Anda di halaman 1dari 16

SOSIOLOGI POLITIK

KOMUNIKASI POLITIK

KELOMPOK 8:
1.
2.
3.
4.

NI MADE MIRAYANTI
NI PUTU EKA KARTIKA KARIANI
A.A. SG. SINTA MAHA DEWI
PUTU SETIA ARININGSIH

PROGRAM EKSTENSI
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

KATA PENGANTAR

(1315351080)
(1315351083)
(1315351090)
(1315351099)

Om Swastyastu
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa
yang telah memberikan rahmat dan Karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini.
Makalah ini memuat materi tentang Komunikasi Politik. Komunikasi politik adalah
proses penyampaian pesan, proses dimana informasi politik yang relevan diteruskan dari satu
bagian sistem politik pada bagian lainnya, dan diantara sistem-sistem sosial dengan sistemsistem politik. Proses ini berlangsung disemua tingkat masyarakat disetiap tempat yang
memungkinkan terjadinya pertukaran informasi diantara individu-individu dengan berbagai
kelompok juga.
Kami menyadari bahwa makalah ini terdapat banyak kekurangan, baik dari segi isi,
bahasa, maupun sistematikanya. Oleh karena itu, kami sangat berterima kasih apabila ada
kritik dan saran dari pihak manapun untuk perbaikan.
Kami berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Om Shanti, Shanti, Shanti Om

Denpasar, 03 Juni 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................

DAFTAR ISI..........................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................

1.1. Latar Belakang.........................................................................................


1.2. Rumusan Masalah....................................................................................
1.3. Tujuan Penulisan......................................................................................

1
2
2

BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................

2.1.
2.2.
2.3.
2.4.

Pengertian Komunikasi Politik.................................................................


Pola-pola Komunikasi Politik..................................................................
Saluran-saluran Komunikasi Politik.........................................................
Pembentukan Pendapat Umum................................................................

3
4
5
8

BAB III PENUTUP...............................................................................................

3.1. Simpulan...................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Komunikasi politik adalah proses penyampaian pesan, proses dimana informasi
politik yang relevan diteruskan dari satu bagian sistem politik pada bagian lainnya, dan
diantara sistem-sistem sosial dengan sistem-sistem politik. Proses ini berlangsung
disemua tingkat masyarakat disetiap tempat yang memungkinkan terjadinya pertukaran
informasi diantara individu-individu dengan berbagai kelompok juga. Sebab dalam
kehidupan bernegara setiap individu memerlukan informasi terutama mengenai kegiatan
masing-masing pihak.
Tetapi sering juga timbul keluhan-keluhan yang berupa kurangnya memahami
dan mendefinisikan komunikasi politik, terutama dipengaruhi oleh keragaman sudut
pandang atau paradigma terhadap kompleksitas realitas sehari-hari, padahal perlu
diketahui bahwa pengetahuan terhadap komunikasi dan politik merupakan suatu peranan
yang sangat penting terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dan perlu diketahui bahwa politik menyangkut prilaku penguasa dan berupa
lahirnya partai politik-partai politik baru yang kita hanya menganggap persainganpersaingan kegiatan berupa pemilu merupakan sebuah pesta politik untuk kalangan elit
tetapi pemilu merupakan kegiatan yang amat penting dalam menegakkan kedaulatan
rakyat dan karena melalui pemilu seleksi kepemimpinan dan perwakilan dapat dilakukan
secara lebih fear.
Kebesaran suatu bangsa bergantung pada kemampuan rakyat, masyarakat umum,
dan massa untuk menemukan simbol dalam orang pilihan, karena orang pilihanlah yang
mampu membimbing massa. Setiap pemimpin dituntut memiliki kemampuan
berkomunikasi, membentuk komunikasi, membentuk sikap dan prilaku khalayak,
masyarakat yang mendukung terhadap aktivitas kepemimpinannya.

