Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
Kanker ovarium merupakan penyebab utama kematian akibat kanker ke-5
terbanyak di Amerika Serikat dan merupakan salah satu dari 7 keganasan tersering di
seluruh dunia. Pada sebagian besar kanker ovarium berbentuk tumor kistik dan
sebagian kecil berbentuk tumor padat. Walaupun kelihatannya mempunyai respons
yang cukup baik dengan pengobatan yang baku, namun prognosis kanker ovarium ini
masih tetap jelek.
Kanker ovarium dapat mengenai semua wanita dari segala usia, mulai dari
usia 20 hingga 80 tahun, jarang terjadi pada wanita di bawah usia 20 tahun. Delapan
puluh persen kanker muncul pada usia di atas 40 tahun, dan bila muncul sesudah
menopause maka hampir 30% adalah ganas.
Kanker ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker
ginekologi. Angka kematian yang tinggi ini disebabkan karena penyakit ini awalnya
bersifat asimptomatik dan baru menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi
metastasis, sehingga 60-70% pasien datang pada stadium lanjut sehingga penyakit
ini disebut juga sebagai silent killer.
Karsinoma ovarium di Indonesia sebesar 32% dari kanker ginekologik dan
menyebabkan 55% kematian akibat keganasan ginekologik. Data statistic American
Cancer Society Insiden kanker ovarium di dunia sekitar 4% dari seluruh keganasan
pada wanita dan menempati peringkat kelima penyebab kematian akibat kanker.
Kanker ovarium umumnya baru menimbulkan keluhan apabila telah
menyebar ke rongga peritoneum, pada keadaan seperti ini tindakan pembedahan dan
terapi adjuvan sering kali tidak menolong. Penderita akan meninggal karena
malnutrisi dan obstruksi usus halus akibat tumor intraperitoneal.
Diagnosis tumor ganas ini lebih sering dibuat sesudah laparatomi atas indikasi
ditemukannya tumor ovarium. Agar tindakan yang benar tidak terlambat dilakukan,
seharusnya dilakukan pemeriksaan histologik durante operationem (frozen section
atau beku). Pada laparatomi juga tidak boleh dilupakan pembilasan kavum peritonei
1

untuk diperiksakan tentang ada/tidak adanya sel ganas (sitologi eksfoliatif cairan
ascites atau cairan bilasan kavum peritoneum).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kira-kira 15% tumor ovarium adalah ganas dan kanker ovarium merupakan
penyebab kematian wanita nomor lima. Insiden keganasan meningkat dengan
pertambahan usia, rata-rata 50-59 tahun. Lebih dari 80% kematian akibat kanker
ovarium terjadi antara umur 35-75 tahun. Resiko seumur hidup mengalami kanker
ovarium di Amerika Serikat (tidak berubah dalam 30 tahun)adalah 1,4%. Karena
tumor ini sulit didiagnosis dan diobati dini, kelangsungan hidup 5 tahunhanya sebesar
35-38%, meskipun kemoterapi dan radioterapi sudah semakin baik.
Definisi
Tumor ganas ovarium merupakan kumpulan tumor dengan histogenesis yang
beraneka ragam, dapat berasal dari ketiga dermoblast (ektodermal, endodermal, dan
mesodermal) dengan sifat-sifat histologis maupun biologis yang beraneka ragam.
Anatomi
Ovarium pada seorang wanita dewasa sebesar ibu jari tangan dan terletak di
kiri dan kanan dekat pada dinding pelvis di fossa ovarika. Ovarium berhubungan
dengan uterus dengan ligamentum ovarii proprium. Pembuluh darah kedua ovarium
melalui ligamentum suspensorium ovarii.

Gambar 1. Anatomi Ovarium


Epidemiologi
Kanker ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker
ginekologi. Angka kematian yang tinggi ini disebabkan karena penyakit ini awalnya
bersifat asimptomatik dan baru menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi
metastasis, sehingga 60-70% pasien datang pada stadium lanjut.

