Anda di halaman 1dari 25

TAHUN 2015

PERSYARATAN TEKNIS
PASAL 1
UMUM

1.

PERATURAN TEKNIS UMUM


Untuk melaksanakan pekerjaan ini digunakan peraturan-peraturan dan ketentuanketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI/SK SNI) tahun 1991 termasuk segala
perubahan-perubahannya hingga kini.

2.

PENJELASAN UMUM TENTANG TATA TERTIB PELAKSANAAN


1.

Sebelum memulai pelaksanaan, Pelaksana Pekerjaan diwajibkan mempelajari


dengan seksama gambar kerja dan RKS Pelaksanaan beserta Berita Acara
Penjelasan Pekerjaan.

2.

Pelaksana Pekerjaan diwajibkan mengukur ulang dan mengecek seluruh besaran


yang ada, kemudian mencocokkan hasil pengukuran dengan gambar kerja dan
hasilnya dikoordinasikan dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi
dan UMKM Kab. Katingan .

3.

Pelaksana Pekerjaan diwajibkan melaporkan kepada Dinas Perindustrian,


Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan atau Konsultan Pengawas
setiap ada perbedaan ukuran diantara gambar-gambar, perbedaan antara
gambar kerja dan RKS untuk mendapatkan keputusan. Tidak dibenarkan sama
sekali bagi Pelaksana Pekerjaan memperbaiki sendiri perbedaan tersebut diatas.
Akibat-akibat dari kelalaian Pelaksana Pekerjaan dalam hal ini sepenuhnya
menjadi tanggung jawab PelaksanaPekerjaan.

4.

Daerah area kerja akan diserahkan kepada Pelaksana Pekerjaan (selama


pelaksanaan) dalam keadaan seperti di waktu pemberian kerja dan dianggap
bahwa Pelaksana Pekerjaan mengetahui benar-benar mengenai :
1) Letak bagian/area bangunan yang akan dibangun.
2) Batas-batas serta lingkup maupun keadaannya pada waktu itu.
3) Keadaan kontur lapangan.

5.

Pelaksana Pekerjaan wajib menyerahkan hasil pekerjaannya hingga selesai dan


lengkap yaitu membuat, memasang serta memesan maupun menyediakan
bahan-bahan bangunan alat-alat kerja dan pengangkutan, membayar upah kerja
dan lain-lain yang bersangkutan dengan pelaksanaan.

6.

Pelaksana Pekerjaan wajib menyediakan sekurang-kurangnya 1 (satu) salinan


gambar-gambar dan RKS ditempat pekerjaan untuk dapat digunakan setiap
saat oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan
atau Konsultan Pengawas.

7.

Atas perintah Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab.


Katingan atau Konsultan Pengawas kepada Pelaksana Pekerjaan dapat
dimintakan membuat gambar-gambar penjelasan dan perincian bagian-bagian
1

TAHUN 2015

khusus. Semuanya atas beban Pelaksana Pekerjaan. Gambar tersebut setelah


disetujui oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab.
Katingan atau Konsultan Pengawas, secara tertulis akhirnya menjadi gambar
perlengkap dari gambar-gambar pelaksanaan.
8.

Setiap pekerjaan yang akan dimulai pelaksanaannya maupun yang sedang


dilaksanakan, Pelaksana Pekerjaan diwajibkan berhubungan dengan Dinas
Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan atau Pengawas
untuk ikut menyaksikan sejauh tidak ditentukan lain, untuk mendapatkan
pengesahan /persetujuannya.

9.

Setiap usul perubahan dari Pelaksana Pekerjaan ataupun persetujuan


pengesahan dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab.
Katingan dianggap berlaku sah serta mengikat jika dilakukan secara tertulis.

10. Semua bahan yang akan dipergunakan untuk pelaksanaan pekerjaan proyek ini
harus benar-benar baru dan diteliti mengenai mutu, ukuran dan lain-lain yang
sesuaikan standard/peraturan-peraturan yang dipergunakan di dalam RKS ini.
Semua
bahan-bahan
tersebut
diatas
harus
mendapatkan
pengesahan/persetujuan dari Bank Indonesia atau Pengawas sebelum akan
dimulai pelaksanaannya.
11. Pengawasanan terus menerus terhadap pelaksanaan penyelesaian/perapihan,
harus dilakukan oleh tenaga-tenaga dari pihak Pelaksana Pekerjaan yang benarbenar ahli.
12. Semua barang-barang yang tidak berguna selama pelaksanaan pembangunan
harus dikeluarkan dari lapangan pekerjaan.
13. Cara-cara menimbun bahan-bahan di lapangan maupun di gudang harus
memenuhi syarat-syarat teknis, dan dapat dipertanggung jawabkan.
3.

PEIL DAN PENGUKURAN


1.

Pelaksana Pekerjaan wajib memberitahukan kepada Konsultan Pengawas dan


Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan bagian
pekerjaan yang akan dimulai, untuk dicek terlebih dahulu ketentuan peil-peil
dan ukuran-ukurannya.

2.

Pelaksana Pekerjaan diwajibkan senantiasa mencocokkan ukuran-ukuran satu


sama lain dalam tiap pekerjaan dan segera melaporkan secara tertulis kepada
Konsultan Pengawas dan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM
Kab. Katingan setiap terdapat selisih/perbedaan-perbedaan ukuran, untuk
diberikan keputusan pembetulannya. Tidak dibenarkan Pelaksana Pekerjaan
membetulkan sendiri kekeliruan tersebut tanpa persetujuan dari Konsultan
Pengawas dan Bank Indonesia.

3.

Pelaksana Pekerjaan bertanggung jawab atas tepatnya pelaksanaan pekerjaan


menurut peil-peil dan ukuran-ukuran yang ditetapkan dalam gambar kerja.

4.

Mengingat setiap kesalahan selalu akan mempengaruhi bagian-bagian pekerjaan


selanjutnya, maka
ketepatan peil
dan ukuran tersebut mutlak perlu
diperhatikan sungguh-sungguh. Kelalaian Pelaksana Pekerjaan dalam hal ini
tidak akan ditolerir dan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM
2

TAHUN 2015

Kab. Katingan atau Konsultan Pengawas berhak untuk membongkar pekerjaan


dan mengganti dengan yang baru atas biaya Pelaksana Pekerjaan.
5.

4.

5.

Alat ukur minimal yang dipakai adalah waterpas dan theodolit yang sesuai dan
sudah dikalibrasi untuk mendapatkan ukuran yang dapat dipertanggung
jawabkan.

PEMAKAIAN UKURAN
1.

Pelaksana Pekerjaan tetap bertanggung jawab dalam menepati semua


ketentuan yang tercantum dalam Rencana Kerja & Syarat dan gambar-gambar
kerja berikut tambahan dan perubahannya.

2.

Pelaksana Pekerjaan wajib memeriksa kebenaran dari


ukuran-ukuran
keseluruhan maupun bagian-bagiannya dan memberitahukan kepada Konsultan
Pengawas dan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab.
Katingan tentang setiap perbedaan yang ditemukannya di dalam RKS dan
gambar-gambar kerja maupun dalam pelaksanaan. Pelaksana Pekerjaan baru
diijinkan membetulkan kesalahan gambar dan melaksanakannya setelah ada
persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas yang ditentukan oleh Pemberi
Tugas.

3.

Pengambilan ukuran-ukuran yang keliru dalam pelaksanaan, didalam hal


apapun menjadi tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan. Oleh karena itu
sebelumnya kepadanya diwajibkan mengadakan pemeriksaan menyeluruh
terhadap semua gambar-gambar yang ada.

LAPANGAN KERJA
1. Selama proses konstruksi, Pelaksana Pekerjaan wajib membuat kantor direksi
pengawas (direksi keet) seluas 24 m2. Direksi keet tersebut bukan menjadi
milik/beban Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab.
Katingan . Pelaksana Pekerjaan harus membongkar kantor direksi pengawas dan
gudang setelah proyek selesai.
2. Pelaksana Pekerjaan wajib menyediakan perlengkapan kantor direksi
Konsultan Pengawas (direksi keet) berikut perlengkapannya yaitu : meja, kursi,
alat tulis, white board, sepatu proyek dan helm proyek.
3. Untuk menyimpan bahan-bahan bangunan yang
Pekerjaan harus membuat gudang.
4.

