Anda di halaman 1dari 7

Kisah Di Sebuah Pulau

July 16, 2007 · Leave a Comment

Copyright 2002, by Ayeng Waldesi <awaldesi@yahoo.com>

(Pemaksaan, Istri Selingkuh)

Sebagai seorang pimpinan cabang di suatu bank daerah, Yeni mendapat tugas di sebuah
daerah yang baru menjadi kabupaten di propinsi Sumatera Barat. Jika dipikir, sebetulnya
Yeni tidak suka dipindah ke pulau itu, namun tugasnya sebagai pegawai negeri tidak bisa
ditolak. Bagaimanapun Yeni tidak ingin karir yang sudah dirintisnya selama beberapa
tahun harus habis.

Untuk itu ia harus berkorban dan rela meninggalkan suaminya yang bekerja di ibukota
propinsi. Bagaimanapun mereka adalah pasangan suami istri yang masih menjalani masa
pengantin baru.

Untuk menempuh kabupaten tersebut harus melalui laut dan naik boat yang setiap
minggu hanya ada 1 kali pelayaran. Saat Yeni menempati kantor barunya, Beni ikut serta
mengantar ke pulau itu. Bagaimanapun ia khawatir akan istrinya yang memang cantik itu.
Apalagi kalau ia ingat saat menaiki boat, hampir semua mata anak buah boat itu
memandang lain kepada Yeni. Namun Beni tidak mengambil peduli. Ia amat mendukung
karir istrinya itu.

Sesampainya di pulau, Yeni langsung menuju ke rumah dinasnya di sana. Di pulau itu
kehidupan masyarakatnya memang tergolong masih terbelakang. Selama satu minggu
Beni berada di pulau itu mendampingi istrinya yang mulai bekerja di kantor bank
pemerintah daerah. Selama satu minggu itu pula Beni selalu menyirami Yeni dengan
kemesraan yang biasa mereka lakukan sebagai suami istri. Beni menyadari Yeni tidak
bisa terlalu sering datang ke kota propinsi. Jika ia rindu, Beni saja yang datang ke pulau
itu untuk memberikan jatah seksnya kepada Yeni.

Karena Beni mendapatkan tugas belajar ke luar negeri dari kantornya, maka saat itu
komunikasi Yeni dan Beni agak terhenti dan membuat Yeni tidak dapat menerima
belaian dan kemesraan dari Beni. Hanya hubungan telepon yang mereka lakukan.

Pernah satu saat Yeni dengan teman-teman sesama karyawan di bank ia bekerja pulang
ke kota propinsi dan menumpang kapal yang biasa mereka tumpangi, diganggu oleh anak
buah kapal yang memang dari pertama kali Yeni datang selalu memperhatikan tindak-
tanduk Yeni. Namanya Salube. Salube adalah penduduk asli di pulau itu. Salube selalu
merperhatikan saat Yeni bersama Beni dan saat itu bersama 2 orang temannya yang
seluruhnya perempuan yang akan pulang ke kota.

Di antara mereka bertiga hanya Yeni yang amat mengundang minat para lelaki di atas
kapal itu, sedang yang lainnya sudah pada berumur dan tidak begitu menggoda. Kalau
dilihat sosok Yeni, memang cantik. Selain itu ia memiliki tubuh yang semampai. Yeni
berumur 27 tahun kulit putih dan dada yang seimbang dengan bentuk tubuhnya. Bibirnya
juga mengundang pria untuk mengulumnya. Yeni memiliki leher yang jenjang dan di
tengkuknya ditutupi oleh rambut halus sehingga menonjol sekali kecantikannya ditambah
sepasang kaki yang panjang bak belalang.

Sedang Salube, sebagai anak kapal amat bertolak belakang dengan Yeni. Selain kulitnya
hitam dan badannya pendek, mukanya juga amat menakutkan jika terus dipandang.
Belum lagi jika berpapasan baunya amat menyengat hidung.

