Anda di halaman 1dari 12

Penulis,

AGUNG MAHENDRA
10213349 (2EA32)

FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN


UNIVERSITAS GUNADARMA

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karunia-Nya-lah
kami dapat menyelesaikan makalah tentang Pendidikan Kewarganegaraan yang berjudul
Demokrasi sesuai waktu yang telah diberikan. Tulisan ini disusun sebagai salah satu tugas
berupa makalah individu pada mata kuliah Soft Skill Pendidikan Kewarganegaraan
Universitas Gunadarma.
Dalam menyusun tugas makalah ini, saya banyak menerima bantuan baik dari
beberapa narasumber dan petunjuk dari berbagai pihak maupun literatur baik dari internet
maupun yang tertuang dalam buku. Dalam kesempatan ini, saya ingin menyampaikan banyak
terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang sudah
banyak membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini.
Saya mengucapkan terima kasih atas dukungannya dan menyadari masih banyak
kekurangan dari apa yang saya kerjakan dalam makalah ini, untuk itu kami mengharapkan
kritikan dan saran yang bersifat membangun agar pada penulisan makalah selanjutnya dapat
menjadi lebih baik dan sempurna.

Jakarta, 14 Maret 2015

Penulis

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................... ii


DAFTAR ISI ................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... 1
1. Latar Belakang ..................................................................................................... 1
2. Tujuan .................................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................... 2
1. Bentuk Bentuk Demokrasi ................................................................................ 2
2. Asas Pokok Demokrasi ........................................................................................ 2
3. Demokrasi di Indonesia ....................................................................................... 3
4. Prinsip prinsip Demokrasi di Indonesia ............................................................ 6
5. Permasalahan Demokrasi di Indonesia ................................................................ 6
BAB III PENUTUP ........................................................................................................ 8
1. Kesimpulan ......................................................................................................... 8
2. Saran .................................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA DAN REFERENSI ................................................................... 9

iii

BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang semua warga negaranya memiliki hak setara
dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan
warga negara berpartisipasi baik secara langsung atau melalui perwakilan dalam perumusan,
pengembangan, dan pembuatan hukum. Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan
budaya yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara.
Kata ini berasal dari bahasa Yunani (dmokrata) "kekuasaan rakyat",yang
terbentuk dari (dmos) "rakyat" dan (kratos) "kekuatan" atau "kekuasaan" pada
abad ke-5 SM untuk menyebut sistem politik negara-kota Yunani, salah satunya Athena; kata
ini merupakan antonim dari (aristocratie) "kekuasaan elit". Secara teoretis,
kedua definisi tersebut saling bertentangan, namun kenyataannya sudah tidak jelas lagi.
Sistem politik Athena Klasik, misalnya, memberikan kewarganegaraan demokratis kepada
pria elit yang bebas dan tidak menyertakan budak dan wanita dalam partisipasi politik. Di
semua pemerintahan demokrasi sepanjang sejarah kuno dan modern, kewarganegaraan
demokratis tetap ditempati kaum elit sampai semua penduduk dewasa di sebagian besar
negara demokrasi modern benar-benar bebas setelah perjuangan gerakan hak suara pada abad
ke-19 dan 20. Kata demokrasi (democracy) sendiri sudah ada sejak abad ke-16 dan berasal
dari bahasa Perancis Pertengahan dan Latin Pertengahan lama.
Suatu pemerintahan demokratis berbeda dengan bentuk pemerintahan yang kekuasaannya
dipegang satu orang, seperti monarki, atau sekelompok kecil, seperti oligarki. Apapun itu,
perbedaan-perbedaan yang berasal dari filosofi Yunani ini sekarang tampak ambigu karena
beberapa pemerintahan kontemporer mencampur aduk elemen-elemen demokrasi, oligarki,
dan monarki. Karl Popper mendefinisikan demokrasi sebagai sesuatu yang berbeda dengan
kediktatoran atau tirani, sehingga berfokus pada kesempatan bagi rakyat untuk
mengendalikan para pemimpinnya dan menggulingkan mereka tanpa perlu melakukan
revolusi. Ada beberapa jenis demokrasi, tetapi hanya ada dua bentuk dasar. Keduanya
menjelaskan cara seluruh rakyat menjalankan keinginannya. Bentuk demokrasi yang pertama
adalah demokrasi langsung, yaitu semua warga negara berpartisipasi langsung dan aktif
dalam pengambilan keputusan pemerintahan. Di kebanyakan negara demokrasi modern,
seluruh rakyat masih merupakan satu kekuasaan berdaulat namun kekuasaan politiknya
dijalankan secara tidak langsung melalui perwakilan; ini disebut demokrasi perwakilan.
Konsep demokrasi perwakilan muncul dari ide-ide dan institusi yang berkembang pada Abad
Pertengahan Eropa, Era Pencerahan, dan Revolusi Amerika Serikat dan Perancis.
2. Tujuan
Tujuan dari penyusunan dari makalah ini adalah untuk menambah wawasan terhadap
demokrasi yang ada di Indonesia. Serta dapat dijadikan inspirasi bagi pembaca untuk
memajukan dan mengembangkan demokrasi di Indonesia. Disamping itu tujuan dari
penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas berupa tulisan mata kuliah softskill
Pendidikan kewarganegaraan.

