Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmatnya kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Sholawat serta salam saya curahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW beserta
kelauargnya.
Sadar akan kekurangan dan keterbatasan yang saya miliki, kami mohon maaf
jika ada penulisan yang kurang berkenan dihati para pembaca yang membaca isi dari
makalah kami ini. Saran dan kritik sangat kami harapkan untuk meningkatkan bobot
dari makalah ini agar isi dari makalah ini dapat bernilai lebih baik lagi dan
bermanfaat buat kita semuanya. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Belitang, Desember 2015

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................

KATA PENGANTAR.......................................................................................

ii

DAFTAR ISI.....................................................................................................

iii

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...........................................................................
B. Rumusan Masalah......................................................................
C. Tujuan ........................................................................................

BAB II

1
1
1

PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Pengertian Ilmu Kalam...............................................................


2
Aliran - Aliran Ilmu Kalam........................................................
4
Pengertian Tasawuf....................................................................
6
Pengertian akhlak mahmudah (terpuji)......................................
7
Pengertian akhlak mazmumah (tercela).....................................
8
Pengertian imu tauhid.................................................................
9
Pengertian asmaul husna............................................................ 11

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ...............................................................................
B. Saran ..........................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

............................................17

16
16

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Aqidah ilmu kalam sebagaimana diketahui, membahas ajaran-ajaran dasar
dari suatu agama. Setiap orang yang ingin menyelami seluk-beluk agamanya secara
mendalam, perlu mempelajari akidah yang terdapat dalam agamanya. Mempelajari
akidah/teologi akan memberi seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada
landasan yang kuat , yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh peredaran zaman.
Teologi dalam Islam disebut juga ilmu At-Tauhid. Kata Tauhid mengandung
arti satu/esa dan keEsaan dalam pandangan Islam merupakan sifat yang terpenting
diantara sifat-sifat Tuhan. Teologi Islam disebut juga ilmu kalam.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari ilmu kalam ?
2. Apa pengertian dari tauhid ?
3. Apa yang dimaksud dengan Asmaul Husna ?
4. Apa pengertian dari tasawaf?
5. Apa pengertian dari tprilaku terpuji?

C.
1.
2.
3.
4.
5.

Tujuan
Untuk mengetahui pengertian dari ilmu kalam ?
Untuk mengetahui apa pengertian dari tauhid ?
Untuk mengetahui apa pengertian Asmaul Husna ?
Untuk mengetahui pengertia tasawaf ?
Untuk mengetahui prilaku terpuji?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ilmu Kalam


Ilmu Kalam adalah suatu ilmu yang membahas tentang akidah dengan dalildalil aqliyah (rasional ilmiah) dan sebagai tameng terhadap segala tantangan dari para
penentang.
Abu Hanifah menyebut nama ilmu ini dengan fiqh al-akbar.Menurut
persepsinya, hukum islam yang dikenal dengan istilah fiqh terbagi atas dua bagian.
Pertama,fiqh al-akbar, membahas keyakinan atau pokok-pokok agama atau ilmu
tauhid. Kedua, fiqh al-ashghar, membahas hal-hal yang berkaitan dengan masalah
muamalah, bukan pokok-pokok agama, tetapi hanya cabang saja. Al-Farabi
mendefinisikan Ilmu Kalam sebagai disiplin ilmu yang membahas Dzat dan Sifat
Allah beserta eksistensi semua yang mungkin, mulai yang berkenaan dengan masalah
setelah kematian yang berlandaskan doktrin Islam. Penekanan akhirnya adalah
menghasilkan ilmu ketuhanan secara filosofis.
Adapun yang melatarbelakangi mengapa ilmuini dinamakan Ilmu Kalam adalah :
1.

Permasalahan terpenting yang menjadi tema perbincangan pada masa permulaan


Islam adalah masalah firman Allah ( Kalam Allah ), yaitu al-Quran. Apakah
Kalamullah tersebut qadim atau hadits ( baru )? Walaupun permasalahan ini hanya
merupakan salah satu bagian dari pembahasan ilmu ketuhanan dalam Islam, namun

karena ia menjadi bagian terpenting maka ilmu ini dinamai Ilmu Kalam.
2. Dalam membahas masalah-masalah ketuhanan, para mutakallim ( ahli Ilmu Kalam )
menggunakan dalil-dalil aqliyah dan dampaknya tercermin pada keahlian meraka
dalam berargumentasi dengan mengolah kata-kata. Dengan demikian, mutakallim
diartikan juga dengan ahli debat yang pintar memakai kata-kata.
3. Secara harfiah, kata kalam berarti pembicaraan. Tetapi secara istilah, kalam
tidaklah dimaksudkan pembicaraan dalam pengertian sehari-hari, melainkan dalam
pengertian pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan logika. Maka ciri utama
Ilmu Kalasm ialah rasionalitas atau logika .
1. Sumber-Sumber Ilmu Kalam
1. Al-Quran
2. Hadist
3. Pemikiran Manusia
4. Insting
2. Sejarah Kemunculan Persoalan-Persoalan Ilmu Kalam
Sejarah dalam pendeklarasian ilmu kalam tidak luput dari sejarah perpecahan
prinsip teologi umat islam yang masih ketika itu dipicu persoalan politik dan

