Statistik Terapan

Sem 3 D-IV Jalan Tol
1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 PENGERTIAN ISTILAH STATISTIK DAN STATISTIKA
Banyak sekali definisi tentang statistik, ini disebabkan karena luasnya
ruang lingkup statistik. Untuk keperluan praktis, statistik dapat diartikan
secara sempit dan luas.
Dalam arti sempit, statistik mempunyai fungsi menyajikan data
tertentu dalam bentuk table dan diagram, statistik ini termasuk statistik
deskriptif. Statistik deskriptif ialah susunan angka yang memberikan
gambaran tentang data yang disajikan dalam bentuk table, diagram,
histogram, poligon frekuensi, ogivve, ukuran penempatan (median, kuartil,
desil dan persentil), ukuran gejala pusat (rata-rata hitung, rata-rata ukur, rata-
rata harmonik dan modus), simpangan baku, kurva normal, korealsi dan
regresi linear.
Dalam arti luas, statistik berarti salah satu alat untuk mengumpukan
data, mengolah data, menyajikan data. Menganalisa data, menarik
kesimpulan dan membuat keputusan berdasarkan analisis data yang
dikumpulkan. Statistik dalam arti luas ini disebut juga dengan istilah
statistika ( statistics, statistik inferensial, statistik induktif, statistik
probabilitas).

1.2 PERANAN STATISTIK
Sejak dahulu statistika telah digunaka, dalam bidang biologi, farmasi,
geologi, industri, kedokteran, pendidikan, psikologi, sosiologi, teknik danlain-
lain. Dunia penelitian atau riset dimanapun telah memanfaatkan dan bahkan
harus menggunakan statistik untuk mendapatkan hasil yang diharapkan.
Karena begitu meluasnya penggunaan statistika maka di bidang teknik
khususunya teknik sipil dalam hal ini jalan tol menyadari pentingnya statistika

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
2
sebagai engineering tools yang dapat dipercaya. Disini statistika sebagai
alat diantaranya :
1. Pengumpulan data yang baik baik secara poplasi maupun sampel.
2. Pengolahan data atau analisa data.
3. Penyajian data baik dalam bentuk laporan manajemen maupun teknis.
4. pengambilan keputusan atau perencanaan
5. evaluasi atau Pengawasan antara data yang dilaporkan dengan
penyimpangan di lapangan
6. Melakukan pemecahan masalah teknis maupun manajerial.

1.3 RANGKUMAN













Statistik deskriptif ialah susunan angka yang memberikan gambaran
tentang data yang disajikan dalam bentuk table, diagram, histogram,
poligon frekuensi, ogivve, ukuran penempatan (median, kuartil, desil dan
persentil), ukuran gejala pusat (rata-rata hitung, rata-rata ukur, rata-rata
harmonik dan modus), simpangan baku, kurva normal, korealsi dan regresi
linear.

Statistika induktif ialah salah satu alat untuk mengumpukan data,
mengolah data, menyajikan. menganalisa data, menarik kesimpulan dan
membuat keputusan berdasarkan analisis data yang dikumpulkan


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
3
1.4 SOAL-SOAL
1. Apa pengertian statistik dalam arti sempit dan dalam arti luas ?
2. Apa perbedaaan statistik dan statistika.?
3. Mengapa kita perlu statistic ?
4. Bagaimana peranan statistik dalam bidang teknik terutama teknik sipil?
5. Apa yang dimaksud dengn statistik deskriptif dan statistik induktif ?






















Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
4
BAB II
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Untuk mendapatkan kumpulan data yang baik dan mencakup seluruh
unit yang menjadi objek penelitian maka data statistik harus dapat dipercaya
dan tepat waktu, sehingga informasi yang dikumpulkan sesuai dengan
keadaan sebenarnya dan dengan metode serta cara yang tepat. Hal-hal yang
perlu diperahatikan sebelum data dikumpulkan adalah sebagai berikut :
1. Harus diketahui untuk apa data itu dikumpulkan.
2. Harus diketahui jenis elemen atau objek yang akan diselidiki.
Elemen adalah unit terkecil dari objek penelitian, misalnya orang, organisasi
atau badan usaha, barang dan lain-lain.
Tujuan darI pengumpulan data adalah untuk mengetahui jumlah
elemen dan karakteristik elemen tersebut.
Karakteristik adalah sifat-sifat, ciri-ciri atau hal-hal yang dimiliki oleh elemen-
elemen, yaitu semua keterangan mengenai elemen. Nilai karakteristik suatu
elemen berupa nilai variabel. Untuk menunjukkan suatu variable
dipergunakan huruf misalnya: X, Y, Z dan sebagainya.
Contoh :
3 perusahaan dengan X = modal perusahaan dalam jutaan rupiah, di mana
X
1
= 5, X
2
= 7, X
3
= 4, berarti perusahaan pertama mempunyai modal Rp 5
juta, perusahaan kedua Rp 7 juta, perusahaan ketiga Rp 4 juta.

2.1. POPULASI DAN SAMPEL
Populasi adalah kumpulan elemen baik hasil perhitungan maupun
pengukuran, baik kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik dari
sekelompok objek yang lengkap dan jelas. Sedangkan sampel adalah
sebagian dari populasi yang diambil dengan menggunakan teknik tertentu
yang disebut teknik sampling. Data yang diperoleh dari hasil sampling

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
5
merupakan data perkiraan (estimate value). Penelitian yang menggunakan
seluruh anggota populasinya disebut sampel total atau sensus. Data yang
diperoleh sebagai hasil pengolahan sensus disebut data sebenarnya (true
value) atau parameter.
Dibandingkan dengan sensus, pengumpulan data dengan cara
sampling membutuhkan biaya lebih murah , waktu lebih cepat, tenaga lebih
sedikit dan menghasilkan cakupan data yang lebih banyak serta terperinci.
Dalam banyak hal pengumpulan data dengan cara sampling lebih disukai
dengan pertimbangan biaya, waktu dan penelitian yang bersifat merusak
objek.
Jika n adalah jumlah elemen sampel dan N adalah jumlah elemen
populasi, maka n<N ( n lebih kecil N).





Gambar 2.1 Hubungan antara Populasi dan sampel

2.2 TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL (TEKNIK SAMPLING)
Statistika terbagi menjadi dua yaitu statistik deskriptif dan statistik
induktif (inferensial).Statistika deskriptif dikerjakan untuk mendapatkan
statistika induktif. Statistika induktif berusaha menyimpulkan tentang
karakteristik populasi berdasarkan sampel yang diambil dari populasi yang
bersangkutan dengan menggunakan metode atau cara tertentu.
Untuk mendapatkan kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan
haruslah dicari cara-cara yang benar termasuk cara-cara pengambilan
Populasi yang
karakteristiknya ingin
diketahui (N)
Sambel diambil dari
populasi dan
dianalisis (n)
Kesimpulan dibuat diharapkan berlaku
untuk populasi

Data diskrit yaitu data yang diperoleh dari
hasil menghitung atau membilang. Data
kontinu yaitu data yang diperoleh dari hasil
pengukuran.

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
6
sampel atau sampling. Kriteria yang perlu diperhatikan dalam pengambilan
sampel adalah sebagai berkut :
1. Jelas daerah generalisasinya.
2. Batas-batas yang tegas tentang sifat-sifat populasi (karakteristiknya).
3. Sumber-sumber informasi tentang populasi.
4. Rumusan persoalan yang akan diteliti.
5. Keterangan mengenai populasi yang akan diteliti.
6. Teknik sampling dan besar anggota sampel yang sesuai dengan
tujuan penelitian.
7. Definisi unit-unit, istilah yang diperlukan.
8. Unit sampling yang diperlukan
9. Skala pengukuran yang akan dipergunakan
10. Keterangan yang ada kaitannya dengan permasalahan yang akan
dibahas
11. Ukuran sampel yang akan dianalisis
12. Prosedur sampling yang akan digunakan.
13. Teknik pengumpulan data yang akan dipergunakan
14. Metode analisis yang akan digunakan.
15. Sarana dan prasarana yang diperlukan untuk penelitian.

Alasan mengapa populasi tidak dapat dilakukan sehingga digunakan
sampel :
1. Ukuran populasi
Karena ukuran populasi terlalu besar, obyek terlalu banyak sehingga
sulit melakukan penelitian terhadap populasi tersebut.
2. Masalah biaya
Makin banyak obyek yang diteliti maka makin banyak biaya yang
dikeluarkan.
3. Masalah waktu

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
7
Sensus memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan sampling.
4. Penelitian yang sifatnya merusak
Jika penelitian terhadap obyek sifatnya merusak, maka sampling harus
digunakan.
5. Masalah ketelitian
Makin banyak obyek yang diteliti maka makin kurang ketelitiannya,
sebaliknya jika jumlah obyek lebih sedikit.
6. Faktor ekonomis. Kegunaan dari hasil penelitian sepadan apa tidak
dengan biaya, waktu, dan tenaga yang dikeluarkan. Jika tidak, maka
tidak perlu penelitian dilakukan terhadap sensus.
Pada dasarnya cara pengambilan sampel ada dua cara yaitu :
1. Cara acak (sampling random)
yaitu cara pengambilan atau pemilihan elemen dari populasi untuk
menjadi sampel secara acak sehingga setiap elemen mempunyai
kesempatan yang sama (equal chance) untuk dipilih menjadi anggota
sampel. Pemilihan dapat dilakukan dengan cara lotre/undian, ordinal
atau table bilangan random atau dengan komputer.
Cara ini dianggap objektif, samplingnya disebut probability sampling
yaitu semua elemen mempunyai probabilitas (kemungkinan) yang
sama untuk dipilih.
2. Cara bukan acak (sampling non random)
yaitu cara pengambilan atau pemilihan elemen dari populasi untuk
menjadi sampel dimana setiap elemen tidak mendapat kesempatan
yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel.
Cara ini lebih bersifat subjektif dan samplingnya disebut
nonprobability sampling artinya setiap elemen tidak mempunyai
probabilitas yang sama untuk dipilih.

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
8
2.3 JENIS DATA
Data adalah hasil pencatatan peristiwa atau karakteristik elemen yang
dilakukan pada tahap pengumpulan data yang jika diolah dengan baik dapat
melahirkan berbagai informasi. Data dapat berupa bilangan (data kuantitatif)
dan dapat berupa kategori (data kualitatif).
Data yang berbentuk bilangan atau data kuantitatif menurut nilainya dibagi
menjadi dua golongan yaitu :
1. Data diskrit yaitu data yang diperoleh dari hasil menghitung atau
membilang.
Contoh : a. Perusahan A mempunyai 5 anak perusahaan
b. PT. Jasa Marga sudah membangun 15 Jalan Tol tahun
2003
2. Data kontinu yaitu data yang diperoleh dari hasil pengukuran
Contoh : a. Luas daerah yang dibebaskan untuk Jalan Tol sebesar
30,5 hektar
b. Kecepatan rata-rata mobil yang melewati Jalan Tol
Jagorawi 110 km/jam.

2.4 PEMBULATAN BILANGAN
Seringkali kita menghadapi angka-angka hasil penyelesaian
perhitungan analisa atau laporan yang panjang sekali, sehingga menyuilitkan
didalam pembacaannya. Oleh karena itu banyak orang yang menghendaki
pencatatan data kuantitatif itu dalam bentuk yang paling sederhana. Salah
satu cara menyederhanakan data kuantitaif yang panjang itu, ialah dengan
cara pembulatan bilangan.

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
9
Ada beberapa aturan yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam
pembulatan bilangan, yaitu :
1. Bila angka terkiri yang harus dihapus adalah 4 atau kurang, maka
angka terkanan yang mendahuluinya tidak berubah.
Contoh :
Rp 49.275,42 dibulatkan hingga ribuan rupiah, menjadi Rp 49.000,-.
Dalam hal ini angka yang harus dihapus adalah mulai angka 2 ke
kanan, maka angka 2 merupakan angka terkiri yang harus dihapus,
sedangkan angka yang mendahului angka 2 adalah angka 9.
2. Bila angka terkiri yang harus dihapus lebih besar 5 atau 5 yang diikuti
oleh angka bukan nol, maka angka terkanan yang mendahuluinya
bertambah dengan satu.
Contoh :
Rp 49.275,42 dibulatkan hingga ratusan rupiah, menjadi Rp 49.300,-.
Dalam hal ini angka yang harus dihapus adalah mulai angka 7 ke
kanan, maka angka 7 merupakan angka terkiri yang harus dihapus,
sedangkan angka 2 merupakan angka terkanan yang mendahului
angka 7.
Rp 49.275,42 dibulat kan hingga puluhan rupiah, menjadi Rp 49.280,-.
Angka yang harus dihapus adalah mulai angka 5 ke kanan. Angka 5
ini diikuti oleh angka yang bulan nol.
3. Bila angka terkiri yang harus dihapus lebih besar 5 atau angka 5 yang
diikuti oleh angka bukan nol, maka terkanan yang mendahuluinya
akan tetap jika ia genap dan bertambah satu jika ia ganjil. Aturan ini
disebut aturan ”genap terdekat”.
Contoh :
27,50 dibulatkan hingga satuan menjadi 28,00
244,50 dibulatkan hingga satuan menjadi 244,00

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
10
Aturan ini dapat pula diambil kebalikannya, yaitu membuat tetap jika ia
ganjil dan bertambah satu jika ia genap. Aturan ini disebut aturan
”ganjil terdekat”
Contoh :
27,50 dibulatkan hingga satuan menjadi 27,00
244,50 dibulatkan hingga satuan menjadi 245,00

2.5 TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Sumber data dibagai menjadi dua yaitu sumber data primer dan
sumber data sekunder. Sumber data primer yaitu data yang didapat dari
observasi langsung oleh peneliti. Sumber data sekunder yaitu data yang
diperoleh melalui wawancara kepada pihak lain tentang obyek atau subyek
yang diteliti. Dari kedua sumber data tersebut sumber data primer lebih dapat
dipertanggung jawabkan dibandingkan sumber data sekunder.
Teknik –tekniik pengumpulan data dapat dilakukan melalui :
1. Wawancara (Interview)
2. Angket (Questionnary)
3. Pengamatan (Observation)
4. Dokumentasi (Dokumentation)
5. Langsung (Participation)
Bagian yang penting dalam pengumpulan data adalah merancang
angket /kuesioner. Kuesioner atau angket adalah satu set pertanyaan yang
tersusun secara sistemetis dan standar sehingga pertanyaan yang sama
dapat diajukan terhadap responden. Yang dimaksud dengan sistematis
adalah bahwa item-item pertanyaan disusun menurut logika sesuai dengan
maksud dan tujuan pengumpulan data. Sedangkan standard adalah setiap
item pertanyaan mempunyai pengertian, konsep dan definisi yang sama.

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
11
2.6 PENGOLAHAN DATA
Secara umum pengolahan data dapat dibedakan menjadi dua yaitu
pengolahan ata secara manual (manual data processing) dan pengolahan
data secara elektronik (elektronik data processing).
1. Pengolahan data secara manual
Pengolahan data secara manual umumnya dilakukan untuk jumlah
observasi yang tidak terlalu banyak karena pengolahan data secara
manual memerlukan waktu yang sangat lama.
Contoh :
Volume lalu lintas bulan Desember tahun 2002 Jalan Tol Tangerang
Merak untuk Golongan Kendaraan IIA sebagai berikut :
Gerbang Cikupa = 62.060 kendaraan
Gerbang Blaraja Timur = 5.058 kendaraan
Gerbang Balaraja Barat = 23.103 kendaraan
Gerbang Ciujung = 9.380 kendaraan
Gerbang Serang Timur = 43.975 kendaraan
Gerbang Serang Barat = 5.719 kendaraan
Gerbang Cilegon Timur = 18.084 kendaraan
Gerbang Cilegon Barat = 6.501 kendaraan
Gerbang Merak = 28.504 kendaraan
Tentukan jumlah volume lalu lintas, Rata-rata volume lalu lintas per
hari dan persentase gerbang tol yang volume lalu lintasnya kurang dari
10.000 kendaraan di Jalan Tol Tangerang Merak.


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
12
Penyelesaian :
Data tersebut dapat diolah secara manual yaitu :
Jumlah volume lalu lintas =62.060+5.058+23.103+…+ 28.504=
202.384 kendaraan
Rata-rata volume lalu lintas per hari=
31
384 . 202

=6.258 kendaraan
Persentase gerbang tol yang volume lalu lintasnya kurang dari 10.000
kendaraan =
9
4
x 100%= 44,44 %
2. Pengolahan data secara elektronik
Pengolahan data secara elektronik dapat dilakukan dengan
menggunakan aplikasi komputer dengan program-program yang
tersedia, misalnya Microsoft Excel, SPSS, Statgraphics dan lain-lain.

2.7 RANGKUMAN








Elemen adalah unit terkecil dari objek penelitian, misalnya orang,
organisasi atau badan usaha, barang dan lain-lain.
Karakteristik adalah sifat-sifat, ciri-ciri atau hal-hal yang dimiliki oleh
elemen-elemen, yaitu semua keterangan mengenai elemen. Nilai
karakteristik suatu elemen berupa nilai variabel. Untuk menunjukkan
suatu variable dipergunakan huruf misalnya: X, Y, Z dan sebagainya.


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
13






















Populasi adalah kumpulan elemen baik hasil perhitungan maupun
pengukuran, baik kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik dari
sekelompok objek yang lengkap dan jelas.
Sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil dengan
menggunakan teknik tertentu yang disebut teknik sampling.
Data adalah hasil pencatatan peristiwa atau karakteristik elemen yang
dilakukan pada tahap pengumpulan data yang jika diolah dengan baik
dapat melahirkan berbagai informasi.
Populasi adalah kumpulan elemen baik hasil perhitungan maupun
pengukuran, baik kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik dari
sekelompok objek yang lengkap dan jelas. Sampel adalah sebagian dari
populasi
Data diskrit yaitu data yang diperoleh dari hasil menghitung atau
membilang. Data kontinu yaitu data yang diperoleh dari hasil
pengukuran.
Sumber data dibagai menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber
data sekunder.
Sumber data primer yaitu data yang didapat dari observasi langsung
oleh peneliti.
Sumber data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui wawancara
kepada pihak lain tentang obyek atau subyek yang diteliti.

Secara umum pengolahan data dapat dibedakan menjadi dua yaitu
pengolahan data secara manual (manual data processing) dan
pengolahan data secara elektronik (elektronik data processing).



Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
14


2.8 SOAL
1. Apa yang dimaksud dengan elemen? Berikan beberapa contoh!
2. Apa yang dimaksud dengan karakteristik? Berikan beberapa contoh!
3. Apa yang dimaksud populasi dan sampel? Berikan contohnya!
4. Apa perbedan antara sensus dan sampling?
5. Apa keuntungan menggunakan metode sampling dibandingkan
dengan metode sensus.
6. Sebutkan teknik oengambilan sampel.
7. Apa yang dimaksud dengan data kuantitatif dan data kualitatif?
8. Apa yang dimaksud dengan data deskrit dan data kontinu? Berikan
beberapa contoh!
9. Sebutkan jenis sumber data dan jelaskan!
10. Sebutkan teknik-teknik pengumpulan data!











Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
15
BAB III
DISTRIBUSI FREKUENSI EMPIRIS

Distribusi Frekuensi Empiris adalah suatu daftar yang menunjukkan
penggolongan kumpulan data diamana termasuk penentuan berapa bilangan
yang termasuk ke dalam setiap golongan tersebut .
Tujuan dari penentuan Distribusi Frekuensi adalah untuk menyajikan
data dalam bentuk yang lebih teratur dan ringkas sehingga lebih mudah
untuk dipahami.

3.1 BAGIAN-BAGIAN DARI DITRIBUSI FREKUENSI
1. Variabel Penyelidikan
Variabel Penyelidikan adalah obyek yang diselidiki
2. Nilai Variabel
Nilai variable adalah nilai masing-masing penyelidikan / pengujian.
Contoh :
Apabila seorang ahli beton mengadakan pengujian tentang kekuatan
karakteristik beton dimana untuk mendapatkan kekuatan karakteristik
diperlukan nilai masing-masing pengujian beton
Dari contoh diatas yang merupakan :
Variabel penyelidikan adalah pengujian kekuatan karakteristik beton
dan Nilai variabel adalah nilai masing-masing pengujian beton
Pada Umumnya Pembuatan Distrbusi Dapat Dibagi 3 Tahap :
1. Menentukan jumlah kelas , guna memasukkan angka-angka.
2. Memasukkan angka-angka ke kelas-kelas yang sesuai serta
menghitung frekuensinya.
3. Membuat tabel distribusi frekuensi
Distribusi frekuensi dibagi 2 :
a. Distribusi Frekuensi Tunggal

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
16
b. Distribusi Frekuensi Bergolong

DISTRBUSI FREKUENSI TUNGGAL (DFT)
Distribusi Frekuensi Tunggal (DFT) adalah suatu pencaran frekuensi
yang menunjukkan tidak adanya pengelompokkan nilai variabel.
Contoh :
Variabel Penyelidikan :
Penyelidikan tentang nilai mata kuliah Statistik Semester I
Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik UI tahun akademik 1993/1994 .
Nilai Variabel :
7 6 6 5 7 6 5 4 6 6
6 5 6 6 6 7 7 5 7 7
7 8 5 6 5 7 6 7 8 5
Dari angka-angak tersebut diatas kita tidak dapat memperoleh gambaran
apa-apa. Untuk mendapatkan gambaran dan kesimpulan , kita perlu
mengatur angka-angka itu menjadi suatu tabel .
Penyajian dalam bentukDistribusi Frekuensi Tunggal
Nilai Mata Kuliah Statistik Semester I Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Politeknik UI tahun akademik 1993/1994 .
No.( i ) Nilai ( Xi ) Frekuensi ( f i )
1 4 1
2 5 7
3 6 11
4 7 9
5 8 2

¯
=
=
5
1
k
i
fi 30


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
17
k = banyaknya kelas
fi = frekuensi kelas ke i
¯
=
=
5
1
k
i
fi
= jumlah indek = 1 s/d k termasuk frekuensi ke 1 dan ke k
Dari tabel tersebut diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa urutan
data yang mempunyai frekuensi dari tertinggi ke terendah adalah : 6, 7, 5, 8,
4
Jumlah kolom yang ada pada panel yang ada pada tabel bukan merupakan
syarat mutlak, jumlah kolom dalam tabel tergantung pada kebutuhan .

DISTRIBUSI FREKUENSI BERGOLONG (DFB)
Distribusi Frekuensi Bergolong (DFB) adalah suatu pencaran frekuensi
yang menunjukkan adanya pengelompokkan nilai variabel dalam satu kelas.









Istilah-istilah Yang Digunakan dalam Distribusi Frekuensi Bergolong :
1. Kelas
Kelas adalah tiap-tiap kelompok nilai variabel.



No.
( i )
Batas Kelas ( Xi )
Tanda Kelas
( Mi)
Frekuen
si
( Fi)
Semu Nyata
1 3 − 5 2,5 − 5,5 3 4
2 6 − 8 5,5 − 8,5 5 7
3 9 −11 8,5 -11,5 11 10
4 12 −14 11,5 −14,5 13 13

¯
=
=
5
1
k
i
fi

34

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
18
Contoh :
Dalam tabel diatas terdapat 4 kelas dengan masing-masing kelas yaitu
kelas pertama 3 – 5, kelas kedua 6 – 8, kelas ketiga 9 – 11 dan kelas
keempat 12 – 14.
2. Batas Kelas
Batas Kelas adalah nilai-nilai yang membatasi antara kelas yang satu
dengan kelas yang lain .
Contoh :
Nilai 3 dan 5,6 dan 8,9 dan 11,12 dan 14.

3. Batas Kelas Atas dan Batas Kelas Bawah
Batas Kelas Atas (Upper Limits) adalah nilai tertinggi dalam suatu kelas .
Contoh :
Angka-angka pada deret sebelah kanan batas kelas yaitu 5,8,11 dan 14.
Batas Kelas Bawah (Lower Limits) adalah nilai terndah dalam suatu kelas
Contoh :
Angka-angka pada deret sebelah kanan batas kelas yaitu 3, 6, 9 dan 12

4. Batas Kelas Semu dan Batas Kelas Nyata
Batas Kelas Semu adalah nilai yang terpisah antara batas kelas yang satu
dengan batas kelas yang lain.
Contoh :
Nilai 5 dengan 6, 8 dengan 9, 11 dengan 12.
Batas Kelas Nyata adalah nilai yang sama antara batas kelas yang satu
dengan batas kelas yang lain.
Contoh :
Nilai 2,5 ; 5,5 ; 8,5 ; 11,5 ; 14,5.
Nilai Batas Kelas Nyata =
2
II s b k B I s a k B +


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
19
Keterangan :
B k a s I : Batas kelas atas semu prioritas I
B k b s II : Batas kelas bawah semu prioritas II

5. Lebar Kelas / Interval Kelas ( I )
Lebar Kelas / Interval Kelas adalah jumlah nila-nilai variabel dalam tiap
kelas.
Contoh :
Kelas 3 – 5 terdiri dari nilai – nilai variabel 3, 4, dan 5. Jadi tiap – tiap
kelas terdiri dari 3 nilai variabel, sehingga interval kelas = 3
Interval Kelas ( I ) = B k a n – B k b n dalam satu kelas
atau = B k a s II – B k a s I
atau = B k b s II – B k b s I
Keterangan :
B k a n : Batas kelas atas nyata
B k b n : Batas kelas bawah nyata
B k a s II : Batas kelas atas semu prioritas II
B k a s I : Batas kelas atas semu prioritas I
B k b s II : Batas kelas bawah semu prioritas II
B k b s I : Batas kelas bawah semu prioritas II

6. Titik Tengah / Tanda Kelas / Class Mark (m i )
Titik Tengah / Tanda Kelas / Class Mark adalah nilai variabel yang
terdapat di tengah-tengah antara Batas Kelas Atas dengan Batas Kelas
Bawah atau nilai yang mewakili tiap-tiap kelas .
Contoh :
Pada tabel diatas niali 4, 7, 10 dan13 merupakan tanda kelas.
Tanda Kelas (m i) =
2
kelas satu dalam s/n Bks - s/n Bkb


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
20
Keterangan :
Bkb s/n : Batas kelas bawah semu / nyata
Bka s/n : Batas kelas atas semu / nyata

7. Jarak Pengukuran / Range ( R )
Jarak Pengukuran / Range adalah nilai variabel tertinggi dikurangi dengan
nilai variabel terendah dalam suatu pengujian . (Tidak perlu memandang
batas nyatanya).

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Pembuatan Diustribusi
Frekuensi Bergolong (DFB) :
1. Menentukan jumlah kelas, guna memasukkan angka-angka atau nilai-nilai
variabel . Biasanya digunakan Aturan Sturges oleh H . A Sturges tahun
1926.
k = 1 + 3,3 log n pembulatan ( 0,0 – 0,9)
Keterangan :
k : Banyaknya kelas
n : Banyaknya data / pengamatan
2. Menentukan interval kelas , guna memasukkan angka-angka atau nila-
nilai variabel yang sesuai serta kemudian menghitung frekuensinya.
k
L - H
k
R
I = =

Keterangan :
I : Interval Kelas
R : Range
H : Nilai Variabel Tertinggi
L : Nilai Variabel Terndah
k : Banyaknya kelas

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
21
Contoh :
Hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus dengan sisi 15
cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 1
1
/
2
: 2
1
/
2
, yang dilaksanakan di
Laboratorium Pengujian Bahan Politekni UI Depok dalam satuan kg/cm
2
.
157,4 167,8 171,2 174,7 177,4
157,7 168,4 172,4 175,1 178,8
162,2 168,7 173,2 175,5 179,2
164,2 169,9 173,6 176,0 181,3
165,8 170,2 174,7 176,1 185,7
data disusun secara acak satu angka dibelakang koma.
n = 25
H = 185,7 kg/cm
2

L = 157,4 kg/cm
2

Banyaknya Kelas (k)
k = 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log 25
= 5,6132
~ 6
Interval Kelas ( I )
2
kg/cm 7167 . 4
6
4 . 157 7 . 185
k
L - H
k
R
I =
÷
= = =

Penyajian Dalam Bentuk Distribusi Frekuensi Bergolong :
Hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus dengan sisi 15
cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3, yang dilaksanakan di
Laboratorium Pengujian Bahan Politekni UI Depok dalam satuan kg/cm
2
.




Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
22
Kelas
( i )
Batas Kelas ( Xi) (Kg/Cm2)
Tanda Kelas
(mi) (Kg/Cm2)
Frekuensi
(fi)
Semu Nyata
1 157.4 - 162.1 157.35 - 162.15 159.75 2
2 162.2 -0166.9 162.15 - 166.95 164.55 3
3 167.0 - 171.7 166.95 - 171.75 169.35 6
4 171.8 - 176.5 171.75 - 176.65 174.15 9
5 176.6 - 181.3 176.55 - 181.35 178.95 4
6 181.4 - 186.1 181.35 - 186.15 183.75 1

¯
=
6
1 i
fi 25

DISTRIBUSI FREKUENSI RELATIF (DFR)
Distribusi Frekuensi Relatif adalah pencaran frekuensi yang diperoleh
dengan membagi frekuensi tiap-tiap kelas dengan banyaknya data
pengamatan .
n
f
Fr
i
i
=

Keterangan :
Fri = Frekuensi Relatif Kelas ke i
fi = Frekuensi Kelas ke i
n = Banyaknya Data Pengamatan
Frekuensi Relatif bisa juga dibuat dengan bentuk persentase atau disebut
juga Persentase Distribusi yang dapat diperoleh dengan mengalikan
frekuensi relatif dengan 100%.
( ) % 100 %
1
× =
n
f
Fr
i




Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
23
Contoh :
Hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus dengan sisi 15
cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3, yang dilaksanakan di
Laboratorium Pengujian Bahan Politekni UI Depok dalam satuan kg/cm
2
.
Kelas
( i )
Tanda Kelas
(mi) (Kg/Cm2)
Frekuensi
(fi)
Fri Fri (%)
1 159.75 2 0.08 8
2 164.55 3 0.12 12
3 169.35 6 0.24 24
4 174.15 9 0.36 36
5 178.95 4 0.16 16
6 183.75 1 0.04 4

25
6
1
=
¯
= i
fi

1
6
1
=
¯
= i
Fri

% 100
6
1
=
¯
= i
Fri


DISTRIBUSI FREKUENSI KOMULATIF (DFK)
Distribusi Frekuensi komulaitf adalah pencaran frekuensi yang
merupakan penjumlahan-penjumlahan frekuensi-frekuensi kelas secara
berurutan.
Sebagai akibat dari penjumlahan-penjumlahan antara frekuensi yang
beurutan harus diperhatikan bahwa bentuk kelasnya sudah berubah sesuai
dengan Distribusi Frekuensi Komulatif.
Distribusi Frekuensi Komulatif dibagi 2 :
a. Distribusi Frekuensi Komulatif (DFK) kurang dari
b. Distribusi Frekuensi Komulatif (DFK) lebih dari
Contoh :
a. DFK “kurang dari (<)” hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji
kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3 yang

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
24
dilaksanakan di Laboratorium Pengujian Bahan Politeknik UI Depok dalam
satuan kg/cm
2

Batas Kelas Komulatif “<”
(Xk
i
) (Kg/Cm
2
)
Frekuensi Komulatif “<”
(Fk
i
)
Kurang dari 157.35 0
Kurang dari 162.15 2
Kurang dari 166.95 5
Kurang dari 171.75 11
Kurang dari 176.55 20
Kurang dari 181.35 24
Kurang dari 186.15 25

b. DFK “lebih dari (>)” hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji
kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3 yang
dilaksanakan di Laboratorium Pengujian Bahan Politeknik UI Depok
dalam satuan kg/cm
2
.
Batas Kelas Komulatif “>”
(Xk
i
) (Kg/Cm
2
)
Frekuensi Komulatif “<”
(Fk
i
)
Lebih dari 157.35 25
Lebih dari 162.15 23
Lebih dari 166.95 20
Lebih dari 171.75 14
Lebih dari 176.55 5
Lebih dari 181.35 1
Lebih dari 186.15 0





Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
25
PENYAJIAN DISTRIBUSI FREKUENSI DALAM BENTUK GRAFIK,
DAN DIAGRAM
Dalam laporan-laporan tertulis, brosur, majalah, buku-buku, dan lain-
lain sering kita lihat Distribusi Frekuensi disajikan dalam bentuk grafik dan
diagram. Atau disajikan bersama-sama table Distribusi Frekuensi.
Guna penyajian Distribusi Frekuensi dalam bentuk grafik dan diagram
adalah :
1. Mempertegas dan memperjelas Distribusi Frekuensi yang telah disajikan
sebagai table/daftar.
2. Sebagai pengganti bagi Distribusi Frekuensi yang berbentuk sebagai
daftar / tabel.
Grafik dan diagram yang sering dipakai untuk melukiskan distribusi
frekuensi adalah :
1. Histogram frekuensi
2. Poligon frekuensi
3. Ogive frekuensi
4. Diagram lingkaran

HISTOGRAM FREKUENSI
Histogram frekuensi adalah suatu bentuk diagram yang terdiri dari
persegi panjang dimana setiap persegi panjang tersebut mewakili/
menerangkan/ menggambarkan sebuah kelas dari distribusi frekuensi.
Contoh :
Histogram frekuensi hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji
kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3 yang
dilaksanakan dilaboratorium pengujian bahan Politeknik UI Depok dalam
satuan kg/cm
2
.

