Anda di halaman 1dari 12

ISSN: 1411-8297

Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011


PENGARUH BIOCHAR DARI LIMBAH SAGU TERHADAP PELINDIAN
NITROGEN DI LAHAN KERING MASAM
Oleh:
Latuponu H. , Dj. Shiddieq2, A. Syukur2, E. Hanudin2
1

Fakultas Pertanian, Universitas Darussalam Ambon


Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh biochar dari limbah sagu terhadap pelindian N
di lahan kering masam. Rancangan yang digunakan adalah RAL (Rancangan Acak Lengkap) faktorial dengan
dua faktor. Faktor pertama adalah kombinasi macam biochar dan Pupuk N terdiri atas: kontrol, pupuk N, biochar
200 oC, biochar 400 oC, biochar 600 oC, Biochar 200 oC + pupuk N, Biochar 400 oC + pupuk N, biochar 600 oC
+ pupuk N. faktor kedua adalah waktu inkubasi terdiri atas: 2, 4 dan 6 minggu, sehingga ada 72 unit percobaan.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Tanah Umum Universitas Gadjah Mada. Data penelitian dianalisis
dengan uji F dan DMRT pada tingkat ketelitian 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan biochar
400 dengan waktu inkubasi 3 minggu paling tinggi meningkatkan sifat kimia tanah: pH, Al-dd, KPK dan Corganik. Daya sangga tanah paling tinggi terhadap pelindian N dicapai pada pelakuan biochar 400 oC sebesar
33,65%.
Kata kunci: biochar limbah sagu, pelindian, Nitrogen, lahan kering masam.

ABSTRACT

The experiment was carried out to study effect type of sago waste biochar (SWB) and incubation time to
nitrogen leaching in acid upland. These two factors were arranged in Completely Randomized Design (CRD)
with 3 replications. The first factor was combination of SWB and N fertilizer consists of control, N fertilizer,
SWB 200 oC, SWB 400 oC, SWB 600 oC, SWB 200 oC + N fertilizer, SWB 400 oC + N fertilizer, SWB 600 oC +
N fertilizer. The second factor was the incubation period i.e.: 2, 4 and 6 weeks, so there were 72 treatment
combinations. The research was conducted in Soil General Laboratory, Faculty of Agriculture, Gadjah Mada
University. Data of the experiment were analyzed by F test and DMRT at 95% accuracy level. The results
showed that treatment SWB 400 and three weeks incubation time can increase soil chemical properties namely:
pH, exchangeable Al, CEC, and organic C. The highest of soil buffering capacity to N leaching was achieved
33.65% at SWB 400 oC.
Key words: sago waste biochar, leaching, nitrogen, acid upland

Jawa

PENDAHULUAN

yang

mempunyai

kepadatan

Alasan utama pemanfaatan lahan

penduduk paling tinggi di Indonesia.

kering untuk pengembangan pertanian

Penyempitan luas lahan di pulau Jawa dari

adalah

waktu ke waktu mencapai 50.000 ha setiap

semakin

menyempitnya

lahan

produktif, antara lain disebabkan oleh


penggunaan

lahan

dialihfungsikan
Penggunaan
sektor

ke

lahan

industri,

pertanian
non
untuk

yang

pertanian.
kepentingan

Peningkatan produksi pertanian terus


diupayakan

untuk

mengimbangi

laju

pertumbuhan penduduk yang makin tinggi.

dan

Dalam rangka peningkatan kesejateraan

tergusurnya

petani dan untuk memenuhi kebutuhan

tanah-tanah pertanian terutama di pulau

pangan nasional, maka peningkatan hasil

transportasi

144

pemukiman,

tahunnya (Soemartono cit Utari, 2003).

menyebabkan

ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
tanaman pangan mendapat prioritas utama

menyebabkan

(Utari, 2003). Untuk memenuhi kebutuhan

mineralisasi pembenah tanah dari bahan

pangan maka lahan kering menjadi pilihan.

organik

Lahan kering seperti tanah Ultisol dengan

kebutuhan bahan-bahan pembenah tanah

sebaran luas lahan mencapai 45,9 juta ha

terus meningkat dari waktu ke waktu.

atau 24,3 % dari daratan Indonesia

Penggunaan bahan alamiah yang tepat

(Subagyo et al., 2000) yang sampai saat ini

untuk meningkatkan kesuburan tanah dan

belum termanfaatkan secara maksimal.

tahan

Tanah

masalah

dimanfaatkan biochar. Biochar adalah

kesuburan tetapi dapat direkayasa untuk

arang hasil pembakaran (pirolisis) tanpa

dijadikan lahan pertanian dibandingkan

oksigen atau dengan O2 rendah pada suhu

dengan jenis tanah lainnya di lahan kering.