kedangkalan ukhuwah dalam prilaku perebutan singgasana kekuasaan,bermula dari


Peristiwa wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tanggal 8 juni 632 M melahirkan
suatu perjuangan keagamaan dan politik dalam masyarkat islam sehingga
mengakibatkan timbulnya perpecahan di kalangan umat islam. Perpecahan ini mulai
memanas sejak Khalifah Utsman bin Affan mengambil kebijakan mengangkat
anggota keluarganya untuk menduduki posisi dalam struktur politik dan jabatan
penting, sehingga sebagian besar masyarakat islam tidak senang dengan kebijakan
tersebut. Puncaknya adalah saat Khalifah Utsman bin Affan terbunuh saat sedang
membaca Al-Quran dirumahnya.
3 Ruang Lingkup Aqidah Ilmu Kalam
Masalah yang dibahas dalam aqidah ilmu kalam adalah mempercayai adanya
Allah, Malaikat, Kitab-kitab Allah, Nabi dan Rasul Allah, hari kiyamat,Qadha dan
Qadar, Akhirat, akal dan wahyu, surga , neraka, dosa besar, dan masalah iman dan
kafir. yang diperkuat dengan-dengan dalil-dalil rasional agar terhindar dari aqidahaqidah yang menyimpang.
Harun lebih lanjut mengatakan bahwa persoalan kalam yang pertama kali
muncul adalah persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir. Dalam arti
siapa yang telah keluar dari Islam dan siapa yang masih tetap dalam Islam. Khawarij
sebagaimana yang telah disebutkan, memandang bahwa orang-orang yang terlibat
dalam peristiwa tahkim yakni Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, Abu Musa Al-Asyari
adalah kafir berdasarkan firman Allah surat Al-Maidah ayat 44.
Persoalan ini telah menimbulkan tiga alioran teologi dalam Islam yaitu:
1) Aliran Khawarij, menegaskan bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir, dalam
arti telah keluar dari Islam atau tegasnya murtad dan wajib dibunuh.
2) Aliran Murjiah, menegaskan bahwa orang yang berdosa besar masih tetap mukmin
dan bukan kafir. Adapun soal dosa yang dilakukannya, hal itu terserah kepada Allah
untuk mengampuni atau menghukumnya.
3) Aliran Mutazilah , yang tidak menerima pendapat kedua diatas.
Pengertian Aqidah Ilmu kalam adalah artinya ilmu yang mempelajari
ikatan/keyakinan seseorang tentang masalah ketuhanan dengan menggunakan dalildalil fikiran dan disertai alasan-alasan yang rasional. Nama-nama ilmu kalam yaitu
ilmu ushuluddin, ilmu tauhid, fiqh al-akbar dan teologi Islam. dan Ruang lingkupnya
adalah tentang mengesakan tuhan yang diperkuat dengan-dengan dalil-dalil rasional
agar terhindar dari aqiah-aqidah yang menyimpan.
B. Aliran - Aliran Ilmu Kalam
1. Aliran Khawarij
Khawarij ini merupakan suatu aliran dalam kalam yang bermula dari sebuah
kekuatan politik. Dikatakan khawarij (orang-orang yang keluar) karena mereka keluar

dari barisan pasukan Ali saat mereka pulang dari perang Siffin, yang dimenangkan
oleh Muawiyah melalui tipu daya perdamaian. Gerakan exodus itu, mereka lakukan
karena tidak puas dengan sikap Ali menghentikan peperangan, padahal mereka
hampir memperoleh kemenangan. Sikap Ali menghentikan peperangan tersebut,
menurut mereka, merupakan suatu kesalahan besar karena Muawiyah adalah
pembangkang, sama halnya dengan Thalhah dan Zutair. Oleh sebab itu tidak perlu
ada perundingan lagi dengan mereka. dan Ali semestinya meneruskan peperangan
sampai para pembangkang itu hancur dan tunduk.
Kemudian orang-orang Khawarij mulai mengafirkan siapa saja yang dianggap
melakukan kesalahan, seperti Utsman bin Affan yang melakukan kesalahan karena
mengubah sistem politiknya sehingga menimbulkan huru-hara. Kemudian Thalhah.
Zubair dan Muawiyah yang melakukan pembangkangan terhadap Ali bin Abi Thalih
sebagai khalifah yang sah. Dan Ali bin Abi Thalib sendiri yang melakukan kesalahan
karena menghentikan pertempuran dalam perang Siffin, ketika menaklukkan
muawiyah yang tidak mau baiat kepadanya.
2. Aliran Murjiah
Sejak terjadinya ketegangan politik di akhir pemerintahan Utsman bin Affan,
ada sejumlah sahabat nabi yang tidak mau ikut campur dalam perselisihan politik.
Ketika selanjutnya terjadi salah menyalahkan antara pihak pendukung Ali dengan
pihak penuntut bela kematian Utsman bin Affan, maka mereka bersikap irja yakni
menunda putusan tentang siapa yang bersalah. Menurut mereka, biarlah Allah saja
nanti di hari akhirat yang memutuskan siapa yang bersalah di antara mereka yang
tengah berselisih ini.
Selanjutnya mereka kaum khawarij berpendapat bahwa mukmin yang
melakukan dosa besar itu menjadi kafir dan kelak akan kekal dalam neraka, maka
Kaum Murjiah berpendapat bahwa mukmin yang melakukan dosa besar tersebut
masih tetap mukmin, yaitu mukmin yang berdosa tidak berubah menjadi kafir. Lalu
apakah mereka akan masuk ke dalam neraka atau surga, atau masuk neraka terlebih
dahulu baru kemudian ke dalam surga, ditunda sampai ada putusan akhir dari Allah.
Disamping itu, khusus bagi para pelaku dosa besar, mereka juga berharap agar
mereka mau bertaubat, dan berharap pula agar taubatnya diterima di sisi Allah SWT.
.
3. Aliran Syiah
Syiah dilihat dari segi bahasa berarti pengikut, pendukung, partai, atau
kelompok, sedangkan secara istilah adalah sebagian kaum muslimin yang dalam
bidang spiritual dan keagamaan selalu merujuk kepada keturunan Nabi Muhammad
saw.
Syiah adalah golongan yang menyanjung dan memuji Sayyidina Ali secara
berlebih-lebihan. Karena mereka beranggapan bahwa Ali yang lebih berhak menjadi
khalifah pengganti Nabi Muhammad SAW, berdasarkan wasiatnya. Sedangkan
khalifah-khalifah seperti Abu Bakar As Shiddiq, Umar Bin Khattab dan Utsman Bin
Affan dianggap sebagai penggasab atau perampas khilafah.
4. Aliran Jabariyah
Nama Jabriyah Berasal dri kata jabara yang mengandung arti
Memaksa. sedangkan menurut al-Syahrastani bahwa jabariyah
berarti menghilangkan perbuatan dri hamba secara hakikat dan
menyandarkan perbuatan tersebut kepada Allah SWT. Dalam istilah
Inggris paham jabariyah disebut fatalism atau predestination, yaitu
paham yang menyatakan bahwa perbuatan manusia ditentukan
sejak semula oleh qada dan qadar Tuhan. Dengan demikian posisi