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
26

0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
157,35 162,15 166,95 171,75 176,55 181,35 186,15
keteguhan tekan beton (kg/cm2)
f
r
e
k
u
e
n
s
i

Skala : x = 2 : 8,72 kg/cm
2
y = 1 : 1
POLIGON FREKUENSI
Poligon Frekuensi adalah suatu bentuk grafik yang digambarkan
dengan menghubungkan titik-titik tengah dari garis puncak histogram
dengan memakai garis lurus.


Contoh :
Poligon frekuensi hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji
kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari engan campuran 1 : 2 : 3 yang
dilaksanakan dilaboratorium pengujian bahan Politeknik UI Depok dalam
satuan kg/cm
2
.

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
27
1
4
9
6
3
2
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
159,75 164,55 169,35 174,15 178,95 183,75
keteguhan tekan beton (kg/cm2)
f
r
e
k
u
e
n
s
i

Keterangan :
Untuk melengkapi poligon frekuensi diawal dan diakhir distribusi frekuensi,
masing-masing ditambah satu kelas dengan frekuensi = “ 0/nol “ sehingga
poligon frekuensi komulatif dengan memakai garis lurus.

OGIVE FREKUENSI
Ogive frekuensi adalah suatu bentuk grafik yang merupakan bentuk
penyajian distribusi frekuensi komulatif yang digambarkan dengna
menghubungkan titik-titik dari frekuensi komulatif dengan memakai garis
lurus.
Contoh :
a. Ogive Frekuensi “kurang dari (<)”hasil pemeriksaan keteguhan tekan
beton (benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari engan campuran 1
: 2 : 3 yang dilaksanakan dilaboratorium pengujian bahan Politeknik UI
Depok dalam satuan kg/cm
2
.

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
28
0
2
5
11
20
24
25
0
5
10
15
20
25
30
157,35 162,15 166,95 171,75 176,55 181,35 186,15
keteguhan tekan beton (kg/cm2)
f
r
e
k
u
e
n
s
i

b. Ogive frekuensi “lebih dari (>)”hasil pemeriksaan keteguhan tekan
beton (benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari engan campuran 1
: 2 : 3 yang dilaksanakan dilaboratorium pengujian bahan Politeknik UI
Depok dalam satuan kg/cm
2
.

0
1
5
14
20
23
25
0
5
10
15
20
25
30
157,35 162,15 166,95 171,75 176,55 181,35 186,15
keteguhan tekan beton (kg/cm2)
f
r
e
k
u
e
n
s
i


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
29
Diagram lingkaran adalah suatu bentuk ddiagram yang berbentuk
lingkaran dengan jari-jari yang membagi lingkaran itu menjadi beberapa
daerah yang luasnya sesuai dengan frekuensinya, diman luas tersebut
tergantung dari besar sudut.
( i
o
) = Fr
i
x 360
0

keterangan : ( i
o
) = sudut pada kelas I
Contoh :
Diagram lingkaran hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji
kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari engan campuran 1 : 2 : 3 yang
dilaksanakan dilaboratorium pengujian bahan Politeknik UI Depok dalam
satuan kg/cm
2
.



Kelas
( i )
Tanda Kelas
(mi) (Kg/Cm2)
Frekuensi
(fi)
Fri Fri (%) α ( i )
1 159.75 2 0.08 8
28.8
2 164.55 3 0.12 12
43.2
3 169.35 6 0.24 24
86.4
4 174.15 9 0.36 36
129.6
5 178.95 4 0.16 16
57.6
6 183.75 1 0.04 4
14.4

25
6
1
=
¯
= i
fi
1
6
1
=
¯
= i
Fri

% 100
6
1
=
¯
= i
Fri

( i ) = 360

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
30
174,15 (36%)
178.95 (16%)
169.35 (24%)
164.55 (12%)
159.75 (8%)
183.75 (4%)
`

















Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
31
RANGKUMAN





















Distribusi Frekuensi Empiris adalah suatu daftar yang menunjukkan
penggolongan kumpulan data diamana termasuk penentuan berapa
bilangan yang termasuk ke dalam setiap golongan tersebut.
Variabel Penyelidikan adalah obyek yang diselidiki.
Distribusi Frekuensi Relatif adalah pencaran frekuensi yang diperoleh
dengan membagi frekuensi tiap-tiap kelas dengan banyaknya data
pengamatan
Distribusi Frekuensi komulaitf adalah pencaran frekuensi yang
merupakan penjumlahan-penjumlahan frekuensi-frekuensi kelas secara
berurutan.
Nilai variable adalah nilai masing-masing penyelidikan / pengujian.
Distribusi Frekuensi Tunggal (DFT) adalah suatu pencaran frekuensi
yang menunjukkan tidak adanya pengelompokkan nilai variabel.
Distribusi Frekuensi Bergolong (DFB) adalah suatu pencaran frekuensi
yang menunjukkan adanya pengelompokkan nilai variabel dalam satu
kelas.
Poligon Frekuensi adalah suatu bentuk grafik yang digambarkan
dengan menghubungkan titik-titik tengah dari garis puncak histogram
dengan memakai garis lurus.
Distribusi Frekuensi Relatif adalah pencaran frekuensi yang diperoleh
dengan membagi frekuensi tiap-tiap kelas dengan banyaknya data
pengamatan


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
32






















Distribusi Frekuensi komulaitf adalah pencaran frekuensi yang
merupakan penjumlahan-penjumlahan frekuensi-frekuensi kelas secara
berurutan.
Histogram frekuensi adalah suatu bentuk diagram yang terdiri dari
persegi panjang dimana setiap persegi panjang tersebut mewakili/
menerangkan/ menggambarkan sebuah kelas dari distribusi frekuensi.
Poligon Frekuensi adalah suatu bentuk grafik yang digambarkan
dengan menghubungkan titik-titik tengah dari garis puncak histogram
dengan memakai garis lurus.
Ogive frekuensi adalah suatu bentuk grafik yang merupakan bentuk
penyajian distribusi frekuensi komulatif yang digambarkan dengna
menghubungkan titik-titik dari frekuensi komulatif dengan memakai
garis lurus.
Diagram lingkaran adalah suatu bentuk ddiagram yang berbentuk
lingkaran dengan jari-jari yang membagi lingkaran itu menjadi
beberapa daerah yang luasnya sesuai dengan frekuensinya, diman
luas tersebut tergantung dari besar sudut.


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
33
3.8 SOAL
1. Apa yang dimaksud dengan distribusi frekuensi empiris?
2. Apa yang dimaksud dengan distribusi frekuensi tunggal?
3. Apa yang dimaksud dengan distribusi frekuensi bergolong?
4. Apa yang dimaksud dengan distribusi frekuensi relatif?
5. Apa yang dimaksud dengan distribusi frekuensi komulatif?
6. Dibawah ini disajikan Data Volume Kendaraan Pada Ruas Jalan Tol
Jakarta-Bogor-Ciawi untuk 50 Hari Kerja Pada Pukul 07.00 S/D 09.00
Pada Bulan Juli - September 2007 (Dalam Ratusan)
46.7 42.6 49.2 35.4 45.6
56.3 28.3 63.4 68.1 73.2
19.4 61.5 32.4 53.4 36.5
38.2 48.4 42.5 52.6 54.3
47.3 47.3 50.8 50.8 45.4
57.5 58.2 64.7 65.4 76.7
25.9 26.8 35.4 35.7 38.1
37.3 50.3 52.1 60.1 57.1
42.3 46.8 48.6 56.8 68.0
40.8 40.1 44.6 44.2 46.9
a. Buatlah distribusi frekuensi bergolong, relatif dan komulatif.
b. Gambarkan histogram, polygon, diagram lingkaran, ogive frekuensi
dari distribusi frekuensi diatas.






Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
34
BAB IV
UKURAN-UKURAN DISKRIPTIF DALAM STATISTIK

Sebelum kita melangkah lebih jauh pada ukuran lokasi (Mean, Median,
Modus dan sebagainya), mengingat bahwa ukuran lokasi menggunakan
operasi penjumlahan, maka diperlukan cara untuk menyajikan penjulahan
dalam bentuk symbol atau Notasi Summasi ( ¯ ).

4.1 SUMMASI ( ¯ ).
Misal dalam n pengamatan yang dinyatakan sebagai x
1
, x
2
, x
3
…….. x
n

untuk menyatakan jumlah dapat dinyatakan dengan notasi summasi sebagai
berikut :
n
x x x x + + + + =
¯
=
... xi
3 2 1
n
1 i

Keterangan :
¯
= Operasi Penjumlahan / Summasi
i = Indeks Summasi
n = Batas Indeks Summasi
x
i
= Data Pengamatan ke i
Pembacaan Notasi :
Jumlah semua data x dari indeks = 1 s/d n termasuk data ke 1dan data ke n.



Contoh :
x
1
= 20 ; x
2
= 25 ; x
3
= 23 ; x
4
= 24
92 24 23 25 20 x x x x x
4 3 2 1
4
1 i
i
= + + + = + + + =
¯
=


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
35
Bila n pengamatan masing-masing dikwadratkan, maka bentuk
penjumlahannya adalah sebagai berikut :

2
n
2
3
2
2
2
1
n
1 i
2
i
x ... x x x x + + + + =
¯
=

Pembacaan Notasi :
Jumlah semua data x
2
dari indeks = 1 s/d n termasuk data ke 1 dan ke n
Contoh :
x
1
= 4 ; x
2
= 3 ; x
3
= 5

50 5 3 4 x x x x
2 2 2 2
3
2
2
2
1
3
1 i
2
i
= + + = + + =
¯
=

Contoh-contoh diatas tidak lepas dari aturan-aturan aljabar yang digunakan
dalam summasi.

ATURAN-ATURAN ALJABAR DALAM SUMMASI :
1. ATURAN I :
Summasi suatu penjumlahan / pengurangan sama dengan jumlah / selisih
dari summasi :
( )
¯ ¯ ¯ ¯
= = = =
÷ + = ÷ +
n
1 i
i
n
1 i
i
n
1 i
i
n
1 i
i i i
z y x z y x

BUKTI :
( ) ( ) ( ) ( )
¯ ¯ ¯
¯
= = =
=
÷ + =
÷ + + + ÷ + + ÷ + = ÷ +
n
1 i
i
n
1 i
i
n
1 i
i
n n n 2 2 2 i i 1
n
1 i
i i i
z y x
z y x ... z y x z y x z y x




Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
36
2. ATURAN II :
Summasi perkalian antara variable dan konstanta sama dengan perkalian
konstanta dan summasi variable.
¯ ¯
= =
=
n
1 i
i
n
1 i
i
x k kx

BUKTI :

( )
¯
¯
=
=
=
+ + + =
+ + + =
n
1 i
i
n 2 1
n 2 1
n
1 i
i
x k
x ... x x k
k.x ... k.x k.x k.x

3. ATURAN III :
Summasi konstanta sama dengan konstanta dikali dengan jumlah indeks
dalam summasi.

n.C C
n
1 i
=
¯
=

BUKTI

C 1)C - (n n.C
C ... C C C
n 2 1
n
1 i
+ = =
+ + + =
¯
=



4.2 UKURAN-UKURAN LOKASI / HARGA-HARGA TENGAH
Ukuran-ukuran lokasi / harga-harga tengah adalah merupakan harga-
harga yang dapat menggambarkan distribusi frekuensi pada lokasi/letaknya.
Ukuran-ukuran lokasi meliputi :
1. Rata-rata / Mean

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
37
2. Median, Kwartil, Desil dan Persentil
3. Modus
4. Geometric Mean
5. Harmonic Mean

4.2.1 MEAN / RATA-RATA ( )
Mean / Rata-rata adalah jumlah dari semua data dibagi dengan
banyaknya data.

1. MEAN DISTRIBUSI FREKUENSI TUNGGAL
Apabila terdapat n data pengamatan yaitu x
1
, x
2
, x
3
…….. x
n
, maka
nilai rata-ratanya :

n
x x x x
n
+ + + +
=
...
x
3 2 1

atau dapat ditulis :
n
x
x
n
i
i ¯
=
=
1

Apabila terdapat n data pengamatan dimana setiap data frekuensi
lebih dari satu, yaitu :
x
1
f
1
, x
2
f
2
, .... , x
k
f
k

maka nilai rata-ratanya :

k
k k
f f f f
f x f x f x
x
+ + + +
+ + +
=
...
. ... . .
3 2 1
2 2 1 1

atau dapat ditulis :

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
38
n
f x
f
f x
x
k
i
i i
k
i
i
k
i
i i ¯
¯
¯
=
=
=
= =
1
1
1
. .


¯
=
=
k
i
i i
f x
n
x
1
.
1

Keterangan :
k = Banyaknya data yang terkelompok.

2. MEAN DISTRIBUSI FREKUENSI BERGOLONG
Mean Distribusi Data Bergolong tidak jauh berbeda dengan
Distribusi Frekuensi Tunggal, hanya nilai x
i
(nilai variable / data
tunggal) diganti / dirubah titik tengah / tanda kelas (m
i
).
Dimana tanda kelas dianggap mewakili nilai variable-variable yang
terdapat pada masing-masing kelas.
Mean di sini hanya merupakan perkiraaan terdekat saja, maka nilai
rata-rata Distribusi Frekuensi Bergolong dapat dituliskan


k
k k
f f f f
f m f m f m f m
x
+ + + +
+ + + +
=
...
. ... . . .
3 2 1
3 3 2 2 1 1

atau dapat ditulis :

n
f m
f
f m
x
k
i
i i
k
i
i
k
i
i i ¯
¯
¯
=
=
=
= =
1
1
1
. .

Keterangan :

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
39
= Nilai Rata-Rata

n=Banyaknya Data
m
i
= tanda kelas ke i
f
i
= frekuensi ke i
k = Banyaknya Data yang dikelompokkan / Banyaknya kelas.
Contoh:
Hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus sisi 15
cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3 yang dilaksanakan
di Laboraturium Pengujian Bahan Politeknik UI Depok dalam
satuan kg / cm
2
.
Kelas
(i)
Tanda
Kelas
(m
i
) (Kg/
Cm
2
)
Frekuensi
(f
i
)
m
i .
f
i

(Kg/ Cm
2
)
1 92,635 2 185,27
2 101,355 5 506,775
3 110,075 9 990,675
4 118,795 7 831,565

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
40












2
1
435 . 114
05 . 3433 .
30
1
.
1
cm kg
f m
n
x
n
i
i i
=
=
=
¯
=

Cara lain menghitung mean Distribusi Frekuensi Bergolong,
yaitu dengan cara KODING / ABRITER / TERKAAN
u x x I.
0
+ =

¯
=
=
k
i
i i
f u
n
1
. .
1
v

Pembuktian Rumus :
Rumus diatas diambil berdasarkan rumus awal :
¯
=
=
n
i
i i
f m
n
x
1
.
1

5 127,515 4 510,060
6 136,235 3 408,705

=
¯
=
6
1 i
i
f

30

3.433,05

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
41
i i
u x m I.
0
+ =


u x
f u n x
n
f u f x
n
f u f x
n
f u f x
n
f u x
n
x
k
i
i
k
i
i
k
i
i o
k
i
i
k
i
i
k
i
i i
k
i
i
I.
. I . .
1
. I . .
1
. I. . .
1
) . I. . (
1
). I. (
1
0
1
i 0
1
i
1
1
i
1
0
1
i 0
1
i 0
+ =

+ =

+ =

+ =
+ =
+ =
¯
¯ ¯
¯ ¯
¯
¯
=
= =
= =
=
=

Keterangan :
= Nilai Rata-Rata
x
0
= Nilai Rata-Rata terkaan yang dipilih secara abriter dengan
memilih nilai m
i
(tanda kelas) dengan asumsi deviasi pada mean
terkaan = 0
I = Interval kelas
ύ = Nilai rata-rata penyimpangan / Deviasi
n = Banyaknya Data pengamatan
ύ
i
= Deviasi ke i
f
i
= Frekuensi ke i
k = Banyaknya data yang dikelompokkan


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
42

Langkah-Langkah Menentukan Mean secara Koding / Abriter /
Terkaan :
1. Menyusun data dalam bentuk Distribusi Frekuensi.
2. Menentukan Mean Terkaan (x
0
) secara abtriter dari tanda kelas
dengan asumsi deviasi pada mean terkaan = 0.
3. Menentukan nilai deviasi masing-masing kelas mulai dari mean
terkaan. Deviasi diaatas mean terkaan diberi tanda minus (-),
sedangkan dibawah deviasi terkaan diberi tanda plus (+).
Apabila data disusun dari nilai terrendah ke tertinggi.
4. Menentukan nilai rata-rata.
Contoh :
Hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus sisi 15
cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3 yang dilaksanakan
di Laboraturium Pengujian Bahan Politeknik UI Depok dalam
satuan kg / cm
2
.
Kelas
(i)
Tanda Kelas
(m
i
) (Kg/ Cm
2
)
Frekuensi
f
i

Deviasi
(u
i
)
u
i
. f
i

1 92,635 2 -3 -6
2 101,355 5 -2 -10
3 110,075 9 -1 -9
4 118,795 7 0 0
5 127,515 4 1 4
6 136,235 3 2 6

=
¯
=
6
1 i
i
f
30 -15

u I.
0
+ = x x


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
43

( ) 5 . 0 15 .
30
1
. .
1
1
÷ = ÷ = =
¯
=
k
i
i
i f u
n
u

2
435 . 114 72 . 8 ). 5 . 0 ( 795 . 118 cm kg x = ÷ + =
Catatan :
Jika :x
0
> maka komponen koreksi (ύ) akan (-)
x
0
= maka komponen koreksi (ύ) = 0
x
0
< maka komponen koreksi (ύ) akan (+)

4.2.2 MEDIAN ( x
~
)
Median adalah nilai yang membatasi 50% Distribusi Frekuensi
bagian bawah dengan 50% Distribusi Frekuensi bagian atas,
apabila data disusun menurut besarnya.
1. MEDIAN DISTRIBUSI FREKUENSI TUNGGAL
Cara menentukan Median Frekuensi Tunggal :
1. Menyususn data menurut besarnya, dari nilai terendah ke
tertinggi atau sebaliknya.
2. Menentukan harga yang terletak di tengah-tengah urutan
data.
Apabila banyaknya data ganjil nilai median merupakan satu nilai
yang berada di tengah-tengah.
Apabila banyaknya data genap nilai median merupakan data
nilai ditengah dijumlahkan dan dibagi dua.
Contoh :
a. 4, 4, 6, 7, 8, 10, 12, 13, 14
x
~
= 8
b. 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11
x
~
= (7 + 8)/2 = 7,5

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
44
2. MEDIAN DISTRIBUSI FREKUENSI BERGOLONG
Median Distribusi Frekuensi Bergolong dapat ditentukan dari
grafik atau diagram salah satunya adalah dengan
menggunakan ogive frekuensi kurang dari :
Contoh :
Ogive frekuensi “<” Hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton
(benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan campuran
1 : 2 : 3 yang dilaksanakan di Laboraturium Pengujian Bahan
Politeknik UI Depok dalam satuan kg / cm
2
.

Skala x = 1 : 8,72 kg / cm
2

y = 2 : 5 y
f.kom.
(f k
i
) 30
27
25

23

20
E C
15
(1/2 n – fkb
x
2
)
10 f
x
2

7
5 A D B
2
0
88,275 96,995 105,715 114,435 123,155 131,875 140,595

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
45
Keteguhan tekan beton(kg/cm
2
)
Langkah-langkah menentukan x
~
:
1. Menentukan letak kelas median dengan menentukan 50%
frekuensi.
¯ f
x
= ½ . n = ½ . 30 = 15
Kelas median (105,715 – 14,435)
2. Membuat perbandingan A sebagai interpolasi pada kelas
median.
AD Bbn x
x
+ =

 ADE :  ABC
x
x
x x
f
fkb n I
AD
f
I
fkb n
AD
BC
AB
AE
AD
) . 2 1 (
. 2 1
÷
=
=
÷
=

x
x
x
f
fkb n I
Bbn x
) . 2 1 .( ÷
+ =

Keterangan :
x = nilai median
Bbn
x
= Batas Bawah Nyata Kelas Median
I = Interval Kelas
N = Banyaknya Data Pengamatan
fkb
x
= Frekuensi Komulatif Sebelum Kelas Median
f
x
= Frekuensi Kelas Median



Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
46
Contoh :
2
466 . 113 ) 7 15 ( 72 . 8 715 . 105 cm kg x = ÷ + =

4.2.3 KWARTIL (K)
Kwartil berdasarkan rumus median adalah nilai yang membatasi
setiap kelipatan 25% distribusi frekuensi apabila data disusun
berdasarkan besarnya.
3
3
3 3
2
2
2 2
1
1
1 1
) . 4 3 .(
) . 4 2 .(
) . 4 1 .(
k
k
k
k
k
k
k
k
k
f
fkb n I
Bbn K
f
fkb n I
Bbn K
f
fkb n I
Bbn K
÷
+ =
÷
+ =
÷
+ =


4.2.4 DESIL (D)
Desil adalah nilai yang membatasi distribusi frekuensi setiap
kelipatan 10% apabila data disusun berdasarkan besarnya.
3
3
3 3
2
2
2 2
1
1
1 1
) . 10 9 .(
) . 10 5 .(
) . 10 1 .(
D
D
D
D
D
D
D
D
D
f
fkb n I
Bbn D
f
fkb n I
Bbn D
f
fkb n I
Bbn D
÷
+ =
÷
+ =
÷
+ =


4.2.5 PERSENTIL (P)
Persentil adalah nilai yang membatasi distribusi frekuensi setiap
100% apabila data disusun berdasarkan besarnya.

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
47
25
25
25 25
1
1
1 1
) . 100 25 .(
) . 100 1 .(
P
P
P
P
P
P
f
fkb n I
Bbn P
f
fkb n I
Bbn P
÷
+ =
÷
+ =


99
99
99 99
75
75
75 75
50
50
50 50
) . 100 99 .(
) . 100 75 .(
) . 100 50 .(
P
P
P
P
P
P
P
P
P
f
fkb n I
Bbn P
f
fkb n I
Bbn P
f
fkb n I
Bbn P
÷
+ =
÷
+ =
÷
+ =

4.2.6 MODUS ( xˆ )
Modus adalah nilai yang sering timbul dari keseluruhan pengamatan
data/ nilai yang memounyai frekuensi tertinggi.
1. MODUS DISTRIBUSI FREKUENSI TUNGGAL
Contoh :
a. 4, 8, 5, 6, 8, 7, 6, 7, 9, 7, 6, 7, 5
x = 7  f = 4
b. 4, 8, 6, 4, 7, 4, 7, 9, 7, 6, 7, 5
x = 4 & 7  f = 4 (bimodus/ modus ganda)
c. 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10
tidak mempunyai modus sebab masing-masing data mempunyai
frekuensi yang sama jumlahnya.
2. MODUS DISTRIBUSI FREKUENSI BERGOLONG
Modus Distribusi Frekuensi Bergolong dapat ditentukan dengan
menggunakan histogram frekuensi.

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
48
Contoh:
Histogram Frekuensi Hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton
(benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1
: 2 : 3 yang dilaksanakan di Laboraturium Pengujian Bahan
Politeknik UI Depok dalam satuan kg / cm
2
.
Skala x = 1 : 8,72 kg / cm
2

y = 1 : 1
y
Frek. (f
i
) B b
9 c
8 F E G
7
6 D
5
4 A
3
2
1
0
88,275 96,995 105,715 114,435 123,155 131,875 140,595
x=kelas modus Keteguhan tekan beton (kg/cm
2
)
) (
) (
) (
x x
x x
fs f
fb f
b I
b
CD
AB
EG
FE
÷
÷
=
÷
=

Kelas Modus (105,715 – 114,435)
b Bbn x
x
+ =


 AEB :  CED


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
49
) . 2 (
) .(
) ( ) (
) .(
) (
.
. . .
x x x
x x
x x x x
x x
fs fb f
fb f I
fs f fb f
fb f I
x y
x I
b
x I x b y b
÷ ÷
÷
=
÷ + ÷
÷
=
+
=
= +

) . 2 (
) .(
x x x
x x
x
fs fb f
fb f I
Bbn x
÷ ÷
÷
+ =


Keterangan :

x

= nilai modus
Bbn
x
= Batas Bawah Nyata Kelas Modus
I = Interval Kelas
f
x
= Frekuensi Kelas Modus
fb
x
= Frekuensi sebelum Kelas Modus
fs
x
= Frekuensi setelah Kelas Modus
Contoh :
2
528 , 111
] 5 7 ) 9 . 2 [(
) 5 9 .( 70 . 8 715 . 105
cm kg x =
÷ ÷
÷ +
=










Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
50
4.3 RANGKUMAN
















4.4 SOAL
1. Apa yang dimaksud dengan harga-harga lokasi?
2. Sebutkan macam-macam harga lokasi dan jelaskan?
3. Data volume kendaraan pada ruas jalan tol jakarta-bogor-ciawi untuk
30 hari kerja pada pukul 07.00 s/d 09.00 pada bulan agustus -
september 2007
Ukuran-ukuran lokasi / harga-harga tengah adalah merupakan harga-
harga yang dapat menggambarkan distribusi frekuensi pada
lokasi/letaknya.
Mean /Rata-rata adalah jumlah dari semua data dibagi dengan
banyaknya data.
Median adalah nilai yang membatasi 50% Distribusi Frekuensi bagian
bawah dengan 50% Distribusi Frekuensi bagian atas, apabila data
disusun menurut besarnya.
Kwartil berdasarkan rumus median adalah nilai yang membatasi setiap
kelipatan 25% distribusi frekuensi apabila data disusun berdasarkan
besarnya
Desil adalah nilai yang membatasi distribusi frekuensi setiap kelipatan
10% apabila data disusun berdasarkan besarnya.
Persentil adalah nilai yang membatasi distribusi frekuensi setiap 100%
apabila data disusun berdasarkan besarnya.
Modus adalah nilai yang sering timbul dari keseluruhan pengamatan
data/ nilai yang memounyai frekuensi tertinggi

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
51
Kelas Tanda Kelas
(dalam ratusan)
Frekuensi
1 17 1
2 28 4
3 39 11
4 50 7
5 61 5
6 72 2

a. Hitung nilaimean, median dan modus.
b. Hitung nilai kuartil 3, desil 2 dan persentil 66.




















Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
52
BAB V
UKURAN-UKURAN LOKASI / HARGA-HARGA DEVIASI

Rata-rata dari serangkaian nilai-nilai observasi tidak dapat
diinterpretasikan secara terpisah dari hasil variasi nilai-nilai tersebut sekitar
rata-ratanya. Bila terdapat keseragaman dalam nilai observasi (x
i
), maka
variasi tersebut = 0 dan x = x.
Contoh :
x
1
x
2
x
3
x
4
x
5
x
6

A 60 65 50 60 65 60 A = 360/60 = 60
B 30 90 50 70 60 60 B = 360/60 = 60
- variasi data A 50 s/d 65
- variasi data B 30 s/d 90
Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai A lebih kecil variasinya
dibandingan B, dengan kata lain nilai A lebih stabil terhadap nilai nya.
Variasi data dari harga tengah idealnya harus kecil. Apabila variasi data
terhadap harga tengah terlalu besar, maka harga tengah tersebut kurang
berguna sebagai nilai yang mewakili atau menggambarkan keadaan datanya.
Macam-Macam Pengukuran Variasi :
1. Range
2. Deviasi Kwartil
3. Deviasi Rata-Rata (Simpangan Rata-Rata)
4. Deviasi Standard (Simpangan Standard ) dan varians.

5.1 RANGE
Range adalah selisih antara data dengan nilai variable tertinggi dan
data dengan nilai variable terendah dari keseluruhan pengamatan data.
L H R ÷ =

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
53
Range merupakan pengukuran disperse (variasi) yang paling sederhana.
Apabila kita ingin memperoleh pengukuran variasi secara kasar dan cepat,
Range dapat digunakan.
Karena kesederhanaannya, maka range banyak sekali digunakan dalam
pengawasan kualitas (Quality Control)

5.2 DEVIASI KWARTIL (SIMPANGAN KWARTIL) (d
k
)
Deviasi Kwartil adalah pengukuran variasi atas dasar jarak inter
kwartil. Pengukuran didasarkan pada jarak K
1
dan K
3
. Deviasi Kwartil tidak
dipengaruhi oleh dispersi dari seluruh nilai-nilai observasi/pengamatan, tapi
hanya mengikut sertakan disperse nilai-nilai observasi (x
i
) terhadap
mediannya (x). Jarak antara K
1
dan K
3
dinamakan Jarak Imter Kwartil. Makin
kecil jarak tersebut, makin tinggi tingkat konsentrasi distribusi tengah, seluas
50%. Pengukuran variasi ini tidak membawa pengauh terhadap x
i
yang
terdapat dibawah K
1
dan x
i
diatas K
3
.
Pengukuran deviasi Kwaril dapat dirumuskan:
2
1 3
K K
d
k
÷
=

Keterangan :
d
k
= Deviasi Kwartil
K
3
= Kwartil 3
K
1
= Kwartil 1







Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
54
Contoh :
2
1
1
1 1
199 , 106
9
) 7 30 . 4 1 .( 72 , 8
725 , 105
) . 4 1 .(
cm kg
f
fkb n I
Bbn K
k
k
k
=
÷
+ =
÷
+ =

2
1 3
167 , 8
2
109 , 106 532 , 122
2
cm kg
K K
d
k
=
÷
=
÷
=

d
k
= 8,167 kg/cm
2
terhadap x nya
d
k
digunakan untuk mengukur merata atau tidaknya distribusi pendapatan.

