Anda di halaman 1dari 11

PERAN FILSAFAT ILMU TERHADAP

PERKEMBANGAN DUNIA KEFARMASIAN


I. Filsafat Ilmu
I.1. Definisi Filsafat
Filsafat

secara

etimologis

merupakan

definisi

dari

istilah

berdasarkan

perkembangan sejarah istilah dari bahasa asli istilah tersebut. Menurut Earle, filsafat
secara etimologis berasal dari bahasa Yunani yakni kata Filsafat (philosopy), yang terdiri
dari dua kata, yaitu philo yang berarti cinta (to love) atau berteman dan kata sophia yang
berarti kebijaksanaan. Jika dua kata tersebut disatukan kedalam makna yang baru (dalam
kata filsafat) maka secara etimologis filsafat berarti cinta kepada kebijaksanaan
(Hanurawan, 2008).
Filsafat dalam pengertiannya sebagai cinta kepada kebijaksanaan terkandung
pengertian bahwa seseorang yang mempelajari filsafat atau beraktivitas dalam kegiatankegiatan filsafati merupakan seseorang yang memiliki keinginan yang kuat untuk terus
menerus mencapai kebijaksanaan. Dalam hal ini dapat dikemukakan bahwa para ahli
filsafat atau filsuf adalah manusia yang secara berkesinambungan mencari atau berteman
dengan kebijaksanaan. Dengan kata lain bahwa para filsuf menyatakan bahwa diri
mereka adalah seseorang yang selalu mencari kebenaran dari segala sesuatu melalui cinta
dan kebijaksanaan.
Sedangkan filsafat dalam pengertiannya secara konsep berdasarkan pendapat ahli
filsafat Earle, menjelaskan bahwa filsafat adalah disiplin yang melakukan refleksi kritis
terhadap hasil-hasil tradisi kemanusiaan yang bertujuan untuk mencapai klarifikasi
konsep terhadap objeknya melalui analisis terhadap pertanyaan-pertanyaan, konsepkonsep, masalah-masalah, dan argumen-argumen secara konseptual.
Seorang ahli filsafat Ames, menjelaskan bahwa filsafat merupakan suatu
pandangan secara menyeluruh tentang hidup dan makna kehidupan berdasarkan pada
konteks hasil-hasil penelitian dan kajian ilmu (Saifullah, 1983).
Menurut Gutek menjelaskan bahwa filsafat merupakan upaya-upaya yang
dilakukan manusia untuk berfikir spekulatif dan reflektif tentang alam semesta dan
hubungan-hubungan yang menyertai antara manusia dan alam semesta tersebut.
Peran filsafat ilmu terhadap perkembangan dunia kefarmasian

Berdasarkan dari beberapa perbandingan tentang definisi filsafat, penulis


menyimpulkan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mempelajari objek-objek
kemanusiaan secara menyeluruh, terangkum, spekulatif, rasional serta mendalam hingga
ke akarnya sehingga diperoleh inti dari hakikat hidup yang sebenarnya.
I.2. Sejarah Awal Perkembangan
Hingga saaat ini, budaya yang paling dominan untuk bidang ilmu adalah budaya
barat sehingga mempengaruhi perkembangan filsafat dalam konteks filsafat dunia barat.
Dalam hal ini dapat ditelusuri pada suatu masa yang oleh para ahli sejarah filsafat sering
disebut sebagai zaman filsafat alam (natural philosopy) atau zaman Pra-Sokrates. Zaman
ini berlangsung pada periode sekitar abad kelima sebelum Masehi. Adapun tokoh-tokoh
pada zaman ini antara lain Thales, Phythagoras, Herekletos dan Demokritus.
Perkembangan awal filsafat disebut sebagai filsafat alam dikarenakan pada
umumnya kegiatan berfikir dan perenungan filsafat pada saat itu terutama ditujukan
untuk mencari jawaban rasional terhadap masalah-masalah kausalitas alam semesta yang
melingkupi kehidupan mereka. Seperti pada tokoh terbesar pada masa ini adalah Thales
yang dikenal sebagai Bapak Filsafat Barat atau Father of Western Philosopy,
mengungkapkan bahwa air adalah penyebab yang pertama dari segenap peristiwa alam,
sedangkan Phythagoras mengemukakan bahwa angka adalah sumber penyebab dari
segenap peristiwa maupun benda di dunia.
Dalam hal ini, sejarah munculnya filsafat walaupun tingkat kompleksitasnya
belum terlalu tinggi, namun tetap berpengaruh yaitu sebagai pembuka jalan untuk
perkembangan filsafat kedepannya. Hal ini dikarenakan beberapa alasan yaitu, para filsuf
selalu mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang keseluruhan alam semesta
berdasarkan pada suatu kajian secara kritis dan mendalam. Selain itu, para filsuf alam
berupaya mencari penjelasan terhadap pertanyaan-pertanyaan berdasarkan pada kerangka
yang bersifat non-supernatural (Hakim et al, 2008).

