Anda di halaman 1dari 58

KUMPULAN MATERI

TAUSIYAH
KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

@ 2010 oleh Mohamad Romzie


Hak cipta yang dilindungi undang-undang
ada pada Penulis.
Hak penerbitan ada pada Ozie’s Production.

Cetakan I, Juni 2010

Penulis
Mohamad Romzie

Editor
Mohamad Romzie

Perancang Sampul & Penata Letak


Mohamad Romzie

Diterbitkan Oleh
Ozie’s Production
PRAKATA

T ausiyah merupakan salah satu sarana untuk kita nasihat-


menasihati dalam kebenaran dan kesabaran seperti yang
terkandung di dalam qur’an surah Al-‘Asr : 3 yang artinya,
“kecuali orang-orang yzng beriman dan mengerjakan kebaikan
serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati
dalam kesabaran”.
Mengingat bahwa begitu pentingnya tausiyah ini,
maka kami menyiapkan beberapa kumpulan tausiyah untuk
memudahkan pembaca dalam melaksanakan perintah Allah
tersebut dalam hal nasihat-menasihati.
Buku KUMPULAN MATERI TAUSIYAH ini hadir ke
hadapan pembaca untuk membantu menjawab persoalan
tersebut, khususnya untuk para mentor, guru ngaji, dan
penceramah agar dalam penyampaian ilmunya bisa diselingi
tausiyah ini. Selain itu, buku ini juga bermanfaat untuk
meningkatkan semangat kita karena berisi tentang kisah-kisah
Islami yang dapat menggugah hati-hati kita.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
buku ini, terutama kepada para ustad di daerah Jagakarsa dan
sekitarnya yang telah memberikan inspirasi kepada penulis dari
tausiyah-tausiyah yang disampaikannya. Semoga kita diberikan
keistiqomahan dalam menjalani dakwah ini agar tercapainya
masyarakat yang Islami.

Jakarta, April 2010

Mohamad Romzie

iii
DAFTAR ISI
Prakata ............................................................................... iii
Daftar Isi ............................................................................. iv

Tausiyah 1
Allah, Sandaran dan Sumber Kekuatan.............................. 1
Tausiyah 2
Adil itu Indah........................................................................ 7
Tausiyah 3
Agar Dapat Melihat Surga................................................... 13
Tausiyah 4
Allah Cinta Orang-Orang Sabar Di Tengah Bencana.......... 17
Tausiyah 5
Al-Qur’an dan Kebebasan Berpikir...................................... 19
Tausiyah 6
Arif di Tengah Krisis............................................................. 25
Tausiyah 7
Bahwa Tak Ada Yang Abadi................................................. 31
Tausiyah 8
Belajar Bersyukur................................................................ 35
Tausiyah 9
Belajar dari Kematian.......................................................... 39
Tausiyah 10
Berbuatlah........................................................................... 45
Tausiyah 11
Menjadikan Shalat Sebagai Pencegah Perbuatan Keji Dan
Munkar ........................................................................ 49

iv
TAUSIYAH 1
Allah,
Sandaran Dan Sumber Kekuatan

P ara pemburu surga itu mengerti kemana menyandarkan


diri, untuk mengambil sumber kekuatan. Surga itu milik
Allah. Maka kepada-Nya pula ia mohon kekuatan. Memburu
surga justru sama artinya dengan memohon bantuan kepada
pemilik-Nya. Sebab senyatanya, orang akan masuk surga
karena rahmat Allah SWT.
Pertama kali mereka melakukan ma’rifah kepada Allah.
Mengenali-Nya, sifat-sifat-Nya, kebaikan-kebaikan-Nya. Lalu
belajar bagaimana menunaikan kewajiban-kewajibannya.
Seperti yang diajarkan oleh Buya Hamka. Dalam buku Tasawuf
Modern, Hamka menukilkan sekelumit munajatnya,” Illahi!
Sudah amat jauh tersesat perjalananku. Sekarang aku pulang!
Karena aku tahu, tiap-tiap aku tersalah, dengan nikmat jua
Tuhan balasi. Kata orang enak sekali berkenalan dengan Raja
dari segala Raja! Yang tiada menutup pintunya kepada setiap
orang yang akan menghadap! Hatiku telah bergembira, karena
Engkaulah tujuan perjalananku…..”
Begitulah Hamka mengenali Tuhannya. Lalu dari sana
ia memulai menata lagak lagunya. Bahwa kepada Allah
segala kekuatan dimohonkan. kepadaNya pula segala usaha
disandarkan.
Hamka menyadari betul, dari mana memulainya. Dari
ingatannya akan kematian. Bahwa dari sana segalanya bermula.
Saat segalanya berakhir menghadap Allah SWT. Barangkali
 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

seperti yang diajarkan Ibnu Qayyim,” Ruh berada di dalam


badan, laksana orang mukmin di sebuah negeri yang asing,
karena ia memiliki negeri sendiri (yang bukan badan) dan tentu
ia tidak akan mau menetap kecuali di negerinya sendiri. Tapi ruh
ini dipaksa untuk bertempat tinggal dalam badan manusia yang
tebalini, sehingga ia tetap mencari tempat itnggalnya di negeri
yang tinggi dan selalu rindu kepadanya, sebagaimana rindunya
burung pada sarangnya. Setiap ruh pasti mengalami keadaan
seperti itu, hanya saja karena saking sibuknya dengan urusan
badan ia menjadi langgeng di bumi dan melupakan tempat
itnggal dan negerinya yang kenikmatan dan kenyamanannya
tidak pernah ditemukan di negeri selainnya.
Ibnu Qayyim menambahkan,”Oleh karena itulah seorang
mukmin tidak pernah merasa betah (di dunia) kecuali setelah
bertemu dengan Rabbnya, karena dunia adalah penjara
baginya, maka tidak heran jika engkau menemukan ada seorang
mukmin yang badannya di dunia tapi ruhnya berada di tempat
yang tinggi (di sisi Rabbnya)”.
Maka ketika Soekarno mati, Hamka mengimami sholat
jenazahnya. Ada banyak inspirasi dari kematian orang nomer
satu di negeri saat itu. Inspirasi itu nampak sekali merasuk di
dalam sanubari Hamka, betapa sang proklamator yang juga
orator ulung itu kini telah terbujur kaku. Tak bisa bergerak, tak
lagi berteriak, bahkan sekedipan mata pun tak ada lagi yang
bisa dilakukan.
Di majalah Panji Masyarakat, Hamka menuangkan
kesannya melihat Soekarno yang telah mati itu. Antara lain ia
menulis,” Saya singkapkan kasa halus yang menutupi muka.
Saya lihat wajah yang sekarang....ialah wajah dari setiap orang
yang telah mati. Pucat kekuningan, terbayang di kening bekas
kepayahan nyawa hendak cerai dengan badan. Dikocong
dengan kain kafan putih, dibukakan sedikit untuk dilihat
penghabisan karena nanti akan ditutup. Dan kapas melingkar
leher”.
”Tak ada lagi bintang dan tanda jasa menghiasi dada.
Tak ada lagi peci hitam miring menutup kepala yang kehabisan
KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 

rambut. Tak ada lagi tongkat komando Panglima Tertinggi.


Mana dia pengiring yang dulu berkeliling kiri kanan, seorang
pembawa kipas, seorang pembawa payung, seorang yang
memegang kacamata... mana ia? Tak ada lagi! Yang ada hanya
manusia berkeliling, termenung dan tafakur. Yang berbaring
sekarang ialah seorang hamba Allah, yang dalam perjalanan
menuju akhirat ke hadirat Allah. Sangkar yang telah kosong,
karena burungnya telah terbang.....!”
Selanjutnya Hamka menambahkan,”Melihat wajah itu,
saya tertegun lama. Lama sekali. Karena saya teringat bahwa
saya, dan bahwa kita semuanya pun akan mengalami begitu
pula. Hari ini melawat jenazah, besok akan dilawat orang. Hari
ini memikul, besok akan dipikul. Suatu kepastian. Sehingga
betapapun besar upacara kenegaraan yang dilakukan untuk
menghormati, namun ini adalah maut...”.
Kematian adalah takdir Allah. Di tangan-Nya segala
ketentuan. Ini mau tidak mau memberi pengaruh yang sangat
dalam bagi seorang Hamka. Keyakinannya yang kuat bahwa
pada akhirnya kematian juga akan menghampiri dirinya. Dan
begitulah adanya, apa yang ia yakini memang telah ia buktikan
sendiri. Ia telah pergi untuk selama-lamanya. Kematian telah
memberinya arti tentang Allah sebagai sumber kekuatan dan
tempat penyandaran. Dan kita pun kini mengenang Hamka
dengan segala perjuangannya memburu surga.
Inspirasi lain dari kematian itu adalah Hamka rela
memaafkan Soekarno yang telah mati itu. Padahal di masa
Bung Karno, Hamka dipenjarakan selama 10 tahun. Tapi
pada saat meninggalnya Bung Karno, air matanya menitik jua.
Setelah mengimami shalat jenazah, ia berkata pada jenazah
Bung Karno,”Aku telah do’akan engkau dalam sholatku supaya
Allah memberi ampun atas dosamu. Aku bergantung kepada
janji Allah, bahwa walau pun sampai ke lawang langit timbunan
dosa, asal memohon ampun dengan tulus, akan diampuni-
Nya. Adapun dosamu pada diriku sendiri, menganiaya aku,
menuduhku dengan tuduhan palsu, mengecewakanku dengan
anak cucuku sampai kami menderita bertahun-tahun, di hari
 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

perpisahan terakhir ini aku jelaskan bahwa engkau telah kuberi


maaf”.
Karenanya, ketika pada tahun 1979 ada upaya untuk
menghambat para da’i dan kecurigaan pada masjid tertentu,
justru Hamka berkhutbah dan menegaskan bahwa siapa yang
memusuhi masjid dan pada da’inya, ia akan berhadapan
dengan Allah.”Mimbar ini dan tempat ini-masjid- adalah tempat
kami para ulama dan tempat kita umat Muhammad saw yang
beriman. Di sini kita menempa ilmu menyehatkan akhlak
membina budi menebalkan iman dan tauhid dan itulah memang
kerja kami para ulama yang hanya sekedar melaksanakan
sunnah Rasulullah.
Bila tempat ini dengan fungsi yang demikian akan
dikenakan batasan, akan dirusak dari jalannya yang benar,
akan diganggu dengan alasan apa pun, saya ingatkan tuan-
tuan yang berkehendak mau melakukan hal itu, bahwa tuan-
tuan bukan akan berhadapan dengan kami tapi dengan yang
memiliki tempat ini - Allah subhanahu wa taala”.
Begitulah. Jalan memburu surga itu memang rumit.
Tetapi Allah akan menunjukkan permulaannya, menyertai di
petualangannya, menyudahi dengan janji-Nya, bagi orang-
orang yang ditakdirkan-Nya. Maka seperti juga Hamka, ia
menyadari bahwa memburu surga itu adalah pencarian yang
panjang. Sebab di sanalah puncak kebahagiaan. Dan Hamka
pun mendidik jiwanya dengan vitalitas pencarian itu.
Maka, kata Hamka,”Memang amat tinggi letak bahagia
itu. Tetapi kita harus menuju ke sana. Padahal mudah,
sebab dimulai dari kita sendiri. Marilah kita tempuh, dan kita
teruskan perjalanan, tak usah kita kaji jauh dan dekatnya,
karena itu bergantung pada usaha kita juga. Kalau kita mati
dalam perjalanan itu, dan gunung masih jauh juga, bukankah
kita telah mati karena Ia? Demi bilamana kita kelak bertemu
dengan yang menciptakannya, yakni dengan Allah, kita akan
jawab terus terang, bahwa kita mati dalam mencari-Nya, mati di
dalam gelombang cinta kepada-Nya! Tentu akan ditimbangNya!
Allahu Akbar!”
KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 

Siapapun yang ingin memburu surga, tak ada pilihan


lain kecuali dengan mendekat kepada Allah. Di sana sumber
kekuatannya. Di sana pula kunci-kunci rahasianya.