Selama perjalanan pulang Yeni tidak mengubris godaan dari Salube. Yeni serasa mau
muntah jika dekat Salube, namun Salube tetap menggodanya. Untunglah jarak dengan
kota telah dekat.

Saat Yeni akan berangkat kembali ke pulau itu untuk bekerja, mau tidak mau Yeni harus
menumpang kapal itu lagi. Selama perjalanan Yeni amat khawatir terhadap Salube.
Sebagai seorang wanita, ia tidak mungkin membentak Salube, namun Salube kembali
mencoba menggoda Yeni dengan kata-kata rayuan supaya Yeni mau berteman
dengannya. Yeni selalu membuang muka. Ingin rasanya ia mengadukan perbuatan Salube
itu kepada nakhoda kapal itu, namun tidak mungkin. Bagaimanapun Yeni bekerja di
daerah yang notabene tempat kelahiran Salube. Akhirnya Yeni menerangkan kepada
Salube.

“Saya mohon jangan diganggu, soalnya saya memiliki suami dan saya ke sini untuk
kerja. Harap anda maklum,” Yeni menerangkan.

Sedang Salube hanya tersenyum, dan berkata, “Kak, jangan sombong.. di pulau ini…
segalanya bisa terjadi.. Saya tau suami kakak.. tidak ada, namun tolong terima saya
sebagai kawan dan anggap saya sahabat kakak…..” Salube menerangkan.

Dengan marah Yeni meludah dan berkata “Apa kata kamu… Kamu kira kamu bisa apa..
Kamu jangan ancam saya seperti itu… Kamu bisa repot… Bapak suamiku orang
berpengaruh di kota. Kamu bisa ditangkap tau!” kata Yeni ketus.

Lalu Salube berkata, “Baiklah kita liat saja dalam beberapa waktu nanti Kakak pasti
bertekuk lutut ke saya minta belas kasian…”

Yeni hanya diam memperhatikan Salube berlalu dan membiarkan ancamannya. Setelah
kejadian itu, seperti biasa Yeni bekerja dan melakukan aktifitasnya di kantornya. Jarak
rumah dan kantornya tidak terlalu jauh hanya 5 menit jika jalan kaki. Sesampai di luar
kantornya, Yeni berpapasan dengan Salube, yang saat itu hanya berjalan seorang diri.

Yeni hanya memalingkan muka tidak ingin bertatapan mata dengan Salube, padahal saat
itu Salube baru saja datang dari tempat gurunya untuk minta ramuan pemikat sukma.
Bagaimanapun ia amat sakit hati dilecehkan Yeni. Dengan mantra dari gurunya Salube
mencoba memanggil nama Yeni…
“Yeni, kamu mau kemana?”

Ajaib, Yeni yang sebelumnya amat membenci Salube dan jijik kepadanya tiba-tiba
berhenti lalu berpaling menatap Salube…. Sambil memandang wajah laki-laki itu,
dijawabnya pertanyaan Salube.

“Saya mau pulang ke rumah, Be.” katanya.

“Boleh saya antar kamu sampai ke rumah?” Dalam hatinya, Salube merasa girang.
Mantra dari gurunya tampaknya akan berhasil.

Yeni menatap mata Salube selama beberapa saat. Lalu ia pun tersenyum manis.

“Silakan…. jika tidak keberatan.” Segala kebencian Yeni saat itu sirna dan rasa
simpatinya muncul. Yeni tidak menyadari bahwa sukmanya telah dipermainkan oleh
Salube.

Sesampainya di rumah dinasnya, Yeni mempersilakan Salube masuk.

“Silakan masuk, Be…” kata Yeni. “Duduk aja dulu, ya? Saya mau ke belakang
sebentar…”.

Yeni menutup kembali dan mengunci pintu rumah dinasnya yang terletak agak jauh dari
rumah penduduk lainnya.

