Anda di halaman 1dari 15

BAB 22

EKUITAS PEMILIK
TINJAUAN UMUM
Sifat Dasar Ekuitas
Ekuitas pada dasarnya merupakan bagian yang adil dari seseorang dalam suatu
perusahaan. Sifat dasarnya yang tepat telah menjadi topik banyak debat dan
menghasilkan banyak teori.
Mengklasifikasikan Ekuitas
Sejumlah klasifikasi dimungkinkan dalam kategori ekuitas pemilik. Unsur-unsur yang
harus ditentukan sebagian besar oleh satu pilihan teori mengenai sifat dasar ekuitas.
Laporan Keuangan Konsolidasi
Apabila satu perusahaan mengambil posisi kepemilikan mayoritas atas perusahaan lain,
induk perusahaan diwajibkan untuk mengkonsolidasikan laporan keuangannya dengan
laporan- laporan keuangan anak perusahaannya.
I.

SIFAT DASAR EKUITAS


Ekuitas diambil dari akar kata yang sama dari equal dan mempunyai
konotasi keadilan. Dengan perkataan lain, ekuitas dapat ditafsirkan sebagai bagian
yang adil dari seseorang. Banyak orang yang menggunakan istilah ekuitas untuk
mencakup semua yang meminjamkan uang kepada perusahaan. Mereka
memandang persamaan akuntansi yang mendasar sebagai :
Aktiva = Ekuitas
Karenanya, mereka akan menganggap ekuitas kreditor dan ekuitas pemilik
sebagai dua jenis ekuitas. Yang lain menggunakan istilah ekuitas dalam pengertian

yang lebih sempit untuk mencakup hanya ekuitas pemilik dan menyebutkan ekuitas
kreditor sebagai kewajiban. Mereka menganggap persamaan akuntansi sebagai :
Aktiva = Kewajiban + Ekuitas
Sedangkan yang lain tampaknya menyamakan ekuitas dengan hak dari pemegang
saham.
A. Ekuitas Pemilik
Ekuitas pemilik, yang biasa juga disebut sebagai modal atau ekuitas
pemegang saham dalam suatu perseroan, hanyalah suatu selisih antara aktiva
perseroan dan kewajibannya. Ini seringkali disebut sebagai aktiva bersih dari
perseroan tersebut.
Ekuitas pemilik secara tradisional dibagi menjadi dua kategori, modal
yang diinvestasikan dan laba ditahan. Dalam beberapa kasus, hak dan prioritas
dari beberapa kelas saham perseroan adalah serupa dengan beberapa jenis utang
jangka panjang. Namun secara umum ada perbedaan nyata antara ekuitas
pemegang saham dan kewajiban. Ini mencakup :
1. Luas sampai di mana pemegang ekuitas lain mempunyai hak
prioritas.
2. Tingkat kepastian dalam penentuan jumlah-jumlah yang akan
diterima oleh pemegang ekuitas.
3. Tanggal jatuh tempo pembayaran terakhir.
B. Teori Kepemilikan
Gagasan hak pemilik (proprietorship) muncul dari upaya untuk
menetapkan logika pada persamaan pembukuan berpasangan (double entry).
Dalam persamaan akuntansi A - = P, pemlik adalah pusat kepentingan.
Aktiva dianggap dimiliki oleh pemilik dan kewajiban merupakan kewajiban dari
pemilik.