----- end -----


 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH
TAUSIYAH 2
Adil Itu Indah

S ering dari kita bila sudah dihadapkan pada problematika


kehidupan, lupa akan fitrah kemanusiaannya bahwa
sesungguhnya manusia itu tidak dapat hidup sendirian. Kita
butuh bantuan orang lain. Tapi sayang, bila mata sudah gelap,
pikiran telah kalut, hati telah terisi dengan dendam dan benci
segalanya menjadi serba gelap. Nasehat tak lagi diindahkan.
Iman tertutup oleh hiasan syetan. Dan sering terjadi, agama
sebagai pedoman tertinggi dalam kehidupan dicampakkan
begitu saja.
Astagfirullah. Ampunilah dosa-dosa kami ya Allah. Kami
telah Engkau beri mata, tapi seringkali tertutupi oleh silaunya
dunia. Kami telah Engkau beri telinga, tapi seringkali tersumbat
oleh kepuasan dunia. Kami telah Engkau beri hati, tapi seringkali
terkotori dan ternodai oleh lumpur kemaksiatan dunia. Sehingga
sangat sulit untuk mampu membedakan mana yang hak dan
mana yang batil. Mana jalan menuju keimanan dan mana jalan
menuju kekufur- an. Dan mana jalan keadilan dan mana jalan
kedhaliman. Dalam kondisi yang serba gelap seperti ini, kita
hanya membutuhkan campur tangan Allah semata.
Kita sudah tidak dapat lagi berharap kepada selain Allah.
Dunia telah dilanda kemunafikan, dan hilangnya kesucian
ruhani. Bahasa-bahasa indah, telah ternodai dengan bahasa-
bahasa yang tercemari. Komunikasi ilahiah telah diganti dengan
komunikasi syetaniah. Wa kafaa billahi syahida, wa kafaa billahi
 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

waliya. (Dan cukup Allah yang menjadi saksi dan cukup Allah
sebagai pelindung).
Konon di negeri kita hukum adalah puncak keadilan.
Tapi seringkali hukum itu dikotori oleh segelintir manusia yang
dili- puti emosi dan nafsunya. Pelaksanaan hukum yang suci
ternodai oleh sifat rakus dan serakah para pelaksana hukumnya.
Sehingga penegakan hukum kembali mentah. Fungsi hukum
bagaikan ‘sarang laba-laba’. Ia tidak lagi mampu menjaring
yang besar-besar, melainkan hanya menangkap yang kecil-
kecil saja. Itu pun harus diikuti dengan tindakan dan sikap yang
kurang mendidik.
Bagaimana kasus Marsinah, Adi Andoyo, terbunuhnya
warga Nipah dan sebagainya. Bandingkan dengan kasusnya
Edy Tansil dan ‘ratu ecstasy’ Zarimah. Cukup hanya dengan
‘kabur’ seolah sega- lanya telah selesai. Lebih-lebih sekarang
kasusnya ditutup dengan kasus PRD dan PDI. Bagaimana
dengan kasusnya Hendra Sumampaw yang nyata-nyata
membawa dan menyelundupkan pil ecstasy.
Bila zaman sudah sedemikian keruhnya dengan segala
kehancur- an akhlak dan hilangnya tata krama dalam kehidupan.
Tak berbeda jauh, antara masyarakat jahiliyah dulu dengan
masyarakat modern sekarang ini.
Jikalau, keadaan sudah demikian, tidak ada lagi alternatif
kecuali kita harus kembali kepada ajaran agama. Menghidupkan
kembali dimensi transenden al-Qur’an sebagai blue print
Ilahi. Dan mempraktekkan sirah nabawi sebagai sebaik-baik
tauladan dalam praktek kehidupan seorang ummat manusia
yang telah tercerahkan. Harus kita akui bahwa selama ini kita
telah mengabaikannya. Ampunilah ketololan kami ya Allah.
Kita mesti sadar bahwa keadilan itu indah. Keadilan
sangat diperlukan dalam kehidupan. Tanpa keadilan jalannya
kehidupan akan timpang. Keadilan adalah sebuah niat yang
tulus dalam bera- mal. Keadilan adalah sebuah fikrah yang
bersih dari segala kepen- tingan pribadi. Keadilan adalah
sebuah hati yang telah tersucikan dari virus kemaksiatan dan
kedhaliman.
KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 

Untuk membicarakan soal keadilan kiranya tepatlah,


bila sebuah kejadian yang pernah dialami oleh Amirulmukmin
Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra dengan seorang Yahudi, dalam
‘Kasus Baju Besi’.
Suatu kali Ali bin Abi Thalib menyatakan, bahwa baju besi
yang dimiliki si Yahudi itu adalah miliknya. Menurutnya baju
besi itu hilang ketika ia hendak pergi ke medan peperangan di
Siffin.
Ia tidak ragu-ragu lagi, meskipun baju besi seperti kepun-
yaannya itu banyak yang serupa. Tetapi terhadap miliknya, ia
tidak akan pernah lupa karena baju besi itu sering dipakainya
dalam setiap pertempuran. Dengan bersikukuh bahwa ia
tidak akan lupa meski sulit untuk menunjukkan tanda-tanda
pengenalnya yang pasti.
Si Yahudi itu tetap menyangkalnya. Ia tetap bertahan
dan mengatakan, bahwa baju besi itu adalah kepunyaannya.
Dengan tak kalah sengitnya ia mengatakan, “dir’i wa fi yadii!” Ini
baju besiku dan sekarang berada ditanganku!” Bahkan dengan
sedikit agak ngotot si Yahudi itu minta dihadapkan ke hadapan
Qadzi (hakim). Baginya, hakim adalah sebuah lembaga keadilan
yang tertinggi, yang dengan adilnya mampu memutuskan mana-
mana yang hak dan mana-mana yang batil.
Ali bin Abi Thalib tatkala dalam mendatangi sidang tidak
ada bedanya dengan yang lainnya atau dengan masyarakat
awam. Tidak ada protokoler khusus dan pengawalan yang ketat.
Ia selaku Amir- ulmukminin tidak melakukan kolusi dengan
hakim yang menangani perkaranya. Walaupun hal itu sangat
mungkin untuk dapat dilaku- kannya. Apa susahnya seorang
Amirulmukminin memerintahkan hakim untuk memenangkan
perkaranya. Tapi itulah akhlak Ali bin Abi Thalib yang alumnus
‘Madrasah Ilahiah Rasulullah’.
Yang salah tetap salah dan harus disalahkan tanpa
pandang bulu. Sebaliknya yang benar tetap benar dan harus
dibenarkan. Itulah ajaran Islam, itulah pesan Rasulullah saw.
Suatu ketika Rasulullah pernah mengatakan, jika Fatimah
binti Rasulullah mencuri, maka beliau pasti akan memotong
10 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

tangannya. Kekayaan, kedudukan, ataupun kekeluargaan


tidak dapat digunakan untuk tempat bersembunyi atau untuk
menyembunyikan hak dan keadilan.
Setelah Ali dan si Yahudi itu duduk di depan persidangan,
hakim yang bernama Syuraih lantas bertanya kepada Ali, “ma
tasya-u ya Amirulmukminin?” Apa yang saudara kehendaki,
Wahai Amirulmukminin? Ali menjawab, “Itu soal baju besiku
yang jatuh dari untaku, yang kemudian diambil oleh orang
Yahudi ini!”
Lalu Syuraih bertanya kepada orang Yahudi itu, “Apa
yang hendak kau katakan?” Ia menjawab, “ini benar-benar baju
besiku dan sekarang berada di tanganku!”
Setelah itu sang hakim berkata, “Amirulmukminin benar,
baju besi itu adalah milik saudara (Ali, red). Akan tetapi untuk
mem- buktikan kebenaran pernyataan saudara harus didukung
dengan dua orang saksi. Dan dari dua saksi itu harus benar-
benar pernah menyaksikan, bila baju besi itu benar-benar milik
saudara!” Maka, Ali pun mengajukan dua orang saksi, yaitu
pembantunya yang bernama Qanbar dan putranya sendiri
Hasan bin Ali. Syuriah mener- ima kesaksian Qanbar, tetapi
ia tidak mau menerima kesaksian Hasan bin Ali, “Kesaksian
Qanbar saya benarkan, tetapi kesaksian Hasan bin Ali tidak
dapat saya terima karena ia adalah putra saudara sendiri!”
Ali bin Abi Thalib lalu berkata, “Tidaklah saudara Hakim
pernah mendengar bahwa Umar bin Khaththab pernah berkata,
bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, ‘al-Hasan dan Husein
adalah pemimpin di surga’?”
Dengan suara yang lembut tapi penuh wibawa Syuraih
menjawab, “Allahumma na’am. Ya Allah, memang benar.”
Kemudian Ali bertanya lagi dengan tutur kata yang indah, tanpa
menunjukkan kejengkelan sedikitpun pada sang Hakim meski
kesaksian putranya tidak diteri- ma. “Masihkah tidak dapat
diterima kesaksian pemimpin pemuda di surga ini (Hasan,
red)?”
Namun, Syuraih masih tetap dalam pendiriannya bahwa ia
tidak dapat menerima kesaksian Hasan bin Ali. Akhirnya hakim
KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 11

