Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Oksigen merupakan

kebutuhan dasar manusia menurut Hierarki Maslow.

Kekurangan oksigen dalam hitungan menit saja mengancam jiwa seseorang, oleh
karena itu masalah kesehatan yang berpengaruh terhadap system pernapasan
(respiratori) menuntut asuhan keperawatan yang serius.
Gagal nafas adalah kegagalan sistem pernafasan untuk mempertahankan
pertukaran oksigen (O2) dan karbondioksida (Co2) dalam jumlah yang dapat
mengakibatkan gangguan pada kehidupan. Indikator gagal nafas adalah frekuensi
pernafasan dan kapasitas vital, frekuensi pernapasan normalialah 16-20 x/menit. Bila
lebih dari 20x/menit tindakan yang dilakukan adalah memberi bantuan ventilasi
karenja kerja pernafasan lebih tinggi sehingga timbul kelelahan. Kapasitas vital
adalah ukuran ventilasi yang tidak adekuat dimana terjadi obstruksi jalan nafas atas.
Agar dapat memberikan asuhan keperawatan sebaik baiknya, perlu
mengetahui gejala gejala dini penyebab serta permasalahannya. Kita perlu ketahui
bahwa peran dari seorang perawat yang paling utama adalah melakukan penyuluhan ,
promosi dan pencegahan terjadinya gangguan pada sistem pernafasan, sehingga dalam
hal ini masyarakat perlu diberikan pendidikan kesehatan yang efektif guna untuk
meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui tentang Gagal Nafas
2. Tujuan khusus
a. Apa definisi Gagal nafas ?
b. Apa etiologi Gagal nafas ?
c. Apa patofisiologi Gagal nafas ?
d. Apa klasifikasi Gagal nafas ?
e. Apa tanda dan gejala Gagal nafas ?
f. Apa pemeriksaan diagnostik Gagal nafas ?
g. Apa penatalaksanaan Gagal Nafas ?
h. Apa pengkajian Gagal nafas ?
i. Apa diagnosa keperawatan Gagal nafas ?
j. Apa intervensi keperawatan Gagal nafas ?
C. Manfaat
1

Diharapkan makalah ini menjadi salah satu bacaan yang dapat menambah ilmu
pengetahuan para pembaca. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
sendiri ataupun para pembaca.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Menurut Bruner and Suddart (2002), gagal napas adalah sindroma
dimana sistem respirasi gagal untuk melakukan fungsi pertukaran gas,
pemasukan oksigen, dan pengeluaran karbondioksida. Keadekuatan tersebut

dapat dilihat dari kemampuan jaringan untuk memasukkan oksigen dan


mengeluarkan karbondioksida. Indikasi gagal napas adalah PaO2 < 60mmHg
atau PaCO2 > 45mmHg, dan atau keduanya.
Gagal napas adalah gangguan pertukaran gas antara udara dengan
sirkulasi yang terjadi di pertukaran gas intrapulmonal atau gangguan gerakan
gas masuk keluar paru. Menurut Joy M. Black (2005), gagal napas adalah
suatu keadaan yang mengindikasikan adanya ketidakmampuan sistem respirasi
untuk memenuhi suplai oksigen untuk proses metabolisme atau tidak mampu
untuk mengeluarkan karbondioksida. Sedangkan menurut Susan Martin
(1997), gagal napas adalah ketidakmampuan sistem pernafasan untuk
mempertahankan oksigenasi darah normal, eliminasi karbondioksida, dan pH
yang adekuat disebabkan oleh masalah ventilasi, difusi, atau perfusi.
Gagal napas akut adalah pertukaran gas yang tidak adekuat sehingga
terjadi hipoksia, hiperkapnia (peningkatan konsentrasi karbon dioksida arteri),
dan asidosis (Arif Muttaqin, 2008).
Gagal napas akut adalah memburuknya proses pertukaran gas paru
yang mendadak dan mengancam jiwa, menyebabkan retensi karbon dioksida
dan oksigen yang tidak adekuat (Morton, 2011).
Urden, Stacy dan Lough mendifinisikan gagal napas akut sebagai
suatu keadaan klinis yaitu sistem pulmonal tidak mampu mempertahankan
pertukaran gas yang adekuat (Chang, 2009).
Gagal nafas adalah pertukaran gas yang tidak adekuat sehingga terjadi
hipoksia, hiperkapnia (peningkatan konsentrasi karbondioksida arteri) dan
asidosis
Gangguan pertukaran gas menyebabkan hipoksemia primer, oleh
karena kapasitas difusi CO2 jauh lebih besar dari O2 dan karena daerah yang
mengalami hipoventilasi dapat dikompensasi dengan meningkatkan ventilasi
bagian paru yang normal. Hiperkapnia adalah proses gerakan gas keluar
masuk paru yang tidak adekuat (hipoventilasi global atau general) dan
biasanya terjadi bersama dengan hipoksemia.
B. Etiologi
1.Penyebab sentral
a. Trauma kepala : contusio cerebri
b. Radang otak : encephalitis
c. Gangguan vaskuler : perdarahan otak , infark otak
d. Obat-obatan : narkotika, anestesi
3

