Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Akhir-akhir ini sering timbul pertikaian karena perbedaan-perbidaan kecil
yang sedikit menyinggung maslah Sosial dan juga kesmaan derajat. Maka kami
sebagai mahasiswa memiliki bentuk kepedulian untuk memberikan kontribusi ini
minimal dengan menyusun paper yang berkaitan dengan berbagai pengetahuan akan
Pelapisan Sosial dan Kesamaan Derajat
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah Pelapisan Sosial dan Kesamaan Derajat itu?
2. Bagaimana pernan Pemuda dalam meminimalisir masalah masalah
yang berkaitan dengan pelapisan sosial dan kesamaan derajat?
1.3 Tujuan
1) Mengetahui pengertian Pelapisan Sosial dan Kesamaan Derjat.
2) Menambah wawasan akan perkembangan Pelapisan Sosial &
Kesamaan Derajat.
3) Mampu Memberikan kontribusi untuk masalah masalah tentang
Pelapisan Sosial & Kesamaan Derajat.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PELAPISAN SOSIAL


a. Pengertian
Masyaraka terbentuk dari individu-indivu yang memilki berbagai latar belakang
sehingga membentuk suatu masyarakat heterogen yang terdiri atas kelompokkelompok sosial. Dengan terjadinya kelompok sosial ini, terbentuklah suatu pelapisan
masyarakat. Masyarakat merupakan suatu kesatuan yang didasarkan ikatan-ikatan
yang sudah teratur dan stabil maka dengan sendirinya masyarakat merupakan
kesatuan yang dalam pembentukannya mempunyai gajala-gejala yang sama.
Masyarakat tidak dapat di bayangkan tanpa individu begitu pun individu tidak dapat
dibayangkan

tanpa

adanya

masyarakat.

Individu

dan

masyarakat

adalah

komplementer. Ini dapat kita lihat dari kenyataan, bahwa:


1.

Manusia dipengaruhi oleh masyarakat demi pembentukan pribadinya.

2.

Individu mempengaruhi masyarakat dan bahkan dapat menyebabkan perubahan


besar bagi masyarakat.
Pitirim A. Sorokin memberikan definisi pelapisan masyarakat sebagai berikut

pelapisan masyarakat adalah perbedaan penduduk atau masyarakat dalam kelaskelas yang tersusun secara bertingkat. Lebih lengkap lagi batasan yang di
kemukakan oleh theodorson di dalam Dictionary of sociology, yaitu lapisan
masyarakat berarti jenjang status dan peranan yang relatip permanen yang terdapat di
dalam sistem sosial (dari kelompok kecil sampai masyarakat ) di dalam hal perbedaan
hak, pengaruh, dan kekuasaan.
b. Pelapisan Sosial Ciri Tetap Kelompok Sosial

Di dalam organisasi masyarakat primitip yang belum mengenal tulisan, pelapisan


masyarakat itu sudah ada. Hal ini bewujud berbagai bentuk sebagai berikut:
1. Adanya kelompok berdasarkan jenis kelamin dan umur dalam pembedaan hak
dan kewajiban.
2. Adanya kelompok-kelompok pemimpin suku yang berpengaruh dan memiliki
hak-hak istimwa.
3. Adanya pemimpin yang paling berpengaruh.
4. Adanya orang-orang yang dikecilkan di luar kasta dan orang yang di luar
perlindungan hukum.
5. Adanya pembagian kerja di dalam suku itu sendiri.
6. Adanya perbedaan standar ekonomi dan di dalam ketidak kesamaan ekonomi
itu secara umum.
c. Terjadinya Pelapisan Sosial
Tejadi dengan sendirinya
Proses ini berjalan sesuai dengan pertumbuhan masyarakat itu sendiri. Karena
sifat yang tanpa disengaja inilah, bentuk pelapisan dan dasar dari pelapisan itu
berparesi menurut tempat, waktu, dan kebudayaan masyarakat tempat sistem itu
belaku. Pada pelapisan yang terjadi dengan sendirinya, keduddukan seseorang secara
otomatis berada pada strata atau pelapisan, mialnya karena usia tua, pemilikan
kepandaian yang lebih atau kerabat pembuka tanah, seseorang yang memiliki bakat
seni, atau sakti.
Tejadi dengan di sengaja
Sistem ini ditujukan untuk mengejar tujuan bersama. Sistem pelapisan yang di
bentuk dengan sengaja ini dapat kita lihat, misalnya dalam organisasi pemerintahan,
orgainisasi partai politik, perusahaan besar, perkumpulan-perkumpulan resmi, dll.
Ringkasnya, didalam organisasi formal sistem oraganisasi yang disusun dengan cara
ini mengandung dua sistem yaitu:
1.

