Anda di halaman 1dari 5

Kecintaan DR.

Yusuf Al-Qaradhawi Untuk Umat Islam Indonesia


Oleh: Ulis Tofa, Lc

http://www.dakwatuna.com/2007/kecintaan-dr-yusuf-al-qaradhawi-untuk-umat-islam-indonesia/
Untuk yang keenam kalinya Ulama besar, Syaikh DR. Yusuf Al-Qaradhawi yang juga
Ketua Ulama Islam Internasional berkunjung ke Indonesia. Bumi Allah yang selalu
dicintainya, dirindukannya, dan harapan besar beliau akan peranan Indonesia yang lebih besar
dalam percaturan umat dunia. Berikut wujud kecintaan beliau terhadap umat Islam Indonesia
yang dituangkan dalam nasihat yang disampaikan di Masjid Istiqlal pada hari Jum’at, 12 Januari
2007, yang diterjemahkan oleh Ust. H.M. Anis Matta:

Salam penghormatan dan kedamaian Islam dari pribadi saya, dari saudara-saudara Islam di Qatar
dan saudara-saudara Islam dari seluruh negeri Arab. As-salamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.

Setiap kali saya berkunjung ke Indonesia, selalu saya dapati bahwa Indonesia selalu makin baik
dari pada sebelumnya. Saya mendapati fakta bahwa Indonesia selalu lebih baik dari pada hari-
hari sebelumnya. Ini adalah negeri yang paling saya cintai, negeri yang menempati hati saya, dan
karena itu saya selalu berdoa agar negeri Indonesia ini atas izin Allah swt akan memainkan peran
yang lebih penting dari pada sebelumnya.

Pada kunjungan saya terakhir, saat masa Presiden Habibie, saya menyaksikan langsung
fenomena kebangkitan dan semangat kembali kepada Islam, dan fakta yang saya saksikan
sekarang ini jauh lebih baik dari saat itu insya Allah.

Bangga Menjadi Muslim

Sesungguhnya Allah memberikan kepada kita nikmat yang luar biasa dan karunia yang tak
terhitung jumlahnya. “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, pasti kamu tidak sanggup
menghitungnya.” (An-Nahl: 18)

Di antara nikmat yang tidak terhitung itu adalah ni’matul wujud atau nikmat kehidupan. Bahwa
kita dijadikan salah satu makhluk-Nya yang hidup di alam raya ini. Kehidupan ini memberikan
kepada kita hak-hak yang lain setelah Allah swt memberikan eksistensi kita dalam kehidupan.

Karunia kedua, ni’matul insan, fakta bahwa kita adalah manusia yang ditetapkan sebagai
makhluk yang memiliki kelebihan dibanding makhluk-makhluk lainnya. Karunia ketiga,
ni’matul aql atau karunia akal. Allah swt memberi kepada kita kemampuan membaca dan
menulis, kemampuan untuk menjelaskan, kekuatan untuk memahami fenomena di alam raya ini.

Lain dari pada itu, ada karunia yang jauh lebih besar. Adalah ni’matul hidayah ilal Islam, karunia
petunjuk menjadi seorang muslim. Inilah nikmat yang paling mulia. Dan ini tidak Allah berikan
kepada semua manusia, melainkan hanya kepada kita. Karena itu nikmat ini haruslah kita
syukuri. Inilah jalan satu-satunya yang Allah berikan kepada kita agar kita mendapat kebaikan di
dunia dan di akhirat.

“Jika kamu mensyukuri nikmat-Ku, pasti akan Aku tambah. Tapi jika kamu mengingkari nikmat-
Ku, ketahuilah bahwa adzab-Ku pasti pedih.” (Ibrahim: 7)
Mensyukuri nikmat hidayah Islam itu dengan beberapa cara. Pertama, syukuri nikmat ini dengan
menumbuhkan perasaan bahwa kita bangga dan mulia dengan beragama Islam. Kita harus
merasa bangga, percaya diri bahwa kita adalah orang Islam. Katakan kepada semua orang
dengan penuh kebanggaan, ”Saya adalah orang Islam. Saya adalah umat tauhid. Saya adalah
umat Al-Qur’an. Saya adalah umat Muhammad saw.”