5.3 DEVIASI RATA-RATA (
x
d )
Deviasi Rata-Rata adalah harga rata-rata penyimpangan data
terhadap rata-ratanya.
1.
x
d Distribusi Frekuensi Tunggal
Bila serangkaian nilai observasi x
1
, x
2
, ......, x
n
memiliki rata-rata .
Maka deviasi nilai-nilai observasi terhadap nya secara berturut-turut
dapat dinyatakan sebagai (x
1
- ), (x
2
-
1
), …… (x
n
-
n-1
).
Penjumlahan deviasi nilai-nilai observasi terhadap x nya, menjadi :
¯
=
÷
n
i
i
x x
1
) (




Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
55
Sedangkan deviasi rata-rata :

¯
=
÷ =
n
i
i
x x
n
x d
1
) ( .
1

ternyata rumus ini menjadi nilai x d = 0.
BUKTI :
0
]. 1 ) 1 .[(
1
.
1
.
1
) ( .
1
1 1
1
= ÷ =
+ ÷ ÷ =
÷ =
÷ =
¯ ¯
¯
= =
=
x x
x n
n
x
x
n
x
n
x x
n
x d
n
i
n
i
i
n
i
i

Tujuan pengukuran deviasi adalah mengukur variasi nilai-nilai observasi
dari suatu nilai tertentu ( nya). Pengukuran seperti ini pada umumnya
menitik beratkan pada hasil besar kecilnya deviasi, bukan arah deviasi (+
atau -).
Mengingat tujuan tersebut, maka pengukuran deviasi atas dasar nilai-nilai
absolut, sehingga perumusannya, sebagai berikut :
¯
=
÷ =
n
i
i
x x
n
x d
1
) ( .
1








Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
56
Contoh :
(i) (x
i
)
(x
i
- ) | (x
i
- ) |
1 24 - 1,5 1,5
2 25 - 0,5 0,5
3 26 + 0,5 0,5
4 27 + 1,5 1,5

¯
=
4
1 i

0 4
¯
=
=
n
i
i
x
n
x
1
.
1

5 , 25
) 27 26 25 24 .( 4 1
) .( 4 1
4 3 2 1
=
+ + + =
+ + + = x x x x x

1 4 . 4 1
) ( .
1
1
= =
÷ =
¯
=
n
i
i
x x
n
x d

2. x d Distribusi Frekuensi Bergolong

¯
=
÷ ÷ =
n
i
i i
f x m
n
x d
1
.
1

Keterangan :
x d = Deviasi Rata-Rata
n = Banyaknya Data Pengamatan / Nilai Observasi
k = Banyaknya Kelas / Data yang Dikelompokkan
m
i
= Tanda Kelas ke i
x = Rata-Rata
f
i
= Frekuensi ke i


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
57
Contoh :
Hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus sisi 15 cm)
sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3 yang dilaksanakan di
Laboraturium Pengujian Bahan Politeknik UI Depok dalam satuan kg /
cm
2
.
Kelas
(i)
Tanda kelas
(m
i
) (kg/cm
2
)
Frekuensi
(f
i
)
|m
i
- | - f
i

(kg/cm
2
)
1 92,635 2 43,6
2 101,36 5 65,4
3 110,075 9 39,24
4 118,795 7 30,52
5 127,515 4 52,32
6 136,235 3 65,4

¯
=
6
1 i


30 296,48
= 114,435 kg / cm
2
 rata-rata
x = 113,466 kg / cm
2
 median
x terhadap cm kg
f x m
n
x d
n
i
i i
2
1
883 , 9 48 , 296 .
30
1
.
1
= =
÷ ÷ =
¯
=

dalam kondisi tertentu dapat dihitung terhadap median distribusi sehingga
dapat dirumuskan :
¯
=
÷ ÷ =
n
i
i i
f x m
n
x d
1
.
1

Rumus tersebut digunakan apabila dengan menggunakan x dapat
menghasilkan variasi seminimal mungkin.
d merupakan pengukuran variasi yang lebih baik dibandingkan R atau
dk, karena hasil pengukuran d mencerminkan variasi tiap-tiap nilai

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
58
observasi dari nilai nya bukan hanya tergantung pada nilai-nilai
ekstrim.
Tetapi rata-rata deviasi secara absolute tanpa menghiraukan tanda-tanda
(+) atau (-) menyulitkan manipulasi secara mateatika.
Untuk itu sebagai sarana untuk menetukan deviasi yang lebih baik
digunakan standart deviasi dan variasi.

5.4 STANDARD DEVIASI DAN VARIASI
Penggunaan nilai-nilai absolut bagi pengukuran variasi tidak
memungkinkan manipulasi secara matematis.
Berdasarkan rumus dari d , bila penjumlahan dilakukan terhadap (x
i
- )
2
,
maka rata-rata hasil penjumlahan diatas tidak akan = 0
¯
=
÷
n
i
i
x x
n
1
2
) ( .
1
 perumusan ini dinamakan deviasi kwadrat rata-
rata
KARL PERSON menamakannya pengukuran Varians dan dirumuskan
sebagai berikut :
¯
=
÷ =
n
i
i
x x
n
S
1
2 2
) ( .
1

Untuk penyimpangan standard / deviasi standard merupakan akar varians :
¯
=
÷ =
n
i
i
x x
n
S
1
2
) ( .
1

Keterangan :
S
2
= Varians
S = Standard Deviasi
n = Banyaknya Nilai Observasi / Data Pengamatan
x
i
= Nilai Observasi ke i

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
59
= Nilai Rata-Rata
1. S
2
dan S Distribusi Frekuensi Tunggal
Data populasi
¯
=
÷ =
n
i
i
x x
n
S
1
2 2
) ( .
1

¯
=
÷ =
n
i
i
x x
n
S
1
2
) ( .
1

Data Sampel
¯
=
÷
÷
=
n
i
i
x x
n
S
1
2 2
) ( .
1
1

¯
=
÷
÷
=
n
i
i
x x
n
S
1
2
) ( .
1
1

Di dalam peraturan beton bertulang Indonesia 1970 ditetapkan bahwa
keteguhan karakteristik dari beton ditentukan dengan n = 20 buah benda
uji. Hal ini adalah didasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut :
1. Bahwa pada pangujian mutu dari beton, 20 beton uji sudah cukup
dapat memberikan gambaran yang representatif dari keteguhan
karakteristik.
2. 20 benda uji adalah jumlah terkecil dengan mana secara tepat dapat
diperhitungkan adanya hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi syarat
(q
i
) = 5% yaitu 5% x 20 = 1, artinya diantara 20 hasil pemeriksaan
berturut-turut hanya ada boleh 1 hasil yang tidak memenuhi syarat.




Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
60
Dengan Rumus:

¯
=
÷
÷
=
n
i
i
x x
n
S
1
2 2
) ( .
) 1 (
1


¯
=
÷
÷
=
n
i
i
x x
n
S
1
2
) ( .
) 1 (
1

Alasan menggunakan pembagian (n-1) bukan n adalah agar varians tidak
kabur. (n-1) biasa disebut dengan derajat kebebasan.
Bentuk Lain Rumus S2 dan S Distribusi Frekuensi Tunggal :
a. Dengan menghilangkan nilai rata-rata :

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
61

2
1
2
2 2
1
2
2
1
2
2
1 1
2
2
1 1
2
1
2
1 1
2
1
2
2
1
2 2
1
2 2
.
. . 2
. . . 2
. . 2
]. 1 ) 1 [( . 2
. 2
) . 2 (
) ( ) 1 .(
) ( .
) 1 (
1
x n x
x n x n x
x n x n x x
x n x x x
x n x x x
x x x x
x x x x
x x n S
x x
n
S
n
i
i
n
i
i
n
i
i
n
i
i
n
i
i
n
i
i
n
i
i
n
i
n
i
i
n
i
i
n
i
i i
n
i
i
n
i
i
÷ =
÷ ÷ =
÷ ÷ =
÷ ÷ =
+ ÷ + ÷ =
+ ÷ =
+ ÷ =
÷ = ÷
÷
÷
=
¯
¯
¯
¯ ¯
¯ ¯
¯ ¯ ¯
¯
¯
¯
=
=
=
= =
= =
= = =
=
=
=


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
62
] ) .(
1
.[
) 1 (
1
] ) .(
1
.[
) 1 (
1
] .[
1
] .
1
.[
2
1 1
2
2
1 1
2
2
2
1 1
2
2
1 1
2
¯ ¯
¯ ¯
¯ ¯
¯ ¯
= =
= =
= =
= =
÷
÷
=
÷
÷
=
÷ =
÷ =
n
i
i
n
i
i
n
i
i
n
i
i
n
i
i
n
i
i
n
i
i
n
i
i
x
n
x
n
S
x
n
x
n
S
x
n
x
x
n
n x

b. Dengan menggunakan titik asal deviasi secara abriter / terkaan /
koding

] ) .(
1
.[
) 1 (
1
] ) .(
1
.[
) 1 (
1
2
1 1
2
2
1 1
2
2
¯ ¯
¯ ¯
= =
= =
÷
÷
=
÷
÷
=
n
i
i
n
i
i
n
i
i
n
i
i
x
n
x
n
S
x
n
x
n
S

Keterangan :
X
0
= Titik Asal Deviasi Secara Abriter Dari Data x
i

Contoh :
Evaluasi pengukuran lebar block kayu yang akan digunakan sebagai
test kekuatan tekan ± serta dalam satuan cm.







Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
63
lebar
(x
i
)
(cm)
(x
i
- )
2

(cm)
x
i

2

(cm
2
)
(x
i
–x
01
)
(cm)
(x
i
–x
01
)
2

(cm
2
)
(x
i
–x
02
)
(cm)
(x
i
–x
01
)
2

(cm
2
)
17,3 6,4009 299,29 0,7 0,49 1,9 3,61
12,4 5,6169 153,76 -4,2 17,64 -3 9
13,6 1,3689 184,96 -3 9 -1,8 3,24
15,4 0,3969 237,16 -1,2 1,44 0 0
14,8 0,0009 219,04 -1,8 3,24 0,6 0,36
16,6 3,3489 275,56 0 0 1,2 1,44
13,9 0,7569 193,21 -2,7 7,29 -1,5 2,25
12,7 4,2849 161,29 -3,9 15,21 -2,7 7,29
16,9 4,5369 285,61 0,3 0,09 1,5 2,25
14,1 0,4489 198,81 -2,5 6,25 -1,5 1,69
147,7 27,161 2208,69 -18,3 60,65 -6,3 31,1

1. Dengan Rumus 1 :

cm
x
n
x
n
i
i
77 , 14 7 , 147 .
10
1
.
1
1
= =
=
¯
=


cm
x
n
x
n
S
cm
x
n
x
n
S
n
i
i
n
i
i
n
i
i
n
i
i
648 , 1 161 , 27 .
10
1
] ) .(
1
.[
1
7161 , 2 161 , 27 .
10
1
] ) .(
1
.[
1
2
1 1
2
2
2
1 1
2 2
= =
÷ =
= =
÷ =
¯ ¯
¯ ¯
= =
= =



Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
64
2. Dengan Rumus 2 :

] ) .(
1
.[
1
2
1 1
2
2
¯ ¯
= =
÷ =
n
i
i
n
i
i
x
n
x
n
S

cm
x
n
x
n
S
cm
n
i
i
n
i
i
648 , 1 ] ) 7 , 147 .( 10 1 65 , 60 .[ 10 1
] ) .(
1
.[
1
7161 , 2 ] 7 , 147 . 10 1 69 , 2208 .[
10
1
2
2
1 1
2
2 2
= ÷ =
÷ =
= ÷ =
¯ ¯
= =


3. Dengan Rumus 3 :

cm
x x
n
x x
n
S
cm
x x
n
x x
n
S
n
i
o i
n
i
o i
n
i
o i
n
i
o i
648 , 1 ] ) 3 ,. 18 .( 10 1 65 , 60 .[
10
1
]] ) ( .[
1
) ( .[
1
7161 , 2 ] ) 3 ,. 18 .( 10 1 65 , 60 .[
10
1
]] ) ( .[
1
) ( .[
1
2
2
1
1
1
2
1
2 2
2
1
1
1
2
1
2
= ÷ ÷ =
÷ ÷ ÷ =
= ÷ ÷ =
÷ ÷ ÷ =
¯ ¯
¯ ¯
= =
= =


2. S
2
dan S Distribusi Frekuensi Bergolong
Data Populasi
¯
=
÷ =
n
i
i i
f x m
n
S
1
2 2
. ) ( .
1

¯
=
÷ =
n
i
i i
f x m
n
S
1
2
. ) ( .
1


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
65
Data sampel
¯
=
÷
÷
=
n
i
i i
f x m
n
S
1
2 2
. ) ( .
1
1

¯
=
÷
÷
=
n
i
i i
f x m
n
S
1
2
. ) ( .
1
1

Keterangan :
S
2
= Varians
S = Standard Deviasi
n = Banyaknya Data Pengamatan / Nilai Observasi
m
i
= Tanda Kelas ke i
x = Nilai Rata-Rata
f
i
= Frekuensi ke i
k = Banyaknya Data yang Dikelompokkan

Bentuk Lain S2 dan S Distribusi Bergolong, Yaitu Dengan Cara
KODING / ABRITER / TERKAAN :
I u x x
o
. + =


¯
=
=
k
i
i i
f u
n
u
1
. .
1


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
66

¯
¯
¯
=
=
=
÷ = ÷
÷ =
+ ÷ =
+ ÷ + = ÷
÷ =
+ =
+ =
k
i
i i i i
i
i
i o i o i
k
i
i i
i o i
k
i
i i o
f u
n
u I x m
u u I
I u I u
I u x I u x x m
f x m
n
S
I u x m
I f u
n
x x
1
1
2 2
1
. .
1
.( ) (
) .(
) ( ) . (
) . ( ) . ( ) . (
) . ( .
1
.
. ] . .
1
[


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
67
Disubtitusikan ke rumus S
2
] ) . .(
1
. .[ .
1
1
] ) . .(
1
. .[ .
1
1
] ) . .
1
.( ) . .(
2
. .[ .
1
1
] ) . .
1
.( . .
1
. . 2 . .[ .
1
1
] ) . .
1
.( . .
1
. . 2 . [ . .
1
1
. ) . .
1
. .
1
. 2 ( . .
1
1
. ) . .
1
( . .
1
1
. ) . .
1
.( .
1
1
) . ( .
1
2
1 1
2 2
2
1 1
2 2 2
2
1
2
1 1
2 2
2
1 1 1
2 2
2
1 1 1
2 2
2
1 1 1
2 2
2
1 1
2
2
1 1
2
1
2
¯ ¯
¯ ¯
¯ ¯ ¯
¯ ¯ ¯
¯ ¯ ¯
¯ ¯ ¯
¯ ¯
¯ ¯
¯
= =
= =
= = =
= = =
= = =
= = =
= =
= =
=
÷
÷
=
÷
÷
=
+ ÷
÷
=
+ ÷
÷
=
+ ÷
÷
=
+ ÷
÷
=
÷
÷
=
÷
÷
=
=
k
i
k
i
i i i i
k
i
k
i
i i i i
k
i
i i
k
i
k
i
i i i i
k
i
i i
k
i
k
i
i i i i i i
k
i
i i i
k
i
k
i
i i i i i i
i
k
i
i i
k
i
k
i
i i i i
k
i
k
i
i i i
i
k
i
k
i
i i i
k
i
i i
f U
n
f U I
n
S
f U
n
f U I
n
S
f U
n
n f U
n
f U I
n
f U
n
n f U
n
f U f U I
n
f U
n
f f U
n
f U f U I
n
f f U
n
f U
n
U U I
n
f f U
n
U I
n
f f U
n
U I
n
f x m
n
S

Contoh :
Hasil pemeriksaan kekuatan tekan beton ( benda uji kubus sisi 15 cm)
sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3 yang dilaksanakan di Lab
Uji Bahan Politekik Negeri Jakarta, dalam satuan kg / cm
2
.








Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
68
kelas
(i)
tanda kelas
(m
i
) (kg/cm
2
)
frek
(f
i
)
(m
i
- )
2
. f
i
(kg / cm
2
)
ui

ui - f
i
ui
2
. fi
1 92,635 2 950,48 -3 -6 18
2 101,355 5 855,432 -2 -10 20
3 101,075 9 171,0864 -1 -9 9
4 118,795 7 133,0672 0 0 0
5 127,515 4 684,3456 1 4 4
6 136,235 3 1425,72 2 6 12

¯
=
6
1 i

4220,1312 -15 63

Keteguhan tekan beton Rata – rata (o’ bm) =
bm cm kg x
f U
n
u
I u x
bm x
k
i
i i
o
o
o
= = ÷ + =
÷ = ÷ =
=
+ =
=
¯
=
2
1
435 , 114 72 , 8 ). 5 , 0 ( 795 , 118
5 , 0 ) 15 .(
30
1
. .
1
.












Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
69
STANDAR DEVIASI (S)
1. Menggunakan Rumus 1
2
1
2
2
1
2 2
603 , 12 1312 , 4220 .
1 30
1
) ( .
1
1
52177 , 145 1312 , 4220 .
1 30
1
) ( .
1
1
cm kg
f x m
n
S
cm kg
f x m
n
S
k
i
i i
k
i
i i
=
÷
=
÷
÷
=
=
÷
=
÷
÷
=
¯
¯
=
=


2. Menggunakan Rumus 2
2
2 2
2
1 1
2 2
2
2 2
2
1 1
2 2 2
603 , 12
] ) 15 .(
30
1
63 .[ ) 7 , 8 .(
1 30
1
] ) . .(
1
. .[ .
1
1
52177 , 145
] ) 15 .(
30
1
63 .[ ) 7 , 8 .(
1 30
1
] ) . .(
1
. .[ .
1
1
cm kg
f U
n
f U I
n
S
cm kg
f U
n
f U I
n
S
k
i
k
i
i i i i
k
i
k
i
i i i i
=
÷ ÷
÷
=
÷
÷
=
=
÷ ÷
÷
=
÷
÷
=
¯ ¯
¯ ¯
= =
= =

Setelah o’ bm dan S didapat, dapat ditentukan o’ bk (keteguhan tekan
beton karakteristik )
Di Indonesia didalam symposium Beton bulan Januari 1970 dan didalam
seminar ke II Tertib Pembangunan Bulan April 1970 telah dsisepakati
untuk mengikuti jejak dari CEB ( Praktische Richtlynen Voor de

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
70
Berekening En Uitvoering Van Gewapend- Beton Konstructies “, Beton
Vereniging, Den Haag 1966.
Apabila harga limit dari keteguhan tekan atau dikenal dengan keteguhan
tekan karakteristik kita menyatakan dengan o’ bk , keteguhan tekan rata
– rata dari sejumlah besar hasil pemeriksaan adalah o’ bm , deviasi
standard adalah S dan loefisien Variasi adalah  .
Maka ketguhan tekan karakteristik beton ditentukan oleh persamaan
o’ bk = o’ bm – 1,645 .S
o’ bk = o’ bm – ( 1- 1,645 .d )
Dimana possibility ( = risk) terjadinya keteguhan yang kurang dari harga
karakteristik (qi ) terbatas pada 5% (qi = 5%) saja dengan zi = 1,645
(nilai konstanta karena kemungkinan terjadi keteguhan tekan beton
kurang dari harga karakteristik / besaran random).
CONTOH 2 :
2
591 , 94
063 , 12 . 645 , 1 435 , 114
. 645 , 1
cm kg
S bm bk
=
÷ =
÷
'
=
'
o o













Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
71
RANGKUMAN





















Macam-Macam Pengukuran Variasi :
1. Range
2. Deviasi Kwartil
3. Deviasi Rata-Rata (Simpangan Rata-Rata)
4. Deviasi Standard (Simpangan Standard ) dan varians.
Range adalah selisih antara data dengan nilai variable tertinggi dan
data dengan nilai variable terendah dari keseluruhan pengamatan data.
Deviasi Kwartil adalah pengukuran variasi atas dasar jarak inter kwartil.
Pengukuran didasarkan pada jarak K
1
dan K
3
.

Standard deviasi dihitung berdasarkan Berdasarkan rumus dari d ,
bila penjumlahan dilakukan terhadap (x
i
- )
2
, maka rata-rata hasil
penjumlahan diatas tidak akan = 0
Pengukuran Varians dan dirumuskan sebagai berikut :
¯
=
÷ =
n
i
i
x x
n
S
1
2 2
) ( .
1

Untuk penyimpangan standard / deviasi standard merupakan akar
varians :
¯
=
÷ =
n
i
i
x x
n
S
1
2
) ( .
1



Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
72
5.6 SOAL
1. Sebutkan macam-macam ukuran variasi?
2. Apa yang dimaksud dengan range, deviasi rata-rata, deviasi kuartil
dan standard deviasi?
3. Apa perbedaan standard deviasi populasi dan sampel? Jelaskan!
4. Data volume kendaraan pada ruas jalan tol jakarta-bogor-ciawi untuk
30 hari kerja pada pukul 07.00 s/d 09.00 pada bulan agustus -
september 2007
Kelas Tanda Kelas
(dalam ratusan)
Frekuensi
1 17 1
2 28 4
3 39 11
4 50 7
5 61 5
6 72 2

a. Hitung deviasi kuartil distribusi frekuensi diatas.
b. Hitung deviasi rata-rata distribusi frekuensi diatas.
c. Hitung standard deviasi dan varians distribusi frekuensi diatas.








Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
73
BAB VI
SKUNES, MOMEN DAN KURTOSIS

Skunes berasal dari kata ketidaksimetrian atau tidak simetris suatu
distribusi.
Dalam hal ini distribusi yang tidak simetris disebut sebagai distribusi skued.
Pada distribusi simetris nilai mean, median dan modus adalah sama dan
membentuk satu garis.







Jika terjadi distribusi tidak simetris atau skued maka ada 2 (dua)
kemungkinan yaitu :
1. Skued positif
2. Skued negatif

6.1 DISTRIBUSI SKUED POSITIF
Yang dimaksud dengan distribusi skued positif adalah jika niali mean
terbesar, nilai modus yang terkecil dan nilai median berada diantara nilai
harga mean dan nilai modus. Dengan kata lain :





Mean = median = modus

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
74







Modus Median Mean
Untuk mudah diingat distribusi skued positif adalah jika ekor dari kurva
landai ke arah kanan.

DISTRIBUSI SKUED NEGATIF
Yang dimaksud dengan distribusi skued negatif adalah jika nilai
modus terbesar sedangkan nilai mean yang terkecil, sedangkan nilai
median berada diantara modus dan mean








Modus Median Mean
Untuk mudah diingat skued negatif jika ekor dari kurva landai ke arah kiri.
Hasil perhitungan skunes akan memberi informasi yang biasanya merupakan
pengganti hasil perhitungan tendensi sentral dan dispersi yang tidak gagal.
Dua distribusi dapat saja memberikan harga mean dan deviasi standard yang
sama, tetapi masih tetap berbeda di dalam formasinya. Informasi ini diberikan
oleh skunes.

Mean > median > modus
Mean < median < modus

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
75
6.3 PENGUJIAN SKUNES
Skunes ada di dalam distribusi jika memenuhi beberapa persyaratan
sebagai berikut :Nilai dari harga mean, median dan modus tidak
berdempetan. Kuartil tidak berjarak sama dari median, yang mana adalah :


Jumlah median deviasi positif tidak sama dengan jumlah median deviasi
negatif. Frekuensi modus pada kedua sisi tidak sama. Jika nilai – nilai itu
digambarkan pada kertas grafik tidak membentuk kurva distribusi normal
yang berbentuk seperti bel. Ini berarti jika dibagi dua bagian ditengah-tengah
akan menghasilkan kurva yang tidak sah.

6.3.1 KOEFISIEN SKUNES KARL PEARSON
Cara menghitung koefisien skunes menurut Karl Pearson didasar
pada fakta bahwa pada :
1. distribusi simetris, mean = modus
2. skued positif, mean > modus
3. skued negatif, mean < modus



Jika modus sulit ditemukan pada distribusi frekuensi tertentu, maka dapat
digunakan rumus modus empiris untuk rumus diatas :






(K3 – Med) tidak sama dengan (Med – K1)
Koefisien Skunes =
Sd
us mean mod ÷

Modus empiris = 3 median = 2 mean

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
76
Dengan demikian maka ;
Koefisien Skunes =
Sd
us mean mod ÷
=
( )
Sd
mean median mean 2 3 ÷ ÷

=
Sd
median mean 3 3 ÷
=
( )
Sd
median mean÷ 3




Hasil perhitungan Koefisien Skunes dengan menggunakan cara ini akan
memberikan kuantiats nilai dan arah dari skunes yang diberikan di dalam
distribusi.
Secara praktis nilai dari koefisien ini akan berada pada nilai -1 (skued
negatif) dan +1 (skued positif). Untuk nilai distribusi simetris koefisien
skunes = 0.

6.4 MOMEN
Momen adalah suatu perangkat yang digunakan untuk melakukan
penelitian dalam statistik, yaitu untuk mempelajari distribusi statistik skunes
dan kurtoris.
Momen dari suatu distribusi adalah perhitungan menengah dari variasi
pangkat deviasi cacah yang berupa bilangan.
Untuk data dalam bentuk deretan individu, momen ke r di sekitar harga
rata-rata di beri lambing µ
r
, yang dinyatakan sebagai berikut :



Dengan r = 1,2,3,…
Koefisien Skunes =
Sd
median mean ) ( 3 ÷

µ
r
=
n
X X
n
i
r
¯
=
÷
1
) 1 (
=
r
n
X X
¯
÷ ) (


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
77
Dimana x
1
, x
2
,x
3
, …x
n
adalah nilai kuantitas variable yang memenuhi
persamaan diatas.
Untuk dalam bentuk distribusi frekuensi digunakan hubungan sebagai berikut
:


Dimana fi adalah frekuensi dari (1 < I < n)
Jika nilai variable diketahui dalam bentuk kelas maka titik menengahnya
diambil sebagai variable (x). Dari definisi maka :



Oleh karena penjumlahan cacah deviasi rata-rata adalah selamanya = 0.
Untuk setiap distribusi µ
1
= 0, maka,



Pada dasarnya µ
2
adalah Standard Deviasi pangkat dua (Sd
2
) atau =
Varians.Dengan demikian untuk setiap distribusi µ
2
= Varians.

6.5 KURTOSIS
Untuk suatu distribusi walaupun sudah dapat ditentukan tendensi
sentral, dispersi dan skunes, pada dasarnya belum diperoleh gambaran
lengkap dari distribusi yang diberikan. Pada kenyataannya masih diperlukan
satu lagi perhitungan yang menurut Karl Pearson disebut sebagai Kurva
Flatness atau Kurva Convexity atau Kurva Kurtosis. Kurtosis dapat memberi
gambaran tinggi rendahnya bentuk kurva normal atau distribusi normal
apakah itu berbentuk seperti lonceng ataukah landai seperti bukit,
sehubungan dengan ini KarPearson memberi koefisien ß
2
.
µ
r
=
n
X X fi
n
i
r
¯
=
÷
1
) 1 (
=
r
n
X X fi
¯
÷ ) (

µ
1
= =
n
X X
¯
÷ ) (
=
0
0
=
n

µ
r
= =
n
X X
2
) (
¯
÷


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
78

Leptokurtik ß
2
> 3
Normal (Mesokurtik) ß
2
= 3
Platikurtik ß
2
< 3






Koefisien kurtosis =



Dimana :
m
4
= momen 4
m
2
= momen 2
Pengujian normalitas data dengan koefisie kurtosis persentil dihitung dengan
rumus :


Dimana =
K3 = kuartil ketiga
K1 = Kuarti kesatu
P10 = Persentil kesepuluh
P90 = Persentil ke – 90
Kriteria :
Jika K = 0,263 atau mendekati 0263 maka datanya berdistribusi
normal atau mendekati distribusi normal.
ß
2
= ( m
4
/m
2
2
)

K =
10 90
) 1 3 ( 2 / !
P P
K K
÷
÷


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
79
6.6 RANGKUMAN





















Skunes berasal dari kata ketidaksimetrian atau tidak simetris suatu
distribusi. Distribusi yang tidak simetris disebut sebagai distribusi
skued.
Distribusi skued positif adalah jika niali mean terbesar, nilai modus
yang terkecil dan nilai median berada diantara nilai harga mean dan
nilai modus.
Distribusi skued negatif adalah jika nilai modus terbesar sedangkan
nilai mean yang terkecil, sedangkan nilai median berada diantara
modus dan mean


Koefisien Skunes =
Sd
median mean ) ( 3 ÷


Momen adalah suatu perangkat yang digunakan untuk melakukan
penelitian dalam statistik, yaitu untuk mempelajari distribusi statistik
skunes dan kurtoris.
Kurtosis dapat memberi gambaran tinggi rendahnya bentuk kurva
normal atau distribusi normal apakah itu berbentuk seperti lonceng
ataukah landai seperti bukit, sehubungan dengan ini KarPearson
memberi koefisien ß
2


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
80
6.7 SOAL
1. Apa yang dimaksud dengan distribusi skued?
2. Bagaimanakah hubungan antara mean, median dan modus pada
distribusi skued positif dan skued negatif!
3. Data volume kendaraan pada ruas jalan tol jakarta-bogor-ciawi untuk
30 hari kerja pada pukul 07.00 s/d 09.00 pada bulan agustus -
september 2007
Kelas Tanda Kelas
(dalam ratusan)
Frekuensi
1 17 1
2 28 4
3 39 11
4 50 7
5 61 5
6 72 2

a. Hitung koefisien skunes distribusi frekuensi diatas.
b. Bagaimanakah gambaran bentuk kurva normal dari distribusi
frekuensi diatas.









Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
81
BAB VII
DISTRIBUSI NORMAL

Histogram seperti ditunjukan dalam contoh-contoh terdahulu tidak
memberikan kesempatan pada kita untuk dapat mengadakan interprestasi
secara seksama, oleh sebab itu fungsi tangga tersebut direalisasikan menjadi
fungsi teoritis menurut suatu persamaan matematik tertentu.
Didalam matematik statistik dikenal berbagai fungsi distribusi hasil
pemeriksaan, dimana fungsi Distribusi Normal adalah yang sering digunakan.
Distribusi Normal atau Distribuai Gauss ditemukan oleh Gauss dan
dipublikasikan tahun 1809 hingga sekarang. Distribusi normal merupakan
hukum probabilitas yang mendasari semua Variable Kontinu. Suatu variable
random kountinu x
i
dikatakan berdistribusi normal dengan mean dan
varians S
2
. Apabila variable itu mempunyai fungsi probabilitas yang
berbentuk :
e
S
x x
S
dx x f
e
S
x x S
dx x f
i
i i
i
i i
.
. 2
) . (
. 1 1
). .(
.
. 2
) . .( 1 1
). .(
2
2
2
2 2
t
t
÷
=
÷
=
í
í

Keterangan :
x
i
= nilai variable ke i
S
2
= variansi
S = standard deviasi
= nilai rata-rata
e = 2,718
t = 3,14

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
82
Jika fungsi probabilitas itu digambar, maka kita peroleh grafik yanng
dinamakan kurva normal, seperti dibawah ini :


f (x
i
)

100 %

x
i


Dengan memperhatikan kurva kita peroleh sifat-sifat kurva, sebagai berikut :
1. Harga Modus, yaitu harga sumbu x dengan kurvanya, maksimum
terletak pada x = .
2. Kurva normal simetris terhadap sumbu vertikal melalui .
3. Kurva normal mempunyai titik belok pada x = ± S.
4. Kurva normal memotong sumbu mendatar secara ASIMITOSIS.
5. Luas daerah diantara kurva normal dan sumbu mendatar = 1 atau
100% (secara singkat dikatakan luas kurva normal = 1)
Luas bagian-bagian kurva normal merupakan harga probabilitas , yang akan
mendapatkan harga x
i
yang membatasi luas bagian itu.
Luas bagian-bagian kurva normal merupakan dapat dihitung dengan
menghitung harga integral f (x
i
) dalam batas harga-harga x.
Misalnya luas kurva normal seluruhnya, yaitu luas antara x = - ~ dan x = ~
adalah:
e
S
x x
S
dx x f
i
i i
.
. 2
) . (
. 1 1
). .(
2
2
t
÷
=
í

Luas bagian kurva normal antara x
i
= a dan x
i
= b atau probabilitas harga x
antara a dan b yang dapat ditulis P (a s x s b), adalah:

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
83
P . (a s x s b) =
í
a
b
f (x
i
) . dx
i

Kurva normalnya, sebagai berikut:

f (x
i
)




a b x
i

Integral ini selalu dapat dihitung dengan x dan S diketahui.
Tetapi menghitung P (a s x s b) dengan cara integral fungsi diatas tidak
praktis.
Maka untuk itu ditemukan suatu cara lain yang lebih mudah, yaitu dengan
menggunakan tabel luas kurva normal standard yang mempunyai = 0 dan
S = 1 atau disebut “Distribusi Normal Standard ”
Apabila suatu kurva normal dengan = 0 dan S = 1 untuk menggunakan
tabel (Tabel A) maka skala kurva normal x
i
harus diubah menjadi skala z
i

(besaran random variable tidak berdimensi yang mengikuti distribusi normal
dari GAUSS dengan x = 0 dan S = 1).
Rumus :
S
x x
z
i
i
÷
=

z dapat dilihat di tabel A
Contoh :
= 114, 435 kg/cm
2

S = 12,063 kg/cm
2



Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
84



Pa Pb


x a = 100 b = 120 x
i
kg/cm
2

= 114, 435
S = 12,063
P (100 s x
i
s 120) kg/cm
2
= Pa + Pb

20 , 1
063 , 12
435 , 114 100
÷ =
÷
=
÷
=
S
x a
Z
a
 Pa = 0,3849
= 38,49%
46 , 0
063 , 12
435 , 114 120
=
÷
=
÷
=
S
x b
Z
b

 Pb = 0,1772
= 17,72%
2.

