Anda di halaman 1dari 18

I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dewasa ini permintaan daging ayam potong terus meninggi karena sadarnya
masyarakat akan pentingnya gizi yang terdapat dalam daging dan telur ayam.
Apalagi menjamurnya makanan siap saji yang bahan utamanya adalah ayam
potong. Ditinjau dari segi mutu, daging ayam memiliki nilai gizi yang tinggi
dibanding ternak lain. Dagingnya lembut, warnanya merah terang, kesat, bersih,
dan menarik. Memiliki asam amino tinggi dan dapat diolah dalam berbagai
masakan. Ditinjau dari segi ekonomis, ayam potong (broiler) ini memiliki
produktifitas cukup tinggi sehingga bisa diusahakan secara efisien. Ayam potong
termasuk dari ternak potong yang paling cepat bisa dipotong dibandingkan ternak
lain.
Namun dengan adanya pancaroba, perubahan cuaca bisa terjadi secara
mendadak, saat pagi hari cerah namun menjelang siang tiba-tiba turun hujan.
Angin pun bertiup kencang. Kondisi ini tentu akan membuat ayam menjadi tidak
nyaman dan stamina tubuh ayam menurun. Akibatnya produktivitas ayam pun
akan terganggu.
Oleh karena itu, kita harus menghadapinya dengan penuh persiapan. Jika
tidak maka bisa dipastikan kita akan mengalami kerugian, baik penurunan
produktivitas maupun meningkatkan biaya pengobatan. Setidaknya ada 3 langkah
yang harus kita persiapkan saat musim pancaroba datang, yaitu menjaga kondisi
lingkungan kandang tetap nyaman (comfort zone, red), meningkatkan stamina
tubuh ayam dan mengurangi konsentrasi bibit penyakit.

1.2. Identifikasi Masalah


1. Apa yang dimakasud dengan musim pancaroba?
2. Bagaimana Karakteristik dan daya tahan ayam broiler?
3. Bagaimana respon ayam broiler terhadap cuaca ekstrem?
4. Bagaimana pengaruh cuaca ekstrim sebagai penyebab heat stress pada
ayam broiler?
5. Bagaimana cara mengatasi heat stress pada ayam broiler?
6. Bagaimana cara menghadapi cuaca ekstrim agar pemeliharaan tetap
berjalan lancar?
1.3. Maksud dan Tujuan
1. Mengetahui dan menjelaskan apa yang dimakasud dengan musim
pancaroba.
2. Mengetahui dan menjelaskan bagaimana karakteristik dan daya tahan
ayam broiler
3. Mengetahui dan menjelaskan bagaimana respon ayam broiler terhadap
cuaca ekstrem
4. Mengetahui dan menjelaskan bagaimana pengaruh cuaca ekstrim
sebagai penyebab heat stress pada ayam broiler
5. Mengetahui dan menjelaskan bagaimana cara mengatasi heat stress pada
ayam broiler
6. Mengetahui dan menjelaskan bagaimana cara menghadapi cuaca ekstrim
agar pemeliharaan tetap berjalan lancar

II
PEMBAHASAN
2.1. Cuaca Ekstrim pada Musim Pancaroba
Saat masa pancaroba, masa peralihan atau pergantian musim baik dari
musim penghujan ke musim kemarau atau sebaliknya, biasanya ditandai
dengan suatu kondisi yang tidak menentu. Perubahan cuaca bisa terjadi secara
mendadak, saat pagi hari cerah namun menjelang siang tiba-tiba turun hujan.
Angin pun bertiup kencang. Kondisi ini tentu akan membuat ayam menjadi
tidak nyaman dan stamina tubuh ayam menurun. Akibatnya produktivitas ayam
pun akan terganggu.
Saat masa pancaroba dengan mudah dapat ditemukan perubahan kondisi
cuaca yang ekstrim dalam waktu singkat. Ambil contoh saat pagi hari, langit
terlihat cerah namun menjelang siang hari tiba-tiba turun hujan. Suhu
lingkungan pada saat siang dan malam hari akan berbeda secara signifikan.
Berdasarkan data perbedaan suhu antara siang dan malam hari bisa mencapai
5-10oC, bahkan mungkin lebih. Kelembaban udara juga mengalami perbedaan
yang signifikan. Ditambah lagi, angin akan bertiup lebih kencang dengan arah
yang tidak beraturan. Ketiga hal tersebut (fluktuasi cuaca, suhu dan
kelembaban maupun aliran angin yang tidak beraturan) tentu akan berpengaruh
pada stamina tubuh ayam sampai produktivitas ayam.