itu menghukum Ali bin Abi Thalib tanpa melihat kedudukannya


sebagai amirulmukminin. Dengan tegas ia katakan bahwa baju
besi itu adalah kepunyaan si Yahudi itu.
Ali tidak angkat bicara lagi. Ia tidak berdaya untuk
melawan peraturan dan undang-undang. Ia terima keputusan
hakim itu dengan senang hati. Ia menyadari bahwa ia tidak
dapat menghadirkan saksi yang mendukung pernyataannya.
Lalu sambil tersenyum beliau berka- ta, “ashaba Syuraih ma
lii bayyinatun!, Sahabatku Syuraih kamu sungguh benar, saya
tidak mempunyai bukti yang kuat.”
Si Yahudi itu melihat dengan mata kepala sendiri betapa
puasnya Ali bin Abi Thalib terhadap keputusan yang dijatuhkan
hakim tersebut. Ia heran mengapa seorang Amirulmukminin
mau tunduk terhadap peraturan dan undang-undang.
Melihat adegan yang mengharukan itu, si Yahudi pun lalu
berkata kepada majelis persidangan itu, “Baju besi ini benar-
benar kepunyaan Amirulmukminin. Di mana aku memungutnya
waktu baju besi itu terjatuh dari untanya, ketika ia hendak pergi
ke medan peperangan di Siffin....”
Selanjutnya orang Yahudi itu meneruskan ucapannya
dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, “Asyhadu alla
ilaaha illah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.” Dari
peristiwa yang baru saja dialaminya itulah, secepat kilat si Yahudi
itu mendapatkan hidayah Allah swt. Lalu dengan kesadaran
ia masuk Islam. Ia terpikat oleh keadilan yang merata dalam
segenap lapisan rakyat tanpa terkecuali.
Tatkala Ali mendengar si Yahudi telah membaca syahadat,
dengan segera pula ia menyatakan, “Kalau begitu, baju besi itu
kuhadiahkan kepadamu!”
Kemudian orang Yahudi itu juga dihadiahi uang oleh Ali
sebanyak sembilan ratus dirham. Demikianlah selanjutnya,
orang Yahudi itu masuk Islam dan tidak pernah ketinggalan
turut berji- had bersama-sama Amirulmukminin.
Peristiwa “baju besi” di atas merupakan ibrah (pelajaran)
yang mestinya untuk kita tauladani bersama. Bukan sekedar
cerita pengantar tidur putra-putri kita. Ini sebuah cerita sekaligus
12 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

pesan bagi kita yang baru diberi amanah oleh rakyat untuk
mengem- ban tugas tertinggi di bidang keadilan itu. Karena
bagaimana pun, hakekatnya tugas itu juga merupakan amanah
Allah yang ‘sementara’ dipercayakan-Nya.
Marilah kita hidup di dunia ini, dengan niat yang tulus,
pikiran yang bersih, dan hati yang suci. Sehingga mampu
melaksa- nakan fungsi syariah secara benar dan konsekuen,
karena ini merupakan keindahan tersendiri yang menjadi
kebanggaan setiap insan.
Dengan demikian, tidak ada lagi kemunafikan, dusta, iri,
hasud, dengki, buta jabatan, penumpukan materi, dan mengha-
lalkan segala cara dalam kehidupannya. Sebaliknya, hidup ini
diisi dengan nilai-nilai kebenaran dan kejujuran dalam rangka
menegakkan keadilan. Semoga Allah menuntunnya.

----- end -----


TAUSIYAH 3
Agar Dapat Melihat Surga

S eorang anak dengan gayanya yang lugu bertanya kepada


ibunya, “bu, apa itu cinta?”. Cinta ada adalah kemurnian
jiwa, kesejukan bathin dari kenikmatan memberi dan kerelaan
berkorban, jawab sang ibu. “Karena itukah banyak orang
mengagungkan cinta?” tanya sang anak lagi. Dengan sabar
dan penuh cinta ibunya menerangkan, bahwa keagungan
cinta hanya berada pada cinta Sang Agung, Si pencipta cinta
itu sendiri. Dan jika ada yang mengagungkan cinta diatas
segalanya, sebenarnya ia tidaklah tengah mengagungkan
cinta melainkan perasaan dan nafsunya yang tengah bergumul
sehingga meluap menjadi nafsu berbaju cinta. Padahal jika
mau membuka tabir sebenarnya, tentu mereka akan sadar
kalau tengah terombang-ambing oleh arah cinta yang salah.
“ini wajar nak, karena kebanyakan manusia hanya sebatas
menggunakan mata kepala dan mengabaikan mata bathinnya,
sehingga ia lupa bahwa cinta bersemayam dan bergetar-getar
dihati, bukan di kepala, apalagi dimata.
Cinta harus dilihat dengan mata bathin, dan kebanyakan
manusia memandang cinta hanya berhenti di mata kepala,
sehingga seringkali tidak mampu menangkap kemurnian jiwa,
kesejukan bathin dari mencinta dan dicinta. Karena itu, mereka
yang senantiasa mampu menggunakan mata bathinnya untuk
melihat segala hal, ia akan melihat siapapun dan apapun
dengan cinta. “Karena Allah pun teramat cinta kepada yang
14 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

mempersembahkan cinta kepada-Nya”.


“Lalu kenapa ada orang yang saling membenci, bertengkar
dan saling bermusuhan?” tanyanya lagi. Itulah kehebatan
Allah. Dia ciptakan manusia dengan bentuk yang sempurna
sehingga dengan kesempurnaan yang dimilikinya itu, manusia
bisa menangkap kesan yang lain, tidak hanya cinta. Ada benci,
marah, kecewa, senang, tertawa, sedih dan masih banyak lagi.
Tak perlu takut, semua itu salah satu anugerah dari-Nya yang
patut kita syukuri. Sudah menjadi fitrah manusia tidak menyukai
sesuatu yang tidak disenanginya, artinya sesuatu hal yang
tidak berkenan, tidak sesuai dengan hati nuraninya, adalah
sangat manusiawi jika dibenci. Dan adalah fitrah manusia juga
untuk kecewa jika sesuatu tak seperti harapannya, tak seindah
mimpinya.
Masalahnya kemudian, bagaimana manusia
mengkondisikan hatinya agar senantiasa condong kepada
kebenaran, sehingga benci, marah dan kecewa serta sedihnya
hanya kepada kebathilan, kesemena-menaan, kezhaliman,
keserakahan dan bahkan kesombongan diri, juga dosa yang
dilakukannya.
“Bagaimana dengan tersenyum dan tertawa?” Senyum
dan tawa adalah sebuah refleksi, sama seperti benci, marah
dan sedih. Hanya bedanya, biasanya senyum dan tawa adalah
cermin dari keberhasilan, kemenangan dan prestasi seseorang
akan sesuatu. Tak perlu merasa bersalah hanya karena terse-
nyum dan tertawa. Mungkin Allah menciptakan rasa itu untuk
melatih manusia. “Bukankah semua hamba-Nya yang sholeh
kelak akan tersenyum di hadapan Allah yang menghadirkan ke-
agungan wajah-Nya?” jelas sang Ibu sambil mengusap kening
anaknya yang serap-serap mulai terbuai ke alam tidurnya.
Lama ia dibuai cinta sang Ibu, dengan sentuhan lembut
ibunya ia memainkan nyanyian dawai-dawai indah yang berge-
lung-gelung dialam mimpinya. Ia merasakan kehangatan hid-
up, keceriaan dunia. Mungkin karena usianya yang memang
belum pantas merasakan kegetiran dan kepahitannya. Untuk
sementara ibunya membiarkan mimpi anaknya tak terusik oleh
KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 15

kepayahan mencari sesuap nasi yang dijalaninya, juga hanta-


man kerikil di sepanjang jalan yang disusurinya. Terik dan hujan
menjadi baluran tubuhnya sehari-hari, demi satu cita, tak kan
membiarkan dimasa depan anaknya mengeluarkan keringat
dan darah seperti yang dialaminya kini. Mungkin semua orang-
tua mempunyai mimpi yang sama. Hingga dengan demikian
sang ibu semakin sadar bahwa hanya Tuhanlah yang selama
ini menguatkan, mempertebal kesabaran serta menanamkan
keyakinan dihatinya, bahwa esok matahari masih akan terbit.
Dan menjelang fajar, seusai kesejukan membasuh selu-
ruh tubuh untuk kemudian bersimpuh dihadapan-Nya. Tak tera-
sa air bening mengalir membasahi pipi, untaian kata pinta yang
tak pernah berhenti, yang tak pernah berhias putus asa, yang
tak diiringi penyesalan akan beban hidup yang saat ini diama-
nahkan kepadanya. Terkadang ada tangis yang begitu keras
sekeras benturan kehidupan yang menerpanya, hingga tak sa-
dar tangisannya itu menyentuh relung bathin anaknya sampai
terbangun.
“Kenapa ibu menangis?” Menangis adalah satu anugerah
Allah lainnya nak. Menangis adalah wujud dari kelemahan ma-
nusia yang jelas-jelas kekuatannya sangat terbatas. Menangis
adalah pembuktian akan adanya Yang Maha Kuat yang memi-
liki kehendak diatas segala mau dan keinginan manusia. Tak
perlu malu untuk menangis, karena dengan menangis kita ten-
gah melunturkan kesombongan, kepekatan hati yang penuh
noda hitam dari setiap detik hidup yang berlumur salah, juga
menghilangkan penyakit-penyakit lainnya yang kerap hinggap
di kalbu.
Menangis tidak mesti dengan air mata, meski biasanya
selalu dengan itu. Air bening yang membasahi mata akan mem-
basuh dosa yang berawal dari penglihatan manusia. Kemudian
airnya turun menyejukkan wajah kita. Itulah cara Allah mem-
bersihkan wajah manusia yang coreng-moreng oleh kekhilafan-
nya. Maka dengan menangis setiap hari, wajah menjadi bersih,
hati pun sejuk kembali dan kebeningan mata yang sudah ter-
hapuskan pekatnya, memberikan keindahan tersendiri. Semua
16 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

itu, hanya agar manusia dapat melihat surga. Wallahu ‘a’lam


bishshowaab

----- end -----


TAUSIYAH 4
Allah Cinta Orang-Orang Sabar
Di Tengah Bencana

K etika kita naik mobil angkutan umum di tengah kemacetan


lalu lintas, maka kita dituntut untuk bersabar. Kita tak
boleh mencaci si sopir, apalagi membentak-bentak. Ketika
kita berdesak-desakkan di kereta api kita juga dituntut sabar.
Pada saat itu kita tidak boleh marah, kendati mungkin kaki kita
terinjak.
Demikian pula di saat negeri ini dibanjiri air yang melimpah
kita pun harus sabar. Karena sumpah serapah yang kita arahkan
kepada penguasa pun tak akan mengurangi volume banjir yang
merendam hampir 30% wilayah Indonesia. Nah, dari air itulah
kita tahu bahwa kehidupan dan kematian itu berasal dari air.
Jadi, sabar itu memang tidak ada batasnya, sebagaimana iman
itu sendiri.
Pantaslah jika dalam sebuah kesempatan Nabi
Muhammad SAW berpesan kepada kita untuk selalu bersabar
(tabah dan ikhlas menerima kenyataan/taqdir). Bahkan beliau
mengatakan,”Sebagian dari iman adalah sabar”. Rasulullah
yang mulia sendiri, setiap ditimpa musibah apa saja, tak pernah
mengeluh apalagi sampai menyalah-nyalahkan orang lain.
Entah itu pemerintah, tetangga, atau orang lain. Anehnya,
kita tak pernah menyalahkan diri kita. Padahal, jangan-jangan
kesalahan negeri ini juga karena kesalahan kita yang tanpa
sadar kita turut menyumbangnya.
Kenapa kita diperintah untuk bersabar oleh Allah? Inilah
18 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

terapi psikologis canggih yang diberikan Allah kepada kita.