Menurut teori kepemilikan, pendapatan adalah kenaikan dalam hak


pemilik dan beban adalah penurunan. Jadi laba bersih, yaitu kelebihan
pendapatan atas beban, diakrualkan langsung ke pemilik, itu merupakan
kenaikan dalam kekayaan pemilik. Dan karena laba adalah kenaikan dalam
kekayaan, hal itu langsung ditambahkan ke modal pemilik atau hak pemilik.
Teori kepemilikan paling baik diterapkan dalam bentuk organisai
perusahaan perorangan karena dalam bentuk ini umumnya ada hubungan
pribadi antara manajemen perusahaan dan kepemilikan. Dalam akuntansi, baik
untuk perusahaan perorangan maupun persekutuan, teori kepemilikan
tampaknya tetap berlaku. Ini sebagian besar karena laba bersih ditambahkan
setiap periode pada akun modal pribadi dari pemilik sekalipun perhitungan
tradisional atas laba sebenarnya tidak mengukur kenaikan bersih dalam
kekayaan.
Teori kepemilikan juga disiratkan dalam banyak praktik akuntansi dan
dalam terminologi akuntansi berkaitan dengan perseroan. Metode akuntansi
ekuitas untuk investasi yang tidak dikonsolidasikan dalam cabang juga
menyiratkan konsep kepemilikan.
C. Teori Entitas
Keberadaan suatu satuan usaha yang terpisah dari urusan pribadi dan
kepentingan lain dari pemilik dan pemegang ekuitas lain diakui dalam semua
konsep pemilik dan ekuitas. Namun, dalam teori entitas (entity), perusahaan
bisnis dipandang mempunyai keberadaan terpisah, bahkan secara personal, dari
pemiliknya. Pendiri dan pemilik tidak harus teridentifikasi dengan keberadaan
perusahaan itu.
Teori entitas didasarkan pada persamaan A = K + SE, atau aktiva =
Ekuitas (Kewajiban ditambah Ekuitas Pemegang Saham). Perbedaan utama
antara kewajiban dan ekuitas pemegang saham adalah bahwa hak dari kreditor
dapat dinilai terlepas dari penilaian lain jika perusahaan itu solven, sementara
hak dari pemegang saham diukur oleh penilaian aktiva yang semula

diinvestasikan ditambah penilaian laba

direinvestasikan dan revaluasi

berikutnya.
Teori entitas mempunyai penerapan utama dalam bentuk perusahaan
perseroan, tetapi hal itu juga relevan bagi perusahaan-perusahaan bukan
perseroan

yang mempunyai kelanjutan eksistensi terpisah dari kehidupan

masing-masing individu.
Beberapa pengarang telah mengusulkan atau menyiratkan bahwa teori
kepemlikan dan entitas mengarah pada dasar yang berbeda untuk penilaian
aktiva. Menurut teori entitas, perusahaan tidak berkepentingan dengan nilai
sekarang karena penekanannya adalah pada akuntabilitas biaya bagi pemilik dan
pemegang ekuitas lain.
D. Teori Ekuitas Residual
Ahli teori akuntansi William Paton menyatakan ekuitas residual sebagai
salah satu dari beberapa jenis ekuitas dalam teori entitas. Paton menekankan
hubungan khusus dari pemegang ekuitas residual pada pekerjaan akuntan
karena dalam ekuitas tersebut banyak pekerjaannya menjadi terfokus.
Perubahan dalam penilaian aktiva, perubahan dalam laba dan dalam laba
ditahan, dan perubahan dalam hak pemegang ekuitas lain semuanya
dicerminkan dalam ekuitas residual dari pemegang saham biasa. Tetapi dalam
kasus tertentu, di mana kerugian jumlahnya besar atau kebangkrutan, ekuitas
pemegang saham biasa dapat hilang dan pemegang saham preferen atau
pemegang obligasi dapat menjadi pemegang ekuitas residual.
Tujuan dari pendekatan ekuitas residual adalah untuk memberikan
informasi yang lebih baik kepada pemegang saham biasa untuk mengambil
keputusan investasi. Pemegang saham biasa pada umumnya dipandang
mempunyai ekuitas residual dalam laba perusahaan dan dalam aktiva bersih
sesuai likuidasi akhir. Karena laporan keuangan umumnya tidak disiapkan
berdasarkan likuidasi yang mungkin, informasi yang diberikan menegnai