Oleh karena itu kita mengangkat tema komunikasi politik untuk dibahas lebih
lanjut karena komunikasi politik memainkan peranan penting sekali didalam sistem
politik dan menjadi bagian menentukan dari sosialisasi politik, partisipasi politik, dan
perekrutan politik
1.2. Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan Komunikasi Poitik?
2.
Apasaja Pola-pola dari Komunikasi Politik?
3.
Apasaja Saluran-saluran Komunikasi Politik?
4.
Bagaimana Pembentukan Pendapat Umum?
1.3. Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui pengertian dari komunikasi politik
2.
Untuk mengetahui pola-pola dari komunikasi politik
3.
Untuk mengetahui saluran-saluran dari komunikasi politik
4.
Untuk mengetahui pembentukan pendapat umum dalam komunikasi politik

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Komunikasi Politik


Pengertian komunikasi politik dapat dimengerti dengan membandingkan
makna dua konsep komunikasi dan politik. Jadi komunikasi politik merupakan
proses pengalihan pesan, (berupa data, fakta, informasi atau citra), yang
mengandung suatu maksud atau arti, dari pengirim kepada penerima yang
melibatkan proses pemaknaan terhadap kekuasaan (power), kewenangan (authority),
kehidupan publik (public life), pemerintahan (government), Negara (state), konflik
dan resolusi konflik (conflict dan conflict resolution), kebijakan (policy),
pengambilan keputusan (decision making), dan pembagian (distribution) atau
alokasi (allocation).
Tentunya selain itu, pengertian komunikasi dapat juga dirujuk kepada berbagai
pendapat para ahli. Berikut ini disajikan beberapa pandangan ahli:
MICHAEL RUSH DAN PHILIP ALTHOFF
Dalam buku sosiologi politik-nya, Rush dan Althoff (2003) memberi
pengertian komunikasi politik sebagai suatu proses di mana informasi politik yang
relevan diteruskan dari satu bagian sistem politik kepada bagian lainnya, dan di
antara sistem sosial dan sistem politik.
KARL W. DEUTSCH
Deutsch memberi batasan komunikasi politik sebagai transmisi informasi yang
relevan secara politis dari satu bagian sistem politik kepada bagian sistem politik
yang lain, dan antara sistem sosial dan sistem politik.
HAFIED CANGARA
Cangara (2009) merumuskan batasan komunikasi politik sebagai suatu proses
komunikasi yang memiliki implikasi atau konsekuensi terhadap aktivitas politik.
Jadi, menurut Cangara, perbedaan komunikasi politik dengan komunikasi lainnya
adalah pada sifat dan isi pesannya.
6

MIRIAM BUDIARDJO, DKK


Dalam buku Pengantar Ilmu Politik, Miriam Budiarjdo dkk. (2005)
memberikan pengertian bahwa komunikasi politik merupakan fungsi sosial dan
budaya politik. Komunikasi yang berjalan baik menjadi persyaratan sosialisasi
politik untu dapat berjalan dengan baik pula, sehingga budaya politik dapat
dilangsungkan dengan baik.
Dari empat definisi para ahli tentang komunikasi politik di atas tampak bahwa
definisi yang diajukan Rush dan Althoff relatif tidak berbeda dengan apa yang
dikemukakan oleh Deutsch. Perbedaan antara para ahli tersebut terletak pada
penggunaan konsep suatu proses oleh Rush dan Althoff dan konsep transmisi
oleh Deutsch. Kedua konsep tersebut, baik proses maupun transmisi, menunjukkan
suatu dinamika yang terjadi dari suatu interaksi. Sedangkan Cangara menekankan
pada semua proses komunikasi yang memiliki sifat dan isi pesan politik. Antara
Deutsch dan Cangara memiliki kedekatan pemikiran di mana segala sesuatu yang
mengandung sifat dan isi yang politis maka komunikasi seperti itu disebut
komunikasi politik. Berbeda dengan tiga definisi sebelumnya, Miriam Budiardjo
tidak memaparkan secara tegas batasan dari komunikasi politik, namun dia melihat
komunikasi sebagai fungsi soasialisasi dan budaya politik.
Dari penjelasan di atas terlihat bahwa definisi penggabungan konsep yang kita
ajukan memiliki kecocokan substantif dengan definisi yang dikemukakan oleh Rush
dan Althoff, Rush, serta Cangara. Proses pengalihan pesan, (berupa data, fakta,
informasi, atau citra), yang mengandung suatu maksud atau arti, dari pengirim
kepada penerima yang melibatkan proses pemaknaan memiliki kecocokan
substansial dengan dinamika yang terjadi dari suatu interaksi, yaitu proses dan
transmisi. Dinamika yang terjadi dari suatu interaksi tersebut melibatkan berbagai
bagian kekuasaan yang meliputi soal kewenangan, kehidupan publik, pemerintahan,
Negara, konflik dan resolusi konflik, kebijakan, pengambilan keputusan, dan
pembagian atau alokasi.

