Anda di halaman 1dari 18

Skrining Kanker Serviks dengan Tes

IVA
Devy Anggi Sitompul
10-2011-241 / B 7
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510
Email: dvy.anggi@outlook.com
Pendahuluan
Kanker serviks merupakan kanker yang terbanyak diderita perempuan di negara
berkembang seperti Indonesia. Di negara maju, kanker serviks menduduki urutan ke-10 dan
bila digabung, menduduki urutan ke-5. Seperti penyakit kanker pada umumnya, kanker
serviks akan menimbulkan masalah pada kesakitan, penderitaan, kematian finansial dan
ekonomi, masalah pada lingkungan kehidupan dan masalah pada pemerintah. Dengan
demikian, penanggulangan kanker serviks harus dilakukan secara menyeluruh dan
terintegrasi.
Hingga saat ini kanker serviks merupakan penyebab kematian terbanyak akibat
penyakit kanker di negara berkembang. Diperkirakan setiap tahun dijumpai sekitar 500.000
penderita baru di seluruh dunia dan umumnya terjadi di negara berkembang.1 Dinegaranegara maju jumlah penderita kanker mulut rahim tidaklah sebanyak di negara berkembang,
hal ini disebabkan tingginya kesadaran masyarakat untuk mengikuti program pendeteksian
dini dan pencegahan.
Kematian pada kasus kanker serviks terjadi karena sebagian besar penderita yang
berobat sudah berada dalam stadium lanjut. Padahal, dengan ditemukannya kanker ini pada
stadium dini, kemungkinan penyakit ini dapat disembuhkan sampai hampir 100%. Kanker
serviks ini sebenarnya sangat bisa dicegah dan kuncinya adalah deteksi dini. Pemeriksaaan
keadaan serviks seorang wanita bisa ditempuh dengan berbagai macam cara. Misalnya saja
dengan pemeriksaan pap smear, biopsi, test iva, dll
1

Definisi

Kanker serviks atau kanker leher rahim

atau disebut juga kanker mulut

rahim merupakan salah satu penyakit keganasan di bidang kebidanan dan penyakit
kandungan yang masih menempati posisi tertinggi sebagai penyakit kanker yang menyerang
kaum perempuan. Kanker serviks adalah kanker leher rahim / kanker mulut rahim yang di
sebabkan oleh virus HPV ( Human Papiloma Virus )1

Etiologi
Penyebab primer kanker leher rahim adalah infeksi kronik leher rahim oleh virus HPV
(Human Papiloma Virus) tipe onkogenik yang beresiko tinggi menyebabkan kanker leher
rahim yang ditularkan melalui hubungan seksual (sexually transmitted disease). Perempuan
biasanya terinfeksi virus ini saat usia belasan tahun, sampai tiga puluhan, walaupun
kankernya sendiri baru akan muncul 10-20 tahun sesudahnya. Infeksi virus HPV yang
berisiko tinggi menjadi kanker adalah tipe 16, 18, 45, dan 56 dimana HPV tipe 16 dan 18
ditemukan pada sekitar 70% kasus. Infeksi HPV tipe ini dapat mengakibatkan perubahan selsel leher rahim menjadi lesi intra-epitel derajat tinggi (high-grade intraepithelial lesion/
LISDT) yang merupakan lesi prakanker. Sementara HPV yang berisiko sedang dan rendah
menyebabkan kanker (tipe non-onkogenik) berturut turut adalah tipe 30, 31, 33, 35, 39, 51,
52, 58, 66 dan 6, 11, 42, 43, 44, 53, 54,55.13. 1

Patologi Karsinoma Serviks


Kanker serviks timbul di atas antara epitel yang melapisi ektoleher rahim dan
endoleher rahim yang disebut scuamosa columner junction. Pada masa kehidupan wanita
terjadi perubahan fisiologis pada epitel leher rahim dimana epitel kulumner akan digantikan
oleh epitel skuamosa yang diduga berasal dari epitel kanker dengan kolumner. Proses
pergantian epitel kolumner menjadi epiel skuamosa disebut proses metaplasia. Pada wanita
muda, SCJ berada diluar OUE sedangkan pada wanita berumur dari 35 tahu SCJ berada
didalam uteri. 2,3
Pada awalnya perkembangan kanker leher rahim tidak memberikan tanda-tanda dan
keluhan. Pada pemeriksaan speculum tampak sebagai portio yang erosi atau metaplasia
2

skuamosa yang fisiologk atau patalogik. Tumor dapat tumbuh secara: (a) Eksofilik, mulai dari
SCJ kearah lumen vagina sebagai masa proliferative yang megalami infeksi sekunder dan
nekrosis, (b) Endofilik, mulai dari SCJ tumbuh kedalam stroma leher rahim dan cenderung
mengadakan infiltrasi menjadi ulkus yang luas, (c) Ulceratif, mulai dri SCJ dan cenderung
merusak struktur jaringan leher rahim dengan melibatkan awal forniks vagina menjadi ulkus
yang luas. 2,3
Metaplasia skuamosa yang fisiologis dapat berubah menjadi patologi dysplasia
melalui tingkatan neoplasma insitu I,II, III dan karsinoma insitu akhirnya menjadi karsinoma
invasive sekali lalu mejadi makro invasive, proses keganasan akan berjalan terus. 2,3

