Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN ASFIKSIA NEONATORUM

Oleh:
Nama: Putu Nihita Trisa
NIM: 14.901.0970
Kelompok: 50

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Medika PPNI Bali


Program Profesi Ners
Tahun 2014

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi
Asfiksia neonatorum adalah kegawatdaruratan bayi baru lahir berupa depresi
pernapasan yang berlanjut sehingga menimbulkan berbagai komplikasi. Asfiksia
neonaturum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga
dapat meurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk
dalam kehidupan lebih lanjut. (Manuaba, 1998). Asfiksia neonatorum adalah kegagalan
bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir (WHO, 1999). Asfiksia berarti
hipoksia yang progresif, penimbunan CO 2 dan asidosis, bila proses ini berlangsung
terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian. Asfiksia juga dapat
mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. (Saiffudin, 2001). Jadi asfiksia neonatorum
adalah suatu keadaan dimana bayi tidak dapat bernapas secara spontan sehingga
menimbulkan terjadinya hipoksia yang progresif dan penimbunan CO2 yang dapat
membahayakan fungsi organ vital bayi.
2. Epidemiologi
Asfiksia merupakan penyebab utama bayi lahir mati dan kematian neonatus.
Asfiksia juga sering menimbulkan gejala sisa berupa kelainan neurologi. Insiden
asfiksia di negara maju berkisar antara 1,0 1,5% bergantung pada masa gestasi dan
berat lahir. Insiden asfiksia pada bayi matur di Indonesia berkisar 0,5% sedangkan bayi
prematur sekitar 0,6%. Prevalensi asfiksia sekitar 3% kelahiran (1998) atau setiap
tahunnya sekitar 144/900 bayi dilahirkan dalam keadaan asfiksia sedang sampai berat
(Deslidel, Hj. 2012).
Diperkirakan bahwa sekitar 23% seluruh angka kematian neonatus di seluruh dunia
disebabkan oleh asfiksia neonatorum, dengan proporsi lahir mati yang lebih besar.
Laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa sejak tahun
2000-2003 asfiksia menempati urutan ke-6, yaitu sebanyak 8%, sebagai penyebab
kematian anak diseluruh dunia setelah pneumonia, malaria, sepsis neonatorum dan
kelahiran prematur. Diperkirakan 1 juta anak yang bertahan setelah mengalami asfiksia
saat lahir kini hidup dengan morbiditas jangka panjang seperti cerebral palsy, retardasi
mental dan gangguan belajar. Menurut hasil riset kesehatan dasar tahun 2007, tiga
penyebab

utama

kematian

perinatal

di

Indonesia

adalah

gangguan

pernapasan/respiratory disorders (35,9%), prematuritas (32,4%) dan sepsis neonatorum


(12.0%).
3. Etiologi
a. Faktor ibu

Hipoksia ibu
Keracunan CO
Hipotensi akibat perdarahan
Gangguan kontraksi uterus
Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
Hipertensi pada penyakit eklampsia

b. Faktor plasenta

Plasenta tipis

Plasenta kecil

Plasenta tidak menempel

Solusio plasenta

Perdarahan plasenta

c. Faktor fetus

Kompresi umbilikus

Tali pusat menumbung

Tali pusat melilit leher

Kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir

d. Faktor neonatus

Prematur

Kelainan kongential

Pemakaian obat anestesi

Trauma yang terjadi akibat persalinan

4. Faktor Predisposisi
a. Faktor dari ibu
Gangguan his, misalnya: hipertoni dan tetani
Hipotensi mandadak pada ibu karena perdarahan, misalnya: plasenta previa
Hipertensi pada eklampsia
Gangguan mendadak pada plasenta seperti solusio plasentae
b. Faktor dari janin
Gangguan aliran darah dalam tali pusat karena tekanan tali pusat
Depresi pernafasan karena obat obatan yang diberikan kepada ibu
Ketuban keruh
5. Patofisiologi
Bayi baru lahir akan melakukan usaha untuk menghirup udara ke dalam paruparunya yang mengakibatkan cairan paru keluar dari alveoli ke jaringan insterstitial di