BAB II PEMBAHASAN
1. Bentuk-bentuk demokrasi
Secara umum terdapat dua bentuk demokrasi yaitu demokrasi langsung dan demokrasi
perwakilan.
a. Demokrasi langsung
Demokrasi langsung merupakan suatu bentuk demokrasi dimana setiap rakyat memberikan
suara atau pendapat dalam menentukan suatu keputusan. Dalam sistem ini, setiap rakyat
mewakili dirinya sendiri dalam memilih suatu kebijakan sehingga mereka memiliki pengaruh
langsung terhadap keadaan politik yang terjadi. Sistem demokrasi langsung digunakan pada
masa awal terbentuknya demokrasi di Athena dimana ketika terdapat suatu permasalahan
yang harus diselesaikan, seluruh rakyat berkumpul untuk membahasnya. Di era modern
sistem ini menjadi tidak praktis karena umumnya populasi suatu negara cukup besar dan
mengumpulkan seluruh rakyat dalam satu forum merupakan hal yang sulit. Selain itu, sistem
ini menuntut partisipasi yang tinggi dari rakyat sedangkan rakyat modern cenderung tidak
memiliki waktu untuk mempelajari semua permasalahan politik negara.
b. Demokrasi perwakilan
Dalam demokrasi perwakilan, seluruh rakyat memilih perwakilan melalui pemilihan umum
untuk menyampaikan pendapat dan mengambil keputusan bagi mereka.
2. Asas pokok demokrasi
Gagasan pokok atau gagasan dasar suatu pemerintahan demokrasi adalah pengakuan hakikat
manusia, yaitu pada dasarnya manusia mempunyai kemampuan yang sama dalam hubungan
sosial.Berdasarkan gagasan dasar tersebut terdapat dua asas pokok demokrasi, yaitu:

Pengakuan partisipasi rakyat dalam pemerintahan, misalnya pemilihan wakil-wakil


rakyat untuk lembaga perwakilan rakyat secara langsung, umum, bebas, dan rahasia
serta jujur dan adil; dan
Pengakuan hakikat dan martabat manusia, misalnya adanya tindakan pemerintah untuk
melindungi hak-hak asasi manusia demi kepentingan bersama.

Ciri-ciri pemerintahan demokratis Dalam perkembangannya, demokrasi menjadi suatu


tatanan yang diterima dan dipakai oleh hampir seluruh negara di dunia. Ciri-ciri suatu
pemerintahan demokrasi adalah sebagai berikut:

Adanya keterlibatan warga negara (rakyat) dalam pengambilan keputusan politik, baik
langsung maupun tidak langsung (perwakilan).
Adanya pengakuan, penghargaan, dan perlindungan terhadap hak-hak asasi rakyat
(warga negara).
Adanya persamaan hak bagi seluruh warga negara dalam segala bidang.
Adanya lembaga peradilan dan kekuasaan kehakiman yang independen sebagai alat
penegakan hokum.
Adanya kebebasan dan kemerdekaan bagi seluruh warga negara.
Adanya pers (media massa) yang bebas untuk menyampaikan informasi dan mengontrol
2

perilaku dan kebijakan pemerintah.