ekuitas residu harus bermanfaat dalam meramalkan dividen masa depan yang
mungkin bagi pemegang saham biasa, termasuk dividen likuidasi.
E. Teori Perusahaan
Teori perusahaan )enterprise) dari perusahaan adalah konsep yang lebih
luas daripada teori entitas, tetapi kurang didefinisikan baik dalam lingkup dan
aplikasi. Dalam teori perusahaan, perseroan adalah suatu lembaga sosial yang
berusaha untuk memberi manfaat bagi banyak kelompok yang berkepentingan.
Dalam bentuk luas, teori perusahaan mungkin dipandang sebagai teori akuntansi
sosial.
Konsep perusahaan ini paling dapat diterapkan pada perseroan modern
yang besar yang mempunyai kewajiban untuk mempertimbangkan efek
tindakan-tindakannya terhadap bebagai kelompok dan terhadap masyarakat
secara keseluruhan. Dari sudut pandang akuntansi,

ini berarti bahwa

tanggungjawab pelaporan yang tepat tidak hanya kepada pemegang saham dan
kreditor, tetapi juga pada kelompok lain dan masyarakat umum.
Konsep laba yang paling relevan dalam konsep tangungjawab sosial
perusahaan yang luas ini adalah konsep nilai tambah. Total nilai yang
ditambahkan oleh perusahaan adalah nilai pasar barang-barang dan jasa-jasa
yang dihasilkan oleh perusahaan itu dikurangi nilai barang-barang dan jasa-jasa
yang diperoleh melalui transfer perusahaan lain. Istilah laba bersih perusahaan,
seperti yang digunakan oleh penyataan AAA 1957, adalah konsep yang lebih
sempit daripada konsep nilai tambah. Posisi laba ditahan dalam teori perusahaan
serupa dengan posisinya dalam konsep entitas.
F. Teori Dana
Teori dana menyingkirkan hubungan pribadi yang diasumsikan dalam
teori kepemilikan dan personalisasi perusahaan sebagai suatu unit ekonomi dan
unit legal dalam unit entitas. Di samoing itu, teori danan member ganti dengan
unit operasional, atau berorientasi-aktivitas, sebagai dasar untuk akuntansi.

Bidang kepetinagn ini, yang disebut dana, mencakup kelompok aktiva dan
kewajiban yang berkaitan dan pembatasan yang merupakan fungsi dan aktivitas
ekonomi yang spesifik.
Teori dana didasarkan pada persamaan Aktiva = Pembatasan Aktiva.
Aktiva merupakan jasa prospektif pada dana atau unit operasional. Kewajiban
merupakan pembatasan terhadap aktiva spesifik atau umum dari dana. Modal
yang diinvestasikan merupakan pembatasan legal atau keuangan dari
penggunaan aktiva; yaitu modal yang diinvestasikan harus dipertahankan tidak
berkurang kecuali jika wewwnang spesifik telah diperoleh (dengan beberapa
pengecualian) untuk likuidasi sebagian atau seluruhnya.
Konsep dana bermanfaat paling besar dalam lembaga pemerintahan dan
nirlaba. Penyiapan laporan konsolidasi juga juga merupakan penerapan teori
dana sama seperti perluasan entitas ekonomi. Teori dana juga dapat diterapkan
dalam bidang-bidang akuntansi keuangan; misalnya, teori dana dapat
bermanfaat dapat digunakan untuk mebedakan antara aktiva lancar dan tetap
pada suatu entitas.
Walaupun konsep pendapatan dapat dipertahankan dalam konsep dana,
ini bukan merupakan konsep sentral dari pelaporan keuangan. Sebalikanya,
uraian operasi dana disajikan lebih jelas dalam laporan dana. Laoran keuangan
utama adalah iktisar statis atas sumber-sumber dan penggunaan dana. Lapran
laba rugi, jika memang ada, adalah pelengkap laporan danasuatu uraian atas
dana yang diperoleh dari operasi.
G. Posisi FASB
FASB berpegang teguh pada teori entitas residual manakala sampai pada
pemilik, yang didefinisikan sebagai kepentingan tersisa dalam aktiva suatu
entitas yang tertinggal setelah dikurangi dengan kewajibannya. Mereka
menyebut selisih antara aktiva dan kewajiban sebagai aktiva bersih dalam
kasus organisasi nirlaba dan menyatakan bahwa kedua istilah tersebut dapat
dipertukarkan.

