Anda di halaman 1dari 38

1
1

1 Tujuan Pembelajaran: Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu: 1. Menjelaskan teori atom mekanika kuantum.
Tujuan Pembelajaran: Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu: 1. Menjelaskan teori atom mekanika kuantum.
Tujuan
Pembelajaran:
Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu:
1. Menjelaskan teori atom mekanika kuantum.
2. Menjelaskan pengertian bilangan kuantum dan bentuk-
bentuk orbital.
3. Menggunakan prinsip Aufbau, aturan Hund, dan asas
larangan Pauli untuk menuliskan konfigurasi elektron dan
diagram orbital.
4. Menghubungkan konfigurasi elektron suatu unsur dengan
letaknya dalam sistem periodik.
5. Menerapkan teori atom Bohr dan mekanika kuantum untuk
menuliskan konfigurasi elektron dan diagram orbital serta
menentukan letak unsur dalam tabel periodik.
Kata Kunci
6. Menerapkan teori domain elektron untuk meramalkan
bentuk molekul dan menjelaskan interaksi antarmolekul
(gaya antarmolekul) dengan sifatnya.

Mekanika kuantum, efek fotolistrik, orbital, bilangan kuantum, persamaan gelombang, konfigurasi elektron, nomor periode, unsur utama, unsur transisi, ikatan ion, ikatan kovalen, kovalen koordinasi, domain elektron, hibridisasi, bentuk molekul, VSEPR , teori domain elektron, gaya London , polarisabilitas, dipol-dipol, gaya Van der Waals, ikatan hidrogen.

Pengantar

Pengantar

P ada awal pelajaran kimia di kelas X dulu Anda sudah mempelajari tentang apa itu atom, apa saja partikel penyusun atom, dan bagaimana bentuk atom menurut

para ahli, serta bagaimana atom-atom tersebut bergabung membentuk senyawa yang

lebih kompleks. Di kelas XI ini Anda akan mempelajari lebih lanjut tentang perkembangan teori dan model-model atom termodern serta teori dan model bentuk molekul senyawa.

2
2
2
Peta Konsep

Peta Konsep

Struktur Atom dan Sistem Periodik Unsur

Atom terdiri dari mendasari Inti Atom Teori Planck, Bohr, de Elektron Broglie tentang teori atom
Atom
terdiri dari
mendasari
Inti Atom
Teori Planck,
Bohr, de
Elektron
Broglie tentang teori atom
tersusun dari
mempunyai
mekanika kuantum
Tk. Energi
Proton
Neutron
ditentukan
Bil. Kuantum
Bil. Kuantum
Bil. Kuantum
Bil. Kuantum
Utama
Azimuth
Magnet
Spin
menunjukkan
menentukan
Sub. Tingkat
menunjukkan
Kulit Elektron
menunjukkan
Energi
menunjukkan
terdiri dari
Sub. Kulit
menentukan
Elektron
terdiri dari
Orbital
mempunyai
Arah Ruang
Orbital
menggambarkan
Arah Ruang
Konfigurasi Elektron
Orbital
menggambarkan
menunjukkan
menentukan
Elektron Valensi
Blok Unsur
menentukan jenis
dalam
SPU
Ikatan Kimia
membentuk
Blok s
Blok p
Blok d
Blok f
Molekul
mempunyai
Ikatan Antar
Molekul
disebabkan
Efek Orientasi
Ikatan
Hidrogen
Ikatan
Van der Wals
mengakibatkan
mempengaruhi
mengakibatkan
terjadi
mempengaruhi
terjadi
Dipol-dipol
Titik Didih
Dipol Sesaat
Senyawa
3
3
3
1.1
1.1

Struktur Atom

Anda tentu masih ingat dengan model atom yang dikemukakan oleh Ernest Rutherford (1871–1937) dan dilengkapi oleh Niels Bohr (1885 – 1962) yang menerangkan bahwa elektron-elektron mengelilingi inti atom pada tingkat-tingkat energi tertentu yang disebut kulit atom. Pada bab ini, kita akan mempelajari pengembangan model atom modern berdasarkan konsep mekanika gelombang.

A.
A.

Teori Kuantum Max Planck

Max Planck, ahli fisika dari Jerman, pada tahun 1900 mengemukakan teori kuantum. Planck menyimpulkan bahwa atom-atom dan molekul dapat memancarkan atau menyerap energi hanya dalam jumlah tertentu. Jumlah atau paket energi terkecil yang dapat dipancarkan atau diserap oleh atom atau molekul dalam bentuk radiasi elektromagnetik disebut kuantum. Planck menemukan bahwa energi foton (kuantum) berbanding lurus dengan frekuensi cahaya.

foton (kuantum) berbanding lurus dengan frekuensi cahaya. E = h · dengan: E = h =

E = h ·

dengan: E = h

=

energi (J) konstanta Planck 6,626 × 10 34 J. s

=

frekuensi radiasi (s 1 )

Salah satu fakta yang mendukung kebenaran dari teori kuantum Max Planck adalah efek fotolistrik, yang dikemukakan oleh Albert Einstein pada tahun 1905. Efek fotolistrik adalah keadaan di mana cahaya mampu mengeluarkan elektron dari permukaan beberapa logam (yang paling terlihat adalah logam alkali) (James E. Brady, 1990). Susunan alat yang dapat menunjukkan efek fotolistrik ada pada gambar

1.1. Elektrode negatif (katode) yang ditempatkan dalam tabung vakum terbuat

dari suatu logam murni, misalnya sesium. Cahaya dengan energi yang cukup dapat menyebabkan elektron terlempar dari permukaan logam.

Elektron tersebut akan tertarik ke kutub positif (anode) dan menyebabkan aliran listrik melalui rangkaian tersebut.

dan menyebabkan aliran listrik melalui rangkaian tersebut. Tabung vakum Gambar 1.1 Percobaan Efek Fotolistrik

Tabung vakum

Gambar 1.1 Percobaan Efek Fotolistrik Memperlihatkan susunan alat yang menunjukkan efek fotolistrik, Seberkas cahaya yang ditembakkan pada permukaan pelat logam akan menyebabkan logam tersebut melepaskan elektronnya. Elektron tersebut akan tertarik ke kutub positif dan menyebabkan aliran listrik melalui rangkaian tersebut. Sumber: General Chemistry, Principles & Structure, James E. Brady, 5 th ed, 1990.

Pelat logam

sensitif cahaya

Elektrode

positif

Pengukur arus listrik

Baterai

4
4
4

Einstein menerangkan bahwa cahaya terdiri dari partikel-partikel foton yang energinya sebanding dengan frekuensi cahaya. Jika frekuensinya rendah, setiap foton mempunyai jumlah energi yang sangat sedikit dan tidak mampu memukul elektron agar dapat keluar dari permukaan logam. Jika frekuensi (dan energi) bertambah, maka foton memperoleh energi yang cukup untuk melepaskan elektron (James E. Brady, 1990). Hal ini menyebabkan kuat arus juga akan meningkat. Energi foton bergantung pada frekuensinya.

E = h · atau E = h ⋅ c λ
E = h ·
atau
E
= h
⋅ c
λ

dengan:

h

=

tetapan Planck (6,626 × 10 34 J dt)

=

frekuensi (Hz)

c

=

kecepatan cahaya dalam vakum (3 × 10 8 m det 1 )

λ

=

panjang gelombang (m)

B.
B.
m det – 1 ) λ = panjang gelombang (m) B. Model Atom Bohr Pada tahun

Model Atom Bohr

Pada tahun 1913, Niels Bohr menggunakan teori kuantum untuk menjelaskan spektrum unsur. Bohr memilih hidrogen sebagai model untuk teorinya, hal ini mudah dimengerti karena hidrogen mempunyai atom yang paling sederhana (satu pro- ton dan satu elektron)(James E. Brady, 1990). Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa unsur-unsur menghasilkan spektrum garis di mana

tiap unsur mempunyai spektrum yang khas. Menurut Bohr, spektrum garis menunjukkan bahwa elektron dalam atom hanya dapat beredar pada lintasan-lintasan dengan tingkat energi tertentu. Pada lintasan itu, elektron dapat beredar tanpa pemancaran atau penyerapan energi. Lintasan elektron tersebut berupa lingkaran dengan jari-jari tertentu yang disebut sebagai kulit atom.

Pada keadaan normal, elektron akan mengisi kulit-kulit dengan tingkat energi terendah, yaitu dimulai dari kulit K, L, dan seterusnya. Keadaan di mana elektron mengisi kulit-kulit dengan tingkat energi terendah disebut tingkat dasar (ground state). Jika atom mendapat energi dari luar (misalnya dipanaskan, diberi beda potensial), maka elektron akan menyerap energi yang sesuai sehingga berpindah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Keadaan di mana ada elektron yang menempati tingkat energi yang lebih tinggi disebut keadaan tereksitasi (excited state).

5
5
5

Perpindahan elektron dari tingkat energi lebih rendah ke tingkat energi lebih tinggi disertai penyerapan energi. Sebaliknya, perpindahan elektron dari tingkat energi lebih tinggi ke tingkat energi lebih rendah disertai pelepasan energi, yaitu berupa radiasi elektromagnet. Elektron dapat berpindah dari satu lintasan ke lintasan lain disertai pemancaran atau penyerapan sejumlah tertentu energi, yang harganya sama dengan selisih kedua tingkat energi tersebut.

harganya sama dengan selisih kedua tingkat energi tersebut. ΔΔΔΔΔ E = E f – E i

ΔΔΔΔΔE =

E f E i

 

h

r n

=

n 2 a 0

dengan: ΔE

E f

E i

=

=

=

energi yang menyertai perpindahan elektron (joule) tingkat energi akhir (joule) tingkat energi mula-mula (joule)

Dari percobaan yang dilakukan, Bohr merumuskan sebagai berikut.

1. Elektron bergerak mengelilingi inti atom dengan lintasan (orbit) tertentu,

dengan momen sudut kelipatan dari 2

h = ketetapan Planck.