Peran filsafat ilmu terhadap perkembangan dunia kefarmasian

I.3. Cabang-Cabang Filsafat


Filsafat sebagai suatu sistem pemikiran yang didalamnya terdapat beberapa
cabang yang memiliki kaitan penting dengan masalah-masalah universal dalam
kehidupan manusia. Adapun sistematika filsafat secara umum terdiri dari:
1.

Epistemologi, adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang hal-hal yang


berkaitan dengan hakekat pengetahuan manusia. Secara khusus, dalam epistemologi
dilakukan kajian yang mendalam tentang hakekat terjadinya perbuatan mengetahui,
sumber pengetahuan, tingkat-tingkat pengetahuan, metode untuk memperoleh
pengetahuan, kesahihan pengetahuan dan kebenaran pengetahuan.

2.

Aksiologi, adalah cabang filsafat yang mempelajari hakekat nilai. Berdasarkan


kepada pokok penekanannya, aksiologi dapat dibagi menjadi etika atau filsafat moral
dan estetika atau filsafat keindahan.

3.

Metafisika, adalah cabang filsafat yang mempelajari hakekat realitas dari segala
sesuatu, baik yang bersifat fisik maupun yang bersifat non fisik.

4.

Logika, merupakan cabang filsafat yang mempelajari hakekat penarikan kesimpulan


berdasarkan hukum-hukum berpikir yang benar.
Selain cabang-cabang utama diatas, terdapat juga cabang filsafat yang bersifat

khusus dan mengkaji masalah yang lebih spesifik. Antara lain adalah filsafat manusia,
filsafat sosial dan politik, dan filsafat pendidikan (Suriasumantri, 2006).
II. Manfaat Mempelajari Filsafat
Manfaat dari mempelajari filsafat dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Melalui pembelajaran filsafat maka seseorang mampu memandang hidup dan
menjadikannya sebagai pedoman hidup. Filsafat sebagai pedoman hidup
memberikan semacam peta perjalanan yang harus dilalui seseorang sehingga
ia dapat melihat hidup menjadi bermakna. Contoh filsafat sebagai pandangan
hidup adalah seseorang yang memiliki pandangan hidup spiritualis selalu
berupaya untuk melihat makna kehidupan yang dijalani melalui sudut tinjauan
kerohanian dan sebagai konsekuensinya pada saat menjalani kehidupan ia pun
berupaya melaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip spiritualitas yang di
yakini.
Peran filsafat ilmu terhadap perkembangan dunia kefarmasian

2. Melalui kegiatan berpikir secara filsafat maka seseorang dapat memecahkan


persoalan hidup yang di hadapi. Filsafat sebagai pandangan hidup dapat di
gunakan seseorang atau sekelompok orang untuk memecahkan masalahmasalah kehidupan yang ada di sekitar dirinya. Dalam hal ini filsafat sebagai
pandangan hidup atau the way of life dapat menjadi pedoman bagi seseorang
untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan secara berhasil dan
bermakna. Pemecahan masalah-masalah kehidupan secara berhasil dan
bermakna ini dapat memberikan dorongan bagi timbulnya kondisi bahagia
dalam diri seseorang, seperti kita ketahui kebahagiaan merupakan tujuan
utama yang ingin dicapai oleh manusia dalam menjalani kehidupan.
3. Melalui kegiatan berpikir secara filsafat maka seseorang dengan bantuan
logika tidak mudah untuk tertipu dengan pernyataan-pernyataan retoris yang
bersifat menyesatkan. Dalam kehidupan yang penuh dengan wacana-wacana
retorika yang terkadang membuat seseorang tidak mampu hidup berdasarkan
eksistensi