II.

KLASIFIKASI EKUITAS PERUSAHAAN PERORANGAN DAN


PERSEKUTUAN ATAU KEMITRAAN
Dalam perusahaan perorangan, keseluruhan ekuitas pemilik umumnya
disajikan dalam satu jumlah. Sesuai dengan teori kepemilikan, ekuitas unu
merupakan kepemilikan usaha dari si pemilik. Dalam hal likuidasi atau insolvensi,
kreditor dapat mengambil aktiva pribadi dari si pemilik, membuat perbedaan antara
modal yang diinvestasikan permanen atau laba yang direinvestasikan menjadi
kurang penting untuk tujuan ini. Namun, ini tidak berarti bahwa tidak ada
perbedaan antara modal dan laba. Laba dihitung secara berkala dan ditambahkan
pada akun modal pada akhir setiap periode; transaksi modal (penarikan dan
investasi tambahan) dicatat langsung pada akun modal; dan semua perubahan
umumnya diikhtisarkan dalam laporan perusahaan perorangan yang terpisah.
Ekuitas pemilik dari persekutuan atau kemitraans erupa dengan ekuitas
perorangan, kecuali bahwa hal itu diklasifikasikan sesuai dengan kepentingan setiap
sekutu atau kemitraan. Akun pengambilan terpisah dapat digunakan untuk
menetapkan pengendali atas pengambilan atau memaksakan ketaatan pada
perjanjian pengambilan.

III. KLASIFIKASI EKUITAS PEMEGANG SAHAM


Hubungan antara perseroan, pemegang saham, dan kreditor, lebih terlibat
daripada hubungan dalam satu perusahaan perorangan atau dalam suatu
persekutuan. Tujuan paling mendasar dari klasifikasi ekuitas pemegang saham
adalah untuk memberikan informasi kepada pemegang saham , investor, kreditor,
dan kelompok kepentinagn lain mengenai efisiensi dan pengurusan manajemen.
Klasifikasi itu juga harus memberikan informasi mengenai kepentinagn ekonomi
historis dan prospektif dari kelompok-kelompok yang memegang ekuitas spesifik
(seperti karyawan, pelanggan, dan pemerintah) yang mempunyai kepentingan
ekonomi umum dalam perseroan. Dalam memenuhi tujuan ini, informasi dalam
laporan keuangan harus mengungkapkan beberapa ataus semua dari yang berikut:
1. Sumber-sumber modal yang dipasok dalam perusahaan.

2. Pembatasan hukum pada distrbusi modal yang diinvestasikan kepada pemegang


saham.
3. Pembatasan hukum, kontraktual, manajerial, dan keuangan pada distribusi
dividen pada calon dan pemegang saham sekarang.
4. Prioritas beberapa kelas pemegang saham dalam likuidasi sebagian atau akhir.
A. Klasifikasi Menurut Sumber Modal
Klasifikasi ekuitas pemegang saham menurut sumber umumnya
dianggap sebagai tujuan utama klasifikasi utama dalam penyajian neraca pada
struktur akuntansi tradisional. Sumber utama dari ekuitas pemegang saham
perseroan adalah:
1. Jumlah yang disetorkan oleh pemegang saham
2. Kelebihan laba bersih atas dividen yang dibayarkan kepada
pemegang saham (laba ditahan dalam perusahaan).
3. Sumbangan selain dari pemegang saham.
Klasifiaksi empat arah tradisional dari ekuitas pemegang sahamsaham
modal, modal disetor yang lebih besar dari nilai pari tau nilai yang ditetapkan
(agio saham), mldal revaluasi, dan laba yang ditahanhanya sebagian memenuhi
tujuan sesuai sumber. Kategori modal saham dan tambahan modal disetor
merupakan jumlah yang dibayarkan oleh pemegang saham.
Kekurangan utama dari klasifikasi konvensional adalah bahaw
klasifikasi menurut sumber akan hilang manakala transfer dilakukan dari laba
yang ditahan ke saham modal dan tambahan modal disetor dengan menerbitkan
dividen saham atau sarana lain.
1.