paru sehingga oksigen dapat dihantarkan ke arteriol pulmonal dan menyebabkan


arteriol berelaksasi. Jika keadaan ini terganggu maka arteriol pulmonal akan tetap
kontriksi, alveoli tetap terisi cairan dan pembuluh darah arteri sistemik tidak mendapat
oksigen. Pada saat pasokan oksigen berkurang, akan terjadi konstriksi arteriol pada
organ seperti usus, ginjal, otot dan kulit, namun demikian aliran darah ke jantung dan
otak tetap stabil atau meningkat untuk mempertahankan pasokan oksigen. Penyesuaian
distribusi aliran darah akan menolong kelangsungan fungsi organ-organ vital. Walaupun
demikian jika kekurangan oksigen berlangsung terus maka terjadi kegagalan fungsi
miokardium dan kegagalan peningkatan curah jantung, penurunan tekanan darah, yang
mengkibatkan aliran darah ke seluruh organ akan berkurang. Sebagai akibat dari
kekurangan perfusi oksigen dan oksigenasi jaringan, akan menimbulkan kerusakan
jaringan otak yang irreversible, kerusakan organ tubuh lain, atau kematian. Keadaan
bayi yang membahayakan akan memperlihatkan satu atau lebih tanda-tanda klinis
seperti tonus otot buruk karena kekurangan oksigen pada otak, otot dan organ lain;
depresi pernapasan karena otak kekurangan oksigen; bradikardia (penurunan frekuensi
jantung) karena kekurangan oksigen pada otot jantung atau sel otak; tekanan darah
rendah karena kekurangan oksigen pada otot jantung, kehilangan darah atau
kekurangan aliran darah yang kembali ke plasenta sebelum dan selama proses
persalinan, takipnu (pernapasan cepat) karena kegagalan absorbsi cairan paru-paru dan
sianosis karena kekurangan oksigen di dalam darah.

Pathway:

6. Klasifikasi

Ada dua macam jenis asfiksia, yaitu:


a. Asfiksia pallida (putih)
b. Asfiksia livida (biru)

Klasifikasi asfiksia dapat dilihat melalui skor APGAR.


APGAR

Skor

Apperance/Tampilan
Merah muda pada badan dan ekstremitas
Merah muda pada badan, biru pada ekstremitas
biru seluruhnya
Pulse/Nadi
> 100
< 100
Tidak ada
Grimace/Iritabilitas/Refleks
Menangis keras
Menangis lemah
Tidak ada respon terhadap stimulus
Activity/Aktivitas (Tonus Otot)
Aktif bergerak
Bergerak terbatas
Kaku (fleksi)
Respiratory/Pernapasan
Tangisan keras dan kuat
Hipoventilasi
Tidak

2
1
0
2
1
0
2
1
0
2
1
0
2
1
0

a. Tanpa asfiksia nilai APGAR skornya 8 -10


b. Asfiksia sedang nilai APGAR skornya 4 7
c. Asfiksia berat nilai APGAR skornya 0 3
7. Gejala Klinis
a. Gejala klinis pada asfiksia pallida dan livida:
Asfiksia Pallida
Warna kulit
Tonus otot
Reaksi rangsangan
Bunyi jantung
Prognosis

Pucat
Sudah kurang
Negative
Tak teratur
Jelek

Asfiksia Livida
Kebiru-biruan
Masih baik
Positive
Masih teratur
Lebih baik

b. Bayi pucat dan kebiru-biruan


c. Bayi tidak bernapas atau napas megap-megap, denyut jantung kurang dari 100
x/menit, kulit sianosis, pucat, tonus otot menurun, tidak ada respon terhadap refleks
rangsangan.
d. Usaha bernafas minimal atau tidak ada.

e.
f.
g.
h.
i.

Hipoksia
Asidosis metabolik atau respirator
Perubahan fungsi jantung
Kegagalan sistem multiorgan
Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologik : kejang,
nistagmus, dan menangis kurang baik/ tidak menangis.

8. Pemeriksaan Fisik
Kulit
Kepala
Mata

Hidung
Mulut
Telinga
Leher
Thorax
Abdomen

Umbilikus
Genetalia

Anus
Ekstremitas

Refleks

Warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstremitas berwarna biru, pada