Sistem fungsional merupakan pembagian kerja kedudukan yang tingkatanya

berdampingan dan harus bekerja sama dalam kedudukan yang sederajat,


misalnya kerjasama antara kepala seksi dll.
2.

Sistem skala, merupakan pembagian kekuasaan menurut tangga atau jenjang


dari bawah keatas.
d. Pembagian Sistem Pelapisan Menurut Sifatnya
Menurut sifatnya, sistem pelapisan dalam masyarakat dapat dibedakan menjadi

dua bagian yaitu:


1.

Sistem pelapisan masyarakat yang tertutup dalam sistem ini, perpindahan


anggota masyarakat kelapisan yang lain baik keatas maupun kebawah, tidak
mungkin terjadi, kecuali ada hal-hal yang istimewa. Sistem pelapisan ini dapat
kita jumpai misalnya di india yang masyarakatnya mengenal sistem kasta.

Kasta Brahmana, yang merupakan kastanya golongan pendeta dan merupakan

kasta tertinggi.
Kasta ksatria, merupakan kasta dari golongan bangsawan dan tentara yang

dipandang sebagai lapisan kedua.


Kasta waisa, merupakan kasta dari golongan pedagang yang dipandang

sebagai lapisan menengah ketiga.


Kasta sudra, merupakan kasta dari golongan rakyat jelita.
Paria, golongan dari mereka yang tidak mempunyai kasta. Yang termasuk
golongan ini misalnya kaum gelandangan, meminta-minta dan sebagainya.
Sistem ini juga dapat kita temui juga dalam masyarakat feodal atau
masyarakat yang berdasarkan realisme, seperti pemerintahan di afrika selatan
yang terkenal masih melakukan politik apartheid atau perbadaan warna kulit
yang disahkan oleh undang-undang.

2.

Sistem Pelapisan Masyarakat yang Terbuka, Di dalam sistem ini, setiap anggota

masyarakat memiliki kesempatan untuk jatuh keatas dan kebawah. Sistem ini
dapat kita temui misalnya di indonesia sekarang ini. Setiap orang di beri
kesempatan untuk menduduki segala jabatan bila ada kessempatan dan
kemampuan untuk itu. Sebaliknya, orang juga dapat turun dari jabatannya bila
dia tidak mampu memertahankannya.

2.2 KESAMAAN DERAJAT


Hubungan antara manusia dan linkungan masyarakat pada umumya secara timbal
balik. Artinya, setiap orang sebagai anggota masyarakat, mempunyai hak dan
kewajiban, baik tehadap masyarakat maupun pemerintah negara. Beberapa hak dan
kewajiban ditetapka dalam undang-undang sebagai hak dan kewajiba asasi.
Kesamaan derajat ini terwujud dalam jaminan hak yang diberikan dalam berbagai
sektor kehidupan. Hak inilah yang banyak dikenal dengan hak asai manusia.
a. Persamaan hak
Mengenai persamaan hak ini, selanjutnya di cantumkan dalam pernyataan sedunia
hak asai manusia tahun 1948 dalam pasal-pasalnya, seperti:
Pasal 1: sekalian orang dilahirkan merdeka dan mempunyai marrtabat dan hak yang
sama. Mereka di karuniai akal dan budi dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam
persaudaraan.
Pasal 2 ayat 1: setiap orang berhak atas semua hak-hak dan kebebasan-kebebasan
yang tercantum didalam pernyataan ini dengan tak ada kecuali apapun, seperti
bangsa, jenis kelamin, bahasa, agama, politik, atau pendapat lain, asal mula
kebangsaan atau kemasyarakatan, milik, kelahiran ataupun kedudukan.