<700 C (Cheng et al., 2007; Lehmann and

Ultisol

lahan

Joseph, 2009). Biochar berasal dari residu

dengan relief berombak sampai berbukit di

pertanian, perkebunan, peternakan dan

daerah

yang

kehutanan. Penggunaan istilah biochar ini

beriklim basah (Van Ranst, 1991). Tanah

untuk mengghindari pemahaman arang

tersebut bereaksi masam pada sebagian

yang berasal dari batubara, fungsi arang

besar kedalaman, bahan induk berasal dari

sebagai bahan bakar, penggunaan arang

batuan kristalin bersilika atau bahan

sebagai adsorben pada industri makanan

sedimen yang relatif miskin kandungan

dan farmasi, penggunaan arang untuk

basanya. Tanah masam berkembang dari

mengatasi limbah pada larutan atau air

bahan induk yang kaya akan Al dan Fe

yang tercemar, dan lainnya (Brown, 2009).

yang mudah mengalami pelapukan.

Kualitas biochar sangat dipengaruhi oleh

ini

menempati
tropika

Upaya
tanah

memiliki

ini

diantaranya

dan

banyak

permukaan
subtropika

peningkatan
telah
dengan

banyak

produktivitas
dilakukan

pemberian

bahan

laju

perombakkan

semakin

tinggi.

terhadap

bahan

baku,

Akibatnya

dekomposisi

dan

cara

dan

dapat

pembakaran

(Lehmann and Joseph 2009).


Limbah

sagu

merupakan

bahan

organik, hijauan, batuan beku, zeolit,

organik yang mudah diperoleh untuk

pengapuran. Penggunaan pembenah tanah

digunakan

tersebut di atas terbukti meningkatkan

Pemanfaatan

kesuburan tanah dan produksi tanaman,

amelioran

namun pembenah tanah dengan bahan

melalui

alamiah ini terus diberikan setiap kali

sebagai kompos dan cara buatan seperti

musim tanam dan hasil tanaman yang tidak

biochar melalui pembakaran. Kompos

stabil. Wilayah tropika seperti Indonesia

yang dihasilkan cara alami membutuhkan

sebagai
limbah

dapat

amelioran
sagu

dengan

dekomposisi

tanah.
sebagai

cara

alami

mikroba

tanah

145

ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
waktu yang lama karena limbah ini

Banyak cara untuk mengurangi jumlah

mengandung air yang tinggi menyebabkan

hara yang ikut hilang saat terlindi air

proses

lambat.

(Steiner et al., 2008). Cara yang jitu untuk

kompos yang dihasilkan hanya dapat

mengatasi hal tersebut adalah dengan

digunakan pada ketebalan timbunan 3 cm,

penggunaan

karena pada lapisan timbunan berikutnya

limbah sagu, karena bahan ini dapat

masih berbentuk gel. Kompos dalam

memperbaiki

bentuk gel belum dapat dimanfaatkan

biologi tanah

sebagai amelioran.

fungsional kompleks, afinitas yang tinggi,

secara

dekomposisi

alami

berjalan

Kelangkaan kompos

biochar

kimia, fisika, dan

dan mengandung gugus

dan amorf serta tahan lama di dalam tanah

dapat

(Amonette and Joseph et al., 2009; Sohi et

diproduksi dalam waktu singkat melalui

al., 2009). Biochar yang telah digunakan

proses pembakaran sekitar 0,5 3 jam

sebagai amelioran dewasa ini diantaranya

(Brown, 2009). Hasil pembakaran dapat

dari sekam padi (Masuli, 2010). Tujuan

langsung digunakan sebagai amelioran

penelitian ini adalah untuk mendapatkan

tanah. Biochar umumnya mempunyai pH

kombinasi macam biochar dengan pupuk N

basis, KPK, C-organik dan luas permukaan

dan waktu inkubasi yang paling sesuai

tinggi (Liang et al., 2006; Lehmann, 2007).

untuk meningkatkan daya sangga tanah

Daya serap air dari biochar tinggi dan

terhadap pelindian hara N.

tahan

biochar.

