Anda di halaman 1dari 3

Uang dan harta jangka panjang

2.
Istilah uang mengacu pada aset yang biasanya digunakan
oleh orang untuk membeli barang dan jasa. Uang memiliki 3
fungsi
1.
2.
3.

Alat tukar. Uang memberikan alat yang digunakan


untuk bertransaksi
Satuan hitung. Uang memberikan cara dimana
harga dan nilai ekonomi lainnya dicatat
Penyimpan nilai. Uang memberikan cara
mentransfer kekuatan pembelian dari masa
sekarang menuju masa depan.

Hal tersebut meningkatkan rasio cadangan,


menurunkan penggandaan uang dan menurunkan
jumlah uang yang beredar.
3.

Jenis uang:

Syarat cadangan minimum


Merupakan regulasi jumlah cadangan minimum
yang harus dipegang oleh bank berbanding dengan
dana simpanan. Kenaikan syarat cadangan
minimum berarti bank harus memegang lebih
banyak cadangan sehingga dapat mengurangi
pinjaman dari setiap unit uang yang disimpan.

Uang komoditas (emas) merupakan uang yang memiliki


nilai intrinsik. Uang komoditas akan dinilai, bahkan jika
tidak digunakan sebagai uang.

Tingkat diskonto
Bank meminjam dari bank sentral jika memiliki
sedikit cadangan untuk memenuhi persyaratan
cadangan. Ketika bank sentral memberikan
pinjaman kepada bank, sistem perbankan memiliki
lebih banyak cadangan

Uang fiat (uang kertas) merupakan uang tanpa nilai


intrinsik. Akan tidak berharga jika tidak digunakan sebagai
uang.
1
Uang dan Inflasi

Bank sentral bertanggung jawab untuk mengatur sistem


moneter dan melaksanakan kebijakan moneter. Bank sentral
mengendalikan jumlah uang yang beredar terutama melalui
operasi pasar terbuka. Pembelian obligasi negara
meningkatkan jumlah uang beredar, sedangkan penjualan
obligasi negara menurunkan jumlah uang beredar. Bank
sentral juga dapat meingkatkan jumlah uang beredar dengan
menurunkan syarat cadangan minimum atau menurunkan
tingkat diskonto dengan meningkatkan syarat cadangan
minimum atau meningkatkan tingkat diskonto.
3 alat kebijakan moneter yang penting:
1.

Operasi pasar terbuka


Bank sentral melaksanakan operasi pasar terbuka
ketika bank sentral membeli atau menjual obligasi
negara. Untuk meningkatkan jumlah uang yang
beredar, bank sentral menginstruksikan pialang
obligasi untuk membeli obligasi dari publik di
pasar obligasi nasional. Uang pembayaran tersebut
meningkatkan jumlah uang beredar di dalam
negeri. Setiap unit uang baru yg diedarkan
meningkatkan jumlah uang yg beredar secara tepat
untuk 1 unit. Setiap unit uang baru yg disimpan di
bank meningkatkan cadangan sehingga jumlah
uang dalam sistem perbankan dapat diciptakan.
Operasi pasar terbuka mudah dilakukan, oleh
karena itu operasi pasar terbuka paling sering
digunakan bank sentral.

Tingkat harga keseluruhan dalam perekonomian disesuaikan


untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan uang
ketika bank sentral meningkatkan jumlah uang yang beredar,
hal ini menyebabkan tingkat harga naik. Pertumbuhan yang
tetap pada jumah uang yang disediakan mengarah pada
inflasi berkelanjutan.
Prinsip kenetralan moneter menyatakan bahwa perubahan
pada jumlah uang mempengaruhi variabel nominal, tetapi
tidak mempengaruhi variabel riil.
Menurut efek Fisher (Irving Fisher 1867-1947), ketika
tingkat inflasi naik, suku bunga nominal naik dengan nilai
yang sama, jadi suku bunga riil tetap sama. Suku bunga riil
= suku bunga nominal tingkat inflasi
6 kerugian inflasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pengurangan jumlah uang yang dipegang


Seringnya penyesuaian harga
Peningkatan variabilitas pada harga relatif
Perubahan yang tidak disengaja pada liabilitas
pajak karena nonindeksasi pada sistem pajak
Kebingungan
dan
ketidaknyamanan
yang
diakibatkan oleh satuan hitung
Redistribusi kekayaan yang tidak seimbang
diantara debitur dan kreditur.

Teori jumlah uang, sebuah teori yang menyatakan bahwa


jumlah uang yang tersedia menentukan tingkat harga dan
bahwa tingkat pertumbuhan jumlah uang menentukan
tingkat inflasi.

Untuk menghitung velositas


V = ( P x Y) / M

2.

