Anda di halaman 1dari 22

BAB III KATARAK

3.1 Definisi dan Prevalensi Katarak Katarak berasal dari bahasa Yunani Katarrhakies, Inggris Cataract, dan latin cataracta yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa mata yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa terjadi akibat kedua-duanya.5,6 Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama.5 Katarak umumnya merupakan penyebab penyakit pada usia lanjut, akan tetapi dapat juga congenital, atau penyulit penyakit mata lokal menahun. Bermacam-macam penyakit mata dapat mengakibatkan katarak seperti glaucoma, ablasi, uveitis dan retinitis pigmentosa. Katarak dapat berhubungan proses penyakit intraocular lainnya. Berbagai studi cross-sectional melaporkan prevalensi katarak pada individu berusia 65-74 tahun adalah sebanyak 50%; prevalensi ini meningkat hingga 70% pada individu di atas 75 tahun.5,6,7

3.2 Penyebab Katarak

Penyebab katarak Secara umum katarak disebabkan oleh :8

Hidrasi (penambahan cairan lensa) Denaturasi protein lensa Degeneratif (faktor usia) Selain penyebab utama diatas, penyebab katatak terbagi ke dalam kondisi ocular itu sendiri atau dikarenakan adanya penyebab sistemik seperti yang terlihat pada tabel berikut ini :6 Tabel 3.1 Kondisi Okular Yang Berkaitan Dengan Katarak KONDISI OKULAR Trauma Uveitis Miopia tinggi Pengobatan topical (terutama tetes mata steroid) Tumor intraocular Sumber : Lecture notes oftalmology6

Tabel 3.2 Penyebab Sistemik Katarak PENYEBAB SISTEMIK Diabetes Kelainan metabolic lain (termasuk galaktosemia, penyakit fabry, hipokalsemia) Obat-obatan sistemik (terutama steroid, klorpomazin) Infeksi (rubella,congenital) Distrofi miotonik Dermatitis atopic Sindroma sistemik (Down, Lowe) Kongenital, termasuk katarak turunan Radiasi sinar X Sumber : Lecture notes oftalmology6

3.3 Patogenesis Katarak Patogenesis katarak belum sepenuhnya dimengerti. Walaupun demikian, pada lensa katarak secara karakteristik terdapat agregat-agregat protein yang

menghamburkan berkas cahaya dan mengurangi transparansinya. Perubahan protein lainnya akan mengakibatkan perubahan warna lensa menjadi kuning atau coklat. Temuan tambahan mungkin berupa vesikel di antara serat-serat lensa atau migrasi sel epitel dan pembesaran sel-sel epitel yang menyimpang. Sejumlah faktor yang diduga turut berperan dalam terbentuknya katarak, antara lain kerusakan oksidatif (dari proses radikal bebas), sinar ultraviolet, dan malnutrisi. Hingga kini belum ditemukan pengobatan yang dapat memperlambat atau membalikkan perubahan-perubahan kimiawi yang mendasari pembentukan katarak. Beberapa penelitian baru-baru ini mengisyaratkan suatu efek protektif dari karotenoid dalam makanan (lutein); namun, penelitian-penelitian yang mengevaluasi efek protektif multivitamin member hasil yang berbeda.7 Pasien dengan katarak mengeluh penglihatan seperti berasap dan tajam penglihatan yang menurun secara progresif.6

3.4 Gejala dan Tanda Katarak 3.4.1 Gejala6 Menyebabkan hilangnya penglihatan tanpa rasa nyeri; Menyebabkan rasa silau;

10

Dapat mengubah kelainan refraksi

Pada bayi, katarak dapat mengakibatkan ambliopia (kegagalan perkembangan penglihatan normal) karena pembentukan bayangan pada retina buruk. Bayi dengan dugaan katarak atau dengan riwayat keluarga katarak congenital harus dianggap sebagai masalah yang penting.

