuntan
Indonesia (IAI) tentang pengendalian mutu di Kantor
AkuntanPublikyangbersangkutan.
Dalam rangka memberikan persetujuan atau penolakan atas
permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 4, Bank
Indonesiamelakukan:
a. Penelitianataskelengkapandankebenarandokumen;dan
b. WawancaraterhadapAkuntanPublik,apabiladiperlukan.
Persetujuan atau penolakan atas permohonan sebagaimana
dimaksud dalam angka 5, diberikan dalam jangka waktu
selambatlambatnya 45 (empat puluh lima) hari kalender sejak
diterimanyapermohonantersebutsecaralengkap.
NamaAkuntanPublikdanKantorAkuntanPublikyangterdaftar
di Bank Indonesia dicantumkan dalam homepage Bank
Indonesia.
Setiap perubahan yang berkenaan dengan data dan informasi
dari Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik sebagaimana
dimaksud dalam angka 4 wajib dilaporkan secara tertulis oleh
Akuntan Publik dan atau Kantor Akuntan Publik kepada Bank
Indonesia selambatlambatnya 14 (empat belas) hari kalender
sejakterjadinyaperubahantersebut.
Untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan Akuntan
Publik dalam melakukan audit terhadap Bank, Kantor Akuntan
PublikdanAkuntanPublikharusmeningkatkankemampuandan
mengikuti program pendidikan dan pelatihan perbankan dan
atau keuangan syariah yang diselenggarakan baik oleh Bank
Indonesiaataupihakketigalainnya.
Berdasarkan penilaian terhadap pelanggaran yang dilakukan
olehAkuntanPublikdanKantorAkuntanPublik,BankIndonesia
dapat mengajukan usul kepada Menteri Keuangan dan Ikatan
AkuntanIndonesiauntukpencabutanizinKantorAkuntanPublik
danAkuntanPublik.
Bagi Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik yang telah
terdaftar di Bank Indonesia, apabila akan melaksanakan
pemeriksaan terhadap Bank harus memenuhi persyaratan
terlebihdahulusebagaimanadimaksuddalamangkaII.3(butirB.
3 dalam kodifikasi ini). Dokumen yang berkaitan dengan
persyaratan dimaksud adalah sertifikat program pelatihan
keuangandanperbankansyariahyangtelahdiikutidarilembaga
yangkredibeldibidangnya.

Bank Indonesia mengumumkan Kantor Akuntan Publik dan Akuntan


PublikyangterdaftardiBankIndonesiapadahomepageBankIndonesia.

63

LikuiditasRupiah

Paragraf

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
AlamathomepageBankIndonesiaadalahhttp://www.bi.go.id.

A. BankKonvensional
SE3/32/DPNP
AlamatPendaftaranAkuntanPublikdanPelaporan
2001
1. Pendaftaran Akuntan Publik ditujukan kepada Bank Indonesia
RomawiV
Up. Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan, Jl. M.H.

Thamrin No.2, Jakarta 10010 dengan menggunakan formulir

sesuaiformatdalamLampiran1a(Lampiran41adalamkodifikasi

ini). Bagi Akuntan Publik yang berkedudukan di luar Jabotabek,

tembusan pendaftaran disampaikan kepada Kantor Bank

Indonesiasetempat.

2. Laporan keuangan yang telah diaudit (audit report) disertai

dengan Surat Komentar (Management Letter) disampaikan

kepada Bank Indonesia Up. Direktorat Pengawasan Bank, bagi

Bank yang berkantor pusat di wilayah kerja kantor pusat Bank

IndonesiaatauKantorBankIndonesiasetempat,bagiBankyang

berkantor pusat di luar wilayah kerja kantor pusat Bank

Indonesia.

3. Laporan temuan mengenai pelanggaran peraturan perundang

undanganyangberlakudibidangkeuangandanperbankanatau

keadaan atau perkiraan keadaan yang dapat membahayakan

kelangsungan usaha Bank disampaikan kepada Bank Indonesia

Up. Direktorat Pengawasan Bank, bagi Bank yang berkantor

pusatdiwilayahkerjakantorpusatBankIndonesiaatauKantor

BankIndonesiasetempatbagiBankyangberkantorpusatdiluar

wilayahkantorpusatBankIndonesia.

SE7/57/DPNP
2005
RomawiV

B.

Bank yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip


SyariahdiIndonesia
AlamatPendaftaranAkuntanPublikdanPelaporan
1. Pendaftaran Akuntan Publik dilakukan dengan menggunakan
formulirsesuaiformatdalamLampiran1a(Lampiran39adalam
kodifikasi ini). dan ditujukan kepada Bank Indonesia dengan
alamat:
a. Up. Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan,
Jl.M.H.Thamrin No.2, Jakarta 10110, bagi Akuntan Publik
yangberkedudukandiJabotabek;atau
b. Up. Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan,
Jl.M.H.Thamrin No.2, Jakarta 10110, bagi Akuntan Publik
yang berkedudukan di luar Jabotabek dengan tembusan
pendaftaran disampaikan kepada Kantor Bank Indonesia
setempat.
2. Laporan keuangan yang telah diaudit (audit report) disertai
dengan Surat Komentar (Management Letter) dan Laporan
temuan mengenai pelanggaran peraturan perundangundangan
yang berlaku di bidang keuangan dan perbankan atau keadaan
atau perkiraan keadaan yang dapat membahayakan
kelangsunganusahaBankdisampaikankepadaBankIndonesia:
a. Up. Direktorat Perbankan Syariah, Jl. M.H.Thamrin No.2,
Jakarta 10110, bagi Bank yang berkantor pusat di wilayah
kerjakantorpusatBankIndonesia;atau

64

LikuiditasRupiah

Paragraf

47

48

SumberRegulasi

Pasal23
3/22/PBI/2001

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
b. Kantor Bank Indonesia setempat bagi Bank yang berkantor
pusatdiluarwilayahkantorpusatBankIndonesia.

Bagi Bank yang berdasarkan ketentuan yang berlaku wajib dilakukan


audit laporan keuangan tahunan oleh instansi pemerintah, dikecualikan
dariketentuanPasal16danPasal22.(Paragraf40danParagraf46dalam
kodifikasiini)

Yang dimaksud dengan instansi pemerintah antara lain adalah Badan


PengawasanKeuangandanPembangunan(BPKP).

BABIX

Sanksi

BagianKetiga
Pasal39
7/50/PBI/2005

SanksibagiAkuntanPublikdanKantorAkuntanPublik
(1) Akuntan Publik atau Kantor Akuntan Publik yang secara material
melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat
(1) dan ayat (2) (Paragraf 43 ayat (1) dan ayat (2) dalam kodifikasi
ini) dikenakan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 53 Undangundang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
sebagaimana telah diubah dengan Undangundang No. 10 Tahun
1998berupa:
a. penghapusannamaAkuntanPublikdariDaftarAkuntanPublikdi
BankIndonesia;
b. penghapusanKantorAkuntanPublikdaridaftarKantorAkuntan
Publik di Bank Indonesia, apabila pelanggaran dilakukan oleh 2
(dua)orangAkuntanPublikyangbertanggungjawab(partnerin
charge)dalamauditBankdariKantorAkuntanPublikyangsama,
kecualiuntukinstansipemerintahsebagaimanadimaksuddalam
Pasal23(Paragraf47dalamkodifikasiini);dan

Perhitunganpelanggaranketentuanoleh2(dua)orangAkuntan
Publik yang bertanggung jawab (partner in charge) dapat
dilakukan pada periode yang sama maupun pada periode yang
berbeda.

c. penyampaian usul kepada instansi yang berwenang untuk


mencabut atau membatalkan izin usaha sebagai pemberi jasa
bagiBanksesuaidenganketentuanataukodeetikyangberlaku.

Instansi yang berwenang dalam ayat ini adalah Departemen


KeuangandanIkatanAkuntanIndonesia.

(2) Akuntan Publik atau Kantor Akuntan Publik yang tidak memenuhi
ketentuanrahasiaBanksebagaimanadimaksuddalamPasal19ayat
(1)hurufd(Paragraf43ayat(1)hurufddalamkodifikasiini),selain
dikenakansanksiadministratifsebagaimanadimaksudpadaayat(1),
juga dapat dikenakan sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 47 ayat (2) Undangundang Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undangundang
Nomor10Tahun1998.

65

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi
A.
SE3/32/DPNP
2001
RomawiIV

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
BankUmumKonvensional
1. Dalam Pasal 39 Peraturan Bank Indonesia tersebut di atas
(Paragraf 48 dalam kodifikasi ini), Akuntan Publik dan Kantor
Akuntan Publik dapat dihapuskan dari daftar Akuntan Publik di
Bank Indonesia apabila tidak memenuhi ketentuan yang
ditetapkandalamPasal19.(Paragraf43dalamkodifikasiini)
2. Nama Akuntan Publik dihapuskan dari daftar Akuntan Publik di
Bank Indonesia apabila berdasarkan penilaian Bank Indonesia,
diketahuibahwaAkuntanPublik:
a. tidak memberitahukan temuan pelanggaran sebagaimana
dimaksud pada angka III.2 (Paragraf 44 ayat 2 Butir A.2
dalam kodifikasi ini) kepada Bank Indonesia dalam jangka
waktu selambatlambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak
ditemukannyapelanggaranperaturanperundangundangan
yang berlaku di bidang keuangan dan perbankan atau
keadaan atau perkiraan keadaan yang dapat
membahayakankelangsunganusahaBank;
b. tidak menyampaikan tembusan Laporan Keuangan yang
telah diaudit (audit report) kepada Bank Indonesia yang
disertai dengan Surat Komentar (Management Letter)
selambatlambatnya4(empat)bulansetelahTahunBuku;
c. tidak memenuhi ketentuan rahasia Bank sebagaimana
diaturdalamUndangundangNomor7Tahun1992tentang
Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang
undangNomor10Tahun1998;
d. AkuntanPubliktelahterbuktimelakukanperbuatantercela
danataudihukumkarenaterbuktimelakukantindakpidana
dibidangkeuangan,baikdiIndonesiamaupundinegaralain
ataumemilikikreditmacet;
e. Akuntan Publik melakukan audit tidak sesuai dengan
Standar Profesional Akuntan Publik dan Kode Etik Profesi,
serta tidak bersikap independen dan profesional dalam
melakukanpenugasanaudit;
f. Akuntan Publik melakukan audit tidak sesuai dengan
perjanjian kerja sebagaimana diatur dalam Pasal 18
Peraturan Bank Indonesia tersebut di atas (Paragraf 42
dalamkodifikasiini);atau
g. Akuntan Publik yang merupakan anggota Kantor Akuntan
Publik yang tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana
dimaksud dalam angka II.2. huruf i angka 1 (Paragraf 45
ayat(2)ButirA.2.i.1)dalamkodifikasiini).
3. Sesuai Pasal 39 ayat (1) Peraturan Bank Indonesia tersebut di
atas (Paragraf 48 ayat (1) dalam kodifikasi ini), nama Kantor
AkuntanPublikdihapuskandaridaftarKantorAkuntanPublikdi
Bank Indonesia apabila terdapat 2 (dua) orang atau lebih
AkuntanPublikyangbertanggungjawab(partnerincharge)dari
Kantor Akuntan Publik yang sama dikenakan sanksi dan
dihapuskan dari daftar Akuntan Publik di Bank Indonesia
sebagaimanadimaksuddalamangka2.

66

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

B.
SE7/57/DPbs
2005
RomawiIV

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
4. Penghapusan nama Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik
daridaftardiBankIndonesiadiberitahukanolehBankIndonesia
kepada Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik yang
bersangkutansertadilaporkankepadaIkatanAkuntanIndonesia
danMenteriKeuangan.
Bank yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip
Syariah
1. Nama Akuntan Publik dihapuskan dari daftar Akuntan Publik di
Bank Indonesia apabila berdasarkan penilaian Bank Indonesia,
diketahuibahwaAkuntanPublik:
a. tidak memberitahukan temuan pelanggaran sebagaimana
dimaksud dalam dalam Butir II.2.h dan atau Angka III. 5
(Paragraf 45 ayat (2) Butir B.2.h dan atau Paragraf 44 ayat
(2) Butir B.5 dalam kodifikasi ini) kepada Bank Indonesia
dalamjangkawaktuselambatlambatnya7(tujuh)harikerja
sejak ditemukannya pelanggaran peraturan perundang
undanganyangberlakudibidangkeuangandanperbankan
atau keadaan atau perkiraan keadaan yang dapat
membahayakankelangsunganusahaBank;
b. tidak menyampaikan tembusan Laporan Keuangan yang
telah diaudit (audit report) kepada Bank Indonesia yang
disertai dengan Surat Komentar (Management Letter)
selambatlambatnya4(empat)bulansetelahTahunBuku;
c. tidak memenuhi ketentuan rahasia Bank sebagaimana
diaturdalamUndangUndangNomor7Tahun1992tentang
Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang
UndangNomor10Tahun1998;
d. AkuntanPubliktelahterbuktimelakukanperbuatantercela
danataudihukumkarenaterbuktimelakukantindakpidana
di bidang keuangan, baik di Indonesia maupun di Negara
lainataumemilikikreditmacet;
e. Akuntan Publik melakukan audit tidak sesuai dengan
Standar Profesional Akuntan Publik dan Kode Etik Profesi,
serta tidak bersikap independen dan professional dalam
melakukanpenugasanaudit;
f. SebelummengeluarkanpendapatataslaporanauditBank,
Akuntan Publik tidak meminta pendapat dan atau
memperoleh pendapat dari Dewan Pengawas Syariah
mengenaiketaatanBankterhadapprinsipsyariah;
g. Akuntan Publik melakukan audit tidak sesuai dengan
perjanjian kerja sebagaimana diatur dalam Pasal 18
Peraturan Bank Indonesia tentang Transparansi Kondisi
Keuangan Bank dan Pasal 13 Peraturan Bank Indonesia
tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank Perkreditan
RakyatSyariah(Paragraf18danParagraf93dalamkodifikasi
ini);
h. Akuntan Publik yang merupakan anggota Kantor Akuntan
Publik yang tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana
dimaksuddalamangkaII.2hurufiangka1)(Paragraf45ayat

67

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
(2)ButirB.2.i.1)dalamkodifikasiini);atau
i. IzinpraktekdariMenteriKeuangantelahdicabut.
2. Nama Kantor Akuntan Publik dihapuskan dari daftar Kantor
AkuntanPublikdiBankIndonesiaapabilaterdapat2(dua)orang
atau lebih Akuntan Publik yang bertanggung jawab (partner in
charge)dariKantorAkuntanPublikyangsamadikenakansanksi
dan dihapuskan dari daftar Akuntan Publik di Bank Indonesia
sebagaimanadimaksuddalamangka1.
3. Penghapusan nama Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik
daridaftardiBankIndonesiadiberitahukanolehBankIndonesia
kepada Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik yang
bersangkutansertadilaporkankepadaIkatanAkuntanIndonesia
danMenteriKeuangan.

BABI

49

Pasal1
15/3/PBI/2013

50

Pasal2
15/3/PBI/2013

TransparansiKondisiKeuanganBankPerkreditanRakyat
KetentuanUmum
1. BankPerkreditanRakyatyangselanjutnyadisingkat BPRadalahBank
Perkreditan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang
tentangPerbankan.
2. LaporanTahunanadalahlaporanlengkapmengenaikinerjasuatuBPR
dalam kurun waktu 1 (satu) tahun yang berisi Laporan Keuangan
Tahunandaninformasiumum.
3. Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku bagi BPR adalah Standar
Akuntansi Keuangan bagi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK
ETAP)danPedomanAkuntansiBPR(PABPR).
4. LaporanKeuanganTahunanadalahlaporankeuanganakhirtahunBPR
yang disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku
bagiBPR.
5. Laporan Keuangan Publikasi adalah laporan keuangan BPR yang
disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku bagi
BPRdandipublikasikansetiaptriwulansesuaidenganketentuanBank
Indonesia.
6. Akuntan Publik adalah Akuntan Publik sebagaimana dimaksud dalam
UndangUndangtentangAkuntanPublik.
7. Kantor Akuntan Publik adalah Kantor Akuntan Publik sebagaimana
dimaksuddalamUndangUndangtentangAkuntanPublik.
8. TahunBukuadalahtahuntakwimatautahunyangdimulaidaribulan
JanuarisampaidenganbulanDesember.
9. Surat Komentar (Management Letter) adalah komentar tertulis dari
Akuntan Publik kepada manajemen bank mengenai hasil kaji ulang
terhadap struktur pengendalian intern, pelaksanaan Standar
Akuntansi Keuangan atau masalah lain yang ditemui dalam
pelaksanaanaudit,besertasaransaranperbaikannya.

(1) BPR wajib menyusun dan menyajikan laporan keuangan dengan


bentuk dan cakupan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Bank
Indonesiaini,yangterdiridari:
a. LaporanTahunan;dan
b. LaporanKeuanganPublikasi

68

LikuiditasRupiah

Paragraf

51

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
(2) Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana

dimaksudpadaayat(1)wajibdisusundalamBahasaIndonesia.

A. Dalam rangka pemantauan keadaan usaha Bank Perkreditan


SE15/29/DKBU
Rakyat (BPR) oleh publik, BPR diwajibkan untuk menyampaikan
2013
laporan dan/ atau informasi sesuai dengan waktu dan bentuk
RomawiI
yangditetapkanolehBankIndonesia.
B. Jenis laporan dan/atau informasi yang ditetapkan oleh Bank
IndonesiasebagaimanadimaksuddalamhurufAadalahLaporan
TahunandanLaporanKeuanganPublikasi.
C. LaporanTahunandisusunantaralainuntukmemberikan
gambaranlengkapmengenaikinerjaBPRdalamkurunwaktusatu
tahun.
D. Laporan Keuangan Publikasi disusun antara lain untuk
memberikan informasi mengenai posisi keuangan, informasi
lainnya, susunan Pengurus dan komposisi Pemegang Saham
termasukPemegangSahamPengendalisecaratriwulanankepada
berbagai pihak yang berkepentingan dengan perkembangan
usahaBPR.
E. Agar Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi dapat
diperbandingkan, penyajian laporan tersebut wajib didasarkan
pada Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku bagi BPR yaitu
Standar Akuntansi Keuangan bagi Entitas Tanpa Akuntabilitas
Publik(SAKETAP),PedomanAkuntansibagiBPR(PABPR),dan
ketentuanyangditetapkanolehBankIndonesia.
F. LaporanTahunandanLaporanKeuanganPublikasiwajibdisusun
dalamBahasaIndonesia.
G. Laporan Keuangan Tahunan bagi BPR dengan total aset lebih
besar dari atau sama dengan Rp10.000.000.000,00 (sepuluh
miliarrupiah)wajibdiauditolehAkuntanPublikyangterdaftardi
BankIndonesia.
H. AngkadalamLaporanTahunandanLaporanKeuanganPublikasi
disajikandalammatauangRupiahdandalamribuanRupiah.
I. Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi disampaikan
olehkantorpusatBPR.

BABII
LaporanTahunan
Pasal3
15/3/PBI/2013

(1) LaporanTahunansebagaimanadimaksuddalamPasal2ayat(1)huruf
a (Paragraf 50 ayat (1) huruf a dalam kodifikasi ini) paling kurang
memuat:
a. informasiumumyangmeliputiantaralain:
1. kepengurusan;
2. kepemilikan;
3. perkembanganusahaBPR;
4. strategidankebijakanmanajemen;dan
5. laporanmanajemen;
b. LaporanKeuanganTahunanyangterdiridari:
1. Neraca;
2. LaporanLabaRugi;
3. LaporanPerubahanEkuitas;

69

LikuiditasRupiah

Paragraf

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
4. LaporanArusKas;dan

5. Catatan atas laporan keuangan, termasuk informasi tentang

KomitmendanKontinjensi;

c. opini dari Akuntan Publik atas Laporan Keuangan Tahunan BPR

yangdiauditolehAkuntanPublik;

d. seluruh aspek transparansi dan informasi yang diwajibkan untuk

LaporanKeuanganPublikasisebagaimanadimaksuddalamPasal8

ayat(3)hurufb(Paragraf56ayat(3)hurufbdalamkodifikasiini);

e. seluruhaspekpengungkapan(disclosure)sebagaimanadiwajibkan

dalamStandarAkuntansiKeuanganyangberlakubagiBPR.

(2) Laporan Keuangan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

hurufbwajibdisusununtuk1(satu)TahunBukudandisajikandengan

perbandingan1(satu)TahunBukusebelumnya.

(3) CakupanLaporanTahunansebagaimanadimaksudpadaayat(1)akan

diaturlebihlanjutdalamSuratEdaranBankIndonesia.

A. LaporanTahunanmemuatpalingkurang:
SE15/29/DKBU
1. InformasiUmumyangmeliputiantaralain:
2005
a. Susunan kepengurusan yang meliputi anggota Direksi dan
RomawiII
Dewan Komisaris, dan Pejabat Eksekutif, dengan informasi

mencakupjabatandanringkasanriwayathidup;

b. Kepemilikan, berupa nama Pemegang Saham termasuk


PemegangSahamPengendalidankomposisisertapersentase
kepemilikansaham;
c. PerkembanganusahaBPRyangantaralainmemuat:
1) RiwayatringkaspendirianBPRmeliputiantaralain:
a) nomor dan tanggal akta pendirian serta perubahan
terakhir,pengesahandariinstansiyangberwenang;
b) tanggalmulaiberoperasi;
c) bidangusahasesuaianggarandasar;dan
d) tempatkedudukandanlokasiutamakegiatanusaha;
2) Ikhtisardatakeuanganpenting,palingkurangmencakup
pendapatan dan beban operasional, pendapatan dan
beban non operasional, laba sebelum Pajak Penghasilan
(PPh),taksiranPPhdanlababersih.
3) Rasio keuangan, disajikan paling kurang mencakup
Kualitas Aktiva Produktif (KAP), Kewajiban Penyediaan
Modal Minimum (KPMM), kredit bermasalah atau Non
Performing Loan (NPL), Penyisihan Penghapusan Aktiva
Produktif (PPAP), Return on Asset (ROA), Beban
Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO),
CashRatio,danLoantoDepositRatio(LDR);
4) Perbandingan jumlah kredit bermasalah terhadap total
kredit yang diberikan dan penyebab utama kredit
bermasalah;dan
5) Perkembangan usaha yang berpengaruh secara signifikan
terhadapBPRpadaperiodelaporansepertiekspansiatau
penciutankegiatanusahadan/ataujaringankantor.
d. Strategi dan kebijakan manajemen dalam mengelola dan
mengembangkan usaha BPR, termasuk informasi mengenai

70

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
manajemen risiko yang paling kurang mencakup identifikasi
danpengendalianrisiko;
e. Laporan manajemen yang menyajikan informasi mengenai
pengelolaan BPR dalam rangka tata kelola yang baik, paling
kurangmencakupantaralain:
1) Strukturorganisasi;
2) Bidang usaha sesuai anggaran dasar dan kegiatan utama
padaperiodepelaporan;
3) Teknologi informasi, meliputi antara lain sistem
operasional, sistem keamanan, dan penyedia teknologi
informasi;
4) Perkembangandantargetpasar;
5) Jumlah,jenis,danlokasikantor;
6) Kerjasama BPR dengan baik atau lembaga lain dalam
rangkapengembanganusaha;
7) Kepemilikan oleh anggota Direksi, Dewan Komisaris dan
Pemegang Saham dalam kelompok usaha BPR, dan
perubahankepemilikandaritahunsebelumnya,jikaada;
8) Keterikatan antar pemilik, antar pengurus, dan antara
pemilikdenganpengurusBPR;
9) Sumber Daya Manusia (SDM), meliputi jumlah, tingkat
pendidikan, dan kegiatan pengembangan SDM selama
periodeyangbersangkutan;
10) Kebijakan pemberian gaji, tunjangan, dan fasilitas bagi
anggota Direksi dan Dewan Komisaris termasuk bonus,
tantiem,danfasilitaslainnya;dan
11) PerubahanpentinglainnyayangterjadidiBPRdan/ataudi
kelompokusahaBPRyangmempengaruhioperasionalBPR
dalamtahunyangbersangkutan.
2. Laporan Keuangan Tahunan yang disusun untuk 1 (satu) Tahun
Buku dan disajikan dengan perbandingan 1 (satu) Tahun Buku
sebelumnyapalingkurangterdiridari:
a. Neraca;
b. LaporanLabaRugidaritahunbukuyangbersangkutan;
c. LaporanPerubahanEkuitas;
d. LaporanArusKas;dan
e. Catatan atas laporan keuangan, termasuk informasi mengenai
KomitmendanKontijensi.
3. Opini dari Akuntan Publik apabila Laporan Keuangan Tahunan
diauditolehAkuntanPublik;
4. Selain pengungkapan sebagaimana dimaksud pada angka 1 dan
angka 2, BPR wajib pula melakukan pengungkapan (disclosure)
informasilainnyayangmeliputi:
a. Ikhtisarkebijakanakuntansi,mencakup:
1) pernyataanbahwaBPRmenggunakanSAKETAP;
2) dasarpengukurandanpenyusunanlaporankeuangan;dan
3) kebijakan akuntansi BPR yang antara lain meliputi
kebijakankonsepdasarpengukuran,kredityangdiberikan,
penyisihan kerugian kredit, investasi di Sertifikat Bank
Indonesia, agunan yang diambil alih, kas dan setara kas,

71

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
aset tetap dan inventaris serta penyusutan, pengakuan
pendapatan bunga, pengakuan beban bunga, pajak
penghasilan,danimbalankerja.
b. Penjelasan atas pospos laporan keuangan yang disusun
dengan memperhatikanurutanpenyajianneraca,laporanlaba
rugi, laporan arus kas dan laporan perubahan ekuitas serta
informasi tambahan sesuai dengan ketentuan pengungkapan
pada setiap pos pada bagian yang terkait, ditambah dengan
pengungkapanmengenai:
1) Transaksihubunganistimewa,yangmeliputi:
a) rincian jumlah masingmasing pos aset, kewajiban,
penghasilan,danbebankepadapihakyangmempunyai
hubungan istimewa beserta persentasenya terhadap
totalaset,kewajiban,penghasilandanbeban;
b) penjelasan transaksi yang tidak berhubungan dengan
kegiatan usaha utama dan jumlah utang atau jumlah
piutang sehubungan dengan transaksi hubungan
istimewa;
c) sifat hubungan, jenis, dan unsur transaksi hubungan
istimewa termasuk pernyataan apakah BPR
menerapkan kebijakan persyaratan yang sama bagi
pihak lain yang tidak memiliki hubungan istimewa
denganBPR;dan
d) alasan serta dasar pembentukan penyisihan kerugian
piutangyangterkaitdenganhubunganistimewa.
2) Perubahan akuntansi dan koreksi kesalahan, yang
meliputi:
a) perubahanestimasiakuntansi:
i. hakikatdanalasanperubahanestimasiakuntansi;
ii. jumlah perubahan estimasi yang mempengaruhi
periodeberjalan;dan/atau
iii. pengaruhestimasiterhadapperiodemendatang;
b) perubahankebijakanakuntansi,antaralainmeliputi:
i. hakikat, alasan dan tujuan dilakukannya perubahan
kebijakanakuntansi;
ii. dampak perubahan kebijakan akuntansi terhadap
periode berjalan dan periode sebelumnya yang
perludisajikankembalisecarakomparatif;dan
iii. pernyataan bahwa informasi komparatif telah
dinyatakan kembali atau pernyataan bahwa
informasi komparatif tidak disajikan karena
dianggaptidakpraktis;
c) kesalahan:
i. hakikatkesalahan;
ii. jumlah nilai koreksi untuk periode berjalan dan
periodeperiodesebelumnya;
iii. jumlah nilai koreksi yang terkait dengan periode
periode sebelum periode yang tercakup dalam
informasikomparatif;

72

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
iv. pernyataan bahwa informasi komparatif telah
dinyatakan kembali atau pernyataan bahwa
informasi komparatif tidak disajikan karena
dianggaptidakpraktis.
KomitmendanKontinjensi,yangmeliputi:
1) pengungkapankomitmen,terdiridari:
a) pengungkapan kontrak atau perjanjian yang
menimbulkankomitmenpenggunaandanapadamasa
yangakandatang,misalnyaperjanjianpemberiankredit
ataupinjaman.Halhalyangperludiungkapkanantara
lainterdiridarikomitmenkepadapihakyangterkait,
periode berlakunya komitmen, nilai keseluruhan dan
bagianyangtelahterealisasi,sertasanksi;dan
b) uraian mengenai sifat, jenis, jumlah dan persyaratan
komitmen;
2) pengungkapankontijensi,terdiridari:
a) pengungkapan perkara atau sengketa hukum yang
berpotensimenimbulkanperngeluarandanapadamasa
yang akan datang. Halhal yang perlu diungkapkan
antara lain meliputi pihak yang terkait, nilai gugatan
(perkaraatausengketa),latarbelakangperkara,pokok
dan status perkara, putusan pengadilan, dan
probabilitas risiko dari peristiwa kontinjensi yang
diungkapkanberdasarkanprinsipmanajemenrisiko;
b) uraian singkat mengenai peraturan pemerintah yang
mengikat dan dampaknya, seperti masalah
ketenagakerjaan;dan
c) uraian kemungkinan kewajiban pajak tambahan yang
meliputi jenis ketetapan atau tagihan pajak, jenis
pajak,tahunpajak,jumlahpokok,denda,dansikapBPR
terhadap ketetapan atau tagihan pajak, misalnya:
mengajukankeberatan,banding,danlainlain;
Perkembangan terakhir SAK ETAP dan peraturan lainnya,
meliputi penjelasan mengenai SAK ETAP dan peraturan baru
yang akan diterapkan dan mempengaruhi aktivitas BPR serta
estimasi dampak penerapan SAK ETAP dan peraturan lama
tersebut;
Reklasifikasi, terdiri dari sifat, jumlah dan alasan reklasifikasi
untuk setiap pos dalam tahun buku sebelum tahun buku
terakhir yang disajikan dalam rangka laporan keuangan
komparatif;
Informasi penting lainnya, antara lain sifat, jenis, jumlah dan
dampak dari peristiwa atau keadaan tertentu yang
mempengaruhikinerjaBPR;
Peristiwa setelah tanggal neraca (subsequent event), meliputi
urutan peristiwa serta jumlah moneter yang mempengaruhi
akunakunlaporankeuangan.

c.

d.

e.

f.

g.

73

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi
B.

52

Pasal4
15/3/PBI/2013

SE15/29/DKBU
2013
RomawiV.A

(1)

(2)

(3)

(4)

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
PengungkapansebagaimanadimaksuddalamhurufAangka1,hurufA
angka2,danhurufAangka4berpedomanpadaStandarAkuntansi
Keuangan bagi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) dan
PedomanAkuntansiBPR(PABPR).

BPR wajib menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a (Paragraf 50 ayat (1) huruf a dalam
kodifikasiini)kepadaBankIndonesia.
Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
ditandatangani paling kurang oleh 1 (satu) anggota Direksi BPR
denganmencantumkannamasecarajelas.
Dalam hal seluruh anggota Direksi berhalangan, Laporan Tahunan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib ditandatangani oleh
anggota Dewan Komisaris atau Pejabat yang ditunjuk oleh Rapat
Umum Pemegang Saham atau sesuai Anggaran Dasar, dengan
mencantumkannamadanjabatansecarajelas.
Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib
disampaikan paling lambat akhir bulan April setelah Tahun Buku
berakhir.

AlamatPenyampaianLaporan
Laporan Tahunan dan bukti pengumuman Laporan Keuangan
PublikasidisampaikankepadaBankIndonesiadenganalamat:

53

Pasal5
15/3/PBI/2013

a. KantorRegionalBankIIndonesia,GedungD,Lantai7,JalanM.H.
Thamrin Nomor 2 Jakarta Pusat 10350, bagi BPR yang
berkedudukan di wilayah DKI Jakarta, Banten, Bogor, Depok,
Karawang,danBekasi.

b. KantorPerwakilanDalamNegeriBankIndonesiayangmewilayahi
kantorpusatBPR,bagiBPRyangkantorpusatnyaberkedudukan
diluarwilayahsebagaimanadimaksuddalamhurufa.

(1) Bagi BPR yang mempunyai total aset lebih besar dari atau sama
dengan Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah), Laporan
KeuanganTahunanyangdisampaikandalamLaporanTahunanwajib
diauditterlebihdahuluolehAkuntanPublik.
(2) Bagi BPR yang mempunyai total aset lebih kecil dari
Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah), Laporan Keuangan
TahunanyangdisampaikandalamLaporanTahunanadalahLaporan
Keuangan Tahunan yang telah dipertanggungjawabkan dalam Rapat
UmumPemegangSahamatauRapatAnggota.

Laporan Keuangan Tahunan yang telah dipertanggungjawabkan


dalam Rapat Umum Pemegang Saham atau Rapat Anggota
dibuktikan dengan penyampaian risalah Rapat Umum Pemegang
SahamatauRapatAnggota.

(3) Dalam hal Laporan Keuangan Tahunan BPR sebagaimana dimaksud


pada ayat (2) diaudit oleh Akuntan Publik, Laporan Keuangan

74

LikuiditasRupiah

Paragraf

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
TahunanyangdisampaikandalamLaporanTahunanadalahLaporan

KeuanganTahunanyangdiaudit.

(4) Dalam hal pelaksanaan audit oleh Akuntan Publik sebagaimana

dimaksud pada ayat (3) dilakukan melewati batas waktu

penyampaian Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal

4 ayat (4) (Paragraf 52 ayat (4) dalam kodifikasi ini), maka selain

menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat

(2),BPRtetapmenyampaikanLaporanKeuanganTahunanyangtelah

diaudit oleh Akuntan Publik paling lambat 1 (satu) bulan setelah

diterimanyahasilauditatasLaporanKeuangan.

(5) Laporan Keuangan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

dan ayat (2) disusun sesuai Standar Akuntansi Keuangan yang

berlakubagiBPR.

SE12/14/DKBU
2010
No.15

1. Dalam rangka peningkatan transparansi kondisi keuangan Bank


Perkreditan Rakyat (BPR) dan penyusunan laporan keuangan yang
relevan,komprehensif,andaldandapatdiperbandingkan,BPRwajib
menyusun dan menyajikan laporan keuangan berdasarkan standar
akuntansikeuanganyangrelevanbagiBPR,pedomanakuntansibagi
BPRdanketentuanlainyangditetapkanolehBankIndonesia.
2. StandarAkuntansiKeuanganEntitasTanpaAkuntabilitasPublik(SAK
ETAP) merupakan Standar Akuntansi Keuangan yang relevan bagi
BPR dan Pedoman Akuntansi BPR (PABPR) merupakan petunjuk
pelaksanaanyangberisipenjabaranlebihlanjutdariSAKETAP.
3. Penyusunan dan penyajian laporan keuangan BPR wajib
berpedomanpadaPABPR.
4. PerlakuanakuntansikeuanganBPRsejak1Januari2010yangmasih
mengacu pada Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 2001
(PAPI), dengan diberlakukannya Surat Edaran ini agar disesuaikan
denganberpedomanpadaBabIIPABPR.
5. Penyesuaian sebagaimana dimaksud pada angka 4 hanya dilakukan
dalam rangka penyajian laporan keuangan per 31 Desember 2010
untuktujuanumum(generalpurposes).

54

Pasal6
15/3/PBI/2013

55

Pasal7
15/3/PBI/2013

BPRyangtelahmenyampaikanLaporanTahunannamun:
a. Laporan Keuangan Tahunan BPR tidak diaudit oleh Akuntan Publik
dan/atau Kantor Akuntan Publik yang terdaftar di Bank Indonesia
sebagaimanadimaksuddalamPasal5ayat(1)(Paragraf53ayat(1)
dalamkodifikasiini);atau
b. Laporan Keuangan Tahunan BPR belum dipertanggungjawabkan
oleh Direksi atau Pengurus kepada Rapat Umum Pemegang Saham
atau Rapat Anggota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2)
(Paragraf53ayat(2)dalamkodifikasiini),
dinyatakanbelummenyampaikanLaporanTahunan.

(1) BPRdinyatakanterlambatmenyampaikanLaporanTahunan,apabila
BPRmenyampaikanLaporanTahunankepadaBankIndonesiasetelah
batas akhir waktu penyampaian laporan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (4) (Paragraf 52 ayat (4) dalam kodifikasi ini),
sampai dengan paling lama 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu
penyampaianlaporan.

75

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

(2)

TransparansidanPublikasiLaporanBank
Ketentuan

Contoh:
Penyampaian Laporan Tahunan 2012 yang wajib diaudit oleh
Akuntan Publik dinyatakan terlambat apabila disampaikan dalam
kurunwaktu1Meisampaidengan31Mei2013.

BPRdinyatakantidakmenyampaikanLaporanTahunan,apabilaBPR
belum menyampaikan Laporan Tahunan dalam kurun waktu
keterlambatansebagaimanadimaksudpadaayat(1).

Contoh:
Laporan Tahunan 2012 yang wajib diaudit oleh Akuntan Publik
dinyatakan tidak disampaikan apabila disampaikan setelah tanggal
31Mei2013.

(3) BPR yang tidak menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana


dimaksud pada ayat (2) tetap diwajibkan untuk menyampaikan
LaporanTahunansebelumtahunbukuberikutnya.

56

BABIII

LaporanKeuanganPublikasi

Pasal8
15/3/PBI/2013

(1) BPR wajib mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi triwulanan


untuk posisi akhir bulan Maret, Juni, September dan Desember
sesuai dengan bentuk dan tata cara yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia.
(2) Laporan Keuangan Publikasi untuk posisi bulan Desember disusun
berdasarkan Laporan Keuangan Tahunan sebagaimana dimaksud
dalamPasal5(Paragraf53dalamkodifikasiini).
(3) Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
ayat (1) huruf b (Paragraf 50 ayat (1) huruf b dalam kodifikasi ini)
palingkurangmemuat:
a. laporankeuanganyangterdiridari:
1. Neraca;
2. LaporanLabaRugi;
3. LaporanKomitmendanKontinjensi
b. informasilainnyayangpalingkurangterdiridari:
1. KualitasAktivaProduktif(KAP)untuk:
a) penempatanpadabanklain;
b) kredit yang diberikan, baik kepada pihak terkait maupun
pihaktidakterkait;
2. rasiokeuangan,yangterdiridari:
a) KewajibanPenyediaanModalMinimum;
b) Non Performing Loans (NPL) dan Penyisihan Penghapusan
AktivaProduktif;
c) Return on Asset (ROA) dan Beban Operasional terhadap
PendapatanOperasional(BOPO);
d) CashRatio;dan
e) LoantoDepositRatio(LDR)
c. Susunan Pengurus dan komposisi Pemegang Saham, termasuk
PemegangSahamPengendali.
(4) LaporanKeuanganPublikasitriwulanansebagaimanadimaksudpada
ayat(1)wajibdisajikandalambentukperbandingandenganLaporan
KeuanganPublikasiTriwulanantahunsebelumnya.

76

LikuiditasRupiah

Paragraf

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
SE15/29/DKBU
LaporanKeuanganPublikasi
2013
A. Laporan Keuangan Publikasi yang diumumkan untuk laporan
keuangan posisi akhir bulan Maret, Juni, September dan
RomawiIII
Desember disusun dengan mengacu pada Penyusunan Laporan

Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud pada Lampiran I

(Lampiran 43 dalam kodifikasi ini) yang merupakan bagian tidak

terpisahkandariSuratEdaranBankIndonesiaini.

B. Laporan Keuangan Publikasi merupakan gabungan dari laporan

kantor pusat BPR dan seluruh kantor cabang BPR yang

bersangkutan.

C. Laporan Keuangan Publikasi harus disusun dan disajikan dalam

bentuk perbandingan dengan laporan pada periode yang sama

tahunsebelumnya.Posisipembandingwajibdisajikansesuaiformat

yang sama dengan posisi Laporan Keuangan Publikasi yang

diumumkan.

D. Khusus untuk perlakuan akuntansi yang baru diterapkan dalam

posisi Laporan maka penyajian posisi pembanding mengacu pada

Pedoman Standar Akuntansi Keuangan Nomor 25 Tahun 2009

tentang Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan

Kesalahan.

E. Untuk memenuhi aspek transparansi, Laporan Keuangan Publikasi

memuatpengungkapan(disclosure)sesuaidenganSAKETAPdanPA

BPR.
Pengungkapantersebutpalingkurangterdiridari:

1. Laporan keuangan yang meliputi Neraca, Laporan Laba Rugi,

sertaLaporanKomitmendanKontinjensi;dan

2. Informasilainnyayangpalingkurangterdiridari:

j. KualitasAktivaProduk(KAP)untuk:

1) Penempatanpadabanklain;

2) Kredit yang diberikan, baik kepada pihak terkait maupun

pihakyangtidakterkait;

k. Rasiokeuangan,yangterdiridari:

1) KPMM;

2) NPL(neto)danPPAP;

3) ROAdanBOPO;

4) CashRatio;dan

5) LDR

3. Susunan Pengurus dan komposisi Pemegang Saham, termasuk

PemegangSahamPengendali;

4. NamaKantorAkuntanPublikyangmengauditdannamaAkuntan

Publik yang bertanggung jawab dalam audit BPR (partner in

charge),bagiBPRyangdiauditolehAkuntanPublik.

F. Aplikasi Laporan Keuangan Publikasi terintegrasi dalam aplikasi

LaporanBulananBPR.

G. Prosedur pengoperasian aplikasi Laporan Keuangan Publikasi

berpedoman pada Petunjuk Teknis Aplikasi Laporan Berkala BPR,

yangmerupakanlampirandariSuratEdaranBankIndonesiaperihal

LaporanBulananBPR.

77

LikuiditasRupiah

Paragraf

57

SumberRegulasi
SE15/43/DPNP
2013
RomawiIII.H

Pasal9
15/3/PBI/2013

H.

(1)

(2)

(3)

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
Khusus Laporan Keuangan Publikasi yang diumumkan untuk posisi
akhirbulanSeptember2013diatursebagaiberikut:
1. Penyusunan Laporan Keuangan Publikasi mengacu pada format
sebagaimanapadaLampiranIA(Lampiran43Adalamkodifikasi
ini)yangmerupakanbagiantidakterpisahkandariSuratEdaran
BankIndonesiaini.
2. Rekaman data Laporan Keuangan Publikasi yang disampaikan
kepadaBankIndonesiasecaraonlinetidakmencakuprasio
Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP), rasio Beban
OperasionalterhadapPendapatanOperasional(BOPO),danCash
Ratio sebagaimana dimaksud pada angka 8, angka 9, dan angka
10padaTabel4mengenaiKualitasAktivaProduktifdanInformasi
Lainnya(padaLampiran43Adalamkodifikasiini).
3. Bukti pengumuman atas Laporan Keuangan Publikasi
sebagaimana dimaksud dalam angka 1 disampaikan kepada
BankIndonesiadalambentuk:
a. halaman surat kabar yang memuat Laporan Keuangan
Publikasi;dan/atau
b. fotokopi Laporan Keuangan Publikasi yang ditempelkan pada
papanpengumumanataumedialainnya.

BPR yang mempunyai total aset lebih besar dari atau sama dengan
Rp10.000.000.000,00(sepuluhmiliarrupiah)wajib:
a. mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan
Maret, Juni, dan September dalam surat kabar harian lokal atau
menempelkannya pada papan pengumuman atau media lainnya
yangmudahdibacaolehpublik;dan
b. mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan
Desember dalam surat kabar harian lokal dan menempelkannya
padapapanpengumumanataumedialainnyayangmudahdibaca
olehpublik.

Yang dimaksud dengan surat kabar harian lokal adalah surat


kabaryangmempunyaiperedarandiwilayahkedudukanBPR.
Yang dimaksud dengan media lainnya termasuk segala sarana
yangdigunakanolehBPRuntukmenempelkanlaporankeuangan,
misalnyadindingdepangedungBPR.
Yang dimaksud dengan mudah dibaca oleh publik adalah
Laporan Keuangan Publikasi yang ditempelkan pada papan
pengumumanataumedialaindikantorBPRyanglangsungdapat
dilihatdandibacaolehmasyarakatumum.

BPRyangmempunyaitotalasetlebihkecildariRp10.000.000.000,00
(sepuluh miliar rupiah) wajib mengumumkan Laporan Keuangan
Publikasi posisi akhir bulan Maret, Juni, September, dan Desember
pada surat kabar lokal atau menempelkannya pada papan
pengumumanataumedialainnyayangmudahdibacaolehpublik.
Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud
padaayat(1)danayat(2)wajibdilakukanpalinglambat:
a. akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya bulan laporan untuk

78

LikuiditasRupiah

Paragraf

58

59

SumberRegulasi

(1)
Pasal10
15/3/PBI/2013

Pasal11
15/3/PBI/2013

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan Maret, Juni, dan
September;dan
b. akhir bulan keempat setelah berakhirnya bulan laporan untuk
LaporanKeuanganPublikasiposisiakhirbulanDesember.

Dalam hal BPR mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi dengan


menempelkan pada papan pengumuman atau media lainnya yang
mudah dibaca oleh publik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9
(Paragraf 57 dalam kodifikasi ini) maka Laporan Keuangan Publikasi
wajib:
a. ditempelkandiseluruhkantorBPR;dan
b. terus menerus ditempelkan sampai dengan jangka waktu
pelaporanberikutnya.

Contoh:
Laporan Keuangan Publikasi bulan Maret 2013 ditempelkan pada
papan pengumuman/media lainnya hingga masuk periode
pengumumanLaporanKeuanganPublikasibulanJuni2013
Yang dimaksud dengan kantor BPR adalah Kantor Pusat, Kantor
CabangdanKantorKas

(2) BPR yang tidak mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi sesuai


dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan
belummengumumkanLaporanKeuanganPublikasi.

Contoh:
PadasaatPemeriksaanbulanAgustus2013,BPRtidakmenempelkan
Laporan Keuangan Publikasi pada papan pengumuman/media
lainnya yang mudah dibaca oleh Publik pada salah satu kantor BPR
untukposisiakhirJuni2013,makaBPRakandikenakansanksitidak
mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi pada periode Laporan
KeuanganPublikasiposisiakhirJuni2013.

(1) BPR dinyatakan terlambat mengumumkan Laporan Keuangan


Publikasi, apabila mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi
setelah batas akhir waktu pengumuman laporan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) (Paragraf 57 ayat (3) dalam
kodifikasiini)sampaidenganpalinglama1(satu)bulansejakbatas
akhirpengumumanlaporan.

Contoh:
Untuk Laporan Keuangan Publikasi bulan Maret 2013, BPR
dinyatakan terlambat mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi
jika diumumkan dalam kurun waktu 1 Mei sampai dengan 31 Mei
2013.

(2) BPR dinyatakan tidak mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi,


apabila BPR belum mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi
dalamkurunwaktuketerlambatansebagaimanadimaksudpadaayat
(1).

79

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

60

Pasal12
15/3/PBI/2013

61

Pasal13
15/3/PBI/2013

TransparansidanPublikasiLaporanBank
Ketentuan

Contoh:
Untuk Laporan Keuangan Publikasi bulan Maret 2013, BPR
dinyatakan tidak mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi jika
diumumkansetelahtanggal31Mei2013.

(3) ApabilaBPRtelahmengumumkanLaporanKeuanganPublikasiposisi
bulanDesember,namun:
a. LaporanKeuanganTahunanuntukLaporanPublikasisebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) (Paragraf 53 ayat (1) dalam
kodifikasi ini) tidak diaudit oleh Akuntan Publik dan/atau Kantor
AkuntanPublikyangterdaftardiBankIndonesia;atau
b. LaporanKeuanganTahunanuntukLaporanPublikasisebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) (Paragraf 53 ayat (2) dalam
kodifikasi ini) belum dipertanggungjawabkan oleh Direksi atau
Pengurus kepada Rapat Umum Pemegang Saham atau Rapat
Anggota,
BPR dinyatakan belum mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi
posisibulanDesember.

(1) Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8


(Paragraf56dalamkodifikasiini)wajibditandatanganipalingkurang
oleh 1 (satu) anggota Direksi BPR dengan mencantumkan nama
secarajelas.
(2) Dalam hal seluruh anggota Direksi berhalangan, Laporan Keuangan
Publikasi ditandatangani oleh anggota Dewan Komisaris atau
Pejabat yang ditunjuk oleh Rapat Umum Pemegang Saham atau
sesuai Anggaran Dasar, dengan mencantumkan nama dan jabatan
secarajelas.
(3) Bagi BPR yang laporan keuangannya di audit oleh Akuntan Publik,
Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan Desember, selain
wajib memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2) juga wajib mencantumkan nama Akuntan Publik yang
bertanggungjawabdalamaudit(partnerincharge)dannamaKantor
AkuntanPublikyangmengauditLaporanKeuanganTahunan.

BPR wajib menyampaikan bukti pengumuman kepada Bank Indonesia,


berupa:
a. halaman surat kabar yang memuat Laporan Keuangan Publikasi;
dan/atau
b. fotokopi Laporan Keuangan Publikasi yang ditempelkan pada papan
pengumumanataumedialainnya,
palinglambattanggal14setelahbatasakhirpengumumansebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) (Paragraf 57 ayat (3) dalam kodifikasi
ini).

Contoh:
Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir Maret 2013 wajib diumumkan
palinglambattanggal30April2013.

80

LikuiditasRupiah

Paragraf

62

SumberRegulasi

SE15/29/DKBU
2013
RomawiVI.A

Pasal14
15/3/PBI/2013

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
Selanjutnya, BPR wajib menyampaikan guntingan surat kabar dan/atau
fotokopi Laporan Keuangan Publikasi dan rekaman data Laporan
Publikasipalinglambattanggal14Mei2013.

AlamatPenyampaianLaporan
Laporan Tahunan dan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi
disampaikankepadaBankIndonesiadenganalamat:

1. Kantor Regional Bank I Indonesia, Gedung D, Lantai 7, Jalan M.H.


ThamrinNomor2JakartaPusat10350,bagiBPRyangberkedudukan
diwilayahDKIJakarta,Banten,Bogor,Depok,Karawang,danBekasi.

2. Kantor Perwakilan Dalam Negeri Bank Indonesia yang mewilayahi


kantor pusat BPR, bagi BPR yang kantor pusatnya berkedudukan di
luarwilayahsebagaimanadimaksuddalamhurufa.

(1) BPR wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia rekaman data


LaporanKeuanganPublikasisecaraonline,palinglambattanggal14,
setelahbatasakhirpengumumansebagaimanadimaksuddalamPasal
9ayat(3)(Paragraf57ayat(3)dalamkodifikasiini).

Penyampaian rekaman data Laporan Keuangan Publikasi secara


online dilakukan dengan cara mengirim atau mentransfer rekaman
data secara langsung melalui fasilitas ekstranet Bank Indonesia atau
saranateknologilainnya.

(2) Dalam hal BPR tidak dapat menyampaikan rekaman data Laporan
Keuangan Publikasi secara online sebagaimana dimaksud pada ayat
(1)karena:

Penyampaian rekaman data Laporan Keuangan Publikasi secara off


line dilakukan dengan cara antara lain seperti mengirimkan USB,
compactdisk,atausaranarekamanatautransferdatalainnya.

a. BPR berkedudukan di daerah yang belum tersedia fasilitas


jaringantelekomunikasi;

Yang dimaksud dengan daerah yang belum tersedia fasilitas


jaringan telekomunikasi adalah daerah yang tidak mempunyai
sarana jaringan telekomunikasi sesuai dengan sarana jaringan
telekomunikasi yang digunakan untuk sistem Laporan Keuangan
PublikasikepadaBankIndonesia.

b. BPR baru beroperasi dengan batas waktu paling lama 2 (dua)


bulansetelahmelakukankegiatanoperasional;
c. BPRmengalamigangguanteknis;dan/atau

Yangdimaksuddengangangguanteknisadalahgangguanyang
mengakibatkanBPRpelaportidakdapatmenyampaikanLaporan
Keuangan Publikasi secara online, antara lain gangguan pada
jaringantelekomunikasi,kebakaranataupemadamanlistrik.

81

LikuiditasRupiah

Paragraf

63

SumberRegulasi

SE15/29/DKBU
2013
RomawiV.B

Pasal15
15/3/PBI/2013

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
d. terjadikerusakandan/ataugangguanpadadatabaseataujaringan
telekomunikasidiBankIndonesia,
BPRmenyampaikanrekamandataLaporanKeuanganPublikasisecara
offline.

LaporanKeuanganPublikasisecaraonlinedilakukanmelaluifasilitas
jaringan ekstranet Bank Indonesia. Dalam hal laporan disampaikan
secara offline dalam bentuk rekaman data (soft copy) berupa
compact disk atau media perekam data elektronik lainnya maka
laporandisampaikankepadaBankIndonesiadenganalamat:

a. Departemen Pengelolaan dan Kepatuhan Laporan, Gedung


Syafruddin Prawiranegara, Lantai 1617, Jalan M.H. Thamrin
Nomor 2, Jakarta Pusat 10350, bagi BPR yang berkedudukan di
wilayah DKI Jakarta, Banten, Bogor, Depok, Karawang, dan
Bekasi;dan

b. KantorPerwakilanDalamNegeriBankIndonesiayangmewilayahi
kantorpusatBPR,bagiBPRyangkantorpusatnyaberkedudukan
diluarwilayahsebagaimanadimaksuddalamhurufa.

(1) BPR dinyatakan terlambat menyampaikan bukti pengumuman


sebagaimanadimaksuddalamPasal13(Paragraf61dalamkodifikasi
ini) dan rekaman data Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) (Paragraf 62 ayat (1) dalam
kodifikasi ini), apabila BPR menyampaikan bukti pengumuman atau
rekamandataLaporanKeuanganPublikasisetelahbatasakhirwaktu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dan Pasal 14 ayat (1)
(Paragraf 61 dan Paragraf 62 ayat (1) dalam kodifikasi ini) sampai
denganpalinglama1(satu)bulansejakbatasakhirpenyampaian.

Contoh:
Untuk Laporan Keuangan Publikasi bulan Maret 2013, BPR
dinyatakanterlambatmenyampaikanhalamansuratkabardan/atau
fotokopi Laporan Keuangan Publikasi dan rekaman data Laporan
Keuangan Publikasi, jika disampaikan dalam kurun waktu 15 Mei
sampaidengan14Juni2013.

(2) BPR dinyatakan tidak menyampaikan bukti pengumuman


sebagaimanadimaksuddalamPasal13(Paragraf61dalamkodifikasi
ini) atau rekaman data Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) (Paragraf 62 ayat (1) dalam
kodifikasiini),apabilaBPRbelummenyampaikanbuktipengumuman
atau rekaman data Laporan Keuangan Publikasi dalam kurun waktu
keterlambatansebagaimanadimaksudpadaayat(1).

Contoh:
Untuk Laporan Keuangan Publikasi bulan Maret 2013, BPR
dinyatakantidakmenyampaikanhalamansuratkabarataufotokopi
Laporan Keuangan Publikasi yang ditempelkan pada papan

82

LikuiditasRupiah

Paragraf

64

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
pengumuman dan rekaman data Laporan Keuangan Publikasi, jika

disampaikansetelahtanggal14Juni2013.

(3) Apabila BPR telah menyampaikan rekaman data Laporan Keuangan

Publikasi namun datanya tidak sesuai dengan Laporan Keuangan

Publikasi yang diumumkan maka BPR dinyatakan belum

menyampaikanrekamandataLaporanKeuanganPublikasi.

BABIV
HubunganAntaraBPR,AkuntanPublikDanBankIndonesia
Pasal16
15/3/PBI/2013

(1) Dalam memberikan penugasan audit terhadap Laporan Keuangan


Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 (Paragraf 52 dalam
kodifikasi ini), BPR wajib menunjuk Akuntan Publik dan Kantor
AkuntanPublikyangmemenuhikriteria:
a. terdaftardiBankIndonesia;dan
b. tidakmemilikiketerkaitandenganBPR.

YangdimaksuddenganketerkaitandenganBPRadalahketerkaitan
kepemilikan, kepengurusan dan/atau keuangan sebagaimana
dimaksud dalam ketentuan Bank Indonesia tentang Batas
MaksimumPemberianKreditBPR.

(2) Penugasan atau penunjukan Akuntan Publik dan/atau Kantor


Akuntan Publik yang sama oleh BPR hanya dapat dilakukan untuk
palinglama3(tiga)tahunbukuberturutturut.

65

Pasal17
15/3/PBI/2013

Pembatasan penugasan atau penunjukan dimaksudkan dalam


rangka meningkatkan independensi dalam pelaksanaan audit
LaporanKeuanganTahunanBPR.

(1) Penunjukan atau penugasan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan


Publik dalam rangka audit Laporan Keuangan Tahunan BPR wajib
dilakukandenganperjanjiankerja.
(2) PerjanjiankerjaantaraBPRdanKantorAkuntanPubliksebagaimana
dimaksudpadaayat(1)palingkurangmencakup:
a. namaKantorAkuntanPublik;
b. Akuntan Publik yang bertanggung jawab terhadap audit
(partnerincharge);
c. kewajiban Akuntan Publik untuk melakukan audit sesuai
Standar Profesional Akuntan Publik, kode etik profesi dan
peraturan perundangundangan yang mengatur mengenai
AkuntanPublik;
d. pernyataandariBPRuntukmengizinkanKantorAkuntanPublik
menyampaikansecaralangsungkepadaBankIndonesia:
1) laporanhasilaudit;
2) SuratKomentar(ManagementLetter);
3) informasi yang dibutuhkan oleh Bank Indonesia setiap saat
apabiladiperlukan;dan
4) informasi mengenai temuan audit terkait dengan
pelanggaran terhadap ketentuan perundangundangan di
bidang keuangan dan/atau perbankan yang dapat
membahayakankelangsunganusahaBPR;

83

LikuiditasRupiah

Paragraf

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
5) ruanglingkupaudit;

6) Jangkawaktupenyelesaianaudit;

7) kewajiban Akuntan Publik yang bertanggung jawab dalam

melakukan audit untuk melapor kepada Bank Indonesia

sebelumpelaksanaanaudit;dan

8) kewajibanKantorAkuntanPublikdanAkuntanPublikuntuk

tidak menggunakan atau mengungkapkan data atau

informasikepadapihaklaintanpaseizinBPRsesuaidengan

ketentuanperundangundanganyangberlaku.

(3) Ruang lingkup audit sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d

palingsedikitmencakup:

a. penilaian atas penggolongan kualitas aktiva produktif dan

kecukupan penyisihan penghapusan aktiva produktif yang

dibentukBPR;

b. penilaian terhadap aset lainlain dan agunan yang diambil alih

BPR;

c. pendapat mengenai kewajaran atas transaksi dengan pihak yang

mempunyaihubunganistimewamaupuntransaksiyangdilakukan

denganperlakuankhusus;

Pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah pihakpihak

sebagaimanadimaksuddalamStandarAkuntansiKeuanganyang

berlakubagiBPR.

d. jumlahdankualitaspenyediaandanakepadapihakterkait;

e. rincian pelanggaran batas maksimum pemberian kredit yang

meliputi nama nasabah, kualitas penyediaan dana, persentase

danjumlahpelanggaranbatasmaksimumpemberiankredit;

f. rincian pelanggaran batas maksimum pemberian kredit yang

meliputi nama nasabah, kualitas penyediaan dana, persentase

danjumlahpelanggaranbatasmaksimumpemberiankredit;

g. perhitunganKewajibanPenyediaanModalMinimum(KPMM);

h. LoantoDepositRatio(LDR);

Yang dimaksud dengan penyebab kredit bermasalah adalah

kredityangberpengaruhsecarasignifikanterhadapNPLBPR.

i. Perbandingan jumlah kredit bermasalah terhadap total kredit

yangdiberikansertapenyebabutamanya.

j. Return on Asset (ROA) dan Beban Operasional terhadap

PendapatanOperasional(BOPO).

Pengujian terhadap keandalan laporan termasuk penilaian

Akuntan Publik mengenai laporan yang disampaikan ke Bank

IndonesiatelahdisusundansesuaidengandatayangadadiBPR.

Laporan sebagaimana dimaksud dalam huruf ini termasuk

laporan bulanan BPR dan laporan batas maksimum pemberian

kredit.

84

LikuiditasRupiah

Paragraf

66

67

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
k. keandalan sistem pelaporan BPR kepada Bank Indonesia dan

pengujianterhadapkeandalanlaporanlaporanyangdisampaikan

olehBPRkepadaBankIndonesia;dan

l. halhallainyangdiaturdalamStandarAkuntansiKeuanganyang

berlaku,termasukcatatanatasLaporanKeuangan.

(4) Fotokopi perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib

disampaikan BPR kepada Bank Indonesia paling lambat 14 (empat

belas)harisebelumpelaksanaanaudit.

SE15/29/DKBU
HubunganKerjaantaraBPRdanAkuntanPublik
2013
A. PenugasanAkuntanPublikdanKantorAkuntanPublikdalamrangka
RomawiIV
audit Laporan Keuangan Tahunan BPR wajib dilakukan dengan
perjanjiankerja;
B. PerjanjiankerjaantaraBPRdanKantorAkuntanPublikberpedoman
pada Lampiran II (Lampiran 44 dalam kodifikasi ini) yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Edaran Bank
Indonesiaini.

Akuntan Publik dan/atau Kantor Akuntan Publik wajib memberikan data


Pasal18
dan informasi yang diminta Bank Indonesia terkait dengan BPR yang
15/3/PBI/2013
diaudit,meskipunperjanjiankerjasebagaimanadimaksuddalamPasal17

ayat(1)(Paragraf65ayat(1)dalamkodifikasiini)telahberakhir.

Akuntan Publik yang melakukan audit terhadap Laporan Keuangan


Pasal19
TahunanBPRwajib:
15/3/PBI/2013
a. melakukan audit sesuai dengan standar profesional Akuntan Publik,

kodeetikprofesi,danketentuanperundangundanganyangmengatur
mengenai Akuntan Publik, serta perjanjian kerja sebagaimana
dimaksuddalamPasal17(Paragraf65dalamkodifikasiini).
b. memberitahukan adanya pelanggaran terhadap ketentuan
perundangundangan di bidang keuangan dan/atau perbankan yang
dapat membahayakan kelangsungan usaha BPR kepada Bank
Indonesia paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak ditemukannya
pelanggaran;

Yangdimaksuddenganpelanggaranterhadapketentuanperundang
undangan di bidang keuangan dan/atau perbankan yang dapat
membahayakankelangsunganusahaBPR,antaralain:
a. kekurangankewajibanpenyediaanmodalminimum;
b. kekurangan pembentukan penyisihan penghapusan aktiva
produktifyangmaterial;
c. pelanggaranbatasmaksimumpemberiankredit;dan/atau
d. kecurangan(fraud)yangbernilaimaterial.

c. menyampaikanlaporanhasilauditdanSuratKomentar(Management
Letter)kepadaBankIndonesiapalinglambat4(empat)bulansetelah
berakhirnyatahunbukuyangbersangkutan;dan

Laporan Hasil Audit dan Surat Komentar (Management Letter) yang


disampaikan kepada Bank Indonesia adalah Laporan Hasil Audit dan

85

LikuiditasRupiah

Paragraf

68

69

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi

Ketentuan
SuratKomentaryangtelahditandatanganiolehAkuntanPublikyang
incharge.

d. mematuhi ketentuan rahasia bank sebagaimana diatur dalam


UndangUndang tentang Perbankan dan kerahasiaan informasi
sebagaimanadiaturdalamUndangUndangmengenaiAkuntanPublik
dan ketentuan perundangundangan lainnya serta perjanjian kerja
sebagaimanadiaturdalamPasal17ayat(2)hurufh(Paragraf65ayat
(2)hurufhdalamkodifikasiini).

BABV

TanggungJawabLaporanKeuangan

Pasal20
15/3/PBI/2013

BABVI

LaporanKeuanganTahunandanLaporanKeuanganPublikasisepenuhnya
menjaditanggungjawabDireksiataupengurusBPR.

Pasal21
15/3/PBI/2013

(1) BPR yang mengalami keadaan memaksa yang dampaknya terhadap


BPR melampaui batas waktu seharusnya mengumumkan dan/atau
menyampaikanlaporan,dikecualikandarikewajibanmengumumkan
dan/atau menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal4ayat(4),Pasal9ayat(3),Pasal13,Pasal14ayat(1)(Paragraf
52ayat(4),Paragraf57ayat(3),Paragraf61danParagraf62ayat(1)
dalamkodifikasiini).

Yang dimaksud dengan keadaan memaksa (force majeure) adalah


keadaan yang secara nyatanyata menyebabkan BPR tidak dapat
mengumumkan dan/atau menyampaikan laporan, antara lain
kebakaran,kerusuhanmassa,perang,sabotase,sertabencanaalam
sepertigempabumidanbanjir,yangdibenarkanolehpenguasaatau
pejabatdariinstansiterkaitdidaerahsetempat.
Contoh:
Apabila BPR mengalami kebakaran di bulan Februari 2013 yang
menyebabkan BPR mengalami kerusakan infrastruktur dan
kehilangan data dan/atau informasi secara permanen, sehingga
tidak dapat menyampaikan laporan atau mengumumkan laporan
posisi Desember 2012 sampai dengan batas waktu penyampaian
Laporan Tahunan dan pengumuman Laporan Keuangan Publikasi,
dikecualikandaripenyampaianpelaporan/pengumuman.

(2) Untukmemperolehpengecualiansebagaimanadimaksudpadaayat
(1), BPR harus menyampaikan permohonan secara tertulis kepada
Bank Indonesia disertai penjelasan mengenai penyebab terjadinya
keadaan memaksa yang dialami dan disertai keterangan pejabat
yangberwenangdariinstansiterkaitdidaerahsetempat.
(3) BPR yang memperoleh pengecualian sebagaimana dimaksud pada
ayat wajib mengumumkan dan/atau menyampaikan laporan
sebagaimanadimaksuddalamPasal4ayat(4),Pasal9ayat(3),Pasal
13danPasal14ayat(1)(Paragraf52ayat(4),Paragraf57ayat(3),
Paragraf 61 dan Paragraf 62 ayat (1) dalam kodifikasi ini), setelah
BPRkembalimelakukankegiatanoperasionalsecaranormal.

KeadaanMemaksa

86

LikuiditasRupiah

Paragraf

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi

Ketentuan
(4) Pengecualian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) hanya
diberikanhinggakeadaanmemaksaatauberdasarkanpertimbangan
BankIndonesiatelahdapatteratasi.

BABVII

BagianKesatu

Sanksi
LaporanTahunan

70

Pasal22
15/3/PBI/2013
Ayat(1)

SE15/29/DKBU
2013
RomawiV.B.1.a

Pasal22
15/3/PBI/2013
Ayat(2)

SE15/29/DKBU
2013
RomawiV.B.1.b

Pasal22
15/3/PBI/2013
Ayat(3)

(1) BPR yang terlambat menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) (Paragraf 55 ayat (1) dalam
kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar
Rp50.000,00(limapuluhriburupiah)perhariketerlambatan.

BPR yang terlambat mengumumkan Laporan Tahunan dikenakan


sanksi kewajiban membayar sebesar Rp50.000,00 (lima puluh ribu
rupiah)perhariketerlambatan.

Contoh:
BPR paling lambat menyampaikan Laporan Tahunan posisi akhir
Desember 2013 pada tanggal 30 April 2014. Apabila BPR
menyampaikan Laporan Tahunan tersebut pada tanggal 10 Mei
2014 maka BPR dikenakan sanksi keterlambatan selama 10
(sepuluh)harisebesarRp500.000,00(limaratusriburupiah).

(2) BPR yang tidak menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) (Paragraf 55 ayat (2) dalam
kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp
3.000.000,00(tigajutarupiah).

BPR yang tidak menyampaikan Laporan Tahunan kepada Bank


Indonesia, dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar
Rp3.000.000,00(tigajutarupiah).

Contoh:
BPR paling lambat menyampaikan Laporan Tahunan posisi akhir
Desember 2013 pada tanggal 30 April 2014. Apabila BPR
menyampaikan Laporan Tahunan tersebut setelah tanggal 31 Mei
2014 maka BPR dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar
Rp3.000.000,00(tigajutarupiah).

(3) BPR yang tidak menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana


dimaksud pada ayat (2) hingga periode penyampaian Laporan
Tahunan berikutnya dikenakan sanksi administratif sebagaimana
diatur dalam Pasal 52 UndangUndang No. 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang
Nomor10Tahun1998,antaralain:
a. penurunantingkatkesehatanbank;dan/atau
b. pencantumanpengurusdan/ataupemegangsahamdalamdaftar
pihakpihak yang memperoleh predikat tidak lulus dalam
penilaian kemampuan dan kepatutan BPR sebagaimana diatur
dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai uji kemampuan dan
kepatutan.

87

LikuiditasRupiah

Paragraf
71

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
(1) BPR yang menyampaikan Laporan Tahunan yang penyusunan dan
Pasal23
penyajiannyatidaksesuaidenganketentuansebagaimanadimaksud
15/3/PBI/2013
dalam Pasal 3 dan Pasal 4 (Paragraf 51 dan Paragraf 52 dalam
Ayat(1)
kodifikasi ini) dan/atau Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku

bagiBPRsebagaimanadimaksuddalamPasal5ayat(5)(Paragraf53

ayat(5)dalamkodifikasiini)dikenakan:

a. sanksi kewajiban membayar sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta

rupiah)apabilasetelahdiberisuratperingatansebanyak2(dua)

kaliolehBankIndonesiadengantenggangwaktu2(dua)minggu

untuksetiapsuratperingatan,BPRtidakmemperbaikidantidak

menyampaikanlaporandimaksud;dan

b. sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52

UndangUndang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan

sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 10

Tahun1998,antaralain:

1) penurunantingkatkesehatanbank;dan/atau

2) pencantuman pengurus dalam daftar pihak yang

memperoleh predikat tidak lulus dalam penilaian

kemampuan dan kepatutan BPR sebagaimana diatur dalam

ketentuan Bank Indonesia mengenai uji kemampuan dan

kepatutan.

SE15/29/DKBU
2013
RomawiV.B.1.c

BPR yang telah menyampaikan Laporan Tahunan, namun


penyusunan dan penyajiannya tidak sesuai dengan ketentuan
Bank Indonesia mengenai transparansi kondisi keuangan BPR
dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp5.000.000,00
(limajutarupiah)apabilasetelahdiberisuratperingatansebanyak2
(dua) kali oleh Bank Indonesia dengan tenggang waktu 2 (dua)
mingguuntuksetiapsuratperingatan,BPRtidakmemperbaikidan
tidakmenyampaikanlaporandimaksud.

Contoh:
1) BPR menyampaikan Laporan Tahunan pada tanggal 30 April
2014, namun laporan dimaksud tidak menyajikan
perbandingan Laporan Keuangan Tahunan dengan tahun
sebelumnya dan tidak ditandatangani oleh Pejabat yang
berwenang sesuai Anggaran Dasar. Apabila setelah Bank
Indonesiamemberikansuratperingatansebanyak2(dua)kali
untuk memperbaiki namun tidak ditindaklanjuti dengan
perbaikan serta penyampaian Laporan dimaksud maka BPR
yang bersangkutan dikenakan sanksi kewajiban membayar
sebesarRp5.000.000,00(limajutarupiah).
2) BPR menyampaikan Laporan Tahunan pada tanggal 30 April
2014, namun laporan dimaksud tidak sesuai dengan Standar
Akuntansi Keuangan bagi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik
(SAK ETAP) dan Pedoman Akuntansi BPR (PA BPR). Apabila
setelah Bank Indonesia memberikan surat peringatan
sebanyak2(dua)kalikepadaBPRnamuntidakditindaklanjuti
dengan perbaikan serta penyampaian Laporan dimaksud maka
BPRyangbersangkutandikenakansanksikewajibanmembayar
sebesarRp5.000.000,00(limajutarupiah).

88

LikuiditasRupiah

Paragraf

72

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
Pasal23
(2) BPR yang menyampaikan Laporan Tahunan yang isinya secara
15/3/PBI/2013
material tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya sebagaimana
Ayat(2)
dimaksud dalam Pasal 3 (Paragraf 51 dalam kodifikasi ini) selain
dikenakan sanksi kewajiban membayar dan sanksi administratif
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terhadap anggota Dewan
Komisaris, anggota Direksi, pegawai BPR maupun pihak terafiliasi
lainnyadapatdikenakansanksipidanasebagaimanadimaksuddalam
Pasal49ayat(1)danPasal50UndangUndangNomor7tahun1992
tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang
UndangNomor10Tahun1998.

BagianKedua
LaporanKeuanganPublikasi
Pasal24
15/3/PBI/2013
Ayat(1)

SE15/29/DKBU
2013
RomawiV.B.2.a

(1) BPR yang terlambat mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi


pada surat kabar lokal dan/atau menempelkannya pada papan
pengumuman atau media lainnya sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 11 ayat (1) (Paragraf 59 ayat (1) dalam kodifikasi ini), masing
masingdikenakansanksikewajibanmembayarsebesarRp50.000,00
(limapuluhriburupiah)perhariketerlambatan.

Contoh:
a. ApabilaBPRmengumumkanLaporanKeuanganPublikasisesuai
ketentuan untuk posisi Maret 2013 pada tanggal 7 Mei 2013,
maka BPR tersebut dikenakan denda keterlambatan selama 6
harisenilaiRp300.000,00(tigaratusriburupiah)
b. Untuk BPR dengan total aset lebih besar atau sama dengan
RP10.000.000.000,00
(sepuluh
miliar
rupiah)
wajib
mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan
Desember 2012 pada papan pengumuman atau media lainnya
dan surat kabar lokal. Apabila BPR mengumumkan Laporan
Keuangan Publikasi posisi akhir bulan Desember 2012 pada
tanggal6Mei2013baikdisuratkabarlokalmaupunpadapapan
pengumuman, maka BPR tersebut dikenakan denda sebesar Rp
500,000,00 (lima ratus ribu rupiah) dengan rincian sebagai
berikut:
1) Keterlambatan mengumumkan pada papan pengumuman
selama 5 hari sebesar Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh
riburupiah);dan
2) Keterlambatanmengumumkanpadasuratkabarlokalselama
5 hari sebesar Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu
rupiah)

BPR yang terlambat mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi


pada surat kabar lokal dan/atau menempelkannya pada papan
pengumuman atau media lainnya, masingmasing dikenakan sanksi
kewajiban membayar sebesar Rp50.000,00 (lima puluh ribu rupiah)
perhariketerlambatan.

