Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Diabetes melitus adalah penyakit metabolik yang terutama ditandai oleh

hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin dari sel pankreas dan gangguan
kerja insulin. Pada umumnya diabetes melitus pada tahap awal belum memberi
gejala atau keluhan (asimptomatik) sehingga seringkali penyakit ini pada awalnya
tidak terdiagnosis hingga beberapa tahun (Tenriesa et al., 2009).
Diantara penyakit degeneratif, diabetes melitus adalah salah satu diantara
penyakit tidak menular yang akan meningkat jumlahnya di masa yang akan
datang. Diabetes melitus sudah merupakan salah satu ancaman utama bagi
kesehatan umat manusia pada abad 21. Perserikatan bangsa-bangsa (WHO)
membuat perkiraan bahwa pada tahun 2000 jumlah pengidap diabetes melitus
diatas umur 20 tahun berjumlah 150 juta orang dan dalam kurun waktu 25 tahun
kemudian, pada tahun 2025, jumlah itu akan menigkat menjadi 300 juta orang.
Suatu jumlah yang sangat besar dan merupakan beban yang sangat berat untuk
dapat ditangani sendiri oleh dokter spesialis bahkan oleh semua tenaga kesehatan
yang ada. Mengingat bahwa diabetes melitus akan memberikan dampak terhadap
kualitas sumber daya manusia dan peningkatan biaya kesehatan yang cukup besar,
semua pihak baik masyarakat maupun pemerintah, seharusnya ikut serta dalam
usaha penanggulangan diabetes melitus, khususnya dalam upaya pencegahan
(Sudoyo et al, 2006).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa
proporsi penyebab kematian akibat diabetes melitus pada kelompok usia 45-54
tahun di daerah perkotaan menduduki peringkat ke-2 yaitu 14,7%. Dan daerah
pedesaan, diabetes melitus menduduki peringkat ke-6 yaitu 5,8% (Depkes RI,
2009).
Salah satu faktor yang berperan dalam kegagalan pengontrolan glukosa
darah pasien DM adalah ketidakpatuhan pasien terhadap pengobatan. Kepatuhan
pengobatan adalah kesesuaian diri pasien terhadap anjuran atas medikasi yang
telah diresepkan yang terkait dengan waktu, dosis, dan frekuensi. Ketidakpatuhan
terhadap pengobatan DM saat ini masih menjadi masalah yang cukup penting

dalam pengelolaan DM. Beberapa studi melaporkan bahwa tingkat kepatuhan


penderita DM tipe 1 berkisar antara 70-83% sedangkan DM tipe 2 sekitar 6478%. Tingkat kepatuhan pasien DM tipe 2 lebih rendah dibandingkan DM tipe
1dapat disebabkan oleh regimen terapi yang umumnya lebih bersifat kompleks
dan polifarmasi, serta efek samping obat yang timbul selama pengobatan (CDC,
2013).
Diabetes melitus merupakan keadaan yang seringkali dikaitkan dengan
meningkatnya resiko kesakitan dan kematian. Insiden dan prevalensi dari diabetes
melitus semakin meningkat dan pada tahun 2030 diperkirakan prevalensi diabetes
melitus di seluruh dunia akan meningkat, menjadi dua kali lipat. Diabetes melitus
tipe 2 didapatkan pada 85-90% dari total penderita diabetes melitus dan seringkali
ditemukan pada lansia. Prevalensi diabetes melitus tertinggi didapatkan pada
penduduk berusia 60 tahun dengan insidens tertinggi juga didapatkan pada
kelompok usia tersebut. Indonesia menempati urutan ke-4 dengan jumlah
penderita diabetes melitus terbesar di dunia setelah India, Cina dan Amerika
Serikat. Diabetes melitus telah menyebabkan sekitar 60% kematian dan 43%
kesakitan di seluruh dunia (Rita K, 2007).
Data Departemen Kesehatan menyebutkan jumlah penderita diabetes
melitus yang menjalani rawat inap dan jalan menduduki urutan ke-1 di rumah
sakit dari keseluruhan pasien penyakit dalam, distribusi pasien baru DM yang
berobat jalan ke rumah sakit di Indonesia sebanyak 180.926 orang sedangkan
jumlah pasien yang meninggal berjumlah 5.585 orang dengan angka Case
Fatality Rate (CFR) sebesar 6.73% (Depkes RI, 2009).
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis ingin melakukan mini
project mengenai karakteristik penderita Diabetes Melitus yang berobat ke
Puskesmas Langsa Timur berdasarkan usia, jenis kelamin dan tingkat kepatuhan
minum obat.

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas maka perumusan

maalah untuk penelitian ini adalah bagaimana gambaran karakteristik penderita


diabetes melitus di Puskesmas Langsa Timur tahun 2015.
2

1.3

Tujuan Mini Project

1.3.1

Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran distribusi penderita diabetes melitus di

Puskesmas Langsa Timur tahun 2015.


1.3.2

Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran distribusi penderita diabetes melitus

berdasarkan jenis kelamin pada pasien kunjungan poli Puskesmas Langsa Timur
tahun 2015.
b. Untuk mengetahui gambaran distribusi penderita diabetes melitus
berdasarkan usia pada pasien kunjungan poli Puskesmas Langsa Timur tahun
2015.
c. Untuk mengetahui gambaran distribusi penderita diabetes melitus
berdasarkan tingkat kepatuhan minum obat pasien kunjungan poli Puskesmas
Langsa Timur tahun 2015.
1.4

Manfaat Mini Project

1.4.1

Manfaat Puskesmas dan Dinas Terkait

a. Untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan khususnya dalam ilmu


kedokteran serta memberi manfaat terhadap kemajuan ilmu pengetahuan .
b. Sebagai salah satu kajian dan informasi bagi para petugas kesehatan
Puskesmas dan dinas terkait terhadap penyakit diabetes melitus dan menyusun
program selanjutnya untuk usaha menurunkan angka kejadian penyakit Diabetes
Melitus ini, serta dapat menjadi masukan untuk pelaksanaan program di masa
yang akan datang.
1.4.2 Manfaat bagi Dokter Internship
Dengan adanya mini project ini, diharapkan dapat memberikan tambahan
ilmu dan pengalaman serta dapat memberikan sumbangan ide, pikiran yang
bermanfaat bagi Puskesmas Langsa Timur serta untuk melatih dalam menilai
suatu kemampuan dan kecermatan dalam melakukan penelitian. Selain itu
memperoleh pengalaman belajar di lapangan melalui studi kasus dan untuk

meningkatkan pengetahuan serta mencari alternatif penyelesaian dari suatu


masalah dan memutuskan penyelesaian.

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Definisi

Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005, diabetes melitus


merupakan

suatu

kelompok

penyakit

metabolik

dengan

karakteristik

hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau
kedua-duanya. Sedangkan menurut World Health Organization (WHO) 1980
dikatakan bahwa diabetes melitus merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan
dalam satu jawaban yang jelas dan singkat tapi secara umum dapat dikatakan
sebagai suatu kumpulan problema anatomi dan kimiawi yang merupakan akibat
dari sejumlah faktor di mana di dapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan
gangguan fungsi insulin (PERKENI, 2006).
Diabetes melitus adalah gangguan kronis metabolisme karbohidrat, lemak,
dan protein. Infusiensi relatif atau absolut dalam respon sekretorik insulin, yang
diterjemahkan menjadi gangguan pemakaian karbohidrat (glukosa), merupakan
gambaran khas pada diabetes melitus , demikian juga hiperglikemia yang terjadi
(Kumar et al., 2007).

2.2 Klasifikasi
Beberapa klasifikasi diabetes melitus

yang diperkenalkan oleh American

Diabetes Association (ADA) adalah sebagai berikut (PERKENI, 2006):


Tabel 2.1 Klasifikasi etiologi diabetes melitus
Tipe 1

Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut


Autoimun & idiopatik

Tipe 2

Bervariasi, mulai yang dominan resistensi insulin disertai defisiensi


insulin relatif sampai yang dominan defek sekresi insulin disertai

Tipe lain

resistensi insulin.
Defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit
eksokrin pankreas,endokrinopati, karena obat atau zat kimia,
infeksi, sebab imunologi yang jarang, sindrom genetik lain yang

Diabetes

berkaitan dengan diabetes melitus.