6.

dianggap perlu Pelaksana

Penggunaan bangunan yang ada di lapangan, hanya dilakukan dengan izin dari
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan dan
Konsultan Pengawas.

KEBERSIHAN DAN KETERTIBAN


1.

Selama berlangsungnya pembangunan pelaksanaan


fisik proyek
ini,
kebersihan halaman dan lingkungan terutama jalan-jalan disekitar proyek,
kantor, gudang, los kerja dan bagian dalam bangunan yang dikerjakan harus
tetap bersih dan tertib, bebas dari bahan bekas, puing, tumpukan tanah dan
lain-lain. Khusus kebersihan lingkungan terutama jalan-jalan disekitar proyek,
yang harus dibersihkan adalah adanya kotoran yang diakibatkan oleh
3

TAHUN 2015

keluar
masuknya kendaraan proyek ini. Kelalaian dalam hal ini dapat
menyebabkan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab.
Katingan atau Konsultan Pengawas memberi perintah penghentian seluruh
pekerjaan. Akibat dari hal ini seluruhnya menjadi tanggungan Pelaksana
Pekerjaan.
2.

Penimbunan bahan-bahan yang ada dalam gudang-gudang maupun yang


berada di halaman bebas harus diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu
kelancaran dan keamanan pekerjaan/umum dan juga agar memudahkan
jalannya pemeriksaan dan penelitian bahan-bahan oleh Dinas Perindustrian,
Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan atau Konsultan Pengawas.

3.

Pelaksana Pekerjaan wajib membuat urinoir dan WC untuk Pekerja berikut


instalasi air bersih dan air kotor.

4.

Tidak diperkenankan :
a)

Pekerja menginap ditempat pekerjaan kecuali dengan izin Bank Indonesia


atau Konsultan Pengawas.
b) Memasak di tempat bekerja kecuali izin Bank Indonesia atau Konsultan
Pengawas.
c) Membawa masuk penjual-penjual makanan, buah, minuman, rokok dan
sebagainya ke tempat pekerjaan.
d) Keluar masuk dengan bebas.
5.

7.

8.

Peraturan lain mengenai ketertiban akan dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian,


Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan pada waktu pelaksanaan.

ALAT-ALAT KERJA DAN ALAT-ALAT BANTU


1.

Pelaksana Pekerjaan harus menyediakan alat-alat yang diperlukan untuk


melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan secara sempurna dan efisien,
misalnya : beton molen, katrol, steger, mesin-mesin dan alat-alat lain yang
diperlukan.

2.

Bila pekerjaan telah selesai, Pelaksana Pekerjaan diwajibkan segera


menyingkirkan alat-alat tersebut, pada butir 1 Pasal ini, serta memperbaiki
kerusakan yang diakibatkannya dan membersihkan bekas-bekasnya.

3.

Disamping harus menyediakan alat-alat yang diperlukan seperti dimaksud


pada butir 1 Pasal ini. Pelaksana Pekerjaan harus menyediakan alat-alat bantu
sehingga dapat bekerja pada kondisi apapun, seperti tenda-tenda untuk bekerja
pada waktu hujan dan lain-lain.

PEMBANGKIT TENAGA DAN SUMBER AIR


1.

Setiap pembangkit tenaga sementara untuk penerangan pekerjaan, harus


diadakan oleh Pelaksana Pekerjaan termasuk pemasangan sementara kabelkabel, meteran, upah dan tagihan serta pembersihannya kembali pada waktu
pekerjaan selesai adalah beban Pelaksana Pekerjaan.

2.

Air untuk keperluan pekerjaan harus diadakan dan bila memungkinkan


didapatkan dari sumber air yang sudah ada di lokasi pekerjaan
tersebut.Pelaksana Pekerjaan harus memasang sementara pipa-pipa dan lainlain peralatan untuk mengalirkan air dan mencabutnya kembali pada waktu
4

TAHUN 2015

pekerjaan selesai. Biaya untuk pekerjaan pengadaan air sementara adalah beban
Pelaksana Pekerjaan.
3.

9.

Pelaksana Pekerjaan tidak diperbolehkan menyambung dan menghisap air dari


saluran induk, dan sebagainya tanpa terlebih dahulu mendapatkan izin tertulis
dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan dan
Konsultan Pengawas.

IKLAN
Pelaksana Pekerjaan tidak diizinkan memasang iklan dalam bentuk apapun di
lapangan kerja atau di tanah yang berdekatan tanpa izin dari Dinas Perindustrian,
Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan atau Konsultan Pengawas.

10. JALAN MASUK DAN JALAN KELUAR


1.

Pemakaian jalan masuk ke tempat pekerjaan menjadi tanggung jawab pihak


Pelaksana Pekerjaan dan disesuaikan dengan kebutuhan proyek tersebut.

2.

Pelaksana Pekerjaan diwajibkan membersihkan kembali jalan masuk pada waktu


penyelesaian, dan memperbaiki segala kerusakan yang diakibatkannya dan
menjadi beban Pelaksana Pekerjaan.

11. PERLINDUNGAN TERHADAP BANGUNAN LAIN DISEKITARNYA


1.

Selama masa pelaksanaan pekerjaan, Pelaksana Pekerjaan bertanggung jawab


penuh atas segala kerusakan akibat operasi pelaksanaan pekerjaan terhadap
bangunan yang ada, utilitas, jalan, saluran dan lain-lain yang ada di lapangan
pekerjaan dan lingkungan selama hal tersebut di atas tidak termasuk di dalam
pekerjaan.

2.

Pelaksana Pekerjaan juga bertanggung jawab atas gangguan dan pemindahan


yang terjadi atas perlengkapan umum seperti saluran air, telepon, listrik dan
sebagainya yang disebabkan oleh operasi Pelaksana Pekerjaan. Segala biaya
untuk pemasangan kembali beserta perbaikan-perbaikannya adalah menjadi
beban Pelaksana Pekerjaan.

12. KECELAKAAN DAN KESEHATAN


1.

Kecelakaan-kecelakaan yang timbul selama pekerjaan berlangsung menjadi


beban Pelaksana Pekerjaan.

2.

Pelaksana Pekerjaan diwajibkan menyediakan kotak PPPK terisi menurut


kebutuhan, lengkap dengan seorang petugas yang telah terlatih dalam soalsoal mengenai pertolongan pertama.

3.

Terhadap kecelakaan-kecelakaan yang timbul akibat bencana alam, segala


pembiayaannya menjadi beban Pelaksana Pekerjaan.

4.

Pelaksana Pekerjaan diwajibkan menyediakan alat-alat pemadam kebakaran


jenis multi purpose 3 kg isi dry powder sebanyak 2 (dua) buah, pasir dalam bak
kayu, galah-galah dan lain sebagainya.
Pelaksana Pekerjaan diwajibkan memperhatikan
kesehatan karyawankaryawannya.

5.

TAHUN 2015

6.

Sejauh tidak disebutkan dalam RKS ini, maka Pelaksana Pekerjaan harus
mengikuti semua ketentuan umum lainnya yang dikeluarkan oleh Jawatan
Instansi Pemerintah CQ Undang-Undang keselamatan kerja dan lain sebagainya
termasuk semua perubahan-perubahannya yang hingga kini tetap berlaku.

13. PENGAMANAN
1.

Pelaksana Pekerjaan bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu yang ada
di daerahnya mengenai :
a.
b.
c.

Kerusakan-kerusakan yang timbul akibat kelalaian/ kecerobohan yang


disengaja ataupun tidak.
Penggunaan sesuatu yang keliru/salah.
Kehilangan-kehilangan
bagian alat-alat/bahan-bahan yang ada di
daerahnya.

2.

Terhadap semua kejadian sebagaimana disebut di atas Pelaksana Pekerjaan


harus melaporkan kepada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan
UMKM Kab. Katingan atau Konsultan Pengawas dalam waktu paling lambat 24
jam untuk diusut dan diselesaikan persoalannya lebih lanjut.

3.

Untuk mencegah kejadian-kejadian tersebut di atas Pelaksana Pekerjaan harus


mengadakan pengamanan, antara
lain penjagaan, penerangan malam,
pemagaran sementara dan sebagainya.