Pasal 7: sekalian orang adalah sama terhadap UU dan berhak atas perlindungan
hukum yang sama denga tak ada perbedaan. Sekalian orang berhak atas perlindubgan
yang sama terhadap setiap perbedaan yang memperkosa pernyataan ini dan terhadap
segala hasutan yang ditujukan kepada perbedaan semacam ini.
b. Persamaan derajat di indonesia
Dalam UUD 1945, hak dan kebebasan yang berkaitan dengan adanya persamaan
derajat dan hak juga tercantum dalam pasal secara jelas yakni pasal 27, 28, 29, dan
31. Empat pokok hak asasi dalam empat pasal UUD 1945 adalah sebagai berikut:
Pokok pertama, tentang persamaan kedudukan dan kewajibag kewarganegara
didalam hukum dan dimuka pemerintahan
Pasal 27 ayat 2 menetapkan segala warga negara bersamaan kedudukannya didalam
hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan
tidak ada pengecualian.
Pokok kedua, selanjutnya dalam pasal 28 ditetapkan bahwa keemerdekaan
berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan
sebagainya ditetapkan oleh UU.
Pokok ketiga, dalam pasal 29 ayat 2 dirumuskan kebebasan asasi untuk memeluk
agama bagi penduduk yang dijamin oleh negara, yang berbunyi Negara menjamin
kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan un
tuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya.
Pokok keempat, adalah pasal 31 yang mengatur hak asasi mengenai pengajaran yang
berbunyi (1) tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran, dan (2)
pemerintahan mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran
nasional, yang diatur dengan UU.
2.3 Contoh kasus
Penjara Mewah Artalyta Terungkap Berkat Laporan Warga

TEMPO Interaktif, Jakarta - Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum


melakukan inspeksi mendadak ke dalam sel penjara Artalyta Suryani alias Ayin
semalam. Inspeksi juga dilakukan di sel-sel lain di Rumah Tahanan Wanita Pondok
Bambu, Jakarta Timur, tempat terpidana perkara suap terhadap jaksa Urip Tri
Gunawan itu menjalani hukuman lima tahun penjara. Hal itu dilakukan setelah satuan
ini mendapat laporan adanya perlakuan khusus yang diberikan oleh petugas penjara.
"Pasti ada laporan," kata Ketua Satuan Tugas sekaligus Ketua Unit Kerja Presiden
untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan, Kuntoro Mangkusubroto, saat
menghadiri acara di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Namun Kuntoro enggan
menyebutkan dari mana laporan itu berasal. Ia juga tak memerinci perlakuan khusus
yang dimaksud. Tindakan tegas satuannya, menurut dia (Kuntoro), merupakan
langkah awal untuk memberantas mafia hukum. Sebab, perlakuan khusus di rumah
tahanan dianggap mengganggu rasa keadilan.
Meski begitu, Kuntoro belum bersedia membicarakan kemungkinan sanksi
yang akan diberikan kepada para petugas yang terbukti memberikan perlakuan
istimewa itu. "Kita lihat perkembangannya dulu." Seusai penggeledahan, Sekretaris
Satuan Tugas Denny Indrayana mengatakan, dalam inspeksi yang digelar selama tiga
jam mulai pukul 19.00 WIB itu, ditemukan berbagai penyimpangan. "Ada sejumlah
tahanan menerima fasilitas lebih lengkap," kata Denny. Di sel Liem Marita alias
Aling, misalnya, ditemukan berbagai fasilitas yang melebihi tahanan lainnya, antara
lain tempat tidur, kulkas, ruang tamu, sofa, radio-tape, serta meja kerja. Bahkan
Satuan Tugas menemukan ruang karaoke yang dilengkapi televisi. Saat mendatangi
sel Artalyta, Satuan Tugas mendapati ruang penjara Ayin terpisah dari sel para
tahanan lain. Bahkan ada pintu khusus menuju ruangan besar yang dihuni orang dekat
Sjamsul Nursalim ini. "Ruangannya mencapai 8 x 8 meter," ujar Denny.
Selain terhadap ruang Aling dan Ayin, Satuan Tugas menginspeksi ruang
tahanan lain, Erry Fuad dan Ines Wulandari. Keduanya ditahan karena terlibat kasus
korupsi proyek di Direktorat Jenderal Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja
Dalam Negeri Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Pemeriksaan juga

dilakukan di ruang tahanan Darmawati Dareho, terpidana korupsi yang melibatkan


anggota

Dewan

Perwakilan

Rakyat,

Abdul

Hadi

Djamal.