Melalui sikap inilah kita disadarkan bahwa manusia itu tak
mampu mengelola hidupnya secara pasti. Dialah Allah yang
mengurus segala urusan kita. Itulah makna kita membaca
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamien. Artinya, bahwa yang mengatur
segala urusan kita itu adalah Dia. Dengan demikian, bersama
sabar kita menghadapi gejolak hidup itu dengan tenang, rileks.
Untuk menjadi seorang penyabar tidak mudah, memang.
Tapi Allah melalui ayat-ayat-Nya, baik yang kauni maupun qauli
mengajak kita untuk menjadi ash-shabirin (kelompok orang-
orang yang sabar). Lihatlah betapa sabarnya seekor unta
yang berjalan di padang pasir sembari membawa beban berat
di punuknya. Simak juga kesabaran kerbau atau sapi ketika
dengan tekunnya membajak lahan-lahan persawahan. Padahal
kalau Allah mau, binatang-binatang itu menolak diperlakukan
seperti itu oleh tuan-tuannya.
Kita ingat kisah tentang robohnya kuda Suraqah bin
Naufal saat mengejar-ngejar Nabi untuk dibunuh. Kita ingat
tenggelamnya Fir’aun bersama serdadunya di laut Merah
ketika mengejar-ngejar Nabi Musa dan pengikutnya. Dan kita
juga ingat selamatnya nabi Yunus dari telanan ikan hiu. Kalau
saja Allah mau, tentu Nabi Muhammad SAW sudah dibunuh
Suraqah, Musa sudah dipenggal oleh algojo-algojo Fir’aun dan
Yunus tidak dikeluarkan lagi dari perut ikan buas itu.
Maka sangat wajar bila Allah mengabadikan mereka
dalam al-Qur’an sebagai al-shabirien dan al-shadiqien, yakni
orang-orang yang membenarkan ayat-ayat-Nya. Kuncinya
apa? Mereka sabar dalam menjalani hidup ini, tanpa berharap
materi di dunia.
Para kekasih Allah itu meneladani sifat Rabb mereka,
Al-Shabur, salah satu al-Asma al-Husna yang Allah miliki.
Saudara-saudaraku yang dirundung derita, dan mereka yang
sedang ditimpa nestapa, bersabarlah, karena Allah bersama
orang-orang yang sabar.

----- end -----


TAUSIYAH 5
Al-Qur’an dan Kebebasan Berpikir

A l-Qur’an menyeru manusia untuk merenungkan kerajaan


langit dan bumi serta semua keajaiban dan rahasia ciptaan
Allah dalam hidup ini. Menyeru mereka untuk merenungkan
semua ini agar mencapai kesimpulan yang tidak ada keraguan
lagi di dalamnya “bahwa suatu karya mengharuskan adanya
pencipta, suatu jejak pasti pelakunya. Oleh karena itu alam ini
pasti memiliki Tuhan yang wajib adanya.”
Coba kita simak firman Allah SWT berikut ini, “Maka
apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas
mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya
dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun. Dan
Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-
gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala
macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi
pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali
(mengingat Allah).” (QS. Qaaf: 6-8)
Jika kita menelaah kenyataan-kenyataan dan bukti-
bukti ini, tentu kita akan mengetahui siapa Tuhan yang harus
disembah, maha pencipta dan pemberi rejeki? Siapa perencana,
penggambar, pengatur dan penguasa?
Allah telah mengingatkan kita dalam kisah Ibrahim AS,
akan contoh-contoh yang hidup, yang menunjukkan kepada kita
bagaimana cara berpikir yang sehat, dan bagaimana seorang
mukmin memberikan penalaran yang sehat kepada orang-
20 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

orang kafir dengan menggunakan sarana-sarana yang kongkrit


dan dalil-dalil empiris.
Sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur’an, Ibrahim
pernah menghancurkan patung-patung berhala sembahan
orang-orang kafir. Patung yang paling besar sengaja tidak
dirusak oleh Ibrahim. “Siapa yang melakukan terhadap tuhan-
tuhan kita ini,” seru Raja Namrud marah. “Kami mendengar
seorang anak muda yang menghancurkan tuhan-tuhan kita itu.
Namanya Ibrahim,” kata salah seorang pengikut Namrud.
Ibrahim lantas dipanggil, “Apakah kamu yang melakukan
ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?,” tanya Namrud.
“Yang melakukan yang besar ini (Ibrahim menunjuk patung
terbesar yang sengaja tidak dirusaknya). Cobalah tanya kepada
dia,” Ibrahim menjawab.
Terang saja patung itu tidak menjawab. Ibrahim berkata,
“ Apakah kalian akan menyembah patung yang tidak dapat
mendatangkan manfaat sedikitpun pada kalian dan juga tidak
dapat mendatangkan mudharat. Celaka bagi kalian dan apa yang
kalian sembah selain Allah. Apakah kalian tidak menggunakan
akal untuk tahu?”
Allah mencela pada setiap orang yang tidak menggunakan
akalnya untuk mencapai hakikat kebenaran. Allah juga
mengecam kepada orang-orang taklid, yaitu orang-orang
yang tidak menghargai nikmat akalnya, sehingga mereka
tidak mau memikirkan tentang kekuasaan Tuhan yang dapat
mendatangkan manfaat dan menolak kemudharatan. Sebaliknya
mereka berjalan di belakang kerusakan dan kemaksiatan yang
mereka warisi dari nenek moyang mereka.
“Dan apabila dikatakan kepada mereka:”Ikutilah apa
yang diturunkan Allah”.Mereka menjawab:”(Tidak), tapi kami
(hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami
mengerjakannya”.Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-
bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam
siksa api yang menyala-nyala (neraka)?” (QS. Luqman: 21).
Allah pun tiak main-main menanggapi orang-orang
musyrik itu. Firman-Nya:
KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 21

“Katakanlah:”Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan


atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.Apakah Allah yang
lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan
Dia?” Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi
dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu kami
tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan
indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan
pohon-pohonnya . Apakah di samping Allah ada ilah (yang
lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang
menyimpang (dari kebenaran). Atau siapakah yang telah
menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan
sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan
gunung-gunung (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu
pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada ilah
(yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka
tidak mengetahui. Atau siapakah yang memperkenankan (do’a)
orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan
yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu
(manusia) sebagai khalifah di bumi?Apakah di samping Allah
ada ilah (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). Atau
siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan
lautan dan siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai
kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di
samping Allah ada ilah (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap
apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya). Atau siapakah
yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian
mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezki
kepadamu dari langit dan bumi Apakah di samping Allah ada
ilah (yang lain)?. Katakanlah:”Unjukkanlah bukti kebenarannmu
jika kamu orang-orang yang benar”. (QS. An-Naml: 59-64).
Allah telah menyampaikan bukti-bukti yang kuat dan
mantap tentang keberadaan-Nya, keesaan-Nya. Allah
menantang kepada orang-orang yang tidak percaya kepada-
Nya untuk mendatangkan dalil yang mendukung keyakinannya.
Atau bukti yang memperkuat pengakuannya yang palsu itu.
Ayat-ayat di atas tak syak lagi membicarakan puncak
22 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

kebebasan berpikir jauh dari keterikatan taklid dan kejumudan.


Kebebasan berpikir di sini bukan berarti melepas kendali
pandangan kita, sehingga kita berjalan ngawur dan tenggelam
dalam kesesatan dan penyelewengan. Akan tetapi kebebasan
berpikir yang dianjurkan Al-Qur’an adalah kebebasan berpikir
yang berpegangan pada sinar yang menerangi jalan dan
menjelaskan rambu-rambu. Kemudian membiarkan pandangan
kita bebas memilih. Ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan
mengevaluasi diri dan untuk mengetahui ke arah mana kita
akan menuju dan jalan mana yang akan kita tempuh.
Pada metode yang jelas lagi sehat inilah Al-Qur’an
mengarahkan pemikiran manusia supaya terhindar dari
gelombang fitnah, penyelewengan, kesesatan, jauh dari
lembah ketaklidan dan kejumudan serta mengangkatnya ke
tempat yang mulia, tempat Allah menampakkan kebenaran dan
mencapai pantai keselamatan dengan aman dan damai.
Di atas jalan yang lurus inilah Rasulullah SAW dan para
sahabatnya berjalan. Rasulullah sangat menghargai pendapat
yang benar dan melaksanakannya. Rasulullah memberi
kelonggaran kepada sahabat yang berjauhan darinya untuk
berijtihad dengan aklnya dalam masalah-masalah yang tidak
ia dapatkan dalam nash Al-Qur’an atau Sunnah Nabi seraya
mengumumkan, “Barangsiapa yang berijtihad dan benar, maka
baginya dua pahala. Dan barang siapa yang berijtihad dan
slaah, maka baginya satu pahala”.
Dalam sebuah hadits disebutkan, Rasulullah mengutus
Mu’adz Ibnu Jabal sebagai hakim di Yaman. Nabi bertanya, “Wahai
Mu’adz! Dengan apa engkau menghakimi? Muadz menjawab,
“Dengan Kitab Allah.” “Jika engkau tidak mendapatkan dalam
Kitab Allah?” Kata Mu’adz, “Dengan Sunnah Rasulullah”. “Dan
jika tidak engkau dapatkan dalam sunnah?” Mu’adz menjawab,
“Aku berijtihad dengan pendapatku.” lalu Nabi menepuk
dadanya seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah
memberi taufik utusan Rasulullah.”
Berangkat dari pemikiran yang sehat ini dapat kita katakan
bahwa perbedaan mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah, Malikiyah dan
KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 23

Hambaliyah hakekatnya melambangkan kebebasan berpikir.


Kaum muslimin tidak statis di hadapan teks Al-Qur’an dan
hadits-hadits Nabi kemudian berhenti pada makna lahiriyah
tanpa rahasia-rahasianya. Akan tetapi setiap orang muslim
mendalami dan menyelaminya sampai ia dapat mengambil dari
‘harta karun’ yang berharga ini sesuai dengan kemampuannya,
dan menyingkap jaraknya yang sangat jauh sesuai dengan
kemampuan pandangan mata hatinya.
Sebagai akibat dari perbedaan kemampuan dalam
lapangan akal pemikiran dan pandangan mata dan hati, timbullah
perbedaan pendapat di kalangan ilmuwan-ilmuwan (ulama)
agama, pakar-pakar fiqh dan pemikir Islam. Dan perbedaan
pendapat itu tidak mungkin bertentangan dan bertolak belakang,
karena berasal dari satu sumber, yaitu Kitab Allah yang tidak
dapat dijamah kebatilan dari depan atau dari belakang. Dan
Kitab Allah itu selalu mengarahkan kepada satu tujuan, yaitu
membuat manusia berbahagia baik secara perseorangan
maupun secara kelompok masyarakat. Mengarahkan energi
manusia pada hal-hal yang bermakna dan bermanfaat serta
menjauhkan manusia dari hukum rimba dan logika taring dan
kuku binatang.
Oleh karena itu kaum muslimin berlapang dada terhadap
perbedaan yang timbul dari kebebasan berpikir karena
perbedaan ini tidak akan melampaui lapangan kebenaran
baku yang telah digariskan, tidak akan mengakibatkan lahirnya
keburukan dan kerusakan, akan tetapi malah akan mewujudkan
keadilan dan kesadaran. Sebab dengan adanya perbedaan
ini jalan-jalan menuju keselamatan bertambah banyak, dan
bertambah banyak pula pintu-pintu masuk keridhaan Allah dan
rahmat-Nya.
Maka seyogyanya kaum muslimin di seluruh tempat dan
zaman untuk mengambil petunjuk tata cara Islam dan prinsip-
prinsipnya yang luhur lagi bijaksana. Seharusnya mereka juga
belajar dari agamanya bahwa perbedaan pendapat tentang
suatu persoalan atau pemikiran tidak sepatutnya menjadi
penyebab putus hubungan atau sekat pemisah selama masih
24 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

ada Kitab Allah SWT berikut Sunnah Rasulullah berada di


antara yang sedang kebingungan. Al-Qur’an dan Sunnah itu
akan membimbing orang-orang yang sedang kebingungan dan
membimbing orang-orang yang sesat menuju jalan kebajikan
dan keberuntungan. Semoga.