4.

Setiap pekerja harus memakai alat-alat pengaman seperti helm, ikat pinggang
pengaman dan lain-lain yang dianggap perlu.

5.

Pelaksana Pekerjaan harus menyediakan jaring-jaring pengaman dalam


pelaksanaannya, agar supaya keselamatan lingkungan dapat terjamin dengan
baik.

14. PENGAWASAN
1.

Setiap saat Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab.


Katingan atau Konsultan Pengawas harus dapat dengan mudah mengawasi,
memeriksa dan menguji setiap bagian pekerjaan, bahan dan peralatan,
Pelaksana Pekerjaan harus mengadakan fasilitas-fasilitas yang diperlukan.

2.

Bagian-bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan tetap luput dari pengawasan


Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan atau
Konsultan Pengawas menjadi tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan. Pekerjaan
tersebut jika diperlukan harus segera dibuka sebagian atau seluruhnya.

3.

Jika Pelaksana Pekerjaan perlu melaksanakan pekerjaan di luar jam kerja normal
sehingga diperlukan pengawasan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan,
Koperasi dan UMKM Kab. Katingan atau Konsultan Pengawas, maka segala
biaya untuk
itu menjadi beban Pelaksana Pekerjaan. Permohonan oleh
Pelaksana Pekerjaan untuk mengadakan pemeriksaan tersebut harus dengan
surat disampaikan kepada Konsultan Pengawas yang ditunjuk oleh Pemberi
Tugas.

4.

Wewenang dalam memberikan keputusan yang berada di tangan petugaspetugas Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan
adalah terbatas pada soal-soal yang jelas tercantum/dimasukan didalam
6

TAHUN 2015

gambar - gambar dan RKS dan risalah penjelasan. Penyimpangan dari


padanya haruslah seizin Pemilik Proyek (Dinas Perindustrian, Perdagangan,
Koperasi dan UMKM Kab. Katingan ).
15. PEMERIKSAAN DAN PENYEDIAAN BAHAN DAN BARANG
1.

Bila dalam RKS disebutkan nama dan pabrik pembuatan dari suatu bahan dan
barang, maka ini dimaksudkan menunjukan standard minimal mutu/kualitas
bahan dan barang yang digunakan.

2.

Setiap barang dan bahan yang ada digunakan harus disampaikan kepada
Konsultan Pengawas oleh Pelaksana Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan
Pemilik Proyek. Waktu
penyampaiannya dilaksanakan jauh
sebelum
pekerjaannya dimulai.

3.

Setiap usulan penggunaan nama dan pabrik serta pembuatan dari suatu
bahan dan barang harus mendapat rekomendasi dari Konsultan Pengawas
berdasarkan petunjuk dalam RKS serta gambar-gambar dan risalah penjelasan
selanjutnya usulan tersebut diteruskan untuk mendapatkan persetujuan dari
Pemilik Proyek (Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab.
Katingan ).

4.

Contoh bahan dan barang yang akan digunakan dalam pekerjaan harus
diadakan atas biaya Pelaksana Pekerjaan setelah disetujui oleh Konsultan
Pengawas atau Bank Indonesia, maka bahan dan barang tersebut seperti di
atas yang akan dipakai dalam pelaksanaan pekerjaan nanti.

5.

Contoh bahan dan barang tersebut disimpan oleh Konsultan Pengawas untuk
dijadikan dasar penolakan bila ternyata bahan dan barang yang dipakai tidak
sesuai dengan contoh baik kualitas maupun sifatnya.

6.

Dalam pengajuan harga penawaran, Pelaksana Pekerjaan harus sudah


memasukan sejauh keperluan biaya untuk pengujian berbagai bahan dan
barang. Tanpa mengingat jumlah tersebut, Pelaksana Pekerjaan tetap bertangung
jawab pula atas biaya pengajuan bahan dan barang yang tidak memenuhi
syarat atas perintah Konsultan Pengawas atau Dinas Perindustrian,
Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan .

16. GAMBAR PELAKSANAAN (SHOP DRAWING)


1. Pelaksana Pekerjaan harus membuat gambar pelaksanaan guna pelaksanaan di
lapangan yang harus dibuat berdasarkan gambar-gambar kerja dan disampaikan
kepada Konsultan Pengawas atau Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi
dan UMKM Kab. Katingan untuk mendapat persetujuan.
2.

Pekerjaan Pelaksana Pekerjaan belum dapat dimulai sebelum Gambar


Pelaksanaan disetujui Bank Indonesia atau Konsultan Pengawas.

3.

Bank Indonesia atau Konsultan Pengawas harus mempunyai waktu yang cukup
untuk meneliti gambar pelaksanaan yang diusulkan oleh Pelaksana Pekerjaan.

4.

Persetujuan terhadap gambar pelaksanaan bukan berarti menghilangkan


tanggung jawab pihak Pelaksana Pekerjaan terhadap pelaksanaan pekerjaan
tersebut.
7

TAHUN 2015

Kelambatan atas proses ini tidak berarti Pelaksana Pekerjaan mendapat


perpanjangan waktu pelaksanaan.
5.

Gambar tersebut diatas harus dalam rangkap 3 (tiga) berikut kalkirnya dan
semua biaya pembuatannya ditanggung oleh Pelaksana Pekerjaan.

17. GAMBAR YANG BERUBAH DARI RENCANA


1.

Gambar-gambar yang dapat berubah dengan perintah tertulis Pemilik Proyek


(Bank Indonesia) berdasarkan pertimbangan Konsultan Pengawas.

2.

Perubahan rancangan ini harus digambarkan sesuai dengan apa yang


diperintahkan oleh Pemilik Proyek, yang jelas memperlihatkan perbedaan
antara gambar-gambar dan gambar perubahan rancangan.

3.

Gambar tersebut harus diserahkan dalam rangkap 3 (tiga) berikut kalkirnya


dan semua biaya pembuatannya ditanggung oleh Pelaksana Pekerjaan.

4.

Gambar perubahan yang disetujui oleh Pemilik Proyek (Dinas Perindustrian,


Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan ) kemudian dilampirkan
dalam Berita Acara Pekerjaan Tambah Kurang.

18. KERUSAKAN BAGIAN PEKERJAAN OLEH PELAKSANA / PELAKSANA PEKERJAAN


/ SUB-PELAKSANA PEKERJAAN
1.

Setiap bagian pekerjaan yang berhubungan dari Pelaksana Pekerjaan satu


dengan Pelaksana Pekerjaan lain, harus selalu dalam koordinasi yang baik, agar
kerusakan dari masing-masing bidang pekerjaannya dapat dihindari.

2.

Bila kerusakan bagian bangunan tidak bisa dihindari, Pelaksana Pekerjaan yang
bersangkutan diwajibkan memperbaiki bagian yang rusak tersebut seperti
keadaan semula dinilai dan disetujui Konsultan Pengawas atau Dinas
Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan secara tertulis.

19. UNSUR PEKERJAAN YANG DISEBUTKAN KEMBALI


Apabila dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat Teknis ini ada bagian-bagian/babbab yang menyebutkan kembali setiap unsur pekerjaan pada item/ayat lain, maka
ini bukan berarti menghilangkan item/ayat tersebut tetapi dengan pengertian lebih
menegaskan.
20. BROSUR/KATALOG
Pelaksana Pekerjaan harus mengajukan kepada Dinas Perindustrian, Perdagangan,
Koperasi dan UMKM Kab. Katingan atau Pengawas brosur/catalog, sertifikat,
spesifikasi teknis dan contoh material yang akan digunakan. Material tidak boleh
dipesan sebelum brosur, sertifikat, persyaratan teknis dan contoh material tersebut
disetujui oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan
atau Konsultan Pengawas.
21. JAMINAN / GARANSI
Pelaksana Pekerjaan wajib dan menyerahkan sertifikat/kartu jaminan untuk
material-material atau alat-alat yang mendapat garansi/jaminan dari agen atau
suplier atau distributor yang memproduksi material/alat tersebut ke Konsultan
8

TAHUN 2015

Pengawas, yang kemudian untuk diserahkan kepada pemilik (Dinas Perindustrian,


Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan ).
22. IMB DAN IJIN-IJIN LAINNYA.
Pelaksana Pekerjaan wajib mengurus Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dan ijin-ijin
lingkungan lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan proyek. Biaya resmi yang
dikeluarkan oleh Instansi Pemerintah dapat direimburse ke Dinas Perindustrian,
Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan .

TAHUN 2015

PERSYARATAN TEKNIS
PASAL 2
GALIAN, URUGAN KEMBALI DAN PEMADATAN

1.

LINGKUP PEKERJAAN.
Pekerjaan ini meliputi tetapi tidak terbatas pada hal-hal berikut :
Menyediakan peralatan dan perlengkapan yang memadai, bahan-bahan, tenaga
kerja yang cukup untuk menyelesaikan semua pekerjaan jika diperlukan.
Penggalian, pengurugan kembali dan pemadatan semua pekerjaan yang
membutuhkan galian dan/atau urugan kembali seperti ditunjukkan dalam Gambar
Kerja.
Penggalian, pengurugan kembali dan pemadatan di lokasi dimana terdapat sisa
konstruksi atau instalasi yang berada di bawah tanah yang sudah tidak berfungsi
lagi sesuai dengan petunjuk Pengawas pengawas atau Dinas Perindustrian,
Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan .
Membuang semua bahan-bahan galian yang tidak memenuhi persyaratan ke suatu
tempat pembuangan yang telah ditentukan. Penggalian dan pengangkutan bahan
timbunan dari suatu tempat galian. Melengkapi pekerjaan seperti ditentukan dalam
Spesifikasi ini.

2.

PELAKSANAAN PEKERJAAN
2.1.

Penggalian.
2.1.1.

Penggalian harus dikerjakan sesuai garis dan kedalaman seperti


ditunjukkan dalam Gambar Kerja atau sesuai petunjuk Dinas
Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan atau
Konsultan Pengawas. Lebar galian harus dibuat cukup lebar untuk
memberikan ruang gerak dalam melaksanakan pekerjaan.

2.1.2.

Elevasi yang tercantum dalam Gambar Kerja merupakan perkiraan


saja dan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab.
Katingan
atau Konsultan Pengawas dapat menginstruksikan
perubahan-perubahan bila dianggap perlu.

2.1.3.

Setiap kali pekerjaan galian selesai, Pelaksana Pekerjaan wajib


melaporkannya kepada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi
dan UMKM Kab. Katingan atau Konsultan Pengawas untuk diperiksa
sebelum melaksanakan pekerjaan selanjutnya.

2.1.4.

Semua lapisan keras atau permukaan keras lainnya yang digali harus
bebas dari bahan lepas, bersih dan dipotong mendatar atau miring
sesuai Gambar Kerja atau sesuai petunjuk Dinas Perindustrian,
Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan atau Konsultan
Pengawas sebelum menempatkan bahan urugan.

10

TAHUN 2015

2.2.

2.1.5.

Bila bahan yang tidak sesuai terlihat pada elevasi penggalian


rencana, Pelaksana Pekerjaan
harus melakukan penggalian
tambahan sesuai petunjuk Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi
dan UMKM Kab. Katingan
atau Konsultan Pengawas, sampai
kedalaman yang memiliki permukaan yang sesuai.

2.1.6.

Untuk lapisan lunak, permukaan akhir galian tidak boleh diselesaikan


sebelum pekerjaan berikutnya siap dilaksanakan, sehingga air hujan
atau air permukaan lainnya tidak merusak permukaan galian. Untuk
menggali tanah lunak, Pelaksana Pekerjaan harus memasang dinding
penahan tanah sementara untuk mencegah longsornya tanah ke dalam
lubang galian. Pelaksana Pekerjaan harus melindungi galian dari
genangan air atau
air hujan dengan menyediakan saluran
pengeringan sementara atau pompa.

2.1.7.

Galian di bawah elevasi rencana karena kesalahan dan kelalaian


Pelaksana Pekerjaan harus diperbaiki sesuai petunjuk Konsultan
Pengawas tanpa tambahan biaya dari Pemilik Proyek.

Urugan dan Timbunan.


2.2.1.

Pekerjaan urugan atau timbunan hanya dapat dimulai bila bahan


urugan dan lokasi pengerjaan urugan/timbunan telah disetujui Dinas
Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan atau
Konsultan Pengawas.

2.2.2.

Pelaksana Pekerjaan tidak diijinkan melanjutkan pekerjaan


pengurugan
sebelum
pekerjaan
terdahulu disetujui Dinas
Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan atau
Konsultan Pengawas.

2.2.3.

Bahan galian yang sesuai untuk bahan urugan dan timbunan dapat
disimpan oleh Pelaksana Pekerjaan di tempat penumpukan pada lokasi
yang memudahkan pengangkutan selama pekerjaan pengurugan dan
penimbunan berlangsung. Lokasi penumpukan harus disetujui Dinas
Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan atau
Konsultan Pengawas.

2.2.4.

Pengurugan pekerjaan beton hanya dapat dilakukan ketika umur


beton minimal 14 hari, dan ketika pekerjaan pasangan berumur
minimal 7 hari, atau setelah mendapat persetujuan dari Dinas
Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan atau
Konsultan Pengawas.

2.2.5.

Urugan kembali lubang pondasi / pasangan harus dilakukan dengan


persetujuan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM
Kab. Katingan atau Konsultan Pengawas.

2.2.6.

Urugan harus dilakukan lapis demi lapis dan tiap-tiap lapis dipadatkan.

2.2.7.

Urugan yang dipakai adalah dari jenis tanah sility clay yang bersih
tanpa potongan-potongan bahan bahan yang bisa lapuk serta bahan
batuan yang telah dipecah-pecah yang ukurannya lebih besar dari 15
cm
11

TAHUN 2015

2.2.8.
2.3.

Pemborong wajib mengusahakan agar semua bahan keras untuk


urugan hanya terdiri dari mutu terbaik yang bisa diperoleh.

Pemadatan.
Kepadatan tanah harus diukur dengan nilai dry density contoh tanah sebagai
presentase kepadatan kering maksimum pada kadar air optimum sebagaimana
ditetapkan pada pengujian (test) ini.
Semua bahan yang akan digunakan bagi urusan harus sesuai dengan ayat ini
dan harus didapatkan sampai 90% kepadatan kering. Pemadatan dari seluruh
bahan-bahan harus dilakukan dengan penyiraman optimum untuk
mendapatkan hasil pemadatan yang dikehendaki Pengawas.
Pengawas dapat memerintahkan Pemborong untuk memeriksa kandungan air
pada tanah timbunan dengan maksud menghindari terjadinya konsolidasi.
Bila diperlukan untuk memberikan air tambahan ke dalam campuran bahan
untuk mendapatkan kepadatan kering yang dihendaki, biaya dari pengadaan,
pengangkutan, atau pemompaan, penyemprotan serta pencampuran dari air
harus dimasukkan dalam harga borongan.
Air harus ditambahkan jika atau pada mana dibutuhkan dengan angkutan
tangki air yang dilengkapi dengan alat semprotan yang memenuhi syarat segala
pekerjaan pemadatan dari konstruksi atau cara lain tidak diijinkan untuk
dilakukan dalam keadaan apapun juga.
Segala bahan-bahan untuk pengurusan harus digabungkan dalam suatu
rencana operasi kerja yang telah disetujui dengan mencantumkan uraianuraian kerjanya, seperti penyimpanan dan pencampuran sesuai dengan
ketetapan di atas dan pemadatan dilaksanakan dengan ijin yang telah
dikerluarkan,.
Pemborong harus mengurangi sekecil mungkin kekosongan-kekosongan antara
kegiatan yang satu dengan yang selanjutnya. Semua alat-alat pemadatan harus
bekerja pada seluruh daerah untuk menjamin adanya suatu pemadatan yang
merata (seragam), semua pemadatan harus dilakukan lapis demi lapis dengan
ketebalan tidak lebih dari 0.20m atau yang lebih tipis agar dicapai kepadatan
yang dikehendaki.
Semua bagiaan-bagian yang telah selsesai dipadatkan harus dilindungi
terhadap kerusakan akibat peralatan, aliran air hujan, atau penyebab lainnya.
Bilamana terjadi kerusakan-kerusakan seperti tersebut di atas, pemborong
diwajibkan untuk memperbaikinya.
Bila ada bagian tanah yang tidak baik yang menurut pendapat Pengawas tidak
dibutuhkan, pasir atau tanah liat yang kelebihan, maka daerah tanah semacam
ini harus diperbaiki dengan campuran dari bahan-bahan yang baik, atau
dengan membuang bagian ini menggantikan dengan bahan lain agar dapat
dijamin keseragaman dari formasi pemadatan.