2. Penyebab perifer
a. kelainan Neuromuskuler : GBS, tetanus , trauma cervikal, muscle
relaxans
b. Kelainan jalan nafas : obstruksi jalan nafas, asma bronchiale
c. Kelainan di paru : edema paru, atelektasis, ARDS
d.Kelainan tulang iga/thoraks: fraktur costae, pneumo thorax,
haematothoraks
e. Kelainan jantung : kegagalan jantung kiri
Penyebab gagal napas biasanya tidak berdiri sendiri melainkan
merupakan kombinasi dari beberapa keadaan, dimana penyebeb utamanya
adalah :
a. Gangguan ventilasi
Gangguan ventilasi disebabkan oleh kelainan intrapulmonal maupun
ekstrapulmonal. Kelainan intrapulmonal meliputi kelainan pada saluran
napas bawah, sirkulasi pulmonal, jaringan, dan daerah kapiler alveolar.
Kelainan ekstrapulmonal disebabkan oleh obstruksi akut maupun obstruksi
kronik. Obstruksi akut disebabkan oleh fleksi leher pada pasien tidak sadar,
spasme larink, atau oedema larink, epiglotis akut, dan tumor pada trakhea.
Obstruksi kronik, misalnya pada emfisema, bronkhitis kronik, asma,
COPD, cystic fibrosis, bronkhiektasis terutama yang disertai dengan sepsis.
b. Gangguan neuromuskular
Terjadi pada polio, guillaine bare syndrome, miastenia gravis, cedera
spinal, fraktur servikal, keracunan obat seperti narkotik atau sedatif, dan
gangguan metabolik seperti alkalosis metabolik kronik yang ditandai
dengan depresi saraf pernapasan.
c. Gangguan/depresi pusat pernapasan
Terjadi pada penggunaan narkotik atau barbiturat, obat anastesi,
trauma, infark otak, hipoksia berat pada susunan saraf pusat.
d. Gangguan pada sistem saraf perifer, otot respiratori, dan dinding dada
Kelainan ini menyebabkan ketidakmampuan untuk mempertahankan
minute volume (mempengaruhi jumlah karbondioksida), yang sering terjadi
pada guillain bare syndrome, distropi muskular, miastenia gravis,
kiposkoliosis, dan obesitas.
e. Gangguan difusi alveoli kapiler
Gangguan difusi alveoli kapiler sering menyebabkan gagal napas
hipoksemia, seperti pada oedema paru (kardiak atau nonkardiak), ARDS,

fibrosis paru, emfisema, emboli lemak, pneumonia, tumor paru, aspirasi,


perdarahan masif pulmonal.
f. Gangguan kesetimbangan ventilasi perfusi (V/Q Missmatch)
Peningkatan deadspace (ruang rugi), seperti pada tromboemboli,
emfisema, dan bronkhiektasis.
C. Patofisiologi
Pada pernafasan spontan inspirasi terjadi karena diafragma dan otot
intercostalis berkontraksi, rongga dada mengembang dan terjadi tekanan
negatif sehingga aliran udara masuk ke paru, sedangkan fase ekspirasi berjalan
secara pasif . Pada pernafasan dengan ventilasi mekanik, ventilator
mengirimkan udara dengan memompakan ke paru pasien, sehingga tekanan
selama inspirasi adalah positif dan menyebabkan tekanan intra thorakal
meningkat. Pada akhir inspirasi tekanan dalam rongga thoraks paling positif

.
D. Klasifikasi
1. Klasifikasi gagal napas berdasarkan hasil analisa gas darah :
a. Gagal napas hiperkapneu
Hasil analisa gas darah pada gagal napas hiperkapneu menunjukkkan kadar
PCO2 arteri (PaCO2) yang tinggi, yaitu PaCO2>50mmHg. Hal ini disebabkan
karena kadar CO2 meningkat dalam ruang alveolus, O2 yang tersisih di
alveolar dan PaO2 arterial menurun. Oleh karena itu biasanya diperoleh
hiperkapneu dan hipoksemia secara bersama-sama, kecuali udara inspirasi
diberi tambahan oksigen. Sedangkan nilai pH tergantung pada level dari
bikarbonat dan juga lamanya kondisi hiperkapneu.
b. Gagal napas hipoksemia
Pada gagal napas hipoksemia, nilai PO2 arterial yang rendah tetapi nilai
PaCO2 normal atau rendah. Kadar PaCO2 tersebut yang membedakannya
dengan gagal napas hiperkapneu, yang masalah utamanya pada hipoventilasi
alveolar. Gagal napas hipoksemia lebih sering dijumpai daripada gagal napas
hiperkapneu.
2. Klasifikasi gagal napas berdasarkan lama terjadinya :
a. Gagal napas akut