Dahulu para sahabat sangat bangga menjadi muslim. Mereka mengatakan, ”Ayahku adalah
Islam. Tiada lagi selain Islam. Apabila orang bangga dengan suku mereka, tapi aku bangga
nasabku adalah Islam. Suatu ketika Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu ditanya, ”Keturunan
siapa Kamu?” Salman yang membanggakan keislamannya, tidak mengatakan dirinya keturunan
Persia, tapi ia mengatakan dengan lantang, ”Saya putera Islam.” inilah sebabnya Rasulullah saw
mendeklarasikan bahwa, ”Salman adalah bagian dari keluarga kami –ahlul bait-, bagian dari
keluarga Muhammad saw.”

Kita harus bangga bahwa kita adalah muslim. Karena faktanya bahwa Islam itu diturunkan
sebagai misi dimana Muhammad saw sebagai Rasulnya, juga diturunkan ke muka bumi dengan
tujuan menyebarkan kasih sayang. Karena itu kita haruslah bangga, karena kitalah yang dinanti-
nanti oleh umat manusia. Kita rahmat bagi alam semesta ini. Kita bagaikan air yang dirindukan
oleh orang yang haus dahaga. Kita adalah makanan yang sedang dimimpikan oleh orang yang
lapar.

Fakta lain, kiat harus bangga menjadi muslim, adalah bahwa kita mempunyai kitab suci. Al-
Qur’an sendiri telah menjamin bahwa kitab ini tidak mungkin ternodai. Tidak satu huruf atau
titik pun yang akan merubah kesucian Al-Qur’an yang sudah pasti di pelihara oleh Allah. Karena
itu kebenaran Al-Qur’an akan tetap abadi. Al-Qur’an yang ada di Indonesia adalah Al-Qur’an
yang ada dan dibaca oleh saudara-saudara kita di muka bumi lain. Al-Qur’an yang dicetak di
Indonesia, Arab Saudi, Mesir adalah Al-Qur’an yang dicetak di seluruh dunia. Oleh karena itu,
kita mempunyai alasan yang sangat kuat bahwa kitalah pihak yang paling berhak menyampaikan
kebenaran dari Allah kepada seluruh umat manusia.

Kita adalah rahmat untuk seluruh umat manusia. Rahmat bagi yang jauh dan dekat. Rahmat
dalam keadaan damai dan keadaan perang. Rahmat untuk muslimin dan muslimat. Rahmat untuk
manusia dan binatang. Rahmat untuk muslim dan non-muslim. Karena Rasulullah saw dalam
peri hidupnya memiliki sikap kasih sayang. Demikianlah Allah swt memuliakan kita dengan Al-
Qur’an dan Rasul-Nya.

Cobalah perhatikan, pernah dalam suatu pertempuran Rasulullah saw menyaksikan ada seorang
perempuan yang ikut terbunuh. Lalu beliau mengatakan kepada para sahabatnya, ”Tidak
mungkin perempuan ini ikut berperang sehingga ia tidak layak di bunuh.” Demikian rahmat
Islam dalam peperangan. Rasulullah saw melarang umatnya untuk membunuh perempuan, anak-
anak, orang tua, para pendeta, merusak tempat ibadah, memotong mohon. Perang adalah perkara
yang sangat dibenci dalam Islam meskipun perang itu sebagai kenyataan yang dipaksakan dalam
kehidupan. Itulah sebabnya Islam menjelaskan bahwa kita adalah rahmat untuk manusia
sekalipun kita berperang.
Tidak ada manusia yang mencintai perang. Tidak ada manusia yang senang dengan pertumpahan
darah. Oleh karena itu, ketika Rasulullah saw ada kesempatan untuk membunuh lawan-lawannya
dalam peristiwa Fathu Makkah, tapi itu tidak pernah dilakukan oleh beliau. Ketika seluruh orang
Quraisy berkumpul di sekeliling masjidil Haram sebagai pihak yang kalah, Rasulullah saw
bertanya kepada mereka, ”Apa yang kalian duga yang akan saya lakukan kepada kalian?” orang-
orang Quraisy itu tertunduk dengan mengatakan, ”Kami menduga engkau pasti akan melakukan
sesuatu yang baik bagi kami karena engkau adalah saudara kami yang mulia,” Kemudian
Rasulullah saw mengatakan kepada mereka, ”idzhabu faantum thulaqa’. Hari ini tidak ada
dendam. Hari ini kalian bebas semuanya. Pergilah semuanya, kalian bebas.”