Gambaran Klinik Karsinoma leher rahim


Pada awal stadium kanker hampir tidak ada gejala, kecurigaan timbul bila ada keluhan
keputihan atau mengalami perdarahan setelah berhubungan seksual.
Gejala lanjut dari kanker serviks ini adalah;
- Perdarahan di luar masa haid
- Jumlah darah haid tidak normal
- Perdarahan pada masa menopause ( setelah berhenti haid )
- Keputihan yang bercampur darah atau nanah
Pada stadium awal tidak terdapat adanya gejala yang ditimbulkan dan sel-sel kanker
tidak dapat diamati dengan mata telanjang, sehingga banyak penderita yang diketahui setelah
stadium lanjut (stadium 2 ke atas) pada saat terjadinya gejala yang berupa keluarnya cairan
yang berbau busuk, pendarahan setelah hubungan seksual dan pegel di perut bagian bawah.
Jika dilihat dengan mata telanjang, kanker tumbuh seperti bunga kol. Seperti sifat bungan kol
yang rapuh, bila digosok dengan tangan maka bunga kol akan jatuh berhamburan. Begitu juga
dengan kanker ini, sangat rapuh. Bila terkena sentuhan disaat berhubungan seksual misalnya,
maka kanker akan rontok dan berdarah bahkan bisa terjadi pendarahan yang memerlukan
perawatan.2,4

Faktor Risiko1,4
Beberapa ko-faktor yang memungkinkan infeksi HPV berisiko menjadi kanker leher rahim
adalah :
a. Faktor HPV :
- Tipe virus
- Infeksi beberapa tipe onkogenik hpv secara bersamaan
- Jumlah virus (viral load)
b. Faktor host/ penjamu :
- Status imunitas, dimana penderita imunodefisiensi (misalnya penderita HIV positif)
yang terinfeksi HPV lebih cepat mengalami regresi menjadi lesi prekanker dan
kanker.
- Jumlah paritas, dimana paritas lebih banyak lebih berisiko mengalami kanker
c. Faktor eksogen
- Merokok
- Ko-infeksi dengan penyakit menular seksual lainnya
- Penggunaan jangka panjang ( lebih dari 5 tahun) kontrasepsi oral

Faktor risiko yang potensial menyebabkan terjadinya kanker leher atau penularan kanker
rahim adalah:1
- Melakukan hubungan seks pada usia muda
- Sering berganti-ganti pasangan
- Sering menderita infeksi di daerah kelamin terutama virus HPV ( Human Papilloma
Virus)
- Melahirkan banyak anak
- Kebiasaan merokok (risiko 2x lebih besar)
- Juga kekurangan vitamin A, C, dan E

Seringkali gejala kanker leher rahim pada stadium dini tidak menunjukkan gejala atau tanda
yang khas. Sedangkan jika telah timbul gejala diantaranya keputihan, perdarahan setelah
hubungan intim suami istri, perdarahan spontan setelah masa menopause (masa tidak haid
lagi), keluar cairan kekuningan yang berbau busuk atau bercampur darah, nyeri panggul, atau
tidak dapat buang air kecil, maka kemungkinan besar penyakit telah masuk stadium lanjut.1
Epidemiologi Kanker Serviks5,6
Untuk wilayah ASEAN, insidens kanker serviks di Singapore sebesar 25,0 pada ras
Cina; 17,8 pada ras Melayu; dan Thailand sebesar 23,7 per 100.000 penduduk. Insidens dan
angka kematian kanker serviks menurun selama beberapa dekade terakhir di AS. Hal ini
karena skrining Pap menjadi lebih populer dan lesi serviks pre-invasif lebih sering dideteksi
daripada kanker invasif. Diperkirakan terdapat 3.700 kematian akibat kanker serviks pada
2006. Di Indonesia diperkirakan ditemukan 40 ribu kasus baru kanker mulut rahim setiap
tahunnya. Menurut data kanker berbasis patologi di 13 pusat laboratorium patologi, kanker
serviks merupakan penyakit kanker yang memiliki jumlah penderita terbanyak di Indonesia,
yaitu lebih kurang 36%. 5
Relative survival pada wanita dengan lesi pre-invasif hampir 100%. Relative 1 dan 5
years survival masing-masing sebesar 88% dan 73%. Apabila dideteksi pada stadium awal,
kanker serviks invasif merupakan kanker yang paling berhasil diterapi, dengan 5 YSR sebesar
92% untuk kanker lokal. Keterlambatan diagnosis pada stadium lanjut, keadaan umum yang
lemah, status sosial ekonomi yang rendah, keterbatasan sumber daya, keterbatasan sarana dan
prasarana, jenis histopatologi, dan derajat pendidikan ikut serta dalam menentukan prognosis
dari penderita.6