Gagal napas akut terjadi dalam hitungan menit hingga jam, yang ditandai
dengan perubahan hasil analisa gas darah yang mengancam jiwa. Terjadi
peningkatan kadar PaCO2. Gagal napas akut timbul pada pasien yang keadaan
parunya normal secara struktural maupun fungsional sebelum awitan penyakit
timbul.
b. Gagal napas kronik
Gagal napas kronik terjadi dalam beberapa hari. Biasanya terjadi pada pasien
dengan penyakit paru kronik, seperti bronkhitis kronik dan emfisema. Pasien
akan mengalami toleransi terhadap hipoksia dan hiperkapneu yang memburuk
secara bertahap.
3. Klasifikasi gagal napas berdasarkan penyebab organ :
a. Kardiak
Gagal napas dapat terjadi karena penurunan PaO2 dan peningkatan PaCO2
akibat menjauhnya jarak difusi akibat oedema paru. Oedema paru ini terjadi
akibat kegagalan jantung untuk melakukan fungsinya sehingga terjadi
peningkatan perpindahan aliran dari vaskuler ke interstisial dan alveoli paru.
Terdapat beberapa penyakit kardiovaskuler yang mendorong terjadinya
disfungsi miokard dan peningkatan left ventricel end diastolic volume
(LVEDV)

dan left ventricel end diastolic pressure (LVEDP) yang

menyebabkan mekanisme backward-forward.


Penyakit yang menyebabkan disfungsi miokard :
Infark miokard
Kardiomiopati
Miokarditi
Penyakit yang menyebabkan peningkatan LVEDV dan LVEDP :
Meningkatkan beban tekanan : aorta stenosis, hipertensi, dan coartasio aorta
Meningkatkan beban volume : mitral insufisiensi, aorta insufisiensi, ASD,
dan VSD.
Hambatan pengisian ventrikel : mitral stenosis dan trikuspid insufisiensi.
b. Nonkardiak
Terjadi gangguan di bagian saluran pernapasan atas dan bawah maupun di
pusat pernapasan, serta proses difusi. Hal ini dapat disebabkan oleh obstruksi,
emfisema, atelektasis, pneumothorak, dan ARDS.
E. Tanda dan Gejala
Tanda :
Gagal nafastotal
1. Aliran udara dimulut, hidung tidak dapat didengar/dirasakan.
2. Pada gerakan nafas spontan terlihat supra klavikula dan sela iga serta tidak
ada pengembangan dada pada inspirasi
6

3. Adanya kesulitan inflasi paru dalam usaha pembverian ventilasi buatan.


Gagal nafas parsial
1. Terdengar suara nafas tambahan gargling, snoring, growing, dan whizing.
2. Ada retraksi dada.
Gejala

Hiperkapnia yaitu penurunan kesadaran (PCO2)


Hipoksemia yaitu takikardia , gelisah, berkeringat atau sianosis (PO2
menurun).

F. Mekanisme Gagal nafas


Beberapa mekanisme yang menyebabkan hipoksemia dapat bekerja
secara sendiri atau bersama-sama.
a. Tekanan partial O2 yang dihirup (FiO2) menurun
Terjadi pada dataran tinggi (high altitude) sebagai respons menurunnya
tekanan barometer, inhalasi gas toksik, atau dekat api kebakaran yang
mengkonsumsi CO.
b. Hipoventilasi
Hipoventilasi akan menyebabkan retensi CO2 dan PaCO2 meningkat.
Peningkatan PaCO2 dapat melebihi batas normal dapat mengganggu
sensitifitas medulla oblongata untuk men-drive pernapasan dan apabila
tidak terkompensasi, dapat menyebabkan apnea.
c. Gangguan Difusi
Akibat pemisahan fisik gas dan darah (pada penyakit paru interstisial)
atau menurunnya waktu transit eritrosit sewaktu melalui kapiler.
d. Ketidakseimbangan (mismatch) ventilasi/perfusi (V/Q) regional
Keadaan ini selalu menyebabkan keadaan hipoksemia yang berarti
dalam klinik. Unit paru yang ventilasinya jelek dibandingkan perfusinya
menyebabkan desaturasi, yang efeknya sebagian tergantung kadar O2 darah
vena. Kadar O2 vena yang menurun menyebabkan keadaan hipoksemia
menjadi

lebih

jelek.

Penyebab

terbanyak

adalah

keadaan

yang

menyebabkan ventilasi paru menurun atau obstruksi saluran napas,


atelektasis,

konsolidasi,

Pemberian

O2

dapat

oedema

kardiogenik

memperbaiki

keadaan

atau

nonkardiogenik.

hipoksemia

apabila

penyebabnya adalah gangguan ketidakseimbangan V/Q, hipoventilasi atau


gangguan difusi oleh karena PaO2 meningkat, walaupun pada daerah yang
ventilasinya jelek. Apabila penderita mendapat O2 100%, hanya daerah