3.4.2 Tanda6,9 Tajam penglihatan berkurang. Pada beberapa pasien tajam penglihatan yang diukur di ruangan gelap mungkin tampak memuaskan, sementara bila tes tersebut dilakukan dalam keadaan terang maka tajam penglihatan akan menurun sebagai akibat dari rasa silau dan hilangnya kontras. Katarak terlihat hitam terhadap reflex fundus ketika mata diperiksa dengan oftalmoskopi direk. Pemeriksaan slit lamp memungkinkan pemeriksaan katarak secara rinci dan identifikasi lokal opasitas dengan tepat. Katarak terkait usia biasanya terletak di daerah nucleus, korteks, atau subkapsular. Katarak terinduksi steroid umumnya terletak di subkapsular posterior. Tampilan lain yang menandakan penyebab ocular katarak dapat ditemukan, sebagai contoh deposisi pigmen pada lensa menunjukkan inflamasi sebelumnya atau kerusakan iris menandakan trauma mata sbeelumnya. Tergantung pada besar dan letak kekeruhan lensa pada lensa, penderita dapat atau sama sekali tidak sadar akan telah terjadinya katarak pada matanya

11

Bila katarak terjadi pada bagian tepi lensa maka tajam penglihatan tidak akan mengalami perubahan, akan tetapi bila letak kekeruhan di tengah lensa maka penglihatan tidak akan jernih

Bila telah terbentuk katarak, lensa akan demikian demikian keruh dan tidak bening sehingga mengganggu penyaluran sinar masuk selaput jala. Katarak akan menghalangi sinar masuk ke dalam, sehingga terjadi penurunan tajam penglihatan.

Mungkin akan memerlukan penggantian kacamata lebih sering Kadang-kadang pada katarak dini dirasakan tidak perlu memakai kacamata sewaktu membaca hal ini disebut sebagai penglihatan yang kedua dari penghidupan pada orang usia lanjut

Penglihatan ganda dapat pula terjadi pada saat katarak mulai berkembang Penglihatan untuk membaca di rasakan silau bila penerangan terlalu kuat, sehingga sering merasa senang membaca di tempat kurang penerangan

Membaca menjadi sukar Bila mengendarai kendaraan terutama diwaktu malam hari penglihatan akan silau terhadap sinar yang datang

Penderita akan mengeluh penglihatannya seperti terhalang tabir. Tabir asap ini makin lama makin tebal.

12

Bila lensa menjadi keruh dan luas maka penglihatan akan terganggu sebagian atau malahan menjadi gelap sama sekali, sehingga memerlukan tindakan pembedahan,

Bila katarak berkembang maka penglihatan akan seperti berasap, berkabut, malahan kabur sama sekali

Bila katarak menjadi lebih memburuk maka kacamata yang tebal sekalipun tidak akan menolong penglihatan

Melihat benda yang didekatkan akan sangat membantu penglihatan Biasanya pada mata normal manic mata atau pupil berwarna hitam dan penderita dengan katarak manic matanya akan kelihatan putih17

3.5 Klasifikasi Katarak7,10,11,18 Ada beberapa macam pembagian katarak : 1. Berdasarkan kepada pertumbuhan kataraknya sendiri a. Katarak developmental b. Katarak degenerative 2. Berdasarkan anatomi a. Katarak subkapsular anterior b. Katarak subkapsular posterior atau katarak nuclear dan katarak kortikal 3. Berdasarkan konsistensi a. Keras

13

b. Lunak c. Cair. 4. Berdasarkan morfologi : a. Kapsular b. Subkapsular c. Kortikal d. Nuclear e. Lamellar f. Sutural 5. Maturiti a. Insipient b. Imatur c. Matur d. Hipermatur 6. Berdasarkan Usia a. Katarak congenital b. Katarak juvenile c. Katarak senil 7. Dapat pula dibagi ke dalam : a. Katarak progresif b. Katarak stasioner