Deteksi Dini Kanker Leher Rahim

Kanker leher rahim adalah penyakit yang diawali oleh infeksi virus HPV yang
merubah sel-sel leher rahim sehat menjadi displasia dan bila tidak diobati pada gilirannya
akan tubuh menjadi kanker leher leher rahim. Prinsip dasar kontrol penyakit ini adalah
memutus mata rantai infeksi, atau mencegah progresivitas lesi displasia sel-sel leher rahim
(disebut juga lesi prakanker) menjadi kanker. Bila lesi displasia ditemukan sejak dini dan
kemudian segera diobati, hal ini akan mencegah terjadinya kanker leher rahim dikemudian
5

hari. Perempuan yang terkena lesi prakanker diharapkan dapat sembuh hampir 100%,
sementara kanker yang ditemukan pada stadium dini memberikan harapan hidup 92%.
Karenanya deteksi sedini mungkin sangat penting untuk mencegah dan melindungi
perempuan dari kanker leher rahim.3
WHO menyebutkan 4 komponen penting yang menjadi pilar dalam penanganan
kanker leher rahim, yaitu : pencegahan infeksi HPV, deteksi dini melalui peningkatan
kewaspadaan dan program skrining yang terorganisasi, diagnosis dan tatalaksana, serta
perawatan paliatif untuk kasus lanjut. Deteksi dini kanker leher rahim meliputi program
skrining yang terorganisasi dengan sasaran perempuan kelompok usia tertentu, pembentukan
sistem rujukan yang efektif pada tiap tingkat pelayanan kesehatan, dan edukasi bagi petugas
kesehatan dan perempuan usia produktif.1
Skrining dan pengobatan lesi displasia (atau disebut juga lesi prakanker) memerlukan
biaya yang lebih murah bila dibanding pengobatan dan penatalaksanaan kanker leher rahim.
Beberapa hal penting yang perlu direncanakan dalam melakukan deteksi dini kanker, supaya
skrining yang dilaksanakan terprogram dan terorganisasi dengan baik, tepat sasaran dan
efektif, terutama berkaitan dengan sumber daya yang terbatas. 4

Skrining
Skrining, dalam pengobatan, adalah strategi yang digunakan dalam suatu populasi
untuk mendeteksi suatu penyakit pada individu tanpa tanda-tanda atau gejala penyakit itu.
Tidak seperti apa yang biasanya terjadi dalam kedokteran, tes skrining yang dilakukan pada
orang tanpa tanda-tanda klinis penyakit.7 Tujuan dari skrining adalah untuk mengidentifikasi
penyakit pada komunitas awal, sehingga memungkinkan intervensi lebih awal dan manajemen
dengan harapan untuk mengurangi angka kematian dan penderitaan dari penyakit.1 Meskipun
skrining dapat mengarah ke diagnosis sebelumnya, tidak semua tes skrining telah terbukti
bermanfaat bagi orang yang sedang diputar; overdiagnosis, misdiagnosis, dan menciptakan
rasa aman palsu beberapa efek negatif dari penyaringan. Untuk alasan ini, tes yang digunakan
dalam program skrining, terutama untuk penyakit dengan insiden rendah, harus memiliki
sensitivitas yang baik selain kekhususan diterima. Beberapa jenis skrining ada: skrining
universal melibatkan skrining semua individu dalam suatu kategori tertentu (misalnya, semua
anak pada usia tertentu).7

