Anda di halaman 1dari 10

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN DISPEPSIA

DI SUSUN OLEH: MOH IRFAN ABDUL GANI., S.Kep, Ns


NITK: 19860910 201208 1 01K

INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD)


RUMAH SAKIT GIGI DAM MULUT PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO
2014
ASKEP DISPEPSIA
A; Definisi

Asuhan keperawatan pasien dengan dispepsiaPage 1

Dispepsia atau indigesti merupakan istilah yang sering digunakan untuk menjelaskan
gejala yang umumnya dirasakan sebagai gangguan perut bagian atas (Harrison, 1999).
Tjokronegoro (2001) menerangkan dispepsia merupakan kumpulan gejala atau sindrom
yang terdiri dari nyeri ulu hati, mual, kembung, muntah, rasa penuh, atau cepat kenyang
dan sendawa, dyspepsia sering ditemukan pada orang dewasa.
Dispepsi merupakan masalah yang sering ditemukan dan keluhannya sangat beragam.
Dispepsia merupakan salah satu gangguan pencernaan yang paling banyak diderita yang
menunjukkan rasa nyeri pada bagian atas perut (Almatsier, 2004), dapat disimpulkan
bahwa dispepsia merupakan gangguan pencernaan yang ditandai dengan banyak gejala
dari nyeri ulu hati, mual, kembung, muntah, rasa penuh, atau cepat kenyang dan sendawa.
B; Klasifikasi

Jenis dispepsia:
a; Dispepsia fungsional adalah dispepsia yang terjadi tanpa adanya kelainan organ
lambung, baik dari pemeriksaan klinis, biokimiawi hingga pemeriksaan penunjang
lainnya, seperti USG, Endoskopi, Rontgen hingga CT Scan.
Dispepsia fungsional berhubungan dengan ketidaknormalan pergerakan (motilitas) dari
saluran pencernaan bagian atas (kerongkongan, lambung dan usus halus bagian atas).
Selain itu, bisa juga dispepsia jenis itu terjadi akibat gangguan irama listrik dari
lambung. Sebab lain bisa juga karena infeksi bakteri lambung Helicobacter pylori.
b; Dispepsia organik adalah dispepsia yang disebabkan adanya kelainan struktur organ
percernaan(perlukaan, kanker)

Tabel : perbedaan antara dispepsia fungsional dan organik


Dispepsia organik
Dispepsia fungsional
Ulkus peptic kronik (ulkus fentrikulus,
gastroparesis idiopatik
ulkus Duodeni)
disfungsi sensorik-motorik
Gastro-oesophageal refluk Disease dengandisritmia gaster
atau tanpa Esofangitis
hipersensitivitas gaster atau duodenum
OAINA, Aspirin
faktor psikososial
Asuhan keperawatan pasien dengan dispepsiaPage 2

Kolelitasis simtomatik
Pankreatitis kronik
Gangguan metabolic
Keganasan (gaster, kolon Pancreas)
Insufisiensi vascular mesentrikus
Nyeri dinding perut

gastristis Hp
idiopatik

C; Patofisiologi

Djojodiningrat (2007) menjelaskan proses patofisiologi yang berhungan dengan


dispepsia fungsional adalah hipersekresi asam lambung, infeksi Helicobakter pylori,
dismotilitas gastrointestinal, dan hipersensittivitas visceral.
1; Sekresi asam lambung
Kasus dispepsia fungsional, umumnya mempunya tingkat sekresi asam lambung,
baik sekresi basal atau dengan stimulasi pentagastrin yang rata-rata normal.
Terjadinya peningkatan sensitivitas mukosa lambung terhadap asam yang
menimbulkan rasa tidak enak di perut. Pankreas
2; Helicobacter pylori (Hp)
Infeksi Hp dapa dispepsia fungsional belum sepenuhnya diterima. Hp pada
sispepsia fungsional sekitar 50% dan tidak berbeda bermakna dengan angka
kekerapan Hp pada kelompok sehat.
3; Dismotilitas gastrointestinal
Dispepsia fungsional terjadi perlambatan pengosongan lambung dan adanya
hipomotilitas antrum sampai 50% kasus, harus dimengerti bahwa proses motilitas
gastrointestinal merupakan proses yang sangat kompleks, sehingga gangguan
pengosongan lambung tidak dapat mutlak menjadi penyebab dispepsia.