2.2. Karakteristik dan Daya Tahan Tubuh Ternak


Ayam potong (broiler) adalah jenis ayam betina dan jantan muda berumur
sekitar 6-8 minggu, yang di pelihara secara intensif, guna memperoleh daging
maksimal. Secara genetis, ayam potong diciptakan sedemikian rupa dan
mendapatkan perlakuan khusus, sehingga dalam waktu relatif singkat dapat
segera dimanfaatkan hasilnya secara optimal.

Pada umumnya para peternak ayam potong menjual hasil produksi


ternak mereka saat berumur 6-7 minggu, guna memenuhi permintaan pasar.
Karena ayam potong yang berumur 6-7 minggu belum banyak mengalami
penimbunan lemak di tubuhnya.
Ayam broiler memiliki beberapa sifat, diantaranya :
1) Memiliki kelebihan berproduksi lebih cepat dibandingkan hewan ternak
lain. Karena memang sengaja diciptakan demikian guna mengejar
produksi, memenuhi kebutuhan pasar, dan kebutuhan konsumen serta
produsen.
2) Ukuran badan besar dan bidang, dengan bentuk dada lebar, penuh daging,
dan padat.
3) Dagingnya empuk,

licin, serta lunak. Tulang- tulang rawannya tidak

terlalu keras.
4) Pertumbuhan badan sangat cepat sehingga umur 7 minggu sudah dapat
mencapai 2 kg. Dibandingkan ayam petelur, atau pun ayam kampung
pertambahan berat ayam potong memang juara.
Walaupun ayam potong memiliki banyak kelebihan, ada beberapa
kelemahan ayam potong yang perlu diketahui. Sehingga dapat lebih mengenal
karakteristik ayam potong dengan baik.
1) Cara pemeliharaan yang menuntut perlakuan khusus, memerlukan
kecermatan tinggi. Banyak persyaratan yang harus dipenuhi peternaka
ayam potong jika ingin mendapatkan produksi baik.
2) Peka terhadap serangan penyakit.
3) Menuntut makanan yang bermutu tinggi dan ukuran pakan yang bagus.
4) Sulit beradaptasi terhadap lingkungan.

2.3. Pengaruh Suhu Lingkungan Ayam Broiler


Performa ayam broiler akan berbeda akibat perbedaan ketinggian atau
suhu lingkungan sekitar kandang (Amrullah, 2004). Broiler mulai panting pada
suhu lingkungan 29 oC dengan kelembapan 50% (Bell dan Weaver, 2002).
Suhu lingkungan yang nyaman sesuai kebutuhan broiler untuk menghasilkan
produksi optimum sesuai umur broiler ditampilkan pada Tabel.
Rata-rata Suhu Lingkungan yang Direkomendasikan untuk Pertumbuhan
Optimum pada Berbagai Umur Ayam Broiler
Umur (Minggu)
1

Suhu Rekomendasi oC
30

30

27,2

23,9
Sumber : Bell dan Weaver (2002)
Suhu lingkungan yang tinggi dapat mengganggu proses homeostasis

sehingga menyebabkan kesehatan ternak terganggu (Scott et al., 1982). Selain


faktor suhu, keadaan suatu wilayah juga mempengaruhi performa dan angka
mortalitas. Di wilayah endemik penyakit tertentu perlu diadakan program
vaksinasi dan pengobatan jika diperlukan (Amrullah, 2004). Performa broiler
(konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, tingkat
kematian, bobot badan akhir) strain Ross menurut Ross Breeders (2007)
ditunjukan pada Tabel.

Tabel. Performa Broiler Strain Ross selama Lima Minggu Pemeliharaan (Ross
Waktu (Minggu)
1
2
114
289

Peubah
Konsumsi

ransum (g/ekor)
Pertambahan
132

3
512

4
715

5
930

Total
2.560

256

394

511

585

1.878

bobot

badan

(g/ekor)
Bobot

badan 173

429

823

1.334

1.919

1.919

0,87

1,13

1,30

1,40

1,59

1,36

(g/ekor)
Konversi
ransum
Breeders, 2007)

Kebutuhan nutrisi dipengaruhi oleh genetik (Ensminger et al., 1992).