Lihatlah bagaimana Rasulullah memperlihatkan kasih sayang, ketulusan dan kecintaannya.


Bandingkan dengan karikatur yang digambarkan oleh orang-orang Denmark tentang Rasulullah
dengan kartun yang menggambarkan Rasulullah dikelilingi perempuan sambil menghunus
pedang. Itu sangat berlawanan dengan kemuliaan dan kasih sayang Rasulullah saw. Karena
ternyata fakta sejarah menunjukkan Rasulullah saw justru mampu memunculkan rasa kasih
sayang hingga dalam situasi beliau mampu melakukan apa saja terhadap musuh-musuhnya.

Bila kewajiban kita adalah mensyukuri nikmat Islam, maka kita harus bangga dengan Islam, dan
itu artinya kita harus istiqamah dan konsisten dengan ajaran Islam. Tidak cukup dengan kata-kata
bahwa kita adalah muslim, tapi kita harus mengamalkan apa yang diajarkan oleh Islam. Islam
harus mewarnai kehidupan kita, dalam cara berpikir, bersikap, merasa, dan dalam seluruh gaya
hidup kita semuanya. Islam sebagai pengarah tunggal dalam kehidupan kita semua.

Solidaritas Islam

Setelah kita mensyukuri nikmat Allah, bahwa kita sebagai muslim, yaitu dengan mengamalkan
Islam dengan penuh konsisten, saya ingin agar setiap muslim menumbuhkan dan memiliki
solidaritas dengan sesama Muslim yang lain. Bukan hanya untuk sesama muslim yang berada di
Indonesia tapi juga bagi seluruh saudara-saudara muslim di seluruh muka bumi. Seorang muslim
tidak boleh hidup untuk dirinya sendiri sehingga tidak peduli dengan kehidupan saudara-
saudaranya kaum muslimin yang lain. Tapi setiap muslim ketika melakukan shalat, ia
mengatakan, ”Iyyaka na’budu waiyyaka nastai’in..” Kepada-Mu lah kami menyembah dan
kepada-Mu lah kami meminta pertolongan..”

Mengapa ayat Al-Qur’an menggunakan lafazh “kami” dalam ayat tersebut, karena kita tidaklah
sendiri melainkan kita adalah satu kelompok besar manusia, kita adalah satu umat. Begitu juga
Allah swt tidak menyeru dengan menggunakan lafazh “Yaa ayyyuhal mukmin, wahai orang
beriman, melainkan dengan panggilan, “Yaa ayyuhal ladzina amanu, wahai orang-orang yang
beriman, yakni dengan menggunakan lafadz jamak yang berarti banyak.