Diabetes melitus dalam kehamilan

melitus
gestasional

2.3 Epidemiologi
Statistik global mengindikasikanbahwa diabetes melitus tipe 2 di negara
berkembang menjadi masalah besar. Misalnya India dengan penduduk 38 juta
dengan diabetes sedangkan di Cina terdapat 23 juta penderita diabetes. Tahun
2025, jumlah ini diperkirakan bertambah menjadi dua kali lipat (Cheng, 2005).
Insidensi DM tipe 1 maupun tipe 2 bervariasi baik antar negara maupun
dalam suatu negara. Dari data epidemiologis puncak usia terjadinya DM tipe 1
pada anak adalah usia 5-7 tahun dan pada saat menjelang remaja. Insiden
penderita diabetes mellitus tipe 1 pada anak meningkat secara signifikan di
Negara Barat. Survey di Amerika Serikat menunjukkan prevalensi diabetes pada
anak umur sekolah adalah sekitar 1,9 dalam 1.000. namun frekuensinya sangat
berkorelasi dengan meningkatnya usia. Data yang ada menunjukkan kisaran 1
dalam 1.430 pada anak usia 5 tahun sampai 1 dalam 360 pada anak usia 16 tahun
(Gustaviani R, 2006). Pada umunya DM tipe 2 dapat terjadi pada usia dewasa
diatas 30 tahun. DM tipe 2 merupakan tipe yang palin sering terjadi dibandingkan
IDDM (InsulinDependent Diabetes Melitus) atau diabetes melitus tipe 1 (Funnel,
2004).
Prevalensi DM tioe 2 meningkat secara dramatis, sebagian besar karena
perubahan gaya hidup, peningkatan prevalensi obesitas dan proses degeneratif.
Untuk Indonesia WHO memperkirakan kenaikan jumlah pasien dari 8,4 juta pada
tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Lporan hasil penelitian di
berbagai daerah di Indonesia yang dilakukan pada dekade 1980 menunjukkan
sebaran prevalensi DM tipe 2 antara 0,8% di Tanah Toraja, sampai 6,1% yang di
dapatkan di Manado. Hasil penelitian pada era 2000 menunjukkan peningkatan
prevalensi yang sangat tajam. Sebagai contoh penelitian di Jakarta (daerah urban)
dari prevalensi DM tipe 2 1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun1993
dan kemudian menjadi 12,8% pada tahun 2001 di daerah sub-urban Jakarta
(Rahajeng, 2007).
Secara umum, dari jenis kelamin, prevalensi diabetes pada pria dan wanita
tidak jauh berbeda. 11,2% dari seluruh pria yang berusia di atas 19 tahun
mempunyai diabetes dan 10,2% dari seluruh wanita yang berusia lebih dari 19
tahun mempunyai diabetes dan 2-4 kali lebih tinggi pada wanita berkulit hitam

non-Hispanic, Hispanic, Indian Amerika, dan Asia dibandingkan dengan wanita


berkulit putih non-Hispanic. Untuk data prevalensi diabetes menurut ras atau etnik
didapatkan data 6,6% untuk orang kulit putih non-Hispanic, 7,5% untuk Asia
Amerika, 10,4% untuk Hispanic, dan 11,8% untuk orang kulit hitam non-Hispanic
(Persi, 2008).
2.4

Patofisiologi
Insulin merupakan hormon yang terdiri dari rangkaian asam amino, yang

dihasilkan oleh sel beta kelenjar pankreas. Dalam keadaan normal, bila ada
ransangan pada sel beta, insulin disintesis dan kemudian disekresikan kedalam
darah sesuai kebutuhan tubuh untuk keperluan regulasi glukosa darah. Apabila ada
gangguan pada mekanisme kerja insulin, menimbulkan hambatan dalam utilisasi
glukosa serta peningkatan kadar glukosa darah. Khusus pada diabetes melitus tipe
2, yakni jenis diabetes yang paling sering ditemukan, gangguan metabolisme
glukosa disebabkan oleh dua faktor: tidak adekuatnya sekresi insulin secara
kuantitatif (defisiensi insulin) dan kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap
insulin (resistensi insulin). Sedangkan pada diabetes melitus tipe 1, gangguan
tersebut mutlak hanya disebabkan defisiensi insulin (Sudoyo et al., 2006).
Jika dibiarkan tidak dikelola dengan baik, diabetes melitus akan
menyebabkan terjadinya berbagai komplikasi kronik, baik mikroangioapati
maupun makroangiopati. Adanya pertumbuhan sel dan juga kematian sel yang
tidak normal merupakan dasar terjadinya komplikasi kronik diabetes melitus.
Pada retinopati diabetik, didapatkan hilangnya sel perisit dan terjadi pembentukan
mikroaneurisma. Di samping itu juga terjadi hambatan pada aliran pembuluh
darah dan kemudian terjadi penyumbatan kapiler (Sudoyo et al., 2006).
2.5 Manifestasi Klinis
Adapun gejala-gejala diabetes melitus yang dapat dirasakan secara fisik
adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Poliuria
Polidipsia
Polifagia
Berat badan menurun
7

5.
6.
7.
8.
9.
10.

Lemah
Kesemutan
Gatal
Visus menurun
Disfungsi ereksi pada pria
Pruritus vulvae pada pasien wanita
(Sudoyo et al.,2006)

2.6 Diagnosis
Diagnosis diabetes melitus harus didasarkan atas pemeriksaan kadar glukosa
darah. Dalam menentukan diagnosis diabetes melitus harus diperhatikan asal
bahan darah yang diambil dan cara pemeriksaan yang dipakai. Untuk diagnosis,
pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa dengan cara enzimatik
dengan bahan darah plasma vena (Sudoyo et al., 2006).

Keluhan klinis diabetes

Keluhan khas (+)


GDP
atau
GDS

126

< 126

200

< 200

Keluhan khas (-)


GDP
atau
GDS

126

110 - 125

200

110 - 199

< 110

Ulang GDS atau GDP

GDP
atau
GDS

126

< 126

200

< 200

TTGO
GD 2 Jam
200

DIABETES MELITUS

140 - 199
TGT

GDPT

< 140

a. Evaluasi Status Gizi


b. Evaluasi Penyulit Diabetes Melitus
c. Evaluasi dan Perencanaan Makanan
sesuai Kebutuhan

a. Nasihat Umum
b. Perencanaan Makanan
c. Latihan Jasmani
d.Berat Idaman
e. Belum Perlu Obat
Penurun Glukosa

Keterangan:
GDP
= Glukosa Darah Puasa
GDS
= Glukosa Darah Sewaktu
GDPT
= Glukosa Darah Puasa Terganggu
TGT
= Toleransi Glukosa Terganggu
TTGO
= Test Toleransi Glukosa Oral

Gambar 2.1 Langkah-langkah diagnosis diabetes melitus


Sumber: Sudoyo et al., 2006
Kriteria diagnostik :
Gejala klasik DM ditambah Gula Darah Sewaktu 200 mg/dl. Gula darah sewaktu
merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu
makan terakhir, atau Kadar Gula Darah Puasa 126 mg/dl. Puasa diartikan pasien
tidak mendapat kalori tambahan sedikit nya 8 jam, atau kadar gula darah 2 jam
pada TTGO 200 mg/dl. TTGO dilakukan dengan standard WHO, menggunakan
beban glukosa yang setara dengan 75 gram glukosa anhidrus yang dilarutkan

dalam air.
Gejala tidak klasik ditambah hasil pemeriksaan gula darah abnormal minimal 2x.