otentiknya

sendiri,

filsafat

dapat

membantu

seseorang

mengembangkan kepekaan untuk tanggap terhadap wacana-wacana persuasif


yang menyesatkan di sekitar dirinya.
4. Melalui kegiatan berpikir secara filsafat maka seseorang mampu menghargai
pendapat dan pemikiran orang lain baik yang memiliki persamaan dan
perbedaan dengan dirinya. Berpikir filsafat berarti berpikir demokratis, yang
artinya seseorang dilatih untuk menghargai pendapat atau pemikiran orang
yang berbeda dengan dirinya. Orang yang memiliki kemampuan berfilsafat
yang tinggi akan menghargai kebenaran berpikir yang di yakini oleh orang
lain seperti juga ia menghargai kebenaran berpikir yang di yakini oleh dirinya.
Dalam hal ini perbedaan pendapat dan perbedaan pemikiran di anggap sebagai
suatu eksistensi wacana berpikir yang bersifat dialektif sebagai upaya manusia
untuk mencari kebenaran (Suriasumantri, 2006).
Dalam hal ini filsafat adalah disiplin yang mempelajari objek-objek kemanusiaan
secara komprehensif, spekulatif rasional, dan mendalam sampai ke akarnya sehingga di
peroleh inti hakiki dari objek yang di pelajari. Filsafat sangat penting bagi kegiatan
Peran filsafat ilmu terhadap perkembangan dunia kefarmasian

berpikir manusia yang dapat memberikan dampak bagi tindakan yang di lakukan oleh
manusia. Apabila seseorang mempelajari filsafat maka di harapkan di dalam diri orang itu
akan tumbuh suatu tradisi berpikir yang bersifat kritis dan spekulatif rasional yang
mendalam. Terdapat banyak manfaat mempelajari filsafat dan berfilsafat bagi kehidupan
manusia.
III.Epistemologi (Filsafat Pengetahuan)
Secara etimologis, menurut Earle (1992) istilah epistemologi atau filsafat
pengetahuan berasal dari bahasa Yunani. Epistemologi berasal dari kata episteme yang
berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu atau kajian. Dalam pustaka-pustaka
filsafat berbahasa Inggris terminologi epistemologi sering di padankan dengan istilah
teori tentang pengetahuan (teory of knowledge). Istilah teori pengetahuan muncul karena
dalam epistemologi di bahas tentang teori-teori yang terkait dengan pengetahuan yang
dimiliki oleh manusia (Snijders, 2009).
Secara konseptual, epistemologi dapat di definisikan sebagai cabang filsafat yang
membahas tentang hakikat pengetahuan manusia. Dalam pembahasannya tercakup di
dalamnya perenungan-perenungan filsafati tentang susunan pengetahuan, asal mula
pengetahuan,

metode-metode

pemerolehan

pengetahuan,

teori-teori

kebenaran

pengetahuan dan aliran yang ada dalam epistemologi.


Secara sederhana aktifitas pemerolehan pengetahuan dapat di gambarkan ke
dalam tahap-tahap sebagai berikut:
1. Tahap pertama, individu menerima masukan-masukan atau input data yang
berasal dari suatu objek melalui pengarahan kesadaran dirinya kepada suatu objek
pengetahuan. Data-data yang berasal dari objek pengetahuan itu dapat bersifat
empiris maupun non empiris.
2. Tahap kedua, individu kemudian dalam kesadarannya melakukan proses
pengolahan data-data yang telah di serap berdasar pada kategori-kategori tertentu.
Dalam proses pengolahan ini individu akan memberi makna terhadap suatu objek
pengetahuan.
3. Tahap ketiga, setelah pengolahan data selesai dilakukan maka individu dapat
mengeluarkan suatu hasil keluaran atau output dari pengarahan kesadaran
Peran filsafat ilmu terhadap perkembangan dunia kefarmasian

terhadap suatu objek kedalam suatu bentuk pengertian tentang suatu pengetahuan.
Hasil keluaran itu adalah dalam bentuk kesimpulan yang bermakna tentang suatu
objek pengetahuan.
Pada konteks yang lain di deskripsikan dari beberapa sumber, metode pemerolehan
pengetahuan dan aliran pemerolehan pengetahuan yang utama adalah sebagai berikut:
1.

Pengalaman inderawi
Pengalaman inderawi (sense experience) dapat menjadi sumber utama bagi
pemerolehan keseluruhan pengetahuan manusia. Pengalaman yang di peroleh dari
penerapan inderawi merupakan perantara dunia subjek dengan dunia objek dalam
memperoleh pengetahuan. Aliran epistemologi yang sangat menekankan
pengalaman

inderawi

sebagai

satu-satunya

sumber

untuk

memperoleh

pengetahuan adalah aliran yang di kenal dengan sebutan Empirisme. Sebagai


contoh kita dapat memfungsikan indera pembau untuk menyerap bau harum yang
muncul dari sebotol parfum, kita dapat memfungsikan telinga untuk
mendengarkan alunan merdu dari suara seorang penyanyi campur sari.
2.