Pa Pb



x a=120 b=135 x
i
kg/cm
2


= 114, 435
S = 12,063

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
85

P (120 s x
i
s 135) kg/cm
2
= Pa - Pb

70 , 1
063 , 12
435 , 114 135
=
÷
=
÷
=
S
x b
Z
b

 Pb = 0,4554
= 45,54 %
46 , 0
063 , 12
435 , 114 120
=
÷
=
÷
=
S
x a
Z
a

 Pa = 0,1772
= 17,72%
P (120 s x
i
s 135) = 45,54 % - 17,72 %
= 27,82 %
3.

Pa


a = 100
x x
i
kg/cm
2

= 114, 435
S = 12,063
P (x
i
s 100) kg/cm
2
= 50 % - Pa

20 , 1
063 , 12
435 , 114 100
÷ =
÷
=
÷
=
S
x a
Z
a

 Pa = 0,3849
= 38,49%
P (x
i
s 100) = 50 % - 38,49 %
= 11,51%

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
86
4.

Pa


a = 100
x x
i
kg/cm
2

= 114, 435
S = 12,063
P (x
i
> 100) kg/cm
2
= 50 % + Pa

20 , 1
063 , 12
435 , 114 100
÷ =
÷
=
÷
=
S
x a
Z
a

 Pa = 0,3849
= 38,49%
P (x
i
> 100) = 50 % + 38,49 %
= 88,49 %

7.1 CARA MEMBUAT LENGKUNG DISTRIBUSI NORMAL
Garis lengkung yang menggantikan suatu histogram dinyatakan dengan
persamaan
t 2
.
) . (
. 2 1 1 .
1
) (
2
e
S
x x
S
Y x f
i
i
÷
= =

y
i
= Dapat Dilihat Pada Tabel B
I = Interval Kelas


Lengkung Distribusi Normal :

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
87

f (x
i
) = Y
i
= I / S . y
i





x
i
= - z
i
. S x
i
= - z
i
. S
Menentukan ordinat lengkung Distribusi Normal dari Histogram yang
diketahui.
x
i
= - z
i
.
S
z
i
y
i
Y
i
= I / S . y
i

0
0,5
1
1,5
2

Keterangan :
z
i
= Besaran random variable tak berdimensi yang mengikuti distribusi
normal dan GAUSS dengan = 0 dan S = 1 dalam urutan absis ke
i.
y
i
= Ordinat dari fungsi distribusi normal dalam urutan absis ke i
Y
i
= Dimulai dari 0 dan seterusnya, diambil dengan interval yang sama,
semakin kecil interval z
i
semakin kecil teliti lengkung distribusi
normal.
Sehubungan bentuk lengkung distribusi normal adalah simetris, maka
dalam pembuatan legkung distribusi normal cukup dihitung ordinatnya ½
bagian, yaitu untuk z
i
positif atau negative.

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
88
=114, 435 kg/cm
2
, S=12,063 kg/cm
2
, I=8,720 kg/cm
2

Contoh :
o’ b
i
= x
i

Lengkung Distribusi Normal dan Histogram hasil pemeriksaan keteguhan
tekan beton (benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan
campuran 1 : 2: 3 yang dilaksanakan di laboraturium Pengujian Bahan
Politeknik UI dalam satuan kg/cm
2
.
0.01
0.04
0.09
0.017
0.25
0.29
0,00
0,05
0,10
0,15
0,20
0,25
0,30
114,435 120,467 126,498 132,530 138,561 144,593
keteguhan tekan beton (kg/cm2)
f
r
e
k
u
e
n
s
i

o’ b
i
=T’bm + z
i
. S
(kg/cm
2
)
z
i
y
i
Y
i
= I / S . y
i

o’ b
1
= 114,435 + 0 . 12,063 =
114,435
0 0,399 Y
1
= 8,72 / 12,063 . 0,399 =
0,29
o’ b
2
= 114,435 + 0,5 . 12,063 =
120,4665
0,5 0,352 Y
2
= 8,72 / 12,063 . 0,352 =
0,25
o’ b
3
= 114,435 + 1 . 12,063 =
126,498
1 0,242 Y
3
= 8,72 / 12,063 . 0,242 =
0,17
o’ b
4
= 114,435 + 1,5 . 12,063 =
132,5295
1,5 0,1295 Y
4
= 8,72 / 12,063 . 0,1295 =
0,09
o’ b
5
= 114,435 + 2 . 12,063 =
138,561
2 0,054 Y
5
= 8,72 / 12,063 . 0,054 =
0,04
o’ b
6
= 114,435 + 2,5 . 12,063 =
144,5925
2,5 0,0175 Y
6
= 8,72 / 12,063 . 0,0175 =
0,01

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
89
Luas antara lengkung Distribusi Normal dengan garis o’ b
i
= 1 atau
100%.Kalau dikembalikan lagi pada rumus keteguhan tekan beton
karakteristik
o’ b
k
= o’ b
m
– z
i
. S , dimana z
i
= 1,645 (dari tabel C).
Pk
i
Pk
a




P
i
q
i
= ½ . (100 – P
i
) q
i

q
i

o’ b
ki
= o’ b
m
– z
i
. S x = o’ b
m
o’ b
ka
= o’ b
m
+ z
i
. S

Nilai z
i
= 1,645 disebabkan resiko terjadinya keteguhan tekan beton yang
kurang dari harga karakteristik q = 5 %, maka prosentasi jatuhnya hasil
pemeriksaan P
i
= 90 %.
P
i
(o’ b
ki
s o’ b
i
s o’ b
ka
) kg/cm
2
= Pk
i
+ Pk
a
2
591 , 94
063 , 12 . 645 , 1 435 , 114
.
cm kg
S z b b
i m ki
=
÷ =
÷ ' = ' o o

2
279 , 134
063 , 12 645 , 1 435 , 114 .
cm kg
S z b b
i m ki
=
+ + = ÷ ' ÷ ' o o

P
i
(94,59 s o’ b
i
s 134,279) kg/cm
2
= Pk
i
+ Pk
a
645 , 1
063 , 12
435 , 114 591 , 94
÷ =
÷
=
'
÷
'
=
S
b b
z
m ki
ki
o o

 Pk
i
= 0,4505
= 45,05 %

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
90
645 , 1
063 , 12
435 , 114 2791 , 134
=
÷
=
'
÷
'
=
S
b b
z
m ka
ka
o o

 Pk
a
= 0,4505
= 45,05 %
P
i
(94,59 s o’ b
i
s 134,279) kg/cm
2

% 90 % 10 , 90
% 05 , 45 % 05 , 45
= =
+ =
+
a i
Pk Pk

% 5
)% 90 100 .( 2 1
)% 100 .( 2 1
=
÷ =
÷ =
i i
P q


7.2 RANGKUMAN












Distribusi normal merupakan hukum probabilitas yang mendasari
semua Variable Kontinu. Suatu variable random kountinu x
i
dikatakan
berdistribusi normal dengan mean dan varians S
2
.
Garis lengkung yang menggantikan suatu histogram dinyatakan
dengan persamaan
t 2
.
) . (
. 2 1 1 .
1
) (
2
e
S
x x
S
Y x f
i
i
÷
= =


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
91
7.3 SOAL
1. Apa yang dimaksud dengan distribusi normal?
2. Bagaimanakah cara membuat distribusi normal?
3. Data volume kendaraan pada ruas jalan tol jakarta-bogor-ciawi untuk
30 hari kerja pada pukul 07.00 s/d 09.00 pada bulan agustus -
september 2007
Kelas Tanda Kelas (m
i
)
(dalam ratusan)
Frekuensi
1 17 1
2 28 4
3 39 11
4 50 7
5 61 5
6 72 2

c. Gambarkan distribusi normal dari distribusi frekuensi diatas.
d. Hitung persentase distribusi
- (x
i
< 60)
- (x
i
> 60)
- (30>x
i
> 60)








Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
92
BAB VIII
ANALISIS REGRESI
Salah satu tujuan analisa data ialah untuk memperkirakan
/memperhitungkan besarnya efek kuantitatif atau hubungan dari perubahan
suatu variable lainnya.
Contoh nyata dari hubungan tersebut dalam kehidupan sehari – hari antara
lain :
1. Besarnya biaya perawatan kendaraan sebagai akibat dari banyaknya
kilometer yang sudah dijalani.
2. Banyaknya perjalanan perhari yang dilakukan suatu rumah tangga
sebagai akibat dari pemilikan kendaraan dan jumlah orang dewasa di
dalam rumah tangga tersebut.
3. Produktifitas kerja dalam taraf tertentu tergantung pada efisiensi dan
efektivitas kerja.
Berdasarkan contoh diatas terlihat mana :
1. Variabel Bebas : yang mempengaruhi → Independent variable/variable
predictor → lambang “x”
2. Variable terikat → yang dipengaruhi → dependent variable/variable
kriterium → lambang ”y”
Untuk membuat ramalan (forecasting) x dan y diukur dengan suatu
nilai yang disebut koefisien korelasi, sedangkan besarnya pengaruh x dan y
diukur dengan koefisien regresi. Hubungan yang diperoleh antara variable-
variable tesebut dinyatakan dalam persamaan matematik yang dinyatakan
hubungan fungsional
Hubungan fungsional antara :
1. Satu variable predictor dan satu variable kriterium disebut analisis regresi
tunggal
2. Lebih dari satu variable disebut analisis regresi ganda
Fungsi analisis regresi

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
93
1. Untuk mendapatkan hubungan fungsional antara dua variable atau lebih
atau untuk mendapatkan pengaruh antara variable predictor terhadap
variable kriterium.
2. Untuk meramalkan pengaruh variable predictor terhadap variable kriterium

8.1 PERSAMAAN ANALISIS REGRESI
Dalam statistika untuk unutk menyimpulkan data populasi biasanya
digunakan data sampel. Dalam analisis regresi hubungan fungsional yang
diharapkan berlaku untuk populasi berdasarkan data sampel yang diambil
dari populasi yang bersangkutan → hubungan fungsional tersebut dalam
persamaan matematis disebut persamaan regresi. Regresi dengan x
merupakan variable bebas dan y merupakan variable tak bebas →
dinamakan regresi y atas x, sebaliknya regresi x atas y


Dimana :
Ŷ (baca ye topi) = variable kriterium
X = variable predictor
a = bilangan konstan
b = koefisien arah regresi linier
Koefisien arah regresi dinyatakan dengan huruf b yang juga menyatakan
perubahan rata-rata variable y untuk setiap variable x sebesar satu bagian.
Bila harga b positif → variable y akan mengalami kenaikan atau pertambahan
Bila harga b negatif → variable y akan mengalami penurunan

8.2 METODE TANGAN BEBAS
Metode ini menggunakan metode kira-kira menggunakan diagram
pencar berdasarkan hasil pengamatan. Data digambarkan dengan sumbu
datar → x dan sumbu tegak → y. Bentuk regresi diperkirakan berdasarkan
x b a y . ˆ + =


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
94
letak titik-titik. Jika letak titik-titik sekitar garis lurus cukup beralasan menduga
regresi linier. Jika letak regresi sekitar garis lengkung cukup beralasan
menduga regresi non linier. Regresi linier ditarik secocok mungkin dengan
letak titik-titik → persamaan ditentukan dengan menggunakan 2 (dua) titik
yang dilalui.

Contoh :
y

Vol. . ex
kend .
. .
. .
. .
a . . ey
x
y
b
A
A
=
. .
regresi linier . .
ŷ = a + b.x

0 Kecepatan Kendaraan x

Diagram pencar menunjukkan model lengkung, regresi digambarkan
secocok mungkin dengan ketak titik-titik dengan persamaan parabola,
pangkat dua atau bentuk lain.
Regresi ini memberikan perkiraan yang berbeda sesuai dengan
pertimbangan pribadi






Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
95
y Regresi lengkung
.
. . . .
. .
. . . .
. . . .
.

0 x



8.3 METODE KUADRAT TERKECIL (LEAST SQUARE METHODE)
Metode kuadrat terkecil merupakan metode persamaan regresi yang
biasanya digunakan untuk mencari hubungan garis lurus. Cara ini berpangkat
pada kenyataan bahwa jumlah pangkat 2 (kuadrat dari jarak antara titik-titik
dengan garis regresi yang sedang dicari harus sekecil mungkin.Untuk sebuah
variable bebas “x” dan variable tak bebas “y” didapat persamaan regresi
untuk model regresi linier populasi :


Akan ditaksir harga θ
1
dan θ
2
oleh a dan b. Sehingga didapat persamaan
regresi menggunakan model regresi data sampel :
→ regresi x atas y

Data hasil pengamatan dicatat dalam susunan seperti di bawah ini.






x x y . . .
2 1
u u u + =
x b a y . ˆ + =


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
96
Variablet ak
bebas (y)
Variable
bebas(x)
y
1

y
2

.
.
.
y
n

X
1
X
2
.
.
.
X
n


Koefisien-koefisien regresi a dan b untuk regresi linier dapat dihitung
dengan rumus :
Koefisien regresi x atas y






Jika koefisien b dihitung terlebih dahulu, maka koefisien a dapat dihitung
dengan rumus :



Dimana :
ỹ = rata-rata variable tak bebas
x = rata-rata variable bebas
Persamaan regresi y atas x


( )( ) ( )( )
( ) ( )
2
2
2
.
.
¯ ¯
¯ ¯ ¯ ¯
÷
÷
=
xi xi n
yi xi xi xi yi
a

( )( )
( ) ( )
2
2
.
. .
¯ ¯
¯ ¯ ¯
÷
÷
=
xi xi n
yi xi yi xi n
b

x b y a . ÷ =

y d c x . ˆ + =


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
97
Koefisien regresi y atas x :







Estimasi Dari Varians “S
2
Y. X”
Varians dari komponen kesalahan, S
2
y. x mempunyai pengaruh
terhadap ketelitian dari parameter regresi. Besarnya varians, S
2
y. x semakin
besar kesalahan prediksi parameter dan semakin tidak teliti prediksi y
sebagai fungsi variable x. Dalam kebanyakan kasus, S
2
y. x tidak diketahui
besarnya, untuk mengestimasi harga tersebut maka S
2
y. x dapat dihitung :




Dimana : n – 2 = derajat kebebasan untuk kesalahan
Contoh :
Tentukan nilai regresi dan nilai varians kekuatan geser sebagai fungsi linier
dari kedalaman.






( )( ) ( )( )
( ) ( )
2
2
2
.
.
¯ ¯
¯ ¯ ¯ ¯
÷
÷
=
yi yi n
yi xi yi yi xi
c

( )( )
( ) ( )
2
2
.
. .
¯ ¯
¯ ¯ ¯
÷
÷
=
yi yi n
yi xi yi xi n
d

( )
2
ˆ
.
2
2 2
÷
÷
= =
¯
n
i y yi
Se x y S


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
98
No. Benda
uji
Kedalaman (ft)
xi
Kekuatan geser (kst)
yi
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
6
8
14
14
18
20
20
24
28
30
0.28
0.58
0.50
0.83
0.71
1.01
1.29
1.50
1.29
1.58
Σ = 182 9.57


1. ŷ = a + b.x
2.
( )( )
( ) ( )
2
2
.
. .
¯ ¯
¯ ¯ ¯
÷
÷
=
xi xi n
yi xi yi xi n
b

3.
x b y a . ÷ =

4.
( )
2
ˆ
.
2
2 2
÷
÷
= =
¯
n
i y yi
Se x y S

5.
2 . 18 182
10
1
= × = x

6.
957 . 0 57 . 9
10
1
= × = y




Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
99













( ) ( )( )
( ) ( )
0516 . 0
182 3876 . 10
57 . 9 182 32 . 203 . 10
2
=
÷
÷
= b

x b y a . ÷ =

= 0.957 – (0.0516)(18.2)
= 0.018
Persamaan regresi kekuatan geser sebagai fungsi kedalaman adalah :
Ŷ = 0.018 + 0.0516 x
0368 . 0
2 10
2945 . 0
.
2
=
÷
= x y S
→ Estimasi Varians
192 . 0 368 . 0 . = = x Sy
→ estimasi standar deviasi (simpangan baku)
Kesalahan Prediksi = 0.192
Persamaan regresi bisa digunakan untuk menaksir kekuatan geser dari
kedalaman 6 kaki sampai 30 kaki.
No. xi.yi xi
2
yi
2
ŷi = a + b xi (yi – ŷi) (yi – ŷi)
2

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1.68
4.64
7.00
11.63
12.78
20.20
25.80
36.00
36.10
47.40
36
64
196
196
324
400
400
576
784
900
0.078
0.336
0.250
0.689
0.504
1.020
1.662
2.250
1.662
2.445
0.325
0.429
0.739
0.739
0.946
1.049
1.049
1.257
1.463
1.566
-0.045
0.151
-0.239
0.091
-0.236
-0.039
0.241
0.243
-0.173
0.014
0.0020
0.0228
0.0571
0.0083
0.0557
0.0015
0.058
0.0590
0.0299
0.0002
Σ = 203.23 3876 10.946 0.2945

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
100
Persamaan ini dapat digunakan untuk kedalaman > 30 kaki jika
kecenderungan linier dapat dipertanggungjawabkan → berdasarkan alasan
fisik (misal : jenis tanah sama)
Secara grafis, garis linier yang dapat ditunjukkan oleh garis berikut.
Jika dituluskan kisaran + Sy.x dari garis ini menghasilkan suatu pita selebar
satu deviasi standar (simpangan baku) dari setiap garis tepi garis linier.
y
k
e
k
u
a 2
t . .
a 1.5 . . ŷ = 0.018 + 0.0516
n . .
1 . .
g .
e 0.5 . . Sy.x = 0.192
s . .
e .
r x
0 10 20 30
Kedalaman (ft)

8.4 TES DAN EVALUASI MODEL REGRESI
Persamaan regresi yang dihasilkan dari metode kuadrat terkecil dapat
dites terhadap beberapa keadaan :
1. Apakah variable bebas x betul mempunyai koreksi yang baik dengan
variable tak bebas y. Jika x tidak mempunyai koreksi yang dekat dengan y
maka x tidak menyumbang informasi apapun terhadap prediksi harga y →
kemiringan dari regresi b = 0, untuk melihat kemungkinan tersebut perlu
diadakan tes untuk melihat apakah b = 0.
2. Evaluasi terhadap b dapat dilakukan dengan menghitung “confidence
intervalnya”

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
101
3. Kegunaan model regresi (goodness of fit). Dilihat dari koefisien korelasi
diantara tiap-tiap variable dan koefisien variasinya.
1. Interval Kepercayaan Sehubungan Dengan Regresi Linier /
Confidence Interval (Distribusi T / Student)
Confidence interval untuk parameter a / 100.(1-o )% CI
÷ Analisa varians 1 arah

Confidence interval untuk parameter b / 100.(1-o )% CI

÷ Analisa varians 1 arah
t
o didasarkan atas degree of freedom / derajat kebebasan (df) = (n-2)
dan o = 5% = 0.05 ÷ taraf signifikan
Jika semua interval b positif ini berarti bahwa harga b akan positif ÷
harga Y yang diharapkan akan bertambah besar apabila X bertambah
Contoh :
t
o dilihat dari table
o = 5 % = 0.05
di dapat
t
o = 2.306
df = (n-2) = (10 – 2) = 8
Jadi :
.
a
a t S
o
±
= 0.018 ± 2.306 . 0.16
batas bawah = 0.018 – 2.306 . 0.16 = -0.35
batas atas = 0.018 + 2.306 . 0.16 = 0.39
.
b
b t S
o
±
= 0.0516 ± 2.306 . 8.06 . 10
-3
batas bawah = 0.0516 - 2.306 . 8.06 . 10
-3
= 0.033
.
a
a t S
o
±

.
b
b t S
o
±


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
102
batas atas = 0.0516 + 2.306 . 8.06 . 10
-3
=0.07
Nilai a = 0.018 memenuhi kriteria interval batas
Nilai b = 0.0516 memenuhi kriteria interval batas

2. Menguji Independent X Dan Y, Tepatnya Pengujian Hipotesa / H
0
: B
=0, Dapat Ditempuh Dengan Menggunakan Analisis Varians ÷
Dengan Distribusi F (Flourence)
Jumlah kuadrat semua nilai individu
2
Y Y = E , dipecah menjadi 3
bagian sumber yaitu :
( )
( ) ( ) ( )
2
2
2
ˆ
. .
i
i i i i i
Y
Y b X X Y Y Y Y
n
E
E = + E ÷ ÷ +E ÷

(1) (2) (3)

( ) ( )
.
.
i i
i i
X Y
b X Y
n
E E ¦ ¹
= E ÷
´ `
¹ )

Dimana :

2
i
Y E
= jumlah kuadrat-kuadrat total
(1) = Jumlah kuadrat-kuadrat karena regresi a
(2) = Jumlah kuadrat-kuadrat karena regresi b|a
(3) = Jumlah kuadrat-kuadrat residu / penyimpangan sekitar regresi
Rumus diatas dapat ditulis

Tiap jumlah kuadrat-kuadrat (JK) mempunyai derajat kebebasan (dk)
masing-masing yaitu :


( )
2
Re i a s
Y JK JK b a JK E = + +


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
103
n ÷
2
i
Y E
jika tiap JK dibagi oleh dk – nya masing-
masing,
1 ÷ a
JK
maka dapat diperoleh ÷ kuadrat tengahnya
(KT)
1 ÷
( )
JK b a
untuk tiap sumber variasi
(n - 2) ÷ Res
JK

Untuk memudahkan perhitungan dibuat daftar analisa varians (ANOVA)
untuk regresi linier sederhana
Sumber variasi dk JK KT F
Regresi (a)

Regresi (b|a)


Residu
1

1


(n-2)
( )
2
i
Y
n
E

( )
JK b a


( )
2
ˆ
i i
Y Y E ÷



( )
reg
S JK b a =

( )
( )
2
Re
ˆ
2
i
s
Y Y
S
n
E ÷
=
÷



2
Re
2
Re
g
s
S
S

Jumlah n
2
i
Y E

- -

2
Re
2
Re
g
s
S
F
S
=
ternyata berdistribusi F dengan dk pembilang 1 dan dk
penyebut (n-2) ÷ berdasarkan hipotesa H
0
: b = 0 ditolak jika F> F
1

(1-
o ) (1.n-2)
dan diterima jika sebaliknya





Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
104
Contoh :
Sumber
variasi
Dk JK KT F
Regresi
(a)

Regresi
(b|a)

Residu
1


1

8
( )
2
i
Y
n
E

( )
JK b a

( )
2
ˆ
i i
Y Y E ÷
2
9.57
10
=

1.49

0.0368



2
Re
2
Re
1.49
40
0.0368
g
s
S
F
S
= = =
Jumlah 10
2
i
Y E

- -
Regresi (a) → n = 10 →
957 . 0
10
57 , 9
=

Regresi (b/a) →
( )
49 , 1
10
57 , 9 182
23 , 203 0516 , 0 =

×
÷

Residu → 0,0368
40
0368 , 0
49 , 1
2
2
= =
res S
reg S

Nilai F> F
1

(1- o ) (1.n-2)
dilihat dari table di dapat nilai F = 5.32
Ternyata 40 > 5.32÷ F> F
1

(1- o ) (1.n-2)
Maka : H
0
dengan B=0 ditolak berarti regresi linier

3. Koefisien korelasi
Untuk menentukan seberapa kuat hubungan fungsional antara variable-
variable pada persamaan regresi maka perlu ditentukan derajat
hubungan variable-variable. Studi yang membahas tentang derajat
hubungan antara variable-variable dikenal dengan nama analisis
korelasi. Ukuran yang dipakai untuk mengetahui derajat hubungan
terutama untuk data kuantitatif disebut koefisien korelasi

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
105
Korelasi dalam regresi linier
Koefisien korelasi r berdasarkan sekumpulan data (xi, yi) berukuran n
dapat digunakan rumus :




Bentuk lain dapat digunakan



r
2
= koefisien determinasi
Jika persamaan regresi linier y atas x telah ditentukan dan sudah
didapatkan koefisien arah b, maka koefisien determinasi r
2
, dapat
ditentukan dengan rumus sbb :



Dari rumus diatas dapat diturunkan rumus koefisien korelasi :


Koefisien korelasi r merupakan akar dari koefisien determinasi r
2

Dari rumus diatas berlaku 0 < r
2
< 1
Sehingga untuk koefisien korelasi -1 < r < +1
Harga r = -1 → hub. Linier sempurna tak langsung
Harga r = +1 → hub. Linier sempurna langsung
Harga r = 0 → tidak terdapat hub. Linier
Harga – harga r lainnya bergerak antara -1 dan +1
Tanda negatif → korelasi tak langsung
( )( )
( ) | ( ) | | |
¯ ¯ ¯ ¯
¯ ¯ ¯
÷ ÷
÷
=
2
2
2
2
.
yi yi n xi xi n
yi xi yi xi n
r

y S x y S r
2 2
. 1÷ =

( )( ) | |
( )
¯ ¯
¯ ¯ ¯
÷
÷
=
2
2
2
.
yi yi n
yi xi yi xi n b
r

Sy Sx b r / . =


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
106
Tanda positif → korelasi langsung
Estimasi dari varians → ssti simpangan baku → kesalahan prediksi


Dimana :
yi = variable tak bebas hasil pengamatan
ŷi = di dapat dari regresi berdasarkan sampel
n = Ukuran sampel
S
2
y.x dapat ditulis :




Dimana :
S
2
y = Varians untuk variabel y
S
2
x = Varians untuk variabel x
Setelah estimasi dari varians atau rata-rata kuadrat penyimpangan
sekitar regresi / rata-rata kuadrat residu, Se
2
diketahui maka-maka
varians – varians lain untuk regresi linier sederhana dapat ditentukan
Varians koefisien regresi b


Varians koefisien regresi a






( )
( ) 2
ˆ
. .
2
2 2
÷
÷
= =
¯
n
i y yi
e S x y S

( ) x S b y S
n
n
x y S
2 2 2 2
2
1
. ÷
|
.
|

\
|
÷
÷
=

( )
2
2
2
.
¯
÷
=
x xi
x y S
b S
( )

÷
+ =
¯
2
2
2 2
1
.
x xi
x
n
x y S a S


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
107
Varians ramalan rata-rata y untuk X
o
yang diketahui



Varians ramalan individu y untuk X
o
yang diketahui



Contoh :
Analisis regresi populasi penduduk cibubur
No

tahun
(xi)
populasi
(yi)
xi.yi

yi2

1 2000 58.045 116090000 3369222025
2 2001 58.165 116388165 3383167225
3 2002 58.878 117873756 3466618884
4 2003 59.160 118497480 3499905600
5 2004 59.577 119392308 3549418929
10010 293.825 588241709 17268332663
Korelasi
( ) ( )
9 . 405 =
) 030 . 040 . 20 .( 5
) 293.825 x 10010 ( - ) 9 588.241.70 5.(
=
-
) ( - ) (
=
2 2 2
∑ ∑
∑ ∑ ∑
(10010) -
i i
i i i i
y x n
y x y x n
b
n = 5
∑Xi.Yi = 588.241.709
∑Xi. = 10010
∑Yi = 293.825
( )
( )

÷
÷
+ =
¯
2
2
2 2
1
. ˆ
x xi
x x
n
x y S y S
o

( )
( )
( )

÷
÷
+ + =
¯
2
2
2 2
1
1 . ˆ
x xi
x x
n
x y S y S
o
i


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
108

∑Yi² = 17.268.332.663
∑ ∑
∑ ∑ ∑
) (
. . (
=
2
2
2
) Yi ( -
Yi) Xix ( - )
Yi nx
Yi Xi n b
r


r² = 0.964
r = 0.9825

Harga r = +1 → hub. Linier sempurna langsung

8.5 REGRESI NON LINIER
Jika persamaan regresinya non linier maka perlu memperbaikinya
dengan persamaan regresi non linier. Beberapa model persamaan regresi
non linier :
1. Parabolik Kuadratik

Dengan menggunakan metode kuadrat terkecil maka a, b dan c dapat
dihitung dari sistem persamaan :





b. Parabolik Kubik



Untuk menentukan koefisien a, b, c dan d digunakan persamaan
sebagai berikut :
2
. . ˆ x c x b a y + + =

¯ ¯ ¯ ¯
¯ ¯ ¯ ¯
¯ ¯ ¯
+ + =
+ + =
+ + =
4 3 2 2
3 2
2
.
.
.
xi c xi b xi a yi xi
xi c xi b xi a yi xi
xi c xi b a n yi

3 2
. . . ˆ x d x c x b a y + + + =


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
109







c. Model Exponen


Dalam logaritma, persamaannya menjadi :



Maka a dan b dapat dicari dari :







Model exponen sering pula disebut model pertumbuhan, model
persamaannya menjadi :


e = bilangan pokok logaritma = 2.7183
Persamaan diatas menjadi :
→ linier dalam x dan ln y
¯ ¯ ¯ ¯ ¯
¯ ¯ ¯ ¯ ¯
¯ ¯ ¯ ¯ ¯
¯ ¯ ¯ ¯
+ + + =
+ + + =
+ + + =
+ + + =
6 5 4 3 3
5 4 3 2 2
4 3 2
3
2
.
.
.
.
xi d xi c xi b xi a yi xi
xi d xi c xi b xi a yi xi
xi d xi c xi b xi a yi xi
xi d xi c xi b a n yi

X
b a y . ˆ =

( ) x b a y . log log ˆ log + =

( )
( ) ( )( )
( )
¯ ¯
¯ ¯ ¯
¯ ¯
÷
÷
=
|
|
.
|

\
|
÷ =
2
2
log log .
log
log
log
log
xi xi n
yi xi yi xi n
b
n
xi
b
n
yi
a

bx
e a y . ˆ =

x b a y . ln ˆ ln + =


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
110

Sehingga a dan b dapat dihitung sbb :



d. Model Geometrik



Jika diambil logaritmanya, maka :


Koefisien a dan b dapat dicari dari :


e. Model Logistik





untuk ŷ ≠ 0 maka persamaan diatas dapat ditulis :







x b a y . 4343 . 0 log ˆ log + =

b
x a y . ˆ =

x b a y log log ˆ log + =
( ) ( )( )
( ) ( )
2
2
log log
log log log . log
log log
log
¯ ¯
¯ ¯ ¯
¯ ¯
÷
÷
=
÷ =
xi xi n
yi xi yi xi n
b
n
xi
b
n
yi
a

x
b a
y
.
1
ˆ =

x
b a
y
.
ˆ
1
=


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
111
Jika diambil logaritmanya, maka :




f. Model Hiperbola



Untuk ŷ ≠ 0 maka persamaan di atas dapat ditulis :















( )x b a
y
log log
ˆ
1
log + =
|
|
.
|

\
|

x b a
y
. .
1
ˆ
+
=

x b a
y
.
ˆ
1
+ =


Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
112
8.6 RANGKUMAN
























Analisis regresi digunakan untuk mendapatkan hubungan fungsional
antara dua variable atau lebih atau untuk mendapatkan pengaruh
antara variable prediktor terhadap variable kriterium.
Persamaan regresi dengan x merupakan variable bebas dan y
merupakan variable tak bebas dinamakan regresi y atas x,

x b a y . ˆ + =

Metode ini menggunakan metode kira-kira menggunakan diagram
pencar berdasarkan hasil pengamatan. Data digambarkan dengan
sumbu datar → x dan sumbu tegak → y. Bentuk regresi diperkirakan
berdasarkan letak titik-titik..
Metode kuadrat terkecil merupakan metode persamaan regresi yang
biasanya digunakan untuk mencari hubungan garis lurus.
x x y . . .
2 1
u u u + =
Akan ditaksir harga θ
1
dan θ
2
oleh a dan b.
Jika persamaan regresinya non linier maka perlu memperbaikinya
dengan persamaan regresi non linier.
Persamaan regresi yang dihasilkan dari metode kuadrat terkecil dapat
dites terhadap beberapa keadaan :
1. Untuk melihat kemungkinan Apakah variable bebas x betul
mempunyai koreksi yang baik dengan variable tak bebas y. Jika x
tidak mempunyai koreksi yang dekat dengan y maka x tidak
menyumbang informasi apapun

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
113
























terhadap prediksi harga y → kemiringan dari regresi b = 0, diadakan
tes untuk melihat apakah b = 0.