yang sama sekali tidak mendapat ventilasi (shunt) yang menyebabkan


hipoksemia.
e. Shunt
Pada shunt darah vena sistemik langsung masuk kedalam sirkulasi
arterial. Shunt dapat terjadi intrakardiak yaitu pada penyakit jantung
kongenital sianotik right-to-left atau di dalam paru darah melalui jalur
vaskuler abnormal (arterivena fistula). Penyebab paling sering adalah
penyakit paru yang menghasilkan ketidakseimbangan V/Q, dengan ventilasi
regionalnya hampir atau samasekali tidak ada.
f. Pencampuran (admixture) darah vena desaturasi dengan darah arterial
Keadaan ini akan menurunkan PaO2 pada penderita dengan penyakit
paru dan menyebabkan gangguan di pertukaran gas intrapulmonal.
Campuran saturasi O2 vena langsung dipengaruhi oleh setiap imbalan antara
konsumsi O2 dan penyampaian O2. Keadaan anemia yang tidak dapat
dikonsumsi oleh peningkatan output jantung atau output jantung yang
insufisien untuk kebutuhan metabolisme, dapat menyebabkan penurunan
SVO2 dan PaO2.
G. Pemeriksaan Diagnostik
a. Analisa gas darah
Membedakan gambaran kemajuan hipoksemia (penurunan PaO2 meskipun
inspirasi meningkat). Hiperkarbia dapat terjadi pada tahap awal berhubungan
dengan kompensasi hiperventilasi. Hiperkrbia menunjukkan kegagalan
ventilasi.
Hb : dibawah 12 gr%
Analisa gas darah :
pH dibawah 7,35 atau di atas 7,45
PaO2 di bawah 80 atau di atas 100 mmHg
PaCO2 di bawah 35 atau di atas 45 mmHg
BE di bawah -2 atau di atas +2
Saturasi O2 kurang dari 90 %
b. Sinar X (foto thorax)
Melihat keadaan patologik dan atau kemajuan proses penyakit yang tidak
diketahui. Terdapat gambaran akumulasi udara/cairan, dapat terlihat
perpindahan letak mediastinum.
c. Tes fungsi paru
Menunjukkan complain paru dan volume paru menurun.
d. EKG
Memperlihatkan bukti-bukti regangan jantung di sisi kanan atau
menunjukkan disritmia.
8

e. Pemeriksaan saturasi oksigen


Memadainya tekanan oksigen dalam darah arteri, PaO2 diharapkan dihitung
dari persamaan gas alveolar ketika pasien bernafas dengan FiO 2 yang lebih
tinggi dari udara biasa.
H. Penatalaksanaan
a. Jalan nafas
Jalan nafas sangat penting untuk ventilasi, oksigen, dan pemberian obatobatan pernapasan dan harus diperiksa adanya sumbatan jalan nafas.
Pertimbangan untuk insersi jalan nafas artificial seperti ETT berdasarkan
manfaat dan resiko jalan napas artificial dibandingkan jalan napas alami.
Keuntungan jalan napas artificial adalah dapat melintasi jalan napas bagian
atas, menjadi rute pemberian oksigen dan obat-obatan, memfasilitasi
ventilasi tekanan positif dan PEEP . memfasilitasi penyedotan sekret, dan
rute untuk bronkhoskopi.
b. Oksigen
Besarnya aliran oksigen tambahan yang diperlukan tergantung dari
mekanisme hipoksemia dan tipe alat pemberi oksigen. CPAP (Continous
Positive Airway Pressure ) sering menjadi pilihan oksigenasi pada gagal
napas akut. CPAP bekerja dengan memberikan tekanan positif pada saluran
pernapasan sehingga terjadi peningkatan tekanan transpulmoner dan inflasi
alveoli optimal. Tekanan yang diberikan ditingkatkan secara bertahap mulai
dari 5 cm H2O sampai toleransi pasien dan penurunan skor sesak serta
frekuensi napas tercapai.
c. Bronkhodilator
Bronkhodilator mempengaruhi kontraksi otot polos, tetapi beberapa jenis
bronkhodilator mempunyai efek tidak langsung terhadap oedema dan
inflamasi. Bronkhodilator merupakan terapi utama untuk penyakit paru
obstruksi, tetapi peningkatan resistensi jalan nafas juga banyak ditemukan
pada penyakit paru lainnya.
d. Agonis beta-adrenergik
Obat-obatan ini lebih efektif bila diberikan dalam bentuk inhalasi
dibandingkan secara parenteral atau oral.
e. Antikolinergik
Respon bronkhodilator terhadap antikolinergik tergantung pada derajat
tonus parasimpatis intrinsik.
f. Kortikosteroid
Mekanisme kortikosteroid dalam menurunkan inflamasi jalan napas tidak
diketahui secara pasti, tetapi perubahan pada sifat dan jumlah sel inflamasi.
9

g. Fisioterapi dada dan nutrisi


Merupakan aspek penting yang perlu diintegrasikan dalam tatalaksana
menyeluruh gagal nafas.
h. Pemantauan hemodinamik
Meliputi pengukuran rutin frekuensi denyut jantung, ritme jantung tekanan
darah sistemik, tekanan vena central, dan penentuan hemodinamik yang
lebih invasif.
I. Penatalaksanaan Medis
Terapi oksigen
pemberian terapi oksigen kecepatan rendah : masker Venturi atau nasal

prong
Ventilator mekanik dengan tekanan jalan nafas positif kontinu (CPAP).
Inhalasi nebulizer
Fisioterapi dada
Pamantauan hemodinamik/jantung
Pengobatan
- brokodilator
- steroid

Dukungan nutrisi sesuai kebutuhan.