Rasio atau akal


Rasio atau akal dapat menjadi sumber utama bagi pemerolehan keseluruhan
pengetahuan manusia. Aliran epistemologi yang sangat menekankan akal sebagai
satu-satunya sumber untuk memperoleh pengetahuan adalah aliran yang di kenal
dengan sebutan rasionalisme. Akal melalui proses penalaran menggabungkan dua
pengertian atau lebih yang akan memperoleh suatu pengetahuan dalam suatu
pengertian yang baru. Contoh dari pengertian baru sebagai bentuk pengetahuan
dapat di jumpai pada proposisi-proposisi logika dan matematika. Misalnya 1+1=2,
menurut kaum rasionalis perhitungan semacam itu tidak memerlukan pembuktian
secara empiris inderawi karena sifat kebenarannya yang bersifat aksiomatis
rasional.

3.

Intuisi
Intuisi adalah salah satu sumber pengetahuan yang bersifat unik apabila di
lihat dari tinjauan manusia awam. Intuisi merupakan pengetahuan yang di peroleh
oleh seseorang tanpa menerima stimulus apapun dan secara tiba-tiba memperoleh
pengetahuan yang di yakini kebenarannya atau

Peran filsafat ilmu terhadap perkembangan dunia kefarmasian

immediate knowledge.
6

Epistemologi yang mementingkan intuisi sebagai sumber pengetahuan di sebut


intuisionisme.
4. Otoritas
Bentuk otoritas ini misalnya adalah bentuk-bentuk pengetahuan yang
berasal dari otoritas charisma, tradisi, legal, dan formal. Contoh pengetahuan yang
berasal dari otoritas adalah keputusan hakim yang memiliki kekuatan hukum yang
menjadi sumber kebenaran pengetahuan apakah seseorang terdakwa bersalah atau
tidak.
5. Wahyu
Pengetahuan yang di berikan oleh Tuhan kepada para nabi atau rasul.
Pengetahuan ini terutama sangat menekankan pada keyakinan seseorang terhadap
agama yang di peluknya (Poedjawidjatna, 1983).
Epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakikat pengetahuan
manusia. Dalam pembahasan tentang hakikat pengetahuan tercakup di dalamnya
perenungan-perenungan filsafati tentang susunan pengetahuan asal mula pengetahuan,
metode-metode pemerolehan pengetahuan, teori-teori kebenaran pengetahuan dan aliran
yang ada dalam epistemologi. Dua aliran utama dalam epistemologi adalah empirisme
dan rasionalisme. Teori-teori kebenaran pengetahuan adalah korespondensi, koherensi,
pragmatism, dan kesepakatan.
IV. Ilmu Kefarmasian
Ilmu Farmasi merupakan ilmu yang menekankan aspek obat sebagai sarana terapi,
yang pada khususnya berorientasi kepada penderita dan kesehatan masyarakat pada
umumnya.
Obat merupakan zat aktif yang berasal dari nabati, hewani, kimiawi alam maupun
sintetis dalam dosis atau kadar tertentu yang dapat dipergunakan untuk preventif
(profilaksis), rehabilitasi, terapi terhadap suatu keadaan penyakit pada manusia maupun
hewan. Namun zat aktif tersebut tidak dapat dipergunakan begitu saja untuk pengobatan,
namun terlebih dahulu harus dibuat dalam bentuk sediaan. Oleh karena itu muncul
sediaan pil, tablet, kapsul, sirup, suspensi, supositoria, salep, dan lain-lain.
Peran filsafat ilmu terhadap perkembangan dunia kefarmasian