Menurut Wahju (2004), ransum ayam broiler harus mengandung energi yang
cukup untuk membantu reaksi-reaksi metabolik, menyokong pertumbuhan dan
mempertahankan suhu tubuh. Selain itu, ayam broiler membutuhkan protein
yang seimbang. Ayam broiler yang dipelihara di daerah bersuhu tinggi lebih
cocok diberikan ransum dengan kandungan energi rendah (Amrullah, 2004).

2.4. Respon Ayam Broiler Terhadap Cuaca Ekstrem


Respon ayam saat menghadapi musim pancaroba biasanya akan terlihat
dari aktivitas maupun performan ayam. Dengan kondisi yang tidak nyaman,
un-comfort zone ayam akan mengalami stres. Kondisi cuaca, suhu dan
kelembaban yang fluktuatif akan menimbulkan stres yang lebih parah
dibandingkan dengan kondisi stres panas. Saat musim pancaroba, dimana
kondisi cuaca fluktuatif maka tubuh ayam memberikan respon berupa stres.
Ayam merupakan hewan berdarah panas yang memiliki sistem pengaturan
suhu tubuh yang sangat kompleks, dimana sistem termoregulator terdiri dari
anterior (bagian depan) hipotalamus, bagian preoptik besar (cerebrum), tali

saraf otak ke sepuluh (nervus vagus) dan tali-tali saraf tepi yang sensitif
terhadap temperatur. Akibatnya saat terjadi fluktuasi suhu maka ayam menjadi
lebih mudah stres. Saat perbedaan suhu tubuh dan suhu lingkungan mencapai
8oC atau kurang maka ayam akan mulai mengalami stres. Ayam dewasa akan
mulai stres saat suhu kandang 30oC.
Ayam akan merespon kondisi yang kurang nyaman, seperti saat masa
pancaroba dengan memproduksi adeno-corticotropic hormone (ACTH) dalam
jumlah yang berlebih oleh kelenjar hipofisa anterior. Akibatnya korteks
adrenalis akan terpicu untuk meningkatkan produksi hormon kortisol yang bisa
mengakibatkan penurunan jumlah maupun perubahan jenis leukosit, yaitu sel
eosinofil, basofil dan limfosit. Kondisi ini akan menurunkan sistem kekebalan
tubuh ayam.
Respon stres terhadap perubahan musim ini juga bisa ditunjukkan adanya
gangguan metabolisme maupun gangguan fisiologis. Hambatan penyerapan
kuning telur menjadi salah satu contoh gangguan metabolisme yang
diakibatkan stres karena fluktusi suhu. Sedangkan contoh gangguan fisiologis
ialah lazy leucocytes syndrome dimana sel darah putih tidak memberikan
respon yang optimal terhadap mikroorganisme pathogen yang menginfeksi ke
dalam tubuh ayam.
Kasus serangan penyakit pada musim pancaroba juga relatif meningkat,
baik penyakit saluran pernapasan maupun pencernaan. Hal ini dikarenakan
meningkatnya konsentrasi bibit penyakit dan juga menurunnya stamina tubuh
ayam.