14

3.6 Katarak Terkait Usia (katarak juvenile) Proses kondensasi normal dalam nucleus lensa menyebabkan terjadinya sklerosis nuclear setelah usia pertengahan. Gejala yang paling dini mungkin berupa membaiknya penglihatan dekat tanpa lensakacamata. Ini merupakan akibat meningkatnya kekuatan focus lensa bagian sentral, menyebabkan refraksi bergeser ke myopia. Gejala-gejala lain dapat berupa diskriminasi warna yang buruk atau diplopia monocular.7

Gambar 3.1 Letak Katarak Pada Lensa


Sumber : Vaughan7

15

Katarak matur adalah bentuk katarak yang seluruh proteinnya telah mengalami kekeruhan. Katarak imatur hanya sebagian proteinnya yang mengalami kekeruhan dgn lensa yang menyerap air, sehingga lensa menjadi bengkak. Pada katarak hipermatur, protein-protein di bagian korteks lensa telah mencair. Cairan ini bisa keluar dari kapsul yang utuh, meninggalkan lensa dengan kapsul yang mengerut. Katarak hipermatur yang nucleus lensanya mengambang dengan bebas di dalam kantung kapsulnya disebut sebagai katarak morgagni.7 Sebagian besar katarak tidak terlihat pada pengamatan sepintas sampai lensanya menjadi cukup keruh untuk menyebabkan gangguan penglihatan yang berat. Dengan semakin keruhnya lensa, fundus okuli akan semakin sulit untuk dilihat, sampai akhirnya reflex fundus menjadi hilang sama sekali,. Pada stadium ini, katarak biasanya telah matur, dan pupil mejadi putih.7,19 Derajat klinis pembentukan katarak, dengan menganggap bahwa tidak terdapat penyakit mata lain, terutama dinilai berdasarkan hasil uji ketajaman penglihatan snellen. Secara umum, penurunan ketajaman penglihatan berhubungan langsung dengan kepadatan katarak. Namun, beberapa orang yang klinis kataraknya cukup bermakna berdasarkan pemeriksaan dengan oftalmoskop atau slitlamp dapat melihat cukup baik sehingga dapat melaksanakan aktivitasnya sehari-hari. Lainnya mengalami penurunan ketajaman penglihatan yang tidak sebanding dengan derajat kekeruhan lemsa yang diamati. Hal ini terjadi akibat distrosi bayangan oleh lensa yang mengalami kekeruhan parsial. The cataract Management Guideline Panel

16

menganjurkan penilaian berdasarkan gambaran klinis yang dikombinasi dengan uji ketajaman penglihatan snellen sebagai petunjuk terbaik untuk menentukan perlu tidaknya tindakan bedah, dengan memperhatikan fleksibilitas-yang berkaitan dengan kebutuhan fungsional dan visual spesifik pasien, lingkungan, dan faktor risiko lain, yang semuanya dapat berbeda-beda.7

3.7 Katarak Anak-Anak Katarak anak-anak dibagi menjadi dua kelompok :7 Katarak congenital (infantilis), yang terdapat sejak lahir Kekeruhan lensa congenital sering terjadi dan sering tidak bermakna secara visual. Kekeruhan parsial atau kekeruahn diluar sumbu penglihatan atau tudak cukup padat umtuk menggangu transmisi cahaya tidak memerlukan terapi selain observasi untuk menilai progresivitasnya. Katarak acquired , yang timbul belakangan Tidak perlu mendapatkan penanganan yang segera, seperti pada katarak infantilis karena usia anak sudah lebih tua dan sistem penglihatannya sudah lebih matang.