diatasi

sifat

amelioran

dengan

pembuatan

dapat

bahan

Biochar

terhadap

mikroorganisme.

dekomposisi

Sifat-sifat

tersebut

menyebabkan bahan ini memiliki daya

METODE PENELITIAN
Penelitian

dilaksanakan

retensi hara tinggi sehingga mengurangi

percobaan

pelindian hara (Steiner, 2007; Laird et al.,

pelindian di rumah kaca Jurusan Tanah

2010a). Menurut Novak et al., (2010),

Faperta UGM. Tanah diambil dari jalur

biochar

Tanggeran

selain

retensi

air

tinggi,

kolom

paralon

dengan

Karangsalam

(tabung)

Sumagede,

mengandung unsur hara N, P, K, yang

Banyumas, Jawa Tengah pada kedalaman

dapat diserap oleh tanaman (Chan and Xu,

0 - 20 cm, kemudian tanah dicampur

2009).

secara komposit. Biochar limbah sagu

Kehilangan

hara

paling

diambil dari kelompok Tani Sagu Tuni,

tinggi di tanah adalah terlindi bersama air

Tulehu, Kabupaten Maluku Tengah. Proses

keluar

pembuatan

lingkungan

tersedia

perkaran

tanaman.

biochar

dilaksanakan

di

Kandungan hara tersedia dibatasi oleh

Laboratorium Energi Biomassa Fakultas

jumlah air sangat rendah atau sangat tinggi.

Kehutanan UGM. Biochar terdiri atas tiga

146

ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
macam yaitu biochar suhu pirolisis: 200
C, 400 oC dan 600 oC selanjunya diberi

= kadar lengas pada kondisi jenuh


(pF 0) %

= kadar lengas pada


lapangan (pF 2,54) %

= berat contoh tanah yang digunakan


(gram)

= kadar lengas tanah pada saat itu

kode (B2, B4, dan B6). Pupuk N yang


digunakan adalah Urea pada takaran 300
kg Urea/ha. Pupuk P, 200 kg SP36/ha, dan
K, 75 kg KCl/ha sebagai pupuk basal.
Kolom

lindian

menggunakan

kapasitas

paralon

Percobaan menggunakan Rancangan

ukuran 30 cm diameter 7,2 cm. Air

Acak Lengkap Faktorial dengan 3 ulangan.

aquades untuk pelindian.

Faktor pertama adalah Macam biochar dan

Contoh tanah kering angin ukuran 2

pupuk

N,

aras

yaitu

K0

(tanpa

mm sebanyak 730 g dicampur merata

perlakuan), B2, B4, B6, pupuk N, B2+N,

dengan

g,

B4+N, B6+N. Faktor kedua adalah waktu

dimasukkan dalam tabung paralon (kolom

inkubasi 3 aras yaitu dua minggu (II),

tanah) setinggi 22 cm. Pupuk Urea dosis

empat minggu (IV), dan enam minggu

anjuran 1,4 g dicampur dengan tanah

(VI), dengan 3 ulangan sehingga terdapat

komposit

72 kombinasi perlakuan. Data pengamatan

dimasukkan dalam kolom tanah yang

dianalisis dengan uji-F dan DMRT pada

sebelumnya telah diisi tanah komposit

tingkat ketelitian 95%.

biochar

sebanyak

6,38

(tanah+biochar)

20

kemudian diketok-ketok sampai kerapan


lindak sekitar 1,1 g/cm3. Tanah dalam

HASIL DAN PEMBAHASAN

kolom ditutup kapas saring tebal 3 cm.

Karakterisrik tanah dan biochar

Kolom paralon ini dirancang pada satu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa

ujungnya ditutup kain kasa dan kapas

tanah yang digunakan mengandung tekstur

saring,

jernih,

lempungan cukup tinggi dan didominasi

kemudian diinkubasi selama dua, empat,

oleh pori mikro, akibatnya unsur hara yang

enam minggu pada kondisi tanah kapasitas

terlarut dalam air banyak tertahan di dalam

lapang. Waktu inkubasi diberi kode (II, IV,

pori mikro (Tabel 1).

dan IV). Selanjutnya tanah dalam paralon

memperlihatkan nilai bahan organik, KPK,

dilindi

P tersedia, N total, dan K-dd tanah rendah,

sehingga

dengan

air

aquades

lindian

menggunakan

Data Tabel 1

persamaan menurut Syukur (2005):

sehingga tanah ini mempunyai kesuburan

JA={[((A+B)/2)-C]/100}x[(100P/(100+C]

aktual yang rendah. Nilai pH H2O yang

Keterangan:

masam menghambat ketersediaan hara P

JA = jumlah aquades yang ditambahkan

yang merupakan masalah utama tanah ini

147

ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
setelah

nitrogen.