Contoh:
1) Untuk posisi Juni 2014, BPR wajib mengumumkan Laporan
Keuangan Publikasi paling lambat tanggal 31 Juli 2014. Apabila

89

LikuiditasRupiah

Paragraf

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
BPR mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi tersebut pada

tanggal 7 Agustus 2014, maka BPR tersebut dikenakan sanksi

keterlambatanselama7(tujuh)harisebesarRp350.000,00(tiga

ratuslimapuluhriburupiah).

2) Untuk posisi Desember 2013, bagi BPR dengan total aset lebih

besar atau sama dengan Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar

rupiah) wajib mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi pada

papanpengumumanataumedialainnyadansuratkabarlokal,

paling lambat 30 April 2014. Apabila BPR mengumumkan

LaporanKeuanganPublikasitersebutpadatanggal10Mei2014

maka BPR dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar

Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) dengan rincian sebagai

berikut:

a) sanksi keterlambatan mengumumkan pada papan

pengumuman selama 10 (sepuluh) hari sebesar

Rp500.000,00(limaratusriburupiah);dan

b) sanksi keterlambatan mengumumkan pada surat kabar lokal

selama 10 hari sebesar Rp500.000,00 (lima ratus ribu

rupiah).

Pasal24
(2) BPR yang tidak mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi pada
15/3/PBI/2013
surat kabar lokal dan/atau menempelkannya pada papan
Ayat(2)
pengumuman atau media lainnya sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 11 ayat (2) (Paragraf 59 ayat (2) dalam kodifikasi ini), masing

masing dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar

Rp3.000.000,00(tigajutarupiah).

Contoh:

a. ApabilaBPRmengumumkanLaporanKeuanganPublikasisesuai

ketentuan untuk posisi akhir bulan Maret 2013 pada tanggal 5

Juni 2013, maka BPR tersebut dikenakan denda tidak

mengumumkan laporan keuangan publikasi posisi akhir bulan

Maret2013sebesarRp3.000.000,00(tigajutarupiah)

b. Untuk BPR dengan total aset lebih besar atau sama dengan

Rp10.000.000.000,00
(sepuluh
miliar
rupiah)
wajib

mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan

Desember 2012 pada papan pengumuman atau media lainnya

dan surat kabar lokal. Apabila BPR mengumumkan Laporan

Keuangan Publikasi posisi akhir bulan Desember 2012 pada

tanggal 20 Juni 2013, maka BPR tersebut dikenakan denda

sebesar Rp6.000.000,00 (enam juta rupiah) dengan rincian

sebagaiberikut:

1) Denda tidak mengumumkan pada papan pengumuman

sebesarRp3.000.000,00(tigajutarupiah);dan

2) Denda tidak mengumumkan pada surat kabar lokal sebesar

Rp3.000.000,00(tigajutarupiah).

SE15/29/DKBU
2013

RomawiV.B.2.b

BPR yang tidak mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi pada


surat kabar lokal dan/atau menempelkannya pada papan
pengumumanataumedialainnya,masingmasingdikenakansanksi
kewajibanmembayarsebesarRp3.000.000,00(tigajutarupiah).

90

LikuiditasRupiah

Paragraf

73

SumberRegulasi

Pasal25
15/3/PBI/2013
Ayat(1)

TransparansidanPublikasiLaporanBank
Ketentuan

Contoh:
1) Untuk posisi akhir bulan September 2013, BPR wajib
mengumumkanLaporanKeuanganPublikasipalinglambatpada
tanggal31Oktober2013.ApabilaBPRmengumumkanLaporan
Keuangan Publikasi tersebut setelah tanggal 31 Oktober 2013,
maka BPR dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar
Rp3.000.000,00(tigajutarupiah).
2) UntukposisiakhirbulanDesember2013,bagiBPRdengantotal
asetlebihbesaratausamadenganRp10.000.000.000,00(sepuluh
miliar rupiah) wajib mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi
pada papan pengumuman atau media lainnya dan surat kabar
lokal, paling lambat tanggal 30 April 2014. Apabila BPR
mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi tersebut setelah
tanggal 31 Mei 2014 maka BPR tersebut dikenakan sanksi
kewajiban membayar sebesar Rp6.000.000,00 (enam juta
rupiah)denganrinciansebagaiberikut:
a) sanksi tidak mengumumkan pada papan pengumuman
sebesarRp3.000.000,00(tigajutarupiah);dan
b) sanksi tidak mengumumkan pada surat kabar lokal sebesar
Rp3.000.000,00(tigajutarupiah).

(1) BPR yang terlambat menyampaikan bukti pengumuman dan/atau


rekaman data Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 15 ayat (1) (Paragraf 63 ayat (1) dalam kodifikasi ini),
masingmasing dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar
Rp50.000,00(limapuluhriburupiah)perhariketerlambatan.

Contoh:
a. Untuk Laporan Keuangan Publikasi bulan Maret 2013, BPR
menyampaikan bukti pengumuman laporan keuangan publikasi
atau guntingan surat kabar dan rekaman data sesuai ketentuan
untuk pada tanggal 21 Mei 2013, maka BPR tersebut dikenakan
denda keterlambatan menyampaikan bukti pengumuman
fotokopi Laporan Keuangan Publikasi dan rekaman data senilai
Rp600.000,00(enamratusriburupiah)yangterdiridari:
1) Denda keterlambatan penyampaian bukti pengumuman
Laporan Keuangan Publikasi selama 6 hari senilai
Rp300.000,00(tigaratusriburupiah);dan
2) Dendaketerlambatanmenyampaikan rekamandataselama6
harisenilaiRp300.000,00(tigaratusriburupiah)
b. Khusus untuk BPR dengan total aset lebih besar atau sama
dengan RP10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) wajib
menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi
posisiakhirbulanDesember2012padapapanpengumumanatau
medialainnya,suratkabarlokaldanrekamandata.ApabilaBPR
menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi,
guntingan surat kabar, dan rekaman data posisi akhir bulan
Desember 2012 pada tanggal 21 Mei 2013, maka BPR tersebut
dikenakan denda 6 hari keterlambatan sebesar Rp 900,000,00
(sembilanratusriburupiah)denganrinciansebagaiberikut:

91

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

SE15/29/DKBU
2013

RomawiV.B.2.c
Contoh1)dan2)

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
1) Denda keterlambatan penyampaian bukti pengumuman
Laporan Keuangan Publikasi selama 6 hari senilai
Rp300.000,00(tigaratusriburupiah);
2) Denda keterlambatan penyampaian guntingan halaman surat
kabar selama 6 hari senilai Rp300.000,00 (tiga ratus ribu
rupiah);
3) Dendaketerlambatanmenyampaikan rekamandataselama6
harisenilaiRp300.000,00(tigaratusriburupiah)

BPR yang terlambat menyampaikan bukti pengumuman dan/atau


rekaman data Laporan Keuangan Publikasi, masingmasing
dikenakansanksikewajibanmembayarsebesarRp50.000,00(lima
puluhriburupiah)perhariketerlambatan.

Contoh:
1) Untuk posisi akhir bulan September 2013, BPR wajib
menyampaikanbuktipengumumanLaporanKeuanganPublikasi
atauguntinganhalaman suratkabardanrekamandatapaling
lambattanggal14November2013.ApabilaBPRmenyampaikan
bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi atau guntingan
surat kabar dan rekaman data tanggal 21 November 2013,
maka BPR tersebut dikenakan sanksi keterlambatan selama 7
(tujuh) hari sebesar Rp700.000,00 (tujuh ratus ribu rupiah),
denganrinciansebagaiberikut:
a) sanksi keterlambatan penyampaian bukti pengumuman
Laporan Keuangan Publikasi selama 7 (tujuh) hari sebesar
Rp350.000,00(tigaratuslimapuluhriburupiah);dan
b) sanksiketerlambatanmenyampaikanrekamandataselama7
(tujuh) hari sebesar Rp350.000,00 (tiga ratus lima puluh ribu
rupiah).
2) UntukposisiakhirbulanDesember2013,bagiBPRdengantotal
asetlebihbesaratausamadenganRp10.000.000.000,00(sepuluh
miliar rupiah) wajib menyampaikan bukti pengumuman Laporan
KeuanganPublikasipadapapanpengumumanataumedialainnya
danguntinganhalamansuratkabarlokalsertamenyampaikan
rekaman data, paling lambat tanggal 14 Mei 2014. Apabila BPR
menyampaikanbuktipengumumanLaporanKeuanganPublikasi,
guntingansuratkabar,danrekamandatatersebutpadatanggal
24 Mei 2014, maka BPR dikenakan sanksi keterlambatan
selama10(sepuluh)harisebesarRp1.500.000,00(satujutalima
ratusriburupiah),denganrinciansebagaiberikut:
a) sanksi keterlambatan penyampaian bukti pengumuman
Laporan Keuangan Publikasi selama 10 hari senilai
Rp500.000,00(limaratusriburupiah);
b) sanksiketerlambatanpenyampaianguntinganhalamansurat
kabar selama 10 hari senilai Rp500.000,00 (lima ratus ribu
rupiah);dan
c) sanksi keterlambatan menyampaikan rekaman data selama
10harisenilaiRp500.000,00(limaratusriburupiah).

92

LikuiditasRupiah

Paragraf

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
(2) BPR yang tidak menyampaikan bukti pengumuman dan/atau
Pasal25
rekaman data Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud
15/3/PBI/2013
dalam Pasal 15 ayat (2) (Paragraf 63 ayat (2) dalam kodifikasi ini),
Ayat(2)
masingmasing dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar

Rp3.000.000,00(tigajutarupiah).

Contoh:

a. Untuk Laporan Keuangan Publikasi bulan Maret 2013, apabila

BPR menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan

Publikasiatauguntingansuratkabarpadatanggal20Juni2013,

maka BPR tersebut dikenakan denda tidak menyampaikan bukti

pengumuman fotokopi Laporan Keuangan Publikasi atau

guntingansuratkabardanrekamandatasenilaiRp6.000.000,00

(enamjutarupiah)yangterdiridari:

1) Denda tidak menyampaikan bukti pengumuman Laporan

Keuangan Publikasi senilai Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah);

dan

2) Denda tidak menyampaikan rekaman data senilai

Rp3.000.000,00(tigajutarupiah).

b. Khusus BPR dengan total aset lebih besar atau sama dengan

RP10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) untuk Laporan

Keuangan Publikasi bulan Desember 2012, apabila BPR

menyampaikan bukti pengumuman laporan keuangan publikasi,

guntingan halaman surat kabar, dan rekaman data sesuai

ketentuanuntukposisiDesember2012padatanggal20Juni2013

maka BPR tersebut dikenakan denda sebesar Rp9.000.000,00

(Sembilanjutarupiah)yangterdiridari:

1)
Denda tidak menyampaikan bukti pengumuman Laporan

KeuanganPublikasisenilaiRp3.000.000,00(tigajutarupiah);

2)
Denda tidak menyampaikan guntingan halaman surat kabar

senilaiRp3.000.000,00(tigajutarupiah);dan

3) Denda tidak menyampaikan rekaman data senilai

Rp3.000.000,00(tigajutarupiah).

SE15/29/DKBU
BPR yang tidak menyampaikan bukti pengumuman dan/atau rekaman
2013

data Laporan Keuangan Publikasi, masingmasing dikenakan sanksi


RomawiV.B.2.c
kewajibanmembayarsebesarRp3.000.000,00(tigajutarupiah).
Contoh3)
Contoh:

a) Untuk posisi bulan September 2013, BPR wajib menyampaikan

bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi atau guntingan

suratkabardanrekamandata,palinglambattanggal14November

2013. Apabila BPR menyampaikan bukti pengumuman Laporan

Keuangan Publikasi atau guntingan halaman surat kabar dan

rekaman data setelah tanggal 14 November 2013, maka BPR

tersebutdikenakansanksitidakmenyampaikanbuktipengumuman

Laporan Keuangan Publikasi atau guntingan halaman surat kabar


dan rekaman data senilai Rp6.000.000,00 (enam juta rupiah)
denganrinciansebagaiberikut:
(1) sanksi tidak menyampaikan bukti pengumuman Laporan
Keuangan Publikasi senilai Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah);
dan

93

LikuiditasRupiah

Paragraf

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi

Ketentuan
(2) sanksi tidak menyampaikan rekaman data senilai
Rp3.000.000,00(tigajutarupiah).
b) UntukposisiakhirbulanDesember2013,bagiBPRdengantotalaset
lebih besar atau sama dengan Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar
rupiah) wajib menyampaikan bukti pengumuman Laporan
KeuanganPublikasipalinglambattanggal14Mei2014.ApabilaBPR
menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi,
guntinganhalamansuratkabar,danrekamandatasetelahtanggal
14 Juni 2014 maka BPR tersebut dikenakan sanksi kewajiban
membayar sebesar Rp9.000.000,00 (sembilan juta rupiah) yang
terdiridari:
(1) sanksi tidak menyampaikan bukti pengumuman Laporan
KeuanganPublikasisebesarRp3.000.000,00(tigajutarupiah);
(2) sanksi tidak menyampaikan guntingan halaman surat kabar
sebesarRp3.000.000,00(tigajutarupiah);dan
(3) sanksi tidak menyampaikan rekaman data sebesar
Rp3.000.000,00(tigajutarupiah).

BagianKetiga

HubunganAntaraBPR,AkuntanPublikdanBankIndonesia

74

Pasal26
15/3/PBI/2013

75

Pasal27
15/3/PBI/2013

BPRyangtidakmenyampaikanfotokopiperjanjiankepadaBankIndonesia
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) (Paragraf 65 ayat (4)
dalam kodifikasi ini) dikenakan sanksi administratif sesuai dengan Pasal
52 UndangUndang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 10 Tahun
1998,berupategurantertulis.

Akuntan Publik dan/atau Kantor Akuntan Publik yang melanggar


ketentuan dalam Pasal 18 dan/atau Pasal 19 (Paragraf 66 dan/atau
Paragraf 65 dalam kodifikasi ini) dikenakan sanksi administratif
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 UndangUndang Nomor 7 tahun
1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang
UndangNomor10Tahun1998,berupa:
a. penghapusannamaAkuntanPublikdan/atauKantorAkuntanPublik
daridaftarAkuntanPublikdanKantorAkuntanPublikyangterdaftar
diBankIndonesia;dan/atau
b. penyampaian usulan kepada instansi yang berwenang untuk
mencabut atau membatalkan izin usaha sebagai pemberi jasa bagi
banksesuaidenganperaturanperundangundanganyangberlaku.

BABVII

Lain Lain

76

Pasal28
15/3/PBI/2013

77

Pasal29
15/3/PBI/2013

BPRyangtelahdikenakansanksisebagaimanadimaksuddalamPasal22,
Pasal23,Pasal24danPasal25(Paragraf70,Paragraf71,Paragraf72dan
Paragraf 73 dalam kodifikasi ini), tetap diwajibkan untuk memenuhi
ketentuansebagaimanadimaksuddalamPeraturanBankIndonesia.

Pembebanansanksikewajibanmembayarsebagaimanadimaksuddalam
Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24 dan Pasal 25 (Paragraf 70, Paragraf 71,
Paragraf72danParagraf73dalamkodifikasiini),dilakukandengancara
transferatautunaikepadaBankIndonesia.

94

LikuiditasRupiah

Paragraf

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
SE15/29/DKBU A. Pemenuhan sanksi kewajiban membayar kepada Bank Indonesia
dilakukanolehkantorpusatBPRPelaporsecaratunaiataunontunai.
2013

RomawiV.A
SE15/29/DKBU B. Tatacarapembayaransecaratunai,dilakukansebagaiberikut:
1. Pembayaran pada setiap hari kerja dengan waktu layanan kas
2013
RomawiV.CV.E
pukul 08.00 sampai dengan 12.00 waktu setempat (hari Senin

sampaidenganKamis) ataupukul08.00sampaidengan

11.30waktusetempat(hariJumat),untukuntungrekeningnomor
566.000447.XXX (sesuai sandi satuan kerja Bank Indonesia)
Rekening antara sehubungan dengan penerimaan sanksi
administratifBPR.
2. Bagi BPR Pelapor yang berkedudukan di wilayah DKI Jakarta,
Banten, Bogor, Depok, Karawang, dan Bekasi, menyetor kepada
Departemen Pengedaran Uang c.q. Divisi Pengelolaan Uang
Keluar(PgUK).
3. Bagi BPR Pelapor yang kantor pusatnya berkedudukan di luar
wilayahsebagaimanadimaksuddalamangka2,menyetorkepada
KantorPerwakilanBankIndonesiayangmewilayahikantorpusat
BPRPelapor.
C. Tatacarapembayaransecaranontunai,dilakukandenganketentuan
sebagaiberikut:
1. Pembayaranmelaluikliring
Transfer ditujukan ke rekening nomor 566.000447.XXX (sesuai
sandi satuan kerja Bank Indonesia) Rekening antara
sehubungandenganpenerimaansanksiadministratifBPR,dengan
mencantumkan pembayaran sanksi kewajiban membayar dari
BPR XXX untuk Laporan Bulanan periode XXX pada kolom
keterangan.
2. PembayaranmelaluiBIRTGS
Transfer ditujukan ke rekening nomor 566.000447.XXX (sesuai
sandi satuan kerja Bank Indonesia) Rekening antara
sehubungan dengan penerimaan sanksi administratif BPR,
dengan mencantumkan Transaction Reference Number (TRN)
BIRBK566danpadakolomketerangandicantumkanpembayaran
sanksikewajiban
membayardariBPRXXXuntukLaporanBulananperiodeXXX.
D. BPRPelapormenyampaikansalinanbuktipembayaransanksikepada
satuan kerja di Bank Indonesia yang melakukan pengenaan sanksi,
denganketentuansebagaiberikut:
1. Penyampaian bukti pembayaran atas sanksi terkait penyampaian
laporan secara online atau offline, untuk BPR yang berada
diwilayah Jabodetabek, ditujukan kepada Divisi Pengelolaan dan
Pengawasan 2 (DPP 2) Departemen Pengelolaan dan Kepatuhan
Laporan(DPKL),GedungSyafrudinPrawiraNegaraLantai1617,
Komplek Perkantoran Bank Indonesia, Jl. M.H. Thamrin No.2,
Jakarta10350.
2. Penyampaian bukti pembayaran atas sanksi terkait penyampaian
laporan secara hard copy untuk BPR yang berada diwilayah
Jabodetabek, ditujukan kepada Kantor Regional Bank 1 (KR1),
GedungD,Lantai7,KomplekPerkantoranBankIndonesia,Jl.M.H.

95

LikuiditasRupiah

Paragraf

78

SumberRegulasi

Pasal30
15/3/PBI/2013

BABIX

79

Pasal33
15/3/PBI/2013

80

Pasal34
15/3/PBI/2013

BABI

81

Pasal1
7/47/PBI/2005

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
Thamrin No.2, Jakarta 10350 bagi BPR yang berkedudukan di
wilayahDKIJakarta,Banten,Bogor,Depok,Karawang,danBekasi.
3. Penyampaian bukti pembayaran atas sanksi terkait penyampaian
laporansecarahardcopydanlaporanlaporansecaraonlineatau
off line, untuk untuk BPR yang berada di luar wilayah
Jabodetabek, ditujukan kepada Kantor Perwakilan Dalam Negeri
BankIndonesiayangmewilayahikantorpusatBPR.

Apabila batas waktu kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4


ayat (4), Pasal 5 ayat (4), Pasal 7 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 9 ayat (3),
Pasal11ayat(1)danayat(2),Pasal13,Pasal14ayat(1),Pasal15ayat(1)
danayat(2),Pasal17ayat(4),danPasal19(Paragraf52ayat(4),Paragraf
53 ayat (4), Paragraf 55 ayat (1) dan ayat (2), Paragraf 57 ayat (3),
Paragraf 59 ayat (1) dan ayat (2), Paragraf 61, Paragraf 62 ayat (1),
Paragraf 63 ayat (1) dan ayat (2), Paragraf 65 ayat (4), dan Paragraf 67
dalam kodifikasi ini) jatuh pada hari Sabtu atau hari libur, maka batas
waktukewajibanjatuhpadaharikerjaberikutnya.

KetentuanPenutup
Peraturan Bank Indonesia ini tidak diberlakukan bagi Bank Perkreditan
Rakyat eks Badan Kredit Desa (BKD) yang didirikan berdasarkan
StaatsbladTahun1929Nomor357danRijksbladTahun1937Nomor9.

Peraturan Bank Indonesia ini mulai berlaku sejak Laporan Keuangan


PublikasiposisiakhirbulanSeptember2013danLaporanTahunanposisi
akhirtahun2013.

Transparansi Kondisi Keuangan Bank Perkreditan Rakyat


Syariah
KetentuanUmum
1. Bank Perkreditan Rakyat Syariah yang selanjutnya disebut BPRS
adalah Bank Perkreditan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam
Undangundang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
sebagaimanatelahdiubahdenganUndangundangNomor10Tahun
1998, yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip
syariah.
2. Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah adalah kegiatan usaha
perbankanyangdilakukanberdasarkanPrinsipSyariahsebagaimana
dimaksud dalam Undangundang Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undangundang
Nomor10Tahun1998.
3. Laporan Tahunan adalah laporan lengkap mengenai kinerja suatu
BPRS dalam kurun waktu satu tahun yang berisi Laporan Keuangan
Tahunandaninformasiumum.
4. Laporan Keuangan Tahunan adalah laporan keuangan akhir tahun
BPRS yang disusun berdasarkan standar akuntansi keuangan yang
berlaku.
5. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan adalah laporan keuangan
yangdisusunberdasarkanstandarakuntansikeuanganyangberlaku

96

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

6.

7.
8.

9.

82

Pasal2
7/47/PBI/2005

SE7/52/DPbS
2005
RomawiI
No.17

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
dan dipublikasikan setiap triwulan sesuai dengan ketentuan Bank
Indonesia.
Akuntan Publik adalah akuntan yang memiliki izin usaha untuk
melakukan kegiatan pemberian jasa audit yang dikeluarkan oleh
MenteriKeuangan.
TahunBukuadalahtahuntakwimatautahunyangdimulaidaribulan
JanuarisampaidenganbulanDesember.
Surat Komentar (Management Letter) adalah komentar tertulis dari
Akuntan Publik kepada manajemen bank mengenai hasil kaji ulang
terhadap struktur pengendalian intern, pelaksanaan standar
akuntansi keuangan atau masalah lain yang ditemui dalam
pelaksanaanaudit,besertadengansaransaranperbaikannya.
Dewan Pengawas Syariah adalah dewan yang melakukan
pengawasan terhadap pelaksanaan Prinsip Syariah dalam kegiatan
usahaBPRS.

Dalam rangka transparansi kondisi keuangan, BPRS wajib membuat dan


menyajikanlaporankeuangandenganbentukdancakupansebagaimana
ditetapkandalamPeraturanBankIndonesiaini,yangterdiridari:
a. LaporanTahunan;
b. LaporanKeuanganPublikasiTriwulanan.

1. DalamrangkapemantauankeadaanusahaBanktermasukBPRSoleh
publik, BPRS diwajibkan untuk menyampaikan laporan dan atau
informasisesuaidenganwaktudanbentukyangditetapkanolehBank
Indonesia.
2. Bentuk penyampaian laporan dan atau informasi yang ditetapkan
oleh Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam angka 1 adalah
LaporanTahunandanLaporanKeuanganPublikasiTriwulanan.
3. Laporan Tahunan disusun antara lain untuk memberikan gambaran
lengkapmengenaikinerjaBPRSdalamkurunwaktusatutahun.
4. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan disusun antara lain untuk
memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja atau hasil
usaha BPRS serta informasi keuangan lainnya secara triwulanan
kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan perkembangan
usahaBPRS.
5. Penyajian Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi
Triwulanan BPRS didasarkan pada Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK) yang relevan untuk perbankan syariah, Pedoman
AkuntansiPerbankanSyariahIndonesia(PAPSI),sertaketentuanyang
ditetapkanolehBankIndonesia,agardapatdiperbandingkan.
6. Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan
disusun dalam Bahasa Indonesia, dalam hal laporan dimaksud juga
dibuatselaindalamBahasaIndonesiabaikdalamdokumenyangsama
atau terpisah, maka Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan
PublikasiTriwulanantersebutharusmemuatinformasiyangsama.
7. Angkaangka dalam laporan disajikan dalam mata uang rupiah dan
dalamribuanrupiah.

97

LikuiditasRupiah

Paragraf

83

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
BABII
LaporanTahunan
(1) BPRSwajibmenyampaikankepadaBankIndonesiaLaporanTahunan
Pasal3
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a (Paragraf 82 dalam
7/47/PBI/2005
kodifikasiini),yangpalingsedikitmencakup:

a. informasiumumyangterdiridari:

1. kepengurusan;

2. kepemilikan;

3. perkembangan usaha BPRS dan perkembangan kelompok

usahaBPRS,jikaada;

4. strategidankebijakanmanajemen;dan

5. laporanmanajemen.

b.LaporanKeuanganTahunanyangterdiridari:

1) Neraca;

2) LaporanLabaRugi;

3) LaporanArusKas;

4) LaporanPerubahanEkuitas;

5) Catatan atas laporan keuangan, termasuk informasi tentang

KomitmendanKontinjensi;

6) LaporanPerubahanDanaInvestasiTerikat,jikaada;

7) Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, Infaq dan

Shadaqah;dan

8) LaporanSumberdanPenggunaaanDanaQardh.

(2) LaporanTahunansebagaimanadimaksudpadaayat(1)hurufbbagi

BPRS yang mempunyai total aset diatas Rp10.000.000.000,00

(sepuluhmilyarrupiah)wajibdiauditolehAkuntanPublik.

(3) LaporanTahunansebagaimanadimaksudpadaayat(1)wajibdibuat

untuk 1 (satu) Tahun Buku dan disajikan paling sedikit dengan

perbandingan1(satu)tahunbukusebelumnya.

SE7/52/DPbS
A. LaporanTahunanmencakup:
2005
a. Infomasiumum
RomawiII.1
Informasiumumpalingsedikitmencakup:

1) kepengurusan, meliputi susunan Komisaris, Direksi dan

Dewan Pengawas Syariah beserta jabatan dan ringkasan

riwayathidupnya;

2) rincian kepemilikan saham, berupa nama pemilik dan

besarankepemilikan;

3) perkembangan usaha BPRS, dalam hal terdapat kelompok

usaha BPRS maka termasuk perkembangannya yang

memuatdatamengenai:

a) Ikhtisardatakeuanganpentingpalingsedikitmencakup

pendapatan penyaluran dana, laba rugi bersih, laba

operasi, laba sebelum pajak, aktiva produktif, sumber

danadankomposisinya,pembiayaandankomposisinya,

modalsendiri,jumlahlembarsahamyangditempatkan

dandisetor;dan

b) Rasio keuangan yang wajib disajikan paling sedikit

mencakup Kewajiban Penyediaan Modal Minimum

(KPMM), Non Performing Financing (NPF), Return On

Equity(ROE),danReturnOnAsset(ROA).

98

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

SE7/52/DPbS
2005
RomawiII.2

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
4) strategi dan kebijakan manajemen yang digunakan dalam
pengelolaan dan pengembangan usaha BPRS, termasuk
informasi mengenai manajemen risiko yang paling sedikit
mencakup identifikasi risiko (risk identification) dan
pengendalianrisiko(riskcontrolling);
5) yang menyajikan informasi mengenai pengelolaan BPRS
oleh pengurus atau manajemen dalam rangka good
corporategovernance,danpalingsedikitmencakup:
a) strukturorganisasi;
b) aktivitasutama;
c) teknologiinformasi,jikaada;
d) jenis produk dan jasa yang ditawarkan, termasuk
penyaluranKreditUsahaKecil(KUK);
e) realisasibagihasil/imbalan;
f) perkembangandantargetpasar;
g) jaringankerjadanmitrausaha;
h) jumlah,jenisdanlokasikantor;
i) kepemilikan Direksi, Komisaris dan pemegang saham
dalamkelompokusahaBPRS,danperubahandaritahun
sebelumnya,jikaada;
j) perubahanperubahan penting yang terjadi di BPRS
dan kelompok usaha BPRS dalam tahun yang
bersangkutan,jikaada;
k) sumber daya manusia, meliputi jumlah, kegiatan
pendidikan,pelatihandanpengembanganSDM;dan
l) Pengungkapan kebijakan yang mencakup fees and
salaries/gaji bagi Komisaris, Direksi dan Dewan
Pengawas Syariah (DPS) di BPRS termasuk bonus,
tantiemdanataufasilitaslainnya.
LaporanKeuanganTahunan
LaporanKeuanganTahunanmeliputi:
1) Neraca;
2) LaporanLabaRugi;
3) LaporanArusKas;
4) LaporanPerubahanEkuitas;
5) Catatan atas laporan keuangan, termasuk informasi
tentangKomitmendanKontinjensi;
6) LaporanPerubahanDanaInvestasiTerikat,jikaada;
7) Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, Infaq dan
Shadaqah;dan
8) LaporanSumberdanPenggunaaanDanaQardh.

b.

B. AspekTransparansisesuaiPSAKuntukperbankansyariah,PAPSIdan
ketentuanBankIndonesia.

Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam angka 1, wajib


memenuhi seluruh aspek pengungkapan (disclosure) sebagaimana
ditetapkan dalam PSAK untuk perbankan syariah, PAPSI dan
ketentuan
BankIndonesia.

99

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

84

Pasal4
7/47/PBI/2005

85

Pasal5
7/47/PBI/2005

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
Pengungkapantersebutpalingsedikitterdiridari:
a) Laporan Keuangan yang meliputi Neraca, Laporan Laba Rugi,
Laporan Arus Kas, Laporan Perubahan Ekuitas, Catatan atas
laporan keuangan, termasuk informasi tentang Komitmen dan
Kontijensi,LaporanPerubahanDanaInvestasiTerikat,jikaada,
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, Infak dan
Shadaqah (ZIS) , serta Laporan Sumber dan Penggunaan Dana
Qardh;
b) Jumlah aktiva produktif yang diberikan kepada pihak yang
mempunyaihubunganistimewa;
c) Jumlah aktiva produktif yang telah direstrukturisasi dan
informasi lain tentang aktiva produktif yang direstrukturisasi
selamaperiodeberjalan;
d) Klasifikasi aktiva produktif menurut jangka waktu, kualitas
aktivaProduktif;
e) Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) yang telah
dibentukdibandingkandenganPenyisihanPenghapusanAktiva
Produktif(PPAP)yangwajibdibentuk;
f) PerhitunganKewajibanPenyediaanModalMinimum(KPMM);
g) BeberaparasiokeuanganBPRS;
h) Karakteristik kegiatan usaha BPRS dan jasa utama yang
disediakan;
i) Tugas dan wewenang Dewan Pengawas Syariah dalam
melakukan pengawasan Syariah atas operasional BPRS
berdasarkanfatwadanketentuanlainnya;dan
j) InformasiLainyangmencakup:
a. Transaksitransaksi penting lainnya dalam jumlah yang
signifikan;
b. InformasikejadianpentingsetelahtanggallaporanAkuntan
Publik(subsequentevent),khususbagiBPRSyangmemenuhi
persyaratanuntukdiauditolehAkuntanPublik.

(1) Bagi BPRS yang mempunyai total aset sampai dengan


Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) Laporan Keuangan
Tahunan yang disampaikan adalah laporan keuangan yang
dipertanggungjawabkanDireksiatauPenguruskepadaRapatUmum
PemegangSaham(RUPS)atauRapatAnggota.

Yang dimaksud dengan Pengurus adalah Pengurus bagi BPRS


yangberbadanhukumKoperasi.

(2) DalamhallaporankeuanganBPRSsebagaimanadimaksudpadaayat
(1) diaudit oleh Akuntan Publik, maka laporan yang disampaikan
adalahlaporanyangdiaudit.

(1) LaporanTahunansebagaimanadimaksuddalamPasal3ayat(2)dan
Pasal4ayat(2)(Paragraf83ayat(2)danParagraf84ayat(2)dalam
kodifikasi ini), wajib disampaikan kepada Bank Indonesia paling
lambatakhirbulanApriltahunberikutnya.

100

LikuiditasRupiah

Paragraf

86

87

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
(2) Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1)

(Paragraf84ayat(1)dalamkodifikasiini)wajibdisampaikankepada

BankIndonesiapalinglambatakhirbulanFebruaritahunberikutnya.

AlamatPenyampaianLaporan
SE7/52/DPbS
Laporan Keuangan Tahunan, serta guntingan surat kabar yang berisikan
2005
Laporan Keuangan Publikasi atau fotokopi Laporan Keuangan Publikasi
RomawiV
yang ditempelkan pada papan pengumuman serta disket yang berisi
LaporanKeuanganPublikasidisampaikankepadaBankIndonesiadengan
alamat:

a. DirektoratPerbankanSyariah,Jl.M.H.ThamrinNo.2Jakarta10110,
bagiBPRSyangberkantorpusatdiwilayahkerjakantorpusatBank
Indonesia;atau

b. KantorBankIndonesiasetempat,bagiBPRSyangberkantorpusatdi
luarwilayahkerjakantorpusatBankIndonesia.

(1) BPRS dianggap terlambat menyampaikan Laporan Tahunan apabila


Pasal6
BPRS menyampaikan Laporan Tahunan kepada Bank Indonesia
7/47/PBI/2005
melampaui batas akhir waktu penyampaian laporan sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 5 (Paragraf 85 dalam kodifikasi ini) tetapi


belum melampaui 1 (satu) bulan sejak batas akhir penyampaian
laporan.
(2) BPRS dianggap tidak menyampaikan Laporan Tahunan apabila BPRS
belum menyampaikan Laporan Tahunan dalam batas waktu
keterlambatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau Laporan
Keuangan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2)
dan Pasal 4 ayat (2) (Paragraf 83 ayat (2) dan Paragraf 84 ayat (2)
dalamkodifikasiini)tidakdiauditolehAkuntanPublikyangterdaftar
diBankIndonesia.

BABIII
LaporanKeuanganPublikasiTriwulan
Pasal7
7/47/PBI/2005
Ayat(1)

(1) BPRS wajib mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi secara


triwulanan untuk posisi pelaporan akhir bulan Maret, Juni,
September dan Desember sesuai dengan bentuk dan tatacara yang
ditetapkanolehBankIndonesia.
(2) Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
untuk posisi pelaporan akhir bulan Maret dan September paling
sedikitterdiridari:
a. LaporanKeuanganyangterdiridari:
1) Neraca;
2) LaporanLabaRugi;
3) KomitmendanKontinjensi.
b. KualitasAktivaProduktifdanInformasilainnyayangterdiridari:
1. AktivaProduktifkepadapihakterkait;
2. KolektibilitasAktivaProduktif;
3. Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang wajib
dibentuk;

101

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

SE7/52/DPbS
2005
RomawiIII.1

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
4. PenyisihanPenghapusanAktivaProduktifyangtelahdibentuk;
dan
5. Komposisi pemegang saham, susunan pengurus dan Dewan
PengawasSyariah.
c. TabelDistribusiBagiHasil.

Yang dimaksud dengan Tabel Distribusi Bagi Hasil adalah tabel


yangmenyajikaninformasitentangjumlahdanapenyimpandan
jumlahinvestorberdasarkanprodukbesertajumlahbagihasil
danbonusyangdibagikandengandilengkapiinformasi
indicativerateofreturn.

(3) Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


untukposisipelaporanakhirbulanJunidanDesember,selainpaling
sedikit disajikan sama dengan posisi akhir bulan Maret dan
September sebagaimana dimaksud pada ayat (1), juga wajib
menyajikaninformasiyangterdiridari:
a. LaporanSumberdanPenggunaanDanaZISdanLaporanSumber
danPenggunaanDanaQardh;dan

Yangdimaksuddengan:
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana ZIS adalah laporan
yangmenunjukkansumberdanpenggunaandanaZISselama
suatu jangka waktu tertentu, serta saldo ZIS pada tanggal
tertentu.
LaporanSumberdanPenggunaanDanaQardhadalahlaporan
yang menunjukkan sumber dan penggunaan dana Qardh
selamasuatujangkawaktutertentu,sertasaldoQardhpada
tanggaltertentu.

b. LaporanPerubahanDanaInvestasiTerikat,jikaada.

Yang dimaksud dengan Laporan Perubahan Dana Investasi


Terikat (Mudharabah muqayyadah) adalah laporan yang
menunjukkan penyaluran dana Mudharabah muqayyadah yang
dilakukanbanksyariah,dimanabanksyariahtidakmenanggung
risikoatasdanayangdisalurkantersebut(channelingagent).

(4) Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


wajib disajikan dalam bentuk perbandingan dengan laporan pada
periodeyangsamatahunsebelumnya.

LaporanKeuanganPublikasiTriwulanan
1. Umum
a. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan diumumkan untuk
laporan keuangan keuangan posisi akhir bulan Maret, Juni,
SeptemberdanDesember.
b. Format Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan merupakan
standarminimalyangwajibdipenuhi.Apabilaterdapatposyang
jumlahnya material dan tidak terdapat dalam format tersebut,

102

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

SE7/52/DPbS
2005
RomawiIII.2

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
BPRS dapat menyajikan pos tersebut secara tersendiri, namun
apabila pos dimaksud jumlahnya tidak material dapat
digabungkandenganposlainyangsejenis.
c. Pospos yang memiliki saldo nihil dalam format Laporan
KeuanganPublikasiTriwulanantetapharusdicantumkandengan
memberigarispendek()padaposyangbersangkutan.
d. Untuk pengisian pemilik BPRS dalam format Laporan Keuangan
PublikasiTriwulananposisiakhirbulanJunidanDesember,nama
pemegang saham yang wajib dicantumkan adalah perorangan
atau perusahaan yang memiliki saham sebesar 10 % (sepuluh
perseratus)ataulebihdarimodalBPRS.
e. PenyajianLaporanKeuanganPublikasiTriwulanan:
1) Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan merupakan laporan
gabungan antara kantor pusat BPRS dengan seluruh kantor
BPRSyangbersangkutan.
2) Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan disajikan paling
sedikit dalam bentuk perbandingan dengan laporan pada
periodeyangsamatahunsebelumnya.
3) Posisi pembanding hendaknya disajikan sesuai format yang
sama dengan posisi Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan
yangdiumumkan.
4) Khusus untuk perlakuan akuntansi yang baru berlaku dalam
posisiLaporan,makapenyajianposisipembandinghendaknya
mengacu kepada PSAK Nomor 25 tentang Laba atau Rugi
Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan
PerubahanKebijakanAkuntansi.
5) Angkaangkadalamlaporandisajikandalammatauangrupiah
dandalamribuanrupiah.

2. AspekTransparansisesuaiPSAKuntukperbankansyariah,PAPSIdan
ketentuanBankIndonesia.
Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan wajib memenuhi seluruh
aspek pengungkapan (disclosure) sebagaimana ditetapkan dalam
PSAKuntukperbankansyariah,PAPSIdanketentuanBankIndonesia.
Pengungkapantersebutpalingsedikitterdiridari:
a. Laporan Keuangan yang meliputi Neraca , Laporan Laba Rugi
sertaKomitmendanKontinjensi;
b. KualitasAktivaProduktifdaninformasilainnyayangterdiridari:
1) Aktivaproduktifkepadapihakterkait.
2) Kolektibilitasaktivaproduktif.
3) Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang wajib
dibentuk.
4) PenyisihanPenghapusanAktivaProduktifyangtelahdibentuk.
5) Komposisi pemegang saham, susunan pengurus dan Dewan
PengawasSyariah.
c. TabelDistribusiBagiHasil;
d. Khususlaporankeuanganpublikasitriwulananposisiakhirbulan
Juni dan Desember, Laporan Keuangan yang disajikan selain
palingsedikitsamadengansebagaimanadimaksuddalamhurufa
sampai dengan c, juga wajib menyajikan Laporan Sumber dan

103

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

88

Pasal8
7/47/PBI/2005

89

Pasal9
7/47/PBI/2005

90

Pasal10
7/47/PBI/2005

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
Penggunaan Dana Zakat Infak dan Shadaqah (ZIS), Laporan
Sumber dan Penggunaan Dana Qardh, serta Laporan Perubahan
DanaInvestasiTerikat,jikaada.

(1) Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 7 ayat (1) (Paragraf 87 ayat (1) dalam kodifikasi ini)
dapatdilakukanpadasuratkabarlokalatauditempelkanpadapapan
pengumumandikantorBPRSyangbersangkutan.

Yang dimaksud dengan surat kabar lokal adalah surat kabar yang
mempunyaiperedarandiwilayahBPRStersebutberada.
Papan pengumuman diletakkan pada tempat yang mudah terlihat
dandapatterbaca.

(2) Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud


padaayat(1)dilakukanselambatlambatnya:
a. 1 (satu) bulan setelah berakhirnya bulan laporan untuk laporan
keuanganposisiakhirbulanMaretdanJuni;
b. 2 (dua) bulan setelah berakhirnya tahun laporan untuk laporan
keuangan posisi akhir bulan Desember yang tidak diaudit oleh
AkuntanPublik;
c. 4(empat)bulansetelahberakhirnyatahunlaporanuntuklaporan
keuanganposisiakhirbulanDesemberyangdiauditolehAkuntan
Publik.
(3) Dalamhalpengumumandilakukandengancaramenempelkanpada
papan pengumuman, pengumuman dimaksud dilakukan sampai
denganpengumumanLaporanKeuanganPublikasiberikutnya.

(1) Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7


(Paragraf 87 dalam kodifikasi ini) wajib ditandatangani oleh Direksi
BPRSdenganmencantumkannamanyasecarajelas.
(2) Dalam hal Direksi berhalangan, Laporan Keuangan Publikasi
ditandatangani oleh pejabat yang diberi wewenang oleh Direksi
denganmencantumkannamanyasecarajelas.
(3) Bagi BPRS yang laporan keuangannya diaudit oleh Akuntan Publik,
untuk Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan Desember,
selainwajibmemenuhiketentuansebagaimanadimaksudpadaayat
(1) juga wajib mencantumkan nama Akuntan Publik yang
bertanggung jawab dalam audit dan nama Kantor Akuntan Publik
yangmengauditLaporanKeuanganTahunan.

BPRSwajibmenyampaikankepadaBankIndonesia:
a. guntingan surat kabar yang berisikan Laporan Keuangan Publikasi
atau fotokopi Laporan Keuangan Publikasi yang ditempelkan pada
papan pengumuman, selambatlambatnya 2 (dua) minggu sejak
tanggalpengumuman;
b. disketyangberisiLaporanKeuanganPublikasi.

104

LikuiditasRupiah

Paragraf

91

92

SumberRegulasi
SE7/52/DPbS
2005
RomawiV

Pasal11
7/47/PBI/2005

BABIV
Pasal12
7/47/PBI/2005

TransparansidanPublikasiLaporanBank
Ketentuan

AlamatPenyampaianLaporan
Laporan Keuangan Tahunan, serta guntingan surat kabar yang berisikan
Laporan Keuangan Publikasi atau fotokopi Laporan Keuangan Publikasi
yang ditempelkan pada papan pengumuman serta disket yang berisi
LaporanKeuanganPublikasidisampaikankepadaBankIndonesiadengan
alamat:

a. DirektoratPerbankanSyariah,Jl.M.H.ThamrinNo.2Jakarta10110,
bagiBPRSyangberkantorpusatdiwilayahkerjakantorpusatBank
Indonesia;atau

b. KantorBankIndonesiasetempat,bagiBPRSyangberkantorpusatdi
luarwilayahkerjakantorpusatBankIndonesia.

(1) BPRS dianggap terlambat mengumumkan atau menyampaikan


Laporan Keuangan Publikasi kepada Bank Indonesia, apabila BPRS
mengumumkan atau menyampaikan Laporan Keuangan Publikasi
melampaui batas akhir waktu pengumuman atau penyampaian
laporansebagaimanadimaksuddalamPasal8ayat(2)danPasal10
(Paragraf 88 ayat (2) dan Paragraf 90 dalam kodifikasi ini), tetapi
tidak melampaui 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu
pengumuman.
(2) BPRS dianggap tidak mengumumkan atau menyampaikan Laporan
Keuangan Publikasi, apabila BPRS belum mengumumkan atau
menyampaikan Laporan Keuangan Publikasi dalam batas waktu
keterlambatansebagaimanadimaksudpadaayat(1).

Hubungan antara BPRS, Akuntan Publik, Dewan Pengawas


SyariahdanBankIndonesia
(1) BPRS dalam memberikan penugasan audit wajib menunjuk Kantor
Akuntan Publik dan Akuntan Publik yang telah terdaftar di Bank
Indonesia.
(2) AkuntanPubliksebagaimanadimaksudpadaayat(1)wajibmemiliki
pengetahuandanataupengalamandibidangperbankansyariah.

Memiliki pengetahuan perbankan syariah dibuktikan dengan telah


mengikuti pendidikan/pelatihan tentang perbankan syariah antara
lain tentang sistem operasional perbankan syariah, produk dan
akuntansisyariah.

(3) Penugasan atau Penunjukan Akuntan Publik dan atau Kantor


Akuntan Publik yang sama oleh BPRS paling lama dilakukan untuk
periodeaudit5(lima)tahunbukuberturutturut.

Pengaturaninidimaksudkanagarterdapatpenilaiandaripihakyang
berbeda dalam rangka meningkatkan independensi profesi Akuntan
Publik. Perhitungan jangka waktu 5 (lima) dimulai sejak berlakunya
PeraturanBankIndonesiaini

105

LikuiditasRupiah

Paragraf
93

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi
Ketentuan
Pasal13
(1) PenunjukanAkuntanPublikdanKantorAkuntanPublikdalamrangka
7/47/PBI/2005
audit Laporan Keuangan Tahunan BPRS wajib didasarkan pada

perjanjiankerja.
(2) Perjanjian kerja antara BPRS dan Kantor Akuntan Publik
sebagaimanadimaksudpadaayat(1)palingsedikitmencakup:
a. namaKantorAkuntanPublik;
b. AkuntanPublikyangbertanggungjawabterhadapaudit(partner
incharge);
c. kewajiban Akuntan Publik untuk melaksanakan audit sesuai
StandarProfesionalAkuntanPublik;
d. ruanglingkupaudit;
e. jangkawaktupenyelesaianaudit;
f. pernyataan dari BPRS mengenai izin kepada Kantor Akuntan
Publik dan kewajiban Kantor Akuntan Publik untuk
menyampaikanpulasecaralangsungkepadaBankIndonesia:
1. laporanhasilaudit;
2. SuratKomentar(ManagementLetter);
3. informasi lainnya yang dibutuhkan oleh Bank Indonesia dari
AkuntanPublikyangdilakukansetiapsaatapabiladiperlukan;
4. informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf b
(Paragraf95hurufbdalamkodifikasiini);
g. kewajiban Akuntan Publik untuk memberitahukan kepada Bank
Indonesiasebelumpelaksanaanaudit.
(3) Laporan hasil audit dan Surat Komentar (Management Letter)
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f angka 1 dan angka 2
wajib disampaikan kepada Bank Indonesia paling lambat 4 (empat)
bulansetelahtahunbuku.
(4) Ruang lingkup audit sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d,
palingsedikitmencakup:
a. penggolongan kualitas aktiva produktif dan kecukupan
penyisihanpenghapusanaktivaproduktifyangdibentukBPRS;
b. penilaian terhadap ruparupa aktiva termasuk namun tidak
terbataspadaagunanyangdiambilalihBPRS;
c. halhal lain yang diatur dalam standar akuntansi keuangan yang
berlaku dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia,
termasukcatatanatasLaporanKeuangan;
d. pendapatterhadapkewajaranatastransaksidenganpihakpihak
yang mempunyai hubungan istimewa maupun transaksi yang
dilakukandenganperlakuankhusus;

Pihakpihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah pihak


pihak sebagaimana dimaksud dalam Pernyataan Standar
AkuntansiKeuangan.

e. jumlahdankualitaspenyediaandanakepadapihakterkait;
f. rincian pelanggaran batas maksimum pemberian kredit yang
meliputi nama nasabah, kualitas penyediaan dana, persentase
danjumlahpelanggaranbatasmaksimumpemberiankredit;
g. perhitungankewajibanpenyediaanmodalminimum;

106

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
h. keandalan sistem pelaporan BPRS kepada Bank Indonesia dan
pengujian terhadap keandalan laporanlaporan yang
disampaikanolehBPRSkepadaBankIndonesia.

Pengujian terhadap keandalan laporan termasuk penilaian


Akuntan Publik mengenai laporan yang disampaikan ke Bank
Indonesia telah disusun dan sesuai dengan data yang ada di
BPRS.
Laporan sebagaimana dimaksud dalam huruf ini termasuk
namun tidak terbatas pada Laporan Bulanan BPRS, Laporan
BatasMaksimumPemberianKredit.

94

Pasal14
7/47/PBI/2005

95

Pasal15
7/47/PBI/2005

(1) Bank Indonesia dapat menyatakan keberatan atas penunjukan


AkuntanPubliktertentuolehBPRS.

Yang dimaksud dengan keberatan pada ayat ini, apabila selama


penugasanauditBankIndonesiamemilikiinformasitentangAkuntan
Publik yang bersangkutan yang bisa berpengaruh tidak baik
terhadapkelancarandanpelaksanaantugasnya,sepertitrackrecord
yangtidakbaik.

(2)BankIndonesiamemilikiaksesinformasilangsungterhadapAkuntan
Publik dalam hal Bank Indonesia menganggap hal tersebut adalah
dalam rangka melindungi integritas keuangan BPRS dan atau dalam
keadaanlainyangdianggapperludalamrangkapengawasan.

Akuntan Publik yang melakukan audit terhadap Laporan Keuangan


TahunanBPRSwajib:
a. melakukan audit sesuai dengan standar profesional akuntan publik,
sertaperjanjiankerjadanruanglingkupauditsebagaimanadimaksud
dalamPasal13(Paragraf93dalamkodifikasiini);dan
b. memberitahukan ke Bank Indonesia selambatlambatnya 7 (tujuh)
harikerjasejakditemukannya:
1. pelanggaran peraturan perundangundangan yang berlaku di
bidangkeuangandanperbankan;dan
2. keadaaan dan perkiraan keadaan yang dapat membahayakan
kelangsunganusahaBPRS.

Yang dimaksud dengan keadaan dan atau perkiraan yang dapat


membayakankelangsunganusahaBPRS,antaralain:
a. Kekurangankewajibanpenyediaanmodalminimum;
b. Kekurangan pembentukan penyisihan penghapusan aktiva
produktifyangmaterial;
c. Pelanggaranbatasmaksimumpemberiankredit;
d. Kecurangan(fraud)yangbernilaimaterial.

c. menyampaikan laporan hasil audit dan Management Letter kepada


BankIndonesia.
d. memenuhi ketentuan rahasia Bank sebagaimana diatur dalam
Undangundang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan

107

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

e.

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
sebagaimanatelahdiubahdenganUndangundangNomor10Tahun
1998.
memperoleh pendapat dari Dewan Pengawas Syariah mengenai
ketaatan BPRS terhadap pelaksanaan prinsip syariah, sebelum
menerbitkanLaporanAuditatasLaporanKeuanganBPRS.

Dalam mengeluarkan pendapat mengenai ketaatan BPRS terhadap


prinsip syariah, Dewan Pengawas Syariah harus mengacu kepada
ketentuan Bank Indonesia tentang tugas dan peran Dewan
Pengawas Syariah. Pendapat dari Dewan Pengawas Syariah ini
merupakanbuktiauditdantidakmempengaruhipendapatAkuntan
Publikdalammemberikanpendapat.

BABV

LaporanKeuanganKonsolidasian

96

Pasal16
7/47/PBI/2005

97

Pasal17
7/47/PBI/2005

(1) BPRS yang merupakan bagian dari suatu kelompok usaha dan atau
BPRS yang memiliki perusahaan anak, wajib menyusun laporan
keuangan konsolidasi berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan.

Yangdimaksuddenganperusahaananakadalahbadanhukumyang
dimiliki atau dikendalikan oleh BPRS, baik langsung maupun tidak
langsung.

(2) Penyertaan BPRS yang mengakibatkan timbulnya pengendalian


namun hanya bersifat sementara dapat dikecualikan dari
penyusunan laporan keuangan konsolidasi sebagaimana dimaksud
padaayat(1).

Yangdimaksuddenganbersifatsementaraantaralainpengendalian
yang akan dilepaskan dalam jangka waktu selambatlambatnya 12
bulan sejak akhir posisi laporan keuangan pada tahun perolehan
pengendalian atau penyertaan modal sementara dalam rangka
restrukturisasi.

Laporan Keuangan konsolidasi wajib disusun secara konsolidasi untuk


Laporan Keuangan Tahunan maupun Laporan Keuangan Publikasi
Triwulanan

98

99

BABVI

TanggungJawabLaporanKeuangan

Pasal18
7/47/PBI/2005

BABVII

LaporanKeuanganTahunandanLaporanKeuanganPublikasiTriwulanan
sepenuhnyamenjaditanggungjawabDireksiBPRS.

Pasal19
7/47/PBI/2005

BPRS wajib melakukan pencatatan atas kegiatan usahanya berdasarkan


Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan dan Pedoman Akuntansi
PerbankanSyariahIndonesiayangberlakubagiPerbankanSyariah.

PedomanAkuntansiPerbankanSyariah

108

LikuiditasRupiah

Paragraf

100

SumberRegulasi
BABVIII
Sanksi

LaporanTahunan
Pasal20
7/47/PBI/2005

TransparansidanPublikasiLaporanBank
Ketentuan

(1) BPRSyangterlambatmenyampaikanLaporanTahunansebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) (Paragraf 86 ayat (1) dalam
kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar
Rp100.000,00(seratusriburupiah)perharikerjaketerlambatan.
(2) BPRS yang tidak menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) (Paragraf 86 ayat (2) dalam
kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar
Rp5.000.000,00(limajutarupiah).

101

Pasal21
7/47/PBI/2005

(1) Apabila isi Laporan Tahunan secara material tidak sesuai dengan
keadaansebenarnyadanatautidakdisajikansesuaiketentuandalam
PeraturanBankIndonesiainidanatauPernyataanStandarAkuntansi
Keuanganyangberlaku,maka:
a. setelah diberi peringatan 2 (dua) kali surat teguran oleh Bank
Indonesia dengan tenggang waktu 2 (dua) minggu untuk setiap
teguran, BPRS tidak memperbaiki laporan dimaksud, dikenakan
sanksi berupa kewajiban membayar sebesar Rp10.000.000,00
(sepuluhjutarupiah);dan
b. dapat dikenakan sanksi administratif sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 52 Undangundang Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undangundang
Nomor10Tahun1998,antaralainberupa:
1. penurunannilaikreditdalamperhitungantingkatkesehatan;
2. pencantuman anggota pengurus, pegawai BPRS, pemegang
saham dalam daftar orangorang yang dilarang menjadi
pengurusdanpemilikBPRS;
3. pemberhentian pengurus BPRS dan selanjutnya Bank
Indonesiamenunjukdanmengangkatpenggantisementara.

Dalam hal materi kesalahan yang sama telah dikenakan sanksi


dalam Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan maka BPRS tidak
dikenakansanksidalamayatini.

(2) Apabila berdasarkan penilaian Bank Indonesia, Laporan Tahunan


BPRS secara material tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya dan
atau tidak disajikan sesuai ketentuan dalam Peraturan Bank
IndonesiainidanatauPernyataanStandarAkuntansiKeuanganyang
berlaku, selain dikenai sanksi administratif sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), terhadap Dewan Komisaris, Direksi, pegawai BPRS
maupun pihak terafiliasi lainnya dapat dikenakan sanksi pidana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (1) dan Pasal 50
UndangundangNomor10Tahun1998.

102

LaporanKeuanganPublikasi

Pasal22
7/47/PBI/2005

(1) BPRSyangterlambatmengumumkanatauterlambatmenyampaikan
Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11
ayat(1)(Paragraf91ayat(1)dalamkodifikasiini),dikenakansanksi
kewajibanmembayarsebesarRp100.000,00(seratusriburupiah)per
harikerjaketerlambatan.

109

LikuiditasRupiah

Paragraf

103

TransparansidanPublikasiLaporanBank

SumberRegulasi

Ketentuan
(2) BPRS yang tidak mengumumkan atau tidak menyampaikan Laporan
Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1)
(Paragraf 91 ayat (1) dalam kodifikasi ini), dikenakan sanksi
kewajiban membayar setinggitingginya sebesar Rp5.000.000,00
(limajutarupiah).
(3) Apabila menurut penilaian Bank Indonesia Laporan Keuangan
Publikasi secara material tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya
dan atau Penyataan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku,
maka:
a. setelah diberi peringatan 2 (dua) kali surat teguran oleh Bank
Indonesia dengan tenggang waktu 2 (dua) minggu untuk setiap
teguran, BPRS tidak memperbaiki dan atau mengumumkan
kembali laporan dimaksud, dikenakan sanksi kewajiban
membayarsebesarRp5.000.000,00(limajutarupiah);dan
b. dapat dikenakan sanksi administratif sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 52 Undang undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undangundang
Nomor10Tahun1998,antaralainberupa:
1. tegurantertulis;
2. penurunannilaikreditdalamperhitungantingkatkesehatan.
(4)ApabilaberdasarkanpenilaianBankIndonesia,LaporanTahunanBPRS
secara material tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya dan atau
tidakdisajikansesuaiketentuandalamPeraturanBankIndonesiaini
dan atau Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku,
selaindikenaisanksiadministratifsebagaimanadimaksudpadaayat
(3),terhadapDewanKomisaris,Direksi,pegawaiBPRSmaupunpihak
terafiliasi lainnya dapat dikenakan sanksi pidana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 49 ayat (1) dan Pasal 50 Undangundang
Nomor10Tahun1998.

AkuntanPublikdanKantorAkuntanPublik

Pasal23
7/47/PBI/2005

(1) Akuntan Publik atau Kantor Akuntan Publik yang secara material
melanggar ketententuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15
(Paragraf 95 dalam kodifikasi ini) dikenakan sanksi administratif
sebagaimana tercantum dalam Pasal 53 Undangundang Nomor 7
tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana diubah dengan
UndangundangNomor10Tahun1998,berupa:
a. penghapusan nama Akuntan Publik dari daftar Akuntan Publik di
BankIndonesia;
b. penghapusan Kantor Akuntan Publik dari daftar Kantor Akuntan
Publik di BI, apabila pelanggaran dilakukan oleh 2 (dua) orang
AkuntanPublikyangbertanggungjawab(partnerincharge)dalam
auditBPRSdariKantorAkuntanPublikyangsama;
c. penyampaian usulan kepada instansi yang berwenang untuk
mencabutataumembatalkanizinusahasebagaipemberijasabagi
Banksesuaidenganketentuanataukodeetikyangberlaku.
(2) Akuntan Publik yang tidak memenuhi ketentuan rahasia bank
sebagaimanadimaksuddalamPasal15hurufd(Paragraf95hurufd
dalam kodifikasi ini), selain dikenakan sanksi administratif
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), juga dapat dikenakan sanksi

110

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (2) Undang
undangNomor7Tahun1992tentangPerbankansebagaimanatelah
diubahdenganUndangundangNomor10Tahun1998.

BABIX

LainLain

104

Pasal24
7/47/PBI/2005

105

Pasal25
7/47/PBI/2005

SE7/52/DPbS
2005
RomawiIV

BPRSyangtelahdikenakansanksisebagaimanadimaksuddalamPasal20,
Pasal21ayat,danPasal22(Paragraf100,Paragraf101danParagraf102
dalam kodifikasi ini) tetap diwajibkan untuk menyampaikan Laporan
dimaksud.

(1) Pembebanan sanksi kewajiban membayar sebagaimana dimaksud


dalamdalamPasal20,Pasal21ayat(1),danPasal22(Paragraf100,
Paragraf 101 ayat (1), dan Paragraf 102 dalam kodifikasi ini),
dilakukandengancaratransferkerekeningBankIndonesia.
(2) TatacaratransferkerekeningBankIndonesiasebagaimanadimaksud
padaayat(1)diaturlebihlanjutdalamSuratEdaranBankIndonesia.

TataCaraPembayaranSanksiKewajibanMembayar
1. Pembayaran sanksi kewajiban membayar ke Bank Indonesia
dilakukan dengan cara transfer ke rekening Bank Indonesia.
Transferdimaksuddapatdilakukandengan2carayaitu:
a. Kliring
Transferditujukankerekeningnomor566.000.446Rekening
penerimaan sanksi administratif BPRS, dan pada kolom
keterangan dicantumkan pembayaran sanksi kewajiban
membayar.
b. BIRTGS
Transferditujukankerekeningnomor566.000446Rekening
penerimaansanksiadministratifBPRSdenganmencantumkan
Transaction Reference Number (TRN) BIRBK566 dan pada
keterangan dicantumkan pembayaran sanksi kewajiban
membayar.
2. Fotokopi bukti pembayaran sanksi kewajiban membayar
sebagaimanadimaksuddalamangka1disampaikankepadaBank
Indonesiadenganalamat:

a. Direktorat Perbankan Syariah, Jl.M.H.Thamrin Nomor 2


Jakarta 10010, Telp. 3818778, 3818513, atau melalui Fax
Nomor 3501990, bagi BPRS Pelapor yang berkedudukan di
wilayah DKI Jakarta Raya, Banten, Bogor, Depok, Karawang,
danBekasi.

b. Kantor Bank Indonesia setempat bagi BPRS Pelapor yang


berkedudukan diluar wilayah sebagaimana dimaksud dalam
hurufa.

106

BABXI

Keadaan Memaksa(ForceMajeure)

Pasal26
7/47/PBI/2005

(1) BPRS yang mengalami keadaan memaksa (force majeure) selama


lebih dari satu bulan dalam periode di bulan yang terakhir
seharusnya mengumumkan dan atau menyampaikan laporan,

111

LikuiditasRupiah

Paragraf

SumberRegulasi

TransparansidanPublikasiLaporanBank

Ketentuan
dikecualikan dari kewajiban menyampaikan Laporan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1), Pasal 5 ayat (2), Pasal 8 ayat (2),
danPasal10(Paragraf85ayat(1),Paragraf85ayat(2),Paragraf88
ayat(2),danParagraf90dalamkodifikasiini).

Yang dimaksud dengan keadaan memaksa (force majeure) adalah


keadaan yang secara nyatanyata menyebabkan BPRS tidak dapat
mengumumkan dan/atau menyampaikan laporan, antara lain
kebakaran,kerusuhanmassa,perang,sabotase,sertabencanaalam
sepertigempabumidanbanjir,yangdibenarkanolehpenguasaatau
pejabatdariinstansiterkaitdidaerahsetempat.

(2) BPRS yang mengalami keadaan memaksa (force majeure), wajib


menyampaikan permohonan untuk memperoleh pengecualian
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) secara tertulis kepada Bank
Indonesia, dengan disertai penjelasan mengenai keadaan memaksa
yangdialami.
(3) BPRS yang memperoleh pengecualian sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) wajib mengumumkan dan atau menyampaikan Laporan
sebagaimanadimaksuddalamPasal5ayat(1),Pasal5ayat(2),Pasal
8 ayat (2) dan Pasal 10 (Paragraf 85 ayat (1), Paragraf 85 ayat (2),
Paragraf 88 ayat (2) dan Paragraf 90 dalam kodifikasi ini), setelah
BPRSkembalimelakukankegiatanoperasionalsecaranormal.

112

Lampiran 1
LAMPIRAN
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 15/26/DPbS TANGGAL 10 JULI 2013
PERIHAL
PELAKSANAAN PEDOMAN AKUNTANSI
PERBANKAN SYARIAH INDONESIA

PEDOMAN AKUNTANSI PERBANKAN SYARIAH INDONESIA


TAHUN 2013

113

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN I

PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG


01. Tujuan Laporan Keuangan entitas perbankan syariah (untuk
selanjutnya

disebut

Bank)

adalah

untuk

menyediakan

informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja keuangan,


dan arus kas dari aktivitas Bank yang bermanfaat dalam
pengambilan putusan. Selain itu, Laporan Keuangan merupakan
hasil pertanggungjawaban manajemen atas amanah sumber
daya yang dipercayakan.
02. Suatu Laporan Keuangan bermanfaat apabila informasi yang
disajikan dalam Laporan Keuangan tersebut dapat dipahami,
relevan, andal, dan dapat diperbandingkan. Akan tetapi, perlu
disadari pula bahwa Laporan Keuangan tidak menyediakan
semua informasi yang mungkin dibutuhkan oleh pihak-pihak
yang

berkepentingan

dengan

Bank

karena

secara

umum

Laporan Keuangan hanya menggambarkan pengaruh keuangan


dari kejadian masa lalu. Namun dalam beberapa hal, Bank perlu
menyediakan informasi yang mempunyai pengaruh keuangan
masa depan.
03. Bank memiliki fungsi sebagai:
a.

Manajer investasi.
Bank dapat mengelola investasi atas dana nasabah dengan
menggunakan akad mudharabah dan wadiah.

b.

Agen investasi.
Bank dapat mengelola investasi atas dana nasabah dengan
menggunakan akad wakalah.

c.

Investor.
Bank dapat menginvestasikan dana yang dimilikinya dan
dana

nasabah

yang

dipercayakan

kepadanya

dengan

menggunakan instrumen investasi yang sesuai dengan


prinsip Syariah. Keuntungan yang diperoleh dibagihasilkan
sesuai nisbah yang disepakati antara Bank dan nasabah.

1.1

114

Lanjutan Lampiran 1

d.

Penyedia jasa keuangan.


Bank

dapat

melakukan

kegiatan

jasa-jasa

layanan

Perbankan Syariah dengan mengacu kepada UndangUndang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
e.

Pengemban fungsi sosial.


Berdasarkan
tentang

Undang-Undang

Perbankan

Syariah

Nomor
Pasal

21

Tahun

Ayat

2008

dan

3,

menjelaskan:
i.

Bank dapat menjalankan fungsi sosial dalam bentuk


lembaga baitul maal, yaitu menerima dana yang
berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana
sosial lainnya dan menyalurkannya kepada organisasi
pengelola zakat; dan

ii.

Bank dapat menghimpun dana sosial yang berasal dari


wakaf uang dan menyalurkannya kepada pengelola
wakaf (nazhir) sesuai dengan kehendak pemberi wakaf
(wakif).

04. Bank

sebagai

investor

pada

dasarnya

melakukan

fungsi

intermediari penyaluran dana dalam bentuk pembiayaan yang


meliputi, antara lain transaksi investasi untuk mendapatkan
bagi

hasil,

transaksi

atas

dasar

jual

beli

aset

untuk

mendapatkan keuntungan, dan atau pemberian layanan jasa


untuk mendapatkan imbalan.

1.2

115

Lanjutan Lampiran 1

I.2 ASAS DAN KARAKTERISTIK TRANSAKSI SYARIAH


A.

Asas Transaksi Syariah


01. Transaksi

Syariah

berasaskan

keadilan

(ukhuwah),

pada

(adalah),

prinsip

persaudaraan

kemaslahatan

(maslahah),

keseimbangan (tawazun), dan universalisme (syumuliyah).


02. Prinsip persaudaraan (ukhuwah) esensinya merupakan nilai
universal

yang

menata

interaksi

sosial

dan

harmonisasi

kepentingan para pihak untuk kemanfaatan secara umum


dengan

semangat

menjunjung

tinggi

saling
nilai

menolong.
kebersamaan

Transaksi
dalam

Syariah

memperoleh

manfaat (sharing economics) sehingga seseorang tidak boleh


mendapat keuntungan di atas kerugian orang lain. Ukhuwah
dalam transaksi Syariah berdasarkan prinsip saling mengenal
(taaruf), saling memahami (tafahum), saling menolong (taawun),
saling menjamin (takaful), saling bersinergi dan beraliansi
(tahaluf).
03. Prinsip keadilan (adalah) esensinya menempatkan sesuatu
hanya pada tempatnya dan memberikan sesuatu hanya pada
yang berhak serta memperlakukan sesuatu sesuai posisinya.
Implementasi keadilan dalam kegiatan usaha berupa aturan
prinsip muamalah yang melarang adanya unsur:
a.

Unsur bunga dalam segala bentuk dan jenisnya, baik riba


nasiah maupun riba fadhl (riba). Esensi riba adalah setiap
tambahan pada jumlah piutang yang dipersyaratkan dalam
transaksi pinjam-meminjam uang serta derivasinya dan
transaksi tidak tunai lainnya, seperti murabahah tangguh;
dan setiap tambahan yang dipersyaratkan dalam transaksi
pertukaran antar barang ribawi termasuk pertukaran uang
(money exchange) yang sejenis secara tunai maupun
tangguh dan yang tidak sejenis secara tidak tunai.

b.

Unsur yang merugikan diri sendiri, orang lain, maupun


lingkungan

(zalim).

Esensi

zalim

(dzulm)

adalah

menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, memberikan


sesuatu tidak sesuai ukuran, kualitas dan temponya,
mengambil

sesuatu

yang

bukan

haknya

dan
1.3

116

Lanjutan Lampiran 1

memperlakukan sesuatu tidak sesuai posisinya. Kezaliman


dapat menimbulkan kemudharatan bagi masyarakat secara
keseluruhan,

bukan

hanya

sebagian;

atau

membawa

kemudharatan bagi salah satu pihak atau pihak-pihak yang


melakukan transaksi.
c.

Unsur judi dan sikap spekulatif (maysir). Esensi maysir


adalah setiap transaksi yang bersifat spekulatif dan tidak
berkaitan dengan produktivitas serta bersifat perjudian
(gambling).

d.

Unsur ketidakjelasan (gharar). Esensi gharar adalah setiap


transaksi yang berpotensi merugikan salah satu pihak
karena mengandung unsur ketidakjelasan, manipulasi dan
eksploitasi

informasi

serta

tidak

adanya

kepastian

pelaksanaan akad. Bentuk-bentuk gharar antara lain:


i.

tidak adanya kepastian penjual untuk menyerahkan


obyek akad pada waktu terjadi akad, baik obyek akad
itu sudah ada maupun belum ada;

ii.

menjual

sesuatu

yang

belum

berada

di

bawah

penguasaan penjual;
iii.

tidak adanya kepastian kriteria kualitas dan kuantitas


barang/jasa;

iv.

tidak adanya kepastian jumlah harga yang harus


dibayar dan alat pembayaran;

v.

tidak adanya ketegasan jenis dan obyek akad;

vi.

kondisi obyek akad tidak dapat dijamin kesesuaiannya


dengan yang ditentukan dalam transaksi;

vii. adanya unsur eksploitasi salah satu pihak karena


informasi

yang

ketidaktahuan

kurang

atau

dimanipulasi

atau

ketidakpahaman

dan
yang

ditransaksikan.
e.

Unsur haram baik dalam barang maupun jasa serta


aktivitas operasional yang terkait (haram). Esensi haram
adalah segala unsur yang dilarang secara tegas dalam Al
Quran dan As Sunah.

04. Prinsip kemaslahatan (mashlahah) esensinya merupakan segala


bentuk kebaikan dan manfaat yang berdimensi duniawi dan
1.4

117

Lanjutan Lampiran 1

ukhrawi, material dan spiritual, serta individual dan kolektif.


Kemaslahatan yang diakui harus memenuhi dua unsur yakni
kepatuhan Syariah (halal) serta bermanfaat dan membawa
kebaikan (thayib) dalam semua aspek secara keseluruhan yang
tidak menimbulkan kemudharatan. Transaksi Syariah yang
dianggap bermaslahat harus memenuhi secara keseluruhan
unsur-unsur yang menjadi tujuan ketetapan Syariah (maqasid
syariah) yaitu berupa pemeliharaan terhadap:
a.

akidah, keimanan dan ketakwaan (dien);

b.

akal (aql);

c.

keturunan (nasl);

d.

jiwa dan keselamatan (nafs); dan

e.

harta benda (mal).

05. Prinsip

keseimbangan

(tawazun)

esensinya

meliputi

keseimbangan aspek material dan spiritual, aspek privat dan


publik, sektor keuangan dan sektor riil, bisnis dan sosial, dan
keseimbangan aspek pemanfaatan dan pelestarian. Transaksi
Syariah

tidak

hanya

menekankan

pada

maksimalisasi

keuntungan perusahaan semata untuk kepentingan pemilik


(shareholder). Sehingga manfaat yang didapatkan tidak hanya
difokuskan pada pemegang saham, akan tetapi pada semua
pihak yang dapat merasakan manfaat adanya suatu kegiatan
ekonomi.
06. Prinsip universalisme (syumuliyah) esensinya dapat dilakukan
oleh, dengan, dan untuk semua pihak yang berkepentingan
(stakeholder)
golongan,

tanpa

sesuai

membedakan
dengan

suku,

semangat

agama,

kerahmatan

ras

dan

semesta

(rahmatan lil alamin).


07. Transaksi

Syariah

terikat

dengan

nilai-nilai

etis

meliputi

aktivitas sektor keuangan dan sektor riil yang dilakukan secara


koheren tanpa dikotomi sehingga keberadaan dan nilai uang
merupakan cerminan aktivitas investasi dan perdagangan.

1.5

118

Lanjutan Lampiran 1

B.