17

Gambar 3.2 Katarak Kongenital


Sumber : stanford12

3.8 Katarak Traumatik Paling sering disebabkan oleh trauma benda asing pada lensa atau trauma tumpul pada bola mata. Peluru senapan angin dan petasan merupakan penyebab yang sering. Lensa menjadi putih segera setelah masuknya benda asing karena lubang pada kapsul lensa menyebabkan aqueous humor dan kadang-kadang vitreous masuk ke dalam struktur lensa.7

18

Gambar 3.4 Katarak Traumatik


Sumber : www.esrezaeian.com13

3.9 Katarak Sekunder Akibat Penyakit Intraokular Katarak dapat terbentuk akibat efek langsung penyakit intraocular yang mempengaruhi fisiologi lensa. Katarak biasanya berawal di daerah subcapsular posterior dan akhirnya mengenai seluruh struktur lensa. Penyakit-penyakit intraocular yang sering berkaitan dengan pembentukan katarak adalah uveitis kronik, glaucoma, retinitis pigmentosa, dan ablation retinae.7

3.10 Katarak Akibat Penyakit Sistemik Katarak bilateral dapat terjadi karena berbagai gangguan sistemik berikut ini : Diabetes mellitus, hipokalsemia, distrofi miotonik, dermatitis atopic, galaktosemia, down sindrom.7

19

Gambar 3.5 Katarak Akibat Penyakit Sistemik


Sumber : Vaughan 20127

3.11 Katarak Terinduksi Obat Kortikosteroid yang diberikan dalam waktu yang lama, baik secara sistemik maupun dalam bentuk obat tetes dapat menyebabkan kekeruhan pada lensa. Obatobat lain yang diduga menyebabkan katarak antara lain phenotiazine, amiodarone,7

3.12 Katarak Ikutan Katarak ikutan merupakan kekeruhan kapsul posterior yang terjadi setelah ekstraksi katarak ekstrakapsular,7

20

3.13 Katarak Sekunder Katarak sekunder terjadi akibat terbentuknya jaringan fibrosis pada sisa lensa yang tertinggal, paling cepat keadaan ini terlihat sesudah 2 hari EKEK. Katarak sekunder merupakan fibrin sesudah suatu operasi katarak ekstra kapsular atau sesudah suatu trauma yang memecah lensa. Pengobatan katarak sekunder adalah pembedahan seperti disisio katarak sekunder, kapsulotomi, membranektomi, atau mengeluarkan seluruh membrane keruh.

3.13 Penatalaksanaan5,7,14,15,20 Katarak hanya dapat diatasi melalui prosedur operasi. Akan tetapi jika gejala katarak tidak mengganggu, tindakan operasi tidak diperlukan. Kadang kala cukup dengan mengganti kacamata. Sejauh ini tidak ada obat-obatan yang dapat menjernihkan lensa yang keruh. Namun, aldose reductase inhibitor, diketahui dapat menghambat konversi glukosa menjadi sorbitol, sudah memperlihatkan hasil yang menjanjikan dalam pencegahan katarak gula pada hewan. Obat anti katarak lainnya sedang diteliti termasuk diantaranya agen yang menurunkan kadar sorbitol, aspirin, agen glutathione-raising, dan antioksidan vitamin C dan E. Penatalaksanaan definitif untuk katarak senilis adalah ekstraksi lensa. Lebih dari bertahun tahun, tehnik bedah yang bervariasi sudah berkembang dari metode yang kuno hingga tehnik

21

hari ini phacoemulsifikasi. Hampir bersamaan dengan evolusi intraocular lens (IOL) yang digunakan, yang bervariasi dengan lokasi, material, dan bahan implantasi. Bergantung pada integritas kapsul lensa posterior, ada 2 tipe bedah lensa yaitu intra capsuler cataract ekstraksi (ICCE) dan ekstracapsuler cataract ekstraksi (ECCE). Berikut ini akan dideskripsikan secara umum tentang tiga prosedur operasi pada ekstraksi katarak yang sering digunakan yaitu ICCE, ECCE, dan phacoemulsifikasi.