4; Ambang rangsang persepsi

Dispepsia memiliki hipersensitivitas visceral terhadap distensi balon di gaster


atau duodenum. Mekanisme lebih lanjut belum diketahui. Penelitian menggunakan
balon intragastrik mendapatkan hasil 50% populasi dengan dispepsia fungsional
timbul rasa nyeri atau tidak nyaman di perut pada inflansi balon dengan volume yang
lebih rendah dibandingkan dengan volume yang menimbulkan nyeri pada populasi
kontrol.
D; Pathways
Asuhan keperawatan pasien dengan dispepsiaPage 3

Dispepsia

Dispepsia
organik

Dispepsia
funsional

stress

Kopi dan alkohol

Respon mukosa
lambung

Perangsangan syaraf
simpatis nervus vagus

Peningkatan produksi
HCL di lambung
mual

Vasodilatasi
mukosa gaster

Ekspeliasi
(pengelupasan)

HCL kontak dengan


mukosa gaster

muntah

Kekurangan cairan b.d


kehilangan cairan aktif

Nyeri

Nyeri epigastrium b.d


iritasi pada mukosa
lambung
E; Etiologi

Djojodiningrat (2007) menyebutkan penyebab dyspepsia.


1; Esofago-gastro-duodenal tukak peptic, gastristis kronik, gastristis NSAID, keganasan
2; Obat-obatan antiinflamasi nonsteroid, antibiotic, digitalis
3; Hepato-billier hepatitis, kolesistisis, kolelitiasis, disfungsi sfingter odii
4; Pancreas pankreatitis
5; Penyakitt sistemik lain DM, penyakit tiroid, gagal ginjal, penyakit jantung
6; Gangguan fungsional dispepsia fungsional, iritabel bowel syndrome
F; Manifestasi klinis
Asuhan keperawatan pasien dengan dispepsiaPage 4

Mansjoer (2001) dalam bukunya membagi klasifikasi klinis secara praktis, didasarkan
atas gejala yang dominan, membagi dispepsia menjadi tiga tipe:
1; Dispepsia dengan keluhan seperti ulkus (ulkus-like dispepsia), dengan gejala:
a; Nyeri epigastrium terlokalisasi
b; Nyeri hilang setelah makan
c; Nyeri saat lapar
d; Nyeri episodik
2; Dispepsia dengan gejala dismotilitas (dysmotility-like dispepsia),dengan gejala:
a; Mudah kenyang
b; Perut cepat terasa penuh saat makan
c; Mual
d; Muntah
e; Upper abdominal bloating
f; Rasa tak nyaman bertambah saat makan
3; Dispepsia nonspesifik

G; Penatalaksanaan

Pasien dispepsia dalam melakukan pengobatan dengan menggunakan modifikasi pola


hidup dengan melakukan program diet yang ditujukan untuk kasus dispepsia fungsional
agar menghindari makanan yang dirasa sebagai faktor pencetus. Pola diet yang dapat
dilakukan seperti makan dengan porsi kecil tetapi sering, makan rendah lemak, kurangi
atau hindari minuma-minuman spesifik seperti: kopi, alcohol dll, kurangi dan hindari
makanan yang pedas. Terapi medikamentosa untuk kasus dispepsia hingga sekarang belum
terdapat regimen pengobatan yang memuaskan terutama dalam mengantisipasi

Asuhan keperawatan pasien dengan dispepsiaPage 5

kekambuhan (Tjokronegoro, 2001). Mansjoer (2001) menerangkan pengobatan pada


dispepsia mengenal beberapa golongan obat, yaitu:
1; Antacid 20-150 ml/hari
Antacid berfungsi untuk menetralkan asam lambung. Pemakaian antacid tidak
dinajurkan secara terus-menerus, sifatnya hanya simtomatis untuk mengurangi rasa nyeri.
Penggunaan dosis besar dapat menyebabkan diare.
2; Antikolinergik
Kerja antikolinergik tidak sepesifik. Obat yang bekerja sepesifik adalah pirenzepin
untuk menekan sekresi asam lambung.
3; Antagonis reseptor H2
Obat ini banyak digunakan untuk mengatasi dispepsia organic. Obat tergolong
antagonis reseptor H2 adalah; simetidin, roksatidin, ranitidine dan famotidine.
4; Penghambat pompa asam
Golongan obat ini menghambat sekresi asam lambungpada stadium akhir dari proses
sekresi asam lambung. Obat termasuk dalam golongan penghambat asam adalah;
omeperazol, lansoprazol dan pantoprazole.
5; Sitroprotetif
Prostaglandin sintetik seperti misoprosol dan eprostil, selain bersifat sitoprotektif juga
dapat menekan sekresi asam lambung oleh sel parietal. 18
6; Golongan prokinetik
Obat yang termasuk golongan prokinetik; sisaprid, domperidon dan metoklopramid.
Obat golongan ini efektif untuk mengobati dispepsia fungsional dan refluks esofangitis
dengan mencegah refluks dan memperbaiki bersihan asam lambung.