2. Selama elektron bergerak pada lintasannya, maka energinya akan tetap, sehingga tidak memancarkan energi.

3. Selama bergerak mengelilingi inti, elektron dapat berpindah naik atau turun dari satu lintasan ke lintasan yang lain.

Karena perpindahan elektron berlangsung antara kulit yang sudah tertentu tingkat energinya, maka atom hanya akan memancarkan radiasi dengan tingkat energi yang tertentu pula. Dengan demikian dapat dijelaskan penyebab spektrum unsur berupa spektrum garis. Bohr menggunakan atom hidrogen sebagai model, dan dia berhasil merumuskan jari-jari lintasan dan energi elektron. Jari-jari lintasan ke-n dalam atom hidrogen memenuhi rumus:

lintasan ke- n dalam atom hidrogen memenuhi rumus: dengan: n = kulit ke-1, 2, dan seterusnya

dengan: n =

kulit ke-1, 2, dan seterusnya

0,53 Å (53 pm) ⎯⎯→ (1 pm = 10 –12 m) a 0 = Energi
0,53 Å (53 pm)
⎯⎯→
(1 pm = 10 –12 m)
a 0 =
Energi elektron pada lintasan ke-n adalah:
R H
E
n =– n
2

dengan:

R H = tetapan (2,179 × 10 18 J)

6
6
6

Teori atom Bohr berhasil diterapkan untuk atom hidrogen, akan tetapi tidak dapat digunakan untuk memperkirakan spektrum atom lain (yang mempunyai elektron lebih dari satu) (James E. Brady, 1990).

n = 4 n = 3 n = 2 r = 16a 0 r =
n
=
4
n
=
3
n
=
2
r = 16a 0
r
= 9a 0
r
= 4a 0
n
= 1
r
=

a 0 Gambar 1.3 Model atom hidrogen menurut Niels Bohr

C.
C.

Hipotesis Louis de Broglie

Pada tahun 1924, Louis de Broglie, menjelaskan bahwa cahaya dapat berada dalam suasana tertentu yang terdiri dari partikel-partikel, kemungkinan berbentuk partikel pada suatu waktu, yang memperlihatkan sifat-sifat seperti gelombang (James E Brady, 1990). Argumen de Broglie menghasilkan hal sebagai berikut.

Einstein

:

E

=

mc 2

Max Planck

:

E

=

h ·

=

hc

λ

sehingga untuk menghitung panjang gelombang satu partikel diperoleh:

h λλλλλ = m ⋅
h
λλλλλ
=
m ⋅

dengan:

λ

=

panjang gelombang (m)

m

=

massa partikel (kg)

=

kecepatan partikel (m/s)

h

=

tetapan Planck (6,626 × 10 34 Joule s)

Hipotesis de Broglie terbukti benar dengan ditemukannya sifat gelombang dari elektron. Elektron mempunyai sifat difraksi seperti halnya sinar–X. Sebagai akibat dari dualisme sifat elektron sebagai materi dan sebagai gelombang, maka lintasan elektron yang dikemukakan Bohr tidak dapat dibenarkan. Gelombang tidak bergerak menurut suatu garis, melainkan menyebar pada suatu daerah tertentu.

Teori Mekanika Kuantumsuatu garis, melainkan menyebar pada suatu daerah tertentu. Dalam fisika klasik, partikel memiliki posisi dan momentum

Dalam fisika klasik, partikel memiliki posisi dan momentum yang jelas dan mengikuti lintasan yang pasti. Akan tetapi, pada skala atomik, posisi dan momentum atom tidak dapat ditentukan secara pasti. Hal ini dikemukakan oleh Werner Heisenberg pada tahun 1927 dengan Prinsip Ketidakpastian (un- certainty principle) (Oxtoby, Gillis, Nachtrieb).

7
7
7

Menurut Heisenberg, metode eksperimen apa saja yang digunakan untuk menentukan posisi atau momentum suatu partikel kecil dapat menyebabkan perubahan, baik pada posisi, momentum, atau keduanya. Jika suatu percobaan dirancang untuk memastikan posisi elektron, maka momentumnya menjadi tidak pasti, sebaliknya jika percobaan dirancang untuk memastikan momen- tum atau kecepatan elektron, maka posisinya menjadi tidak pasti. Untuk mengetahui posisi dan momentum suatu elektron yang memiliki sifat gelombang, maka pada tahun 1927, Erwin Schrodinger, mendeskripsikan pada sisi elektron tersebut dengan fungsi gelombang (wave function) yang memiliki satu nilai pada setiap posisi di dalam ruang (Oxtoby, Gillis, Nachtrieb).

Fungsi gelombang ini dikembangkan dengan notasi ϕ (psi), yang me- nunjukkan bentuk dan energi gelombang elektron (James E. Brady, 1990). Model atom mekanika kuantum menerangkan bahwa elektron-elektron dalam atom menempati suatu ruang atau “awan” yang disebut orbital, yaitu ruang tempat elektron paling mungkin ditemukan. Beberapa orbital bergabung membentuk kelompok yang disebut subkulit. Jika orbital kita analogikan sebagai “kamar elektron”, maka subkulit dapat dipandang sebagai “rumah elektron”. Beberapa subkulit yang bergabung akan membentuk kulit atau “desa elektron”.

bergabung akan membentuk kulit atau “desa elektron”. Satu kulit tersusun dari subkulit-subkulit Satu subkulit

Satu kulit tersusun dari subkulit-subkulit Satu subkulit tersusun dari orbital-orbital Satu orbital menampung maksimal dua elektron

Jenis Subkulit

Jumlah Orbital

Elektron Maksimum

Subkulit s

1

orbital

2

elektron

Subkulit p

3

orbital

6

elektron

Subkulit d

5

orbital

10

elektron

Subkulit f

7

orbital

14

elektron

Subkulit g

9

orbital

18

elektron

Subkulit h

11

orbital

22

elektron

Subkulit i

13

orbital

26

elektron

Orbital-orbital dalam satu subkulit mempunyai tingkat energi yang sama, sedangkan orbital-orbital dari subkulit berbeda, tetapi dari kulit yang sama mempunyai tingkat energi yang bermiripan.

8
8
8

Susunan kulit, subkulit, dan orbital dalam suatu atom berelektron banyak dise- derhanakan seperti pada gambar 1.5.

Gambar 1.5 Susunan orbital dalam suatu atom multielektron. Setiap kotak menunjuk satu orbital

suatu atom multielektron. Setiap kotak menunjuk satu orbital E. Bilangan Kuantum Menurut mekanika gelombang, setiap
E.
E.

Bilangan Kuantum

Menurut mekanika gelombang, setiap tingkat energi dalam atom diaso- siasikan dengan satu atau lebih orbital. Untuk menyatakan kedudukan (tingkat energi, bentuk, serta orientasi) suatu orbital menggunakan tiga bilangan kuantum, yaitu bilangan kuantum utama (n), bilangan kuantum azimuth, dan bilangan kuantum magnetik (m l atau m) (James E. Brady, 1990).

Bilangan Kuantum Utama (n)kuantum magnetik ( m l atau m ) (James E. Brady, 1990). Bilangan kuantum utama (

Bilangan kuantum utama (n) menyatakan tingkat energi utama atau kulit atom. Bilangan kuantum utama mempunyai harga mulai dari 1, 2, 3, dan seterusnya (bilangan bulat positif) serta dinyatakan dengan lambang K (n = 1), L (n = 2), dan seterusnya. Orbital-orbital dengan bilangan kuatum utama berbeda mempunyai tingkat energi yang berbeda secara nyata.

Bilangan Kuantum Azimuth (l)berbeda mempunyai tingkat energi yang berbeda secara nyata. Bilangan kuantum azimuth ( l ) menyatakan subkulit.

Bilangan kuantum azimuth (l) menyatakan subkulit. Nilai-nilai untuk bilangan kuantum azimuth dikaitkan dengan nilai bilangan kuantum utamanya, yaitu semua bilangan bulat dari 0 sampai (n 1).

3.
3.

Bilangan Kuantum Magnetik (m l atau m)

Bilangan kuantum magnetik (m) menyatakan orbital khusus yang ditempati elektron pada suatu subkulit. Bilangan kuantum magnetik juga menyatakan orientasi khusus dari orbital itu dalam ruang relatif terhadap inti. Nilai bilangan kuantum magnetik bergantung pada nilai kuantum azimuth, yaitu semua bilangan bulat mulai dari –l sampai dengan +l, termasuk 0.

9
9
9
4.
4.

Bilangan Kuantum Spin (m s atau s)

Sambil beredar mengintari inti, elektron juga berputar pada sumbunya. Gerak berputar pada sumbu ini disebut rotasi. Hanya ada dua kemungkinan arah rotasi elektron, yaitu searah atau berlawanan arah jarum jam. Kedua arah yang berbeda itu dinyatakan dengan bilangan kuantum spin (s) yang

1 1

atau s = – 2 . Akibatnya satu orbital hanya dapat

ditempati oleh maksimum dua elektron, di mana kedua elektron itu haruslah mempunyai spin yang berlawanan, sehingga menghasilkan medan magnet yang berlawanan pula. Medan magnet yang berlawanan ini diperlukan untuk mengimbangi gaya tolak-menolak listrik yang ada (karena muatan sejenis). Dapat disimpulkan bahwa kedudukan suatu elektron dalam suatu atom dinyatakan oleh empat bilangan kuantum, yaitu:

mempunyai nilai s = + 2

a. Bilangan kuantum utama (n) menyatakan kulit utamanya.

b. Bilangan kuantum azimuth (l) menyatakan subkulitnya.

c. Bilangan kuantum magnetik (m) menyatakan orbitalnya.

d. Bilangan kuantum spin (s) menyatakan spin atau arah rotasinya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

a. Sampai saat ini, elektron-elektron baru menempati subkulit-subkulit s, p, d, dan f. Sedangkan subkulit g, h, dan i belum terisi elektron.

b. Setiap kulit mengandung subkulit sebanyak nomor kulit dan dimulai dari subkulit yang paling sedikit orbitalnya. Kulit pertama hanya mengandung subkulit s; kulit ke-2 mengandung s dan p; kulit ke-3 mengandung subkulit s, p, dan d; dan seterusnya.

Nomor Kulit

Jumlah Subkulit

Jumlah Orbital

Elektron Maksimum

Kulit ke-1 (K)

s

1

orbital

2

elektron

Kulit ke-2 (L)

s,

p

4

orbital

8

elektron

Kulit ke-3 (M)

s,

p, d

9

orbital

18

elektron

Kulit ke-4 (N)

s,

p, d, f

16

orbital

32

elektron

Kulit ke-5 (O)

s,

p, d, f, g

25

orbital

50

elektron

Kulit ke-6 (P)

s,

p, d, f, g, h

36

orbital

72

elektron

Kulit ke-7 (Q)

s,

p, d, f, g, h, i

49

orbital

98

elektron

Kulit ke-n

n

buah subkulit

n 2 orbital

2n 2 elektron

F.
F.

Bentuk dan Orientasi Orbital

Energi dan bentuk orbital diturunkan dari persamaan gelombang (ϕ = psi), sedangkan besaran pangkat dua (ϕ 2 ) dari persamaan gelombang menyatakan rapatan muatan atau peluang menemukan elektron pada suatu titik dan jarak tertentu dari inti. Bentuk orbital tergantung pada bilangan kuantum azimuth (l), artinya orbital dengan bilangan kuantum azimuth yang sama akan mempunyai bentuk yang sama. Orbital 1s, 2s, dan 3s akan mempunyai bentuk yang sama, tetapi ukuran atau tingkat energinya berbeda.