Adanya pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat yang duduk di lembaga
perwakilan rakyat.
Adanya pemilihan umum yang bebas, jujur, adil untuk menentukan (memilih)
pemimpin negara dan pemerintahan serta anggota lembaga perwakilan rakyat.
Adanya pengakuan terhadap perbedaan keragamaan (suku, agama, golongan, dan
sebagainya).

3. Demokrasi di Indonesia
Semenjak kemerdekaan 17 agustus 1945, Undang Undang Dasar 1945 memberikan
penggambaran bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. Dalam mekanisme
kepemimpinannya Presiden harus bertanggung jawab kepada MPR dimana MPR adalah
sebuah badan yang dipilih dari Rakyat. Sehingga secara hirarki seharusnya rakyat adalah
pemegang kepemimpinan negara melalui mekanisme perwakilan yang dipilih dalam pemilu.
Indonesia sempat mengalami masa demokrasi singkat pada tahun 1956 ketika untuk pertama
kalinya diselenggarakan pemilu bebas di indonesia, sampai kemudian Presiden Soekarno
menyatakan demokrasi terpimpin sebagai pilihan sistem pemerintahan. Setelah mengalami
masa Demokrasi Pancasila, sebuah demokrasi semu yang diciptakan untuk melanggengkan
kekuasaan Soeharto, Indonesia kembali masuk kedalam alam demokrasi pada tahun 1998
ketika pemerintahan junta militer Soeharto tumbang. Pemilu demokratis kedua bagi
Indonesia terselenggara pada tahun 1999 yang menempatkan Partai Demokrasi IndonesiaPerjuangan sebagai pemenang Pemilu.
Diskursus demokrasi di Indonesia tak dapat dipungkiri, telah melewati perjalanan
sejarah yang demikian panjangnya. Berbagai ide dan cara telah coba dilontarkan dan
dilakukan guna memenuhi tuntutan demokratisasi di negara kepulauan ini. Usaha untuk
memenuhi tuntutan mewujudkan pemerintahan yang demokratis tersebut misalnya dapat
dilihat dari hadirnya rumusan model demokrasi Indonesia di dua zaman pemerintahan
Indonesia, yakni Orde Lama dan Orde Baru. Di zaman pemerintahan Soekarno dikenal yang
dinamakan model Demokrasi Terpimpin, lalu berikutnya di zaman pemerintahan Soeharto
model demokrasi yang dijalankan adalah model Demokrasi Pancasila. Namun, alih-alih
mempunyai suatu pemerintahan yang demokratis, model demokrasi yang ditawarkan di dua
rezim awal pemerintahan Indonesia tersebut malah memunculkan pemerintahan yang
otoritarian, yang membelenggu kebebasan politik warganya.
Dipasungnya demokrasi di dua zaman pemerintahan tersebut akhirnya membuat
rakyat Indonesia berusaha melakukan reformasi sistem politik di Indonesia pada tahun 1997.
Reformasi yang diperjuangkan oleh berbagai pihak di Indonesia akhirnya berhasil
menumbangkan rezim Orde Baru yang otoriter di tahun 1998. Pasca kejadian tersebut,
perubahan mendasar di berbagai bidang berhasil dilakukan sebagai dasar untuk membangun
pemerintahan yang solid dan demokratis. Namun, hingga hampir sepuluh tahun perubahan
politik pasca reformasi 1997-1998 di Indonesia, transisi menuju pemerintahan yang
demokratis masih belum dapat menghasilkan sebuah pemerintahan yang profesional, efektif,
efisien, dan kredibel. Demokrasi yang terbentuk sejauh ini, meminjam istilah Olle Tornquist
hanya menghasilkan Demokrasi Kaum Penjahat, yang lebih menonjolkan kepentingan pribadi