bayi preterm terdapat lanugo dan verniks.
Kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal haematom,
ubun-ubun besar cekung atau cembung.
Warna konjungtiva anemis/tidak anemis, tidak ada bleeding
konjungtiva, warna sclera tidak kuning, pupil menunjukkan refleksi
terhadap cahaya.
Terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat penumpukan lendir.
Bibir berwarna pucat atau merah, ada lendir atau tidak.
Perhatikan kebersihannya dan adanya kelainan.
Perhatikan kebersihannya karena leher neonatus pendek.
Bentuk simetris, terdapat tarikan intercostal, perhatikan suara
wheezing dan ronchi, frekuensi bunyi jantung lebih dari 100 x/menit.
Bentuk silindris, hepar bayi terletak 1-2 cm dibawah arcus costae
pada garis papilla mamae, lien tidak teraba, perut buncit berarti
adanya asites/tumor, perut cekung adanya hernia diafragma, bising
usus timbul 1-2 jam setelah masa kelahiran bayi, sering terdapat
retensi karena GI Tract belum sempurna.
Tali pusat layu, perhatikan ada perdarahan/tidak, adanya tanda tanda
infeksi pada tali pusat.
Pada neonatus aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan letak
muara uretra pada neonatus laki-laki, neonatus perempuan lihat labia
mayor dan labia minor, adanya sekresi mucus keputihan, kadang
perdarahan.
Perhatikan adanya darah dalam tinja, frekuensi buang air besar serta
warna dari faeces.
Warna biru, gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya patah
tulang atau adanya kelumpuhan saraf atau keadaan jari-jari tangan
serta jumlahnya.
Pada neonates preterm post asfiksia berat reflek moro dan sucking
lemah. Reflek moro dapat memberi keterangan mengenai keadaan
susunan saraf pusat atau adanya patah tulang

9. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium : hasil analisis gas darah tali pusat menunjukkan hasil asidosis pada darah
tali pusat:
a. PaO2 < 50 mm H2O

b. PaCO2 > 55 mm H2
c. pH < 7,30
10. Prognosis
a. Asfiksia ringan/normal
b. Asfiksia Sedang

: Baik
: Tergantung kescepatan penatalaksanaan bila cepat
prognosa baik.
: Dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama,

c. Asfiksia berat
Asfiksia

dengan

pH

6,9

atau kelainan syaraf permanen.


dapat menyebabkan kejang

sampai

koma

dan

kelainanneurologis yang permanen misalnya cerebral palsy, mental retardation


11. Penanganan
a. Terapi Suportif
Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi baru lahir
yang bertujuan untuk rnempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi
gejala sisa yang mungkin muncul. Tindakan resusitasi bayi baru tahir mengikuti
tahapan-tahapan yang dikenal dengan ABC resusitasi :
1. Memastikan saluran nafas terbuka :

Meletakkan bayi pada posisi yang benar.

Menghisap mulut kemudian hidung kalau perlu trakea

Bila perlu masukkan ET untuk memastikan pernafasan terbuka

2. Memulai pernapasan :

Lakukan rangsangan taktil

Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif

3. Mempertahankan sirkulasi darah :


Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada atau
bila perlu menggunakan obat-obatan.
4. Koreksi gangguan metabolik (cairan, glukosa darah, elektrolit )
Cara resusitasi dibagi dalam tindakan umum dan tindakan khusus :
1. Tindakan Umum
a. Pengawasan suhu
b. Pembersihan jalan nafas
c. Rangsang untuk menimbulkan pernafasan
2. Tindakan khusus
a. Asfiksia berat
Resusitasi aktif harus segera dilaksanakan langkah utama memperbakti
ventilasi paru dengan pemberian 02 dengan tekanan dan intemitery cara

terbaik dengan intubasi endotrakeal lalu diberikan 02 tidak lebih dari 30


mmHg. Asfikasi berat hampir selalu disertai asidosis, koreksi dengan
bikarbonas natrium 2-4 mEq/kgBB, diberikan pula glukosa 15-20 % dengan
dosis 2-4 mEq/kgBB Kedua obat ini disuntikan ke dalam intra vena
perlahan melalui vena umbilikatis, reaksi obat ini akan terlihat jelas jika
ventilasi paru sedikit banyak telah berlangsung. Usaha pernapasan biasanya
mulai timbul setelah tekanan positif diberikan 1-3 kali, bila setelah 3 kali
inflasi tidak didapatkan perbaikan. Pernapasan atau frekuensi jantung, maka
masase jantung eksternal dikerjakan dengan & frekuensi 80-I00/menit.
Tindakan ini diselingi ventilasi tekanan dalam perbandingan 1 : 3 yaitu
setiap kali satu ventilasi tekanan diikuti oleh 3 kali kompresi dinding torak.
Jika tindakan ini tidak berhasil bayi harus dinilai kembali, mungkin hal ini
disebabkan oleh ketidakseimbangan asam dan basa yang belum dikorekrsi
atau gangguan organik seperti hernia diaftagmatika atau stenosis jalan
nafas.
b. Asfiksia sedang
Stimulasi agar timbul reflek pernafasan dapat dicoba bila dalam waktu 3060 detik tidak timbul pernapaan spontary ventilasi aktif harus segera
dilakukan. Ventilasi sederhana dengan kateter 02 intranasal dengan filtrat 12 x/mnt, bayi diletakkan dalam posisi dorsofleksi kepala. Kemudian
dilakukan gerakan membuka dan menutup nares dan mulut disertai gerakan
dagu keatas dan kebawah dengan frekuensi 20 kali/menit, sambil
diperhatikan gerakan dinding torak dan abdomen. Bila bayi memperlihatkan
gerakan pernapasan spontan, usahakan mengikuti gerakan tersebut, ventilasi
dihehtikan jika hasil tidak dicapai dalam 1-2 menit sehingga ventilasi paru
dengan tekanan positif secara tidak langsung segera dilakukan, ventilasi
dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dari mulut ke rnulut atau dari
ventilasi ke kantong masker. Pada ventitasi dari mulut ke mulut,
sebelumnya mulut penolong diisi dulu dengan 02, ventilasi dilahirkan
dengan frekuensi 20-30 kali permenit dan perhatikan gerakan nafas spontan
yang mungkin timbul. Tindakan dinyatakan tidak berhak jika setelah
dilekuknn berberapa saat teqadi penurunan frekuens jantung atau perbaikan
tonus otot intubasi endotrakheal harus segera dilahirkan, bikarbonas
natrikus dan glukosa dapat segera diberikan, apabila 3 menit setelah lahir