Dengan cara pelaksanaan TTGO berdasarkan WHO 94:


Tiga hari sebelum pemeriksaan tetap makan seperti kebiasaan sehari-hari (dengan
karbohidrat yang cukup) dan tetap melakukan kegiatan jasmani seperti biasa.
9

Normal

Berpuasa paling sediikt 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan, minum
air putih tanpa gula tetap diperbolehkan.
Diperiksa kadar glukosa darah puasa
Diberikan glukosa 75 gram (dewasa) atau 1,75 g/kg BB (anak-anak) , dilarutkan
dalam 250 ml air dan diminum dalam 5 menit.
Berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan 2 jam
setelah minum larutan glukosa selesai
Diperiksa kadar gula darah 2 jam setelah beban glukosa
Selama proses pemeriksaan tidak boleh merokok dan tetap istirahat
Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM, maka dapat
digolongkan ke dalamkelompok TGT (toleransi glukosa terganggu) atau GDPT
(glukosa darah puasa terganggu) dari hasil yang diperoleh
TGT : glukosa darah plasma 2 jam setelah pembenanan antara 140-199 mg/dl
GDPT : glukosa darah puasa antara 100-125 mg/dl

2.7 Komplikasi
a. Penyulit akut
1. Ketoasidosis diabetik
KAD adalah suatu keadaan dimana terdapat defisiensi insulin absolut atau
relatif dan penningkatan hormon kontra regulator (glukagon, katekolamin, kortisol
dan hormon pertumbuhan). Keadaan tersebut menyebabkan produksi glukosa hati
meningkat dan penggunaan glukosa oleh sel tubuh menurun dengan hasil akhir
hiperglikemia. Berkurangnya insulin mengakibatkan aktivitas kreb cycle
menurun, asetil Ko-A dan Ko-A bebas akan meningkat dan asetoasetil asid yang
tidak dapat diteruskan dalam kreb cycle tersebut juga meningkat. Bahan-bahan
energi dari lemak yang kemudian di oksidasi untuk menjadi sumber energi akibat
sinyaling sel yang kekurangan glukosa akan mengakibatkan end produk berupa
benda keton yang bersifat asam. Disamping itu glukoneogenesis dari protein
dengan asam amino yang mempunyai ketogenic effect menambah beratnya KAD.
Kriteria diagnosis KAD adalah GDS > 250 mg/dl, pH <7,35, HCO 3 rendah, anion
gap tinggi dan keton serum (+). Biasanya didahului gejala berupa anorexia,
nausea, muntah, sakit perut, sakit dada dan menjadi tanda khas adalah pernapasan
kussmaul dan berbau aseton.

10

2.

Koma Hiperosmolar Non Ketotik


Ditandai dengan penurunan kesadaran dengan gula darah lebih besar dari 600

mg% tanpa ketosis yang berartidan osmolaritas plasma melebihi 350 mosm.
Keadaan ini jarang mengenai anak-anak, usia muda atau diabetes tipe non insulin
dependen karena pada keadaan ini pasien akan jatuh kedalam kondisi KAD,
sedang pada DM tipe 2 dimana kadar insulin darah nya masih cukup untuk
mencegah lipolisis tetapi tidak dapat mencegah keadaan hiperglikemia sehingga
tidak timbul hiperketonemia.
3. Hipoglikemia
Ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah < 60 mg% tanpa gejala
klinis atau GDS < 80 mg% dengan gejala klinis. Dimulai dari stadium
parasimpatik: lapar, mual, tekanan darah turun. Stadium gangguan otak ringan :
lemah lesu, sulit bicara gangguan kognitif sementara. Stadium simpatik, gejala
adrenergik yaitukeringat dingin pada muka, bibir dan gemetar dada berdebardebar. Stadium gangguan otak berat, gejala neuroglikopenik : pusing, gelisah,
penurunan kesadaran dengan atau tanpa kejang.
b. Penyulit menahun
1. Mikroangiopati
Terjadi pada kapiler arteriol karena disfungsi endotel dan trombosis
Retinopati Diabetik
retinopati diabetik nonproliferatif, karena hiperpermeabilitas

dan

inkompetens vasa. Kapiler membentuk kantung-kantung kecil menonjol seperti


titik-titik mikroaneurisma dan vena retina mengalami dilatasi dan berkelok-kelok.
Bahayanya dapat terjadi perdarahan disetiap lapisan retina. Rusaknya sawar retina
darah bagian dalam pada endotel retina menyebabkan kebocoran cairan dan
konstituen plasma ke dalam retina dan sekitarnya menyebabkan edema yang
membuat gangguan pandang. Pada retinopati diabetik prolferatif terjadi iskemia
retina yang progresif yang merangsang neovaskularisasi yang menyebabkan
kebocoran protein-protein serum dalam jumlah besar. Neovaskularisasi yang
rapuh ini berproliferasi ke bagian dalam korpus vitreum yang bila tekanan
meninggi saat berkontraksi maka bisa terjadi perdarahan masif yang berakibat
penurunan

penglihatan

mendadak.

Dianjurkan

penyandang

diabetes

memeriksakan matanya 3 tahun sekali sebelum timbulnya gejala dan setiap tahun
bila sudah mulai ada kerusakan mikro untuk mencegah kebutaan. Faktor utama

11

adalah gula darah yang terkontrol memperlambat progresivitas kerusakan retina


(Ilyas, 2009).
Nefropati Diabetik
Ditandai dengan albuminura menetap > 300 mg/24 jam atau > 200 ig/menit
pada minimal 2x pemeriksaan dalam waktu 3-6 bulan. Berlanjut menjadi
proteinuria akibat hiperfiltrasi patogenik kerusakan ginjal pada tingkat
glomerulus. Akibat glikasi nonenzimatik dan AGE, advanced glication product
yang ireversible dan menyebabkan hipertrofi sel dan kemoatraktan mononuklear
serta inhibisi sintesis nitric oxide sebagai vasadilator, terjadi peningkatan tekanan
intraglomerulus dan bila terjadi terus menerus dan inflamasi kronik, nefritis yang
reversible akan berubah menjadi nefropati dimana terjadi keruakan menetap dan
berkembang menjadi chronic kidney disease.
Neuropati diabetik
Yang tersering dan paling penting adalah neuropati perifer, berupa hilangnya
sensasi distal. Berisiko tinggi untuk terjadinya ulkus kaki dan amputasi. Gejala
yang sering dirasakan kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri dan lebih terasa
sakit di malam hari. Setelah diangnosis DM ditegakkan, pada setiap pasien perlu
dilakukan skrining untuk mendeteksi adanya polineuropati distal dengan
pemeriksaan neurologi sederhana, dengan monofilamen 10 gram, dilakukan
sedikitnya setiap tahun.
2.

Makroangiopati
Pembuluh darah jantung atau koroner dan otak
Kewaspadaan kemungkinan terjadinya PJK dan stroke harus ditingkatkan

terutama untuk mereka yang mempunyai resiko tinggi seperti riwayata keluarga
PJK atau DM.
Pembuluh darah tepi
Penyakit arteri perifer sering terjadi pada penyandang diabetes, biasanya
terjadi dengan gejala tipikal intermiten atau klaudikasio, meskipun sering anpa
gejala. Terkadang ulkus iskemik kaki merupakan kelainan yang pertama muncul.
2.8

Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan mencegah komplikasi akut dan kronik, meningkatkan

kualitas hidup dengan menormalkan KGD, dan dikatakan penderita DM terkontrol


sehingga sama dengan orang normal. Pilar penatalaksanaan Diabetes mellitus
dimulai dari : (PERKENI,2006)
1. Edukasi

12

Pemberdayaan penyandang diabetes memerlukan partisipasi aktif pasien,


keluarga dan masyarakat. Tim kesehatan mendampingi pasien dalam menuju
perubahan perilaku. Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku, dibutuhkan
edukasi yang komprehensif dan upaya peningkatan motivasi.
2. Terapi gizi medis
Terapi gizi medik merupakan salah satu dari terapi non farmakologik yang
sangat direkomendasikan bagi penyandang diabetes. Terapi ini pada prinsipnya
melakukan pengaturan pola makan yang didasarkan pada status gizi diabetes dan
melakukan modifikasi diet berdasarkan kebutuhan individual.
Tujuan terapi gizi ini adalah untuk mencapai dan mempertahankan: (Sudoyo et al,
2006)
1. Kadar glukosa darah yang mendekati normal
a) Glukosa darah berkisar antara 90-130 mg/dl
b) Glukosa darah 2 jam post prandial < 180 mg/dl
c) Kadar HbA1c < 7%
2. Tekanan darah <130/80
3. Profil lipid :
a) Kolesterol LDL <100 mg/dl
b) Kolesterol HDL >40 mg/dl
c) Trigliserida <150 mg/dl
4. Berat badan senormal mungkin, BMI 18 24,9
Beberapa faktor yang harus diperhatikan sebelum melakukan perubahan pola
makan diabetes antara lain, tinggi badan, berat badan, status gizi,, status
kesehatan, aktivitas fisik dan faktor usia. Selain itu ada beberapa faktor fisiologi
seperti masa kehamilan, masa pertumbuhan, gangguan pencernaan pada usia tua,
dan lainnya. Pada keadaan infeksi berat dimana terjadi proses katabolisme yang
tinggi perlu dipertimbangkan pemberian nutrisi khusus. Masalah lain yang tidak
kalah pentingnya adalah masalah status ekonomi, lingkungan

kebiasaan dan

tradisi dalam lingkungan yang bersangkutan serta kemampuan petugas kesehatan


yang ada.
Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari :
Komposisi nutrien berdasarkan konsensus nasional adalah Karbohidrat 60-70%,
Lemak 20-25% dan Protein 10-15%.
KARBOHIDRAT (1 gram=40 kkal)
Kandungan total kalori pada makanan yang mengandung karbohidrat lebih
ditentukan oleh jumlahnya dibandingkan jenis karbohidrat itu sendiri.