10
10
10
1.
1.

Orbital s

Orbital yang paling sederhana untuk dipaparkan adalah orbital 1s. Gambar 1.6 menunjukkan tiga cara pemaparan orbital 1s. Gambar me- nunjukkan bahwa rapatan muatan maksimum adalah pada titik-titik di sekitar (dekat) inti. Rapatan berkurang secara eksponen dengan bertambahnya jarak dari inti. Pola bercak-bercak (gambar) secara jelas menunjukkan bahwa rapatan muatan meluas secara simetris ke semua arah dengan jarak antarbercak yang berangsur meningkat. Secara teori peluang, untuk menemui elektron tidak pernah mencapai nol. Oleh karena itu tidak mungkin menggambarkan suatu orbital secara lengkap. Biasanya gambar orbital dibatasi, sehingga mencakup bagian terbesar (katakanlah 90%) peluang menemukan elektron. Gambar 1.6(c) adalah orbital 1s dengan kontur 90%. Dalam teori atom modern, jari-jari atom didefinisikan sebagai jarak dari inti hingga daerah dengan peluang terbesar menemukan elektron pada orbital terluar. Bentuk dan orientasi orbital 2s diberikan pada gambar. Sama dengan orbital 1s, rapatan muatan terbesar adalah pada titik-titik sekitar inti. Rapatan menurun sampai mencapai nol pada jarak tertentu dari inti. Daerah tanpa peluang menemukan elektron ini disebut simpul. Selanjutnya, rapatan muatan elektron meningkat kembali sampai mencapai maksimum, kemudian secara bertahap menurun mendekati nol pada jarak yang lebih jauh. Peluang terbesar menemukan elektron pada orbital 2s adalah pada awan lapisan kedua. Sedangkan untuk orbital 3s juga mempunyai pola yang mirip dengan orbital 2s, tetapi dengan 2 simpul. Kontur 90% dari orbital 3s ditunjukkan pada gambar 1.6(b), di mana peluang untuk menemukan elektron pada orbital 3s adalah pada awan lapisan ketiga.

elektron pada orbital 3 s adalah pada awan lapisan ketiga. (a) (b) (c) Gambar 1.6 Orbital

(a)

(b)
(b)
pada orbital 3 s adalah pada awan lapisan ketiga. (a) (b) (c) Gambar 1.6 Orbital Change,

(c)

Gambar 1.6 Orbital

Change, Martin S. Silberberg. 2000.

1s, 2s, 3s

Sumber: Chemistry, The Molecular Nature of Matter and

2.
2.

Orbital p Rapatan muatan elektron orbital 2p adalah nol pada inti (gambar 1.7), meningkat hingga mencapai maksimum di kedua sisi, kemudian menurun mendekati nol seiring dengan bertambahnya jarak dari inti. Setiap subkulit p ( = 1) terdiri dari tiga orbital yang setara sesuai dengan tiga harga m untuk = 1, yaitu -1, 0, dan +1. Masing-masing diberi nama p x , p y , dan p z

11
11
11

sesuai dengan orientasinya dalam ruang. Kontur yang disederhanakan dari ketiga orbital 2p diberikan pada gambar 1.7.(c). Distribusi rapatan muatan elektron pada orbital 3p ditunjukkan pada gambar 1.7.(b). Sedangkan kontur orbital 3p dapat juga digambarkan seperti gambar 1.7.(a) (seperti balon terpilin), tetapi ukurannya relatif lebih besar.

balon terpilin), tetapi ukurannya relatif lebih besar. (a) (b) (c) Gambar 1.7 Orbital p x ,

(a)

balon terpilin), tetapi ukurannya relatif lebih besar. (a) (b) (c) Gambar 1.7 Orbital p x ,

(b)

terpilin), tetapi ukurannya relatif lebih besar. (a) (b) (c) Gambar 1.7 Orbital p x , p

(c)

Gambar 1.7 Orbital p x , p y , p z Sumber: Sumber: Chemistry, The Molecular Nature of Matter and Change, Martin S. Silberberg. 2000.

3.
3.

Orbital d dan f

Orbital dengan bilangan azimuth l = 2, yaitu orbital d, mulai terdapat

pada kulit ketiga (n = 3). Setiap subkulit d terdiri atas lima orbital sesuai dengan lima harga m untuk l = 2, yaitu m = –2, –1, 0, +1, dan +2. Kelima

, d xy , d xz ,

d yz , dan

orbital d itu diberi nama sesuai dengan orientasinya, sebagai

d

x

2

2

–x

d

z

2 . Kontur dari kelima orbital 3d diberikan pada gambar 1.8 dan

1.9. Walaupun orbital

d

z

2 mempunyai bentuk yang berbeda dari empat orbital

d lainnya, tetapi energi dari kelima orbital itu setara.

d lainnya, tetapi energi dari kelima orbital itu setara. Gambar 1.8 Orbital d Sumber: Sumber: Chemistry,
d lainnya, tetapi energi dari kelima orbital itu setara. Gambar 1.8 Orbital d Sumber: Sumber: Chemistry,
d lainnya, tetapi energi dari kelima orbital itu setara. Gambar 1.8 Orbital d Sumber: Sumber: Chemistry,
d lainnya, tetapi energi dari kelima orbital itu setara. Gambar 1.8 Orbital d Sumber: Sumber: Chemistry,
d lainnya, tetapi energi dari kelima orbital itu setara. Gambar 1.8 Orbital d Sumber: Sumber: Chemistry,

Gambar 1.8 Orbital d Sumber: Sumber: Chemistry, The Molecular Nature of Matter and Change, Martin S. Silberberg. 2000.

Orbital f lebih rumit dan lebih sukar untuk dipaparkan, tetapi hal itu tidaklah merupakan masalah penting. Setiap subkulit f terdiri atas 7 orbital, sesuai dengan 7 harga m untuk l = 3.

atas 7 orbital, sesuai dengan 7 harga m untuk l = 3. Gambar 1.10 Salah satu

Gambar 1.10 Salah satu dari tujuh orbital 4 f, yaitu orbital f xyz Sumber: Chemistry, The Molecular Nature of Matter and Change, Martin S. Silberberg. 2000.

Nature of Matter and Change, Martin S. Silberberg. 2000. Gambar 1.9 Seluruh orbital d Sumber: Chemistry,

Gambar 1.9 Seluruh orbital d Sumber: Chemistry, The Molecular Nature of Matter and Change, Martin S. Silberberg. 2000.

12
12
12
G.
G.

Konfigurasi Elektron

Suatu cara penulisan yang menunjukkan distribusi elektron dalam orbital- orbital pada kulit utama dan subkulit disebut konfigurasi elektron. Pada penulisan konfigurasi elektron perlu dipertimbangkan tiga aturan (asas), yaitu prinsip Aufbau, asas larangan Pauli, dan kaidah Hund.

Prinsip Aufbauyaitu prinsip Aufbau, asas larangan Pauli, dan kaidah Hund. Elektron-elektron dalam suatu atom berusaha untuk menempati

Elektron-elektron dalam suatu atom berusaha untuk menempati subkulit- subkulit yang berenergi rendah, kemudian baru ke tingkat energi yang lebih tinggi. Dengan demikian, atom berada pada tingkat energi minimum. Inilah yang disebut prinsip Aufbau. Urutan-urutan tingkat energi di- tunjukkan pada gambar 1.11. Jadi, pengisian orbital dimulai dari orbital 1s, 2s, 2p, dan seterusnya. Pada gambar dapat dilihat bahwa subkulit 3d mempunyai energi lebih tinggi daripada subkulit 4s. Oleh karena itu, setelah 3p terisi penuh maka elektron berikutnya akan mengisi subkulit 4s, baru kemudian akan mengisi subkulit 3d.

Kaidah Hundsubkulit 4 s , baru kemudian akan mengisi subkulit 3 d . 1s 2s 2p 3s

1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d 4p 5s 4d 5p 4f 6s 5d 6p
1s
2s
2p
3s
3p
4s
3d
4p
5s
4d
5p
4f
6s
5d
6p
7s

Gambar 1.11 Diagram urutan tingkat energi orbital

Untuk menyatakan distribusi elektron-elektron pada orbital-orbital dalam suatu subkulit, konfigurasi elektron dapat dituliskan dalam bentuk diagram orbital. Suatu orbital dilambangkan dengan strip, sedangkan dua elektron yang menghuni satu orbital dilambangkan dengan dua anak panah yang berlawanan arah. Jika orbital hanya mengandung satu elektron, anak panah dituliskan mengarah ke atas. Dalam kaidah Hund, dikemukakan oleh Friedrich Hund (1894 – 1968) pada tahun 1930, disebutkan bahwa elektron-elektron dalam orbital-orbital suatu subkulit cenderung untuk tidak berpasangan. Elektron-elektron baru berpasangan apabila pada subkulit itu sudah tidak ada lagi orbital kosong.

pada subkulit itu sudah tidak ada lagi orbital kosong. Orbital kosong (tidak mengandung elektron) Orbital setengah

Orbital kosong (tidak mengandung elektron)

Orbital setengah penuh (mengandung elektron yang tidak berpasangan)

Orbital penuh (mengan- dung pasangan elektron)

Gambar 1.12 Pengisian orbital dalam suatu atom

13
13
13
Subkulit s Subkulit p Subkulit d Subkulit f Gambar 1.13 Subkulit yang dilambangkan dengan strip
Subkulit s
Subkulit p
Subkulit d
Subkulit f
Gambar 1.13 Subkulit yang dilambangkan dengan strip sebanyak orbital yang dimiliki
3.
Larangan Pauli

Pada tahun 1928, Wolfgang Pauli (1900 – 1958) mengemukakan bahwa tidak ada dua elektron dalam satu atom yang boleh mempunyai keempat bilangan kuantum yang sama. Dua elektron yang mempunyai bilangan kuantum utama, azimuth, dan magnetik yang sama dalam satu orbital, harus mempunyai spin yang berbeda. Kedua elektron tersebut berpasangan.

spin yang berbeda. Kedua elektron tersebut berpasangan. Setiap orbital mampu menampung maksimum dua elektron .