manusia dalam paham ini tidak memiliki kebebasan dan inisiatif


sendiri, tetapi terikat pada kehendak mutlak Tuhan. Oleh karena itu
aliran Jabariyah ini menganut paham bahwa manusia tidak
mempunyai kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan
perbuatannya. Manusia dalam paham ini betul melakukan
perbuatan, tetapi perbuatannya itu dalam keadaan terpaksa.
5. Aliran Qadariyah
Qadariyah berasal dari bahasa arab, yaitu qadara yang artinya kemampuan dan
kekuatan. Adapun menurut pengertian terminologi, qadariyah adalah suatu aliran
yang percaya bahwa segala tindakan manusia diintervensi dari Tuhan. Aliran
berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta baagi segala mperbuatannyan; ia
dapat berbuat sesuatu atau meninggalkan atas kehendaknya sendiri. Dalam hal ini,
Harun Nasution menegaskqan bahwa kaum qadariyah berasal dari pengertian bahwa
manusia mempunyai qudrahatau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan
bukan berasdal dari pengewrtian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan.
Seharusnya, sebutan qadariyah di berikan kepdada aliran yang berpendapat
bahwa qadar menetukan segala tingkah laku manusia, baik yang bagus maupinyang
jahat. Qadariyah pertama sekali di munculkan oleh Mabad Al-Jauhani dan ghailan
Ad-Dimasyqy. Mabad adalah seorang tabiI yang dapat di percaya dan pernah
berguru pada Hasan Al-Basri. Adapun ghailan adalah serorang orator berasal dari
Damaskus dan ayahnya menjadi maula Husna bin affan.
6. Aliran Maturidiyah
Aliran Maturidiyah didirikan oleh Muhammad bin Abu Mansur. Ia dilahirkan di
Maturid, sebuah kota kecil di daerah Samarqand (termasuk daerah Uzbekistan). AlMaturidy mendasarkan pikiran-pikiran dalam soal-soal kepercayaan kepada pikiranpikiran Imam Abu Hanifah yang tercantum dalam kitabnya Al-fiqh Al-Akbar dan Alfiqh Al-Absath dan memberikan ulasan-ulasannya terhadap kedua kitab-kitab
tersebut. Al-Maturidy meninggalkan karangan-karangan yang banyak dan sebagian
besar dalam lapangan ilmu tauhid.
7. Aliran Asyariyah
Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap paham Muktazillah yang dianggap
menyeleweng dan menyesatkan umat Islam. Dinamakan aliran Asyariyah karena
dinisbahkan kepada pendirinya, yaitu Abu Hasan al-Asyari. Dan nama aslinya adalah
Abu al-hasan Ali bin Ismail al-Asyari, dilahirkan dikota Basrah (Irak) pada tahun
260 H/873 M dan wafat pada tahun 324 H/ 935 M, keturunan Abu Musa al-Asyari
seorang sahabat dan perantara dalam sengketa antara Ali r.a. dan Muawiyah r.a.
Setelah keluar dari kelompok Muktazillah, al-Asyari merumuskan pokokpokok ajarannya yang berjumlah tujuh pokok. Berikut ini adalah tujuh pokok ajaran
aliran Asariyah:
a. Tentang Sifat Allah
Menurutnya, Allah mempunyai sifat, seperti al-Ilm (mengetahui), al-Qudrah (kuasa),
al-Hayah (hidup), as-Sama (mendengar), dan al-Basar (melihat).
b. Tentang Kedudukan Al-Quran
Al-Quran adalah firman Allah dan bukan makhluk dalam arti baru dan diciptakan.
Dengan demikian, Al-Quran bersifat qadim (tidak baru).
c. Tentang melihat Allah Di Akhirat
Allah dapat dilihat di akhirat dengan mata kepala karena Allah mempunyai wujud.
8. Aliran Muktazilah
Aliran ini muncul sebagai reaksi atas pertentangan antar aliran Khawarij dan
aliran Murjiah mengenai persoalan orang mukmin yang berdosa besar. Menghadapi
dua pendapat ini, Wasil bin Ata yang ketika itu menjadi murid Hasan al-Basri,
5

seorang ulama terkenal di Basra, mendahuli gurunya dalam mengeluarkan pendapat.


Wasil mengatakan bahwa orang mukmin yang berdosa besar menempati posisi antara
mukmin dan kafir. Tegasnya, orang itu bukan mukmin dan bukan kafir.
Aliran Mutazilah merupakan golongan yang membawa persoalan-persoalan
teologi yang lebih mandalam dan bersifat filosofis. Dalam pembahasannya mereka
banyak memakai akal sehingga mendapat nama kaum rasionalis Islam.
Setelah menyatakan pendapat itu, Wasil bi Ata meninggalkan perguruan Hasan
al-Basri, lalu membentuk kelompok sendiri. Kelompok ini dikenal dengan
Muktazillah. Pada awal perkembangannya aliran ini tidak mendapat simpati umat
Islam karena ajaran Muktazillah sulit dipahami oleh beberapa kelompok masyarakat.
Hal itu disebabkan ajarannya bersifat rasional dan filosofis. Alas an lain adalah aliran
Muktaszillah dinilai tidak berpegang teguh pada sunnah Rasulullah SAW dan para
sahabat. Aliran baru ini memperoleh dukungan pada masa pemerintahan Khalifah alMakmun, penguasa Bani Abbasiyah.