Gambar 2. Kejadian Kanker Ovarium


Umumnya secara histologis hampir seluruh kanker ovarium berasal dari
epitel, yaitu menempati sekitar 8590% dari seluruh kanker ovarium.
Patologi

Letak tumor yang tersembunyi dalam rongga perut dan sangat berbahaya itu
dapat menjadi besar tanpa disadari oleh penderita.
Pertumbuhan tumor primer diikuti oleh infiltrasi ke jaringan sekitar yang
menyebabkan pelbagai keluhan samar-samar seperti perasaan sebah, makan sedikit
terasa cepat menjadi kenyang, sering kembungn nafsu makan menurun.
Kecenderungan untuk melakukan implantasi di rongga perut merupakan ciri khas
suatu tumor ganas ovarium yang menghasilkan asites.
Tumor ganas ovarium merupakan kumpulan tumor dengan histiogenesis yang
beraneka ragam, dapat berasal dari ketiga dermoblast (ektodermal, entodermal dan
mesodermal) dengan sifat-sifat histologis maupun biologis yang beraneka ragam.
Oleh sebab itu histiogenesis maupun klasifikasinya masih sering menjadi perdebatan.
Semua klasifikasi tumor ovarium mempunyai kelemahan oleh karena masih
kurangnya pengetahuan tentang histogenesis semua tumor ovarium dan oleh karena
tumor ovarium yang tampaknya serupa mempunyai asal yang berbeda.
Kira-kira 60% terdapat pada usia peri-menopausal, 30% dalam masa
reproduksi dan 10% pada usia yang jauh lebih muda. Tumor ini dapat jinak
(benigna), tidak jelas jinak tapi juga tidak pasti ganas (borderline malignancy atau
carcinoma of low-malignant potensial) dan yang jelas ganas (true malignant).
Patofisiologi
Meskipun kanker ovarium menyebabkan 15-20% kanker saluran reproduksi
wanita, kanker ini menyebabkan lebih banyak kematian dibanding gabungan tumor
lainnya. Kanker ovarium biasanya tidak bergejala sampai dapat teraba atau menyebar
luas.
Kanker ovarium lebih sering terjadi pada wanita infertil atau yang pernah
mengalami abortus spontan berulang, terlambat hamil atau menderita kanker
payudara. Di Amerika Serikat, insidennya sebesar 6-7/100.000 dengan kejadian pada
kulit hitam dan putih hampir sebanding.
Kanker ovarium sering dihubungkan dengan wanita dengan angka melahirkan
yang rendah dan infertile/tidak subur. Hal ini berkaitan dengan proses ovulasi dalam

ovarium. Pada lapisan korteks, gamet mengalami perkembangan untuk menjadi


matang dan siap dilepaskan ke rahim dalam hal ini terjadi setiap bulannya. Teorinya,
perubahan epitel korteks secara terus menerus untuk mematangkan gamet dapat
memicu terjadinya mutasi spontan yang pada akhirnya menimbulkan kanker pada
ovarium. Pada wanita yang hamil proses ini terhenti untuk 9 bulan sehingga resiko
kanker semakin turun.
Faktor lain yang dapat meningkatkan resiko kanker adalah :

Menstruasi yang terlalu awal


Menopause yang terlalu terlambat
Faktor genetik, di mana dikatakan resiko tinggi terkena kanker ovarium bila ada

mutasi pada gen BRCA 1 dan gen BRCA 2.


Riwayat pernah menderita kanker payudara atau kanker lainnya pada usia muda
Sindrom Lynch II
Tidak pernah melahirkan
Melahirkan pertama sekali pada usia > 35 tahun.
Tumor ganas ovarium pada anak-anak paling sering berasal dari sel benih,

sedangkan pada wanita dewasa adalah tumor ganas epitel (> 90%), sebesar 70%
bermetastasis ke luar panggul pada saat diagnosis. Tempat metastasis adalah sebagai
berikut; peritoneum (85%), pelvis dan nodus limfe aorta (80%), omentum (70%),
ovarium kontralateral (70%), nodus limfe mediastinum atau supraklavikula (50%),
hati (35%), pleura (33%), paru (25%), uterus (20%), vagina (15%), tulang (15%),
limpa (5-10%), ginjal (5-10%), adrenal (5-10%), kulit (5-10%), vulva (1%) dan otak
(1%).Ovarium juga dapat menjadi tempat metastasis tumor primer lainnya atau
karena perluasan langsung.