BAB III
KONSEP DASAR KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pengkajian primer
Airway
Peningkatan sekresi pernapasan
Bunyi nafas krekels, ronki dan mengi.
Breathing
Distress pernapasan : pernapasan cuping hidung, takipneu/bradipneu, retraksi.
Menggunakan otot aksesori pernapasan.
Kesulitan bernafas : lapar udara, diaforesis, sianosis.
Circulation
Penurunan curah jantung : gelisah, letargi, takikardia
Sakit kepala
10

Gangguan tingkat kesadaran : ansietas, gelisah, kacau mental, mengantuk


Papiledema
Penurunan haluaran urine
Menurut pengumpulan data dasar oleh Doengoes
Sirkulasi
Tanda : Takikardia, irama ireguler
S3S4/Irama gallop
Daerah PMI bergeser ke daerah mediastinal
Hammans sign (bynui udara beriringan dengan denyut jantung menandakan udara
di mediastinum)
TD : hipertensi/hipotensi
Nyeri/Kenyamanan
Gejala : nyeri pada satu sisi, nyeri tajam saat napas dalam, dapat menjalar ke leher,
bahu dan abdomen, serangan tiba-tiba saat batuk
Tanda : Melindungi bagian nyeri, perilaku distraksi, ekspresi meringis.
Pernapasan
Gejala : riwayat trauma dada, penyakit paru kronis, inflamasi paru , keganasan,
lapar udara, batuk
Tanda : takipnea, peningkatan kerja pernapasan, penggunaan otot asesori, penurunan
bunyi napas, penurunan fremitus vokal, perkusi : hiperesonan di atas area berisi
udara (pneumotorak), dullnes di area berisi cairan (hemotorak); perkusi : pergerakan
dada tidak seimbang, reduksi ekskursi thorak. Kulit : cyanosis, pucat, krepitasi sub
kutan;
mental: cemas, gelisah, bingung, stupor
Keamanan
Gejala : riwayat terjadi fraktur, keganasan paru, riwayat radiasi/kemoterapi
Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat faktor resiko keluarga dengan tuberkulosis, kanker
Pengkajian
Anamnesis
11

Keluhan utama yang sering muncul adalah gejala sesak nafas atau peningkatan
frekuensi nafas. Secara umum perlu dikaji tentang gambaran secara menyeluruh
apakah klien tampak takut, mengalami sianosis, dan apakah tampak mengalami
kesukaran bernafas. Perlu diperhatikan juga apakah klien berubah menjadi sensitif
dan cepat marah (iritability), tanpak binggung (confusion), atau mengantuk
(somnolent). Yang tak kalah penting ialah kemampuan orientasi klien terhadap
tempat dan waktu. Hal ini perlu diperhatikan karena gangguan funngsi paru akut dan
berat sering direfeksikan dalam bentuk perubahan status mental. Selain itu,
gangguan keadaan sering pula dihubungkan dengan hipoksemia, hiperkapnea, dan
asidemia karena gas beracun. Selain itu kaji riwayat penyakit masa lalu, riwayat
penyakit keluarga, lingkungan serta habits/ kebiasaan. Pemeriksaan fisik Keadaan
umum Kaji tentang kesadara klien, kecemasan, kegelisahan, kelemahan suara bicara.
Denyut nadi, frekuensi nafas yang meingkat, penggunaan otot-otot bantu pernafasan,
sianosis.
B1 (Breathing)
Inspeksi Kesulitan bernafas tampak dalam perubahan irama dan frekuensi
pernafasan.
Keadaan normal frekuensi pernafasan 16-20x/menit dengan amplitude yang cukup
besar.
Jika seseorang bernafas lambat dan dangkal, itu menunjukan adanya depresi pusat
pernafasan. Penyakit akut paru sering menunjukan frekuensi pernafasan > 20x/menit
atau karena penyakit sistemik seperti sepsis, perdarahan, syok, dan gangguan
metabolic seperti diabetes militus.
Palpasi
Perawat harus memerhatikan pelebaran ICS dan penurunan taktil fremitus yang
menjadi penyebab utama gagal nafas.
Perkusi
Perkusi yang dilakukan dengan saksama dan cermat dapat ditemukan daerah redup
sampai daerah dengan daerah nafas melemah yang disebabkkan oleh peneballan
pleura, efusi pleura yang cukup banyak, dan hipersonor, bila ditemukan
pneumothoraks atau emfisema paru.
Auskultasi
Auskultasi untuk menilai apakah ada bunyi nafas tambahan seperti wheezing dan

12

ronki serta untuk menentukan dengan tepat lokasi yang didapat dari kelainan yang
ada.
B2 (Blood)
Monitor dampak gagal nafas pada status kardovaskuler meliputi keadaan
hemodinamik seperti nadi, tekanan darah dan CRT.
B3 (Brain)
Pengkajian perubahan status mental penting dilakukan perawat karena merupakan
gejala sekunder yang terjadi akibat gangguan pertukaran gas.Diperlukanan
pemeriksaan GCS untuk menentukan tiingkat kesadaran.
B4 (Bladder)
Pengukuran volume output urin perlu dilakukan karena berkaitan dengan intake
cairan. Oleh karena itu, perlu memonitor adanya oliguria, karena hal tersebut
merupaka tanda awal dari syok.
B5 (Boowel)
Pengkajian terhadap status nutrisi klien meliputi jumlah, frekuensi dan kesulitankesulitan dalam memenuhi kebutuhanya. Pada klien sesak nafas potensial terjadi
kekurangan pemenuhan nutrisi, hal ini karena terjadi dipnea saat makan, laju
metabolism, serta kecemasan yang dialami klien.