Salube duduk di ruang tamu sambil terus membaca mantra. Di pulau itu Salube amat
ditakuti. Dengan bantuan gurunya, semua wanita di pulau itu yang menarik hatinya telah
pernah ia gauli, tak peduli masih gadis maupun sudah jadi istri orang. Kini, ia bertekad
sepenuh hati untuk melakukan hal yang sama terhadap Yeni. Sejak datang ke pulau itu
bersama suaminya, Yeni tidak luput dari perhatian Salube. Ia ingin menaklukkan Yeni.

Salube pun pernah mengintip saat Yeni berhubungan badan dengan suaminya. Itulah
salah satu faktor yang membuat Salube ingin merasakan tubuh Yeni. Di pulau itu tidak
satu pun orang yang akan melarang perbuatan Salube. Ia juga pernah menggauli seorang
dokter wanita yang ditugaskan ke pulau itu beberapa tahun lalu. Namun sang dokter yang
ayu itu kini telah pindah tugas ke kota.

Beberapa saat kemudian Yeni datang dan membawa air minum untuk Salube.

“Diminum airnya ya, Be?”

Lalu Yeni duduk di depan Salube dan bertanya.

“Dari mana, Be?”

“Saya dari kapal” jawab Salube.


Secara tak sengaja rok kerja Yeni tersingkap dan terlihatlah CD merah Yeni oleh Salube.
Yeni tidak sadar dari tadi Salube terus memperhatikan belahan paha Yeni. Yeni terus
berbicara mengenai kantornya dan ia belum sempat salin pakaian kerjanya.

Salube berkata, “Yen, tukar aja dulu pakaian kamu.”

Yeni menuruti perkataan Salube. Ia lalu berjalan ke kamar. Salube pun mengikuti dari
belakang. Yeni membiarkan Salube mengikutinya ke kamar. Bagaimanapun saat itu Yeni
telah berada dalam pengaruh Salube.

Di kamar, Yeni lalu membuka blouse kerjanya bagian atas, sedang Salube terus
memperhatikan dengan seksama, sambil air liurnya naik turun. Sebentar lagi Yeni akan
berada di dekapannya…. Setelah blouse terlepas dari tubuh Yeni dan yang tertinggal
hanya BH pink 34b itu, Salube berdiri menuju Yeni.

Dari belakang, ia belai bahu dan tengkuk Yeni yang putih mulus itu. Bulu-bulu halus di
tengkuk Yeni ia ciumi dengan mulutnya sehingga aroma parfum Yeni yang telah
bercampur bau tubuh Yeni menambah nafsu Salube. Yeni memejamkan mata. Sekarang
ia berada dalam pengaruh gairah Salube. Suaminya tidak ia ingat lagi.

Lalu Salube membuka pengait BH Yeni itu dan membuangnya ke lantai sehingga kedua
payudara Yeni jadi terbuka. Dengan kedua tangannya Salube meremas dan memilin
puting susu itu dari belakang, sementara mulut Salube terus menciumi leher jenjang yang
terawat itu.

Rambut Yeni ia sisipkan ke tepi supaya Salube dengan mudah dapat meciumi tengkuk
dan leher Yeni.

Setelah Yeni terbangkitkan gairahnya, Salube membawanya ke tempat tidur di kamar


Yeni. Ia baringkan tubuh Yeni. Salube terus membelai dada putih itu. Memerahlah kedua
payudara Yeni karena kenakalan tangan Salube.

Yeni telah melupakan ketakutannya kepada Salube. Juga ia tidak merasa jijik jika
berdekatan dengan Salube. Buktinya, saat itu Salube leluasa menjamah tubuh mulusnya
dengan rakus.

Salube berpindah ke kaki Yeni. Ia ciumi jari kaki itu, lalu naik ke betis dan sampailah ke
lutut dan paha Yeni. Ini amat membangkitkan sensasi tersendiri bagi Yeni. Yeni hanya
pasrah, biarlah Salube yang mengambil peranan sejak saat itu.

