Anda di halaman 1dari 4

Penanganan Banjir Jakarta

ALVIN GUSTOMY

Tugas Karya Tulis Ilmiah


Daya dukung sumber daya air wilayah dengan pendekatan tapak air

Anhid, 17 Des 2014


Anhid, 17 Desember 2014

Penanganan Banjir Jakarta: Kajian tapak air Banjir Kanal Timur


(BKT) sebagai daya dukung sumber daya air wilayah
Oleh: Alvin Gustomy G24110065 |

Dosen: Hidayat Pawitan

PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Jakarta dengan sistem drainasenya, dianggap belum mampu untuk mencegah banjir yang datang
dari sisi luar kota. Setiap tahun di musim hujan beberapa ruas Jakarta mengalami luapan genangan banjir.
Genangan yang terjadi di daerah tersebut disebabkan karena perubahan tata guna lahan di daerah hulu
yang akan berpengaruh pada perubahan karakteristik banjir baik dari segi besarnya banjir dan lama waktu
kejadian banjir. Genangan banjir juga disebabkan oleh adanya penyempitan sungai oleh padatnya
pemukiman di bantaran sungai yang mengakibatkan kapasitas aliran sungai lebih kecil dari pada debit
banjir yang terjadi. Debit banjir yang cenderung semakin besar dan semakin kecilnya kapasitas tampung
sungai di Jakarta dari tahun ke tahun, menjadi persoalan yang mendapatkan perhatian serius di dalam
penanganannya oleh pemerintah. Salah satu penanganan banjir Jakarta adalah Banjir Kanal Timur (BKT).
BKT dibangun sebagai saluran pengumpul di sekitar area dataran rendah sehingga kota dapat terlindungi
dari banjir yang datang dari luar. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengkaji penanganan banjir Jakarta
melalui BKT sebagai daya dukung sumber daya air wilayah dengan pendekatan tapak air.
b. Metode/ Konsep
Kajian pustaka dilakukan untuk menelusuri persoalan dan review studi terkait dengan penanganan
banjir pada BKT, dari sisi konsep perencanaan tapak air dan faktor-faktor lain yang harus ada dalam
perencanaan tapak pembangunan kanal. BKT tidak hanya berfungsi sebagai flood-way tetapi juga
dikaitkan sebagai sumber daya air wilayah pada daerah Jakarta.

PEMBAHASAN
Banjir Jakarta semakin meluas setiap tahunnya. Penyebab banjir di Jakarta secara garis besar
karena terganggunya drainase lokal, perubahan tampungan alam (situ), dan sedimentasi lumpur
menyebabkan pendakalan sungai. Banjir Kanal Timur (BKT) merupakan upaya pengendalian banjir dari
bagian timur hingga sebagian utara Jakarta.

Daya dukung sumber daya air wilayah dengan pendekatan tapak air | 1

Penanganan Banjir Jakarta

ALVIN GUSTOMY

Anhid, 17 Des 2014

Sumber: Jakarta.go.id

Gambar 1 Peta Banjir Kanal Timur. Saluran BKT memotong Kali Cipinang, Sunter, Buaran, Jati Kramat,
dan Kali Cakung dari barat ke timur, kemudian dialirkan ke utara di perbatasan timur wilayah Jakarta.
Kanal dengan panjang 23,5 km dan lebar 100 meter hingga 300 meter ini melintasi 13 kelurahan (dua
kelurahan di Jakarta Utara dan 11 kelurahan di Jakarta Timur).

Konsep pembangunan BKT muncul sebagai koreksi dari penanganan sungai selama ini yang
cenderung menggunakan konsep rekayasa semata dan kurang memperhitungkan pengaruh secara
ekosistem dalam jangka panjang. Terdapat hubungan erat antara debit air dengan tapak air alur sungai.
Tapak air merupakan karakter lahan dari sungai dengan segala sesuatu di dalamnya, baik bersifat alami
maupun buatan manusia. Kemampuan pemulihan sungai dapat dilakukan dengan memperbesar tapak air
alur sungai untuk memperkecil debit banjir. Namun pada pembangunannya, BKT menyebabkan air lebih
cepat sampai ke laut sehingga sirkulasi air tanah akan hilang bila BKT tidak didukung penanganan
maksimal Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terhubung ke BKT.

Sumber: Jakarta.go.id

Gambar 2 DAS BKT berbentuk bulu burung. Bentuk DAS bulu burung (kiri). BKT Jakarta (kanan).