----- end -----


TAUSIYAH 6
Arif di Tengah Krisis

A kibat krisis yang berkepanjangan, Madinah ditimpa paceklik.


Harga bahan pangan membumbung naik. Banyak penduduk
hartawan, karena takut dihantui kelaparan, beramai-ramai
menimbun gandum yang makin lama makin tipis persediaannya
di pasar-pasar. Tidak demikian dengan rakyat kecil, mereka
terpaksa berbelanja hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari
saja. Esoknya belum tahu bagaimana nasibnya.
Ja’far Sadik, salah seorang cucu Ali bin Abi Thalib,
termasuk salah seorang diantara yang hidupnya berkecukupan.
Kepada Maktab, pengurus keluarganya, Jakfar bertanya,”Masih
adakah persediaan pangan kita?”
Maktab mejawab,” Masih banyak sekali, Tuan, gandum
kelas satu yang paling lezat rasanya, dan di pasar hampir
tidak dijual lagi karena yang tersisa di tempat umum hanya
jewawut.”
“Kalau begitu, semua gandum yang berada di gudang
bawalah ke pasar dan juallah seluruhnya.” Maktab sangat heran
mengikuti jalan pikiran Tuannya. Ia kembali menjelaskan,”
Madinah sekarang sedang di landa kekurangan pangan, Tuan.
Kalau gandum itu kita jual semuanya belum tentu kita bisa
membelinya kembali besok pagi.”
Ja’far bersikeras,”Bawa ke pasar dan jual seluruhnya.
Kita harus berbelanja seperti rakyat kebanyakan. Kalau mereka
berbelanja hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari, kita juga
26 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

harus begitu. Kalau mereka tidak mendapat makanan, apakah


kita layak makan kenyang sendiri. Mengapa pula kita harus
menimbunya di gudang?”
Maktab menggeleng-geleng, memikirkan sifat tuannya
yang begitu nekad. Belum habis kebingungannya, Ja’far kembali
berkata,” Mulai besok, kita beli jewawut saja. Bila rakyat kecil
masih kuat beribadah hanya dengan makan jewawut, mengapa
kita tidak bisa?”
Ujian kaum muslimin
Apa yang sedang dialami oleh masyarakat Indonesia
sekarang, tidak jauh berbeda dengan yang pernah dialami
masyarakat kota Madinah ketika itu. Dari heri ke hari banyak
masyarakat yang semakin panik menghadapi hidup. Di saat
harga-harga kebutuhan pokok terus bergerak naik, banyak
perusahaan yang gulung tikar. Akibatnya kini ribuan orang
terkatung-ketung kehilangan mata pencaharian. Pengangguran
semakin banyak. Tidak hanya para buruh bangunan, petani,
karyawan-karyawan perusahaan dan buruh-buruh pabrik yang
semakin pusing memikirkan nasibnya besok, tapi juga kalangan
eksekutif, para bankir dan pengusaha. Mereka juga ikut puyeng
membayar kredit yang sudah jatuh tempo, juga dengan
jumlahnya yang besar. Adakah nasib akan lebih baik atau justru
malah sebaliknya? Kegundahan itu melanda ke semua lapisan
masyarakat dengan kadar yang berbeda-beda. Masing-masing
mempersiapkan segala kemungkinan dengan versinya sendiri
sendiri.
Di masjid rumah Allah yang mulia ini, kita tidak bermaksud
menghujat siapa-siapa. Sebab menghujat atau tidak, semuanya
sudah terjadi. Krisis ini sedang kita alami bersama-sama. Kita
terimalah sebagai teguran dari Tuhan dengan penuh kesabaran
dan lapang dada. Semoga dengan demikian kita tidak kehilangan
energi untuk menghadapi tantangan yang boleh jadi akan lebih
besar lagi. Kita tidak perlu panik dengan turut memikirkan harga
dolar yang terus melambung naik. Apalagi turut latah dengan
beramai-ramai memborong dolar. Apapula itu dolar? Sedang
melihat bentuknya saja sebagain bear kita tidak tahu. Ia boleh
KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 27

jadi makhluk asing bagi sebagaian kita. Namun kini ia sedang


bikin pusing banyak kalangan. Secara fisik bentuknya sama
dengan rupiah, terdiri dari kertas dan diberi fariasi gambar. Tapi
yang membuat gila adalah orang yang mempermainkan di balik
itu semua. Manusia-manusia rakus yang berjiwa binatang.
Krisis Kemanusiaan
Jangan sampai kita terkikis keyakinan dan aqidah
akibat cubitan Tuhan yang sebenarnya sudah sangat layak
ditimpakan kepada kita ini. Krisis ekonomi, krisis moneter, krisis
pangan, krisis sosial dan entah krisis apapun namanya tetaplah
sebagai ujian Tuhan. Ia terangkai dalam satu krisis besar: krisis
kemanusiaan, krisis aqidah.
Oleh karenananya janganlah sampai krisis berubah
menjadi Tuhan. Kita tidak perlu kehilangan kendali akibat
musibah yang sedang menimpa kita sehingga komunikasi kita
dengan Allah terganggu. Kita berputus asa. Tuhan terputus
seolah terlepas antara kondisi yang terjadi dengan iradatnya,
keinginannya. Allah swt, berkuasa atas segala sesuatu yang
menjadi ciptaanNya. Allah swt berfirman:
“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu
rahmat(nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut
daripadanya, pastilah dia menjadi putus ada dan tidak
berterimakasih.” (QS. Huud: 9)
Kita telah begitu banyak memperoleh kenikmatan, seiring
dengan itu kita juga bergelimang dosa dan kemaksiatan.
Pendidikan seks, penjualan kondom, minuman keras dan
peredaran obat-obat terlarang yang sudah menyerupai penjual
pisang goreng ini sudah bukan lagi barang baru. Mata kita,
telinga, mulut dan dada kita sudah sesak mendengarkan dan
menikmati informasi barang-barang yang menyesatkan itu. Di
media-media massa, kita dapat menarik grafik ledakan peminat
yang terus menjadi-jadi. Semakin kita meratap, kita bagai
diserang dengan gumpalan air bah yang menyerang begitu
kerasnya. Siapakah yang salah? Sudah barang tentu bukan
petani.
Meningkatkan persaudaraan
28 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

Yang kita kutuk adalah mereka yang selalu berpikir untuk


kepentingan sendiri, keluarga dan kelompoknya tok. Kondisi
yang tidak menentu ini mereka jadikan alasan untuk menimbun
barang digudang istananya. Mereka cadangkan untuk
kepentingnnya hingga beberapa bulan atau beberapa tahun
ke depan. Ketika masyarakat di sekelilingnya sedang bingung
memikirkan apa yang akan dimakan besok hari, yang mereka
hitung adalah jumlah keuntungan yang akan diperolehnya jika
barang-barang yang ada sudah naik harga menjadi seratus kali
lipat! Itulah saat yang dinanti-nantikannya.
Rasulullah saw bersabda, “Penghuni neraka ialah orang
yang buruk perilaku dan akhlaknya dan orang yang berjalan
dengan sombong, sombong terhadap orang lain, menumpuk
harta kekayaan ....”(HR.Al-Hakim dan Ahmad)
Ada korelasi antara orang yang berperilaku buruk,
sombong dengan orang yang gemar menumpuk kekayaan. Dan
pada masa krisis orang seperti ini akan semakin menampakkan
kekikiran dan ketamakannya. Orang-orang yang seperti ini
makin kelihatan dengan tingkat kepanikannya.
Kita kaum muslimin sungguh sangat disayangkan bila
turut ikut-ikutan latah seperti itu. Alangkah indahnya bila kita
mencontoh sikap yang telah ditunjukkan oleh Ja’far Sadik,
cucunda Ali bin Abi Thalib, dalam menghadapi kasus serupa
seperti kisah di atas. Di saat orang lain dalam keadaan susah,
ada perasaan susah dan tidak bisa tidur karena memikirkan
kesulitan yang sedang dihadapi oleh saudara-saudaranya.
Yaitu kalangan miskin dan rakyat jelata.
Inilah sebenarnya kesempatan yang paling tepat untuk
menunjukkan rasa cinta kita dengan sesama, kepada saudara-
saudara kita sebagai wujud iman yang telah tumbuh di dada.
Kita pertautan hati antara kita dengan saudara seiman pada
kesempatan penuh duka bersama seperti sekarang ini. Itu
semua agar kita tidak terancam dalam kelompok orang yang
bukan mukmin, seperti sabda Rasulullah saw, “Bukanlah
seorang muslim orang yang bermalam dalam keadaan kenyang,
padahal tetangganya berada dalam keadaan lapar, sedang ia
KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 29

mengetahui keadaan itu.”


Kita berlindung kepada Allah dari sifat tercela tersebut.