Karakteristik Transaksi Syariah


01. Implementasi transaksi yang sesuai dengan paradigma dan asas
transaksi

Syariah

harus

memenuhi

karakteristik

dan

persyaratan sebagai berikut:


a.

Transaksi hanya dilakukan berdasarkan prinsip saling


paham dan saling ridha;

b.

Prinsip kebebasan bertransaksi diakui sepanjang objeknya


halal dan baik (thayib);

c.

Uang hanya berfungsi sebagai alat tukar dan satuan


pengukur nilai, bukan sebagai komoditas;

d.

Tidak mengandung unsur riba;

e.

Tidak mengandung unsur kezaliman;

f.

Tidak mengandung unsur maysir;

g.

Tidak mengandung unsur gharar;

h.

Tidak mengandung unsur haram;

i.

Tidak menganut prinsip nilai waktu dari uang (time value of


money) karena keuntungan yang didapat dalam kegiatan
usaha terkait dengan risiko yang melekat pada kegiatan
usaha tersebut sesuai dengan prinsip al-ghunmu bil ghurmi
(no gain without accompanying risk);

j.

Transaksi dilakukan berdasarkan suatu perjanjian yang


jelas dan benar serta untuk keuntungan semua pihak tanpa
merugikan

pihak

lain

sehingga

tidak

diperkenankan

menggunakan standar ganda harga untuk satu akad serta


tidak

menggunakan

dua

transaksi

bersamaan

yang

berkaitan (taalluq) dalam satu akad;


k.

Tidak ada distorsi harga melalui rekayasa permintaan


(najasy), maupun melalui rekayasa penawaran (ihtikar); dan

l.

Tidak mengandung unsur kolusi dengan suap menyuap


(risywah).

02. Transaksi Syariah dapat berupa aktivitas bisnis yang bersifat


komersial maupun aktivitas sosial yang bersifat nonkomersial.
Transaksi Syariah komersial dilakukan, antara lain, berupa
investasi untuk mendapatkan bagi hasil, jual beli barang untuk
mendapatkan laba, dan atau pemberian layanan jasa untuk
mendapatkan imbalan.
1.6

119

Lanjutan Lampiran 1

03. Transaksi Syariah nonkomersial dilakukan, antara lain, berupa


pemberian

dana

pinjaman

atau

talangan

(qardh)

serta

penghimpunan dan penyaluran dana sosial, seperti zakat, infak,


sedekah, wakaf dan hibah.

I.3 TUJUAN DAN RUANG LlNGKUP


A.

Tujuan
01. Tujuan dari penyusunan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah
Indonesia (untuk selanjutnya disebut Pedoman) antara lain:
a. Membantu Bank menyusun Laporan Keuangan supaya
sesuai dengan tujuan Laporan Keuangan.
b. Menciptakan keseragaman penerapan perlakuan akuntansi
dan penyajian Laporan Keuangan sehingga meningkatkan
daya banding antara Laporan Keuangan Bank.
c. Menjadi acuan minimum yang harus dipenuhi oleh Bank
dalam menyusun Laporan Keuangan. Namun, keseragaman
penyajian sebagaimana diatur dalam Pedoman ini tidak
menghalangi

masing-masing

Bank

untuk

memberikan

informasi yang relevan bagi pengguna laporan sesuai kondisi


masing-masing Bank.

1.7

120

Lanjutan Lampiran 1

B.

Ruang Lingkup
01. Pedoman ini berlaku untuk Bank yang menjalankan fungsi
sebagai:
a. Bank Umum Syariah; dan
b. Bank umum konvensional yang melakukan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip Syariah (Unit Usaha Syariah).

I.4 ACUAN PENYUSUNAN


01. Acuan

yang

digunakan

dalam

menyusun

Pedoman

ini

didasarkan pada referensi yang relevan. Adapun referensi yang


digunakan adalah:
a.

Kerangka

Dasar

Penyusunan

dan

Penyajian

Laporan

Keuangan Syariah dan Pernyataan Standar Akuntansi


Keuangan Syariah;
b.

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan dan Interpretasi


Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan sepanjang tidak
bertentangan dengan prinsip Syariah;

c.

Ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia;

d.

Fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia;

e.

Financial Accounting Standard (Accounting and Auditing


Organization for Islamic Financial Institutions/AAOIFI);

f.

International Financial Reporting Standards (International


Accounting

Standards

Board/IASB)

sepanjang

tidak

bertentangan dengan prinsip Syariah;


g.

Peraturan

perundang-undangan

yang

relevan

dengan

Laporan Keuangan; dan


h.

Praktik-praktik akuntansi yang berlaku umum, sepanjang


tidak bertentangan dengan prinsip Syariah.

02. Berdasarkan referensi di atas diadopsi ketentuan yang relevan


dan sesuai dengan kondisi lingkungan usaha berdasarkan
prinsip Syariah di Indonesia yang kemudian dikodifikasi dalam
Pedoman ini. Selanjutnya sebagai dasar pengaturan penyusunan
Laporan Keuangan Bank digunakan ketentuan-ketentuan yang
diatur dalam Pedoman ini.
1.8

121

Lanjutan Lampiran 1

I.5 KETENTUAN LAIN


01. Ilustrasi jurnal yang digunakan dalam Pedoman ini hanya
merupakan ilustrasi dan tidak bersifat mengikat. Bank dapat
mengembangkan metode pencatatan dan pengakuan sesuai
sistem masing-masing sepanjang memberikan hasil yang tidak
berbeda. Ilustrasi jurnal yang dicantumkan dalam Pedoman ini
menggambarkan pencatatan akuntansi secara manual.
02. Transaksi yang dicantumkan pada Pedoman ini diprioritaskan
pada transaksi yang umum terjadi pada setiap Bank.
03. Pedoman ini secara periodik akan dievaluasi dan disesuaikan
dengan perkembangan bisnis dan produk perbankan syariah,
ketentuan

SAK,

ketentuan

Bank

Syariah

Indonesia,

dan

ketentuan lainnya yang terkait dengan industri perbankan


syariah.

1.9

122

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN II

LAPORAN KEUANGAN BANK SYARIAH

II.1 KETENTUAN UMUM LAPORAN KEUANGAN


A.

Tujuan Laporan Keuangan


01.

Memberikan

informasi

mengenai

posisi

keuangan,

kinerja

keuangan, dan perubahan posisi keuangan yang bermanfaat


bagi pengguna Laporan Keuangan dalam membuat keputusan
ekonomi;
02.

Sarana

pertanggungjawaban

manajemen

atas

penggunaan

sumber daya yang dipercayakan kepada manajemen;


03.

Meningkatkan kepatuhan terhadap pemenuhan prinsip Syariah


dalam semua transaksi dan kegiatan usaha;

04.

Memberikan informasi kepatuhan terhadap pemenuhan prinsip


Syariah, serta informasi aset, liabilitas, pendapatan dan beban
yang tidak sesuai dengan prinsip Syariah, bila ada, dan
bagaimana perolehan dan penggunaannya;

05.

Memberikan informasi mengenai pemenuhan tanggung jawab


manajemen terhadap amanah dalam mengamankan dana,
menginvestasikannya pada tingkat keuntungan yang layak;

06.

Memberikan

informasi

tingkat

keuntungan

investasi

yang

diperoleh penanam modal dan pemilik dana syirkah temporer;


dan
07.

Memberikan informasi pemenuhan kewajiban fungsi sosial,


termasuk penerimaan

dan penyaluran dana zakat, dan juga

pengelolaan dana infak, sedekah, dan wakaf.


B.

Tanggung Jawab Atas Laporan Keuangan


Manajemen Bank bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian
Laporan Keuangan.

C.

Komponen Laporan Keuangan


01.

Laporan Posisi Keuangan;

02.

Laporan Laba Rugi Komprehensif;

03.

Laporan Perubahan Ekuitas;

04.

Laporan Arus Kas;


2.1

123

Lanjutan Lampiran 1

D.

05.

Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil;

06.

Laporan Sumber dan Penyaluran Dana Zakat;

07.

Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan; dan

08.

Catatan Atas Laporan Keuangan.

Bahasa Laporan Keuangan


01. Laporan Keuangan harus disusun dalam bahasa Indonesia. Jika
Laporan Keuangan juga disusun dalam bahasa lain selain dari
bahasa Indonesia, maka Laporan Keuangan dalam bahasa lain
tersebut harus memuat informasi yang sama dan waktu yang
sama (tanggal posisi dan cakupan periode).
02. Selanjutnya, Laporan Keuangan dalam bahasa lain tersebut
harus diterbitkan dalam waktu yang sama seperti Laporan
Keuangan

dalam

inkonsistensi

bahasa

dalam

Indonesia.

penyajian

Dalam

laporan,

hal
maka

terjadi
yang

dipergunakan sebagai rujukan adalah dalam bahasa Indonesia.


E.

Mata Uang Fungsional Dan Pelaporan


01. Mata uang fungsional dan mata uang pelaporan adalah Rupiah.
Apabila transaksi Bank menggunakan mata uang selain Rupiah,
maka harus dijabarkan dalam mata uang Rupiah dengan
menggunakan

kurs

laporan

yang

ditetapkan

oleh

Bank

Indonesia.
02. Keuntungan atau kerugian dalam periode berjalan yang terkait
dengan transaksi dalam mata uang asing dinilai dengan
menggunakan

kurs

laporan

yang

ditetapkan

oleh

Bank

Indonesia.
F.

Kebijakan Akuntansi
01. Kebijakan Akuntansi harus mencerminkan prinsip kehati-hatian
dan mencakup semua informasi yang material dan sesuai
dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku.
02. Apabila PSAK Syariah belum mengatur masalah pengakuan,
pengukuran, penyajian atau pengungkapan dari suatu transaksi
atau peristiwa, maka harus ditetapkan kebijakan agar Laporan
Keuangan

yang

disajikan

memuat

informasi

yang

dapat
2.2

124

Lanjutan Lampiran 1

diandalkan dan relevan dengan kebutuhan para pengguna


Laporan Keuangan untuk pengambilan keputusan.
03. Dalam menetapkan kebijakan akuntansi, manajemen harus
memperhatikan sumber dengan urutan sebagai berikut:
a.

Definisi, kriteria pengakuan, dan konsep pengukuran untuk


aset,

liabilitas,

penghasilan,

dan

dana

syirkah

beban

temporer,

dalam

ekuitas,

Kerangka

Dasar

Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah.


b.

Persyaratan dan panduan dalam SAK umum yang sesuai


dengan SAK Syariah, yang berhubungan dengan masalah
serupa dan terkait.

c.

Standar akuntansi terkini yang dikeluarkan oleh badan


penyusun standar akuntansi lain yang menggunakan
kerangka dasar yang sama untuk mengembangkan standar
akuntansi, literatur akuntansi lain, dan praktik akuntansi
industri

yang

berlaku,

sepanjang

tidak

bertentangan

dengan prinsip Syariah.


G.

Penyajian
01. Laporan Keuangan harus menyajikan secara wajar posisi
keuangan, kinerja keuangan, dan perubahan posisi keuangan
disertai

pengungkapan

yang

diharuskan

sesuai

dengan

ketentuan yang berlaku.


02. Aset disajikan berdasarkan karakteristiknya menurut urutan
likuiditas, liabilitas disajikan menurut urutan jatuh temponya,
dan dana syirkah temporer disajikan dalam unsur tersendiri.
03. Saldo transaksi sehubungan dengan kegiatan operasi normal
Bank disajikan dan diungkapkan secara terpisah antara pihakpihak berelasi dan pihak-pihak tidak berelasi. Dalam hal ini
yang dimaksud dengan pihak yang

berelasi adalah termasuk

pihak-pihak terkait sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia.


04. Disamping hal-hal di atas, penyajian Laporan Keuangan bagi
Bank

wajib

mengikuti

ketentuan

yang

dikeluarkan

Bank

Indonesia, sedangkan bagi Bank yang telah go public wajib pula


mengikuti ketentuan yang dikeluarkan oleh otoritas pasar
modal.
2.3

125

Lanjutan Lampiran 1

H.

Konsistensi Penyajian
01. Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam Laporan Keuangan
antar periode harus konsisten, kecuali:
a.

setelah terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat


operasi perbankan Syariah atau kaji-ulang atas Laporan
Keuangan, terlihat secara jelas bahwa penyajian atau
klasifikasi lain akan lebih tepat untuk digunakan, dengan
mempertimbangkan

kriteria

dalam

penentuan

dan

penerapan kebijakan akuntansi; atau


b.

perubahan tersebut diperkenankan oleh suatu Pernyataan


Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).

02. Apabila penyajian atau klasifikasi pos-pos dalam Laporan


Keuangan diubah, maka penyajian periode sebelumnya perlu
direklasifikasi untuk memastikan daya banding, sifat, jumlah
dan alasan reklasifikasi tersebut juga harus diungkapkan.
Dalam hal reklasifikasi dianggap tidak praktis maka cukup
diungkapkan alasannya.
I.

Materialitas dan Agregasi


01. Penyajian

Laporan

Keuangan

didasarkan

pada

konsep

materialitas.
02. Pos-pos yang jumlahnya material disajikan tersendiri dalam
Laporan Keuangan, sedangkan yang jumlahnya tidak material
dapat digabungkan sepanjang memiliki sifat atau fungsi yang
sejenis.
03. Informasi

dianggap

material

apabila

kelalaian

untuk

mencantumkan (ommission) atau kesalahan dalam mencatat


(misstatement)

informasi

tersebut

dapat

mempengaruhi

pengguna laporan dalam pengambilan keputusan ekonomi.


J.

Saling Hapus
Pos-pos aset, liabilitas, dan dana syirkah temporer serta pendapatan
dan beban tidak boleh disaling-hapuskan, kecuali disyaratkan atau
diizinkan oleh suatu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK).
2.4

126

Lanjutan Lampiran 1

K.

Periode Pelaporan
01. Laporan Keuangan wajib disajikan secara tahunan berdasarkan
tahun takwim.
02. Dalam hal Bank baru berdiri, Laporan Keuangan dapat disajikan
untuk periode yang lebih pendek dari satu tahun takwim. Selain
itu, untuk kepentingan pihak lainnya, Bank dapat membuat dua
laporan yaitu dalam tahun takwim dan periode efektif dengan
mencantumkan:
a.

Alasan penggunaan periode pelaporan selain periode satu


tahunan;

b.

Fakta bahwa jumlah yang tercantum dalam Laporan Posisi


Keuangan, Laporan Laba Rugi Komprehensif, Laporan
Perubahan

Ekuitas,

Laporan

Arus

Kas,

Laporan

Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil, Laporan Sumber


dan

Penyaluran

Dana

Zakat,

Laporan

Sumber

dan

Penggunaan Dana Kebajikan, dan Catatan Atas Laporan


Keuangan tidak dapat dibandingkan.
L.

Informasi Komparatif
01. Laporan Posisi Keuangan tahunan dan interim harus disajikan
secara komparatif dengan periode akhir pada tahun sebelumnya.
Sedangkan untuk Laporan Laba Rugi Komprehensif interim
harus mencakup periode sejak awal tahun buku sampai dengan
akhir periode interim yang dilaporkan.
02. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari
Laporan Keuangan periode sebelumnya wajib diungkapkan
kembali apabila relevan untuk pemahaman Laporan Keuangan
periode berjalan.
03. Tambahan Laporan Posisi Keuangan harus disajikan untuk
posisi awal periode sajian, jika:
a.

Menerapkan kebijakan akuntansi secara retrospektif;

b.

Membuat penyajian kembali secara retrospektif akibat


koreksi kesalahan; atau

c.

Membuat reklasifikasi pos-pos dalam Laporan Keuangan.

2.5

127

Lanjutan Lampiran 1

M.

Laporan Keuangan Interim


01. Laporan Keuangan interim adalah Laporan Keuangan yang
diterbitkan di antara dua laporan tahunan dan harus dipandang
sebagai

bagian

integral

dari

laporan

periode

tahunan.

Penyusunan Laporan Keuangan interim dapat dilakukan secara


bulanan, triwulan atau periode yang lain yang kurang dari satu
tahun.
02. Laporan Keuangan interim memuat komponen yang sama
seperti Laporan Keuangan tahunan.
03. Ilustrasi periode komparatif Laporan Keuangan interim:
Periode interim

Periode komparatif

30 Jun 2013

31 Des 2012

Untuk periode 6 bulan

1 Jan s.d. 30 Jun

1 Jan s.d. 30 Jun

Untuk periode 3 bulan

2013

2012

1 Apr s.d 30 Jun

1 Apr s.d 30 Jun

2013

2012

1 Jan s.d. 30 Jun

1 Jan s.d. 30 Jun

2013

2012

1 Jan s.d. 30 Jun

1 Jan s.d. 30 Jun

2013

2012

Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi

1 Jan s.d. 30 Jun

1 Jan s.d. 30 Jun

Hasil

2013

2012

Laporan Sumber dan Penyaluran Dana

1 Jan s.d. 30 Jun

1 Jan s.d. 30 Jun

Zakat

2013

2012

Laporan Sumber dan Penggunaan Dana

1 Jan s.d. 30 Jun

1 Jan s.d. 30 Jun

Kebajikan

2013

2012

Laporan Posisi Keuangan


Laporan Laba Rugi Komprehensif

Laporan Perubahan Ekuitas


Laporan Arus Kas

N.

Laporan Keuangan Konsolidasian


01. Laporan Keuangan Konsolidasian adalah Laporan Keuangan
suatu kelompok usaha yang disajikan sebagai suatu entitas
ekonomi tunggal.
02. Agar

Laporan

Keuangan

Konsolidasian

dapat

menyajikan

informasi keuangan dari kelompok usaha tersebut sebagai satu


kesatuan ekonomi, maka perlu dilakukan hal-hal berikut ini:
a.

Transaksi dan saldo resiprokal antara Bank (entitas induk)


dan entitas anak harus dieliminasi.

b.

Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi, yang


timbul dari transaksi antara Bank dan entitas anak harus
dieliminasi.
2.6

128

Lanjutan Lampiran 1

c.

Laporan Keuangan Bank dan entitas anak harus disusun


dengan tanggal

yang sama. Jika tanggal menyusun

Laporan Keuangan tersebut berbeda, maka:


i.

Entitas anak menyusun Laporan Keuangan tambahan


untuk tujuan konsolidasi dengan tanggal yang sama
dengan entitas induk.

ii.

Jika tidak praktis, Laporan Keuangan entitas anak


disusun dengan tanggal berbeda dengan entitas induk
sepanjang perbedaan tanggal tersebut tidak melebihi
tiga bulan, lamanya periode pelaporan dan perbedaan
antar akhir periode pelaporan adalah sama dari
periode

ke

periode,

dan

dilakukan

atas

dampak

signifikan

yang

terjadi

Keuangan

entitas

anak

dilakukan
transaksi

penyesuaian

atau

peristiwa

antara

tanggal

Laporan

dengan

tanggal

Laporan

disusun

dengan

Keuangan Bank.
d.

Laporan

Keuangan

Konsolidasian

menggunakan kebijakan

akuntansi yang sama untuk

transaksi, peristiwa dan keadaan yang sama atau sejenis.


e.

Kepentingan non-pengendali disajikan dalam ekuitas secara


terpisah dari kepentingan Bank sebagai entitas induk.

2.7

129

Lanjutan Lampiran 1

II.2 KETERBATASAN LAPORAN KEUANGAN


Laporan Keuangan memiliki keterbatasan, antara lain:
01.

Bersifat historis yang menunjukkan transaksi dan peristiwa


yang telah lampau.

02. Bersifat umum, baik dari sisi informasi maupun manfaat bagi
pihak pengguna. Biasanya informasi khusus yang dibutuhkan
oleh pihak tertentu tidak dapat secara langsung dipenuhi
semata-mata dari Laporan Keuangan saja.
03. Tidak luput dari penggunaan berbagai pertimbangan dan
taksiran.
04. Hanya melaporkan informasi yang material.
05. Bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian. Apabila
terdapat beberapa kemungkinan yang tidak pasti mengenai
penilaian suatu pos, maka dipilih alternatif yang menghasilkan
laba bersih atau nilai aset yang paling kecil.
06. Lebih

menekankan

pada

penyajian

suatu

peristiwa

atau

transaksi sesuai substansi dan realitas ekonomi daripada


bentuk hukumnya (formalitas).
07. Adanya

berbagai

alternatif

metode

akuntansi

yang

dapat

digunakan sehingga, menimbulkan variasi dalam pengukuran


sumber daya ekonomi dan tingkat kesuksesan antar bank.

2.8

130

Lanjutan Lampiran 1

II.3 METODE PENCATATAN TRANSAKSI MATA UANG ASING


01. Transaksi dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam Rupiah
dengan menggunakan kurs laporan (penutupan) yang ditetapkan
oleh Bank Indonesia, yaitu kurs tengah yang merupakan ratarata kurs beli dan kurs jual berdasarkan Reuters pada pukul
16.00 WIB setiap hari.
02. Dalam melakukan pencatatan transaksi mata uang asing
terdapat dua metode yangdapat digunakan yaitu:
a.

Single currency (satu jenis mata uang).

b.

Multi currency (lebih dari satu jenis mata uang).

03. Single currency adalah pencatatan transaksi mata uang asing


dengan membukukan langsung ke dalam mata uang dasar (base
currency) yang digunakan yaitu mata uang Rupiah/Indonesian
Rupiah (IDR).
Karakteristik dari single currency adalah sebagai berikut:
a.

Laporan Posisi Keuangan yang diterbitkan hanya dalam


mata uang Rupiah;

b.

Saldo

pos

dalam

mata

uang

asing

dicatat

secara

extracomptable;
c.

Penjurnalan tidak menggunakan pos-pos perantara mata


uang asing;

d.

Penjabaran (revaluasi) saldo pos mata uang asing dilakukan


langsung per pos yang bersangkutan.

04. Multi currency adalah pencatatan transaksi mata uang asing


dengan membukukan langsung ke dalam mata uang asing asal
(original currency) yang digunakan pada transaksi tersebut.
Karakteristik dari multi currency adalah sebagai berikut:
a.

Laporan Posisi Keuangan dapat diterbitkan dalam setiap


mata uang asing asal (original currency) yang digunakan;

b.

Untuk mengetahui posisi keuangan gabungan seluruh mata


uang, diterbitkan Laporan Posisi Keuangan dalam mata
uang dasar (base currency);

c.

Penjurnalan menggunakan pos perantara; dan

d.

Penjabaran (revaluasi) saldo pos mata uang asing dilakukan


melalui

pos

perantara

mata

uang

asing.

Penjabaran

ekuivalen Rupiah dari pos-pos tersebut hanya dilakukan


2.9

131

Lanjutan Lampiran 1

dalam rangka pelaporan Laporan Posisi Keuangan.


05. Pencatatan beban dan pendapatan mata uang asing dilakukan
sebagai berikut:
a.

Jika menggunakan single currency


Seluruh beban dan pendapatan mata uang asing dicatat
dalam Rupiah.

b.

Jika menggunakan multi currency


i.

Seluruh beban dan pendapatan mata uang asing


dicatat dalam mata uang asal.

ii.

Agar saldo beban dan pendapatan mata uang asing


tidak menimbulkan selisih kurs maka pada setiap
akhir hari, saldo pos beban dan pendapatan mata uang
asing tersebut dipindahbukukan ke pos beban dan
pendapatan Rupiah.

06. Contoh transaksi valuta asing yang pencatatannya dilakukan


dengan dua sistem, yaitu single currency dan multi currency.
a.

Bank melakukan beberapa transaksi valuta asing sebagai


berikut:
i.

Pembelian

bank

notes

USD

sebesar

USD200,

pembayaran dilakukan secara tunai/kas.


ii.

Nasabah

setor

Rupiah/tunai

untuk

keuntungan

rekening giro USD sebesar USD200.


iii.

Pembelian

bank

notes

SGD

sebesar

SGD1.000,

pembayaran dilakukan atas keuntungan rekening giro


Rupiah nasabah.
iv.

Pembelian

bank

notes

HKD

sebesar

HKD1.000,

pembayaran dilakukan atas keuntungan rekening giro


Rupiah nasabah.
v.

Penjualan bank notes USD sebesar USD100, disetor


atas beban rekening tabungan nasabah.

b.

Catatan kurs yang terjadi adalah sebagai berikut:

Mata uang asing

Kurs beli Bank

Kurs jual Bank

Kurs tengah BI

USD1

Rp8.000

Rp8.500

Rp8.300

SGD1

Rp4.900

Rp5.100

Rp5.000

HKD1

Rp1.080

Rp1.090

Rp1.085

2.10

132

Lanjutan Lampiran 1

c.

Catatan kurs untuk penilaian/revaluasi valuta asing sesuai


dengan kurs yang ditetapkan oleh Bank Indonesia adalah:

Mata uang asing

Kurs revaluasi

USD1

Rp8.400

SGD1

Rp5.100

HKD1

Rp1.084

07. Kurs pembukuan

menggunakan kurs tengah yang ditetapkan

Bank Indonesia
a.
i.

Menggunakan sistem single currency


Db

Bank notes (USD200 x Rp8.300)

Kr

Kas Rupiah (USD200 x Rp8.000)

Rp1.600.000

Kr

Pendapatan

Rp60.000

selisih

Rp1.660.000

kurs

transaksi

ii.

Db

Kas Rupiah (USD200 x 8.500)

Kr

Giro USD (USD200 x 8.300)

Kr

Pendapatan

selisih

Rp1.700.000
Rp1.660.000

kurs

Rp40.000

transaksi

iii.

Db

Bank notes SGD (SGD1.000 x

Rp5.000.000

5.000)
Kr

Giro Rupiah (SGD1.000 x 4.900)

Rp4.900.000

Kr

Pendapatan

Rp100.000

selisih

kurs

transaksi

iv.

Db

Bank notes HKD (HKD1.000 x

Rp1.085.000

1.085)
Kr

Giro Rupiah (HKD1.000 x 1.080)

Rp1.080.000

Kr

Pendapatan

Rp5.000

selisih

kurs

transaksi

v.

Db

Tabungan (USD100 x 8.500)

Kr

Bank

notes

USD

Rp850.000

(USD100

Rp830.000

8.300)
Kr

Pendapatan

selisih

kurs

Rp20.000

transaksi

2.11

133

Lanjutan Lampiran 1

b.
i.

Menggunakan system multi currency


Db

Bank notes

USD200

Kr

Rekening Perantara USD

Db

Rekening Perantara Rupiah

Kr

Kas Rupiah

Kr

Pendapatan

USD200
Rp1.660.000
Rp1.600.000

selisih

kurs

Rp60.000

transaksi
ii.

Db

Kas Rupiah

Rp1.700.000

Kr

Rekening Perantara Rupiah

Kr

Pendapatan

selisih

Rp1.660.000
kurs

Rp40.000

transaksi

iii.

Db

Rekening Perantara USD

Kr

Giro USD

Db

Bank notes SGD

Kr

Rekening Perantara SGD

Db

Rekening Perantara Rupiah

Kr

Giro Rupiah

Kr

Pendapatan

USD.200
USD.200
SGD.1.000
SGD.1.000
Rp5.000.000
Rp4.900.000

selisih

kurs

Rp100.000

transaksi
iv.

Db

Bank notes HKD

HKD1.000

Kr

Rekening Perantara HKD

Db

Rekening Perantara Rupiah

Kr

Giro Rupiah

Kr

Pendapatan

HKD1.000
Rp1.085.000
Rp1.080.000

selisih

kurs

Rp5.000

transaksi
v.

Db

Tabungan

Rp850.000

Kr

Rekening Perantara Rupiah

Kr

Pendapatan

selisih

Rp830.000
kurs

Rp20.000

transaksi
Db

Rekening Perantara USD

Kr

Bank notes USD

USD100
USD100

2.12

134

Lanjutan Lampiran 1

08. Kurs pembukuan menggunakan kurs transaksi Bank


a.
i.

ii.

iii.

Menggunakan sistem single currency


Db

Bank notes (USD200 x 8.000)

Rp1.600.000

Kr

Kas Rupiah

Db

Kas Rupiah

Kr

Giro USD (USD200 x 8.500)

Db

Bank notes SGD (SGD1.000 x Rp4.900.000

Rp1.600.000
Rp1.700.000
Rp1.700.000

4.900)

iv.

Kr

Giro Rupiah

Rp4.900.000

Db

Bank notes HKD (HKD1000 x Rp1.080.000


1.080)

v.

Kr

Giro Rupiah

Db

Tabungan

Kr

Bank notes USD (USD1.000 x

Rp1.080.000
Rp850.000
Rp850.000

8.500)

b.
i.

ii.

iii.

iv.

Menggunakan sistem multi currency


Db

Bank notes USD

Kr

Rekening Perantara USD

Db

Rekening Perantara Rupiah

Kr

Kas Rupiah

Db

Kas Rupiah

Kr

Rekening Perantara Rupiah

Db

Rekening Perantara USD

Kr

Giro USD

Db

Bank notes SGD

Kr

Rekening Perantara SGD

Db

Rekening Perantara Rupiah

Kr

Giro Rupiah

Db

Bank notes HKD

Kr

Rekening Perantara HKD

Db

Rekening Perantara Rupiah

Kr

Giro Rupiah

USD200
USD200
Rp1.600.000
Rp1.600.000
Rp1.700.000
Rp1.700.000
USD200
USD200
SGD1.000
SGD1.000
Rp4.900.000
Rp4.900.000
HKD1.000
HKD1.000
Rp.1.080.000
Rp.1.080.000

2.13

135

Lanjutan Lampiran 1

v.

Db

Tabungan

Rp850.000

Kr

Rekening Perantara Rupiah

Db

Rekening Perantara USD

Kr

Bank notes USD

Rp850.000
USD100
USD100

09. Jurnal pembukuan penilaian/revaluasi valuta asing


a.

Kurs

pembukuan

menggunakan

kurs

tengah

yang

ditetapkan Bank Indonesia


i.

Menggunakan sistem single currency


1)

Posisi saldo rekening valuta asing adalah sebagai


berikut:
Bank notes USD sebesar USD100

= Rp

Bank

notes

830.000

SGD

sebesar

= Rp 5.000.000

HKD

sebesar

= Rp 1.085.000

SGD1.000
Bank

notes

HKD1.000
Giro USD sebesar USD.200

2)

= Rp 1.660.000

Jurnal pembukuan penilaian:


a)
Db

Bank notes USD100


Bank notes

USD

(USD100 x

Rp

840.000

8.400)
Kr

Bank notes USD

Rp

830.000

Kr

Keuntungan selisih kurs

Rp

10.000

b)
Db

Bank notes SGD1.000


Bank notes SGD (SGD1.000 x

Rp 5.100.000

5.100)
Kr

Bank notes SGD

Rp 5.000.000

Kr

Keuntungan selisih kurs

Rp

c)
Db

100.000

Bank notes HKD1.000


Bank notes HKD (HKD.1000 x

Rp 1.084.000

1.084)
Db

Kerugian selisih kurs

Rp

Kr

Bank notes HKD

Rp 1.085.000

d)

1.000

Giro USD200

Db

Giro USD

Rp 1.660.000

Db

Kerugian selisih kurs

Rp

Kr

Giro USD (USD200 x 8.400)

Rp 1.680.000

20.000

2.14

136

Lanjutan Lampiran 1

ii.

Menggunakan sistem multi currency


1)

Saldo rekening posisi valuta asing, tergambar


dalam tabel berikut:

Mata

Saldo posisi

uang

Rupiah

Rupiah

lama

baru

Laba rugi

USD

100 D

830.000 D

840.000 D

10.000 R

SGD

1.000 K

5.000.000 K

5.100.000 K

100.000 L

HKD

1.000 K

1.085.000 K

1.084.000 K

1.000 R

5.255.000 D

5.255.000 D

5.255.000 D

IDR

89.000 D

2)

b.

0
89.000 L

Jurnal pembukuan penilaian:

Db

Posisi Rupiah

Rp

89.000

Kr

Keuntungan selisih kurs

Rp

89.000

Kurs pembukuan menggunakan kurs transaksi Bank


i.

Menggunakan sistem single currency


1)

Posisi saldo rekening valuta asing adalah sebagai


berikut:
Bank notes USD sebesar USD100

= Rp

Bank

notes

750.000

SGD

sebesar

= Rp 4.900.000

HKD

sebesar

= Rp 1.080.000

SGD1.000
Bank

notes

HKD1.000
Giro USD sebesar USD200

2)

= Rp 1.700.000

Jurnal pembukuan penilaian:


a)
Db

Bank notes USD100


Bank notes

USD

(USD100 x

Rp

840.000

8.400)
Kr

Bank notes USD

Rp

750.000

Kr

Keuntungan selisih kurs

Rp

90.000

b)
Db

Bank notes SGD1.000


Bank notes SGD (SGD1.000 x

Rp 5.100.000

5.100)
Kr

Bank notes SGD

Rp 4.900.000

Kr

Keuntungan selisih kurs

Rp

200.000

2.15

137

Lanjutan Lampiran 1

c)
Db

Bank notes HKD1.000


Bank notes HKD (HKD1.000 x

Rp 1.084.000

1.084)
Kr

Keuntungan selisih kurs

Rp

Kr

Bank notes HKD

Rp 1.080.000

d)

ii.

4.000

Giro USD200

Db

Giro USD

Rp 1.700.000

Kr

Keuntungan selisih kurs

Rp

Kr

Giro USD (USD200 x 8.400)

Rp 1.680.000

20.000

Menggunakan sistem multi currency


1)

Saldo rekening posisi valuta asing, tergambar dalam


tabel sebagai berikut:
Mata
uang

Rupiah

Rupiah

lama

baru

Laba rugi

USD

100 D

950.000 D

840.000 D

110.000L

SGD

1.000 K

4.900.000 K

5.100.000 K

200.000L

HKD

1.000 K

1.080.000 K

1.084.000 K

4.000L

5.030.000 D

5.030.000 D

5.030.000 D

314.000 D

314.000L

IDR

2)

Saldo posisi

Jurnal pembukuan revaluasi


Db

Posisi Rupiah

Rp

314.000

Kr

Keuntungan selisih kurs

Rp

314.000

2.16

138

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN III KETERTERAPAN PSAK 50, 55, DAN 60


III.1 DEFINISI INSTRUMEN KEUANGAN
01. Instrumen keuangan adalah setiap kontrak yang menambah nilai
aset keuangan dan liabilitas keuangan entitas atau instrumen
ekuitas entitas lain.
02. Aset keuangan adalah setiap aset yang berbentuk:
a. Kas.
b. Instrumen ekuitas yang diterbitkan oleh entitas lain.
c.

Hak kontraktual untuk:


i. menerima kas atau aset keuangan lainnya dari entitas
lain, atau
ii. mempertukarkan aset keuangan atau liabilitas keuangan
dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi
menguntungkan.

d. Kontrak yang akan atau mungkin diselesaikan dengan


menggunakan instrumen ekuitas yang diterbitkan oleh
entitas dan merupakan:
i. non-derivatif

di

mana

entitas

harus

atau

mungkin

diwajibkan untuk menerima suatu jumlah yang bervariasi


dari instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas; atau
ii. derivatif yang akan atau mungkin diselesaikan selain
dengan mempertukarkan sejumlah tertentu kas atau aset
keuangan

lain

dengan

sejumlah

tertentu

instrumen

ekuitas yang diterbitkan entitas.


03. Liabilitas keuangan adalah setiap liabilitas yang berupa:
a. Kewajiban kontraktual:
i. untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada
entitas lain; atau
ii. untuk mempertukarkan aset keuangan atau liabilitas
keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang
berpotensi merugikan entitas tersebut.
b. Kontrak yang akan atau mungkin diselesaikan dengan
menggunakan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas
dan merupakan suatu:

3.1

139

Lanjutan Lampiran 1

i. non-derivatif

di

mana

diwajibkan

untuk

entitas

harus

menyerahkan

suatu

atau

mungkin

jumlah

yang

bervariasi dari instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas;


atau
ii. derivatif yang akan atau mungkin diselesaikan selain
dengan mempertukarkan sejumlah tertentu kas atau aset
keuangan

lain

dengan

sejumlah

tertentu

instrumen

ekuitas yang diterbitkan entitas.


04. Instrumen ekuitas adalah setiap kontrak yang memberikan hak
residual atas aset suatu entitas setelah dikurangi dengan
seluruh liabilitasnya.

3.2

140

Lanjutan Lampiran 1

III.2 KLASIFIKASI
A.

Aset Keuangan
Aset keuangan selain sukuk dapat diklasifikasikan ke dalam empat
kategori sebagai berikut:
01. Diukur pada nilai wajar melalui laba rugi.
Persyaratannya adalah:
a. Aset keuangan untuk tujuan diperdagangkan (trading); atau
b. Aset keuangan yang pada saat pengakuan awal telah
ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laba rugi
(fair value option).
Contoh aset keuangan yang dimiliki Bank dalam kategori ini
antara lain reksadana Syariah dan forward.
02. Dimiliki hingga jatuh tempo.
Persyaratannya adalah:
a. Aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau
telah ditentukan, dan jatuh temponya telah ditetapkan; dan
b. Entitas mempunyai intensi positif dan kemampuan untuk
memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo.
03. Pinjaman yang diberikan dan piutang.
Persyaratannya adalah:
a. Aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau
telah ditentukan; dan
b. Tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif.
Contoh aset keuangan yang dimiliki Bank dalam kategori ini
antara lain pembiayaan murabahah yang menggunakan metode
anuitas dan tagihan reverse repo Syariah.
04. Tersedia untuk dijual.
Persyaratannya adalah:
a. Aset keuangan non-derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia
untuk dijual; atau
b. Aset keuangan non-derivatif yang tidak dapat diklasifikasikan
sebagai diukur pada nilai wajar melalui laba rugi, dimiliki
hingga jatuh tempo, atau pinjaman yang diberikan dan
piutang.

3.3

141

Lanjutan Lampiran 1

Contoh aset keuangan yang dimiliki Bank dalam kategori ini


antara lain reksadana Syariah dan penyertaan.
B.

Liabilitas Keuangan
Liabilitas keuangan selain sukuk dapat diklasifikasikan ke dalam dua
kategori sebagai berikut:
01. Diukur pada nilai wajar melalui laba rugi.
Persyaratannya adalah:
a. Liabilitas keuangan untuk tujuan diperdagangkan (trading);
atau
b. Liabilitas keuangan yang pada saat pengakuan awal telah
ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laba rugi
(fair value option).
Contoh liabilitas keuangan yang dimiliki Bank dalam kategori ini
antara lain forward yang diterbitkan.
02. Diukur pada biaya perolehan diamortisasi.
Persyaratannya adalah liabilitas keuangan yang tidak termasuk
dalam kategori diukur pada nilai wajar melalui laba rugi.
Contoh liabilitas keuangan yang dimiliki Bank dalam kategori ini
antara lain kewajiban segera.

3.4

142

Lanjutan Lampiran 1

III.3 PENGAKUAN DAN PENGUKURAN


A.

Pengakuan dan Penghentian-Pengakuan


01. Aset keuangan diakui pada saat Bank terikat dengan ketentuan
dalam perjanjian. Khusus untuk aset keuangan yang diperoleh di
pasar reguler diakui pada tanggal perdagangan (trading date).
02. Aset keuangan dihentikan-pengakuannya jika:
a.

hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset


keuangan tersebut telah berakhir; atau

b.

telah ditransfer dan transfer tersebut memenuhi kriteria


penghentian pengakuan.

03. Liabilitas keuangan diakui pada saat Bank terikat dengan


ketentuan dalam perjanjian.
04. Liabilitas keuangan dihentikan-pengakuannya ketika liabilitas
keuangan berakhir, yaitu diselesaikan, dilepaskan, dibatalkan,
atau kadaluarsa.
B.

Pengukuran
01. Aset keuangan dalam kategori diukur pada nilai wajar melalui
laba rugi.
a.

Pada saat pengakuan awal, aset keuangan diukur pada nilai


wajar, dimana biaya transaksi yang terjadi diakui sebagai
beban.

b.

Pada pengukuran selanjutnya, aset keuangan tersebut


diukur pada nilai wajar dimana perubahannya diakui di laba
rugi.

02. Aset keuangan dalam kategori tersedia untuk dijual.


a.

Pada saat pengakuan awal, aset keuangan diukur pada nilai


wajar ditambah biaya transaksi.

b.

Pada pengukuran selanjutnya, aset keuangan tersebut


diukur pada nilai wajar dimana perubahannya diakui di
penghasilan komprehensif lain.

03. Aset keuangan dalam kategori dimiliki hingga jatuh tempo.


a.

Pada saat pengakuan awal, aset keuangan diukur pada nilai


wajar ditambah biaya transaksi.

3.5

143

Lanjutan Lampiran 1

b.

Pada pengukuran selanjutnya, aset keuangan tersebut


diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi dengan
menggunakan effective rate.

04. Aset keuangan dalam kategori pinjaman yang diberikan dan


piutang.
a.

Pada saat pengakuan awal, aset keuangan diukur pada nilai


wajar ditambah biaya transaksi.

b.

Pada pengukuran selanjutnya, aset keuangan tersebut


diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi dengan
menggunakan effective rate.

05. Liabilitas keuangan dalam kategori diukur pada nilai wajar


melalui laba rugi.
a.

Pada saat pengakuan awal, liabilitas keuangan diukur pada


nilai wajar, dimana biaya transaksi yang terjadi diakui
sebagai beban.

b.

Pada pengukuran selanjutnya, liabilitas keuangan tersebut


diukur pada nilai wajar dimana perubahannya diakui di laba
rugi.

06. Liabilitas keuangan dalam kategori diukur pada biaya perolehan


diamortisasi.
a. Pada saat pengakuan awal, liabilitas keuangan diukur pada
nilai wajar ditambah biaya transaksi.
b. Pada pengukuran selanjutnya, liabilitas keuangan tersebut
diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi dengan
menggunakan effective rate.
C.

Penurunan Nilai
01. Penurunan nilai adalah suatu kondisi dimana terdapat bukti
obyektif terjadinya peristiwa yang merugikan sebagai akibat dari
satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal
aset keuangan. Peristiwa yang merugikan tersebut berdampak
pada estimasi arus kas masa datang.
02. Peristiwa-peristiwa yang merugikan antara lain:
a.

Kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau


pihak peminjam (nasabah).

3.6

144

Lanjutan Lampiran 1

b.

Pelanggaran kontrak, seperti terjadinya wanprestasi atau


tunggakan pembayaran pokok atau bagi hasil/marjin/ujrah.

c.

Pemberian keringanan pada pihak peminjam (nasabah) yang


tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam (nasabah)
tidak mengalami kesulitan.

d.

Terdapat kemungkinan pihak peminjam (nasabah) akan


dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan
lain.

e.

Hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan


keuangan.

f.

Data

yang

dapat

diobservasi

mengindikasikan

adanya

penurunan estimasi arus kas masa depan dari kelompok


aset keuangan, meskipun belum dapat diidentifikasi secara
individual, termasuk:
i.

memburuknya status pembayaran pihak peminjam


(nasabah) dalam kelompok.

ii.

kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi


dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok.

03. Aset keuangan dalam kategori diukur pada nilai wajar melalui
laba

rugi

tidak

diterapkan

ketentuan

penurunan

nilai.

Sedangkan aset keuangan dalam kategori tersedia untuk dijual,


dimiliki hingga jatuh tempo, pinjaman yang diberikan dan
piutang diterapkan ketentuan penurunan nilai.
04. Penurunan nilai diakui di laba rugi. Untuk pembalikan dari
penurunan nilai diakui juga di laba rugi, kecuali untuk
instrumen ekuitas pembalikan tersebut diakui di penghasilan
komprehensif lain.
D.

Nilai Wajar
01. Nilai wajar ditentukan dengan hirarki sebagai berikut:
a.

Kuotasi harga di pasar aktif dimana harga kuotasi tersedia


sewaktu-waktu dan dapat diperoleh secara rutin, dan harga
tersebut mencerminkan transaksi pasar yang aktual dan
rutin dalam suatu transaksi yang wajar.

3.7

145

Lanjutan Lampiran 1

b.

Teknik penilaian yang meliputi penggunaan harga transaksitransaksi wajar yang paling kini dan referensi nilai wajar
instrumen lain yang secara substansi sama.

3.8

146

Lanjutan Lampiran 1

III.4

ESTIMASI

PENURUNAN

NILAI

KOLEKTIF

DENGAN

KETERBATASAN PENGALAMAN KERUGIAN SPESIFIK


A.

Cakupan
01. Penerapan estimasi ini hanya berlaku untuk penurunan nilai
aset keuangan dalam bentuk Pembiayaan dalam yang dilakukan
secara kolektif (collective impairment).
02. Penerapan estimasi ini hanya dapat dilakukan oleh Bank-Bank
tertentu yang memiliki kondisi keterbatasan sebagaimana pada
huruf C.

B.

Penerapan
01. Evaluasi penurunan nilai harus dilakukan berdasarkan suatu
proses estimasi yang dapat menghasilkan satu nilai kerugian
atau kisaran nilai kerugian terbaik yang mungkin terjadi.
Estimasi penurunan nilai secara kolektif terhadap kelompok aset
keuangan dimaksud didasarkan pada kerugian historis yang
pernah dialami aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko
kredit yang serupa dengan karakteristik risiko kredit kelompok
aset keuangan tersebut.
Jika Bank tidak atau kurang memiliki pengalaman kerugian
yang spesifik, maka Bank juga dapat menggunakan pengalaman
peer group atas kelompok aset keuangan yang sebanding.
02. Dalam hal Bank belum dapat melakukan proses estimasi yang
memadai dan belum memiliki data kerugian historis yang
memadai untuk menentukan besarnya penurunan nilai atas
Pembiayaan secara kolektif sesuai persyaratan dalam PSAK 55,
termasuk pedoman pelaksanaannya dan Pedoman Akuntansi
Perbankan Indonesia (PAPI), maka pembentukan Cadangan
Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dapat menggunakan estimasi
yang didasarkan pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku
mengenai Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum Syariah. Acuan
pada ketentuan Bank Indonesia dilakukan dengan pertimbangan
bahwa penyusunan ketentuan tersebut telah didasarkan pada
analisis kondisi perbankan di Indonesia mengenai estimasi

3.9

147

Lanjutan Lampiran 1

besarnya

kebutuhan

pencadangan

yang

didasarkan

pada

probability of default dan kerugian historis.


03. Penerapan estimasi ini dilakukan setelah Bank melakukan
proses sebagai berikut:
a.

Bank harus mengklasifikasikan Pembiayaan yang akan


dievaluasi secara kolektif; dan

b.

Bank

harus

mengevaluasi

terdapatnya

bukti

obyektif

mengenai penurunan nilai secara periodik atas Pembiayaan


yang dinilai secara kolektif tersebut.
04. Pembentukan

CKPN

atas

Pembiayaan

secara

kolektif

sebagaimana dimaksud pada angka 02. di atas dilakukan


dengan mengacu pada pembentukan cadangan umum dan
cadangan khusus sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank
Indonesia mengenai Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum
Syariah, yaitu sebagai berikut:
a.

1% atas Pembiayaan yang memenuhi kualitas Lancar,


kecuali untuk bagian Pembiayaan yang dijamin dengan
agunan tunai sesuai ketentuan Bank Indonesia dimaksud;

b.

5%

atas

Pembiayaan

yang

memenuhi

kualitas

Dalam

Perhatian Khusus setelah dikurangi nilai agunan sesuai


ketentuan Bank Indonesia dimaksud;
c.

15% atas Pembiayaan yang memenuhi kualitas Kurang


Lancar setelah dikurangi nilai agunan sesuai ketentuan
Bank Indonesia dimaksud;

d.

50% atas Pembiayaan yang memenuhi kualitas Diragukan


setelah dikurangi nilai agunan sesuai ketentuan Bank
Indonesia dimaksud; dan/atau

e.

100% atas Pembiayaan yang memenuhi kualitas Macet


setelah dikurangi nilai agunan sesuai ketentuan Bank
Indonesia dimaksud.

05. Perhitungan CKPN sebagaimana pada angka 04. di atas dihitung


atas

dasar

jumlah

tercatat

berdasarkan

biaya

perolehan

diamortisasi.

3.10

148

Lanjutan Lampiran 1

C.

Kondisi Keterbatasan
01. Bank dapat menerapkan estimasi penurunan nilai Pembiayaan
secara kolektif sebagaimana pada huruf B angka 04. di atas
sepanjang berada dalam kondisi berikut:
a.

Bank tidak atau kurang memiliki data tentang pengalaman


kerugian yang spesifik dan andal untuk menentukan
besarnya penurunan nilai Pembiayaan secara kolektif; dan

b.

Tidak terdapat data pengalaman kerugian historis dari peer


group atas kelompok Pembiayaan yang sebanding sebagai
dasar untuk menentukan besarnya penurunan nilai atas
Pembiayaan secara kolektif.

02. Bank yang tidak menghadapi kondisi sebagaimana pada angka


01. di atas, tidak diperkenankan untuk menggunakan estimasi
penurunan nilai Pembiayaan secara kolektif sebagaimana pada
huruf B. angka 04. di atas.
03. Bank harus melakukan penilaian sendiri (self assessment) atas
terdapat atau tidaknya kondisi sebagaimana pada angka 01. di
atas

yang

memungkinkan

Bank

menerapkan

estimasi

penurunan nilai Pembiayaan secara kolektif sebagaimana pada


huruf B. angka 04.
04. Bank

harus

menyusun

dan

mendokumentasikan

hal-hal

berikut:
a. Hasil self-assessment sebagaimana dimaksud pada angka 03.
untuk menerapkan estimasi penurunan nilai Pembiayaan
secara kolektif;
b. Rencana tindak (action plan) yang memuat langkah-langkah
yang akan dilakukan untuk memperoleh data tentang
pengalaman kerugian spesifik atau kerugian historis dari
peer

group

atas

Pembiayaan

secara

kolektif

dengan

memperhatikan batas waktu sebagaimana pada huruf D.;


dan
c.

Progres pemenuhan rencana tindak paling kurang secara


triwulanan.

3.11

149

Lanjutan Lampiran 1

D.

Periode Penerapan Estimasi


Estimasi penurunan nilai Pembiayaan secara kolektif sebagaimana
pada huruf B. angka 04. dapat diterapkan paling lambat sampai
dengan 31 Desember 2014. Terhitung sejak 1 Januari 2015, Bank
harus mengukur penurunan nilai dan membentuk CKPN atas
Pembiayaan secara kolektif dengan menggunakan data pengalaman
kerugian spesifik atau kerugian historis dari peer group.

E.

Pengungkapan
Bank yang menerapkan estimasi penurunan nilai Pembiayaan secara
kolektif sebagaimana pada huruf B. harus mengungkapkan hal
tesebut dalam kebijakan akuntansi pada Catatan Atas Laporan
Keuangan.

3.12

150

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN IV AKAD JUAL BELI


IV.1 MURABAHAH
A.

Definisi
01. Murabahah adalah akad jual beli barang dengan harga jual sebesar
beban perolehan ditambah keuntungan yang disepakati dan penjual
harus mengungkapkan beban perolehan barang tersebut kepada
pembeli.
02. Pembiayaan Murabahah, adalah Penyediaan dana dari Bank kepada
nasabah untuk membeli barang dengan menegaskan harga belinya
kepada pembeli (nasabah) dan pembeli (nasabah) membayarnya
dengan harga yang lebih sebagai keuntungan Bank yang disepakati.
03. Aset Murabahah adalah aset yang diperoleh dengan tujuan untuk
dijual kembali dengan menggunakan akad Murabahah.
04. Diskon harga beli adalah pengurangan harga atau penerimaan dalam
bentuk apapun yang diperoleh pihak pembeli (nasabah) dari
pemasok.
05. Harga perolehan adalah harga beli barang oleh Bank sebelum
dikurangi uang muka dari nasabah.
06. Potongan

piutang

Murabahah

adalah

pengurangan

kewajiban

pembeli (nasabah) yang diberikan oleh pihak penjual (Bank).


07. Uang muka (urbun) adalah jumlah yang dibayar oleh pembeli
(nasabah) kepada penjual sebagai bukti komitmen untuk membeli
barang dari penjual.
B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah.
02. PSAK 55 (2011) tentang Instrumen Keuangan : Pengakuan dan
Pengukuran.
03. PSAK 50 (2010) tentang Instrumen Keuangan : Penyajian.
04. PSAK 60 tentang Instrumen Keuangan : Pengungkapan.

C.

Penjelasan
01. Bagian ini membahas transaksi Murabahah secara normal, tidak
termasuk transaksi Murabahah yang direstrukturisasi.

4.1

151

Lanjutan Lampiran 1
02. Aset yang akan dijual Bank dalam transaksi Murabahah pada
prinsipnya harus dimiliki Bank sebelum akad Murabahah disepakati.
Cara memperoleh aset Murabahah dapat dilakukan secara langsung
oleh Bank atau diwakilkan kepada pihak lain termasuk nasabah.
03. Dalam hal Bank diwakilkan kepada pihak lain, pihak yang mewakili
hanya sebatas pada pencarian informasi barang sesuai spesifikasi
yang diinginkan nasabah. Sedangkan penentuan atas pembelian aset
dari pemasok menjadi kewenangan Bank.
04. Harga perolehan aset Murabahah harus diberitahukan Bank kepada
nasabah.
05. Harga jual Murabahah adalah harga perolehan aset Murabahah
sebelum dikurangi uang muka ditambah dengan marjin yang
disepakati.
06. Murabahah yang dilakukan oleh Bank harus berdasarkan pesanan
nasabah yang bersifat mengikat.
07. Dalam praktik penyaluran pembiayaan Murabahah, Bank sering kali
menerima pendapatan di luar marjin keuntungan seperti pendapatan
administrasi,

dan

beban

lain

yang

terkait

langsung

dengan

pembiayaan Murabahah seperti beban komisi, beban survei, dan


beban lain. Pendapatan dan beban yang terkait langsung dengan
transaksi Murabahah tersebut diakui selaras dengan pengakuan
pendapatan Murabahah secara proporsional sepanjang masa akad.
08. Keuntungan Murabahah secara tunai diakui pada saat penyerahan
barang.
09. Pengakuan

pendapatan

Murabahah

secara

non-tunai

dapat

menggunakan metode anuitas (efektif) atau metode proporsional


(flat).
a. Penggunaan metode anuitas (efektif) didasarkan pada asumsi
bahwa

substansi

pembiayaan

pembiayaan

(financing)

sehingga

Murabahah
pencatatan

merupakan
transaksi

Murabahah dengan metode anuitas (efektif) wajib menggunakan


PSAK 55 (2011) tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan
Pengukuran, PSAK 50 (2010) tentang Instrumen Keuangan:
Penyajian, PSAK 60: Instrumen Keuangan: Pengungkapan dan
PSAK lain yang relevan, sepanjang tidak bertentangan dengan
prinsip Syariah.

4.2

152

Lanjutan Lampiran 1
b. Dalam

hal

Bank

memilih

untuk

menggunakan

metode

proporsional (flat) maka pencatatan transaksi Murabahah wajib


menggunakan PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah.
10. Ilustrasi pengakuan pendapatan Murabahah:
Bank melakukan transaksi Murabahah dengan nasabah atas aset
Murabahah seharga Rp1.000 dan marjin keuntungan yang disepakati
sebesar Rp200. Pendapatan dan beban lain yang terkait langsung
dengan penyaluran pembiayaan Murabahah masing-masing sebesar
Rp12 dan Rp5. Pembayaran angsuran oleh nasabah dilakukan
selama 12 periode yang besarnya tidak sama setiap periode.
a. Metode anuitas

Pendapatan
pembiayaan

dan

beban

Murabahah

yang

terkait langsung

dikapitalisasi

dengan

dengan
nilai

pembiayaan Murabahah sehingga diperoleh nilai efektif yang


berbeda dengan nilai kontrak pembiayaan.

Perbedaan nilai efektif dengan nilai kontrak Murabahah


diamortisasi sesuai jangka waktu akad dengan menggunakan
metode effective rate.

Pendapatan marjin Murabahah yang diakui tidak boleh


melampaui marjin Murabahah yang telah disepakati pada
akad.

Perlakuan akuntansi untuk transaksi Murabahah yang


menggunakan metode anuitas mengacu pada pengaturan
akuntansi pada PSAK 50, 55 dan 60 serta Pedoman
Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) sepanjang tidak
bertentangan dengan prinsip Syariah.

4.3

153

Lanjutan Lampiran 1
No

Tahun

Estimasi
Arus Kas

Saldo Awal
Arus kas

Tingkat
Imbalan
Efektif

Angsuran
Pokok

Saldo
Pokok

Tagihan
Imbalan

Amortisas Angsura Saldo Akhir


i dengan n Pokok Arus Kas
EIR
Efektif
Kredit

E = D X EIR

H =G xi

1-Jan

(993.00)

31-Jan

50.00

993.00

25.19

25.60

974.40

(24.40)

0.79

24.81

968.19

28-Feb

50.00

968.19

24.56

26.23

948.17

(23.77)

0.79

25.44

942.75

31-Mar

60.00

942.75

23.91

36.87

911.30

(23.13)

0.78

36.09

906.66

30-Apr

70.00

906.66

23.00

47.77

863.54

(22.23)

0.77

47.00

859.66

31-May

100.00

859.66

21.81

78.93

784.60

(21.07)

0.74

78.19

781.47

30-Jun

100.00

781.47

19.82

80.86

703.75

(19.14)

0.68

80.18

701.29

31-Jul

100.00

701.29

17.79

82.83

620.91

(17.17)

0.62

82.21

619.08

31-Aug

100.00

619.08

15.70

84.85

536.06

(15.15)

0.56

84.30

534.78

10

30-Sep

130.00

534.78

13.57

116.92

419.14

(13.08)

0.49

116.43

418.35

11

31-Oct

140.00

418.35

10.61

129.77

289.37

(10.23)

0.39

129.39

288.96

12

30-Nov

150.00

288.96

7.33

142.94

146.43

(7.06)

0.27

142.67

146.29

13

31-Dec

150.00

146.29

3.71

146.43

(3.57)

0.14

146.29

(200.00)

7.00

I =E-H

J =C -E

K = D+E-F+I

1,000.00

1,200.00

207.00

993.00

(0.00)

(0.00)

b. Metode proporsional

Pendapatan

dan

beban

yang

terkait langsung

dengan

pembiayaan Murabahah tidak dikapitalisasi dengan nilai


pembiayaan Murabahah.

Pendapatan

dan

beban

yang

terkait langsung

dengan

pembiayaan Murabahah diakui selama jangka waktu akad


dengan menggunakan metode yang sama dengan pengakuan
pendapatan Murabahah.

Bank

mengakui

pendapatan

marjin

Murabahah

sesuai

dengan proporsi atau perbandingan antara nilai pokok


Murabahah dan marjin Murabahah yang tercantum pada
akad Murabahah.
Periode

Angsuran

Awal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

50
50
60
70
100
100
100
100
130
140
150
150

Porsi
Pokok
Margin
42
42
50
58
83
83
83
83
108
117
125
125

8
8
10
12
17
17
17
17
22
23
25
25

Saldo
Pokok
Margin
1000
200
958
192
917
183
867
173
808
162
725
145
642
128
558
112
475
95
367
73
250
50
125
25
0
0

11. Akad Murabahah memperkenankan penawaran harga yang berbeda


untuk cara pembayaran yang berbeda sebelum akad Murabahah
4.4

154

Lanjutan Lampiran 1
dilakukan. Namun jika akad tersebut telah disepakati, maka hanya
ada satu harga (harga dalam akad) yang digunakan. Sedangkan
besarnya angsuran dapat disesuaikan berdasarkan kesepakatan
Bank dengan nasabah.
Diskon harga beli
12. Apabila setelah akad Murabahah pemasok memberikan diskon harga
atas barang yang dibeli, maka diskon harga tersebut dibagi
berdasarkan perjanjian atau persetujuan yang dimuat dalam akad.
Oleh karena itu, klausul pembagian diskon harga tersebut harus
diperjanjikan dalam akad.
Apabila tidak diatur dalam akad, maka diskon tersebut menjadi hak
Bank dan diakui sebagai pendapatan operasi lainnya.
13. Diskon yang terkait dengan pembelian barang, antara lain:
a.

diskon dalam bentuk apapun dari pemasok atas pembelian


barang;

b.

diskon beban asuransi dari perusahaan asuransi dalam rangka


pembelian barang;

c.

komisi dalam bentuk apapun yang diterima terkait dengan


pembelian barang.

Uang muka
14. Bank dapat meminta uang muka kepada nasabah sebagai bukti
komitmen pembelian aset Murabahah sebelum akad disepakati.
a.

Apabila akad Murabahah disepakati, maka uang muka menjadi


bagian pelunasan piutang Murabahah.

b.

Apabila akad Murabahah batal, maka uang muka dikembalikan


kepada nasabah setelah dikurangi kerugian riil yang ditanggung
oleh Bank.

c.

Apabila uang muka itu lebih kecil dari kerugian, maka Bank
dapat meminta tambahan dari nasabah.

15. Keuntungan Murabahah yang diterima Bank dihitung berdasarkan


harga perolehan aset Murabahah setelah memperhitungkan uang
muka yang diserahkan oleh nasabah.
Potongan piutang Murabahah
16. Bank dapat memberikan potongan pada saat pelunasan piutang
Murabahah, apabila nasabah:
a.

melakukan pelunasan pembayaran secara tepat waktu; atau

4.5

155

Lanjutan Lampiran 1
b.

melakukan pelunasan pembayaran lebih cepat dari waktu yang


telah disepakati;

dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad dan besarnya


potongan diserahkan pada kebijakan Bank.
17. Pemberian potongan pelunasan piutang Murabahah dapat dilakukan
dengan menggunakan salah satu metode berikut:
a.

diberikan pada saat pelunasan, yaitu Bank mengurangi piutang


Murabahah dan
hanya

membayar

keuntungan Murabahah, sehingga nasabah


sebesar

selisih

antara

piutang

dengan

potongan pelunasan; atau


b.

diberikan setelah pelunasan, yaitu Bank menerima pelunasan


piutang dari

nasabah dan kemudian membayarkan potongan

pelunasannya kepada nasabah.


18. Bank dapat memberikan potongan dari total piutang Murabahah
yang belum dilunasi apabila nasabah:
a.

melakukan pembayaran cicilan tepat waktu; dan atau

b.

mengalami penurunan kemampuan pembayaran;

dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad dan besarnya


potongan diserahkan pada kebijakan Bank.
19. Bank harus memiliki kebijakan dan kriteria mengenai nasabah yang
membayar cicilan tepat waktu.
20. Pemberian potongan pembayaran cicilan harus dapat dibuktikan
dengan adanya penurunan kemampuan membayar dari nasabah.
21. Kriteria penurunan kemampuan membayar nasabah, antara lain
adalah menurunnya kondisi keuangan nasabah untuk melakukan
kewajiban pembayaran angsuran, baik yang disebabkan karena
faktor mikro, misalnya persaingan industri nasabah maupun faktor
makro, misalnya krisis keuangan.
22. Dalam hal nasabah mengalami tunggakan pembayaran angsuran,
Bank wajib membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai untuk
piutang Murabahah sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam
PSAK yang terkait.
Denda
23. Bank dapat mengenakan denda kepada nasabah yang tidak dapat
melakukan pembayaran angsuran piutang Murabahah, dengan
indikasi antara lain:

4.6

156

Lanjutan Lampiran 1
a.

adanya unsur kesengajaan, yaitu nasabah mempunyai dana


tetapi tidak melakukan pembayaran piutang Murabahah; dan

b.

adanya unsur penyalahgunaan dana, yaitu nasabah mempunyai


dana tetapi digunakan terlebih dahulu untuk hal lain.

24. Denda tidak dapat dikenakan kepada nasabah yang tidak/belum


mampu

melunasi

disebabkan

oleh

force

majeur,

jika

dapat

dibuktikan.
25. Denda kepada nasabah didasarkan pada pendekatan tazir, yaitu
untuk membuat nasabah lebih disiplin terhadap kewajibannya.
26. Denda yang dikenakan atas nasabah yang lalai merupakan sumber
bagi dana kebajikan.
D.

Perlakuan Akuntansi

D.1 Pengakuan dan Pengukuran


01. Uang muka
a.

Uang muka yang diterima Bank dari nasabah diakui sebagai


uang muka Murabahah dari pembeli sebesar jumlah yang
diterima Bank.

b.

Jika transaksi Murabahah dilaksanakan, maka uang muka


tersebut

diakui sebagai bagian dari

pembayaran piutang

Murabahah (merupakan bagian pokok).


c.

Jika transaksi Murabahah tidak dilaksanakan, maka :


i.

uang muka dikembalikan kepada nasabah sebesar selisih


antara uang muka dengan beban riil dan kerugian atas
pembatalan barang tersebut, apabila uang muka nasabah
lebih besar dari beban-beban riil yang telah dikeluarkan
Bank dan kerugian atas pembatalan, jika ada; atau

ii. Bank mengakui tagihan kepada nasabah sebesar selisih


antara beban riil dengan uang muka dan kerugian atas
pembatalan barang tersebut, apabila uang muka nasabah
lebih kecil dari beban-beban riil yang telah dikeluarkan
Bank dan kerugian atas pembatalan, jika ada.
02. Diskon harga beli dari pemasok dan pihak lain
a.

Sebelum akad Murabahah ditandatangani maka diskon harga


beli tersebut diakui sebagai pengurang harga perolehan aset
Murabahah;

b.

Setelah akad Murabahah ditandatangani dan:


4.7

157

Lanjutan Lampiran 1
i.

diperjanjikan dalam akad, maka bagian diskon harga beli


yang menjadi hak nasabah diakui sebagai kewajiban
kepada nasabah dan bagian diskon yang menjadi hak Bank
diakui sebagai tambahan keuntungan Murabahah.

ii.

tidak diperjanjikan dalam akad, maka diakui sebagai


pendapatan operasi lain.

03. Piutang Murabahah diakui pada saat akad transaksi Murabahah,


sebesar

harga

perolehan

ditambah keuntungan

(marjin)

yang

disepakati. Dalam hal Bank menggunakan metode anuitas, maka


piutang Murabahah yang diakui termasuk pendapatan dan beban
yang belum diamortisasi.
04. Pendapatan dan beban yang terkait langsung dengan transaksi
Murabahah:
a. Metode anuitas,
i.

Pendapatan

dan

beban

yang

terkait langsung

dengan

transaksi Murabahah diakui sebagai bagian dari piutang


Murabahah sebesar pendapatan yang diterima dan beban
yang dikeluarkan.
ii. Pendapatan

dan

beban

tersebut

diamortisasi

dengan

menggunakan metode effective rate sepanjang masa akad.


b. Metode proporsional,
i.

Pendapatan

dan

beban

yang

terkait langsung

dengan

transaksi Murabahah diakui secara terpisah dari piutang


Murabahah sebesar pendapatan yang diterima dan beban
yang dikeluarkan.
ii. Pendapatan

dan

beban

tersebut

diamortisasi

dengan

menggunakan metode yang sama dengan metode pengakuan


pendapatan Murabahah sepanjang masa akad.
05. Dalam hal transaksi Murabahah dilakukan secara tunai, maka
pendapatan

Murabahah

diakui

pada

saat

penyerahan

aset

Murabahah kepada nasabah.


06. Dalam hal transaksi Murabahah dilakukan secara non tunai, maka
pengakuan pendapatan Murabahah diakui sebagai berikut:
a.

Metode anuitas
i.

Pendapatan

Murabahah

diakui

sebesar

saldo

efektif

Murabahah yang dikalikan dengan effective rate.

4.8

158

Lanjutan Lampiran 1
ii. Pendapatan Murabahah yang diakui tidak boleh melebihi
piutang Murabahah yang disepakati dalam akad Murabahah.
b.

Metode proporsional
Pendapatan Murabahah diakui berdasarkan jumlah pembayaran
angsuran oleh nasabah secara proporsional berdasarkan porsi
marjin Murabahah terhadap piutang Murabahah pada saat akad
ditandatangani.

07. Potongan piutang Murabahah


a.

Potongan

pelunasan

piutang

Murabahah

diakui

sebagai

pengurang pendapatan Murabahah pada saat pelunasan sebesar


jumlah yang diberikan.
b.

Jika potongan pembayaran cicilan piutang Murabahah diberikan


kepada nasabah karena:
i.

membayar cicilan tepat waktu, maka potongan pembayaran


diakui sebagai pengurang pendapatan Murabahah; dan
atau

ii.

adanya penurunan kemampuan pembayaran oleh nasabah,


maka potongan pembayaran diakui sebagai beban Bank.

08. Denda (tazir) atas nasabah yang lalai diakui sebagai sumber dana
kebajikan sebesar dana yang diterima Bank.
D.2 Penyajian
01. Uang muka Murabahah dari pembeli disajikan sebagai liabilitas
lainnya.
02. Tagihan kepada nasabah atas pembatalan transaksi Murabahah
dimana uang muka nasabah lebih kecil dari beban riil yang
dikeluarkan nasabah disajikan sebagai piutang qardh.
03. Piutang Murabahah disajikan sebesar saldo pembiayaan Murabahah
nasabah kepada Bank.
04. Marjin Murabahah ditangguhkan disajikan sebagai pos lawan piutang
Murabahah.
05. Beban potongan pelunasan / angsuran Murabahah sebagai pos lawan
pendapatan marjin Murabahah.
06. Dalam hal Bank menggunakan metode proporsional, pendapatan dan
beban yang terkait langsung dengan transaksi Murabahah yang
belum diamortisasi, disajikan sebagai liabilitas lainnya dan aset
lainnya.

4.9

159

Lanjutan Lampiran 1
07. Pendapatan marjin Murabahah yang akan diterima disajikan sebagai
bagian dari aset lainnya pada saat nasabah tergolong performing.
Sedangkan,

apabila

nasabah

tergolong

non-performing

maka

pendapatan marjin Murabahah yang akan diterima disajikan pada


rekening administratif.
08. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Murabahah disajikan sebagai
pos lawan (contra account) piutang Murabahah.
09. Denda (tazir) disajikan sebagai komponen dari sumber dana
kebajikan (qardhul hasan).
E.

Ilustrasi Jurnal
01. Penerimaan uang muka dari nasabah
Db. Kas/rekening
Kr. Liabilitas lainnya - uang muka Murabahah dari pembeli
02. Pada saat timbul beban lain yang dikeluarkan oleh Bank
Db. Beban lain yang terkait
Kr. Kas/rekening
03. Pada saat perolehan aset Murabahah
Db. Persediaan/aset Murabahah
Kr. Kas/rekening pemasok/kliring
04. Pada saat penyaluran pembiayaan Murabahah kepada nasabah
(pembayaran secara non-tunai):
A. Metode Anuitas
a.

Transaksi penjualan
Db. Piutang Murabahah
Kr. Marjin Murabahah ditangguhkan
Kr. Persediaan/Aset Murabahah

b.

Pengakuan

pendapatan

yang

terkait

langsung

dengan

transaksi Murabahah
Db. Kas
Kr. Piutang Murabahah - pendapatan yang terkait langsung
c.

Pengakuan beban yang terkait langsung dengan transaksi


Murabahah
Db. Piutang Murabahah - beban yang terkait langsung
Kr. Kas

4.10

160

Lanjutan Lampiran 1
d.

Uang muka nasabah diakui sebagai pembayaran piutang


Db. Liabilitas lainnya - uang muka Murabahah dari pembeli
Kr. Piutang Murabahah porsi pokok

B. Metode Proporsional
a. Transaksi penjualan
Db. Piutang Murabahah
Kr. Marjin Murabahah ditangguhkan
Kr. Persediaan/Aset Murabahah
b. Pengakuan

pendapatan

yang

terkait

langsung

dengan

transaksi Murabahah
Db. Kas
Kr. Liabilitas lainnya Pendapatan yang ditangguhkan
c.

Pengakuan beban yang terkait langsung dengan transaksi


Murabahah
Db. Aset lainnya Beban yang ditangguhkan
Kr. Kas

d. Uang muka nasabah diakui sebagai pembayaran piutang


Db. Liabilitas lainnya - uang muka Murabahah dari pembeli
Kr. Piutang Murabahah porsi pokok
05. Apabila pesanan nasabah dibatalkan
a.

Uang muka lebih besar daripada kerugian dan beban lain yang
dikeluarkan oleh Bank
Db. Liabilitas lainnya - uang muka Murabahah dari pembeli
Kr. Kerugian penjualan barang pesanan
Kr. Beban lain yang terkait
Kr. Kas/Rekening

b.

Uang muka sama dengan kerugian dan beban lain yang


dikeluarkan oleh Bank
Db. Liabilitas lainnya - uang muka Murabahah dari pembeli
Kr. Kerugian penjualan barang pesanan
Kr. Beban lain yang terkait

c.

Apabila uang muka lebih kecil daripada kerugian dan beban lain
yang dikeluarkan oleh Bank
Db. Tagihan kepada nasabah
Db. Liabilitas lainnya uang muka Murabahah dari pembeli
Kr. Kerugian penjualan barang pesanan
Kr. Beban lain yang terkait
4.11

161

Lanjutan Lampiran 1
06. Pada saat pengakuan pendapatan diakhir periode pelaporan (akru)
A. Metode Anuitas
Db.

Pendapatan marjin Murabahah yang akan diterima

Db/Kr.Piutang Murabahah
Kr.

Pendapatan marjin Murabahah

B. Metode Proporsional
a. Pengakuan pendapatan marjin Murabahah
Db. Pendapatan marjin Murabahah yang akan diterima
Kr. Pendapatan marjin Murabahah
b. Pengakuan

pendapatan

yang

terkait

langsung

dengan

transaksi Murabahah
Db. Liabilitas lainnya - Pendapatan yang ditangguhkan
Kr. Pendapatan
c.

Pengakuan beban yang terkait langsung dengan transaksi


Murabahah
Db. Beban
Kr. Aset lainnya - Beban yang ditangguhkan

07. Pada saat penerimaan angsuran dari nasabah (pokok dan marjin)
A. Metode Anuitas
Db.

Kas/rekening nasabah

Kr.