2.2. Pola-pola Komunikasi Politik


Komunikasi politik bukanlah suatu bentuk komunikasi yang spesifik dan
terpisah dari model komunikasi sosial. Komunikasi politik hanyalah sebagia dari
7

komunikasi sosial. Karena itu pola-pola dasarnya pun mengikuti pola-pola


komunikasi sosial. Yang dimaksud adalah pola komunikasi vertikal (dari atas ke
bawah dan sebaliknya, misalnya dari pemimpin masyarakat kepada rakyat yang
dipimpin atau sebaliknya), pola komunikasi horizontal (komunikasi antar individu
yang satu dengan individu yang lain, atau antar kelompok satu dengan kelompok
yang lain), pola komunikasi formal (komunikasi melalui jalur-jalur organisasi
formal) dan pola komunikasi informal (komunikasi melalui pertemuan atau tatap
muka langsung, tidak mengikuti prosedur atau jalur-jalur formal yang berlaku dalam
suatu organisasi).
Penting untuk diperhatikan bahwa tanpa komunikasi politik yang efektif, maka
aktivitas politik akan kehilangan bentuk. Untuk itu sumber pesan, misalnya seorang
calon presiden, atau seorang calon legislatif dituntut untuk menyampaikan pesan
yang jelas kepada para pendukungnya dan masyarakat luas. Di samping itu, calon
yang bersangkutan pun harus tahu saluran atau sarana penyampaian informasi yang
tepat. Dengan demikian dia pun boleh berharap untuk memperoleh umpan balik yang
tepat pula. Dalam hal ini calon pemilih merupakan sumber informasi baginya.
Sepintas lalu persoalannya tampak sederhana. Namun dalam kenyataan
persoalannya sangat rumit, karena dalam setiap masyarakat terdapat suatu jaringan
komunikasi yang kompleks, suatu hal yang juga berlaku bagi jaringan komunikasi
politik. Jaringan komunikasi politik itu melibatkan beragam sumber dan saluran serta
pendengar, juga menyangkut komunikasi vertikal dan horizontal, komunikasi formal
dan informal.
Bagi seorang elite politik, sumber informasi politiknya meliputi rekan
kerjanya di kantor, para pejabat administratif, sekutu-sekutu politiknya, media masa,
kontak-kontak periodik dengan anggota masyarakat lain, misalnya melalui kegiatan:
kampanye pemilihan umum, kunjungan ke berbagai negara, dan lain-lain. Para
pendengarnya terdiri dari berbagai kalangan masyarakat. Namun tidak ada pola
komunikasi politik yang berlaku dalam berbagai sistem politik.
2.3. Saluran-Saluran Komunikasi Politik
Saluran komunikasinya pada umumnya sama. Dalam hal ini media massa
(surat kabar, majalah, tabloid, radio, dan televisi) merupakan sarana utama bagi
penyaluran informasi mengenai masalah-masalah politik. Kiranya jelas bahwa
komunikasi politik merupakan bagian yang integral dari jaringan komunikasi sosial.
Tidak ada surat kabar, radio, dan televisi, yang mlulu menyiarkan berita-berita atau
informasi-informasi politik kepada para pembaca, pendengar, dan pemirsa mereka
8