Tangan Salube membuka rok kerja Yeni yang masih melekat. Rok itu menggangu
kegiatan Salube. Yeni belum sempat menukar rok kerjanya saat itu.

Setelah rok itu tanggal, terpampanglah sepasang paha yang ditutupi segi tiga pengaman
berwarna merah. CD merah itu lalu ia turunkan dari kedua kaki Yeni dan terlihatlah
sejumbut bulu halus yang menutupi lobang vagina Yeni.
Dengan jari tangannya, lobang itu ia korek. Yeni merasakan terbang ke awang-awang.
Daging kecil di belahan vagina Yeni ia pilin dan lobang itu pun mulai basah oleh air
kenikmatan Yeni.

Sementara itu di tubuh Yeni yang telanjang mulai banyak mengeluarkan keringat
menandakan Yeni telah terangsang hebat. Salube pun menghentikan permainannya. Ia
tanggalkan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya.

Ia minta Yeni untuk memegang penisnya, “Yen, pegang ini punya saya…”

Yeni diam dan mencoba memegangnya. Ia amat takjub… Penis Salube amat besar dan
panjang, bewarna hitam sedang kepala bajanya cukup lebar. Ia sempat bergidik karena
miliknya amat kecil dan belum pernah melahirkan. Milik suaminya juga tidak terlalu
panjang dan besar.

Salube meminta Yeni untuk mengulumnya dengan posisi 69. Dengan sedikit jijik, Yeni
membawa penis Salube ke mulutnya. Yeni mulai menjilatinya, lalu ia kulum maju
mundur. Salube sendiri terus memainkan lobang kemaluan Yeni. Ia pilin-pilin daging
kecil itu. Sesekali tangannya meremas susu Yeni yang bergoyang karena gerakan tubuh
Yeni menahan gairah.

Kurang lebih 18 menit Yeni telah dua kali mengalami orgasme, sedamg Salube memiliki
ketahanan yang lama. Baru saat akan memasuki menit ke-20 ia muntahkan spermanya di
mulut Yeni. Setelah itu Yeni berdiri ke kamar mandi dan muntah karena ia jijik akan
sperma Salube yang sempat tertelan olehnya.

Salube hanya diam menunggu Yeni di tempat tidur sambil menaikkan kembali penisnya
supaya tegak. Ia percaya Yeni tidak akan bisa menolak pengaruhnya. Beberapa saat
kemudian Yeni masuk ke kamar dan kembali ia duduk di pinggiran ranjang.

Salube kembali menaikkan nafsu Yeni dengan memilin puting susu Yeni sehingga puting
itu tegak menantang menandakan Yeni sudah kembali bergairah. Lalu tangan Salube
merengkuh pinggang Yeni. Salah satu jarinya masuk ke dalam lobang vagina Yeni. Yeni
menuruti saja kemauan Salube.

Salube ingin permainan ranjang itu dilanjutkan dengan masuknya penisnya ke dalam
lobang Yeni. Salube lalu merengkuh sebuah bantal dan meletakkannya di pinggul Yeni
sehingga vagina Yeni terbuka. Namun Yeni kembali menutupkannya dengan merapatkan
kedua kakinya, sambil berkata, “Be…, saya tak ingin kamu masukkan punyamu ke dalam
saya. Saya takut hamil. Saat ini saya tidak memakai alat KB.”

Yeni yang meskipun telah diliputi nafsu masih sempat berpikir untuk tidak mau beresiko
dalam hubungan seks dengan Salube. Ia khawatir akan hamil akibat Salube. Jika dengan
Beni ia tidak ambil peduli, ia ingin hubungannya dengan Beni tetap normal dan ia pun
ingin terus setia dengan lembaga perkawinannya.
Lalu Salube berkata, “Tenang saja, kamu takkan hamil, ya? Nah buka lagi, Yen?” sambil
tangannya membuka kedua kaki Yeni yang berbetis indah itu.