12

TAHUN 2015

Pengujian (test) untuk kontrol dari pemadatan harus dilakukan secara berkala
dan teratur. Bila dalam terst tertentu dijumpai bagian tanah yang berada di
bawah standard minimum, maka pemborong diwajibkan untuk menyiram
sebagaimana yang dikehndaki Pengawas.
Pemborong harus memberikan waktu yang cukup untuk melakukan dan
pemberitahuan test-test di atas dalam recana program konstruksinya.

13

TAHUN 2015

PERSYARATAN TEKNIS
PASAL 3
BETON BERTULANG

1.

LINGKUP PEKERJAAN.
Lingkup pekerjaan ini meliputi pengangkutan, pengadaan bahan, peralatan dan
tenaga kerja serta pelaksanaan pekerjaan beton pada tempat-tempat seperti
ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
Pekerjaan ini tidak terbatas pada pondasi telapak, sloof, kolom, balok, plat lantai
dan pekerjaan beton lainnya seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
Setelah Pekerjaan galian pondasi selesai, sebelum dilanjtkan dengan pekerjaan
pondasi terlebih dulu dibawah pondasi dipasang cerucuk kayu galam diameter 8
10 Cm panjang 4 m jarak pemasangan 30 cm as ke as.

2.

PROSEDUR UMUM.
2.1.

Gambar Detail Pelaksanaan.


Gambar Detail Pelaksanaan berikut harus diserahkan Pelaksana Pekerjaan
kepada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab. Katingan
atau Konsultan Pengawas untuk disetujui.
Diagram penulangan yang menunjukkan pembengkokan, kait, lewatan,
sambungan dan lainnya sesuai ketentuan Persyaratan teknis Baja Tulangan.
Bentuk cetakan harus menunjukkan batang struktur, spasi, ukuran, sambungan,
sisipan dan pekerjaan lainnya yang terkait.

2.2.

Contoh Bahan.
2.2.1. Sebelum pelaksanaan, Pelaksana Pekerjaan harus memberikan contohcontoh material, misalnya PC, pasir, split atau besi tulangan untuk
mendapatkan persetujuan dari Konsultan Pengawas.
2.2.2. Contoh-contoh material yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas,
akan dipakai sebagai standart/pedoman untuk memeriksa/ menerima
material yang dikirim oleh Pelaksana Pekerjaan ke site.
2.2.3. Pemakaian adukan atau campuran adukan diajukan terlebih dahulu
sebelum melakukan pengecoran.

2.3.

Syarat Pengiriman dan Penyimpanan.


2.3.1. Bahan harus didatangkan ke tempat pekerjaan dalam keadaan utuh
dan tidak cacat. Beberapa bahan tertentu harus masih di dalam kotak/
kemasan aslinya yang masih tersegel dan berlabel pabriknya.
2.3.2. Bahan harus disimpan di tempat yang terlindung dan tertutup kering,
tidak lembab dan bersih sesuai dengan persyaratan yang telah
ditentukan pabrik.

14

TAHUN 2015

2.3.3. Tempat penyimpanan harus cukup, bahan ditempatkan dan dilindungi


sesuai dengan jenisnya.
2.3.4. Pelaksana Pekerjaan harus bertanggung jawab terhadap kerusakan
selama pengiriman dan penyimpanan. Bila ada kerusakan, Pelaksana
Pekerjaan wajib mengganti atas beban Pelaksana Pekerjaan sendiri.
3.

BAHAN-BAHAN.
3.1.

Mutu Beton.
Mutu beton yang dicapai dalam pekerjaan beton bertulang adalah beton K-225
(Untuk Sitemix perbandingan campuran adalah 1PC : 1,5 Pasir : 2,5 kerikil), dan
harus memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam SNI/SK SNI 1991. Adapun
beton ini dipakai untuk pekerjaan sloof, kolom praktis, ring balok, pondasi,
lantai, dan lain-lain seuai dengan gambar kerja.

3.2.

Semen.
Semen harus dari tipe I dan memenuhi persyaratan SNI/SK SNI 1991, seperti
Gresik, Cibinong, Tiga Roda. Sebelum pengadaan semen, sertifikat semen harus
diserahkan kepada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM
Kab. Katingan untuk disetujui, termasuk metoda dan cara pengangkutan harus
disertakan. Semen harus diadakan dalam kemasan besar atau zak, dengan
persetujuan dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kab.
Katingan atau Konsultan Pengawas.

3.3.

Pasir & Batu Pecah.


Pasir / batu pecah harus memenuhi SNI/SK SNI 1991.

3.4.

Air.
Air untuk campuran, perawatan atau aplikasi lainnya harus bersih dan bebas
dari unsur-unsur yang merusak seperti alkali, asam, garam dan bahan
anorganik lainnya.
Air dari kualitas yang dikenal dan untuk konsumsi manusia tidak perlu diuji.
Bagaimanapun, bila hal ini terjadi, semua air kecuali yang telah disebutkan di
atas, harus diuji dan disetujui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan
UMKM Kab. Katingan atau Konsultan Pengawas.

3.5.

Baja Tulangan.
Untuk besi dengan diameter <= 12 mm digunakan besi tulangan polos,
kekuatan besi U24=2400 kg/cm2, dan memenuhi ketentuan SNI/SK SNI 1991.

4.

PELAKSANAAN PEKERJAAN
4.1.

Pembesian
4.1.1.

Pembuatan tulangan-tulangan untuk batang lurus atau yang


dibengkokkan, sambungan kait-kait dan pembuatan sengkang (ring)
persyaratannya harus sesuai dengan ketentuan SNI/SK SNI 1991.

4.1.2.

Pemasangan dan penggunaan tulangan beton harus disesuaikan


dengan gambar konstruksi.
15

TAHUN 2015

4.1.3.

Tulangan beton harus diikat dengan kuat untuk menjamin agar besi
tersebut tidak berubah tempat selama pengecoran, dan harus bebas
dari papan acuan atau lantai kerja dengan memasang beton sesuai
dengan ketentuan SNI/SK SNI 1991.

4.1.4.

Besi beton yang tidak memenuhi syarat harus segera dikeluarkan dari
lapangan kerja dalam waktu 2 jam setelah ada perintah tertulis dari
Pengawas Lapangan.

4.1.5.

Penulangan harus dikerjakan sesuai dengan gambar rencana, diameter


jumlah serta jaraknya harus benar-benar sesuai dalam arti phisik serta
final.

4.1.6.

Batang tulangan yang dibengkokkan tidak boleh dengan cara


dipanaskan.

4.1.7.

Kawat pengikat besi beton/rangka adalah dari baja lunak dan tidak
disepuh seng, diameter kawat lebih besar atau sama dengan 0,40 mm.
Kawat pengikat besi beton/rangka harus memenuhi syarat-syarat
yang ditentukan dalam SNI/SK SNI 1991.

4.2.

4.3.

4.1.8.

Untuk permukaan beton ekspos, ikatan metal, bila diijinkan, harus


disingkirkan sampai kedalaman minimal 2,50 cm dari permukaan
beton tanpa merusak. Cekungan-cekungan harus diisi dengan adukan
dan permukaan harus tetap halus, rata dan seragam dalam warna.

4.1.9.

Sebelum dilakukan pemasangan pembesian pondasi pada bagian dasar


galian pondasi telapak harus diberi lantai kerja diatas pasir urug
dengan campuran beton (1 Semen : 3 Pasir : 5 Kerikil.)

Perancah dan Acuan.


4.2.1.

Bahan perancah dan acuan adalah kayu dalam kondisi baru. Kayu
bekas perancah dan acuan tidak boleh dipakai kembali untuk
pekerjaan rangka atap atau pekerjaan lainnya..

4.2.2.

Acuan harus dipasang sesuai bentuk dan ukuran-ukuran yang telah


ditentukan atau yang diperlukan dalam gambar.

4.2.3.