tidak memperlihatkan pernapasan teratur meskipun ventilasi telah dilakukan


dengan adekuat.
b. Terapi Medikamentosa
1. Epinefrin
Indikasi:

Denyut jantung bayi < 60x/menit setelah paling tidak 30 detik dilakukan
ventilasi adekuat dan kompresi dada belun ada respon.

Sistotik
Dosis : 0,1-0,3 ml / kgBB dalam lanrtan I : 10.000 (0,1 mg 0,03 mg/
kgBB). Cara : i.v atau endotakheal. Dapat diulang setiap 3-5 menit bila perlu

2. Volume Ekspander
Indikasi:

Bayi baru lahir yang dilahirkan resusitasi rnengalami hipovolernia dan tidak
ada respon dengan resueitasi.

Hipovolemi kemungkinan akibat adanya perdarahan atau syok. Klinis


,diitandai dangan adanya pucat perfusi buruk, nadi kecil / lemah dan pada
resusitasi tidak memberikan respons yang adekuat.

Jenis Cairan :

Larutan laistaloid isotonis (NaCL 0,9, Ringer Laktat). Dosis : dosis awal 10
ml / kgBB i.v pelan selama 5-10 menit. Dapat diulang sampai menunjukkan
respon klinis.

Transfursi darah gol O negatif jika diduga kehilangn darah banyak.

3. Bikarbonat
Indikasi:

Asidosis metabolik, bayi-bayi baru lahiryang mendapatkan resusitasi.


Diberikan bila ventilasi dan sirkulasi sudah baik.

Penggunaan bikarbonat pada keadaan asidosis metabolik dan hiperkalemia


Harus disertai dengan pemerIksaan analisa gas darah dan kimia.

Dosis : 1-2 mEq/keBB atau 2 ml/kgBB (4,2%) atau 1 ml/kgBB (74%).


Cara : diencerkan dengan aqua bidest dan destrosa 5 % sama banyak diberikan
secara i.v dengan kecepaten min 2 menit.
Efek sarnping : pada keadaan hiperosmolarita, dan kandungan CO2 dari
bikarbonat merusak furgsi miokardium dan otak.
4. Nalokson

Nalokson Hidroklorida adalah antagonis narkotik yang tidak rnenyebabkan


depresi pernapasan.
Indikasi:

Depresi psmapasan pada bayi baru lahir yang ibunya menggunakan

narkotik 4 jam sebelurn persalinan.

Sebelum diberikan nalokson, ventilasi harus adekuat dan stabil.

Jangan diberilm pada bayi brug lahir yang ibrmya baru dicurigai sebagai

pemakai obat narkotika sebab akan menyebabkan tanpa with drawl tiba-tiba
pada sebagian bayi.
Dosis : 0,1 mgikgBB ( 0,4 mg/ml atau lmg/ml)
Cara : i.v endotrakheal atau bila perfusi baik diberikan i.m atau s.c

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Sirkulasi

Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/mnt. Tekanan darah 60

sampai 80 mmHg (sistolik), 40 sampai 45 mmHg (diastolik).


Bunyi jantung, lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di

kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/ IV.


Murmur biasa terjadi di selama beberapa jam pertama kehidupan.
Tali pusat putih dan bergelatin, mengandung 2 arteri dan 1 vena.

b. Eliminasi

Dapat berkemih saat lahir.

c. Makanan/ cairan

Berat badan : 2500-4000 gram


Panjang badan : 44-45 cm
Turgor kulit elastis (bervariasi sesuai gestasi)

d. Neurosensori

Tonus otot : fleksi hipertonik dari semua ekstremitas.

Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama


setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas). Penampilan asimetris (molding,
edema, hematoma).

Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi menunjukkan


abnormalitas genetik, hipoglikemi atau efek narkotik yang memanjang)

Pernafasan
Skor APGAR : 1 menit......5 menit....... skor optimal harus antara 7-10.
Rentang dari 30-60 permenit, pola periodik dapat terlihat.
Bunyi nafas bilateral, kadang-kadang krekels umum pada awalnya silindrik

thorak : kartilago xifoid menonjol, umum terjadi.


Keamanan

Suhu rentang dari 36,5 C sampai 37,5 C. Ada verniks (jumlah dan distribusi
tergantung pada usia gestasi).

Kulit : lembut, fleksibel, pengelupasan tangan/ kaki dapat terlihat, warna merah
muda atau kemerahan, mungkin belang-belang menunjukkan memar minor (misal
: kelahiran dengan forseps), atau perubahan warna herlequin, petekie pada kepala/
wajah (dapat menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau
tanda nukhal), bercak portwine, nevi telengiektasis (kelopak mata, antara alis

mata, atau pada nukhal) atau bercak mongolia (terutama punggung bawah dan
bokong) dapat terlihat. Abrasi kulit kepala mungkin ada (penempatan elektroda
internal)
2. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d mukus dalam jumlah berlebih, asfiksia
intrauterus.
b. Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi, imaturitas pusat pernapasan, penurunan
energi/kelelahan.
c. Gangguan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi, perubahan
membran kapiler alveolar.
d. Risiko infeksi b.d pemajanan pada agen-agen infeksius.
e. Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.
f. Proses keluarga terhenti b.d pergantian dalam status kesehatan anggota keluarga.
3. Rencana Asuhan Keperawatan
Diagnosa

Tujuan dan

Keperawatan
Ketidakefektif

Kriteria Hasil
Setelah dilakukan

an bersihan

tindakan

Intervensi
1. Perhatikan RR,

Rasional
1. Takipnea,

upaya

takikardi, sianosis,

jalan napas b.d keperawatan selama

pernapasan,

pernapasan cuping

mukus dalam

... x 24 jam

warna, HR dan

hidung atau

jumlah

diharapkan jalan

adanya refleks

mengorok

berlebih,

nafas bersih pasien.


Kriteria hasil:
1. Tidak ada suara

batuk serta tanda-

menandakan

tanda distres

hipoksia dan

pernapasan.

kegagalan

asfiksia
intrauterus.

napas tambahan.
2. Tidak ada
sianosis.
3. RR 30 - 60
x/mnt.
4. Membran
mukosa merah
muda.

2. Tempatkan bayi
miring atau posisi
semi fowler.
3. Perhatikan

pernapasan.
2. Menurunkan risiko
aspirasi.
3. Peningkatan

hidung tersumbat,

sumbatan hidung

suction sebelum

dan produksi

pemberian makan

mukus

sesuai dengan

mempengaruhi

indikasi.

pernapasan
khususnya selama
pemberian makan.

4. Auskultasi suara

4. Mengetahui

nafas sebelum

efektifitas dari

dan sesudah

suction.

suction.
5. Pireksia berkenaan
5. Pantau suhu bayi.
dengan stimulasi
Kontrol
SSP meningkatkan
lingkungan untuk
laju metabolisme
meningkatkan
dan kebutuhan
kesejukan bila
oksigen.
suhu bayi
meningkat.
6. Pantau saturasi

6. Menunjukkan
tingkat

oksigen dan

keadekuatan

GDA.

oksigen dalam
tubuh.
7. Memenuhi

7. Berikan oksigen
sesuai dengan
indikasi.
8. Tempatkan bayi

kebutuhan oksigen
bayi.
8. Mungkin perlu
pada kasus

pada pemantau

pengaruh

kardiopulmonal.

pernapasan berat.

Lakukan tindakan
resusitasi bila
tepat.
9. Berikan
informasi kepada

9.