Bahan

d=4,4531, d=4,2069 dan d=3,5924 diduga

organik dan C-organik meskipun tidak

bahwa tanah di daerah lereng utara

mempengaruhi ketersediaan hara N, P, dan

pegunungan

K secara langsung namun rendahnya

mempunyai karakteristik sebagai tanah

komponen tersebut di tanah menyebabkan

berpelapukan lanjut yang dipenuhi Typic

ketersediaan hara makro tersebut rendah.

Kandiudult, sangat

Kadar Al-dd tanah dan kejenuhan Al yang

isohipertermik

tinggi

menyebabkan

Dominansi mineral tipe 1:1 ini yang

ketersediaan P rendah. Hal ini diakibatkan

menyebabkan ketersediaan hara rendah,

oleh

meningkatkan

akibatnya tanaman yang ditumbuhkan pada

kelarutan Al, akibatnya terbentuk ikatan

Ultisol menjadi kerdil daun berwarna ungu

Al-P dan Fe-P. Mineral kaolonit yang

dan menghambat pembetukan buah (Taiz

dominan pada Ultisol menyebabkan N-

et al, 2002; Ismangil, 2008).

pada
pH

yang

Kandungan

Ultisol
rendah

NO3- dan H2PO4- terjerap pada permukaan

Hasil

mineral akibatnya ketersediaan N maupun

bahwa

P tanah rendah.

meningkatkan

Berdasarkan hasil analisis X-ray

serayu

Banyumas,

halus, kaolinitik,
(Ismangil,

penelitian

biochar

2008).

menunjukkan

potensial

kualitas

mempunyai pH tinggi,

tanah

untuk
karena

kandungan C-

lempung Ultisol pada kedalaman 20 cm

terikat, KPK dan luas permukaan yang

menunjukkan adanya mineral penyusun

tinggi (Tabel 2). Sifat kimia biochar

tanah kaolinit yang tersebar pada 4 puncak

tersebut cocok sebagai amelioran tanah

dengan nilai d, berturu-turut d=7,569,

masam untuk meningkatkan ketersediaan

Tabel 1. Beberapa sifat kimia tanah Ultisol


Komponen analisis
Satuan
Nilai
Tekstur:
Pasir
%
24.25
Debu
%
6.67
Lempung
%
68.99
pH (H2O)
4.73
(KCl)
3.22
Bahan organik
%
2.43
C-organik
%
1.21
-1
KPK
cmol(+)kg
9.63
Al-dd
cmol(+)kg-1
1.08
Kejenuhan Al
%
20.46
N-total
%
0.14
P-total
Ppm
193.54
P-tersedia (Bray I)
Ppm
1.23
K-dd
cmol(+)kg
0.16
Keterangan: * Pengharkatan menurut Balittanah, (2009)

148

Pengharkatan*

Masam
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
tinggi
Sedang
Sangat rendah
Sangat rendah
Sedang

ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
Tabel 2. Beberapa sifat kimia Biochar
Sifat kimia biochar
Biochar suhu
Biochar suhu
pirolisis 200 oC
pirolisis 400 oC
(B2)
(B4)
Kadar abu (%) *
15,2 s
16,8 s
Kadar air (%) *
2,3 r
2,4 r
Volatil (%) *
44,0 t
34,7 t
pH **
8,0 t
9,8 t
KPK (cmol(+)kg-1) **
27,0 s
28,1 s
Karbon (%) **
48,0 s
45,2 s
Luas permukaan (cm2g-1)**
38,5 r
103,7 t
Keterangan: r= rendah, s= sedang, t= tinggi. *(Hartoyo et al., 1978;
Indonesia, 1995), ** Lehmann, (2007)

Biochar suhu
pirolisis 600 oC
(B6)
20,0 t
1,3 r
34,9 t
8,6 t
27,8 s
38,6 s
135,4 t
Standar Nasional