C. Pengertian Tasawuf
Istilah "tasawuf"(sufism), yang telah sangat populer digunakan selama berabad-abad,
dan sering dengan bermacam-macam arti, berasal dari tiga huruf Arab, sha, wau dan
fa. Banyak pendapat tentang alasan atas asalnya dari sha wa fa. Ada yang
berpendapat, kata itu berasal dari shafa yang berarti kesucian atau bersih. Sebagian
berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata shafwe yang berarti baris atau deret,
yang menunjukkan kaum Muslim awal yang berdiri di baris pertama dalam salat atau
dalam perang suci. Sebagian lainnya lagi berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata
shuffah yang berarti serambi masjid Nabawi di Madinah yang ditempati oleh para
sahabat-sahabat nabi yang miskin dari golongan Muhajirin. Ada pula yang
menganggap bahwa kata tasawuf berasal dari shuf yang berarti bulu domba, yang
menunjukkan bahwa orang-orang yang tertarik pada pengetahuan batin kurang
memperdulikan penampilan lahiriahnya dan sering memakai jubah yang terbuat dari
bulu domba yang kasar sebagai simbol kesederhanaan.
Harun Nasution mendefinisikan tasawuf sebagai ilmu yang mempelajari cara dan
jalan bagaimana orang Islam dapat sedekat mungkin dengan Alloh agar memperoleh
hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan bahwa seseorang betul-betul berada di
hadirat Tuhan.
Ada sebagian orang yang mulai menyebut dirinya sufi, atau menggunakan istilah
serupa lainnya yang berhubungan dengan tasawuf, yang berarti bahwa mereka
mengikuti jalan penyucian diri, penyucian "hati", dan pembenahan kualitas watak dan
perilaku mereka untuk mencapai maqam (kedudukan) orang-orang yang menyembah
Allah seakan-akan mereka melihat Dia, dengan mengetahui bahwa sekalipun mereka
tidak melihat Dia, Dia melihat mereka. Inilah makna istilah tasawuf sepanjang zaman
dalam konteks Islam.
Imam Junaid dari Baghdad (910 M.) mendefinisikan tasawuf sebagai "mengambil
setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah". Syekh Abul Hasan asySyadzili (1258 M.) syekh sufi besar dari Afrika Utara mendefinisikan tasawuf
sebagai "praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk
mengembalikan diri kepada jalan Tuhan". Syekh Ahmad Zorruq (1494 M.)dari
Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai berikut: Ilmu yang dengannya dapat
memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata bagi Allah, dengan menggunakan
pengetahuan tentang jalan Islam, khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan,
untuk memperbaiki amal dan menjaganya dalam batas-batas syariat Islam agar
kebijaksanaan menjadi nyata. Ia menambahkan, "Fondasi tasawuf ialah pengetahuan
tentang tauhid, dan setelah itu memerlukan manisnya keyakinan dan kepastian;
apabila tidak demikian maka tidak akan dapat mengadakan penyembuhan
'hati'." Menurut Syekh Ibn Ajiba (1809 M): Tasawuf adalah suatu ilmu yang

dengannya Anda belajar bagaimana berperilaku supaya berada dalam kehadiran


Tuhan yang Maha ada melalui penyucian batin dan mempermanisnya dengan amal
baik. Jalan tasawuf dimulai sebagai suatu ilmu, tengahnya adalah amal. dan akhirnva
adalah karunia Ilahi.
1. Tujuan Tasawuf
Tasawwuf sebagai mana disebutkan dalam artinya di atas, bertujuan untuk
memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar
bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan dan intisari dari itu adalah kesadaran akan
adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan cara
mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran dekat dengan Tuhan itu dapat
mengambil bentuk ittihad atau menyatu dengan Tuhan. Dalam ajaran Tasawuf,
seorang sufi tidak begitu saja dapat dekat dengan Tuhan, melainkan terlebih dahulu ia
harus menempuh maqamat . mengenai jumlah maqomat yang harus di tempuh sufi
bebrbeda-beda, Abu Nasr Al- Sarraj menyebutkan tujuh maqomat yaitu tobat, wara,
zuhud, kefakiran, kesabaran, tawakkal, dan kerelaan hati. Dalam perjalananya
seorang shufi harus mengalami istilah hal (state). Hal atau ahwal yaitu sikap rohaniah
yang dianugrahkan Tuhan kepada manusia tanpa diusahakan olehnya, seperti rasa
takut( al- khauf) , ikhlas, rasa berteman, gembira hati, dan syukur. Jalan selanjutnya
adalah fana' atau lebur dalam realitas mutlak (Allah). Manusia merasa kekal abadi
dalam realitas yang Tertinggi, bahkan meleburkan kepadaNya. Maksudnya,
menghancurkan atau mensinarkan diri agar dapat bersatu dengan Tuhan.

D. PENGERTIAN AKHLAK MAHMUDAH (TERPUJI)


Akhlak mahmudah (terpuji) adalah perbuatan yang dibenarkan oleh agama (Allah dan
RasulNya).Contohnya :
disiplin, hidup bersih, ramah, sopan-santun, syukur nikmat, hidup sederhana, rendah
hati, jujur, rajin, percaya diri, kasih sayang, taat, rukun, tolong-menolong, hormat dan
patuh, sidik, amanah, tablig, fathanah, tanggung jawab, adil, bijaksana, teguh
pendirian, dermawan, optimis, qanaah, dan tawakal, ber-tauhiid, ikhlaas, khauf,
taubat, ikhtiyaar, shabar, syukur, tawaadu', husnuzh-zhan, tasaamuh dan taaawun,
berilmu, kreatif, produktif, akhlak dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu
dan menerima tamu, adil, rida, amal salih, persatuan dan kerukunan, akhlak terpuji
dalam pergaulan remaja, serta pengenalan tentang tasawuf.
1. Contoh-Contoh Akhlak Mahmudah
Dalam pembahasan ini kami akan menjabarkan akhlak mahmudah yang meliputi
ikhlas, sabar, syukur, jujur, adil dan amanah.
a. Ikhlas
Kata ikhlas mempunyai beberapa pengertian. Menurut al-Qurtubi, ikhlas pada
dasarnya berarti memurnikan perbuatan dari pengaruh-pengaruh makhluk. Abu AlQasim Al-Qusyairi mengemukakan arti ikhlas dengan menampilkan sebuah riwayat
dari Nabi Saw, Aku pernah bertanya kepada Jibril tentang ikhlas. Lalu Jibril berkata,
Aku telah menanyakan hal itu kepada Allah, lalu Allah berfirman, (Ikhlas) adalah
salah satu dari rahasiaku yang Aku berikan ke dalam hati orang-orang yang kucintai
dari kalangan hamba-hamba-Ku.