Perbaikan Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik
DAS masing-masing. Secara umum, DAS yang terhubung langsung dengan BKT berbentuk bulu burung.
Bentuk DAS ini dicirikan dengan bentuk DAS yang ramping dan memanjang, dimana anak-anak sungai
mengalir ke sungai utama dari sisi kiri dan kanan sungai. Secara hidrologis, DAS seperti ini ditandai
Daya dukung sumber daya air wilayah dengan pendekatan tapak air | 2

Penanganan Banjir Jakarta

ALVIN GUSTOMY

Anhid, 17 Des 2014

dengan debit banjir yang relatif kecil, karena waktu tiba banjir dari anak-anak sungai tersebut berbedabeda. Sebaliknya, banjir yang terjadi relatif berlangsung agak lama. Pada kenyataannya, banjir yang
terjadi di Jakarta pada tahun 2002 dan 2007 mengalami debit banjir yang bertambah tinggi dari tahun
1996. Hal ini tidak sesuai dengan karakteristik DAS yang berbentuk bulu burung. Oleh karena itu, perlu
dicermati kembali hal lain yaitu penggunaan lahan yang ada dalam sistem DAS tersebut. Perubahan
penggunaan lahan pada bagian hulu DAS yang dahulu berupa hutan dan sekarang berupa perkebunan teh,
sedangkan untuk bagian hilirnya yang dahulu masih terdapat lahan yang menampung air limpasan yang
berasal dari hujan telah beralih fungsi menjadi pemukiman dengan lebar sungai yang semakin menyempit.
Peningkatan debit banjir ini dimungkinkan karena perubahan lahan dan penyempitan lebar sungai tersebut.
Untuk itu perbaikan DAS yang dilakukan harus menyeluruh dari daerah hulu hingga hilirnya dengan
memperkuat kerjasama antara pemerintah provinsi yang ada di hulu dan hilir dalam satu sistem DAS ini.
Selain itu, pemeliharan dari sistem DAS dapat dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah terkait. Hal ini
dapat dilakukan dengan cara mengurangi beban sampah yang masuk ke dalam sungai dan tidak
melakukan alih fungsi lahan sembarangan. Pemerintah juga dapat melakukan pemeliharaan dengan
menjaga lahan yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air pada bagian hulu agar tidak dirusak oleh
tangan manusia jahil dengan membuat peraturan dengan sanksi yang tegas.

Sumber: Jakarta.go.id

Gambar 3 Masterplan BKT Jakarta

Secara perencanaan yang dalam masterplan pengendalian banjir, Jakarta sudah mempunyai
sistem pengendalian banjir yang tanggap banjir melalui Banjir Kanal. Namun demikian, semua realisasi
fisik operasi dan pemeliharaan belum konsisten. Perlu koordinasi semua pihak agar pengendali banjir
Jakarta sesuai dengan perencanaan dan harus konsisten serta berkelanjutan.

Daya dukung sumber daya air wilayah dengan pendekatan tapak air | 3

Penanganan Banjir Jakarta

ALVIN GUSTOMY

Anhid, 17 Des 2014

KESIMPULAN
Banjir Kanal Timur (BKT) merupakan proyek yang dinilai bermanfaat bagi pengendalian banjir
dan pembangunan potensi daya dukung sumber daya air wilayah Jakarta. Pemerintah bersinergi dengan
gagasan yang telah ada serta pelaksanaan dan pengembangan secara komitmen, konsisten dan konkret,
maka Program BKT akan berjalan sesuai dengan tujuan awal pembangunan, yaitu: 1) menunjang
penanganan pengendalian banjir di wilayah utara dan timur Jakarta; 2) mengurangi 13 kawasan genangan
banjir di wilayah timur Jakarta; 4) sebagai prasarana konservasi air untuk pengisian kembali air tanah dan
sumber air baku; 5) prasarana transportasi air dan rekreasi serta; 6) sebagai daya dukung sumber daya air
wilayah timur dan utara Jakarta dengan konsep tapak air.

DAFTAR PUSTAKA
Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Pemerintah DKI Jakarta. 2008. Rencana Umum Tata Ruang Jakarta Tahun 1985-2005.
Kompas.
2012.
Penanganan
Banjir
dengan
BKT
Dipuji.
(terhubung
berkala)
http:// Kompas.com/bkt/Penanganan.Banjir.dengan.BKT.Dipuji.htm. 2 Desember 2014.
Wagner, I. and Zalewski, M., 2009. Ecohydrology as a basis for the sustainable city strategic planning
focus on Lodz, Poland. Review in Environmental Science and Biotechnology, 8, pp. 209217.

Daya dukung sumber daya air wilayah dengan pendekatan tapak air | 4