2. Evaluasi terhadap b dapat dilakukan dengan menghitung “confidence
intervalnya”
3. Kegunaan model regresi (goodness of fit). Dilihat dari koefisien
korelasi diantara tiap-tiap variable dan koefisien variasinya.
Beberapa model persamaan regresi non linier.
1. Parabolik Kuadratik
2. Parabolik Kubik
3. Model Exponen
4. Model Geometrik
5. Model Logistik
6. Model Hiperbola

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
114
8.7 SOAL
1. Apa yang dimaksud dengan analisis regresi?
2. Sebutkan fungsi analisis regresi?
3. Apa yang dimaksud dengan variabel bebas dan tak bebas?
4. Dibawah ini disajikan pertumbuhan kota Palembang :

Tahun
PDRB
(jutaan rp)
Penduduk PC Bus Truk
1997 4670319 1184608 3158 2409 21569
1998 6809872 1198224 3200 2417 20367
1999 7941073 1199783 1729 2428 20471
2000 8924252 1460224 2811 2475 20594
2001 10269137 1489370 3175 2791 22261
2002 12348540 1530578 3250 2901 22689

a. Tentukan persamaan regresi yang mempunyai hubungan
fungsional antara tahun pertumbuhan dengan jumlah bus.
b. Hitung kesalahan prediksi atau kesalahan residu dari persamaan
regresi tersebut.
c. Gambarkan garis persamaan regresi dengan skala yang benar,
dan bandingkan hasilnya dengan garis persamaan regresi dengan
metode tangan bebas.
d. Uji dan evaluasi persamaan regresi yang dihasilkan dengan :
- Confidence interval
- Menguji hipotesa nol (b = 0).
- Koefisien korelasi.




Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
115
DAFTAR PUSTAKA

- Anto Dajan, Pengantar Metoda Statistik Jilid I, LP3ES, Jakarta, 1972
- Alan Marino, Ar. Alvinsyah., Heddy R. Agah., Sutanto, Meng., Suyono
Dikun, Tri Tjahyono, Analiisis Statistika dalam Perencanaan Lalu
Lintas dan Transportasi, Jakarta
- Raymond, H. Myers dan Ronald, E. Wolpole, Ilmu Peluang dan
Statistika Untuk Insinyur dan Ilmuwan Terbitan Kedua, Penerbit ITB,
1986
- Sudjana, Metoda Statistik Edisi Kelima, Penerbit Tarsito Bandung,
1989.
- Sudjud, R. Karjasaputradan Wiratman Wangsadinata, Evaluasi dan
Klasifikasi Beton Sehubungan Dengan Peraturan Beton Bertulang
Indonesia, Jakarta, 1970
- Zainal Mustafa, Pengantar Statistik Deskriptif Edisi Kedua, Bagian
Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta,
1992












Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
116
BUKU AJAR
STATISTIKA TERAPAN

Untuk Mahasiswa Semester 3
D-IV Jalan Tol






Disusun oleh :
Nunung Martina, ST, Msi




















Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
117
PRAKATA

Penyusunan Buku Ajar Statistik Terapan untuk ini dimaksudkan untuk
membantu para mahasiswa semester 3 D-IV Jalan Tol untuk mengambil
mata kuliah Statistik Terapan. Hal ini karena penulis menyadari bahwa di
Jurusan Teknik Sipil khususnya D-IV Jalan Tol belum ada buku pegangan
tersebut.
Isi buku ini terdiri dari 8 bab yang tiap bab diakhiri dengan rangkuman
dan soal-soal latihan untuk memahamkan setiap bab yang diberikan.
Penulisan buku ini dimulai dari Pendahuluan, Pengumpulan dan Pengolahan
Data, Distribusi Frekuensi Empiris, Ukuran-ukuran Deskriptif Dalam Statistik,
Ukuran-ukuran Lokasi, Skunes, Momen dan Kurtosos, Distribusi Normal dan
Analisis Regresi.
Penyusunan buku ini telah diusahakan sedemikian rupa dimulai dari
pengertian dasar hingga pembahasan dan contoh-contoh terapan sehingga
mahasiswa dapat memperoleh manfaatnya.
Mudah-mudahan, karya kecil ini mampu menjadi sumbangsih guna
meningkatkan kualitas belajar mengajar, khususnya mahasiswa Politeknik
Negeri Jakrta.


Depok, Oktober 2007
Penyusun






Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
118
DAFTAR ISI

PRAKATA i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Pengertian istilah statistik dan statistika 1
1.2 Peranan statistik 2
1.3 Rangkuman 3
1.4 Soal latihan 3
BAB II PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4
2.1 Populasi dan Sampel 5
2.2 Teknik pengambilan sampel 6
2.3 Jenis data 9
2.4 Pembulatan bilangan 9
2.5 Teknik Pengumpulan data 11
2.6 Pengolahan data 12
2.7 Rangkuman 14
2.8 Soal latihan 16
BABIII DISTRIBUSI FREKUENSI EMPIRIS 17
3.1 Bagian-bagian dari distribusi frekuensi 17
3.2 Distribusi frekuensi tunggal 18
3.3 Distribusi frekuensi bergolong 20
3.4 Distribusi frekuensi relatif 25
3.5 Distribusi frekuensi komulatif 26
3.6 Penyajian distribusi frekuensi dalam
bentuk grafik dan diagram
28
3.7 Rangkuman 34
3.8 Soal latihan 36

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
119
BAB IV UKURAN-UKURAN DESKRIPTIF DALAM
STATISTIK
37
4.1 Summasi 37
4.2 Ukuran-ukuran lokasi/ harga-harga tengah 40
4.3 Rangkuman 53
4.4 Soal latihan 54
BAB V UKURAN-UKURAN LOKASI 56
5.1 Range 57
5.2 Deviasi kuartil 57
5.3 Deviasi rata-rata 58
5.4 Standard deviasi dan variasi 62
5.5 Rangkuman 73
5.6 Soal latihan 74
BAB VI SKUNES, MOMEN DAN KURTOSOS 76
6.1 Distribusi skued positif 76
6.2 Distribusi skued negatif 77
6.3 Pengujian skunes 78
6.4 Momen 79
6.5 Kurtosis 81
6.6 Rangkuman 82
6.7 Soal latihan 83
VII DISTRIBUSI NORMAL 84
7.1 Cara membuat lengkung distribusi normal 91
7.2 Rangkuman 96
7.3 Soal latihan 96
VIII ANALISIS REGRESI 98
8.1 Persamaan analisis regresi 99
8.2 Metode tangan bebas 100

Statistik Terapan
Sem 3 D-IV Jalan Tol
120
8.3 Metode kuadrat terkecil 102
8.4 Tes dan evaluasi model regresi 107
8.5 Regresi non linier 115
8.6 Rangkuman 119
8.7 Soal latihan 120
DAFTAR PUSTAKA 122





sebagai engineering tools yang dapat dipercaya. Disini statistika sebagai alat diantaranya : 1. Pengumpulan data yang baik baik secara poplasi maupun sampel. 2. Pengolahan data atau analisa data. 3. Penyajian data baik dalam bentuk laporan manajemen maupun teknis. 4. pengambilan keputusan atau perencanaan 5. evaluasi atau Pengawasan antara data yang dilaporkan dengan penyimpangan di lapangan 6. Melakukan pemecahan masalah teknis maupun manajerial.

1.3 RANGKUMAN Statistik deskriptif ialah susunan angka yang memberikan gambaran tentang data yang disajikan dalam bentuk table, diagram, histogram, poligon frekuensi, ogivve, ukuran penempatan (median, kuartil, desil dan persentil), ukuran gejala pusat (rata-rata hitung, rata-rata ukur, rata-rata harmonik dan modus), simpangan baku, kurva normal, korealsi dan regresi linear.

Statistika induktif ialah salah satu alat untuk mengumpukan data, mengolah data, menyajikan. menganalisa data, menarik kesimpulan dan membuat keputusan berdasarkan analisis data yang dikumpulkan

Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol

2

1.4 SOAL-SOAL 1. Apa pengertian statistik dalam arti sempit dan dalam arti luas ? 2. Apa perbedaaan statistik dan statistika.? 3. Mengapa kita perlu statistic ? 4. Bagaimana peranan statistik dalam bidang teknik terutama teknik sipil? 5. Apa yang dimaksud dengn statistik deskriptif dan statistik induktif ?

Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol

3

BAB II PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
Untuk mendapatkan kumpulan data yang baik dan mencakup seluruh unit yang menjadi objek penelitian maka data statistik harus dapat dipercaya dan tepat waktu, sehingga informasi yang dikumpulkan sesuai dengan keadaan sebenarnya dan dengan metode serta cara yang tepat. Hal-hal yang perlu diperahatikan sebelum data dikumpulkan adalah sebagai berikut : 1. Harus diketahui untuk apa data itu dikumpulkan. 2. Harus diketahui jenis elemen atau objek yang akan diselidiki. Elemen adalah unit terkecil dari objek penelitian, misalnya orang, organisasi atau badan usaha, barang dan lain-lain. Tujuan darI pengumpulan data adalah untuk mengetahui jumlah elemen dan karakteristik elemen tersebut. Karakteristik adalah sifat-sifat, ciri-ciri atau hal-hal yang dimiliki oleh elemenelemen, yaitu semua keterangan mengenai elemen. Nilai karakteristik suatu elemen berupa nilai variabel. Untuk menunjukkan suatu variable

dipergunakan huruf misalnya: X, Y, Z dan sebagainya. Contoh : 3 perusahaan dengan X = modal perusahaan dalam jutaan rupiah, di mana X1 = 5, X2 = 7, X3 = 4, berarti perusahaan pertama mempunyai modal Rp 5 juta, perusahaan kedua Rp 7 juta, perusahaan ketiga Rp 4 juta.

2.1. POPULASI DAN SAMPEL Populasi adalah kumpulan elemen baik hasil perhitungan maupun pengukuran, baik kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik dari sekelompok objek yang lengkap dan jelas. Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil dengan menggunakan teknik tertentu yang disebut teknik sampling. Data yang diperoleh dari hasil sampling

Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol

4

merupakan data perkiraan (estimate value). Penelitian yang menggunakan seluruh anggota populasinya disebut sampel total atau sensus. Data yang diperoleh sebagai hasil pengolahan sensus disebut data sebenarnya (true value) atau parameter. Dibandingkan dengan sensus, pengumpulan data dengan cara sampling membutuhkan biaya lebih murah , waktu lebih cepat, tenaga lebih sedikit dan menghasilkan cakupan data yang lebih banyak serta terperinci. Dalam banyak hal pengumpulan data dengan cara sampling lebih disukai dengan pertimbangan biaya, waktu dan penelitian yang bersifat merusak objek. Jika n adalah jumlah elemen sampel dan N adalah jumlah elemen populasi, maka n<N ( n lebih kecil N). Populasi yang karakteristiknya ingin diketahui (N) Sambel diambil dari populasi dan dianalisis (n)

Kesimpulan dibuat diharapkan berlaku untuk populasi GambarDataHubungan antara Populasi dan sampel 2.1 diskrit yaitu data yang diperoleh dari hasil menghitung atau membilang. Data 2.2 TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL (TEKNIK SAMPLING) kontinu yaitu data yang diperoleh dari hasil Statistika terbagi menjadi dua yaitu statistik deskriptif dan statistik pengukuran. induktif (inferensial).Statistika deskriptif dikerjakan untuk mendapatkan statistika induktif. Statistika induktif berusaha menyimpulkan tentang

karakteristik populasi berdasarkan sampel yang diambil dari populasi yang bersangkutan dengan menggunakan metode atau cara tertentu. Untuk mendapatkan kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan haruslah dicari cara-cara yang benar termasuk cara-cara pengambilan

Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol

5

sampel atau sampling. Kriteria yang perlu diperhatikan dalam pengambilan sampel adalah sebagai berkut : 1. Jelas daerah generalisasinya. 2. Batas-batas yang tegas tentang sifat-sifat populasi (karakteristiknya). 3. Sumber-sumber informasi tentang populasi. 4. Rumusan persoalan yang akan diteliti. 5. Keterangan mengenai populasi yang akan diteliti. 6. Teknik sampling dan besar anggota sampel yang sesuai dengan tujuan penelitian. 7. Definisi unit-unit, istilah yang diperlukan. 8. Unit sampling yang diperlukan 9. Skala pengukuran yang akan dipergunakan 10. Keterangan yang ada kaitannya dengan permasalahan yang akan dibahas 11. Ukuran sampel yang akan dianalisis 12. Prosedur sampling yang akan digunakan. 13. Teknik pengumpulan data yang akan dipergunakan 14. Metode analisis yang akan digunakan. 15. Sarana dan prasarana yang diperlukan untuk penelitian.

Alasan mengapa populasi tidak dapat dilakukan sehingga digunakan sampel : 1. Ukuran populasi Karena ukuran populasi terlalu besar, obyek terlalu banyak sehingga sulit melakukan penelitian terhadap populasi tersebut. 2. Masalah biaya Makin banyak obyek yang diteliti maka makin banyak biaya yang dikeluarkan. 3. Masalah waktu
Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol

6

Cara bukan acak (sampling non random) yaitu cara pengambilan atau pemilihan elemen dari populasi untuk menjadi sampel dimana setiap elemen tidak mendapat kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. ordinal atau table bilangan random atau dengan komputer. Pada dasarnya cara pengambilan sampel ada dua cara yaitu : 1. waktu. 2. maka sampling harus digunakan. Penelitian yang sifatnya merusak Jika penelitian terhadap obyek sifatnya merusak. Masalah ketelitian Makin banyak obyek yang diteliti maka makin kurang ketelitiannya. Cara ini lebih bersifat subjektif dan samplingnya disebut nonprobability sampling artinya setiap elemen tidak mempunyai probabilitas yang sama untuk dipilih. Cara ini dianggap objektif. dan tenaga yang dikeluarkan. Kegunaan dari hasil penelitian sepadan apa tidak dengan biaya. sebaliknya jika jumlah obyek lebih sedikit. 6. Pemilihan dapat dilakukan dengan cara lotre/undian. Cara acak (sampling random) yaitu cara pengambilan atau pemilihan elemen dari populasi untuk menjadi sampel secara acak sehingga setiap elemen mempunyai kesempatan yang sama (equal chance) untuk dipilih menjadi anggota sampel. 5.Sensus memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan sampling. Faktor ekonomis. 4. maka tidak perlu penelitian dilakukan terhadap sensus. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 7 . Jika tidak. samplingnya disebut probability sampling yaitu semua elemen mempunyai probabilitas (kemungkinan) yang sama untuk dipilih.

Data diskrit yaitu data yang diperoleh dari hasil menghitung atau membilang. Kecepatan rata-rata mobil yang melewati Jalan Tol Jagorawi 110 km/jam. Perusahan A mempunyai 5 anak perusahaan b.4 PEMBULATAN BILANGAN Seringkali kita menghadapi angka-angka hasil penyelesaian perhitungan analisa atau laporan yang panjang sekali. Jasa Marga sudah membangun 15 Jalan Tol tahun 2003 2. Data kontinu yaitu data yang diperoleh dari hasil pengukuran Contoh : a.2. ialah dengan cara pembulatan bilangan. Salah satu cara menyederhanakan data kuantitaif yang panjang itu. Oleh karena itu banyak orang yang menghendaki pencatatan data kuantitatif itu dalam bentuk yang paling sederhana.5 hektar b. 2.3 JENIS DATA Data adalah hasil pencatatan peristiwa atau karakteristik elemen yang dilakukan pada tahap pengumpulan data yang jika diolah dengan baik dapat melahirkan berbagai informasi. PT. Data yang berbentuk bilangan atau data kuantitatif menurut nilainya dibagi menjadi dua golongan yaitu : 1. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 8 . sehingga menyuilitkan didalam pembacaannya. Data dapat berupa bilangan (data kuantitatif) dan dapat berupa kategori (data kualitatif). Contoh : a. Luas daerah yang dibebaskan untuk Jalan Tol sebesar 30.

275. maka angka 2 merupakan angka terkiri yang harus dihapus.42 dibulatkan hingga ribuan rupiah. Bila angka terkiri yang harus dihapus adalah 4 atau kurang. Bila angka terkiri yang harus dihapus lebih besar 5 atau angka 5 yang diikuti oleh angka bukan nol. Contoh : Rp 49.300. Contoh : Rp 49. maka angka terkanan yang mendahuluinya tidak berubah. sedangkan angka 2 merupakan angka terkanan yang mendahului angka 7. Aturan ini disebut aturan ”genap terdekat”. 3.280. sedangkan angka yang mendahului angka 2 adalah angka 9.275. menjadi Rp 49. Contoh : 27.50 dibulatkan hingga satuan menjadi 244. menjadi Rp 49. maka angka terkanan yang mendahuluinya bertambah dengan satu. maka terkanan yang mendahuluinya akan tetap jika ia genap dan bertambah satu jika ia ganjil.275.00 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 9 .Ada beberapa aturan yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam pembulatan bilangan. yaitu : 1. Dalam hal ini angka yang harus dihapus adalah mulai angka 7 ke kanan. menjadi Rp 49. Dalam hal ini angka yang harus dihapus adalah mulai angka 2 ke kanan. Angka 5 ini diikuti oleh angka yang bulan nol.-. 2.42 dibulat kan hingga puluhan rupiah.-.42 dibulatkan hingga ratusan rupiah. Angka yang harus dihapus adalah mulai angka 5 ke kanan.000. maka angka 7 merupakan angka terkiri yang harus dihapus. Bila angka terkiri yang harus dihapus lebih besar 5 atau 5 yang diikuti oleh angka bukan nol.00 244.50 dibulatkan hingga satuan menjadi 28.-. Rp 49.

00 244. Sumber data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui wawancara kepada pihak lain tentang obyek atau subyek yang diteliti. konsep dan definisi yang sama. Langsung (Participation) Bagian yang penting dalam pengumpulan data adalah merancang angket /kuesioner. Wawancara (Interview) 2. Sumber data primer yaitu data yang didapat dari observasi langsung oleh peneliti. Kuesioner atau angket adalah satu set pertanyaan yang tersusun secara sistemetis dan standar sehingga pertanyaan yang sama dapat diajukan terhadap responden.50 dibulatkan hingga satuan menjadi 27. Dari kedua sumber data tersebut sumber data primer lebih dapat dipertanggung jawabkan dibandingkan sumber data sekunder.00 2. Dokumentasi (Dokumentation) 5. Sedangkan standard adalah setiap item pertanyaan mempunyai pengertian. Aturan ini disebut aturan ”ganjil terdekat” Contoh : 27. yaitu membuat tetap jika ia ganjil dan bertambah satu jika ia genap. Pengamatan (Observation) 4.Aturan ini dapat pula diambil kebalikannya.5 TEKNIK PENGUMPULAN DATA Sumber data dibagai menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa item-item pertanyaan disusun menurut logika sesuai dengan maksud dan tujuan pengumpulan data. Angket (Questionnary) 3.50 dibulatkan hingga satuan menjadi 245. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 10 . Teknik –tekniik pengumpulan data dapat dilakukan melalui : 1.

719 kendaraan = 18.975 kendaraan = 5.380 kendaraan = 43.000 kendaraan di Jalan Tol Tangerang Merak.058 kendaraan = 23. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 11 .501 kendaraan = 28. Pengolahan data secara manual Pengolahan data secara manual umumnya dilakukan untuk jumlah observasi yang tidak terlalu banyak karena pengolahan data secara manual memerlukan waktu yang sangat lama.2.103 kendaraan = 9. Contoh : Volume lalu lintas bulan Desember tahun 2002 Jalan Tol Tangerang Merak untuk Golongan Kendaraan IIA sebagai berikut : Gerbang Cikupa Gerbang Blaraja Timur Gerbang Balaraja Barat Gerbang Ciujung Gerbang Serang Timur Gerbang Serang Barat Gerbang Cilegon Timur Gerbang Cilegon Barat Gerbang Merak = 62.084 kendaraan = 6.504 kendaraan Tentukan jumlah volume lalu lintas.060 kendaraan = 5.6 PENGOLAHAN DATA Secara umum pengolahan data dapat dibedakan menjadi dua yaitu pengolahan ata secara manual (manual data processing) dan pengolahan data secara elektronik (elektronik data processing). 1. Rata-rata volume lalu lintas per hari dan persentase gerbang tol yang volume lalu lintasnya kurang dari 10.

7 RANGKUMAN Elemen adalah unit terkecil dari objek penelitian. Pengolahan data secara elektronik Pengolahan menggunakan data secara elektronik dapat dilakukan dengan aplikasi komputer dengan program-program yang tersedia. SPSS. misalnya Microsoft Excel.258 kendaraan Persentase gerbang tol yang volume lalu lintasnya kurang dari 10. misalnya orang.000 kendaraan = 4 x 100%= 44.384 kendaraan Rata-rata volume lalu lintas per hari= 202. yaitu semua keterangan mengenai elemen. Untuk menunjukkan suatu variable dipergunakan huruf misalnya: X.058+23. organisasi atau badan usaha. Y. barang dan lain-lain. 2.Penyelesaian : Data tersebut dapat diolah secara manual yaitu : Jumlah volume lalu lintas =62. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 12 .504= 202.44 % 9 2. Statgraphics dan lain-lain. Z dan sebagainya. Nilai karakteristik suatu elemen berupa nilai variabel.384 31 =6. Karakteristik adalah sifat-sifat. ciri-ciri atau hal-hal yang dimiliki oleh elemen-elemen.060+5.103+…+ 28.

Sumber data primer yaitu data yang didapat dari observasi langsung oleh peneliti. Secara umum pengolahan data dapat dibedakan menjadi dua yaitu pengolahan data secara manual (manual data processing) dan pengolahan data secara elektronik (elektronik data processing).Populasi adalah kumpulan elemen baik hasil perhitungan maupun pengukuran. baik kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik dari sekelompok objek yang lengkap dan jelas. Data adalah hasil pencatatan peristiwa atau karakteristik elemen yang dilakukan pada tahap pengumpulan data yang jika diolah dengan baik dapat melahirkan berbagai informasi. Sumber data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui wawancara kepada pihak lain tentang obyek atau subyek yang diteliti. baik kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik dari sekelompok objek yang lengkap dan jelas. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 13 . Sampel adalah sebagian dari populasi Data diskrit yaitu data yang diperoleh dari hasil menghitung atau membilang. Data kontinu yaitu data yang diperoleh dari hasil pengukuran. Sumber data dibagai menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Populasi adalah kumpulan elemen baik hasil perhitungan maupun pengukuran. Sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil dengan menggunakan teknik tertentu yang disebut teknik sampling.

Apa yang dimaksud dengan data kuantitatif dan data kualitatif? 8. Apa yang dimaksud dengan elemen? Berikan beberapa contoh! 2. Sebutkan teknik-teknik pengumpulan data! Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 14 .8 SOAL 1. Apa yang dimaksud populasi dan sampel? Berikan contohnya! 4.2. Sebutkan teknik oengambilan sampel. Apa perbedan antara sensus dan sampling? 5. Apa keuntungan menggunakan metode sampling dibandingkan dengan metode sensus. 6. Apa yang dimaksud dengan karakteristik? Berikan beberapa contoh! 3. Apa yang dimaksud dengan data deskrit dan data kontinu? Berikan beberapa contoh! 9. Sebutkan jenis sumber data dan jelaskan! 10. 7.

1 BAGIAN-BAGIAN DARI DITRIBUSI FREKUENSI 1. 2. Distribusi Frekuensi Tunggal Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 15 . Membuat tabel distribusi frekuensi Distribusi frekuensi dibagi 2 : a. guna memasukkan angka-angka. Contoh : Apabila seorang ahli beton mengadakan pengujian tentang kekuatan karakteristik beton dimana untuk mendapatkan kekuatan karakteristik diperlukan nilai masing-masing pengujian beton Dari contoh diatas yang merupakan : Variabel penyelidikan adalah pengujian kekuatan karakteristik beton dan Nilai variabel adalah nilai masing-masing pengujian beton Pada Umumnya Pembuatan Distrbusi Dapat Dibagi 3 Tahap : 1. Nilai Variabel Nilai variable adalah nilai masing-masing penyelidikan / pengujian. Memasukkan angka-angka ke kelas-kelas yang sesuai serta menghitung frekuensinya. 3. Menentukan jumlah kelas .BAB III DISTRIBUSI FREKUENSI EMPIRIS Distribusi Frekuensi Empiris adalah suatu daftar yang menunjukkan penggolongan kumpulan data diamana termasuk penentuan berapa bilangan yang termasuk ke dalam setiap golongan tersebut . Tujuan dari penentuan Distribusi Frekuensi adalah untuk menyajikan data dalam bentuk yang lebih teratur dan ringkas sehingga lebih mudah untuk dipahami. 3. Variabel Penyelidikan Variabel Penyelidikan adalah obyek yang diselidiki 2.

b. Penyajian dalam bentukDistribusi Frekuensi Tunggal Nilai Mata Kuliah Statistik Semester I Politeknik UI tahun akademik 1993/1994 . Nilai Variabel : 7 6 7 6 5 8 6 6 5 5 6 6 7 6 5 6 7 7 6 5 7 4 5 7 6 7 8 6 7 5 Dari angka-angak tersebut diatas kita tidak dapat memperoleh gambaran apa-apa. Distribusi Frekuensi Bergolong DISTRBUSI FREKUENSI TUNGGAL (DFT) Distribusi Frekuensi Tunggal (DFT) adalah suatu pencaran frekuensi yang menunjukkan tidak adanya pengelompokkan nilai variabel.( i ) 1 2 3 4 5 Nilai ( Xi ) 4 5 6 7 8 Frekuensi ( f i ) 1 7 11 9 2 Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil  i 1 k 5 fi 30 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 16 . Contoh : Variabel Penyelidikan : Penyelidikan tentang nilai mata kuliah Statistik Semester I Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik UI tahun akademik 1993/1994 . Untuk mendapatkan gambaran dan kesimpulan . No. kita perlu mengatur angka-angka itu menjadi suatu tabel .

5 11.5 Tanda Kelas ( Mi) 3 5 11 13 Frekuen si ( Fi) 4 7 10 13 34  i 1 k 5 fi Istilah-istilah Yang Digunakan dalam Distribusi Frekuensi Bergolong : 1. (i) 1 2 3 4 Batas Kelas ( Xi ) Semu 3−5 6−8 9 −11 12 −14 Nyata 2. DISTRIBUSI FREKUENSI BERGOLONG (DFB) Distribusi Frekuensi Bergolong (DFB) adalah suatu pencaran frekuensi yang menunjukkan adanya pengelompokkan nilai variabel dalam satu kelas. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 17 .5 − 5.k = banyaknya kelas fi = frekuensi kelas ke i k 5 i 1  fi = jumlah indek = 1 s/d k termasuk frekuensi ke 1 dan ke k Dari tabel tersebut diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa urutan data yang mempunyai frekuensi dari tertinggi ke terendah adalah : 6. 4 Jumlah kolom yang ada pada panel yang ada pada tabel bukan merupakan syarat mutlak. jumlah kolom dalam tabel tergantung pada kebutuhan .5 8.5 −14. 5. 8.5 − 8. 7.5 -11.5 5. No. Kelas Kelas adalah tiap-tiap kelompok nilai variabel.

8. kelas ketiga 9 – 11 dan kelas keempat 12 – 14.11 dan 14. 2. 8 dengan 9.5 .9 dan 11. Batas Kelas Batas Kelas adalah nilai-nilai yang membatasi antara kelas yang satu dengan kelas yang lain . Contoh : Nilai 2. Batas Kelas Atas dan Batas Kelas Bawah Batas Kelas Atas (Upper Limits) adalah nilai tertinggi dalam suatu kelas . 3. Batas Kelas Bawah (Lower Limits) adalah nilai terndah dalam suatu kelas Contoh : Angka-angka pada deret sebelah kanan batas kelas yaitu 3. Contoh : Angka-angka pada deret sebelah kanan batas kelas yaitu 5. 6.12 dan 14.5 .5 . 14. kelas kedua 6 – 8. Nilai Batas Kelas Nyata = B k a s I  B k b s II 2 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 18 . Contoh : Nilai 3 dan 5. 9 dan 12 4.5.5 . Contoh : Nilai 5 dengan 6. Batas Kelas Semu dan Batas Kelas Nyata Batas Kelas Semu adalah nilai yang terpisah antara batas kelas yang satu dengan batas kelas yang lain. 5. 11 dengan 12.6 dan 8.Contoh : Dalam tabel diatas terdapat 4 kelas dengan masing-masing kelas yaitu kelas pertama 3 – 5. Batas Kelas Nyata adalah nilai yang sama antara batas kelas yang satu dengan batas kelas yang lain. 11. 8.

Contoh : Pada tabel diatas niali 4. 4. Titik Tengah / Tanda Kelas / Class Mark (m i ) Titik Tengah / Tanda Kelas / Class Mark adalah nilai variabel yang terdapat di tengah-tengah antara Batas Kelas Atas dengan Batas Kelas Bawah atau nilai yang mewakili tiap-tiap kelas . Contoh : Kelas 3 – 5 terdiri dari nilai – nilai variabel 3.Bks s/n dalam satu kelas 2 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 19 . Lebar Kelas / Interval Kelas ( I ) Lebar Kelas / Interval Kelas adalah jumlah nila-nilai variabel dalam tiap kelas.Keterangan : B k a s I : Batas kelas atas semu prioritas I B k b s II : Batas kelas bawah semu prioritas II 5. dan 5. Tanda Kelas (m i) = Bkb s/n . Jadi tiap – tiap kelas terdiri dari 3 nilai variabel. 7. 10 dan13 merupakan tanda kelas. sehingga interval kelas = 3 Interval Kelas ( I ) = B k a n – B k b n dalam satu kelas atau atau Keterangan : Bkan Bkbn : Batas kelas atas nyata : Batas kelas bawah nyata = B k a s II – B k a s I = B k b s II – B k b s I B k a s II : Batas kelas atas semu prioritas II B k a s I : Batas kelas atas semu prioritas I B k b s II : Batas kelas bawah semu prioritas II B k b s I : Batas kelas bawah semu prioritas II 6.