masing-masing. Bahkan harus diakui bahwa informasi-informasi politik hanyalah


salah satu bagian kecil di antara berita-berita, atau program-program lainnya. Tidak
sedikit media massa, khususnya radio dan televisi, yang menyiarkan acara-acara
hiburan. Meskipun demikian, para peminat masalah-masalah politik tetap bisa
membedakan koran atau majalah mana yang lebih layak mereka baca, dan manamana yang tidak perlu dibaca, dan program-program radio atau televisi mana yang
patut mereka ikuti. Di Indonesia, koran KOMPAS, misalnya disebut-sebut sebagai
koran politik. Sejak masa merekahnya fajar reformasi, muncul banyak majalah dan
tabloid yang menjadi agen pemasok berbagai macam informasi politik, yang selama
masa orde baru mustahil terjadi. Dan akhir-akhir ini, stasiun-stasiun tv swasta pun
berlomba-lomba menayangkan acara diskusi politik. Dibandingkan dengan media
cetak, yang hanya melayani kalangan pembaca tertentu, radio dan televisi
memberikan pelayanan informasi sosial politik kepada masyarakat umum.
Dalam era global, internet pun merupakan salah satu saluran informasi politik
yang diandalkan, terutama oleh para politisi serta pengamat politik yang berkantong
tebal. Tak bisa dipungkiri, bahwa internet pun memainkan peranan yang cukup
penting dalam upaya para mahasiswa dan kalangan penentang status quo untuk
menggerakan

informasi

yang

berhasil

melengserkan

Soeharto

dari

kursi

kepresidenannya. Internet bahkan menjadi medan pertukaran informasi politik yang


paling bebas dewasa ini.
Tidak hanya media massa yang menjadi saluran informasi politik. Komunikasi
politik pun data terjadi melalui kelompok-kelompok kepentingan maupun melalui
partai-partai politik. Dalam hal ini, kelompok-kelompok kepentingan dan partaipartai politik berperan sebagai saluran yang memungkinkan terjadinya kontak-kontak
antara pejabat-pejabat politik dan pejabat-pejabat administrasi serta dengan rakyat
banyak. Kontak-kontak yang sering terjadi membuat hubungan mereka menjadi lebih
akrab satu sama lain. Dengan demikian bisa terbina komunikasi politik vertikal dan
horizontal secara baik. Dibandingkan dengan media massa sebagai saluran
komunikasi umum, kelompok-kelompok kepentingn dan partai-partai politik
merupakan saluran komunikasi politik yang lebih khusus. Namun harus diakui bahwa
organisasi-organisasi semacam ini lebih sering terlibat dalam proses komunikasi
politik, baik yang bersifat vertikal maupun yang bersifat horizontal.
Selain itu, kontak-kontak antarpribadi maupun antarkelompok merupakan
saluran politik yang penting untuk diperhatikan berdasarkan dua alasan. Pertama,
karena saluran yang ketiga ini tidak seluruhnya melibatkan media massa dan
9