B6 (Bone)
Dikaji adanya edema ekstermitas, tremor, tanda-tanda infeksi pada ekstermitas,
turgon kulit, kelembaban, pengelupasan atau bersik pada dermis/ integument.
B. Diagnosa keperawatan
1. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan gangguan aliran udara ke
alveoli atau kebagian utama paru, sekresi tertahan, proses penyakit, ventilasi yang
tidak adekuat.
2. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi
secret/mucus, keterbatasan gerakan dada, nyeri, kelemahan dan kelelahan.
3. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan kelelahan, penurunan ekspansi
paru, pengesetan ventilator yang tidak tepat.
4. Pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake yang tidak adekuat, peningkatan metabolism, dan proses keganasan.

13

5. Cemas berhubungan dengan penyakti kritis, ketakutan / ancaman terhadap


kematian, tindakan diagnostic
C. Intervensi Keperawatan
Diagnosa 1:
Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan gangguan aliran udara ke alveoli
atau kebagian utama paru, sekresi tertahan, proses penyakit, ventilasi yang tidak
adekuat.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan dalam waktu 1x24 jam pertukaran gas
membaik.
Kriteria evaluasi :
- Frekuensi napas 18-20/menit
- Frekuensi nadi 75-100/menit
-Warna kulit normal, tidak ada dipnea, dan gas darah arteri (GDA) dalam batas
normal.
- Dapat mendemonstrasikan batuk efektif
- Hasil analisa gas darah normal :
PH (7,35 7,45)
PO2 (80 100 mmHg)
PCO2 ( 35 45 mmHg)
Intervensi :
1. Pantau status pernapasan tiap 4 jam, hasil GDA, intake, dan output.
Rasional :
Untuk mengidentifikasi indikasi ke arah kemajuan atau penyimpangan dari hasil
klien Tempatkan klien pada posisi semifowler. Posisi tegak memungkinkan
ekspansi paru lebih baik.
2. Berikan terapi intravena sesuai anjuran.
Rasional :
Untuk memungkinkan rehidrasi yang cepat dan dapat mengkaji keadaan vaskuler
untuk pemberian obat-obat darurat.
3. Berikan oksigen melalui kanula nasal 4 L/menit selanjutnya sesuaikan dengan
hasil PaO2.
Rasional :
Pemberian oksigen mengurangi beban otot-otot pernapasan. Kolaborasi dengan
tim medis dalam memberikan pengobatan yang telah tepat serta amati bila ada
tanda-tanda toksisitas. Pengobatan untuk mengembalikan kondisi bronkhus seperti
kondisi sebelumnya.
Diagnosa 2:
Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi
secret/mucus, keterbatasan gerakan dada, nyeri, kelemahan dan kelelahan.
14

Tujuan: Dalam waktu 1x24 jam setelah diberikan intervensi kebersihan jalan napas
kembali efektif, klien akan memperlihatkan kemampuan meningkatkan dan
mempertahankan keefektifan jalan nafas.
Kriteria hasil :
- Tidak ada suara napas tambahan dan wheezing/ronchi (-)
- Pernapasan klien normal (16-20x/menit) tanpa ada penggunaan otot bantu napas
- Dapat medemonstrasikan batuk efektif
- Dapat menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi

Intervensi :
1. Kaji warna, kekentalan, dan jumlah sputum Karakteristik sputum
Rasional :
Menunjukkan berat ringannya obstruksi
2. Atur posisi semifowler
Rasional :
Meningkatkan ekspansi dada
3. Ajarkan cara batuk efektif Batuk yang terkontrol dan efektif
Rasional :
Dapat memudahkan pengeluaran sekret yang melekat dijalan napas
4. Bantu klien latihan napas dalam
Rasional :
Ventilasi maksimal membuka lumen jalan napas dan meningkatkan gerakan sekret
ke dalam jalan napas besar untuk dikeluarkan
5. Pertahankan intake cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali tidak diindikasikan
Hidrasi yang adekuat
Rasional :
Membantu mengencerkan sekret dan mengektifkan pembersihan jalan napas.
6. Lakukan fisioterapi dada dengan teknik postural drainase, perkusi, dan fibrasi
dada. Fisioterapi dada.
Rasional :
Merupakan strategi untuk mengeluarkan sekret
7. Kolaborasi pemberian obat Bronkodilator golongan B2
Nebulizer (via inhalasi) dengan golongan terbutaline 0,25 mg, fenoterol HBr
0,1% Solution, orciprenaline sulfur 0,75 mg
Intravena dengan golongan theophyline ethilenediamine (Aminofilin) bolusb IV
5-6 mg/kgBB
Rasional :
Pemberian bronkodilator via inhalasi akan langnsung menuju area bronkhus yang
mengalami spasme sehingga lebih cepat berdilatasi Pemberian secara intravena
merupakan usaha pemeliharaan agar dilatasi jalan napas dapat optimal. Agen
15