Menurunkan
kecemasan orang
tua

orang tua tentang


kondisi bayi.
1. Kaji RR dan pola 1. Membantu dalam

Pola nafas

Setelah dilakukan

tidak efektif

tindakan

pernapasan.

mengkaji pola

b.d

keperawatan selama

Perhatikan

pernapasan bayi.

hipoventilasi,

... x 24 jam

adanya apnea dan

imaturitas

diharapkan pola

perubahan

pusat

nafas menjadi

frekuensi

pernapasan,
penurunan
energi/kelelah
an.

efektif.
Kriteria hasil :
1. Pasien
menunjukkan pola
nafas yang efektif.
2. Ekspansi dada
simetris.

jantung, tonus
otot, dan warna
kulit berkenan

2. Untuk

dengan

membersihkan

prosedur/perawat

jalan nafas.

an.
2. Pertahankan

3. Tidak ada bunyi

kepatenan jalan

nafas tambahan.

nafas dengan

dan narkotik

4. Kecepatan dan

melakukan

menekan pusat

irama respirasi

pengisapan

pernapasan dan

dalam batas normal


(RR = 30 60
x/mnt).

lendir.
3. Tinjau ulang

3. Magnesium sulfat

aktivitas SSP.

riwayat ibu
terhadap obat-

4. Posisi ini dapat

obatan yang

memudahkan

dapat

pernapasan dan

memperberat

menurunkan

depresi pernapsan

episode apnea,

pada bayi.
4. Posisikan bayi
pada abdomen
atau posisi

khususnya
hipoksia, asidosis
metabolik, atau
hiperkapnia.

terlentang dengan
gulungan kain di
bawah bahu
untuk
menghasilkan
sedikit
hiperekstensi.
5. Pertahankan suhu
tubuh tetap
optimal.

5. Bahkan hanya
sedikit
peningkatan atau
penurunan suhu
tubuh dapat
manimbulkan
apnea.
6. Merangsang SSP
untuk
meningkatkan
gerakan tubuh dan

kembalinya
pernapasan
6. Berikan

spontan. Kadang-

rangsangan taktil

kadang bayi

yang segera bila

mengalami

terjadi apnea.

kejadian apnea

Perhatikan

lebih sedikit atau

adanya sianosis

tidak ada atau

atau bradikardi.

bradikardi bila

Anjurkan kontak

orang tua

dengan orang tua.

menentuh dan
berbicara pada
mereka.
7. Hipoksia, asidosis
metabolik,
hiperkapnia,

7. Pantau
pemeriksaan
laboratorium.

hipoglikemia dan
sepsis dapat
memperberat
serangan apnea.
8. Perbaikan kadar
oksigen dan
karbondioksida
dapat

8. Berikan oksigen
sesuai indikasi.
2) Pantau status
pernafasan dan
oksigenasi sesuai
dengan
kebutuhan.
9. Berikan obat
sesuai indikasi:
Natrium
bikarbonat

meningkatkan
fungsi
pernapasan.
9. Obat-obatan
diperlukan:
Memperbaiki

asidosis
Mengatasi
infeksi
pernapasan
atau sepsis

Antibiotik

Hipokalsemia
mempredisposi
sikan bayi pada

Kalsium

apnea.
Dapat
meningkatkan

glukonat

aktifitas pusat
pernapasan dan

menurunkan

Aminofilin

sensitivitas
terhadapCO2,
menurunkan
frekuensi

apnea.
Mengakibatkan
relaksasi otot
rangka yang
mungkin perlu
bila bayi secara

Pankuronium

mekanis

bromida

terventilasi.
Mencegah

(pavulon)

hipoglikemia.

Larutan

glukosa
1. Kaji RR,

Gangguan

Setelah dilakukan

1. Bayi dengan

pertukaran gas

tindakan

kedalaman, dan

perubahan

b.d

keperawatan ... x 24

upaya

pertumbuhan

ketidakseimba

jam diharapkan

pernapasan.

lebih rentan

ngan perfusi

pertukaran gas

Observasi dan

terhadap distres

ventilasi,

adekuat.

laporkan tanda-

pernapasan

perubahan

Kriteria hasil :

tanda distres

berkenaan dengan

membran

1. Bayi tidak sesak

pernapasan.

asfiksia kronis

kapiler

nafas (RR 30 60

alveolar.

x/mnt)
2. PO2: 60 80
mmHg; PCO2: 30 37

2. Auskultasi bunyi
napas secara
teratur.

pada bayi.
2. Adanya
krekels/ronki
menunjukkan

mHg

kongesti

3. pH normal: 7,35

pernapasan dan

7,44

kebutuhan
3. Auskultasi nadi
apikal, perhatian
adanya sianosis.

terhadap
intervensi.
3. Takipnea,
bradiardi dan
sianosis dapat
terjadi pada
respon terhadap

4. Cegah
komplikasi
iatrogenik
berkenaan
dengan stres
dingin,
ketidakseimbang

perubahan kadar
oksigen.
4. Komplikasi ini
meningkatkan
kebutuhan
metabolik dan
oksigen.