organisasi politik. Kedua, karena saluran ini merupakan basis pengembangan suatu
teori komunikasi yang penting. Yang dimaksud adalah teori Arus dua-langkah
komunikasi yag dirintis oleh Lazarsfeld, Berchon, dan Gaudet berdasarkan studi
mereka tentang perilaku voting.
Kontak informal dan relasi face to face merupakan sarana komunikasi yang
paling umum dan paling sering terjadi dalam setiap masyarakat, meskipun
peranannya lebih sebagai pembentukan opini publik (pendapat umum). Dikatakan
bahwa pengaruh media massa atas perilaku voting terjadi melalui apa yang disebut
opinion leaders, para pembentuk opini umum. Opinion leaders ini amat mirip satu
sama lain, dan secara tipikal terdiri dari orang-orang dari keluarga yang sama,
sahabat-sahabat, dan rekan-rekan sekerja. Elihu Katz yang berusaha membuktikan
kebenaran teori ini menemukan bahwa relasi antarpribadi yang bersifat informal itu
penting dalam tiga hal, yaitu pertama, sebagai saluran informasi yang aktual; kedua,
sebagai sumber tekanan sosial atas individu untuk mematuhi berbagai norma tingkah
laku; dan ketiga, sebagai sumber dukungan atas norma-norma tersebut, dan karena
itu berguna bagi keutuhan kelompok. Meskipun demikian kontak-kontak antarpribadi
itu pun dipengaruhi oleh media massa.
Kiranya jelas bahwa pola-pola komunikasi politik yang diterapkan dalam
suatu sistem politik berbeda dengan yang diterapkan dalam sistem-sistem politik
yang lain. Hal ini tergantung dari beberapa faktor, seperti faktor fisik, teknologis,
sosial kultural, dan politis. Diantara faktor-faktor ini, yang paling menentukan adalah
faktor fisik dan teknologis. Di masa lalu pola komunikasi sebagian besar ditentukan
oleh faktor lingkungan fisik. Keterbatasan teknologis menghambat penyebarluasan
berbagai informasi, termasuk informasi politik ke berbagai wilayah dalam suatu
negara. Sebelum manusia berhasil mengembangkan sarana transportasi udara, laut
dijadikan sarana transportasi utama untuk menjangkau berbagai pelosok dunia.
Dengan penemuan radio, televisi, kemudian teknologi internet jarak-jarak yang jauh
tak lagi menjadi persoalan yang rumit untuk ditanggulangi. Berkat kecanggihan
teknologi informasi dan komunikasi, dunia disulap menjadi suatu kampung
raksasa. Tetapi pengembangan teknologi apapun tak bisa lepas dari kemajuan
ekonomi.
Yang lebih penting untuk diperhatikan ialah bahwa dalam masyarakat yang
maju secara ekonomis lebih terdapat keseragaman komunikasi. Dalam masyarakat
tersebut lebih banyak orang yang terjangkau oleh saluran-saluran komunikasi yang
ada. Dengan demikian informasi yang sampai kepada berbagai kelompok sosial pun
10

lebih seragam. Hal semacam ini tidak terjadi di negara-negara sedang berkembang
apalagi di negara-negara miskin. Keterbatasan daya jangkau media massa, membuat
negara-negara tersebut lebih mengandalkan pola komunikasi politik antarpribadi atau
antarkelompok. Rendahnya tingkat pendidikan, dan masih banyaknya orang yang
buta huruf menjadi hambatan tersendiri bagi kelancaran proses komunikasi politik di
negara-negara sedang berkembang dan miskin.
Jika di negara-negara demokratis, terutama di negara industri maju,
diberlakukan prinsip komunikasi bebas, di negara-negara totaliter dan otoriter
diberlakukan sistem pengawasan yang sangat ketat atas berbagai saluran komunikasi.
Pengawasan yang ketat tersebut dimungkinkan karena rezim yang berkuasa memang
mampu mengendalikan isi informasi yang disebarluaskan oleh media massa. Dengan
memperkerjakan orang-orang kepercayaan penguasa di berbagai kantor media massa,
pemerintah dengan mudah menyensor isi berita apapun informasi yang hendak
diluncurkan ke masyarakat. Yang boleh disiarkan hanya berita serta informasi yang
sejalan dengan kebijakan-kebijakan yang digariskan oleh sang diktator.
Sedangkan di negara-negra demokratis, media massa selain sebagai sarana
pencerahan politik, dan lain-lain, juga sebagai sarana pemberantasan tindakantindakan yang melanggar hukum dan etika politik. Disini berlaku prinsip pers bebas.
Dengan demikin para insan pers dihaapkan mampu menjadi mitra yang kritis bagi
pemerintah dalam membangun bangsa dan negara mereka.
2.4. Pembentukan Pendapat Umum
Yang dimaksud dengan pandangan umum adalah pandangan berbagai
kalangan warga masyarakat mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan
kehidupan bersama mereka dalam suatu masyarakat. Tercakup di sini adalah
persetujuan atau tidak adanya persetujuan atas kebijakan-kebijakan yang ditetapkan
oleh pemerintah. Proses pembentukan pendapat berkaitan erat dengan proses
sosialisasi politik, partisipasi, dan pengrekrutan politik. Dalam hal ini, pengetahuan,
nilai-nilai, dan sikap mereka merupakan faktor penting karena faktor-faktor itulah
yang menentukan perilaku politik mereka. Selain menentukan perbedaan perilaku
politik, perbedaan pengetahuan, nilai-nilai budaya, dan sikap-sikap mereka pun
menentukan perbedaan pandangan tentang berbagai isu publik.
Karena itu tidak mengherankan bila di dalam kenyataan tidak terdapat satu
pendapat yang berlaku bagi semua kalangan masyarakat. Sering kali, yang terjadi
11