dan golongan ketimbang kepentingan rakyat sebagai pemilik kedaulatan. Tulisan ini berusaha
menguraikan lebih lanjut bagaimana proses transisi menuju konsolidasi demokrasi di
Indonesia belum menuju kepada proses yang baik, karena masih mencerminkan suatu
pragmatisme politik. Selain itu di akhir, penulis akan berupaya menjawab pilihan demokrasi
yang bagaimana yang cocok untuk diterapkan di Indonesia.
Munculnya Kekuatan Politik Baru yang Pragmatis Pasca jatuhnya Soeharto pada 1998
lewat perjuangan yang panjang oleh mahasiswa, rakyat dan politisi, kondisi politik yang
dihasilkan tidak mengarah ke perbaikan yang signifikan. Memang secara nyata kita bisa
melihat perubahan yang sangat besar, dari rezim yang otoriter menjadi era penuh
keterbukaan. Amandemen UUD 1945 yang banyak merubah sistem politik saat ini,
penghapusan dwi fungsi ABRI, demokratisasi hampir di segala bidang, dan banyak hasil
positif lain. Namun begitu, perubahan-perubahan itu tidak banyak membawa perbaikan
kondisi ekonomi dan sosial di tingkat masyarakat.
Perbaikan kondisi ekonomi dan sosial di masyarakat tidak kunjung berubah
dikarenakan adanya kalangan oposisi elit yang menguasai berbagai sektor negara. Mereka
beradaptasi dengan sistem yang korup dan kemudian larut di dalamnya. Sementara itu,
hampir tidak ada satu pun elit lama berhaluan reformis yang berhasil memegang posisi-posisi
kunci untuk mengambil inisiatif. Perubahan politik di Indonesia, hanya menghasilkan
kembalinya kekuatan Orde Baru yang berhasil berkonsolidasi dalam waktu singkat, dan
munculnya kekuatan politik baru yang pragmatis. Infiltrasi sikap yang terjadi pada kekuatan
baru adalah karena mereka terpengaruh sistem yang memang diciptakan untuk dapat
terjadinya korupsi dengan mudah.
Selain hal tersebut, kurang memadainya pendidikan politik yang diberikan kepada
masyarakat, menyebabkan belum munculnya artikulator-artikulator politik baru yang dapat
mempengaruhi sirkulasi elit politik Indonesia. Gerakan mahasiswa, kalangan organisasi nonpemerintah, dan kelas menengah politik yang mengambang lainnya terfragmentasi. Mereka
gagal membangun aliansi yang efektif dengan sektor-sektor lain di kelas menengah. Kelas
menengah itu sebagian besar masih merupakan lapisan sosial yang berwatak anti-politik
produk Orde Baru. Dengan demikian, perlawanan para reformis akhirnya sama sekali tidak
berfungsi di tengah-tengah situasi ketika hampir seluruh elit politik merampas demokrasi.
Lebih lanjut, gerakan mahasiswa yang pada awal reformasi 1997-1998 sangatlah kuat, kini
sepertinya sudah kehilangan roh perjuangan melawan pemerintahan. Hal ini bukan hanya
disebabkan oleh berbedanya situasi politik, tetapi juga tingkat apatisme yang tinggi yang
disebabkan oleh depolitisasi lewat berbagai kebijakan di bidang pendidikan. Mulai dari
mahalnya uang kuliah yang menyebabkan mahasiswa dituntut untuk segera lulus. Hingga
saringan masuk yang menyebabkan hanya orang kaya yang tidak peduli dengan politik.
Akibat dari hal tersebut, representasi keberagaman kesadaran politik masyarakat ke
dunia publik pun menjadi minim. Demokrasi yang terjadi di Indonesia kini, akhirnya hanya
bisa dilihat sebagai demokrasi elitis, dimana kekuasaan terletak pada sirkulasi para elit.
Rakyat hanya sebagai pendukung, untuk memilih siapa dari kelompok elit yang sebaiknya
memerintah masyarakat.
Sejak merdeka, Indonesia telah mempraktekkan beberapa sistem politik pemerintahan
atas nama demokrasi, dari, oleh dan untuk rakyat.