Temuan kasus melibatkan skrining sekelompok kecil orang berdasarkan adanya faktor
risiko (misalnya, karena anggota keluarga telah didiagnosis dengan penyakit keturunan).1
Seiring dengan meningkatnya populasi, maka insidens kanker leher rahim juga meningkat
sehingga meningkatkan beban kesehatan negara.2 Padahal penyakit ini dapat dicegah dengan
deteksi dini lesi prankanker yang apabila segera diobati tidak akan berlanjut menjadi kanker
leher rahim. Saat ini banyak penelitian tentang skrining dengan metode IVA dilakukan di
berbagai negara berkembang.
Skrining dengan metode IVA dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, murah,
nyaman, praktis, dan mudah. Sederhana, yaitu dengan hanya mengoleskan asam asetat (cuka)
3-5% pada leher rahim lalu mengamati perubahannya, dimana lesi prakanker dapat terdeteksi
bila terlihat bercak putih pada leher rahim. Murah, karena biaya yang diperlukan hanya sekitar
Rp. 3000,- sampai Rp.5000,-/pasien. Nyaman, karena prosedurnya tidak rumit, tidak
memerlukan persiapan, dan tidak menyakitkan. Praktis, artinya dapat dilakukan dimana saja,
tidak memerlukan sarana khusus, cukup tempat tidur sederhana yang representatif, spekulum
dan lampu. Mudah, karena dapat dilakukan oleh bidan dan perawat yang terlatih.1,2 Beberapa
karakteristik metode ini sesuai dengan kondisi Indonesia yang memiliki keterbatasan ekonomi
dan keterbatasan sarana serta prasarana kesehatan. Karenanya pengkajian penggunaan metode
IVA sebagai cara skrining kanker leher rahim di daerah-daerah yang memiliki sumber daya
terbatas ini dilakukan sebagai salah satu masukan dalam pembuatan kebijakan kesehatan
nasional di Indonesia.8
Test skrining dapat dilakukan dengan cara :7
1. Pertanyaan/kuesioner
2. Pemeriksaan Fisik
3. Pemeriksaan Laboratorium
4. X-ray, termasuk diagnostic imaging
Jenis penyakit yang tepat untuk skrining :7
1. Merupakan penyakit yang serius

2. Pengobatan sebelum gejala muncul harus lebih untung dibandingkan setelah gejala
muncul
3. Prevalensi penyakit pre klinik harus tinggi pada populasi yang diskrining
Syarat syarat skrining :7
1. Penyakit harus merupakan masalah kesehatan yang penting
2. Harus ada cara pengobatan yang efektif
3. Tersedia fasilitas pengobatan dan diagnosis
4. Diketahui stadium prepatogenesis dan pathogenesis
5. Test harus cocok, hanya mengakibatkan sedikit ketidaknyamanan, dapat diterima oleh
masyarakat
6. Telah dimengerti riwayat alamiah penyakit
7. Harus ada Policy yang jelas
8. Biaya harus seimbang, biaya skrining harus sesuai dengan hilangnya konsekuensi
kesehatan
Macam-macam skrining7
1. Mass screening adalah screening secara masal pada masyarakat tertentu
2. Selective screening adalah screening secara selektif berdasarkan kriteria tertentu,
contoh pemeriksaan ca paru pada perokok; pemeriksaan ca serviks pada wanita yang
sudah menikah
3. Case finding screening adalah upaya dokter/tenaga kesehatan untuk menyelidiki
suatu kelainan yang tidak berhubungan dengan keluhan pasien yang datang untuk
kepentingan pemeriksaan kesehatan
4. Single disease screening adalah screening yang dilakukan untuk satu jenis penyakit
5. Multiphasic screening adalah screening yang dilakukan untuk lebih dari satu jenis
penyakit contoh pemeriksaan IMS; penyakit sesak nafas

Validitas tes skrining adalah kemampuan tes skrining tersebut dalam mengukur sesuatu yang
seharusnya diukur. Validitas tes skrining dapat dinilai dengan sensitivitas, spesifisitas, nilai
prediksi positif, nilai prediksi negatif, dan akurasi.7
1. Sensitivitas
Sensitifitas menggambarkan kemampuan tes skrining menentukan seseorang menderita suatu
penyakit. Sensitivitas ditunjukkan oleh probabilitas hasil tes benar positif dibandingkan hasil
positif menurut standar (gold standart). Probabilitas dalam persen dihitung dengan membagi
hasil pemeriksaan benar positif (true positive) dengan jumlah hasil pemeriksaan benar positif
dan negatif palsu. Semakin tinggi nilai sensitivitas sebuah tes skrining maka semakin baik
kemampuan mendeteksi seseorang menderita penyakit tertentu sehingga dapat memperoleh
penanganan dini.7,8
2. Spesifisitas
Spesifisitas menggambarkan kemampuan tes skrining menentukan seseorang bukan penderita
suatu penyakit. Spesifisitas ditunjukkan oleh probabilitas hasil tes benar negatif dibandingkan
hasil negatif menurut standar (gold standart). Probabilitas dalam per sen dihitung dengan
membagi hasil pemeriksaan benar negatif (true negatif) dengan jumlah hasil pemeriksaan
benar negatif dan positif palsu. Semakin tinggi nilai spesifisitas sebuah tes skrining maka
semakin baik kemampuan mendeteksi seseorang tidak menderita penyakit tertentu.7,8
3. Nilai Prediksi Positif
Nilai Prediksi Positif (NPP/PPV) menggambarkan kemampuan tes skrining memprediksi
kemungkinan seseorang benar-benar menderita penyakit dari hasil pemeriksaan positif
menurut tes skrining. Nilai Prediksi Positif dihitung dengan membandingkan hasil benar
positif dengan seluruh hasil tes positif menurut uji skrining (True Positif dan Palse Positif)
dalam per sen. Semakin tinggi kemampuan tes skrining memperkirakan seseorang menderita
penyakit akan membantu petugas kesehatan memberikan penanganan yang tepat dan segera.7,8
4. Nilai Prediksi Negatif
Nilai Prediksi Negatif (NPN/NPV) menggambarkan kemampuan tes skrining memprediksi
kemungkinan seseorang benar-benar tidak menderita penyakit dari hasil pemeriksaan negatif
menurut tes skrining. Nilai Prediksi Negatif dihitung dengan membandingkan hasil benar
9