b. Amanah
Secara bahasa amanah bermakna al-wafa (memenuhi) dan wadiah (titipan)
sedangkan secara definisi amanah berarti memenuhi apa yang dititipkankan
kepadanya. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT: Sesungguhnya Allah
memerintahkan kalian untuk mengembalikan titipan-titipan kepada yang
memilikinya, dan jika menghukumi diantara manusia agar menghukumi dengan
adil
(QS
4:58).
c. Adil
Adil berarti menempatkan/meletakan sesuatu pada tempatnya. Adil juga tidak lain
ialah berupa perbuatan yang tidak berat sebelah. Para Ulama menempatkan adil
kepada beberapa peringkat, yaitu adil terhadap diri sendiri, bawahan, atasan/
pimpinan dan sesama saudara. Nabi Saw bersabda, Tiga perkara yang
menyelamatkan yaitu takut kepada Allah ketika bersendiriaan dan di khalayak ramai,
berlaku adil pada ketika suka dan marah, dan berjimat cermat ketika susah dan
senang; dan tiga perkara yang membinasakan yaitu mengikuti hawa nafsu, terlampau
bakhil, dan kagum seseorang dengan dirinya sendiri. (HR. AbuSyeikh).
d. Bersyukur
Syukur menurut kamus Al-mujamu al-wasith adalah mengakui adanya kenikmatan
dan menampakkannya serta memuji (atas) pemberian nikmat tersebut.Sedangkan
makna syukur secara syari adalah : Menggunakan nikmat AllahSWT dalam (ruang
lingkup) hal-hal yang dicintainya. Lawannya syukur adalah kufur.Yaitu dengan cara
tidak memanfaatkan nikmat tersebut, atau menggunakannya pada hal-hal yang
dibenci oleh Allah SWT.

E. PENGERTIAN AKHLAK MAZMUMAH (TERCELA)


Akhlak Mazmumah (tercela) adalah perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama
(Allah dan RasulNya). Contohnya : hidup kotor, berbicara jorok/kasar, bohong,
sombong, malas, durhaka, khianat, iri, dengki, membangkang, munafik, hasud, kikir,
serakah, pesimis, putus asa, marah, fasik, dan murtad, kufur, syirik, riya, nifaaq,
anaaniah, putus asa, ghadlab, tamak, takabbur, hasad, dendam, giibah, fitnah, dan
namiimah, aniaya dan diskriminasi, perbuatan dosa besar (seperti mabuk-mabukan,
berjudi, zina, mencuri, mengkonsumsi narkoba), israaf, tabdzir.
Dalam konteks pembahasan Akhlak itu, maka akhlak dapat di bagi kepada 3
(tiga) bagian yaitu :
1. Akhlak kepada Allah SWT
Akhlak kepada Allah adalah perbuatan hambaNya terhadap Allah SWT.
2. Akhlak kepada MakhlukNya
Akhlak kepada MakhlukNya adalah perbuatan hambaNya terhadap makhluk Allah,
seperti Malaikat, Jin, Manusia, dan Hewan.
3. Akhlak kepada Lingkungan
Akhlak kepada lingkungan adalah perbuatan hambaNya terhadap lingkungan
(semesta alam), seperti : tumbuh-tumbuhan, air (laut, sungai, danau), gunung, dan
sebagainya.

Contoh Sifat Mazmumah (Tercela) yaitu:

1. Penyakit hati antara lain disebabkan karena ada perasaan iri:


Iri adalah sikap kurang senang melihat orang lain mendapat kebaikan atau
keberuntungan. Sikap ini kemudian menimbulkan prilaku yang tidak baik terhadap
orang lain, misalnya sikap tidak senang, sikap tidak ramah terhadap orang yang
kepadanya kita iri atau menyebarkan isu-isu yang tidak baik. Jika perasaan ini
dibiarkan tumbuh didalam hati, maka akan muncul perselisihan, permusuhan,
pertengkaran, bahkan sampai pembunuhan, seperti yang terjadi pada kisah Qabil dan
Habil.

2. Penyakit hati disebabkan karena perasaan dengki.


Dengki artinya merasa tidak senang jika orang lain mendapatkan kenikmatan dan
berusaha agar kenikmatan tersebut cepat berakhir dan berpindah kepada dirinya, serta
merasa senang kalau orang lain mendapat musibah. Sifat dengki ini berkaitan dengan
sifat iri. Hanya saja sifat dengki sudah dalam bentuk perbuatan yang berupa
kemarahan, permusuhan, menjelek-jelekkan, menjatuhkan nama baik orang lain.

3. Hasud
Hasud adalah sikap suka menghasud dan mengadu domba terhadap sesama.
Menghasud adalah tindakan yang jahat dan menyesatkan, karena mencemarkan nama
baik dan merendahkan derajat seseorang dan juga karena mempublikasikan hal-hal
jelek yang sebenarnya harus ditutupi. Saudaraku (sidang pembaca) tahukah antum,
bahwa iri, dengki dan hasud itu adalah suatu penyakit. Pada mulanya iri yaitu
perasaan tidak suka terhadap kenikmatan yang dimiliki orang lain. Kemudian, jika
dibiarkan tumbuh, iri hati akan berubah menjadi kedengkian. Penyakit kedengkian
jika dibiarkan terus akan berubah menjadi penyakit yang lebih buruk lagi, yaitu
hasud.