2.5. Cuaca Ekstrim sebagai Penyebab Heat Stress pada Ayam Broiler

Ayam akan mengalami stress jika mengalami perubahan lingkungan yang


ekstrim, seperti peningkatan temperatur lingkungan atau pada saat toleransi
terhadap lingkungan menjadi rendah. Stress bisa menjadi status tetap atau
merupakan tantangan proses adaptasi ternak. Stress merupakan ungkapan
umum tentang penyesuaian fisiologis dan perilaku seperti perubahan denyut
jantung, respirasi, temperatur dan tekanan darah yang terjadi jika ternak
mengalami kondisi yang merupakan stressor baginya.
Stress yang terjadi pada unggas di daerah tropis salah satunya disebabkan
oleh tingginya temperatur lingkungan dan berpengaruh negatif pada produksi
unggas. Kerugian yang cukup besar karena dapat menurunkan produktivitas
akan tetapi menaikkan mortalitas. Kejadian Heat Stress pada broiler biasanya
dimulai pada umur 3 minggu. Pada saat temperatur lingkungan tinggi broiler
sangat sulit mengatur temperatur tubuhnya. Mekanisme Faali Terhadap Heat
Stress Hormon tiroksin dari kelenjar thyroid merupakan hormon-hormon utama
dalam metabolisme dan mekanisme panas karena perannya dalam merangsang
metabolisme tingkat sel di seluruh tubuh.
Peningkatan konsentrasi hormon pertumbuhan (T3 dan T4) dalam darah
akan meningkatkan pula metabolisme didalam sel-sel tubuh dan merangsang
penggunaan oksigen serta meningkatkan produksi panas. Hal ini disebabkan
karena peningkatan penggunaan karbohidrat, peningkatan katabolisme protein
yang ditandai dengan eksresi nitrogen dan peningkatan oksida ternak yang
berlebih. Apabila unggas berada pada lingkungan bersuhu tinggi, maka ternak
akan mengalami heat stress karena mendapatkan panas dari luar dan tidak
dapat meyalurkan panas tubuh yang berlebih karena lingkungan luar sangat
panas. Heat Stress menyebabkan penghambatan keluarnya Tiroksin Releasing
Hormone (TRH) dari hipotalamus, sehingga terhambat pula keluarnya Tiroksin
Stimulating Hormon (TSH) dari anterior pituitary dan menyebabkan sekresi T3
dan T4, sehingga proses metabolisme berjalan dengan taraf yang mencukupi.
Pada saat broiler mengalami stress panas dalam arti bahwa kehilangan
panas diatas temperatur kritis tingkat pernafasan meningkat. Broiler yang
kepanasan akan mengalami hyperthremia yang akan menyebabkan kasus

panting (terengah-engah). Intensitas respirasi akan meningkat hingga lebih dari


20 kali lipat. Hal ini akan mempengaruhi keseimbangan asam basa dalam
darah. Alasannya sederhana, pada saat megap-megap, broiler akan banyak
kehilangan CO2 dan derajat keasaman darah akan menjadi lebih basa. Kondisi
ini akan menghambat proses penangkapan oksiden oleh sel darah merah ayam.
Kedua, stress kepanasan akan mengganggu proses konversi vitamin D3
menjadi bentuk atktifnya. Padahal bentuk aktif dari vitamin D3 sangat
diperlukan dalam proses regulasi kalsium. Ketiga, sintesa asam askorbat atau
vitamin C yang ikut membantu dalam proses pembentukan tropocollagen,
menurun.
Selama sengatan panas dan stress kepanasan, terjadi produksi radikal
bebas yang berlebih. Radikal bebas ini akan merusak membran sel. Organ yang
sangat penting dalam proses pembentukan daging, seperti hati ,akan
mengalami gangguan dalam integritas membran selnya sehingga terjadi
gangguan dalam pembentukan ATP dan metabolisme sel. Disfungsi hati akan
menyebabkan pecahnya pembuluh darah pada hati (perdarahan pada hati).
Stress karena suhu yang panas dapat menyebabkan kondisi imunosupresi. Hal
ini akan meningkatkan sensitifitas ayam broiler terhadap infeksi kuman
lapangan.
Di lain pihak musim kemarau atau pancaroba memungkinkan peningkatan
jumlah partikel debu di lapangan, padahal debu dapat digunakan sebagai media
penyebaran kuman, misalnya E. coli. Setiap gram debu mengandung lebih dari
1055 partikel E.coli. Sehingga peluang kasus penyakit infeksi pernafasan akan
menjadi semakin tinggi. Kuman E.coli seringkali bertindak sebagai penyebab
infeksi sekunder kasus pernafasan kompleks. E. coli bersama dengan debu
dengan mudah masuk ke dalam tubuh melalui paruh ayam yang terbuka saat
panting karena heat stress.