negatif dengan seluruh hasil tes negatif menurut uji skrining (True Negatif dan Palse Negatif)
dalam per sen. Semakin tinggi kemampuan tes skrining memperkirakan seseorang tidak
menderita suatu penyakit akan sangat membantu petugas kesehatan menghindarkan
penanganan atau pengobatan yang tidak perlu sehingga terhindar dari efek samping
pengobatan.7,8
Hasil Test 7
Hasil test sesuatu skrining di gambarkan secara positif maupun negatif
Suatu test dikatakan valid apabila tes tersebut dapat memprediksi secara sempurna dan benar,
di mana semua orang yang positif berdasarkan hasil tes skrining adalah benar-benar sakit dan
semua yang tesnya negatif adalah mereka yang benar-benar tidak sakit.
Pada kenyataannya tidak ada test yang benar-benar sempurna
Tabel 1. Hasil skrining di banding status penyakit
Hasil Skrining
Tes

Status Penyakit

Total

Positif

Negatif

-Positif

a+b

-Negatif

c+d

Total

a+c

b+d

a+b+c+d

Rumus
Sensitivitas : TP/(TP+FN)
Spesifisitas: TN / (TN + FP)
Nilai prediksi positif : TP/ (TP + FP) X 100%
Nilai prediksi negatif : FN/ (FN + TN) X 100%
Reliabilitas tes skrining
Hasil konsisten jika dilakukan lebih 1 kali pada individu yang sama pada situasi yang beda
waktu berbeda (pengamat sama), pengamat berbeda atau tes serupa.7
10

Dipengaruhi :7
1. Variasi pada Metode Pemeriksaan - tergantung stabilitas instrumen alat harus dibakukan
2. Variasi didalam subyek / individu (biologis) misal : hasil pengukuran suhu tubuh pagi
berbeda dengan siang dan malam hari
3. Variasi intraobserver misal : pembacaan hasil rontgen pada waktu yang berbeda,hasil
berbeda karena jenuh, lelah & lingkungan
4. Variasi interobserver misal : 2 radiologis mempunyai interpretasi yang berbeda thd sebuah
hasil rontgen gunakan orang terlatih & motivasi tinggi
Sasaran yang akan menjalani skrining 8
WHO mengindikasikan skrining dilakukan pada kelompok berikut :
a. Setiap perempuan yang berusia antara 25-35 tahun, yang belum pernah menjalani tes Pap
sebelumnya, atau pernah mengalami tes Pap 3 tahun sebelumnya atau lebih.
b. Perempuan yang ditemukan lesi abnormal pada pemeriksaan tes Pap sebelumnya
c. Perempuan yang mengalami perdarahan abnormal pervaginam, perdarahan pasca sanggama
atau perdarahan pasca menopause atau mengalami tanda dan gejala abnormal lainnya
d. Perempuan yang ditemukan ketidak normalan pada leher rahimnya

Penerapan skrining kanker leher rahim di Indonesia, usia target saat ini adalah antara
usia 30-50 tahun, meskipun begitu pada perempuan usia 50-70 tahun yang belum pernah
diskrining sebelumnya masih perlu diskrining untuk menghindari lolosnya kasus kanker leher
rahim. Selain sasaran diatas, semua perempuan yang pernah melakukan aktivitas seksual perlu
menjalani skrining kanker leher rahim. WHO tidak merekomendasikan perempuan yang
sudah menopause menjalani skrining dengan metode IVA karena zona transisional leher
rahim pada kelompok ini biasanya berada pada endoleher rahim dalam kanalis servikalis
sehingga tidak bisa dilihat dengan inspeksi spekulum.5 Namun untuk pelaksanaan di
Indonesia, perempuan yang sudah mengalami menopause tetap dapat diikut sertakan dalam
program skrining, untuk menghindari terlewatnya penemuan kasus kanker leher rahim. Perlu
11