13

Total kebutuhan kalori perhari, 60-70 % diantaranya berasal dari sumber


karbohidrat
Jika ditambah MUFA sebagai sumber energi maka jumlah karbohidrat maksimal
70% dari total kebutuhan perhari
Jumlah serat 25-50 gram/hari.
Penggunaan alkohol dibatasi dan tidak boleh lebih dari 10 ml/hari.
Pemanis yang tidak meningkatkan jumlah kalori sebagai penggantinya adalah
pemanis

buatan

seperti

sakarin,

aspartam,

acesulfam

dan

sukralosa.

Penggunaannya pun dibatasi karena dapat meningkatkan resiko kejadian kanker.


Fruktosa tidak boleh lebih dari 60 gr/hari
Makanan yang banyak mengandung sukrosa tidak perlu dibatasi.
PROTEIN
Kebuthan protein 15-20% dari total kebutuhan energi perhari.
Pada keadaan kadar glukosa darah yang terkontrol, asupan protein tidak akan

mempengaruhi konsentrasi glukosa darah .


Pada keadaan kadar glukosa darah yang tidak terkontrol, pemberian protein
sekitar 0,8-1,0 mg/kg BB/hari .
Pada gangguan fungsi ginjal, jumlah asupan protein diturunkan sampa 0,85 gr/kg
BB/hari dan tidak kurang dari 40 gr.
Jika terdapat komplikasi kardiovaskular maka sumber protein nabati lebih
dianjurkan dibandingkan protein hewani.
LEMAK
Batasi konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh, jumlah maksimal 10%
dari total kebutuhan kalori perhari.
Jika kadar kolesterol LDL 100 mg/dl, asupan asam lemak jenuh diturunkan
sampai maksimal 7% dari total kalori perhari.
Konsumsi kolesterol maksimal 300 mg/hari, jika kadar kolesterol LDL 100
mg/dl, maka maksimal kolesterol yag dapat dikonsumsi 200 mg perhari.
Kebutuhan Kalori
Menetukan kebutuhan kalori basa yang besarnya 25-30 kalori/ kg BB ideal
ditambah atau dikurangi bergantung pada beberapa factor yaitu jenis kelamin,
umur, aktivitas, berat badan dan lain-lain.
Penentuan kebutuhan kalori
Kebutuhan basal :
Laki-laki = berat badan ideal (kg) x 30 kalori
Wanita = berat badan ideal (kg) x 25 kalori
Koreksi :

14

umur

40-59 th : -5%

60-69 : -10%

>70% : -20

aktivitas

Istirahat

: +10%

Aktivitas ringan

: +20%

Aktivitas sedang

: +30%

Aktivitas berat

: +50%

berat badan

Kegemukan

: - 20-30%

Kurus

: +20-30%

stress metabolik

: + 10-30%

Makanan tersebut dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi 20%, makan
siang 30% dan makan malam 25%, serta 2-3 porsi ringan 10-15% diantara porsi
besar.
Berdasarkan IMT dihitung berdasarkan berat badan (kg) dibagi dengan tinggi
badan kuadrat (m2).
Kualifikasi status gizi :
BB kurang : < 18,5
BB normal : 18,5 22,9
BB lebih
3.

: 23 24,9

Latihan Jasmani
Kegiatan fisik bagi penderita diabetes sangat dianjurkan karena mengurangi

resiko kejadian kardiovaskular dimana pada diabetes telah terjadi mikroangiopati


dan peningkatan lipid darah akibat pemecahan berlebihan yang membuat vaskular
menjadi lebih rentan akan penimbunan LDL teroksidasi subendotel yang
memperburuk kualitas hidup penderita. Dengan latihan jasmani kebutuhan otot
akan glukosa meningkat dan ini akan menurunkan kadar gula darah.
Aktivitas latihan :

5-10 menit pertama : glikogen akan dipecah menjadi glukosa


10-40 menit berikutnya : kebutuhan otot akan glukosa akan meningkat 7-

20x. Lemak
15

juga akan mulai dipakai untuk pembakaran sekitar 40%

> 40 menit : makin banyak lemak dipecah 75-90% .


Dengan makin banyaknya lemak dipecah, makin banyakk pula benda keton
yang terkumpul dan ini menjadi perhatian karena dapat mengarah ke keadaan
asidosis. Latihan berat hanya ditujukan pada penderita DM ringan atau terkontrol
saja, sedangkan DM yang agak berat, GDS mencapai > 350 mg/dl sebaiknya
olahraga yang ringan dahulu. Semua latihan yang memenuhi program CRIPE :
Continous, Rhythmical, Interval, Progressive, Endurance. Continous maksudnya
berkesinambungan

dan dilakukan terus-menerus tanpa berhenti. Rhytmical

artinya latihan yang berirama, yaitu otot berkontraksi dan relaksi secara teratur.
Interval, dilakukan selang-seling antara gerak cepat dan lambat. Progresive
dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan dari intensitas ringa sampai sedang
hingga 30-60 menit. Endurance, latihan daya tahan untuk meningkatkan
kemampuan kardiopulmoner seperti jalan santai, jogging dll.
4. Intervensi Farmakologis
Intervensi farmakologis ditambahkan jika sasaran glukosa darah belum
tercapai degan pengaturan makanan dan latihan jasmani.
1. Obat hipoglikemik oral (OHO)
a. Insulin secretagogue :
Sulfonilurea : meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas.
Merupakan obat pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal dan
kurang namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih.
Contohnya glibenklamid.
Glinid : bekerja cepat, merupakan prandial glucose regulator. Penekanan
pada peningkatan sekresi insulin fase pertama.obat ini berisiko terjadinya
hipoglikemia. Contohnya : repaglinid, nateglinid.
b. Insulin sensitizers
Thiazolindindion. Mensensitisasi insulin dengan jalan meningkatkan efek
insulin endogen pada target organ (otot skelet dan hepar). Menurunkan resistensi
insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa, sehingga
ambilan glukosa di perifer meningkat. Agonis PPAR yang ada di otot skelet,
hepar dan jaringan lemak.
c. Glukoneogenesis inhibitor
Metformin. Bekerja mengurangi