Menurut Denny, semua tahanan itu mendapat fasilitas lebih banyak dibanding
tahanan lainnya. Para tahanan itu pun bisa membawa telepon seluler dalam sel
mereka. "Itu sih sudah pasti," katanya.
Penggeledahan, kata dia, dilakukan setelah Satuan Tugas menerima informasi
dari masyarakat soal pemberian fasilitas berlebihan. Sebelum menggeledah, Satuan
Tugas telah berkoordinasi dengan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis
Akbar. "Dia mendukung penuh penggeledahan," katanya. Satuan Tugas, kata dia,
akan segera menindaklanjuti temuan ini. Mereka akan kembali berkoordinasi dengan
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. "Para tahanan itu layak menempati sel
yang sama sempitnya dengan tahanan lain," kata Denny.
2.4 Keterkaitan kasus dengan lapisan sosial
Pada Hakekatnya sesuai dengan peraturan yang berlaku di Indonesia bahwa
seluruh masyarakat memiliki hak dan kewajiban yang sama,meskipun dalam Penjara
seharusnya pihak pihak terkait tidaklah membeda bedakan perlakuan mereka terhadap
tahanan tahanan tertentu seperti pada kasus diatas.
Kasus ini merupakan cerminan bahwa Pelapisan Sosial masih mampu memberikan
kekuatan kepada mereka yang berada dipuncak urutan lapisan sosial dalam
mendapatkan haknya,dilain hal Kesamaan derajat seolah olah dinomor duakan atas
nama pelapisan sosial yang kalau dilihat dari kasus diatas adalah Uang mampu
mengubah seluruh dasar dasar Persamaan Derajat dan juga Persamaan Sosial.
Sudah seharusnya pihak pihak terkait melakukan recovery dalam isu isu sensitif
khususnya disini kecemburuan sosial yang akan terjadi apa bila pelapisan sosial itu
diberlakukan dalam pelaksanan atau pemberian Hak hak lebih kepada mereka yang
berada di puncak lapisan sosial,dalam hal ini diukur dalam hal keuangan. Kepekaan

akan Kesamaan Derajat juga perlu ditingkatkan pada Seluruh Masyarakat sehingga
kerikil kerikil masalah yang menjurus pada kecemburuan sosial dapat diminimalisir.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Masyaraka terbentuk dari individu-indivu yang memilki berbagai latar


belakang sehingga membentuk suatu masyarakat heterogen yang terdiri atas
kelompok-kelompok sosial.
2. Dengan terjadinya kelompok sosial terbentuklah suatu pelapisan masyarakat.
3. Kesamaan Derajat adalah suatu kondisi dimana derajat setiap orang di dalam
masyarakat sama.
4. Kasus tersebut cerminan bahwa Pelapisan Sosial masih mampu memberikan
kekuatan kepada mereka yang berada dipuncak urutan lapisan sosial dalam
mendapatkan haknya, dan Kesamaan derajat seolah olah dinomor duakan atas
nama pelapisan sosial.
5. Kepekaan akan Kesamaan Derajat perlu ditingkatkan pada Seluruh
Masyarakat

sehingga

kerikil

kerikil

masalah

yang

menjurus

pada

kecemburuan sosial dapat diminimalisir.

DAFTAR PUSTAKA
(http://www.tempo.co/read/news/2010/01/11/063218341/Penjara-Mewah-ArtalytaTerungkap-Berkat-Laporan-Warga)
(http://imaninginberbagiilmu.blogspot.com/2011/01/pelapisan-sosial-persamaanderajat.html?zx=e01e167e2ebf885f)

http://1.bp.blogspot.com/_YzaNPPpU7kU/TOsoXhZZadI/AAAAAAAAAD4/zeQEX
Bzl91g/s320/social-network.jpg