Barang-barang yang dapat diperdagangkanpun


tidak selalu merupakan barang substitusi yang
sempurna ketika diproduksi di negara berbeda.

P=tingkat harga, Y=jumlah keluaran (PDB riil), M=jumlah


uang
Pasar dana pinjaman
Ekspor neto adalah nilai barang dan jasa dalam negeri yang
dijual di luar negeri dikurangi dengan nilai barang dan jasa
luar negeri yang dijual di dalam negeri. Arus keluar modal
neto adalah akusisi aset luar negeri oleh penduduk domestik
dikurang akusisi aset domestik oleh penduduk asing. Karena
setiap transaksi internasional melibatkan pertukaran aset
untuk sebuah barang atau jasa, arus keluar modal neto suatu
negara sama dengan ekspor netonya.
Tabungan suatu negara dapat digunakan untuk membiayai
investasi domestik atau membeli aset luar negeri. Dengan
demikian, tabungan nasional sama dengan investasi
domestik ditambah dengan arus keluar modal neto.

Nilai tukar nominal adalah harga relatif mata uang dua


negara, edangkan nilai tukar riil adalah harga relatif barang
dan jasa dua negara. Ketika nilai tukar nominal berubah
sehingga setiap unit mata uang domestik dapat membeli
mata uang masing-masing dalam jumlah yang lebih banyak.,
mata uang dalam negeri dikatakan terapresiasi atau
menguat. Ketika nilai tukar nominal berubah sehingga setiap
unit mata uang domestik hanya dapat membeli mata uang
luar negeri dalam jumlah yang lebih sedikit maka mata uang
domestik diktakan terdepresiasi atau menurun.
Berdasarkan teori paritas daya beli, suatu unit mata uang
tertentu harus mampu membeli barang dalam jumlah yang
sama di semua negara. Teori ini mengiplikasikan bahwa
nilai tukar nominal antara mata uang dua negara harus
mencerminkan tingkat harga di negara-negara tersebut.
Akibatnya, negara-negara dengan inflasi yang rlatif tinggi
akan memiliki mata uang yang terdepresiasi, sedangkan
negara dengan tingkat inflasi rendah akan memiliki mata
uang yang terapresiasi. 2 alasan teori paritas daya beli tidak
akurat:
1.

Banyak barang yang tidak mudah untuk


diperdagangkan. Contohnya harga potong rambut
di singapura lebih mahal dari Indonesia.
Pengunjung akan enggan memotong rambut di
singapura dan tukang potong rambut akan lebih
memilih bekerja di Singapura. Sehingga deviasi
dari paritas daya beli mungkin tetap ada, dan 50rb
indoneia mungkin tidak cukup untuk membayar
potong rambut di singapura.

Tabungan (S) = investasi (I) + arus keluar modal neto


(NCO)
Tingkat suku bunga menyeimbangkan penawaran dana
pinjaman (dari tabungan nasional) dan permintaan untuk
dana pinjaman (dari investasi domestik dan arus keluar
modal neto)
Paras pertukaran valuta asing
Arus keluar modal neto (NCO) =
Nilai tukar riil menyeimbangkan penawaran mata uang lokal
(dari arus keluar modal neto) dan permintaan untuk mata
uang lokal (dari ekpor neto).

Karena arus keluar modal neto merupakan bagian dari


permintaan dana pinjaman dan menjadi sumber penyediaan
mata uang asing untuk pasar pertukaran valuta asing., ini
merupakan variabel yang menghubungkan kedua pasar.
Sebuah kebijakan yang mengurangi tabungan nasional.,
seperti
defisit
anggaran
pemerintah,
mengurangi
ketersediaan dana pinjaman dan mendorong tingkat suku
bunga naik. Tingkat suku bunga yang lebih tinggi
mengurangi arus keluar modal yang mengurangi
ketersediaan mata uang lokal di pasar untuk pasar
pertukaran valuta asing. Mata uang lokal naik, dan ekspor
neto menurun.
Meskipun kebijakan yang membatasi perdagangan, seperti
tarif atau kuota impor, terkadang dianjurkan sebagai cara
untuk mengubah keseimbangan perdagangan, kebijakan ini
tidak selalu memiliki dampak tersebut. Pembatasan
pedagangan menaikan ekspor neto untuk nilai tukar yang
diberikan sehingga meningkatkan permintaan untuk mata
uang lokal di pasar untuk pasar pertukaran valuta asing.
Akibatnya mata uang lokal naik nilainya, membuat barang
domestik menjadi lebih maha dibandingkan dengan barang
luar negeri. Kenaikan ini mengimbangi pengaruh awal dari
pembatasan perdagangan terhadap ekspor neto.

Menurut model permintaan dan penawaran agregat, hasil


barang dan jasa serta tingkat harga keseluruhan
menyesuaikan dengan permintaan dan penawaran agregat.