glukoneogenesis

hepar

dan

juga

memperbaiki uptake glukosa perifer. Terutama dipakai pada penyandang diabetes

16

gemuk. Kontraindikasi pada pasien dengan gangguan ginjal dan hepar dan pasien
dengan kecendrungan hipoksemia.
d. Inhibitor absorbsi glukosa
glukosidase inhibitor (acarbose). Bekerja menghambat absorbsi glukosa
di usus halus sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah
makan. Obat ini tidak menimbulkan efek hipoglikemi
Hal-hal yang harus diperhatikan :
OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara bertahap sesuai respon
kadar glukosa darah, dapat diberikan sampai dosis maksimal. Sulfonilurea
generasi I dan II 15-30 menit sebelum makan. Glimepirid sebelum/sesaat sebelum
makan. Repaglinid, Nateglinid sesaat/sebelum makan. Metformin sesaat/pada
saat/sebelum makan. Penghambat glukosidase bersama makan suapan pertama.
Thiazolidindion tidak bergantung jadwal makan.
1. Insulin
Sekresi insulin fisiologis terdiri dari sekresi insulin basal dan sekresi insulin
prandial. Terapi insulin diupayakan mampu meniru pada sekresi insulin yang
fisiologis.
Defisiensi insulin mungkin hanya berupa defisiensi insulin basa, insulin
prandial atau keduanya. Defisiensi insulin basal menyebabkan timbulnya
hiperglikemia pada keadaan puasa, sedangkan defisiensi nsulin prandial akan
menimbulkan hiperglikemia setelah makan.
Terapi insulin untuk substitusi ditujukan untuk melakukan koreksi terhadap
defisiensi yang terjadi.
Terapi insulin dapat diberikan secara tunggal berupa insulin kerja cepat (rapid
insulin), kerja pendek (short acting), kerja menengah (intermediate acting) atau
insuli campuran tetap (premixed insulin)
Insulin diperlukan dalam keadaan : penurunan berat badan yang cepat,
hiperglikemia yang berta disertai ketosis, ketoasidosis diabetik, hiperglikemia
hiperosmolar non ketotik, hiperglikemia dengan asidosis laktat, gagal dengan
kombinasi OHO dengan dosis yang hampir maksimal, stress berat (infeksi
sistemik, operasi besar, IMA, stroke), kehamilan dengan DM/DM Gestasional
yang tidak terkendali dengan perencanaan makan, gangguan fungsi hepar atau
ginjal yang berat, kontraindikasi atau alergi OHO.
2. Terapi Kombinasi

17

Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah untuk
kemudian diinaikan secara bertahap sesuai dengan respon kadar glukosa darah.
Untuk kombinasi OHO dengan insulin, yang banyak dipakai adalah kombinasi
OHO dan insulin basal (kerja menengah atau kerja lama) yang divberikan pada
malam hari atau menjelang tidur. Dengan pendekatan terapi tersebut pada
umumnya dapat diperoleh kendali glukosa yag baik dengan dosis insulin yang
cukup kecil. Dosis awal insulin kerja menengah adalah 6-10 unit yang diberikan
sekitar jam 22.00, kemudian dilakukan evaluasi dosis tersebut dengan menilai
kadar gula darah puasa keesokan harinya. Bila dengan cara seperti ini kadar gula
darah sepanjang hari masih tidak terkendali, maka OHO dihentikan dan diberikan
insulin.
2.9 Pencegahan
Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan pada kelompok yang
memiliki faktor resiko, yakni mereka yang belum terkena tetapi berpotensi untuk
mendapat DM dan kelompok intoleransi glukosa. Materi penyuluhan meliputi
program penurunan berat badan, diet sehat, latihan jasmani dan menghentikan
kebiasaan merokok. Perencanaan kebijakan kesehatan ini tentunya diharapkan
memahami dampak sosio-ekonomi penyakit ini, pentingnya menyediakan fasilitas
yang memadai dalam upaya pencegahan primer (PERKENI, 2006).
Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat timbulnya
penyulit pada pasien yang telah menderita DM. Program ini dapat dilakukan
dengan pemberian pengobatan yang cukup dan tindakan deteksi dini penyulit
sejak awal pengelolaan penyakit DM. Penyuluhan ditujukan terutama bagi pasien
baru, yang dilakukan sejak pertemuan pertama dan selalu diulang pada setiap
pertemuan berikutnya. Salah satu penyulit DM yang sering terjadi adalah penyakit
kardiovaskular, yang merupakan penyebab utama kematian pada penyandang
diabetes. Selain pengobatan terhadap tingginya kadar glukosa darah, pengendalian
berat badan, tekanan darah, profil lipid dalam darah serta pemberian antiplatelet
dapat menurunkan resiko timbulnya kelainan kardiovaskular pada penyandang
diabetes (PERKENI, 2006).

Pencegahan Tersier

18

Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penyandang diabetes yang telah


mengalami penyulit dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut.
Pada pencegahan tersier tetap dilakukan penyuluhan kepada pasien dan juga
keluarganya dengan materi upaya rehabilitasi yang dapat dilakakukan untuk
mencapai kualitas hidup yang optimal. Upaya rehabilitasi pada pasien dilakukan
sedini mungkin sebelum kecacatan menetap, misalnya pemberian aspirin dosis
rendah 80-325 mg/hari untuk mengurangi dampak makroangiopati. Kolaborasi
yang baik antar para ahli di berbagai disiplin, jantung, ginjal, mata, bedah
ortopedi, bedah vaskular, radiologi, rehabilitasi medik, gizi, pediatrik dll sangat
diperlukan untuk menunjang keberhasilan pencegahan tersier (PERKENI, 2006).
2.10

Kepatuhan
Kepatuhan adalah tingkat perilaku pasien yang tertuju terhadap intruksi

atau petunjuk yang diberikan dalam bentuk terapi apapun yang ditentukan, baik
diet, latihan, pengobatan, atau menepati janji pertemuan dengan dokter.
Faktor-faktor yang mendukung kepatuhan pasien menurut Feuer Stein
diantaranya: (CDC, 2013)
1. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu kegiatan, usaha manusia meningkatkan kepribadian
atau proses perubahan prilaku menuju kedewasaan dan penyempurnaan kehidupan
manusia dengan jalan membina dan mengembangkan potensi kepribadiannya
yang berupa rohani (cipta, rasa, karsa) dan jasmani. Domain pendidikan dapat
diukur dari:
a. Pengetahuan terhadap pendidikan yang diberikan (knowledge)
b. Sikap atau tanggapan terhadap materi pendidikan yang diberikan (attitude)
c. Praktek atau tindakan sehubungan dengan materi pendidikan yang diberikan
2. Akomodasi
Suatu usaha harus dilakukan untuk memahami ciri kepribadian pasien yang
dapat mempengaruhi kepatuhan. Pasien yang mandiri harus dilibatkan secara aktif
dalam program pengobatan.
3. Modifikasi faktor lingkungan dan sosial
Membangun dukungan sosial dari keluarga dan teman-teman sangat penting,
kelompok pendukung dapat dibentuk untuk membantu memahami kepatuhan
terhadap program pengobatan.
4. Perubahan model terapi
Program pengobatan dapat dibuat sesederhana mungkin dan pasien terlibat
aktif dalam pembuatan pogram tersebut.
19

5. Meningkatkan interaksi profesional kesehatan dengan pasien


Suatu hal yang penting memberikan umpan balik pada pasien setelah
memperoleh informasi diagnosa.
Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam meningkatkan
kepatuhan pasien, yaitu:
1. Buat intruksi tertulis yang mudah diinterprestasikan
2. Berikan informasi tentang pengobatan sebelum menjelaskan hal lain
3. Memberi daftar tertulis tentang hal-hal yang harus diingat
4. Intruksi harus ditulis dalam bahas non medis
Kepatuhan seseorang sangat berhubungan dengan:
1. Interaksi kompleks antara dukungan keluarga dan pengalaman
2. Interaksi perilaku dengan kepercayaan kesehatan seseorang
3.
Kepercayaan yang ada sebelumnya.
Kepatuhan adalah merupakan suatu perubahan perilaku dari perilaku yang
tidak mentaati peraturan ke perilaku yang mentaati peraturan. Faktor yang
mempengaruhi perilaku kesehatan adalah sebagai berikut: (CDC, 2013)
1. Faktor-faktor predisposisi yaitu faktor faktor yang mempermudah atau
mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang antara lain pengetahuan, sikap,
keyakinan, kepercayaan, nilai tradisi.
2. Faktor faktor pemungkin adalah faktor faktor yang memungkinkan atau
memfasilitasi perilaku atau tindakan. Yang dimaksud dengan faktor pemungkin
adalah saran dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan,
misalnya puskesmas, posyandu, rumah sakit, makanan bergizi. Sebuah
keluarga yang sudah tahu masalah kesehatan mengupayakan keluarganya untuk
menggunakan air bersih, makan bergizi dan sebagainya. Tetapi apabila
keluarga tersebut tidak mampu mengadakan fasilitas itu semua, maka dengan
terpaksa menggunakan air kali, makan seadanya.
3. Faktor faktor penguat adalah faktor yang mendorong atau memperkuat
terjadinya perilaku. Kadang kadang meskipun seseorang tahu dan mampu
untuk berperilaku sehat, tetapi tidak melakukannya. Perlu adanya contohcontoh perilaku sehat dari para tokoh masyarakat.
Metode pengukuran tingkat kepatuhan dapat diukur melalui metode, yaitu:
(CDC, 2013)
a. Metode langsung
Pengukuran kepatuhan melalui metode langsung dapat dilakukan dengan
beberapa cara, seperti mengukur konsentrasi obat atau metabolit obat di dalam