Melihat dunia kefarmasian dari sudut pandang sejarah merupakan hal yang sangat
penting khususnya bagi kalangan apoteker/farmasis. Sejarah merupakan salah satu
instrumen yang digunakan untuk merumuskan rencana masa depan yang lebih baik.
Sehingga dengan adanya pengetahuan tentang awal mula kefarmasian muncul, maka
akan berpengaruh terhadap perkembangan peradaban manusia. Farmasi telah ada sejak
pemikiran manusia mulai berkembang meski dalam bentuk yang sangat sederhana.
Manusia purba belajar dengan menggunakan insting dan observasi terhadap burungburung dan hewan-hewan buas.
Setiap penyakit pasti ada obatnya. Sabda Rasulullah Muhammad SAW yang
begitu populer di kalangan umat Islam, juga telah memicu para ilmuwan dan sarjana di
era kekhalifahan untuk berlomba meracik dan menciptakan beragam obat-obatan.
Pencapaian umat Islam yang begitu gemilang dalam bidang kedokteran dan kesehatan di
masa keemasan tidak lepas dari keberhasilan dalam bidang farmasi.
Secara berurutan, adapun periode sejarah farmasi diantaranya adalah, Zaman
Prasejarah, Babylonia Kuno, Cina Kuno, Mesir kuno, Yunani kuno, Mithridates VI,
Dioscorides, Galen, Damian dan Cosmas serta Zaman kejayaan Islam.
V. Filsafat Ilmu Farmasi
Filsafat ilmu adalah cabang dari filsafat yang berkaitan dengan pemahaman
filosofis tentang hakikat kegiatan keilmuan. Pemahaman tentang hakikat ilmu secara
spesifik berhubungan dengan pembahasan filosofis tentang esensi suatu ilmu untuk
melakukan kegiatan-kegiatan keilmuan, tujuan kegiatan keilmuan, hubungan antara
kegiatan keilmuan dengan kegiatan kemasyarakatan, dan perbedaan kegiatan keilmuan.
Dalam hal ini filsafat ilmu berupaya memberikan penjelasan tentang segala sesuatu yang
berhungan dengan proses yang terjadi di sekitar kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan
ilmu.
Dalam konteks yang bersifat melengkapi, Rudner (1966) mengungkapkan bahwa
filsafat ilmu adalah bagian dari epistemologi yang memiliki fokus pada kajian tentang
karateristik pengetahuan ilmiah, selanjutnya ia menyatakan bahwa filsafat ilmu memiliki
bagian yang berkembang berdasarkan objek spesifiknya. Bagian itu antara lain adalah

Peran filsafat ilmu terhadap perkembangan dunia kefarmasian

filsafat ilmu-ilmu sosial, filsafat ilmu-ilmu alam, filsafat ilmu pendidikan dan filsafat
ilmu fisika.
Berpijak dari beberapa definisi tentang filsafat ilmu maka kemudian dapat di
simpulkan secara ringkas bahwa filsafat ilmu farmasi merupakan filsafat yang secara
khusus merupakan cabang dari filsafat pengetahuan atau epistemologi yang secara
mendalam spekulatif dan komprehensif mempelajari hakikat ilmu kefarmasian.
Menurut Lacey (1996) secara tersirat bidang-bidang kajian yang menjadi ruang
lingkup perenungan filsafat ilmu, antara lain adalah pengertian ilmu, tujuan ilmu,
masalah metodologi dalam kegiatan keilmuan, golongan ilmu, pengembangan teori,
model dan paradigma keilmuan, kesejahteraan manusia, serta aliran-aliran yang terdapat
dalam filsafat ilmu. Apabila ruang lingkup filsafat ilmu di terapkan dalam ilmu farmasi
maka di peroleh rumusan ruang lingkup filsafat ilmu dalam ilmu kefarmasian yakni
sebagai berikut:
1. Masalah-masalah

metafisika

atau

eksistensi

realitas

yang

berhubungan

keberadaan ilmu farmasi;


2. Masalah-masalah epistemologi atau metode pencapaian ilmu pengetahuan yang
berhubungan dengan ilmu farmasi;
3. Masalah-masalah etika atau moralitas yang berhubungan dengan aktifitas
pencapaian ilmu dan penerapan ilmu farmasi dalam kehidupan bermasyarakat;
4. Masalah-masalah estetika atau keindahan yang berhubungan dengan ilmu farmasi;
5. Masalah-masalah logika atau pembentukan suatu kesimpulan ilmiah yang
berhubungan dengan ilmu farmasi (Hanurawan, 2008).
VI. Peran Filsafat Ilmu terhadap Perkembangan Dunia Kefarmasian
Filsafat ilmu farmasi adalah aktifitas-aktifitas perenungan filsafat dalam upaya
untuk memecahkan masalah- masalah yang timbul di sekitar hakikat ilmu, perkembangan
ilmu dan penerapan ilmu farmasi. Penggolongan filsafat ilmu dapat di bagi menjadi
filsafat ilmu umum dan filsafat ilmu khusus. Dua aliran utama dalam filsafat ilmu adalah
aliran empirisme dan aliran rasional. Dalam hal ini seperti yang telah di jelaskan pada
paragraf sebelumnya empirisme mengacu kepada pengetahuan manusia yang bersifat
inderawi, sedangkan rasionalisme menekankan akal sebagai satu-satunya sumber untuk
Peran filsafat ilmu terhadap perkembangan dunia kefarmasian