Setiap orbital mampu menampung maksimum dua elektron. Untuk mengimbangi gaya tolak-menolak di antara elektron-elektron tersebut, dua elektron dalam satu orbital selalu berotasi dalam arah yang berlawanan.

satu orbital selalu berotasi dalam arah yang berlawanan. Subkulit s (1 orbital) maksimum 2 elektron Subkulit

Subkulit s (1 orbital) maksimum 2 elektron Subkulit p (3 orbital) maksimum 6 elektron Subkulit d (5 orbital) maksimum 10 elektron Subkulit f (7 orbital) maksimum 14 elektron

Latihan 1.1
Latihan 1.1

1. Jelaskan gagasan dari ahli-ahli berikut berkaitan dengan perkembangan teori atom.

a. Max Planck

b. Niels Bohr

c. Louis de Broglie

d. Erwin Schrodinger

e. Werner Heisenberg

2. Spektrum unsur merupakan spektrum garis. Bagaimana Niels Bohr menjelaskan fakta tersebut?

3. Jelaskan perbedaan istilah orbit dalam model atom Niels Bohr dengan orbit dalam istilah mekanika kuantum!

4. Jelaskan masing-masing bilangan kuantum dalam menyatakan kedudukan suatu elektron dalam suatu atom!

5. Berapakah jumlah elektron maksimum dalam:

a. kulit dengan nilai n = 6

b. subkulit 2p

14
14
14

6. Gambarkan orbital 1s, 2s, 2p, 2p x , 2p y , dan 2p z dalam satu gambar!

7. Jelaskan beberapa istilah berikut ini!

a. Prinsip Aufbau

b. Kaidah Hund

c. Asas larangan Pauli

8. Tuliskan konfigurasi beberapa unsur berikut ini, kemudian tentukan jumlah elektron pada masing-masing kulit atomnya!

a. K (Z = 19)

f.

Se (Z = 34)

b. P (Z = 15)

g.

Fe (Z = 26)

c. Ni (Z = 28)

h.

Sr (Z = 38)

d. Cs (Z = 55)

i.

Rn (Z = 86)

e. Mn (Z = 25)

j.

Ra (Z = 88)

9. Tuliskan konfigurasi elektron dari ion-ion berikut.

a. Fe 3+ (Z = 26)

d.

Cl (Z = 17)

b. Cr 3+ (Z = 24)

e.

O 2 (Z = 8)

c. Co 3+ (Z = 27)

10.Konfigurasi elektron kalium (Z = 19) adalah K = 2, L = 8, M = 8, dan N = 1. Mengapa elektron mengisi kulit N, sedangkan kulit M belum terisi penuh?

1.2
1.2

Sistem Periodik Unsur

Seperti yang pernah kita pelajari di kelas X, bahwa sistem periodik modern disusun berdasarkan kenaikan nomor atom dan kemiripan sifat. Lajur-lajur hori- zontal (periode) disusun berdasarkan kenaikan nomor atom, sedangkan lajur-lajur vertikal (golongan) berdasarkan kemiripan sifat. Sedangkan pada pokok bahasan ini, kita akan mempelajari hubungan antara sistem periodik dengan konfigurasi elektron.

A.
A.

Hubungan Sistem Periodik dengan Konfigurasi Elektron

Para ahli kimia pada abad ke-19 mengamati bahwa terdapat kemiripan sifat yang berulang secara periodik (berkala) di antara unsur-unsur. Kita telah mempelajari usaha pengelompokan unsur berdasarkan kesamaan sifat, mulai dari Johann Wolfgang Dobereiner (1780 – 1849) pada tahun 1829 dengan kelompok-kelompok triad. Kemudian pada tahun 1865, John Alexander Reina Newlands (1838 – 1898) mengemukakan pengulangan unsur-unsur secara oktaf, serta Julius Lothar Meyer (1830 – 1895) dan Dmitri Ivanovich Mendeleev (1834 – 1907) pada tahun 1869 secara terpisah berhasil menyusun unsur-unsur dalam sistem periodik, yang kemudian disempurnakan dan diresmikan oleh IUPAC pada tahun 1933. Unsur-unsur yang jumlah kulitnya sama ditempatkan pada periode (baris) yang sama.

tahun 1933. Unsur-unsur yang jumlah kulitnya sama ditempatkan pada periode (baris) yang sama. Nomor periode =

Nomor periode = jumlah kulit

15
15
15

Unsur-unsur yang hanya mempunyai satu kulit terletak pada periode pertama (baris paling atas). Unsur-unsur yang mempunyai dua kulit terletak pada periode kedua (baris kedua), dan seterusnya. Contoh:

25 Mn : [A r ], 3d 5 , 4s 2

5 B

15 P

35 Br

: 1s 2 , 2s 2 , 2p 1 : 1s 2 , 2s 2 , 2p 6 , 3s 2 , 3p 3

: [A r ], 3d 10 , 4s 2 , 4p 5

periode 2

periode 3

periode 4

periode 4

Dari contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk menentukan nomor periode suatu unsur dapat diambil dari nomor kulit paling besar. Dengan berkembangnya pengetahuan tentang struktur atom, telah dapat disimpulkan bahwa sifat-sifat unsur ditentukan oleh konfigurasi elektronnya, terutama oleh elektron valensi. Unsur-unsur yang memiliki struktur elektron terluar (elektron valensi) yang sama ditempatkan pada golongan (kolom) yang sama. Dengan demikian, unsur-unsur yang segolongan memiliki sifat-sifat kimia yang sama. Penentuan nomor golongan tidaklah sesederhana seperti penentuan nomor periode. Distribusi elektron-elektron terluar pada subkulit s, p, d, dan f sangatlah menentukan sifat-sifat kimia suatu unsur. Oleh karena itu, unsur-unsur perlu dibagi menjadi tiga kelompok sebagai berikut.

1.
1.

Unsur-unsur Utama (Representatif)

Unsur-unsur utama adalah unsur-unsur yang pengisian elektronnya berakhir pada subkulit s atau subkulit p. Aturan penomoran golongan unsur utama adalah:

a. Nomor golongan sama dengan jumlah elektron di kulit terluar.

b. Nomor golongan dibubuhi huruf A (sistem Amerika).

Unsur

Konfigurasi Elektron

Golongan

3

Li

1s 2 , 2s 1

IA atau 1

4

Be

1s 2 , 2s 2

IIA atau 2

5

B

1s 2 , 2s 2 , 2p 1

IIIA atau 13

6

C

1s 2 , 2s 2 , 2p 2

IVA atau 14

7

N

1s 2 , 2s 2 , 2p 3

VA atau 15

8

O

1s 2 , 2s 2 , 2p 4

VIA atau 16

9

F

1s 2 , 2s 2 , 2p 5

VIIA atau 17

10

Ne

1s 2 , 2s 2 , 2p 6

VIIIA atau 18

16
16
16

Golongan

Nama Golongan

Elektron Terluar

Nomor Atom

IA

alkali

ns 1

GM + 1

IIA

alkali tanah

ns 2

GM + 2

IIIA

boron

ns 2 , np 1

GM – 5

IVA

karbon

ns 2 , np 2

GM – 4

VA

nitrogen

ns 2 , np 3

GM – 3

VIA

oksigen

ns 2 , np 4

GM – 2

VIIA

halogen

ns 2 , np 5

GM – 1

VIIIA

gas mulia

ns 2 , np 6

GM

Keterangan: n = GM = nomor kulit nomor atom gas mulia 1. Hidrogen, dengan konfigurasi
Keterangan:
n
=
GM
=
nomor kulit
nomor atom gas mulia
1. Hidrogen, dengan konfigurasi elektron 1s 1 , tidak termasuk golongan IA (alkali),
meskipun sering ditempatkan sekolom dengan golongan alkali. Akan tetapi, hidrogen
tidak dapat dimasukkan ke dalam golongan manapun, dan sebaiknya ditempatkan di
tengah-tengah pada bagian atas sistem periodik.
2. Helium, dengan konfigurasi elektron 1s 2 , adalah salah satu gas mulia. Jadi, meskipun
hanya memiliki dua elektron, helium termasuk golongan VIIIA.
2.
2.

Unsur-unsur Transisi (Peralihan)

Unsur-unsur transisi adalah unsur-unsur yang pengisian elektronnya berakhir pada subkulit d. Berdasarkan prinsip Aufbau, unsur-unsur transisi baru dijumpai mulai periode 4. Pada setiap periode kita menemukan 10 buah unsur transisi, sesuai dengan jumlah elektron yang dapat ditampung pada subkulit d. Diberi nama transisi karena terletak pada daerah peralihan antara bagian kiri dan kanan sistem periodik. Aturan penomoran golongan unsur transisi adalah:

a. Nomor golongan sama dengan jumlah elektron pada subkulit s di- tambah d.

b. Nomor golongan dibubuhi huruf B.

1. Jika s + d = 9, golongan VIIIB. 2. Jika s + d =
1. Jika s + d = 9, golongan VIIIB.
2. Jika s + d = 10, golongan VIIIB.
3. Jika s + d = 11, golongan IB.
4. Jika s + d = 12, golongan IIB.
17
17
17

Unsur

Konfigurasi Elektron

Golongan

 

21

Sc

[A r ], 3d 1 , 4s 2

IIIB atau 3

 

22

Ti

[A r ], 3d 2 , 4s 2

IVB

atau

4

 

23

V

[A r ], 3d 3 , 4s 2

VB

atau

5

24

Cr

[A r ], 3d 5 , 4s 1

VIB

atau

6

25

Mn

[A r ], 3d 5 , 4s 2

VIIB

atau

7

26

Fe

[A r ], 3d 6 , 4s 2

VIIIB

atau

8

27

Co

[A r ], 3d 7 , 4s 2

VIIIB

atau

9

28

Ni

[A r ], 3d 8 , 4s 2

VIIIB

atau

10

29 Cu

[A r ], 3d 10 , 4s 1

IB

atau

11

30 Zn

[A r ], 3d 10 , 4s 2

IIB

atau

12

3.
3.