mukolitik dan ekspetoran Agen mukolitik menurunkan kekentalan dan


perlengketan sekret pelu untuk memudahkan pembersihan. Agen ekspetoran akan
memudahkan sekret lepas dari perlengketan jalan napas. Kortikosteroid berguna
pada keterlibatan luas dengan hipoksemia dan menurunkan reaksi inflamasi akibat
edema mukosa dan dinding bronkhus.
Diagnosa 3 :
Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan kelelahan, penurunan ekspansi
paru, pengesetan ventilator yang tidak tepat.
Tujuan: setelah dilakukan asukan keperawatan 1x24 jam klien akan mempertahankan
pola nafas yang efektif.
Kriteria hasil :
- Nafas sesuai dengan irama ventilator
- Volume nafas adekuat
- Tidak nampak adanya cheynes stoke, biot, bradipnea, hiper/hipoventilasi.
- Pernapasan klien normal (16-20x/menit) tanpa ada penggunaan otot bantu napas.
Intervensi:
1. Kaji RR, auskultasi bunyi napas
Rasiomal :
Sebagai sumber data adanya pewrubahan sebelum dan sesudah perawatan
diberikan
2. Beri posisi high fowler atau semi-fowler
Rasional :
Mengembangkan ekspansi paru
3. Dorong untuk latihan napas dalam dan batuk efektif.
Rasional :
Membantu membersihkan mucus dari p[aru dan napas dalam memperbaiki
oksigenasi.
4. Lakukan fisioterapi
Rasional :
Membantu pengeluaransekresi, menmingkatkan ekspansi paru.
5. Berikan oksigen sesuai program
Rasional :
Memperbaiki oksigenasi dan mengurangi sekresi.
6. Monitor peningkatan dan pengeluaran sputum.
Rasional :
Sebagai indikasi adanya kegagalan pada paru.
7. Berikan bronchodilator sesuai indikasi.
Rasional :
Otot pernapasan menjadi relaks dan steroid mengurangi inflamasi.

16

Diagnosa 4 :
Pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake yang tidak adekuat, peningkatan metabolisme, dan proses keganasan.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperwatan 1x24 jam terjadi penurunan distress GI,
tidak terjadi anoreksia/intake adekuat.
Kriteria evaluasi:
- Adanya perbaikan nutrisi / intake
- Dapat mendemonstrasikan intake makanan yang adekuat untuk memenuhi
kebutuhan
tubuh.
- Intake makanan meningkat, tidak ada penurunan BB lebih lanjut, menyatakan
perasaan
sejahtera.
Intervensi :
1. Berikan porsi makan kecil tapi sering 5 6 kali sehari dengan makanan yang
disukainya.
Rasional :
Makanan kecil tapi sering menyediakan energi yang dibutuhkan , lambung tidak
terlalu
penuh, sehingga memberikan kesempatan untuk penyerapan makanan.Makanan
yang disukai mendorong untuk makan dan meningkatkan intake.
2. Berikan makanan halus, rendah lemak, gunakan warna.
Rasional :
Makanan berbumbu dan tinggi lemak dapat meningkatkan distress pada gi
sehingga sulit dicerna.
3. Anjurkan menghindari makanan yang menyebabkan alergi.
Rasional :
Dapat menimbulkan serangan akut pada anak yang sensitive.
4. Berikan perawatan mulut tiap 4 jam. Pertahankan kesegaran ruangan.
Rasiomal :
Bau yang tidak menyenangkan dapat mempengaruhi nafsu makan.
5. Rujuk kepada ahli diet untuk membantu memilih makanan yang dapat memenuhi
kebutuhan gizi.
Rasional :
Ahli diet adalah spesialisasi dalam ilmu gizi yang dapat membantu klien memilih
makanan yang dapat memenuhi kebutuhan kalori dan kebutuhan gizi sesuai
dengan keadaan sakitnya, usia, tinggi, dan berat badan klien.
Diagnosa 5 :
Cemas berhubungan dengan penyakti kritis, ketakutan / ancaman terhadap kematian,
tindakan diagnostic.