20

darah atau urin, mengukur atau mendeteksi pertanda biologi di dalam obat.
Metode ini umumnya mahal, memberatkan tenaga kesehatan, dan rentan
terhadap penolakan pasien.

b. Metode tidak langsung


Pengukuran kepatuhan melalui metode tidak langsung dapat dilakukan dengan
bertanya kepada pasien tentang penggunaan obat, menggunakan kuesioner,
menilai respon klinik pasien, menghitung jumlah pil obat, dan menghitung
tingkat pengambilan kembali resep obat. Tingkat kepatuhan pasien
menggunakan metode tidak langsug dapat diukur dengan menggunakan
kuesioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS)-8. Kuesioner
MMAS-8 adalah alat penilaian dari WHO yang sudah divalidasi dan sering
digunakan untuk menilai kepatuhan pengobatan pasien dengan penyakit
kronik, seperti diabetes mellitus. MMAS-8 berisi delapan pertanyaan tentang
penggunaan obat dengan jawaban ya dan tidak. Nilai MMAS-8 yang tinggi
menunjukkan tingkat kepatuhan pasien terhadap pengobatan rendah.
DM merupakan penyakit kronik, seumur hidup dan mempunyai resiko
komplikasi yang tinggi, sehingga menuntut kepatuhan penderita yang tinggi
dalam menjalani pengobatan yang komprehensif dan jangka panjang agar target
pengendalian glikemik dapat tercapai. Pada kenyataannya sangat sulit menilai
tingkat kepatuhan penderita secara pasti, terutama pada pasien rawat jalan, karena
kita tidak tahu pasti yang dilakukan penderita menyangkut cara minum obat dan
dosisnya, pola makan dan aktivitas fisiknya, serta pola hidup yang lain, yang
dapat mempengaruhi pengendalian kadar glukosa darah penderita.

21

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Mini Project
Jenis mini project yang dilakukan adalah dalam bentuk penelitian. Adapun
metode penelitian yang digunakan pada penelitian mini project ini adalah
deskriptif dengan pendekatan cross sectional yaitu dengan melakukan
pengumpulan data variabel penelitian dengan cara pendekatan, observasi, atau
pengumpulan data sekaligus pada waktu yang sama. Tiap subjek penelitian hanya
diobservasi sekali saja. Penelitian deskriptif merupakan suatu metode penelitian
yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi
tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2005).
3.2

Tempat dan Waktu Pelaksanaan Mini Project


Penelitian mini project ini dilakukan di Poli Puskesmas Langsa Timur.

Waktu pelaksanaan pengumpulan data dalam penelitian ini telah dilakukan selama
bulan Januari 2015.
3.3

Populasi dan Sampel dalam Penelitian Mini Project

3.3.1

Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien diabetes melitus yang

tercatat di Rekam Medik Puskesmas Langsa Timur, periode 1 Januari 2015 sampai
dengan 31 Januari 2015.
3.3.2

Sampel

22

Pengambilan sampel dilakukan dengan metode Non Probability Sampling


dengan teknik Accidental Sampling yaitu mengambil kasus atau responden yang
kebetulan ada atau tersedia (Notoatmodjo, 2005).

3.4

Variabel dan Definisi Operasional Penelitian Mini Project

3.4.1 Variabel Penelitian


Variabel pada penelitian ini yang menimbulkan kejadian penyakit diabetes
melitus adalah:
a. Jenis kelamin
b. Usia
c. Tingkat kepatuhan minum obat
3.4.2 Definisi Operasional
a. Umur adalah usia penderita diabetes melitus yang dirawat inap di Puskesmas
Langsa Timur, sesuai dengan yang tercatat di rekam medik.
b. Jenis kelamin adalah ciri khas tertentu yang dimiliki oleh penderita diabetes
melitus, sesuai yang tercatat di rekam medik. Baik itu penderita dengan jenis
kelamin laki-laki dan perempuan.
c. Kepatuhan minum obat adalah tingkat perilaku pasien yang tertuju terhadap
intruksi atau petunjuk yang diberikan dalam bentuk terapi apapun yang
ditentukan.
3.5 Metode Pengumpulan Data Penelitian Mini Project
Data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini merupakan data yang
berasal dari data sekunder melalui data catatan rekam medik pasien diabetes
melitus dan pengisian kuesioner MMAS-8 di poli Puskesmas Langsa Timur,
periode 1 Januari 2015 sampai dengan 31 Januari 2015.
3.6 Analisis Data
Analisa data yang digunakan pada penelitian mini project ini adalah analisis
data univariat, yaitu analisis yang digunakan hanya untuk melihat distribusi dan
persentase dari tiap variabel yang diteliti.

BAB IV
23

PENYAJIAN DATA

4.1

Gambaran Umum Puskesmas Langsa Timur

4.1.1 Data Geografis


Puskesmas Langsa Timur merupakan puskesmas yang berdomilisi di
kecamatan Langsa Timur Kota Langsa dengan jumlah penduduk 14.512 jiwa,
dengan jumlah penduduk laki-laki 7.451 jiwa dan perempuan 7.061 jiwa. Jumlah
penduduk ini tersebar dalam 16 desa.
Tabel 4.1. Karakteristik kunjungan pasien berdasarkan umur pada bulan Januari
2015.
No

Umur (tahun)

Jumlah

Persentase (%)

01

39

1.87

14

143

6.86

59

102

4.89

10 14

95

5.66

15 19

155

4.56

20 44

811

38.90

45 54

345

16.55

55 59

148

7.10

60 69

173

8.30

10

70

74

3.55

2085

100

Total

24

Gambar 4.1: Grafik karakteristik kunjungan pasien berdasarkan umur pada bulan
Januari 2015
4.1.2 Data Demografis
Puskesmas Langsa Timur merupakan salah satu Puskesmas dengan rawat
inap dijajaran Dinas Kesehatan kota Langsa. Adapun luas wilayah kerja
Puskesmas Langsa Timur adalah 89 km2, yang terdiri dari 16 desa, yaitu :
1. Alur Pinang
2. Alur Merbau
3. Bukit Meutuah
4. Bukit Medang Ara
5. Bukit Pulo
6. Bukit Rata
7. Cinta Raja
8. Matang Cengai
9. Matang Stui
10. Matang Panyang
11. Senebok Antara
12. Sungai Leung
13. Sukarejo
14. Simpang Wie
15. Alur Pinang Timur
16. Kappa
25

Puskesmas Kembang Tanjung terletak di Kecamatan Langsa Timur Kota Langsa.


Wilayah kerja puskesmas meliputi 16 Desa yang tersebar dalam kecamatan
Langsa Timur. Adapun batas-batas wilayahnya adalah:
a. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Sukarejo.
b. Sebelah selatan berbatasan dengan alur Pinang Barat.
c. Sebelah timur berbatasan dengan Alur Pinang Barat.
d. Sebelah barat berbatasan dengan Alur Pinang Barat.
Puskesmas Langsa Timur memiliki luas wilayah 89 km2 danluas bangunan 768 m2
serta telah mengalami renovasi sebanyak satu kali pada tahun 2010. Sarana yang
dimiliki oleh Puskesmas adalah
a. Bangunan Puskesmas 1 (satu) unit, meliputi ruang kepala puskesmas,
ruang administrasi,ruang program,ruang perawatan dan ruang penunjang
b. Puskesmas Pembantu (Pustu) 2 unit
c. Polindes 13 unit
d. Rumah dinas paramedis 3 unit
Jumlah penduduk di wilayah kerja puskesmas kembang tanjung, yaitu 14.512
jiwa.
4.2 Sumber daya Kesehatan yang ada
4.2.1 Tenaga Kesehatan
Puskesmas Langsa Timur memiliki tenaga kesehatan sebanyak 159 orang.
Tabel 4.4 Jenis Pegawai Kesehatan Puskesmas Langsa Timur Tahun 2011
No.
1.
2.
3
4