H; Pemeriksaan penunjang
1; Laboratorium:

lebih banyak di tekankan untuk menyingkirkan penyebab


organik lainnya seperti pankreatitis kronis, diabetes mellitus, dan lainnya. Pada
dyspepsiahasil laboratorium biasanya dalam batas normalb)
2; Pemeriksaan radiologi, yaitu: OMG dengan kontras ganda, serologi helicobacterbakteri, urea breath
test (belum tersedia di Indonesia)
3; Endoskopi merupakan pemeriksaan buku emas selain sebagai diagnostik sekaligusterapeutik.
Pemeriksaan yang dapat di lakukan dengan endoskopi, yaitu:
a; CLO (Rapid Urea test)
b; Patologi Anatomi Kultur
Asuhan keperawatan pasien dengan dispepsiaPage 6

c; Mikroorganisme (MO) jaringan


d; PCR (Polymerase Chain Reaction) hanya dalam rangka penelitian saja
I; DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun
potensial

berdasarkan

data

yang

telah

dikumpulkan

(Boedihartono,

1994).

Diagnosa keperawatan pada pasien dengan Diabetes mellitus (Doenges, 1999) adalah :
1; Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif (mual, muntah)
2; Gangguan rasa nyaman nyeri b.d iritasi pada mukosa lambung
A; INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI

NO
1

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Defisit Volume Cairan


NOC:
NIC :
Berhubungan dengan:
Fluid balance
Pertahankan catatan intake
; - Kehilangan volume cairan Hydration
dan
Nutritional Status : Food output yang akurat
secara aktif
and Fluid Intake
Monitor status hidrasi
; - Kegagalan mekanisme
Setelah dilakukan tindakan ( kelembaban
pengaturan
keperawatan selama..
membran mukosa, nadi
; DS :
defisit volume cairan
adekuat,
- Haus
teratasi
dengan
kriteria
tekanan darah ortostatik ),
; DO:
hasil:
jika
- Penurunan turgor
Mempertahankan urine diperlukan
kulit/lidah
Monitor hasil lab yang
- Membran mukosa/kulit output sesuai dengan
usia dan BB, BJ urine
sesuai
kering
normal,
dengan retensi cairan (BUN
- - Peningkatan denyut
Tekanan darah, nadi,
, Hmt ,
nadi,
suhu
tubuh
dalam
batas
osmolalitas urin, albumin,
- penurunan tekanan
normal
total
darah,

Tidak
ada
tanda
tanda
protein )
- penurunan
dehidrasi,
Elastisitas
Monitor vital sign setiap
- volume/tekanan nadi
turgor kulit baik,
15menit 1
- - Pengisian vena
membran
mukosa
jam
menurun
lembab, tidak ada rasa
Kolaborasi pemberian
- - Perubahan status
haus
yang
berlebihan
cairan IV
mental
Orientasi terhadap
Monitor status nutrisi
- - Konsentrasi urine
waktu
dan
tempat
baik
Berikan cairan oral
- meningkat
Jumlah dan
Berikan penggantian
- - Temperatur tubuh
iramapernapasan
dalam
nasogatrik
- meningkat
batas normal
sesuai output (50
- - Kehilangan berat

Elektrolit,
Hb,
Hmt
100cc/jam)
badan

Asuhan keperawatan pasien dengan dispepsiaPage 7

secara tiba-tiba
- Penurunan urine
output
- HMT meningkat
- Kelemahan

dalam batas normal


pH urin dalam batas
normal
Intake oral dan
intravena adekuat
;