17

Tujuan: setelah diberikan assuhan keperawatan 2x24 jam kecemasan keluarga dan
klien
Menurun
Kriteria evaluasi :
- Klien tampak tenang.
- Klien dapat mengekspresikan perasaannya.
Intervensi :
1. Ajarkan teknik relaksasi; latihan napas dalam, imajinasi terbimbing.
Rasional :
Pengalihan perhatian selama episode asma dapat menurunkan ketakutan dan
kecemasan.
2. Informasikan tentang perawatan, pengobatan dan kondisi pasien kepada individu
maupun keluarga.
Rasional :
Menurunkan rasa takut dan kehilangan control akan dirinya

D. Implementasi keperawatan
Implementasi keperawatan ialah tindakan pemberian asuhan keperawatan
yang dilaksanakan untuk membantu mencapai tujuan pada rencana keperawatan yang
telah disusun. Prinsip dalam memberikan tindakan keperawatan menggunakan
komunikasi terapeutik serta penjelasan setiap tindakan yang diberikan kepada klien.
Selain itu, juga berprinsip melakukan tindakan keperawatan yang telah dituliskan
dalam rencana keperawatan dan menuliskan setiap tindakan keperawatan yang telah
dilakukan.
Tindakan keperawatan yang dilakukan dapat berupa tindakan keperawatan
secara independent, dependent, dan interdependent. Tindakan independen yaitu suatu
kegiatan yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk atau perintah dokter atau tenaga
kesehatan lainnya. Tindakan dependen ialah tindakan yang berhubungan dengan
tindakan medis atau dengan perintah dokter atau tenaga kesehat lain. Tindakan
interdependen ialah tindakan keperawatan yang memerlukan kerjasama dengan tenaga
kesehatan lain seperti ahli gizi, radiologi, fisioterapi dan lain-lain.
Dalam melakukan tindakan pada pasien dengan gagal napas perlu diperhatikan
ialah penanganan terhadap tidak efektifnya bersihan jalan napas, gangguan pertukaran
gas, pola napas tidak efektif, kondisi aktual atau resiko penurunan curah jantung,
adanya ansietas/ketakutan.
E. Evaluasi keperawatan

18

Evaluasi merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan yang dapat


digunakan sebagai alat ukur kerberhasilan suatu asuhan keperawatan yang dibuat.
Evaluasi berguna untuk menilai setiap langkah dalam perencanaan, mengukur
kemajuan klien dalam mencapai tujuan akhir dan untuk mengevaluasi reaksi dalam
menentukan keefektifan rencana atau perubahan dalam membantu asuhan
keperawatan. Evaluasi keperawatan ada 2 macam, yaitu evaluasi formatif dan evaluasi
sumatif. Evaluasi formatif dilakukan sesaat setelah memberikan implementasi
keperawatan untuk menilai keberhasilan terapi dalam jangka pendek. Sedangkan
evaluasi sumatif dilakukan untuk menilai keberhasilan terapi dalam jangka panjang.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Gagal napas adalah gangguan pertukaran gas antara udara dengan sirkulasi
yang terjadi di pertukaran gas intrapulmonal atau gangguan gerakan gas masuk
keluar paru. Menurut Joy M. Black (2005), gagal napas adalah suatu keadaan
yang mengindikasikan adanya ketidakmampuan sistem respirasi untuk memenuhi
suplai oksigen untuk proses metabolisme atau tidak mampu untuk mengeluarkan
karbondioksida. Sedangkan menurut Susan Martin (1997), gagal napas adalah
ketidakmampuan sistem pernafasan untuk mempertahankan oksigenasi darah
normal, eliminasi karbondioksida, dan pH yang adekuat disebabkan oleh masalah
ventilasi, difusi, atau perfusi.
Gagal napas akut adalah pertukaran gas yang tidak adekuat sehingga terjadi
hipoksia, hiperkapnia (peningkatan konsentrasi karbon dioksida arteri), dan
asidosis (Arif Muttaqin, 2008)
B.

Saran
Diharapakn dengan adanya makalah ini dapat menjadi salah satu referensi
yang bisa menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya tentang sistem
pernafasan.

19

Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat , kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat diharapkan oleh penulis

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2012). Asuhan Keperawatan Gagal Napas.


www.ilmukeperawatan.com. Diakses tanggal 18 Januari 2012.
Anonim. (2011). The 2009-2011 Nursing Diagnoses Organized According to a
Nursing Focus by Doenges/Moorhouse Diagnostic Divisions.
http://keperawatan .net. Diakses tanggal 20 Januari 2012.
Anonim. (2012). Gagal Nafas dan Oedema Paru.
http://www.scribd.com/doc/3510727/html. Diakses tanggal 18 Januari 2012.
Muttaqin, Arif. 2008. Pengantar Asuhan Leperawatan Klien dengan Gangguan System
Pernafasan. Jakarta: Salemba Medikal.
Brunner and Suddart. (2002). Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2. Jakarta :
EGC.
Chang, Ester, 2009, Patofisiologi: aplikasi pada praktik keperawatan,
EGC: Jakarta
http://kegawatdaruratan.blogspot.com/2008/02/asuhan-keperawatan-klien-gagal-napas.html
20

Marilynn E Doengoes, et all, alih bahasa Kariasa IM, (2000). Rencana Asuhan
Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian
Perawatan Pasien. EGC: Jakarta.
Morton, Patricia Gonce, 2011, Keperawatan Kritis: Pendekatan Asuhan Kep. Holistik, Ed.
8,Egc: Jakarta
http://curupmedicalcomunnity.blogspot.com/p/anatomi-dan-fisiologi-sistem-pernapasan.html

21