Acuan harus dipasang sedemikian rupa dengan perkuatan-perkuatan,


sehingga cukup kokoh, dijamin tidak berubah bentuk dan
kedudukannya selama pengecoran dilakukan.

4.2.4.

Bahan-bahan yang digunakan harus tersimpan dalam tempat


penyimpanan yang aman, sehingga mutu bahan dan mutu pekerjaan
tetap dijamin sesuai dengan persyaratan.

Penempatan Pipa Drainase, Plumbing, Konduit.


4.3.1.

Pipa-pipa drainase & plumbing, konduit kabel listrik dan/atau,


harus dipasang sebelum pengecoran, dengan tanpa mengurangi
kekuatan beton. Pipa-pipa tersebut harus dilindungi sehingga tidak
akan terisi adukan beton sewaktu pengecoran.

4.3.2.

Pipa drainase dari bahan PVC Super High Impact yang mempunyai
kuat tekan 10 kg/m2 yang memenuhi JIS K6741. Diameter pipa PVC
sesuai ketentuan Gambar Kerja.

16

TAHUN 2015

4.4.

Cara Pengadukan.
4.4.1.

Cara pengadukan harus tunduk ketentuan SNI/SK SNI 1991.

4.4.2.

Takaran untuk semen portland, pasir dan koral harus disetujui terlebih
dahulu oleh Konsultan Pengawas.

4.4.3.

Hanya untuk beton praktis, lantai kerja, beton tumbuk dan mortel
pemasangan batu bata yang diperkenankan memakai mesin pengaduk
beton/molen, mengaduk dengan sekop/cangkul dilarang.

4.4.4.

Jika diperlukan pada setiap pengecoran pada bagian-bagian yang


penting, Pelaksana Pekerjaan harus membuat kubus-kubus beton
percobaan/ pengetesan, sedangkan jumlah serta cara pengambilan
kubus-kubus beton tersebut harus sesuai dengan peraturan SNI/SK
SNI 1991. Pengetesan terhadap kubus-kubus beton tersebut dilakukan
pada laboratorium yang disetujui oleh Konsultan Pengawas.

4.4.5.

Pengujian Slump.
Kekentalan adukan beton diperiksa denga pengujian slump, dimana
nilai slump harus dalam batas-batas yang disyaratkan dalam PBI 1971,
ASTM C143 dan ASTM C 231, pada saat yang sama percobaan cylinder
dibuat kecuali ditentukan lain oleh pengawas yang ditunjuk.
Kontraktor harus menjamin bahwa ia mampu dengan slump berikut,
beton dengan mutu dan kekuatan yang memuaskan, yang akan
menghasilkan hasil akhir yang bebas keropos, ataupun beronggarongga.
Pelaksanaan dar persetujuan kontrak adalah bahaw
kontraktor bertanggung jawab pernuh untuk produksi dari beton dan
pencapaian mutu, kekuatan dan penyelesaian yang memenuhi syarat
batas slump.
Bila dipakai pompa beton, slump harus didasarkan pada pengukuran
di pelepasan pipa, bukan di truk mixer. Maksimum slump harus 100
mm sampai 150 mm.
Rekomendasi slump untuk variasi beton konstruksi pad keadaan /
kondisi normal :
Slump pada Konstruksi Beton
Plat pondasi dan pondasi telapak bertulang
Pondasi telapak tidak bertulang, kaison dan
konstruksi d bawah tanah.
Plat, balok, kolom dan dinding
Pembetonan masal

Maksiman
(Cm)
12.5

Minimum
(Cm)
7.5

17.5
14.5
7.5

12.5
10
2.5

Untuk beton dengan bahan tambahan plasticizer, nilai slump dapat


dinaikkan sampai maksimum 1,5 cm di atas harga maksimum.
4.4.6.

Pemeriksaan beton dan Bahan-Bahan Beton


a. Kontraktor harus menyediakan pula pekerja-pekerja dan
pelayanan-pelayanan untuk semua test atau pemeriksaanpemeriksaan mengenai beton dan bahan-bahan beton yang diminta
atau dikehendaki oleh Direksi .
17

TAHUN 2015

b. Selama pelaksanaan daripada kontrak atau pelaksanaan pekerjaan,


kontraktor harus menyediakan pula alat-alat dan perlengkapan
yang tersebut di bawah ini
- Slump test
- Tempat pemeriksaan beton (laboratorium pemeriksaan Beton)
- Cetakan pembuat kubus test yang cukup pengingat persyaratan
BPBI 1971 dimana setiap 5m3 beton dibuat 1 kubus test.
c. Kontraktor harus pula menyediakan alat untuk memeriksa
kelembaban yang terkandung dalam bahan batuan halus (pasir),
skala penimbang, pengukur slinder serta perlengkapan dan
peralatanlain yang diperlukan dalam hal-hal pemeriksaan yang
akan ditentukan.
d. Semua peralatan pemeriksaan dan pekerja-pekerja atau usahausaha yang semua pemeriksaan menjadi tanggungan kontraktor
dan harus seijin Direksi.
e. Kontraktor harus menanggung biaya untuk perawatan dan
transportasi daripada semua contoh-contoh yang akan dilakukan
pemeriksaan sampai ke tempat pemeriksaan / laboratorium, yang
telah disetujui oleh Direksi untuk mengadakan pemeriksaan
kekuatan kubus pada umur 7 28 hari.
f. Setiap kubus yang akan diperiksa di laboratorium harus diberi
kode-kode tertentu yang jelas dan permanent, seperti nomornomor kubus, tanggal pengecoran beserta tanda atau kode lokasi
pekerjaan tersebut. Sitem daripada ukuran pemberian tanda pada
kubus dan sebagainya akan ditentukan kemudian oleh Direksi.
g. Kontrkator harus mengirimkan semua contoh-contoh daripada
bahan-bahan dan memikul semua ongkos / biaya yang berkenan
dengan pemriksaan atau testing yang berhubungan dengan
spesifikasi ini, kecuali ada ketentuan lain.
h. Catatan yang lengkap daripada semua hasil-hasil pemeriksaan /
testing harus disimpan pula oleh Kontraktor, apabila sewaktuwaktu diinginkan untuk memenuhi kepentingan Direksi.
i. Pengecoran beton tidak akan diijinkan sebelum semua hal-hal yang
dibutuhkan dalam Bab in dipenuhi. (Pengecoran beton tidak akan
diijinkan / tidak akan berjalan maju sampai dengan pengaturanpengaturan yang memuaskan dibuat untuk memenuhi kebutuhan
Bab ini).
4.5.

Pengecoran Beton.
4.5.1.

Pelaksana Pekerjaan diwajibkan melaksanakan pekerjaan persiapan


dengan membersihkan dan menyiram cetakan-cetakan sampai jenuh,
pemeriksaan ukuran dan ketinggian, pemeriksaan penulangan dan
penempatan penahan jarak.

4.5.2.

Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan


Konsultan Pengawas.
18

TAHUN 2015

4.5.3.

Pengecoran harus dilakukan dengan sebaik mungkin dengan


menggunakan alat penggetar untuk menjamin beton cukup padat, dan
harus dihindarkan terjadinya cacat pada beton seperti keropos, dan
sarang-sarang koral/split yang dapat memperlemah konstruksi.

4.5.4.

Apabila pengecoran beton akan dihentikan, dan diteruskan pada hari


berikutnya, maka tempat perhentian tersebut harus disetujui oleh
Konsultan Pengawas.

4.5.5.

Beton harus dilindungi dari pengaruh panas, sehingga tidak terjadi


penguapan cepat.
Persiapan perlindungan atas kemungkinan datangnya hujan harus
diperhatikan.

4.5.6.
4.6.

Beton harus dibasahi paling sedikit 10 (sepuluh) hari setelah


pekerjaan pengecoran.

Pembongkaran Perancah/Acuan
Pembongkaran bekesting hanya boleh dilakukan dengn ijin tertulis dari
Konsultan Pengawas.
Setelah bekesting dibuka tidak diijinkan mengadakan perubahan apapun pada
permukaan beton, tanpa persetujuan dari Konsultan Pengawas.

4.7.

Syarat pengamanan Pekerjaan


4.7.1.

Beton yang telah dicor dihindarkan dari benturan benda keras selama
3 x 24 jam setelah pengecoran.