Jarak Pengukuran / Range ( R ) Jarak Pengukuran / Range adalah nilai variabel tertinggi dikurangi dengan nilai variabel terendah dalam suatu pengujian . Biasanya digunakan Aturan Sturges oleh H . k = 1 + 3. A Sturges tahun 1926. Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Pembuatan Diustribusi Frekuensi Bergolong (DFB) : 1. pembulatan ( 0.Keterangan : Bkb s/n : Batas kelas bawah semu / nyata Bka s/n : Batas kelas atas semu / nyata 7.3 log n Keterangan : k : Banyaknya kelas n : Banyaknya data / pengamatan 2.0 – 0. Menentukan jumlah kelas. guna memasukkan angka-angka atau nilai-nilai variabel . guna memasukkan angka-angka atau nilanilai variabel yang sesuai serta kemudian menghitung frekuensinya.9) I R H-L  k k Keterangan : I : Interval Kelas R : Range H : Nilai Variabel Tertinggi L : Nilai Variabel Terndah k : Banyaknya kelas Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 20 . Menentukan interval kelas . (Tidak perlu memandang batas nyatanya).

2 171.3 185.3 log 25 = 5.2 173.7 174.9 170. yang dilaksanakan di Laboratorium Pengujian Bahan Politekni UI Depok dalam satuan kg/cm 2 .3 log n = 1 + 3.4    4.1 177. yang dilaksanakan di Laboratorium Pengujian Bahan Politekni UI Depok dalam satuan kg/cm 2 .7 175.8 167.2 165.0 176.5 176. n H L = 25 = 185.4 168.4 173.2 164.7167 kg/cm 2 k k 6 Penyajian Dalam Bentuk Distribusi Frekuensi Bergolong : Hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus dengan sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3.2 181. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 21 .4 157.7 169.L 185.7  157.Contoh : Hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus dengan sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 1 1/2 : 21/2.6 174.7 162.2 172.4 kg/cm2 Banyaknya Kelas (k) k = 1 + 3.4 178.7 kg/cm2 = 157. 157.1 175.7 data disusun secara acak satu angka dibelakang koma.6132  6 Interval Kelas ( I ) I R H .8 168.8 179.

171.181.4 .15 178.15 Tanda Kelas (mi) (Kg/Cm2) 159.35 . Fr1 %   fi  100% n Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 22 .35 174.162.75 171.176.55 .35 .35 181.176.95 166.75 Frekuensi (fi) 2 3 6 9 4 1 25  i 1 6 fi DISTRIBUSI FREKUENSI RELATIF (DFR) Distribusi Frekuensi Relatif adalah pencaran frekuensi yang diperoleh dengan membagi frekuensi tiap-tiap kelas dengan banyaknya data pengamatan .171.5 176.181.75 164.8 .95 .6 .9 167.15 .166. Fri  Fri fi n fi n = Frekuensi Relatif Kelas ke i = Frekuensi Kelas ke i = Banyaknya Data Pengamatan Keterangan : Frekuensi Relatif bisa juga dibuat dengan bentuk persentase atau disebut juga Persentase Distribusi yang dapat diperoleh dengan mengalikan frekuensi relatif dengan 100%.1 162.0 .Kelas (i) 1 2 3 4 5 6 Batas Kelas ( Xi) (Kg/Cm2) Semu Nyata 157.1 157.15 162.75 .7 171.3 181.55 169.65 176.186.186.2 -0166.162.95 183.4 .

08 0. Sebagai akibat dari penjumlahan-penjumlahan antara frekuensi yang beurutan harus diperhatikan bahwa bentuk kelasnya sudah berubah sesuai dengan Distribusi Frekuensi Komulatif.15 178. DFK “kurang dari (<)” hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3 yang Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 23 . Distribusi Frekuensi Komulatif (DFK) lebih dari Contoh : a.16 0.95 183.75 6 Frekuensi (fi) 2 3 6 9 4 1 6 Fri 0.35 174. Distribusi Frekuensi Komulatif (DFK) kurang dari b. Kelas (i) 1 2 3 4 5 6 Tanda Kelas (mi) (Kg/Cm2) 159.04 6 Fri (%) 8 12 24 36 16 4  fi  25 i 1  Fri  1  Fri  100% i 1 i 1 DISTRIBUSI FREKUENSI KOMULATIF (DFK) Distribusi Frekuensi komulaitf adalah pencaran frekuensi yang merupakan penjumlahan-penjumlahan frekuensi-frekuensi kelas secara berurutan. Distribusi Frekuensi Komulatif dibagi 2 : a.75 164. yang dilaksanakan di Laboratorium Pengujian Bahan Politekni UI Depok dalam satuan kg/cm 2 .Contoh : Hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus dengan sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3.55 169.36 0.24 0.12 0.

dilaksanakan di Laboratorium Pengujian Bahan Politeknik UI Depok dalam satuan kg/cm2 Batas Kelas Komulatif “<” (Xki) (Kg/Cm2) Kurang dari 157.35 Kurang dari 186.55 Kurang dari 181.15 Frekuensi Komulatif “<” (Fki) 0 2 5 11 20 24 25 b.15 Frekuensi Komulatif “<” (Fki) 25 23 20 14 5 1 0 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 24 .75 Kurang dari 176.15 Kurang dari 166.95 Lebih dari 171.15 Lebih dari 166. Batas Kelas Komulatif “>” (Xki) (Kg/Cm2) Lebih dari 157.95 Kurang dari 171.35 Lebih dari 186.35 Lebih dari 162.35 Kurang dari 162.75 Lebih dari 176. DFK “lebih dari (>)” hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3 yang dilaksanakan di Laboratorium Pengujian Bahan Politeknik UI Depok dalam satuan kg/cm2 .55 Lebih dari 181.

Contoh : Histogram frekuensi hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3 yang dilaksanakan dilaboratorium pengujian bahan Politeknik UI Depok dalam satuan kg/cm2. Poligon frekuensi 3. majalah. 2. brosur. Atau disajikan bersama-sama table Distribusi Frekuensi. Grafik dan diagram yang sering dipakai untuk melukiskan distribusi frekuensi adalah : 1. dan lainlain sering kita lihat Distribusi Frekuensi disajikan dalam bentuk grafik dan diagram. Ogive frekuensi 4. Histogram frekuensi 2. DAN DIAGRAM Dalam laporan-laporan tertulis. Diagram lingkaran HISTOGRAM FREKUENSI Histogram frekuensi adalah suatu bentuk diagram yang terdiri dari persegi panjang dimana setiap persegi panjang tersebut mewakili/ menerangkan/ menggambarkan sebuah kelas dari distribusi frekuensi.PENYAJIAN DISTRIBUSI FREKUENSI DALAM BENTUK GRAFIK. Mempertegas dan memperjelas Distribusi Frekuensi yang telah disajikan sebagai table/daftar. buku-buku. Guna penyajian Distribusi Frekuensi dalam bentuk grafik dan diagram adalah : 1. Sebagai pengganti bagi Distribusi Frekuensi yang berbentuk sebagai daftar / tabel. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 25 .

15 166.72 kg/cm2 y=1:1 POLIGON FREKUENSI Poligon Frekuensi adalah suatu bentuk grafik yang digambarkan dengan menghubungkan titik-titik tengah dari garis puncak histogram dengan memakai garis lurus.95 171. Contoh : Poligon frekuensi hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari engan campuran 1 : 2 : 3 yang dilaksanakan dilaboratorium pengujian bahan Politeknik UI Depok dalam satuan kg/cm2.75 176. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 26 .35 186.15 keteguhan tekan beton (kg/cm2) Skala : x = 2 : 8.10 9 8 7 frekuensi 6 5 4 3 2 1 0 157.55 181.35 162.

55 169.35 174. OGIVE FREKUENSI Ogive frekuensi adalah suatu bentuk grafik yang merupakan bentuk penyajian distribusi frekuensi komulatif yang digambarkan dengna menghubungkan titik-titik dari frekuensi komulatif dengan memakai garis lurus. masing-masing ditambah satu kelas dengan frekuensi = “ 0/nol “ sehingga poligon frekuensi komulatif dengan memakai garis lurus.95 183. Ogive Frekuensi “kurang dari (<)”hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari engan campuran 1 : 2 : 3 yang dilaksanakan dilaboratorium pengujian bahan Politeknik UI Depok dalam satuan kg/cm2. Contoh : a.75 164.15 178. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 27 .10 9 8 7 159.75 9 frekuensi 6 5 4 3 2 1 0 2 3 6 4 1 keteguhan tekan beton (kg/cm2) Keterangan : Untuk melengkapi poligon frekuensi diawal dan diakhir distribusi frekuensi.

15 keteguhan tekan beton (kg/cm2) b.35 162.75 176.75 176.35 162.35 186.15 166.15 166.95 171. 30 25 25 23 20 frekuensi 20 15 10 5 0 14 5 1 0 157.95 171.15 keteguhan tekan beton (kg/cm2) Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 28 .55 181.55 181. Ogive frekuensi “lebih dari (>)”hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari engan campuran 1 : 2 : 3 yang dilaksanakan dilaboratorium pengujian bahan Politeknik UI Depok dalam satuan kg/cm2.30 25 24 20 25 frekuensi 20 15 10 5 2 5 0 11 0 157.35 186.

4 ( i ) = 360  fi  25 i 1 6  Fri  1  Fri  100% i 1 i 1 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 29 .15 178. Kelas (i) 1 2 3 4 5 6 Tanda Kelas (mi) (Kg/Cm2) 159.4 129.6 57.2 86. ( io ) = Fri x 3600 keterangan : ( io ) = sudut pada kelas I Contoh : Diagram lingkaran hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari engan campuran 1 : 2 : 3 yang dilaksanakan dilaboratorium pengujian bahan Politeknik UI Depok dalam satuan kg/cm2.12 0.6 14.08 0.04 6 Fri (%) 8 12 24 36 16 4 6 α (i) 28.16 0.75 164.75 Frekuensi (fi) 2 3 6 9 4 1 Fri 0.8 43.35 174.55 169.24 0.36 0.95 183.Diagram lingkaran adalah suatu bentuk ddiagram yang berbentuk lingkaran dengan jari-jari yang membagi lingkaran itu menjadi beberapa daerah yang luasnya sesuai dengan frekuensinya. diman luas tersebut tergantung dari besar sudut.

75 (8%) 164.75 (4%) 178.55 (12%) ` 169.15 (36%) Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 30 .95 (16%) 159.35 (24%) 174.183.

Distribusi Frekuensi Relatif adalah pencaran frekuensi yang diperoleh dengan membagi frekuensi tiap-tiap kelas dengan banyaknya data pengamatan Distribusi Frekuensi komulaitf adalah pencaran frekuensi yang merupakan penjumlahan-penjumlahan frekuensi-frekuensi kelas secara berurutan. Nilai variable adalah nilai masing-masing penyelidikan / pengujian. Distribusi Frekuensi Tunggal (DFT) adalah suatu pencaran frekuensi yang menunjukkan tidak adanya pengelompokkan nilai variabel. Distribusi Frekuensi Relatif adalah pencaran frekuensi yang diperoleh dengan membagi frekuensi tiap-tiap kelas dengan banyaknya data pengamatan Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 31 . Variabel Penyelidikan adalah obyek yang diselidiki. Distribusi Frekuensi Bergolong (DFB) adalah suatu pencaran frekuensi yang menunjukkan adanya pengelompokkan nilai variabel dalam satu kelas.RANGKUMAN Distribusi Frekuensi Empiris adalah suatu daftar yang menunjukkan penggolongan kumpulan data diamana termasuk penentuan berapa bilangan yang termasuk ke dalam setiap golongan tersebut. Poligon Frekuensi adalah suatu bentuk grafik yang digambarkan dengan menghubungkan titik-titik tengah dari garis puncak histogram dengan memakai garis lurus.

Distribusi Frekuensi komulaitf adalah pencaran frekuensi yang merupakan penjumlahan-penjumlahan frekuensi-frekuensi kelas secara berurutan. Poligon Frekuensi adalah suatu bentuk grafik yang digambarkan dengan menghubungkan titik-titik tengah dari garis puncak histogram dengan memakai garis lurus. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 32 . Histogram frekuensi adalah suatu bentuk diagram yang terdiri dari persegi panjang dimana setiap persegi panjang tersebut mewakili/ menerangkan/ menggambarkan sebuah kelas dari distribusi frekuensi. diman luas tersebut tergantung dari besar sudut. Ogive frekuensi adalah suatu bentuk grafik yang merupakan bentuk penyajian distribusi frekuensi komulatif yang digambarkan dengna menghubungkan titik-titik dari frekuensi komulatif dengan memakai garis lurus. Diagram lingkaran adalah suatu bentuk ddiagram yang berbentuk lingkaran dengan jari-jari yang membagi lingkaran itu menjadi beberapa daerah yang luasnya sesuai dengan frekuensinya.

3 45. Gambarkan histogram.1 48. Apa yang dimaksud dengan distribusi frekuensi relatif? 5. Apa yang dimaksud dengan distribusi frekuensi komulatif? 6.4 52.4 35.00 Pada Bulan Juli .6 50.6 28.2 36.6 73. Apa yang dimaksud dengan distribusi frekuensi empiris? 2.September 2007 (Dalam Ratusan) 46.2 47.4 38.4 42.9 37.00 S/D 09.2 26.3 40.6 35.7 60.3 57.5 50.3 61.6 44.3 19.7 56.2 45.3 46.7 38. Dibawah ini disajikan Data Volume Kendaraan Pada Ruas Jalan Tol Jakarta-Bogor-Ciawi untuk 50 Hari Kerja Pada Pukul 07. Apa yang dimaksud dengan distribusi frekuensi bergolong? 4.4 47.8 42.1 56. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 33 .4 52.3 42. ogive frekuensi dari distribusi frekuensi diatas.2 63.3.7 35.8 40. Apa yang dimaksud dengan distribusi frekuensi tunggal? 3.8 65.4 76.9 a.4 32. polygon.4 68. diagram lingkaran.0 46. b.8 50.3 58.1 49.1 53.1 57.8 44.5 54.5 25.8 64. Buatlah distribusi frekuensi bergolong. relatif dan komulatif.8 SOAL 1.5 48.1 68.

BAB IV UKURAN-UKURAN DISKRIPTIF DALAM STATISTIK
Sebelum kita melangkah lebih jauh pada ukuran lokasi (Mean, Median, Modus dan sebagainya), mengingat bahwa ukuran lokasi menggunakan operasi penjumlahan, maka diperlukan cara untuk menyajikan penjulahan dalam bentuk symbol atau Notasi Summasi (  ). 4.1 SUMMASI (  ). Misal dalam n pengamatan yang dinyatakan sebagai x1, x2, x3 …….. xn untuk menyatakan jumlah dapat dinyatakan dengan notasi summasi sebagai berikut :

 xi  x
i 1

n

1

 x2  x3  ...  xn

Keterangan :


i n xi

= Operasi Penjumlahan / Summasi = Indeks Summasi = Batas Indeks Summasi = Data Pengamatan ke i

Pembacaan Notasi : Jumlah semua data x dari indeks = 1 s/d n termasuk data ke 1dan data ke n.

Contoh : x1 = 20 ; x2 = 25 ; x3 = 23 ; x4 = 24

x
i 1

4

i

 x1  x 2  x 3  x 4  20  25  23  24  92

Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol

34

Bila

n

pengamatan

masing-masing

dikwadratkan,

maka

bentuk

penjumlahannya adalah sebagai berikut :

x
i 1

n

2 i

 x 1  x 2  x 3  ...  x n
2 2 2

2

Pembacaan Notasi : Jumlah semua data x2 dari indeks = 1 s/d n termasuk data ke 1 dan ke n Contoh : x1 = 4 ; x2 = 3 ; x3 = 5

x
i 1

3

2 i

 x1  x 2  x 3
2 2

2

 4 2  3 2  5 2  50

Contoh-contoh diatas tidak lepas dari aturan-aturan aljabar yang digunakan dalam summasi.

ATURAN-ATURAN ALJABAR DALAM SUMMASI : 1. ATURAN I : Summasi suatu penjumlahan / pengurangan sama dengan jumlah / selisih dari summasi :

 x
i 1

n

i

 yi  zi  

x
i 1

n

i

  yi   zi
i 1 i 1

n

n

BUKTI :

 x
i 1

n

i

 y i  z i   x 1  y i  z i   x 2  y 2  z 2   ...  x n  y n  z n  

x
i 1

n

i

  yi   zi
i 1 i 1

n

n

Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol

35

2. ATURAN II : Summasi perkalian antara variable dan konstanta sama dengan perkalian konstanta dan summasi variable.

 kx
i 1

n

i

 k x i
i 1

n

BUKTI :

 k.x
i 1

n

i

 k.x 1  k.x 2  ...  k.x n  k x1  x 2  ...  x n   k xi
i 1 n

3. ATURAN III : Summasi konstanta sama dengan konstanta dikali dengan jumlah indeks dalam summasi.

C 
i 1

n

n.C

BUKTI

C  C
i 1

n

1

 C 2  ...  C n

 n.C  (n - 1)C  C
4.2 UKURAN-UKURAN LOKASI / HARGA-HARGA TENGAH Ukuran-ukuran lokasi / harga-harga tengah adalah merupakan hargaharga yang dapat menggambarkan distribusi frekuensi pada lokasi/letaknya. Ukuran-ukuran lokasi meliputi : 1. Rata-rata / Mean

Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol

36

Desil dan Persentil 3. Kwartil.... Median.  x n x n atau dapat ditulis : x  x i 1 n i n Apabila terdapat n data pengamatan dimana setiap data frekuensi lebih dari satu. Harmonic Mean 4.f k f 1  f 2  f 3  .. xn .2.f 2  . 1. x3 …….f 1  x 2 .. yaitu : x1 f1. ..2. xk fk maka nilai rata-ratanya : x  x 1 ...1 MEAN / RATA-RATA ( ) Mean / Rata-rata adalah jumlah dari semua data dibagi dengan banyaknya data. Modus 4. Geometric Mean 5.. maka nilai rata-ratanya : x 1  x 2  x 3  .  f k atau dapat ditulis : Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 37 . . x2 f2. MEAN DISTRIBUSI FREKUENSI TUNGGAL Apabila terdapat n data pengamatan yaitu x1.  x k .. x2.

f 2  m 3 ..f k f 1  f 2  f 3  . 2.f i n i Keterangan : Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 38 . Mean di sini hanya merupakan perkiraaan terdekat saja.f 1  m 2 ..  m k . MEAN DISTRIBUSI FREKUENSI BERGOLONG Mean Distribusi Data Bergolong tidak jauh berbeda dengan Distribusi Frekuensi Tunggal.f i i f k  x i 1 k i .f i n 1 x  n Keterangan : x i 1 i .. maka nilai rata-rata Distribusi Frekuensi Bergolong dapat dituliskan x  m 1 .f 3  . hanya nilai xi (nilai variable / data tunggal) diganti / dirubah titik tengah / tanda kelas (mi).f i i 1 k f i 1 k  m i 1 k i .x  x i 1 k i 1 k i .  f k atau dapat ditulis : x   m i . Dimana tanda kelas dianggap mewakili nilai variable-variable yang terdapat pada masing-masing kelas.f i k = Banyaknya data yang terkelompok..

Contoh: Hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3 yang dilaksanakan di Laboraturium Pengujian Bahan Politeknik UI Depok dalam satuan kg / cm2.635 101. fi (Kg/ Cm2) 1 2 3 4 2 5 9 7 185.565 n=Banyaknya Data mi = tanda kelas ke i fi = frekuensi ke i k = Banyaknya Data yang dikelompokkan / Banyaknya kelas.795 Frekuensi (fi) mi .355 110.= Nilai Rata-Rata Kelas (i) Tanda Kelas (mi) (Kg/ Cm2) 92.075 118. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 39 .675 831.775 990.27 506.

f i Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 40 .435 kg cm Cara lain menghitung mean Distribusi Frekuensi Bergolong.235 4 3 30 510.515 136. yaitu dengan cara KODING / ABRITER / TERKAAN x  x0  I.05 30 2  114.f i n i 1 1  .5 6 127.705 3.3433.433.u 1 k   . ui .060 408.05 f i 1 6 i  1 n x   m i . f i n i 1 Pembuktian Rumus : Rumus diatas diambil berdasarkan rumus awal : 1 x  n m i 1 n i .

 f i  I ui .ui ). f i n i 1 1 k   ( x0 . x0 . f i ) n i 1 k 1  k   .ui . x0 . f i  n  i 1 i 1  k k 1    . f i  I.u Keterangan : = Nilai Rata-Rata x0 = Nilai Rata-Rata terkaan yang dipilih secara abriter dengan memilih nilai mi (tanda kelas) dengan asumsi deviasi pada mean terkaan = 0 I ύ n = Interval kelas = Nilai rata-rata penyimpangan / Deviasi = Banyaknya Data pengamatan ύi fi k = Deviasi ke i = Frekuensi ke i = Banyaknya data yang dikelompokkan Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 41 .n  I ui . f i  n  i 1 i 1  k 1    . f i   I.mi  x0  I.ui 1 k x   ( x0  I. xo .ui . f i  n  i 1   x0  I.

Contoh : Hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3 yang dilaksanakan di Laboraturium Pengujian Bahan Politeknik UI Depok dalam satuan kg / cm2.635 101. Apabila data disusun dari nilai terrendah ke tertinggi. 4. Menentukan nilai deviasi masing-masing kelas mulai dari mean terkaan. Menyusun data dalam bentuk Distribusi Frekuensi. Menentukan nilai rata-rata.515 136. Deviasi diaatas mean terkaan diberi tanda minus (-). 3. fi -6 -10 -9 0 4 6 -15  i 1 6 fi  x  x0  I.355 110. Menentukan Mean Terkaan (x0) secara abtriter dari tanda kelas dengan asumsi deviasi pada mean terkaan = 0.075 118.235 Frekuensi fi 2 5 9 7 4 3 30 Deviasi (ui) -3 -2 -1 0 1 2 ui .u Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 42 .795 127. 2. Kelas (i) 1 2 3 4 5 6 Tanda Kelas (mi) (Kg/ Cm2) 92. sedangkan dibawah deviasi terkaan diberi tanda plus (+).Langkah-Langkah Menentukan Mean secara Koding / Abriter / Terkaan : 1.

1 k 1 u  . u i . f i  . 15  0.5 n i 1 30
x  118.795  (0.5).8.72  114.435 kg cm 2
Catatan : Jika :x0 > x0 = x0 < 4.2.2 MEDIAN ( ~ ) x Median adalah nilai yang membatasi 50% Distribusi Frekuensi bagian bawah dengan 50% Distribusi Frekuensi bagian atas, apabila data disusun menurut besarnya. 1. MEDIAN DISTRIBUSI FREKUENSI TUNGGAL Cara menentukan Median Frekuensi Tunggal : 1. Menyususn data menurut besarnya, dari nilai terendah ke tertinggi atau sebaliknya. 2. Menentukan harga yang terletak di tengah-tengah urutan data. Apabila banyaknya data ganjil nilai median merupakan satu nilai yang berada di tengah-tengah. Apabila banyaknya data genap nilai median merupakan data nilai ditengah dijumlahkan dan dibagi dua. Contoh : a. 4, 4, 6, 7, 8, 10, 12, 13, 14 ~ =8 x b. 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11 ~ = (7 + 8)/2 = 7,5 x maka komponen koreksi (ύ) akan (-) maka komponen koreksi (ύ) = 0 maka komponen koreksi (ύ) akan (+)

Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol

43

2. MEDIAN DISTRIBUSI FREKUENSI BERGOLONG Median Distribusi Frekuensi Bergolong dapat ditentukan dari grafik atau diagram salah satunya adalah dengan

menggunakan ogive frekuensi kurang dari : Contoh : Ogive frekuensi “<” Hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3 yang dilaksanakan di Laboraturium Pengujian Bahan Politeknik UI Depok dalam satuan kg / cm2. x = 1 : 8,72 kg / cm2 y = 2:5 f.kom. (f ki) 30 27 25 y

Skala

23

20 E 15 (1/2 n – fkbx2) 10 7 5 2 0 88,275 96,995 105,715 114,435 123,155 131,875 140,595
Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol

C

fx2 A D B

44

Keteguhan tekan beton(kg/cm2) Langkah-langkah menentukan ~ : x 1. Menentukan letak kelas median dengan menentukan 50% frekuensi.  fx = ½ . n = ½ . 30 = 15 Kelas median (105,715 – 14,435) 2. Membuat perbandingan A sebagai interpolasi pada kelas median.

x  Bbnx  AD
 ADE :  ABC

AD AB  AE BC AD I  1 2.n  fkb x fx AD  I (1 2.n  fkb x ) fx

x  Bbn x 
Keterangan : x

I .(1 2.n  fkb x ) fx

= nilai median

Bbnx = Batas Bawah Nyata Kelas Median I N fkbx fx = Interval Kelas = Banyaknya Data Pengamatan = Frekuensi Komulatif Sebelum Kelas Median = Frekuensi Kelas Median

Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol

45

Contoh : x  105.(1 10 .n  fkb D 3 ) f D3 4.n  fkb k 3 ) f k3 4.72(15  7)  113.466 kg cm 2 4.(5 10 .715  8.n  fkb D 1 ) f D1 I .n  fkb D 2 ) f D2 I .n  fkb k 2 ) f k2 I . D 1  Bbn D 1  D 2  Bbn D 2  D 3  Bbn D 3  I .4 DESIL (D) Desil adalah nilai yang membatasi distribusi frekuensi setiap kelipatan 10% apabila data disusun berdasarkan besarnya.(1 4 .2. K 1  Bbn k 1  K 2  Bbn k 2  K 3  Bbn k 3  I .3 KWARTIL (K) Kwartil berdasarkan rumus median adalah nilai yang membatasi setiap kelipatan 25% distribusi frekuensi apabila data disusun berdasarkan besarnya.(9 10 .n  fkb k 1 ) f k1 I .( 2 4 .(3 4 .5 PERSENTIL (P) Persentil adalah nilai yang membatasi distribusi frekuensi setiap 100% apabila data disusun berdasarkan besarnya. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 46 .2.2.

n  fkbP 75 ) f P 75 I .n  fkbP 99 ) f P 99 Modus adalah nilai yang sering timbul dari keseluruhan pengamatan data/ nilai yang memounyai frekuensi tertinggi. 6. 2. 7.P  Bbn P1  1 I . 7.(75 100.(50 100. 9. 7. 9. 10 tidak mempunyai modus sebab masing-masing data mempunyai frekuensi yang sama jumlahnya. 8. 8. 7. 9.n  fkbP 50 ) f P 50 I . 4.(99 100.2. 6.n  fkbP1 ) f P1 I . 6. 6. MODUS DISTRIBUSI FREKUENSI TUNGGAL Contoh : a. 4. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 47 . 7. 8. 7. 5 x = 4 & 7  f = 4 (bimodus/ modus ganda) c. 8. 4. 7. 5. 4. 1.6 MODUS ( x ) I . 7. 5.(1 100. MODUS DISTRIBUSI FREKUENSI BERGOLONG Modus Distribusi Frekuensi Bergolong dapat ditentukan dengan menggunakan histogram frekuensi. 6. 6.n  fkbP 25 ) f P 25 P25  Bbn P 25  P50  Bbn P 50  P75  Bbn P 75  P99  Bbn P 99  ˆ 4. 7.( 25 100. 5 x=7 f=4 b. 4.

275 96.595 x=kelas modus Keteguhan tekan beton (kg/cm2) A D F E B b c G Kelas Modus (105.72 kg / cm2 y = 1:1 y Frek.715 114.435)  x  Bbn x  b  AEB :  CED FE AB  EG CD b ( f  fbx )  x ( I  b) ( f x  fsx ) Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 48 .Contoh: Histogram Frekuensi Hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3 yang dilaksanakan di Laboraturium Pengujian Bahan Politeknik UI Depok dalam satuan kg / cm2.715 – 114.875 140.155 131. (fi) 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 88.435 123. Skala x = 1 : 8.995 105.

x ( y  x) I .715  8.f x  fb x  fs x )  x = nilai modus Bbnx = Batas Bawah Nyata Kelas Modus I fx fbx fsx = Interval Kelas = Frekuensi Kelas Modus = Frekuensi sebelum Kelas Modus = Frekuensi setelah Kelas Modus Contoh :  105.(f x  fb x ) (2. y  b. f x  fbx  fsx )  x  Bbn x  Keterangan : I .(9  5) x   111.( f x  fbx )  ( f x  fbx )  ( f x  fsx )  I .528kg cm 2 [( 2.9)  7  5] Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 49 .x  I .( f x  fbx ) (2.b.70.x b I .

Persentil adalah nilai yang membatasi distribusi frekuensi setiap 100% apabila data disusun berdasarkan besarnya. Data volume kendaraan pada ruas jalan tol jakarta-bogor-ciawi untuk 30 hari kerja pada pukul 07. Median adalah nilai yang membatasi 50% Distribusi Frekuensi bagian bawah dengan 50% Distribusi Frekuensi bagian atas.00 s/d 09. Mean /Rata-rata adalah jumlah dari semua data dibagi dengan banyaknya data.3 RANGKUMAN Ukuran-ukuran lokasi / harga-harga tengah adalah merupakan hargaharga yang dapat menggambarkan distribusi frekuensi pada lokasi/letaknya. apabila data disusun menurut besarnya. Kwartil berdasarkan rumus median adalah nilai yang membatasi setiap kelipatan 25% distribusi frekuensi apabila data disusun berdasarkan besarnya Desil adalah nilai yang membatasi distribusi frekuensi setiap kelipatan 10% apabila data disusun berdasarkan besarnya. Modus adalah nilai yang sering timbul dari keseluruhan pengamatan data/ nilai yang memounyai frekuensi tertinggi 4.4 SOAL 1.00 pada bulan agustus september 2007 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 50 . Sebutkan macam-macam harga lokasi dan jelaskan? 3.4. Apa yang dimaksud dengan harga-harga lokasi? 2.

desil 2 dan persentil 66.Kelas 1 2 3 4 5 6 Tanda Kelas (dalam ratusan) 17 28 39 50 61 72 Frekuensi 1 4 11 7 5 2 a. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 51 . median dan modus. b. Hitung nilai kuartil 3. Hitung nilaimean.

5. Variasi data dari harga tengah idealnya harus kecil. Bila terdapat keseragaman dalam nilai observasi (xi). Deviasi Kwartil 3. Deviasi Rata-Rata (Simpangan Rata-Rata) 4. Range 2. R H L Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 52 . Deviasi Standard (Simpangan Standard ) dan varians. maka variasi tersebut = 0 dan x = x. dengan kata lain nilai A lebih stabil terhadap nilai nya.BAB V UKURAN-UKURAN LOKASI / HARGA-HARGA DEVIASI Rata-rata dari serangkaian nilai-nilai observasi tidak dapat diinterpretasikan secara terpisah dari hasil variasi nilai-nilai tersebut sekitar rata-ratanya.1 RANGE Range adalah selisih antara data dengan nilai variable tertinggi dan data dengan nilai variable terendah dari keseluruhan pengamatan data. maka harga tengah tersebut kurang berguna sebagai nilai yang mewakili atau menggambarkan keadaan datanya. Apabila variasi data terhadap harga tengah terlalu besar. Contoh : x1 A B 60 30 x2 65 90 x3 50 50 x4 60 70 x5 65 60 x6 60 60 A = 360/60 = 60 B = 360/60 = 60 variasi data A 50 s/d 65 variasi data B 30 s/d 90 Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai A lebih kecil variasinya dibandingan B. Macam-Macam Pengukuran Variasi : 1.

maka range banyak sekali digunakan dalam pengawasan kualitas (Quality Control) 5.2 DEVIASI KWARTIL (SIMPANGAN KWARTIL) (dk) Deviasi Kwartil adalah pengukuran variasi atas dasar jarak inter kwartil. Makin kecil jarak tersebut. Karena kesederhanaannya. Jarak antara K1 dan K3 dinamakan Jarak Imter Kwartil. Apabila kita ingin memperoleh pengukuran variasi secara kasar dan cepat. Pengukuran deviasi Kwaril dapat dirumuskan: dk  K 3  K1 2 Keterangan : dk = Deviasi Kwartil K3 = Kwartil 3 K1 = Kwartil 1 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 53 . seluas 50%. tapi hanya mengikut sertakan disperse nilai-nilai observasi (xi) terhadap mediannya (x).Range merupakan pengukuran disperse (variasi) yang paling sederhana. Deviasi Kwartil tidak dipengaruhi oleh dispersi dari seluruh nilai-nilai observasi/pengamatan. Range dapat digunakan. Pengukuran didasarkan pada jarak K1 dan K3. Pengukuran variasi ini tidak membawa pengauh terhadap xi yang terdapat dibawah K1 dan xi diatas K3. makin tinggi tingkat konsentrasi distribusi tengah.