Stadium
Penentuan stadium neoplasma ovarium yang paling luas digunakan adalah
menurut International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO). Ingatlah

bahwa penentuan stadium kanker ovarium mencakup semua penemuan saat operasi,
berlawanan dengan kanker serviks dan vulva yang penentuan stadiumnya didasarkan
atas temuan klinis non operatif.
Penyebaran
Tumor ganas ovarium menyebar secara limfogen ke kelenjar para aorta,
mediastinal, dan supraklavikular untuk seterusnya menyebar ke alat-alat yang jauh,
terutama paru-paru, hati dan otak.
Manifestasi Klinik
Anamnesis yang cermat dan pemeriksaan fisik yang lengkap sangat penting.
Rasa tidak nyaman dan rasa penuh diperut, serta cepat merasa kenyang sering
berhubungan dengan kanker ovarium. Kanker ovarium pada stadium dini tidak
memberikan keluhan. Keluhan yang timbul berhubungan dengan peningkatan massa
tumor, penyebaran tumor pada permukaan serosa dari kolon dan asites. Gejala lain
yang sering timbul adalah mudah lelah, perut membuncit, sering kencing dan nafas
pendek akibat efusi pleura dan asites yang masif.
Dengan meningkatnya usia kemungkinan keganasan akan meningkat pula.
Secara umum akan terjadi peningkatan risiko keganasan mencapai 13% pada
premenopause dan 45% setelah menopause.

Table 1. FIGO staging system for ovarian cancer

Dengan

melakukan

pemeriksaan

bimanual

akan

membantu

dalam

memperkirakan ukuran, lokasi, konsistensi dan mobilitas dari massa tumor.


Penemuan fisik yang paling sering adalah massa adneksa, massa abdomen, asites atau
nodulasi.

Setiap

massa

yang

terfiksir

dalam

cul-de-sac

posterior

harus

dipertimbangkan kemungkinan ganas, seperti massa berukuran besar dan terfiksir.

Keganasan ovarium diketahui setelah stadium lanjut. Gejala dan tanda keganasan,
yaitu :

Perubahan menstruasi.
Rasa sakit atau sensasi nyeri saat bersenggama (dyspareunia).
Gangguan pencernaan yang menetap, seperti: kembung, mual.
Obstruksi pada vesica urinaria (poliuria sampai dengan anuria) atau

rektum(obstipasi dan konstipasi).


Massa tumor dipelvis. Tumo rmemiliki bagian padat, ireguler dan terfiksir ke

dinding panggul, bila tanda-tanda tersebut ada maka keganasan perlu dicurigai.
Tumor cepat membesar
Berbenjol-benjol
Terdapat asites
Tubuh bagian atas kering, sedangkan bagian bawah terjadi edema tungkai.

Gambar 3. Gejala awal kanker ovarium


Barber (1982) mengingatkan perlunya perhatian khusus, bila dalam
pemeriksaan dijumpai hal-hal sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Adanya massa tumor di daerah ovarium


Gerakan tumor terbatas
Permukaan tumor irreguler
Adanya tumor di daerah cul de sac

5.
6.
7.
8.
9.

Massa tumor bilateral


Tumor daerah panggul yang membesar dalam observasi
Adanya asites
Adanya omental cake atau hepatomegali
Tumor di daerah panggul setelah menopause
Disaia (1989) mengamati perbedaan-perbedaan antara tumor jinak dan ganas

ovarium, baik pada pemeriksaan panggul maupun pada saat pembedahan; sehingga
kewaspadaan terhadap adanya keganasan tersebut dapat lebih terarah lagi,
Table 2. Penemuan pada pemeriksaan panggul (Disaia, 1989)
Jinak

Ganas

Sifat

unilateral

bilateral

Konsistensi

kistik

padat

Gerakan

bebas

terbatas

Permukaan

licin

tidak licin

Asites

sedikit/tidak ada

banyak

Benjolan di daerah cul de sac

tidak ada

ada

lambat

cepat

Pertumbuhan

Table 3. Penemuan pada saat pembedahan (Disaia,1989)


Permukaan papiler

jarang

Jinak

Ganas
sangat sering

Intrakistik papiler

jarang

sangat sering

Konsistensi padat

jarang

sangat sering

Bilateral

jarang

sering

Perlengketan

jarang

sering

Asites

jarang

sering

Nekrosis

jarang

serng

Implantasi pada peritoneum

jarang

sering

Kapsel utuh

sering

jarang

10

Konsistensi kistik

sering

jarang

Sedangkan Sudaryanto(1989) mengemukakan penggunaan suatu indeks untuk


melakukan diagnosis keganasan ovarium prabedah, dengan 8 variabel yang masingmasing diberi bobot dengan skor dan nilai pisah untuk indeks ini adalah 3. Skor 3-5
menunjukkan kecurigaan keganasan, sedangkan skor 6 atau lebih dapat dikatakan
ganas
Table 4. Indeks keganasan ovarium (Sudaryanto, 1989)
No.
1