1. Intra Capsuler Cataract Ekstraksi (ICCE) Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul. Seluruh lensa dibekukan di dalam kapsulnya dengan cryophake dan depindahkan dari mata melalui incisi korneal superior yang lebar. Sekarang metode ini hanya dilakukan hanya pada keadaan lensa subluksatio dan dislokasi. Pada ICCE tidak akan terjadi katarak sekunder dan merupakan tindakan pembedahan yang sangat lama populer. ICCE tidak boleh dilakukan atau kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 40. Penyulit yang dapat terjadi pada pembedahan ini astigmatisme, glukoma, uveitis, endoftalmitis, dan perdarahan.

2. Extra Capsular Cataract Extraction (ECCE) Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa lensa dan

22

korteks lensa dapat keluar melalui robekan. Indikasi pembedahan ini adalah pasien katarak muda, pasien dengan kelainan endotel, pasien yang akan dilakukan juga keratoplasti, implantasi lensa intra ocular posterior, perencanaan implantasi sekunder lensa intra ocular, kemungkinan akan dilakukan bedah glukoma, mata dengan prediposisi untuk terjadinya prolaps vitorus body, mata sebelahnya telah mengalami prolaps vitrous body, sebelumnya mata mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid macular edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan katarak seperti prolaps vitrous body. Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu dapat terjadinya katarak sekunder.

3. Phakoemulsifikasi Phakoemulsifikasi (phaco) maksudnya membongkar dan memindahkan lensa. Pada tehnik ini diperlukan irisan yang sangat kecil (sekitar 2-3mm) di kornea. Getaran ultrasonic akan digunakan untuk menghancurkan katarak, selanjutnya mesin PHACO akan menyedot massa katarak yang telah hancur sampai bersih. Sebuah lensa Intra Okular yang dapat dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut. Karena incisi yang kecil maka tidak diperlukan jahitan, akan pulih dengan sendirinya, yang memungkinkan pasien dapat dengan cepat kembali melakukan aktivitas sehari-hari. Tehnik ini bermanfaat pada katarak kongenital, traumatik, dan kebanyakan katarak sennilis. Tehnik ini kurang efektif pada katarak senilis padat, dan keuntungan

23

incisi limbus yang kecil agak kurang kalau akan dimasukkan lensa intraokuler, meskipun sekarang lebih sering digunakan lensa intra okular fleksibel yang dapat dimasukkan melalui incisi kecil seperti itu.

4. SICS Teknik operasi Small Incision Cataract Surgery (SICS) yang merupakan

teknik pembedahan kecil.teknik ini dipandang lebih menguntungkan karena lebih cepat sembuh dan murah.

Apabila lensa mata penderita katarak telah diangkat maka penderita memerlukan lensa pengganti untuk memfokuskan penglihatannya dengan cara sebagai berikut: kacamata afakia yang tebal lensanya

lensa kontak lensa intra okular, yaitu lensa permanen yang ditanamkan di dalam mata pada saat pembedahan untuk mengganti lensa mata asli yang telah diangkat

3.15 Perawatan Pasca Bedah9,7,16 Jika digunakan tehnik insisi kecil, maka penyembuhan pasca operasi biasanya lebih pendek. Pasien dapat bebas rawat jalan pada hari itu juga, tetapi dianjurkan untuk bergerak dengan hati-hati dan menghindari peregangan atau mengangkat benda berat selama sekitar satu bulan, olahraga berat jangan dilakukan selama 2 bulan.