Gambar 1. Gugus fungsional biochar (B400), Furier Transformasi Infra Red (FTIR)
hara bagi tanaman. Sifat kimia yang dan

rentang pada puncak 600-1600. Gugus

sifat fisika biochar yang sesuai sebagai

C=O, OH dengan rentang pada puncak

amelioran

100-1200,

dapat

meningkatkan

sedangkan

gugus

NH2NH

produktivitas tanah hal ini ditunjukan oleh

dengan rentang pada puncak 3200-3500

karakteristik biochar: kadar abu, kadar air,

(Sastromijojo, 1992; Whittaker, 2000).

volatil dan luas permukaan, dan gugus

Dari komposisi ini diduga biochar dapat

fungsional (Tabel 1 dan Gambar 1)

mengurangi fiksasi N-NO3- dan anion

(Nurida et al., 2008).

fosfat pada permukaan mineral kaolinit 1:1

Berdasarkan
gugus

fungsional

Gambar

kompleks

sebaran

maupun anion yang terjerap oleh Al-P dan

pada

Fe-P. Kompleks jerapan yang tercipta oleh

permukaan biochar (B400) menunjukkan

gugus

fungsional

biochar

dengan

gugus aromatik OH, C-C, dominan dengan

permukaan mineral maupun -Al dan -Fe

149

ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
menyebabkan pelepasan anion dan diduga

biochar Tabel 2 dan Gambar 1, biochar

pelepasan P tersedia ini dapat berlangsung

dapat meningkatkan sifat kimia dan daya

dalam waktu lama karena biochar stabil di

pegang

dalam tanah (Amonette and Joseph, 2009).

mempunyai luas permukaan yang luas

Pengaruh Perlakuan Kombinasi Macam


Biochar dengan Pemupukan N

terindikasi komposisi pori-pori mikro dan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa


pemberian macam biochar B2 dan B4 +
pupuk N dosis anjuran meningkatkan sifat
kimia tanah (kandungan C-organik dan
KPK) serta menurunkan kemasaman tanah
(pH

H2O

dan

Al-dd)

(Tabel

3).

Peningkatan suhu pembakaran menjadi


600

C,

macam

meningkatkan
cenderung

biochar

sifat

menurun.

ini

tanah
Biochar

tidak
bahkan
yang

dipirolisis pada suhu tinggi (B6) selama 3


jam mengakibatkan kandungan abu tinggi,
biochar

menjadi

higrokopis,

mudah

berasosiasi dengan senyawa lain sehingga


menyebabkan pori biochar jenuh akibatnya
menurunkan kemampuan biochar sebagai
amelioran di tanah.
Pengaruh
lama
waktu
inkubasi
terhadap perubahan beberapa sifat
kimia tanah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pH, Al-dd, KPK, dan C-organik tanah
meningkat pada enam minggu inkubasi,
kemudian empat minggu dan yang paling
kecil dua minggu (Tabel 3). Hal ini
menunjukkan bahwa inkubasi biochar 6
minggu paling cocok untuk meningkatkan
kemampuan biochar sebagai amelioran di
lahan kering. Berdasarkan karakteristik

150

air

yang

tinggi.

Biochar

makro di dalam biohar menyebabkan


terjadi keseimbangan jumlah air dan udara
di dalam tanah. Biochar yang dihasilkan
pada suhu 200

C, pembentukan pori

belum sempurna sehingga luas permukaan


dan afinitas rendah dibanding biochar yang
dihasilkan pada suhu pirolisis 400 oC dan
600

C.

dipengaruhi

Kandungan
oleh

Al-dd

pemberian

tanah
biochar.

Pemberian biochar menurunkan kandungan


Al-dd tanah paling rendah pada pemberian
biochar (B4) baik tanpa pupuk maupun
ditambahkan pupuk N. Kemampuan ini
ditunjukan oleh karakteristik biochar B4
(Gambar 1) memiliki gugus fungsional,
yang dapat berperan dalam kompleks
jerapan sehingga retensi hara meningkat
pelepasan anion dan pengurangi pelindian
hara (Laird et al, 2010a; Sohi et al., 2009).
Pengaruh pemberian macam biochar
terhadap pelindian N
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kombinasi biochar dengan pemupukan N
(Urea) nyata mempengaruhi jumlah N pada
air

lindian

maupun

kolom

tanah.