(1 4. .. Penjumlahan deviasi nilai-nilai observasi terhadap x nya. .30  7) 9 2  106..167 kg cm 2 2 dk  dk = 8.532  106.72. xn memiliki rata-rata Maka deviasi nilai-nilai observasi terhadap dapat dinyatakan sebagai (x1 ).167 kg/cm2 terhadap x nya dk digunakan untuk mengukur merata atau tidaknya distribusi pendapatan.109   8.(1 4 . 5.Contoh : K1  Bbnk 1  I . x2. d x Distribusi Frekuensi Tunggal Bila serangkaian nilai observasi x1..725  K 3  K1 2 122..n  fkbk 1 ) f k1 8. 1.3 DEVIASI RATA-RATA ( d x ) Deviasi Rata-Rata adalah harga rata-rata penyimpangan data terhadap rata-ratanya..199 kg cm  105. menjadi :  (x i 1 n i x) Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 54 . (x2 1). nya secara berturut-turut …… (xn n-1)..

sehingga perumusannya. ( x i  x ) n i 1 1 n 1 n  . sebagai berikut : 1 n dx  . Pengukuran seperti ini pada umumnya menitik beratkan pada hasil besar kecilnya deviasi. BUKTI : 1 n dx  . maka pengukuran deviasi atas dasar nilai-nilai absolut. x n i 1 n i 1 1  x  . Mengingat tujuan tersebut.Sedangkan deviasi rata-rata : 1 n dx  . bukan arah deviasi (+ atau -). (x i  x ) n i 1 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 55 .[( n  1)  1].x n x x 0 Tujuan pengukuran deviasi adalah mengukur variasi nilai-nilai observasi dari suatu nilai tertentu ( nya). (x i  x ) n i 1 ternyata rumus ini menjadi nilai dx = 0. x i  .

5 + 1.Contoh : (i) 1 2 3 4 (xi) 24 25 26 27 (xi .5 1 n dx  . (x i  x ) n i 1  1 4 .( x 1  x 2  x 3  x 4 )  1 4.5 0. dx Distribusi Frekuensi Bergolong 1 n dx  .5 + 0.1.( 24  25  26  27)  25.5 .4  1 2.5 0 | (xi .5 1.) .5 4  i 1 4 1 n x  . x i n i 1 x  1 4 .5 0. m i  x  f i n i 1 Keterangan : dx = Deviasi Rata-Rata n = Banyaknya Data Pengamatan / Nilai Observasi k = Banyaknya Kelas / Data yang Dikelompokkan mi = Tanda Kelas ke i x = Rata-Rata fi = Frekuensi ke i Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 56 .) | 1.0.

 mi  x  f i n i 1 1  .52 52. Kelas (i) 1 2 3 4 5 6 6 Tanda kelas (mi) (kg/cm2) 92.296. m i  x  f i n i 1 Rumus tersebut digunakan apabila dengan menggunakan x dapat menghasilkan variasi seminimal mungkin.| .515 136.6 65.235 Frekuensi (fi) 2 5 9 7 4 3 30 |mi .36 110.795 127.48  i 1 = 114.32 65.4 39.635 101. karena hasil pengukuran d Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol .075 118.Contoh : Hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3 yang dilaksanakan di Laboraturium Pengujian Bahan Politeknik UI Depok dalam satuan kg / cm2.466 kg / cm2   rata-rata median dx  1 n .24 30. d merupakan pengukuran variasi yang lebih baik dibandingkan R atau mencerminkan variasi tiap-tiap nilai 57 dk.4 296.fi (kg/cm2) 43.883kg cm 2 terhadap x 30 dalam kondisi tertentu dapat dihitung terhadap median distribusi sehingga dapat dirumuskan : dx  1 n .48  9.435 kg / cm2 x= 113.

bila penjumlahan dilakukan terhadap (xi maka rata-rata hasil penjumlahan diatas tidak akan = 0 1 n .4 STANDARD DEVIASI DAN VARIASI Penggunaan nilai-nilai absolut bagi pengukuran variasi tidak )2 . (x i  x ) 2 n i 1 rata  perumusan ini dinamakan deviasi kwadrat rata- KARL PERSON menamakannya pengukuran Varians dan dirumuskan sebagai berikut : 1 n S  . 5. nya bukan hanya tergantung pada nilai-nilai Tetapi rata-rata deviasi secara absolute tanpa menghiraukan tanda-tanda (+) atau (-) menyulitkan manipulasi secara mateatika. Berdasarkan rumus dari d .observasi dari nilai ekstrim. (x i  x ) 2 n i 1 2 Untuk penyimpangan standard / deviasi standard merupakan akar varians : 1 n S . Untuk itu sebagai sarana untuk menetukan deviasi yang lebih baik digunakan standart deviasi dan variasi. (x i  x ) 2 n i 1 Keterangan : S2 = Varians S = Standard Deviasi n = Banyaknya Nilai Observasi / Data Pengamatan xi = Nilai Observasi ke i Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 58 . memungkinkan manipulasi secara matematis.

20 beton uji sudah cukup dapat memberikan gambaran yang representatif dari keteguhan karakteristik. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 59 . (x i  x ) 2 n i 1 2 1 n S . Hal ini adalah didasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut : 1.= Nilai Rata-Rata 1. Bahwa pada pangujian mutu dari beton. artinya diantara 20 hasil pemeriksaan berturut-turut hanya ada boleh 1 hasil yang tidak memenuhi syarat. ( xi  x ) 2 n  1 i 1 Di dalam peraturan beton bertulang Indonesia 1970 ditetapkan bahwa keteguhan karakteristik dari beton ditentukan dengan n = 20 buah benda uji. 20 benda uji adalah jumlah terkecil dengan mana secara tepat dapat diperhitungkan adanya hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi syarat (qi) = 5% yaitu 5% x 20 = 1. 2. S dan S Distribusi Frekuensi Tunggal Data populasi 2 1 n S  . ( xi  x ) 2 n  1 i 1 2 S 1 n . (x i  x ) 2 n i 1 Data Sampel 1 n S  .

Dengan menghilangkan nilai rata-rata : Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 60 . Bentuk Lain Rumus S2 dan S Distribusi Frekuensi Tunggal : a. (n-1) biasa disebut dengan derajat kebebasan.Dengan Rumus: n 1 S  . (x i  x ) 2 (n  1) i 1 Alasan menggunakan pembagian (n-1) bukan n adalah agar varians tidak kabur. ( xi  x ) 2 (n  1) i 1 2 n 1 S .

n.x  xi  [( n  1)  1].x 2 2 i 1 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 61 .x 2 2 i 1 n i 1   xi  2 x. ( xi  x ) 2 (n  1) i 1 2 S . x 2 2 i 1 n i 1 n   xi  2.x 2 2 i 1 n   xi  n.x  xi   x 2 2 i 1 n i 1 n i 1 n n   xi  2.x 2 2 i 1 n   xi  2n.x  xi  n.( n  1)   ( xi  x ) 2 2 i 1 n n   ( xi  2 x.x  n.n 1 S  .xi  x 2 ) 2 i 1 n   xi  2.x 2  n.

[ xi ] n i 1 i 1 n 1 1 n 2 2 S  . Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 62 .[ xi  . xi ] n i 1 i 1 n 1 n 2 2   xi  .( xi )2 ] (n  1) i 1 n i 1 n b.[  x i  .1 n 2   xi  n.(  x i ) 2 ] (n  1) i 1 n i 1 2 S  n 1 1 n 2 .[ xi  .[ .[  x i  .(  x i ) 2 ] (n  1) i 1 n i 1 Keterangan : X0 = Titik Asal Deviasi Secara Abriter Dari Data xi Contoh : Evaluasi pengukuran lebar block kayu yang akan digunakan sebagai test kekuatan tekan  serta dalam satuan cm.( xi )2 ] (n  1) i 1 n i 1 2 n 1 1 n 2 S . Dengan menggunakan titik asal deviasi secara abriter / terkaan / koding n 1 1 n 2 S  .

648cm 10 S   Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 63 .24 0 7.6 13.5 -1.29 15.2 -1.5 -6.6 1.4 13.3 (xi–x01) 2 (cm2) 0.76 184.3969 0.69 (xi–x01) (cm) 0.27.7161 2 cm 10 1 n 1 n 2 .56 193.25 7.65 (xi–x02) (cm) 1.[  x i  .21 0.7 16.44 2.5 -18.7 (xi . Dengan Rumus 1 : x  1 n .29 285.9 0.5369 0.)2 (cm) 6.4489 27.36 1.3 (xi–x01) 2 (cm2) 3.77cm 10 2 S 1 n 1 n 2  .29 153.96 237.6169 1.5 -2. x i n i 1 1  .61 9 3.9 -3 -1.7 -3.16 219.147.25 1.6 15.9 12.9 14.4 14.0009 3.2849 4.3 12.49 17.09 6.04 275.7 1.1 1.44 3.3489 0.2 -3 -1.61 198.27.8 0 -2.161 xi 2 (cm2) 299.81 2208.7569 4.2 -1.161  2.3 -2.25 60.8 0 0.1 147.7 -4.(  x i ) 2 ] n i 1 n i 1 1 .7  14.8 16.24 0 0.[  x i  .69 31.3689 0.21 161.64 9 1.(  x i ) 2 ] n i 1 n i 1 1  .lebar (xi) (cm) 17.29 2.4009 5.161  1.

648cm 3.[ (x i  x o 1 )  .147.3) 2 ]  1.[ 2208.7) 2 ]  1.3) 2 ]  2.[60. (mi  x ) 2 .69  1 10 . Dengan Rumus 3 : 1 n 1 n 2 S  .( 18.65  1 10 .7 2 ]  2. f i n i 1 1 n .[60.( 18..(147.[ (x i  x o 1 ) 2 ]] n i 1 n i 1 1  . Dengan Rumus 2 : 1 n 2 1 n S  . (mi  x ) 2 .[60.(  xi ) 2 ] n i 1 n i 1  1 10 .65  1 10 .[ (x i  x o 1 )  .. f i n i 1 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 64 .(  xi ) 2 ] n i 1 n i 1 2  S 1 .648cm 10 2. S2 dan S Distribusi Frekuensi Bergolong Data Populasi S2  S  1 n .7161 2 cm 10 2 S   1 n 1 n 2 .[  xi  .7161cm 2 10 1 n 2 1 n .65  1 10 .2.[  xi  .[  (x i  x o 1 ) 2 ]] n i 1 n i 1 1 .

 (m i  x ) 2 . ui .f i n  1 i 1 n 1 .Data sampel S 2 n 1  . Yaitu Dengan Cara KODING / ABRITER / TERKAAN : x  x o  u .I 1 k u  . (m i  x ) 2 .f i n  1 i 1 S  Keterangan : S2 = Varians S = Standard Deviasi n = Banyaknya Data Pengamatan / Nilai Observasi mi = Tanda Kelas ke i x = Nilai Rata-Rata fi = Frekuensi ke i k = Banyaknya Data yang Dikelompokkan Bentuk Lain S2 dan S Distribusi Bergolong. f i n i 1 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 65 .

f i ]. (mi  .x )  ( x o  u i .(u i  .1 k x  xo  [ .I 1 k S  .I )  ( x o  u i .I ) 2  (u i .(u i  u ) 1 k (mi  x )  I .I )  (u  I )  I . u i . f i n i 1 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 66 .x ) 2 f i n i 1 (mi  . u i .I n i 1 mi  xo  u i .

I 2 .f i n  1 i 1 n i 1 k 1 1 k 2  .U i .I .f i  . Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 67 .f i  n .Disubtitusikan ke rumus S2 S2   1 k . .x )f i n i 1 1 k 2 1 k .f i ) 2 ] n 1 n i 1 i 1 Contoh : Hasil pemeriksaan kekuatan tekan beton ( benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2 : 3 yang dilaksanakan di Lab Uji Bahan Politekik Negeri Jakarta. .f i ) 2 ] n 1 n i 1 n i 1 i 1 k 1 1 k 1 k 2 .f i ) 2 ] n 1 n i 1 n i 1 i 1 k 1 1 k 2 .I 2 .( U i .U i . I .U i .[ U i .U i .I . (U i  .f i  2U i .I 2 . (m i .f n 1 n i 1 i 1 k 1 1 k 1 k 2 2  .f i  .f i ) 2 . dalam satuan kg / cm2 .[ U i .I 2 .U i .f i .[ U i . .f i ) 2 . [U i .( .f i  .( U i .f i ) 2 ] n 1 n i 1 n i 1 i 1 k 1 2 k 1 k 2 .( U i .f i ) 2  n .f i  2U i .f i ) 2 ] n 1 n i 1 i 1 k 1 1 k 2 .f i  .( .f i n 1 n i 1 n i 1 i 1    S2  S  k 1 1 k 1 k 2 .f i  f i .( .(U i  . (U i  2U i .U i .U i .U i .U i .I 2 .f i .f i ) 2 .[ U i .

515 136.U i .355 101.635 101. fi 18 20 9 0 4 12 63  i 1 6 Keteguhan tekan beton Rata – rata (’ bm) = x  bm  xo  u .435 kg cm 2  bm Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 68 .( 15)  0.72  114.I 1 k u  .5 30 x  118. f i n i 1 1  .3456 1425.0864 133.48 855.)2 .fi -6 -10 -9 0 4 6 -15 ui2 .795 127.72 4220.075 118.235 frek (fi) 2 5 9 7 4 3 (mi .1312 ui -3 -2 -1 0 1 2 ui .5).432 171. fi (kg / cm2) 950.0672 684.8.kelas (i) 1 2 3 4 5 6 tanda kelas (mi) (kg/cm2) 92.795  (0.

 (mi  x ) 2 f i n  1 i1 1 .4220. Menggunakan Rumus 2 S2  k 1 1 k 2 .(8.f i ) 2 ] n 1 n i 1 i 1 S   1 1 .1312  145.( 15) 2 ] 30  1 30 2  145.(8.I 2 .7) 2 .52177kg cm 2 30  1 2 S  1 k . (mi  x ) 2 f i n  1 i1 1  .f i  .1312  12.( 15) 2 ] 30  1 30  12.( U i .f i  .603kg cm 2 30  1 2.[63  .7) 2 .f i ) 2 ] n 1 n i 1 i 1 1 1  .603 kg cm 2 Setelah ’ bm dan S didapat.I .STANDAR DEVIASI (S) 1.(U i . dapat ditentukan ’ bk (keteguhan tekan beton karakteristik ) Di Indonesia didalam symposium Beton bulan Januari 1970 dan didalam seminar ke II Tertib Pembangunan Bulan April 1970 telah dsisepakati untuk mengikuti jejak dari CEB ( Praktische Richtlynen Voor de Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 69 .4220. Menggunakan Rumus 1 1 k S  .[63  .52177kg cm k 1 1 k 2 2 .[ U i .[ U i .

591kg cm 2 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 70 .d ) Dimana possibility ( = risk) terjadinya keteguhan yang kurang dari harga karakteristik (qi ) terbatas pada 5% (qi = 5%) saja dengan zi = 1.645 . Beton Vereniging. Den Haag 1966.645. deviasi standard adalah S dan loefisien Variasi adalah  .Berekening En Uitvoering Van Gewapend. Maka ketguhan tekan karakteristik beton ditentukan oleh persamaan ’ bk ’ bk = ’ bm – 1.645 . CONTOH 2 :  bk   bm  1.Beton Konstructies “.1.435  1. keteguhan tekan rata – rata dari sejumlah besar hasil pemeriksaan adalah ’ bm .S  114.645 (nilai konstanta karena kemungkinan terjadi keteguhan tekan beton kurang dari harga karakteristik / besaran random).12.063  94.S = ’ bm – ( 1.645. Apabila harga limit dari keteguhan tekan atau dikenal dengan keteguhan tekan karakteristik kita menyatakan dengan ’ bk .

maka rata-rata hasil 1 n S  . (x i  x ) 2 n i 1 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 71 . Range 2. Deviasi Kwartil 3. Deviasi Standard (Simpangan Standard ) dan varians. bila penjumlahan dilakukan terhadap (xi penjumlahan diatas tidak akan = 0 Pengukuran Varians dan dirumuskan sebagai berikut : )2 .RANGKUMAN Macam-Macam Pengukuran Variasi : 1. Deviasi Rata-Rata (Simpangan Rata-Rata) 4. Range adalah selisih antara data dengan nilai variable tertinggi dan data dengan nilai variable terendah dari keseluruhan pengamatan data. Deviasi Kwartil adalah pengukuran variasi atas dasar jarak inter kwartil. (x i  x ) 2 n i 1 2 Untuk penyimpangan standard / deviasi standard merupakan akar varians : 1 n S  . Standard deviasi dihitung berdasarkan Berdasarkan rumus dari d . Pengukuran didasarkan pada jarak K1 dan K3.

deviasi rata-rata. Hitung deviasi kuartil distribusi frekuensi diatas. Hitung deviasi rata-rata distribusi frekuensi diatas. c. Sebutkan macam-macam ukuran variasi? 2.00 s/d 09.00 pada bulan agustus september 2007 Kelas 1 2 3 4 5 6 Tanda Kelas (dalam ratusan) 17 28 39 50 61 72 Frekuensi 1 4 11 7 5 2 a. Apa perbedaan standard deviasi populasi dan sampel? Jelaskan! 4. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 72 .6 SOAL 1. deviasi kuartil dan standard deviasi? 3. b. Data volume kendaraan pada ruas jalan tol jakarta-bogor-ciawi untuk 30 hari kerja pada pukul 07.5. Apa yang dimaksud dengan range. Hitung standard deviasi dan varians distribusi frekuensi diatas.

Mean = median = modus Jika terjadi distribusi tidak simetris atau skued maka ada 2 (dua) kemungkinan yaitu : 1. Pada distribusi simetris nilai mean. MOMEN DAN KURTOSIS Skunes berasal dari kata ketidaksimetrian atau tidak simetris suatu distribusi.1 DISTRIBUSI SKUED POSITIF Yang dimaksud dengan distribusi skued positif adalah jika niali mean terbesar. nilai modus yang terkecil dan nilai median berada diantara nilai harga mean dan nilai modus. Skued negatif 6. median dan modus adalah sama dan membentuk satu garis. Dalam hal ini distribusi yang tidak simetris disebut sebagai distribusi skued. Dengan kata lain : Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 73 . Skued positif 2.BAB VI SKUNES.

DISTRIBUSI SKUED NEGATIF Yang dimaksud dengan distribusi skued negatif adalah jika nilai modus terbesar sedangkan nilai mean yang terkecil. sedangkan nilai median berada diantara modus dan mean Mean < median < modus Modus Median Mean Untuk mudah diingat skued negatif jika ekor dari kurva landai ke arah kiri. Informasi ini diberikan oleh skunes. tetapi masih tetap berbeda di dalam formasinya. Hasil perhitungan skunes akan memberi informasi yang biasanya merupakan pengganti hasil perhitungan tendensi sentral dan dispersi yang tidak gagal. Dua distribusi dapat saja memberikan harga mean dan deviasi standard yang sama. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 74 .Mean > median > modus Modus Median Mean Untuk mudah diingat distribusi skued positif adalah jika ekor dari kurva landai ke arah kanan.

skued positif. Kuartil tidak berjarak sama dari median. mean > modus 3. mean = modus 2. distribusi simetris.6. Frekuensi modus pada kedua sisi tidak sama.3 PENGUJIAN SKUNES Skunes ada di dalam distribusi jika memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut :Nilai dari harga mean. mean < modus Koefisien Skunes = mean  mod us Sd Jika modus sulit ditemukan pada distribusi frekuensi tertentu.1 KOEFISIEN SKUNES KARL PEARSON Cara menghitung koefisien skunes menurut Karl Pearson didasar pada fakta bahwa pada : 1. skued negatif. Ini berarti jika dibagi dua bagian ditengah-tengah akan menghasilkan kurva yang tidak sah. yang mana adalah : (K3 – Med) tidak sama dengan (Med – K1) Jumlah median deviasi positif tidak sama dengan jumlah median deviasi negatif. maka dapat digunakan rumus modus empiris untuk rumus diatas : Modus empiris = 3 median = 2 mean Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 75 .3. median dan modus tidak berdempetan. 6. Jika nilai – nilai itu digambarkan pada kertas grafik tidak membentuk kurva distribusi normal yang berbentuk seperti bel.

Koefisien Skunes = mean  mod us mean  3median  2mean = Sd Sd = 3mean  3median 3mean  median = Sd Sd Koefisien Skunes = 3(mean  median) Sd Hasil perhitungan Koefisien Skunes dengan menggunakan cara ini akan memberikan kuantiats nilai dan arah dari skunes yang diberikan di dalam distribusi. Untuk nilai distribusi simetris koefisien skunes = 0. Secara praktis nilai dari koefisien ini akan berada pada nilai -1 (skued negatif) dan +1 (skued positif). yang dinyatakan sebagai berikut : ( X1  X ) µr = i 1 n r n (X  X ) = n r Dengan r = 1.3. 6. Momen dari suatu distribusi adalah perhitungan menengah dari variasi pangkat deviasi cacah yang berupa bilangan.2. momen ke r di sekitar harga rata-rata di beri lambing µr.Dengan demikian maka .4 MOMEN Momen adalah suatu perangkat yang digunakan untuk melakukan penelitian dalam statistik. yaitu untuk mempelajari distribusi statistik skunes dan kurtoris. Untuk data dalam bentuk deretan individu.… Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 76 .

µr = = (X  X ) n 2 Pada dasarnya µ2 adalah Standard Deviasi pangkat dua (Sd2) atau = Varians. pada dasarnya belum diperoleh gambaran lengkap dari distribusi yang diberikan. maka.5 KURTOSIS Untuk suatu distribusi walaupun sudah dapat ditentukan tendensi sentral. Kurtosis dapat memberi gambaran tinggi rendahnya bentuk kurva normal atau distribusi normal apakah itu berbentuk seperti lonceng ataukah landai seperti bukit. sehubungan dengan ini KarPearson memberi koefisien ß2. Dari definisi maka : µ1 = (X  X ) = 0  0 = n n Oleh karena penjumlahan cacah deviasi rata-rata adalah selamanya = 0.Dimana x1. 6. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 77 .x3. Pada kenyataannya masih diperlukan satu lagi perhitungan yang menurut Karl Pearson disebut sebagai Kurva Flatness atau Kurva Convexity atau Kurva Kurtosis. …xn adalah nilai kuantitas variable yang memenuhi persamaan diatas. Untuk dalam bentuk distribusi frekuensi digunakan hubungan sebagai berikut : µr =  fi( X 1  X ) i 1 n r n  fi( X  X ) = n r Dimana fi adalah frekuensi dari (1 < I < n) Jika nilai variable diketahui dalam bentuk kelas maka titik menengahnya diambil sebagai variable (x).Dengan demikian untuk setiap distribusi µ2 = Varians. x2. dispersi dan skunes. Untuk setiap distribusi µ1 = 0.

Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 78 .Leptokurtik ß2 > 3 Normal (Mesokurtik) ß2 = 3 Platikurtik ß2 < 3 Koefisien kurtosis = ß2 = ( m4/m22 ) Dimana : m4 = momen 4 m2 = momen 2 Pengujian normalitas data dengan koefisie kurtosis persentil dihitung dengan rumus : K= Dimana = K3 = kuartil ketiga K1 = Kuarti kesatu P10 = Persentil kesepuluh P90 = Persentil ke – 90 Kriteria : !/ 2( K 3  K1) P90  P10 Jika K = 0.263 atau mendekati 0263 maka datanya berdistribusi normal atau mendekati distribusi normal.

sedangkan nilai median berada diantara modus dan mean Koefisien Skunes = 3(mean  median) Sd Momen adalah suatu perangkat yang digunakan untuk melakukan penelitian dalam statistik. nilai modus yang terkecil dan nilai median berada diantara nilai harga mean dan nilai modus. Distribusi skued positif adalah jika niali mean terbesar.6. Kurtosis dapat memberi gambaran tinggi rendahnya bentuk kurva normal atau distribusi normal apakah itu berbentuk seperti lonceng ataukah landai seperti bukit.6 RANGKUMAN Skunes berasal dari kata ketidaksimetrian atau tidak simetris suatu distribusi. Distribusi yang tidak simetris disebut sebagai distribusi skued. sehubungan dengan ini KarPearson memberi koefisien ß2 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 79 . Distribusi skued negatif adalah jika nilai modus terbesar sedangkan nilai mean yang terkecil. yaitu untuk mempelajari distribusi statistik skunes dan kurtoris.

Apa yang dimaksud dengan distribusi skued? 2. Data volume kendaraan pada ruas jalan tol jakarta-bogor-ciawi untuk 30 hari kerja pada pukul 07. Hitung koefisien skunes distribusi frekuensi diatas. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 80 .7 SOAL 1. Bagaimanakah gambaran bentuk kurva normal dari distribusi frekuensi diatas. b.00 s/d 09. Bagaimanakah hubungan antara mean.00 pada bulan agustus september 2007 Kelas 1 2 3 4 5 6 Tanda Kelas (dalam ratusan) 17 28 39 50 61 72 Frekuensi 1 4 11 7 5 2 a.6. median dan modus pada distribusi skued positif dan skued negatif! 3.

Distribusi Normal atau Distribuai Gauss ditemukan oleh Gauss dan dipublikasikan tahun 1809 hingga sekarang. Apabila variable itu mempunyai fungsi probabilitas yang berbentuk :  f .(x i ).(x .e  f . i ).718 = 3.dx i  2 .dx i  1  1 S 2 .S 2 2 2 ( x i .x ) 11 S . S .x ) 2 Keterangan : xi = nilai variable ke i S2 = variansi S = standard deviasi = nilai rata-rata e  = 2.14 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 81 .e 2 . Suatu variable random kountinu xi dikatakan berdistribusi normal dengan mean 2 dan varians S .( x i . Didalam matematik statistik dikenal berbagai fungsi distribusi hasil pemeriksaan. oleh sebab itu fungsi tangga tersebut direalisasikan menjadi fungsi teoritis menurut suatu persamaan matematik tertentu. dimana fungsi Distribusi Normal adalah yang sering digunakan.BAB VII DISTRIBUSI NORMAL Histogram seperti ditunjukan dalam contoh-contoh terdahulu tidak memberikan kesempatan pada kita untuk dapat mengadakan interprestasi secara seksama. Distribusi normal merupakan hukum probabilitas yang mendasari semua Variable Kontinu.

5. Luas bagian-bagian kurva normal merupakan dapat dihitung dengan menghitung harga integral f (xi) dalam batas harga-harga x.( x i ).Jika fungsi probabilitas itu digambar. 3. yaitu harga sumbu x dengan kurvanya. 2 Luas bagian kurva normal antara xi = a dan xi = b atau probabilitas harga x antara a dan b yang dapat ditulis P (a  x  b). sebagai berikut : 1.  S. adalah: Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 82 . .dx i  2 . .x ) 2 11 S .e adalah:  f . 4. Harga Modus. maka kita peroleh grafik yanng dinamakan kurva normal. Misalnya luas kurva normal seluruhnya. S . Kurva normal simetris terhadap sumbu vertikal melalui Kurva normal mempunyai titik belok pada x = Kurva normal memotong sumbu mendatar secara ASIMITOSIS. seperti dibawah ini : f (xi) 100 % xi Dengan memperhatikan kurva kita peroleh sifat-sifat kurva. maksimum terletak pada x = 2. Luas daerah diantara kurva normal dan sumbu mendatar = 1 atau 100% (secara singkat dikatakan luas kurva normal = 1) Luas bagian-bagian kurva normal merupakan harga probabilitas . yaitu luas antara x = . yang akan mendapatkan harga xi yang membatasi luas bagian itu. dan x =  (x i .

435 kg/cm2 S = 12.P . yaitu dengan menggunakan tabel luas kurva normal standard yang mempunyai S = 1 atau disebut “Distribusi Normal Standard ” Apabila suatu kurva normal dengan  0 dan S  1 untuk menggunakan = 0 dan tabel (Tabel A) maka skala kurva normal xi harus diubah menjadi skala zi (besaran random variable tidak berdimensi yang mengikuti distribusi normal dari GAUSS dengan x = 0 dan S = 1).063 kg/cm2 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 83 . sebagai berikut: f (xi) a b xi Integral ini selalu dapat dihitung dengan x dan S diketahui. Maka untuk itu ditemukan suatu cara lain yang lebih mudah. Rumus : zi  xi x S z dapat dilihat di tabel A Contoh : = 114. Tetapi menghitung P (a  x  b) dengan cara integral fungsi diatas tidak praktis. (a  x  b) =  b a f (xi) . dxi Kurva normalnya.

063 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 84 .20 S 12.72% Pb = 0.063 P (100  xi  120) kg/cm2 = Pa + Pb Za   a  x 100  114.435   0. 435 S = 12.063 = 17.435   1.1772 2. 435 S = 12. Pa Pb x a=120 b=135 xi kg/cm2 = 114.Pa Pb x a = 100 b = 120 xi kg/cm2 = 114.49% Zb   b  x 120  114.46 S 12.3849 = 38.063 Pa = 0.

435   1.54 % Pb = 0.72 % = 27.063 = 17.063 = 45.Pb Zb   b  x 135  114.20 S 12.54 % .49 % = 11.38.063 P (xi  100) kg/cm2 = 50 % .P (120  xi  135) kg/cm2 = Pa . Pa a = 100 x = 114.3849 = 38.1772 P (120  xi  135) = 45.435   1.49% P (xi  100) = 50 % .Pa xi kg/cm2 Za   a  x 100  114. 435 S = 12.063 Pa = 0.82 % 3.70 S 12.72% Pa = 0.46 S 12.51% Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 85 .17.435   0.4554 Za   a  x 120  114.

49 % 7.20 S 12. .4.063 P (xi  100) kg/cm2 = 50 % + Pa xi kg/cm2 Za   a  x 100  114.3849 P (xi  100) = 50 % + 38. Pa a = 100 x = 114.1  1 2 .e S S f (x i )  Y  2 yi = Dapat Dilihat Pada Tabel B I = Interval Kelas Lengkung Distribusi Normal : Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 86 .x ) 2 1 . 435 S = 12.435   1.1 CARA MEMBUAT LENGKUNG DISTRIBUSI NORMAL Garis lengkung yang menggantikan suatu histogram dinyatakan dengan persamaan (x i .063 = 38.49 % = 88.49% Pa = 0.

zi yi Yi = I / S . Sehubungan bentuk lengkung distribusi normal adalah simetris. yaitu untuk zi positif atau negative.f (xi) = Yi = I / S . yi xi = .zi . xi = S 0 0.5 1 1. semakin kecil interval zi semakin kecil teliti lengkung distribusi normal. diambil dengan interval yang sama.zi . yi = Ordinat dari fungsi distribusi normal dalam urutan absis ke i Yi = Dimulai dari 0 dan seterusnya. yi Keterangan : zi = Besaran random variable tak berdimensi yang mengikuti distribusi normal dan GAUSS dengan i. S xi = . maka dalam pembuatan legkung distribusi normal cukup dihitung ordinatnya ½ bagian.5 2 . = 0 dan S = 1 dalam urutan absis ke Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 87 . S Menentukan ordinat lengkung Distribusi Normal dari Histogram yang diketahui.zi .