Jenis Pegawai
PNS
PTT
Honor
Bakti
Total

Jumlah
73 orang
15 orang
8 orang
6 orang
159 orang

4.2.2 Fasilitas Penunjang


Puskesmas Kembang Tanjung memiliki fasilitas penunjang dalam mendukung
tugas-tugas operasional dan agar jangkauan pelayanan puskesmas lebih luas dan
merata hingga dapat mencakup ke seluruh wilayah kerjanya. Adapun fasilitas
penunjang tersebut adalah sebagai berikut:
1. Satu unit Pustu (Puskesmas pembantu), yaitu:
a. Pustu Alur Merbau

26

b. Pustu Alur Pinang


2. Dua unit Pusling (Puskesmas keliling) dengan kendaraan roda empat
(Ambulance) yang kegiatannya:
a. Memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui Posyandu.
b. Melakukan penyuluhan kesehatan.
c. Melakukan rujukan medik bagi kasus gawat darurat
d. Melakukan penyelidikan terhadap KLB (Kejadian Luar Biasa).
e. Melakukan konsultasi dan koordinasi ke Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh.
3. Enam belas unit kendaraan roda dua, enam unit berada di Puskesmas dan dua
unit berada di Pustu yang kegiatannya untuk:
a. Sarana operasional program surveillance.
b. Sarana transportasi administrasi Puskesmas .
c. Sarana transportasi petugas dari Pustu ke Puskesmas atau sebaliknya.
d. Sarana operasional pendataan peserta Jamkesmas/Askes/JKA.
e. Sarana operasional dalam memonitor status gizi bayi dan balita yang ada di
wilayah kerja Puskesmas Langsa Timur.
4.3 Sarana Pelayanan Kesehatan yang ada
Adapun 18 kegiatan pokok yang dijalankan oleh Puskesmas Langsa Timur adalah
sebagai berikut:
1. Upaya Kesehatan wajib puskesmas, meliputi :
a. Promosi Kesehatan masyarakat
b. Kesehatan Lingkungan
c. KIA dan KB
d. Usaha peningkatan gizi
e. Pemberantasan penyakit menular
f. Upaya pengobatan
2. Upaya kesehatan pengembangan puskesmas :
a. Upaya kesehatan sekolah
b. Perawatan kesehatan masyarakat
c. Upaya kesehatan kerja
d. Upaya kesehatan gigi dan mulut
e. Kesehatan jiwa
f. Kesehatan mata
g. Kesehatan dan usia lanjut
h. Pembinaan pengobatan tradisional

27

i. Peran serta masyarakat


3. Upaya pelayanan penunjang
a. Laboratorium sederhana
b. Pencegahan infeksi
c. SP2T

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1

Hasil Penelitian
Berdasarkan pengumpulan data penelitian yang dikumpulkan selama bulan

Januari 2015 di Poli Puskesmas Langsa Timur diperoleh jumlah pasien diabetes
melitus sebanyak 120 pasien.
5.1.1 Gambaran Distribusi Diabetes Melitus Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan jenis kelamin pasien dibagi menjadi dua yaitu laki-laki dan
perempuan. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.1 berikut ini:
Tabel 5.1 Distribusi penyakit diabetes melitus berdasarkan jenis kelamin
No
Jenis Kelamin
N
%
1
Laki-laki
61
50,83
2
Perempuan
59
49,17
Total
120
100

28

Dari tabel di atas terlihat jumlah pasien diabetes melitus berjenis kelamin
laki-laki sebanyak 61 pasien (50,83%) dan pasien dengan jenis kelamin
perempuan sebanyak 59 pasien (49,17%).
5.1.2 Gambaran Distribusi Diabetes Melitus Berdasarkan Usia
Karakteristik usia pasien dibagi menjadi empat kategori usia yaitu 40-50
tahun, 51-60 tahun, 61-70 tahun, 71-80 tahun,. Hasil selengkapnya dapat dilihat
pada Tabel 5.2 berikut ini:
Tabel 5.2 Distribusi penyakit diabetes melitus berdasarkan usia
No
Usia Pasien
n
1
40-54 tahun
72
2
55-69 tahun
42
3
70-84 tahun
6
Total
120

%
60,00
35,00
05,00
100

Dari tabel di atas terlihat jumlah pasien diabetes melitus dengan usia 40-54
tahun sebanyak 72 pasien (60,00%), usia 55-69 tahun sebanyak 42 pasien
(35,00%), dan yang berusia 70-84 tahun sebanyak 6 pasien (05,00%).
5.1.3 Gambaran

Distribusi

Diabetes

Melitus

Berdasarkan

Tingkat

Kepatuhan minum obat


Berdasarkan tingkat kepatuhan minum obat yang didaptkan dari pengisian
kuesioner MMAS-8, pasien dibagi menjadi tiga kategori yaitu kepatuhan tinggi,
kepatuhan sedang, dan kepatuhan rendah. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada
Tabel 5.3 berikut ini:
Tabel 5.3 Distribusi penyakit diabetes melitus berdasarkan tingkat kepatuhan
minum obat
No
Tingkat Kepatuhan
n
%
1
Kepatuhan tinggi
23
19,16
2
Kepatuhan sedang
32
26,67
3
Kepatuhan rendah
65
54,17
Total
120
100
Dari tabel di atas terlihat jumlah pasien diabetes melitus dengan tingkat
kepatuhan minum obat yang tinggi sebanyak 23 pasien (19,16%), kepatuhan
sedang sebanyak 32 pasien (26,67%), dan yang tingkat kepatuhannya rendah
sebanyak 65 pasien (54,17%).
29

5.2

Pembahasan

5.2.1 Pembahasan Data Penelitian


1.

Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan jumlah pasien diabetes melitus

berjenis kelamin laki-laki sebanyak 61 pasien (50,83%) dan pasien dengan jenis
kelamin perempuan sebanyak 59 pasien (49,17%).
Jenis Kelamin bukan merupakan faktor resiko dari diabetes melitus tipe 2
namun secara epidemiologi jumlah penderita DM tipe 2 lebih banyak pada pasien
berjenis kelamin laki-laki. Pada penelitian yang dilakukan oles Siswanto (2009)
didapatkan bahwa angka kejadian DM tipe 2 berdasarkan jenis kelamin laki-laki
dibanding perempuan adalah 1:2. Hal ini dapat terjadi karena subjek penelitian
mayoritas adalah perempuan.
2.

Usia
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pasien diabetes melitus di

poli Puskesmas Langsa Timur jumlah pasien diabetes melitus dengan usia 40-54
tahun sebanyak 72 pasien (60,00%), usia 55-69 tahun sebanyak 42 pasien
(35,00%), dan yang berusia 70-84 tahun sebanyak 6 pasien (05,00%).
Hasil penelitian yang didapatkan oleh Mihardja L (2009) yang dilakukan di
perkotaan indonesia didapatkan bahwa prevalensi responden yang mempunyai
riwayat diabetes melitus cenderung meningkat dengan bertambahnya usia, hal ini
disebabkan semakin lanjut usia maka pengeluaran insulin oleh pankreas juga
semakin berkurang. Namun prevalensi pada usia 65 tahun keatas semakin
menurun, kemungkinan pada kelompok tersebut responden DM berkomplikasi
berat sehingga tidak bisa datang ketempat pemeriksaan atau kemungkinan pada
kelompok tersebut sebagian besar sudah meninggal.
Usia merupakan faktor resiko DM tipe 2, angka kejadian DM tipe 2
meningkat pada usia >45 tahun. Sesuai dengan kepustakaan yang didapat pada
penelitian yang dilakukan oleh siswanto (2009) bahwa angka kejadian DM tipe 2
terbesar rentan pada usia 41-50 tahun yaitu sebesar 50%.

30

3.