2.6. Cara mengatasi Heat Stress pada Ayam Broiler

Strategi manajemen nutrisi untuk mengatasi stress panas termasuk


mengatur hal-hal tersebut dibawah ini :
1.Air minum
2.Kandungaan energi dan protein dalam pakan.
3.Kandungan vitamin dalam pakan dan air.
4. Perubahan dalam praktek pemberian pakan.
5. Waktu pemberian pakan
6. Feed additive Air Minum Lebih dari 70 % produksi panas selama heat
stress berlangsung dikeluarkan melalui panting, dengan demikian ketersediaan
air yang dingin selama musim panas akan sangat membantu.
Penurunan temperatur air dan penambahan garam mampu meningkatkan
konsumsi air minum untuk proses pengeluaran panas tubuh. Energi Pakan
Faktor pembatas yang sangat penting mempengaruhi performans broiler pada
temperatur yang tinggi adalah konsumsi energi dalam pakan. Ketika temperatur
lingkungan meningkat diatas 21C, kebutuhan energi untuk maintenance
menurun 30 kcal/hari. Walaupun kebutuhan energi maintenance rendah pada
temperatur tinggi, banyak energi yang terbuang untuk menghilangkan panas.
Formula pakan dengan tingkat kepadatan nutrient (density) tinggi agar dapat
memenuhi kebutuhan harian untuk pertumbuhan pada saat terjadi penurunan
konsumsi pakan.
Kebutuhan protein dan asam amino tergantung temperatur lingkungan,
sekalipun kebutuhan protein terpenuhi, heat stress akan mempengaruhi
performans ayam. Konsumsi protein diatas kebutuhan atau program pemberian
pakan dengan asam amino tidak seimbang meningkatkan katabolisme dan
mengakibatkan produksi panas ditandai dengan meningkatnya heat stress pada
ayam terus menerus pada temperatur lingkungan yang tinggi. Pengurangan
protein pakan dengan suplementasi yang cocok dari asam amino sintetis juga
merupakan salah satu jalan mengurangi produksi panas.

10

Dengan demikian disarankan mengurangi kandungan protein kasar dari


pakan dan melakukan suplemen dengan asam amino sintetik untuk memenuhi
kebutuhan pertumbuhan. Suplementasi Metionin hydroxyl analog lebih baik
daripada DL-Metionin, dan sangat menguntungkan pada ayam yang
mengalami stress panas karena dapat diserap secara langsung melalui difusi
pasif, yang mana tidak memerlukan energy. Vitamin-Vitamin Penambahan
vitamin C, vitamin A, vitamin E dan D3 diperbolehkan untuk memperbaiki
performans ayam pada temperatur tinggi.
Temperatur tinggi juga mempengaruhi metabolisme secara keseluruhan
dan kerusakan oksidatif membran sel sehingga membutuhkan nutrisi seperti
vitamin C (sebagai antioksidan), untuk memperbaiki kondisi tubuh. Dosis
vitamin C sebesar 200 ppm/kg pakan mampu menghasilkan performans ayam
yang lebih baik selama heat stress. Biotin juga dapat ditambahkan untuk
mengurangi gangguan metabolik seperti fatty liver dan kidney sindrom selama
musim panas. Vitamin E dengan dosis 250 mg/kg pakan pada kondisi heat
stress dapat juga memberi keuntungan dalam mengurangi kerusakan oksidatif.
Elektrolit dan Buffer Panting mengakibatkan peningkatan kehilangan CO2
secara

berlebih

sehingga

pernafasan

menjadi

alkalosis.

Perubahan

keseimbangan elektrolit dapat mengurangi laju pertumbuhan broiler. Untuk


melindungi hal ini diperlukan pemberian larutan elektrolit (anion dan kation)
dalam formula pakan. Suplementasi sodium bicarbonate (NaHCO3) 0.5 % atau
0.3% sampai 1.0 % ammonium chloride (NH4Cl) dapat mengurangi dampak
negative alkalosis yang disebabkan oleh heat stress. Perubahan dalam praktek
pemberian pakan Performans ayam menurun pada kondisi temperatur sangat
panas , disebabkan oleh konsumsi pakan menurun.
Agar konsumsi pakan dapat meningkat dapat dilakukan hal-hal seperti :
peningkatan frekwensi pemberian pakan, pemberian pakan dalam bentuk
pellet, penambahan lemak atau molasses untuk meningkatkan palatabilitas.
Pembentukan panas pada metabolism pakan terjadi 4 6 jam setelah
pemberian pakan. Kematian dapat ditekan dengan cara pemberian pakan pada

11

malam hari dan pembatasan pakan kira-kira 4-6 jam sebelum terjadi heat stress.
Suplementasi Probiotik diketahui bahwa heat stress berpengaruh terhadap
pencernaan dan absorbsi nutrisi. Suplementasi lactobacillus dan streptococcus
memberikan keuntungan pada ayam pada saat kondisi heat stress.
Sejumlah senyawa mampu membantu dalam mengurangi stress yang
berhubungan

dengan

hypothermia.