Kurva permintaan agregat miring ke bawah karena:


1.

2.

3.

Tingkat harga yang lebih rendah menaikan nilai riil


kepemiikan uang rumah tangga yang menstimulasi
belanja konsumen.
Tingkat harga yang lebih rendah mengurangi
jumlah permintaan uang oleh rumah tangga, ketika
rumah tangga mencoba untuk mengubah uang
menjadi aset yang akan mendatangkan bunga, suku
bunga akan jatuh dan menstimulasi pengeluaran
investasi
Ketika tingkat harga yang lebih rendah mengurangi
suku bunga, mata uang lokal menyusut di pasar
valuta asing yang menstimulasi ekspor neto

Peristiwa atau kebijakan yang meningkatkan konsumsi,


investasi, belanja pemerintah, atau ekspor neto pada tingkat
harga berapapun akan meningkatkan permintaan agregat.
Begitu pula sebaliknya.
Teori yang menjelaskan kurva penawaran agregat miring ke
atas

Teori kekakuan upah


Kemerosotan tingkat harga yang tidak diduga untuk
sementara waktu menaikan upah riil yang
mendorong perusahaan untuk mengurangi tenaga
kerja dan produksi. Menurut
Teori kekakuan harga
Kemerosotan tingkat harga yang tidak diduga
membuat perusahaan menanggung harga yang
sementara waktu terlalu tinggi yang mengurangi
penjualannya dan menyebabkan perusahaan
tersebut memotong produksinya.
Teori kesalahan presepsi
Kemerosotan tingkat harga membuat produsen
secara salah, meyakini bahwa harga relatif mereka
telah jatuh yang membuat mereka mengurangi
produksi.

Peristiwa yang mengubah kemampuan perekonomian untuk


memproduksi output, seperti perubahan pada tenaga kerja,
modal, sumber daya alam, atau teknologi, menggeser kurva
penawaran agregat jangka pendek (dan mungkin juga
menggeser kurva penawaran agregat jangka panjang). Selain
itu, posisi kurva penawaran agregat jangka pendek
bergantung pada tingkat harga harapan.
Penyebab fluktuasi ekonomi
1.

Pergeseran pada permintaan agregat. Ketika kurva


permintaan agregat bergeser ke kiri, misalnya

2.

output dan harga merosot dalam jangka pendek.


Seiring berjalannya waktu, ketika perubahan pada
tingkat harga harapan menyebabkan upah, harga,
dan persepsi menyesuaikan diri, kurva penawaran
agregat jangka pendek bergeser ke kanan, dan
perekonomian kembali ke tingkat output alaminya
pada tingkat harga yang baru dan lebih rendah.
Pergeseran pada penawaran agregat. Ketika kurva
penawaran agregat bergeser ke kiri, dampak jangka
pendeknya adalah hasil yang merosot dan harga
yang naik (kombinasi yang disebut dengan
stagflasi). Seiring berjalannya waktu, ketika upah,
harga, dan presepsi menyesuaikan diri, tingkat
jatuh kembali ke tingkat awalnya dan output pun
pulih.

Keynes mengusulkan teori preferensi likuiditas untuk


menjelaskan faktor penentu suku bunga. Menurut teori ini,
suku bunga berubah-ubah untuk menyeimbangkan
penawaran dan permintaan uang.
Pembuat kebijakan dapat mempengaruhi permintaan agregat
melalui kebijakan moneter. Kenaikan jumlah uang yang
beredar menurunkan suku bunga keseimnangan pada setiap
tingkat harga.

Karena suku bunga yang lebih rendah mendorong belanja


investasi, kurva permintaan agregat bergeser ke kanan.
Begitu pula sebaliknya. Mereka juga dapat mempengaruhi
permintaan agregat mealui kebijakan fiskal. Kenaikan
pembelanjaan negara atau penurunan pajak menggeser kurva
permintaan agregat ke kanan.
Kurva philips menggambarkan hubungan negatif antara
inflasi dan pengangguran. Trade off antara inflasi dan
pengangguran yang digambarkan oleh kurva philips hanya
terjadi pada jangka pendek. Pada jangka panjang, inflasi
yang diharapkan menyesuaikan diri dengan perubahanperubahan pada inflasi aktualnya, sedangkan kurva philips
jangka pendek bergeser. Akibatnya, kurva philips jangka
panjang menjadi vertikal pada tingkat pengangguran
alamiah.
Kurva philips jangka pendek juga bergeser karena
guncangan pada penawaran agregat. Setelah guncangan
penawaran yang merugikan, para pembuat keputusan harus
menerima tingat inflasi yang lebih tinggi untuk setiap
tingkat pengangguran atau tingkat pengangguran yang lebi
tinggi untuk setiap tingkat inflasi.