Unsur-unsur Transisi-Dalam

Unsur-unsur transisi–dalam adalah unsur-unsur yang pengisian elektronnya berakhir pada subkulit f. Unsur-unsur transisi-dalam hanya dijumpai pada periode keenam dan ketujuh dalam sistem periodik, dan ditempatkan secara terpisah di bagian bawah. Sampai saat ini, unsur-unsur transisi-dalam belum dibagi menjadi golongan-golongan seperti unsur utama dan transisi. Unsur-unsur ini baru dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu unsur lantanida dan unsur aktinida. Unsur-unsur lantanida (seperti lantanum), adalah unsur-unsur yang elektron terakhirnya mengisi subkulit 4f dan unsur-unsur aktinida (seperti aktinum), adalah unsur-unsur yang elektron terakhirnya mengisi subkulit 5f.

B.
B.

Kegunaan Sistem Periodik

Sistem periodik dapat digunakan untuk memprediksi harga bilangan oksidasi, yaitu:

1. Nomor golongan suatu unsur, baik unsur utama maupun unsur transisi, menyatakan bilangan oksidasi tertinggi yang dapat dicapai oleh unsur tersebut. Hal ini berlaku bagi unsur logam dan unsur nonlogam.

2. Bilangan oksidasi terendah yang dapat dicapai oleh suatu unsur bukan logam adalah nomor golongan dikurangi delapan. Adapun bilangan oksidasi terendah bagi unsur logam adalah nol. Hal ini disebabkan karena unsur logam tidak mungkin mempunyai bilangan oksidasi negatif.

18
18
18

Sistem Periodik dan Aturan Aufbau; Blok s, p, d, dan f

Kaitan antara sistem periodik dengan konfigurasi elektron (asas Aufbau) dapat dilihat seperti pada gambar 1.15.

Blok s Blok p 1A 2A 3A 4A 5A 6A 7A 8A (1) (2) (13)
Blok s
Blok p
1A
2A
3A
4A
5A
6A
7A
8A
(1)
(2)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
n ns 1
ns 2
ns 2 np 1
ns 2 np 2 ns 2 np 3 ns 2 np 4 ns 2 np 5 ns 2 np 6
1
2
He
1 He
H
1s 1
1s 2
6
3
4
5
7
8
9
10
2 Be
B
C
Li
N
O
F
2s 2 2p 1
2s 2 2p 2
2s 2 2p
3
2s 2 2p 4
2s 2 2p 5
Ne
2s 2 2p 6
2s 1
2s 2
11
12
13
14
15
16
17
18
3 Mg
Na
Al
Si
P
S
Cl
3s 2 3p 1
3s 2 3p 2
3s 2 3p
3
3s 2 3p 4
3s 2 3p 5
Ar
3s 2 3p 6
3s 1
3s 2
31
32
33
34
35
36
19
20
4 Ca
K
Ga
As
Se
Br
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
4s 1
4s 2
4s 2 4p 1
Ge
4s 2 4p 2
4s 2 4p 3
4s 2 4p 4 4s 2 4p 5
Kr
4s 2 4p 6
37
38
49
50
51
52
53
54
5 Sr
Rb
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
In
Sn
Sb
Te
l
5s 1
5s 2
5s 2 5p 1 5s 2 5p 2
5s 2 5p 3
5s 2 5p 4 5s 2 5p 5
Xe
5s 2 5p 6
Unsur Transisi (Blok d)
81
82
83
84
85
86
55
56
57
72
73
74
75
76
77
78
79
80
Ti
Pb
Bl
Po
At
6 Ba
Cs
6s 2 6p 1
6s 2 6p 2
6s 2 6p
3
6s 2 6p 4
6s 2 6p 5
Rn
6s 2 6p 6
6s 1
6s 2
89
104
105
106
107
108
109
110
111
112
87
88
7 Ra
Fr
7s 1
7s 2
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
Unsur Transisi Dalam (Blok f )
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103

Gambar 1.15 Sistem periodik unsur memperlihatkan pengelompokan unsur-unsur dalam blok s, p, d, dan f. Sumber: Chemistry, The Molecular Nature of Matter and Change, Martin S. Silberberg. 2000.

Dapat kita lihat bahwa asas Aufbau bergerak dari kiri ke kanan sepanjang periode, kemudian meningkat ke periode berikutnya. Setiap periode dimulai dengan subkulit ns dan ditutup dengan subkulit np (n = nomor periode).

1s, 2s, 2p, 3s, 3p, 4s, 3d, 4p, 5s, 4d, 5p, 6s, 4f, 5d, 6p, 7s, 5f, 6d

Periode:

1

2

3

4

5

6

7

Berdasarkan jenis orbital yang ditempati oleh elektron terakhir, unsur-unsur dalam sistem periodik dibagi atas blok s, blok p, blok d, dan blok f.

a. Blok s: golongan IA dan IIA Blok s tergolong logam aktif, kecuali H dan He. H tergolong nonlogam, sedangkan He tergolong gas mulia.

b. Blok p: golongan IIIA sampai dengan VIIIA Blok p disebut juga unsur-unsur representatif karena di situ terdapat semua jenis unsur logam, nonlogam, dan metaloid.

19
19
19

d. Blok f: lantanida dan aktinida Blok f disebut juga unsur transisi–dalam, semuanya tergolong logam. Semua unsur transisi–dalam periode 7, yaitu unsur-unsur aktinida, bersifat radioaktif.

Latihan 1.2
Latihan 1.2

1. Tentukan periode dan golongan masing-masing unsur berikut dalam sistem periodik.

a. Br (Z = 35)

b. Sn (Z = 50)

c. Nd (Z = 60)

2. Di antara masing-masing pasangan unsur berikut, tentukan unsur yang mempunyai kereaktifan lebih besar.

a. Natrium dan kalium

b. Oksigen dan belerang

3. Tentukan bilangan oksidasi paling tinggi dan paling rendah dari masing-masing unsur

berikut.

a. N (Z = 7)

b. S (Z = 16)

c. Cl (Z = 17)

4. Bagaimanakah kaitan konfigurasi elektron unsur dengan letak unsur dalam sistem periodik?

5. Tentukan elektron valensi dari:

a. unsur P pada periode 5, golongan IA

b. unsur Q pada periode 4, golongan VIIIB

c. unsur R pada periode 3, golongan VIIA

d. unsur S pada periode 6, golongan IIIB

20
20
20
1.3
1.3

Ikatan Kimia

Di kelas X kita telah mempelajari konsep ikatan kimia, yaitu tentang ikatan ion, ikatan kovalen, dan ikatan logam. Pada pokok bahasan ini, kita akan mempelajari bentuk molekul dalam ikatan kimia yang akan mempengaruhi gaya tarik-menarik antarmolekul dan sifat-sifat gas.

Bentuk Geometri Molekulgaya tarik-menarik antarmolekul dan sifat-sifat gas. Bentuk molekul berkaitan dengan susunan ruang atom-atom

Bentuk molekul berkaitan dengan susunan ruang atom-atom dalam molekul. Berikut ini bentuk geometri dari beberapa molekul.

O C O Linier
O
C
O
Linier
P H F I F O Cl Cl H H B F Bengkok Cl H
P
H
F
I
F
O
Cl Cl
H
H
B
F
Bengkok
Cl
H
H
Segitiga planar
Planar bentuk T
Piramida trigonal

Gambar 1.16 Bentuk geometri dari beberapa molekul sederhana

Kita dapat menentukan bentuk molekul dari hasil percobaan maupun dengan cara meramalkan bentuk molekul melalui pemahaman struktur elektron dalam molekul. Pada subbab ini, kita akan membahas cara meramalkan bentuk molekul berdasarkan teori tolak-menolak elektron-elektron pada kulit luar atom pusatnya.

1.
1.

Teori VSEPR (Valence Shell Electron Pair Repulsion)

Teori VSEPR (Valence Shell Electron Pair Repulsion) menyatakan bahwa pasangan elektron dalam ikatan kimia ataupun pasangan elektron yang tidak dipakai bersama (yaitu pasangan elektron “mandiri”) saling tolak- menolak, pasangan elektron cenderung untuk berjauhan satu sama lain. Menurut asas Pauli, jika sepasang elektron menempati suatu orbital, maka elektron lain bagaimanapun rotasinya tidak dapat berdekatan dengan pasangan tersebut. Teori ini menggambarkan arah pasangan elektron terhadap inti suatu atom. Gaya tolak-menolak antara dua pasang elektron akan semakin kuat dengan semakin kecilnya jarak antara kedua pasang elektron tersebut. Gaya tolakan akan menjadi semakin kuat jika sudut di antara kedua pasang elektron tersebut besarnya 90º. Selain itu, tolakan yang melibatkan pasangan elektron mandiri lebih kuat daripada yang melibatkan pasangan ikatan (Ralph H. Petrucci, 1985). Berikut ini adalah urutan besarnya gaya tolakan antara dua pasang elektron.

pasangan mandiri
pasangan
mandiri

pasangan mandiri
pasangan
mandiri

>

pasangan mandiri
pasangan
mandiri

pasangan ikatan
pasangan
ikatan

>

pasangan ikatan
pasangan
ikatan

pasangan ikatan
pasangan
ikatan
21
21
21
2.
2.

Teori Domain Elektron

Teori domain elektron merupakan penyempurnaan dari teori VSEPR. Domain elektron berarti kedudukan elektron atau daerah keberadaan elektron, dengan jumlah domain ditentukan sebagai berikut (Ralph H. Petrucci, 1985).

a. Setiap elektron ikatan (baik itu ikatan tunggal, rangkap, atau rangkap tiga) berarti 1 domain.

b. Setiap pasangan elektron bebas berarti 1 domain.

No.

Senyawa

 

Rumus Lewis

Jumlah Domain Elektron

     

:

 

1.

H

2 O

 

H

:O:

 

H

4

 

:

     

:

:

 

2.

CO 2

:

O

:

:

CO

:

:

:

2

3.

C

2 H 2

 

H:

C

C

:O

 

3

     

:

 

4.