Petunjuk Diagnosis
Variabel
Skor
Lamanya pembesaran a. Lambat (lebih dari 16 bulan atau tak ada 0
perut atau tumor
Keadaan umum

2
Tingkat kekurusan
3
Konsistensi tumor
4
Permukaan tumor
5
Gerakan tumor
6

b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
c.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.

pembesaran)
Cepat (16 bulan atau kurang)
Baik
Kurang/tidak baik
Normal/gemuk
Kurus
Kistik homogen
Solid homogen
Macam-macam
Rata/licin
Berbenjol/tidak teratur
Bebas
Tak bebas
Tak ada
Ada
Rendah (60 mm atau kurang)
Tinggi (lebih dari 60 mm)

1
0
1
0
1
0
1
2
0
1
0

Ascites

0
LED 1 jam

0
1

Diagnosis

11

Melihat topografi ovarium hampir tak memungkinkan kita melakukan deteksi


dini tumor ganas ovarium oleh karena letaknya sangat tersembunyi. Tidak ada uji
penapisan rutin yang tersedia untuk kanker ovarium. Gejala berupa nyeri yang terjadi
jika terdapat regangan yang bermakna, peradangan, torsi atau traksi. Penekanan pada
pelvis mungkin terjadi jika tumor besar. Pembesaran lingkar perut, penambahan atau
penurunan berat badan dan gejala-gejala saluran cerna berkisar dari gangguan cerna
hingga obstruksi usus, dapat terjadi pada kanker ovarium.
Diagnosis didasarkan atas 3 tanda dan gejala yang biasanya muncul dalam
perjalanan penyakitnya yang sudah agak lanjut.
1. Gejala desakan yang dihubungkan dengan pertumbuhan primer dan infiltrasi ke
jaringan sekitar.
2. Gejala diseminasi/penyebaran yang diakibatkan oleh implantasi peritoneal dan
bermanifestasi adanya ascites.
3. Gejala hormonal yang bermanifestasi sebagai defeminisasi, maskulinisasi atau
hiperesterogenisme; intensitas gejala ini sangat bervariasi dengan tipe histologik
tumor dan usia penderita.
Pemeriksaan ginekologik dan palpasi abdominal akan mendapatkan tumor
atau massa, di dalam panggul dengan bermacam-macam konsistensi mulai dari yang
kistik sampai yang solid (padat). Kondisi yang sebenarnya dari tumor jarang dapat
ditegakkan hanya dengan pemeriksaan klinik. Pemakaian USG dan CT-scan dapat
memberi informasi yang berharga mengenai ukuran tumor dan perluasannya sebelum
pembedahan. Laparatomi eksploratif disertai biopsi potong beku (frozen section)
masih tetap merupakan prosedur diagnostik paling berguna untuk mendapat
gambaran sebenarnya mengenai tumor dan perluasannya serta menentukan strategi
penanganan selanjutnya. Diagnosis tergantung penilaian klinis, laboratorium dan
pembedahan yang tepat.
Laboratorium
Evaluasi perioperatif untuk kecurigaan kanker ovarium meliputi pemeriksaan
darah lengkap dan hitung jenis, kimia darah, urinalisis, sitologi serviks dan vagina,
12

pemeriksaan radiologi dada dan perut, pielografi intravena, barium enema dan
mungkin uji fungsi hati, profil koagulasi, pemeriksaan gastrointestinal serial.
Akhirnya, antigen tumor berupa Ca125 atau CEA dapat membantu dalam
mengevaluasi keganasan.
Pemeriksaan Penunjang
1. USG Ginekologi
Ultrasonografi merupakan pemeriksaan penunjang dalam diagnosis suatu
tumor ganas atau jinak. Pada keganasan akan memberikan gambaran dengan septa
internal, padat, berpapil, dan dapat ditemukan adanya asites. Walaupun ada
pemeriksaan yang lebih canggih seperti CT-Scan, MRI, dan positron tomografi
akan memberikan gambaran yang lebih mengesankan, namun pada penelitian
tidak menunjukan tingkat sensitifitas dan spesifisitas yang lebih baik dari
ultrasonografi.
2. CT-Scan (Computed Tomography Scanning)danMRI (Magnetic Resonance
Imaging).
3. Laparoskopi
4. Parasentesis cairan asites
Pengambilan cairan asites dengan parasintesis tidak dianjurkan pada penderita
dengan asites yang disertai massa pelvis, karena dapat menyebabkan pecahnya
dinding kista akibat bagian yang diduga asites ternyata kista yang memenuhi
rongga perut. Pengeluaran cairan asites hanya dibenarkan apabila penderita
mengeluh sesak akibat desakan pada diafragma.
Bila terdapat cairan ascites yang tidak dapat diterangkan asalnya atau sebabnya
(misalnya akibat Cirrhosis hepatis), laparatomi eksploratif harus dijalankan.
5. Tumor marker
Serum CA 125 saat ini merupakan petanda tumor yang paling sering
digunakan dalam penapisan kanker ovarium jenis epitel, walaupun sering disertai
keterbatasan. Perhatian telah pula diarahkan pada adanya petanda tumor untuk
jenis