----- end -----


30 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH
TAUSIYAH 7
Bahwa Tak Ada Yang Abadi

K etika Matahari menampakkan diri di pagi hari, dan terus


menerpakan sinarnya ke setiap sudut alam hingga
puncaknya pada tengah hari. Menjelang senja, ia pun mulai
bersiap-siap meninggalkan singgasananya untuk bertukar peran
dengan rembulan yang akan bercahaya menerangi malam
hingga fajar. Bulan tak sendiri, ia ditemani oleh bintang-bintang
yang berkelipan, belum lagi lintasan-lintasan benda langit
lainnya yang menjadikan alam atas teramat mengagumkan.
Begitu seterusnya, tak pernah matahari menguasai sepanjang
hari, bulan dan bintangpun demikian. Karena sesungguhnya,
tak satupun mereka berhak memiliki hari sepenuhnya.
Terkadang, langit cerah disertai mentari pagi yang
menghangatkan menjadi mimpi terindah setiap makhluk di
muka bumi. Tapi, tidak akan pernah mentari seterusnya berseri
dan langit cerah, karena bukan tidak mungkin atap dunia itu
berubah mendung dan menghitam, mencekam dan menebar
ketakutan. Angin sejuk sepoi-sepoi yang terasa menyegarkan
saat belaiannya menyentuh kulit, sesaat kemudian bisa
berputar dan berputar membentuk tornado yang dalam sedetik
meluluhlantakkan semua yang terhampar di bumi. Air laut yang
tenang, pantai yang indah dengan ombak yang melambai
indah, hamparan pasir yang halus, disaat yang lain bisa menjadi
gelombang air dahsyat yang menenggelamkan sejuta harapan,
meninggalkan bekas yang memilukan.
32 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

Bunga-bunga yang hari ini terlihat indah merekah, satu


dua hari kemudian akan layu dan memudar warnanya, bisa
karena hempasan angin, sengatan matahari atau terusik
unggas. Dedaunan akan tetap berwarna hijau bila ianya tetap
menyatu dengan tangkainya, tatkala ia luruh dan jatuh ke tanah,
mengeringlah ia. Embun pagi yang bening di ujung daun, dalam
beberapa detik takkan lagi terlihat. Setelah jatuh, habislah ia.
Tinggal menunggu esok pagi kan datang tuk bisa menikmati
kembali beningnya. Unggas pagi, berteriak lantang pertanda
dimulainya hari, tidak jarang, mereka membangunkan insan
yang setengah malas dan kantuk masih di sudut mata. Ketika
siang, saat manusia-manusia bergegas dalam segala bentuk
aktifitas mereka, makhluk lain pun menjalankan perannya
masing-masing.
Menjelang senja, sinar merah kekuningan seperti
meminta perhatian makhluk bumi untuk bersiap menyambut
malam. Tak hanya manusia, hewan-hewan bahkan binatang
melata pun beriringan menuju rumah mereka, menikmati
malam, memandangi rembulan dan bintang-bintang, dan
mendengarkan hewan-hewan malam bersahutan mewarnai
malam yang panjang, hingga menanti datangnya fajar. Manusia-
manusia aktif yang terkadang tak kenal lelah, terlelap dalam
buaian selimut, mimpi, harapan serta do’a. Hingga esok, ada
yang terbangun, dan ada yang tetap terlelap, menutup mata
untuk selamanya. Tugasnya sebagai manusia telah selesai. Tak
ada manusia yang memiliki sepenuhnya hari, tak ada makhluk
yang memiliki sepenuhnya kehidupan. Dan tak ada jiwa yang
memiliki sepenuhnya apapun yang sesungguhnya bukan
berasal darinya. Semua perubahan, kejadian, dan perputaran
peran itu meyakinkan kita, bahwa tak ada yang abadi.
Bayi mungil, lucu dan menyenangkan saat lahir, beranjak
dewasa, kemudian tua dan akhirnya mati. Kemudian, generasi
berikutnya hadir, hingga diakhiri lagi dengan kematian. Itulah
hidup. Seperti matahari yang tak pernah selamanya bersinar,
seperti daun yang mengering saat tanggal dari tangkainya,
seperti embun yang meski sedemikian indah, hanya sekian
KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 33

detik saja umurnya. Seperti hujan yang mungkin setiap hari


turun tak pernah berhenti, tak pernah setiap yang diciptakan
Tuhan di alam ini, berkuasa untuk tetap memiliki kejadiannya
seutuhnya. Karena mereka hanya makhluk, yang semuanya
terus berubah dan berujung pada akhir. Tak seperti Pencipta
semua makhluk itu sendiri, karena Ianya tak berawal, maka tak
ada akhirnya pada-Nya. Sedangkan kita, atau makhluk lainnya,
memiliki awal, dan sudah pasti tertulis sudah akhirnya. Kita
hanya tinggal menunggu waktu.
Sebagai makhluk, tak sekedar untuk hidup Allah
menciptakannya. Setiap ciptaan Allah, memiliki peran yang
menjadi amanahnya. Kita semua, berdiri, berdiam diri, tertidur,
berjalan, berhenti sejenak, kemudian berjalan lagi, sesekali
istirahat hanya untuk menorehkan catatan diri. Tinta merah
atau biru yang hendak kita pakai untuk mengisi lembaran
putih catatan itu, hak sepenuhnya ada di tangan kita. Jikalah
matahari selalu mempunyai catatan biru dalam buku raport-nya,
begitu juga dengan rembulan, langit dan semua benda yang
menghiasinya, hewan-hewan yang senantiasa ikhlas menjadi
bagian hidup manusia, tetumbuhan, bumi tempat berpijak,
lalu kenapa kita tak pernah iri untuk senantiasa memperbaiki
catatan merah kita di hadapan Allah?
Makhluk-makhluk Allah yang lain, manusia-manusia
yang berlomba menorehkan tinta biru dalam catatan akhirnya,
sungguh teramat sadar bahwa waktu yang Allah berikan teramat
singkat, hingga tak pernah terpikir olehnya untuk berbuat satu
hal pun yang bisa menyebabkan lembaran putihnya ternoda
oleh titik merah. Bersujud dan berdo’a, mencari keridhoan Allah
di setiap detik, setiap langkah, dan jalan yang dilaluinya, agar
tak ada sedikitpun kebencian di mata Allah keatasnya. Belajar
dari manusia-manusia terdahulu yang telah mengukir nama
mereka di hati Allah, semestinya saat ini, kita terus berjuang
keras untuk bisa mendapatkan satu tempat di hati-Nya untuk
menggoreskan nama kita.
Harta yang banyak, bukan jalan untuk bisa mendapatkan
tempat di hati Allah. Kendaraan yang bagus, jabatan tinggi,
34 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

status sosial terhormat, perhiasan dan berjuta keindahan dunia,


juga tidak. Bukan semua itu yang akan menjadikan kita makhluk
berarti di mata Dia. Karena sesuatu yang tak abadi, tak mungkin
bisa menjadi bekal menuju keabadian untuk bertemu Yang
Maha Abadi. Jiwa yang bersih, jiwa yang tenang, adalah jiwa
yang pertama hadir dalam bentuk jasad manusia saat pertama
ditiupkan. Hanya dengan kembali dengan kebersihan dan
ketenangan semula, ia bisa diterima disisi Yang Maha Abadi.
Maka, belajar dari semua ketidakabadian selain Allah, jangan
pernah menghabiskan waktu (yang teramat sebentar ini) yang
diberikan Allah ini, tanpa torehan tintas kebaikan. Mungkin
besok, tak ada lagi waktu buat kita menggenggam tinta biru.

----- end -----


TAUSIYAH 8
Belajar Bersyukur

S eorang Ibu terlihat gusar, setelah melihat tumpukan piring


kotor di dapurnya. Semua itu bekas makan siang beberapa
orang tamu yang baru saja berkunjung. Bukan karena banyaknya
cucian piring, tetapi masih terlihatnya potongan-potongan
daging bersisa, belum lagi sisa nasi yang masih menumpuk di
piringnya. Ah… padahal untuk menyediakan lauk pauk itu tentu
si ibu mesti mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Semua
itu demi menjamu tamunya. Kalau saja para tamu itu hanya
memakan daging dan mengambil nasi secukupnya saja, tentu
tidak akan ada makanan bersisa di piring kotor. Dan anak-
anaknya bisa ikut menikmati sebagian daging utuh lainnya.
Melihat sisa potongan daging itu, si Ibu bingung, mau di buang
... sayang... mau di olah lagi… sudah kotor bercampur sisa
makanan lain…. tapi Alhamdulillah tetangga sebelah punya
kucing… mungkin ini rezeki si kucing.
“Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya
kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya
Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nahl:18).
Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh Allah kepada
kita. Nikmat iman, nikmat sehat, nikmat penghidupan (harta,
ilmu, anak, waktu luang, ketentraman, dan lain-lain) serta
nikmat-nikmat lain yang tak terkira. Namun dengan sekian
banyak nikmat yang Allah berikan seringkali kita lupa dan
36 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

menjadikan kita makhluk yang sedikit sekali bersyukur, bahkan


tidak bersyukur, Na’udzubillahi min dzalik.
Seringkali kita baru menyadari suatu nikmat bila nikmat
itu di ambil atau hilang dari siklus hidup kita. Ketika sakit, baru
kita ingat semasa sehat, bila kita kekurangan baru kita ingat
masa-masa hidup cukup.
Syukur diartikan dengan memberikan pujian kepada yang
memberi kenikmatan dengan sesuatu yang telah diberikan
kepada kita, berupa perbuatan ma’ruf dalam pengertian tunduk
dan berserah diri pada-Nya. Cobalah kita memikirkan setiap
langkah yang kita lakukan. Bila makan tak berlebihan dan
bersisa. Bayangkan, di tempat lain begitu banyak orang yang
kesulitan dan bekerja keras demi untuk mencari sesuap nasi.
Bahkan banyak saudara-saudara kita yang kurang beruntung,
mencari makan dari tong-tong sampah. Lantas sedemikian
teganyakah kita menyia-nyiakan rezeki makanan yang didapat
dengan berbuat mubazir. Ketika punya waktu luang malah
dipergunakan untuk beraktivitas yang tidak bermanfaat bahkan
cenderung merugikan orang lain. Kala tubuh sehat, malah
lebih banyak dipakai dengan melangkahkan kaki ke tempat
tak berguna. Tidak terbayangkah bila nikmat itu hilang dengan
datangnya penyakit atau musibah lainnya. Ah... alangkah
ruginya… karena semuanya menjadi percuma disebabkan tidak
bersyukurnya kita atas nikmat. Bahkan karena sikap-sikap tadi
yang didapat hanyalah dosa dan murka-Nya. Na’udzubillah.
Kita harus berusaha mengaktualisasikan rasa syukur kita
dari hal-hal yang sederhana. Setiap aktifitas sekecil apapun
usahakan untuk selalu sesuai aturan-Nya, selaku pencipta
kita. Kerusakan yang sekarang timbul di sekeliling kita tidak
lain karena sikap kufur nikmat sebagian dari kita. Bayangkan,
negara yang kaya akan sumber daya alam, tetapi sebagian
besar rakyatnya miskin.
Untuk itu, tidak ada salahya bila kita mulai dari diri dan
keluarga, belajar bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.
Agar nikmat itu jangan sampai menjadi naqmah (balasan siksa),
karena kufur akan nikmat-Nya. Mulailah untuk sering melihat
KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 37

kondisi orang-orang yang berada di bawah kita. Jika sudah,


tentulah kita akan lebih banyak mengatakan “Alhamdulillah”.
Seperti dalam hadits Rasulullah Saw, ”Perhatikanlah orang
yang berada di bawah tingkatanmu (dalam urusan duniawi),
dan jangalah kamu memandang kepada orang yang berada di
atasmu. Itu lebih layak bagimu supaya kamu tidak menghina
pemberian Allah kepadamu.” (HR.Muslim).
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kehilangan
nikmat (yang telah Engkau berikan), dari siksa-Mu yang
mendadak, dari menurunkannya kesehatan (yang engkau
anugrahkan) dan dari setiap kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim dari
Ibnu Umar).