F. PENGERTIAN IMU TAUHID


Ditinjau dari sudut bahasa (etimologi ),kata tauhid adalah merupakan bentuk
kata mashdar dari asal kata kerja lampau yaitu : wahhada yuwahhidu wahdah yang
memiliki arti mengesakan atau menunggalkan .kemudian ditegaskan oleh ibnu
khaldun dalam kitabnya muqaddimah bahwa kata tauhid mengandung makna keesaan
tuhan. maka dari pengertian ithimologi tersebut dapat diketahui bahwa tauhid
mengandung makna meyakinkan (mengitikadkan ) bahwa allah adalah satu tidak ad
syrikat bagi-nya
Ditinjau dari sudut istilah ( terminologi ) , telah dipahami bersama bahwa
setiap cabang ilmu pengetahuan itu telah mempunyai obyek dan tujuan tertentu
.karena itu setiap cabang ilmu pengetahuan juga masing masing mempunyai batasan
batasan tertentu pula . demi batasan-batasan tersebut pengaruhnya adalah sangat
besar bagi para ilmuan dan cendikiawan didalam membahas, mengkaji , dan
menelaah obek garapan dari suatu cabang ilmu pengatahuan .
9

Demikian juga halnya pada kajian ilmu tauhid yang telah di tarifkan oleh
para ahli sebagai berikut :
a.

Syekh muhamad abduh mengatakan bahwa :


Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas tentang wujud allah dan sifat sifat yang
wajib ada pada-nya ,dan sifat yang boleh ada padanya dan sifat yang tidak harus
ada pada-nya ( mustahi ) , ia juga membahas tentang para rasul untuk menegaskan
tugas risalahnya , sifat sifat yang wajib ada padanya yang boleh ada padanya ( jaiz )
dan yang tidak ada padanya ( mustahil )

b. syekh husain affandi al-jisral-tharablusymenta rifkan sebagai berikut :


Ilmu tauhid ialah ilmu yang membahas atau membicarakan bagaimana menetapkan
aqidah ( agama islam ) dengan menggunakan dalil-dalil yang meyakinkan
Dari kedua ilmu tarif ilmu tauhid tersebut itu dapat lah diambil suatu
pengertian bahwa pada tarif pertama ( syekh muhamad abduh ) lebih menitik
beratkan pada objek formal ilmu tauhid yakni pembahasan tentang wuhud allah
dengan segala sifat dan perbuatannya serta membahas tentang para rasulnya , sifatsifat dengan segala perbuatannya .sedangkan pada tarif kedua ( sekh husain al-jisr)
menekankan pada metode pembahasannya yakni dengan menggunakan dalil-dalil
yang meyakinkan , dan yang dimaksud disini adalah dalil naqli maupun dalil
aqli.dengan demikian ilmu tauhid adalah salah satu cabang ilmu study keislaman
yang lebih memfokuskan pada pembahasan wujud allah dengan segala sifat nya serta
tentang para rasul nya , sifat sifat dan segala perbuatannya dengan berbagai
pendekatan .

10

Objek Pembahasan Ilmu Tauhid


Obyek pembahasan atau yang menjadi lapangan bahasan ilmu tauhid pada
garis besarnya dibagi pada tiga bagian utama yaitu :
1.

Tauhid ilahiyah (ketuhanan) yaitu bagian ilmu tauhid yang membahas masalah
ketuhanan ,

2.

Tauhid nubuwwah ( kenabian ) yaitu bagian ilmu tauhid yang membahas masalah
kenabian ,kedudukan dan peranan serta sifat sifat dan keistimewaannya ,

Dasar-dasar Ilmu Tauhid


Syekh husain al-jisr menjelaskan bahwa didalam membahas ilmu tauhid
mempergunakan dalil-dalil yang meyakinkan yakni dalil naqli dan aqli . dalil naqli
adalah pengetahuan tentang masalah masalah agama yang diambil dari alquran dan
hadis yang shaheh . dengan dalil naqli tersebut diketahui keterangan keterangan
tentang tuhan dan segala sifat dan perbuatannya serta menunjukan bahwa segala
makhluh berada dalm lingkungan hukum alam ( sunnah allah ) yang tidak berubah
dan bertukar , sebagaimana tersebut dalam firman allah surat al-fath ayat 23.
Jadi , sifat suatu dalil naqli adalah sebagai pembuktian suatu dalil , dan
merupakan akhir dari pembahasan yang penjang sesuai dengan yang ditunjuk oleh
dalil , sebagai contoh pembuktian surat al-baqarah ayat 225 .

G. PENGERTIAN ASMAUL HUSNA


Etimologi Asmaa'ul husna berasal dari kata jamak dari yang artinya
nama-nama sedangkan artinya yang baik atau yang indah. Terminologi
Asma'ul Husna adalah nama nama milik Allah yang baik lagi indah. Nama-nama
Allah yang agung dan mulia itu merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam
kebesaran dan kehebatan Allah, sebagai pencipta dan pemelihara alam semesta
beserta segala isinya.
Sejak dulu para ulama telah banyak membahas dan menafsirkan nama-nama
ini, karena nama-nama Allah adalah alamat kepada yang mesti kita ibadahi dengan
sebenarnya. Meskipun timbul perbedaan pendapat tentang arti, makna, dan
penafsirannya akan tetapi yang jelas adalah kita tidak boleh dalam mempergunakan
atau menyebut nama-nama Allah.
Selain perbedaaan dalam mengartikan dan menafsirkan suatu nama terdapat
pula perbedaan jumlah nama, ada yang menyebut 99, 100, 200, bahkan 1.000 bahkan
4.000 nama, namun menurut mereka, yang terpenting adalah hakikat Allah swt yang

11

harus dipahami dan dimengerti oleh orang-orang yang beriman seperti Nabi
Muhammad saw.
Berikut adalah beberapa dalil yang terkandung di dalam Al-Qur'an dan Hadis
tentang Asmaul Husna:
1. "Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia memiliki
Asmaul Husna (nama-nama yang baik)." - (Al-Quran, Surat Thaa-Haa: 8)
2. Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja
kamu seru, Dia memiliki al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah
kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan
3.