adalah bahwa sebagian besar warga masyarakat berpendapat sama tentang satu hal,
tetapi mereka berbeda pendapat dalam banyak hal yang lain. Misalnya, menurut
pendapat umum, penindasan dalam bentuk apapun seperti yang terjadi di Irian Jaya
dan Aceh tidak dibenarkan dan harus dikutuk. Tetapi tidak semua mereka yang
berpendapat sedemikian lantas menyetujui upaya pemisahan kedua propinsi itu dari
wilayah Indonesia.
Robert Lane dan David Sears berpendapat, bahwa pendapat umum
memberikan pengarahan. Ini berarti, bahwa beberapa individu akan menyetujui satu
pandangan tertentu, sedangkan individu yang lain menentangnya. Memang tentang
isu yang sama sering terdapat pendapat yang pro dan kotra. Di samping itu terdapat
pula orang yang sama sekali tidak mempunyai pendapat tentang hal yang
bersangkutan.
Pengarahan merupakan ciri pokok dari suatu pendapat. Ciri-ciri lain dari
pendapat adalah intensitas dan pentingnya masalah. Ciri intensitas tampak dari
frekuensi pelontaran suatu pendapat. Pendapat yang kuat akan lebih sering
dilontarkan ketimbang pendapat yang dianggap kurang kuat. Dan pendapat yang
kuat itu secara efektif mempengaruhi perilaku orang yang mempercayainya.
Pengaruh itu tidak hanya terjadi pada individu tertentu, tetapi juga pada suatu
kelompok, bahkan pada sebagian besar warga masyarakat yang mempercayainya.
Berkaitan dengan intensitas adalah tingkat kepentingan masalah. Tidak
semua masalah sama pentingnya. Ada masalah dianggap lebih penting ketimbang
masalah-masalah lain. Dan masalah yang dianggap lebih penting biasanya lebih
ditonjolkan dalam diskusi-diskusi ketimbang masalah lain yang dianggap kurang
penting. Suatu masalah yang penting dengan mudah mengundang pendapat dari
berbagai kalangan dalam suatu masyarakat. Perilaku politik seseorang atau
kelompok orang pun bisa dipengaruhi oleh tingkat kepentingan masalah tersebut.
Suatu survei yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa
pendapat umum itu bisa menjadi tidak konsisten, berdasarkan dua alasan. Pertama,
karena seseorang mungkin saja menganut suatu pendapat hanya sampai pada tingkat
tertentu. Kedua, karena pendapat tertentu itu tidak sesuai dengan pengetahuan yang
dimiliki seseorang. Seorang individu yang rasional lebih terbuka terhadap berbagai
macam informasi. Kemudian ia juga dapat memprosesnya secara kritis dan objektif.
12