Piutang Murabahah

Db.

Marjin Murabahah yang ditangguhkan

Db/Kr.Piutang Murabahah
Kr.

Pendapatan marjin Murabahah

B. Metode Proporsional
Db.

Kas/rekening nasabah

Kr.

Piutang Murabahah

Db.

Marjin Murabahah yang ditangguhkan

Kr.

Pendapatan marjin Murabahah

08. Pemberian potongan angsuran piutang Murabahah:


a.

Angsuran tepat waktu


i.

Pada saat penerimaan angsuran:


Db. Kas/rekening nasabah
Kr. Piutang Murabahah

4.12

162

Lanjutan Lampiran 1
Db. Marjin Murabahah ditangguhkan (jika masih ada)
Kr. Pendapatan marjin Murabahah
ii.

Pada saat pemberian potongan angsuran


Db. Beban potongan angsuran Murabahah
Kr. Kas/rekening nasabah

b.

Penurunan kemampuan pembayaran


i.

Pada saat penerimaan angsuran


Db. Kas/rekening nasabah
Kr. Piutang Murabahah
Db. Marjin Murabahah ditangguhkan (jika masih ada)
Kr. Pendapatan marjin Murabahah

ii.

Pada saat pemberian potongan angsuran


Db. Beban operasional
Kr. Kas/rekening nasabah

09. Pemberian potongan pelunasan dini:


a.

Jika pada saat penyelesaian


Bank

mengurangi

piutang

Murabahah

dan

keuntungan

Murabahah:
i.

Pada saat pemberian potongan pelunasan:


Db. Beban potongan angsuran Murabahah
Kr. Piutang Murabahah

ii.

Pada saat penerimaan pelunasan:


Db. Kas/rekening nasabah
Kr. Piutang Murabahah
Db. Marjin Murabahah ditangguhkan (jika masih ada)
Kr. Pendapatan marjin Murabahah

b.

Jika setelah penyelesaian,


Bank terlebih dulu menerima pelunasan piutang Murabahah
dari nasabah, kemudian Bank membayar potongan pelunasan
dini

Murabahah

kepada

nasabah

dengan

mengurangi

pendapatan Murabahah:
i.

Pada saat penerimaan pelunasan:


Db. Kas/rekening nasabah
Kr. Piutang Murabahah

4.13

163

Lanjutan Lampiran 1
Db. Marjin Murabahah ditangguhkan
Kr. Pendapatan marjin Murabahah
ii.

Pada saat memberi potongan pelunasan


Db. Beban potongan pelunasan
Kr. Kas/rekening nasabah

10. Pada saat penyelesaian piutang Murabahah melalui eksekusi agunan


a.

Pada saat eksekusi agunan


Db. Aset Yang Diambil Alih
Kr. Piutang Murabahah
Db. Marjin Murabahah yang ditangguhkan
Kr. Pendapatan yang ditangguhkan

b.

Pada saat penjualan agunan


i.

Apabila hasil penjualan agunan lebih besar dari kewajiban


nasabah
Db. Kas/rekening
Kr. Aset Yang Diambil Alih
Kr. Rekening nasabah
Db. Pendapatan yang ditangguhkan
Kr. Pendapatan Murabahah

ii.

Apabila hasil penjualan agunan lebih kecil dari kewajiban


nasabah
Db. Kas/rekening
Db. Tagihan kepada nasabah
Kr. Aset Yang Diambil Alih
Db. Pendapatan yang ditangguhkan
Kr. Pendapatan Murabahah

11. Penerimaan denda dari nasabah


Db. Kas/rekening
Kr. Rekening Dana Kebajikan
F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:

4.14

164

Lanjutan Lampiran 1
01. Rincian piutang Murabahah berdasarkan jumlah, jangka waktu, jenis
valuta, kualitas piutang, jenis penggunaan, sektor ekonomi dan
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai.
02. Jumlah piutang Murabahah yang diberikan kepada pihak yang
berelasi.
03. Kebijakan dan metode akuntansi untuk pengakuan pendapatan,
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai, penghapusan dan penanganan
piutang Murabahah yang bermasalah.
04. Besarnya piutang Murabahah baik yang dibebani sendiri oleh Bank
maupun secara bersama-sama dengan pihak lain sebesar bagian
pembiayaan Bank.

4.15

165

Lanjutan Lampiran 1
IV.2 ISTISHNA
A.

Definisi
01. Istishna adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan
barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang
disepakati antara pemesan (pembeli/ mustashni') dan penjual
(pembuat/shani').
02. Istishna paralel adalah suatu bentuk akad Istishna antara pemesan
(pembeli/mustashni) dengan penjual (pembuat/shani), kemudian
untuk

memenuhi

kewajibannya

kepada

mustashni,

penjual

memerlukan pihak lain sebagai shani.


03. Pembiayaan Istishna adalah Penyediaan dana dari Bank kepada
nasabah untuk membeli barang sesuai dengan pesanan nasabah
yang menegaskan harga belinya kepada pembeli (nasabah) dan
pembeli (nasabah) membayarnya dengan harga yang lebih sebagai
keuntungan Bank yang disepakati.
B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 104 tentang Akuntansi Istishna.

C.

Penjelasan
01. Spesifikasi dan harga barang pesanan dalam Istishna disepakati oleh
pembeli dan penjual di awal akad. Pada dasarnya harga barang tidak
dapat berubah selama jangka waktu akad, kecuali disepakati oleh
kedua belah pihak.
02. Barang pesanan harus diketahui karakteristiknya secara umum yang
meliputi: jenis, macam, kualitas dan kuantitasnya. Barang pesanan
harus sesuai dengan karakteristik yang telah disepakati antara
pembeli dan penjual. Jika barang pesanan yang dikirimkan salah
atau cacat maka penjual harus bertanggung jawab atas kelalaiannya.
03. Jika nasabah dalam akad Istishna tidak mewajibkan Bank untuk
membuat sendiri barang pesanan, maka untuk memenuhi kewajiban
pada akad pertama, Bank dapat mengadakan akad Istishna kedua
dengan pihak ketiga (pemasok). Akad Istishna kedua ini disebut

4.16

166

Lanjutan Lampiran 1
Istishna paralel. Dalam konteks Bank, piutang Istishna timbul dari
Istishna paralel.
04. Pada dasarnya akad

Istishna tidak dapat dibatalkan, kecuali

memenuhi kondisi:
a.

kedua belah pihak setuju untuk menghentikannya; dan

b.

akad batal demi hukum karena timbul kondisi hukum yang


dapat menghalangi pelaksanaan atau penyelesaian akad.

05. Mekanisme pembayaran Istishna harus disepakati dalam akad dan


dapat dilakukan dengan cara:
a.

Pembayaran dimuka secara keseluruhan atau sebagian setelah


akad namun sebelum pembuatan barang.

b.

Pembayaran saat penyerahan barang atau selama dalam proses


pembuatan barang. Cara pembayaran ini dimungkinkan adanya
pembayaran termin sesuai dengan progres pembuatan aset
Istishna.

c.

Pembayaran ditangguhkan setelah penyerahan barang.

d.

Kombinasi dari cara pembayaran di atas.

06. Metode pengakuan pendapatan Istishna dapat dilakukan dengan


menggunakan metode persentase penyelesaian dan metode akad
selesai. Pada metode persentase penyelesaian, Bank dapat mengakui
pendapatan Istishna sebesar proporsi penyelesaian barang pesanan.
Sedangkan, pada metode akad selesai, Bank

akan

mengakui

pendapatan Istishna pada saat barang telah diserahkan kepada


nasabah.
07. Jika estimasi penyelesaian akad dan biaya untuk penyelesaiannya
tidak dapat ditentukan secara rasional pada akhir periode Laporan
Keuangan, maka digunakan metode akad selesai dengan ketentuan
sebagai berikut:
a.

tidak ada pendapatan Istishna yang diakui sampai dengan


pekerjaan tersebut selesai;

b.

tidak ada harga pokok Istishna yang diakui sampai dengan


pekerjaan tersebut selesai;

c.

tidak ada bagian keuntungan yang diakui dalam Aktiva Istishna


Dalam Penyelesaian sampai dengan pekerjaan tersebut selesai;
dan

d.

pengakuan pendapatan Istishna, harga pokok Istishna, dan


keuntungan dilakukan hanya pada saat penyelesaian pekerjaan.
4.17

167

Lanjutan Lampiran 1
08. Pada pembiayaan Istishna, Bank melakukan pesanan barang kepada
supplier atas pesanan dari nasabah. Pendapatan yang diperoleh Bank
lebih disebabkan untuk aktivitas penyediaan fasilitas pendanaan
kepada nasabah, bukan dari aktivitas pembuatan barang pesanan.
09. Nasabah dapat membayar uang muka barang pesanan kepada Bank
sebelum barang diserahkan kepada nasabah dan Bank juga dapat
membayar uang muka barang pesanan kepada supplier.
10. Bank dapat menagih kepada nasabah atas barang pesanan yang
telah diserahkan dan supplier dapat menagih kepada Bank atas
barang pesanan yang telah diserahkan.
11. Selama barang pesanan masih dibuat, Bank akan menggunakan
rekening Aktiva Istishna Dalam Penyelesaian ketika melakukan
pembayaran kepada supplier dan menggunakan rekening Termin
Istishna ketika melakukan penagihan kepada nasabah.
12. Pengakuan pendapatan untuk transaksi Istishna menggunakan
metode

sebagaimana

pengakuan

pendapatan

pada

transaksi

murabahah.
13. Dalam hal nasabah mengalami tunggakan pembayaran angsuran,
Bank wajib membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai untuk
piutang Istishna sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam PSAK
yang terkait.
D.

Perlakuan Akuntansi

D1. Pengakuan dan Pengukuran


01. Uang muka pesanan nasabah yang diterima Bank diakui sebagai
uang muka Istishna sebesar uang yang diterima.
02. Uang muka yang dibayarkan Bank kepada supplier diakui sebagai
uang muka kepada pemasok sebesar uang yang diberikan dan diakui
sebagai Aktiva Istishna Dalam Penyelesaian pada saat barang
diserahkan oleh supplier.
03. Tagihan Bank kepada nasabah atas sebagian barang pesanan yang
telah diserahkan diakui sebagai piutang Istishna sebesar persentase
harga jual yang telah diselesaikan dan diakui sebagai Termin Istishna
sebesar persentase harga pokok yang telah diselesaikan.
04. Tagihan supplier kepada Bank atas sebagian barang pesanan yang
telah diselesaikan diakui sebagai Aktiva Istishna Dalam Penyelesaian
dan utang Istishna sebesar tagihan supplier.
4.18

168

Lanjutan Lampiran 1
05. Dalam hal Bank menggunakan metode persentase penyelesaian maka
Bank dapat mengakui pendapatan Istishna atas pembayaran yang
telah dilakukan nasabah sebesar persentase penyelesaian.
06. Pada saat barang pesanan telah diserahkan kepada nasabah, Bank
melakukan

jurnal

balik

atas

rekening

Aktiva

Istishna

Dalam

Penyelesaian dan Termin Istishna.


07. Utang

Istishna

yang

berasal

dari

transaksi

Istishna

yang

pembayarannya bersamaan dengan proses pembuatan aset Istishna:


a.

diakui pada saat diterima tagihan dari supplier kepada Bank


sebesar nilai tagihan.

b.

dihentikan-pengakuannya dari Laporan Keuangan pada saat


dilakukan pembayaran sebesar jumlah yang dibayar.

08. Uang muka Istishna yang berasal dari transaksi Istishna yang
pembayarannya dilakukan di muka secara penuh:
a.

diakui pada saat pembayaran harga barang diterima dari


nasabah sebesar jumlah yang diterima.

b.

dihentikan-pengakuannya dari Laporan Keuangan pada saat


dilakukan penyerahan barang kepada nasabah sebesar nilai
kontrak.

09. Jika nasabah membayar uang muka kepada Bank dalam proses
pembuatan aset Istishna maka penerimaan uang muka tersebut
diperlakukan sebagai pembayaran termin sebesar jumlah uang muka
yang dibayarkan.
D2. Penyajian
01. Uang muka Istishna disajikan sebagai liabilitas lainnya.
02. Uang muka kepada pemasok disajikan sebagai aset lainnya.
03. Utang Istishna disajikan sebesar tagihan dari pemasok yang belum
dilunasi.
04. Aktiva Istishna Dalam Penyelesaian disajikan sebesar dana yang
dibayarkan Bank kepada supplier.
05. Termin Istishna disajikan sebesar jumlah tagihan termin Bank
kepada nasabah.
06. Piutang Istishna disajikan sebesar jumlah yang belum dilunasi oleh
pembeli akhir.
07. Marjin Istishna ditangguhkan disajikan sebagai pos lawan piutang
murabahah.

4.19

169

Lanjutan Lampiran 1
08. Pendapatan marjin Istishna yang akan diterima disajikan sebagai
bagian dari aset lainnya pada saat nasabah tergolong performing.
Sedangkan,

apabila

nasabah

tergolong

non-performing

maka

pendapatan marjin Istishna yang akan diterima disajikan pada


rekening administratif.
09. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Istishna disajikan sebagai pos
lawan (contra account) piutang Istishna.
E.

Ilustrasi Jurnal
01. Penerimaan uang muka pesanan dari nasabah
Db. Kas/rekening
Kr. Uang muka Istishna
02. Penerimaan barang dari pemasok
a. Mekanisme uang muka
i. Pemberian uang muka
Db. Uang muka kepada pemasok
Kr. Kas/rekening
ii.Penerimaan sebagian barang pesanan dari pemasok
Db. Aset Istishna Dalam Penyelesaian
Kr. Uang Muka kepada pemasok
b. Mekanisme tagihan dari pemasok
i. Menerima tagihan dari pemasok
Db. Aset Istishna Dalam Penyelesaian
Kr. Utang Istishna
ii.Pembayaran kepada pemasok
Db. Utang Istishna
Kr. Kas/rekening
03. Penagihan termin kepada nasabah
Db. Piutang Istishna
Kr. Marjin Istishna ditangguhkan
Kr. Termin Istishna
04. Pembayaran oleh nasabah
Db. Kas
Kr. Piutang Istishna
Db. Marjin Istishna ditangguhkan
Kr. Pendapatan Istishna
4.20

170

Lanjutan Lampiran 1
05. Penyerahan barang kepada nasabah
Db. Termin Istishna
Kr. Aset Istishna Dalam Penyelesaian
06. Pada saat pengakuan pendapatan diakhir periode pelaporan (akru)
Db.Pendapatan marjin murabahah yang akan diterima
Kr. Pendapatan marjin murabahah
F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Rincian piutang Istishna berdasarkan jumlah, jangka waktu, jenis
valuta dan kualitas piutang dan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai
piutang Istishna.
02. Jumlah piutang murabahah yang diberikan kepada pihak yang
berelasi.
03. Kebijakan

akuntansi

yang

dipergunakan

dalam

pengakuan

pendapatan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai, penghapusan dan


penanganan piutang Istishna yang bermasalah.
04. Besarnya piutang Istishna baik yang dibiayai sendiri oleh Bank
maupun secara bersama-sama dengan pihak lain sebesar bagian
pembiayaan Bank.
05. Jumlah akumulasi biaya atas kontrak berjalan serta pendapatan dan
keuntungan sampai dengan akhir periode berjalan.
06. Jumlah sisa kontrak yang belum selesai menurut spesifikasi dan
syarat kontrak.
07. Klaim tambahan yang belum selesai dan semua denda yang bersifat
kontinjen sebagai akibat keterlambatan pengiriman barang.
08. Nilai kontrak Istishna paralel yang sedang berjalan serta rentang
periode pelaksanaannya.
09. Nilai kontrak Istishna yang telah ditandatangani Bank selama
periode berjalan tetapi belum dilaksanakan dan rentang periode
pelaksanaannya.
10. Rincian utang Istishna berdasarkan jumlah, tujuan (pemasok atau
nasabah), jangka waktu dan jenis mata uang.
11. Utang Istishna kepada nasabah yang merupakan pihak berelasi.
12. Jenis dan kuantitas barang pesanan.

4.21

171

Lanjutan Lampiran 1
IV.3. SALAM
A.

Definisi
Salam adalah akad jual beli barang pesanan (muslam fiih) dengan
pengiriman barang di kemudian hari oleh penjual (muslam illaihi) dan
pelunasannya dilakukan oleh pembeli pada saat akad disepakati sesuai
dengan syarat-syarat tertentu.

B.

Dasar Pengaturan
01.

C.

PSAK 103 tentang Akuntansi Salam.

Penjelasan
01.

Bank dapat bertindak sebagai pembeli dan atau penjual dalam suatu
transaksi Salam. Jika Bank bertindak sebagai pembeli maka Bank
melakukan transaksi Salam, dan jika Bank bertindak sebagai
penjual maka Bank akan memesan kepada pihak lain untuk
menyediakan barang pesanan dalam Salam paralel.

02.

Salam paralel dapat dilakukan dengan syarat:


a.

Akad kedua antara Bank dan pemasok terpisah dari akad


pertama antara Bank dan pembeli akhir; dan

b.
03.

Akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah.

Dalam hal Bank bertindak sebagai pembeli, Bank dapat meminta


jaminan kepada pemasok untuk menghindari risiko yang merugikan
Bank.

04.

Piutang Salam merupakan tagihan Bank kepada pemasok yang


harus diselesaikan dalam bentuk penyerahan barang, bukan
penerimaan dalam bentuk uang tunai. Piutang Salam timbul dari
penyerahan uang kepada pemasok senilai barang yang dipesan.

05.

Utang Salam merupakan kewajiban Bank yang harus diselesaikan


dalam bentuk penyerahan barang bukan pembayaran dalam bentuk
uang tunai kepada nasabah.

06.

Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati di awal akad oleh


nasabah dan Bank pada akad pertama atau Bank dengan pemasok
pada akad kedua. Ketentuan harga barang pesanan tidak dapat
berubah selama jangka waktu akad.

07.

Barang pesanan harus diketahui karakteristiknya secara umum


yang meliputi: jenis, macam, kualitas dan kuantitasnya.
4.22

172

Lanjutan Lampiran 1
08.

Barang pesanan harus sesuai dengan karakteristik yang telah


disepakati antara nasabah dan Bank atau Bank dan pemasok. Jika
barang pesanan yang dikirim salah atau cacat maka Bank atau
pemasok harus bertanggung jawab atas kelalaiannya.

09.

Jika Bank tidak menerima sebagian atau seluruh barang pesanan


pada tanggal jatuh tempo pengiriman, maka:
a. Tanggal jatuh tempo pengiriman dapat diperpanjang;
b. Akad Salam dapat dibatalkan sebagian atau seluruhnya; atau
c.

10.

Jaminan atas barang pesanan dapat dieksekusi.

Bank dapat mengenakan denda kepada pemasok. Denda hanya


boleh dikenakan kepada pemasok yang mampu menyelesaikan
kewajibannya, tetapi sengaja tidak melakukannya. Hal ini tidak
berlaku bagi pemasok yang tidak mampu menunaikan kewajibannya
karena force majeur. Denda dikenakan jika pemasok lalai dalam
melakukan kewajibannya sesuai dengan akad, dan denda yang
diterima diakui sebagai bagian dana kebajikan.

11.

Pendapatan Salam diperoleh dari selisih harga jual kepada nasabah


dan harga beli dari pemasok.

D.

Perlakuan Akuntansi

D1. Pengakuan dan Pengukuran


01.

Piutang Salam diakui pada saat penyerahan uang kepada pemasok


sebesar jumlah yang dibayarkan.

02.

Utang Salam diakui pada saat penerimaan uang dari nasabah


sebesar jumlah yang diterima.

03.

Dalam hal dilakukan perpanjangan jangka waktu pengiriman maka


nilai tercatat piutang Salam dicatat sebesar bagian yang belum
dipenuhi sesuai dengan nilai yang tercantum dalam akad.

04.

Dalam hal dilakukan pembatalan sebagian atau seluruh akad


Salam, maka piutang Salam berubah menjadi piutang qardh oleh
pemasok sebesar bagian yang tidak dapat dipenuhi.

05.

Dalam hal dilakukan eksekusi jaminan maka selisih antara nilai


tercatat piutang Salam dan hasil penjualan jaminan tersebut diakui
sebagai piutang kepada pemasok. Sebaliknya, jika hasil penjualan
jaminan tersebut lebih besar dari nilai tercatat piutang Salam maka
selisihnya menjadi hak pemasok.

4.23

173

Lanjutan Lampiran 1
06.

Pendapatan Salam diakui pada saat barang diserahkan kepada


nasabah sebesar selisih antara harga jual kepada nasabah dengan
harga beli dari pemasok.

D2. Penyajian
01. Piutang Salam disajikan sebesar jumlah tercatat.
02. Piutang Salam yang tidak dapat dipenuhi oleh pemasok dan pemasok
menyatakan tidak dapat memenuhi kewajibannya disajikan sebagai
piutang qardh.
03. Utang Salam disajikan sebesar jumlah tercatat.
E.

Ilustrasi Jurnal

E1. Bank Sebagai Pembeli


01.

Pada saat Bank menyerahkan uang kepada pemasok


Db. Piutang Salam
Kr. Kas/Rekening pemasok

02.

Pada saat Bank menerima barang dari pemasok


Db. Persediaan/aset Salam
Kr. Piutang Salam

03.

Pada saat pemasok tidak memenuhi kewajibannya


Db. Piutang qardh dari pemasok
Kr. Piutang Salam

04.

Jika Bank mengeksekusi jaminan atas akad Salam


a.

Penjualan jaminan dengan hasil lebih kecil dari piutang Salam


Db. Kas/kliring
Db. Piutang qardh (pemasok)
Kr. Piutang Salam

b.

Penjualan jaminan dengan hasil lebih besar dari piutang Salam


Db. Kas/kliring
Kr. Rekening pemasok
Kr. Piutang Salam

05. Pada saat pengenaan denda kepada pemasok


Db. Kas/Rekening
Kr. Rekening Dana Kebajikan
E2. Bank Sebagai Penjual
01.

Pada saat Bank menerima uang dari nasabah


Db. Kas/rekening nasabah
Kr. Utang Salam
4.24

174

Lanjutan Lampiran 1
02.

Pada saat Bank menyerahkan barang kepada nasabah


Db. Utang Salam
Kr. Persediaan/aset Salam
Kr. Pendapatan Salam

F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain:
01.

Rincian piutang Salam dan utang Salam berdasarkan jumlah, jangka


waktu, jenis valuta, jenis, dan kuantitas barang pesanan.

02.

Piutang Salam dari pemasok dan utang Salam kepada nasabah yang
merupakan pihak berelasi.

4.25

175

Lanjutan Lampiran 1
IV.4.
A.

PERSEDIAAN

Definisi
01.

Persediaan adalah aset yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan


usaha biasa dan:
a.

dijual dengan akad murabahah;

b.

disalurkan dalam akad salam atau salam paralel; dan/atau

c.

aset istishna yang telah selesai tetapi belum diserahkan Bank


kepada pembeli akhir.

B.

Dasar Pengaturan
01.

C.

PSAK 14 tentang Persediaan.

Penjelasan
01.

Bank memperoleh persediaan dengan akad murabahah, salam,


istishna dan atau akad lainnya.

02.

03.

Aset yang tidak termasuk dalam pengertian persediaan, adalah:


a.

Aset Istishna Dalam Penyelesaian;

b.

Aset tetap yang digunakan oleh Bank;

c.

Aset ijarah.

Termasuk dalam definisi persediaan adalah persediaan dalam


perjalanan yang memenuhi kriteria berikut:
a.

dalam transaksi pembelian dengan syarat penyerahan FOB


Shipping Point (franco gudang penjual).

b.

dalam transaksi penjualan dengan syarat penyerahan FOB


Destination Point (franco gudang pembeli).

04.

Biaya perolehan meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi dan


biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan
tempat yang siap untuk dijual atau dipakai.

05.

Persediaan diukur dengan menggunakan nilai terendah antara biaya


perolehan dan nilai realisasi neto. Nilai realisasi neto adalah estimasi
harga jual dalam kegiatan usaha dikurangi estimasi biaya yang
diperlukan untuk melakukan penjualan.

4.26

176

Lanjutan Lampiran 1

D.

Perlakuan Akuntansi

D1. Pengakuan dan Pengukuran


01.

Pada

saat

pengakuan

awal

persediaan

diakui

sebesar

biaya

perolehan.
02.

Pada akhir periode pelaporan persediaan diukur sebesar biaya


perolehan dan nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah.

D2. Penyajian
Persediaan disajikan sebesar biaya perolehan atau nilai realisasi neto,
mana yang lebih rendah.
E.

Ilustrasi Jurnal
01.

Pada saat perolehan:


Db. Persediaan
Kr. Kas/rekening pemasok/kliring

02.

Pada saat penurunan nilai:


Db. Kerugian penurunan nilai
Kr. Persediaan

03.

Pada saat pemulihan nilai:


Db. Persediaan
Kr. Keuntungan pemulihan nilai

F.

Pengungkapan
Hal-hal yang perlu diungkapkan, antara lain:
01.

Rincian saldo persediaan berdasarkan harga perolehan dan nilai


realisasi neto.

02.

Jumlah

dari

setiap

pemulihan

nilai

persediaan

dari

setiap

penurunan nilai persediaan yang diakui sebagai penghasilan selama


periode pemulihan tersebut.
03.

Kondisi

atau

peristiwa

penyebab

terjadinya

pemulihan

nilai

persediaan.

4.27

177

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN V AKAD BAGI HASIL


V.1 PEMBIAYAAN MUDHARABAH
A.

Definisi
01. Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana
pihak pertama (pemilik dana) menyediakan seluruh dana, sedangkan
pihak kedua (pengelola dana) bertindak selaku pengelola, dan
keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan sedangkan
kerugian finansial hanya ditanggung oleh pemilik dana.
02. Mudharabah muthlaqah adalah mudharabah dimana pemilik dana
memberikan kebebasan kepada pengelola dana dalam pengelolaan
investasinya.
03. Mudharabah muqayyadah adalah mudharabah dimana pemilik dana
memberikan batasan kepada pengelola dana, antara lain mengenai
tempat, cara dan atau obyek investasi.
04. Mudharabah musytarakah adalah bentuk

mudharabah dimana

pengelola dana menyertakan modal atau dananya dalam kerjasama


investasi.
B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 105 tentang Akuntansi Mudharabah.

C.

Penjelasan
01. Mudharabah terdiri dari dua jenis, yaitu Mudharabah muthlaqah dan
Mudharabah muqayyadah. Bagian ini membahas Bank sebagai
shahibul maal (pemilik dana) dalam pembiayaan Mudharabah baik
bersifat mutlaqah maupun muqayyadah.
02. Investasi

Mudharabah

yang

dilakukan

oleh

Bank

disebut

pembiayaan Mudharabah. Pada umumnya pembiayaan Mudharabah


yang dilakukan oleh Bank diberikan dalam bentuk kas yang
dilakukan secara bertahap atau sekaligus.
03. Pengembalian pembiayaan Mudharabah dapat dilakukan bersamaan
dengan distribusi bagi hasil atau pada saat diakhirinya akad
Mudharabah.
04. Bagi hasil Mudharabah dapat dilakukan dengan menggunakan dua
metode, yaitu bagi laba (profit sharing) atau bagi hasil (gross profit
5.1

178

Lanjutan Lampiran 1
margin atau dalam fatwa disebut net revenue sharing). Bagi laba
dihitung dari pendapatan setelah dikurangi dengan harga pokok dan
beban yang berkaitan dengan pengelolaan dana Mudharabah.
Sedangkan

bagi

hasil,

dihitung

dari

pendapatan

pengelolaan

Mudharabah dikurangi harga pokok.


Sebagai ilustrasi:
Penjualan

xxx

Beban pokok penjualan (xxx)


Pendapatan
Beban pengelolaan
Laba

xxx (gross profit margin/net revenue sharing)


(xxx)
xxx (profit sharing)

05. Dalam hal terjadi kerugian dalam usaha nasabah (pengelola dana),
Bank sebagai pemilik dana akan menanggung semua kerugian
sepanjang kerugian tersebut bukan disebabkan oleh kelalaian atau
kesalahan nasabah (pengelola dana).
06. Kelalaian atau kesalahan pengelola dana antara lain ditunjukkan
oleh:
a.

Tidak dipenuhinya persyaratan yang ditentukan di dalam akad;

b.

Tidak terdapat kondisi di luar kemampuan (force majeur) yang


lazim dan/atau yang telah ditentukan di dalam akad; atau

c.

Hasil putusan dari badan arbitrase atau pengadilan.

07. Pada

prinsipnya,

dalam

pembiayaan

mudharabah

tidak

dipersyaratkan adanya jaminan, namun agar tidak terjadi moral


hazard berupa penyimpangan oleh pengelola dana, pemilik dana
dapat meminta jaminan dari pengelola dana atau pihak ketiga.
Jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila pengelola dana terbukti
melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati
bersama dalam akad.
08. Pengakuan penghasilan usaha Mudharabah dalam praktik dapat
diketahui berdasarkan laporan bagi hasil atas penghasilan usaha
dari pengelola dana. Tidak diperkenankan mengakui pendapatan
dari proyeksi hasil usaha.

5.2

179

Lanjutan Lampiran 1
D.

Perlakuan Akuntansi

D.1 Pengakuan dan Pengukuran


01. Pembiayaan Mudharabah dalam bentuk kas diakui pada saat
pencairan sebesar jumlah uang yang diberikan Bank kepada
pengelola dana (nasabah).
02. Pembiayaan Mudharabah yang diberikan secara bertahap diakui
pada setiap tahap pembayaran.
03. Pembayaran kembali pembiayaan Mudharabah oleh pengelola dana
(nasabah) akan mengurangi pembiayaan Mudharabah.
04. Kerugian pembiayaan Mudharabah yang terjadi selama masa akad
diakui sebagai Cadangan Kerugian Penurunan Nilai pembiayaan
Mudharabah.
05. Keuntungan yang dihasilkan dari pembiayaan Mudharabah diakui
pada periode terjadinya hak bagi hasil berdasarkan laporan hasil
usaha yang disampaikan nasabah sesuai dengan nisbah yang
disepakati.
06. Keuntungan pembiayaan Mudharabah yang telah menjadi hak Bank
dan belum dibayarkan oleh nasabah diakui sebagai piutang bagi
hasil.
07. Pembiayaan Mudharabah yang diakhiri sebelum jatuh tempo atau
sudah berakhir dan belum diselesaikan oleh nasabah maka saldo
pembiayaan

Mudharabah

tetap

diakui

sebagai

pembiayaan

Mudharabah yang wajib diselesaikan oleh mudharib.


D.2 Penyajian
01.

Pembiayaan

Mudharabah

disajikan

sebesar

saldo

pembiayaan

Mudharabah nasabah kepada Bank.


02.

Piutang bagi hasil disajikan sebagai bagian dari aset lainnya pada
saat nasabah tergolong performing. Sedangkan, apabila nasabah
tergolong non-performing maka piutang bagi hasil disajikan pada
rekening administratif.

03.

Cadangan Kerugian Penurunan Nilai pembiayaan Mudharabah


disajikan

sebagai

pos

lawan

(contra

account)

pembiayaan

Mudharabah.
04.

Pembiayaan Mudharabah yang diakhiri sebelum jatuh tempo atau


sudah berakhir dan belum diselesaikan oleh nasabah tetap disajikan
sebagai bagian dari pembiayaan Mudharabah.

5.3

180

Lanjutan Lampiran 1
E.

Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat pemberiaan pembiayaan Mudharabah kepada mudharib
Db. Pembiayaan Mudharabah
Kr. Kas/rekening/kliring
02. Pada saat pengakuan keuntungan Mudharabah
Db. Piutang bagi hasil
Kr.

Pendapatan Mudharabah

03. Pada saat penerimaan keuntungan Mudharabah


Db. Kas/rekening/kliring
Kr.

Piutang bagi hasil

04. Pada saat pengakuan kerugian Mudharabah


Db. Beban Kerugian Penurunan Nilai pembiayaan Mudharabah
Kr. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai - pembiayaan Mudharabah
05. Pada saat pembayaran angsuran pokok
Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Pembiayaan Mudharabah
06. Pada saat pelunasan pembiayaan Mudharabah
Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Pembiayaan Mudharabah
F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Rincian jumlah pembiayaan Mudharabah berdasarkan sifat akad
(Mudharabah

mutlaqah

atau

Mudharabah

muqayadah),

jenis

penggunaan dan sektor ekonomi.


02. Klasifikasi pembiayaan mudharabah menurut jangka waktu (masa
akad), kualitas pembiayaan, valuta, Cadangan Kerugian Penurunan
Nilai dan tingkat bagi hasil rata-rata.
03. Jumlah dan persentase pembiayaan Mudharabah yang diberikan
kepada pihak-pihak berelasi.
04. Jumlah pembiayaan Mudharabah yang telah direstrukturisasi dan
informasi

lain

tentang

pembiayaan

Mudharabah

yang

dire-

pengendalian

risiko

strukturisasi selama periode berjalan.


05. Kebijakan

manajemen

dalam

pelaksanaan

portofolio pembiayaan Mudharabah.


06. Besarnya pembiayaan

Mudharabah

bermasalah dan

Cadangan

Kerugian Penurunan Nilai untuk setiap sektor ekonomi.


5.4

181

Lanjutan Lampiran 1
07. Kebijakan dan metode yang dipergunakan dalam penanganan
Mudharabah bermasalah.
08. Ikhtisar

pembiayaan

Mudharabah

yang

dihapus

buku

yang

menunjukkan saldo awal, penghapusan selama tahun berjalan,


penerimaan

atas

dihapusbukukan

pembiayaan
dan

pembiayaan

Mudharabah
Mudharabah

yang
yang

telah
telah

dihapustagih dan saldo akhir pembiayaan Mudharabah yang dihapus


buku.

5.5

182

Lanjutan Lampiran 1
V.2 PEMBIAYAAN MUSYARAKAH
A.

Definisi
01. Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih
untuk

suatu

usaha

tertentu,

dimana

masing-masing

pihak

memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan


dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan kerugian berdasarkan
porsi kontribusi dana berupa kas maupun aset non-kas yang
diperkenankan oleh Syariah.
02. Musyarakah permanen adalah Musyarakah dengan ketentuan bagian
dana setiap mitra ditentukan sesuai akad dan jumlahnya tetap
hingga akhir masa akad.
03. Musyarakah

menurun

(Musyarakah

muttanaqisah)

adalah

Musyarakah dengan ketentuan bagian dana pihak pertama akan


dialihkan secara bertahap kepada pihak kedua sehingga bagian dana
pihak pertama akan menurun dan pada akhir masa akad pihak
kedua tersebut akan menjadi pemilik penuh usaha tersebut.
04. Mitra aktif adalah mitra yang mengelola usaha Musyarakah, baik
mengelola sendiri atau menunjuk pihak lain atas nama mitra
tersebut.
05. Mitra

pasif

adalah

mitra

yang

tidak

ikut

mengelola

usaha

Musyarakah.
B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 106 tentang Akuntansi Musyarakah.

C.

Penjelasan
01. Musyarakah dapat berupa Musyarakah permanen dan Musyarakah
menurun (Musyarakah muttanaqisah).
02. Bank

dapat bertindak sebagai mitra aktif dan mitra pasif. Untuk

pembahasan ini Bank masih berperan sebagai mitra pasif.


03. Pada umumnya pembiayaan Musyarakah yang diberikan oleh Bank
dalam bentuk kas yang dilakukan secara bertahap atau sekaligus.
04. Keuntungan atau pendapatan Musyarakah dibagi di antara mitra
berdasarkan

nisbah

yang

disepakati,

sedangkan

kerugian

Musyarakah dibagi diantara mitra secara proporsional dengan modal


yang disetor.
5.6

183

Lanjutan Lampiran 1
05. Pengakuan penghasilan usaha Musyarakah dalam praktik dapat
diketahui berdasarkan laporan bagi hasil atas penghasilan usaha
dari mitra aktif. Tidak diperkenankan mengakui pendapatan dari
proyeksi hasil usaha.
06. Dalam pembiayaan Musyarakah setiap mitra tidak dapat menjamin
modal mitra lain, namun setiap mitra dapat meminta mitra lain
untuk menyediakan jaminan atas kelalaian atau kesalahan yang
disengaja.
07. Kelalaian atau kesalahan pengelola dana antara lain ditunjukkan
oleh:
a.

Tidak dipenuhinya persyaratan yang ditentukan di dalam akad.

b.

Tidak terdapat kondisi di luar kemampuan (force majeur) yang


lazim dan/atau yang telah ditentukan di dalam akad.

c.

Hasil putusan dari badan arbitrase atau pengadilan.

08. Dalam pembiayaan Musyarakah muttanaqisah, mitra dapat menyewa


aset yang menjadi dasar (underlying) pembiayaan Musyarakah. Hasil
sewa dari aset tersebut dibagihasilkan di antara mitra berdasarkan
nisbah yang disepakati.
D.

Perlakuan Akuntansi

D.1 Pengakuan dan Pengukuran


01. Pembiayaan Musyarakah dalam bentuk kas diakui pada saat
pencairan sebesar jumlah uang yang diberikan Bank.
02. Pembiayaan Musyarakah yang diberikan secara bertahap diakui
pada setiap tahap pembayaran.
03. Kerugian pembiayaan Musyarakah yang terjadi selama masa akad
diakui pada periode terjadinya secara proporsional sesuai dengan
kontribusi modal sebagai Cadangan Kerugian Penurunan Nilai
pembiayaan Musyarakah.
04. Keuntungan pembiayaan Musyarakah diakui pada periode terjadinya
hak bagi hasil berdasarkan laporan hasil usaha yang disampaikan
nasabah sesuai dengan nisbah yang disepakati.
05. Apabila dalam pembiayaan Musyarakah mengalami kerugian pada
periode sebelumnya, maka keuntungan yang diperoleh pada periode
tersebut harus dialokasikan terlebih dahulu untuk mengurangi
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai pembiayaan Musyarakah untuk

5.7

184

Lanjutan Lampiran 1
memulihkan

jumlah

tercatat

pembiayaan

Musyarakah

sampai

dengan nilai pembiayaan Musyarakah awal.


06. Keuntungan pembiayaan Musyarakah yang telah menjadi hak Bank
dan belum dibayarkan oleh nasabah diakui sebagai piutang bagi
hasil.
07. Apabila terjadi kerugian dalam Musyarakah akibat kelalaian atau
penyimpangan mitra Musyarakah, mitra yang melakukan kelalaian
tersebut menanggung beban kerugian tersebut. Kerugian Bank yang
diakibatkan kelalaian atau penyimpangan mitra aktif (nasabah) tetap
diakui sebagai pembiayaan Musyarakah.
08. Pembiayaan

Musyarakah

yang

sudah

berakhir

dan

belum

diselesaikan oleh mitra aktif (nasabah) maka saldo pembiayaan


Musyarakah tetap diakui sebagai pembiayaan Musyarakah yang
wajib diselesaikan oleh mitra aktif.
D.2 Penyajian
01. Pembiayaan Musyarakah

disajikan sebesar saldo pembiayaan

Musyarakah nasabah kepada Bank.


02. Piutang bagi hasil disajikan sebagai bagian dari aset lainnya pada
saat nasabah tergolong performing. Sedangkan, apabila nasabah
tergolong non-performing maka piutang bagi hasil disajikan pada
rekening administratif.
03. Cadangan
disajikan

Kerugian
sebagai

Penurunan
pos

lawan

Nilai

pembiayaan

(contra

account)

Musyarakah
pembiayaan

Musyarakah.
04. Tagihan kepada mitra aktif yang disebabkan akibat kelalaian atau
penyimpangan mitra aktif (nasabah) disajikan sebagai bagian dari
pembiayaan Musyarakah.
05. Pembiayaan Musyarakah yang diakhiri sebelum jatuh tempo atau
sudah berakhir dan belum diselesaikan oleh nasabah tetap disajikan
sebagai bagian dari pembiayaan Musyarakah.
E.

Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat Bank membayarkan modal tunai kepada mitra (nasabah)
Db. Pembiayaan Musyarakah
Kr. Kas/rekening/kliring
02. Pada saat pengakuan keuntungan Musyarakah
Db. Piutang bagi hasil
5.8

185

Lanjutan Lampiran 1
Kr. Pendapatan Musyarakah
03. Pada saat penerimaan keuntungan Musyarakah
Db. Kas/rekening/kliring
Kr.

Piutang bagi hasil

04. Pada saat pengakuan kerugian Musyarakah


Db. Beban Kerugian Penurunan Nilai pembiayaan Musyarakah
Kr. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai - pembiayaan Musyarakah
05. Pada saat pengakuan keuntungan setelah terjadi kerugian pada
periode sebelumnya
a. Memulihkan kerugian periode sebelumnya
Db.

Cadangan

Kerugian

Penurunan

Nilai

pembiayaan

Musyarakah
Kr.

Beban Kerugian Penurunan Nilai pembiayaan Musyarakah

b. Pengakuan kelebihan keuntungan atas kerugian


Db.

Piutang bagi hasil

Kr.

Pendapatan Musyarakah

06. Pada

saat

pembayaran

angsuran

pokok

untuk

Musyarakah

muttanaqisah
Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Pembiayaan Musyarakah
07. Pada

saat

terjadi

kerugian

yang

disebabkan

kelalaian

atau

penyimpangan mitra aktif (nasabah)


Db. Piutang kepada mitra aktif (nasabah)
Kr. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai - pembiayaan Musyarakah
08. Pada saat pengalihan modal kepada mitra aktif (nasabah)
Db. Kas/rekening
Kr. Pembiayaan Musyarakah
F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Rincian jumlah pembiayaan Musyarakah berdasarkan modal mitra,
jenis valuta, jenis penggunaan, sektor ekonomi, status bank dalam
pembiayaan Musyarakah (mitra pasif), dan mitra aktif (jika mitra
aktif bukan berasal dari salah satu mitra Musyarakah).
02. Klasifikasi pembiayaan Musyarakah menurut jangka waktu akad
pembiayaan, kualitas pembiayaan, dan tingkat bagi hasil rata-rata.

5.9

186

Lanjutan Lampiran 1
03. Jumlah dan persentase pembiayaan Musyarakah yang diberikan
kepada pihak-pihak berelasi.
04. Jumlah

dan

persentase

pembiayaan

Musyarakah

yang

telah

direstrukturisasi dan informasi lain tentang pembiayaan Musyarakah


yang direstrukturisasi selama periode berjalan.
05. Kebijakan

manajemen

dalam

pelaksanaan

pengendalian

risiko

portofolio pembiayaan Musyarakah.


06. Besarnya pembiayaan Musyarakah bermasalah dan

Cadangan

Kerugian Penurunan Nilai untuk setiap sektor ekonomi.


07. Kebijakan dan metode yang dipergunakan dalam penanganan
Musyarakah bermasalah.
08. Ikhtisar

pembiayaan

Musyarakah

yang

dihapus

buku

yang

menunjukkan saldo awal, penghapusan selama tahun berjalan,


penerimaan

atas

dihapusbukukan

pembiayaan
dan

pembiayaan

Musyarakah
Musyarakah

yang
yang

telah
telah

dihapustagih dan saldo akhir pembiayaan Musyarakah yang dihapus


buku.

5.10

187

Lanjutan Lampiran 1
V.3 DANA SYIRKAH TEMPORER
A.

Definisi
Dana syirkah temporer adalah dana yang diterima sebagai investasi
dengan jangka waktu tertentu dari individu dan pihak lain dimana bank
mempunyai hak untuk mengelola dan menginvestasikan dana tersebut
dengan pembagian hasil investasi berdasarkan kesepakatan.

B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 105 tentang Akuntansi Mudharabah.
02. PSAK 106 tentang Akuntansi Musyarakah.

C.

Penjelasan
01. Dana syirkah temporer adalah dana yang diterima oleh Bank dimana
Bank mempunyai hak untuk mengelola dan menginvestasikan dana,
baik sesuai dengan kebijakan Bank atau kebijakan pembatasan dari
pemilik

dana,

kesepakatan.
disebabkan

dengan
Dalam

kerugian

keuntungan

hal

dana

normal

dibagikan

syirkah

yang

bukan

sesuai

temporer
akibat

dengan

berkurang
dari

unsur

kesalahan yang disengaja, kelalaian, atau pelanggaran kesepakatan,


maka Bank tidak berkewajiban atau menutup kerugian atau
kekurangan dana tersebut.
02. Contoh dari dana syirkah temporer adalah penerimaan dana dari
investasi

mudharabah

muthlaqah,

mudharabah

muqayyadah,

musyarakah, dan akun lain yang sejenis.


03. Hubungan antara Bank dan pemilik dana merupakan hubungan
kemitraan berdasarkan akad mudharabah muthlaqah, mudharabah
muqayyadah

atau

musyarakah.

Bank

mempunyai hak untuk

mengelola dan menginvestasikan dana yang diterima dengan atau


tanpa batasan seperti mengenai tempat, cara, atau obyek investasi.
04. Pemilik

dana

memperoleh

bagian

atas

keuntungan

sesuai

kesepakatan dan menerima kerugian berdasarkan jumlah dana dari


masing-masing pihak. Pembagian hasil dana syirkah temporer dapat
dilakukan dengan:
a.

Konsep bagi laba (profit sharing), atau

b.

Konsep bagi hasil (gross profit margin atau dalam fatwa disebut
net revenue sharing).

5.11

188

Lanjutan Lampiran 1
05. Untuk Bank yang menggunakan metode bagi laba (profit sharing)
dalam akad mudharabah, jika usaha Bank atas pengelolaan dana
nasabah (pemilik dana, shahibul maal) mengalami kerugian maka
seluruh kerugian ditanggung oleh nasabah (pemilik dana, shahibul
maal), kecuali jika ditemukan adanya kelalaian atau kesalahan Bank
sebagai pengelola dana (mudharib).
06. Untuk Bank yang menggunakan metode bagi hasil (gross profit
margin atau dalam fatwa disebut net revenue sharing), maka nasabah
(pemilik dana, shahibul maal) tidak akan kehilangan nilai awal
investasinya, kecuali Bank dilikuidasi dengan kondisi realisasi aset
lebih kecil dari liabilitas.
07. Kelalaian atau kesalahan Bank sebagai pengelola dana, antara lain,
ditunjukkan oleh:
a.

Tidak dipenuhinya persyaratan yang ditentukan di dalam akad;

b.

Tidak terdapat kondisi di luar kemampuan (force majeur) yang


lazim dan/atau yang telah ditentukan di dalam akad; atau

c.

Hasil putusan dari badan arbitrase atau pengadilan

08. Dana syirkah temporer terdiri dari dana mudharabah dalam hal
Bank sebagai pengelola dana (mudharib) dan musyarakah dalam hal
Bank sebagai mitra aktif.
09. Mudharabah dibedakan berdasarkan pembatasan penggunaan dana
menjadi mudharabah mutlaqah dan mudharabah muqayadah.
10. Jenis produk penghimpunan dana mudharabah, antara lain:
a.

Tabungan mudharabah adalah dana mudharabah pada Bank


yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat
tertentu yang disepakati.

b.

Deposito mudharabah adalah dana mudharabah pada Bank


yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu
dengan pembagian hasil sesuai dengan nisbah yang telah
disepakati di muka antara nasabah (pemilik dana, shahibul
maal) dengan Bank yang bersangkutan.

D.

Perlakuan Akuntansi

D.1 Pengakuan dan Pengukuran


01. Dana mudharabah dari pemilik dana diakui pada saat diterima
sebesar jumlah yang diterima.

5.12

189

Lanjutan Lampiran 1

02. Bagi hasil dana mudharabah diberikan sesuai nisbah yang disepakati
pada awal akad.
03. Dana musyarakah dari nasabah (mitra pasif) diakui pada saat
diterima sebesar jumlah yang diterima.
04. Bagi hasil dana musyarakah diberikan sesuai nisbah yang disepakati
pada awal akad.
D.2 Penyajian
01. Dana mudharabah disajikan sebagai dana syirkah temporer dengan
memisahkan antara:
a.

dana mudharabah yang berasal dari Bank;

b.

dana mudharabah yang berasal dari bukan Bank.

02. Bagi hasil dana mudharabah yang sudah diperhitungkan dan telah
jatuh tempo tetapi belum diserahkan kepada nasabah disajikan
dalam pos kewajiban segera.
03. Bagi hasil dana mudharabah yang sudah diperhitungkan pada akhir
periode tetapi belum jatuh tempo disajikan dalam pos bagi hasil yang
belum dibagikan.
04. Dana musyarakah disajikan sebagai dana syirkah temporer dalam
neraca dengan memisahkan antara:
a.

dana musyarakah yang berasal dari Bank;

b.

dana musyarakah yang berasal dari bukan Bank.

05. Bagi hasil dana musyarakah yang sudah diperhitungkan dan telah
jatuh tempo tetapi belum diserahkan kepada nasabah disajikan
dalam pos kewajiban segera.
06. Bagi hasil dana musyarakah yang sudah diperhitungkan pada akhir
periode tetapi belum jatuh tempo disajikan dalam pos bagi hasil yang
belum dibagikan.
E.

Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat penerimaan setoran:
Db. Kas/kliring
Kr. Dana syirkah temporer-tabungan/deposito mudharabah
02. Pada saat penarikan tabungan:
Db. Dana syirkah temporer-tabungan/deposito mudharabah
Kr. Kas/pemindahbukuan/kliring
03. Pada saat dilakukan perhitungan bagi hasil:
Db. Bagian pihak ketiga atas pendapatan
5.13

190

Lanjutan Lampiran 1
Kr. Bagi hasil yang belum dibagikan
04. Pada saat pembayaran bagi hasil:
Db. Bagi hasil yang belum dibagikan
Kr. Kas/rekening/kliring
05. Pada saat deposito mudharabah jatuh tempo:
Db. Dana syirkah temporer-deposito mudharabah
Kr. Kas/rekening/kliring
F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Isi kesepakatan utama akad mudharabah:
a.

porsi dana;

b.

pembagian hasil usaha.

02. Rincian dana mudharabah yang diterima berdasarkan:


a.

b.

c.

Jenis mudharabah
i.

mudharabah mutlaqah;

ii.

mudharabah muqayadah.

Pemilik dana mudharabah


i.

Bank;

ii.

bukan Bank.

Jenis mata uang dana mudharabah:


i.

Rupiah;

ii.

valuta asing.

03. Rincian dana mudharabah yang disalurkan berdasarkan:


a.

b.

c.

Sumber dana mudharabah yang berasal dari:


i.

mudharabah mutlaqah;

ii.

mudharabah muqayadah.

Penerima dana mudharabah:


i.

Bank;

ii.

bukan Bank Syariah.

Jenis mata uang yang digunakan:


i.

Rupiah;

ii.

valuta asing.

04. Penjelasan mengenai kebijakan penyaluran dana mudharabah.


05. Pihak-pihak yang berelasi, baik nasabah (pemilik dana, shahibul
maal) atau nasabah penerima penyaluran dana mudharabah.

5.14

191

Lanjutan Lampiran 1
06. Jumlah simpanan yang diblokir untuk tujuan tertentu antara lain
sebagai jaminan pembiayaan dan atau transaksi perbankan syariah
lainnya.

5.15

192

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN VI AKAD SEWA


VI.1 IJARAH ATAS ASET BERWUJUD
A.

Definisi
01. Ijarah adalah akad pemindahan hak guna/manfaat atas suatu aset
dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah) tanpa diikuti
dengan pemindahan kepemilikan aset itu sendiri.
02. Ijarah muntahiyah bittamlik adalah Ijarah dengan waad perpindahan
kepemilikan obyek Ijarah pada saat tertentu.
03. Obyek Ijarah adalah manfaat dari penggunaan aset berwujud atau
aset tidak berwujud.
04. Umur manfaat adalah suatu periode dimana aset diharapkan akan
digunakan atau jumlah produksi/unit serupa yang diharapkan akan
diperoleh dari aset.
05. Waad adalah janji dari satu pihak kepada pihak lain untuk
melaksanakan suatu transaksi.

B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 107 tentang Akuntansi Ijarah.
02. PSAK 16 tentang Aset Tetap.
03. PSAK 48 tentang Penurunan Nilai Aset.

C.

Penjelasan
01. Ijarah merupakan akad sewa-menyewa suatu aset Ijarah tanpa
adanya perpindahan risiko dan manfaat yang signifikan terkait
kepemilikan aset tersebut, dengan atau tanpa adanya opsi untuk
memindahkan

kepemilikan

dari

pemilik

(Bank)

kepada

penyewa/nasabah pada saat tertentu.


02. Pada umumnya transaksi Ijarah muntahiyah bittamlik muncul
karena adanya kebutuhan untuk memiliki aset tertentu, dimana
pemenuhan kebutuhan atas aset tersebut dipenuhi melalui akad
Ijarah.
03. Bank

dapat

meminta

penyewa/nasabah

untuk

menyerahkan

jaminan atas Ijarah untuk menghindari risiko kerugian.


04. Jumlah, ukuran, dan jenis aset Ijarah harus jelas diketahui dan
tercantum dalam akad.
6.1

193

Lanjutan Lampiran 1
05. Biaya

perbaikan

aset

Ijarah

merupakan

tanggungan

pemilik.

Perbaikan tersebut dapat dilakukan oleh pemilik secara langsung


atau dilakukan oleh penyewa atas persetujuan pemilik.
06. Dalam

transaksi

Ijarah

muntahiyah

bittamlik,

perpindahan

kepemilikan suatu aset dari Bank kepada nasabah dapat dilakukan


jika aktivitas penyewaan telah berakhir atau diakhiri dan aset Ijarah
telah diserahkan kepada nasabah dengan membuat akad terpisah
secara:
a.

hibah;

b.

penjualan sebelum akad berakhir;

c.

penjualan pada akhir masa Ijarah;

d.

Penjualan secara bertahap apabila objeknya bisa dipindahkan


secara bertahap.

07. Dalam transaksi jual dan Ijarah-balik (sale and leaseback) harus
merupakan transaksi yang terpisah dan tidak saling bergantung
(taalluq) sehingga harga jual harus dilakukan pada nilai wajar.
08. Dalam transaksi Ijarah dan Ijarah-lanjut (lease and sublease),
pembayaran untuk sewa di muka merupakan aset Ijarah.
09. Biaya

perolehan

aset

Ijarah

mengacu

pada

ketentuan

biaya

perolehan aset tetap di PSAK 16 tentang Aset Tetap.


10. Metode penyusutan, umur manfaat, dan nilai residu dari aset Ijarah
mengacu pada penyusutan aset tetap yang serupa sebagaimana
diatur di PSAK 16 tentang Aset tetap. Umur manfaat aset Ijarah pada
Ijarah muntahiyah bittamlik sesuai dengan masa akad Ijarah.
11. Kebijakan

penyusutan

mencerminkan

pola

atau

konsumsi

amortisasi

yang

yang diharapkan

dipilih
dari

harus
manfaat

ekonomi di masa depan dari obyek Ijarah. Umur ekomonis dapat


berbeda dengan umur teknis. Misalnya, mobil yang dapat dipakai
selama 10 tahun diijarahkan dengan akad ijarah muntahiyah
bittamlik selama 5 tahun. Dengan demikian umur ekonomisnya
adalah 5 tahun.
12. Bank harus melakukan uji penurunan nilai atas aset Ijarah yang
dimiliki secara periodik berdasarkan nilai wajar. Dalam hal terjadi
penurunan nilai, maka Bank wajib membentuk cadangan kerugian
nilai atas aset Ijarah.
13. Apabila terdapat pemulihan nilai atas aset Ijarah yang telah
mengalami penurunan nilai, maka Bank dapat memulihkan aset
6.2

194

Lanjutan Lampiran 1
Ijarah pada nilai bukunya atau nilai yang dapat diperoleh kembali
(recoverable amount), yaitu jumlah yang dapat diperoleh dari
penjualan aset dalam transaksi antarpihak yang bebas (arms length
transaction), setelah dikurangi biaya yang terkait (net selling price).
14. Piutang pendapatan sewa atas porsi pokok dibentuk Cadangan
Kerugian Penurunan Nilai sesuai dengan ketentuan yang diatur
dalam PSAK yang terkait.
15. Dalam bagian ini hanya mencakup Bank sebagai pemilik obyek sewa
(lessor) dalam transaksi beli dan Ijarah, beli dan Ijarah-balik, dan
Ijarah dan Ijarah-lanjut.
D.

Perlakuan Akuntansi

D.1 Pengakuan dan Pengukuran


01. Aset Ijarah diakui pada saat diperoleh sebesar biaya perolehan.
02. Pendapatan sewa diakui selama masa akad Bank dengan nasabah.
03. Aset Ijarah disusutkan sesuai kebijakan penyusutan aktiva sejenis
sedangkan aset Ijarah dalam Ijarah muntahiyah bittamlik disusutkan
sesuai masa sewa.
04. Biaya perbaikan aset Ijarah, baik yang dilakukan oleh pemilik
maupun yang dilakukan oleh nasabah dengan persetujuan pemilik
dan biaya tersebut dibebankan kepada pemilik, diakui sebagai beban
Ijarah.
05. Biaya perbaikan aset Ijarah muntahiyah bittamlik melalui penjualan
secara bertahap sebanding dengan bagian kepemilikan masingmasing.
06. Pada saat terjadi penurunan nilai aset Ijarah, Bank mengakui
sebagai kerugian penurunan nilai aset sebesar selisih antara nilai
buku dengan nilai wajar aset Ijarah.
07. Jika berdasarkan evaluasi secara periodik diketahui bahwa jumlah
penurunan nilai berkurang, maka Bank dapat memulihkan kerugian
penurunan nilai yang telah diakui, paling tinggi sebesar Cadangan
Kerugian Penurunan Nilai yang telah dibentuk.
08. Perpindahan kepemilikan aset Ijarah dari Bank kepada nasabah,
dalam Ijarah muntahiyah bittamlik dengan cara:
a.

hibah, maka jumlah tercatat aset Ijarah yang dihibahkan diakui


sebagai beban.

6.3

195

Lanjutan Lampiran 1
b.

penjualan sebelum berakhirnya masa Ijarah, maka selisih


antara harga jual dan jumlah tercatat aset Ijarah diakui sebagai
keuntungan atau kerugian.

c.

penjualan setelah selesainya masa Ijarah, maka selisih antara


harga

jual

dan

jumlah

tercatat

Ijarah

diakui

sebagai

keuntungan atau kerugian.


d.

penjualan secara bertahap, maka:


i. selisih antara harga jual dan jumlah tercatat sebagian objek
Ijarah yang telah dijual diakui sebagai keuntungan atau
kerugian; sedangkan
ii. bagian objek Ijarah yang tidak dibeli penyewa diakui sebagai
aset tidak lancar atau aset lancar sesuai dengan tujuan
penggunaan aset tersebut.

09. Dalam hal Bank melakukan transaksi Ijarah-lanjut, maka aset Ijarah
diamortisasi selama masa Ijarah antara Bank dengan pemilik aset.
10. Bank wajib membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai untuk
piutang pendapatan sewa sebesar porsi pokok sewa yang tertunda
sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam PSAK yang terkait.
D.2 Penyajian
01. Objek sewa yang diperoleh Bank disajikan sebagai aset Ijarah.
02. Akumulasi

penyusutan/amortisasi

dan

Cadangan

Kerugian

Penurunan Nilai dari aset Ijarah disajikan sebagai pos lawan aset
Ijarah.
03. Porsi pokok atas pendapatan sewa yang belum dibayar disajikan
sebagai piutang sewa.
04. Porsi ujrah atas pendapatan sewa yang belum dibayar disajikan
sebagai pendapatan sewa yang akan diterima yang merupakan
bagian dari aset lainnya pada saat nasabah tergolong performing.
Sedangkan,

apabila

nasabah

tergolong

non-performing

maka

pendapatan sewa yang akan diterima disajikan pada rekening


administratif.
05. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas piutang sewa disajikan
sebagai pos lawan (contra account) piutang Ijarah.
06. Beban

penyusutan/amortisasi

aset

Ijarah

disajikan

sebagai

pengurang pendapatan Ijarah pada laporan laba rugi.

6.4

196

Lanjutan Lampiran 1
E.

Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat perolehan aset Ijarah
Db. Aset Ijarah
Kr. Kas/rekening
02. Pada saat pengakuan pendapatan Ijarah pada tanggal laporan
Db. Piutang sewa (porsi pokok)
Db. Piutang pendapatan sewa (porsi ujrah)
Kr. Pendapatan Ijarah
03. Pada saat pengakuan penyusutan/amortisasi pada tanggal laporan
Db. Beban penyusutan
Kr. Akumulasi penyusutan
04. Pada saat penerimaan sewa dari nasabah
Dr. Kas/rekening
Kr. Piutang sewa (porsi pokok)
Kr. Piutang pendapatan sewa (porsi ujrah)
05. Pada saat terjadi biaya perbaikan
Db. Beban perbaikan
Kr. Kas/rekening
06. Pada saat terjadi tunggakan pembayaran sewa
a.

nasabah masih tergolong performing


Db. Piutang sewa (porsi pokok)
Db. Piutang pendapatan sewa (porsi ujrah)
Kr. Pendapatan Ijarah

b.

nasabah tergolong non-performing


i.

dilakukan jurnal balik pendapatan sewa


Db. Pendapatan Ijarah
Kr. Piutang pendapatan sewa (porsi ujrah)

ii.

pengakuan atas porsi pokok sewa


Db. Piutang sewa (porsi pokok)
Kr. Pendapatan Ijarah

07. Pada saat pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas


piutang sewa
Db. Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan piutang sewa
Kr. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset keuangan piutang
sewa

6.5

197

Lanjutan Lampiran 1
08. Pada saat pemulihan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas
piutang sewa
Db. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset keuangan piutang
sewa
Kr. Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan piutang sewa
/ Keuntungan pemulihan nilai piutang sewa
09. Pada saat terjadi penurunan nilai aset Ijarah
Db. Beban kerugian penurunan nilai aset Ijarah
Kr. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset Ijarah
10. Pada saat terjadi pemulihan nilai aset Ijarah
Db. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset Ijarah
Kr. Beban kerugian penurunan nilai aset Ijarah/ Keuntungan
pemulihan nilai aset Ijarah
11. Pada saat pengalihan aset Ijarah
a.

Melalui hibah
Db. Akumulasi penyusutan/amortisasi
Db. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset Ijarah
Db. Beban kerugian
Kr. Aset Ijarah

b.

F.

Melalui penjualan
Db.

Kas/rekening

Db.

Akumulasi penyusutan/amortisasi

Db.

Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset Ijarah

Db/Kr.

Kerugian/keuntungan

Kr.

Aset Ijarah

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Sumber dana yang digunakan dalam pembiayaan Ijarah.
02. Jumlah piutang cicilan Ijarah yang akan jatuh tempo hingga dua
tahun terakhir.
03. Jumlah obyek sewa berdasarkan jenis transaksi (Ijarah dan Ijarah
muntahiyah bittamlik), jenis aset dan akumulasi penyusutannya
serta Cadangan Kerugian Penurunan Nilai jika ada, apabila Bank
sebagai pemilik obyek sewa.

6.6

198

Lanjutan Lampiran 1
04. Komitmen yang berhubungan dengan perjanjian Ijarah muntahiyah
bittamlik yang berlaku efektif pada periode Laporan Keuangan
berikutnya.
05. Kebijakan akuntansi yang digunakan atas transaksi Ijarah dan Ijarah
muntahiyyah bittamlik.
06. Transaksi dan saldo dengan pihak-pihak yang berelasi.

6.7

199

Lanjutan Lampiran 1
VI.2 IJARAH ATAS JASA
A.

Definisi
Ijarah atas jasa adalah Ijarah dimana obyek Ijarah adalah manfaat yang
bukan berasal dari aset berwujud.

B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 107 tentang Akuntansi Ijarah.

C.

Penjelasan
01. Transaksi Ijarah atas jasa dikenal dengan istilah pembiayaan
multijasa.
02. Manfaat (jasa) yang bisa di-Ijarah-kan, antara lain, jasa pendidikan,
jasa kesehatan, dan jasa pariwisata rohani.
03. Dalam melakukan transaksi multijasa, Bank melakukan akad Ijarah
dengan pihak pemasok dan kemudian melakukan akad Ijarah lebih
lanjut dengan nasabah.
04. Perolehan aset Ijarah atas jasa diamortisasi sesuai dengan jangka
waktu akad Ijarah Bank dengan pemasok.
05. Perlakuan akuntansi transaksi multijasa mengikuti akuntansi untuk
Ijarah dengan skema sewa dan sewa-lanjut.

D.

Perlakuan Akuntansi

D.1 Pengakuan dan Pengukuran


01. Perolehan aset Ijarah atas jasa diakui sebagai aset Ijarah pada saat
perolehan hak atas jasa sebesar biaya yang terjadi.
02. Pendapatan Ijarah diakui selama masa akad Bank dengan nasabah.
03. Amortisasi atas perolehan aset Ijarah diakui sebagai beban Ijarah.
04. Bank wajib membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai untuk
piutang pendapatan multijasa sebesar porsi pokok sewa yang
tertunda sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam PSAK yang
terkait.
D.2 Penyajian
01. Perolehan atas jasa disajikan sebagai bagian aset Ijarah dan
disajikan terpisah dari aset Ijarah lain.
02. Amortisasi atas perolehan aset Ijarah disajikan sebagai pos lawan
dari aset Ijarah.
6.8

200

Lanjutan Lampiran 1
03. Porsi pokok atas pendapatan sewa multijasa yang belum dibayar
disajikan sebagai piutang sewa.
04. Porsi ujrah atas pendapatan sewa multijasa yang belum dibayar
disajikan sebagai pendapatan sewa multijasa yang akan diterima
yang merupakan bagian dari aset lainnya pada saat nasabah
tergolong performing. Sedangkan, apabila nasabah tergolong nonperforming maka pendapatan sewa multijasa yang akan diterima
disajikan pada rekening administratif.
05. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas piutang sewa disajikan
sebagai pos lawan (contra account) piutang sewa.
06. Beban

amortisasi

aset

Ijarah

disajikan

sebagai

pengurang

pendapatan Ijarah pada laporan laba rugi.


E.

Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat perolehan jasa
Db. Aset Ijarah
Kr. Kas/rekening
02. Pada saat pengakuan pendapatan Ijarah pada tanggal laporan
Db. Piutang sewa (porsi pokok)
Db. Piutang pendapatan sewa multijasa (porsi ujrah)
Kr. Pendapatan Ijarah
03. Pada saat pengakuan amortisasi pada tanggal laporan
Db. Beban amortisasi
Kr. Akumulasi amortisasi
04. Pada saat penerimaan sewa dari nasabah
Dr. Kas/rekening
Kr. Piutang sewa (porsi pokok)
Kr. Piutang pendapatan sewa multijasa (porsi ujrah)
05. Pada saat penerimaan sewa dari nasabah
Dr. Kas/rekening
Kr. Piutang sewa (porsi pokok)
Kr. Piutang pendapatan sewa multijasa (porsi ujrah)
06. Pada saat terjadi tunggakan pembayaran sewa
a.

nasabah masih tergolong performing


Db. Piutang sewa (porsi pokok)
Db. Piutang pendapatan sewa multijasa (porsi ujrah)
Kr. Pendapatan Ijarah
6.9

201

Lanjutan Lampiran 1
b.

nasabah tergolong non-performing


i.

dilakukan jurnal balik pendapatan sewa


Db. Pendapatan Ijarah
Kr. Piutang pendapatan sewa multijasa (porsi ujrah)

ii.

pengakuan atas porsi pokok sewa


Db.

Piutang sewa (porsi pokok)

Kr. Pendapatan Ijarah


07. Pada saat pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas
piutang sewa
Db. Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan piutang sewa
Kr. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset keuangan piutang
sewa
08. Pada saat pemulihan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas
piutang sewa
Db. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset keuangan piutang
sewa
Kr. Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan piutang sewa
/ Keuntungan pemulihan nilai piutang sewa
F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Sumber dana yang digunakan dalam pembiayaan Ijarah.
02. Rincian perolehan atas jasa berdasarkan jenis.
03. Jumlah piutang cicilan Ijarah yang akan jatuh tempo hingga dua
tahun terakhir.
04. Transaksi dan saldo dengan pihak-pihak yang berelasi.

6.10

202

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN VII AKAD PINJAMAN QARDH


VII.1
A.

PINJAMAN QARDH YANG DIBERIKAN

Definisi
Pinjaman Qardh yang diberikan adalah penyediaan dana atau tagihan
yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau
kesepakatan antara peminjam dan pihak yang meminjamkan yang
mewajibkan

peminjam

melunasi

hutangnya

setelah

jangka

waktu

tertentu.
B.

Dasar Pengaturan
01. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
Syariah.

C.

Penjelasan
01. Pinjaman Qardh yang diberikan merupakan pinjaman yang tidak
mempersyaratkan adanya imbalan.
02. Akad Qardh dalam Lembaga Keuangan Syariah terdiri dari dua
macam:
a. Akad Qardh yang berdiri sendiri untuk tujuan sosial semata
sebagaimana dimaksud dalam Fatwa DSN-MUI Nomor: 19/DSNMUI/IV/2001 tentang al-Qardh, bukan sebagai sarana atau
kelengkapan bagi transaksi lain dalam produk yang bertujuan
untuk mendapatkan keuntungan;
b. Akad Qardh yang dilakukan sebagai sarana atau kelengkapan
bagi transaksi lain yang menggunakan akad-akad muawadhah
(pertukaran dan dapat bersifat komersial) dalam produk yang
bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Penggunaan dana
dari pihak ketiga hanya diperbolehkan untuk tujuan komersial
antara lain seperti produk Rahn Emas, Pembiayaan Pengurusan
Haji Lembaga Keuangan Syariah, Pengalihan Utang, Syariah
Charge Card, Syariah Card, dan Anjak Piutang.
03. Bank dapat meminta jaminan atas pemberian Qardh.
04. Bank hanya boleh mengenakan biaya administrasi atas pinjaman
Qardh.

7.1

203

Lanjutan Lampiran 1
05. Pendapatan yang berasal dari biaya administrasi dalam pinjaman
Qardh yang dananya berasal dari dana pihak ketiga akan dibagihasilkan, sedangkan untuk pinjaman Qardh yang dananya berasal
dari modal Bank tidak dibagi-hasilkan.
06. Ujrah dari akad ijarah atau akad lain yang dilakukan bersamaan
dengan pemberian pinjaman Qardh (untuk rahn, talangan haji, dan
pengalihan utang) yang dananya berasal dari dana pihak ketiga
maka pendapatan yang diperoleh akan dibagi-hasilkan, sedangkan
apabila dananya berasal selain dari dana pihak ketiga pendapatan
yang diperoleh tidak dibagi-hasilkan.
07. Dalam hal nasabah mengalami tunggakan pembayaran angsuran,
Bank membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai untuk
pinjaman Qardh sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam PSAK
yang terkait.
D.

Perlakuan Akuntansi

D.1 Pengakuan dan Pengukuran


01. Pinjaman Qardh diakui sebesar jumlah yang dipinjamkan pada saat
terjadinya.
02. Biaya administrasi, bonus, ujrah yang dananya bersumber dari dana
intern diakui sebagai pendapatan operasi lain sebesar jumlah yang
diterima.
03. Biaya administrasi, bonus, ujrah yang dananya bersumber dari dana
pihak ketiga diakui sebagai pendapatan utama lain dan dibagihasilkan sebesar jumlah yang diterima.
D.2 Penyajian
01. Pinjaman Qardh yang bersumber dari intern Bank dan dana pihak
ketiga disajikan pada pos pinjaman Qardh.
02. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai pinjaman Qardh disajikan
sebagai pos lawan (contra account) pinjaman Qardh.
E.

Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat pinjaman Qardh diberikan
Db. Pinjaman Qardh
Kr. Kas/rekening/kliring
02. Pada saat penerimaan biaya administrasi/bonus/imbalan
Db. Kas
7.2

204

Lanjutan Lampiran 1
Kr. Pendapatan utama lain/pendapatan operasional lain
03. Pada saat pelunasan/cicilan
Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Pinjaman Qardh
04. Pada saat pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas
pinjaman Qardh
Db. Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan pinjaman
Qardh
Kr. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset keuangan pinjaman
Qardh
05. Pada saat pemulihan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas
pinjaman Qardh
Db. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset keuangan pinjaman
Qardh
Kr. Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan pinjaman
Qardh/ Keuntungan pemulihan nilai pinjaman Qardh
F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain:
01. Rincian jumlah pinjaman Qardh berdasarkan sumber dana, jenis
penggunaan dan sektor ekonomi.
02. Jumlah pinjaman Qardh yang diberikan kepada pihak yang berelasi.
03. Kebijakan

manajemen

dalam

pelaksanaan

pengendalian

risiko

pinjaman Qardh.
04. Ikhtisar pinjaman Qardh yang dihapus buku yang menunjukkan
saldo awal, penghapusan selama tahun berjalan, penerimaan atas
pinjaman Qardh yang telah dihapusbukukan dan pinjaman Qardh
yang telah dihapus tagih dan saldo akhir pinjaman Qardh yang
dihapus buku.

7.3

205

Lanjutan Lampiran 1
VII.2
A.

PINJAMAN QARDH YANG DITERIMA

Definisi
Pinjaman Qardh yang diterima adalah penerimaan dana berdasarkan
persetujuan

atau

kesepakatan

antara

peminjam

dan

pihak

yang

meminjamkan yang mewajibkan peminjam melunasi hutangnya setelah


jangka waktu tertentu.
B.

Dasar Pengaturan
01.

Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan


Syariah.

C.

Penjelasan
01.

Pinjaman Qardh yang diterima merupakan pinjaman yang tidak


mempersyaratkan

adanya

imbalan.

Namun

demikian,

Bank

diperkenankan untuk memberikan imbalan (bonus).