sel

germinal,

antara

lain

Alpha-fetoprotein

(AFP),

Lactic

acid

dehidrogenase (LDH), human placental lactogen (hPL), plasental-like alkaline


phosphatase (PLAP) dan human chorionic gonadotrophin(hCG).

13

Tatalaksana
Pada dasarnya setiap tumor ovarium yang diameternya lebih dari 5 sentimeter
merupakan indikasi untuk tindakan laparatomi, karena kecenderungan untuk
mengalami komplikasi. Apabila tumor ovarium tidak memberikan gejala dan
diameternya kurang dari 5 sentimeter, biasanya merupakan kista folikel atau kista
lutein.
Pengobatan baku dari kanker ovarium stadium awal adalah dengan
pembedahan radikal berupa pengangkatan tumor secara utuh, pengangkatan uterus
beserta kedua tuba dan ovarium, pengangkatan omentum, pengangkatan kelenjar
getah bening, pengambilan sampel dari peritoneum dan diafragma, serta melakukan
bilasan rongga peritoneum di beberapa tempat untuk pemeriksaan sitologi. Tindakan
pembedahan ini juga dimaksudkan untuk menentukan stadium dari kanker ovarium
tersebut (surgical staging). Setelah pembedahan radikal ini, jika diperlukan diberikan
terapi adjuvant dengan kemoterapi, radioterapi atau immunoterapi.

Operasi
Terapi standar terdiri atas TAH + BSO + OM + APP ( Total Abdominal
histerektomi

Bilateral

Salpingo-oophorectomy

Omentectomy

Appendectomy). Nodus retroperitoneal harus dipalpasi dan dibiopsi jika


mencurigakan. Sebanyak mungkin tumor (untuk memperkecil) harus diangkat
untuk mengurangi keseluruhan massa tumor. Namun pembedahan lebih radikal
belum terbukti menambah manfaat.
Dapat didahului frozen section untuk kepastian ganas dan tindakan operasi
lebih lanjut. Hasil operasi harus dilakukan pemeriksaan PA, sehingga kepastian
klasifikasi tumor dapat ditetapkan untuk menentukan terapi.
Pada sebagian kasus, penyakit terlalu luas untuk histerektomitotal,
adneksektomi dan omentektomi. Pada kasus-kasus seperti ini sebaiknya sebanyak
mungkin tumor diangkat untuk meningkatkan hasil terapi tambahan (kemoterapi
dan terapi radiasi). Operasi tumor ganas diharapkan dengan cara debulking
(cytoreductive) pengambilan sebanyak mungkin jaringan tumor sampai dalam
batas aman. Dengan debulking memungkinkan kemoterapi maupun radioterapi
menjadi lebih efektif.
14

Radiasi untuk membunuh sel-sel tumor yang tersisa, hanya efektif pada jenis
tumor yang peka terhadap sinar (radiosensitif) seperti disgerminoma dan tumor
sel granulosa. Radioterapi sebagai pengobatan lanjutan umumnya digunakan pada
tingkat klinik T1 dan T2 yang diberikan kepada panggul saja atau seluruh rongga

perut.
Kemoterapi merupakan terapi tambahan awal yang lebih disukai karena terapi
radiasi mempunyai keterbatasan (misalnya merusak hati atau ginjal). Setelah
mendapatkan radiasi atau kemoterapi, dapat dilakukan operasi ke dua (eksplorasi

ulang) untuk mengambil sebanyak mungkin jaringan tumor.


Untuk memastikan keberhasilan penanganan dengan radioterapi atau kemoterapi,
lazim dilakukan lapatotomi kedua (second-look laparotomi), bahkan kadang
sampai ketiga (third-look laparotomi). Hal ini memungkinkan kita membuat
penilaian akurat proses penyakit, hingga dapat menetapkan strategi pengobatan
selanjutnya. Bisa dihentikan atau perlu dilanjutkan dengan alternatif pengobatan
lain.