SO 2

:

O

:

:

:

S

:

:

:

:

O

3

     

:

 

Teori domain elektron mempunyai prinsip-prinsip dasar sebagai berikut (Ralph H. Petrucci, 1985).

a. Antardomain elektron pada kulit luar atom pusat saling tolak-menolak sehingga domain elektron akan mengatur diri (mengambil formasi) sedemikian rupa, sehingga tolak-menolak di antaranya menjadi minimum. Susunan ruang domain elektron yang berjumlah 2 hingga 6 domain yang memberi tolakan minimum, dapat dilihat pada tabel 1.7.

b. Urutan kekuatan tolak-menolak di antara domain elektron adalah:

tolakan antardomain elektron bebas > tolakan antara domain elektron bebas dengan domain elektron ikatan > tolakan antardomain elektron ikatan. Perbedaan daya tolak ini terjadi karena pasangan elektron bebas hanya terikat pada satu atom saja, sehingga bergerak lebih leluasa dan menempati ruang lebih besar daripada pasangan elektron ikatan. Akibat dari perbedaan daya tolak tersebut adalah mengecilnya sudut ikatan karena desakan dari pasangan elektron bebas. Hal ini juga terjadi dengan domain yang mempunyai ikatan rangkap atau rangkap tiga, yang pasti mempunyai daya tolak lebih besar daripada domain yang hanya terdiri dari sepasang elektron.

c. Bentuk molekul hanya ditentukan oleh pasangan elektron terikat.

22
22
22

Jumlah Domain

 

Susunan Ruang

Besar Sudut

Elektron

(Geomoetri)

Ikatan

2

:

A

:

linier

180°

   

:

 

3

A

segitiga sama sisi

120°

:
:
:
:

4

A : : : :
A
:
:
:
:

tetrahedron

109,5°

5

 
: : A : : :
:
:
A
:
:
:
 

bipiramida trigonal

ekuatorial = 120°

 

aksial = 90°

6

 
: : A : : : :
:
:
A
:
:
:
:

oktahedron

90°

Jumlah domain (pasangan elektron) dalam suatu molekul dapat dinya- takan sebagai berikut.

• Atom pusat dinyatakan dengan lambang A.

• Domain elektron ikatan dinyatakan dengan X.

• Domain elektron bebas dinyatakan dengan E. Tipe molekul dapat dinyatakan dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut. 1) Menentukan jumlah elektron valensi atom pusat (EV). 2) Menentukan jumlah domain elektron ikatan (X). 3) Menentukan jumlah domain elektron bebas (E).

( EV –) X E = 2
(
EV
–) X
E =
2
C o n t o h 1.1
C o n t o h
1.1

Tentukan tipe molekul dari senyawa-senyawa biner berikut ini.

a. BF 3

b. PCl 3

Jawab:

a. Jumlah elektron valensi atom pusat (boron) = 3 Jumlah domain elektron ikatan (X) = 3

c. ClF 3

Jumlah domain elektron bebas (E) = (3

3)

2

= 0

23
23
23

b. Jumlah elektron valensi atom pusat (fosfor) = 5 Jumlah domain elektron ikatan (X) = 3

= 1

Jumlah domain elektron bebas (E) = (5

Tipe molekul: AX 3 E

3)

2

c. Jumlah elektron valensi atom pusat (klorin) = 7 Jumlah domain elektron ikatan (X) = 3

Jumlah domain elektron bebas (E) = (7

Tipe molekul: AX 3 E 2

3)

2

= 2

Jumlah Pasangan

Jumlah Pasangan

Rumus

Bentuk Molekul

Contoh

Elektron Ikatan

Elektron Bebas

2

0

AX 2

linier

BeCl 2

3

0

AX 3

trigonal datar

BF 3

2

1

AX 2 E

trigonal bentuk V

SO 2

4

0

AX 4

tetrahedron

CH 4

3

1

AX 3 E

piramida trigonal

NH 3

2

2

AX 2 E 2

planar bentuk V

H

2 O

5

0

AX 5

bipiramida trigonal

PCl 5

4

1

AX 4 E

bidang empat

SF 4

3

2

AX 3 E 2

planar bentuk T

ClF 3

2

3

AX 2 E 3

linier

XeF 2

6

0

AX 6

oktahedron

SF 6

5

1

AX 5 E

piramida sisi empat

BrF 5

4

2

AX 4 E 2

segi empat planar

XeF 4

Cara penetapan tipe molekul dengan menggunakan langkah-langkah di atas hanya berlaku untuk senyawa biner berikatan tunggal. Untuk senyawa biner yang berikatan rangkap atau ikatan kovalen koordinasi, maka jumlah elektron yang digunakan untuk membentuk pasangan terikat menjadi dua kali jumlah ikatan.

C o n t o h 1.2
C o n t o h
1.2

Tentukan tipe molekul senyawa-senyawa biner rangkap berikut ini.

a. XeO 4

24
24
24

Jawab:

a. Jumlah elektron valensi atom pusat = 8 Jumlah domain elektron ikatan (X) = 4, tetapi jumlah elektron yang digunakan atom pusat = 4 × 2 = 8

Jumlah domain elektron bebas (E) = (8

Tipe molekul: AX 4

8)

2

=

0

b. Jumlah elektron valensi atom pusat = 6 Jumlah domain elektron ikatan (X) = 3, tetapi jumlah elektron yang digunakan atom pusat = 3 × 2 = 6

Jumlah domain elektron bebas (E) = (6

Tipe molekul: AX 3

6)

2

=

0

Langkah-langkah yang dilakukan untuk meramalkan geometri molekul adalah:

a. Menentukan tipe molekul.

b. Menggambarkan susunan ruang domain-domain elektron di sekitar atom pusat yang memberi tolakan minimum.

c. Menetapkan pasangan terikat dengan menuliskan lambang atom yang bersangkutan.

d. Menentukan geometri molekul setelah mempertimbangkan pengaruh pasangan elektron bebas.

Sumber: General Chemistry, Principles and Modern Aplication, Ralph H. Petrucci, 4 th ed, 1985.

Contoh:

Molekul air, H 2 O Langkah 1: Tipe molekul adalah AX 2 E 2 (4 domain). Langkah 2: Susunan ruang pasangan-pasangan elektron yang memberi tolakan minimum adalah tetrahedron.

: O H H Susunan ruang pasangan- pasangan elektron :
:
O
H
H
Susunan
ruang
pasangan-
pasangan elektron
:
: O H H Susunan ruang pasangan- pasangan elektron : B e n t u k

Bentuk molekul

Langkah 3: Menentukan pasangan terikat dengan menuliskan lambang atom yang terikat (atom H). Langkah 4: Molekul berbentuk V (bentuk bengkok).

Hasil percobaan menunjukkan bahwa sudut ikatan H–O–H dalam air adalah 104,5°, sedikit lebih kecil daripada sudut tetrahedron (109,5°). Hal ini terjadi karena desakan pasangan elektron bebas.

25
25
25
B.
B.

Teori Hibridisasi

Teori domain elektron dapat digunakan untuk meramalkan bentuk molekul, tetapi teori ini tidak dapat digunakan untuk mengetahui penyebab suatu molekul dapat berbentuk seperti itu. Sebagai contoh, teori domain elektron meramalkan molekul metana (CH 4 ) berbentuk tetrahedron dengan 4 ikatan C-H yang ekuivalen dan fakta eksperimen juga sesuai dengan ramalan tersebut, akan tetapi mengapa molekul CH 4 dapat berbentuk tetrahedron?

= 6) mempunyai konfigurasi

Pada tingkat dasar, atom C (nomor atom elektron sebagai berikut.

6 C : 1s 2 2s 2 2p 2
6 C : 1s 2
2s 2
2p 2

Dengan konfigurasi elektron seperti itu, atom C hanya dapat membentuk 2 ikatan kovalen (ingat, hanya elektron tunggal yang dapat dipasangkan untuk membentuk ikatan kovalen). Oleh karena ternyata C membentuk 4 ikatan kovalen, dapat dianggap bahwa 1 elektron dari orbital 2s dipromosikan ke orbital 2p, sehingga C mempunyai 4 elektron tunggal sebagai berikut.

menjadi:

6 C : 1s 2 2s 2 2p 2 6 C : 1s 2 2s
6 C : 1s 2
2s 2
2p 2
6 C : 1s 2
2s 1
2p 3
menjadi: 6 C : 1s 2 2s 2 2p 2 6 C : 1s 2 2s

Namun demikian, keempat elektron tersebut tidaklah ekuivalen dengan satu pada satu orbital 2s dan tiga pada orbital 2p, sehingga tidak dapat menjelaskan penyebab C pada CH 4 dapat membentuk 4 ikatan ekuivalen yang equivalen. Untuk menjelaskan hal ini, maka dikatakan bahwa ketika atom karbon membentuk ikatan kovalen dengan H membentuk CH 4 , orbital 2s dan ketiga orbital 2p mengalami hibridisasi membentuk 4 orbital yang setingkat. Orbital hibridanya ditandai dengan sp 3 untuk menyatakan asalnya, yaitu satu orbital s dan 3 orbital p.

6 C:

1s 2

2s 1

2p 3

mengalami hibridisasi menjadi

6 C : 1s 2

(2sp 3 ) 4

Hibridisasi tidak hanya menyangkut tingkat energi, tetapi juga bentuk orbital gambar. Sekarang, C dengan 4 orbital hibrida sp 3 , dapat membentuk 4 ikatan kovalen yang equivalen. Jadi, hibridisasi adalah peleburan orbital-orbital dari tingkat energi yang berbeda menjadi orbital-orbital yang setingkat.

orbital-orbital dari tingkat energi yang berbeda menjadi orbital-orbital yang setingkat. Gambar 1.17 Bentuk molekul CH 4

Gambar 1.17 Bentuk molekul CH 4

26
26
26

Jumlah orbital hibrida (hasil hibridisasi) sama dengan jumlah orbital yang terlihat pada hibridasi itu. Berbagai tipe hibridisasi disajikan dalam tabel 1.9.

Bentuk Orbital Orbital Asal Orbital Hibrida Gambar Hibrida s, p sp linier s, p, p
Bentuk Orbital
Orbital Asal
Orbital Hibrida
Gambar
Hibrida
s, p
sp
linier
s, p, p
sp 2
segitiga sama sisi
s, p, p, p
sp 3
tetrahedron
s, p, p, p, d
sp 3 d
bipiramida trigonal
s, p, p, p, d, d
sp 3 d 2
oktahedron

Sumber: Chemistry, The Molecular Nature of Matter and Change, Martin S. Silberberg, 2000.