Setelah kedua kaki Yeni terbuka, lalu ia tekuk ke atas dan penisnya yang dari tadi tegak
menantang ia arahkan ke bibir vagina Yeni. Agak hati-hati ia geserkan penisnya, sedang
Yeni hanya menahan nafas ia sadar sebentar lagi vaginanya akan diaduk penis Salube
yang amat besar itu. Penis Salube masuk setengah dan ia dorong terus. Yeni sesenggukan
menahan nyeri di lobangnya.

“…Auuggggghhhhh…..auuuuuhhh, sakit… Salube..!!” jerit Yeni.

Salube tidak mempedulikan jeritan Yeni. Ia genjot terus pinggulnya sehingga seluruh
penisnya masuk ke dalam vagina Yeni. Salube terus menggenjot dan Yeni amat tersiksa
karenanya.

Inilah saat-saat yang diingini Salube. Ia penasaran saat melihat Yeni bersetubuh dengan
suaminya. Amat mempesona Salube… maka ia terus genjot Yeni selama 20 menit…
Yeni hanya mendengus antara rasa nyeri dan kenikmatan. Salube melampiaskan nafsunya
ke tubuh Yeni karena ia amat cemburu melihat Yeni saat bersebadan dengan Beni, di
kamar dan ranjang yang sama.

Salube termasuk tipe laki-laki hiperseks yang sanggup bertahan lama dalam berhubungan
seks. Apalagi dengan wanita secantik Yeni.

Keringat membasahi kedua tubuh telanjang yang sedang berdempet itu amat kontras.
Tubuh putih mulus Yeni ditunggangi oleh tubuh hitam yang berbulu milik Salube. Pada
menit ke-25 barulah Salube muntahkan spermanya yang banyak ke dalam vagina Yeni.

Yeni sejak tadi telah beberapa kali mengalami klimaks orgasme sehingga ia tidak
menyadari bahwa Salube telah menumpahkan spermanya ke dalam rahimnya. Karena
Yeni tidak mencegahnya, Salube sengaja membiarkan saja penisnya terus tertanam di
dalam tubuh Yeni. Baginya, hal itu terasa sangat nikmat karena mencerminkan
keberhasilan penaklukannya dan pelampiasan nafsunya terhadap Yeni secara total.

Setelah itu tubuh Salube terhempas di atas tubuh Yeni yang mulus itu. Penisnya ia
biarkan masih di dalam vagina Yeni. Salube lalu tertidur, begitu pula Yeni. Mereka
begitu kelelahan setelah keduanya mengeluarkan energi yang begitu banyak untuk
bersenggama. Di luar rumah mereka hujan turun dengan deras.

Menjelang pagi Salube bersama Yeni kembali mengulang permainan ranjang itu. Yeni
yang semula agak malu-malu dan amat jijik kepada Salube, sejak saat itu aktif
mengambil peranan dalam memuaskan nafsunya. Dengan tidak malu-malu Yeni telah
bisa mengulum dan menjilat setiap inci tubuh Salube. Tidak terkecuali penis Salube.
Begitu juga sebaliknya dengan Salube.
Sejak kejadian itu Salube dan Yeni terus melakukan hubungan seks. Mereka
melakukannya baik di rumah Yeni atau pun di gubuk Salube di hutan bakau pulau itu.
Tindakan Yeni ini tidak diketahui oleh teman-temannya di bank. Ia dan Salube benar-
benar menyimpan rapi affair mereka. Selama Beni tugas belajar, Yeni dan Salube tidak
pernah absen melakukan hubungan seks.

Yeni sebenarnya menyadari, dan khawatir kalau-kalau ia akan hamil. Karena itu akhirnya
Salube terlebih dahulu selalu memberikan pil KB untuk diminum Yeni sebelum
bersenggama dengannya sehingga Yeni tidak akan hamil.

Sampai Beni pulang dari luar negeri pun Yeni tetap melayani Salube. Baginya Salube
amat perkasa dan jantan.