Komplikasi
Obstruksi usus merupakan komplikasi yang sering terjadi pada kasus
tingkatan lanjut yang dikelola dengan melakukan reseksi usus sekali atau beberapa
kali untuk membuat by pass bila kondisi penderita mengizinkan.
Prognosis
Angka kelangsungan hidup 5 tahun (Five years survival rate) penderita
kanker ovarium stadium lanjut hanya kira-kira 20-30%.
Prognosis dari tumor ovarium tergantung dari beberapa hal antara lain :

Stadium
Jenis histologis
Derajat diferensiasi tumor
Residu tumor
Free disease interval

15

Pengamatan Lanjut
Untuk tumor ganas ovarium skema/bagan pengamatan lanjut (follow up
control) adalah sebagai berikut :

Sampai 1 tahun setelah penanganan, setiap 2 bulan.


Kemudian sampai 3 tahun setelah penanganan, setiap 4 bulan.
Kemudian sampai 5 tahun setelah penanganan, setiap 6 bulan
Seterusnya setiap setahun sekali.

LAPORAN KASUS
STATUS GINEKOLOGI
DOKTER MUDA SMF OBGIN RSU MATARAM
I. IDENTITAS
Nama

: Ny. RS

Umur

: 44 tahun

Agama

: Islam

Alamat

: Sumbawa

Suku/Bangsa : Sumbawa
Pendidikan

: SLTP

Pekerjaan

: Wiraswasta

MRS

: 14 November 2014, pkl. 16.15 WITA

16

MR

: 111304

II. ANAMNESIS

Keluhan Utama

: keluar darah dari jalan lahir

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengeluh keluar darah dari jalan lahir sejak tgl 25/10/2014. Darah berupa
bercak sedikit-sedikit. Pada tanggal 12/11/2014, pasien mengeluh keluar darah
semakin banyak berupadarah segar sampai berupa gumpalan-gumpalan. Nyeri perut
(+), sesak (-), mual (+), muntah (-), demam (-). BAK (+) 4-5 x/hari, warna kuning
jernih, darah (-), nyeri saat BAK (-). BAB (-) sejak 1 minggu yang lalu.
Riwayat Penyakit Dahulu

Pada tanggal 29/10/2014 pasien MRS RSUP NTB. Pasien dianjurkan untuk
berobat ke Denpasar tetapi pasien menolak.
Riwayat efusi pleura (+) (Mei 2014).
Riwayat operasi laparotomi dengan kista ovarium 9 Juni 2014.
Hasil operasi :
Dilakukan laparotomi eksploratif, didapatkan tumor pada ovarium bilateral
dengan bagian padat, curiga ganas, perlekatan (+). Dilakukan BSO dan
omentektomi.

Riwayat Pengobatan:

Pasien sering masuk RS Sumbawa karena pendarahan dan selalu mendapat


transfusi. Terakhir pasien mendapat transfusi PRC 1 kolf di RSUD Sumbawa

sebelum dirujuk ke RSUP NTB.


Riwayat operasi laparotomi (BSO + omentektomi).
Riwayat pungsi pleura kanan dan kiri.

Riwayat Penyakit Keluarga:


Keluarga menderita keganasan (-), diabetes mellitus (-), hipertensi (-),
hepatitis (-), TBC (-), asma (-).

17

Riwayat Alergi
Tidak mempunyai alergi terhadap obat-obatan ataupun makanan.
Riwayat Menstruasi :
-

Menarche : umur 14 tahun.

Siklus : teratur 28 hari sekali.

Banyaknya : normal (2-3 pembalut/ hari)

Lamanya : 7 hari

Riwayat Perkawinan

: pasien belum pernah menikah.

Riwayat Kehamilan

: pasien belum pernah hamil.

III. PEMERIKSAAN FISIK (16/10/2011)


Status Generalis
Keadaan Umum

: lemah

Kesadaran

: E4V5M6

TD

: 100/60 mmHg

Nadi

: 102x/menit

Respirasi

: 28x/menit

Suhu aksila

: 37,2 0C

Mata

: anemis +/+, ikterus -/-

Leher

: KGB tidak teraba

Thorax

:
Inspeksi

: massa (-), payudara simetris

Palpasi

: gerakan dinding dada simetris, massa (-).