24

Matanya dapat dibalut selama beberapa hari pertama pasca operasi atau jika nyaman, balutan dapat dibuang pada hari pertama pasca operasi dan matanya dilindungi pakai kacamata atau dengan pelindung seharian. Kacamata sementara dapat digunakan beberapa hari setelah operasi, tetapi biasanya pasien dapat melihat dengan baik melui lensa intraokuler sambil menantikan kacamata permanen ( Biasanya 6-8 minggu setelah operasi ). Selain itu juga akan diberikan obat untuk : - Mengurangi rasa sakit, karena operasi mata adalah tindakan yang menyayat maka diperlukan obat untuk mengurangi rasa sakit yang mungkin timbul benerapa jam setelah hilangnya kerja bius yang digunakan saat pembedahan. - Antibiotik mencegah infeksi, pemberian antibiotik masih dianggap rutin dan perlu diberikan atas dasar kemungkinan terjadinya infeksi karena kebersihan yang tidak sempurna. - Obat tetes mata streroid. Obat yang mengandung steroid ini berguna untuk mengurangi reaksi radang akibat tindakan bedah. - Obat tetes yang mengandung antibiotik untuk mencegah infeksi pasca bedah. Hal yang boleh dilakukan antara lain : - Memakai dan meneteskan obat seperti yang dianjurkan - Melakukan pekerjaan yang tidak berat - Bila memakai sepatu jangan membungkuk tetapi dengan mengangkat kaki keatas. Yang tidak boleh dilakukan antara lain : - Jangan menggosok mata

25

- Jangan membungkuk terlalu dalam - Jangan menggendong yang berat - Jangan membaca yang berlebihan dari biasanya - Jangan mengedan keras sewaktu buang air besar - Jangan berbaring ke sisi mata yang baru dibedah

DAFTAR PUSTAKA

26

1. Moore L Keith, Dalley F Arthur. Clinically Oriented Anatomy. 5th ed. Saunders Elsevier:2005. 2. Moore L. Keith, Persaud. The Developing Human. 8th ed. Canada. Saunder Elsevier:2008.

3. http://duniamata.blogspot.com/2010/05/embriologi-mata.html Desember 2012, 10.00 WIB]

[diakses

25

4. Junquiera Carlos Luiz, Carneiro. Histologi Dasar. Edisi 10. EGC:2007.

5. Ilyas Sidarta, Yulianti Rahayu Sri. Ilmu Penyakit Mata. Edisi keempat. Jakarta ; Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2012.

6. James Bruce, Chew Chris, Bron Anthony.Lecture notes oftalmologi. Ninth ed. Erlangga. 2005.

7. Wva-Riordan Paul, Whitcher P. John. Oftalmologi umum. Edisi 17. Penerbit buku kedokteran EGC;2012.

8. http://www.netra-klinik.co.id/dl/Brosur_Katarak.pdf [diakses 25 Desember 2012, 10.00 WIB]

9. Ilyas Sidarta. Ilmu perawatan mata. CV. Sagung Seto. Jakarta; 2004.

10. Unpad

27

11. http://repository.unand.ac.id/278/1/Diagnosa_dan_Penatalaksanaan_Katarak.p df [diakses 25 Desember 2012, 10.00 WIB]

12. http://newborns.stanford.edu/images/lamellarcat3.jpg&imgrefurl=http://newb orns.stanford.edu/PhotoGallery/Cataract4.html&usg [diakses 25 Desember 2012, 10.00 WIB]

13. http://www.esrezaeian.com/apps/photos/photo?photoid=7004939 [diakses 25 Desember 2012, 10.00 WIB]

14. Lang, Gerhard K.

Opthalnology, A short Textbook, Penerbit Thieme

Stuttgart, New York, 2000, hal 173-185.

15. Kohnen, T. Cataract and Refractive Surgery,Penerbit Springer, Germany, 2005, hal 19.

16. Wijana, Nana S.D, Ilmu Penyakit Mata, Cetakan ke-6, Penerbit Abadi Tegal, Jakarta, 1993 : 190-196

17. Setiohadji, B., Community Opthalmology. Cicendo Eye Hospital/Dept. of Opthalmology Medical Faculty of Padjadjaran University. 2006

18. Ilyas, Prof. Sidarta,dr.,DSM. 2003. Katarak (Lensa Keruh). Jakarta : FKUI

19. The Eye M.D. Association. 2005. Lens and Cataract Section 11. San Fransisco : American Academy of Opthalmology 20. Ilyas, Sidarta dkk, Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedikteran Edisi ke-2. 2002. Jakarta : Sagung Seto.

28

29