carilah jalan tengah di antara kedua itu" - (Al-Quran.Surah Al Israa ': 110)
Dari Abu Huraira R.A.: Nabi saw. bersabda: "Allah itu memiliki sembilan puluh
sembilan nama yang bagus. Barang siapa yang mampu menghafalnya, maka dia akan
masuk surga. Sesungguhnya Allah itu ganjil [esa] dan Dia menyukai [jumlah] yang
ganjil." - Sahih Bukhari

B. Menguraikan 10 Asmaul Husna


Menurut bahasa, asmaul husna berarti nama-nama yang baik, sedangkan menurut
istilah berarti nama-nama baik yang dimiliki Allah sebagai bukti keagungan dan
kemuliaan-Nya. Di dalam al-Quran nama-nama yang baik dijelaskan pada Qs. AlAraf/7: 180 sebagai berikut :


Artinya: Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya
dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang
menyimpang dari kebenaran dalam nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat
balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Qs. Al-Araf/7: 180)
Nama-nama indah (Asmaul Husna) yang berjumlah 99 menurut hitungan ulama
Sunni, dapat dirangkai secara kronologis begitu indah ibarat seuntai tasbih. Dimulai
dengan lafadz al-jalalah, Allah, dengan angka 0 (nol), yang di anggap angka
kesempurnaan, disusul dengan al-Rahman, al-Rahim dan seterusnya sampai angka ke
99, al-Sabur. Dan kembali lagi ke angka nol, Allah (al-jalalah), atau kembali lagi ke
pembatas besar dalam untaian tasbih, symbol angka nol berupa cyrcle, bermula dan
berakhir pada stu titik, atau menurut istilah Al-Quran: Inna li Allah wa inna ilaihi
rajiun,(kita berasal dari tuhan dan akan kembali kepada-Nya).
C. Bukti Kebenaran Asmaul Husna
1. Al-Muksit artinya Yang Maha Pemberi Keadilan
Maknanya adalah Allah Maha menyebarkan keadilan dan kejujuran. Semua telah
diciptakan oleh Allah secara seimbang, ketidak seimbangan sedikit saja akan menjadi
bencana bagi manusia dan ciptaan NYA. Allah memberikan kekuatan yang lebih pada

12

sebagian ciptaannya dan kelemahan tertentu serta memberi kekayaan dan kemiskinan
kepada sebagian orang dan sebagian yang lainnya,karenakeadilannya.
Bukti kebenaran yang terkandung dalam al-muksit. Allah SWT berfirman
dalam Q.S Ali imran 3/18, maknanya adalah :
a. Tidak ada satu mahluk di alam semesta ini yang dapat menyamai keadilan Allah.
b. Pengadilan allah SWT pasti akan terjadi, akan menimpa siapa saja.
c. Manusia akan menerima keadilannya dan keputusan darinya sesuai dengan yang
dilakukan
2. Al Waarits artinya Yang Maha mewarisi
Allah SWT Mewarisi segala sesuatu yang ia miliki kepada hambanya. Bukti
kebenaran yang terkandung dalam Al-waris Q.S Al-Hijr : 23. Lautan, samudera, tanah
tempat kita menginjakkan kaki sehari-hari, bulan, bintang dan masih banyak lagi
ciptaan-Nya yang tidak bisa kita hitung. Allah telah mewariskan sebagian dari apa
yang Ia ciptakan untuk kita. Dalam kehidupan manusia Allah tidak hanya mewarisi
harta, tanah atau daerah disebutkan dalm QS. Al-Ahzab 33.27) tapi juga Al-Quran
(QS. Al-Fatir 35.32) bahkan atas izin-Nya seseorang dapat mewarisi ilmu (An-Naml
27.16) yang penting adalah mewarisi surga (Qs. Maryam 19.19) . Orang-orang yang
memandang dengan mata hati senantiasa menyaksikan makna dari ayat-ayat ini dan
mendengarkannya. Mereka yakin bahwa kerajaan itu hanya milik Allah sendiri, pada
setiap hari, setiap saat, dan setiap detik, karena itulah Dia azali dan abadi. Hal ini
dapat dicapai oleh mereka yang memahami hakikat tauhid, dan mengetahui bahwa
yang tunggal perbuatannya di langit dan di bumi hanya satu. Berakhlak dengan ism
ini mengharuskan kita menjadi warits dari apa yang telah dilakukan oleh orang-orang
saleh, sebab ulama itu adalah pewaris para nabi.

a.

Maknanya adalah :
Bahwa Allah SWT lah yang menciptakan alam semesta, bumi, langit dan seisinya

untuk di kelola oleh makhluknya dengan sebaik-baiknya, Q.S Maryam : 40


b. Manusia harusnya menyadari bahwa semua milik Allah dan semuanya adalah titipan
darinya maka manusia tidak boleh bakhil/kikir dan sombong.
3. An Nafii

artinya Yang Maha Memberi Manfaat

ALLAH adalah pencipta kebaikan dan pemberi manfaat yang utama bagi
hamba NYA. Karunia Allah tertinggi kepada manusia adalah akal, hati nurani dan
iman. Kasih sayang Allah seperti kebaikan2 NYA terus menerus diberikan kepada
hamba hamba NYA. Jika kita menginginkan sesuatu maka kehendak tersebut tidak
akan dapat menghantarkan kepada kita apa yang kita inginkan atau menjadikan kita
memiliki kehidupan yang kita kehendaki. Seringkali apa yang kita sukai terlepas dari
13

genggaman kita dan apa ang ktia tidak inginkan malahan mengejar kita. Itulah
kehendak Allah yang harus kita syukuri. Allah menciptakan segala sesuatu untuk
memenuhi kebutuhan kita. Hewan, tumbuh-tumbuhan, bahkan seluruh ciptaan Allah
di jagad raya ini. Diantara tumbuh-tumbuhan banyak sekali kasiat yang bermanfaat,
sehingga bisa dijadikan obat untuk menyembuhkan penyakit yang kita derita, atas
izin-Nya pula seseorang dapat menjadi dokter yang bisa menyembuhkan pasienpasiennya dan semua itu tidak akan terjadi kecuali dengan kebesaran Allah swt.