Perkusi

: sonor (+/+)

18

Auskultasi

: Cor : S1 S2 tunggal, Reguler, Murmur (-), Gallop (-)


Pulmo : Vesikuler +/+, Ronki -/-, Whezing -/-

Abdomen

Inspeksi

: distensi (-), massa (-), scar bekas operasi (+).

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Palpasi

: supel (-), teraba massa regio umbilikal, padat kenyal,


permukaan tidak rata, ukuran 10 x 9 cm, nyeri tekan (+),
nyeri tekan pada seluruh lapang abdomen (+).

Perkusi

: tes undulasi (-), sifting dullness (-), pekak pada regio umbilikal
suprapubis.

Ekstremitas
: hangat (+/+), edema (-/-)
Pembesaran kelenjar (-)

Status Ginekologis
o Inspeksi : genitalia eksterna dalam batas normal, perdarahan pervaginam (+).
o Inspekulo : tidak dikerjakan.
o Pemeriksaan dalam (VT): tidak dikerjakan
o Rectal toucher:

Spincter ani normal.


Cavum Douglass menonjol, nyeri tekan (+)
Hymen : non intak
Teraba massa (-)
Handskun : darah (-), feses (+).

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Indikator
HB
RBC
HCT
MCV
MCH
MCHC
WBC
PLT
HbsAg
GDS
Ureum
Kreatinin
SGOT
SGPT

Pemeriksaan Laboratorium : DL, HbsAg, BT, CT,


Hasil
3,9
1,44
12,1
84,0
27,1
32,2
17,19
430
Non reaktif
102
19
0,9
36
17

Normal
11,5-16,5 g/dL
4,0 5,0 106/L
37,0 45,0 %
82,0 92,0 fL
27,0 31,0 pg
32,0 37,0 g/dL
4,0 11,0 103/L
150 400 103/L
< 160 mgl/dl
10 15 mgl/dl
0,6 1,1 mgl/dl
< 40 mgl/dl
< 41 mgl/dl

14/11/2014

19

USG (14/05/2014) sebelum operasi.


USG oleh dr. Edi P. Wibowo, Sp.OG
Hasil : Uterus sulit dievaluasi.
Tampak massa di sekitar uterus ukuran 116 x 89 mm dengan gambaran
hiperekoik dan beberapa bagian monolusen (berlobus-lobus).

Hasil pemeriksaan histopatologi


Kesimpulan : jaringan; operasi
Papillary mucinus cyst adeno carcinoma
Tumor sampai dengan tepi sediaan.

V. DIAGNOSIS
Karsinoma Ovarium
VII. TATALAKSANA
Rencana diagnostik:

DL post transfusi
RO thoraks
USG abdomen

20

Rencana terapi:

O2 nasal kanul 2 lpm


IVFD RL 30 tpm
Pro transfusi PRC 2 kolf/hari sampai Hb 9-10 g/dl
Ketorolac i.v (k/p)
Ranitin i.v 1A/8 jam
Asam tranexamat i.v 1A/8 jam
Cefotaxime 1g/12 jam
Pro kemoterapi RS Sanglah Denpasar.

KIE:

Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien tentang penyakit pasien.


Menjelaskan tentang terapi yang perlu dilakukan dan bahwa pasien harus

21

Follow up:

S
15/11/
2014

Perdarahan
(+)
sedikit, nyeri perut
(+), mual (+), muntah
(-),
demam
(-),
makan/minum
(+)
sedikit2. BAK (+) via
DC, BAB (-), flatus
(+).

16/11/2 Perdarahan (-) sedikit,


014
nyeri perut (+), mual
(+),
muntah
(-),
demam
(-),
makan/minum
(+)
sedikit2. BAK (+) via
DC, BAB (+) sedikit,
darah (-), flatus (+).

17/11/2 Perdarahan (-) sedikit,


014
nyeri
perut
(+)
minimal, mual (-),
muntah (-), demam
(-), makan/minum (+)
sedikit2. BAK (+) via

KU : sedang
Kanker
Pro transfusi 2
GCS : E4V5M6
ovarium
+
kolf/hari.
BP : 110/80 anemia gravis Ketorolac i.v
mmHg
(k/p)
PR : 98x/m
Ranitin
i.v
RR : 24x/m
1A/8 jam
Temp : 37,1C
Cefotaxime
Status general:
1g/12 jam
Mata : an-/-, ikt
-/KU : sedang
Kanker
GCS : E4V5M6
Ovarium
BP : 110/70
mmHg
PR : 96x/m
RR : 20x/m
Temp : 37,4C
Status general:
Mata : an-/-, ikt
-/Hb : 10,2 g/dl
KU : sedang
Kanker
GCS : E4V5M6
ovarium
TD:
110/70
mmHg
N : 96x/m
RR : 20x/m