Nyeri akut berhubungan


dengan:
Agen injuri (biologi, kimia,
fisik, psikologis), kerusakan
jaringan
DS:
- Laporan secara verbal
DO:
- Posisi untuk menahan nyeri
- Tingkah laku berhati-hati
- Gangguan tidur (mata sayu,
tampak capek, sulit atau
gerakan kacau,
menyeringai)
- Terfokus pada diri sendiri
- Fokus menyempit
(penurunan persepsi waktu,
kerusakan proses berpikir,
penurunan interaksi dengan
orang dan lingkungan)
- Tingkah laku distraksi,
contoh : jalan-jalan,
menemui orang lain
dan/atau aktivitas, aktivitas
berulang-ulang)
- Respon autonom (seperti
diaphoresis, perubahan
tekanan darah, perubahan
nafas, nadi dan dilatasi
pupil)
- Perubahan autonomic
dalam tonus otot (mungkin
dalam rentang dari lemah
ke kaku)
- Tingkah laku ekspresif

Dorong keluarga untuk


membantu
pasien makan
Kolaborasi dokter jika
tanda cairan
berlebih muncul meburuk
Atur kemungkinan
tranfusi
Persiapan untuk tranfusi
Pasang kateter jika perlu
Monitor intake dan urin
output
setiap 8 jam

NOC :
NIC :
Pain Level,
Lakukan pengkajian
pain control,
nyeri secara
comfort level
komprehensif termasuk
Setelah dilakukan tinfakan lokasi,
keperawatan selama .
karakteristik, durasi,
Pasien tidak mengalami
frekuensi, kualitas
nyeri, dengan kriteria hasil: dan faktor presipitasi
Mampu mengontrol nyeri Observasi reaksi
(tahu penyebab nyeri,
nonverbal dari
mampu menggunakan
ketidaknyamanan
tehnik nonfarmakologi
Bantu pasien dan
untuk mengurangi nyeri, keluarga untuk mencari
mencari bantuan)
dan menemukan dukungan
Melaporkan bahwa nyeri Kontrol lingkungan
berkurang dengan
yang dapat
menggunakan
mempengaruhi nyeri seperti
manajemen nyeri
suhu ruangan,
Mampu mengenali nyeri pencahayaan dan
(skala, intensitas,
kebisingan
frekuensi dan tanda nyeri) Kurangi faktor
Menyatakan rasa nyaman presipitasi nyeri
setelah nyeri berkurang
Kaji tipe dan sumber
Tanda vital dalam rentang nyeri untuk
normal
menentukan intervensi
Tidak mengalami
Ajarkan tentang teknik
gangguan tidur
non farmakologi:
napas dala, relaksasi,
distraksi, kompres
hangat/ dingin
Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri:
...
Tingkatkan istirahat
Berikan informasi

Asuhan keperawatan pasien dengan dispepsiaPage 8

(contoh : gelisah, merintih,


menangis, waspada,
iritabel, nafas
panjang/berkeluh kesah)
- Perubahan dalam nafsu
makan dan minum

tentang nyeri seperti


penyebab nyeri, berapa
lama nyeri akan
berkurang dan antisipasi
ketidaknyamanan
dari prosedur
Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
pertama kali

DAFTAR PUSTAKA
1; Wilkinson, Judith.M, 2006, Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan
Kriteria Hasil Noc, EGC, Jakarta..
2; Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian pasien, ed.3. EGC : Jakarta.
3; Effendy, Nasrul. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. EGC : Jakarta.FKUI. 2001. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid.II Ed.3. FKUI : Jakarta.
4; Carpenito, L.J, 2000, Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8, Alih Bahasa Ester M, EGC,
Jakarta.
5; Corwin, E.J, 2000, Patofisiologi, Alih Bahasa Brahm U, Pandit EGC, Jakarta.
6; file:///D:/IGD/Asuhan%20Keperawatan%20Klien%20dg%20DISPEPSIA.htm diakses
tanggal 22 Maret 2014 pukul 22:00 WIB
7; http://askep-poltekesjyp.blogspot.com/2012/12/askep-dispepsia_29.html ,
tanggal 22 Maret 2014 pukul 22:00 WIB

Asuhan keperawatan pasien dengan dispepsiaPage 9

diakses

8; http://keperawatan-gun.blogspot.com/2008/11/asuhan-keperawatan-klien-dgdispepsia.html diakses tanggal 22 Maret 2014 pukul 22:00 WIB

9; http://www.pantirapih.or.id/index.php/artikel/umum/145-dispepsia diakses tanggal


22 Maret 2014 pukul 22:00 WIB

Asuhan keperawatan pasien dengan dispepsiaPage 10