memperoleh pengetahuan sehingga dalam memperoleh pengetahuan tersebut tidak hanya


bersifat argumen sementara, tetapi pengetahuan di dapat secara menyeluruh terangkum
spekulatif rasional sampai ke akarnya.
Ruang lingkup filsafat ilmu yang di terapkan dalam ilmu farmasi dapat di
rumuskan sebagai berikut:
1. Pengertian ilmu farmasi
2. Tujuan ilmu farmasi
3. Masalah metodologi dalam kegiatan keilmuan farmasi
4. Penggolongan dalam ilmu farmasi
5. Pengembangan teori, model dan paradigma dalam ilmu farmasi
6. Hubungan ilmu farmasi dan kesejahteraan manusia
7. Aliran-aliran yang terdapat dalam filsafat ilmu pada ilmu kefarmasian
Dengan adanya ruang lingkup filsafat ilmu yang di terapkan dalam ilmu
kefarmasian maka esensi dari ilmu farmasi menjadi terstruktur, terorganisir dan memiliki
kejelasan manfaat. Dalam konteks lain pembelajaran filsafat ilmu farmasi selalu
menyangkut logika, pemecahan masalah, pedoman serta demokratisasi, sehingga jika
seseorang menghadapi persoalan yang menyangkut kehidupan khususnya dalam bidang
farmasi maka orang tersebut mampu memecahkannya secara positif dengan bantuan
logika, tidak menyesatkan, serta menghargai perbedaan pendapat orang lain dalam
mencari kebenaran.
Pada penjelasan sebelumnya juga telah dibahas hal yang menyangkut tentang
sejarah farmasi. Diawali dari zaman pra-sejarah hingga zaman peradaban Islam. Seperti
yang kita ketahui pada zaman dahulu, manusia purba juga mampu belajar dengan
menggunakan insting dan observasi terhadap burung-burung dan hewan-hewan buas
untuk dijadikan sumber pengobatan. Dengan kata lain, unsur epistemolog, dalam
memperoleh pengetahuan melalui insting telah ada sejak zaman dahulu kala. Sehingga
hasil pencarian terhadap obat pada masa tersebut terbebas dari ketidakjelasan kegunaan.
Pada konteks lain, pencapaian umat Islam yang begitu gemilang dalam bidang
kedokteran dan kesehatan di masa keemasan tak lepas dari keberhasilan di bidang
farmasi. Di masa itu para dokter dan ahli kimia Muslim sudah berhasil melakukan
Peran filsafat ilmu terhadap perkembangan dunia kefarmasian

10

penelitian ilmiah mengenai komposisi, dosis, penggunaan, dan efek dari obat-obat
sederhana serta campuran. Dasar dari pencapaian tersebut adalah pedoman hidup agama
islam yaitu Al-Quran dan Hadits. Dalam hal ini, para khalifah telah melakukan kegiatan
berpikir secara filsafati, menggunakan pedoman agama sebagai pandangan hidup untuk
berpikir intelektual. Sehingga mereka selalu berupaya untuk melihat makna kehidupan
yang dijalani melalui sudut tinjauan kerohanian dan sebagai konsekuensi, ketika
menjalani kehidupan merekapun berupaya melaksanakannya berdasarkan prinsip
spiritualitas yang diyakini.
VII.

Kesimpulan
Filsafat ilmu merupakan hasil telaah manusia secara filosofis tentang hakekat,

dasar-dasar, tujuan-tujuan, bagian-bagian, dan metode yg tercakup dalam wilayah ilmu


tertentu. Terkait dengan filsafat ilmu farmasi, dalam hal ini, berfikir secara filsafat
memiliki tujuan utama yaitu sebagai pemecahan masalah terhadap hakikat ilmu,
perkembangan dan penerapan ilmu farmasi. Sehingga, perkembangan ilmu farmasi
memiliki manfaat sesuai dengan nilai yang dianut para filsuf yaitu kebenaran dan manfaat
yang hakiki dari manusia untuk manusia.

Peran filsafat ilmu terhadap perkembangan dunia kefarmasian

11