02.
D.

Bank dapat memberikan jaminan atas penerimaan Qardh.

Perlakuan Akuntansi

D.1 Pengakuan dan Pengukuran


01.

Pinjaman Qardh yang diterima diakui sebesar jumlah dana yang


diterima pada saat terjadinya.

02.

Imbalan yang diberikan kepada pemberi pinjaman Qardh diakui


sebagai beban operasional.

D.2 Penyajian
Pinjaman yang diterima disajikan sebesar jumlah nominal yang harus
diselesaikan.
E.

Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat pinjaman Qardh diterima
Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Pinjaman yang diterima
02. Pada saat pembayaran imbalan
Db. Imbalan Qardh (beban operasional)
Kr. Kas/rekening/kliring

7.4

206

Lanjutan Lampiran 1
03. Pada saat pelunasan/cicilan
Db. Pinjaman yang diterima
Kr. Kas/rekening/kliring
F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain:
01.

Rincian pinjaman yang diterima dari pihak berelasi dan pihak tidak
berelasi.

02.

Uraian mengenai isi ketentuan penting dalam akad pinjaman yang


diterima.

03.

Pengungkapan lain.

7.5

207

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN VIII
VIII.1
A.

SURAT BERHARGA

INVESTASI PADA SURAT BERHARGA

Definisi
Investasi pada surat berharga adalah investasi yang ditanamkan pada
surat berharga Syariah komersial, seperti sukuk dan surat berharga
lainnya, antara lain: Sertifikat Investasi Mudharabah Antar Bank (SIMA),
Surat Investasi Komoditas Antar Bank (SIKA), unit penyertaan Syariah
atau kontrak investasi kolektif (reksadana), reverse repo sepanjang tidak
bertentangan dengan prinsip Syariah.

B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 110 tentang Akuntansi Sukuk.
02. PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian.
03. PSAK 55 tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran.
04. PSAK 60 tentang Instrumen Keuangan: Pengungkapan.

C.

Penjelasan
01. Investasi

pada

diperbolehkan

surat

berharga

sepanjang

terdapat

yang
fatwa

dilakukan
dari

oleh

Dewan

Bank
Syariah

Nasional Majelis Ulama Indonesia dan diperkenankan sesuai


dengan ketentuan yang berlaku.
02. Investasi pada surat berharga hanya dapat dilakukan pada surat
berharga yang diterbitkan oleh emiten yang jenis kegiatan usahanya
tidak bertentangan dengan prinsip Syariah.
03. Pada bagian surat berharga ini transaksi investasi

yang dibahas

meliputi, investasi pada sukuk dan surat berharga lain yang sejenis,
investasi reksadana Syariah, dan reverse repo Syariah.
C.1 Investasi pada Sukuk dan Surat Berharga Lain yang Sejenis
01. Investasi

pada

sukuk

dan

surat

berharga

lain

yang

sejenis

diklasifikasikan menjadi:
a.

Diukur pada nilai wajar; dan

b.

Diukur pada biaya perolehan.

02. Basis pengklasifikasian tersebut ditentukan oleh model usaha yang


digunakan Bank.
8.1

208

Lanjutan Lampiran 1
a.

Jika model usahanya bertujuan tidak untuk memperoleh arus


kas

kontraktual

atau

persyaratan

kontraktual

tidak

menentukan tanggal tertentu dan/atau bagi hasil (mudharabah)


atau imbalan (ijarah), maka investasi tersebut diukur pada nilai
wajar.
b.

Jika model usahanya bertujuan untuk memperoleh arus kas


kontraktual dan persyaratan kontraktual menentukan tanggal
tertentu dan/atau bagi hasil (mudharabah) atau imbalan
(ijarah), maka investasi tersebut diukur pada biaya perolehan.

Model usaha dimaksud harus ditetapkan oleh Manajemen Bank dan


tidak diterapkan pada setiap surat berharga secara individual, tetapi
pada level portofolio.
03. Model

usaha

yang

bertujuan

untuk

memperoleh

arus

kas

kontraktual tidak mengharuskan Bank untuk memiliki sukuk hingga


jatuh tempo. Penjualan sukuk sebelum jatuh tempo dapat dilakukan
jika:
a.

Sukuk tidak lagi sesuai dengan kebijakan investasi Bank,


misalnya penurunan peringkat sukuk di bawah peringkat yang
menjadi kebijakan Bank;

b.

Bank membutuhkan dana modal (capital expenditure).

Akan tetapi, jika penjualan sukuk yang melebihi jumlah penjualan


yang tidak sering (infrequent), maka

Bank

harus melakukan

penilaian apakah dan bagaimana penjualan tersebut konsisten


dengan tujuan untuk memperoleh arus kas kontraktual.
04. Jika Bank mengelola kinerja portofolio sukuk dengan tujuan
merealisasikan arus kas melalui penjualan, maka sukuk harus
diklasifikasikan untuk diukur pada nilai wajar.
05. Jika Bank mengelola dan menilai kinerja portofolio sukuk dengan
basis nilai wajar, maka harus diklasifikasikan untuk diukur pada
nilai wajar.
06. Jika Bank memiliki portofolio sukuk untuk tujuan diperdagangkan
(trading), maka harus diklasifikasikan untuk diukur pada nilai wajar.
07. Sukuk dalam kelompok diukur pada nilai wajar tidak dapat
direklasifikasikan ke kelompok diukur pada biaya perolehan, kecuali
terjadi perubahan model usaha sebagaimana dijelaskan di atas.

8.2

209

Lanjutan Lampiran 1
08. Sukuk dapat direklasifikasi dari diukur pada nilai wajar ke diukur
pada biaya perolehan atau sebaliknya jika terdapat perubahan model
usaha.
09. Nilai wajar yang digunakan mengacu pada urutan sebagai berikut:
a.

Kuotasi harga di pasar aktif;

b.

Harga dari transaksi terkini;

c.

Nilai wajar dari instrumen sejenis.

10. Sukuk yang dikelompokkan dalam diukur pada biaya perolehan, jika
terdapat indikasi penurunan nilai, dihitung jumlah terpulihkannya
yaitu jumlah yang akan diperoleh dari pengembalian pokok tanpa
memperhitungkan nilai kininya.
C.2 Investasi pada Reksadana Syariah
01. Investasi pada Reksadana Syariah diklasifikasikan menjadi:
a.

Diukur pada nilai wajar melalui laba rugi (fair value through
profit or loss/FVTPL).

b.

Tersedia untuk dijual (available for sale/AFS).

02. Nilai wajar reksa dana ditentukan berdasarkan nilai aset bersih
(NAB).
03. Reksadana yang dikelompokkan dalam klasifikasi tersedia untuk
dijual, jika terdapat indikasi penurunan nilai maka Bank mengakui
kerugian penurunan nilai. Selanjutnya apabila terdapat pemulihan
nilai maka jumlah terpulihkannya yaitu jumlah yang akan diperoleh
dari pengembalian pokok tanpa memperhitungkan nilai kininya.
C.3 Tagihan Reverse Repo Syariah
01. Transaksi reverse repo SBSN adalah transaksi pembelian SBSN oleh
Bank dari Bank Indonesia, dengan janji penjualan kembali oleh Bank
sesuai dengan harga dan jangka waktu yang disepakati.
02. Transaksi reverse repo SBSN merupakan transaksi yang dilakukan
oleh Bank Indonesia dalam rangka pengurangan likuiditas Bank
atau kontraksi moneter.
03. Transaksi reverse repo SBSN dilakukan dengan menggunakan akad
al bai (jual beli) yang disertai dengan al waad (janji) oleh Bank
kepada Bank Indonesia, dalam dokumen terpisah, untuk menjual
kembali SBSN dalam jangka waktu dan harga tertentu yang
disepakati.
04. Jangka waktu transaksi reverse repo SBSN paling singkat satu hari
dan paling lama dua belas bulan yang dinyatakan dalam hari yang
8.3

210

Lanjutan Lampiran 1
dihitung sejak satu hari setelah tanggal setelmen sampai dengan
tanggal jatuh waktu.
05. Harga SBSN ditetapkan dan diumumkan oleh Bank Indonesia di BISSSS dan/atau sarana lainnya dengan mempertimbangkan antara
lain harga pasar masing-masing jenis dan seri SBSN.
06. SBSN yang dapat di-reverse repo-kan terdiri dari SBSN jangka
panjang dan SBSN jangka pendek.
D.

Perlakuan Akuntansi

D.1 Pengakuan dan Pengukuran


01. Sukuk dan Surat Berharga Lain yang Sejenis
a.

Kategori diukur pada nilai wajar


i.

Pada pengakuan awal, sukuk diukur pada biaya perolehan


yaitu nilai wajarnya sedangkan untuk biaya transaksi
diakui secara terpisah sebagai biaya investasi.

ii.

Setelah pengakuan awal, sukuk diukur pada nilai wajar


dan perubahan nilai wajar diakui dalam laba rugi.

b.

Kategori diukur pada biaya perolehan


i.

Pada pengakuan awal, sukuk diukur pada biaya perolehan


yaitu nilai wajar ditambah biaya transaksi.

ii.

Setelah pengakuan awal, selisih antara biaya perolehan


dan nilai nominal diamortisasi secara garis lurus selama
jangka waktu sukuk.

iii.

Kerugian penurunan nilai diakui dalam laba rugi tahun


berjalan.

02. Reksadana Syariah


a.

Kategori diukur pada nilai wajar melalui laba rugi


i.

Pada pengakuan awal, reksadana Syariah diukur pada


biaya perolehan yaitu nilai wajarnya.

ii.

Setelah pengakuan awal, reksadana Syariah diukur pada


nilai wajar dan perubahan nilai wajar diakui dalam laba
rugi.

b.

Kategori tersedia untuk dijual


i.

Pada pengakuan awal, reksadana Syariah diukur pada


biaya perolehan yaitu nilai wajar ditambah biaya transaksi.

8.4

211

Lanjutan Lampiran 1
ii.

Setelah pengakuan awal, reksadana Syariah diukur pada


nilai dan perubahan nilai wajar diakui dalam penghasilan
komprehensif lain.

iii.

Kerugian penurunan nilai diakui dalam laba rugi tahun


berjalan

03. Tagihan reverse repo Syariah


a.

Pada saat pengakuan awal, tagihan reverse repo Syariah diukur


sebesar jumlah yang dibayarkan.

b.

Setelah pengakuan awal, selisih antara jumlah yang dibayarkan


dan nilai jatuh tempo diamortisasi secara garis lurus sampai
dengan jatuh tempo dan diakui sebagai pendapatan.

D.2 Penyajian
01. Sukuk dalam kategori diukur pada nilai wajar disajikan sebesar nilai
wajar, dengan selisih nilai wajar disajikan dalam laba rugi.
02. Sukuk dalam kategori diukur biaya perolehan disajikan sebesar
biaya perolehan setelah amortisasi.
03. Reksadana Syariah dalam kategori diukur pada nilai wajar melalui
laba rugi disajikan sebesar nilai wajar, dengan selisih nilai wajar
disajikan dalam laba rugi.
04. Reksadana Syariah dalam kategori tersedia untuk dijual disajikan
sebesar nilai wajar, dengan selisih nilai wajar disajikan dalam
penghasilan komprehensif lain.
05. Tagihan reverse repo Syariah disajikan sebesar biaya perolehan yang
diamortisasi.
06. Kerugian penurunan nilai disajikan sebagai pos lawan dari investasi
pada surat berharga.
E.

Ilustrasi Jurnal

E.1 Sukuk dalam kategori diukur pada nilai wajar


01. Pada saat pengakuan awal
Db. Investasi pada surat berharga
Db. Beban investasi
Kr. Kliring
02. Pada akhir periode pelaporan
a. Pengakuan bagi hasil/imbalan
Db. Piutang bagi hasil/imbalan
Kr. Pendapatan investasi
8.5

212

Lanjutan Lampiran 1
b. Jika nilai wajar lebih besar dari nilai tercatat
Db. Investasi pada surat berharga
Kr. Penyesuaian nilai wajar
c. Jika nilai wajar lebih kecil dari nilai tercatat
Db. Penyesuaian nilai wajar
Kr. Investasi pada surat berharga
03. Pada saat penjualan
Db.

Kliring

Db/Kr. Kerugian/keuntungan
Kr.

Investasi pada surat berharga

E.2 Sukuk dalam kategori biaya perolehan


01. Pada saat pengakuan awal
a.

Untuk transaksi premium


Db. Investasi pada surat berharga nominal
Db. Investasi pada surat berharga premium dan biaya
transaksi
Kr. Kliring

b.

Untuk transaksi diskonto


Db. Investasi pada surat berharga nominal
Kr. Investasi pada surat berharga diskonto
Kr. Kliring

02. Pada akhir periode pelaporan


a.

Pengakuan bagi hasil/imbalan


Db. Piutang bagi hasil/imbalan
Kr. Pendapatan investasi

b.

Amortisasi premium
Db. Piutang bagi hasil/imbalan
Kr. Investasi pada surat berharga premium dan biaya
transaksi
Kr. Pendapatan investasi

c.

Amortisasi diskonto
Db. Piutang bagi hasil/imbalan
Db. Investasi pada surat berharga diskonto
Kr. Pendapatan investasi

03. Pada saat terjadi penurunan nilai


Db. Kerugian penurunan nilai
8.6

213

Lanjutan Lampiran 1
Kr. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai
04. Pada saat terjadi pemulihan penurunan nilai
Db. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai
Kr. Kerugian penurunan nilai
05. Pada saat jatuh tempo
Db. Kliring
Kr. Investasi pada surat berharga nominal
E.3 Reksadana Syariah dalam kategori diukur pada nilai wajar melalui
laba rugi
01. Pada saat pengakuan awal
Db. Investasi pada surat berharga
Db. Beban investasi
Kr. Kliring
02. Pada akhir periode pelaporan
a. Jika nilai wajar lebih besar dari nilai tercatat
Db. Investasi pada surat berharga
Kr. Keuntungan
b. Jika nilai wajar lebih kecil dari nilai tercatat
Db. Kerugian
Kr. Investasi pada surat berharga
03. Pada saat penjualan
Db.

Kliring

Db/Kr. Kerugian/keuntungan
Kr.

Investasi pada surat berharga

E.4 Reksadana Syariah dalam kategori tersedia untuk dijual


01. Pada saat pengakuan awal
Db. Investasi pada surat berharga
Kr. Kliring
02. Pada akhir periode pelaporan
a. Jika nilai wajar lebih besar dari nilai tercatat
Db. Investasi pada surat berharga
Kr. Penghasilan komprehensif lain
b. Jika nilai wajar lebih kecil dari nilai tercatat
Db. Penghasilan komprehensif lain
Kr. Investasi pada surat berharga
8.7

214

Lanjutan Lampiran 1
03. Pada saat penjualan
Db.

Kliring

Db/Kr.

Penghasilan komprehensif lain

Db/Kr.

Kerugian/keuntungan

Kr.

Investasi pada surat berharga

E.5 Tagihan Reverse Repo Syariah


01. Pada awal transaksi tagihan Reverse Repo Syariah
Db. Tagihan Reverse Repo Syariah
Kr. Tagihan Reverse Repo Syariah diskonto
Kr. Giro BI
02. Pada saat amortisasi diskonto
Db. Tagihan Reverse Repo Syariah diskonto
Kr. Pendapatan tagihan Reverse Repo Syariah
03. Pada saat jatuh tempo
Db. Giro BI
Kr. Tagihan Reverse Repo Syariah
F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Sukuk dan Surat Berharga Lain yang Sejenis
a.

Klasifikasi berdasarkan jumlah;

b.

Tujuan model usaha yang digunakan;

c.

Jumlah yang direklasifikasi, jika ada, dan penyebabnya; dan

d.

Nilai wajar untuk investasi yang diukur pada biaya perolehan.

02. Reksadana Syariah


a.

Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting

b.

Kategorisasi dan jumlah tercatat surat berharga, yaitu diukur


pada nilai wajar melalui laba rugi dan tersedia untuk dijual.

c.

Perubahan nilai wajar yang diukur pada nilai wajar melalui laba
rugi.

d.

Informasi yang memungkinkan pengguna Laporan Keuangan


mengevaluasi jenis dan besarnya resiko yang timbul dari
aktivitas surat berharga sebagaimana pada huruf e sampai f di
bawah.

e.

Tujuan, kebijakan, dan proses pengelolaan risiko dan metode


pengukuran risiko surat berharga dan perubahan dari periode
sebelumnya (jika ada).
8.8

215

Lanjutan Lampiran 1
f.

Analisis terhadap surat berharga berdasarkan kategori surat


berharga yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama.
Analisis tersebut mencakup:
i.

Jumlah

yang

mencerminkan

eksposur

risiko

surat

berharga pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan


agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya;
ii.

Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko


lainnya atas eksposur surat berharga sebagaimana pada
butir i diatas.

g.

Jumlah surat berharga yang diterbitkan oleh pihak yang


berelasi.

03. Tagihan reverse repo Syariah


a.

Jangka waktu atau jatuh tempo tagihan reverse repo Syariah.

b.

Tingkat potongan atau diskonto.

8.9

216

Lanjutan Lampiran 1
VIII.2
A.

PENYERTAAN

Definisi
01. Penyertaan adalah penanaman dana Bank dalam bentuk saham baik
dalam Rupiah maupun valuta asing pada bank atau perusahaan
lembaga keuangan bukan bank untuk tujuan investasi jangka
panjang dan tidak untuk diperjualbelikan. Termasuk dalam cakupan
penyertaan adalah penyertaan modal sementara.
02. Penyertaan Modal Sementara adalah penyertaan oleh Bank dalam
perusahaan

debitur

untuk

mengatasi

kegagalan

pembiayaan

sebagaimana yang dimaksud dalam ketentuan Bank Indonesia yang


berlaku.
03. Entitas asosiasi adalah suatu entitas, termasuk entitas nonkorporasi
seperti persekutuan, dimana Bank mempunyai pengaruh signifikan
dan bukan merupakan entitas anak ataupun bagian partisipasi
dalam ventura bersama.
04. Pengendalian bersama entitas adalah suatu entitas dimana Bank
memiliki pengendalian bersama dengan venturer lain atas entitas
tersebut.
B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 12 tentang Bagian Partisipasi dalam Ventura Bersama.
02. PSAK 15 tentang Investasi pada Entitas Asosiasi.

C.

Penjelasan
01. Pengaruh Signifikan
a.

Bank dianggap mempunyai pengaruh signifikan jika mempunyai


secara langsung maupun tidak langsung (melalui entitas anak)
20%-50% hak suara investee, kecuali dapat dibuktikan dengan
jelas bahwa Bank tidak mempunyai pengaruh signifikan.

b.

Bank dianggap tidak mempunyai pengaruh signifikan jika Bank


mempunyai secara langsung maupun tidak langsung (melalui
entitas anak) kurang dari 20% hak suara investee, kecuali dapat
dibuktikan dengan jelas bahwa Bank mempunyai pengaruh
signifikan.

c.

Bukti adanya pengaruh signifikan:

8.10

217

Lanjutan Lampiran 1
i.

Keterwakilan dalam Dewan Direksi dan Dewan Komisaris


atau organ setara di investee.

ii.

Partisipasi dalam proses pembuatan kebijakan, termasuk


partisipasi dalam pengambilan keputusan tentang dividen
atau distribusi lain.

d.

iii.

Adanya transaksi material antara Bank dengan investee.

iv.

Pertukaran personel manajerial.

v.

Penyediaan informasi teknis pokok.

Dalam menilai keberadaan pengaruh signifikan, hak suara


potensial

yang

dimiliki

Bank

dan

investor

lain

harus

dipertimbangkan.
02. Pengendalian Bersama
Pengendalian

Bersama harus didukung oleh suatu perjanjian

kontraktual.
03. Pengendalian
a.

Pengendalian

dianggap

ada

ketika

Bank

memiliki

secara

langsung atau tidak langsung melalui entitas anak lebih dari


setengah

kekuasaan

suara

suatu

entitas,

kecuali

dalam

keadaan yang jarang dapat ditunjukkan secara jelas bahwa


kepemilikan tersebut tidak diikuti dengan pengendalian.
b.

Pengendalian juga ada ketika Bank memiliki setengah atau


kurang kekuasaan suara suatu entitas jika terdapat:
i.

kekuasaan yang melebihi setengah hak suara sesuai


perjanjian dengan investor lain;

ii.

kekuasaan untuk mengatur kebijakan keuangan dan


operasional entitas berdasarkan anggaran dasar atau
perjanjian;

iii.

kekuasaan untuk menunjuk atau mengganti sebagian


besar Dewan Direksi dan Dewan Komisaris atau organ
pengatur setara dan mengendalikan entitas melalui Dewan
atau organ tersebut; atau

iv.

kekuasaan untuk memberikan suara mayoritas pada rapat


Dewan Direksi dan Dewan Komisaris atau organ pengatur
setara dan mengendalikan entitas melalui Dewan Direksi
dan Dewan Komisaris atau organ tersebut.

04. Penyertaan diperlakukan sebagai:

8.11

218

Lanjutan Lampiran 1
a.

Investasi

pada

aset

keuangan

jika

Bank

tidak

memiliki

pengaruh signifikan, pengendalian bersama, atau pengendalian


atas investee. Ketentuan akuntansi untuk investasi pada
instrumen keuangan mengacu ke investasi pada reksadana.
b.

Investasi pada entitas asosiasi jika Bank memiliki pengaruh


signifikan. Investasi pada entitas asosiasi dicatat dengan
menggunakan metode ekuitas.

c.

Investasi

pada

ventura

bersama,

jika

Bank

memiliki

pengendalian bersama. Investasi pada ventura bersama dicatat


dengan menggunakan metode ekuitas.
d.

Investasi pada entitas anak jika Bank memiliki pengendalian.


Entitas anak harus dikonsolidasi.

05. Dalam bagian ini hanya dijelaskan mengenai pencatatan dengan


menggunakan metode ekuitas.
D.

Perlakuan Akuntansi

D.1 Pengakuan dan pengukuran


01. Penyertaan pada awalnya diakui sebesar biaya perolehan.
02. Laba rugi investee diakui sebesar bagian investor atas laba atau rugi
tersebut

sebagai

pendapatan/beban

dan

penambah/pengurang

jumlah tercatat penyertaan.


03. Penghasilan komprehensif lain investee diakui sebesar bagian
investor

atas

penghasilan

komprehensif

lain

tersebut

sebagai

penghasilan komprehensif lain dan penambah/pengurang jumlah


tercatat penyertaan.
04. Dividen tunai diakui sebagai pengurang jumlah tercatat penyertaan.
05. Akumulasi kerugian yang diakui tidak boleh mengakibatkan nilai
investasi menjadi negatif.
D.2 Penyajian
Penyertaan disajikan sebesar jumlah tercatat.
E.

Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat penyertaan
Db. Penyertaan
Kr. Rekening
02. Pada saat pengakuan bagian laba
Db. Penyertaan
8.12

219

Lanjutan Lampiran 1
Kr. Bagian laba
03. Pada saat pengakuan bagian rugi
Db. Bagian rugi
Kr. Penyertaan
04. Pada saat pengakuan dividen
Db. Rekening/piutang dividen
Kr. Penyertaan
05. Pada saat pelepasan
Db.

Rekening

Db/Kr. Penghasilan komprehensif lain


Db/Kr. Kerugian/keuntungan
Kr.
F.

Penyertaan

Pengungkapan
01. Investasi pada entitas asosiasi
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
a.

Nilai wajar investasi pada entitas asosiasi yang tersedia kuotasi


harga yang dipublikasikan.

b.

Ringkasan informasi keuangan entitas asosiasi.

c.

Alasan mengapa mempunyai pengaruh signifikan, namun Bank


memiliki kurang dari 20% hak investee.

d.

Alasan mengapa tidak mempunyai pengaruh signifikan, namun


Bank memiliki lebih dari 20% hak investee.

e.

Sifat dan tingkatan pembatasan signifikan atas kemampuan


entitas asosiasi mentransfer dana kepada Bank dalam bentuk
dividen tunai.

f.

Bagian rugi entitas asosiasi yang tidak diakui apabila kerugian


telah melewati nilai investasi.

02. Investasi pada ventura bersama


Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
a.

Jumlah liabilitas kontijensi (jika ada) yang ditanggung venturer


sendiri dan para venturer, bagian liabilitas kontijensi ventura
bersama, dan liabilitas kontijensi atas venturer lain.

b.

Komitmen modal venturer sendiri dan para venturer, dan bagian


komitmen modal ventura bersama.

8.13

220

Lanjutan Lampiran 1
c.

Daftar dan penjelasan bagian partisipasi dalam ventura bersama


yang signifikan dan bagian partisipasi kepemilikan dalam
pengendalian bersama entitas.

d.

Jumlah agregat aset, liabilitas, penghasilan dan beban yang


terkait dengan partisipasinya dalam ventura bersama.

8.14

221

Lanjutan Lampiran 1
VIII.3
A.

SURAT BERHARGA YANG DITERBITKAN

Definisi
Surat berharga yang diterbitkan adalah surat berharga Syariah yang
diterbitkan oleh Bank seperti sukuk, sertifikat investasi komoditas antar
bank (SIKA), dan surat berharga lain.

B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 110 tentang Akuntansi Sukuk.

C.

Penjelasan
01. Surat berharga yang diterbitkan oleh Bank antara lain menggunakan
akad ijarah, mudharabah, dan akad Syariah lain.
02. Dalam hal penerbitan surat berharga, khususnya sukuk umumnya
tidak

hanya

menggunakan

satu

akad

(seperti

ijarah

dan

mudharabah) tetapi dapat dikombinasikan dengan akad lain. Semua


akad tersebut diperlakukan sebagai satu kesatuan akad dalam
penerbitan surat berharga.
D.

Perlakuan Akuntansi

D.1 Pengakuan dan Pengukuran


01. Surat berharga dengan akad ijarah dan akad yang lain.
a.

Surat berharga diakui sebesar:


i.

nilai nominal dikurangi diskonto dan biaya yang terkait


dengan penerbitan surat berharga (biaya transaksi);

ii.

nilai nominal ditambah premium dan dikurangi biaya


transaksi.

b.

Selisih antara jumlah tercatat dan nilai nominal diamortisasi


secara garis lurus selama jangka waktu akad dan diakui sebagai
beban penerbitan surat berharga.

c.

Imbalan atau bentuk lain yang dibayarkan kepada pemegang


surat berharga diakui sebagai beban surat berharga.

02. Surat berharga dengan akad mudharabah dan musyarakah.


a.

Surat berharga diakui sebesar nilai nominal.

b.

Biaya

transaksi

diakui

sebagai

beban

ditangguhkan

dan

diamortisasi selama masa akad sebagai beban penerbitan surat


berharga.
8.15

222

Lanjutan Lampiran 1
c.

Bagi hasil yang menjadi hak pemilik surat berharga diakui


sebagai pengurang pendapatan, bukan sebagai beban surat
berharga.

D.2 Penyajian
01. Surat berharga dengan akad ijarah dan akad yang lain disajikan
sebagai liabilitas sebesar nilai nominal dikurangi setelah premium
atau diskonto dan biaya transaksi yang belum diamortisasi.
02. Surat berharga dengan akad mudharabah dan musyarakah disajikan
sebagai

dana

penerbitan

syirkah

surat

temporer

berharga

sebesar

tersebut

nilai

disajikan

nominal.

Biaya

sebagai

beban

tangguhan.
E.

Ilustrasi Jurnal

E.1 Surat berharga dengan akad ijarah dan akad lain


01. Pada saat penerbitan:
a.

Diterbitkan pada nominal


Db. Kas/rekening/kliring
Db. Surat berharga biaya transaksi
Kr. Surat berharga

b.

Diterbitkan pada premium


Db. Kas/rekening/kliring
Db. Surat berharga biaya transaksi
Kr. Surat berharga
Kr. Surat berharga premium

c.

Diterbitkan pada diskonto


Db. Kas/rekening/kliring
Db. Surat berharga diskonto
Db. Surat berharga biaya transaksi
Kr. Surat berharga

02. Pada saat amortisasi:


a.

Diterbitkan pada nominal


Db. Beban penerbitan
Kr. Surat berharga biaya transaksi
Db. Beban surat berharga
Kr. Utang imbalan surat berharga

b.

Diterbitkan pada premium


Db. Beban penerbitan
8.16

223

Lanjutan Lampiran 1
Db. Surat berharga premium
Kr. Surat berharga biaya transaksi
Db. Beban surat berharga
Kr. Utang imbalan surat berharga
c.

Diterbitkan pada diskonto


Db. Beban penerbitan
Kr. Surat berharga diskonto
Kr. Surat berharga biaya transaksi
Db. Beban surat berharga
Kr. Utang imbalan surat berharga

03. Pada saat pembayaran imbalan:


Db. Utang imbalan surat berharga
Kr. Kas/rekening/kliring
04. Pada saat jatuh tempo:
Db. Surat berharga
Kr. Kas/rekening/kliring
E.2 Surat berharga dengan akad mudharabah dan musyarakah
05. Pada saat penerbitan:
Db. Kas/rekening/kliring
Db. Beban ditangguhkan
Kr. Surat berharga
06. Pada saat amortisasi:
Db. Beban penerbitan
Kr. Beban ditangguhkan
07. Pada saat pengakuan pendapatan bagi hasil:
Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Pendapatan yang terkait
Kr. Utang bagi hasil surat berharga
08. Pada saat pembayaran bagi hasil:
Db. Utang bagi hasil surat berharga
Kr. Kas/rekening/kliring
09. Pada saat jatuh tempo:
Db. Surat berharga
Kr. Kas/rekening/kliring

8.17

224

Lanjutan Lampiran 1
F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Uraian tentang persyaratan utama dalam penerbitan surat berharga,
termasuk:
a.

ringkasan akad Syariah yang digunakan;

b.

aset atau manfaat, atau aktivitas yang mendasari;

c.

besaran imbalan, atau prinsip pembagian hasil usaha, dasar


bagi hasil, dan besaran nisbah bagi hasil;

d.

nilai nominal;

e.

jangka waktu;

f.

persyaratan penting lain.

02. Penjelasan mengenai aset atau manfaat yang mendasari penerbitan


surat berharga dengan akad ijarah, termasuk jenis dan umur
ekonomis.
03. Penjelasan mengenai aktivitas yang mendasari penerbitan surat
berharga

dengan

akad

mudharabah,

termasuk

jenis

usaha,

kecenderungan (tren) usaha, pihak yang mengelola usaha (jika


dilakukan pihak lain).
04. Pengungkapan lain.

8.18

225

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN IX
BANK LAIN

PENEMPATAN PADA BANK INDONESIA DAN

IX.1. KAS
A.

Definisi
Kas adalah mata uang kertas dan logam baik Rupiah maupun valuta
asing yang masih berlaku sebagai alat pembayaran yang sah.

B.

C.

Dasar Pengaturan
01.

PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian.

02.

PSAK 55 tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran.

03.

PSAK 60 tentang Instrumen Keuangan: Pengungkapan.

Penjelasan
01.

Dalam pengertian kas termasuk mata uang Rupiah dan valuta asing
yang ditarik dari peredaran dan yang masih dalam tenggang waktu
penukaran ke Bank Indonesia atau Bank Sentral negara yang
bersangkutan. Kas termasuk kas besar, kas kecil, kas ATM dan kas
dalam perjalanan. Kas tidak termasuk emas batangan dan uang
logam yang diterbitkan untuk memperingati peristiwa nasional
(commemorative coin), mata uang emas, logam asing dan kertas asing
yang sudah tidak berlaku.

02.

Saldo mata uang kertas dan logam asing yang ditarik dari peredaran
disajikan dalam rekening aset lainnya sebesar nilai nominal
dikurangi dengan taksiran biaya repatriasi.

03.

Dalam rangka penyusunan Laporan Arus Kas, yang dimaksud


dengan kas dan setara kas adalah:

04.

a.

Kas;

b.

Giro pada Bank Indonesia; dan

c.

Giro pada Bank lain

Kas

merupakan

aset

keuangan

yang

diklasifikasikan

sebagai

pinjaman yang diberikan dan piutang (loans and receivables), yang


dicatat pada nilai nominal dan tidak ada penurunan nilai.

9.1

226

Lanjutan Lampiran 1
D.

Perlakuan Akuntansi

D1. Pengakuan dan Pengukuran


Transaksi kas diakui sebesar nilai nominal.
D2. Penyajian
Kas disajikan pada urutan pertama dalam aset.
E.

Ilustrasi Jurnal
01.

Kas Rupiah
a. Penerimaan setoran:
Db. Kas Rupiah
Kr. Rekening yang dituju
b. Penarikan:
Db. Rekening yang ditarik
Kr. Kas Rupiah

02.

Kas mata uang asing


Lihat penjelasan pada Bagian II.C Metode Pencatatan Transaksi
Mata Uang Asing.

F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01.

Klasifikasi kas sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang;

02.

Kas dalam mesin ATM jika jumlahnya material.

9.2

227

Lanjutan Lampiran 1
IX.2. PENEMPATAN PADA BANK INDONESIA
A.

Definisi
Penempatan pada Bank Indonesia adalah penempatan/tagihan Bank baik
dalam Rupiah maupun valuta asing kepada Bank Indonesia.

B.

C.

Dasar Pengaturan
01.

PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.

02.

PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian.

03.

PSAK 55 tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran.

04.

PSAK 60 tentang Instrumen Keuangan: Pengungkapan.

Penjelasan
01.

Penempatan pada Bank Indonesia terdiri dari:


a. Giro pada Bank Indonesia, yaitu saldo rekening giro Bank di Bank
Indonesia, baik dalam Rupiah maupun mata uang asing;
b. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), yaitu surat berharga
dalam mata uang Rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia
berjangka waktu pendek berdasarkan prinsip Syariah; dan
c. Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah (FASBIS), yaitu
fasilitas simpanan dalam Rupiah yang disediakan oleh Bank
Indonesia kepada Bank untuk menempatkan dananya di Bank
Indonesia dalam rangka standing facilities berdasakan prinsip
Syariah.

02.

Giro pada Bank Indonesia merupakan salah satu alat likuid dan
tidak dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan.

03.

Giro

pada

Bank

Indonesia

merupakan

aset

keuangan

yang

diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang


(loans and receivables), yang dicatat pada biaya perolehan yang
diamortisasi. Namun mengingat tidak ada biaya transaksi yang
timbul maka Giro pada Bank Indonesia dicatat pada biaya perolehan
dan tidak ada penurunan nilai.
04.

Jika Bank mendapat fasilitas dari Bank Indonesia untuk menutup


kekurangan giro pada Bank Indonesia maka fasilitas tersebut
disajikan sebagai liabilitas kepada Bank Indonesia.

9.3

228

Lanjutan Lampiran 1
05.

SBIS menggunakan akad jualah dan merupakan instrumen moneter


yang tidak dapat diperjualbelikan (non-tradeable) atau dipindahtangankan, dan bukan merupakan bagian dari portofolio investasi
Bank.

06.

FASBIS menggunakan akad wadiah dengan jangka waktu paling


lama

14

(empat

belas)

hari

kalender

dihitung

dari

tanggal

penyelesaian transaksi sampai dengan tanggal jatuh tempo.


07.

FASBIS tidak dapat diperdagangkan, tidak dapat diagunkan, dan


tidak dapat dicairkan sebelum jatuh tempo.

D.

Perlakuan Akuntansi

D1. Pengakuan dan Pengukuran


01.

Penempatan pada Bank Indonesia diakui sebesar biaya perolehan


(nilai nominal).

02.

Beban yang dikenakan atas denda kekurangan GWM diakui pada


saat dikenakan denda oleh Bank Indonesia sebagai beban operasi
lainnya.

03.

Imbalan atas SBIS diakui secara akrual.

04.

Bonus atas FASBIS diakui pada saat jatuh tempo.

D2. Penyajian
Saldo

rekening

giro

pada

Bank

Indonesia

tidak

boleh

dikurangi/dikompensasi (saling hapus) dengan saldo fasilitas likuiditas


yang diterima Bank dari Bank Indonesia dan fasilitas pendanaan jangka
pendek Syariah.
E.

Ilustrasi Jurnal
01.

Pada saat penempatan:


a.

Giro pada Bank Indonesia


Db. Giro pada Bank Indonesia
Kr. Kas/kliring

b.

Sertifikat Bank Indonesia Syariah


Db. SBIS
Kr. Giro pada Bank Indonesia

c.

Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah


Db. FASBIS
Kr. Giro pada Bank Indonesia

9.4

229

Lanjutan Lampiran 1
02.

Pada saat pengakuan bonus atau imbalan


a.

Bonus atas FASBIS yang diakui pada saat jatuh tempo


Db. Giro pada Bank Indonesia
Kr. Pendapatan dari penempatan pada BI - Pendapatan operasi
utama lainnya

b.

Imbalan atas SBIS yang diakui secara akrual


i.

Pada saat pengakuan pendapatan imbalan


Db. Pendapatan imbalan pada SBIS yang akan diterima
Kr. Pendapatan operasi utama lainnya

ii.

Pada saat menerima pembayaran imbalan


Db. Giro pada Bank Indonesia
Kr. Pendapatan imbalan pada SBIS yang akan diterima

03. Pada saat pengakuan beban denda untuk masuk ke kewajiban pada
BI:
Db. Beban operasional
Kr. Giro pada Bank Indonesia
04. Pada saat penarikan:
Db. Kas/kliring
Kr. Giro pada Bank Indonesia
05. Pada saat jatuh tempo:
a.

Sertifikat Bank Indonesia Syariah


Db. Giro pada Bank Indonesia
Kr. SBIS

b.

Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah


Db. Giro pada Bank Indonesia
Kr. FASBIS

06. Pada saat mendapat fasilitas pendanaan (kewajiban pada Bank


Indonesia):
Db. Giro pada Bank Indonesia
Kr. Liabilitas kepada Bank Indonesia
F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01.

Rincian jumlah penempatan pada Bank Indonesia menurut jenis,


jangka waktu dan jenis mata uang.

9.5

230

Lanjutan Lampiran 1
IX.3. PENEMPATAN PADA BANK LAIN
A.

Definisi
Penempatan pada Bank Lain adalah penempatan/tagihan atau simpanan
milik Bank dalam Rupiah dan atau valuta asing pada Bank Lain, baik
yang melakukan kegiatan operasional di Indonesia maupun diluar
Indonesia baik untuk menunjang kelancaran transaksi antar bank
maupun sebagai secondary reserve dengan maksud untuk memperoleh
penghasilan.

B.

C.

Dasar Pengaturan
01.

PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.

02.

PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian.

03.

PSAK 55 tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran.

04.

PSAK 60 tentang Instrumen Keuangan: Pengungkapan.

Penjelasan
01.

Penempatan pada Bank Lain adalah penempatan dalam bentuk giro,


tabungan dan deposito pada Bank lain, dan giro dan tabungan pada
bank konvensional.

02.

Pada dasarnya Bank harus melakukan penempatan pada Bank lain.


Dalam hal terdapat penempatan pada bank konvensional, maka
pendapatan

bunga

dan

jasa

giro

yang

diterima

dari

bank

konvensional, diakui sebagai sumber dana kebajikan.


03.

Bagi hasil dan bonus yang diterima dari Bank lain dibagihasilkan
kepada nasabah.

04.

Penempatan pada bank lain merupakan aset keuangan yang


diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang
(loans and receivables), yang dicatat pada biaya perolehan yang
diamortisasi. Namun mengingat tidak ada biaya transaksi yang
timbul maka penempatan pada bank konvensional dicatat pada
biaya perolehan.

D.

Perlakuan Akuntansi

D1. Pengakuan dan Pengukuran


01.

Penempatan pada Bank lain

9.6

231

Lanjutan Lampiran 1
a. Transaksi penempatan pada Bank lain diakui sebesar nilai
nominal.
b. Bonus dan/atau bagi hasil dari Bank lain diakui sebesar nilai
nominal yang diterima pada saat diterima.
c. Penempatan

pada

Bank

lain

dibentuk

Cadangan

Kerugian

Penurunan Nilai (CKPN) sesuai dengan ketentuan yang diatur


dalam PSAK yang terkait.
02.

Penempatan pada Bank Konvensional


a. Transaksi penempatan pada bank konvensional diakui sebesar
nilai nominal.
b. Pendapatan

bunga

dari

bank

konvensional

diakui

sebagai

penerimaan dana kebajikan pada pos pendapatan non halal


sebesar nilai nominal yang diterima.
c. Penempatan

pada

bank

konvensional

dibentuk

Cadangan

Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sesuai dengan ketentuan yang


diatur dalam PSAK yang terkait.
D2 Penyajian
01.

Saldo penempatan pada bank lain tidak boleh saling hapus (offsetting) dengan saldo kewajiban kepada bank lain tersebut.

02.

Saldo CKPN dari penempatan pada bank lain disajikan sebagai pos
lawan (contra account) dari penempatan pada bank lain tersebut.

E.

Ilustrasi Jurnal
01.

Penempatan pada Bank lain


a.

Pada saat penempatan:


Db. Penempatan pada Bank lain
Kr. Kas/kliring

b.

Pada saat penerimaan pendapatan:


Db. Penempatan pada Bank lain
Kr. Pendapatan bagi hasil/bonus

c.

Pada saat pembentukan CKPN:


Db. Beban CKPN
Kr. CKPN

d.

Pada saat penarikan/jatuh tempo:


Db. Kas /kliring
Kr. Penempatan pada Bank lain

9.7

232

Lanjutan Lampiran 1
02.

Penempatan pada bank konvensional


a.

Pada saat penempatan:


Db. Penempatan pada bank konvensional
Kr. Kas/kliring

b.

Pada saat penerimaan pendapatan:


Db. Penempatan pada bank konvensional
Kr. Rekening Dana Kebajikan

c.

Pada saat pembentukan CKPN:


Db. Beban CKPN
Kr. CKPN

d.

Pada saat penarikan/jatuh tempo:


Db. Kas/kliring
Kr. Penempatan pada bank konvensional

F. Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01.

Penempatan pada Bank lain dengan akad Wadiah


a.

Jenis penempatan (giro wadiah, tabungan wadiah, dan lain


yang sejenis),

02.

b.

Kualitas giro;

c.

Jenis mata uang;

d.

Pihak berelasi;

e.

Jumlah giro yang diblokir dan alasannya; dan

f.

Jumlah yang tidak dapat dicairkan pada bank bermasalah.

Penempatan pada Bank lain dengan akad Mudharabah


a.

Jenis

penempatan

(tabungan

mudharabah,

deposito

mudharabah, dan lain-lain yang sejenis),


b.

Jumlah penempatan;

c.

Jenis mata uang;

d.

Jangka waktu (rata-rata atau per kelompok);

e.

Kualitas penempatan;

f.

Tingkat bagi hasil/bonus;

g.

Pihak berelasi;

h.

Jumlah dana yang diblokir dan alasannya; dan

i.

Jumlah

dana

yang

tidak

dapat

dicairkan

pada

bank

bermasalah, bank beku operasi atau likuidasi termasuk tingkat

9.8

233

Lanjutan Lampiran 1
kemungkinan diterimanya kembali dana tersebut berdasarkan
konfirmasi dari otoritas yang berwenang.

9.9

234

Lanjutan Lampiran 1
IX.4. SIMPANAN DARl BANK LAIN
A. Definisi
01.

Simpanan dari bank lain adalah kewajiban Bank kepada bank lain
baik di dalam negeri maupun di luar negeri dalam bentuk antara lain
giro Wadiah, tabungan Wadiah.

02.

Wadiah adalah titipan bank lain yang harus dijaga dan dikembalikan
setiap saat bila bank penitip menghendaki dananya kembali. Bank
yang menerima titipan bertanggung jawab atas pengembalian titipan
tersebut.

B. Dasar Pengaturan
01.

PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.

02.

PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian.

03.

PSAK 55 tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran.

04.

PSAK 60 tentang Instrumen Keuangan: Pengungkapan.

C. Penjelasan
01.

Giro Wadiah adalah titipan bank lain pada Bank yang penarikannya
dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro,
sarana

perintah

pembayaran

lainnya

atau

dengan

cara

pemindahbukuan. Termasuk didalamnya giro Wadiah yang diblokir


untuk tujuan tertentu misalnya dalam rangka escrow account, giro
yang diblokir oleh yang berwajib karena suatu perkara.
02.

Tabungan Wadiah adalah titipan bank lain pada Bank yang


penarikannya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang
disepakati dengan kuitansi, sarana perintah pembayaran lainnya
atau dengan cara pemindahbukuan.

D. Perlakuan Akuntansi
D1. Pengakuan dan pengukuran
01.

Giro Wadiah
a. Giro Wadiah diakui sebesar nominal penyetoran atau penarikan
yang dilakukan oleh pemilik rekening.

9.10

235

Lanjutan Lampiran 1
b. Setoran giro Wadiah yang diterima secara tunai diakui pada saat
uang diterima. Setoran giro Wadiah melalui kliring diakui setelah
efektif diterima.
02.

Tabungan Wadiah
a. Tabungan Wadiah diakui sebesar nominal penyetoran atau
penarikan yang dilakukan oleh pemilik rekening.
b. Setoran tabungan Wadiah yang diterima secara tunai diakui pada
saat uang diterima. Setoran tabungan Wadiah melalui kliring
diakui setelah efektif diterima.

03.

Pemberian bonus atas simpanan kepada nasabah diakui sebagai


beban pada saat terjadinya.

D2. Penyajian
Saldo simpanan Wadiah bank lain disajikan sebesar jumlah nominalnya
untuk masing-masing bentuk simpanan.
E. llustrasi Jurnal
01.

Pada saat penerimaan titipan


Db. Kas/kliring/pemindahbukuan
Kr. Giro/tabungan Wadiah bank lain

02.

Pada saat penarikan


Db. Giro/tabungan Wadiah bank lain
Kr. Kas/kliring/pemindahbukuan

03.

Pembayaran bonus giro/tabungan Wadiah bank lain


Db. Beban bonus giro/tabungan Wadiah bank lain
Kr. Giro/tabungan Wadiah bank lain

F. Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain:
01.

02.

Rincian simpanan mengenai:


a.

Jumlah dan jenis simpanan, termasuk pihak berelasi.

b.

Jumlah simpanan yang diblokir untuk tujuan tertentu.

Pemberian fasilitas istimewa kepada penyimpan.

9.11

236

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN X ASET TETAP, ASET TIDAK BERWUJUD, DAN


ASET YANG DIAMBIL-ALIH
X.1 ASET TETAP
A.

Definisi
Aset Tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan
dalam penyediaan jasa, disewakan kepada pihak lain dalam kegiatan
usaha sehari-hari, atau tujuan administratif, dan digunakan selama
lebih dari satu periode.

B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 16 tentang Aset Tetap.
02. PSAK 30 tentang Sewa.
03. PSAK 48 tentang Penurunan Nilai Aset.
04. ISAK

tentang

Penentuan

Apakah

Suatu

Perjanjian

Mengandung Suatu Sewa.


05. ISAK 25 tentang Hak atas Tanah.
C.

Penjelasan
01. Aset Tetap dapat diperoleh dalam bentuk siap pakai atau
dibangun terlebih dahulu sampai siap pakai, atau dari transaksi
sewa pembiayaan.
02. Aset Tetap, antara lain, meliputi tanah, bangunan, alat angkut,
inventaris. Khusus untuk inventaris, perlakuan akuntansinya
tergantung dari kebijakan materialitas.
03. Aset Tetap yang diperoleh untuk tujuan keamanan, mungkin
tidak menambah masa manfaat tetapi diperlukan bagi Bank
untuk memperoleh manfaat ekonomi dari Aset Tetap yang lain.
Perolehan Aset Tetap semacam itu diakui sebagai Aset Tetap.
04. Biaya perolehan untuk Aset Tetap yang diperoleh melalui
pembelian atau dibangun sendiri meliputi:
a.

Harga

perolehannya,

termasuk

bea

impor

dan

pajak

pembelian yang tidak boleh dikreditkan setelah dikurangi


diskon pembelian dan potongan lain;

10.1

237

Lanjutan Lampiran 1

b.

Biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk


membawa Aset Tetap ke lokasi dan kondisi yang diinginkan
agar Aset Tetap siap digunakan sesuai dengan keinginan
dan maksud manajemen; dan

c.

Estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan Aset


Tetap dan restorasi lokasi aset.

05. Biaya yang dapat diatribusikan secara langsung, antara lain


adalah:
a.

Biaya imbalan kerja yang timbul secara langsung dari


pembangunan atau perolehan Aset Tetap;

b.

Biaya penyiapan lahan untuk usaha;

c.

Biaya handling dan penyerahan awal;

d.

Biaya perakitan dan instalasi.

e.

Biaya pengujian Aset Tetap apakah Aset Tetap berfungsi


dengan baik.

f.

Komisi profesional, misalnya biaya arsitek.

g.

Biaya pengurusan awal hak legal atas tanah.

06. Biaya yang bukan merupakan biaya perolehan Aset Tetap,


antara lain:
a.

Biaya pembukaan fasilitas baru;

b.

Biaya pengenalan produk baru, termasuk biaya iklan dan


aktivitas promosi;

c.

Biaya penyelenggaraan bisnis di lokasi baru atau kelompok


pelanggan baru, termasuk biaya pelatihan staf;

d.

Administrasi dan biaya overhead umum lain.

07. Untuk Aset Tetap yang diperoleh secara gabungan, biaya


perolehan dari masing-masing Aset Tetap dilakukan secara
proporsional atas nilai wajar dari masing-masing Aset Tetap.
08. Untuk bagian-bagian Aset Tetap yang diganti secara periodik,
namun tidak sering dilakukan atau tidak berulang, biaya
perolehan

bagian

Aset

Tetap

yang

diganti

dihentikan-

pengakuannya, dan bagian Aset Tetap penggantinya diakui


sebagai bagian Aset Tetap sepanjang memenuhi kriteria untuk
diakui sebagai bagian dari Aset Tetap.
09. Suatu bagian yang signifikan dari Aset Tetap mungkin memiliki
umur manfaat dan metode penyusutan yang sama dengan umur

10.2

238

Lanjutan Lampiran 1

manfaat dan metode penyusutan bagian yang signifikan lain dari


aset tersebut. Bagian-bagian tersebut dapat dikelompokkan
menjadi satu dalam menentukan beban penyusutan.
10. Sewa pembiayaan
a.

Aset Tetap yang diperoleh melalui sewa pembiayaan berasal


dari perjanjian sewa dan perjanjian selain sewa tetapi
mengandung sewa.

b.

Perjanjian yang mengandung sewa


i.

Perjanjian

yang

mengandung

sewa

adalah

suatu

perjanjian antara pihak lain dengan Bank yang secara


legal bukan perjanjian sewa, tetapi memberikan hak
kepada Bank untuk menggunakan suatu aset dan
sebagai akibatnya Bank membayarkan suatu imbalan
kepada pihak lain tersebut;
ii.

Suatu

perjanjian

mengandung

sewa

jika

(1)

pemenuhan perjanjian tergantung pada penggunaan


aset tertentu; dan (2) Bank mempunyai kemampuan
atau

hak

untuk

mengoperasikan

aset

atau

mengarahkan pihak lain untuk mengoperasikan aset,


mempunyai

kemampuan

atau

hak

untuk

mengendalikan aset fisik terhadap aset, atau kecil


kemungkinan pihak lain akan mengambil manfaat dari
aset dalam jumlah yang lebih dari tidak signifikan dan
harga yang dibayar Bank bukan harga tetap atau
harga pasar.
c.

Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika


sewa mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan
manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset.

d.

Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi jika sewa


tidak mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan
manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset.

e.

Klasifikasi sewa sebagai sewa pembiayaan atau sewa


operasi didasarkan pada substansi transaksi dan bukan
pada bentuk formal kontraknya.

f.

Kriteria utama yang mengarah pada sewa pembiayaan


adalah:

10.3

239

Lanjutan Lampiran 1

i.

Sewa mengalihkan kepemilikan aset kepada Bank pada


akhir masa sewa.

ii.

Bank mempunyai opsi untuk membeli aset pada harga


yang cukup rendah dibanding nilai wajar pada tanggal
opsi mulai dapat dilaksanakan. Sehingga pada awal
sewa dapat dipastikan bahwa opsi memang akan
dilaksanakan.

iii.

Masa

sewa

adalah

untuk

sebagian

besar

umur

ekonomis aset, meskipun hak milik tidak dialihkan;


iv.

Pada awal sewa, nilai kini dari jumlah pembayaran


sewa minimum secara subtansial mendekati nilai wajar
aset yang disewa;

v.

Aset

yang

disewa

memiliki

karakteristik

khusus

dimana hanya Bank yang dapat menggunakannya


tanpa perlu dimodifikasi secara material.
g.

Kriteria tambahan yang mengarah pada sewa pembiayaan


adalah:
i.

Jika Bank dapat membatalkan sewa, kerugian lessor


yang terkait dengan pembatalan ditanggung oleh Bank.

ii.

Keuntungan atau kerugian dari fluktuasi nilai wajar


residu dibebankan kepada Bank, misalnya, dalam
bentuk potongan harga sewa yang setara dengan
sebagian besar hasil penjualan residu pada akhir sewa;

iii.

Bank memiliki kemampuan untuk melanjutkan sewa


pada periode kedua dengan nilai sewa yang secara
substansial lebih rendah dari nilai sewa pasar.

h.

Kriteria di atas tidak selalu harus konklusif bahwa suatu


sewa adalah sewa pembiayaan. Jika jelas dari fitur lainnya
menunjukkan sewa tidak mengalihkan secara substansial
seluruh

risiko

dan

manfaat

yang

terkait

dengan

kepemilikan, maka sewa tersebut diklasifikasikan sebagai


sewa

operasi.

Misalnya,

besarnya

pembayaran

atas

kepemilikan aset yang dialihkan pada akhir sewa bersifat


variabel dan setara dengan nilai wajarnya, atau jika
terdapat sewa kontinjen.

10.4

240

Lanjutan Lampiran 1

11. Model pengukuran


a.

Model Biaya
Aset Tetap dicatat sebesar biaya perolehan dikurangi
akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai
aset.

b.

Model Revaluasi
i.

Aset Tetap diukur pada jumlah revaluasian, yaitu nilai


wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi
penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang
terjadi setelah tanggal revaluasi.

ii.

Revaluasi dilakukan dengan keteraturan yang cukup


reguler sehingga jumlah tercatat Aset Tetap tidak
berbeda secara signifikan dengan nilai wajar.

iii.

Revaluasi dilakukan sekurang-kurangnya setiap tiga


atau lima tahun.

iv.

Jika suatu Aset Tetap direvaluasi, maka seluruh Aset


Tetap dalam kelompok yang sama harus direvaluasi.

v.

Kerugian penurunan nilai akibat revaluasi diakui


dalam laba rugi. Jika sebelumnya terdapat surplus
revaluasi, maka kerugian penurunan nilai tersebut
terlebih dahulu diakui sebagai pengurang surplus
revaluasi maksimal sebesar saldo surplus revaluasi.

vi.

Kenaikan nilai akibat revaluasi (surplus revaluasi)


diakui dalam penghasilan komprehensif lain. Jika
sebelumnya terjadi penurunan nilai yang telah diakui
dalam laba rugi maka surplus revaluasi diakui dalam
laba rugi maksimal sebesar jumlah penurunan nilai
yang telah diakui.

vii. Surplus revaluasi dalam penghasilan komprehensif


lain dapat dipindahkan dalam saldo laba melalui
Laporan

Perubahan

Ekuitas

ketika

Aset

Tetap

dihentikan pengakuannya, atau dipindahkan dalam


saldo laba melalui Laporan Perubahan Ekuitas seiring
penyusutan Aset Tetap.
viii. Jika

Aset

Tetap

penyusutan

pada

direvaluasi,
tanggal

maka

revaluasi

akumulasi
diperlakukan

10.5

241

Lanjutan Lampiran 1

dengan cara disajikan kembali secara proporsional


dengan perubahan dalam jumlah tercatat bruto aset
sehingga jumlah tercatat aset setelah revaluasi sama
dengan jumlah revaluasiannya.
12. Penyusutan
a.

Bank harus memilih metode penyusutan yang paling


mencerminkan ekspektasi pola konsumsi manfaat ekonomis
masa depan dari aset tersebut.

b.

Bank harus melakukan review minimum setiap akhir tahun


atas metode penyusutan, umur manfaat, dan nilai residu
dari Aset Tetap.

c.

Perubahan metode penyusutan, umur manfaat, dan nilai


residu diterapkan secara prospektif.

d.

Aset Tetap tanah tidak disusutkan, kecuali:


i.

Kondisi

kualitas

tanah

tidak

layak

lagi

untuk

digunakan dalam operasi utama.


ii.

Prediksi

manajemen

perpanjangan

atau

atau

pembaruan

kepastian
hak

bahwa

kemungkinan

besar atau pasti tidak diperoleh.


e.

Tanah dan bangunan merupakan aset yang berbeda dan


harus diperlakukan sebagai aset yang terpisah, meskipun
diperoleh sekaligus. Bangunan memiliki umur manfaat
yang

terbatas,

oleh

karenanya

harus

disusutkan.

Peningkatan nilai tanah dimana di atasnya didirikan


bangunan tidak mempengaruhi penentuan jumlah yang
dapat disusutkan dari bangunan tersebut.
13. Penurunan nilai
a.

Pada setiap tanggal pelaporan Bank harus me-review ada


atau tidaknya indikasi penurunan nilai aset. Jika terdapat
indikasi penurunan nilai aset, maka Bank harus menaksir
jumlah terpulihkan, yaitu nilai wajar dikurangi biaya untuk
menjual.

b.

Indikasi terjadi penurunan nilai antara lain:


i.

Penurunan nilai pasar Aset Tetap secara signifikan


melebihi penurunan akibat proses normal depresiasi
selama periode tertentu.

10.6

242

Lanjutan Lampiran 1

ii.

Perubahan teknologi, pasar, ekonomi, atau lingkup


hukum tempat beroperasi, atau dalam pasar jasa yang
dihasilkan dari aset tersebut secara signifikan selama
periode tertentu, atau diprediksikan akan terjadi dalam
waktu dekat;

iii.

Terdapat bukti mengenai keusangan atau kerusakan


fisik aset;

iv.

Telah terjadi atau akan terjadi dalam waktu dekat


perubahan

signifikan

yang

bersifat

merugikan

sehubungan dengan cara penggunaan aset;


v.

Terdapat

bukti

menunjukkan

dari

bahwa

pelaporan
kinerja

internal

ekonomi

aset

yang
tidak

memenuhi harapan atau akan lebih buruk dari yang


diperkirakan.
14. Penghentian pengakuan:
a.

Aset Tetap dihentikan pengakuannya pada saat dilepaskan,


atau tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang
diperkirakan dari penggunaan dan pelepasan atas Aset
Tetap tersebut.

b.

Aset

Tetap

dihentikan

pengakuannya

pada

saat

direklasifikasi menjadi aset dimiliki untuk dijual atau


direklasifikasi ke pos aset lain.
D.

Perlakuan Akuntansi

D.1 Pengakuan dan Pengukuran


01. Pada saat perolehan, Bank mengakui Aset Tetap sebesar biaya
perolehan.
02. Setelah pengakuan awal, Bank dapat mengakui dan mengukur
Aset Tetap dengan menggunakan:
a.

Model biaya
Aset Tetap dicatat sebesar biaya perolehan dikurangi
akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan
nilai.

b.

Model revaluasi
i.

Aset Tetap dicatat sebesar jumlah revaluasian.

10.7

243

Lanjutan Lampiran 1

ii.

Peningkatan

jumlah

tercatat

aset

diakui

dalam

penghasilan komprehensif lain pada bagian surplus


revaluasi.
iii.

Penurunan jumlah tercatat aset diakui dalam laba


rugi.

03. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian


pengakuan Aset Tetap harus diakui dalam laba rugi.
D.2 Penyajian
01. Aset

Tetap

disajikan

sebesar

biaya

perolehan

dikurangi

akumulasi penyusutan dan kerugian penurunan nilai jika


menggunakan model biaya.
02. Aset Tetap disajikan sebesar jumlah revaluasian dikurangi
akumulasi penyusutan dan kerugian penurunan nilai jika
menggunakan model revaluasi.
E.

Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat perolehan
Db. Aset Tetap
Kr. Kas/rekening
02. Model Biaya
a.

Pengakuan beban penyusutan


Db. Beban penyusutan
Kr. Akumulasi penyusutan

b.

Terjadi penurunan nilai (jika ada)


Db. Kerugian penurunan nilai
Kr. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai

03. Model Revaluasi


a.

Pengakuan beban penyusutan


Db. Beban penyusutan
Kr. Akumulasi penyusutan

b.

Peningkatan nilai wajar


Db. Aset Tetap
Kr. Surplus revaluasi

c.

Penurunan nilai wajar


Db. Kerugian penurunan nilai
Kr. Aset Tetap

10.8

244

Lanjutan Lampiran 1

d.

Pemindahan surplus revaluasi


Db. Surplus revaluasi
Kr. Saldo laba

04. Pada saat penghentian pengakuan

F.

Db.

Kas/rekening

Db.

Akumulasi penyusutan

Db/Kr.

Kerugian/keuntungan

Kr.

Aset Tetap

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01.

Ikhtisar kebijakan akuntansi yang signifikan

02.

Untuk setiap kelompok Aset Tetap perlu diungkapkan:


a.

Dasar pengukuran yang digunakan dalam menentukan


jumlah tercatat bruto.

b.

Metode penyusutan yang digunakan.

c.

Umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan.

d.

Jumlah

tercatat

bruto

dan

akumulasi

penyusutan

(dijumlahkan dengan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai)


pada awal dan akhir periode.
e.

Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode


yang menunjukkan:
i.

penambahan;

ii.

Aset Tetap yang direklasifikasi ke aset dimiliki untuk


dijual;

iii.

perolehan melalui kombinasi bisnis;

iv.

peningkatan atau penurunan akibat dari revaluasi


serta dari kerugian penurunan nilai yang diakui dalam
penghasilan komprehensif lain;

v.

kerugian penurunan nilai yang diakui dalam laba rugi;

vi.

kerugian penurunan nilai yang dijurnal balik dalam


laba rugi, jika ada;

vii. penyusutan;
viii. selisih nilai tukar neto yang timbul dalam penjabaran
Laporan Keuangan dari mata uang fungsional menjadi
mata uang pelaporan yang berbeda; dan
10.9

245

Lanjutan Lampiran 1

ix.

perubahan lain.

03. Keberadaan dan jumlah restriksi atas hak milik, dan Aset Tetap
yang dijaminkan untuk utang.
04. Jumlah pengeluaran yang diakui dalam jumlah tercatat Aset
Tetap yang sedang dalam pembangunan.
05. Jumlah komitmen kontraktual dalam perolehan Aset Tetap.
06. Jumlah kompensasi dari pihak ketiga untuk Aset Tetap yang
mengalami penurunan nilai, hilang atau dihentikan yang
dimasukkan dalam laba rugi, jika tidak diungkapkan secara
terpisah pada Laporan Laba Rugi Komprehensif.
07. Sifat

dan

dampak

perubahan

estimasi

akuntansi

yang

berdampak material pada periode berjalan atau diperkirakan


berdampak material pada periode berikutnya:
a.

nilai residu;

b.

estimasi biaya pembongkaran, pemindahan atau restorasi


suatu Aset Tetap;

c.

umur manfaat; dan

d.

metode penyusutan.

08. Jika Aset Tetap disajikan pada jumlah revaluasian, diungkapkan


hal berikut:
a.

Tanggal efektif revaluasi.

b.

Apakah penilai independen dilibatkan.

c.

Metode dan asumsi signifikan yang digunakan dalam


mengestimasi nilai wajar aset.

d.

Penjelasan mengenai nilai wajar aset yang ditentukan


secara langsung berdasarkan harga yang dapat diobservasi
dalam suatu pasar aktif atau transaksi pasar terakhir yang
wajar atau diestimasi menggunakan teknik penilaian lain.

e.

Untuk setiap kelompok Aset Tetap, jumlah tercatat aset


seandainya aset tersebut dicatat dengan model biaya.

f.

Surplus revaluasi, yang menunjukkan perubahan selama


periode dan pembatasan-pembatasan distribusi kepada
pemegang saham.

Hal-hal yang dianjurkan untuk diungkapkan antara lain:


01. Jumlah tercatat Aset Tetap yang tidak dipakai sementara.

10.10

246

Lanjutan Lampiran 1

02. Jumlah tercatat bruto dari setiap Aset Tetap yang telah
disusutkan penuh dan masih digunakan.
03. Jumlah tercatat Aset Tetap yang dihentikan dari penggunaan
aktif dan tidak diklasifikasikan sebagai Aset Tetap tersedia
untuk dijual.
04. Jika model biaya digunakan, nilai wajar Aset Tetap apabila
berbeda secara material dari jumlah tercatat.

10.11

247

Lanjutan Lampiran 1

X.2 ASET TIDAK BERWUJUD


A.

Definisi
Aset

Tidak

Berwujud

adalah

aset

nonmoneter

yang

dapat

diidentifikasikan dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki


untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang
atau jasa, disewakan kepada pihak lainnya, atau untuk tujuan
administratif.
B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 19 tentang Aset Tidak Berwujud.
02. PSAK 48 tentang Penurunan Nilai Aset.

C.

Penjelasan
01. Aset Tidak Berwujud harus memiliki karakteristik sebagai
berikut:
a.

Keteridentifikasian;

b.

Adanya pengendalian sumber daya;

c.

Adanya manfaat ekonomi di masa depan.

02. Pengeluaran untuk penelitian diakui sebagai beban.


03. Pengeluaran untuk pengembangan diakui sebagai Aset Tidak
Berwujud sepanjang memenuhi semua kriteria berikut:
a.

Kelayakan

teknis

penyelesaian

Aset

Tidak

Berwujud

sehingga aset tersebut dapat digunakan atau dijual.


b.

Niat untuk menyelesaikan Aset Tidak Berwujud tersebut


dan menggunakannya atau menjualnya.

c.

Bagaimana

Aset

Tidak

Berwujud

akan

menghasilkan

kemungkinan besar manfaat ekonomi masa depan. Antara


lain

Bank

mampu

menunjukkan

adanya

pasar

bagi

keluaran Aset Tidak Berwujud itu sendiri, atau, jika Aset


Tidak Berwujud itu akan digunakan secara internal, Bank
mampu menunjukkan kegunaan Aset Tidak Berwujud
tersebut.
d.

Tersedianya kecukupan sumber daya teknis, keuangan, dan


sumber daya lain untuk menyelesaikan pengembangan aset

10.12

248

Lanjutan Lampiran 1

tidak berwujud dan untuk menggunakan atau menjual aset


tersebut.
e.

Kemampuan untuk mengukur secara andal pengeluaran


yang

terkait

dengan

aset

tidak

berwujud

selama

pengembangannya.
04. Beban pengurusan perpanjangan atau pembaruan hak atas
tanah diakui sebagai aset tidak berwujud. Beban tersebut
diamortisasi selama, mana yang lebih pendek antara umur legal
hak atau umur ekonomi tanah. Jika beban pengurusan
perpanjangan atau pembaruan hak atas tanah tidak material,
maka dibebankan pada periode berjalan.
05. Penjelasan

mengenai

amortisasi,

penurunan

nilai,

dan

penghentian-pengakuan Aset Tidak Berwujud mengacu pada


penjelasan di Bagian X.1 tentang Aset Tetap.
D.

Perlakuan Akuntansi
Perlakuan akuntansi mengacu pada Bagian X.1 tentang Aset Tetap.

E.

Ilustrasi Jurnal
Ilustrasi jurnal mengacu pada Bagian X.1 tentang Aset Tetap.

F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan untuk setiap kelompok Aset Tidak
Berwujud dengan memisahkan Aset Tidak Berwujud yang dihasilkan
secara internal dan Aset Tidak Berwujud yang lain:
01. Umur manfaat tidak terbatas atau terbatas dan, jika umur
manfaat terbatas, umur manfaat atau tarif amortisasi yang
digunakan.
02. Metode amortisasi yang digunakan untuk Aset Tidak Berwujud
dengan umur manfaat terbatas.
03. Jumlah tercatat bruto dan akumulasi amortisasi (secara agregat
dengan akumulasi rugi penurunan nilai) pada awal dan akhir
periode.
04. Pos dalam Laporan Laba Rugi Komprehensif yang terdapat
amortisasi Aset Tidak Berwujud.

10.13

249

Lanjutan Lampiran 1

05. Rekonsiliasi atas jumlah tercatat pada awal dan akhir periode
yang menunjukkan:
a.

Penambahan, yang secara terpisah mengindikasikan Aset


Tidak Berwujud dari pengembangan internal, diperoleh
secara terpisah, dan diperoleh melalui kombinasi bisnis.

b.

Aset yang dikelompokkan sebagai aset yang dimiliki untuk


dijual atau termasuk dalam kelompok aset lepasan yang
dikelompokkan sebagai dimiliki untuk dijual dan pelepasan
lain.

c.

Peningkatan atau penurunan selama periode yang berasal


dari revaluasi dan dari pengakuan rugi penurunan nilai
atau pembalikan di pendapatan komprehensif lain (jika
ada).

d.

Rugi penurunan nilai yang diakui dalam laba rugi.

e.

Rugi penurunan nilai yang dibalik dalam laba rugi.

f.

Setiap amortisasi yang diakui.

g.

Selisih kurs neto yang timbul dari penjabaran Laporan


Keuangan ke mata uang penyajian.

h.

Perubahaan lain.

06. Untuk Aset Tidak Berwujud yang dinilai dengan umur manfaat
tidak terbatas, jumlah tercatat aset dan alasan yang mendukung
penilaian umur manfaat tidak terbatas tersebut.
07. Penjelasan, jumlah tercatat, dan sisa periode amortisasi dari
setiap Aset Tidak Berwujud yang material terhadap Laporan
Keuangan entitas.
08. Untuk Aset Tidak Berwujud yang diperoleh melalui hibah
pemerintah dan awalnya diakui pada nilai wajar:
a.

nilai wajar pada pengakuan awal atas aset tersebut;

b.

jumlah tercatatnya; dan

c.

setelah pengakuan awal aset tersebut diukur dengan model


biaya atau model revaluasi.

09. Keberadaan dan jumlah tercatat Aset Tidak Berwujud yang


kepemilikannya

dibatasi

dan

jumlah

tercatat

Aset

Tidak

Berwujud yang menjadi jaminan untuk liabilitas.


10. Nilai komitmen kontraktual untuk akuisisi Aset Tidak Berwujud.

10.14

250

Lanjutan Lampiran 1

Jika menggunakan model revaluasi, maka harus diungkapkan halhal berikut:


01. Berdasarkan kelompok Aset Tidak Berwujud:
a.

tanggal efektif revaluasi;

b.

jumlah tercatat Aset Tidak Berwujud yang direvaluasi; dan

c.

jumlah tercatat yang akan diakui jika Aset Tidak Berwujud


diukur dengan model biaya.

02. Jumlah surplus revaluasi Aset Tidak Berwujud pada awal dan
akhir periode, mengindikasikan perubahan selama periode dan
pembatasan apa pun dalam pendistribusian saldo (surplus)
kepada pemegang saham; dan
03. Metode dan asumsi signifikan dalam mengestimasi nilai wajar
aset tersebut.

10.15

251

Lanjutan Lampiran 1

X.3 ASET YANG DIAMBIL-ALIH


A.

Definisi
Aset yang diambil-alih (AYDA) adalah aset yang diperoleh Bank, baik
melalui

pelelangan

maupun

di

luar

pelelangan

berdasarkan

penyerahan secara sukarela oleh pemilik agunan atau berdasarkan


kuasa untuk menjual di luar lelang dari pemilik agunan dalam hal
nasabah tidak memenuhi kewajibannya kepada Bank.
B.

Dasar Pengaturan
PSAK 58 tentang Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan
Operasi yang Dihentikan.

C.

Penjelasan
Bank wajib melakukan upaya penyelesaian terhadap AYDA yang
dimiliki

yaitu

mengupayakan

penjualan

dengan

segera

serta

mendokumentasikan upaya penyelesaian tersebut.


D.

Perlakuan Akuntansi

D.1 Pengakuan dan Pengukuran


01. Pada saat pengakuan awal, AYDA dicatat pada nilai wajar
setelah dikurangi biaya untuk menjualnya yaitu maksimum
sebesar

kewajiban

nasabah.

Bank

tidak

dapat

mengakui

keuntungan pada saat pengambilalihan aset.


02. Setelah pengakuan awal, AYDA dicatat sebesar nilai yang lebih
rendah antara nilai tercatat dengan nilai wajarnya setelah
dikurangi biaya untuk menjualnya.
03. Jika AYDA mengalami penurunan nilai, maka Bank mengakui
kerugian.
04. Jika AYDA mengalami pemulihan penurunan nilai, maka Bank
mengakui pemulihan penurunan nilai tersebut maksimum
sebesar kerugian penurunan nilai yang telah diakui.
05. AYDA tidak disusutkan.
06. Pada saat penjualan, selisih antara nilai AYDA yang dibukukan
dan

hasil

penjualannya

diakui

sebagai

keuntungan

atau

kerugian.

10.16

252

Lanjutan Lampiran 1

D.2 Penyajian
AYDA disajikan secara terpisah dari aset lain.
E.

Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat perolehan
Db. Aset yang diambil alih
Db. Kerugian (jika ada)
Kr. Pembiayaan terkait
02. Pada akhir periode
a.

Jika terdapat penurunan nilai


Db. Kerugian
Kr. Aset yang diambil alih

b.

Jika terdapat peningkatan nilai


Tidak ada jurnal

c.

Jika terdapat peningkatan nilai dan sebelumnya mengalami


penurunan nilai
Db. Aset yang diambil alih
Kr. Keuntungan

03. Pada saat penjualan

F.

Db.

Kas/rekening

Db/Kr.