a. Tahun 1945-1959; Demokrasi Parlementer, dengan ciri ;


Dominasi partai politik di DPR Kabinet silih berganti dalam waktu singkat
Demokrasi Parlementer ini berakhir dengan Dekrit Presiden 1959.
b. Tahun 1959-1965; Demokrasi Terpimpin, dengan ciri-ciri :
Dominasi presiden, yang membubarkan DPR hasil Pemilu 1955, menggantikannya
dengan DPR-GR yang diangkat oleh Presiden, juga diangkat presiden seumur hidup
oleh anggota parlemen yang diangkat presiden itu. Terbatasnya peran partai politik
Berkembangnya pengaruh komunis
Munculnya ideologi Nasional, Agama, Komunis (NASAKOM)
Meluasnya peranan militer sebagai unsur sosial politik
Demokrasi terpimpin berakhir dengan pemberontakan PKI September 1965.
c. Tahun 1965-1998; Demokrasi Pancasila; dengan ciri-ciri:
Demokrasi berketuhanan
Demokrasi yang berkemanusiaan yang adil dan beradab
Demokrasi bagi persatuan Indonesia
Demokrasi yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan
Demokrasi berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Kita tidak menafikan betapa indah susunan kata berkaitan dengan Demokrasi Pancasila,
tetapi pada tataran praksis sebagaimana yang kita lihat dan rasakan:
Mengabaikan eksistensi dan peran Tuhan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,
di mana tidak merasa dikontrol oleh Tuhan. Para pemimpin, terutama presiden tabu
untuk dikritik, apalagi dipersalahkan. Ini bermakna menempatkan dirinya dalam
posisi Tuhan yang selalu harus dimuliakan dan dilaksanakan segala titahnya serta
memegang kekuasaan yang absolut
Tidak manusiawi, tidak adil dan tidak beradab, dengan fakta eksistensi nyawa, darah,
harkat dan martabat manusia lebih rendah dari nilai-nilai kebendaan
Tidak ada keadilan hukum, ekonomi, politik dan penegakan HAM.
Pemilu rutin lima tahunan, tetapi sekedar ritual demokrasi. Dimana dalam prakteknya
diberlakukan sistem Kepartaian Hegemonik, yakni pemilu diikuti oleh beberapa partai
politik, tetapi yang harus dimenangkan, dengan menempuh berbagai cara, intimidasi,
teror, ancaman dan uang, hanya satu partai politik.
d. Tahun 1998- sekarang, orde reformasi dengan ciri-ciri enam agenda:
Amandemen UUD 1945
Penghapusan peran ganda (multifungsi) TNI
Penegakan supremasi hukum dengan indikator mengadili mantan Presiden Soeharto
atas kejahatan politik, ekonomi dan kejahatan atas kemanusiaan.
Melaksanakan otonomi daerah seluas-luasnya
Penegakan budaya demokrasi yang anti feodalisme dan kekerasan
Penolakan sisa-sisa Orde Lama dan Orde Baru dalam pemerintahan

4. Prinsip-prinsip demokrasi di Indonesia


Rakyat dapat secara bebas menyampaikan aspirasinya dalam kebijakan politik dan sosial.
Prinsip demokrasi dan prasyarat dari berdirinya negara demokrasi telah terakomodasi dalam
konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia.Prinsip-prinsip demokrasi, dapat ditinjau dari
pendapat Almadudi yang kemudian dikenal dengan "soko guru demokrasi". Menurutnya,
prinsip-prinsip demokrasi adalah:

Kedaulatan rakyat;
Pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah;
Kekuasaan mayoritas;
Hak-hak minoritas;
Jaminan hak asasi manusia;
Pemilihan yang bebas, adil dan jujur;
Persamaan di depan hukum;
Proses hukum yang wajar;
Pembatasan pemerintah secara konstitusional;
Pluralisme sosial, ekonomi, dan politik;
Nilai-nilai toleransi, pragmatisme, kerja sama, dan mufakat.