Aureomycin

mampu

mengurangi

pertumbuhan yang menurun karena stress, resinpine diketahui sebagai suatu


alkaloid yang mampu melindungi ayam dari kehilangan CO2 akibat heat stress
demikian pula thereby mampu mempertahankan keseimbangan asam-basa
dalam darah selama heat stress terjadi. Temperatur tinggi sebagai stressor pada
broiler mampu menyebabkan gangguan produksi sehingga terjadi penurunan
performans. Meminimalisasi pengaruh negatif dari panas melalui modifikasi
pakan adalah hal yang ideal dan biaya yang lebih murah. Penggunaan vitaminvitamin tertentu yang dapat menekan kematian ayam pada saat terjadi heat
stress sangat dianjurkan.
2.7.

Cara menghadapi Cuaca Ekstrim agar Pemeliharaan tetap


Berjalan Lancar
Musim pancaroba harus kita hadapi dengan penuh persiapan. Jika tidak

maka bisa dipastikan kita akan mengalami kerugian, baik penurunan


produktivitas maupun meningkatkan biaya pengobatan. Setidaknya ada 3
langkah yang harus kita persiapkan saat musim pancaroba datang, yaitu
menjaga kondisi lingkungan kandang tetap nyaman (comfort zone, red),
meningkatkan stamina tubuh ayam dan mengurangi konsentrasi bibit penyakit.

Lingkungan kandang tetap nyaman


Kenyamanan kandang dan lingkungan kandang akan sangat membantu

ayam dalam menghadapi musim pancaroba. Kondisi atap, dinding maupun


lantai kandang harus kita periksa dan perhatikan kondisinya. Kondisi atap
jangan sampai bocor, terlebih lagi saat perubahan ke musim penghujan. Atap
yang bocor akan menyebabkan air hujan membasahi lantai kandang, akibatnya

12

litter basah dan menggumpal. Kondisi tersebut akan memicu bakteri ureolitik
memecah asam urat yang terkandung pada feses menjadi amonia. Dan penyakit
pernapasan pun akan dengan mudah menyerang. Selain itu, koksidia (agen
koksidiosis) menjadi lebih mudah berkembang biak.
Dinding kandang juga harus mampu mengurangi kecepatan aliran angin
yang masuk ke dalam kandang. Ayam modern relatif tidak tahan terhadap
aliran angin yang langsung menerpa tubuh ayam, biasanya ayam menjadi lebih
mudah terserang penyakit pernapasan.
Manajemen tirai harus diatur sesuai dengan kondisi cuaca. Tenaga atau
operator kandang harus selalu siaga untuk mengatur tirai kandang, mengingat
kondisi cuaca yang mudah berubah. Pembukaan tirai disesuaikan dengan
kecepatan angin, suhu maupun curah hujan.
Aliran udara dalam kandang juga harus diperhatikan. Adanya sirkulasi
udara ini akan membuang gas berbahaya (amonia, CO 2) yang terdapat di dalam
kandang untuk digantikan dengan udara yang segar. Kecepatan angin yang
mengenai tubuh ayam harus diperhatikan. Kecepatan aliran udara untuk ayam
dewasa sebaiknya tidak lebih dari 2,5-3 m/detik dan saat masa brooding
hendaknya kurang dari 0,3-0,6 m/detik.
Kondisi lantai kandang juga harus diperhatikan, terutama daya serapnya
terhadap air. Penambahan kapur bisa mengembalikan sifat tanah untuk
menyerap air pada feses. Tambahkan ketebalan litter-nya, misalnya 8-12 cm
agar daya serap airnya semakin baik. Litter yang basah dan menggumpal
(jumlah sedikit) sebaiknya diambil dan diganti, namun saat sebagian besar
litter telah lembab alangkah lebih baiknya ditambahkan bahan litter baru.
Kepadatan kandang haruslah diatur sesuai dengan pertumbuhan maupun
umur ayam. Kepadatan yang berlebih akan meningkatkan persaingan ayam
dalam mendapatkan oksigen, ransum maupun air minum. Ditambah lagi
kondisi ini akan menyebabkan litter lebih mudah menggumpal sehingga kadar

13

amonia menjadi semakin tinggi. Kepadatan kandang untuk ayam pedaging dan
petelur dewasa ialah 15 kg/m2.

Meningkatkan stamina tubuh


Respon stres pada ayam saat masa pancaroba akan mengakibatkan

penurunan sistem kekebalan dan pertahanan tubuh ayam. Demikian pula


dengan stamina tubuh ayam. Oleh karena itu berikan feed supplement dengan
kandungan nutrisi mikro esensial yang lengkap (vitamin, mineral/elektrolit,
asam amino) seperti yang terdapat pada Vita Stress atau Vita Strong.
Selain feed supplement, kualitas ransum juga harus diperhatikan, terlebih
lagi ransum mudah terkontaminasi jamur maupun racun jamur. Pastikan kadar
air dari ransum tidak lebih dari 14%, agar pertumbuhan jamur bisa ditekan.
Penambahan anti jamur (mold inhibitors) juga bisa ditambahkan untuk
menekan tumbuhnya jamur, sedangkan untuk racun jamur bisa ditangani
dengan penambahan toxin binder.
Saat musim pancaroba, masa penyimpanan ransum hendaknya dibatasi.
Jika memungkinkan jangan lebih dari 10 hari. Selain itu, pada sistem
penyimpanan terapkan sistem first in first out (FIFO). Gunakan alas di bawah
tumpukan ransum agar ransum tidak menggumpal, terutama tumpukan yang di
bagian bawah. Hati-hati terhadap munculnya kutu atau serangga yang bisa
memakan dan merusak ransum sehingga kadar nutrisinya menurun.
Pengujian kualitas ransum hendaknya juga dilakukan pada pergantian
musim ini. Hal ini untuk memastikan ransum yang kita gunakan tetap
berkualitas. Medion menerima pengujian kualitas ransum dengan parameter uji
meliputi kadar air (susut pengeringan), protein kasar, serat kasar, lemak kasar,
abu, kalsium dan fosfor.

14

Mengurangi konsentrasi bibit penyakit


Konsentrasi bibit penyakit saat musim pancaroba seringkali meningkat,

seperti E. coli pada air minum. Begitu juga dengan bibit penyakit lainnya.
Desinfeksi kandang sebaiknya lebih kita tingkatkan, misalnya setiap hari
melakukan semprot kandang. Desinfeksi tempat minum maupun ransum sebisa
mungkin kita tingkatkan intensitasnya, rendam tempat minum dan ransum
dalam larutan Medisep selama 30 menit setiap 3-4 hari sekali. Penambahan
Antisep, Neo Antisep atau Medisep dalam air minum akan menurunkan
konsentrasi E. coli.
Selain desinfeksi, keadaan dan kebersihan lingkungan kandang juga harus
diperhatikan. Pastikan di sekitar kandang tidak ditumbuhi rumput liar atau
semak belukar. Aliran air pembuangan pada selokan haruslah lancar, jangan
sampai menggenang atau terhambat. Kedua kondisi ini bisa memicu
berkembanganya bibit penyakit maupun vektor penyakit.
Pemberian antibiotik berspektrum luas juga bisa menjadi salah satu upaya
pengendalian bibit penyakit yang berada di dalam tubuh ayam. Setelah kita
tahu diagnosa penyakit yang sebenarnya maka alangkah lebih baiknya jika kita
memberikan obat yang sesuai.
Obat hendaknya diberikan sesuai dengan dosis dan aturan pakai. Rolling
(pergantian) antibiotik sebaiknya diterapkan agar obat mampu bekerja secara
optimal. Selain itu, perhatikan 4 prinsip pengobatan yaitu jenis obat sesuai
dengan penyakit yang menyerang, obat bisa mencapai lokasi kerja (organ
sakit), obat mencapai kadar yang cukup dan obat dapat bertahan dalam waktu
yang cukup.