Tingkat kepatuhan minum obat


Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pasien diabetes melitus di

poli Puskesmas Langsa Timur dengan tingkat kepatuhan minum obat yang tinggi
sebanyak 23 pasien (19,16%), kepatuhan sedang sebanyak 32 pasien (26,67%),
dan yang tingkat kepatuhannya rendah sebanyak 65 pasien (54,17%).
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan pasien pada pengobatan
penyakit yang bersifat kronis pada umumnya rendah. Penelitian yang melibatkan
pasien berobat jalan menunjukkan bahwa lebih dari 70% pasien tidak minum obat
sesuai dengan dosis yang seharusnya (Basuki, 2009). Menurut laporan WHO pada
tahun 2003, kepatuhan rata-rata pasien pada terapi jangka panjang terhadap
penyakit kronis di negara maju hanya sebesar 50%, sedangkan di negara
berkembang, jumlah tersebut bahkan lebih rendah (Asti, 2006).
5.2.2 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross
sectional dengan menggunakan data sekunder yang dikumpulkan secara langsung
melalui rekam medis yang terdapat di poli Puskesmas Langsa Timur. Adapun
keterbatasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional sehingga
penelitian ini hanya menyuguhkan sejelas mungkin fenomena sewaktu, tanpa
mencoba menganalisa mengapa dan bagaimana fenomena tersebut terjadi.
2. Kemungkinan adanya bias pada penelitian ini, antara lain karena sebagian data
total pasien diabetes melitus tidak lengkap dan sebagian hilang, Sehingga
jumlah sampel yang diperoleh sangat terbatas.

31

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1

Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah:

1.

Dari hasil penelitian terlihat penyakit diabetes melitus banyak ditemukan


pada pasien dengan jenis kelamin kelamin laki-laki, dimana hasil penelitian
menunjukkan pasien berjenis kelamin berjenis kelamin laki-laki sebanyak
61 pasien (50,83%) dan pasien dengan jenis kelamin perempuan sebanyak
59 pasien (49,17%).

2.

Dilihat dari usia, pasien diabetes melitus lebih dominan ditemukan pada usia
40-54 tahun sebanyak 72 pasien (60,00%), usia 55-69 tahun sebanyak 42
pasien (35,00%), dan yang berusia 70-84 tahun sebanyak 6 pasien (05,00%).

6.2

Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka penulis dapat memberikan saran-saran

sebagai berikut:
1.
Kepada peneliti selanjutnya diharapkan dapat menjadikan penelitian ini
sebagai inspirasi, data dasar maupun sebagai acuan untuk melakukan
2.

penelitian lainnya secara lebih mendalam.


Bagi pihak petugas medis di Puskesmas diharapkan dapat melakukan
deteksi dini dengan mengadakan skrining secara aktif pada penderita
32

diabetes melitus baik yang baru dan lama untuk pencegahan komplikasi,
serta dapat memberikan saran dan penyuluhan kepada pasien diabetes
melitus untuk mengenal penyakit diabetes melitus dan menghindari faktor
3.

resikonya.
Meningkatkan kesadaran penderita DM tipe 2 untuk selalu mengontrol

4.

kadar gula darah dan tekanan darah serta agar patuh berobat.
Meningkatkan kepedulian masyarakat untukmenjaga kesehatan dengan pola
hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin terutama
pada orang dengan faktor resiko.
DAFTAR PUSTAKA

Asti, Tri. 2006. Kepatuhan Pasien : Faktor Penting dalam Keberhasilan Terapi.
Info
POM,
Vol.
7,
No.
5,
http://
perpustakaan.pom.go.id/KoleksiLainnya/Buletin%20Info%20POM/0506.
pdf
Basuki, Endang. 2009. Konseling Medik : Kunci Menuju Kepatuhan Pasien.
Majalah Kedokteran Indonesia, Vol 59 Nomor 2 Februari 2009.
Cheng, D. 2005. Prevalence, predispositionand prevention of type II diabetes
London:Nur
Metab
diakses
dari
http://www.pubmedcentral.nih.gov/tocrender.fcgi?iid=18048.
Coppel, K., et al. 2008. Medication Adherence amongst People with Less than
Ideal Glycaemic Control the Lifestyle Over and above Drugs in Diabetes
(LOADD study). Diabetes Research and Clinical Practice; 79, 572.
Depkes RI. 2009. Diabetes Melitus di Indonesia. Diakses [ 28 November 2013]
dari www.depkes.go.id .
Funnel, M. 2004. Michigan Diabetes Research and Training Center. Diakses dari
http://www.med.umich.edu/1libr/guidesnoninsul.htm.
Gustaviani R. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. Dalam : buku ajar ilmu
penyakit dalam. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I dkk, editor. Jilid III.
Edisi IV. Jakarta : balai penerbit FKUI, 2006; 1857.
Ilyas S. 2005. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke-3. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
Kumar, Cotran, Robbins. 2007. Buku Ajar Patologi. Edisi ke-7. Vol 2. EGC.
Jakarta.
Mihardja L. 2009. Faktor yang Berhubungan dengan Pengendalian Gula Darah
Pada Penderita DM di Perkotaan Indonesia. Badan Penelitian dan
Pengembangan Departement Kesehatan Republik Indonesia. Majalah
Kedokteran. Vol 59.No 9. Jakarta.
33

Notoatmodjo S. 2005. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Cetakan ke-3. Jakarta.


PT Rineka Cipta.
PERKENI. 2006. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus
Tipe 2 di Indonesia. Jakarta.
Persi. 2008. Faktor Lingkungan dan Gaya Hidup Berperan Besar Memicu
Diabetes. http: //pdpersi.co.id. [ diakses tanggal 30 Oktober 2013].
Rahajeng, E. 2007. Resiko Obesitas pada kasus toleransi glukosa terganggu
terhadap kejadiab diabetes melitus tipe 2 dan faktor non-genetik lain
yang berpengaruh.
Rita Khairani. 2007. Prevalensi Diabetes Melitus dan Hubungannya dengan
Kualitas Hidup Lanjut Usia di Masyarakat. Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. Universa Medicina; 26: 18-26.
Siswanto IH. 2009. Prevalensi Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Obesitas Sentral di
Kelurahan Tajur Ciledug. Jakarta.
Sudoyo AW, Setiyphadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-4. Jilid 3. Balai Penerbit FKUI. Jakart
Tenriesa, Budu. 2009. Vasculer Endothelial Growth Factor (VEGF) Gene
Polymorphisms In Patients With Diabetic Retinopathy. The Indonesian
Journal of Medical Science 1(2): 32-39.
United States.
Centers for
Disease
Control and
Prevention. 2013.
Medication Adherence [online].
CDCs
Noon
Conference
Source:http://www.cdc.gov/primarycare/materials/medication/docs/medica
tion-adherence-01ccd.pdf .

34

Lampiran
KUESIONER No: _____
Silahkan menjawab semua pertanyaan Anda sebaik mungkin. Semua jawaban
Anda akan dijaga kerahasiaannya. Isi dan lingkari jawaban yang sesuai dengan
diri Anda.
LATAR BELAKANG
1/ Umur:
tahun
1 = 40 54 tahun 2 = 55 69 tahun

2/ Jenis Kelamin:
1 = Laki-laki
2 = Perempuan

3 = 70 84 tahun

Skala Ukur Kepatuhan Minum Obat


MMAS-8 (Medication Morisky Adherence Scale)
Penilaian kepatuhan minum obat
0

:8

kepatuhan tinggi

:6-7

kepatuhan sedang

:<6

kepatuhan rendah

Berilah tanda () pada kolom yang sesuai


Pertanyaan

Ya

Tidak

Apakah Bapak/Ibu minum obat secara teratur?

Apakah Bapak/Ibu kadang-kadang lupa minum obat?


Seseorang kadang-kadang tidak minum obat karena
beberapa alas an selain lupa. Selama 2 minggu terakhir,
apakah Bapak/ Ibu pernah tidak minum obat?

35

Ketika Bapak/ Ibu bepergian apa pernah lupa tidak


membawa obatnya?
Apakah Bapak/ Ibu minum obat anti hipertensi tidak sesuai
resep dokter?
Ketika Bapak/Ibu merasa tekanan darah telah terkontrol
atau turun, apakahBapak/ Ibu berhenti minum obat?
Apakah Bapak/Ibu merasa bahwa terapi hipertensi yang
didapat ini rumit/ kompleks?
Apakah Bapak/Ibu sering mengalami kesulitas mengingat
seluruh obat anti hipertensi yang harus dikonsumsi?

36