5. Permasalahan Demokrasi di Indonesia


Demokrasi dipandang sebagai sebagai sesuatu yang penting karena nilai-nilai yang
dikandungnya sangat diperlukan sebagai acuan untuk menata kehidupan berbangsa dan
bernegara yang baik. Demokrasi merupakan alat yang dapat digunakan untuk mewujudkan
kebaikan bersama, atau masyarakat dan pemerintahan yang baik (good society and good
government). Kebaikan dari sistem demokrasi adalah kekuasaan pemerintah berasal dari
rakyat, baik secara langsung maupun perwakilan. Secara teoritis, peluang terlaksananya
partisipasi politik dan partisipasi warga negara dari seluruh lapisan masyarakat terbuka lebar.
Masyarakat juga dapat melakukan kontrol sosial terhadap pelaksanaan pemerintahan karena
posisi masyarakat adalah sebagai pemegang kedaulatan tertinggi.
Namun dalam praktek atau pelaksanaan demokrasi khususnya di Indonesia, tidak berjalan
sesuai dengan teori yang ada. Demokrasi yang dilaksanakan di Indonesia belum mampu
mewujudkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Partisipasi warga negara dalam bidang
politik pun belum terlaksana sepenuhnya. Untuk memaparkan lebih lanjut, permasalahan
demokrasi yang ada perlu dikelompokkan lagi menjadi tiga hal, yaitu dari segi teknis atau
prosedur, etika politik, serta sistem demokrasi secara keseluruhan.
Pemilihan umum di Indonesia merupakan arena pertarungan aktor-aktor yang haus akan
popularitas dan kekuasaan. Sebagian besar petinggi pemerintahan di Indonesia adalah orangorang yang sangat pandai mengumbar janji untuk memikat hati rakyat. Menjelang pemilihan
umum, mereka akan mengucapkan berbagai janji mengenai tindakan-tindakan yang akan
mereka lakukan apabila terpilih dalam pemilu, mereka berjanji untuk mensejahterakan rakyat,