C.
C.

Gaya Tarik Antarmolekul

Dalam kehidupan sehari-hari, kita menemukan berbagai jenis zat yang partikelnya berupa molekul dan berbeda fasa. Dalam fasa gas, pada suhu tinggi dan tekanan yang relatif rendah (jauh di atas titik didihnya), molekul-molekul benar-benar berdiri sendiri, tidak ada gaya tarik antarmolekul. Akan tetapi, pada suhu yang relatif rendah dan tekanan yang relatif tinggi, yaitu mendekati titik embunnya, terdapat suatu gaya tarik-menarik antarmolekul. Gaya tarik menarik antar molekul itulah yang memungkinkan suatu gas dapat mengembun (James E. Brady, 1990). Molekul-molekul dalam zat cair atau dalam zat padat diikat oleh gaya tarik- menarik antar molekul. Oleh karena itu, untuk mencairkan suatu zat padat atau untuk menguapkan suatu zat cair diperlukan energi untuk mengatasi gaya tarik-menarik antar molekul. Makin kuat gaya tarik antar molekul, makin banyak energi yang diperlukan untuk mengatasinya, maka semakin tinggi titik cair atau titik didih.

27
27
27
D.
D.

Gaya Tarik-Menarik Dipol Sesaat – Dipol Terimbas (Gaya London)

Antarmolekul nonpolar terjadi tarik-menarik yang lemah akibat terbentuknya dipol sesaat. Pada waktu membahas struktur elektron, kita mengacu pada peluang untuk menemukan elektron di daerah tertentu pada waktu tertentu. Elektron senantiasa bergerak dalam orbit. Perpindahan elektron dari suatu daerah ke daerah lainnya menyebabkan suatu molekul yang secara normal bersifat nonpolar menjadi polar, sehingga terbentuk suatu dipol sesaat. Dipol yang terbentuk dengan cara itu disebut dipol sesaat karena dipol itu dapat berpindah milyaran kali dalam 1 detik. Pada saat berikutnya, dipol itu hilang atau bahkan sudah berbalik arahnya. Suatu saat yang mungkin terjadi digambarkan pada gambar 1.18.

saat yang mungkin terjadi digambarkan pada gambar 1.18. Gambar 1.18 Gaya London Dipol sesaat pada suatu
saat yang mungkin terjadi digambarkan pada gambar 1.18. Gambar 1.18 Gaya London Dipol sesaat pada suatu

Gambar 1.18 Gaya London

Dipol sesaat pada suatu molekul dapat mengimbas pada molekul di sekitarnya, sehingga membentuk suatu dipol terimbas. Hasilnya adalah suatu gaya tarik-menarik antarmolekul yang lemah. Penjelasan teoritis mengenai gaya-gaya ini dikemukakan oleh Fritz London pada tahun 1928. Oleh karena itu gaya ini disebut gaya London (disebut juga gaya dispersi) (James E. Brady,

1990).

Kemudahan suatu molekul untuk membentuk dipol sesaat atau untuk mengimbas suatu molekul disebut polarisabilitas. Polarisabilitas berkaitan dengan massa molekul relatif (M r ) dan bentuk molekul. Pada umumnya, makin banyak jumlah elektron dalam molekul, makin mudah mengalami polarisasi. Oleh karena jumlah elektron berkaitan dengan massa molekul relatif, maka dapat dikatakan bahwa makin besar massa molekul relatif, makin kuat gaya London. Misalnya, radon (A r = 222) mempunyai titik didih lebih tinggi dibandingkan helium (A r = 4), 221 K untuk Rn dibandingkan dengan 4 K untuk He. Molekul yang bentuknya panjang lebih mudah mengalami polarisasi dibandingkan molekul yang kecil, kompak, dan simetris. Misalnya, normal pentana mempunyai titik cair dan titik didih yang lebih tinggi dibandingkan neopentana. Kedua zat itu mempunyai massa molekul relatif yang sama besar.

28
28
28
28 Gambar 1.19 Bentuk molekul dan polarisabilitas Gaya dispersi (gaya London) merupakan gaya yang relatif lemah.

Gambar 1.19 Bentuk molekul dan polarisabilitas

Gaya dispersi (gaya London) merupakan gaya yang relatif lemah. Zat yang molekulnya bertarikan hanya berdasarkan gaya London, yang mempunyai titik leleh dan titik didih yang rendah dibandingkan dengan zat lain yang massa molekul relatifnya kira-kira sama. Jika molekul-molekulnya kecil, zat-zat itu biasanya berbentuk gas pada suhu kamar, misalnya hidrogen (H 2 ), nitrogen (N 2 ), metana (CH 4 ), dan gas-gas mulia.

E.
E.

Gaya Tarik Dipol-dipol

Molekul yang sebaran muatannya tidak simetris, bersifat polar dan mempunyai dua ujung yang berbeda muatan (dipol). Dalam zat polar, molekul- molekulnya cenderung menyusun diri dengan ujung (pol) positif berdekatan dengan ujung (pol) negatif dari molekul di dekatnya. Suatu gaya tarik-menarik yang terjadi disebut gaya tarik dipol-dipol. Gaya tarik dipol-dipol lebih kuat dibandingkan gaya dispersi (gaya London), sehingga zat polar cenderung mempunyai titik cair dan titik didih lebih tinggi dibandingkan zat nonpolar yang massa molekulnya kira-kira sama. Contohnya normal butana dan aseton (James E. Brady, 2000). Gaya-gaya antarmolekul, yaitu gaya dispersi (gaya London) dan gaya dipol- dipol, secara kolektif disebut gaya Van der Waals. Gaya dispersi terdapat pada setiap zat, baik polar maupun nonpolar. Gaya dipol-dipol yang terdapat pada zat polar menambah gaya dispersi dalam zat itu. Dalam membandingkan zat- zat yang mempunyai massa molekul relatif (Mr) kira-kira sama, adanya gaya dipol-dipol dapat menghasilkan perbedaan sifat yang cukup nyata. Misalnya, normal butana dengan aseton. Akan tetapi dalam membandingkan zat dengan massa molekul relatif (Mr) yang berbeda jauh, gaya dispersi menjadi lebih penting. Misalnya, HCl dengan HI, HCl (momen dipol = 1,08) lebih polar dari HI (momen dipol = 0,38). Kenyataannya, HI mempunyai titik didih lebih tinggi daripada HCl. Fakta itu menunjukkan bahwa gaya Van der Waals dalam HI lebih kuat daripada HCl. Berarti, lebih polarnya HCl tidak cukup untuk mengimbangi kecenderungan peningkatan gaya dispersi akibat pertambahan massa molekul dari HI.

29
29
29
F.
F.

Ikatan Hidrogen

Antara molekul-molekul yang sangat polar dan mengandung atom hidrogen terjadi ikatan hidrogen. Titik didih senyawa “hidrida” dari unsur-unsur golongan IVA, VA, VIA, dan VIIA, diberikan pada gambar 1.20.

400 300 200 100 Titik Didih Normal (K)
400
300
200
100
Titik Didih Normal (K)

25

50

75

100

125

150

Bobot Molekul

175

Gambar 1.20 Titik didih senyawa hidrida dari unsur-unsur go- longan IVA, VA, VIA, dan VIIA. Sumber:

Chemistry, The Mole- cular Nature of Matter and Change, Martin S. Silberberg. 2000.

Perilaku normal ditunjukkan oleh senyawa hidrida dari unsur-unsur golo- ngan IVA, yaitu titik didih meningkat sesuai dengan penambahan massa molekul. Kecenderungan itu sesuai dengan yang diharapkan karena dari CH 4 ke SnH 4 massa molekul relatif meningkat, sehingga gaya Van der Waals juga makin kuat. Akan tetapi, ada beberapa pengecualian seperti yang terlihat pada gambar, yaitu HF, H 2 O, dan NH 3 . Ketiga senyawa itu mempunyai titik didih yang luar biasa tinggi dibandingkan anggota lain dalam kelompoknya. Fakta itu menunjukkan adanya gaya tarik-menarik antarmolekul yang sangat kuat dalam senyawa-senyawa tersebut. Walaupun molekul HF, H 2 O, dan NH 3 ber- sifat polar, gaya dipol-dipolnya tidak cukup kuat untuk menerangkan titik didih yang mencolok tinggi itu. Perilaku yang luar biasa dari senyawa-senyawa yang disebutkan di atas disebabkan oleh ikatan lain yang disebut ikatan hidrogen (James E. Brady, 2000). Oleh karena unsur F, O, dan N sangat elektronegatif, maka ikatan F – H, O – H, dan N – H sangat polar, atom H dalam senyawa-senyawa itu sangat positif. Akibatnya, atom H dari satu molekul terikat kuat pada atom unsur yang sangat elektronegatif (F, O, atau N) dari molekul tetangganya melalui pasangan elektron bebas pada atom unsur berkeelektronegatifan besar itu. Ikatan hidrogen dalam H 2 O disajikan pada gambar 1.21.

Ikatan hidrogen dalam H 2 O disajikan pada gambar 1.21. Gambar 7.21 Molekul polar air (kiri)
Ikatan hidrogen dalam H 2 O disajikan pada gambar 1.21. Gambar 7.21 Molekul polar air (kiri)

Gambar 7.21 Molekul polar air (kiri) dan ikatan hidrogen pada air (kanan). Sumber:

Chemistry, The Molecular Nature of Matter and Change, Martin S. Silberberg. 2000.

30
30
30
Latihan 1.3
Latihan 1.3

1. Diketahui massa molekul dari beberapa zat sebagai berikut. N 2 = 28, O 3 = 48, F 2 = 38 A r = 40, dan Cl 2 = 71. Susunlah zat-zat itu berdasarkan titik didihnya dan jelaskan alasan Anda!

2. Ramalkan titik didih unsur-unsur halogen, dari atas ke bawah bertambah atau berkurang? Jelaskan jawaban Anda!

3. Urutkan interaksi antarpartikel ikatan kovalen, ikatan Van der Waals, dan ikatan hidrogen, dimulai dari yang terlemah!

Rangkuman

Rangkuman

1. Teori kuantum adalah teori yang didasarkan pada pernyataan bahwa energi berada dalam satuan yang sangat kecil, yang nilainya tertentu yang disebut kuanta. Jika terjadi pengalihan energi, seluruh kuantum terlibat.

2. Foton adalah “partikel” cahaya. Energi dari seberkas sinar terpusatkan dalam foton ini.

3. Fotolistrik adalah listrik yang diinduksi oleh cahaya (foton).

4. Spektrum atom (spektrum garis) adalah spektrum yang dihasilkan oleh sinar yang dipancarkan oleh atom yang tereksitasi. Spektrum ini hanya mempunyai sederet garis (warna) dengan panjang gelombang tertentu.

5. Kulit atom adalah lintasan elektron di mana elektron dapat beredar tanpa pemancaran atau penyerapan energi dan berupa lingkaran dengan jari-jari tertentu.