561 144.063 kg/cm2.5 1 1.01 114.04 Y6 = 8.72 / 12.063 = 138. 12. 0.05 0.352 = 0.25 zi 0 0.5 yi 0.5925 0.593 keteguhan tekan beton (kg/cm2) Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 88 .1295 0.435 + 0.25 0. 0.72 / 12.561 ’ b6 = 114.467 126.063 = 114.054 = 0.352 0.0175 = 0. S=12.063 = 120. 12.435 + 2. 0. 0.498 132.=114.063 . ’ bi =T’bm + zi .5 2 2.5 .09 Y5 = 8.242 = 0.063 = 126.04 0.72 / 12.15 0.1295 = 0.72 / 12.063 = 132.435 + 0 .063 = 144.435 120.063 .399 0.4665 ’ b3 = 114.30 0.5295 ’ b5 = 114.054 0.435 ’ b2 = 114.20 0.017 0.435 + 1.5 .29 Y2 = 8. 12.063 . 0.72 / 12.498 ’ b4 = 114.435 + 2 . 12. 12.530 138.435 + 1 .242 0.01 frekuensi 0. 0.10 0.72 / 12. 435 kg/cm2.063 .399 = 0.25 Y3 = 8. 12. S (kg/cm2 ) ’ b1 = 114.720 kg/cm2 Contoh : ’ bi = xi Lengkung Distribusi Normal dan Histogram hasil pemeriksaan keteguhan tekan beton (benda uji kubus sisi 15 cm) sesudah 28 hari dengan campuran 1 : 2: 3 yang dilaksanakan di laboraturium Pengujian Bahan Politeknik UI dalam satuan kg/cm2.17 Y4 = 8.063 .0175 Yi = I / S .063 . I=8. yi Y1 = 8.09 0.00 0.29 0.5 .

645 (dari tabel C). S qi Nilai zi = 1. Pi (’ bki  ’ bi  ’ bka) kg/cm2 = Pki + Pka  b ki   b m  z i . dimana zi = 1.12.591kg cm 2  b ki   b m  z i .05 % Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 89 .063 Pki = 0. Pki Pka Pi qi ’ bki = ’ bm – zi . S .59  ’ bi  134.Kalau dikembalikan lagi pada rumus keteguhan tekan beton karakteristik ’ bk = ’ bm – zi . S x = ’ bm qi = ½ .645 disebabkan resiko terjadinya keteguhan tekan beton yang kurang dari harga karakteristik q = 5 %. maka prosentasi jatuhnya hasil pemeriksaan Pi = 90 %.4505 = 45.S  114.591 114.063  94.435  1.S  114.063  134. (100 – Pi) ’ bka = ’ bm + zi .645 S 12.279) kg/cm2 = Pki + Pka z ki    b ki   b m 94.645.645  12.279 kg cm 2 Pi (94.435  1.435   1.Luas antara lengkung Distribusi Normal dengan garis ’ bi = 1 atau 100%.

063 Pka = 0.05%  90.x ) 2 1 .2791 114.10%  90% q i  1 2 .z ka    b ka   b m 134.279) kg/cm2  45.05%  45.435   1.1  1 2 .2 RANGKUMAN Distribusi normal merupakan hukum probabilitas yang mendasari semua Variable Kontinu.05 % Pk i  Pk a Pi (94.4505 = 45. i . Garis lengkung yang menggantikan suatu histogram dinyatakan dengan persamaan (x .e S S f (x i )  Y  2 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 90 .(100  Pi )%  1 2 .59  ’ bi  134.(100  90)%  5% 7. Suatu variable random kountinu xi dikatakan berdistribusi normal dengan mean dan varians S2.645 S 12.

7.00 pada bulan agustus september 2007 Kelas 1 2 3 4 5 6 Tanda Kelas (mi) (dalam ratusan) 17 28 39 50 61 72 Frekuensi 1 4 11 7 5 2 c.3 SOAL 1.00 s/d 09. Gambarkan distribusi normal dari distribusi frekuensi diatas. Apa yang dimaksud dengan distribusi normal? 2. Hitung persentase distribusi (xi < 60) (xi > 60) (30>xi > 60) Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 91 . Data volume kendaraan pada ruas jalan tol jakarta-bogor-ciawi untuk 30 hari kerja pada pukul 07. Bagaimanakah cara membuat distribusi normal? 3. d.

3. Satu variable predictor dan satu variable kriterium disebut analisis regresi tunggal 2. Contoh nyata dari hubungan tersebut dalam kehidupan sehari – hari antara lain : 1. Produktifitas kerja dalam taraf tertentu tergantung pada efisiensi dan efektivitas kerja. 2.BAB VIII ANALISIS REGRESI Salah satu tujuan analisa data ialah untuk memperkirakan /memperhitungkan besarnya efek kuantitatif atau hubungan dari perubahan suatu variable lainnya. Variabel Bebas : yang mempengaruhi → Independent variable/variable predictor → lambang “x” 2. sedangkan besarnya pengaruh x dan y diukur dengan koefisien regresi. Besarnya biaya perawatan kendaraan sebagai akibat dari banyaknya kilometer yang sudah dijalani. Lebih dari satu variable disebut analisis regresi ganda Fungsi analisis regresi Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 92 . Berdasarkan contoh diatas terlihat mana : 1. Hubungan yang diperoleh antara variablevariable tesebut dinyatakan dalam persamaan matematik yang dinyatakan hubungan fungsional Hubungan fungsional antara : 1. Banyaknya perjalanan perhari yang dilakukan suatu rumah tangga sebagai akibat dari pemilikan kendaraan dan jumlah orang dewasa di dalam rumah tangga tersebut. Variable terikat → yang dipengaruhi → dependent variable/variable kriterium → lambang ”y” Untuk membuat ramalan (forecasting) x dan y diukur dengan suatu nilai yang disebut koefisien korelasi.

Bila harga b positif → variable y akan mengalami kenaikan atau pertambahan Bila harga b negatif → variable y akan mengalami penurunan 8. Untuk mendapatkan hubungan fungsional antara dua variable atau lebih atau untuk mendapatkan pengaruh antara variable predictor terhadap variable kriterium.1 PERSAMAAN ANALISIS REGRESI Dalam statistika untuk unutk menyimpulkan data populasi biasanya digunakan data sampel.x ˆ ya Ŷ (baca ye topi) = variable kriterium X = variable predictor a = bilangan konstan b = koefisien arah regresi linier Koefisien arah regresi dinyatakan dengan huruf b yang juga menyatakan perubahan rata-rata variable y untuk setiap variable x sebesar satu bagian. Data digambarkan dengan sumbu datar → x dan sumbu tegak → y. Untuk meramalkan pengaruh variable predictor terhadap variable kriterium 8. sebaliknya regresi x atas y Dimana : b. Bentuk regresi diperkirakan berdasarkan Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 93 . Dalam analisis regresi hubungan fungsional yang diharapkan berlaku untuk populasi berdasarkan data sampel yang diambil dari populasi yang bersangkutan → hubungan fungsional tersebut dalam persamaan matematis disebut persamaan regresi. 2. Regresi dengan x merupakan variable bebas dan y merupakan variable tak bebas → dinamakan regresi y atas x.2 METODE TANGAN BEBAS Metode ini menggunakan metode kira-kira menggunakan diagram pencar berdasarkan hasil pengamatan.1.

. a regresi linier ŷ = a + b. . Vol. . . y . . Jika letak titik-titik sekitar garis lurus cukup beralasan menduga regresi linier. . Regresi ini memberikan perkiraan yang berbeda sesuai dengan pertimbangan pribadi Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 94 . Regresi linier ditarik secocok mungkin dengan letak titik-titik → persamaan ditentukan dengan menggunakan 2 (dua) titik yang dilalui. . . . kend . pangkat dua atau bentuk lain. Contoh : y x .letak titik-titik.x 0 b y x Kecepatan Kendaraan x Diagram pencar menunjukkan model lengkung. Jika letak regresi sekitar garis lengkung cukup beralasan menduga regresi non linier. . . regresi digambarkan secocok mungkin dengan ketak titik-titik dengan persamaan parabola.

x Data hasil pengamatan dicatat dalam susunan seperti di bawah ini. . . .Untuk sebuah variable bebas “x” dan variable tak bebas “y” didapat persamaan regresi untuk model regresi linier populasi : . . . Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 95 . .3 METODE KUADRAT TERKECIL (LEAST SQUARE METHODE) Metode kuadrat terkecil merupakan metode persamaan regresi yang biasanya digunakan untuk mencari hubungan garis lurus. .y . .x Akan ditaksir harga θ1 dan θ2 oleh a dan b. . y. . Cara ini berpangkat pada kenyataan bahwa jumlah pangkat 2 (kuadrat dari jarak antara titik-titik dengan garis regresi yang sedang dicari harus sekecil mungkin.x  1   2 . . . Regresi lengkung . 0 x 8. . Sehingga didapat persamaan regresi menggunakan model regresi data sampel : → regresi x atas y ˆ y  a  b. .

yi   xi yi n. Xn Koefisien-koefisien regresi a dan b untuk regresi linier dapat dihitung dengan rumus : Koefisien regresi x atas y  yi xi    xi xi. xi    xi 2 2 2 b n. .x Dimana : ỹ = rata-rata variable tak bebas x = rata-rata variable bebas Persamaan regresi y atas x ˆ x  c  d.Variablet ak bebas (y) y1 y2 . yi a n. . . y Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 96 .  xi 2   xi   2 Jika koefisien b dihitung terlebih dahulu. xi. . yn Variable bebas(x) X1 X2 . maka koefisien a dapat dihitung dengan rumus : a  y  b.

S2 y. S2 y. xi. Besarnya varians. x tidak diketahui besarnya.  yi 2   yi   2 Estimasi Dari Varians “S2 Y. yi   xi yi n. Dalam kebanyakan kasus. yi c n. yi    yi 2 2 2 d n.Koefisien regresi y atas x :  xi yi    yi xi. untuk mengestimasi harga tersebut maka S 2 y. X” Varians dari komponen kesalahan.x  Se 2 ˆ   yi  yi   n2 2 Dimana : Contoh : n – 2 = derajat kebebasan untuk kesalahan Tentukan nilai regresi dan nilai varians kekuatan geser sebagai fungsi linier dari kedalaman. x semakin besar kesalahan prediksi parameter dan semakin tidak teliti prediksi y sebagai fungsi variable x. x mempunyai pengaruh terhadap ketelitian dari parameter regresi. x dapat dihitung : S 2 y. S2 y. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 97 .

ŷ = a + b.29 1.  xi 2   xi   2 3.x b n.58 0.01 1.2 10 1  9. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 98 .71 1. 2. yi   xi yi n.50 0.83 0. x y 1  182  18.28 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Σ= 8 14 14 18 20 20 24 28 30 182 0. Benda Kedalaman (ft) Kekuatan geser (kst) uji xi yi 1 6 0. xi.50 1.29 1.57 1. S y.57  0.58 9.No. a  y  b.x 4.x  Se 2 2 ˆ   yi  yi   n2 2 5.957 10 6.

3876  182 2  0.239 0.63 12.250 0.018 + 0.00 11.0557 0.0516)(18.325 0.049 1.429 0.662 2.241 0.049 1.00 36.566 -0.173 0.40 xi2 36 64 196 196 324 400 400 576 784 900 yi2 0.203.2945  0.336 0.32  1829.78 20.x = 0.0020 0.957 – (0.0516 x S 2 y.yi 1.445 ŷi = a + b xi (yi – ŷi) (yi – ŷi)2 0.091 -0.0368 → Estimasi Varians 10  2 Sy.257 1.368  0.x  0.57 10.64 7.0590 0.946 1.0002 0. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 99 .0228 0.0299 0.151 -0.504 1.946 b 10.68 4.078 0.039 0.058 0.739 0.23 3876 10.0083 0.020 1.0571 0.0516 a  y  b.No.x  0.463 1.662 2.045 0.192 Persamaan regresi bisa digunakan untuk menaksir kekuatan geser dari kedalaman 6 kaki sampai 30 kaki.243 -0.689 0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 xi.2) = 0.2945 Σ = 203.014 0.0015 0.739 0.250 1.20 25.236 -0.192 → estimasi standar deviasi (simpangan baku) Kesalahan Prediksi = 0.80 36.018 Persamaan regresi kekuatan geser sebagai fungsi kedalaman adalah : Ŷ = 0.10 47.

x = 0. garis linier yang dapat ditunjukkan oleh garis berikut. . . ŷ = 0. Apakah variable bebas x betul mempunyai koreksi yang baik dengan variable tak bebas y. Jika dituluskan kisaran + Sy.192 x 10 20 30 Kedalaman (ft) 8. Sy. y k e k u a 2 t a 1. . . . . .0516 . .5 n 1 g e 0. .5 s e r 0 . Evaluasi terhadap b dapat dilakukan dengan menghitung “confidence intervalnya” Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 100 .018 + 0.Persamaan ini dapat digunakan untuk kedalaman > 30 kaki jika kecenderungan linier dapat dipertanggungjawabkan → berdasarkan alasan fisik (misal : jenis tanah sama) Secara grafis. .4 TES DAN EVALUASI MODEL REGRESI Persamaan regresi yang dihasilkan dari metode kuadrat terkecil dapat dites terhadap beberapa keadaan : 1. 2. . untuk melihat kemungkinan tersebut perlu diadakan tes untuk melihat apakah b = 0. Jika x tidak mempunyai koreksi yang dekat dengan y maka x tidak menyumbang informasi apapun terhadap prediksi harga y → kemiringan dari regresi b = 0.x dari garis ini menghasilkan suatu pita selebar satu deviasi standar (simpangan baku) dari setiap garis tepi garis linier. .

306 .S a = 0.3.0516  batas bawah = 0. 0.306 .306 df = (n-2) = (10 – 2) = 8 Jadi : t a  t .05 di dapat  = 2.018 + 2. )% CI a  t .018  batas bawah batas atas 2.0516 .06 . 8. )% CI b  t .033 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 101 . Interval Kepercayaan Sehubungan Dengan Regresi Linier / Confidence Interval (Distribusi T / Student) Confidence interval untuk parameter a / 100.35 = 0.Sb t  Analisa varians 1 arah didasarkan atas degree of freedom / derajat kebebasan (df) = (n-2) dan  = 5% = 0.(1.018 – 2.2. 0. Dilihat dari koefisien korelasi diantara tiap-tiap variable dan koefisien variasinya.16 = 0. 1.306 . 8.16 = 0.S a  Analisa varians 1 arah Confidence interval untuk parameter b / 100.306 . Kegunaan model regresi (goodness of fit). 10-3 b  t .06 .39 2.(1. 0.Sb = 0.05  taraf signifikan Jika semua interval b positif ini berarti bahwa harga b akan positif  harga Y yang diharapkan akan bertambah besar apabila X bertambah Contoh : t dilihat dari table  = 5 % = 0.306 . 10-3 = 0.16 = -0.

batas atas = 0.  X i  X  . 10-3 =0. dipecah menjadi 3 Yi 2   Yi  n (1) 2 ˆ  b.Yi   n   Dimana : Yi 2 (1) (2) (3) = jumlah kuadrat-kuadrat total = Jumlah kuadrat-kuadrat karena regresi a = Jumlah kuadrat-kuadrat karena regresi b|a = Jumlah kuadrat-kuadrat residu / penyimpangan sekitar regresi Rumus diatas dapat ditulis Tiap jumlah kuadrat-kuadrat (JK) mempunyai derajat kebebasan (dk) masing-masing yaitu : Yi 2  JK a  JK  b a   JK Re s Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 102 . Menguji Independent X Dan Y.018 memenuhi kriteria interval batas Nilai b = 0. Dapat Ditempuh Dengan Menggunakan Analisis Varians  Dengan Distribusi F (Flourence) Jumlah kuadrat semua nilai individu bagian sumber yaitu : Y  Y 2 .306 .06 .07 Nilai a = 0. Yi  Y    Yi  Yi (2) (3)   2   X i  .0516 memenuhi kriteria interval batas 2. Yi   b  X i .0516 + 2. Tepatnya Pengujian Hipotesa / H0 : B =0. 8.

maka dapat diperoleh  kuadrat tengahnya (KT) untuk tiap sumber variasi 1  JK a JK  b a  1  (n .2)  JK Re s Untuk memudahkan perhitungan dibuat daftar analisa varians (ANOVA) untuk regresi linier sederhana Sumber variasi Regresi (a) Regresi (b|a) dk 1 1 JK KT 2 F  Yi  n JK  b a  ˆ  Yi  Yi Sreg  JK  b a  S Re s  ˆ  Yi  Y 2 S Re g 2 S Re s Residu Jumlah (n-2) n    2  n  2  2 Yi 2 - - F 2 SRe g 2 SRe s ternyata berdistribusi F dengan dk pembilang 1 dan dk penyebut (n-2)  berdasarkan hipotesa H0 : b = 0 ditolak jika F  F1 (1 ) (1.n  Yi 2 jika tiap JK dibagi oleh dk – nya masingmasing.n-2) dan diterima jika sebaliknya Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 103 .

57  1.n-2) dilihat dari table di dapat nilai F = 5.0516203. Maka : H0 dengan B=0 ditolak berarti regresi linier 3.57  0.49 2 2 SRe g ˆ  Yi  Yi   S 0.23  Residu → 0. Studi yang membahas tentang derajat hubungan antara variable-variable dikenal dengan nama analisis korelasi.957 10 Regresi (b/a) → 0. Ukuran yang dipakai untuk mengetahui derajat hubungan terutama untuk data kuantitatif disebut koefisien korelasi Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 104 . ) (1. Koefisien korelasi Untuk menentukan seberapa kuat hubungan fungsional antara variablevariable pada persamaan regresi maka perlu ditentukan derajat hubungan variable-variable.0368   182  9.0368 Yi 2 - Regresi (a) → n = 10 → 9.32 ) (1.n-2) Ternyata 40 > 5.49  40  F 0.49 10   S 2 reg 1.0368 Nilai F  F1 (1.572  10 1 8 10 JK  b a  1.32  F  F1 (1.0368 - 2 Re s  1.Contoh : Sumber Dk variasi Regresi (a) Regresi (b|a) Residu Jumlah 1 JK KT 2 F  Yi  n 9.49   40 2 S res 0.

Linier Harga – harga r lainnya bergerak antara -1 dan +1 Tanda negatif → korelasi tak langsung Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 105 . yi   xi  yi  2 2   xi  n yi 2   yi   2  Bentuk lain dapat digunakan r  1  S 2 y.Sx / Sy Koefisien korelasi r merupakan akar dari koefisien determinasi r2 Dari rumus diatas berlaku 0 < r2 < 1 Sehingga untuk koefisien korelasi -1 < r < +1 Harga r = -1 → hub. yi) berukuran n dapat digunakan rumus : r n xi n xi.x S 2 y r2 = koefisien determinasi Jika persamaan regresi linier y atas x telah ditentukan dan sudah didapatkan koefisien arah b.Korelasi dalam regresi linier Koefisien korelasi r berdasarkan sekumpulan data (xi. Linier sempurna tak langsung Harga r = +1 → hub. Linier sempurna langsung Harga r = 0 → tidak terdapat hub. yi   xi yi n yi 2   yi 2   Dari rumus diatas dapat diturunkan rumus koefisien korelasi : r  b. dapat ditentukan dengan rumus sbb : r2  b n xi. maka koefisien determinasi r2.

x  xi  x  2 Varians koefisien regresi a 1  x2  S a  S y.x   n  xi  x 2     2 2 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 106 . Se2 diketahui maka-maka varians – varians lain untuk regresi linier sederhana dapat ditentukan Varians koefisien regresi b S 2b  S 2 y.e 2 2 ˆ   yi  yi   2 n  2 Dimana : yi = variable tak bebas hasil pengamatan ŷi = di dapat dari regresi berdasarkan sampel n = Ukuran sampel S2y.x dapat ditulis :  n 1  2 2 2 S 2 y.x  S .Tanda positif → korelasi langsung Estimasi dari varians → ssti simpangan baku → kesalahan prediksi S y.x    S y b S x n2   Dimana : S2y = Varians untuk variabel y S2x = Varians untuk variabel x Setelah estimasi dari varians atau rata-rata kuadrat penyimpangan sekitar regresi / rata-rata kuadrat residu.

045 58.(∑ x i ∑ y i ) 2 2 (∑ xi ).yi 116090000 116388165 117873756 118497480 119392308 588241709 yi2 3369222025 3383167225 3466618884 3499905600 3549418929 17268332663 b= n n (∑ x i n =5 y i ) .577 293. ∑Yi Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 107 .709 = 10010 = 293.(10010)2 = 405.9 ∑Xi.x   2  n  xi  x     2 2 ˆ S y i  2 Contoh :  1 xo  x 2    S y.709 ) .Varians ramalan rata-rata y untuk Xo yang diketahui Varians ramalan individu y untuk Xo yang diketahui 1 xo  x 2   ˆ S y  S y.825 = 5.825 ) 5.165 58.030) .241.(20.( 588.241.x 1   n  xi  x 2     2 Analisis regresi populasi penduduk cibubur No 1 2 3 4 5 tahun (xi) 2000 2001 2002 2003 2004 10010 Korelasi populasi (yi) 58.825 xi.160 59.040.Yi ∑Xi.( 10010 x 293.878 59.(∑ yi ) = 588.

∑Yi² = 17.332.∑ Xi.(∑ Yi )2 r² = 0.268.Yi) .x 3 Untuk menentukan koefisien a.a  b xi  c xi  xi.9825 Harga r = +1 → hub.x  c. Parabolik Kubik ˆ y  a  b. yi  a xi  b xi  c xi 2 2 3 2 2 3 4 b.5 REGRESI NON LINIER Jika persamaan regresinya non linier maka perlu memperbaikinya dengan persamaan regresi non linier. yi  a xi  b xi  c xi  xi .x 2 Dengan menggunakan metode kuadrat terkecil maka a.x 2  d .663 r2 = b(n. b dan c dapat dihitung dari sistem persamaan :  yi  n. b.x  c. c dan d digunakan persamaan sebagai berikut : Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 108 . Beberapa model persamaan regresi non linier : 1. Linier sempurna langsung 8.(∑ Xix ∑ Yi) (nx ∑ Yi 2 ) .964 r = 0. Parabolik Kuadratik ˆ y  a  b.

 yi  n.a  b xi  c xi  d  xi  xi. Model Exponen ˆ y  a.e bx e = bilangan pokok logaritma = 2.x Maka a dan b dapat dicari dari : log a  log b   n    n xi. log yi    xi log yi  n n xi 2   xi 2  log yi  log b  xi    Model exponen sering pula disebut model pertumbuhan. yi  a xi  b xi  c xi  d  xi  xi .7183 Persamaan diatas menjadi : ˆ ln y  ln a  b. model persamaannya menjadi : ˆ y  a. yi  a xi  b xi  c xi  d  xi 2 3 2 3 4 2 2 3 4 3 3 4 5 5 6 c.x Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol → linier dalam x dan ln y 109 . persamaannya menjadi : ˆ log y  log a  log b.b X Dalam logaritma. yi  a xi  b xi  c xi  d  xi  xi .

Sehingga a dan b dapat dihitung sbb : ˆ log y  log a  0. Model Logistik n n n log xi.x d.b x ˆ y Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 110 .b x untuk ŷ ≠ 0 maka persamaan diatas dapat ditulis : 1  a. Model Geometrik ˆ y  a. maka : ˆ log y  log a  b log x Koefisien a dan b dapat dicari dari : log a  b e.4343b. log yi    log xi  log yi  n  log 2 xi   log xi   log yi  b  log xi   2 ˆ y 1 a.x b Jika diambil logaritmanya.

x ˆ y Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 111 .x Untuk ŷ ≠ 0 maka persamaan di atas dapat ditulis : 1  a  b. maka : 1 log   log a  log b x  y  ˆ f. Model Hiperbola ˆ y 1 a.  b.Jika diambil logaritmanya.

Untuk melihat kemungkinan Apakah variable bebas x betul mempunyai koreksi yang baik dengan variable tak bebas y.8. y. Bentuk regresi diperkirakan berdasarkan letak titik-titik. Metode kuadrat terkecil merupakan metode persamaan regresi yang biasanya digunakan untuk mencari hubungan garis lurus. . Data digambarkan dengan sumbu datar → x dan sumbu tegak → y. Jika x tidak mempunyai koreksi yang dekat dengan y maka x tidak menyumbang informasi apapun Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 112 .6 RANGKUMAN Analisis regresi digunakan untuk mendapatkan hubungan fungsional antara dua variable atau lebih atau untuk mendapatkan pengaruh antara variable prediktor terhadap variable kriterium. Jika persamaan regresinya non linier maka perlu memperbaikinya dengan persamaan regresi non linier.x  1   2 .x Metode ini menggunakan metode kira-kira menggunakan diagram pencar berdasarkan hasil pengamatan. Persamaan regresi dengan x merupakan variable bebas dan y merupakan variable tak bebas dinamakan regresi y atas x. ˆ y  a  b. Persamaan regresi yang dihasilkan dari metode kuadrat terkecil dapat dites terhadap beberapa keadaan : 1..x Akan ditaksir harga θ1 dan θ2 oleh a dan b.

Dilihat dari koefisien korelasi diantara tiap-tiap variable dan koefisien variasinya. Model Exponen 4. Evaluasi terhadap b dapat dilakukan dengan menghitung “confidence intervalnya” 3. Parabolik Kuadratik 2. Kegunaan model regresi (goodness of fit).terhadap prediksi harga y → kemiringan dari regresi b = 0. Parabolik Kubik 3. Model Geometrik 5. 1. Beberapa model persamaan regresi non linier. Model Logistik 6. diadakan tes untuk melihat apakah b = 0. 2. Model Hiperbola Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 113 .

8. dan bandingkan hasilnya dengan garis persamaan regresi dengan metode tangan bebas. Hitung kesalahan prediksi atau kesalahan residu dari persamaan regresi tersebut. Apa yang dimaksud dengan variabel bebas dan tak bebas? 4. Koefisien korelasi. Apa yang dimaksud dengan analisis regresi? 2. Sebutkan fungsi analisis regresi? 3.7 SOAL 1. Uji dan evaluasi persamaan regresi yang dihasilkan dengan : Confidence interval Menguji hipotesa nol (b = 0). c. d. b. Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 114 . Tentukan mempunyai fungsional antara tahun pertumbuhan dengan jumlah bus. Gambarkan garis persamaan regresi dengan skala yang benar. Dibawah ini disajikan pertumbuhan kota Palembang : PDRB Penduduk PC (jutaan rp) 4670319 1184608 3158 6809872 7941073 8924252 10269137 12348540 persamaan 1198224 1199783 1460224 1489370 1530578 regresi 3200 1729 2811 3175 3250 yang Tahun 1997 1998 1999 2000 2001 2002 Bus 2409 2417 2428 2475 2791 2901 Truk 21569 20367 20471 20594 22261 22689 hubungan a.

Tri Tjahyono. Jakarta. Penerbit Tarsito Bandung. Penerbit ITB. LP3ES. Meng. 1970 Zainal Mustafa. Evaluasi dan Klasifikasi Beton Sehubungan Dengan Peraturan Beton Bertulang Indonesia. Wolpole. Jakarta Raymond. Suyono Dikun. Ar.DAFTAR PUSTAKA Anto Dajan. E. H.. Metoda Statistik Edisi Kelima. Ilmu Peluang dan Statistika Untuk Insinyur dan Ilmuwan Terbitan Kedua. Pengantar Metoda Statistik Jilid I. Heddy R. Sutanto. Karjasaputradan Wiratman Wangsadinata.. Alvinsyah. Analiisis Statistika dalam Perencanaan Lalu Lintas dan Transportasi. R. Pengantar Statistik Deskriptif Edisi Kedua. 1986 Sudjana. Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. 1989. Agah. Sudjud.. Jakarta. 1992 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 115 . 1972 Alan Marino. Myers dan Ronald.

Msi Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 116 . ST.BUKU AJAR STATISTIKA TERAPAN Untuk Mahasiswa Semester 3 D-IV Jalan Tol Disusun oleh : Nunung Martina.

Ukuran-ukuran Deskriptif Dalam Statistik. Distribusi Normal dan Analisis Regresi.PRAKATA Penyusunan Buku Ajar Statistik Terapan untuk ini dimaksudkan untuk membantu para mahasiswa semester 3 D-IV Jalan Tol untuk mengambil mata kuliah Statistik Terapan. Penyusunan buku ini telah diusahakan sedemikian rupa dimulai dari pengertian dasar hingga pembahasan dan contoh-contoh terapan sehingga mahasiswa dapat memperoleh manfaatnya. Isi buku ini terdiri dari 8 bab yang tiap bab diakhiri dengan rangkuman dan soal-soal latihan untuk memahamkan setiap bab yang diberikan. Penulisan buku ini dimulai dari Pendahuluan. khususnya mahasiswa Politeknik Negeri Jakrta. Mudah-mudahan. Hal ini karena penulis menyadari bahwa di Jurusan Teknik Sipil khususnya D-IV Jalan Tol belum ada buku pegangan tersebut. Pengumpulan dan Pengolahan Data. Oktober 2007 Penyusun Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 117 . karya kecil ini mampu menjadi sumbangsih guna meningkatkan kualitas belajar mengajar. Depok. Momen dan Kurtosos. Ukuran-ukuran Lokasi. Distribusi Frekuensi Empiris. Skunes.

2 2.3 2.5 2.4 BAB II Pengertian istilah statistik dan statistika Peranan statistik Rangkuman Soal latihan i ii 1 1 2 3 3 4 5 6 9 9 11 12 14 16 17 17 18 20 25 26 dalam 28 PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 2.DAFTAR ISI PRAKATA DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 3.6 Bagian-bagian dari distribusi frekuensi Distribusi frekuensi tunggal Distribusi frekuensi bergolong Distribusi frekuensi relatif Distribusi frekuensi komulatif Penyajian distribusi frekuensi bentuk grafik dan diagram 3.8 Populasi dan Sampel Teknik pengambilan sampel Jenis data Pembulatan bilangan Teknik Pengumpulan data Pengolahan data Rangkuman Soal latihan BABIII DISTRIBUSI FREKUENSI EMPIRIS 3.4 3.3 3.4 2.5 3.7 3.1 2.8 Rangkuman Soal latihan 34 36 Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 118 .1 1.7 2.3 1.6 2.2 3.2 1.

5 6.7 VII Distribusi skued positif Distribusi skued negatif Pengujian skunes Momen Kurtosis Rangkuman Soal latihan DISTRIBUSI NORMAL 7.4 BAB V Summasi DESKRIPTIF DALAM 37 37 40 53 54 56 57 57 58 62 73 74 76 76 77 78 79 81 82 83 84 91 96 96 98 99 100 Ukuran-ukuran lokasi/ harga-harga tengah Rangkuman Soal latihan UKURAN-UKURAN LOKASI 5. MOMEN DAN KURTOSOS 6.1 6.1 4.3 Cara membuat lengkung distribusi normal Rangkuman Soal latihan VIII ANALISIS REGRESI 8.3 4.BAB IV UKURAN-UKURAN STATISTIK 4.4 5.6 6.1 8.3 5.5 5.2 5.2 7.2 6.2 4.4 6.2 Persamaan analisis regresi Metode tangan bebas Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 119 .3 6.6 Range Deviasi kuartil Deviasi rata-rata Standard deviasi dan variasi Rangkuman Soal latihan BAB VI SKUNES.1 5.1 7.

4 8.6 8.3 8.7 Metode kuadrat terkecil Tes dan evaluasi model regresi Regresi non linier Rangkuman Soal latihan 102 107 115 119 120 122 DAFTAR PUSTAKA Statistik Terapan Sem 3 D-IV Jalan Tol 120 .8.5 8.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful