Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Pada tahun 1940 untuk pertama kali diperkenalkan obat antihistami. Sejak itu secara luas digunakan dalam pengobatan simtomatik penyakit alergi.Pada umumnya antihistamin yang beredar di Indonesia mempunyai spektrum luas artinya mempunyai efek lain seperti antikolinergik, anti serotonin, antibradikinin dan alfa adrenoreseptor bloker. Golongan obat ini disebut antihistamin (AH1) klasik. Penderita yang mendapat obat AH1 klasik akan menimbulkan efek samping,mengantuk, kadang-kadang timbul rasa gelisah, gugup dan mengalami gangguan koordinasi. Efek samping ini sering menghambat aktivitas sehari-hari, dan menimbulkan masalah bila obat antihistamin ini digunakan dalam jangka panjang.Dekade ini muncul antihistamin baru yang digolongkan ke dalam kelompok AH1 sedatif yang tidak bersifat sedasi, yang memberikan harapan cerah. B. Tujuan Untuk mengetahui manfaat dari antihistamin serta macam-macam antihistamin yang digunakan untuk mengatasi penyakit alergi dan juga untuk mengetahui efek samping yang ditimbulkan oleh obat antihistamin supaya antihistamin tidak disalahgunakan.

BAB II TINJAUAN TEORI A. HISTAMIN 1. Pengertian Histamin terbentuk di dalam jaringan tubuh manusia akibat reaksi dekarboksilasi
asam amino histidin oleh enzim histidin dekarboksilase. Selain itu, histamin juga dapat terbentuk karena pengaruh sinar matahari, khususnya sinar UV.

Histamin terdapat di dalam semua organ dan jaringan tubuh, terutama di kulit, paru, usus halus, dan di dalam mast cell. Fungsi histamin di dalam tubuh masih belum jelas, tetapi akan menimbulkan efek jika berinteraksi dengan dua macam reseptor yang spesifik, yaitu reseptor H-1 dan reseptor H-2. Antihistaminika adalah zat zat yang dapat mengurangi atau menghalagi efek hisyamin terhadap tubuh dengan jalan mengeblok reseptor histamine ( penghambatan saingan) pada awalnya hanya di kenal 1 tipe antihistaminikum, tetapi setelah ditemukannya jenis reseptor kusus pada tahun 1972, yang disebut reseptor H2, maka secara farmakologis reseptor histamine dapat di bagi dalam 2 tipe yaitu reseptor H1 dan reseptor H2. Berdasarkan penemuan ini, antihistaminika juga dapat dibagi dalam 2 kelompok, yakni antagonis reseptor H1(singkatnya disebut H1 blokers atau antihistaminika ) antagonis reseptor H2(H2 blokers atau zat penghambat asam) Antihistamin (antagonis histamin) adalah zat yang mampu mencegah penglepasan atau kerja histamin. Istilah antihistamin dapat digunakan untuk menjelaskan antagonis histamin yang mana pun, namun seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk kepada antihistamin klasik yang bekerja pada reseptor histamin H1. Antihistamin ini biasanya digunakan untuk mengobati reaksi alergi, yang disebabkan oleh tanggapan berlebihan tubuh terhadap alergen

(penyebab alergi), seperti serbuk sari tanaman. Reaksi alergi ini menunjukkan penglepasan histamin dalam jumlah signifikan di tubuh 2. Penggolongan Antihistaminika dapat digolongkan menurut struktur kimianya sebagai berikut : Persenyawaan-persenyawaan aminoalkileter (dalam rumus umum X = O) difenhidramin dan karbinoksamin turunan-turunannya; klorfenoksamin dalam (Systral), Codipront.

(Rhinopront),

feniltoloksamin

Persenyawaan-persenyawaan ini memiliki daya kerja seperti atropin dan bekerja depresif terhadap susunan saraf pusat. Efek sampingannya: mulut kering, gangguan penglihatan dan perasaan mengantuk. Persenyawaan-persenyawaan alkilendiamin (X = N) tripelenamin, antazolin, klemizol dan mepiramin. Kegiatan depresif dari persenyawaan ini terhadap susunan saraf pusat hanya lemah. Efek sampingannya: gangguan lambung usus dan perasaan lesu. Persenyawaan-persenyawaan alkilamin (X = C) feniramin dan turunanturunannya, tripolidin. Didalam kelompok antihistaminika ini terdapat zatzat yang memiliki kegiatan merangsang maupun depresif terhadap susunan saraf pusat. Persenyawaan-persenyawaan piperazin: siklizin dan turunan-

turunannya, sinarizin Pada percobaan binatang beberapa persenyawaan dari kelompok ini ternyata memiliki kegiatan teratogen, yang berkaitan dengan struktur siklis etilaminnya. Walaupun sifat teratogen ini tidak dapat dibuktikan pada manusia, namun sebaiknya obat-obat demikian tidak diberikan pada wanita hamil. Sebelumnya antihistamin dikelompokkan menjadi 6 grup berdasarkan struktur kimia, yakni etanolamin, etilendiamin, alkilamin, piperazin, piperidin, dan fenotiazin. Penemuan antihistamin baru yang ternyata kurang bersifat sedatif, akhirnya menggeser popularitas penggolongan ini.

Antihistamin kemudian lebih dikenal dengan penggolongan baru atas dasar efek sedatif yang ditimbulkan, yakni generasi pertama, kedua, dan ketiga. Generasi pertama dan kedua berbeda dalam dua hal yang signifikan. Generasi pertama lebih menyebabkan sedasi dan menimbulkan efek antikolinergik yang lebih nyata. Hal ini dikarenakan generasi pertama kurang selektif dan mampu berpenetrasi pada sistem saraf pusat (SSP) lebih besar dibanding generasi kedua. Sementara itu, generasi kedua lebih banyak dan lebih kuat terikat dengan protein plasma, sehingga mengurangi

kemampuannya melintasi otak. Sedangkan generasi ketiga merupakan derivat dari generasi kedua, berupa metabolit (desloratadine dan fexofenadine) Pencarian generasi ketiga ini dan enansiomer untuk

(levocetirizine).

dimaksudkan

memperoleh profil antihistamin yang lebih baik dengan efikasi tinggi serta efek samping lebih minimal. Faktanya, fexofenadine memang memiliki risiko aritmia jantung yang lebih rendah dibandingkan obat induknya, terfenadine. Demikian juga dengan levocetirizine atau desloratadine, tampak juga lebih baik dibandingkan dengan cetrizine atau loratadine. Pengelompokan berdasarkan sasaran kerjanya terhadap reseptor histamine: Antagonis Reseptor Histamin H1 Secara klinis digunakan untuk mengobati alergi. Contoh obatnya adalah: difenhidramina, loratadina, desloratadina, meclizine, quetiapine (khasiat antihistamin merupakan efek samping dari obat antipsikotik ini), dan prometazina. Antagonis Reseptor Histamin H2 Reseptor histamin H2 ditemukan di sel-sel parietal. Kinerjanya adalah meningkatkan sekresi asam lambung. Dengan demikian antagonis reseptor H2 (antihistamin H2) dapat digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung, serta dapat pula dimanfaatkan untuk menangani peptic ulcer dan

penyakit refluks gastroesofagus. Contoh obatnya adalah simetidina, famotidina, ranitidina, nizatidina, roxatidina, dan lafutidina.

Antagonis Reseptor Histamin H3 Antagonis H3 memiliki khasiat sebagai stimulan dan memperkuat kemampuan kognitif. Penggunaannya sedang diteliti untuk mengobati penyakit Alzheimer's, dan schizophrenia. Contoh obatnya adalah ciproxifan, dan clobenpropit. Antagonis Reseptor Histamin H4 Memiliki khasiat imunomodulator, sedang diteliti khasiatnya sebagai antiinflamasi dan analgesik. Contohnya adalah tioperamida. Beberapa obat lainnya juga memiliki khasiat antihistamin. Contohnya adalah obat antidepresan trisiklik dan antipsikotik. Prometazina adalah obat yang awalnya ditujukan sebagai antipsikotik, namun kini digunakan sebagai antihistamin. Senyawa-senyawa lain seperti cromoglicate dan nedocromil, mampu mencegah penglepasan histamin dengan cara menstabilkan sel mast, sehingga mencegah degranulasinya. 3. Menisme Kerja Antihistaminika adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau

menghindarkan efek atas tubuh dari histamin yang berlebihan, sebagaimana terdapat pada gangguan-gangguan alergi. Bila dilihat dari rumus molekulnya, bahwa inti molekulnya adalah etilamin, yang juga terdapat dalam molekul histamin. Gugusan etilamin ini seringkali berbentuk suatu rangkaian lurus, tetapi dapat pula merupakan bagian dari suatu struktur siklik, misalnya antazolin. Antihistaminika tidak mempunyai kegiatan-kegiatan yang tepat berlawanan dengan histamin seperti halnya dengan adrenalin dan turunan-turunannya,

tetapi melakukan kegiatannya melalui persaingan substrat atau competitive inhibition. Obat-obat inipun tidak menghalang-halangi pembentukan histamin pada reaksi antigen-antibody, melainkan masuknya histamin kedalam unsur-unsur penerima didalam sel (reseptor-reseptor) dirintangi dengan menduduki sendiri tempatnya itu. Dengan kata lain karena antihistaminik mengikat diri dengan reseptor-reseptor yang sebelumnya harus menerima histamin, maka zat ini dicegah untuk melaksanakan kegiatannya yang spesifik terhadap jaringanjaringan. Dapat dianggap etilamin lah dari antihistaminika yang bersaing dengan histamin untuk sel-sel reseptor tersebut. Sebagai inverse agonist, antihistamin H1 beraksi dengan bergabung bersama dan menstabilkan reseptor H1 yang belum aktif, sehingga berada pada status yang tidak aktif. Penghambatan reseptor histamine H1 ini bisa mengurangi permiabilitas vaskular, pengurangan pruritus, dan relaksasi otot polos saluran cerna serta napas. Tak ayal secara klinis, antihistamin H1 generasi pertama ditemukan sangat efektif berbagai gejala rhinitis alergi reaksi fase awal, seperti rhinorrhea, pruritus, dan sneezing. Tapi, obat ini kurang efektif untuk mengontrol nasal congestion yang terkait dengan reaksi fase akhir. Sementara itu antihistamin generasi kedua dan ketiga memiliki profil farmakologi yang lebih baik. Keduanya lebih selektif pada reseptor perifer dan juga bisa menurunkan lipofilisitas, sehingga efek samping pada SSP lebih minimal. Di samping itu, obat ini juga memiliki kemampuan antilergi tambahan, yakni sebagai antagonis histamin. Antihistamin generasi baru ini mempengaruhi pelepasan mediator dari sel mast dengan menghambat influks ion kalsium melintasi sel mast/membaran basofil plasma, atau menghambat pelepasan ion kalsium intraseluler dalam sel. Obat ini menghambat reaksi alergi dengan bekerja pada leukotriene dan prostaglandin, atau dengan menghasilkan efek anti-platelet activating factor. Selain berefek sebagai anti alergi, antihistamin H1 diduga juga memiliki efek anti inflamasi. Hal ini terlihat dari studi in vitro desloratadine, suatu antihistamin H1 generasi ketiga. Studi menunjukkan, desloratadine memiliki efek langsung pada mediator inflamatori, seperti menghambat pelepasan

intracellular adhesion molecule-1 (ICAM-1) oleh sel epitel nasal, sehingga memperlihatkan aktivitas anti-inflamatori dan imunomodulatori. Kemampuan tambahan inilah yang mungkin menjelaskan kenapa desloratadine secara signifikan bisa memperbaiki nasal congestion pada beberapa double-blind, placebo-controlled studies. Efek ini tak ditemukan pada generasi sebelumnya, generasi pertama dan kedua. Sehingga perlu dilakukan studi lebih lanjut untuk menguak misteri dari efek tambahan ini. Nasib Antihistamin H1 Dalam Tubuh Pemberian antihistamin H1 secara oral bisa diabsorpsi dengan baik dan mencapai konsentrasi puncak plasma rata-rata dalam 2 jam. Ikatan dengan protein plasma berkisar antara 78-99%. Sebagian besar antihistamin H1 dimetabolisme melalui hepatic microsomal mixed-function oxygenase system. Konsentrasi plasma yang relatif rendah setelah pemberian dosis tunggal menunjukkan kemungkinan terjadi efek lintas pertama oleh hati. Waktu paruh antihistamin H1 sangat bervariasi. Klorfeniramin memiliki waktu paruh cukup panjang sekitar 24 jam, sedang akrivastin hanya 2 jam. Waktu paruh metabolit aktif juga sangat berbeda jauh dengan obat induknya, seperti astemizole 1,1 hari sementara metabolit aktifnya, N-

desmethylastemizole, memiliki waktu paruh 9,5 hari. Hal inilah yang mungkin menjelaskan kenapa efek antihistamin H1 rata-rata masih eksis meski kadarnya dalam darah sudah tidak terdeteksi lagi. Waktu paruh beberapa antihistamin H1 menjadi lebih pendek pada anak dan jadi lebih panjang pada orang tua, pasien disfungsi hati, danm pasien yang menerima ketokonazol, eritromisin, atau penghambat microsomal oxygenase lainnya. 4. Indikasi Antihistamin generasi pertama di-approve untuk mengatasi

hipersensitifitas, reaksi tipe I yang mencakup rhinitis alergi musiman atau tahunan, rhinitis vasomotor, alergi konjunktivitas, dan urtikaria. Agen ini juga bisa digunakan sebagai terapi anafilaksis adjuvan. Difenhidramin,

hidroksizin, dan prometazin memiliki indikasi lain disamping untuk reaksi alergi. Difenhidramin digunakan sebagai antitusif, sleep aid, anti-

parkinsonism atau motion sickness. Hidroksizin bisa digunakan sebagai premedikasi atau sesudah anestesi umum, analgesik adjuvan pada pre-operasi atau prepartum, dan sebagai anti-emetik. Prometazin digunakan untuk motion sickness, pre- dan postoperative atau obstetric sedation. 5. Kontraindikasi Antihistamin generasi pertama: hipersensitif terhadap antihistamin khusus atau terkait secara struktural, bayi baru lahir atau premature, ibu menyusui, narrow-angle glaucoma, stenosing peptic ulcer, hipertropi prostat simptomatik, bladder neck obstruction, penyumbatan pyloroduodenal, gejala saluran napas atas (termasuk asma), pasien yang menggunakan monoamine oxidase inhibitor (MAOI), dan pasien tua. (http://agungrakhmawan.wordpress.com/anti-histamin/) Antihistamin generasi kedua dan ketiga : hipersensitif terhadap antihistamin khusus atau terkait secara struktural. 6. Efek Samping Terjadi pada 15 -25% pasien yang di beri antihistamin, dengan derajat intensitas yang berada secara individual. (Imam Budi: 2008) Depresi atau stimulasi susunan saraf pusat Depresi susunan saraf pusat berupa sedasi bahkan sampai spoor sering menggangu aktivitas sehari-hari, teqadi pada pemakaian golongan amino alkil ether dan phenothiazine, tolerans terhadap efek sedasi dapat terjadi setelah beberapa hari pemberian. Efek terhadap susunan syaraf pusat yang lain dizinus, tinnitus, gangguan koordinasi, konsentrasi berkurang dan gangguan penglihatan/ diplopia. Stimulasi susunan saraf pusat berupa nervous, irritable, insomnia dan tremor dapat terjadi pada pemakaian golongan alkylamine. efek anti kolinergik berupa : retensi urine, disuri, impotensia dan mulut/ mukosa kering dapat terjadi pada pemakaian golongan amino ethyl ether, phenothrazine dan piperazine. Hipotensi dapat terjadi pada pemberian anti histamine intravena yang terlalu cepat.

Dermatitis, erupsi obat menetap, fotosensitisasi, urtikaria dan patechiae di kulit terutama setelah pemakaian secara topical. Keracunan akut terutama pada anak anak seperti keracunan atropine berupa halusinasi, ataksia, gangguan koordinasi, konvulsi dan efek entikolinergik (flusing, pupil lebar, febris). Kontra Indikasi Dan Interaksi Obat Dermatitis kontak alergi dapat terjadi pada pemakaian antihistamin H-1 secara topical golongan ethylene diamine pada penderita yang telah mendapat obat lain yang mempunyai struktur yang mirip( aminophiline). Efek sedasi akan meningkat bila antihistsmine H1 diberikan bersama dengan obat antidepresan obat anti alcohol. Golongan phenothiazine dapat menghambat efek vasopressor dari epinephrine. Efek anti kolinergik dari antihistamine akan menjadi lebih berat dan lebih lama di berikan bersama obat inhibitor monoamine (procarbazine, furazolidone, isocarboxazid). Golongan piperazine pada binatang percobaan dapat menimbulkan

efekteratogenik.

B. ALERGI 1. Defininisi Alergi Alergi (hipersensitifitas) menggambarkan reaktivitas khusus host terhadap suatu unsure eksogen pada kontak kedua kali. Reaksi hipersensitivitas meliputi sejumlah peristiwa autoimun dan alergi serta merupakan kepekaan berbeda terhadap suatu antigen eksogen atas dasar proses imunologi. Alergi atau hipersensitivitas ti I adalah kegagalan kekebalan tubuh di mana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya imunogenik (antigenik)atau dikatakan orang yang bersangkutan bersifat atopik. Dengan kata lain, tubuh manusia bereaksi berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap asing dan berbahaya, padahal sebenarnya tidak untuk orang-orang yang tidak bersifat atopik. Bahanbahan yang menyebabkan hipersensitivitas tersebut disebut alergen.

Alergi adalah sebuah reaksi yang dilakukan tubuh terhadap masuknya sebuah benda asing. Ketika sebuah substansi tak dikenal masuk, antigen, tubuh serta merta akan meningkatkan daya imunitasnya untuk bekerja lebih giat. reaksi alergi merupakan respon sistem kekebalan yang diperkuat secara tidak tepat atau buruk terhadap sesuatu yang tidak membahayakan. pada umumnya, reaksi alergi dapat berbentuk rasa sakit kepala atau kelelahan, bersin-bersin, mata berair dan hidung tersumbat. Menurut berbagai pengertian di atas , dapat diambil kesimpulan bahwa alergi merupakan reaksi berlebihan yang dilakukan tubuh terhadap masuknya antigen (allergen), sebagai respon system kekebalan tubuh. 2. Patofisiologis Alergi Bila suatu protein asing (antigen masuk) berulangkali ke dalam aliran darah seseorang yang berbakat hipersensitif, maka limfosit b akan membentuk antibodies dari tipe Ig E. IgE ini yang juga disebut reagin , mengikat diri pada membrane sel mast tanpa menimbulkan gejala. Apabila kemudian antigen (allergen ) yang sama atau yang mirip rumus bangunnya memasuki darah lagi, maka IgE akan mengenali dan mengikat padanya. Hasilnya adalah suatu reaksi alergi akibat pecahnya membrane sel mast (degranulasi). Sejumlah zat perantara (mediator dilepaskan yakni histamine bersama serotonin, bradikinin dan asam arachidonat), yang kemudian diubah menjadi prostaglandin dan leukotrien. Zat itu menarik makrofag dan neutrofil ke tempat infeksi untuk memusnahkan penyerbu. Disamping itu mengakibatkn beberapa gejala, seperti vasodilatasi, bronchoconstriksi dan pembengkakan jaringan sebagai reaksi terhadap masuknya antigen. 3. Mekanisme Terjadinya Alergi Hipersensitivitas terjadi dalam reaksi jaringan terjadi dalam beberapa menit setelah antigen bergabung dengan antibodi yang sesuai. Ini dapat terjadi sebagai anafilaksis sistemik (misalnya setelah pemberian protein

10

heterolog) atau sebagai reaksi lokal (misalnya alergi atopik seperti hay fever). (Brooks: 2005) Urutan kejadian reaksi hipersensitifias adalah sebagai berikut:

(Baratawidjaja, 2006). Fase Sensitisasi, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE sampai diikatnya oleh reseptor spesifik (Fc-R) pada permukaan sel mast dan basofil. Fase Aktivasi, yaitu waktu yang diperlukan antara pajanan ulang dengan antigen yang spesifik dan sel mast melepas isinya yang berisikan granul yang menimbulkan reaksi. Fase Efektor, yaitu waktu terjadi respons yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek mediator-mediator yang dilepas sel mast dengan aktivitas farmakologik. Mekanisme alergi, misalnya terhadap makanan, dapat dijelaskan sebagai berikut. Secara imunologis, antigen protein utuh masuk ke sirkulasi dan disebarkan ke seluruh tubuh. Untuk mencegah respon imun terhadap semua makanan yang dicerna, diperlukan respon yang ditekan secara selektif yang disebut toleransi atau hiposensitisasi. Kegagalan untuk melakukann toleransi oral ini memicu produksi antibodi IgE berlebihan yang spesifik terhadap epitop yang terdapat pada alergen. Antibodi tersebut berikatan kuat dengan reseptor IgE pada basofil dan sel mast, juga berikatan dengan kekuatan lebih rendah pada makrofag, monosit, limfosit, eosinofil, dan trombosit. (Rengganis dan Yunihastuti: 2007). Ketika protein melewati sawar mukosa, terikat dan bereaksi silang dengan antibodi tersebut, akan memicu IgE yang telah berikatan dengan sel mast. Selanjutnya sel mast melepaskan berbagai mediator (histamine,

prostaglandin, dan leukotrien) yang menyebabkan vasodilatasi, sekresi mukus, kontraksi otot polos, dan influks sel inflamasi lain sebagai bagian dari hipersensitivitas cepat. Sel mast yang teraktivasi juga mengeluarkan

11

berbagai sitokin lain yang dapat menginduksi reaksi tipe lambat (Rengganis dan Yunihastuti: 2007). 4. Penggolongan Alergi Reaksi hipersensitivitas menurut Coombs dan Gell dibagi menjadi 4 tipe reaksi berdasarkan kecepatan dan mekanisme imun yang terjadi, yaitu tipe I, II, III, dan IV. Kemudian Janeway dan Travers merivisi tipe IV Gell dan Coombs menjadi tipe IVa dan IVb. Tipe 1, gangguan gangguan alrrgi (reaksi segala, immediate) berdasarkan reaksi antara allergen-antibody (IgE) dengan degranulasi mast-cells dan khusus terjadi pada orang yang berbakat genetic (keturunan). Tipe-I ini juga dinamakan alergi atopis atau reaksi anafilaksis dan terutama berlangsung disaluran nafas (serangan pollinosis, rhinitis, asma) dan di kulit (eksim resam = dermatitis atopis), jarang di cerna (alergi makanan) dan di pembuluh (shock anafilaksis). Mulai reaksi nya cepat , dalam waktu 5 sampai 20 menit setelah terkena alergen, maka sering kali di sebut reaksi segera. Gejalanya bertahan lebih kurang 1 jam. Tipe 2, autoimunitas ( reaksi sitolitis). Antigen yang terikat yang terikat pada membrane sel beraksi dengan IgG atau IgM dalam darah dan menyebabkan sel musnah (cytos=sel, lysis= melarut ). Reaksi ini terutama berlangsung di sirkulasi darah. Contohnya adalah gagguanauto-imun akibat obat, seperti anemia hemolitis(akibat pinisilin) agranulotosis (akibat sulfamida) arhitis rheumatika SLE (system lupus erymetodes) akibat hedrolazim atau prekaimida. Reaksi autonium jenis ini umumnya sembu dalam waktu berapa bulan setelah penggunaan obat berhenti. Timbulnya penyakit auto-imun adalah bila system imun tidak mengenali jaringan tubuh sendiri dan menyerangnya. Gangguan ini bercirikan terdapatnya auto-antibodies atau sel-sel-T autoreaktif dan lazimnya dibagi dalam dua kelompok, yang berdasarkan:

12

auto-imunitas organ-pesifik (menyangkut organ tunggal), mis. Animia pernicoios, addiisons diaese, lih bab 46, ACTH. auto-imunitas nonorgan spesifik (menyangkut pelbagai organ), mis SLE, MS. Tipe 3, gangguan ilmun-komplek (reaksi arthus). Pada paristiwa ini, antigen dalam sirkulasi bergabung dengan terutama IgG menjadi suatu imun-

kompleks, yang diendapkan pada endotel pembulu. Di tempat itu sebagai respons terjadi peradangan, yang disebut penyakit serum yang bercirikan urticaria, demam dan nyeri otot serta sendi. Reaksinya dimulai 4-6 jam setelah terkena (exposure) dan lamanya 4-12 hari. Obat-obat yang dapat menginduksi reaksi ini adalah sulfanamidin, penisilin dan iodide. Imunkompleks dapat terjadi di jaringan yang menimbulkan reaksi local (arthus) atau dalam srikulasi (gangguan sistemis). Tipe 4 (reaksi lambat,delenyet). Anti gen terdiri dari suatu kompleks hapten+protein, yang bereaksi dengan T-limposit yang sudah disensitasi. Limfokin tertentu (=sitokin dari limfosit) dibebaskan, yang menarik magrofog dan neutrofil, sehinga terjadi reaksi peradangan. Proses penarikan itu disebut chemotaxis.mulai reaksi sesudah 24-48 jam dan bertahan beberapa hari. Contohnya adalah reaksi tuberculin dan dermatitis kontak. Bentuk alergi tipe 1 s/d 3 berkaitan dengan dan imunitas imonoglobulin homolar (lat. Humor=cairan tubuh), artinya adahubungan dengan plasma. Hanya tipe 4 berdasarkan imunitas-sekuler (liimfosit-T) (Hoan Tjai: 2007)

Table 2.2 penggolongan jenis-jenis hipersensitifitas Jenis Hipersensitivitas Mekanisme Patologik Tipe I Hipersensitivitas IgE cepat Sel mast dan mediatornya (amin vasoaktif, mediator lipid, dan sitokin) Imun Mekanisme Kerusakan Jaringan dan Penyakit

13

Tipe II Reaksi melalui antibodi

IgM, IgG terhadap Opsonisasi & fagositosis sel permukaan sel atau matriks ekstraseluler antigen Pengerahan leukosit(neutrofil, makrofag) atas pengaruh komplemen dan FcR Kelainan fungsi seluler (misal dalam sinyal reseptor hormone)

Tipe III Kompleks imun

Kompleks (antigen

imun Pengerahan

dan

aktivasi

leukosit

atas

dalam pengaruh komplemen dan Fc-R

sirkulasi dan IgM atau IgG)

Tipe IV (melalui sel T) Tipe IVa Tipe IVb

CD4+ : DTH CD8+ : CTL

Aktivasi makrofag, inflamasi atas pengaruh sitokin Membunuh sel sasaran direk, inflamasi atas pengaruh sitokin

Sumber: Baratawidjaja, 2006 5. ETIOLOGI Penyebab alergi yang lazim ditemukan antara lain sebagai berikut: 1) Sengatan lebah atau serangga lain. 2) Makanan, khususnya kacang, ikan, seafood. 3) Gigitan serangga. 4) Obat. 5) Serbuk sari. 6) Debu. 7) Udara panas atau udara dingin. 6. Nutrisi Dan Alergi Makanan merupakan salah satu penyebab reaksi alergi yang berbahaya. Seperti alergen lain, alergi terhadap makanan dapat bermanifestasi pada salah satu atau berbagai organ target: kulit (urtikaria, angiodema, dermatitis atopik), saluran nafas (rinitis, asma), saluran cerna (nyeri

14

abdomen, muntah, diare), dan sistem kardiovaskular (syok anafilaktik) (Rengganis dan Yunihastuti, 2007). Urtikaria akibat alergi makanan biasanya timbul setelah 30-90 menit setelah makan dan biasa disertai gejala lain seperti diare, mual, kejang perut, hidung buntu, bronkospasme, hingga gangguan vaskular. Semua gejala ini diperantarai oleh IgE Hampir setiap jenis makanan memiliki potensi untuk menimbulkan reaksi alergi. Alergen dalam makanan terutama berupa protein yang terdapat di dalamnya. Namun, tidak semua protein dalam makanan mampu menginduksi produksi IgE. Penyebab tersering alergi pada orang dewasa adalah kacang-kacangan, ikan, dan kerang. Sedangkan penyebab alergi tersering pada anak adalah susu, telur, kacang-kacangan, ikan, dan gandum. Sebagian besar alergi hilang setelah pasien menghindari makanan tersebut, dan melakukan eliminasi makanan, kecuali terhadap kacangkacangan, ikan, dan kerang cenderung menetap atau menghilang setelah jangka waktu yang sangat lama. Ikan dapat menimbulkan sejumlah reaksi. Alergen utama dalam codfish adalah Gad c1 telah diisolasi dari fraksi miogen. Udang mengandung beberapa alergen. Antigen II dianggap sebagai alergen utama. Otot udang mengandung glikoprotein otot yang mengandung Pen a1 (tropomiosin). Gambaran klinis reaksi alergi terhadap makanan terjadi melalui IgE dan menunjukkan manifestasi terbatas: gastrointestinal, kulit dan saluran nafas. Tanda dan gejalanya disebabkan oleh pelepasan histamine, leukotrien, prostaglandin, dan sitokin. Alergen yang dimakan dapat menimbulkan efek luas, berupa respon urtikaria di seluruh tubuh, karena distribusi random IgE pada sel mast yang tersebar di seluruh tubuh 7. Tanda Dan Gejala Penyakit Alergi Tanda-tanda reaksi alergi diantaranya: Sistem Pernapasan:

15

pada bayi, napas sering berbunyi grok-grok, batuk, pilek, bersin, mimisan, hidung buntu, sesak (asma), sering menggerak-gerakkan/mengusap-usap hidung. Sistem Pembuluh Darah dan jantung: palpitasi (berdebar-debar), flushing (muka kemerahan), nyeri dada, kolaps (jatuh), pingsan, serta tekanan darah rendah. Sistem Pencernaan: Pada bayi: sering rewel, kolik/menangis terus-menerus tanpa sebab pada malam hari, sering cegukan, sering "buang bair besar (BAB) mengejan," kembung, sering gumoh, BAB berwarna hitam atau hijau, BAB timbul warna darah. Pada anak: nyeri perut, sering BAB lebih dari 3 kali sehari, gangguan BAB (kotoran keras, BAB tidak setiap hari, BAB di celana, BAB berwarna hitam atau hijau, BAB mengejan) kembung, muntah, sulit BAB, sering buang angin (flatus), sariawan, mulut berbau. Kulit: Pada bayi sering timbul penebalan merah di pipi, daerah popok dan telinga, timbul kerak di kulit kepala, sering gatal, dermatitis, bengkak di bibir, lebam biru kehitaman, bekas hitam seperti digigit nyamuk, berkeringat berlebihan. Sistem Saluran Kemih: Sering kencing, nyeri kencing Sistem Susunan Saraf Pusat: Bayi: sensitif, sering kaget dengan rangsangan suara/cahaya, gemetar. Anak: Sering sakit kepala, migrain, gangguan tidur, keterlambatan bicara dan gangguan perilaku.

16

Gangguan perilaku yang sering terjadi adalah emosi berlebihan, agresif, overaktif, gangguan belajar, gangguan konsentrasi, gangguan koordinasi, hiperaktif hingga autisme. Perilaku: impulsif, sering marah, agresif. Sistem Hormonal: Gangguan tidur, chronic fatique symptom (sering lemas), gampang marah, emosi meningkat, histeris Jaringan otot dan tulang: Nyeri tulang, nyeri otot, bengkak di leher seperti gondong. Mata: Mata berair, mata gatal, sering belekan, bintil pada mata, kulit di bawah mata kehitaman 8. Pencegahan Alergi Sebenarnya, alergi dapat dihindari dengan cara-cara berikut ini: Hindari pemicu alergi, misalnya makanan atau obat. Cari tahu komposisi atau kandungan makanan atau obat. Biasakan membaca label yang tertera di luar kemasan. Jika anak Anda alergi makanan tertentu, kenalkan jenis makanan baru dalam porsi kecil sehingga Anda dapat mengetahui reaksi alerginya. Penderita alergi sebaiknya selalu membawa kartu atau daftar jenis alergi atau alergen yang dideritanya. Simpan dalam dompet untuk keadaan darurat. Selalu bawa obat anti alergi sesuai rekomendasi dokter Anda.

9. Penegakan Diagnosis Penyakit Alergi Bila seorang pasien datang dengan kecurigaan menderita penyakit alergi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan terlebih dahulu apakah pasien benar-benar menderita penyakit alergi. Selanjutnya baru

17

dilakukan pemeriksaan untuk mencari alergen penyebab, selain juga faktorfaktor non alergik yang mempengaruhi timbulnya gejala. (Prosedur penegakan diagnosis pada penyakit alergi meliputi beberapa tahapan berikut. 1) Riwayat Penyakit. Didapat melalui anamnesis, sebagai dugaan awal adanya keterkaitan penyakit dengan alergi. 2) Pemeriksaan Fisik. Pemeriksaan fisik yang lengkap harus dibuat, dengan perhatian ditujukan terhadap penyakit alergi bermanifestasi kulit, konjungtiva, nasofaring, dan paru. Pemeriksaan difokuskan pada manifestasi yang timbul. 3) Pemeriksaan Laboratorium. Dapat memperkuat dugaan adanya penyakit alergi, namun tidak untuk menetapkan diagnosis. Pemeriksaan laboaratorium dapat berupa hitung jumlah leukosit dan hitung jenis sel, serta penghitungan serum IgE total dan IgE spesifik. 4) Tes Kulit. Tes kulit berupa skin prick test (tes tusuk) dan patch test (tes tempel) hanya dilakukan terhadap alergen atau alergen lain yang dicurigai menjadi penyebab keluhan pasien. 5) Tes Provokasi. Adalah tes alergi dengan cara memberikan alergen secara langsung kepada pasien sehingga timbul gejala. Tes ini hanya dilakukan jika terdapat kesulitan diagnosis dan ketidakcocokan antara gambaran klinis dengan tes lainnya. Tes provokasi dapat berupa tes provokasi nasal dan tes provokasi bronkial .

18

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Histamin terbentuk di dalam jaringan tubuh manusia akibat reaksi dekarboksilasi asam amino histidin oleh enzim histidin dekarboksilase Histamin terdapat di dalam semua organ dan jaringan tubuh, terutama di kulit, paru, usus halus, dan di dalam mast cell. Fungsi histamin di dalam tubuh masih belum jelas, tetapi akan menimbulkan efek jika berinteraksi dengan dua macam reseptor yang spesifik, yaitu reseptor H-1 dan reseptor H-2.

19

KATA PENGANTAR
Puji syukur dipanjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan berkat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Farmakologi tentang antiseptik dan desinfektan yang alhamdulillah tepat

pada waktunya.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh teman-teman atas saran dan masukan pada makalah penulis ini. Tanpa bantuannya sulit bagi kelompok penulis untuk dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Penulis telah berusaha untuk menyempurnakan tulisan ini, namun sebagai manusia penulis pun menyadari akan keterbatasan maupun kehilafan dan kesalahan yang tanpa disadari. Oleh karena itu, saran dann kritik untuk perbaikan makalah ini akan sangat dinantikan.

Pariaman, April 2013

Penulis

20 i

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ........................................................................... DAFTAR ISI .......................................................................................... C. HISTAMIN .................................................................................... 7. Pengertian .................................................................................... 8. Penggolongan .............................................................................. 9. Menisme Kerja ............................................................................ 10. Indikasi ........................................................................................ 11. .......................................................................................... Kontraindikasi ............................................................................. D. ALERGI .......................................................................................... 10. Defininisi Alergi.......................................................................... 11. Patofisiologis Alergi ......................................................................... 12. Mekanisme Terjadinya Alergi..................................................... 13. Penggolongan Alergi ................................................................... 14. ETIOLOGI .................................................................................. 15. Nutrisi Dan Alergi ....................................................................... 16. Tanda Dan Gejala Penyakit Alergi ............................................. 17. Pencegahan Alergi ...................................................................... 18. Penegakan Diagnosis Penyakit Alergi ........................................ 19. Kesimpulan ................................................................................. DAFTA PUSTAKA 7 8 8
9

i ii 1 2 2 3 7

9 11 13 13 14 16 16

ii 21

TENTANG

Anti Histamin

Oleh :

MUTIA 110101055

DOSEN PEMBIMBING Dra. Hj. DJUSNAINI, Apt. M.Kes

PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN STIKES PIALA SAKTI PARIAMAN 2013


22