Kandungan N paling tinggi pada perlakuan


macam biochar suhu pirolisis 400 oC (B4)
tanpa urea. Pola yang sama juga terjadi
pada pemberian B4+ Urea (B4 + Urea)

ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
Tabel 3. Data rataan beberapa sifat kimia tanah setelah pelindian
pH
pH
Al-dd
KPK
C-organik
Perlakuan
(H2O)
(KCl) (cmol(+)/kg) (cmol(+)/kg)
(%)
Kontrol
4.77 d
3.71 d
1.11 a
8.96 e
1.16 d
Biochar 200 (B2)
5.69 b
4.63 c
0.23 b
13.93 d
2.99 bc
Biochar 400 (B4)
5.89 a
4.74 bc 0.16 c
16.69 c
4.52 a
Biochar 600 (B6)
5.73 ab 4.59 c
0.17 bc
15.41 c
3.40 bc
Pupuk N
5.09 c
4.62 b
0.19 b
13.07 d
2.38 c
Biochar 200 + Pupuk N
5.63 bc 4.77 bc 0.20 b
16.71 c
3.80 ab
(B2+N)
Biochar 400 + Pupuk N
5.88 a
4.78 b
0.16 c
18.79 a
4.29 a
(B4+N
Biochar 600 + Pupuk N
5.68 bc 4.92 a
0.19 b
17.03 b
3.82 ab
(B6+N)
Keterangan: angka yang diikuti huruf sama dalam kolom yang sama berbeda tidak nyata pada
Uji DMRT dengan tingkat kepercayaan 95%.
Tabel 4. Data rataan kandungan nitrogen, akibat pemberian macam biochar dan pupuk N
Kandungan N air lindian
Kandungan N
Macam biochar dan pupuk N
(mg/L)
kolom tanah (mg/kg)
Kontrol
9,12 h
11,64 e
Biochar 200 (B2)
14,72 e
38,35 d
Biochar 400 (B4)
10,87 g
31,97 d
Biochar 600 (B6)
13,84 f
64,07 c
Pupuk N
104,17 a
128,00 b
Biochar 200 + Pupuk N (B2+N)
87,12 b
187,78 a
Biochar 400 + Pupuk N (B4+N
62,35 d
188,01 a
Biochar 600 + Pupuk N (B6+N)
70,88 c
185,87 a
Keterangan: angka yang diikuti huruf sama dalam kolom yang sama berbeda tidak nyata pada
Uji DMRT dengan tingkat ketelitian 95%.

Gambar 2. Konsentrasi N terlindi akibat pemberian macam biochar dan pupuk N

151

ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
kandungan N paling tinggi (Tabel 4).

subur sehingga kurang diminati petani

Meskipun pengaruh biochar meningkatkan

untuk dijadikan lahan budidaya pertanian.

daya sangga tanah terhadap pelindian N,

Pengaruh waktu
pelindian N

namun kandungan N air lindian pada


perlakuan

B4

Urea

lebih

tinggi

dibandingkan perlakuan biochar tanpa


Urea. Hal ini disebabkan adanya pasokan
hara dari pemupukan meningkatkan jumlah
hara yang terlindi sedangkan tanah yang
diberikan biochar tanpa Urea kandungan N
air lindian rendah. Dilain sisi meskipun
jumlah N dalam air lindian tinggi pada
perlakuan biochar + Urea, namun jumlah
hara yang tertahan pada kolom tanah juga
meningkat, artinya ada daya sangga tanah
setelah

penambahan

biochar

sehingga

jumlah N yang terlindi menurun. Hal ini


terlihat persentase hara terlindi pada
perlakuan

biochar

sekitar

33-45%,

sedangkan tanah tanpa perlakuan dan tanah


yang hanya diberi pemupukan N tanpa
dibarengi amelioran biochar persentase
hara terlindi mencapai 76-81% (Gambar
2). Pelindian ini sangat besar, artinya hara
yang mengalir keluar area jangkauan akar
tanaman

tinggi.

Kondisi

ini

diduga

menyebabkan lahan kering menjadi kurang

Waktu

inkubasi

inkubasi

terhadap

mempengaruhi

kandungan N air lindian dan hara tersedia


tanah.

Hasil

penelitian

bahwa

konsentrasi

menunjukkan
paling

tinggi,

fluktuatif antara empat dan enam minggu


waktu

inkubasi

(Tabel

5).

Hal

ini

kemungkinan proses oksidasi permukaan


biochar dan peranan dari gugus fugsional
belum mencapai maksimal pada minggu ke
4

waktu

inkubasi

berlangsung secara

dan

selanjutnya

perlahan

sehingga

kandungan N tidak saling beda pada


berbagai macam biochar. Dugaan lainnya
adalah tanah yang diberi amelioran biochar
akan menahan air dalam jumlah besar
menyebabkan kelembaban tinggi

dan

limbah sagu sebagai bahan aktif biochar


mengandung

senyawa

kimia

seperti

selulosa dan lignin yang tinggi (Hartati,


2001) sehingga memperlambat proses
perombakan. Pelindian N menurun seiring
lama waktu inkubasi. Konsentrasi N
terlindi terendah pada minggu ke 6 waktu
inkubasi sebesar (35,5%) (Gambar 3).

Tabel 5. Kandungan N akibat perlakuan lama waktu inkubasi


Kandungan N air lindian
Kandungan N kolom tanah
Lama waktu Inkubasi
(mg/L)
(mg/kg)
Minggu ke 2
101,67 a
133,01 a
Minggu ke 4
61,24 b
111,71 a
Minggu ke 6
36,59 c
103,04 a
Keterangan: angka yang diikuti huruf sama dalam kolom yang sama berbeda tidak nyata pada
Uji DMRT dengan tingkat ketelitian 95%.

152

ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011

Gambar 3. Konsentrasi N terlindi pada perlakuan lama waktu inkubasi


Pemberian

amelioran

biochar

berbahan baku limbah sagu suhu pirolisis


400o C selama tiga jam dan lama waktu
inkubasi 3 minggu mampu meningkatkan
sifat kimia tanah setelah dilindi air dan
meningkatkan daya sangga tanah terhadap
pelindian N. Kenyataan ini menunjukkan
bahwa amelioran biochar dapat digunakan
sebagai

amelioran

tanah

untuk

meningkatkan kesuburan tanah pada lahan


kering.
KESIMPULAN
Pemberian amelioran biochar limbah
sagu suhu pirolisis 400 oC dan diinkubasi 6
minggu meningkatkan kandungan sifat
kimia tanah (pH, Al-dd, KPK, C-organik)
dan daya sangga tanah paling tinggi
terhadap pelindian N ditunjukkan dengan
kandungan N terendah pada air lindian
sebesar 33, 5%.

DAFTAR PUSTAKA
Amonette J.E. and S. Joseph. 2009.
Characteristics
of
Biochar:
Microchemical Properties Hal 3343. In Lehmann, J. and S. Joseph,
2009. Biochar for Environmental
Management. First published by
Earthscan in the UK and USA in
2009. p 416.
Balai Penelitian Tanah, 2009. Analisis
Kimia Tanah, Tanaman, Air dan
Pupuk. Balai Penelitian Tanah,
Bogor. 234h.
Brown, R., 2009. Biochar Production
Technology.
In:
Biochar
for
Environmental Management: Science
and
Technology
(Eds).
J.
Lehmannand S. Joseph. 2009.
Biochar
for
Environmental
Management. USA. p 416.
Chan K.Y. and Z. Xu, 2009. Biochar:
Nutrient Properties and Their
Enhancement hal : 67-81 In
Lehmann J. and S. Joseph, 2009.
Biochar
for
Environmental
Management. USA. p 416.
Cheng C.H., J. Lehmann, and M.H.
Engelhard, 2007. Natural oxidation
of black carbon in soils: Changes in
molecular form and surface charge
along a climosequence. Geochimica

153

ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
et
Cosmochimica
(2008):15981610.

Acta

72

Kalimantan,
Indonesia.
J.
Agricultural Science. Vol. 2 No.1.

Hartati, T.M. 2001. Perbaikan Sifat Fisik


Psamment Melalui Pemberian Bahan
Andisol dan Limbah Olahan Sagu.
Tesis. Program Pasca Sarjana
Universitas
Gadjah
Mada.
Yogyakarta.

Novak J.M., W.J. Busscher, D.W. Watts,


D.A. Laird, M.A. Ahmedna, and
M.A.S. Niandou, 2010. Short-Term
CO2 Mineralization After Additions
of Biochar and Switchgrass to a
Typic
Kandiudult.
Geoderma
154:281288.

Hartoyo dan T. Nurhajati, 1978.


Pembuatan Briket Arang dari lima
jenis Kayu. Laporan No. 103.
Lembaga Penelitian hasil Hutan.
Bogor.
Ismangil, 2008. Potensi Batu Beku, Kalsit,
dan
Campurannya
Sebagai
Amelioran pada Tanah Lempung
Aktivitas Rendah. Tesis. Ilmu Tanah.
Fakultas Pertanian, UGM. 307 h.
Laird, D., P. Flaming, D. D. Davis, R.
Horton, B. Wang, and D. L. Karlen,
2010a. Biochar Impact on Nutrient
Leaching from a Midwestern
Agricultural Soil. Geoderma. 158
(2010): 436442.
Lehmann, J. 2007. Bio-energy in The
Black. The Ecological Society of
America. Department of Crop and
Soil
Sciences,
College
of
Agriculture. 67-73 h.
Lehmann J. and S. Joseph, 2009. Biochar
for Environmental Management.
USA. p 416.
Liang B, J. Lehmann, D. Solomon, J.
Kinyangi, J. Grossman, B. ONeill, J.
O. Skjemstad, J. Thies, F. J. Luizao,
J. Petersen, and E. G. Neves. 2006.
Black Carbon Increases Cation
Exchange
Capacity in
Soils.
Published online August 22, 2006.
Soil Sci. Soc. Am. J. 70: 1719-1730.
Ecol Environ 5(7): 381387.
Masuli A. 2010. Rice Husk Biochar for
Rice Based Cropping System in Acid
Soil 1. The Characteristics of Rice
Husk Biochar and Its Influence on
the Properties of Acid Sulfate Soils
and Rice Growth in West

154

Nurida, N.L, A.Dariah, and A. Rachman,


2008. Kualitas Limbah Pertanian
Sebagai Bahan Baku Pembenah
Tanah Berupa Biochar untuk
Rehabilitasi
Lahan.
Prosiding
Seminar Nasional dan Dialog
Sumberdaya Lahan Pertanian. Buku
II
Teknologi
Pengelolaan
Sumberdaya Lahan. Bogor, 18-20
November 2008. Balai Besar
Penelitian
dan
Pengembangan
Sumberdaya Lahan Pertanian. Badan
Penelitian
dan
Pengembangan
Pertanian, Departemen Pertanian.
Hal 211-218.
Sastromijojo H., 1992. Spektroskopi
Inframerah. Fakultas MiPA, UGM.
Penerbit Liberty Yogyakarta.146 h.
Sohi S., E.C. Lopez, E. Krull, and R.Bol.,
2009. Biochar, Climate Change and
Soil: A Review to Guide Future
Research. CSIRO Land and Water
Science Report.
Standar Nasional Indonesia, 1995. Mutu
dan Cara Uji Arang Aktif Teknis.
Standar Nasional Indonesia (SNI)
06-3730-1995. Dewan Standar.
Jakarta.
Steiner, C., 2007. Slash and Char as
Alternative to Slash and Burn: Soil
Charcoal Amendments Maintain Soil
Fertility and Establish a Carbon Sink.
Cuvillier Verlag, Gottingen.
Steiner, C., B.Glaser, W. G., Teixeira, J.
Lehmann, W. E. H., Blum, and W.
Zech. 2008. Nitrogen Retention and
Plant Uptake on a Highly Weathered
Central
Amazonian
Ferralsol
Amended with Compost and

ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
Charcoal. Journal of Plant Nutrition
and Soil Science 171(6): 893-899.
Subagyo, A., N. Suharta, and A. B.
Siswanto.
2000.
Tanah-tanah
Pertanian di Indonesia. Dalam
Sumberdaya Lahan Indonesia dan
Pengelolaannya. Pusat Penelitian
Tanah dan Agroklimat. Bogor.
Syukur, A. 2005. Penyerapan Boron oleh
Tanaman Jagung di Tanah Pasir
Pantai Bugel dalam Kaitannya
dengan
Tingkat
Frekuensi
Penyiraman dan Pemberian Bahan
Organik. Jurnal Ilmu Tanah dan
Lingkungan. 5: 20-26.

Taiz L. and E. Zeiger. 2002. Plant


Physiology. Sinauer Associates. p
690.
Utari L., 2003. Keragaan Beberapa
Varietas Kedelai di Lahan Pasir
Pantai. Agr. UMY. 17-23 h.
Van Ranst E., 1991. Regional Pedology.
Soil of the Tropics and the
Subtropics. State University Gent.
Belgium.
Whittaker D. 2000. Interpreting Organic
Spectra. Departemen of Chemistry,
University of Liverpool UK. Royal
Society of Chemistry RSC. p 263.

155