15

III
KESIMPULAN
1. Saat masa pancaroba, masa peralihan atau pergantian musim baik dari
musim penghujan ke musim kemarau atau sebaliknya, biasanya ditandai
dengan suatu kondisi yang tidak menentu. Perubahan cuaca bisa terjadi
secara mendadak, saat pagi hari cerah namun menjelang siang tiba-tiba
turun hujan.
2. Ayam potong (broiler) adalah jenis ayam betina dan jantan muda berumur
sekitar 6-8 minggu, yang di pelihara secara intensif, guna memperoleh
daging maksimal. Secara genetis, ayam potong diciptakan sedemikian rupa
dan mendapatkan perlakuan khusus, sehingga dalam waktu relatif singkat
dapat segera dimanfaatkan hasilnya secara optimal.
3. Respon ayam saat menghadapi musim pancaroba biasanya akan terlihat
dari aktivitas maupun performan ayam. Dengan kondisi yang tidak
nyaman, un-comfort zone ayam akan mengalami stres. Kondisi cuaca,
suhu dan kelembaban yang fluktuatif akan menimbulkan stres yang lebih
parah dibandingkan dengan kondisi stres panas. Saat musim pancaroba,
dimana kondisi cuaca fluktuatif maka tubuh ayam memberikan respon
berupa stres.
4. Ayam akan mengalami stress jika mengalami perubahan lingkungan yang
ekstrim, seperti peningkatan temperatur lingkungan atau pada saat
toleransi terhadap lingkungan menjadi rendah. Stress bisa menjadi status
tetap atau merupakan tantangan proses adaptasi ternak. Stress merupakan
ungkapan umum tentang penyesuaian fisiologis dan perilaku seperti
perubahan denyut jantung, respirasi, temperatur dan tekanan darah yang
terjadi jika ternak mengalami kondisi yang merupakan stressor baginya.

16

5. Strategi manajemen nutrisi untuk mengatasi stress panas termasuk


mengatur hal-hal tersebut dibawah ini :
a) Air minum
b) Kandungaan energi dan protein dalam pakan.
c) Kandungan vitamin dalam pakan dan air.
d) Perubahan dalam praktek pemberian pakan.
e) Waktu pemberian pakan
f) Feed additive Air Minum Lebih dari 70 % produksi panas selama heat
6. Musim pancaroba harus kita hadapi dengan penuh persiapan. Jika tidak
maka bisa dipastikan kita akan mengalami kerugian, baik penurunan
produktivitas maupun meningkatkan biaya pengobatan. Setidaknya ada 3
langkah yang harus kita persiapkan saat musim pancaroba datang, yaitu
menjaga kondisi lingkungan kandang tetap nyaman (comfort zone, red),
meningkatkan stamina tubuh ayam dan mengurangi konsentrasi bibit
penyakit.

17

DAFTAR PUSTAKA

Ames. 1995. Tunnel Ventilation to Alleviate Animal Heat Stress. Iowa State
University Extension.
Amrullah, I. K. 2004. Nutrisi Ayam Broiler. Cetakan Ketiga. Lembaga Satu
Gunungbudi, Bogor.
Bell, D. D. and W. D. Weaver Jr. 2002. Commercial Chicken Meat and Egg
Production. 5th Ed. Springer Science Business Media, Inc., New York.
Brotowijoyo, 1987. Parasit Parasitisme. Penerbit PT Penebar Swadaya. Jakarta
Hafez. By. E.S.E, 1968. Adaptation of Domestic Animals. Lea and Febiger.
Philadelphia.
Horst P. Dan Mathur P.K., 1989. Position of local fowl for tropically oriented
breeding activities. In genotip x environment interaction in poultry
production. Edit, P. Merat, 11. P:159-174.
Ross

Breeders.

2007.

Ross

708

broiler

performance

objectives.

http://www.rossbreeders.com. [31 Agustus 2009].


Soeharsoo, 1976. Respon Broiler terhadap berbagai kondisi lingkungan. Disertasi
pada Univeritas Padjadjaran.
Wahju, J. 2004. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan ke-5. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.

18