Kerugian/keuntungan

Kr.

Aset yang diambil alih

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Deskripsi AYDA.
02. Nilai wajar AYDA.
03. Metode

dan

asumsi

signifikan

yang

diterapkan

dalam

menentukan nilai wajar dari AYDA, yang mencakup penyataan


apakah penentuan nilai wajar tersebut didukung oleh bukti
pasar atau lebih banyak berdasarkan faktor lain (yang harus
diungkapkan oleh Bank) karena sifat AYDA tersebut dan
keterbatasan data pasar yang dapat diperbandingkan.
04. Upaya penjualan yang dilakukan oleh Bank.
05. Kerugian penurunan nilai AYDA.
06. Keuntungan atau kerugian yang diakui dari penjualan AYDA.

10.17

253

Lanjutan Lampiran 1

07. Segmen dari AYDA, jika dapat diterapkan.

10.18

254

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN XI LIABILITAS LAIN


XI.1 SIMPANAN
A.

Definisi
01. Simpanan adalah kewajiban Bank kepada pihak ketiga (bukan
bank) berupa giro dan tabungan yang mempergunakan prinsip
Wadiah.
02. Wadiah

adalah

titipan

nasabah

yang

harus

dijaga

dan

dikembalikan setiap saat bila nasabah yang bersangkutan


menghendaki.

bertanggungjawab

Bank

atas

pengembalian

titipan dana tersebut.


B.

Dasar Pengaturan
01. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
Syariah.

C.

Penjelasan
01. Giro Wadiah adalah titipan pihak ketiga pada Bank yang
penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan
cek, bilyet giro, kartu ATM, sarana perintah pembayaran lainnya
atau dengan cara pemindahbukuan. Termasuk di dalamnya giro
Wadiah yang diblokir untuk tujuan tertentu misalnya dalam
rangka escrow account, giro yang diblokir oleh yang berwajib
karena suatu perkara.
02. Tabungan Wadiah adalah titipan pihak ketiga pada Bank yang
penarikannya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang
disepakati

dengan

kuitansi,

kartu

ATM,

sarana

perintah

pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahbukuan.


D.

Perlakuan Akuntansi

D.1 Pengakuan dan pengukuran


01. Giro Wadiah
a.

Giro Wadiah diakui sebesar nominal penyetoran atau


penarikan yang dilakukan oleh pemilik rekening.

11.1

255

Lanjutan Lampiran 1

b.

Setoran giro Wadiah yang diterima secara tunai diakui pada


saat uang diterima. Setoran giro Wadiah melalui kliring
diakui setelah efektif diterima.

02. Tabungan Wadiah


a.

Tabungan Wadiah diakui sebesar nominal penyetoran atau


penarikan yang dilakukan oleh pemilik rekening.

b.

Setoran tabungan Wadiah yang diterima secara tunai diakui


pada saat uang diterima. Setoran tabungan Wadiah melalui
kliring diakui setelah efektif diterima.

03. Pemberian bonus atas simpanan kepada nasabah diakui sebagai


beban pada saat terjadinya.
D.2 Penyajian
Saldo simpanan Wadiah disajikan sebesar jumlah nominalnya untuk
masing-masing bentuk simpanan.
E.

llustrasi Jurnal
01. Pada saat penerimaan titipan
Db. Kas/kliring/pemindahbukuan
Kr. Giro/tabungan Wadiah
02. Pada saat penarikan
Db. Giro/tabungan Wadiah
Kr. Kas/kliring/pemindahbukuan
03. Pembayaran bonus giro/tabungan Wadiah
Db. Beban bonus giro/tabungan Wadiah
Kr. Giro/tabungan Wadiah
Kr. Kewajiban pajak penghasilan

F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Rincian simpanan mengenai:
a.

Jumlah dan jenis simpanan, termasuk pihak berelasi.

b.

Jumlah simpanan yang diblokir untuk tujuan tertentu.

02. Pemberian fasilitas istimewa kepada penyimpan.

11.2

256

Lanjutan Lampiran 1

XI.2 LIABILITAS SEGERA

A.

Definisi
Liabilitas segera adalah kewajiban Bank kepada pihak lain yang
sifatnya wajib segera dibayarkan sesuai dengan perintah pemberi
amanat atau perjanjian yang ditetapkan sebelumnya.

B.

Dasar Pengaturan
01. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
Syariah.

C.

Penjelasan
Liabilitas segera antara lain terdiri dari:
01. Penerimaan pajak termasuk potongan pajak yang masih harus
disetor. Kewajiban pajak untuk transaksi mata uang asing
dibukukan dalam Rupiah dengan menggunakan kurs yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan pada saat pemotongan (pajak
terutang).
02. Liabilitas yang sudah jatuh tempo namun belum ditarik seperti
deposito mudharabah, setoran jaminan, bagi hasil yang belum
diambil shahibul maal.
03. Dana transfer/kiriman uang masuk/keluar.
04. Saldo rekening tabungan dan giro yang sudah ditutup namun
belum diambil oleh pemilik rekening.
05. Komponen-komponen di atas apabila jumlahnya material dapat
dikelompokkan dalam pos tersendiri.

D.

Perlakuan Akuntansi

D.1 Pengakuan dan Pengukuran


Liabilitas segera diakui pada saat timbulnya kewajiban; atau diterima
perintah dari pemberi amanat, baik dari nasabah maupun dari bank
lain.
D.2 Penyajian
Liabilitas segera disajikan sebesar jumlah liabilitas Bank yang wajib
segera dibayarkan.

11.3

257

Lanjutan Lampiran 1

E.

Ilustrasi Jurnal
01. Transfer kiriman uang:
a.

Pada saat diterima dana untuk kiriman uang ke pihak lain


Db. Kas/rekening nasabah/kliring
Kr. Liabilitas segera-kiriman uang

b.

Pada saat dilakukan pembayaran kiriman uang


Db. Liabilitas segera-kiriman uang
Kr. Kas/rekening nasabah/kliring

02. Titipan pajak nasabah


a.

Pada saat diterima dana untuk penyetoran pajak ke


rekening penerimaan negara (bila Bank sebagai bank
persepsi) atau dikirim kembali ke bank lain melalui kliring:
Db. Kas/rekening nasabah/kliring
Kr. Liabilitas segera-setoran pajak nasabah

b.

Pada saat kewajiban pajak disetor ke rekening penerimaan


negara
Db. Liabilitas segera-setoran pajak nasabah
Kr. Kas/rekening nasabah/kliring

03. Bagi hasil deposito yang belum diambil shahibul maal


a.

Pada saat bagi hasil deposito yang jatuh tempo dikeluarkan


namun belum diambil oleh shahibul maal
Db. Beban bagi hasil deposito mudharabah
Kr. Liabilitas segera-bagi hasil deposito mudharabah jatuh
tempo

b.

Pada saat bagi hasil deposito mudharabah jatuh tempo


diambil oleh shahibul maal
Db. Liabilitas segera-bagi hasil deposito mudharabah jatuh
tempo
Kr. Kas/rekening nasabah/kliring
Kr. Liabilitas segera-pajak nasabah

04. Penutupan rekening giro wadiah/tabungan mudharabah


a.

Penutupan rekening giro wadiah/tabungan mudharabah


oleh nasabah atau bank
Dr. Giro wadiah/tabungan mudharabah
Kr. Liabilitas segera-penutupan rekening

b.

Pada saat penyelesaian rekening yang ditutup

11.4

258

Lanjutan Lampiran 1

Dr. Liabilitas segera-penutupan rekening


Kr. Kas/rekening nasabah/kliring
F.

Pengungkapan
Bank perlu mengungkapkan hal-hal yang material seperti: kiriman
uang yang belum diambil oleh nasabah dan penutupan rekening.

11.5

259

Lanjutan Lampiran 1

XI.3 LIABILITAS LAINNYA


A.

Definisi
Liabilitas Lainnya adalah semua kewajiban kepada pihak lain atas
kegiatan utama Bank yang tidak dapat digolongkan ke dalam hutang
salam dan hutang istishna.

B.

Dasar Pengaturan
01.

Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan


Syariah.

C.

Penjelasan
01.

Liabilitas merupakan hutang perusahaan masa kini yang timbul


dari

peristiwa

masa

lalu,

penyelesaiannya

diharapkan

mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan yang


mengandung manfaat ekonomi.
02.

Karakteristik

esensial

liabilitas

adalah

bahwa

perusahaan

mempunyai kewajiban masa kini. Kewajiban adalah suatu tugas


atau

tanggung

jawab

untuk

bertindak

atau

untuk

melaksanakan sesuatu dengan cara tertentu. Kewajiban dapat


dipaksakan menurut hukum sebagai konsekuensi dari kontrak
mengikat atau peraturan perundangan.
03.

Termasuk dalam pos Liabilitas lainnya, antara lain:


a.

Setoran jaminan/margin deposit untuk L/C dan bank


garansi;

D.

b.

Pendapatan fee (ujrah) diterima di muka; dan

c.

Kewajiban pajak tangguhan.

Perlakuan Akuntansi

D1. Pengakuan dan Pengukuran


Liabilitas lainnya berupa:
01.

Setoran jaminan/margin deposit diakui sebesar jumlah dana


yang diterima sebagai jaminan untuk penerbitan bank garansi,
pembukaan L/C atau penyewaan safe deposit box.

02.

Pendapatan fee (ujrah) diterima di muka diakui sebesar jumlah


dana yang diterima yang belum diakui sebagai pendapatan.

11.6

260

Lanjutan Lampiran 1

03.

Kewajiban pajak tangguhan diakui sebesar selisih antara jumlah


pajak terhutang dikurangi jumlah pajak yang telah dibayar
untuk periode berjalan dan periode-periode sebelumnya.

D2. Penyajian
Liabilitas

lainnya

disajikan

secara

gabungan,

kecuali

nilainya

material maka wajib disajikan tersendiri dalam Laporan Posisi


Keuangan.
E.

Ilustrasi Jurnal
01. Setoran jaminan
a.

Pada saat menerima setoran jaminan


Dr. Kas/kliring
Kr. Setoran jaminan

b.

Pada saat setoran jaminan jatuh tempo dan diambil oleh


nasabah
Dr. Setoran jaminan
Kr. Kas/kliring

02. Pada saat penerimaan fee (ujrah)


Db. Kas
Kr. Pendapatan fee (ujrah) diterima di muka
03. Pada saat pengakuan pendapatan fee (ujrah) diterima di muka
Db. Pendapatan fee (ujrah) diterima dimuka
Kr. Pendapatan fee (ujrah)
04. Kewajiban pajak tangguhan, pada saat pengakuan kewajiban
pajak tangguhan
Db. Beban pajak tangguhan
Kr. Kewajiban pajak tangguhan
F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain:
01. Rincian Liabilitas lainnya;
02. Kebijakan akuntansi; dan
03. Metode amortisasi dan masa manfaat.

11.7

261

Lanjutan Lampiran 1

XI.4. HUTANG PAJAK


A.

Definisi
Hutang pajak adalah pajak badan usaha yang harus disetorkan ke
kas negara oleh Bank berdasarkan ketentuan yang berlaku.

B.

Dasar Pengaturan
Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
Syariah.

C.

Penjelasan
01.

Hutang pajak badan usaha harus dibayar dan disetorkan sesuai


dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.

02.

Besarnya hutang pajak pada akhir periode perhitungan final


(berdasarkan

SPT

tahunan)

ditentukan

setelah

dikurangi

dengan uang muka pajak yang dibayarkan setiap bulan.


03.

Pajak yang dipungut dan atau dipotong oleh Bank sebagai wajib
pungut disajikan dalam kewajiban segera, dan harus disetorkan
serta dilaporkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
di bidang perpajakan.

04.

Hutang Pajak Bumi dan Bangunan disajikan sebagai kewajiban


segera.

D.

Perlakuan Akuntansi

D1. Pengakuan dan Pengukuran


01.

Hutang pajak diakui pada saat terjadinya transaksi atau


kejadian

yang

membayar/menyetor

telah
pajak

mewajibkan
kepada

negara

Bank
sebesar

untuk
pajak

terhutang.
02.

Hutang pajak berkurang pada saat disetorkan ke rekening


penerimaan negara.

D2. Penyajian
Pajak yang terhutang disajikan dalam pos hutang pajak sebesar
jumlah yang harus dibayarkan ke kas negara.

11.8

262

Lanjutan Lampiran 1

E.

Ilustrasi Jurnal
01.

Pada saat membayar uang muka pajak


Db. Uang Muka PPh Pasal 25
Kr. Kas/kliring

02.

Pada saat pengakuan hutang pajak untuk PPh Pasal 29


Db. Pajak PPh Badan
Kr. Uang Muka PPh Pasal 25
Kr. Hutang PPh Pasal 29

03.

Pada saat pembayaran/penyetoran PPh Pasal 29


Db. Hutang PPh Pasal 29
Kr. Kas/kliring

F.

Pengungkapan
Bank harus mengungkapkan rincian hutang pajak berdasarkan jenis
pajak yang dipungut dan dibayar/disetorkan ke rekening penerimaan
negara.

11.9

263

Lanjutan Lampiran 1

XI.5. ESTlMASl KERUGIAN KOMITMEN DAN KONTINJENSI


A.

Definisi
Estimasi

kerugian

komitmen

dan

kontinjensi

adalah

taksiran

kerugian akibat tidak dipenuhinya komitmen dan kontinjensi oleh


nasabah.
B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 57 tentang Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontinjensi
dan Aset Kontinjensi.

C.

Penjelasan
01. Bank terkadang mengadakan transaksi yang tidak berakibat
pada pengakuan aset dan liabilitas pada Laporan Posisi
Keuangan, tetapi berakibat pada timbulnya komitmen dan
kontinjensi. Transaksi seperti itu seringkali merupakan bagian
yang penting dari kegiatan usaha suatu Bank dan dapat
berdampak signifikan terhadap tingkat risiko yang dihadapi
Bank tersebut.
02. Pada umumnya komitmen dan kontinjensi yang mempunyai
risiko kredit digolongkan dalam kualitas lancar, dalam perhatian
khusus, kurang lancar, diragukan dan macet sesuai dengan
ketentuan Bank Indonesia.
03. Pada umumnya komitmen dan kontinjensi yang telah jatuh
tempo dan nasabah tidak dapat memenuhi kewajibannya
dialihkan

menjadi

pembiayaan.

Selanjutnya

perlakuan

akuntansi untuk komitmen dan kontinjensi yang telah dialihkan


tersebut mengikuti akuntansi untuk pembiayaan.
D.

Perlakuan Akuntansi

D1. Pengakuan dan Pengukuran


01.

Estimasi kerugian komitmen dan kontijensi menjadi provisi


diakui jika:
a.

Bank

memiliki

kewajiban

kini

(baik

bersifat

hukum

maupun bersifat konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa


lalu;

11.10

264

Lanjutan Lampiran 1

b.

Kemungkinan

besar

penyelesaian

kewajiban

tersebut

mengakibatkan arus keluar sumber daya yang mengandung


manfaat ekonomi; dan
c.

Estimasi yang handal mengenai jumlah kewajiban tersebut


dapat dibuat

Jika kondisi diatas tidak terpenuhi, maka komitmen dan


kontijensi tidak dapat diakui dan diungkapkan dalam Catatan
Atas Laporan Keuangan.
02.

Besarnya estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi dibentuk


minimal sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan diakui
sebagai beban pada periode berjalan.

03.

Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi dapat dilakukan


setiap saat atau pada setiap tanggal Laporan Keuangan.

04.

Jika terjadi perubahan kualitas komitmen dan kontinjensi


setelah

tanggal

Laporan

Posisi

Keuangan

tetapi

sebelum

pemeriksaan lapangan oleh auditor eksternal selesai dilakukan,


maka perubahan tersebut dianggap sebagai peristiwa setelah
tanggal Laporan Posisi Keuangan yang mempengaruhi tanggal
Laporan Posisi Keuangan (subsequent event) dan diakui sebagai
koreksi saldo laba.
05.

Jika perubahan kualitas komitmen dan kontinjensi terjadi


setelah tanggal Laporan Posisi Keuangan dan pemeriksaan
lapangan oleh auditor eksternal telah selesai dilakukan, maka
perubahan tersebut dianggap sebagai perubahan estimasi dan
diakui sebagai koreksi dalam Laporan Laba Rugi tahun berjalan.

D2. Penyajian
Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi yang telah menjadi
provisi disajikan pada Laporan Posisi Keuangan sebagai liabilitas.
E.

llustrasi Jurnal
01.

Pembentukan estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi


Db. Beban estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
Kr. Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi

02.

Koreksi kelebihan estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi


a.

Jika diketahui pada masa subsequent event:


Db. Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi

11.11

265

Lanjutan Lampiran 1

Kr. Saldo laba


b.

Jika diketahui setelah masa subsequent event:


Db. Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
Kr. Pendapatan

estimasi

kerugian

komitmen

dan

kerugian

komitmen

dan

kontinjensi
03.

Koreksi

kekurangan

estimasi

kontinjensi
a.

jika diketahui pada masa subsequent event:


Db. Saldo laba
Kr. Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi

b.

jika diketahui setelah masa subsequent event:


Db. Beban estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
Kr. Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi

F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain:
01. Ikhtisar perubahan estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
dalam tahun bersangkutan:
a.

Saldo awal tahun (1)

b.

Selisih kurs penjabaran untuk estimasi dalam mata uang


asing (2)

c.

Pembentukan estimasi selama tahun berjalan (3)

d.

Pengurangan pembentukan estimasi selama tahun berjalan


(4)

e.

Koreksi karena pengalihan komitmen dan kontinjensi ke


dalam Laporan Posisi Keuangan (5)

f.

Saldo akhir tahun (1) + (2) + (3) - (4) - (5).

02. Kebijakan dan metode yang digunakan untuk menentukan


estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi.
G.

Ketentuan Lain-lain
Komitmen dan kontinjensi dalam mata uang asing wajib dibentuk
estimasi kerugian dalam mata uang asing yang sama.

11.12

266

Lanjutan Lampiran 1

XI.6 PINJAMAN SUBORDlNASl


A.

Definisi
Pinjaman subordinasi adalah pinjaman yang berdasarkan suatu
perjanjian hanya dapat dilunasi apabila Bank telah memenuhi
kewajiban tertentu dan dalam hal terjadi likuidasi hak tagihnya
berlaku paling akhir dari semua kewajiban dan investasi tidak terikat.

B.

Dasar Pengaturan
01.

Kerangka Dasar Penyajian dan Penyusunan Laporan Keuangan


Syariah.

C.

Penjelasan
02.

Tujuan adanya pinjaman subordinasi:


a.

Mengumpulkan dana untuk menambah setoran modal.

b.

Memenuhi kebutuhan dana di Bank dari pemilik atau


pemegang saham.

c.
03.

Memperkuat permodalan Bank.

Prinsip

Syariah

yang

dapat

digunakan

untuk

pinjaman

subordinasi adalah Qardh atau Mudharabah Muqayyadah.


04.

Qardh

merupakan

pinjaman

tanpa

imbalan

yang

memungkinkan peminjam untuk menggunakan dana tersebut


selama jangka waktu tertentu dan wajib mengembalikannya
dalam jumlah yang sama pada akhir periode yang disepakati.
05.

Pinjaman subordinasi yang menggunakan prinsip Qardh harus


memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a.

Adanya akad tertulis antara Bank dan pemberi pinjaman;

b.

Pemilik dana dilarang meminta tambahan yang ditetapkan


di muka;

c.

Bank

dapat

memberikan

hadiah/bonus

berdasarkan

kemauan sendiri;
d.

Mendapat persetujuan dari Bank Indonesia;

e.

Tidak dijamin oleh Bank yang bersangkutan dan disetor


penuh;

f.

Minimal berjangka waktu lima tahun;

11.13

267

Lanjutan Lampiran 1

g.

Pelunasan
persetujuan

sebelum

jatuh

tempo

Bank

Indonesia

dan

harus

mendapat

dengan

pelunasan

tersebut permodalan Bank tetap sehat; dan


h.

Hak tagihnya dalam hal likuidasi berlaku paling akhir (jika


ada sisa hasil likuidasi).

06.

Mudharabah Muqayyadah adalah akad mudharabah dimana


shahibul maal memberikan batasan kepada mudharib mengenai
tempat, cara dan obyek investasi.

07.

Pinjaman subordinasi yang menggunakan prinsip Mudharabah


Muqayyadah harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a.

Adanya akad tertulis antara Bank dan pemberi pinjaman;

b.

Pemilik

dana

memperoleh

nisbah

bagi

hasil

sesuai

kesepakatan;
c.

Mendapat persetujuan dari Bank Indonesia;

d.

Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan dan disetor


penuh;

e.

Minimal berjangka waktu lima tahun;

f.

Pelunasan
persetujuan

sebelum

jatuh

tempo

Bank

Indonesia

dan

harus

mendapat

dengan

pelunasan

tersebut permodalan Bank tetap sehat; dan


g.

Hak tagihnya dalam hal likuidasi berlaku paling akhir (jika


ada sisa hasil likuidasi).

08.

Pinjaman subordinasi yang dapat dijadikan komponen modal


pelengkap ditetapkan berdasarkan ketentuan yang berlaku.

D.

Perlakuan Akuntansi

D1. Pengakuan dan Pengukuran


Pinjaman subordinasi diakui pada saat dana diterima sebesar jumlah
yang disepakati.
D2. Penyajian
Pinjaman subordinasi disajikan di Laporan Posisi Keuangan sebesar
saldo pinjaman subordinasi yang belum dilunasi pada tanggal
laporan.
E.

llustrasi Jurnal
01.

Pada saat pinjaman subordinasi ditandatangani

11.14

268

Lanjutan Lampiran 1

Dr. Tagihan komitmen-pinjaman subordinasi


Kr. Rekening lawan-tagihan komitmen
02.

Pada saat pinjaman subordinasi diterima


Dr. Rekening lawan-tagihan komitmen
Kr. Tagihan komitmen-pinjaman subordinasi
Dr. Kas/kliring/rekening
Kr. Pinjaman subordinasi

03.

Pada saat pengakuan beban bagi hasil/bonus


Db. Beban bagi hasil/bonus
Kr. Liabilitas

segera-bagi

hasil

Mudharabah

Muqayyadah

/bonus Qardh
04.

Pada saat bagi hasil/bonus dibayarkan


Db.

Liabilitas

segera-bagi

hasil

Mudharabah

Muqayyadah

/bonus Qardh
Kr. Kas/kliring/rekening
05.

Pada saat penyelesaian pinjaman subordinasi


a.

Pelunasan
Dr. Pinjaman subordinasi
Kr. Kas/kliring/rekening

b.

Dialihkan menjadi setoran modal


Dr. Pinjaman subordinasi
Kr. Modal disetor

F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain:
01. Sumber dana pinjaman subordinasi;
02. Nisbah bagi hasil, jangka waktu dan jatuh tempo;
03. Jenis valuta (Rupiah dan valuta asing); dan
04. Akad yang dipergunakan.

G.

Ketentuan Lain-lain
Pengalihan pinjaman subordinasi menjadi setoran modal hanya dapat
dilakukan berdasarkan ketentuan Bank Indonesia.

11.15

269

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN XII

EKSPOR DAN IMPOR

XII.1 TAGIHAN DAN KEWAJIBAN AKSEPTASI


A. Definisi
01.

Letter of Credit (L/C) adalah suatu akad yang diterbitkan Opening


Bank atas permintaan importir (applicant) dimana Bank berjanji akan
melaksanakan pembayaran kepada eksportir (beneficiary) selama
memenuhi syarat-syarat yang diminta dalam L/C.

02.

Wesel adalah alat penarikan pembayaran yang diterbitkan oleh


eksportir atas dasar suatu L/C.

03.

Ekspor adalah perdagangan dengan cara mengeluarkan barang dari


wilayah pabean Indonesia sesuai ketentuan perundang-undangan
yang berlaku.

04.

Impor adalah perdagangan dengan cara memasukkan barang dari


luar daerah pabean ke dalam wilayah pabean Indonesia sesuai
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

05.

Beneficiary adalah eksportir yaitu pihak kepada siapa L/C dibuka


(penerima L/C).

06.

Importir adalah pembeli yaitu pihak yang memberi amanat kepada


issuing bank untuk membuka L/C.

07.

Issuing Bank adalah Bank penerbit L/C.

08.

Advising Bank adalah Bank yang diminta oleh Issuing Bank untuk
menyampaikan L/C kepada beneficiary.

09.

Paying Bank adalah Bank yang melakukan pembayaran Sight L/C


atau Deferred Payment L/C.

10.

Confirming Bank adalah Bank yang ikut menjamin pembayaran L/C


kepada beneficiary atas penyerahan dokumen-dokumen yang sesuai
syarat L/C dengan membubuhkan konfirmasinya pada L/C yang
bersangkutan.

11.

Accepting Bank adalah Bank yang menjamin pembayaran wesel


ekspor berjangka yang diterbitkan atas dasar usance L/C dengan
melakukan akseptasi pada wesel yang bersangkutan.

12.

Negotiating Bank adalah Bank yang melakukan pembayaran kepada


eksportir dan mengajukan reimbursement claim kepada Issuing Bank
atau Paying Bank atau Reimbursing Bank.

12.1

270

Lanjutan Lampiran 1
13.

Reimbursing Bank adalah Bank yang telah mendapat otorisasi dari


Issuing Bank untuk membayar reimbursement claim dari Negotiating
Bank.

14.

Revocable L/C adalah L/C yang dapat diubah atau dibatalkan


sepihak oleh Issuing Bank tanpa perlu memperoleh persetujuan
terlebih dahulu dari beneficiary dan pihak-pihak terkait lainnya.

15.

Irrevocable L/C adalah L/C yang tidak dapat diubah atau dibatalkan
tanpa persetujuan terlebih dahulu dari beneficiary dan pihak-pihak
terkait lainnya.

16.

Sight L/C adalah L/C yang pembayarannya kepada beneficiary


dilakukan pada saat dokumen-dokumen L/C diajukan kepada Bank.

17.

Deferred Payment L/C adalah L/C yang pembayarannya kepada


beneficiary dilakukan pada waktu yang ditentukan setelah tanggal
pengajuan dokumen-dokumen yang disyaratkan L/C.

18.

Acceptance L/C adalah L/C yang mengharuskan wesel yang ditarik


oleh beneficiary diaksep oleh Accepting Bank yang akseptasinya
dilakukan

sepanjang

dokumen-dokumen

yang

diajukan

telah

memenuhi syarat L/C.


19.

Negotiation L/C adalah L/C yang pembayarannya kepada beneficiary


dilakukan pada saat pengajuan dokumen-dokumen yang disyaratkan
L/C dan pembayaran tersebut terlebih dahulu atas beban dana
Negotiating Bank.

B. Dasar Pengaturan
01.

PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian dan PSAK 55


tentang

Instrumen

Keuangan:

Pengakuan

dan

Pengukuran,

sepanjang tidak bertentangan dengan KDPPLKS.


02.

Entitas syariah, sepanjang praktis, menyajikan Catatan Atas Laporan


Keuangan secara sistematis. Entitas syariah membuat referensi
silang atas setiap pos dalam Laporan Posisi Keuangan, Laporan Laba
Rugi Komprehensif, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas,
Laporan

Sumber dan

Penggunaan

Dana

Zakat, dan

Laporan

Pengunaan Dana Kebijakan untuk informasi yang berhubungan


dalam catatan atas laporan keuangan. (PSAK 101 Revisi 2011,
paragraf 120)

12.2

271

Lanjutan Lampiran 1
03.

Untuk membantu pengguna Laporan Keuangan memahami dan


membandingkan dengan Laporan Keuangan entitas lain, entitas
syariah biasanya menyajikan Catatan Atas Laporan Keuangan
dengan urutan sebagai berikut:
(a) pernyataan atas kepatuhan terhadap SAK (lihat paragraf 19);
(b) ringkasan kebijakan akuntansi signifikan yang diterapkan (lihat
paragraf 125);
(c) informasi tambahan untuk pos-pos yang disajikan dalam Laporan
Perubahan Posisi Keuangan, Laporan Laba Rugi Komprehensif,
Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas, Laporan Sumber
dan

Penggunaan

Dana

Zakat,

dan

Laporan

Sumber

dan

Penggunaan Dana Lebajikan sesuai dengan urutan penyajian


laporan dan penyajian masing-masing pos; dan
(d) pengungkapan lain, termasuk:
(i) liabilitas kontinjensi (lihat PSAK 57: Provisi, Liabilitas
Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi) dan komitmen kontraktual
yang belum diakui; dan
(ii) pengungkapan informasi nonkeuangan, misalnya tujuan dan
kebijakan manajemen risiko keuangan (lihat PSAK 60
tentang Instrumen Keuangan: Pengungkapan) (PSAK 101
Revisi 2011, Paragraf 121)
04.

Aset

diakui

dalam

Laporan

Posisi

Keuangan

kalau

besar

kemungkinan bahwa manfaat ekonominya di masa depan diperoleh


entitas syariah dan aset tersebut mempunyai nilai atau biaya yang
dapat diukur dengan andal. (KDPPLKS: paragraf 116)
05.

Liabilitas diakui dalam Laporan Posisi Keuangan kalau besar


kemungkinan bahwa pengeluaran sumber daya yang mengandung
manfaat ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban
(obligation) masa kini dan jumlah yang harus diselesaikan dapat
diukur dengan andal. Dalam praktek, kewajiban (obligation) menurut
kontrak yang belum dilaksanakan oleh kedua belah pihak (misalnya,
liabilitas atas pesanan persediaan yang belum diterima) pada
umumnya tidak diakui sebagai liabilitas dalam Laporan Keuangan.
Namun

demikian,

kewajiban

(obligation)

semacam

itu

dapat

memenuhi definisi liabilitas dan, kalau dalam keadaan tertentu


kriteria pengakuan terpenuhi, maka kewajiban (obligation) tersebut

12.3

272

Lanjutan Lampiran 1
dapat dianggap memenuhi syarat pengakuan. Dalam kasus ini,
pengakuan liabilitas mengakibatkan pengakuan aset atau beban yang
bersangkutan (KDPPLKS: paragraf 118).
06.

Penghasilan diakui dalam Laporan Laba Rugi Komprehensif kalau


kenaikan manfaat ekonomi di masa depan yang berkaitan dengan
peningkatan aset atau penurunan liabilitas telah terjadi dan dapat
diukur dengan andal. Ini berarti pengakuan penghasilan terjadi
bersamaan dengan pengakuan kenaikan aset atau penurunan
liabilitas (misalnya, kenaikan bersih aset yang timbul dari penjualan
barang atau jasa atau penurunan liabilitas yang timbul dari
pembebasan pinjaman yang masih harus dibayar) (KDPPLKS:
paragraf 120).

07.

Beban diakui dalam

Laporan

Laba

Rugi

Komprehensif kalau

penurunan manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan


penurunan aset atau peningkatan liabilitas telah terjadi dan dapat
diukur dengan andal. Ini berarti pengakuan beban terjadi bersamaan
dengan

pengakuan

kenaikan

liabilitas

atau

penurunan

aset

(misalnya, akrual hak karyawan atau penyusutan aset tetap)


(KDPPLKS: paragraf 122)
08.

Provisi diakui jika:


(a) entitas memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun
bersifat konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu;
(b) kemungkinan

besar

penyelesaian

kewajiban

tersebut

mengakibatkan arus keluar sumber daya yang mengandung


manfaat ekonomi; dan
(c) estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban tersebut dapat
dibuat.
Jika kondisi di atas tidak terpenuhi, maka provisi tidak diakui.
(PSAK 57: paragraf 14).
09.

Entitas tidak diperkenankan mengakui liabilitas kontinjensi. (PSAK


57: paragraf 27)

C. Penjelasan
01.

Letter of Credit (L/C) Impor Syariah adalah surat pernyataan akan


membayar kepada Eksportir yang diterbitkan oleh Bank untuk

12.4

273

Lanjutan Lampiran 1
kepentingan Importir dengan pemenuhan persyaratan tertentu sesuai
dengan prinsip Syariah.
Akad untuk L/C terkait transaksi Impor yang sesuai dengan Syariah
dapat digunakan beberapa bentuk:
a. Akad Wakalah bil Ujrah dengan ketentuan:
i.

Importir harus memiliki dana pada Bank sebesar harga


pembayaran barang yang diimpor;

ii. Importir pada Bank melakukan akad Wakalah bil Ujrah untuk
pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor;
iii. Besar ujrah harus disepakati diawal dan dinyatakan dalam
bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase.
b. Akad Wakalah bil Ujrah dan Qardh dengan ketentuan:
i.

Importir tidak memiliki dana cukup pada Bank untuk


pembayaran harga barang yang diimpor;

ii. Importir dan Bank melakukan akad Wakalah bil Ujrah untuk
pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor;
iii. Besar ujrah harus disepakati diawal dan dinyatakan dalam
bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase;
iv. Bank memberikan dana talangan (qardh) kepada importir
untuk pelunasan pembayaran barang impor.
c. Akad Murabahah dengan ketentuan:
i.

Bank

bertindak

selaku

pembeli

yang

mewakili

kepada

importir untuk melakukan transaksi dengan eksportir


ii. Pengurusan dokumen dan pembayaran dilakukan oleh Bank
saat dokumen diterima (at sight) dan/atau tangguh sampai
dengan jatuh tempo (usance);
iii. Bank menjual barang secara murabahah kepada importir,
baik dengan pembayaran tunai maupun cicilan.
iv. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh Bank akan diperhitungkan
sebagai harga perolehan barang.
02.

Akad untuk L/C terkait transaksi Ekspor yang sesuai dengan prinsip
Syariah dapat berupa:
a. Akad Wakalah bil Ujrah dengan ketentuan:
i.

Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor;

12.5

274

Lanjutan Lampiran 1
ii. Bank melakukan penagihan (collection) kepada bank penerbit
L/C (issuing bank), selanjutnya dibayarkan kepada eksportir
setelah dikurangi ujrah;
iii. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam
bentuk nominal, bukan dalam prosentase.
b. Akad Wakalah bil Ujrah dan Qardh dengan ketentuan:
i.

Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor;

ii. Bank melakukan penagihan (collection) kepada bank penerbit


L/C (issuing bank);
iii. Bank memberikan dana talangan (Qardh) kepada nasabah
eksportir sebesar harga barang ekspor;
iv. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam
bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase.
v.

Pembayaran ujrah dapat diambil dari dana talangan sesuai


kesepakatan dalam akad.

vi. Antara akad Wakalah bil Ujrah dan akad Qardh, tidak
diperbolehkan adanya keterkaitan (taalluq).
c. Akad Wakalah Bil Ujrah dan Mudharabah dengan ketentuan:
i.

Bank memberikan kepada eksportir seluruh dana yang


dibutuhkan dalam proses produksi barang ekspor yang
dipesan oleh importir;

ii. Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor;


iii. Bank melakukan penagihan (collection) kepada bank penerbit
L/C (Issuing Bank);
iv. Pembayaran oleh bank penerbit L/C dapat dilakukan pada
saat dokumen diterima (at sight) atau pada saat jatuh tempo
(usance);
v.

Pembayaran dari bank penerbit L/C (Issuing Bank) dapat


digunakan untuk:
1) Pembayaran ujrah;
2) Pengembalian dana mudharabah;
3) Pembayaran bagi hasil.

vi. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam


bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase.
03.

Mekanisme transaksi Ekspor dan Impor

12.6

275

Lanjutan Lampiran 1
a. Sight LC/SKBDN

Langkah
1

Tindakan
Importir

(applicant)

dan

eksportir

(beneficiary)

menandatangani sales contract


2

Applicant mengajukan permohonan pembukaan sight


LC kepada issuing bank

Issuing bank menerbitkan sight LC kepada beneficiary


melalui perantaraan advising bank

Advising bank meneruskan sight LC kepada beneficiary

Beneficiary

melakukan

pengiriman

barang

dan

mempersiapkan dokumen-dokumen yang disyaratkan


dalam LC
6

Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke


negotiating bank

Apabila dokumen sesuai dengan syarat dan kondisi


LC, negotiating bank akan melakukan pembayaran
terlebih

dahulu

kepada

beneficiary

dengan

hak

recourse. Proses ini dikenal dengan istilah negosiasi


8

Negotiating

bank

akan

mengirimkan

dokumen-

dokumen tersebut ke issuing bank


9

Issuing bank akan memeriksa dokumen. Apabila


dokumen

clean,

issuing

bank

akan

melakukan

pembayaran ke negotiating bank


10 & 11

Applicant melakukan pelunasan ke issuing bank dan


mengambil dokumen untuk keperluan pengeluaran

12.7

276

Lanjutan Lampiran 1
barang
b. Usance LC/SKBDN

Langkah

Tindakan

Pihak importir (applicant) dan eksportir (Beneficiary)


menandatangani kontrak penjualan

Applicant

mengajukan

permohonan

pembukaan

usance LC kepada issuing bank


3

Issuing

bank

menerbitkan

usance

LC

kepada

Beneficiary melalui perantaraan advising bank


4

Advising

bank

meneruskan

usance

LC

kepada

Beneficiary
5

Beneficiary

melakukan

pengiriman

barang

dan

mempersiapkan dokumen-dokumen yang diisyaratkan


dalam LC
6

Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke


negotiating bank

Apabila dokumen sesuai dengan syarat dan kondisi


LC, negotiating bank dapat melakukan pembayaran di
muka kepada Beneficiary sebesar nilai dokumen
dikurangi diskon/bunga. Proses ini dikenal dengan
istilah diskonto

Negotiating

bank

akan

mengirimkan

dokumen-

dokumen tersebut ke issuing bank

12.8

277

Lanjutan Lampiran 1
9

Issuing bank akan memeriksa dokumen. Apabila


dokumen clean, issuing bank akan mengirimkan
teleks akseptasi ke negotiating bank

10

Applicant menyerahkan surat aksep ke issuing bank


dan

mengambil

dokumen

untuk

keperluan

pengeluaran barang
11

Applicant melakukan pelunasan ke issuing bank pada


saat jatuh tempo

12

Issuing

bank

akan

melakukan

pembayaran

ke

negotiating bank

c. Sight/usance LC/SKBDN dengan pelunasan melalui reimbursing


bank dimana advising bank bukan negotiating bank

Langkah

Tindakan

Pihak importir (applicant) dan eksportir (beneficiary)


menandatangani kontrak penjualan

Applicant

mengajukan

permohonan

pembukaan

LC/SKBDN kepada issuing bank


3a

Issuing

bank

menerbitkan

LC/SKBDN

kepada

beneficiary melalui perantaraan advising bank


3b

Issuing

bank

memberikan

reimbursement

authorization kepada reimbursing bank


4

Advising

bank

meneruskan

LC/SKBDN

kepada
12.9

278

Lanjutan Lampiran 1
beneficiary
5

Beneficiary mengirimkan/mengapalkan barang sesuai


permintaan dalam LC/SKBDN

Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke


negotiating bank

7a

Negotiating

bank

mengirimkan

dokumen

kepada

issuing bank
7b

Negotiating bank melakukan claim kepada reimbursing


bank untuk melakukan pembayaran.

Reimbursing

melakukan

pembayaran

kepada

negotiating bank (claiming bank)


9

Negotiating bank melakukan pembayaran kepada


beneficiary

10

Issuing

bank

melakukan

pembayaran

kepada

reimbursing bank
11

Applicant melakukan pelunasan LC/SKBDN kepada


issuing bank

12

Issuing

Bank

menyerahkan

dokumen

kepada

applicant untuk menebus/mengambil barang


04.

Dalam transaksi ekspor impor terdapat 2 perlakuan akuntansi, yaitu:


a. Akuntansi yang terkait dengan aset dan kewajiban keuangan yang
berasal dari hak dan kewajiban kontraktual, antara lain untuk
tagihan dan kewajiban akseptasi serta wesel ekspor yang diambil
alih Bank. Wesel ekspor lebih lanjut dapat dilihat pada Bab
mengenai surat berharga;
b. Akuntansi

yang

terkait

dengan

kewajiban

kontinjensi

dan

kewajiban diestimasi, antara lain untuk jaminan keuangan


(financial guarantee) seperti shipping guarantee.
05.

Pendapatan/biaya dalam transaksi ekspor-impor mencakup komisi


akseptasi,

komisi

pembukaan

LC/SKBDN,

biaya

pengiriman

dokumen, dan komisi negosiasi dokumen.


06.

Tagihan akseptasi termasuk dalam kategori Pinjaman yang Diberikan


dan Piutang.

07.

Kewajiban akseptasi termasuk dalam kategori kewajiban lainnya yang


dicatat pada biaya perolehan diamortisasi.
12.10

279

Lanjutan Lampiran 1
08.

Berdasarkan

cara

penyelesaian

pembayarannya,

LC/SKBDN

dibedakan menjadi:
a. LC/SKBDN atas unjuk (sight payment);
b. LC dengan pembayaran kemudian (deffered payment);
c. LC/SKBDN dengan akseptasi (acceptance);
d. LC/SKBDN dengan negosiasi (negotiation).
09.

LC/SKBDN diterbitkan oleh issuing bank atas permintaan pemohon


(applicant). LC/SKBDN memberi hak kepada Beneficiary untuk
meminta

pembayaran

korespondennya

kepada

berdasarkan

issuing

bank

pemenuhan

melalui

bank

persyaratan

yang

tercantum dalam LC/SKBDN.


SKBDN tunduk pada Peraturan Bank Indonesia sedangkan LC
tunduk

pada

Uniform Customs

and

Practice

for

Documentary

Credits/UCPDC.
10.

Setelah menerima LC/SKBDN dari issuing bank, advising bank


meneruskannya L/C tersebut kepada beneficiary.

11.

Pada saat bank menerima dokumen-dokumen dari beneficiary, Bank


melakukan pemeriksaan dokumen sesuai dengan ketentuan yang
berlaku dan selanjutnya melakukan kegiatan sebagai berikut, sesuai
dengan jenis LC/SKBDN:
a. LC/SKBDN atas unjuk (Sight LC/SKBDN)
Bank pembayar melakukan pembayaran kepada beneficiary (atas
beban issuing bank) sesuai dengan persyaratan LC/SKBDN dan
kemudian meneruskan dokumen-dokumen yang diterima kepada
issuing bank.
b. LC/SKBDN berjangka (Usance LC/SKBDN)
Bank meneruskan dokumen-dokumen yang diterima kepada
issuing bank untuk dimintakan akseptasi dari accepting bank.
c. LC/SKBDN yang ditagih dengan collection
Remitting bank mengirim dokumen-dokumen kepada issuing bank
untuk

ditagihkan

pembayarannya

tanpa

terlebih

dahulu

melakukan pembayaran kepada beneficiary.


LC/SKBDN dengan pembayaran seperti ini terjadi karena antara
lain:
i.

dokumen

yang

diajukan

terdapat

penyimpangan

(discrepancy/ies); atau

12.11

280

Lanjutan Lampiran 1
ii. tidak ada Bank yang bersedia sebagai negotiating bank
12.

Penerimaan dari transaksi akseptasi dianggap sebagai fee base


income dari Bank dan tidak dibagi-hasilkan.

13.

Jika LC mengalami default, maka fasilitas tersebut akan menjadi


pembiayaan dan bagi hasil yang diterima akan dilaporkan dalam bagi
hasil kepada nasabah.

D. Perlakuan Akuntansi
D1.

Pengakuan dan Pengukuran


Transaksi Ekspor
01.

Pada saat menerima L/C dari issuing bank, tidak diakui sebagai
tagihan komitmen atau kontinjensi. Dalam hal Bank penerus L/C
menambahkan konfirmasi untuk menjamin pembayaran L/C maka
Bank mengakui kewajiban komitmen kepada beneficiary dan pada
saat yang sama Bank mengakui tagihan komitmen kepada issuing
bank.

02.

Pada saat Bank meneruskan dan/atau mengkonfirmasi L/C yang


diterimanya dari bank penerbit maka Bank mengakui pendapatan
provisi (advising fee dan/atau confirming fee) yang dipungut.

03.

Sight L/C
Pada saat pembayaran dokumen-dokumen yang diajukan beneficiary,
bank pembayar mengakui sebagai tagihan kepada issuing bank
dalam akun tagihan lainnya-wesel ekspor atau nostro.

04.

Usance (Deferred Payment) L/C


a. Pada saat Bank menerima wesel berjangka yang telah diaksep dari
accepting bank, Bank mengakui tagihan kepada accepting bank
sebagai akun tagihan akseptasi dan kewajiban kepada beneficiary
sebesar nilai L/C.
b. Apabila sebelum jatuh tempo Bank melakukan negosiasi/pengambil-alihan atas tagihan Usance L/C (deferred payment L/C)
maka Bank melakukan pembayaran kepada beneficiary sebesar
nilai L/C dan mengakui tagihan kepada bank penerbit sebesar
nilai L/C dalam akun tagihan lainnya-wesel ekspor berjangka.
c. Bank diperkenankan meminta fee negosiasi/pengambil-alihan
wesel berjangka tersebut namun tidak diperkenankan melakukan
diskonto.
12.12

281

Lanjutan Lampiran 1
d. Apabila Bank pembayar menerima pembayaran dari Issuing
bank/Accepting

bank

pada

saat

jatuh

tempo

atas

tagihan

Usance/deferred payment L/C maka dilakukan penyelesaian atas


tagihan lainnya - wesel ekspor berjangka.
05.

Untuk pembayaran dimuka selain untuk L/C dengan negosiasi dapat


juga dilakukan untuk L/C dengan pembayaran kemudian (deferred
payment L/C) dan L/C dengan akseptasi (acceptance L/C). Perlakuan
akuntansinya mengikuti ketentuan dalam butir 6).

Transaksi Impor
01.

Pada saat membuka L/C, Bank mencatat ke dalam akun:


a. kewajiban komitmen (irrevocable L/C) dalam mata uang asing
sebesar nilai L/C;
b. setoran jaminan impor (jika ada) sesuai mata uang asing dalam
L/C sebesar setoran yang diterima;
c. pendapatan provisi penerbitan L/C sebesar provisi yang diterima.

02.

Pendapatan provisi penerbitan L/C yang diterima diakui sebagai


pendapatan pada saat diterima (basis kas).

03.

Sight L/C
a. Pada saat penerimaan dokumen dari bank koresponden dan
selama masa pemeriksaan (maksimal 7 hari kerja perbankan
setelah diterimanya dokumen) tidak dilakukan penjurnalan (no
journal entry).
b. Setelah pemeriksaan selesai dan dokumen pengapalan (shipping
documents) tidak terdapat penyimpangan (discrepancy/ies) atau
terdapat penyimpangan (discrepancy/ies) tetapi diterima oleh
applicant, maka Bank penerbit L/C mengakui kewajiban dan
melakukan pembayaran kepada bank koresponden sebesar nilai
L/C atau nilai realisasi L/C dan pada saat yang sama mengakui
tagihan kepada applicant sebesar nilai yang sama pada akun
tagihan lainnya.
c. Apabila dokumen termasuk bill of lading belum diterima dari bank
koresponden dan applicant meminta Bank untuk menerbitkan
shipping guarantee, maka Bank penerbit L/C mengakui kewajiban
kepada bank koresponden sebesar nilai L/C atau nilai realisasi
L/C pada akun kewajiban lain-lain dan mengakui tagihan kepada
applicant sebesar nilai yang sama pada akun tagihan lainnya.

12.13

282

Lanjutan Lampiran 1
Pada saat yang sama Bank mengakui tagihan kontinjensi shipping
guarantee kepada applicant dan kewajiban kontinjensi kepada
maskapai pelayaran.
d. Pada saat yang sama dengan transaksi pada butir b) dan c), Bank
penerbit melakukan reversal pencatatan komitmen/kontinjensi
pembukuan L/C sebesar nilai L/C atau nilai realisasi L/C.
e. Pada saat dokumen termasuk bill of lading diterima dari bank
koresponden dan pemeriksaan telah dilakukan (untuk kondisi
butir c). maka perlakuan akuntansi mengikuti butir b). Pada saat
yang sama me-reverse tagihan dan kewajiban kontinjensi dari
penerbitan shipping guarantee.
f. Penyelesaian

tagihan

Issuing

bank

(bank

penerbit)

oleh

applicant/importir dapat dilakukan sebagai berikut:


i.

Applicant menebus dokumen pengapalan (menyelesaikan


kewajibannya) secara tunai setelah dikurangi dengan setoran
jaminan (jika ada).

ii. Applicant menebus dokumen pengapalan (menyelesaikan


kewajibannya) dengan menggunakan fasilitas pembiayaan
mudharabah/musyarakah/murabahah

dari

bank

penerbit

setelah dikurangi dengan setoran jaminan (jika ada).


04.

L/C dengan pembayaran kemudian (Deferred Payment L/C).


a. Dalam hal Bank menerima promes yang diterbitkan oleh pemohon
(applicant) untuk beneficiary sebesar nilai L/C atau nilai realisasi
L/C, maka Bank penerbit tidak mengakui kewajiban kepada
beneficiary atas penerbitan promes tersebut.
b.

i.

Dalam hal promes dijamin (aval) oleh bank penerbit maka


bank penerbit sebagai penjamin (avalis) mengakui tagihan
dan

kewajiban

promes.

Pada

komitmen-penerbitan
saat

yang

sama

efek

sebesar

jumlah

nilai

kewajiban

komitmen/kontinjensi L/C impor dikurangi sebesar nilai


promes.
ii. Apabila applicant (pemohon aval) wanprestasi atas penerbitan
promes tersebut maka bank penerbit sebagai penjamin
(avalis) mengakui kewajiban lainnya-realisasi aval kepada
beneficiary c.q. correspondent bank sebesar nilai promes dan
mengakui tagihan lainnya kepada pemohon aval/applicant

12.14

283

Lanjutan Lampiran 1
sebesar nilai yang sama. Pada saat yang sama mereverse
tagihan dan kewajiban komitmen-penerbitan efek.
c.

i.

Dalam hal promes dijamin (aval) oleh bukan bank penerbit


maka bank penjamin (avalis) mengakui tagihan/kewajiban
komitmen-penerbitan efek sebesar nilai promes. Pada saat
yang

sama

bank

penerbit

L/C

me-reversal

kewajiban

komitmen/kontinjensi L/C impor sebesar nilai L/C atau nilai


realisasi L/C.
ii. Apabila applicant (pemohon aval) wanprestasi atas penerbitan
promes tersebut maka bank penjamin sebagai penjamin
(avalis) mengakui kewajiban lainnya-realisasi aval kepada
beneficiary melalui bank koresponden sebesar nilai promes
dan

mengakui

tagihan

lainnya

kepada

pemohon

aval/applicant sebesar nilai yang sama. Pada saat yang sama


me-reverse tagihan dan kewajiban komitmen-penerbitan efek.
05.

L/C dengan akseptasi (Acceptance L/C).


a. Bank pengaksep adalah Bank penerbit
i.

Pada saat Bank melakukan akseptasi atas wesel berjangka


yang diterbitkan beneficiary, maka Bank pengaksep mengakui
kewajiban kepada beneficiary sebesar nilai wesel yang diaksep
sebagai akun kewajiban akseptasi dan mengakui tagihan
kepada applicant sebesar nilai yang sama sebagai akun
tagihan akseptasi.

ii. Pada saat yang sama jumlah kewajiban komitmen/kontinjensi


L/C impor dikurangi sebesar nilai L/C atau nilai realisasi
L/C.
iii. Apabila

beneficiary

melakukan

pendiskontoan

wesel

berjangka kepada bank pendiskonto maka kewajiban bank


pengaksep beralih dari kewajiban kepada beneficiary menjadi
kewajiban kepada bank pendiskonto. Bank pendiskonto dapat
melakukan

pendiskontoan

ulang

kepada

pihak

lainnya

sehingga kewajiban bank pengaksep beralih kepada bonafide


holder.
b. Bank pengaksep adalah bukan Bank penerbit
i.

Dalam hal bank pengaksep melakukan akseptasi atas wesel


berjangka yang diterbitkan beneficiary, maka:

12.15

284

Lanjutan Lampiran 1
1) Bank pengaksep mengakui kewajiban kepada beneficiary
sebesar nilai wesel yang diaksep sebagai akun kewajiban
akseptasi dan mengakui tagihan kepada bank penerbit
(issuing bank) sebesar nilai yang sama sebagai akun
tagihan akseptasi.
2) Apabila beneficiary melakukan pendiskontoan wesel berjangka kepada bank pendiskonto maka kewajiban bank
pengaksep beralih dari kewajiban kepada beneficiary menjadi kewajiban kepada bank pendiskonto. Bank pendiskonto dapat melakukan pendiskontoan ulang kepada
pihak lainnya sehingga kewajiban bank pengaksep beralih
kepada bonafide holder.
ii. Bank penerbit mengakui kewajiban kepada bank pengaksep
(bank pengaksep ditunjuk oleh bank penerbit) sebesar nilai
wesel yang diaksep sebagai akun kewajiban akseptasi dan
mempunyai tagihan pada applicant sebesar nilai yang sama
sebagai akun tagihan akseptasi.
iii. Pada saat yang sama jumlah kewajiban komitmen/kontinjensi
L/C impor dikurangi sebesar nilai L/C atau nilai realisasi
L/C.
06.

L/C dengan negosiasi (Negotiation L/C).


a. Dalam hal bank penegosiasi menegosiasi wesel unjuk (sight L/C)
maka bank penerbit mengakui kewajiban kepada bank penegosiasi
sebagai akun kewajiban lainnya dan pada saat yang sama
mengakui tagihan kepada applicant dengan nilai yang sama
sebagai akun tagihan lainnya.
b. Dalam hal bank penegosiasi menegosiasi wesel berjangka yang
diaksep oleh bank lain maka bank penerbit mengakui kewajiban
kepada bank pengaksep dalam akun kewajiban akseptasi. Dan
pada saat yang sama mengakui tagihan kepada applicant dalam
akun tagihan akseptasi.
c. Dalam hal bank penegosiasi menegosiasi wesel berjangka yang
diaksep oleh bank penerbit maka bank penerbit mengakui kewajiban

kepada

bank

penegosiasi

dalam

akun

kewajiban

akseptasi. Dan pada saat yang sama mengakui tagihan kepada


applicant dalam akun tagihan akseptasi.

12.16

285

Lanjutan Lampiran 1
D2.

Penyajian
Transaksi Ekspor
01.

Tagihan akseptasi kepada bank koresponden disajikan di Laporan


Posisi Keuangan (on balance sheet) sebesar nilai bruto tagihan bank.
Jika berasal dari valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah
dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

02.

Tagihan lainnya kepada bank koresponden disajikan di Laporan


Posisi Keuangan (on balance sheet) sebesar nilai bruto tagihan bank.
Jika berasal dari valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah
dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

03.

Kewajiban akseptasi kepada beneficiary disajikan di Laporan Posisi


Keuangan (on balance sheet) sebesar nilai bruto kewajiban bank. Jika
berasal dari valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah
dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

04.

Kewajiban lain-lain kepada beneficiary disajikan di Laporan Posisi


Keuangan (on balance sheet) sebesar nilai bruto kewajiban bank. Jika
berasal dari valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah
dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

05.

Pendapatan diskonto yang ditangguhkan - uang muka/wesel ekspor


berjangka disajikan sebagai offsetting account dari tagihan lainnya uang muka/wesel ekspor berjangka.

Transaksi Impor
01.

Kewajiban komitmen/kontinjensi atas penerbitan L/C diungkapkan


dalam Catatan Atas Laporan Keuangan sebesar jumlah penerbitan
L/C. Jika berasal dari valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang
Rupiah dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia.

02.

Kewajiban komitmen atas penjaminan penerbitan efek diungkapkan


dalam Catatan Atas Laporan Keuangan.

03.

Setoran jaminan impor disajikan di Laporan Posisi Keuangan (on


balance sheet) sebesar jumlah setoran jaminan. Jika berasal dari
valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah dengan
menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

04.

Tagihan akseptasi kepada applicant disajikan di Laporan Posisi


Keuangan (on balance sheet) sebesar nilai bruto tagihan bank. Jika

12.17

286

Lanjutan Lampiran 1
berasal dari valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah
dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
05.

Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden disajikan di Laporan


Posisi Keuangan (on balance sheet) sebesar nilai bruto kewajiban
bank. Jika berasal dari valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang
Rupiah dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia.

06.

Tagihan lainnya kepada applicant disajikan di Laporan Posisi


Keuangan (on balance sheet) sebesar nilai bruto tagihan bank. Jika
berasal dari valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah
dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

07.

Kewajiban lainnya kepada bank koresponden disajikan di Laporan


Posisi Keuangan (on balance sheet) sebesar nilai bruto kewajiban
bank. Jika berasal dari valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang
Rupiah dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia.

E. Ilustrasi Jurnal
Transaksi Ekspor
01.

Saat menerima L/C


Tidak dilakukan pembukuan, cukup diregistrasi. Apabila terhadap
penerusan

L/C

kepada

eksportir

dikenakan

provisi

(advising

commision), maka dilakukan:


Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Pendapatan advising commision
02.

Saat mengirim dokumen


Tidak dilakukan jurnal.

03.

Saat menerima akseptasi


Db. Tagihan Akseptasi kepada Bank Pengaksep
Kr. Kewajiban Akseptasi kepada beneficiary

04.

Saat pembayaran kepada eksportir


a. L/C atas unjuk (Sight payment L/C)
Db. Nostro/tagihan lainnya-wesel ekspor
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor

12.18

287

Lanjutan Lampiran 1
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain
b. L/C dengan pembayaran kemudian (Deferred payment L/C)
i.

Jika dibayar sebelum jatuh tempo


Db. Tagihan Lainnya
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan diskonto wesel ekspor yang ditangguhkan
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain

ii. Jika dibayar saat jatuh tempo


1) Bank Pembayar telah menerima pembayaran tetapi belum
dibayarkan kepada eksportir
Db. Nostro
Kr. Kewajiban lainnya
Selanjutnya pada saat membayar kepada eksportir:
Db. Kewajiban lainnya
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain
2) Bank Pembayar telah menerima pembayaran dan dilakukan pembayaran kepada eksportir
Db. Nostro
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain
3) Bank

Pembayar

belum

menerima

pembayaran

dan

dilakukan pembayaran kepada eksportir


Db. Tagihan lainnya-wesel ekspor
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain
c.

L/C dengan akseptasi (Acceptance L/C)

12.19

288

Lanjutan Lampiran 1
i.

Jika dibayar sebelum jatuh tempo


Db. Kewajiban akseptasi kepada nasabah
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan diskonto wesel ekspor
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor yang ditangguhkan
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain

ii. Jika dibayar saat jatuh tempo


Db. Kewajiban akseptasi kepada nasabah
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain
d. L/C dengan negosiasi (Negotiation L/C)
i.

Jika menegosiasi L/C atas unjuk


((jurnal pembukuan sama seperti butir a). di atas)

ii. Jika menegosiasi L/C berjangka


1) Jika dibayar sebelum jatuh tempo
(a) Akseptasi telah dilakukan
Db. Kewajiban akseptasi
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan

diskonto

wesel

ekspor

yang

di

tangguhkan
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain
Pada saat bersamaan:
Db. Wesel ekspor
Kr. Tagihan akseptasi
(b) Akseptasi belum dilakukan
Db. Tagihan lainnya-uang muka
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan yang ditangguhkan lainnya
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain

12.20

289

Lanjutan Lampiran 1
Pada saat wesel diakseptasi:
Db. Tagihan akseptasi
Kr. Kewajiban akseptasi
Pada saat yang bersamaan
Db. Wesel ekspor
Kr. Tagihan akseptasi
Db. Kewajiban akspetasi
Kr. Tagihan lainnya (uang muka)
Db.

Pendapatan yang ditangguhkan lainnya

Kr.

Pendapatan

diskonto

wesel

ekspor

yang

ditangguhkan
2) Jika dibayar saat jatuh tempo
Db. Nostro
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain
e.

Saat melakukan amortisasi diskonto WEB


Db. Pendapatan diskonto wesel ekspor yang di tangguhkan
Kr. Pendapatan diskonto wesel ekspor

f.

Saat menerima pembayaran (nota kredit) dari issuing bank


i.

L/C atas unjuk (Sight Payment L/C)


Db. Nostro
Kr. Tagihan lainnya-wesel ekspor
Catatan:

jika

pada

saat

pembayaran

bank

sudah

membukukan langsung ke nostro maka nota kredit yang


diterima dari issuing bank tidak dibukukan lagi (hanya
sebagai konfirmasi) terkecuali ada biaya-biaya luar negeri.
ii. L/C dengan pembayaran kemudian (Deferred Payment L/C)
Db. Nostro
Kr. Tagihan lainnya-wesel ekspor
Catatan:

jika

pada

saat

pembayaran

bank

sudah

membukukan langsung ke nostro maka nota kredit yang


diterima dari issuing bank tidak dibukukan lagi (hanya

12.21

290

Lanjutan Lampiran 1
sebagai konfirmasi) terkecuali ada biaya-biaya luar negeri.
L/C dengan pembayaran kemudian (Deferred Payment L/C).
iii. L/C dengan akseptasi (acceptance L/C)
Db. Nostro
Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden
iv. L/C dengan negosiasi (negotiation L/C)
1) Jika menegosiasi L/C atas unjuk
Db. Nostro
Kr. Tagihan lainnya-wesel ekspor
Catatan:

jika

pada

saat

pembayaran

Bank

sudah

membukukan langsung ke nostro maka nota kredit yang


diterima dari issuing bank tidak dibukukan lagi (hanya
sebagai konfirmasi) terkecuali ada biaya-biaya luar negeri.
2) Jika menegosiasi L/C berjangka
Db. Nostro
Kr. Tagihan akseptasi kepada koresponden
a. Dalam hal bank koresponden tidak melakukan pembayaran, maka
jurnal no.6 di atas untuk setiap akun nostro dapat diganti
dengan akun tagihan lainnya-wesel ekspor yang ditolak atau
tetap dibukukan pada akun tagihan lainnya-wesel ekspor.
b. Jurnal penyelesaian tagihan lainnya-wesel ekspor yang ditolak.
Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Tagihan lainnya-wesel ekspor yang ditolak
Transaksi Impor
01.

Pada saat membuka L/C Impor


a. L/C Irrevocable
Db. Tagihan komitmen L/C kepada applicant
Kr.

Kewajiban

Komitmen

L/C

impor

kepada

depository

correspondent bank
b. L/C Revocable
Db. Tagihan kontinjensi L/C kepada applicant
Kr.

Kewajiban

Kontinjensi

L/C

impor

kepada

depository

correspondent bank
c. Membukukan provisi pembuka L/C
Db. Kas/nasabah/kliring

12.22

291

Lanjutan Lampiran 1
Kr. Pendapatan Provisi pembukaan L/C Impor
Kr. Pendapatan lain-lain
02.

Pada saat menerima setoran jaminan L/C Impor


Db. Kas/nasabah/kliring
Kr. Setoran Jaminan Impor
Catatan:
Apabila dana setoran jaminan impor berupa rekening giro, deposito
yang diblokir, maka atas dana tersebut cukup diblokir.

03.

Penerimaan Pembayaran/Promes dari Importir sementara Dokumen


Impor belum diterima oleh Bank Penerbit
a. L/C Atas Unjuk (Sight Payment L/C)
i.

Nasabah mengeluarkan barang menggunakan copy dokumen


dengan cara Endorsemen B/L
Db.

Setoran Jaminan L/C Impor

Kr.

Rekening Nasabah/Importir (Pengembalian setoran

jaminan, bila ada)


Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Kewajiban L/C Impor sight kepada Bank Koresponden
(sebesar

Nilai

Dokumen,

KL

diselesaikan

pada

saat

rekening Nostro telah didebet)


Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi endorsemen, bila
ada)
Penerimaan setoran pajak impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi LC Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
Me-reverse pencatatan komitmen/kontijensi:
1) L/C Irrevocable
Db. Kewajiban Komitmen L/C impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan komitmen L/C kepada applicant
2) L/C Revocable
Db. Kewajiban Kontinjensi L/C Impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan kontinjensi L/C kepada applicant

12.23

292

Lanjutan Lampiran 1
ii. Nasabah mengeluarkan barang dengan Shipping guarantee
Db. Setoran Jaminan L/C Impor
Kr.

Rekening

Nasabah/Importir

(Pengembalian

setoran

jaminan, bila ada)


Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Kewajiban L/C Impor Sight kepada Bank Koresponden
(sebesar Nilai

Dokumen, KL diselesaikan pada saat

rekening Nostro telah di debet)


Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi endorsemen, bila
ada)
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
Pencatatan Kontinjensi:
Db. Tagihan kontijensi-Shipping guarantee kepada applicant
Kewajiban

Kr.

kontijensi

Shipping

guarantee

kepada

perusahaan ekspedisi
Me-reverse pencatatan kewajiban komitmen/kontijensi:
1) L/C Irrevocable
Db. Kewajiban Komitmen L/C impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan komitmen L/C kepada applicant
2) L/C Revocable
Db. Kewajiban Kontinjensi L/C Impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan kontinjensi L/C kepada applicant
b. L/C dengan Pembayaran Kemudian (Deferred Payment L/C)
i.

Nasabah mengeluarkan barang menggunakan copy dokumen


dengan cara Endorsemen B/L.
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi Endorsemen, bila
ada)
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)

12.24

293

Lanjutan Lampiran 1
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban segera lainnya - Pajak - pajak Impor
Pencatatan Komitmen:
Db. Tagihan komitmen L/C Impor Usance endorsement
kepada Nasabah
Kr.Kewajiban komitmen L/C Impor Usance endorsement
kepada Depository Correspondent Bank
Me-reverse pencatatan kewajiban komitmen/kontijensi:
1) L/C Irrevocable
Db. Kewajiban

Komitmen

L/C

outstanding

kepada

depository correspondent bank


Kr. Tagihan komitmen L/C outstanding kepada applicant
2) L/C Revocable
Db. Kewajiban

Kontinjensi

L/C

outstanding

kepada

depository correspondent bank


Kr. Tagihan kontinjensi L/C outstanding kepada applicant
ii. Nasabah mengeluarkan barang dengan Shipping guarantee
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan

Komisi

L/C

Impor

(Komisi

Shipping

guarantee, bila ada)


Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
Pencatatan Kontijensi:
Db. Tagihan kontinjensi-Shipping guarantee kepada Applicant
Kr.

Kewajiban

kontijensi-Shipping

guarantee

kepada

perusahaan ekspedisi
Me-reverse pencatatan kewajiban komitmen/kontijensi:
1) L/C Irrevocable
Db. Kewajiban

Komitmen

L/C

outstanding

kepada

depository correspondent bank


Kr. Tagihan komitmen L/C outstanding kepada applicant
2) L/C Revocable

12.25

294

Lanjutan Lampiran 1
Db. Kewajiban

Kontinjensi

L/C

outstanding

kepada

depository correspondent bank


Kr. Tagihan kontinjensi L/C outstanding kepada applicant
c. L/C dengan Akseptasi (Acceptance L/C)
i.

Nasabah mengeluarkan barang dengan Endorsemen B/L asli


Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi Endorsemen, bila
ada)
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor

ii. Nasabah mengeluarkan barang dengan Shipping guarantee


Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan

Komisi

L/C

Impor

(Komisi

Shipping

guarantee, bila ada)


Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
Pencatatan Kontinjensi:
Db. Tagihan kontinjensi Shipping guarantee kepada Applicant
Kr.

Kewajiban

kontijensi

Shipping

guarantee

kepada

perusahaan ekspedisi
Me-reverse kewajiban komitmen/kontijensi L/C
1) L/C Irrevocable
Db. Kewajiban Komitmen L/C impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan komitmen L/C kepada applicant
2) L/C Revocable
Db. Kewajiban Kontinjensi L/C Impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan kontinjensi L/C kepada applicant
d. L/C dengan Negosiasi (Negotiation L/C)
i.

Nasabah mengeluarkan barang menggunakan copy dokumen


dengan cara Endorsemen B/L- L/C Atas Unjuk (Sight)

12.26

295

Lanjutan Lampiran 1
Db. Setoran Jaminan L/C Impor
Kr.

Rekening

Nasabah/Importir

(Pengembalian

setoran

jaminan, bila ada)


Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Kewajiban L/C Impor Sight kepada Bank Koresponden
(sebesar Nilai Dokumen, KL diselesaikan pada saat rekening
Nostro telah di debet)
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi Endorsemen, bila
ada)
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi LC Import (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
ii. Nasabah mengeluarkan barang dengan Shipping guaranteeL/C Atas Unjuk (Sight)
Db. Setoran Jaminan L/C Impor
Kr.

Rekening

Nasabah/Importir

(Pengembalian

setoran

jaminan, bila ada)


Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Kewajiban L/C Impor Sight kepada Bank Koresponden
(sebesar Nilai Dokumen, KL diselesaikan pada saat rekening
Nostro telah di debet)
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi Shipping guarantee,
bila ada)
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
Pencatatan Kontinjensi:
Db. Tagihan kontijensi-Shipping guarantee kepada applicant
Kr.

Kewajiban

kontijensi-Shipping

guarantee

kepada

perusahaan ekspedisi
Me-reverse kewajiban komitmen/kontijensi L/C
1) L/C Irrevocable

12.27

296

Lanjutan Lampiran 1
Db. Kewajiban Komitmen L/C impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan komitmen L/C kepada applicant
2) L/C Revocable
Db. Kewajiban Kontinjensi L/C Impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan kontinjensi L/C kepada applicant
iii. Nasabah mengeluarkan barang menggunakan copy dokumen
dengan

cara

Endorsemen

B/L-L/C

Berjangka

(Deferred

Payment/Usance L/C)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi Endorsemen, bila
ada)
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
Pencatatan Komitmen:
Db. Tagihan komitmen L/C Impor Usance kepada Nasabah
Kr. Kewajiban komitmen L/C Impor Usance kepada Depository
Correspondent Bank
iv. Nasabah mengeluarkan barang dengan Shipping guarantee L/C Berjangka (Deferred Payment/Usance L/C)
Db.

Rekening Nasabah/Importir

Kr.

Pendapatan

Komisi

L/C

Impor

(Komisi

Shipping

guarantee, bila ada)


Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
Pencatatan Komitmen:
Db. Tagihan Komitmen L/C Impor Usance kepada Nasabah
Kr. Kewajiban komitmen L/C Impor Usance kepada Depository
Correspondent Bank
Pencatatan Kontijensi:

12.28

297

Lanjutan Lampiran 1
Db. Tagihan kontinjensi-Shipping guarantee kepada Applicant
Kr.

Kewajiban

kontinjensi-Shipping

guarantee

kepada

perusahaan ekspedisi
Me-reverse kewajiban komitmen/kontinjensi L/C
1) L/C Irrevocable
Db. Kewajiban Komitmen L/C impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan komitmen L/C kepada applicant
2) L/C Revocable
Db. Kewajiban Kontinjensi L/C Impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan kontinjensi L/C kepada applicant
04.

Penerimaan Dokumen Impor dan Pelunasan Kewajiban kepada Bank


Koresponden
a. L/C Atas Unjuk (Sight Payment L/C)
i.

Terima Dokumen Impor, rekening nostro belum didebet dan


nasabah belum bayar sebelumnya.
1) Penerimaan Dokumen
(a) Reversal Kewajiban Komitmen
Db.Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Kr. Rekening Lawan-Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
(b) Pengakuan atas Tagihan dan Kewajiban:
Db.

Tagihan L/C Impor Sight kepada Nasabah

Kr.

Kewajiban

L/C

Impor

Sight

kepada

Bank

Koresponden
2) Penerimaan Pembayaran dari Nasabah
Db. Setoran Jaminan L/C Impor
Kr. Rekening Nasabah/Importir (Pengembalian setoran
jaminan, bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Tagihan L/C Impor Sight kepada Nasabah
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
3) Pembayaran kepada Bank Koresponden

12.29

298

Lanjutan Lampiran 1
Db. Kewajiban L/C Impor Sight kepada Bank Koresponden
Kr. Nostro
ii. Terima Dokumen Impor, rekening nostro sudah didebet dan
nasabah belum bayar sebelumnya.
1) Penerimaan Dokumen
2) Reversal Kewajiban Komitmen
Db. Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Kr. Rekening Lawan - Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Db. Tagihan L/C Impor Sight kepada Nasabah
Kr. Nostro
3) Penerimaan Pembayaran dari Nasabah
Db. Setoran Jaminan L/C Impor
Kr. Rekening Nasabah/Importir (Pengembalian setoran
jaminan, bila ada)
Db. Rekening nasabah/importir
Kr. Tagihan L/C Impor Sight kepada Nasabah
Kr. Pendapatan ujrah (Transit Time Interest - bila ada)
4) Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Impor
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya Pajak - pajak Impor
iii. Terima Dokumen Impor Ex-Endorsement B/L, nasabah sudah
bayar sebelumnya
1) Penerimaan Dokumen
2) Reversal Kewajiban Komitmen
Db. Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Kr. Rekening Lawan-Irrevocable L/C LN Masih Berjalan.
Db. Kewajiban Lain L/C Impor Sight kepada Bank Koresponden
Kr. Nostro
iv. Terima Dokumen Impor Ex-Shipping guarantee nasabah
sudah bayar sebelumnya
1) Penerimaan Dokumen
2) Reversal Kewajiban Komitmen

12.30

299

Lanjutan Lampiran 1
Db. Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Kr. Rekening Lawan-Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Db. Kewajiban Lain L/C

Impor Sight kepada Bank

Koresponden
Kr. Nostro
Catatan:
Penyelesaian Shipping guarantee dilakukan 14 hari setelah
jatuh tempo atau Shipping guarantee dikembalikan
3) Reversal Kewajiban Kontinjen:
Db. Shipping guarantee Berjalan
Kr.

Rekening Lawan-Shipping guarantee Berjalan (Nilai

dokumen)
b. L/C dengan Pembayaran Kemudian (Deferred Payment L/C)
Terima Dokumen Impor tanpa penyimpangan atau Dokumen ExEndorsement atau Dokumen Ex-Shipping guarantee
i.