disertakan informed consent pada perempuan golongan ini, mengingat alasan di atas. Tidak
ditemukannya lesi prekanker tidak berarti tidak ada lesi prakanker pada golongan perempuan
ini.5
Program IVA di Puskesmas
Metode IVA memberi peluang dilakukannya skrining secara luas di tempat-tempat
yang memiliki sumberdaya terbatas, karena metode ini memungkinkan diketahuinya hasil
dengan segera dan terutama karena hasil skrining dapat segera ditindaklanjuti. Metode satu
kali kunjungan (single visit approach) dengan melakukan skrining metode IVA dan tindakan
bedah krio untuk temuan lesi prakanker (see and treat) memberikan peluang untuk
peningkatan cakupan deteksi dini kanker leher rahim, sekaligus mengobati lesi prakanker.9
IVA Sebagai Metode Skrining Alternatif 4,6,9
Mengkaji masalah penanggulangan kanker leher rahim yang ada di Indonesia dan
adanya pilihan metode yang mudah di-ujikan di berbagai negara, agaknya metode IVA
(inspeksi visual dengan aplikasi asam asetat) layak dipilih sebagai metode skrining alternatif
untuk kanker leher rahim. Pertimbangan tersebut didasarkan oleh pemikiran, bahwa metode
skrining IVA itu. Mudah, praktis dan sangat mampu laksana. Dapat dilaksanakan oleh tenaga
kesehatan bukan dokter ginekologi, dapat dilakukan oleh bidan di setiap tempat pemeriksaan
kesehatan ibu. Alat-alat yang dibutuhkan sangat sederhana. Metode skrining IVA sesuai untuk
pusat pelayanan sederhana.4
Metode IVA
Di negara maju, skrining secara luas dengan metode pemeriksaan sitologi tes Pap telah
menunjukkan hasil yang efektif dalam menurunkan insidens kanker leher rahim. Namun di
negara-negara berkembang yang hanya memiliki sumber daya terbatas, skrining hanya
menjangkau sebagian kecil perempuan saja, terutama di daerah perkotaan. Ada beberapa
kelemahan tes Pap diantaranya keterbatasan jumlah laboratorium sitologi dan tenaga
sitoteknologi terlatih, sehingga menyebabkan hasil tes Pap baru didapat dalam rentang waktu
yang relatif lama (berkisar 1 hari- 1 bulan).4,6 Skrining dengan metode tes Pap memerlukan
tenaga ahli, sistem transportasi, komunikasi dan tindak lanjut (follow-up) yang belum dapat
dipenuhi oleh negara-negara berkembang.4,6 Hanya sebagian kecil dari perempuan yang
menjalani dan mendapatkan hasil tes Pap juga menjalani evaluasi dan pengobatan yang
12

semestinya bila ditemukan abnormalitas. Sebagai konsekuensinya, angka insidens kanker


leher rahim tetap tinggi dan kebanyakan pasien datang pada stadium lanjut.
Masalah yang berkembang akibat keterbatasan metode tes Pap inilah yang mendorong
banyak penelitian untuk mencari metode alternatif skrining kanker leher rahim. Salah satu
metode yang dianggap dapat dijadikan alternatif adalah metode inspeksi visual dengan asam
asetat (IVA). Efektivitas IVA sudah di teliti oleh banyak peneliti. Walaupun demikian
perbandingan masing-masing penelitian tentang IVA agak sulit dievaluasi karena perbedaan
protokol dan populasi. 9
Dasar Pemeriksaan IVA
Pemeriksaan inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) adalah pemeriksaan yang
pemeriksanya (dokter/bidan/paramedis) mengamati leher rahim yang telah diberi asam
asetat/asam cuka 3-5% secara inspekulo dan dilihat dengan penglihatan mata telanjang.
46,49,55 Pemeriksaan IVA pertama kali diperkenalkan oleh Hinselman (1925) dengan cara
memulas leher rahim dengan kapas yang telah dicelupkan dalam asam asetat 3-5%.
Pemberian asam asetat itu akan mempengaruhi epitel abnormal, bahkan juga akan
meningkatkan osmolaritas cairan ekstraseluler. Cairan ekstraseluler yang bersifat hipertonik
ini akan menarik cairan dari intraseluler sehingga membran akan kolaps dan jarak antar sel
akan semakin dekat. Sebagai akibatnya, jika permukaan epitel mendapat sinar, sinar tersebut
tidak akan diteruskan ke stroma, tetapi dipantulkan keluar sehingga permukaan epitel
abnormal akan berwarna putih, disebut juga epitel putih (acetowhite).4
Daerah metaplasia yang merupakan daerah peralihan akan berwarna putih juga setelah
pemulasan dengan asam asetat tetapi dengan intensitas yang kurang dan cepat menghilang.
Hal ini membedakannya dengan proses prakanker yang epitel putihnya lebih tajam dan lebih
lama menghilang karena asam asetat berpenetrasi lebih dalam sehingga terjadi koagulasi
protein lebih banyak. Jika makin putih dan makin jelas, makin tinggi derajat kelainan
jaringannya. Dibutuhkan 1-2 menit untuk dapat melihat perubahan-perubahan pada epitel.
Leher rahim yang diberi 5% larutan asam asetat akan berespons lebih cepat daripada 3%
larutan tersebut. Efek akan menghilang sekitar 50-60 detik sehingga dengan pemberian asam
asetat akan didapatkan hasil gambaran leher rahim yang normal (merah homogen) dan bercak
putih (mencurigakan displasia). Lesi yang tampak sebelum aplikasi larutan asam asetat bukan