an metabolik, dan
ketidak cukupan
kalori.
5. Pantau oksimetri
nadi.
6. Pantau
pemeriksaan lab
sesuai indikasi:
pH serum

5. Mengidentifikasi
keefektifan terapi.
6. Hasil lab
menunjukkan:

Mendeteksi
kemungkinan

asidosis
metabolik yang
terjadi akibat
ketidak

adekuatan

GDA

masukan O2.
Menunjukkan
derajat

7. Berikan oksigen
hangat dan

hiposia/hiperka
pnia.
7. Memperbaikimen

lembab, berikan

cegah hipoksemia,

ventilasi bantuan

hiperkapnia, dan

sesuai indikasi.
8. Kolaborasi
pemberian obatobatan sesuai
indikasi:
Natrium
bikarbonat

ketidakseimbanga
n asam-basa
pernapasan.

Memperbaiki
ketidakseimban
gan
metabolik/asid
osis yang
diakibatkan
dari asidosis
respiratori

Derivat xantin

yang lama.
Bronkodilator

spt aminofilin

simpatomimeti

(teofilin

k mungkin

etilenediamin)

bermanfaat
dalam
mengatasi
apnea
prematuritas.

Tolazolme

Vasodilator

HCL

kuat yang

(Priscoline)

merelaksasikan
otot polos
untuk
memaksimalka
n upaya
sirkulasi/oksige
nasi pada kasus
aspirasi

Dopamin

mekonium.
Mengimbangi
efek hipotensif
dari pemberian

Risiko infeksi

Tujuan : Setelah

b.d pemajanan

dilakukan tindakan

setiap sebelum

infeksi

pada agen-

keperawatan selama

dan sesudah

nosokomial.

agen infeksius. ... x 24 jam


diharapkan tidak
terjadi infeksi.
Kriteria hasil :
1. Bebas dari cidera/
komplikasi.
2. Orang tua dapat
mendeskripsikan
teknik pertolongan
pertama

1. Cuci tangan

priscoline.
1. Untuk mencegah

merawat bayi.
2. Pakai sarung
tangan steril.
3. Lakukan
pengkajian fisik
secara rutin
terhadap bayi,
perhatikan
pembuluh darah

2. Untuk mencegah
infeksi
nosokomial.
3. Pengkajian sedini
mungkin untuk
mencegah adanya
infeksi yang
bertambah parah.

tali pusat dan


adanya anomali.
4. Pertahankan
hygiene bayi
dengan
memandikan/mel
ap bayi dan

4. Kebersihan bayi
mencegah
terjadinya infeksi
bakteri melalui
kulit.

mengganti
popok.
5. Ajarkan keluarga
tentang tanda dan
gejala infeksi dan
melaporkannya
pada pemberi
pelayanan
kesehatan.
6. Berikan agen

5. Pendidikan
terhadap keluarga
memungkinkan
respon cepat
terhadap gejala
infeksi yang
dialami bayi.
6. Mencegah infeksi
Hepatitis B

imunisasi sesuai
indikasi
(imunoglobulin
hepatitis B dari
vaksin hepatitis
1. Kaji suhu dengan 1. Hipotermi

Risiko

Tujuan : Setelah

ketidakseimba

dilakukan tindakan

sering. Ulangi

membuat bayi

ngan suhu

keperawatan selama

tiap 15 menit

cenderung

tubuh b.d

... x 24 jam

selama

mengalami stres

kurangnya

diharapkan suhu

penghangatan

dingin.

suplai O2

tubuh normal.
Kriteria Hasil :

dalam darah.

1. Temperatur badan
dalam batas normal
(36,5 37,5 0C).
2. Tidak terjadi
distress pernafasan.
3. Bayi tidak gelisah.

ulang.
2. Mempertahankan
2. Hindarkan pasien
lingkungan tetap
dari kedinginan
hangat dan
dan tempatkan
mencegah stres
pada lingkungan
dingin.
yang hangat spt
inkubator.
3. Monitor gejala
yang
berhubungan
dengan
hipotermi, misal

3. Untuk mendeteksi
lebih awal
perubahan yang
terjadi guna
mencegah
komplikasi.

fatigue, apatis,
perubahan warna
kulit.