6. Bilangan kuantum adalah bilangan bulat yang nilainya harus ditentukan untuk dapat memecahkan persamaan mekanika gelombang, yang dimulai dari kulit K, L, M, dan seterusnya.

7. Ground state (tingkat dasar) adalah keadaan di mana elektron mengisi kulit-kulit dengan tingkat energi terendah.

8. Excited state (keadaan tereksitasi) adalah keadaan di mana ada elektron yang menempati tingkat energi yang lebih tinggi.

9. Untuk menyatakan kedudukan (tingkat energi, bentuk, serta orientasi) suatu orbital menggunakan tiga bilangan kuantum, yaitu bilangan kuantum utama (n), bilangan kuantum azimuth (l), dan bilangan kuantum magnetik (m l atau m).

10. Bilangan kuantum utama (n) menyatakan tingkat energi utama atau kulit atom. Bilangan kuantum utama mempunyai harga mulai dari 1, 2, 3, dan seterusnya (bilangan bulat positif) yang dinyatakan dengan lambang K (n = 1), L (n = 2), dan seterusnya.

31
31
31

12. Bilangan kuantum magnetik (m) menyatakan letak orbital khusus yang ditempati elektron pada suatu subkulit.

13. Sambil beredar mengintari inti, elektron juga berputar pada sumbunya. Arah rotasi elektron searah atau berlawanan arah jarum jam. Kedua arah yang berbeda itu dinyatakan dengan bilangan kuantum spin (s), yang mempunyai nilai s = + ½ atau s = –½.

14. Energi dan bentuk orbital diturunkan dari persamaan gelombang (Ψ = psi), sedangkan besaran pangkat dua (Ψ 2 ) dari persamaan gelombang menyatakan rapatan muatan atau peluang menemukan elektron pada suatu titik pada suatu jarak tertentu dari inti.

15. Orbital 1s, 2s, dan 3s akan mempunyai bentuk yang sama, tetapi ukuran atau tingkat energinya berbeda.

16. Konfigurasi elektron adalah gambaran yang menunjukkan penempatan elektron dalam orbital-orbitalnya dalam suatu atom.

17. Pada penulisan konfigurasi elektron perlu dipertimbangkan tiga aturan (asas), yaitu prinsip Aufbau, asas larangan Pauli, dan kaidah Hund.

18. Asas Aufbau menyatakan pengisian orbital dimulai dari tingkat energi yang paling rendah.

19. Kaidah Hund menyatakan jika terdapat orbital-orbital yang peringkat energinya sama, maka setiap orbital hanya berisi elektron tunggal lebih dahulu, sebelum diisi oleh pasangan elektron.

20. Asas larangan Pauli menyatakan bahwa tidak ada dua elektron yang mempunyai empat bilangan kuantum yang sama. Dua elektron yang menempati orbital yang sama harus mempunyai arah rotasi yang berlawanan.

21. Sistem periodik unsur modern (SPU) disusun berdasarkan kenaikan nomor atom dan kemiripan sifat.

22. Periode adalah lajur-lajur horizontal dalam SPU. Dalam SPU modern, periode disusun berdasarkan kenaikan nomor atom. Nomor periode suatu unsur sama dengan jumlah kulit unsur itu.

23. Golongan adalah lajur-lajur vertikal dalam SPU, yaitu kelompok unsur yang disusun berdasarkan kemiripan sifat. Nomor golongan suatu unsur sama dengan jumlah elektron valensi unsur tersebut.

24. Nomor periode sama dengan jumlah kulit, di mana nomor periode suatu unsur dapat diambil dari nomor kulit paling besar.

25. Sifat-sifat unsur ditentukan oleh elektron valensinya. Unsur-unsur yang segolongan memiliki sifat-sifat kimia yang sama.

26. Dalam menentukan konfigurasi elektron perlu memperhatikan tiga hal, yaitu unsur- unsur utama, unsur-unsur transisi, dan unsur-unsur transisi–dalam.

32
32
32

28. Unsur-unsur transisi adalah unsur-unsur yang pengisian elektronnya berakhir pada subkulit d.

29. Unsur-unsur transisi–dalam adalah unsur-unsur yang pengisian elektronnya berakhir pada subkulit f. Unsur-unsur lantanida (seperti lantanum), adalah unsur-unsur yang elektron terakhirnya mengisi subkulit 4f dan unsur-unsur aktinida (seperti aktinum), adalah unsur-unsur yang elektron terakhirnya mengisi subkulit 5f.

30. Hubungan sistem periodik dengan konfigurasi elektron dapat dilihat sesuai dengan prinsip Aufbau, bergerak dari kiri ke kanan sepanjang periode, kemudian meningkat ke periode berikutnya. Setiap periode dimulai dengan subkulit ns dan ditutup dengan subkulit np (n = nomor periode).

31. Bentuk molekul adalah suatu gambaran geometris yang dihasilkan jika inti atom- atom terikat dihubungkan oleh garis lurus, berkaitan dengan susunan ruang atom- atom dalam molekul.

32. Teori VSEPR (Valence Shell Electron Pair Repulsion) adalah teori yang menyatakan bahwa baik pasangan elektron dalam ikatan kimia ataupun pasangan elektron yang tidak dipakai bersama (yaitu pasangan elektron “mandiri”) saling tolak-menolak.

33. Teori domain elektron merupakan penyempurnaan dari teori VSEPR. Domain elektron berarti kedudukan elektron atau daerah keberadaan elektron, jumlah domain ditentukan oleh pasangan elektron ikatan atau pasangan elektron bebas.

34. Molekul polar dan nonpolar dapat ditentukan dengan percobaan yang dilakukan di dalam medan listrik suatu kondensor.

35. Hibridisasi adalah penggabungan orbital atom sederhana untuk menghasilkan orbital- orbital (hibrida) baru.

36. Gaya tarik antarmolekul adalah gaya yang mengukuhkan atom-atom dalam molekul.

37. Gaya London adalah gaya tarik–menarik antara molekul yang lemah.

38. Polarisabilitas adalah kemudahan suatu molekul untuk membentuk dipol sesaat atau untuk mengimbas suatu molekul.

39. Gaya tarik dipol-dipol terjadi karena molekul yang sebaran muatannya tidak simetris bersifat polar dan mempunyai dua ujung yang berbeda muatan (dipol), sehingga ujung (pol) positif berdekatan dengan ujung (pol) negatif dari molekul di dekatnya.

40. Gaya Van der Waals adalah gaya dipol-dipol secara kolektif.

41. Ikatan hidrogen adalah ikatan antara molekul-molekul yang sangat polar dan mengandung atom hidrogen.

42. Ikatan ion adalah ikatan antara molekul-molekul dalam senyawa logam.

43. Jaringan ikatan kovalen adalah jaringan ikatan dalam berbagai jenis zat padat, seperti karbon dan silika.

logam. 43. Jaringan ikatan kovalen adalah jaringan ikatan dalam berbagai jenis zat padat, seperti karbon dan
logam. 43. Jaringan ikatan kovalen adalah jaringan ikatan dalam berbagai jenis zat padat, seperti karbon dan
33
33
33
33 1234567890123456789012 1. Di dalam sistem periodik, unsur-unsur transisi terletak di antara golongan-
33 1234567890123456789012 1. Di dalam sistem periodik, unsur-unsur transisi terletak di antara golongan-

1234567890123456789012

1.

Di

dalam sistem periodik, unsur-unsur transisi terletak di antara golongan-

golongan … .

 

A. IIA dan IIB

B. IIA dan IIIA

C. IIB dan IIIB

D. IA dan IIB

E. IIIB dan VIIIB

2.

Unsur-unsur transisi-dalam mulai dijumpai pada periode … .

 

A. 3

D.

6

B. 4

E.

7

C. 5

3.

Suatu atom unsur X mempunyai susunan elektron: 1s 2 , 2s 2 , 2p 6 , 3s 2 , 3p 6 , 3d 5 , 4s 1 . Unsur tersebut adalah … .

A. logam alkali

 

B. unsur halogen

C. unsur golongan IB

D. unsur transisi

E. salah satu unsur lantanida

4.

Diketahui konfigurasi elektron dari beberapa unsur sebagai berikut.

X

: 1s 2 , 2s 2

Y

: 1s 2 , 2s 2 , 2p 3

Z

: 1s 2 , 2s 2 , 2p 6

U

: 1s 2 , 2s 2 , 2p 6 , 3s 2 , 3p 6 , 4s 1 , 3d 5

V

: 1s 2 , 2s 2 , 2p 6 , 3s 2 , 3p 6 , 4s 2 , 3d 10

Berdasarkan konfigurasi elektronnya, unsur yang paling stabil adalah … .

 

A. X

D.

U

B. Y

E.

V

C. Z

5.

Unsur yang elektron terakhirnya memiliki bilangan kuantum n = 3, l = 2, m = 1, dan s = + ½ dalam sistem periodik terletak pada … .

A. periode 4, golongan IVB

B. periode 3, golongan IVB

C. periode 4, golongan VIIIB

D. periode 3, golongan VIIIB

E. periode 4, golongan IIB

34
34

6.

Tiga unsur yang dalam sistem periodik terletak diagonal satu sama lain memiliki susunan elektron terluar menurut aturan adalah … .

A. 2s 2 , 2p 1 , 2s 2 , 2p 2 , 2s 2 , 2p 3

B. 2s 2 , 2p 3 , 3s 2 , 3p 3 , 4s 2 , 4p 3

C. 3d 3 , 4s 2 , 4d 3 , 5s 2 , 5d 3 , 6s 2

D. 2s 2 , 2p 3 , 3s 2 , 3p 4 , 4s 2 , 4p 5

E. 3d 1 , 4s 2 , 3d 2 , 4s 2 , 3d 3 , 4s 2

7.

Jumlah elektron tidak berpasangan yang paling banyak akan dijumpai pada golongan … .

A. VA

B. VIA

C. VB

D. VIB

E. VIIB

8.

Ion M 3+ mempunyai konfigurasi elektron: 1s 2 , 2s 2 , 2p 6 , 3s 2 , 3p 6 , 3d 5 . Pernyataan yang tidak benar mengenai unsur M adalah … .

A. mempunyai nomor atom 26

B. terletak pada periode 4

C. termasuk unsur transisi

D. merupakan anggota golongan VIIIB

E. mengandung lima elektron tidak berpasangan

9.

Ion X 2- mempunyai konfigurasi elektron: [A r ] 3d