Ketorolac i.v
(k/p)
Ranitin
i.v
1A/8 jam
Cefotaxime
1g/12 jam

Pasien rujuk
RS Sanglah

22

DC, BAB (+) sedikit, Temp : 37,4C


darah (-), flatus (+).
Status general:
Mata : an-/-, ikt
-/-

BAB III
PEMBAHASAN
Pasien, perempuan, 44 tahun, datang dengan keluhan keluar darah dari jalan
lahir sejak 25/10/2014. Darah berupa bercak sedikit-sedikit. Pada tanggal 12/11/2014,
pasien mengeluh keluar darah, semakin banyak, berupa darah segar dan bergumpalgumpal. Pernah dilakukan pungsi cairan paru kiri dan kanan (efusi pleura) sebanyak 6
kali, di RSUP NTB. Pasien telah melakukan operasi laparotomi BSO dan
omentektomi tgl 9 Juni 2014 dengan tumor padat ovarium curiga ganas. Pasien juga
mengalami asites, namun tidak dilakukan pungsi asites. Pasien setelah operasi sering
mengalami perdarahan dari jalan lahir dan sering dirawat inap di RSUD Sumbawa
dan mendapat transfusi. Nafsu makan pasien menurun, diikuti dengan penurunan
berat badan. Demam dan sesak nafas disangkal. BAK normal, pasien tidak pernah
BAB sejak 1 minggu terakhir.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan massa di regio supra pubis sampai ke
umbilikal, konsistensi padat, permukaan tidak rata, kiri bawah abdomen, ukuran 10
cm x 9 cm , nyeri tekan (+), dan tidak dapat digerakkan (imobile). Pada perkusi tidak
didapatkan Shifting dullnes dan tes undulasi (-).
Berdasarkan hasil biopsi jaringan operasi didapatkan hasil:

Papillary

mucinus cyst adeno carcinoma, tumor sampai dengan tepi sediaan.


Sebagian besar kanker ovarium bermula dari suatu kista. Oleh karena itu,
apabila pada seorang wanita ditemukan suatu kista ovarium harus dilakukan
23

pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah kista tersebut bersifat jinak atau
ganas (kanker ovarium). Ciri-ciri kista yang bersifat ganas yaitu dapat dilihat pada
penemuan saat pemeriksaan panggul (Tabel 2), penemuan saat pembedahan (Tabel 3),
dan dengan menggunakan indeks keganasan ovarium (Table 4). Dengan
menggunakan indeks keganasan ovarium, didapatkan skor 6 yang berarti bahwa kista
ovarium tersebut dapat dikatakan ganas. Namun diagnosis pasti hanya dapat diketahui
dengan dilakukannya pemeriksaan histopatologi (PA).
Pengobatan baku dari kanker ovarium stadium awal adalah dengan
pembedahan radikal berupa pengangkatan tumor secara utuh, pengangkatan uterus
beserta kedua tuba dan ovarium, pengangkatan omentum, pengangkatan kelenjar
getah bening, pengambilan sampel dari peritoneum dan diafragma, serta melakukan
bilasan rongga peritoneum di beberapa tempat untuk pemeriksaan sitologi. Tindakan
pembedahan ini juga dimaksudkan untuk menentukan stadium dari kanker ovarium
tersebut (surgical staging). Setelah pembedahan radikal ini, jika diperlukan diberikan
terapi adjuvant dengan kemoterapi, radioterapi atau immunoterapi.
Prognosis pada pasien ini adalah dubia ad malam, karena angka kelangsungan
hidup 5 tahun (Five years survival rate) penderita kanker ovarium stadium lanjut
hanya kira-kira 20-30%.

24

DAFTAR PUSTAKA
1. Prawirohardjo, S. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. 2005.
2. Busmar, B. Kanker Ovarium. Dalam Buku Acuan Nasional Onkologi Ginekologi.
Editor: M.F. Azis, Andrijono, dan A.B. Saifuddin.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, 2006: hal. 468-257.
3. De Jong, W. Tumor Ovarium dalam Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.
2003:729-730.
4. Kumar V, Cotran RS, and Robbins SL. Robbins Basic Pathology 7 th ed. New
York: W.B. Saunders Company. 2003.

25