----- end -----


38 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH
TAUSIYAH 9
Belajar dari Kematian

K ematian adalah peristiwa akbar yang akan menimpa siapa


saja yang bernama makhluk hidup. Cepat atau pun lambat,
kematian itu pasti akan tiba. Yang membedakan hanya waktu,
siapa yang akan dipanggil lebih dulu dan siapa yang masih
ditangguhkan. Jatah untuk ke arah panggilan itu masing-masing
sudah jelas.
Dalam firman-Nya Allah swt menjelaskan urut-urutan
kepastian ini, yang diawali dengan mengingatkan asal-muasal
kejadian manusia sbb:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dari sesuatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami
jadikan saripati itu air mani (yang tersimpan) dalam tempat yang
kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal
darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging,
dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu
tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian
Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha
Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah
itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.” (QS
Al-Mu’minun: 12-15).
Kita semua ini tidak lain adalah makhluk-makhluk yang
sedang pasrah menunggu datangnya al-maut. Suka atau tidak
suka. Siap atau pun tidak. Kematian akan datang juga. Mungkin
nanti, besok, lusa atau bahkan setelah kita menikmati tulisan
40 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

ini.
Karena kesibukan, orang sering dibuat lupa dengan
sunatullah ini. Kesibukan sering mengantarkan orang lupa
pada jadwal tetap yang pasti akan dialami. Kekagetan
biasanya muncul setelah ada sanak-saudara atau tetangga
yang meninggal. Pada saat itu baru kembali muncul kesadaran
bahwa panggilan bergilir ke alam baka masih terus berlanjut.
Undangan kematian masih tatap datang.
Anehnya, banyak informasi kematian yang diterima
baik melalui televisi, majalah, maupun koran, sering tidak
menggetarkan hati. Bahkan bernilai seperti hiburan? Berita
perihal kematian --yang mengerikan sekalipun-- tidak ubahnya
dengan berita-berita yang lain seputar kasus politik dan
kriminalitas. Kematian Lady Diana, misalnya, ketika peristiwa itu
baru terjadi hampir seluruh masyarakat dunia turut terbelalak,
menangis, histeris. Seolah tidak yakin kalau hukum kepastian
ini juga berlaku untuk seorang manusia bernama Diana. Mereka
meraung dan meratap: “Ooh.. mengapa orang seperti dia harus
mati. Mengapa di usia yang semuda itu harus meninggalkan
dunia?”
Lolongan itu justru aneh, karena lupa di balik itu masih
ada jadwal panggilan untuk dirinya juga, sudah ada di depan
matanya, sudah beberapa saat lagi tiba gilirannya.
Sesungguhnya tidak ada yang istimewa dari peristiwa
apapun di dunia ini. Tidak pula karena wafatnya orang terkenal,
pemimpin dunia, public figure, atau apapun namanya dengan
seorang TKW yang meninggal karena teraniaya. Semuanya
kembali pada perjalanan akhir yang bersangkutan, adakah nilai
iman dan taqwa di dalam hatinya. itulah bekal yang paling baik
sekembalinya manusia setelah mengarungi hidup di dunia.
Taqwa itulah bekal kembali yang paling baik setelah manusia
berpulang ke alam baqa sana. Bila ada bekal takwa berarti ada
bekal yang siap dibawanya untuk ‘melapor’ di hadapan Tuhan.
Mengapa peristiwa kematian tidak banyak mengundang
kesadaran? Padahal di sana lengkap terpampang sejumlah
mayat yang bergelimpangan, juga dengan uraian-uraian
KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 41

kejadian yang kadang didramatisir media massa sehingga


nampak begitu negerikan? Mengapa jadi demikian?
Kejadian seperti itu tidak lain karena manusia telah begitu
lelah menghadapi kehidupan ini. Manusia telah disibukkan oleh
berbagai kegiatan mencari penghidupan yang membuatnya
lupa. Juga dipadatkan oleh masalah yang bertumpuk. Masalah
itu setiap hari semakin bertambah banyak. Karena kelelahan
itulah hingga informasi yang datangnya dari kampung akhirat
bukan bernilai pendidikan dan peringatan lagi.
Menyangkut hal ini, salah seorang sahabat pernah
bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, pesankan
sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.”
Nabi saw lalu bersabda, “Perbanyaklah mengingat kematian,
maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah
kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah
kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya
kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.” (HR Ath-
Thabrani)
Ingat pada kematian akan membuat manusia punya
kendali. Pangkal dari lupa dan keserakahan sebenarnya
bermula dari sini, tidak ingat akan mati. Yang dibayangkan
bagaimana bisa hidup lebih lama, bersenang-senang lebih
banyak, dan dapat menghabiskan waktunya untuk bersuka-ria
dengan leluasa. Kalau ada jatah, bahkan minta umurnya lebih
lama hingga seribu tahun!
Yang serakah bertambah keserakahannya, yang rakus
semakin rakus dan yang zhalim semakin bertambah-tambah
kezhalimannya. Kecenderungan ke arah sana dimiliki oleh siapa
saja, lebih terkhusus oleh mereka yang lupa akan al-maut.
Rasulullah saw bersabda, “Cukuplah maut sebagai
pelajaran (guru) dan keyakinan sebagai kekayaan.” (HR Ath-
Thabrani) Seandainya kematian ini telah dipetik sebagai
pendidik (guru) hati manusia secara otomatis akan terkendali.
Kecurangan, kerakusan, kesombongan dan berbagai bentuk
penyakit hati yang bersarang di dada akan dibunuh oleh
takutnya pada mati.
42 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

Sebagus apapun rupa, pada akhirnya akan binasa.


Secantik bagaimanapun istri yang kita miliki, anak yang
kita sayangi, perhiasan dan istana yang ada, semua akan
ditinggalkan juga. Semuanya akan diakhiri oleh kematian.
Karena hukum pastinya ini Nabiyullah yang mulia saw
mengingatkan agar dalam pergaulan kita tidak mudah tertipu
oleh bayang-bayang. Kita tidak diperbolehkan memvonis
seseorang itu baik atau jahat, beruntung atau celaka. Karena
kunci dari semua itu adalah pada ujung perjalanannya.
“Janganlah kamu mengagumi amal seorang sehingga
kamu dapat menyaksikan hasil akhir kerjanya.” (Ath-Thusi Ath-
Thabrani)
Boleh jadi kita sering heran. Tidak jarang orang yang
kelihatan baik-baik, rajin beribadah dan bershiyam Ramadhan
meninggal dalam keadaan bermaksiat. Sementara di sisi lain kita
juga menjumpai kasus yang tidak masuk akal, karena orang yang
semula kita katakan brengsek, suka mengganggu lingkungan,
bahkan dalam kalkulasi kita tidak pernah ada bayangan bakal
mencium bau syurga sekalipun, justru mengakhiri hidupnya
dengan husnul-khatimah.
Tapi kasus seperti itu bukan untuk membuat kita ragu dan
plin-plan. Pegangan hidup harus jelas. Menegakkan kepribadian
Islam sama sekali tidak boleh surut dengan menyebarkan nilai-
nilai al-Qur’an dan hadits untuk diri kita dan lingkungan. Karena
Allah tetap Maha adil. Kalau Dia memutuskan untuk memberi
hidayah terhadap seseorang, maka tentulah ada dari seseorang
itu nilai yang baik yang layak sebagai landasan pemberian
petunjuk itu. Ketentuan dan kehendak Allah di luar kaidah
apapun yang dikenal manusia, hanya saja Dia menunjukkan
cara yang bisa dipahami, misalnya dengan kaidah sebab-
akibat.
Semua itu terjadi karena kehendak Allah terhadap
makhluk-Nya agar sunnah-Nya dipelajari, direnungkan, dan
dihayati apa makna-maknanya. Dan yang terpenting agar kita
dijauhkan dari akhir kehidupan yang rugi dan sia-sia, suul-
khatimah. Marilah kita ingat sekali lagi, bahwa kita akan mati,
KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 43

dan mungkin saja itu terjadi besok pagi.

----- end -----


44 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH
TAUSIYAH 10
Berbuatlah...

W alid bin Mughirah, Umayyah bin Khalaf, dan Al-`Ash bin


Wail telah membelanjakan hartanya untuk memerangi
risalah dan melawan kebenaran, “Mereka akan menafkahkan
harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka
akan dikalahkan.” (QS Al-Anfal: 36)
Namun kebanyakan kaum muslimin justru kikir dengan harta
mereka, sehingga tidak terbangun menara keutamaan dan tugu
keimanan, “Dan, barangsiapa yang kikir maka sesungguhnya
dia kikir terhadap dirinya sendiri.” (QS Muhammad: 38)
Demikianlah gambaran tekad kuat para durjana dan
kelemahan orang-orang yang bisa dipercaya.
Dalam memoar Golda Mier, mantan Perdana Menteri
Israel, yang berjudul Malice, disebutkan bahwa dalam satu
fase hidupnya dia harus bekerja selama enam belas jam tanpa
istirahat demi mempertahankan prinsip-prinsipnya yang sesat
dan pikiran-pikiran yang menyimpang itu, hingga akhirnya
berhasil melahirkan negara Israel bersama-sama dengan Ben
Gurion. Kalau mau silahkan membaca buku dimaksud.
Saya sendiri sering menyaksikan generasi kaum
muslimin yang sama sekali tidak pernah berbuat, meski hanya
satu jam saja. Mereka larut dalam main, makan, minum, tidur,
dan menghabiskan waktu percuma, Apakah sebabnya apabila
dikatakan kepada kamu, “Berangkatlah (untuk berjuang) pada
jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu
46 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

(QS At-Taubah: 38)


Umar adalah sosok yang sangat giat bekerja siang
malam. Dia hanya menyempatkan tidur sebentar. Sampai-
sampai keluarganya menegurnya, “Engkau tidak tidur?” Tapi
teguran itu dijawab oleh Umar, “Jika aku tidur di malam hari
maka sia-sialah diriku, dan jika aku tidur di siang hari maka sia-
sialah rakyatku.”
Dalam memoar seorang tiran, Mose Dayan, yang berjudul
The Sword and Rule dituliskan bahwa dia harus terbang
dari satu negara ke negara yang lain, dari kota satu ke kota
yang lain, siang dan malam, terang-terangan dan sembunyi-
sembunyi, harus menghadiri berbagai pertemuan, mengadakan
konferensi, mengatur kesepakatan dan perjanjian, dan tak lupa
menulis dalam catatannya. Sayang sekali memang, bahwa
orang yang lebih pantas menjadi saudara kandung kera dan
babi seperti dia, justru bisa menunjukkan keuletan seperti ini.
Sebaliknya, kebanyakan kaum muslimin justru menunjukkan
kemalasannya. Inilah tekad orang durjana dan kelemahan
orang yang bisa dipercaya.
***
Umar bin Khattab telah menyatakan perang terhadap
semua bentuk pengangguran, kemalasan, dan ketidakgiatan.
Bahkan Umar bin Khattab pernah menarik keluar para pemuda
yang diam di dalam mesjid dan tidak melakukan apa-apa. Umar
memukul mereka dan berkata, “Keluar kalian, cari rezeki. Langit
tidak akan menurunkan emas dan perak.”
Kemalasan dan ketidakgiatan hanya akan melahirkan
pikiran-pikiran yang negatif, kesengsaraan, penyakit kejiwaan,
kerapuhan jaringan syaraf, keresahan, dan kegundahan.
Sedangkan kerja dan semangat akan mendatangkan
kegembiraan, suka cita dan kebahagiaan.
Segala kecemasan, keresahan, kegundahan, dan
penyakit-penyakit intelektual, syaraf dan jiwa, akan berakhir bila
masing-masing kita menjalankan peranannya dalam hidup ini.
Sehingga semua lapangan kerja menjadi ramai. Pabrik-pabrik
menjadi produktif, tempat-tempat kerja akan sibuk, lembaga-
KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 47