Ia mampu memilah informasi yang benar dan salah, yang baik dan buruk. Dengan
demikian dia mampu mengambil suatu sikap yang tepat untuk menjadi rasional,
seseorang harus membuka diri baik terhadap hal-hal yang menyenangkan maupun
yang tidak menyenangkan, ia harus memperhatikan keduanya dan menerimanya
secara apa adanya bukan berdasarkan keinginan dirinya sendiri.
Namun untuk menjadi rasional atau tidaknya seseorang, konteks sosial
sangat menentukkan. Dalam hal ini interaksi antara lingkungan masyarakat dengan
individu sangat menetukkan. Seseorang yang hanya bergaul dengan orang-orang
yang panatik akan menjadi panatik, dan dengan demikian ia pun cenderung menjadi
kurang atau bahkan tidak rasional dalam menanggapi suatu permasalahan publik.
Dengan ini ingin ditandaskan bahwa pendapat umum merupakan hasil logis dari
tatap muka, pengaruh orang tua, pendidikan, kelompok sebaya, rekan-rekan kerja,
dan media masa. Tentu saja tidak semua pengaruh itu sama pentingnya. Ada faktor
yang lebih berpengaruh ketimbang faktor-faktor lainnya. Hal ini tergantung dari
evaluasi masing-masing individu.
Perubahan pendapat umum disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena
banyaknya perlawanan atas pendapat yang lama dari berbagai kalangan yang
menghendaki perubahan segala yang ada. Kedua, karena ketidak percayaan atas
pihak-pihak yang sebelumnya dijadikan sumber informasi yang diandalkan. Kedua
faktor itupun tentu saja berkaitan pula dengan pengetahuan, nilai-nilai, dan sikapsikap mereka yang terlibat dalam proses perubahan itu. Dalam proses ini,
komunikasi

politik

berperan

sebagai

katalisator,

sarana

dinamis,

yang

memungkinkan informasi-informasi politik yang relevan bisa mencapai segenap


lapisan masyarakat, dan membentuk orientasi politik pada diri warga masyarakat
yang bersangkutan. Memang orientasi ini bersifat sementara, tetapi pada saat nya
mendorong orang untuk menduduki jabatan-jabatan politik tertentu, dan
mempengaruhi pertimbangan perekrutan kader-kader bagi suatu organisasi politik.
Tetapi tidak hanya itu. Orientasi tersebut pun pada gilirannya mendorong orang
untuk melakukan perubahan-perubahan besar dalam bidang politik, sosial, dan
ekonomi.

13

14

BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan
Komunikasi politik merupakan proses pengalihan pesan, (berupa data, fakta,
informasi atau citra), yang mengandung suatu maksud atau arti, dari pengirim kepada
penerima yang melibatkan proses pemaknaan terhadap kekuasaan (power),
kewenangan (authority), kehidupan publik (public life), pemerintahan (government),
Negara (state), konflik dan resolusi konflik (conflict dan conflict resolution),
kebijakan (policy), pengambilan keputusan (decision making), dan pembagian
(distribution) atau alokasi (allocation).
Komunikasi politik memiliki beberapa model yaitu pola komunikasi vertikal
(dari atas ke bawah dan sebaliknya), pola komunikasi horizontal, pola komunikasi
formal, dan pola komunikasi informal.
Selain pola, komunikasi politik memiliki saluran, dalam hal ini media massa
(surat kabar, majalah, tabloid, radio, dan televisi) merupakan sarana utama bagi
penyaluran informasi mengenai masalah-masalah politik. Selain itu, kontak-kontak
antarpribadi maupun antarkelompok merupakan saluran politik yang penting untuk
diperhatikan juga.
Pendapat umum merupakan hasil logis dari tatap muka, pengaruh orang tua,
pendidikan, kelompok sebaya, rekan-rekan kerja, dan media masa. Proses
pembentukan pendapat berkaitan erat dengan proses sosialisasi politik, partisipasi,
dan pengrekrutan politik. Robert Lane dan David Sears berpendapat, bahwa
pendapat umum memberikan pengarahan. Ini berarti, bahwa beberapa individu akan
menyetujui satu pandangan tertentu, sedangkan individu yang lain menentangnya.

15

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Anwar, 2003. Komunikasi Politik. Jakarta: PT. Balai Pustaka


Nimmo, Dan, 2001. Komunikasi PolitikKhalayak dan Efek. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya
Maran, Rafael Raga, 2007. Komunikasi Politik. Jakarta: PT Rineka Cipta

16