Oleh karena itu kaum Muslimin harus hidup bahu membahu. Yang kuat mengayomi yang lemah.
Yang kaya membantu yang miskin. Kita adalah umat yang satu, yang saling membantu.
Ukhuwah adalah pelajaran Islam yang paling penting. Ukhuwahlah yang bisa membangkitkan
dan menyatukan umat saat ini. Sebab meskipun kita memiliki jumlah umat yang besar dan
jumlah harta yang banyak, tetapi ketika kita menyaksikan ukhuwah itu hilang, maka kita menjadi
kelompok paling lemah di antara kelompok umat manusia.
Rasulullah saw mengilustrasikan seorang muslim dengan muslim lainnya ibarat sebuah
bangunan yang saling menguatkan. Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw menjelaskan dengan
merapatkan jari jemari dari dua tangannya sebagai visualisasi kedekatan, kekerabatan dan
kekuatan satu sama lain dalam tubuh umat ini. Bahkan dalam kesempatan yang lain, beliau
mengatakan muslim satu dengan muslim yang lain ibarat satu tubuh, dimana jika satu organ
tubuh sakit, maka yang lainnya akan merasakan sakit pula. Hanya dengan inilah umat Islam
menjadi kuat di mata umat lainnya. Maka apa yang membuat saudara-saudara kita menangis di
tempat lain, itu pun seharusnya membuat kita menangis di sini, meskipun kita tidak bersama
dengan mereka. Bila saudara kita di belahan bumi lainnya mendapatkan kesenangan dan tertawa
gembira, itu juga yang membuat kita tertawa bahagia di sini.

Dalam sebuah syair disebutkan, ”Sesungguhnya musibah menyatukan kita,” Dan saat sekarang
ini kita menyaksikan begitu berat kondisi saudara-saudara kita di berbagai belahan bumi Allah
swt. Lihatlah bagaimana kondisi saudara-saudara kita di Palestina, Afghanistan, Irak, Somalia,
dan berbagai tempat lainnya. Umat Islam sekarang melewati fase krisis yang sangat berat,
melebihi krisis yang pernah dilewatinya dalam sejarah. Begitu banyak jiwa melayang di sana,
begitu banyak darah yang mengalir di negeri-negeri itu.

Di Palestina, mereka menyulut api fitnah untuk memecah barisan perlawanan kaum muslimin
terhadap penjajah Zionis Israel. Mereka ingin pecah perang saudara, antara sesama anak bangsa
Palestina. Saya katakan, tidak boleh, haram, terlarang saling membunuh sesama saudara. Begitu
juga di Irak, api fitnah berkobar-kobar antara pengikut Sunni dan Syiah. Padahal sebelumnya
mereka bisa hidup berdampingan. Saya berulang kali mengatakan dalam khutbah saya, dilarang
saling bunuh sesama umat Islam. Saya katakan kepada saudara-saudara di Palestina, antara
Hamas dan Fatah, bahwa mereka tidak boleh menumpahkan darah satu orang pun dari rakyat
Palestina. Saya juga katakan kepada saudara-saudara warga Syiah di Irak, karena merekalah
yang lebih bertanggung jawab atas apa yang kini terjadi di sana. Itu karena mereka memiliki
kekuatan yang lebih besar, memiliki referensi agama yang kuat, dimana bila mereka katakan,
”Hentikan pembunuhan atas Muslim Sunni…” maka pertumpahan darah pun bisa berhenti.

Saudara-saudara muslim di Indonesia mempunyai kewajiban untuk memainkan peran lebih besar
untuk mendinginkan konflik di dunia Islam. Itu yang saya sampaikan saat saya bertemu dengan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Indonesia negeri muslim terbesar di dunia. Indonesia
tidak memiliki masalah dengan negara-negara Islam lainnya. Oleh karena itu, jika Indonesia
memainkan perannya, itu akan lebih mudah didengar dan diikuti. Indonesia mempunyai
kesempatan dan kekuatan untuk bertindak sebagai mediator dalam masalah konflik di berbagai
negeri Islam.

Alangkah perlunya kita saat ini untuk peran-peran itu, sehingga kita bisa menyatukan langkah
dan arah ke depan. Hanya dengan persatuan seperti ini lah kita bisa menjadi kuat sebagai sebuah
umat. Dan hanya dengan persatuan inilah kita bisa mengembalikan izzul Islam wal muslimin.
Allahu a’lam