Penerimaan Dokumen
1) Reversal Kewajiban Komitmen
Db. Irrevocable L/C LN Masih Berjalan L/C Impor Usance
Kr. Rekening Lawan-Irrevocable L/C LN Masih BerjalanL/C Impor Usance
2) Tagihan Komitmen:
Db. Rekening Lawan-Tagihan Pre Aksep L/C Impor Usance
kepada Nasabah
Kr. Tagihan Pre Aksep L/C Impor Usance kepada Nasabah
3) Pengakuan atas Tagihan dan Kewajiban:
Db. Tagihan L/C Impor Usance kepada Nasabah
Kr.

Kewajiban

L/C

Impor

Usance

kepada

Bank

Koresponden
ii. Pada saat Jatuh Tempo Wesel
Db.

Setoran Jaminan L/C Impor

Kr.

Rekening Nasabah/Importir (Pengembalian setoran

jaminan, bila ada)


Db. Rekening nasabah/Importir
Kr. Tagihan L/C Impor Usance kepada Nasabah

12.31

300

Lanjutan Lampiran 1
Db. Kewajiban L/C Impor Usance kepada Bank Koresponden
Kr. Nostro
c. L/C dengan Akseptasi (Acceptance L/C)
Terima Dokumen Impor tanpa penyimpangan atau Dokumen ExEndorsement atau Dokumen Ex-Shipping guarantee
Penerimaan Dokumen
i.

Reversal Kewajiban Komitmen


Db. Irrevocable L/C LN Masih Berjalan-L/C Impor Usance
Kr. Rekening Lawan-Irrevocable L/C LN Masih Berjalan-L/C

Impor Usance
ii. Pada saat Akseptasi
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi Akseptasi)
iii. Tagihan Komitmen:
Db.

Rekening Lawan-Tagihan Pre Aksep L/C Impor Usance

kepada Nasabah
Kr. Tagihan Pre Aksep L/C Impor Usance kepada Nasabah
iv. Pengakuan atas Tagihan dan Kewajiban:
Db. Tagihan L/C Impor Usance kepada Nasabah
Kr. Kewajiban L/C Impor Usance kepada Bank Koresponden
v.

Pada saat dibebankan biaya akseptasi oleh Accepting bank


Db. Biaya Operasional Lain-Akseptasi Usance L/C Impor
Kr. Nostro

vi. Pada saat Jatuh Tempo Wesel


Db. Setoran Jaminan L/C Impor
Kr. Rekening

Nasabah/Importir

(Pengembalian

setoran

jaminan, bila ada)


Db. Rekening nasabah/importir
Kr. Tagihan L/C Impor Usance kepada Nasabah
Db. Kewajiban L/C Impor Usance kepada Bank Koresponden
Kr. Nostro
d. L/C dengan Negosiasi (Negotiation L/C)
i.

Terima Dokumen Impor, rekening nostro belum didebet dan


nasabah belum bayar sebelumnya-L/C Atas Unjuk (Sight)

12.32

301

Lanjutan Lampiran 1
1) Penerimaan Dokumen
(a) Reversal Kewajiban Komitmen
Db.Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Kr. Rekening Lawan-Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
(b) Pengakuan atas Tagihan dan Kewajiban:
Db. Tagihan L/C Impor Sight kepada Nasabah
Kr.

Kewajiban

L/C

Impor

Sight

kepada

Bank

Koresponden
2) Penerimaan Pembayaran dari Nasabah
Db. Setoran Jaminan L/C Impor
Kr. Rekening Nasabah/Importir (Pengembalian setoran
jaminan, bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Tagihan L/C Impor Sight kepada Nasabah
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya Pajak - pajak Impor
3) Pembayaran kepada Bank Koresponden
Db. Kewajiban L/C Impor Sight kepada Bank Koresponden
Kr. Nostro
ii. Terima Dokumen Impor, rekening nostro sudah didebet dan
nasabah belum bayar sebelumnya.
1) Penerimaan Dokumen
2) Reversal Kewajiban Komitmen
Db. Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Kr. Rekening Lawan-Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Db. Tagihan L/C Impor Sight kepada Nasabah
Kr. Nostro
3) Penerimaan Pembayaran dari Nasabah
Db. Setoran Jaminan L/C Impor
Kr. Rekening Nasabah/Importir (Pengembalian setoran
jaminan, bila ada)

12.33

302

Lanjutan Lampiran 1
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Tagihan L/C Impor Sight kepada Nasabah
Kr. Pendapatan ujrah (Transit Time Interest - bila ada)
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya Pajak - pajak Impor
iii. Terima Dokumen Impor Ex-Endorsement B/L, nasabah sudah
bayar sebelumnya
1) Penerimaan Dokumen
2) Reversal Kewajiban Komitmen
Db. Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Kr. Rekening Lawan - Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Db. Kewajiban

Lain

L/C

Impor

Sight

kepada

Bank

Koresponden
Kr. Nostro
iv. Terima Dokumen Impor Ex-Shipping guarantee nasabah
sudah bayar sebelumnya
1) Penerimaan Dokumen
2) Reversal Kewajiban Komitmen
Db. Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Kr. Rekening Lawan - Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Db. Kewajiban

Lain

L/C

Impor

Sight

kepada

Bank

Koresponden
Kr. Nostro
Catatan:
Penyelesaian Shipping guarantee dilakukan 14 hari setelah
jatuh tempo atau Shipping guarantee dikembalikan
3) Reversal Kewajiban Kontinjen:
Db. Shipping guarantee Berjalan
Kr. Rekening Lawan - Shipping guarantee Berjalan (Nilai
dokumen)

12.34

303

Lanjutan Lampiran 1
v.

Terima Dokumen Impor tanpa penyimpangan atau Dokumen


Ex-Endorsement atau Dokumen Ex-Shipping guarantee - L/C
Berjangka (Usance)
1) Penerimaan Dokumen
2) Reversal Kewajiban Komitmen
Db. Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Kr. Rekening Lawan - Irrevocable L/C LN Masih Berjalan L/C Impor Usance
3) Pada saat Akseptasi
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi Akseptasi)
4) Tagihan Komitmen:
Db. Rekening Lawan - Tagihan Pre Aksep L/C Impor
Usance kepada Nasabah
Kr. Tagihan Pre Aksep L/C Impor Usance kepada Nasabah
5) Pengakuan atas Tagihan dan Kewajiban:
Db. Tagihan L/C Impor Usance kepada Nasabah
Kr. Kewajiban

L/C

Impor

Usance

kepada

Bank

Koresponden
6) Pada saat dibebankan biaya akseptasi oleh Accepting bank
Db. Biaya Operasional Lain - Akseptasi Usance L/C Impor
Kr. Nostro
7) Pada saat Jatuh Tempo Wesel
Db. Setoran Jaminan L/C Impor
Kr. Rekening Nasabah/Importir (Pengembalian setoran
jaminan, bila ada)
Db. Rekening nasabah/importir
Kr. Tagihan L/C Impor Usance kepada Nasabah
Db. Kewajiban

L/C

Impor

Usance

kepada

Bank

Koresponden
Kr. Nostro
F. Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain:
01.

Nilai L/C yang dikonfirm dalam hal bank bertindak sebagai


confirming bank.

12.35

304

Lanjutan Lampiran 1
02.

Kewajiban komitmen/kontinjensi L/C kepada corespondent bank diungkapkan sebesar jumlah bruto kewajiban komitmen/kontinjensi
(tanpa memperhitungkan setoran jaminan impor) dan dijabarkan
dalam Rupiah dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia.

03.

Dalam transaksi ekspor:


a. Tagihan

dan

kewajiban

akseptasi

transaksi

ekspor

dengan

Acceptance L/C dan jangka waktu, dan counterparty.


b. Kualitas dan besar penyisihan kerugian yang dibentuk.
c. Fasilitas diskonto wesel ekspor yang diberikan kepada eksportir
dan rata-rata tarif imbalannya.
04.

Dalam transaksi impor


a. Tagihan

dan

kewajiban

akseptasi

transaksi

impor

dengan

Acceptance L/C dan jangka waktu, dan counterparty.


b. Fasilitas pembiayaan Impor yang diberikan.
c. Tagihan Wesel Impor yang belum diselesaikan oleh Importir.
d. Kualitas dan besar penyisihan kerugian yang dibentuk.
G. Ketentuan Lain-lain
Terhadap tagihan karena transaksi Ekspor dan Impor, serta sisa jumlah
L/C yang diterbitkan harus dibentuk penyisihan kerugiannya.

12.36

305

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN XIII
XIII.1

EKUITAS

EKUITAS

01. Ekuitas adalah hak residual atas aset Bank setelah dikurangi
semua liabilitas.
02. Instrumen ekuitas adalah setiap kontrak yang memberikan hak
residual atas aset suatu entitas setelah dikurangi dengan
seluruh liabilitasnya.
03. Instrumen

keuangan

yang

diterbitkan

Bank

merupakan

instrumen ekuitas jika tidak memiliki kewajiban kontraktual


untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada entitas
lain, atau untuk mempertukarkan aset keuangan atau liabilitas
keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi
tidak lagi menguntungkan Bank; dan
04. Pos-pos yang termasuk dalam komponen ekuitas, antara lain:
a.

Modal Disetor.

b.

Tambahan Modal Disetor.

c.

Penghasilan Komprehensif Lain.

d.

Saldo Laba.

13.1

306

Lanjutan Lampiran 1

XIII.2
A.

MODAL DISETOR

Definisi
01. Modal Dasar adalah seluruh nilai nominal saham sesuai dengan
anggaran dasar.
02. Modal Disetor adalah modal yang telah efektif diterima bank
sebesar nilai nominal saham.

B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian.
02. Undang Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas.

C.

Penjelasan
01. Saham yang dikeluarkan oleh Bank dapat berupa saham biasa
dan saham lainnya.
02. Bukti penyetoran yang sah antara lain bukti setoran pemegang
saham ke dalam rekening bank atas nama Bank, data dari
Laporan Keuangan yang telah diaudit oleh akuntan, atau
Laporan Posisi Keuangan Bank yang ditandatangani oleh Direksi
dan Dewan Komisaris.
03. Jika waran menyertai penerbitan saham, maka dana perolehan
penerbitan saham tersebut seluruhnya diakui sebagai modal
disetor dan agio saham (jika ada).
04. Dana setoran modal tidak memenuhi kriteria ekuitas disebabkan
masih terdapat unsur ketidakpastian dimana

Bank

tetap

memiliki kewajiban kontraktual untuk mengembalikan dana


tersebut ketika tidak memenuhi ketentuan Bank Indonesia
sebagai modal disetor.

13.2

307

Lanjutan Lampiran 1

D.

Perlakuan Akuntansi

D.1 Pengakuan dan Pengukuran


01. Penambahan modal disetor dicatat berdasarkan:
a.

Jumlah uang yang diterima dan jika dalam bentuk mata


uang asing dinilai dengan kurs yang berlaku pada tanggal
setoran.

b.

Besarnya tagihan atau utang yang dikonversi menjadi


modal.

c.

Setoran saham dalam dividen saham dilakukan dengan


harga wajar saham, yaitu harga pasar tanggal transaksi
untuk Bank yang sahamnya terdaftar di pasar modal, atau
nilai wajar yang disepakati rapat umum pemegang saham
untuk saham yang tidak ada harga pasarnya.

d.

Nilai wajar aset nonkas yang diterima.

02. Pengurangan modal disetor dicatat berdasarkan:


a.

Jumlah uang yang dibayarkan.

b.

Besarnya hutang yang timbul.

c.

Nilai wajar aset nonkas yang diserahkan.

03. Pengeluaran

saham

dicatat

sebesar

nilai

nominal

yang

bersangkutan. Jika jumlah yang diterima dari pengeluaran


saham tersebut lebih besar dari pada nilai nominalnya selisih
yang terjadi dibukukan pada pos agio saham.
D.2 Penyajian
01. Penyajian

modal

dalam

Laporan

Posisi

Keuangan

harus

dilakukan sesuai dengan ketentuan pada anggaran dasar Bank


dan peraturan yang berlaku serta menggambarkan hubungan
keuangan yang ada.
02. Modal Dasar, modal yang ditempatkan dan modal yang disetor,
nilai nominal dan banyaknya saham untuk setiap jenis saham
harus disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan.
03. Jika terdapat lebih dari satu jenis saham, hak preferen

dari

suatu golongan saham atas dividen dan pelunasan modal pada


jenis saham harus dinyatakan dalam Laporan Posisi Keuangan.
04. Bila terdapat tunggakan dividen atas saham lainnya dengan hak
dividen

kumulatif,

jumlah

tunggakan

tiap

saham

dan

13.3

308

Lanjutan Lampiran 1

keseluruhan dividen periode sebelumnya harus diungkapkan


dalam Catatan Atas Laporan Keuangan.
E.

Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat penyetoran awal modal secara tunai sebesar nilai
nominal
Db. Kas
Kr. Modal disetor
02. Pada saat penyetoran awal modal secara tunai di atas nilai
nominal
Db. Kas
Kr. Modal disetor
Kr. Agio saham
03. Penyetoran modal dalam bentuk barang
Db. Aset yang diterima (nilai wajar)
Kr. Modal disetor
04. Perolehan dana dari penerbitan saham yang disertai waran
Db. Kas
Kr. Modal disetor
Kr. Agio saham (jika ada)

F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain:
01. Hal dan keistimewaan dari suatu golongan saham atas dividen
dan pelunasan modal pada saat likuidasi, dalam hal terdapat
lebih dari satu jenis saham.
02. Pembatasan yang melekat pada setiap jenis saham, termasuk
pembatasan atas dividen dan pembayaran kembali atas modal.
03. Jumlah tunggakan dividen atas saham preferen dengan hak
dividen kumulatif dan jumlah keseluruhan dividen periode
sebelumnya.
04. Perubahan atas modal yang ditanam dalam tahun berjalan.
05. Saham beredar yang diperoleh kembali.
06. Saham yang dikuasai oleh entitas anak atau entitas asosiasi.
07. Saham yang dicadangkan untuk hak opsi dan kontrak penjualan
termasuk nilai dan persyaratan.
13.4

309

Lanjutan Lampiran 1

08. Pengungkapan untuk waran:


a.

Dasar penentuan nilai wajar waran.

b.

Nilai waran yang belum dilaksanakan dan nilai waran yang


tidak dilaksanakan (kedaluarsa).

c.

Jumlah waran yang diterbitkan dan beredar serta dampak


dilusinya.

d.

Ikatan-ikatan yang terkait dengan penerbitan waran.

09. Pengungkapan lain.


G.

Ketentuan Lain-lain
01. Pembelian kembali saham yang telah dikeluarkan oleh Bank
wajib

mendapat

Indonesia

dan

persetujuan
dilaksanakan

terlebih
sesuai

dahulu
dengan

dari

Bank

peraturan

perundang-undangan yang berlaku.


02. Ketentuan Bank Indonesia mengenai Bank.
03. Ketentuan Bank Indonesia mengenai kewajiban penyediaan
modal minimum.
04. Ketentuan Bank Indonesia mengenai pinjaman luar negeri.
05. Ketentuan Bank Indonesia mengenai jumlah

modal inti

minimum Bank.

13.5

310

Lanjutan Lampiran 1

XIII.3
A.

TAMBAHAN MODAL DISETOR

Definisi
Tambahan

modal

disetor

terdiri

dari

berbagai

macam

unsur

penambah modal, seperti agio saham, selisih modal dari transaksi


saham tresuri, selisih kurs modal disetor, selisih transaksi dengan
pihak non-pengendali, dan selisih kombinasi dan pelepasan bisnis
entitas sepengendali.
B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 4 tentang Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan
Keuangan Tersendiri.
02. PSAK 38 tentang Kombinasi Bisnis Entitas Sepengendali.
03. PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian.
04. PSAK 53 tentang Pembayaran Berbasis Saham.
05. Undang Undang Nomor 40 Tahun 2007

tentang Perseroan

Terbatas.
C.

Penjelasan
01. Agio saham yaitu selisih lebih setoran modal yang diterima oleh
Bank

sebagai

akibat

harga

saham

yang

melebihi

nilai

nominalnya.
02. Pembayaran berbasis saham
a.

Dividen atau setara yang dibayarkan kepada karyawan atas


bagian dari kompensasi saham atau instrumen ekuitas lain
yang menjadi hak karyawan dibebankan ke Saldo Laba.

b.

Beban kompensasi program pemberian instrumen ekuitas


kepada karyawan diakui selama masa bakti karyawan,
yaitu dengan mengakui beban kompensasi dan mengkredit
tambahan modal disetor jika kompensasi tersebut untuk
jasa

masa

depan.

Jika

masa

bakti

karyawan

tidak

ditentukan, maka masa bakti karyawan dianggap sama


dengan periode dari tanggal pemberian kompensasi sampai
dengan tanggal saat kompensasi tersebut menjadi hak
karyawan, dan eksekusinya tidak lagi bergantung pada
berlanjut atau tidaknya masa bakti karyawan. Jika program
13.6

311

Lanjutan Lampiran 1

kompensasi diperuntukkan untuk jasa masa lalu, maka


beban

kompensasi

diakui

pada

periode

pemberian

kompensasi.
c.

Jumlah kas atau aset lain yang dibayarkan (atau kewajiban


yang timbul) untuk memperoleh kembali instrumen ekuitas
yang telah menjadi hak karyawan dibebankan ke ekuitas,
dengan syarat jumlah pembayaran tersebut tidak melebihi
nilai instrumen yang diperoleh kembali.

03. Selisih transaksi dengan pihak nonpengendali


a.

Selisih transaki dengan pihak nonpengendali timbul dari


transaksi pelepasan kepemilikan Bank pada entitas anak.

b.

Jika pelepasan sebagian kepemilikan Bank pada entitas


anak

kepada

pihak

lain

yang

menyebabkan

Bank

kehilangan kendali, maka selisih antara harga pelepasan


dan jumlah tercatat kepemilikan yang dilepas diakui
sebagai keuntungan atau kerugian di laba rugi.
c.

Jika pelepasan sebagian kepemilikan Bank pada entitas


anak kepada pihak lain tetapi tidak menyebabkan Bank
kehilangan kendali, maka selisih antara harga pelepasan
dan jumlah tercatat kepemilikan yang dilepas diakui di
ekuitas.

04. Selisih kombinasi dan pelepasan bisnis entitas sepengendali


a.

Selisih kombinasi dan pelepasan bisnis entitas sepengendali


timbul dari transaksi perolehan bisnis dari, atau pelepasan
bisnis kepada, entitas sepengendali.

b.

Selisih antara jumlah yang dibayarkan dan nilai buku


bisnis yang diperoleh dari entitas sepengendali diakui di
ekuitas.

c.

Selisih antara jumlah yang diterima dan nilai buku bisnis


yang dilepas kepada entitas sepengendali diakui di ekuitas.

d.

Biaya yang timbul dari transaksi tersebut diakui sebagai


beban, kecuali biaya terkait dengan penerbitan efek ekuitas
dan efek utang.

13.7

312

Lanjutan Lampiran 1

D.

Perlakuan Akuntansi

D.1 Pengakuan dan Pengukuran


01. Pos Tambahan Modal Disetor tidak boleh didebit atau dikredit
dengan pos laba rugi.
02. Konversi agio menjadi saham digolongkan sebagai modal disetor
sebesar nilai nominal. Konversi agio menjadi saham tidak boleh
digolongkan sebagai pembagian dividen.
03. Agio saham diakui sebesar jumlah neto yang diterima setelah
biaya penerbitan saham dan nilai nominal.
04. Selisih modal dari transaksi saham tresuri diakui sebesar
jumlah neto yang dikeluarkan dan nilai yang diperoleh dari
penerbitan saham, atau jumlah neto yang diterima dan nilai
perolehan dari saham yang dibeli kembali.
05. Selisih kurs modal disetor diakui sebesar kurs ketika modal
disetor diakui dan kurs ketika modal disetor diterima.
06. Selisih transaksi dengan pihak nonpengendali diakui sebesar
hasil pelepasan entitas anak yang tidak menyebabkan hilang
pengendalian dan jumlah tercatat bagian kepemilikan pada
entitas anak yang dilepas.
07. Selisih kombinasi dan pelepasan bisnis entitas sepengendali
diakui sebesar jumlah pembayaran yang diberikan/diterima dan
nilai buku bisnis yang diperoleh/dilepas.
D.2 Penyajian
01. Saham tresuri disajikan sebagai pengurang modal disetor.
02. Pos-pos yang membentuk tambahan modal disetor disajikan
terpisah.
E.

Ilustrasi Jurnal
01. Agio saham
Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Modal disetor
Kr. Agio saham
02. Saham tresuri
a.

Pembelian saham tresuri


Db. Saham tresuri
Kr. Kas/rekening/kliring
13.8

313

Lanjutan Lampiran 1

b.

Penjualan saham tresuri


Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Saham tresuri
Kr. Selisih pelepasan saham tresuri

03. Selisih transaksi dengan pihak nonpengendali


Db.

Kas/rekening/kliring

Db/Kr.

Selisih transaksi dengan pihak nonpengendali

Kr.

Penyertaan pada entitas anak/aset neto entitas anak


yang dilepas

04. Selisih kombinasi bisnis entitas sepengendali


Db.

Aset neto bisnis yang diperoleh (nilai buku)

Db/Kr.

Selisih kombinasi bisnis entitas sepengendali

Kr.

Kas/rekening/kliring/saham

05. Selisih pelepasan bisnis entitas sepengendali

F.

Db.

Kas/rekening/kliring/saham

Db/Kr.

Selisih pelepasan bisnis entitas sepengendali

Kr.

Aset neto bisnis yang diperoleh (nilai buku)

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Rincian pos tambahan modal disetor.
02. Jumlah lembar saham yang diperoleh kembali dan dipegang
Bank (saham tresuri).
03. Informasi opsi saham berikut ini diungkapkan dalam Catatan
Atas Laporan Keuangan:
a.

Jumlah dan rata-rata tertimbang harga eksekusi opsi untuk


setiap kelompok opsi.

b.

Rata-rata

tertimbang

nilai

wajar

opsi

pada

tanggal

pemberian kompensasi yang diberikan dalam suatu periode.


c.

Jumlah dan rata-rata tertimbang nilai wajar pada tanggal


pemberian kompensasi dari instrumen ekuitas selain opsi,
seperti saham tanpa hak, yang diberikan dalam suatu
periode.

d.

Penjelasan mengenai metode dan asumsi signifikan yang


digunakan dalam suatu periode untuk mengestimasi nilai
wajar opsi.
13.9

314

Lanjutan Lampiran 1

e.

Jumlah beban kompensasi yang diakui dalam program


kompensasi berbasis saham.

f.

Perubahan persyaratan signifikan dari program kompensasi


yang sedang berjalan.

04. Rincian yang menunjukan dampak setiap perubahan bagian


kepemilikan Bank /entitas induk pada entitas anak yang tidak
mengakibatkan hilangnya pengendalian atas ekuitas yang dapat
diatribusikan pada pemilik entitas induk.
05. Kombinasi bisnis dan pelepasan bisnis entitas sepengendali
a.

Nama dan penjelasan tentang entitas atau bisnis yang


berkombinasi.

b.

Penjelasan mengenai hubungan kesepengendalian dari


entitas-entitas yang bertransaksi dan bahwa hubungan
tersebut tidak bersifat sementara.

c.

Tanggal efektif transaksi.

d.

Operasi atau kegiatan bisnis yang telah diputuskan untuk


dijual atau dihentikan akibat kombinasi bisnis tersebut.

e.

Kepemilikan entitas atau bisnis yang dialihkan serta jenis


dan jumlah imbalan yang terjadi.

f.

Jumlah tercatat bisnis yang dikombinasikan atau yang


dilepas serta selisih antara jumlah tercatat bisnis tersebut
dan jumlah imbalan yang dialihkan atau imbalan yang
diterima.

g.

Pengungkapan

mengenai

penyajian

kembali

Laporan

Keuangan yang dapat memberikan informasi minimal


meliputi:
i.

ikhtisar angka-angka Laporan Keuangan yang telah


dilaporkan sebelumnya untuk periode yang disajikan
kembali;

ii.

ikhtisar jumlah tercatat aset dan liabilitas entitas atau


bisnis yang dikombinasikan;

iii.

dampak penyesuaian kebijakan akuntansi;

iv.

ikhtisar

angka-angka

Laporan

Keuangan

setelah

disajikan kembali.
06. Pengungkapan lain.

13.10

315

Lanjutan Lampiran 1

XIII.4
A.

PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN

Definisi
Penghasilan

komprehensif lain adalah

pendapatan dan beban

termasuk penyesuaian reklasifikasi yang tidak diakui dalam bagian


laba rugi.
B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 10 tentang Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing.
02. PSAK 16 tentang Aset Tetap.
03. PSAK 19 tentang Aset Tak berwujud.
04. PSAK 24 tentang Imbalan Kerja.
05. PSAK

55

tentang

Instrumen

Keuangan:

Pengakuan

dan

Pengukuran.
C.

Penjelasan
01. Penghasilan komprehensif lain terdiri dari:
a.

Perubahan dalam surplus revaluasi aset tetap dan aset


tidak berwujud.

b.

Keuntungan

dan

kerugian

aktuaria

dalam

program

pascakerja imbalan pasti.


c.

Penyesuaian nilai wajar aset keuangan dalam kategori


tersedia untuk dijual.

d.

Keuntungan atau kerugian yang timbul dari selisih kurs


karena penjabaran Laporan Keuangan operasi entitas asing.

02. Penjelasan lebih rinci untuk masing-masing pos penghasilan


komprehensif lain terdapat dalam Bagian XIV: Laporan Laba
Rugi Komprehensif.
D.

Perlakuan Akuntansi
Penjelasan

perlakuan

akuntansi

untuk

masing-masing

pos

penghasilan komprehensif lain terdapat dalam Bagian XIV: Laporan


Laba Rugi Komprehensif.

13.11

316

Lanjutan Lampiran 1

E.

Ilustrasi Jurnal
Ilustrasi jurnal untuk masing-masing pos penghasilan komprehensif
lain terdapat dalam Bagian XIV: Laporan Laba Rugi Komprehensif.
Db. Penghasilan komprehensif lain terkait (Laporan Laba Rugi
Komprehensif)
Kr. Saldo penghasilan komprehensif lain terkait (ekuitas)
Db. Saldo penghasilan komprehensif lain terkait (ekuitas)
Kr. Penghasilan

komprehensif

terkait

(Laporan

Laba

Rugi

Komprehensif)
F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain rincian penghasilan
komprehensif lain.

13.12

317

Lanjutan Lampiran 1

XIII.5
A.

SALDO LABA

Definisi
Saldo

Laba

adalah

akumulasi

hasil

usaha

periodik

setelah

memperhitungkan pembagian dividen dan koreksi laba rugi periode


lalu.
B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
02. Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas.

C.

Penjelasan
01. Saldo Laba dikelompokkan menjadi:
a.

Cadangan tujuan adalah cadangan yang dibentuk dari laba


bersih setelah pajak yang tujuan penggunaannya telah
ditetapkan.

b.

Cadangan umum adalah cadangan yang dibentuk dari laba


bersih setelah pajak yang dimaksudkan untuk memperkuat
modal.

c.

Sisa laba yang belum dicadangkan terdiri dari:


i.

laba

rugi

periode

lalu

yang

belum

ditetapkan

penggunaannya; dan
ii.

laba rugi periode berjalan.

02. Pos Saldo Laba harus dinyatakan secara terpisah dari pos modal
saham. Seluruh Saldo Laba dianggap bebas untuk dibagikan
sebagai dividen, kecuali jika diberikan indikasi mengenai
pembatasan terhadap Saldo Laba, misalnya dicadangkan untuk
tujuan tertentu, atau untuk memenuhi ketentuan undangundang atau ikatan tertentu.
03. Saldo Laba yang tidak tersedia untuk dibagikan sebagai dividen
karena pembatasan pembatasan tersebut dilaporkan dalam
pos tersendiri yang menggambarkan tujuan pencadangan yang
dimaksud.

13.13

318

Lanjutan Lampiran 1

D.

Perlakuan Akuntansi
01. Saldo Laba tidak boleh dibebani atau dikredit dengan pos-pos
yang seharusnya diperhitungkan pada laba rugi tahun berjalan.
02. Kewajiban pembagian dividen timbul pada saat deklarasi dividen
dan dengan demikian pada saat tersebut Saldo Laba akan
dibebani dengan jumlah dividen tersebut.
03. Jika dividen dibagikan dalam bentuk saham maka Saldo Laba
akan

didebit

dideklarasikan,

sebesar

nilai

wajar

saham

saat

dividen

modal

saham

akan

dikredit

sebesar

nilai

nominal sedangkan selisih antara nilai wajar dengan nilai


nominal saham diakui sebagai agio/disagio saham.
E.

Ilustrasi Jurnal
01. Pemindahan laba tahun berjalan ke Saldo Laba
Db. Ikhtisar laba rugi
Kr. Saldo Laba
02. Pemindahan rugi tahun berjalan ke Saldo Laba
Db. Saldo Laba
Kr. Ikhtisar laba rugi
03. Pembagian dividen tunai
a.

Pada saat diumumkan


Db. Saldo Laba
Kr. Utang dividen

b.

Pada saat dibayar


Db. Utang dividen
Kr. Kas/rekening

04. Pembagian dividen saham


Db. Saldo Laba
Kr. Modal saham
Kr. Agio saham
F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Penjatahan (apropriasi) dan pemisahan Saldo Laba, penjelasan
jenis penjatahan dan pemisahan, tujuan penjatahan dan

13.14

319

Lanjutan Lampiran 1

pemisahan Saldo Laba, serta jumlahnya, termasuk perubahan


akun-akun penjatahan atau pemisahan Saldo Laba.
02. Peraturan, perikatan, pembatasan dan jumlah pembatasan
Saldo Laba.
03. Koreksi periode lalu, baik bruto maupun neto setelah pajak,
dengan menjelaskan bentuk kesalahan Laporan Keuangan
terdahulu, dampak koreksi terhadap laba rugi dan nilai saham
per lembar.
04. Jumlah dividen dan dividen per lembar saham, termasuk
keterbatasan Saldo Laba tersedia bagi dividen.
05. Tunggakan dividen, baik jumlah maupun tunggakan per lembar
saham.
06. Pengungkapan deklarasi dividen setelah periode pelaporan,
sebelum Laporan Keuangan diotorisasi untuk terbit.
07. Dividen saham dan pecah saham, termasuk jumlah yang
dikapitalisasi dan saji ulang laba per saham agar Laporan
Keuangan berdaya banding.
08. Pengungkapan lain.

13.15

320

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN XIV

LAPORAN LABA RUGI KOMPREHENSIF

XIV.1 PENGERTIAN
01. Laporan

Laba

Rugi

Komprehensif

adalah

laporan

yang

menyajikan seluruh pos penghasilan dan beban yang diakui


dalam suatu periode yang menunjukkan komponen laba rugi
dan komponen penghasilan komprehensif lain.
02. Laba Komprehensif adalah perubahan ekuitas selama suatu
periode yang dihasilkan dari transaksi dan peristiwa lain selain
perubahan

yang

dihasilkan

dari

transaksi

ekuitas

yaitu

transaksi dengan pemegang saham dalam kapasitasnya sebagai


pemilik.
03. Pendapatan adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu
periode pelaporan dalam bentuk arus masuk atau penambahan
aset atau penurunan liabilitas yang mengakibatkan kenaikan
ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi pemegang saham.
04. Keuntungan adalah pos pendapatan lain yang mungkin timbul
atau mungkin tidak timbul dalam pelaksanaan aktivitas Bank.
05. Beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu
periode pelaporan dalam bentuk arus keluar atau penurunan
aset atau kenaikan liabilitas yang mengakibatkan penurunan
ekuitas yang tidak menyangkut distribusi kepada pemegang
saham.
06. Kerugian adalah pos beban lain yang mungkin timbul atau
mungkin tidak timbul dalam pelaksanaan aktivitas Bank.
07. Pendapatan dan beban operasional adalah pendapatan dan
beban dari kegiatan usaha Bank.
08. Pendapatan dan beban nonoperasional adalah pendapatan dan
beban di luar kegiatan usaha Bank.
09. Laporan Laba Rugi Komprehensif menyajikan pos-pos berikut:
a.

Pendapatan pengelolaan dana oleh Bank sebagai mudharib:


i.

pendapatan dari jual beli;

ii.

pendapatan dari sewa;

iii.

pendapatan dari bagi hasil;

iv.

pendapatan usaha utama lain.

14.1

321

Lanjutan Lampiran 1

b.

Hak pihak ketiga atas bagi hasil dana syirkah temporer.

c.

Pendapatan usaha lain.

d.

Beban usaha.

e.

Laba usaha.

f.

Pendapatan non usaha.

g.

Beban non usaha.

h.

Beban pajak penghasilan.

i.

Laba neto.

j.

Penghasilan komprehensif lain.

k.

Laba komprehensif.

14.2

322

Lanjutan Lampiran 1

XIV.2
A.

KOMPONEN LABA RUGI

Definisi
Laba Rugi adalah total pendapatan dikurangi beban, tidak termasuk
komponen penghasilan komprehensif lain.

B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
02. PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah.
03. PSAK 103 tentang Akuntansi Salam.
04. PSAK 104 tentang Akuntansi Istishna.
05. PSAK 105 tentang Akuntansi Mudharabah.
06. PSAK 106 tentang Akuntansi Musyarakah.
07. PSAK 107 tentang Akuntansi Ijarah.
08. PSAK 110 tentang Akuntansi Sukuk.
09. PSAK 12 tentang Bagian Partisipasi dalam Ventura Bersama.
10. PSAK 15 tentang Investasi pada Entitas Asosiasi.
11. PSAK 23 tentang Pendapatan.
12. PSAK

55

tentang

Instrumen

Keuangan:

Pengakuan

dan

Pengukuran.
13. SAK lain yang relevan.
C.

Penjelasan
01. Penyusunan Laporan Laba Rugi Komprehensif didasarkan pada
pendapatan dan beban yang diakui dengan menggunakan dasar
akrual

sedangkan

perhitungan

distribusi

pendapatan/hasil

usaha menggunakan dasar kas. Oleh karena itu, Bank harus


mampu membedakan pendapatan akrual dan pendapatan yang
kasnya sudah diterima.
02. Pendapatan usaha utama (pendapatan Bank sebagai mudharib)
terdiri dari pendapatan dari jual beli, sewa, bagi hasil, dan
pendapatan utama lain.
03. Hak pihak ketiga atas bagi hasil merupakan bagian bagi hasil
milik

pihak

ketiga

(misalnya

nasabah

penyimpan

dalam

tabungan dan deposito yang didasarkan pada akad mudharabah

14.3

323

Lanjutan Lampiran 1

dan musyarakah) atas hasil pengelolaan dana syirkah temporer


oleh Bank.
04. Pendapatan usaha lain antara lain terdiri dari:
a.

Pendapatan

penyelenggaraan

jasa

Perbankan

Syariah

berbasis imbalan, terdiri dari:


i.

Pendapatan fee wakalah;

ii.

Pendapatan fee kafalah;

iii.

Pendapatan fee hiwalah;

iv.

Pendapatan fee dana investasi terikat;

v.

Pendapatan administrasi;

vi.

Pendapatan lainnya.

b.

Pendapatan bonus giro pada Bank Syariah lain.

c.

Keuntungan transaksi valuta asing.

05. Beban usaha antara lain terdiri dari:


a.

Beban bonus simpanan masyarakat berdasarkan prinsip


wadiah.

b.

Beban kerugian penurunan nilai piutang.

c.

Beban penyusutan.

d.

Beban amortisasi.

e.

Beban/kerugian transaksi valuta asing.

f.

Beban premi dalam rangka penjaminan.

g.

Beban sewa aset yang digunakan sendiri.

h.

Beban promosi.

i.

Beban personalia.

j.

Beban administrasi dan umum.

06. Pendapatan non usaha antara lain terdiri dari:


a.

Keuntungan pelepasan aset tetap.

b.

Pendapatan hibah.

c.

Pendapatan lain.

07. Beban non usaha antara lain terdiri dari:


a.

Kerugian penurunan nilai aset tetap.

b.

Kerugian pelepasan aset tetap.

c.

Beban lain.

14.4

324

Lanjutan Lampiran 1

D.

Perlakuan Akuntansi
01. Pendapatan margin murabahah
a.

Untuk transaksi yang dilakukan secara non-tunai, maka


keuntungan diakui secara proporsional sesuai angsuran
yang jatuh tempo selama masa akad, atau keuntungan
diakui dengan menggunakan metode effective rate of return
(anuitas).

b.

Biaya

transaksi

diakui

selaras

dengan

pengakuan

keuntungan murabahah.
02. Pendapatan neto salam paralel
Pendapatan neto salam paralel diakui pada saat penyerahan
barang kepada nasabah sebesar selisih antara jumlah kas yang
diserahkan kepada pemasok dan jumlah kas yang diterima dari
nasabah.
03. Pendapatan neto istishna paralel
Selisih antara nilai akad dan nilai pemesanan barang yang
diakui secara proporsional selama masa akad, termasuk biaya
transaksinya.
04. Penghasilan dari sewa
a.

Pendapatan sewa diakui selama masa akad pada saat


manfaat atas aset telah diserahkan kepada nasabah.

b.

Keuntungan atau kerugian dari pelepasan aset ijarah diakui


pada saat pelepasan sebesar selisih harga jual dan nilai
tercatat aset ijarah.

c.

Beban yang terkait dengan pengelolaan aset ijarah, antara


lain

beban

penyusutan

dan

amortisasi,

beban

pemeliharaan, dan beban sewa ijarah (transaksi ijarahlanjut), diakui sebagai pengurang penghasilan dari sewa.
05. Pendapatan dari bagi hasil
Pendapatan bagi hasil diakui pada saat Bank menerima laporan
periodik atas usaha yang telah dilakukan oleh nasabah, baik
keuntungan maupun kerugian.
06. Pendapatan usaha utama lain
a.

Pendapatan dari pinjaman qardh diakui pada saat diterima


dari nasabah.

14.5

325

Lanjutan Lampiran 1

b.

Pendapatan investasi pada surat berharga berupa imbal


hasil (dividen, kupon, amortisasi atas premium, diskonto,
dan biaya transaksi, dan keuntungan atau kerugian
pelepasan surat berharga).

c.

Pendapatan lain.

07. Hak pihak ketiga atas bagi hasil


Hak pihak ketiga atas bagi hasil diakui sebagai pengurang
pendapatan yang merupakan porsi Bank sebagai mudharib.
E.

Ilustrasi Jurnal
Ilustrasi

jurnal

mengacu

pada

ilustrasi

jurnal

di

setiap pos

pendapatan dan beban yang terkait.


F.

Pengungkapan
Pengungkapan mengacu pada pengungkapan di masing-masing pos
pendapatan dan beban yang terkait.

14.6

326

Lanjutan Lampiran 1

XIV.3
A.

KOMPONEN PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN

Definisi
Penghasilan komprehensif lain berisi pos pendapatan dan beban,
termasuk penyesuaian reklasifikasi, yang tidak diakui dalam laba
rugi sebagaimana disyaratkan oleh SAK.

B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan.
02. PSAK 10 tentang Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing.
03. PSAK 12 tentang Bagian Partisipasi dalam Ventura Bersama.
04. PSAK 15 tentang Investasi pada Entitas Asosiasi.
05. PSAK 24 tentang Imbalan Kerja.
06. PSAK

55

tentang

Instrumen

Keuangan:

Pengakuan

dan

Pengukuran.
C.

Penjelasan
01. Penghasilan komprehensif lain terdiri dari:
a.

Perubahan surplus revaluasi dari aset tetap dan aset tidak


berwujud.

b.

Keuntungan dan kerugian aktuarial atas program imbalan


pasti.

c.

Selisih kurs dari penjabaran Laporan Keuangan dari entitas


asing.

d.

Penyesuaian nilai wajar dari aset keuangan dalam kategori


tersedia untuk dijual.

e.

Bagian penghasilan komprehensif lain dari entitas asosiasi


dan pengendalian bersama entitas.

02. Surplus revaluasi aset tetap dan aset tidak berwujud muncul
dari penerapan model revaluasi atas aset tetap atau aset tidak
berwujud yang dimiliki Bank.
03. Keuntungan atau kerugian aktuaria merupakan perubahan
dalam nilai kini kewajiban imbalan pasti yang berasal dari
experience adjustments (dampak perbedaan antara asumsi

14.7

327

Lanjutan Lampiran 1

aktuarial sebelumnya dan kejadian aktual yang terjadi) dan


dampak perubahan asumsi aktuarial.
04. Selisih kurs dari penjabaran Laporan Keuangan dari entitas
asing merupakan selisih kurs yang timbul dari penjabaran
Laporan Keuangan entitas anak, entitas asosiasi, ventura
bersama, atau cabang di luar negeri dengan mata uang
fungsional yang berbeda dengan Bank.
05. Penyesuaian nilai wajar dari aset keuangan dalam kategori
tersedia untuk dijual muncul dari penyesuaian nilai wajar atas
investasi pada saham, reksadana, dan penyertaan

dalam

kategori tersedia untuk dijual.


06. Bagian penghasilan komprehensif lain dari entitas asosiasi dan
pengendalian

bersama

komprehensif

lain

entitas

yang

muncul

dimiliki

dari

entitas

penghasilan

asosiasi

atau

pengendalian bersama entitas yang dimiliki Bank dan dicatat


dengan menggunakan metode ekuitas.
07. Termasuk

dalam

penghasilan

komprehensif

lain

adalah

penyesuaian reklasifikasi, yaitu jumlah yang direklasifikasi dari


penghasilan komprehensif lain ke laba rugi. Misalnya, jumlah
penyesuaian nilai wajar aset keuangan tersedia untuk dijual
yang sebelumnya diakui di penghasilan komprehensif lain yang
direklasifikasi ke laba rugi ketika terjadi penjualan aset
keuangan tersebut.
D.

Perlakuan Akuntansi
01. Perlakuan akuntansi untuk surplus revaluasi aset tetap dan aset
tidak berwujud mengacu pada Bagian X tentang Aset Tetap dan
Aset Tidak Berwujud.
02. Keuntungan atau kerugian aktuarial dari program pasca kerja
imbalan pasti diakui dalam penghasilan komprehensif lain
sebesar hasil perhitungan aktuarial.
03. Selisih kurs dari penjabaran Laporan Keuangan dari entitas
asing diakui pada saat penjabaran pos-pos aset, liabilitas,
pendapatan, dan beban dari entitas asing yang menggunakan
mata

uang

fungsional

selain

Rupiah

ke

dalam

Laporan

14.8

328

Lanjutan Lampiran 1

Keuangan Bank yang menggunakan mata uang fungsional


Rupiah.
04. Perlakuan akuntansi untuk selisih penilaian (penyesuaian nilai
wajar) dari aset keuangan dalam kategori tersedia untuk dijual
mengacu pada Bagian VIII tentang Surat Berharga terkait
dengan investasi saham, reksadana, dan penyertaan.
05. Perlakuan

akuntansi

untuk

bagian

atas

penghasilan

komprehensif lain dari asosiasi dan pengendalian bersama


entitas mengacu pada Bagian VIII tentang Surat Berharga terkait
dengan penyertaan.
E.

Ilustrasi Jurnal
01. Surplus revaluasi aset tetap dan aset tidak berwujud
a.

Aset tetap
Db. Aset tetap
Kr. Akumulasi penyusutan
Kr. Surplus revaluasi

b.

Aset tidak berwujud


Db. Aset tidak berwujud
Kr. Akumulasi amortisasi
Kr. Surplus revaluasi

02. Keuntungan atau kerugian aktuaria dari liabilitas pascakerja


imbalan pasti.
a.

Keuntungan aktuaria dari aset program


Db. Aset program
Kr. Keuntungan aktuaria

b.

Kerugian aktuaria dari aset program


Db. Kerugian aktuaria
Kr. Aset program

c.

Keuntungan aktuaria dari kewajiban program


Db. Liabilitas pascakerja
Kr. Keuntungan aktuaria

d.

Kerugian aktuaria dari kewajiban program


Db. Kerugian aktuaria
Kr. Liabilitas pascakerja

14.9

329

Lanjutan Lampiran 1

03. Selisih kurs penjabaran Laporan Keuangan


Db.

Beban yang terkait

Db.

Aset yang terkait

Db/Kr.

Selisih kurs penjabaran

Kr.

Pendapatan yang terkait

Kr.

Liabilitas yang terkait

04. Penyesuaian nilai wajar dari aset keuangan dalam kategori AFS.
Db/Kr.

Pos investasi yang terkait

Kr/Db.

Penyesuaian nilai wajar

05. Bagian atas penghasilan komprehensif lain dari entitas asosiasi


dan ventura bersama.
a.

Jika penghasilan komprehensif lain dari entitas asosiasi


dan ventura bersama bersaldo kredit (positif).
Db. Investasi

entitas

asosiasi/pengendalian

bersama

entitas
Kr. Bagian atas penghasilan komprehensif lain
b.

Jika penghasilan komprehensif lain dari entitas asosiasi


dan ventura bersama bersaldo debit (negatif).
Db. Bagian atas penghasilan komprehensif lain
Kr. Investasi pada entitas asosiasi/pengendalian bersama
entitas

F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Rincian penghasilan komprehensif lain.
02. Jumlah pajak penghasilan terkait.
03. Penyesuaian reklasifikasi terkait penghasilan komprehensif lain.
04. Pengungkapan lain.

14.10

330

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN XV
A.

LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

Definisi
Laporan Perubahan Ekuitas adalah laporan yang menunjukkan
perubahan ekuitas Bank yang menggambarkan peningkatan atau
penurunan aset neto atau kekayaan selama periode pelaporan.

B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
02. SAK lain yang relevan.

C.

Penjelasan
01. Perubahan

ekuitas

menggambarkan

peningkatan

atau

penurunan aset neto selama suatu periode berdasarkan prinsip


pengukuran tertentu yang dianut dan harus diungkapkan dalam
Laporan Keuangan.
02. Laporan Perubahan Ekuitas, kecuali untuk perubahan yang
berasal dari transaksi ekuitas yaitu transaksi dengan pemegang
saham dalam kapasitasnya sebagai pemilik seperti setoran
modal

dan

pembayaran

dividen,

menggambarkan

jumlah

penghasilan dan beban yang berasal dari kegiatan Bank selama


periode yang bersangkutan.
03. Bank menyajikan, baik dalam Laporan Perubahan Ekuitas atau
Catatan Atas Laporan Keuangan, jumlah dividen yang diakui
sebagai distribusi kepada pemegang saham, dan nilai dividen per
saham.
04. Perubahan ekuitas antara awal dan akhir periode pelaporan
menggambarkan peningkatan dan penurunan aset neto atau
kekayaan selama periode bersangkutan berdasarkan prinsip
pengukuran tertentu yang dianut dan harus diungkapkan dalam
Laporan Keuangan.
05. Laporan Perubahan Ekuitas, kecuali untuk perubahan yang
berasal

dari

transaksi

ekuitas,

menggambarkan

jumlah

keuntungan dan kerugian yang berasal dari kegiatan Bank


selama suatu periode.
15.1

331

Lanjutan Lampiran 1

06. Laporan Perubahan Ekuitas menunjukkan:


a.

Total laba komprehensif


i.

Jumlah yang dapat diatribusikan kepada pemilik


entitas induk;

ii.

Jumlah yang dapat diatribusikan kepada kepentingan


nonpengendali.

b.

Untuk

setiap

komponen

ekuitas,

dampak

penerapan

retrospektif atau penyajian kembali secara retrospektif yang


diakui sesuai dengan PSAK terkait.
c.

Untuk setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara jumlah


tercatat pada awal dan akhir periode, secara terpisah
mengungkapkan setiap perubahan yang timbul dari:
i.

laba rugi;

ii.

setiap pos penghasilan komprehensif lain;

iii.

transaksi ekuitas yang menunjukkan secara terpisah


konstribusi

dari

pemegang

saham

dan

distribusi

kepada pemegang saham dan perubahan kepemilikan


pada entitas anak yang tidak menyebabkan hilang
pengendalian.

15.2

332

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN XVI
A.

LAPORAN ARUS KAS

Definisi
Laporan Arus Kas adalah Laporan Keuangan yang menunjukan
penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas pada Bank selama
periode tertentu yang dikelompokkan

dalam aktivitas operasi,

investasi, dan pendanaan.


B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 2 tentang Laporan Arus Kas.
02. SAK lain yang relevan.

C.

Penjelasan
01. Kas terdiri dari saldo kas dan rekening giro.
02. Setara kas adalah investasi yang sifatnya sangat likuid,
berjangka pendek, dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas
dalam jumlah yang dapat ditentukan dan memiliki risiko
perubahan nilai yang tidak signifikan.
03. Informasi tentang arus kas berguna bagi para pengguna Laporan
Keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan Bank dalam
menghasilkan kas dan setara kas serta menilai kebutuhan
penggunaan arus kas tersebut.
04. Dalam mengambil keputusan ekonomi, para pengguna Laporan
Keuangan perlu melakukan evaluasi terhadap kemampuan Bank
dalam menghasilkan kas dan setara kas serta kepastian
perolehannya. Evaluasi tersebut untuk mengetahui bagaimana
Bank menghasilkan dan menggunakan kas dan setara kas, serta
kebutuhan kas dan setara kas untuk melaksanakan usaha,
melunasi liabilitas, dan membagikan bagi hasil kepada pemilik
dana/deposan dan dividen kepada pemegang saham.
05. Laporan Arus Kas memberikan informasi historis mengenai
perubahan kas dan setara kas dengan mengklasifikasikan arus
kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan
selama suatu periode akuntansi.

16.1

333

Lanjutan Lampiran 1

06. Suatu

transaksi

tertentu

dapat

meliputi

arus

kas

yang

diklasifikasikan ke dalam lebih dari satu aktivitas. Sebagai


contoh:
a.

Pelunasan atas pembiayaan yang diterima oleh Bank


meliputi pokok pembiayaan dan bagi hasil. Bagi hasil
merupakan unsur yang dapat diklasifikasikan sebagai
aktivitas operasi dan pokok pembiayaan merupakan unsur
yang diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan.

b.

Pinjaman qardh yang diterima oleh Bank meliputi pokok


pinjaman dan imbalan yang diberikan (jika ada dan tidak
diperjanjikan di muka). Imbalan merupakan unsur yang
dapat diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi dan pokok
pinjaman merupakan unsur yang diklasifikasikan sebagai
aktivitas pendanaan.

07. Arus kas dari aktivitas operasi


a.

Aktivitas

operasi

adalah

aktivitas

penghasil

utama

pendapatan dan aktivitas lain yang bukan merupakan


aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan.
b.

Arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari


aktivitas penghasil utama pendapatan. Oleh karena itu,
arus kas tersebut pada umumnya berasal dari transaksi
dan

peristiwa

lain

yang

mempengaruhi

laba

rugi

komprehensif.
c.

Beberapa contoh arus kas dari aktivitas operasi adalah:


i.

Penerimaan

angsuran/pelunasan

pembiayaan

dari

nasabah.
ii.

Pencairan pembiayaan kepada nasabah.

iii.

Penerimaan kas dari penabung/deposan.

iv.

Pembayaran kas kepada penabung/deposan.

v.

Pembayaran

kas

kepada

dan

untuk

kepentingan

karyawan.
vi.

Pembayaran kas kepada dan penerimaan kas dari


pemasok.

vii. Pembayaran kas atau restitusi pajak penghasilan,


kecuali jika dapat diidentifikasikan secara spesifik
sebagai bagian dari aktivitas pendanaan dan investasi.
16.2

334

Lanjutan Lampiran 1

d.

Arus kas operasi disajikan dengan menggunakan metode


langsung.

08. Arus kas aktivitas investasi


a.

Aktivitas investasi adalah aktivitas perolehan dan pelepasan


aset

jangka

panjang

serta

investasi

lain

yang

tidak

termasuk setara kas.


b.

Beberapa contoh arus kas dari aktivitas investasi adalah:


i.

Pembayaran kas untuk membeli sukuk, efek ekuitas,


dan reksadana.

ii.

Penerimaan kas dari penjualan sukuk, efek ekuitas,


dan reksadana.

iii.

Pembayaran kas untuk membeli aset tetap, aset tak


berwujud, dan aset tidak lancar lain.

iv.

Penerimaan kas dari penjualan aset tetap, aset tak


berwujud, dan aset tidak lancar lain.

c.

Termasuk arus kas dari pelepasan kepemilikan pada entitas


anak yang menyebabkan hilangnya pengendalian.

d.

Untuk investasi pada entitas asosiasi dan ventura bersama


yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitas, Bank
membatasi hanya pada arus kas yang terjadi antara
perusahaan dan entitas asosiasi/ventura bersama.

09. Arus kas aktivitas pendanaan


a.

Aktivitas pendanaan adalah aktivitas yang mengakibatkan


perubahan dalam jumlah komposisi kontribusi modal dan
pinjaman.

b.

Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas


pendanaan adalah:
i.

Penerimaan kas dari penerbitan saham.

ii.

Pembayaran kas kepada pemilik untuk menarik atau


menebus saham.

iii.

Penerimaan kas dari penerbitan sukuk, pinjaman, dan


utang lain.

iv.

Pembayaran kas untuk melunasi sukuk, pinjaman, dan


utang lain.

c.

Termasuk arus kas dari pelepasan kepemilikan pada entitas


anak yang tidak menyebabkan hilangnya pengendalian.
16.3

335

Lanjutan Lampiran 1

d.

Pengungkapan terpisah arus kas yang berasal dari aktivitas


pendanaan

adalah

penting

karena

berguna

untuk

memprediksi klaim atas arus masa depan oleh para


penyedia modal perseroan.
10. Mata uang asing
a.

Arus

kas

dalam

mata

uang

asing

diperkenankan

menggunakan kurs yang mendekati kurs sebenarnya.


Sebagai

contoh,

bersangkutan

kurs

dapat

rata-rata

untuk

periode

yang

digunakan

untuk

membukukan

transaksi dalam mata uang asing.


b.

Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi yang


timbul akibat perubahan kurs bukan merupakan arus kas.

c.

Pengaruh perubahan kurs terhadap kas dan setara kas


dalam valuta asing dilaporkan dalam Laporan Arus Kas
untuk merekonsiliasi saldo awal dan akhir kas dan setara
kas. Jumlah selisih kurs tersebut disajikan terpisah dari
arus kas aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.

11. Pajak penghasilan


a.

Pajak penghasilan atas pendapatan yang diterima dapat


diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi, investasi, atau
pendanaan.

b.

Pajak penghasilan biasanya diklasifikasikan sebagai arus


kas dari aktivitas operasi.

c.

Apabila arus kas pajak dialokasikan pada lebih satu jenis


aktivitas, maka jumlah keseluruhan pajak yang dibayar
harus diungkapkan.

16.4

336

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN XVII
BAGI HASIL
A.

LAPORAN REKONSILIASI PENDAPATAN DAN

Definisi
Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil adalah laporan yang
menyajikan rekonsiliasi antara pendapatan Bank yang menggunakan
dasar akrual dengan pendapatan dibagihasilkan kepada pemilik dana
yang menggunakan dasar kas.

B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.

C.

Penjelasan
01. Bank menyajikan Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi
Hasil yang merupakan rekonsiliasi pendapatan Bank, yang
menggunakan

dasar

akrual,

dan

pendapatan

yang

dibagihasilkan kepada pemilik dana yang menggunakan dasar


kas.
02. Selain untuk menyampaikan informasi mengenai pendapatan
usaha utama dan bagi hasil untuk pemilik dana, Laporan
Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil dapat digunakan untuk
mengetahui arus kas dari pendapatan usaha utama.
03. Perbedaan dasar pengakuan antara pendapatan yang diterima
Bank dengan pendapatan yang dibagihasilkan, mengharuskan
Bank menyajikan Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi
Hasil sebagai bagian komponen utama Laporan Keuangan.
04. Dalam Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil, Bank
menyajikan:
a.

pendapatan usaha utama, dasar akrual;

b.

penyesuaian atas:
i.

dikurangi dengan pendapatan usaha utama periode


berjalan yang kas atau setara kasnya belum diterima;

ii.

ditambah dengan pendapatan usaha utama periode


sebelumnya yang kas atau setara kasnya diterima di
periode berjalan;

c.

pendapatan yang tersedia untuk bagi hasil.


17.1

337

Lanjutan Lampiran 1

d.

bagian Bank atas pendapatan yang tersedia untuk bagi


hasil;

e.

bagian pemilik dana atas pendapatan yang tersedia untuk


bagi hasil.

05. Formula perhitungan pendapatan yang tersedia untuk bagi hasil


adalah:

Pendapatan usaha
utama periode
berjalan

pendapatan usaha

pendapatan usaha

utama periode

utama periode

sebelumnya yang kas


atau setara kasnya

berjalan yang kas


atau setara

diterima di periode

kasnya belum

berjalan

diterima

06. Penyesuaian atas pendapatan usaha utama dilakukan untuk


menentukan pendapatan usaha utama yang sudah terealisasi
dalam kas atau setara kas (pendapatan yang tersedia untuk bagi
hasil).
07. Penentuan hak pihak ketiga/nasabah penyimpan atas bagi hasil
dana syirkah temporer, adalah sebagai berikut:
a.

Penentuan porsi pendapatan usaha utama yang telah


diterima kasnya (dasar kas) yang didanai dari simpanan
nasabah penyimpan berdasarkan akad mudharabah dan
musyarakah dan dari dana lain, yang meliputi:
i.

Jumlah simpanan nasabah yang berhasil dihimpun


selama periode berjalan;

ii.

Jumlah dana yang berhasil disalurkan oleh Bank;

iii.

Hasil penyaluran dana (pendapatan usaha utama)


dasar kas yang diterima Bank; dan

iv.

Jumlah hasil penyaluran dana (pendapatan usaha


utama) dasar kas yang harus dibagihasilkan antara
Bank dan nasabah penyimpan.

17.2

338

Lanjutan Lampiran 1

No

Penghimpunan
dana

150.000

150.000

325

Pendapatan
yang dibagihasilkan
325

150.000

175.000

350

300

150.000

125.000

275

275

b.

Penyaluran
dana

Pendapatan
penyaluran

Keterangan
Semua pendapatan
dibagihasilkan untuk Bank
dan nasabah
300=150.000/175.000 x 350
(pendapatan dibagi-hasil
sebesar proporsi
penghimpunan dana)
- Semua pendapatan
dibagihasilkan
- Ada dana yang belum
disalurkan

Penentuan hak pihak ketiga atas bagi hasil dana syirkah


temporer

dengan

menyusun

tabel

penyaluran

revenue/profit yang meliputi:


i.

Jenis produk yang dijadikan sarana penghimpunan


dana nasabah;

ii.

Saldo dana rata-rata selama satu periode untuk setiap


jenis produk penghimpunan dana nasabah dan total
saldo dana rata-rata untuk seluruh jenis produk
penghimpunan dana nasabah;

iii.

Jumlah

pendapatan

penghimpunan

untuk

dana

setiap

nasabah

jenis

produk

yang

akan

dibagihasilkan antara nasabah penyimpan dan Bank


dan total pendapatan yang akan dibagihasilkan untuk
seluruh jenis produk penghimpunan dana nasabah;
iv.

Jumlah porsi bagi hasil secara agregat untuk nasabah


pada setiap jenis produk penghimpunan dana nasabah
dan total bagi hasil untuk nasabah dari seluruh jenis
produk penghimpunan dana nasabah; dan

v.

Jumlah porsi bagi hasil secara agregat untuk Bank


dari setiap jenis produk penghimpunan dana nasabah
dan total porsi bagi hasil untuk Bank dari seluruh
jenis produk penghimpunan dana nasabah.

Jenis
Penghimpunan

Giro mudharabah
Tabungan
mudharabah
Deposito
mudharabah
1 bulan
3 bulan
6 bulan
12 bulan
Total

Saldo rata-rata
A
A1
A2

Pendapatan
yang harus
dibagi hasil
B
B1
B2

A3
A4
A5
A6
A

B3
B4
B5
B6
B

Porsi pemilik dana


Nisbah
Jumlah

Porsi pengelola dana


Nisbah
Jumlah

C
0,25
0,55

D
D1
D2

E
0,75
0,45

F
F1
F2

0,60
0,65
0,67
0,70
C

D3
D4
D5
D6
D

0,40
0,35
0,33
0,3
E

F3
F4
F5
F6
F

17.3

339

Lanjutan Lampiran 1

D.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Rincian pendapatan usaha utama periode sebelumnya yang
diterima di periode berjalan.
02. Rincian pendapatan usaha utama periode berjalan yang belum
diterima kas atau setara kasnya.
03. Rincian pendapatan yang tersedia untuk bagi hasil yang belum
didistribusikan ke pemilik dana.
04. Pengungkapan lain.

17.4

340

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN XVIII LAPORAN SUMBER DAN PENYALURAN DANA


ZAKAT
A.

Definisi
01. Laporan Sumber dan Penyaluran Dana Zakat merupakan
laporan yang menunjukkan sumber dan penyaluran dana zakat
kepada entitas pengelola zakat selama suatu jangka waktu
tertentu, serta saldo dana zakat yang belum disalurkan pada
tanggal tertentu.
02. Zakat merupakan kewajiban Syariah yang harus diserahkan
oleh wajib zakat (muzaki) kepada penerima zakat (mustahiq),
baik melalui amil maupun secara langsung.

B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.

C.

Penjelasan
01. Pembayaran

zakat

dilakukan

apabila

nisab

dan

haulnya

terpenuhi dari harta yang memenuhi kriteria wajib zakat.


02. Bank menyajikan Laporan Sumber dan Penyaluran Dana Zakat
sebagai

komponen

utama

Laporan

Keuangan

dengan

menyajikan:
a.

b.

Dana zakat yang berasal dari:


i.

internal Bank;

ii.

eksternal Bank.

Penyaluran dana zakat kepada entitas pengelola zakat


sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

c.

Kenaikan atau penurunan dana zakat.

d.

Saldo awal dana zakat.

e.

Saldo akhir dana zakat.

03. Sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku, Bank hanya


dapat menyalurkan dana zakat yang diterima kepada lembaga
amil zakat atau badan amil zakat.
04. Sumber dana zakat dari eksternal Bank antara lain:

18.1

341

Lanjutan Lampiran 1

a.

Dana yang disetor atau dipotong dari rekening nasabah


atas perintah nasabah tersebut.

b.

Zakat masyarakat bukan nasabah Bank yang disetor


melalui Bank.

05. Dalam penyaluran dana zakat kepada entitas pengelola zakat,


Bank cukup menyebutkan nama lembaga amil zakat dan badan
amil zakat.
D.

Perlakuan Akuntansi
01. Sumber

dana

zakat

yang

berasal

dari

pemilik

Bank

diperhitungkan dari laba neto sebelum pajak selama periode


satu tahun.
02. Penerimaan dana zakat diakui sebagai liabilitas dan diakui
sebagai pengurang liabilitas ketika disalurkan.
03. Dana zakat disajikan sebagai liabilitas paling likuid.
E.

Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat penerimaan dari internal Bank
a.

Zakat Bank
Dr. Beban zakat
Kr. Rekening Dana Zakat

b.

Zakat pemilik Bank


Dr. Kas/rekening
Kr. Rekening Dana Zakat

02. Penerimaan zakat dari eksternal Bank


Dr. Kas/rekening
Kr. Rekening Dana Zakat
03. Pada saat penyaluran zakat
Dr. Rekening Dana Zakat
Kr. Kas/rekening
F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Sumber dana zakat yang berasal dari internal Bank.
02. Sumber dana zakat yang berasal dari eksternal Bank.
03. Kebijakan penyaluran zakat.
18.2

342

Lanjutan Lampiran 1

04. Proporsi dana yang disalurkan untuk masing-masing entitas


pengelola zakat yang diklasifikasikan menjadi pihak berelasi dan
pihak ketiga.
05. Pengungkapan lain.

18.3

343

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN XIX
KEBAJIKAN
A.

LAPORAN SUMBER DAN PENGGUNAAN DANA

Definisi
01. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan merupakan
laporan yang menunjukkan sumber dan penggunaan dana
kebajikan selama suatu jangka waktu tertentu, serta saldo dana
kebajikan yang menunjukkan dana kebajikan yang belum
disalurkan pada tanggal tertentu.
02. Penerimaan nonhalal adalah semua penerimaan dari kegiatan
yang

tidak

sesuai

dengan

prinsip

Syariah,

antara

lain

penerimaan jasa giro atau bunga yang berasal dari bank umum
konvensional.
B.

Dasar Pengaturan
01. PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.

C.

Penjelasan
01. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan adalah salah
satu komponen Laporan Keuangan yang mencerminkan kegiatan
sosial Bank.
02. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan merupakan
laporan yang memberikan informasi agar para pemakai dapat
mengevaluasi aktivitas Bank dalam mengelola dana kebajikan.
03. Bank menyajikan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana
Kebajikan sebagai komponen utama Laporan Keuangan, yang
menunjukkan:
a.

Sumber dana kebajikan yang berasal dari penerimaan,


antara lain:

b.

i.

infak;

ii.

sedekah;

iii.

pengembalian dana kebajikan produktif;

iv.

denda; dan

v.

penerimaan nonhalal.

Penggunaan dana kebajikan untuk:


i.

dana kebajikan produktif;


19.1

344

Lanjutan Lampiran 1

ii.

sumbangan; dan

iii.

penggunaan lainnya untuk kepentingan umum.

c.

Kenaikan atau penurunan sumber dana kebajikan.

d.

Saldo awal dana kebajikan.

e.

Saldo akhir dana kebajikan.

04. Dana kebajikan merupakan liabilitas yang paling likuid atau


menjadi prioritas yang pertama untuk segera diselesaikan.
05. Infak dan sedekah adalah dana yang diterima dari eksternal
Bank atau dari rekening nasabah atas perintah nasabah
tersebut.
06. Denda adalah penerimaan dari nasabah atas kelalaian atau
kesengajaan yang mengakibatkan tidak terpenuhinya kewajiban
nasabah sesuai dengan akad, seperti akad murabahah atau
istishna.
07. Penerimaan nonhalal berasal dari penerimaan jasa giro dari
bank konvensional atau penerimaan lainnya yang tidak dapat
dihindari dalam kegiatan operasional Bank.
08. Penerimaan nonhalal pada umumnya terjadi dalam kondisi
darurat atau kondisi yang tidak diinginkan oleh Bank karena
secara prinsip dilarang.
09. Penerimaan nonhalal bukan bagian dari pendapatan Bank
sehingga tidak disajikan di Laporan Laba Rugi Komprehensif,
tetapi sebagai bagian dari sumber dana kebajikan.
10. Dana kebajikan dapat disalurkan sebagai dana bergulir untuk
pinjaman sosial/dana kebajikan produktif, sumbangan, atau
kepentingan umum lain.
D.

Perlakuan Akuntansi
01. Penerimaan dana kebajikan diakui sebagai liabilitas dan diakui
sebagai pengurang liabilitas ketika disalurkan.
02. Dana kebajikan disajikan sebagai liabilitas paling likuid.

E.

Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat penerimaan dana kebajikan
Db. Kas/rekening
Kr. Rekening Dana Kebajikan
19.2

345

Lanjutan Lampiran 1

02. Pada saat penyaluran dana kebajikan


Db. Rekening Dana Kebajikan
Kr. Kas/rekening
03. Pada saat pengembalian dana kebajikan
Db. Kas/rekening
Kr. Rekening Dana Kebajikan
F.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Sumber dana kebajikan.
02. Kebijakan penyaluran dana kebajikan kepada masing-masing
penerima.
03. Proporsi dana yang disalurkan untuk masing-masing penerima
dana kebajikan yaitu pihak berelasi dan pihak ketiga.
04. Alasan terjadinya dan penggunaan atas penerimaan nonhalal.
05. Pengungkapan lain.

19.3

346

Lanjutan Lampiran 1

BAGIAN XX
A.

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

Definisi
Catatan Atas Laporan Keuangan merupakan komponen Laporan
Keuangan yang memberikan penjelasan mengenai gambaran umum
Bank, ikhtisar kebijakan akuntansi, penjelasan pos-pos Laporan
Keuangan, dan informasi penting lain.

B.

Dasar pengaturan
01. PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
02. SAK lain yang relevan.

C.

Penjelasan
01. Catatan

Atas

Laporan

Keuangan

harus

disajikan

secara

sistematis. Setiap pos dalam Laporan Posisi Keuangan, Laporan


Laba Rugi Komprehensif, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan
Arus Kas, Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil,
Laporan Sumber dan Penyaluran Dana Zakat, dan Laporan
Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan harus berkaitan
dengan informasi yang ada dalam Catatan Atas Laporan
Keuangan.
02. Catatan Atas Laporan Keuangan harus menyajikan pernyataan
yang eksplisit bahwa Laporan Keuangan telah patuh terhadap
SAK. Bank tidak boleh menyebutkan bahwa Laporan Keuangan
telah patuh terhadap SAK, kecuali Laporan Keuangan tersebut
telah mematuhi semua ketentuan dalam SAK.
03. Catatan Atas Laporan Keuangan, khususnya pengungkapan
kebijakan akuntansi yang digunakan, tidak dapat memperbaiki
kebijakan

akuntansi

yang

tidak

tepat

tanpa

melakukan

perbaikan atas kebijakan akuntansi yang tidak tepat tersebut.


04. Catatan Atas Laporan Keuangan mengungkapkan:
a.

Informasi tentang dasar penyusunan Laporan Keuangan


dan kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan
terhadap peristiwa dan transaksi yang penting;

b.

informasi

yang

diwajibkan

dalam

PSAK

tetapi

tidak

disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan, Laporan Laba


20.1

347

Lanjutan Lampiran 1

Rugi Komprehensif, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan


Arus Kas, Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil,
Laporan Sumber dan Penyaluran Dana Zakat, dan Laporan
Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan;
c.

informasi tambahan yang tidak disajikan dalam Laporan


Posisi

Keuangan,

Laporan

Laba

Rugi

Komprehensif,

Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas, Laporan


Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil, Laporan Sumber
dan Penyaluran Dana Zakat, dan Laporan Sumber dan
Penggunaan Dana Kebajikan, tetapi informasi tersebut
diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar;
d.

informasi tentang asumsi yang dibuat mengenai masa


depan, dan sumber utama dari estimasi ketidakpastian lain
pada

akhir

signifikan

periode

yang

pelaporan,

mengakibatkan

yang

memiliki

penyesuaian

risiko

material

terhadap jumlah tercatat aset dan liabilitas dalam periode


pelaporan berikutnya;
e.

informasi

yang

memungkinkan

pengguna

Laporan

Keuangan untuk mengevaluasi tujuan, kebijakan, dan


proses Bank dalam mengelola pemodalannya.
05. Untuk pos-pos yang nilainya material, harus dirinci dan
dijelaskan dalam Catatan Atas Laporan Keuangan. Sedangkan
untuk pos-pos yang bersifat khusus harus dirinci dan dijelaskan
pada Catatan Atas Laporan Keuangan tanpa mempertimbangkan
materialitasnya.
06. Untuk pos yang merupakan hasil penggabungan beberapa akun
sejenis harus dirinci dan dijelaskan sifat dari unsur utamanya
dalam Catatan Atas Laporan Keuangan.
07. Catatan Atas Laporan Keuangan harus menunjukkan secara
terpisah jumlah dari setiap jenis transaksi dan saldo dengan
pihak berelasi dan pihak ketiga.
08. Pada beberapa kasus, informasi naratif yang disajikan dalam
Laporan Keuangan periode sebelumnya masih tetap relevan
untuk diungkapkan pada periode berjalan. Misalnya, rincian
tentang sengketa hukum yang dihadapi dengan hasil akhirnya
belum diketahui secara pasti pada periode sebelumnya dan
20.2

348

Lanjutan Lampiran 1

masih dalam proses penyelesaian, perlu diungkapkan kembali


pada periode berjalan. Peningkatan daya banding informasi
antar periode membantu pengguna dalam membuat keputusan
ekonomi,

khususnya

memungkinkan

penilaian

atas

kecenderungan informasi keuangan untuk tujuan prediksi.


09. Rincian subklasifikasi bergantung pada ketentuan SAK, serta
ukuran dan fungsi jumlah yang terkait. Pertimbangan apakah
pos-pos tambahan disajikan secara terpisah didasarkan pada
penilaian dari jumlah, fungsi, dan likuiditas atau jangka waktu
dari aset dan liabilitas.
10. Catatan Atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif atau
rincian jumlah yang tertera dalam Laporan Keuangan, serta
informasi tambahan seperti liabilitas kontijensi dan komitmen.
Catatan Atas Laporan Keuangan juga mencakup informasi yang
diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan dalam PSAK
serta pengungkapan-pengungkapan lain yang diperlukan untuk
menghasilkan penyajian Laporan Keuangan secara wajar.
11. Bank menyajikan Catatan Atas Laporan Keuangan dengan
urutan sebagai berikut:
a.

Pernyataan kepatuhan terhadap SAK.

b.

Pengungkapan mengenai dasar pengukuran dan kebijakan


akuntansi yang diterapkan.

c.

Informasi pendukung pos-pos Laporan Keuangan sesuai


urutan sebagaimana pos-pos tersebut disajikan dalam
Laporan

Keuangan

dan

urutan

penyajian

komponen

Laporan Keuangan.
d.

Pengungkapan lain termasuk kontinjensi, komitmen, dan


pengungkapan keuangan lainnya dan nonkeuangan.