meringankan biaya pendidikan dan kesehatan, mengupayakan lapangan pekerjaan bagi


rakyat, dan sebagainya.Tidak hanya janji-janji yang mereka gunakan untuk mencari
popularitas di kalangan rakyat melalui tindakan money politics.
Perbuatan tersebut adalah perbuatan yang tidak bermoral dan melanggar etika politik. Hak
pilih yang merupakan hak asasi manusia tidak bisa dipaksakan oleh orang lain, namun
melalui money politics secara tidak langsung mereka mempengaruhi seseorang dalam
penggunaan hak pilihnya. Selain itu, perbuatan para calon petinggi pemerintahan tersebut
juga melanggar prinsip pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.
Tindakan mempengaruhi hak pilih seseorang merupakan perbuatan yang tidak jujur, karena
jika rakyat yang dipengaruhi tersebut mau memilihnya pun hanya atas dasar penilaian yang
subyektif, tanpa memandang kemampuan yang dimiliki oleh calon tersebut. Tindakan ini
juga merupakan persaingan yang tidak sehat dan tidak adil bagi calon lain yang menjadi
pesaingnya.
Tidak hanya korupsi, sikap atau perilaku keseharian para wakil rakyat tersebut juga tidak
menunjukkan etika politik yang baik sebagai seseorang yang seharusnya mengayomi dan
menjadi penyambung lidah rakyat demi mencapai kesejahteraan rakyat. Mereka kehilangan
semangat dan tekad untuk membela rakyat yang bertujuan pada tercapainya kesejahteraan
rakyat, yang mereka ungkapkan ketika masih menjadi calon wakil rakyat. Mereka kehilangan
jatidiri sebagai seorang pemimpin dan justru menyalahgunakan kepercayaan rakyat terhadap
mereka demi kepentingan pribadi dan kelompok. Terbukti banyak anggota DPR yang
menginginkan gaji tinggi, adanya berbagai fasilitas dan sarana yang mewah yang semuanya
itu menghabiskan dana dari rakyat, dalam jumlah yang tidak sedikit. Hal ini tidak sebanding
dengan apa yang telah mereka lakukan, bahkan untuk sekedar rapat saja mereka tidak
menghadiri dan hanya titip absen, atau mungkin hadir namun tidak berpartisipasi aktif dalam
rapat tersebut. Sering diberitakan ada wakil rakyat yang tidur ketika rapat berlangsung.
Selain itu, partai politik telah beralih fungsi dari lembaga demokrasi menjadi lembaga yang
yang mirip dengan perusahaan, dengan tujuan memperoleh keuntungan. Terbukti dengan
keterlibatan partai politik dalam berbagai kasus korupsi, transaksi-transaksi politik dalam
pemilihan daerah, serta money politics. Partai politik juga menjadi rumah bagi orang-orang
tertentu yang mengejar popularitas dan kekuasaan, serta untuk menguasai sumber daya alam
tertentu. Komersialisasi partai politik ini juga terlihat dalam kaderisasinya, dimana banyak
anggota partai politik yang direkrut adalah pengusaha-pengusaha, yang sebenarnya hanya
dijadikan tunggangan agar partai politik tersebut dapat dengan mudah memperoleh dana,
misalnya dari adanya proyek-proyek.

BAB III PENUTUP


1. Kesimpulan
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang semua warga negaranya memiliki hak
setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi
mengizinkan warga negara berpartisipasi baik secara langsung atau melalui perwakilan
dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum. Demokrasi mencakup kondisi
sosial, ekonomi, dan budaya yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik
secara bebas dan setara. Di Indonesia demokrasi telah dimulai saat pemerintahan
soekarno tetapi hanya bersifat sementara, setelah itu demokrasi dimulai kembali saat
dibawah kepemimpinan soeharto tetapi demokrasi terbatas, hanya orang orang tertentu
yang bisa melaksanakannya karena jika terlalu bebas dapat menghancurkan pemerintahan
saat itu sedangkan rakyat belum memiliki pendidikan tentang demokrasi yang luas
sehingga sangat rentan terhadap intervensi dari pihak yang tidak bertanggung jawab.

2. Saran
Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang sangat baik dan cocok sekali untuk di
Negara kepulauan seperti di Indonesia tetapi demokrasi di Indonesia hanya bisa dinikmati
kelompok kelompok tertentu dan sering disalahgunakan. Demokrasi di Indonesia saling
tumpang tindih satu sama lain dan tidak punya keadilan serta sering kali keblablasan. Di
Indonesia diperlukan pendidikan demokrasi dan politik sampai ke daerah daerah supaya
rakyat tidak masyarakat kelas menengah kebawah tidak gampang terprovokasi dan dapat
mendukung pemerintahan.
Didalam tulisan ini tentunya banyak sekali kekurangan dan bahkan kesalahan, saya
berharap pembaca dapat mengoreksi serta memberi kritik dan saran yang membangun
untuk perbaikan dimasa yang akan datang, terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA DAN REFERENSI


Nurdiaman, "Pendidikan Kewarganegaraan: Kecakapan Berbangsa dan Bernegara",
PT Grafindo Media Pratama.

Aim Abdulkarim, "Pendidikan Kewarganegaraan: Membangun Warga Negara yang


Demokratis", PT Grafindo Media Pratama.

Pendidikan Kewarganegaraan", Yudhistira Ghalia Indonesia.

Lemhanas, 2000, pendidikan kewarganegaraa, Jakarta.

Budiardjo, Miriam, 1991, dasar dasar ilmu politik, Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.

http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi.

https://sakauhendro.wordpress.com/demokrasi-dan-politik/pengertian-demokrasi/