4.7.2.

Beton dilindungi dari kemungkinan cacat yang diakibatkan dari


pekerjaan-pekerjaan lain.

4.7.3.

Seluruh biaya perbaikan menjadi tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan


sendiri.

4.7.4.

Bagian beton setelah dicor selama dalam pengerasan harus selalu


dibasahi dengan air terus menerus selama 1 ( satu ) minggu atau lebih
(sesuai dengan ketentuan SNI/SK SNI 1991).
Pasal 4
PEKERJAAN DINDING DAN LANTAI

1.

Pekerjaan Pasangan Bata


1.1.

Segala material Bata, air dan pasir yang dipergunakan dalam pasangan bata
harus telah memenuhi syarat yang telah ditentukan dan disetujui Direksi.

1.2.

Adukan harus dilaksanakan sampai betul-betul Merata dan air semen tidak
ada yang terbuang dengan adukan 1 : 5, Lama pengadukan harus sampai
menunjukkan homogenitas adukan sesuai dengan petunjuk Direksi (minimal 2
kali adukan). Dalam segala hal tidak boleh memakai adukan yang telah mulai
mengeras sebagian atau tercampur dengan bahan lain untuk digunakan
kembali.

1.3.

Bata tidak boleh dipasang selama hujan atau cukup lama untuk
menghanyutkan spesi, dimana adukan yang sudah terlanjur dihampar harus
19

TAHUN 2015

dilindungi sedemikian rupa dari hujan. Bilamana terjadi pelelehan akibat air
hujan, spesi tersebut harus dibuang.

2.

3.

1.4.

Semua batu Bata yang digunakan dalam pasangan sebelumnya harus basah
dengan air sampai seluruh permukaan merata agar tidak terjadi penyerapan
air oleh spesi.

1.5.

Pemasangan Bata sedemikian rupa satu sama lain terjadi ikatan yang kokoh
dan sempurna, di dalam pasangan sama sekali tidak boleh terdapat rongga
atau celah yang tidak terisi spesi.

1.6.

Tebal pasangan sesuaikan dengan gambar desain dengan menambahkan tebal


plesteran (1 s/d 1,5 cm).

Pekerjaan Plesteran
2.1.

Sebelum pekerjaan plesteran dimulai, spesi pada bagian permukaan harus


digaruk. minimal 0.5 cm dan diratakan/dibasahi agar terjamin melekatnya
plesteran.

2.2.

Komposisi campuran Plesteran Dinding Digunakan, 1 : 5 Tebal 1,5 cm, kecuali


ditentukan lain oleh Direksi.

2.3.

Permukaan plesteran harus rata dan rapi sehingga memuaskan Direksi.

2.4.

Sebelum plesteran dimulai maka permukaan harus bersih dan tidak kering.

2.5.

Semua pekerjaan plesteran harus menghasilkan bidang yang tidak


bergelombang, sedangkan untuk sponengan/tali air harus lurus dan baik.

Pekerjaan Cor Beton Tumbuk untuk Lantai


Pekerjaan cor beton harus sesuai dengan persetujuan direksi, Mutu Beton yang
digunakan mutu K-100 dengan ketebalan 7 cm, Adukan yang telah mulai mengeras
harus dibuang. Melunakkan adukan yang telah mengeras tidak diperbolehkan,
pekerjaan cor beton harus dilaksanakan dengan serapi mungkin/rata agar tidak
terjadi rongga-rongga terhadap beton dan mempermudah pada saat pemasangan
keramik.

4.

Pekerjaan Pasang Keramik Lantai dan Dinding


Pekerjaan pasangan keramik untuk lantai dan dinding dilakukan sesuai dengan
gambar kerja.
4.1.

Persyaratan bahan
Persyaratan keramik.
Keramik harus berkualitas baik yang memenuhi ketentuan SNI. Keramik yang
tidak rata permukaan dan warnanya, sisinya tidak lurus, sudutnya tidak siku,
retak, atau cacat lainnya tidak boleh dipasang.
- Spesifikasi bahan keramik yang digunakan harus memenuhi persyaratan
yang berlaku di Indonesia.
- Pengiriman keramik ke lokasi proyek harus terbungkus dalam kemasan
pabrik yang belum dibuka dan dilindungi label/merek dagang yang utuh
dan jelas. Kontraktor dapat menyediakan cadangan sebanyak 2,5% dari
keseluruhan bahan terpasang atau dengan jumlah yang dianggap cukup
untuk diserahkan kepada pemilik proyek.

20

TAHUN 2015

4.2.

Pemasangan Keramik
4.2.1. Persiapan
- Pekerjaan pasangan keramik boleh dilakukan setelah pekerjaan
lainnya selesai.
- Pemasangan keramik harus menunggu sampai semua alat
penggantung, pengunci pintu/jendela, atau pekerjaan lainnya yang
terletak di belakang atau di bawah pasangan keramik ini telah
diselesaikan terlebih dahulu.
4.2.2. Pemasangan
- Adukan untuk pasangan keramik pada lantai dan dinding, harus
terdiri dari campuran 1 pc : 2 ps dan sejumlah bahan tambahan,
kecuali ditentukan lain oleh Direksi.
- Tebal adukan untuk semua pasangan tidak kurang dari 2,5 cm,
kecuali ditentukan oleh Direksi.
- Keramik harus kokoh menempel pada alasnya dan tidak boleh
berongga. Pemeriksaan harus dilakukan untuk menjaga bidang
keramik yang terpasang tetap lurus dan rata. Keramik yang salah
letaknya, cacat, atau pecah harus dibongkar dan diganti.
- Keramik mulai dipasang dari salah satu sisi agar pola simetris yang
dikehendaki dapat terbentuk dengan baik.
- Sambungan atau celah-celah antar keramik harus lurus, rata,
seragam, dan saling tegak lurus. Lebar celah tidak boleh lebih dari
1,6 mm, kecuali bila ditentukan lain. Adukan harus rapi dan tidak
keluar dari celah sambungan.
- Pemotongan keramik harus dengan keahlian dan dilakukan hanya
pada satu sisi. Pada pemasangan khusus seperti pada sudut-sudut
pertemuan, pengakhiran, dan bentuk-bentuk yang lainnya, harus
dikerjakan serapi dan sesempurna mungkin.
- Siar antar keramik dicor dengan semen pengisi yang berwarna
sama dengan warna keramiknya atas persetujuan pengawas
lapangan. Pengecoran dilakukan sedemikian rupa sehingga mengisi
penuh garis-garis siar. Setelah semen pengisi cukup mengeras,
bekas-bekas pengecoran segera dibersihkan dengan kain lunak
yang baru dan bersih.

4.3.

Pembersihan dan Perlindungan


Setelah pemasangan selesai, permukaan keramik harus benar-benar bersih
dan tidak ada cacat. Permukaan keramik harus diberi perlindungan, misalnya
dengan sabun antikarat atau cara lain yang diperbolehkan tanpa merusak
permukaan keramik.

21

TAHUN 2015

Pasal 5
PEKERJAAN KUSEN, DAUN PINTU, JENDELA DAN VENTILASI

1.

2.

3.

4.

5.
6.

7.