12. Hal yang penting untuk menginformasikan kepada pengguna


mengenai dasar pengukuran yang digunakan dalam Laporan
Keuangan (misalnya, biaya historis, biaya perolehan kini, nilai
realisasi neto, nilai wajar atau jumlah terpulihkan).
13. Dalam memutuskan apakah kebijakan akuntansi tertentu
diungkapkan,
pengungkapan

manajemen
tersebut

akan

mempertimbangkan
membantu

pengguna

apakah
untuk

memahami bagaimana transaksi, peristiwa lain dan kondisi yang


20.3

349

Lanjutan Lampiran 1

tercermin dalam Laporan Posisi Keuangan dan Laporan Kinerja


Keuangan.
14. Bank mengungkapkan sumber estimasi ketidakpastian dalam
satu cara yang dapat membantu pengguna Laporan Keuangan
untuk

memahami

pertimbangan

yang

dibuat

manajemen

tentang masa depan dan sumber estimasi ketidakpastian lain.


15. Bank mengungkapkan informasi yang memungkinkan pengguna
Laporan Keuangan mengevaluasi tujuan, kebijakan, dan proses
dalam mengelola permodalannya.

Bank Indonesia,

Halim Alamsyah
Deputi Gubernur

20.4

350

Lampiran 2

LAMPIRAN
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 14/ 35 /DPNP TANGGAL 10 DESEMBER 2012
PERIHAL
LAPORAN TAHUNAN BANK UMUM DAN LAPORAN TAHUNAN TERTENTU YANG DISAMPAIKAN KEPADA
BANK INDONESIA

PEDOMAN PENYUSUNAN
LAPORAN TAHUNAN BANK UMUM DAN LAPORAN TAHUNAN TERTENTU
YANG DISAMPAIKAN KEPADA BANK INDONESIA

BANK INDONESIA

351

Lanjutan Lampiran 2

PEDOMAN PENGISIAN
PENGUNGKAPAN PERMODALAN SERTA PENGUNGKAPAN EKSPOSUR RISIKO DAN PENERAPAN
MANAJEMEN RISIKO BANK
A. Petunjuk Umum
1. Angka-angka dalam pengungkapan permodalan serta pengungkapan eksposur risiko dan penerapan manajemen
risiko Bank wajib disajikan dalam mata uang rupiah.
2. Cakupan pengungkapan yang diatur dalam pengungkapan permodalan serta pengungkapan eksposur risiko dan
penerapan manajemen risiko merupakan standar minimum informasi yang harus disampaikan Bank. Bank
dimungkinkan untuk melakukan pengungkapan yang lebih luas dalam menggambarkan kecukupan permodalan
yang dimiliki, dan eksposur risiko, praktek manajemen risiko.
3. Pengungkapan permodalan serta pengungkapan eksposur risiko dan penerapan manajemen risiko Bank terdiri
dari pengungkapan untuk Bank secara individual dan pengungkapan untuk Bank secara konsolidasi dengan
perusahaan anak.
4. Bank yang tidak memiliki perusahaan anak, hanya mencantumkan pengungkapan permodalan serta
pengungkapan eksposur risiko dan penerapan manajemen risiko Bank secara individual.
5. Bank yang tidak memiliki eksposur tertentu sesuai dengan persyaratan pengungkapan minimum permodalan
serta pengungkapan eksposur risiko dan penerapan manajemen risiko, tidak perlu mencantumkan tabel yang
terkait dengan pengungkapan eksposur tersebut. Bank hanya perlu mencantumkan penjelasan bahwa Bank
tidak memiliki eksposur pada pengungkapan terkait.
Misalnya: Bank yang tidak memiliki eksposur sekuritisasi aset hanya mencantumkan penjelasan bahwa Bank
tidak memiliki ekposur sekuritisasi aset di bagian pengungkapan sekuritisasi aset.

352

Lanjutan Lampiran 2

6. Pengungkapan kualitatif terkait dengan penerapan manajemen risiko mengacu pada ketentuan Bank Indonesia
mengenai penerapan manajemen risiko bagi bank umum.
7. Pengungkapan permodalan serta pengungkapan eksposur risiko dan penerapan manajemen risiko Bank tidak
dipersyaratkan untuk diaudit oleh akuntan publik. Namun demikian, Bank harus melakukan semua upaya
yang diperlukan untuk menjamin keakuratan dari seluruh pengungkapan yang disyaratkan.
8. Pengungkapan permodalan serta pengun

gkapan eksposur risiko dan penerapan manajemen risiko Bank yang

bersifat kuantitatif wajib disajikan dalam bentuk perbandingan dengan laporan periode yang sama tahun
sebelumnya. Khusus untuk penerapan di tahun pertama, Bank tidak perlu melakukan perbandingan dengan
tahun sebelumnya.

353

Lanjutan Lampiran 2

B. Petunjuk Khusus
1. Pedoman Pengisian Pengungkapan Struktur Permodalan
Pengungkapan struktur permodalan diisi sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia mengenai laporan keuangan
publikasi triwulanan dan bulanan bank umum serta laporan tertentu yang disampaikan kepada Bank
Indonesia.
Tabel 1.a Pengungkapan Kuantitatif Struktur Permodalan Bank Umum
KOMPONEN MODAL

(1)

(2)

Posisi Tanggal Laporan

(dalam jutaan rupiah)


Posisi Tanggal Laporan Tahun
Sebelumnya

Bank

Konsolidasi

Bank

Konsolidasi

(3)

(4)

(5)

(6)

KOMPONEN MODAL
A Modal Inti
1 Modal disetor
2 Cadangan Tambahan Modal
3 Modal Inovatif
4 Faktor Pengurang Modal Inti
5 Kepentingan Non Pengendali
B Modal Pelengkap
1 Level Atas (Upper Tier 2)
2 Level Bawah (Lower Tier 2) maksimum 50% Modal Inti
3 Faktor Pengurang Modal Pelengkap
C Faktor Pengurang Modal Inti dan Modal Pelengkap
Eksposur Sekuritisasi
D Modal Pelengkap Tambahan Yang Memenuhi Persyaratan (Tier 3)
E MODAL PELENGKAP TAMBAHAN YANG DIALOKASIKAN UNTUK MENGANTISIPASI RISIKO PASAR

II
III

TOTAL MODAL INTI DAN MODAL PELENGKAP (A + B - C)


TOTAL MODAL INTI, MODAL PELENGKAP,DAN MODAL PELENGKAP TAMBAHAN YANG
DIALOKASIKAN UNTUK MENGANTISIPASI RISIKO PASAR (A + B - C + E)

IV

ASET TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR) UNTUK RISIKO KREDIT

ASET TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR) UNTUK RISIKO OPERASIONAL

VI

ASET TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR) UNTUK RISIKO PASAR


A Metode Standar
B

Model Internal

VII RASIO KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM UNTUK RISIKO KREDIT, RISIKO OPERASIONAL
DAN RISIKO PASAR [III : (IV + V + VI)]

354

Lanjutan Lampiran 2

Tabel 1.b Pengungkapan Kuantitatif Struktur Permodalan Bank Asing


(dalam jutaan rupiah)
KOMPONEN MODAL

(1)

(2)

Posisi Tanggal
Laporan

Posisi Tanggal
Laporan Tahun
Sebelumnya

(3)

(4)

KOMPONEN MODAL
A Dana Usaha
1
B

Dana Usaha

2 Modal disetor
Cadangan
1

Cadangan umum

2 Cadangan tujuan
Laba (rugi) tahun-tahun lalu yang dapat diperhitungkan (100%)

Laba (rugi) tahun berjalan yang dapat diperhitungkan (50%)

Dana setoran modal

Pendapatan komprehensif lainnya: kerugian berasal dari penurunan penyertaan dalam kelompok tersedia
untuk dijual (100%)
Pendapatan komprehensif lainnya: keuntungan berasal dari peningkatan penyertaan dalam kelompok
tersedia untuk dijual (45%)
Revaluasi aset tetap (45%)

Selisih kurang antara PPA dan cadangan kerugian penurunan nilai atas aset produktif

Penyisihan Penghapusan Aset (PPA) atas aset non produktif yang wajib dihitung

F
G

Selisih kurang jumlah penyesuaian nilai wajar dari instrumen keuangan dalam trading book

Cadangan umum aset produktif (maks. 1,25% dari ATMR)

M Faktor pengurang modal


Eksposur sekuritisasi
II MODAL BANK ASING (Jumlah A s.d L - M)
III ASET TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR) UNTUK RISIKO KREDIT
IV ASET TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR) UNTUK RISIKO OPERASIONAL
V

ASET TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR) UNTUK RISIKO PASAR


A

VI

Metode Standar

Model Internal
B
RASIO KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM UNTUK RISIKO KREDIT, RISIKO OPERASIONAL
DAN RISIKO PASAR [II : (III + IV + V)]

355

Lanjutan Lampiran 2

2. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah


a. Pengungkapan tagihan bersih dilakukan untuk eksposur aset dalam neraca, eksposur pada transaksi
rekening administratif (TRA) dan eksposur yang menimbulkan risiko kredit akibat kegagalan pihak lawan
(counterparty credit risk).
b. Penetapan kategori portofolio dan perhitungan tagihan bersih mengacu pada ketentuan Bank Indonesia
mengenai perhitungan aset tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan
standar. Untuk eksposur di unit usaha syariah mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku
untuk Bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.
c. Pembagian wilayah dilakukan berdasarkan kebijakan masing-masing Bank, sesuai laporan manajemen.
Pembagian wilayah ditetapkan minimum 3 wilayah. Bank harus mengungkapkan dalam laporan, rincian dari
masing-masing pembagian wilayah.
d. Penentuan wilayah dilakukan berdasarkan lokasi proyek dari debitur.

356

Lanjutan Lampiran 2

Tabel 2.1.a Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah - Bank secara Individual
(dalam jutaan rupiah)

No.
Kategori Portofolio
(1)

(2)

Posisi Tanggal Laporan


Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah
Wilayah 1 Wilayah 2 Wilayah 3
dst.
Total
(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya


Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah
Wilayah 1 Wilayah 2 Wilayah 3
dst.
Total
(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

Tagihan Kepada Pemerintah

Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik

Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional

Tagihan Kepada Bank

Kredit Beragun Rumah Tinggal

Kredit Beragun Properti Komersial

Kredit Pegawai/Pensiunan

Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel

Tagihan kepada Korporasi

10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo


11 Aset Lainnya
12 Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total

Tabel 2.1.b Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah - Bank secara Konsolidasi dengan
Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)

No.
Kategori Portofolio
(1)

(2)

Posisi Tanggal Laporan


Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah
Wilayah 1 Wilayah 2 Wilayah 3
dst.
Total
(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya


Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah
Wilayah 1 Wilayah 2 Wilayah 3
dst.
Total
(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

Tagihan Kepada Pemerintah

Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik

Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional

Tagihan Kepada Bank

Kredit Beragun Rumah Tinggal

Kredit Beragun Properti Komersial

Kredit Pegawai/Pensiunan

Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel

Tagihan kepada Korporasi

10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo


11 Aset Lainnya
12 Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total

357

Lanjutan Lampiran 2

3. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Sisa Jangka Waktu Kontrak
a. Pengungkapan tagihan bersih dilakukan untuk eksposur aset dalam neraca, eksposur pada transaksi
rekening administratif (TRA) dan eksposur yang menimbulkan risiko kredit akibat kegagalan pihak lawan
(counterparty credit risk).
b. Penetapan kategori portofolio dan perhitungan tagihan bersih mengacu pada ketentuan Bank Indonesia
mengenai perhitungan aset tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan
standar. Untuk eksposur di unit usaha syariah mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku
untuk Bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.
c. Pemetaan kedalam skala waktu dilakukan berdasarkan sisa waktu sampai dengan jatuh tempo sesuai
kontrak untuk pos neraca, TRA dan eksposur yang menimbulkan risiko kredit akibat kegagalan pihak lawan
yang memiliki jatuh tempo kontraktual. Untuk pos neraca, TRA dan eksposur yang menimbulkan risiko
kredit akibat kegagalan pihak lawan yang tidak memiliki jatuh tempo kontraktual (non maturity items)
dimasukkan ke dalam kolom non-kontraktual.

358

Lanjutan Lampiran 2

Tabel 2.2.a. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Sisa Jangka Waktu Kontrak - Bank secara
Individual
(dalam jutaan rupiah)

No.

Kategori Portofolio

(1)

(2)

< 1 tahun
(3)

Posisi Tanggal Laporan


Tagihan bersih berdasarkan sisa jangka waktu kontrak
>1 thn s.d. 3 thn >3 thn s.d. 5 thn
> 5 thn
Non-Kontraktual
(4)

(5)

(6)

(7)

Total

< 1 tahun

(8)

(9)

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya


Tagihan bersih berdasarkan sisa jangka waktu kontrak
>1 thn s.d. 3 thn >3 thn s.d. 5 thn
> 5 thn
Non-Kontraktual
(10)

(11)

(12)

(13)

Total
(14)

1 Tagihan Kepada Pemerintah


2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
3 Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
5 Kredit Beragun Rumah Tinggal
6 Kredit Beragun Properti Komersial
7 Kredit Pegawai/Pensiunan
8 Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
9 Tagihan kepada Korporasi
10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
11 Aset Lainnya
12 Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total

Tabel 2.2.b. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Sisa Jangka Waktu Kontrak - Bank secara
Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)

No.

Kategori Portofolio

(1)

(2)

< 1 tahun
(3)

Posisi Tanggal Laporan


Tagihan bersih berdasarkan sisa jangka waktu kontrak
>1 thn s.d. 3 thn >3 thn s.d. 5 thn
> 5 thn
Non-Kontraktual
(4)

(5)

(6)

(7)

Total

< 1 tahun

(8)

(9)

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya


Tagihan bersih berdasarkan sisa jangka waktu kontrak
>1 thn s.d. 3 thn >3 thn s.d. 5 thn
> 5 thn
Non-Kontraktual
(10)

(11)

(12)

(13)

Total
(14)

1 Tagihan Kepada Pemerintah


2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
3 Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
5 Kredit Beragun Rumah Tinggal
6 Kredit Beragun Properti Komersial
7 Kredit Pegawai/Pensiunan
8 Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
9 Tagihan kepada Korporasi
10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
11 Aset Lainnya
12 Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total

359

10

Lanjutan Lampiran 2

4. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Sektor Ekonomi


a. Pengungkapan tagihan bersih dilakukan untuk eksposur aset dalam neraca, eksposur pada transaksi
rekening administratif (TRA) dan eksposur yang menimbulkan risiko kredit akibat kegagalan pihak lawan
(counterparty credit risk).
b. Penetapan kategori portofolio dan perhitungan tagihan bersih mengacu pada ketentuan Bank Indonesia
mengenai perhitungan aset tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan
standar. Untuk eksposur di unit usaha syariah mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku
untuk Bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.
c. Pembagian sektor ekonomi mengacu pada sektor ekonomi yang tercantum dalam Laporan Bulanan Bank
Umum (LBU), dengan tambahan sektor Lainnya untuk sektor ekonomi dari tagihan bersih yang tidak dapat
digolongkan dalam salah satu sektor yang ada.

360

Lanjutan Lampiran 2

11

Tabel 2.3.a. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Sektor Ekonomi - Bank secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
Sektor Ekonomi

No.

(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

(2)

Tagihan Kepada Bank


Tagihan Kepada
Tagihan Kepada
Pembangunan Multilateral Tagihan Kepada Kredit Beragun
Entitas Sektor
Pemerintah
dan Lembaga
Bank
Rumah Tinggal
Publik
Internasional
(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Tagihan Kepada
Kredit Beragun
Kredit
Usaha Mikro, Tagihan kepada
Properti
Pegawai/Pensi
Usaha Kecil dan
Korporasi
Komersial
unan
Portofolio Ritel
(8)

(9)

(10)

(11)

Tagihan yang
Telah Jatuh
Tempo

Aset Lainnya

Eksposur di Unit
Usaha Syariah
(apabila ada)

(12)

(13)

(14)

Posisi Tanggal Laporan


Pertanian, perburuan dan Kehutanan
Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Konstruksi
Perdagangan besar dan eceran
Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum
Transportasi, pergudangan dan komunikasi
Perantara keuangan
Real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan
Administrasi Pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib
Jasa pendidikan
Jasa kesehatan dan kegiatan sosial
Jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya
Jasa perorangan yang melayani rumah tangga
Badan internasional dan badan ekstra internasional lainnya
Kegiatan yang belum jelas batasannya
Bukan Lapangan Usaha
Lainnya
Total

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya


Pertanian, perburuan dan Kehutanan
Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Konstruksi
Perdagangan besar dan eceran
Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum
Transportasi, pergudangan dan komunikasi
Perantara keuangan
Real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan
Administrasi Pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib
Jasa pendidikan
Jasa kesehatan dan kegiatan sosial
Jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya
Jasa perorangan yang melayani rumah tangga
Badan internasional dan badan ekstra internasional lainnya
Kegiatan yang belum jelas batasannya
Bukan Lapangan Usaha
Lainnya
Total

361

Lanjutan Lampiran 2

12

Tabel 2.3.b. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Sektor Ekonomi - Bank secara Konsolidasi dengan
Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
No.

Sektor Ekonomi

(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

(2)

Tagihan Kepada Bank


Tagihan Kepada
Tagihan Kepada
Pembangunan Multilateral Tagihan Kepada Kredit Beragun
Entitas Sektor
Pemerintah
dan Lembaga
Bank
Rumah Tinggal
Publik
Internasional
(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Tagihan Kepada
Kredit Beragun
Kredit
Usaha Mikro, Tagihan kepada
Properti
Pegawai/Pensi
Usaha Kecil dan
Korporasi
Komersial
unan
Portofolio Ritel
(8)

(9)

(10)

(11)

Tagihan yang
Telah Jatuh
Tempo

Aset Lainnya

Eksposur di Unit
Usaha Syariah
(apabila ada)

(12)

(13)

(14)

Posisi Tanggal Laporan


Pertanian, perburuan dan Kehutanan
Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Konstruksi
Perdagangan besar dan eceran
Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum
Transportasi, pergudangan dan komunikasi
Perantara keuangan
Real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan
Administrasi Pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib
Jasa pendidikan
Jasa kesehatan dan kegiatan sosial
Jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya
Jasa perorangan yang melayani rumah tangga
Badan internasional dan badan ekstra internasional lainnya
Kegiatan yang belum jelas batasannya
Bukan Lapangan Usaha
Lainnya
Total

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya


Pertanian, perburuan dan Kehutanan
Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Konstruksi
Perdagangan besar dan eceran
Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum
Transportasi, pergudangan dan komunikasi
Perantara keuangan
Real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan
Administrasi Pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib
Jasa pendidikan
Jasa kesehatan dan kegiatan sosial
Jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya
Jasa perorangan yang melayani rumah tangga
Badan internasional dan badan ekstra internasional lainnya
Kegiatan yang belum jelas batasannya
Bukan Lapangan Usaha
Lainnya
Total

362

Lanjutan Lampiran 2

13

5. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan dan Pencadangan Berdasarkan Wilayah


a. Tagihan adalah nilai tercatat aset keuangan dalam laporan posisi keuangan (neraca) sebelum dikurangi
CKPN (gross).
b. Definisi penurunan nilai dan perhitungan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) aset keuangan
mengacu pada standar akuntansi keuangan yang berlaku.
c. Pembagian wilayah dilakukan berdasarkan kebijakan masing-masing Bank, sesuai laporan manajemen.
Pembagian wilayah ditetapkan minimum 3 wilayah. Bank harus mengungkapkan dalam laporan, rincian dari
masing-masing pembagian wilayah.
d. Penentuan wilayah dilakukan berdasarkan lokasi proyek dari debitur.
e. Tagihan yang telah jatuh tempo mengacu pada definisi kategori portofolio Tagihan yang telah Jatuh Tempo
dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai perhitungan aset tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit
dengan menggunakan pendekatan standar.
f. Tagihan yang dihapus buku merupakan tagihan yang telah dihapus buku selama periode berjalan.

Tabel 2.4.a. Pengungkapan Tagihan dan Pencadangan Berdasarkan Wilayah - Bank secara Individual

No.

Keterangan

(1)

(2)

Posisi Tanggal Laporan


Wilayah
Wilayah 1 Wilayah 2 Wilayah 3
dst.
(3)

(4)

(5)

(6)

Total
(7)

(dalam jutaan rupiah)


Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Wilayah
Wilayah 1 Wilayah 2 Wilayah 3
dst.
Total
(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

1 Tagihan
2 Tagihan yang mengalami penurunan nilai (impaired )
a. Belum jatuh tempo
b. Telah jatuh tempo
3 Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) - Individual
4 Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) - Kolektif
5 Tagihan yang dihapus buku

363

Lanjutan Lampiran 2

14

Tabel 2.4.b. Pengungkapan Tagihan dan Pencadangan Berdasarkan Wilayah - Bank secara Konsolidasi
dengan Perusahaan Anak

No.

Keterangan

(1)

(2)

Posisi Tanggal Laporan


Wilayah
Wilayah 1 Wilayah 2 Wilayah 3
dst.
(3)

(4)

(5)

(6)

Total
(7)

(dalam jutaan rupiah)


Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Wilayah
Wilayah 1 Wilayah 2 Wilayah 3
dst.
Total
(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

1 Tagihan
2 Tagihan yang mengalami penurunan nilai (impaired )
a. Belum jatuh tempo
b. Telah jatuh tempo
3 Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) - Individual
4 Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) - Kolektif
5 Tagihan yang dihapus buku

6. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan dan Pencadangan Berdasarkan Sektor Ekonomi


a. Tagihan adalah nilai tercatat aset keuangan dalam laporan posisi keuangan (neraca) sebelum dikurangi
CKPN (gross).
b. Definisi penurunan nilai dan perhitungan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) aset keuangan
mengacu pada standar akuntansi keuangan yang berlaku.
c. Pembagian sektor ekonomi mengacu pada sektor ekonomi yang tercantum dalam Laporan Bulanan Bank
Umum (LBU), dengan tambahan sektor Lainnya untuk sektor ekonomi dari tagihan

yang tidak dapat

digolongkan dalam salah satu sektor yang ada.


d. Tagihan yang telah jatuh tempo mengacu pada definisi kategori portofolio Tagihan yang telah Jatuh Tempo
dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai perhitungan aset tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit
dengan menggunakan pendekatan standar.
e. Tagihan yang dihapus buku merupakan tagihan yang telah dihapus buku selama periode berjalan.

364

Lanjutan Lampiran 2

15

Tabel 2.5.a. Pengungkapan Tagihan dan Pencadangan Berdasarkan Sektor Ekonomi - Bank secara
Individual
(dalam jutaan rupiah)
Tagihan yang Mengalami Penurunan Nilai
No.
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Sektor Ekonomi
(2)

Tagihan
(3)

Belum Jatuh Tempo

Telah jatuh tempo

(4)

(5)

Cadangan kerugian
Cadangan kerugian
penurunan nilai (CKPN) penurunan nilai
Individual
(CKPN) - Kolektif
(6)

(7)

Tagihan yang
dihapus buku
(8)

Posisi Tanggal Laporan


Pertanian, perburuan dan Kehutanan
Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Konstruksi
Perdagangan besar dan eceran
Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum
Transportasi, pergudangan dan komunikasi
Perantara keuangan
Real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan
Administrasi Pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib
Jasa pendidikan
Jasa kesehatan dan kegiatan sosial
Jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya
Jasa perorangan yang melayani rumah tangga
Badan internasional dan badan ekstra internasional lainnya
Kegiatan yang belum jelas batasannya
Bukan Lapangan Usaha
Lainnya
Total
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Pertanian, perburuan dan Kehutanan
Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Konstruksi
Perdagangan besar dan eceran
Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum
Transportasi, pergudangan dan komunikasi
Perantara keuangan
Real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan
Administrasi Pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib
Jasa pendidikan
Jasa kesehatan dan kegiatan sosial
Jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya
Jasa perorangan yang melayani rumah tangga
Badan internasional dan badan ekstra internasional lainnya
Kegiatan yang belum jelas batasannya
Bukan Lapangan Usaha
Lainnya
Total

365

Lanjutan Lampiran 2

16

Tabel 2.5.b. Pengungkapan Tagihan dan Pencadangan Berdasarkan Sektor Ekonomi - Bank secara
Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
Tagihan yang Mengalami Penurunan Nilai
No.
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Sektor Ekonomi
(2)

Posisi Tanggal Laporan


Pertanian, perburuan dan Kehutanan
Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Konstruksi
Perdagangan besar dan eceran
Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum
Transportasi, pergudangan dan komunikasi
Perantara keuangan
Real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan
Administrasi Pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib
Jasa pendidikan
Jasa kesehatan dan kegiatan sosial
Jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya
Jasa perorangan yang melayani rumah tangga
Badan internasional dan badan ekstra internasional lainnya
Kegiatan yang belum jelas batasannya
Bukan Lapangan Usaha
Lainnya
Total
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Pertanian, perburuan dan Kehutanan
Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Konstruksi
Perdagangan besar dan eceran
Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum
Transportasi, pergudangan dan komunikasi
Perantara keuangan
Real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan
Administrasi Pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib
Jasa pendidikan
Jasa kesehatan dan kegiatan sosial
Jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya
Jasa perorangan yang melayani rumah tangga
Badan internasional dan badan ekstra internasional lainnya
Kegiatan yang belum jelas batasannya
Bukan Lapangan Usaha
Lainnya
Total

Tagihan
(3)

Belum Jatuh Tempo

Telah jatuh tempo

(4)

(5)

Cadangan kerugian
Cadangan kerugian
penurunan nilai (CKPN) - penurunan nilai
Individual
(CKPN) - Kolektif
(6)

(7)

Tagihan yang
dihapus buku
(8)

366

Lanjutan Lampiran 2

17

7. Pedoman Pengisian Pengungkapan Rincian Mutasi Cadangan Kerugian Penurunan Nilai


a. Definisi penurunan nilai dan perhitungan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) aset keuangan
mengacu pada standar akuntansi keuangan yang berlaku.
b. CKPN Individual adalah penyisihan yang dibentuk untuk aset keuangan yang penurunan nilainya dievaluasi
secara individual.
c. CKPN Kolektif adalah penyisihan yang dibentuk untuk aset keuangan yang penurunan nilainya dievaluasi
secara kolektif, yaitu aset keuangan yang penurunan nilainya tidak dievaluasi secara individual dan/atau
dievaluasi secara individual namun tidak terdapat bukti obyektif penurunan nilai.
d. Pembentukan (pemulihan) lainnya dilaporkan antara lain untuk selisih penjabaran valuta asing.

Tabel 2.6.a. Pengungkapan Rincian Mutasi Cadangan Kerugian Penurunan Nilai - Bank secara Individual

No.

Keterangan

(1)

(2)

Saldo awal CKPN

Pembentukan (pemulihan) CKPN pada periode berjalan (Net)

Posisi Tanggal Laporan


CKPN Individual

CKPN Kolektif

(3)

(4)

(dalam jutaan rupiah)


Posisi Tanggal Laporan Tahun
Sebelumnya
CKPN Individual CKPN Kolektif
(5)

(6)

2.a Pembentukan CKPN pada periode berjalan


2.b Pemulihan CKPN pada periode berjalan
3

CKPN yang digunakan untuk melakukan hapus buku atas tagihan pada peride berjalan

Pembentukan (pemulihan) lainnya pada periode berjalan

Saldo akhir CKPN

367

Lanjutan Lampiran 2

18

Tabel 2.6.b. Pengungkapan Rincian Mutasi Cadangan Kerugian Penurunan Nilai - Bank secara Konsolidasi
dengan Perusahaan Anak

No.

Keterangan

(1)

(2)

Saldo awal CKPN

Pembentukan (pemulihan) CKPN pada periode berjalan (Net)

Posisi Tanggal Laporan


CKPN Individual

CKPN Kolektif

(3)

(4)

(dalam jutaan rupiah)


Posisi Tanggal Laporan Tahun
Sebelumnya
CKPN Individual CKPN Kolektif
(5)

(6)

2.a Pembentukan CKPN pada periode berjalan


2.b Pemulihan CKPN pada periode berjalan
3

CKPN yang digunakan untuk melakukan hapus buku atas tagihan pada peride berjalan

Pembentukan (pemulihan) lainnya pada periode berjalan

Saldo akhir CKPN

8. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Kategori Portofolio dan Skala Peringkat
a. Pengungkapan tagihan bersih dilakukan untuk eksposur aset dalam neraca, eksposur pada transaksi
rekening administratif (TRA) dan eksposur yang menimbulkan risiko kredit akibat kegagalan pihak lawan
(counterparty credit risk).
b. Penetapan kategori portofolio dan perhitungan tagihan bersih mengacu pada ketentuan Bank Indonesia
mengenai perhitungan aset tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan
standar. Untuk eksposur di unit usaha syariah mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku
untuk Bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.
c. Lembaga pemeringkat yang diakui dan skala peringkat mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai
lembaga pemeringkat dan peringkat yang diakui Bank Indonesia.

368

Lanjutan Lampiran 2

19

Tabel 3.1.a. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Kategori Portofolio dan Skala Peringkat - Bank
secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan
Tagihan Bersih

Kategori Portofolio

(1)

(2)

Lembaga Pemeringkat
Standard and Poor's
Fitch Rating
Moody's
PT. Fitch Ratings Indonesia
PT ICRA Indonesia
PT Pemeringkat Efek Indonesia
(3)

AAA
AAA
Aaa
AAA (idn)
[Idr]AAA
idAAA

AA+ s.d AAAA+ s.d AAAa1 s.d Aa3


AA+(idn) s.d AA-(idn)
[Idr]AA+ s.d [Idr]AAidAA+ s.d idAA-

A+ s.d AA+ s.d AA1 s.d A3


A+(idn) s.d. A-(idn)
[Idr]A+ s.d [Idr]AidA+ s.d id A-

(4)

(5)

(6)

Peringkat Jangka panjang


BBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBaa1 s.d Baa3
Ba1 s.d Ba3
BBB+(idn) s.d BBB-(idn) BB+(idn) s.d BB-(idn)
[Idr]BBB+ s.d [Idr]BBB- [Idr]BB+ s.d [Idr]BBid BBB+ s.d id BBBid BB+ s.d id BB(7)

(8)

B+ s.d BB+ s.d BB1 s.d B3


B+(idn) s.d B-(idn)
[Idr]B+ s.d [Idr]Bid B+ s.d id B-

Kurang dari BKurang dari BKurang dari B3


Kurang dari B-(idn)
Kurang dari [Idr]BKurang dari idB-

(9)

(10)

Peringkat Jangka Pendek


A-1
A-2
A-3
F1+ s.d F1
F2
F3
P-1
P-2
P-3
F1+(idn) s.d F1(idn)
F2(idn)
F3(idn)
[Idr]A1+ s.d [Idr]A1 [Idr]A2+ s.d [Idr]A2 [Idr]A3+ s.d [Idr] A3
idA1
idA2
idA3 s.d id A4
(11)

(12)

(13)

Kurang dari A-3


Kurang dari F3
Kurang dari P-3
Kurang dari F3(idn)
Kurang dari [Idr]A3
Kurang dari idA4
(14)

Tanpa Peringkat

Total

(15)

(16)

Tanpa Peringkat

Total

(15)

(16)

1 Tagihan Kepada Pemerintah


2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan
3
Multilateral dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
5 Kredit Beragun Rumah Tinggal
6 Kredit Beragun Properti Komersial
7 Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha
8
Kecil dan Portofolio Ritel
9 Tagihan kepada Korporasi
10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
11 Aset Lainnya
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila
12
ada)
TOTAL

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya


Tagihan Bersih

Kategori Portofolio

(1)

(2)

Lembaga Pemeringkat
Standard and Poor's
Fitch Rating
Moody's
PT. Fitch Ratings Indonesia
PT ICRA Indonesia
PT Pemeringkat Efek Indonesia
(3)

AAA
AAA
Aaa
AAA (idn)
[Idr]AAA
idAAA

AA+ s.d AAAA+ s.d AAAa1 s.d Aa3


AA+(idn) s.d AA-(idn)
[Idr]AA+ s.d [Idr]AAidAA+ s.d idAA-

A+ s.d AA+ s.d AA1 s.d A3


A+(idn) s.d. A-(idn)
[Idr]A+ s.d [Idr]AidA+ s.d id A-

(4)

(5)

(6)

Peringkat Jangka panjang


BBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBaa1 s.d Baa3
Ba1 s.d Ba3
BBB+(idn) s.d BBB-(idn) BB+(idn) s.d BB-(idn)
[Idr]BBB+ s.d [Idr]BBB- [Idr]BB+ s.d [Idr]BBid BBB+ s.d id BBBid BB+ s.d id BB(7)

(8)

B+ s.d BB+ s.d BB1 s.d B3


B+(idn) s.d B-(idn)
[Idr]B+ s.d [Idr]Bid B+ s.d id B-

Kurang dari BKurang dari BKurang dari B3


Kurang dari B-(idn)
Kurang dari [Idr]BKurang dari idB-

(9)

(10)

Peringkat Jangka Pendek


A-1
A-2
A-3
F1+ s.d F1
F2
F3
P-1
P-2
P-3
F1+(idn) s.d F1(idn)
F2(idn)
F3(idn)
[Idr]A1+ s.d [Idr]A1 [Idr]A2+ s.d [Idr]A2 [Idr]A3+ s.d [Idr] A3
idA1
idA2
idA3 s.d id A4
(11)

(12)

(13)

Kurang dari A-3


Kurang dari F3
Kurang dari P-3
Kurang dari F3(idn)
Kurang dari [Idr]A3
Kurang dari idA4
(14)

1 Tagihan Kepada Pemerintah


2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan
3
Multilateral dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
5 Kredit Beragun Rumah Tinggal
6 Kredit Beragun Properti Komersial
7 Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha
8
Kecil dan Portofolio Ritel
9 Tagihan kepada Korporasi
10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
11 Aset Lainnya
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila
12
ada)
TOTAL

369

Lanjutan Lampiran 2

20

Tabel 3.1.b. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Kategori Portofolio dan Skala Peringkat - Bank
secara Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan
Tagihan Bersih

Kategori Portofolio

(1)

(2)

Lembaga Pemeringkat
Standard and Poor's
Fitch Rating
Moody's
PT. Fitch Ratings Indonesia
PT ICRA Indonesia
PT Pemeringkat Efek Indonesia
(3)

AAA
AAA
Aaa
AAA (idn)
[Idr]AAA
idAAA

AA+ s.d AAAA+ s.d AAAa1 s.d Aa3


AA+(idn) s.d AA-(idn)
[Idr]AA+ s.d [Idr]AAidAA+ s.d idAA-

A+ s.d AA+ s.d AA1 s.d A3


A+(idn) s.d. A-(idn)
[Idr]A+ s.d [Idr]AidA+ s.d id A-

(4)

(5)

(6)

Peringkat Jangka panjang


BBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBaa1 s.d Baa3
Ba1 s.d Ba3
BBB+(idn) s.d BBB-(idn) BB+(idn) s.d BB-(idn)
[Idr]BBB+ s.d [Idr]BBB- [Idr]BB+ s.d [Idr]BBid BBB+ s.d id BBBid BB+ s.d id BB(7)

(8)

B+ s.d BB+ s.d BB1 s.d B3


B+(idn) s.d B-(idn)
[Idr]B+ s.d [Idr]Bid B+ s.d id B-

Kurang dari BKurang dari BKurang dari B3


Kurang dari B-(idn)
Kurang dari [Idr]BKurang dari idB-

(9)

(10)

Peringkat Jangka Pendek


A-1
A-2
A-3
F1+ s.d F1
F2
F3
P-1
P-2
P-3
F1+(idn) s.d F1(idn)
F2(idn)
F3(idn)
[Idr]A1+ s.d [Idr]A1 [Idr]A2+ s.d [Idr]A2 [Idr]A3+ s.d [Idr] A3
idA1
idA2
idA3 s.d id A4
(11)

(12)

(13)

Kurang dari A-3


Kurang dari F3
Kurang dari P-3
Kurang dari F3(idn)
Kurang dari [Idr]A3
Kurang dari idA4
(14)

Tanpa Peringkat

Total

(15)

(16)

Tanpa Peringkat

Total

(15)

(16)

1 Tagihan Kepada Pemerintah


2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan
3
Multilateral dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
5 Kredit Beragun Rumah Tinggal
6 Kredit Beragun Properti Komersial
7 Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha
8
Kecil dan Portofolio Ritel
9 Tagihan kepada Korporasi
10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
11 Aset Lainnya
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila
12
ada)
TOTAL

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya


Tagihan Bersih

Kategori Portofolio

(1)

(2)

Lembaga Pemeringkat
Standard and Poor's
Fitch Rating
Moody's
PT. Fitch Ratings Indonesia
PT ICRA Indonesia
PT Pemeringkat Efek Indonesia
(3)

AAA
AAA
Aaa
AAA (idn)
[Idr]AAA
idAAA

AA+ s.d AAAA+ s.d AAAa1 s.d Aa3


AA+(idn) s.d AA-(idn)
[Idr]AA+ s.d [Idr]AAidAA+ s.d idAA-

A+ s.d AA+ s.d AA1 s.d A3


A+(idn) s.d. A-(idn)
[Idr]A+ s.d [Idr]AidA+ s.d id A-

(4)

(5)

(6)

Peringkat Jangka panjang


BBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBaa1 s.d Baa3
Ba1 s.d Ba3
BBB+(idn) s.d BBB-(idn) BB+(idn) s.d BB-(idn)
[Idr]BBB+ s.d [Idr]BBB- [Idr]BB+ s.d [Idr]BBid BBB+ s.d id BBBid BB+ s.d id BB(7)

(8)

B+ s.d BB+ s.d BB1 s.d B3


B+(idn) s.d B-(idn)
[Idr]B+ s.d [Idr]Bid B+ s.d id B-

Kurang dari BKurang dari BKurang dari B3


Kurang dari B-(idn)
Kurang dari [Idr]BKurang dari idB-

(9)

(10)

Peringkat Jangka Pendek


A-1
A-2
A-3
F1+ s.d F1
F2
F3
P-1
P-2
P-3
F1+(idn) s.d F1(idn)
F2(idn)
F3(idn)
[Idr]A1+ s.d [Idr]A1 [Idr]A2+ s.d [Idr]A2 [Idr]A3+ s.d [Idr] A3
idA1
idA2
idA3 s.d id A4
(11)

(12)

(13)

Kurang dari A-3


Kurang dari F3
Kurang dari P-3
Kurang dari F3(idn)
Kurang dari [Idr]A3
Kurang dari idA4
(14)

1 Tagihan Kepada Pemerintah


2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan
3
Multilateral dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
5 Kredit Beragun Rumah Tinggal
6 Kredit Beragun Properti Komersial
7 Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha
8
Kecil dan Portofolio Ritel
9 Tagihan kepada Korporasi
10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
11 Aset Lainnya
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila
12
ada)
TOTAL

370

Lanjutan Lampiran 2

21

9. Pedoman Pengisian Pengungkapan Risiko Kredit Pihak Lawan (Counterparty Credit Risk)
a. Risiko kredit akibat kegagalan pihak lawan, antara lain timbul dari transaksi derivative over the counter (OTC)
dan transaksi repo/reverse repo, baik atas posisi Trading Book maupun Banking Book.
b. Perhitungan risiko kredit akibat kegagalan pihak lawan mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai
perhitungan aset tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan standar.

Tabel 3.2.a. Pengungkapan Risiko Kredit Pihak Lawan: Transaksi Derivatif


(dalam jutaan rupiah)

Posisi Tanggal Laporan


Notional Amount
No

Variabel yang Mendasari

Tagihan Kewajiban
> 1 Tahun < 1 Tahun
> 5 Tahun Derivatif Derivatif
< 5 Tahun

Tagihan
Bersih
sebelum
MRK

MRK

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya


Tagihan
Tagihan
Notional Amount
Tagihan Kewajiban Bersih
Bersih
MRK
> 1 Tahun > 5 Tahun Derivatif Derivatif sebelum
setelah < 1 Tahun
< 5 Tahun
MRK
MRK

Tagihan
Bersih
setelah
MRK

BANK SECARA INDIVIDUAL


1 Suku Bunga
2 Nilai Tukar
3 Lainnya
TOTAL
BANK SECARA KONSOLIDASI
1 Suku Bunga
2 Nilai Tukar
3 Saham
4 Emas
5 Logam selain Emas
6 Lainnya
TOTAL

371

Lanjutan Lampiran 2

22

Tabel 3.2.b.1. Pengungkapan Risiko Kredit Pihak Lawan: Transaksi Repo - Bank secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya

Posisi Tanggal Laporan


Kategori Portofolio
No.
(1)
(2)
1 Tagihan Kepada Pemerintah
2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral
3
dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan
5
Portofolio Ritel
6 Tagihan kepada Korporasi
7 Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)

Nilai Wajar SSB


Repo

Kewajiban Repo

Tagihan Bersih

ATMR

Nilai Wajar SSB


Repo

Kewajiban
Repo

Tagihan Bersih

ATMR

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

Total

Tabel 3.2.b.2.

Pengungkapan Risiko Kredit Pihak Lawan: Transaksi Repo - Bank secara Konsolidasi

dengan Perusahaan Anak


(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya

Posisi Tanggal Laporan


Kategori Portofolio
No.
(1)
(2)
1 Tagihan Kepada Pemerintah
2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral
3
dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan
5
Portofolio Ritel
6 Tagihan kepada Korporasi
7 Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)

Nilai Wajar SSB


Repo

Kewajiban Repo

Tagihan Bersih

ATMR

Nilai Wajar SSB


Repo

Kewajiban
Repo

Tagihan Bersih

ATMR

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

Total

372

Lanjutan Lampiran 2

23

Tabel 3.2.c.1. Pengungkapan Risiko Kredit Pihak Lawan: Transaksi Reverse Repo - Bank secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya

Posisi Tanggal Laporan


Kategori Portofolio
No.
(1)

(2)

Tagihan Bersih

Nilai MRK

(3)

(4)

Tagihan Bersih ATMR setelah


setelah MRK
MRK
(5)

(6)

Tagihan Bersih

Nilai MRK

Tagihan Bersih
setelah MRK

ATMR setelah
MRK

(7)

(8)

(9)

(10)

1 Tagihan Kepada Pemerintah


2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
3
4
5
6
7

Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral


dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan
Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total

Tabel 3.2.c.2.

Pengungkapan Risiko Kredit Pihak Lawan: Transaksi Reverse Repo - Bank secara

Konsolidasi dengan Perusahaan Anak


(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya

Posisi Tanggal Laporan


Kategori Portofolio
No.
(1)

(2)

Tagihan Bersih

Nilai MRK

(3)

(4)

Tagihan Bersih ATMR setelah


setelah MRK
MRK
(5)

(6)

Tagihan Bersih

Nilai MRK

Tagihan Bersih
setelah MRK

ATMR setelah
MRK

(7)

(8)

(9)

(10)

1 Tagihan Kepada Pemerintah


2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
3
4
5
6
7

Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral


dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan
Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total

373

24

Lanjutan Lampiran 2

10. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Bobot Risiko setelah Memperhitungkan
Dampak Mitigasi Risiko Kredit
a. Pengungkapan tagihan bersih dilakukan untuk eksposur aset dalam neraca, eksposur pada transaksi
rekening administratif (TRA), dan eksposur yang menimbulkan risiko kredit akibat kegagalan pihak lawan
(counterparty credit risk).
b. Penetapan kategori portofolio, perhitungan tagihan bersih, dan perhitungan dampak mitigasi risiko kredit
(MRK) mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai perhitungan aset tertimbang menurut risiko
untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan standar. Untuk eksposur di unit usaha syariah
mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku untuk Bank yang melaksanakan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip syariah.
c. Khusus untuk eksposur di unit usaha syariah, apabila tidak dapat digolongkan ke dalam kolom bobot
risiko yang tersedia maka dimasukkan ke dalam kolom Lainnya.
d. Beban modal adalah hasil perkalian ATMR dengan rasio minimum KPMM sesuai ketentuan Bank Indonesia
mengenai kewajiban penyediaan modal minimum.
e. Contoh pengisian:
Bank memiliki tagihan yang tergolong dalam kategori portofolio Tagihan kepada Korporasi sebesar Rp100
miliar. Tagihan tidak memiliki peringkat sehingga dikenakan bobot risiko sebesar 100%. Sebagian dari
tagihan dimaksud (Rp30 miliar) dijamin dengan agunan tunai (cash collateral) yang memiliki bobot risiko
0%. Pengisian pada baris Tagihan kepada Korporasi dilakukan sebagai berikut: Rp70 miliar dimasukkan
dalam kolom bobot risiko 100%, dan Rp30 miliar dimasukkan dalam kolom bobot risiko 0%.

374

Lanjutan Lampiran 2

25

Tabel 4.1.a. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Bobot Risiko Setelah Memperhitungkan Dampak
Mitigasi Risiko Kredit - Bank secara Individual
(dalam jutaan rupiah)

Posisi Tanggal Laporan


No.

Kategori Portofolio

(1)

(2)

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya

Tagihan Bersih Setelah Memperhitungkan Dampak Mitigasi Risiko Kredit


0%

20%

35%

40%

45%

50%

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

ATMR

Beban
Modal

(13)

(14)

75% 100% 150% Lainnya


(9)

(10)

(11)

(12)

Tagihan Bersih Setelah Memperhitungkan Dampak Mitigasi Risiko Kredit


0%

20%

35%

40%

45%

50%

(15)

(16)

(17)

(18)

(19)

(20)

ATMR

Beban
Modal

(25)

(26)

75% 100% 150% Lainnya


(21)

(22)

(23)

(24)

A Eksposur Neraca
1 Tagihan Kepada Pemerintah
2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
3 Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
5 Kredit Beragun Rumah Tinggal
6 Kredit Beragun Properti Komersial
7 Kredit Pegawai/Pensiunan
8 Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
9 Tagihan kepada Korporasi
10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
11 Aset Lainnya
12 Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
B
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
C
1
2
3
4
5
6
7

Total Eksposur Neraca


Eksposur Kewajiban Komitmen/Kontinjensi pd Transaksi Rekening Administratif
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposur TRA
Eksposur akibat Kegagalan Pihak Lawan (Counterparty Credit Risk)
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposur Counterparty Credit Risk

375

Lanjutan Lampiran 2

26

Tabel 4.1.b. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Bobot Risiko Setelah Memperhitungkan Dampak
Mitigasi Risiko Kredit - Bank secara Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)

Posisi Tanggal Laporan


No.

Kategori Portofolio

(1)

(2)

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya

Tagihan Bersih Setelah Memperhitungkan Dampak Mitigasi Risiko Kredit


0%

20%

35%

40%

45%

50%

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

ATMR

Beban
Modal

(13)

(14)

75% 100% 150% Lainnya


(9)

(10)

(11)

(12)

Tagihan Bersih Setelah Memperhitungkan Dampak Mitigasi Risiko Kredit


0%

20%

35%

40%

45%

50%

(15)

(16)

(17)

(18)

(19)

(20)

ATMR

Beban
Modal

(25)

(26)

75% 100% 150% Lainnya


(21)

(22)

(23)

(24)

A Eksposur Neraca
1 Tagihan Kepada Pemerintah
2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
3 Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
5 Kredit Beragun Rumah Tinggal
6 Kredit Beragun Properti Komersial
7 Kredit Pegawai/Pensiunan
8 Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
9 Tagihan kepada Korporasi
10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
11 Aset Lainnya
12 Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
B
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
C
1
2
3
4
5
6
7

Total Eksposur Neraca


Eksposur Kewajiban Komitmen/Kontinjensi pd Transaksi Rekening Administratif
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposur TRA
Eksposur akibat Kegagalan Pihak Lawan (Counterparty Credit Risk)
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposur Counterparty Credit Risk

376

27

Lanjutan Lampiran 2

11. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan Bersih dan Teknik Mitigasi Risiko Kredit
a. Penetapan kategori portofolio, perhitungan tagihan bersih dan kriteria teknik mitigasi risiko kredit yang
dapat digunakan mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai perhitungan aset tertimbang menurut
risiko untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan standar. Untuk eksposur di unit usaha syariah
mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku untuk Bank yang melaksanakan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip syariah.
b. Khusus untuk eksposur di unit usaha syariah, apabila tidak dapat digolongkan ke dalam kolom teknik
mitigasi risiko yang tersedia maka dimasukkan ke dalam kolom Lainnya.
c. Contoh pengisian:
Bank memiliki tagihan yang tergolong dalam kategori portofolio Tagihan kepada Korporasi sebesar Rp100
miliar. Sebagian dari tagihan dimaksud (Rp30 miliar) dijamin dengan agunan tunai (cash collateral) dan
sebagian tagihan (Rp50 miliar) dijamin dengan garansi dari penerbit yang diakui sesuai ketentuan Bank
Indonesia. Maka sejumlah Rp30 miliar diisi dalam kolom Bagian yang Dijamin dengan Agunan, Rp50 miliar
diisi dalam kolom Bagian yang Dijamin dengan Garansi, dan Rp20 miliar diisi dalam kolom Bagian yang
Tidak Dijamin.

377

Lanjutan Lampiran 2

28

Tabel 4.2.a. Pengungkapan Tagihan Bersih dan Teknik Mitigasi Risiko Kredit - Bank secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
No.

Kategori Portofolio

(1)

(2)

A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Eksposur Neraca
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
Aset Lainnya
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposur Neraca

B
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Eksposur Rekening Adminsitratif


Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposur Rekening Administratif

C
1
2
3
4
5
6
7

Eksposur Counterparty Credit Risk


Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposure Counterparty Credit Risk

Tagihan
Bersih

Agunan

(3)

(4)

Posisi Tanggal Laporan


Bagian Yang Dijamin Dengan
Asuransi
Garansi
Kredit
(5)

(6)

Lainnya

Bagian Yang
Tidak Dijamin

Tagihan
Bersih

(7)

(8) = (3)-[(4)+(5)+(6)+(7)]

(9)

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya


Bagian Yang Dijamin Dengan
Asuransi
Agunan
Garansi
Lainnya
Kredit
(10)

(11)

(12)

(13)

Bagian Yang Tidak


Dijamin
(14) = (9)-[(10)+(11)+(12)+(13)]

Total (A+B+C)

378

Lanjutan Lampiran 2

29

Tabel 4.2.b. Pengungkapan Tagihan Bersih dan Teknik Mitigasi Risiko Kredit - Bank secara Konsolidasi
dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
No.

Kategori Portofolio

(1)

(2)

A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Eksposur Neraca
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
Aset Lainnya
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposur Neraca

B
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Eksposur Rekening Adminsitratif


Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposur Rekening Administratif

C
1
2
3
4
5
6
7

Eksposur Counterparty Credit Risk


Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposure Counterparty Credit Risk

Tagihan
Bersih

Agunan

(3)

(4)

Posisi Tanggal Laporan


Bagian Yang Dijamin Dengan
Asuransi
Garansi
Kredit
(5)

(6)

Lainnya

Bagian Yang
Tidak Dijamin

Tagihan
Bersih

(7)

(8) = (3)-[(4)+(5)+(6)+(7)]

(9)

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya


Bagian Yang Dijamin Dengan
Asuransi
Agunan
Garansi
Lainnya
Kredit
(10)

(11)

(12)

(13)

Bagian Yang Tidak


Dijamin
(14) = (9)-[(10)+(11)+(12)+(13)]

Total (A+B+C)

379

Lanjutan Lampiran 2

30

12. Pedoman Pengisian Pengungkapan Transaksi Sekuritisasi


Perhitungan bobot risiko dan/atau faktor pengurang modal terhadap eksposur sekuritisasi mengacu pada
ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai prinsip kehati-hatian dalam aktivitas sekuritisasi aset
bagi bank umum. Untuk tagihan eksposur sekuritisasi selain yang diatur dalam ketentuan tersebut,
penetapan bobot risiko mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai perhitungan aset tertimbang
menurut risiko untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan standar.

Tabel 5.1.a. Pengungkapan Transaksi Sekuritisasi - Bank secara Individual


(dalam jutaan rupiah)

No.

Eksposur Sekuritisasi

Nilai aset yg
disekuritisasi

(1)

(2)

(3)

Posisi Tanggal Laporan


Nilai aset yang disekuritisasi yang
Laba/Rugi dari
mengalami penurunan nilai
aktivitas
Telah jatuh
Belum Jatuh
sekuritisasi
tempo
Tempo
(4)

(5)

(6)

ATMR

Pengurang
Modal

Nilai aset yg
disekuritisasi

(7)

(8)

(9)

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya


Nilai aset yang disekuritisasi yang
Laba/Rugi dari
mengalami penurunan nilai
aktivitas
ATMR
Telah jatuh
Belum Jatuh
sekuritisasi
tempo
Tempo
(10)

(11)

(12)

(13)

Pengurang
Modal
(14)

1 Bank bertindak sebagai Kreditur Asal


- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
2 Bank bertindak sebagai Penyedia Kredit Pendukung
a. Fasilitas penanggung risiko pertama
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
b. Fasilitas penanggung risiko kedua
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
3 Bank bertindak sebagai Penyedia Fasilitas Likuiditas
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
4 Bank bertindak sebagai Penyedia Jasa
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
5 Bank bertindak sebagai Bank Kostudian
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
6 Bank bertindak sebagai Pemodal
a. Senior tranche
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
b. Junior tranche
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)

380

Lanjutan Lampiran 2

31

Tabel 5.1.b. Pengungkapan Transaksi Sekuritisasi - Bank secara Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)

No.

Eksposur Sekuritisasi

Nilai aset yg
disekuritisasi

(1)

(2)

(3)

Posisi Tanggal Laporan


Nilai aset yang disekuritisasi yang
Laba/Rugi dari
mengalami penurunan nilai
aktivitas
Telah jatuh
Belum Jatuh
sekuritisasi
tempo
Tempo
(4)

(5)

(6)

ATMR

Pengurang
Modal

Nilai aset yg
disekuritisasi

(7)

(8)

(9)

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya


Nilai aset yang disekuritisasi yang
Laba/Rugi dari
mengalami penurunan nilai
aktivitas
ATMR
Telah jatuh
Belum Jatuh
sekuritisasi
tempo
Tempo
(10)

(11)

(12)

(13)

Pengurang
Modal
(14)

1 Bank bertindak sebagai Kreditur Asal


- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
2 Bank bertindak sebagai Penyedia Kredit Pendukung
a. Fasilitas penanggung risiko pertama
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
b. Fasilitas penanggung risiko kedua
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
3 Bank bertindak sebagai Penyedia Fasilitas Likuiditas
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
4 Bank bertindak sebagai Penyedia Jasa
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
5 Bank bertindak sebagai Bank Kostudian
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
6 Bank bertindak sebagai Pemodal
a. Senior tranche
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
b. Junior tranche
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)

13. Pedoman Pengisian Pengungkapan Ringkasan Aktivitas Transaksi Sekuritisasi dimana Bank Bertindak
sebagai Kreditur Asal
a. Penetapan kategori portofolio mengacu

pada ketentuan Bank Indonesia mengenai perhitungan aset

tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan standar. Untuk eksposur
di unit usaha syariah mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku untuk Bank yang
melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.

381

Lanjutan Lampiran 2

32

b. Transaksi sekuritisasi dimana Bank bertindak sebagai kreditur asal mengacu pada ketentuan Bank
Indonesia yang mengatur mengenai prinsip kehati-hatian dalam aktivitas sekuritisasi aset bagi bank
umum. Kolom Nilai Aset yang Disekuritisasi diisi dengan nilai aset yang dialihkan sebesar nilai tercatat
aset di neraca pada tanggal pengalihan. Kolom Keuntungan (Kerugian) Penjualan diisi dengan selisih antara
nilai pengalihan dengan nilai tercatat aset di neraca.

Tabel 5.2.a. Pengungkapan Ringkasan Aktivitas Transaksi Sekuritisasi Bank Bertindak Sebagai Kreditur
Asal - Bank secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya

Posisi Tanggal Laporan


No.
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Underlying Asset

Nilai Aset Yang


Disekuritisasi

Keuntungan (Kerugian)
Penjualan

Nilai Aset Yang


Disekuritisasi

Keuntungan (Kerugian)
Penjualan

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

Tagihan Kepada Pemerintah


Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga
Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Aset Lainnya
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total

382

Lanjutan Lampiran 2

33

Tabel 5.2.b. Pengungkapan Ringkasan Aktivitas Transaksi Sekuritisasi Bank Bertindak Sebagai Kreditur
Asal - Bank secara Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya

Posisi Tanggal Laporan


No.
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Underlying Asset

Nilai Aset Yang


Disekuritisasi

Keuntungan (Kerugian)
Penjualan

Nilai Aset Yang


Disekuritisasi

Keuntungan (Kerugian)
Penjualan

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

Tagihan Kepada Pemerintah


Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga
Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Aset Lainnya
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total

14. Pedoman Pengisian Pengungkapan Perhitungan ATMR Risiko Kredit dengan Menggunakan Pendekatan
Standar
Perhitungan ATMR risiko kredit mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai perhitungan aset
tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan standar.

383

Lanjutan Lampiran 2

34

Perhitungan ATMR Risiko Kredit Pendekatan Standar - Bank secara Individual


Tabel 6.1.1. Pengungkapan Eksposur Aset di Neraca
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya

Posisi Tanggal Laporan


Kategori Portofolio

No
(1)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

(2)
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan Kepada Korporasi
Tagihan Yang Telah Jatuh Tempo
Aset Lainnya

Tagihan Bersih

ATMR Sebelum
MRK

ATMR Setelah
MRK

Tagihan Bersih

ATMR Sebelum
MRK

ATMR Setelah
MRK

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

TOTAL

Tabel 6.1.2. Pengungkapan Eksposur Kewajiban Komitmen/Kontinjensi pada Transaksi

Rekening

Administratif
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya

Posisi Tanggal Laporan


Kategori Portofolio

No
(1)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

(2)
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan Kepada Korporasi
Tagihan Yang Telah Jatuh Tempo

Tagihan Bersih

ATMR Sebelum
MRK

ATMR Setelah
MRK

Tagihan Bersih

ATMR Sebelum
MRK

ATMR Setelah
MRK

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

TOTAL

384

Lanjutan Lampiran 2

35

Tabel 6.1.3. Pengungkapan Eksposur yang Menimbulkan Risiko Kredit akibat Kegagalan Pihak Lawan
(Counterparty Credit Risk)
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya

Posisi Tanggal Laporan


No

Kategori Portofolio

(2)
(1)
1. Tagihan Kepada Pemerintah
2. Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
3. Tagihan kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
4. Tagihan kepada Bank
5. Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
6. Tagihan Kepada Korporasi
TOTAL

Tagihan Bersih

ATMR Sebelum
MRK

ATMR Setelah
MRK

Tagihan Bersih

ATMR Sebelum
MRK

ATMR Setelah
MRK

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

Tabel 6.1.4. Pengungkapan Eksposur yang Menimbulkan Risiko Kredit akibat Kegagalan Setelmen
(settlement risk)
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan

No

Jenis Transaksi

(2)
(1)
1. Delivery versus payment
a. Beban Modal 8% (5-15 hari)
b. Beban Modal 50% (16-30 hari)
c. Beban Modal 75% (31-45 hari)
d. Beban Modal 100% (lebih dari 45 hari)
2. Non-delivery versus payment

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya

Nilai Eksposur

Faktor Pengurang
Modal

ATMR Setelah
MRK

Nilai Eksposur

Faktor Pengurang
Modal

ATMR Setelah
MRK

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

TOTAL

385

Lanjutan Lampiran 2

36

Tabel 6.1.5. Pengungkapan Eksposur Sekuritisasi


Posisi Tanggal Laporan
Jenis Transaksi

No
(1)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

(2)
Fasilitas Kredit Pendukung yang memenuhi persyaratan
Fasilitas Kredit Pendukung yang tidak memenuhi persyaratan
Fasilitas Likuiditas yang memenuhi persyaratan
Fasilitas Likuiditas yang tidak memenuhi persyaratan
Pembelian Efek Beragun Aset yang memenuhi persyaratan
Pembelian Efek Beragun Aset yang tidak memenuhi persyaratan

Faktor Pengurang
Modal
(3)

ATMR
(4)

(dalam jutaan rupiah)


Posisi Tanggal Laporan Tahun
Sebelumnya
Faktor Pengurang
ATMR
Modal
(5)
(6)

Eksposur Sekuritisasi yang tidak tercakup dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai prinsipprinsip kehati-hatian dalam aktivitas sekuritisasi aset bagi bank umum.

TOTAL

Tabel 6.1.6. Pengungkapan Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)

Posisi Tanggal Laporan


No
(1)
1. Total Eksposur

(dalam jutaan rupiah)


Posisi Tanggal Laporan Tahun
Sebelumnya

Jenis Transaksi

Faktor Pengurang
Modal

ATMR

Faktor Pengurang
Modal

ATMR

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

Tabel 6.1.7. Pengungkapan Total Pengukuran Risiko Kredit

Posisi Tanggal
Laporan

(dalam jutaan rupiah)


Posisi Tanggal
Laporan Tahun
Sebelumnya

TOTAL ATMR RISIKO KREDIT


TOTAL FAKTOR PENGURANG MODAL

386

Lanjutan Lampiran 2

37

Perhitungan ATMR Risiko Kredit Pendekatan Standar - Bank secara Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
Tabel 6.2.1. Pengungkapan Eksposur Aset di Neraca
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya

Posisi Tanggal Laporan


Kategori Portofolio

No
(1)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

(2)
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan Kepada Korporasi
Tagihan Yang Telah Jatuh Tempo
Aset Lainnya

Tagihan Bersih

ATMR Sebelum
MRK

ATMR Setelah
MRK

Tagihan Bersih

ATMR Sebelum
MRK

ATMR Setelah
MRK

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

TOTAL

Tabel 6.2.2. Pengungkapan Eksposur Kewajiban Komitmen/Kontinjensi pada Transaksi Rekening


Administratif
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya

Posisi Tanggal Laporan


Kategori Portofolio

No
(1)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

(2)
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan Kepada Korporasi
Tagihan Yang Telah Jatuh Tempo

Tagihan Bersih

ATMR Sebelum
MRK

ATMR Setelah
MRK

Tagihan Bersih

ATMR Sebelum
MRK

ATMR Setelah
MRK

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

TOTAL

387

Lanjutan Lampiran 2

38

Tabel 6.2.3. Pengungkapan Eksposur yang Menimbulkan Risiko Kredit akibat Kegagalan Pihak Lawan
(Counterparty Credit Risk)
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya

Posisi Tanggal Laporan


No

Kategori Portofolio

(2)
(1)
1. Tagihan Kepada Pemerintah
2. Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
3. Tagihan kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
4. Tagihan kepada Bank
5. Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
6. Tagihan Kepada Korporasi
TOTAL

Tagihan Bersih

ATMR Sebelum
MRK

ATMR Setelah
MRK

Tagihan Bersih

ATMR Sebelum
MRK

ATMR Setelah
MRK

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

Tabel 6.2.4. Pengungkapan Eksposur yang Menimbulkan Risiko Kredit akibat Kegagalan Setelmen
(settlement risk)
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan

No

Jenis Transaksi

(2)
(1)
1. Delivery versus payment
a. Beban Modal 8% (5-15 hari)
b. Beban Modal 50% (16-30 hari)
c. Beban Modal 75% (31-45 hari)
d. Beban Modal 100% (lebih dari 45 hari)
2. Non-delivery versus payment

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya

Nilai Eksposur

Faktor Pengurang
Modal

ATMR Setelah
MRK

Nilai Eksposur

Faktor Pengurang
Modal

ATMR Setelah
MRK

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

TOTAL

388

Lanjutan Lampiran 2

39

Tabel 6.2.5. Pengungkapan Eksposur Sekuritisasi

Posisi Tanggal Laporan


Jenis Transaksi

No
(1)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

(2)
Fasilitas Kredit Pendukung yang memenuhi persyaratan
Fasilitas Kredit Pendukung yang tidak memenuhi persyaratan
Fasilitas Likuiditas yang memenuhi persyaratan
Fasilitas Likuiditas yang tidak memenuhi persyaratan
Pembelian Efek Beragun Aset yang memenuhi persyaratan
Pembelian Efek Beragun Aset yang tidak memenuhi persyaratan

Faktor Pengurang
Modal
(3)

ATMR
(4)

(dalam jutaan rupiah)


Posisi Tanggal Laporan Tahun
Sebelumnya
Faktor Pengurang
ATMR
Modal
(5)
(6)

Eksposur Sekuritisasi yang tidak tercakup dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai prinsipprinsip kehati-hatian dalam aktivitas sekuritisasi aset bagi bank umum.

TOTAL

Tabel 6.2.6. Pengungkapan Eksposur di Unit Usaha Syariah dan/atau Perusahaan Anak yang Melakukan
Kegiatan Usaha berdasarkan Prinsip Syariah (apabila ada)
Posisi Tanggal Laporan
No
(1)
1. Total Eksposur

Jenis Transaksi

Faktor Pengurang
Modal

ATMR

(2)

(3)

(4)

(dalam jutaan rupiah)


Posisi Tanggal Laporan Tahun
Sebelumnya
Faktor Pengurang
Modal
(5)

ATMR
(6)

Tabel 6.2.7. Pengungkapan Total Pengukuran Risiko Kredit


Posisi Tanggal
Laporan

(dalam jutaan rupiah)


Posisi Tanggal
Laporan Tahun
Sebelumnya

TOTAL ATMR RISIKO KREDIT


TOTAL FAKTOR PENGURANG MODAL

389

Lanjutan Lampiran 2

40

15. Pedoman Pengisian Pengungkapan Risiko Pasar menggunakan Metode Standar


Perhitungan risiko pasar mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai penggunaan metode standar
dalam perhitungan KPMM bank umum dengan memperhitungkan risiko pasar.
Tabel 7.1. Pengungkapan Risiko Pasar Dengan Menggunakan Metode Standar
(dalam jutaan rupiah)

No.

Jenis Risiko

(1)

(2)

Posisi Tanggal Laporan


Bank
Konsolidasi
Beban Modal
ATMR
Beban Modal
ATMR
(3)

(4)

(5)

(6)

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya


Konsolidasi
Bank
Beban Modal
ATMR
Beban Modal
ATMR
(7)

(8)

(9)

(10)

1 Risiko Suku Bunga


a. Risiko Spesifik
b. Risiko Umum
2 Risiko Nilai Tukar
3 Risiko Ekuitas *)
4 Risiko Komoditas *)
5 Risiko Option
Total
*) Untuk bank yang memiliki perusahaan anak yang memiliki eksposur risiko dimaksud

16. Pedoman Pengisian Pengungkapan Risiko Pasar dengan Model Internal (Value at Risk/VaR)
a. Perhitungan risiko pasar mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai penggunaan model internal
dalam perhitungan KPMM bank umum dengan memperhitungkan risiko pasar.
b. Rata-rata VaR merupakan perhitungan rata-rata VaR harian selama periode laporan.
c. Maksimum VaR merupakan angka VaR tertinggi selama periode laporan.
d. Minimum VaR merupakan angka VaR terendah selama periode laporan.
e. VaR akhir periode merupakan angka VaR pada akhir periode laporan.

390

Lanjutan Lampiran 2

41

Tabel 7.2.a Pengungkapan Risiko Pasar Dengan Menggunakan Model Internal (Value at Risk/VaR) - Bank
secara Individual
(dalam jutaan rupiah)

No.
(1)

1
2
3

Jenis Risiko

VaR RataRata

(2)

(3)

Posisi Tanggal Laporan


VaR
VaR
Maksimum Minimum
(4)

(5)

VaR Akhir
Periode
(6)

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya


VaR RataVaR
VaR
VaR Akhir
Rata
Maksimum
Minimum
Periode
(8)

(9)

(10)

(11)

Risiko Suku Bunga


Risiko Nilai Tukar
Risiko Option
Total

Tabel 7.2.b Pengungkapan Risiko Pasar Dengan Menggunakan Model Internal (Value at Risk/VaR) - Bank
secara Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)

No.
(1)

1
2
3
4
5

Jenis Risiko

VaR RataRata

(2)

(3)

Posisi Tanggal Laporan


VaR
VaR
Maksimum
Minimum
(4)

(5)

VaR Akhir
Periode
(6)

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya


VaR RataVaR
VaR
VaR Akhir
Rata
Maksimum
Minimum
Periode
(8)

(9)

(10)

(11)

Risiko Suku Bunga


Risiko Nilai Tukar
Risiko Ekuitas
Risiko Komoditas
Risiko Option
Total

391

Lanjutan Lampiran 2

42

17. Pedoman Pengisian Pengungkapan Risiko Operasional


Perhitungan risiko operasional mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai perhitungan ATMR untuk
risiko operasional dengan menggunakan pendekatan indikator dasar (PID).

Tabel 8.1.a. Pengungkapan Kuantitatif Risiko Operasional - Bank secara Individual

No.

Pendekatan Yang Digunakan

(1)

(2)

Posisi Tanggal Laporan


Pendapatan Bruto (Rata-rata 3
Beban Modal
tahun terakhir)
(3)

(4)

ATMR
(5)

(dalam jutaan rupiah)


Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Pendapatan Bruto (Rata-rata 3
Beban Modal
ATMR
tahun terakhir)
(6)

(7)

(8)

1 Pendekatan Indikator Dasar


Total

Tabel 8.1.b. Pengungkapan Kuantitatif Risiko Operasional - Bank secara Konsolidasi dengan Perusahaan
Anak

No.

Pendekatan Yang Digunakan

(1)

(2)

Posisi Tanggal Laporan


Pendapatan Bruto (Rata-rata 3
Beban Modal
tahun terakhir)
(3)

(4)

ATMR
(5)

(dalam jutaan rupiah)


Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Pendapatan Bruto (Rata-rata 3
Beban Modal
ATMR
tahun terakhir)
(6)

(7)

(8)

1 Pendekatan Indikator Dasar


Total

392

Lanjutan Lampiran 2

43

18. Pedoman Pengisian Pengungkapan Profil Maturitas Rupiah dan Valas


Pengungkapan profil maturitas rupiah dan valas mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai
penerapan manajemen risiko bagi bank umum dan ketentuan Bank Indonesia mengenai laporan berkala bank
umum.
Tabel 9.1.a. Pengungkapan Profil Maturitas Rupiah - Bank secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan
Jatuh Tempo
No.

Pos-pos

(2)
(1)
I NERACA
A Aset
1. Kas
2. Penempatan pada Bank Indonesia
3. Penempatan pada bank lain
4. Surat Berharga
5. Kredit yang diberikan
6. Tagihan lainnya
7. Lain-lain
Total Aset

Saldo
(3)

< 1 bulan
(4)

> 1 bln s.d. 3 > 3 bln s.d. 6


bln
bln
(5)

(6)

Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya


Jatuh Tempo
> 6 bln s.d.
12 bln

> 12 bulan

(7)

(8)

Saldo
(9)

< 1 bulan
(10)

> 1 bln s.d. 3 > 3 bln s.d. 6


bln
bln
(11)

(12)

> 6 bln s.d.


12 bln

> 12 bulan

(13)

(14)

B. Kewajiban
1. Dana Pihak Ketiga
2. Kewajiban pada Bank Indonesia
3. Kewajiban pada bank lain
4. Surat Berharga yang Diterbitkan
5. Pinjaman yang Diterima
6. Kewajiban lainnya
7. Lain-lain
Total Kewajiban
Selisih Aset dengan Kewajiban dalam Neraca
II

REKENING ADMINISTRATIF
A. Tagihan Rekening Administratif
1. Komitmen
2. Kontijensi
Total Tagihan Rekening Administratif
B. Kewajiban Rekening Administratif
1. Komitmen
2. Kontijensi
Total Kewajiban Rekening Administratif
Selisih Tagihan dan Kewajiban dalam Rekening Administratif
Selisih [(IA-IB)+(IIA-IIB)]
Selisih Kumulatif

393

Lanjutan Lampiran 2

44

Tabel 9.1.b. Pengungkapan Profil Maturitas Rupiah - Bank secara Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya

Posisi Tanggal Laporan

Maturitas Valas - Bank secara IndividualJatuh Tempo


Tabel 9.2.a. Pengungkapan Kuantitatif Profil
Jatuh Tempo
No.

Pos-pos

(2)
(1)
I NERACA
A Aset
1. Kas
2. Penempatan pada Bank Indonesia
3. Penempatan pada bank lain
4. Surat Berharga
5. Kredit yang diberikan
6. Tagihan lainnya
7. Lain-lain
Total Aset

Saldo
(3)

< 1 bulan
(4)

> 1 bln s.d. 3 > 3 bln s.d. 6


bln
bln
(5)

(6)

> 6 bln s.d.


12 bln

> 12 bulan

(7)

(8)

Saldo
(9)

< 1 bulan
(10)

> 1 bln s.d. 3 > 3 bln s.d. 6


bln
bln
(11)

(12)

> 6 bln s.d.


12 bln

> 12 bulan

(13)

(14)

B. Kewajiban
1. Dana Pihak Ketiga
2. Kewajiban pada Bank Indonesia
3. Kewajiban pada bank lain
4. Surat Berharga yang Diterbitkan
5. Pinjaman yang Diterima
6. Kewajiban lainnya
7. Lain-lain
Total Kewajiban
Selisih Aset dengan Kewajiban dalam Neraca
II REKENING ADMINISTRATIF
A. Tagihan Rekening Administratif
1. Komitmen
2. Kontijensi
Total Tagihan Rekening Administratif
B. Kewajiban Rekening Administratif
1. Komitmen
2. Kontijensi
Total Kewajiban Rekening Administratif
Selisih Tagihan dan Kewajiban dalam Rekening Administratif
Selisih [(IA-IB)+(IIA-IIB)]
Selisih Kumulatif

394

Lanjutan Lampiran 2

45

Tabel 9.2.a. Pengungkapan Profil Maturitas Valas - Bank secara Individual


(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Jatuh Tempo

Posisi Tanggal Laporan


Jatuh Tempo
No.

Pos-pos

(2)
(1)
I NERACA
A Aset
1. Kas
2. Penempatan pada Bank Indonesia
3. Penempatan pada bank lain
4. Surat Berharga
5. Kredit yang diberikan
6. Tagihan lainn