13

merupakan epitel putih, tetapi disebut leukoplakia; biasanya disebabkan oleh proses
keratosis.9
1. Dalam penerapan di pelayanan primer yang lebih luas, metode IVA direkomendasikan
menjadi metode skrining alternatif pada kondisi yang tidak memungkinkan dilakukan
pemeriksaan yang berbasis sitologi.
2. Sasaran skrining IVA adalah perempuan usia 30-50 tahun. Pada usia diatas 50 tahun,
atau sudah menopause, dianjurkan untuk melakukan skrining yang berbasis sitologi.
3. Interval skrining dengan metode IVA adalah 3 tahun sekali
4. Pelaksana skrining IVA dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih
5. Kasus dengan hasil IVA positif dirujuk untuk mendapat penatalaksanaan lebih lanjut
6. Pengobatan langsung hanya berdasarkan hasil IVA positif dapat dikerjakan dalam
kaitan suatu program yang disupervisi
7. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan skrining IVA dihubungkan
dengan pengobatan dengan pendekatan sekali kunjungan
Beberapa kategori temuan IVA tampak seperti tabel berikut :4

14

Tabel 2. Hasil skrining di banding status penyakit pada skenario 9


Test skrining IVA

Menderita ca cervix

Tidak menderita ca cervix

Tes (+)

24

Tes (-)

67

Hasil:
Sensitivitas : 6/ (6+3)
Spesifisitas : 67/ (67 + 24)
Nilai prediksi positif : 6 / (6 +24) X 100%
Nilai prediksi negatif : 3 / ( 3 + 67 ) X 100%
Meskipun protokol pelaksanaan pemeriksaan ini bervariasi, hasil penelitian yang dilakukan di
beberapa negara berkembang menunjukkan bahwa metode IVA mempunyai sensitivitas yang
sebanding dengan tes Pap dalam mendeteksi lesi prakanker derajat tinggi meskipun
spesifisitasnya lebih rendah dari tes Pap.4
Kurang spesifiknya skrining dengan metode ini diantaranya karena subyektivitas petugas
medis yang melakukan pemeriksaan di lapangan, selain dipengaruhi juga oleh prevalensi
kasus. Pada daerah dengan prevalensi kasus yang rendah, angka kejadian positif palsu dari
pemeriksaan akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan daerah yang memiliki prevalensi
kasus lebih tinggi.2 Hal tersebut dapat diperbaiki dengan meningkatkan supervisi.
Tabel 3. Sensitifitas, spesifisitas berbagai metode skrining

15

Penatalaksanaan Medis
Pemeriksaan IVA dilakukan dengan spekulum melihat langsung leher rahim yang telah
dipulas dengan larutan asam asetat 3-5%, jika ada perubahan warna atau tidak muncul plak
putih, maka hasil pemeriksaan dinyatakan negative. Sebaliknya jika leher rahim berubah
warna menjadi merah dan timbul plak putih, maka dinyatakan positif lesi atau kelainan pra
kanker.2,8 Jika sudah terdeteksi mengidap kanker serviks, maka ada beberapa metode
pengobatan yang bisa dilakukan.
Jika terdeteksi kanker serviks stadium awal, maka pengobatannya dilakukan dengan cara
menghilangkan kanker serviks tersebut dengan cara dilakukan pembedahan, baik pembedahan
laser, listrik atau dengan cara pembekuan dan membuang jaringan kanker serviks.

Metode krioterapi adalah membekukan serviks yang terdapat lesi prakanker pada suhu
yang amat dingin (dengan gas CO2) sehingga sel-sel pada area tersebut mati dan
luruh, dan selanjutnya akan tumbuh sel-sel baru yang sehat

Untuk kasus kanker serviks stadium lanjut akan dilakukan pengobatan dengan cara
kemoterapi serta radioterapi, namun jika sudah terdeteksi cukup parah, tiada lain kecuali
dengan mengangkat rahim (histerektomi) secara menyeluruh agar kanker tidak berkembang.2
Pencegahan Kanker Serviks
Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat dilakukan kaum perempuan dalam hal mencegah
kanker serviks agar tidak menimpa dirinya, antara lain:3,9

Jalani pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan yang cukup nutrisi dan
bergizi

Selalu menjaga kesehatan tubuh dan sanitasi lingkungan

Hindari pembersihan bagian genital dengan air yang kotor

Jika anda perokok, segera hentikan kebiasaan buruk ini

Hindari berhubungan intim saat usia dini

Selalu setia kepada pasangan anda, jangan bergonta-ganti apalagi diikuti dengan
hubungan intim.