4. Al Baasith

artinya Yang Maha Melapangkan (makhluknya) rezeki

Bahwa Allah SWT lah yang berkuasa untuk mencukupi rezeki / segala
kebutuhan hidup dan menentukan segala urusan yang dihadapi mahluknya Q.S AlBaqarah 245. Allah tidak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan hambaNya. Ketika kita mendapat suatu musibah, sepertinya kita sudah tak mempunyai
kekuatan apa-apa, kita merasa lemah, dan terpuruk, tetapi tanpa kita sadari pada
ahirnya kita juga dapat melaluinya, sungguh ini merupakan kebesaran Allah yang
melapangkan, hati kita, jiwa kita, dan kesabaran kita.

5. Al Hafizh

artinya Yang Maha Memelihara

Dari kata dasar hifz artinya menjaga. Bahwa Allah SWT lah yang memelihara,
menjaga & mengendalikan semua ciptaannya (Q.S. Yusuf 64) dan (Q.S Al-Anbiya :
82). Tidak ada seorangpun yang dapat menandingi kekuasannya dan mengendalikan
segala urusan makhluknya.
6.

Al-waliyy

(Allah SWT yang maha melindungi)

Maksudnya adalah Allah yang maha melindungi semua mahluknya ciptaanya


dari segala ganguan yang mengancam kehidupannya. Allah berfirman dalam AlQuran surat Al-Baqarah : 107 Dan Al-Quran surat Muhammad : 11
7. Al-wadud

artinya yang maha mengasihi.


Secara istilah allah memiliki sifat yang mengasihi terhadap mahluknya tanpa
terkecuali, terhadap siapapun tanpa pilih kasih . Menurut pendapat Az-zujaji, Alwadud artinya dialah zat yang mengasihi dan yang mencintai hambanya yang shaleh.
(Q.S Al-Buruj : 13-14).
8. Ar-rafi

(Allah Yang Maha Meninggikan)

Secara istilah Ar-Rafi artinya bahwa Allah SWT memiliki kekuasaan untuk
untuk menggankat harkat dan martabat makhluknya pada derajat yang terbaik
(sempurna).

14

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat Al-Waqiah : 1-3.


9. Al-Muizz

(Allah SWT yang

maha memuliakan)
Secara istilah Al-Muizz berarti segala kemuliaan hanya milik Allah SWT dan
akan di berikan kepada hambanya yang di kehendaki.
10. Al-Affuww

(Allah SWT yang maha pemaaf)

Maknanya adalah bahwa Allah SWT akan memaafkan, Al-afw bearti


memafkan dosa-dosa dan tidak membalas orang-orang yang berbuat salah. Menurut
Imam Al-Gazali Al-Afuww artinya yang menghapuskan keburukan-keburukan dan
mengampuni kekejian
D. Perilaku Orang yang Mengutamakan Asmaul Husna
Manusia yang sempurna ibadahnya dan kedekatannya kepada Allah adalah
orang yang beribadah kepada-Nya dengan semua nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Sehingga Asmaul Husna akan menjadi inspirasi dan pengingat bagi setiap hamba
untuk beribadah secara ikhsan dan ikhlas. Sebagai arah bagi kita untuk mengamalkan
Asmaul Husna dalam kehidupan sehari-hari.

E. Meneladani Sifat Allah dalam Asmaul Husna

Al Baasith (Yang Maha Melapangkan makhluknya).


Al Waarist (yang maha mewarisi)
Al-Muizz (yang maha memulyakan mahluk-Nya)
AL-Hafizh ( yang maha memelihara)
Al-Walii (yang maha melindungi)
An-Nafii` (Yang Maha Memberi Manfaat).
Al Muqsith (Yang Maha Seimbang).
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Ilmu Kalam adalah
suatu ilmu yang membahas tentang akidah dengan dalil-dalil aqliyah (rasional ilmiah)
dan sebagai tameng terhadap segala tantangan dari para penentang dan sejarah dalam
pendeklarasian ilmu kalam tidak luput dari sejarah perpecahan prinsip teologi umat
islam yang masih ketika itu dipicu persoalan politik dan kedangkalan ukhuwah dalam

15

prilaku perebutan singgasana kekuasaan dan ilmu kalam tidak lepas dari ilmu
tauhid , ilmu tauhid adalah salah satu cabang ilmu study keislaman yang lebih
memfokuskan pada pembahasan wujud allah dengan segala sifat nya serta tentang
para rasul nya , sifat sifat dan segala perbuatannya dengan berbagai pendekatan.
B. Saran
Saran yang peyusun sampaikan adalah sebagai berikut:

Agar lebih giat belajar masalah ilmu kalam supaya bisa menuntaskan ilmu kalam

Semoga makalah ini bisa menjadi bahan pembelajaran kita semua dan menambah
wawasan yang lebih luas bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA
http://syafrisalmi.wordpress.com/2012/10/25/makalah-aqidah-akhlak-tentangpembahasan-akhlak-terpuji/
http://asno-dharmasraya.blogspot.com/2012/04/perilaku-terpuji.html
http://ahmadfauzani.wordpress.com/materi-akhlak-tercela/
http://asno-dharmasraya.blogspot.com/2012/04/perilaku-tercela-riya.html
http://boxuchul.blogspot.com/2012/03/akhlak-terpuji-dan-akhlak-tercela.html
Buku modul Al-Hikmah akidah akhlak kelas x semester I & II

16

Syeikh Ibrahim Jalhum. 2003. Pelita As-Sunnah Petunjuk Jalan Bagi Kaum
Muslimin. Bandung. Pustaka Setia
Mustofa H. 1997. Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia
Nata, Abuddin. 2010 .Akhlak Tasawuf. Jakarta : Rajawali Pers

17