Sebelum pelaksanaan dimulai, kontraktor wajib meneliti gambar kerja, melakukan


pengukuran lapangan, dan memperhatikan persyaratan pelaksanaan pekerjaan
Kusen, Daun Pintu, Jendela Dan Ventilasi.
Tipe pintu dan jendela yang terpasang harus sesuai dengan daftar tipe yang tertera
dalam gambar kerja dengan memperhatikan ukuran, bentuk profil, material, detail,
arah bukaan, dan lain-lain.
Pemasangan semua perangkat perlengkapan pintu dan jendela harus rapi dan sesuai
dengan letak posisi yang telah ditentukan dalam gambar kerja atau petunjuk
konsultan pengawas/direksi.
Apabila ditemui kerusakan, cacat, atau salah pemasangan karena kontraktor kurang
Cermat dan teliti, kontraktor harus mengganti atas biaya sendiri tanpa dianggap
sebagai pekerjaan tambah.
Pekerjaan harus dilaksanakan menurut pola dan urutan pengerjaan sesuai dengan
yang ditentukan dalam gambar kerja atau konsultan pengawas.
Semua yang telah dipasang harus dilindungi dari segala kerusakan berupa benturan,
pecah, retak, dan cacat lain. Biaya untuk pekerjaan ini adalah tanggung jawab
kontraktor dan tidak dapat dituntut sebagai pekerjaan tambah.
Pelaksanaan Pemasangan Kaca
a. Ukuran-ukuran kaca yang tertera dalam gambar kerja adalah ukuran yang
mendekati sepenuhnya. Ukuran kaca yang sebenarnya dan besarnya toleransi
harus diukur di tempat oleh kontraktor berdasarkan ukuran di tempat kaca atau
cermin tersebut akan dipasang, atau menurut petunjuk dari pengawas lapangan
bila dikehendaki lain.
b. Setiap kaca harus tetap ditempeli merek pabrik yang menyatakan tipe kaca,
ketebalan kaca, dan kualitas kaca. Merek-merek tersebut boleh dilepas setelah
mendapat persetujuan pengawas lapangan.
c. Semua bahan harus dipasang sesuai dengan rekomendasi dari pabrik. Pemasangan
harus dilaksanakan oleh tukang yang ahli di bidangnya.
d. Pemasangan kaca
Sebelum kaca dipasang, daun-daun jendela dan bagian lain yang akan diberi kaca
harus dalam keadaan dapat bergerak dengan baik. Kaca dan tempat kaca harus
dibersihkan dari debu, bahan kimia, dan kotoran sebelum kaca dipasang.
e. Penggantian dan pembersihan
Pada waktu penyerahan pekerjaan, semua kaca harus dalam keadaan bersih, tidak
ada lagi merek-merek perusahaan, dan kotoran-kotoran dalam bentuk apa pun.
Semua kaca yang retak, pecah, atau kurang baik harus diganti oleh kontraktor
tanpa tambahan biaya.

22

TAHUN 2015

Pasal 6
PEKERJAAN ATAP DAN PLAFOND
1.

Pekerjaan Atap
1.1.

Pekerjaan rangka atap harus memakai baja ringan Ukuran dan spesifikasi
bahan yang dipakai harus disesuaikan dengan ukuran dan jenis yang
tercantum dalam gambar rencana.
-

Rangka atap Baja ringan berbahan baku zincalume, anti karat, anti rayap,

Pemasangan profil harus rapi dan presisi

Ketebalan rangka berkisar antara 0,75mm, 0,80mm,1mm

Braket, bahan galvanis dengan ketebalan 1,5mm

Screw untuk truss 12-14x20, Screw untuk truss 10-16x16

- Jurai dalam bahan zincalume lapis talang karpet untuk mencegah


kebocoran
1.2.

Untuk penutup atap bangunan dipergunakan atap genteng Metal/sejenis


standard dari Pabrik, dipasang sesuai dengan petunjuk teknis dari pabrik.
Untuk penutup bubungan dipergunakan bubungan Metal dengan spesifikasi
teknis, untuk warna atap disesuaikan dengan gambar.
- Atap genteng metal 2 susun multicolor, menyesuaikan dengan warna atap
bangunan sekitar istana

Pasal 7
PEKERJAAN SANITASI
1.

Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini mencakup pengangkutan, pengadaan, dan pemasangan semua
perlengkapan sanitasi pada tempat-tempat seperti tertera dalam gambar kerja dan
spesifikasi teknis ini, termasuk pengawasan percobaan yang diperlukan agar
keseluruhan sistem dapat berjalan dengan baik

2.

Persyaratan Pelaksanaan
2.1.

2.2.

Pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk gambar kerja, uraian, dan


persyaratan pekerjaan, spesifikasi pabrik pembuat, serta petunjuk konsultan
pengawas.
Diperlukan koordinasi kerja dengan disiplin lain, terutama yang bersangkutan
dengan pekerjaan pemasangan, baik jadwal maupun posisi meletakkan
peralatan di tempat.

23

TAHUN 2015

2.3.

2.4.
2.5.
2.6.

Sebelum dan sesudah pekerjaan, semua peralatan harus disetujui konsultan


pengawas, serta dijaga dari kerusakan atau kehilangan sebelum masa
penyerahan tiba.
Perhatikan semua ukuran, peil, pola, dan syarat lain untuk pemasangan baik
di lantai maupun di dinding/meja beton.
Pemasangan harus dilakukan dengan hati-hati dan cermat agar tidak terdapat
bekas cacat, noda, atau sumbatan-sumbatan.
Semua pipa PVC dan pipa penyambung harus memenuhi standar bahan
sebagai berikut:
- Harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam PUBI 1982 pasal 64,
SII-0344-82 (untuk pipa), dan SII-1448-85 (untuk fitting).
- Pipa dan fitting harus berasal dari pabrik yang sama. Pipa PVC dipakai
untuk pipa air kotor dan pipa resapan.

2.7.

Sambungan pipa dengan menggunakan ulir terlebih dahulu harus dilapisi


dengan Red Lead Cement dan memakai pintalan atau serat halus. Pada
tempat-tempat khusus digunakan sambungan flanged. Penyambungan ini
perlu dilengkapi dengan ring type gasket untuk lebih menjamin kekuatan
sambungan.
- Dilarang menutup dengan plesteran sebelum diadakan pemeriksaan /
pengujian oleh konsultan pengawas.
-

Semua aksesoris yang terpasang di dinding harus diusahakan tepat di


tengah atau pada nad ubin keramik
Pasal 8
PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK

1.

Untuk Pekerjaan Pasang Titik Lampu dan Instalasinya (Konstruksi Beton), harus
terpasang sesuai gambar yang dikerjakan oleh instalatir yang disahkan oleh PLN
setempat, dan sesuai petunjuk pengawas lapangan.

2.

Pekerjaan Pasang Titik Stop Kontak dan Instalasinya (Konstruksi Beton), Stop Kontak
Stop kontak dipasang dengan ketinggian 35 atau 120 cm diatas permukaan lantai
atau disebut lain sesuai dengan Gambar Rencana. Semua stop kontak harus
dilengkapi dengan sistim pentanahan.

3.

Pekerjaan pekerjaan yang termasuk dalam pekerjaan Listrik meliputi : Pemasangan


titik lampu, penyediaan lampu, normalisasi perkabelan diatas plafon

4.

Pekerjaan Pasang Schaklar baik jenis single maupun double, ketinggian 150 cm dari
muka lantai, jenis outbow dan berbentuk bujur sangkar, kecuali disebutkan lain.
Pemasangan harus memakai ring lengkap dengan kontak (stelan) yang standard

24

TAHUN 2015

Pasal 9
PENUTUP
1.

2.

3.

4.

Hal-hal yang timbul pada pelaksanaan yang memerlukan penyelesaian di lapangan


akan dibicarakan dan diatur oleh direksi dan kontraktor. Bila diperlukan, akan
dibicarakan bersama konsultan pengawas. pengurusan antara lain:
Sebelum penyerahan pertama, kontraktor wajib meneliti semua bagian pekerjaan
yang belum sempurna dan harus diperbaiki, semua ruangan harus bersih, halaman
harus ditata rapi, dan semua barang yang tidak berguna harus disingkirkan dari
proyek.
- Selama masa pemeliharaan, kontraktor wajib merawat, mengamankan, dan
memperbaiki segala cacat yang timbul sehingga sebelum penyerahan kedua
dilaksanakan, pekerjaan benar benar telah sempurna.
Segala sesuatu yang belum tercantum dalam Dokumen Pengadaan ini dan pada
penjelasan yang diperlukan akan dicantumkan Berita Acara Penjelasan Pekerjaan.
3.1.
Pekerjaan Pembersihan
- Semua daerah disekitar lokasi yang perlu dibersihkan seperti yang
ditentukan oleh pengawas, harus dibersihkan dari segala bongkaran,
sampah dan bahanbahan lain yang mengganggu.
- Semua kerusakan milik umum atau perseorangan yang diakibatkan
pekerjaan pembersihan yang dilakukan oleh Penyedia Jasa harus
diperbaiki atau diganti oleh Penyedia Jasa.
Hal-hal di luar ini apabila terdapat ketidak cocokan dalam pelaksanaan akan
diselesaikan dengan musyawarah.

25