Lakukan pemeriksaan pap smear minimal lakukan selama 2 tahun sekali, khususnya
bagi yang telah aktif melakukan hubungan intim
16

Jika anda belum pernah melakukan hubungan intim, ada baiknya melakukan vaksinasi
HPV

Vaksinasi secara berulang dibutuhkan untuk merangsang tubuh membentuk antibodi


(kekebalan tubuh) yang kuat untuk melindungi tubuh dari serangan virus HPV yang akan
masuk. Antibodi akan menangkap virus yang akan masuk ke dalam tubuh sehingga tubuh
terhindar dari infeksi HPV. Idealnya vaksinasi diberikan sebelum adanya bahaya infeksi HPV.
Vaksinasi ini paling efektif apabila diberikan pada perempuan berusia 9 sampai 26 tahun yang
belum aktif secara seksual. Namun bukan berarti wanita yang sudah menikah atau
berhubungan seksual tidak boleh mendapatkannya. Hanya saja angka proteksinya tidak
setinggi pada golongan sebelumnya.3
Vaksin diberikan sebanyak 3 kali dalam jangka waktu tertentu (bulan ke 0,1,dan 6). Dengan
vaksinasi, risiko terkena kanker serviks bisa menurun hingga 75%.4
Penutup
Skrining, dalam pengobatan, adalah strategi yang digunakan dalam suatu populasi
untuk mendeteksi suatu penyakit pada individu tanpa tanda-tanda atau gejala penyakit itu.
Skrining yang sering di lakukan di Puskesmas adalah skrining ca cervix dengan tes IVA
karena skrining ini mudah, praktis dan sangat mampu laksana. Dapat dilaksanakan oleh tenaga
kesehatan bukan dokter ginekologi, dapat dilakukan oleh bidan di setiap tempat pemeriksaan
kesehatan ibu. Alat-alat yang dibutuhkan juga sangat sederhana. Metode satu kali kunjungan

(single visit approach) dengan melakukan skrining metode IVA dan tindakan bedah krio
untuk temuan lesi prakanker (see and treat) memberikan peluang untuk peningkatan cakupan
deteksi dini kanker leher rahim, sekaligus mengobati lesi prakanker.
Jika terdeteksi kanker serviks stadium awal, maka pengobatannya dilakukan dengan
cara menghilangkan kanker serviks tersebut dengan cara dilakukan pembedahan, baik
pembedahan laser, listrik atau dengan cara pembekuan dan membuang jaringan kanker
serviks. Untuk kasus kanker serviks stadium lanjut akan dilakukan pengobatan dengan cara
kemoterapi serta radioterapi, namun jika sudah terdeteksi cukup parah, tiada lain kecuali
dengan mengangkat rahim (histerektomi) secara menyeluruh agar kanker tidak berkembang.
Meskipun hasil penelitian yang dilakukan di beberapa negara berkembang
menunjukkan bahwa metode IVA mempunyai sensitivitas yang sebanding dengan tes Pap
17

dalam mendeteksi lesi prakanker derajat tinggi meskipun spesifisitasnya lebih rendah dari tes
Pap.

Daftar Pustaka
1. Dalimartha, S. Kanker Serviks. In: Dalimartha, S., ed. Deteksi Dini Kanker dan
Simplisia Antikanker. Jakarta: Penebar Swadaya; 2004.h. 14 -8.
2. Anwar

M,

Baziad

A,

Prabowo

RP.

Ilmu

kandungan.

Jakarta:

Tridasa

Printer;2011.h.294-300.
3. Chamim. Buku Acuan Nasional Onkologi Ginekologi. In: M Farid Aziz, Adrijojo,
Abdul Bari Saifuddin, editors. Penentuan stadium klinik dan pembedahan kanker
ginekologi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono;2006. h. 173-81.
4. Diananda, R. Kanker Serviks: Sebuah Peringatan Buat Wanita. In: Diananda, R.
Mengenal Seluk-Beluk Kanker. Yogyakarta: Katahari;2009.h. 43 -60.
5. Rajab W. Buku ajar Epidemiologi untuk mahasiswa kebidanan. Jakarta : EGC,
2009.h.155-8.
6. Chandra B. Ilmu kedokteran pencegahan dan komunitas. Jakarta: EGC;2009.h.157-8.
7. Sastroasmoro S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Jakarta: Sagung
Seto;2011.h.228-30.
8. Edianto, D. Kanker Serviks. In: Aziz, M.F., Andrijono, Saifuddin, A.B., ed. Buku
Acuan Nasional Onkologi Ginekologi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2006.h. 442 -54.
9. Rasjidi, I., Irwanto, Y., Sulistyanto, H., 2008. Modalitas Deteksi Dini Kanker Serviks.
In: Rasjidi, I., ed. Manual Prakanker Serviks. Jakarta: Sagung Seto;2008. h.45-8.

18