lembaga sosial dan dakwah dibuka kembali, dan pusat-pusat


kegiatan budaya dan ilmiah marak di mana-mana. Firman
Allah,
“Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu sekalian’.”
“Menyebarlah di permukaan bumi.”
“Bersegaralah!”
“Cepat-cepatlah.”
Juga sabda Rasulullah, “Sesungguhnya Nabi Allah Daud
akan makan dari hasil kerja tangannya.”
Al-Rasyid memiliki sebuah buku yang berjudul Shin’atul
Hayat (Merancang Kehidupan). Dalam buku ini ia berbicara
banyak tentang masalah ini dan menyebutkan bahwa banyak
orang yang tidak memainkan peran yang seharusnya mereka
perankan dalam kehidupan ini, “Mereka hidup, tapi seperti orang
yang sudah mati. Mereka tidak menangkap apa rahasia dibalik
kehidupan mereka, mereka tidak melakukan yang terbaik untuk
masa depan, umat maupun diri mereka sendiri.”
Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi
berperang. Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang
tidak turut berperang) yang tidak mempunyai udzur dengan
orang yang berjihad di jalan Allah. (QS An-Nisa’: 94)
Seorang seorang perempuan kulit hitam yan menyapu
mesjid Rasulullah telah memainkan perannya dalam kehidupan.
Dan, dengan peran yang dia mainkan dia masuk surga.
Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari
wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu. (QS Al-Baqarah:
221)
Demikian pula budak yang mengerjakan mimbar
Rasulullah, telah melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.
Dan, dia memperoleh pahala atas apa yang dia lakukan, karena
memang bakatnya di dunia pertukangan.
Orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan)
selain sekedar kesanggupannya. (QS At-Taubah: 79)

----- end -----


48 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH
TAUSIYAH 11
Menjadikan Shalat Sebagai Pencegah
Perbuatan Keji Dan Munkar

S etiap kewajiban yang telah dibebankan Islam kepada


umatnya senantiasa memuat hikmah dan maslahat bagi
mereka. Islam menginginkan terbentuknya akhlak Islami dalam
diri Muslim ketika ia mengimplementasikan setiap ibadah yang
telah digariskan oleh Allah SWT dalam Kitab dan Sunnah rasul-
Nya.
Pada akhirnya nilai-nilai keagungan Islam senantiasa
mewarnai ruang kehidupan Muslim. Tidak hanya terbatas pada
ruang kepribadian individu Muslim, namun nilai-nilai itu dapat
ditemukan pula dalam ruang kehidupan keluarga dan komunitas
masyarakat Muslim. Kita bisa merenungkan kembali ayat-ayat
Allah yang berkaitan dengan hal ini, sebagaimana salah satu
firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas
kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. 2/Al-Baqarah:
183).
Melalui ibadah puasa, Allah SWT menginginkan
terbentuknya pribadi-pribadi Muslim yang bertakwa. Pribadi
yang tidak pernah mengenal slogan hidup kecuali slogan
yang agung ini: sami’naa wa atha’na. Pribadi yang senantiasa
melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-
Nya dalam situasi dan kondisi apapun.
Oleh karenanya, Nabiyullah agung Muhammad SAW
telah bersabda: “Takutlah kamu kepada Allah di manapun kamu
50 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

berada, ikuti keburukan dosa dengan kebaikan niscaya ia akan


menghapuskannya dan gauli manusia dengan akhlak yang
baik.” Dalam sabda beliau yang lain: “Sesungguhnya Allah telah
mewajibkan beberapa faridlah (kewajiban) maka jangan sekali-
kali kamu menyia-nyiakannya, Dia telah menetapkan batasan-
batasan maka jangan sekali-kali kamu melampui batas, Dia
telah mengharamkan banyak hal maka jangan sekali-kali
melanggarnya….”
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan
zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan
berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu
(menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. 9/At-Taubah: 103).
Dengan ibadah zakat, Islam mengharapkan tumbuh subur
sifat-sifat kebaikan dalam jiwa seorang Muslim dan mampu
memberangus kekikiran dan cinta yang berlebihan kepada
harta benda. Begitu juga ibadah shalat yakni ibadah yang jika
seorang hamba melaksanakan dengan memelihara syarat-
syarat, rukun-rukun, wajibat, adab-adab, dan kekhusyu`an
di dalamnya, niscaya ibadah ini akan menjauhkannya dari
perbuatan keji dan kemunkaran. Sebaliknya, ibadah ini akan
mendekatkan seorang hamba yang melaksanakannya dengan
sebenarnya kepada Sang Khalik dan mendekatkannya kepada
kebaikan-kebaikan serta cahaya hidup.
Perhatikan ayat berikut ini, “Bacalah apa yang telah
diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Quran) dan
dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya
mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya
dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang
kamu kerjakan.” (Q.S. 29/Al-Ankabuut: 45).
Muslim yang selalu menunaikan ibadah ini akan selalu
aktif dalam kegiatan-kegiatan kebaikan dan mampu menjadi
cahaya di tengah-tengah masyarakatnya. Muslim yang
memiliki hamasah yang menggelora dalam memperjuangkan
kebenaran dan memberangus nilai-nilai kemunkaran, kelaliman,
KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 51

dan perbuatan keji lainnya. Hatinya terasa tersayat di saat


menyaksikan pornografi dan porno aksi mewabah di tengah-
tengah masyarakatnya. Jiwanya akan terus gelisah ketika
melihat kelaliman yang dipermainkan para budak kekuasaan.
Memang, ia harus menjadi cahaya yang berjalan di
tengah-tengah kegelapan zaman ini. Allah berfirman, “Dan
apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan
dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan
cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat
manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam
gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?
Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik
apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. 6Al-An’am: 122)
Shalat Yang Berhikmah
Ibadah shalat adalah awal kewajiban yang diperintahkan
Allah SWT kepada umat ini pada peristiwa Isra dan Mi’raj.
Ibadah yang merupakan simbol dan tiang agama, “Pokok urusan
adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah
jihad di jalan Allah.” (HR Muslim). Ibadah yang dijadikan Allah
sebagai barometer hisab amal hamba-hamba-Nya di akhirat,
“Awal hisab seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat.
Apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya baik, dan apabila
buruk maka seluruh amalnya buruk.” (HR At-Thabrani).
Ibadah shalat merupakan wasiat Nabi yang terakhir
kepada umat ini dan yang paling terakhir dari urwatul islam
(ikatan Islam) yang akan dihapus oleh Allah SWT. Selain ini,
shalat juga penyejuk mata, waktu rehatnya sang jiwa, saat
kebahagiaan hati, kedamaian jiwa dan merupakan media
komunikasi antara hamba dan Rabbnya.
Ibadah yang memiliki kedudukan atau manzilah yang
agung ini tidak akan hadir maknanya dalam kehidupan kita,
tatkala kita lalai menjaga arkan, wajibat dan sunah yang inheren
dengan ibadah ini.
Tatkala kita tidak mampu menghadirkan hati, merajut
benang kekhusukan dan keikhlasan dalam melaksanakan
ibadah ini maka kita tidak akan mampu menangkap untaian
52 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

makna yang terkandung di dalamnya. Kita tidak akan mampu


memahami sinyal-sinyal rahasia yang ada di balik ibadah ini.
Tidakkah banyak di antara manusia Muslim yang ahli
ibadah namun masih jauh dari nilai-nilai Islam. Ahli shalat
namun masih suka melakukan kemaksiatan. Hal ini disebabkan
nilai-nilai agung yang terkandung dalam ibadah sama sekali
tidak mampu memberikan pesan-pesan ilahiah di luar shalat.
Takbir yang dikumandangkan di saat beribadah tidak mampu
melahirkan keagungan di luar shalat. Do’a iftitah “Inna shalaatii
wa nusukii….” yang dilafazkan dalam shalat tidak mampu
mengingatkan tujuan hidupnya. Ibadah ini seolah-olah hanya
menjadi gerakan-gerakan ritual yang maknanya tidak pernah
membumi dalam kehidupan orang yang melaksanakannya.
Oleh karena itu, ibadah shalat yang mampu melahirkan
hikmah pencegahan dari perbuatan keji dan kemungkaran,
hikmah pensucian jiwa dan ketentraman, apabila dilakukan
dengan penuh kekhusyukan, mentadabburkan gerakan dan
ucapan yang terkandung di dalamnya, penuh ketenangan dan
dengan tafakkur yang sesungguhnya. Maka ia akan keluar dari
ibadah dengan merasakan kenikmatannya, terkontaminasi
dengan nilai-nilai keta’atan dan mendapatkan cahaya
ma’rifatullah.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak seorangpun yang
melaksanakan shalat maktubah (fardlu), lalu ia memperbaiki
wudlunya, khusyuk dan rukuknya kecuali shalat ini akan menjadi
pelebur dosa-dosa sebelumnya selama tidak melakukan dosa
besar. Dan ini berlaku sepanjang tahun.” (H.R. Muslim)
Inilah yang pernah dilakukan oleh salaf shalih termasuk
di dalamnya Ibnu Zubair RA. Mereka laksana tiang yang
berdiri tegak karena kekhusyukannya. Mereka terbius dengan
kerinduannya akan Rabbnya dan mereka asyik berkomunikasi
dengan Sang Khalik tanpa terganggu dengan suara makhluk-
Nya.
Kiat-kiat memelihara hikmah shalat
Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan di saat
melaksanakan ibadah shalat agar hikmah di dalamnya selalu
KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 53

terjaga. Pertama, menjaga arkan, wajibat dan sunah. Rasulullah


SAW bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku
shalat.”
Kedua, ikhlas, khusyuk dan menghadirkan hati. “Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan)
agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang
lurus.”
(Q.S. 98/Al-Bayyinah: 5).
Ketiga, memahami dan mentadabburi ayat, do’a dan
makna shalat. “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang
shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (Q.S. 107/
Al-Maa’uun: :4-5).
Keempat, mengagungkan Allah SWT dan merasakan
haibatullah. Rasulullah SAW bersabda, “…Kamu mengabdi
kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya dan apabila kamu
tidak melihat-Nya, maka (yakinlah) bahwasanya Allah melihat
kamu…” (H.R. Muslim).
Semoga kita semua mampu merenungkan kembali arti
shalat dalam kehidupan dakwah dan memperbaikinya agar
kita benar-benar mi’raj kepada Allah SWT. Wallahu A’lam Bish-
shawwab.

----- end -----


54 KUMPULAN MATERI TAUSIYAH