4. Mencegah
kehilangan panas

4. Ganti pakaian
atau linen tempat
tidur bila basah.
5. Pantau suhu di

melalui evaporasi.
5. Hipertermi akibat
peningkatan laju
metabolisme ,

dalam ruangan

kebutuhan

atau inkubator.

oksigen dan
glukosa dapat
terjadi bila suhu
lingkungan terlalu

6. Pantau

tinggi.
6. Ketidakadekuatan

penambahan

penambahan berat

berat badan

badan meskipun

berturut-turut.

asupan kalori

Bila penambahan

adekuat dapat

berat badan tidak

menandakan

adekuat,

bahwa kalori

tingkatkan suhu

digunakan untuk

lingkungan sesuai

mempertahankan

indikasi.

suhu tubuh,
memerlukan
peningkatan suhu

7. Kolaborasi
pemberian obat:
Fenobarbital

lingkungan.

Membantu
mencegah
kejang
berkenaan
dengan
perubahan

fungsi SSP
Natrium

yang

bikarbonat

disebabkan
oleh

hipertermi.
Memperbaiki
asidosis yang
dapat terjadi
pada hipotermi

Proses

Tujuan : Setelah

keluarga

dilakukan tindakan

terhenti b.d

keperawatan selama

pergantian

... x 24 jam

dalam status

diharapkan koping

pertukaran peran

kesehatan

keluarga adekuat.

dalam proses

anggota

Kriteria Hasil :

keluarga.

1. Keluarga percaya
dapat mengatasi
masalah.
2. Keluarga dapat
mencapai kestabilan
prioritas.
3. Keluarga
mempunyai rencana
darurat.
4. Keluarga dapat

1. Tentukan tipe
proses keluarga.

dan hipertermi.
1. Untuk mengetahui
tindakan yang
tepat untuk

2. Identifikasi efek

keluarga.
3. Bantu anggota
keluarga untuk
menggunakan
mekanisme
support yang ada.
4. Bantu anggota
keluarga untuk
merencanakan

diberikan.
2. Untuk
mempersiapkan
psikologi
keluarga.
3. Untuk
memanfaatkan
dukungan yang
ada dari keluarga.
4. Untuk mengatasi
situasi yang tidak
terduga.

strategi normal
dalam segala
situasi.

mengatur ulang cara


perawatan.
10. Implementasi
Implementasi dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan yang telah dibuat.
11. Evaluasi
1. Dx: Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d mukus dalam jumlah berlebih,
asfiksia intrauterus.
a. Jalan nafas bersih pasien.
b. Tidak ada suara napas tambahan.
c. Tidak ada sianosis.
d. RR 30 - 60 x/mnt.
e. Membran mukosa merah muda.

2. Dx: Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi, imaturitas pusat pernapasan,
penurunan energi/kelelahan.
a. Pola nafas menjadi efektif.
b. Ekspansi dada simetris.
c. Tidak ada bunyi nafas tambahan.
d. Kecepatan dan irama respirasi dalam batas normal (RR = 30 60 x/mnt).
3. Dx: Gangguan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi, perubahan
membran kapiler alveolar.
a. Pertukaran gas adekuat.
b. Bayi tidak sesak nafas (RR 30 60 x/mnt)
c. PO2: 60 80 mmHg; PCO2: 30 37 mHg
d. pH normal: 7,35 7,44
4. Dx: Risiko infeksi b.d pemajanan pada agen-agen infeksius.pemajanan pada agenagen infeksius.
a. Bebas dari cidera/ komplikasi.
b. Mendeskripsikan teknik pertolongan pertama
5. Dx: Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.
a. Temperatur badan dalam batas normal (36 37 0C).
b. Tidak terjadi distress pernafasan.
c. Tidak gelisah.
6. Dx: Proses keluarga terhenti b.d pergantian dalam status kesehatan anggota
keluarga.
a. Keluarga percaya dapat mengatasi masalah.
b. Keluarga dapat mencapai kestabilan prioritas.
c. Keluarga mempunyai rencana darurat.
d. Keluarga dapat mengatur ulang cara perawatan.

Daftar Pustaka
Amir, Idam dan Vera Muna Manoe. 2003. Gangguan Fungsi Multi Organ Pada Bayi Asfiksia
Berat. Available: http://saripediatri.idai.or.id/pdfile/5-2-6.pdf (10 November 2014)
Daslidel, Hj. 2012. Buku Ajar Asuhan Neonatus, Bayi, & Balita. Jakarta: EGC
Depkes RI. 2008. Pencegahan dan Penatalaksanan Asfiksia Neonatorum. Available:
http://buk.depkes.go.id/index.php?
option=com_docman&task=doc_download&gid=276&Itemid=142
(10 November
2014)
Herdman, T. Heather. 2011. Diagnosa Keperawatan Nanda. Jakarta: EGC
Myers, Ehren. 2012. Keterampilan Klinis Untuk Perawat. Jakarta: Erlangga