Pengungkapan Modal Legal


Kebanyakan Negara bagian mendefinisikan modal legal (modal
berdasar hukum atau modal yang ditetapkan) sebagai nilai agregat dari
semua saham bernilai pari yang diterbitkan (tidak segera dibatalkan) dan
pertimbangan agregat yang dterima untuk semua saham yang diterbitakan
tanpa nilai pari. Akan tetapi, dalam kasus saham berniali tanpa pari,

banyak Negara bagian mengizinkan direktur atau pemegang saham untuk


menetapkan berapa banyak dari pertimbangan yang diterima harus
dogolongkan sebagai modal legal dan berapa banyak uang digolongkan
sebagai tambahan modal disetor.
Akibat

perbedaan

antara

modal

legal

dan

modal

yang

diinvestasikan untuk tujuan akuntansi dan keuangan, pemisahan modal


yang diinvestasikan menjadi modal saham dan tambahan modal yang
disetor mungkin lebih menyesatkan daripada membantu. Salah satu
alternatif adalah mengungkapkan dalam catatan kaki apa yang dipandang
akuntan sebagai modal legal atau yang ditetapkan.
Menurut pendapat Hendriksen dan Van Breda, pengungkapan
modal legal mungkin tidak perlu dalam semua kasus kecuali dalam
perusahaan kecil atau baru berdiri. Dalam perusahaan yang besar dan
menguntungkan, modal legal pada dasarnya merupakan bagian kecil dari
total ekuitas pemegang saham.
2.

Pengungkapan Restriksi pada Disposisi Laba


Pengungkapan distribusi atau disposisi yang diniatkan dari suatu
perseroan tidak sama dengan pengungkapan restriksi pada disposisi laba.
Karena itu, klasifiaksi ekuitas pemegang saham dan catatan kaki pada
laporan keuangan harus membedakan secara jelas antar kedua ini.
Asumsi umum yang awal adalah bahwa dividen tunai tidak boleh
dibayarkan jika hasilnya akan mengurangi aktiva bersih di bawah total
modal disetor pada perusahaan itu, sekalipun sebagian atau seluruh modal
disetor yang lebih tinggi adri nilai pari dapat didistribusikan secara legal.
Laba yang Ditahan unuk Penggunaan dalam Perusahaan atau
cukup disebut Laba Ditahan menyiratkan bahwa laba yang tidak sia
dibagikan sebagai dividen telah diinvestasikan secara permanen dalam
perusahaan. implikasi ini didukung oleh dua pengamatan umum:

1.

Distribusi dividen pada kebanyakan perusahaan besar berkorelasi


tinggi dengan laba masa berjalan, laba tahun sebelumnya, dan dividen
tahun sebelumnya. Dengan kesenjangan singkat dan diviasi minor,
tampaknya ada upaya untuk membatasi pembayaran dividen dari laba
perusahaan tahun berjalan, bukan membayar dividen dari laba yang

2.

ditahan pada tahun sebelumnya.


Dalam kebanyakan perusahaan yang mapan, jumlah laba ditahan
lebih besar daripada modal yang diinvestasikan langsung oleh
pemegang saham.
Karena klasifikasi sebagian ekuitas pemegang saham sebagai laba

ditahan tidak menunjukkan jumlah yang mungkin harus dibayarkan


sebagai dividen di masa depan atau pun tidak ada niat perusahaan untuk
itu, suatu alternative adalah menunjukkan pembatasan legal, kontraktual
atau keuangan untuk pembayaran dividen.
Pembataran dividen ke pemegang saham biasa juga dibatasi oleh
prefensi kontraktual yang diberikan kepada pemegang saham preferen atau
kelompok pemegang saham lain yang diberi hak prioritas di atas
pemegang saham residual itu.
3.

Pengungkapan Restriksi pada Distribusi Likuidasi


Kreditor selalu mempunyai prioritas dalam likuidasi di atas
pemegang saham, dan kelas pemegang saham tertentu memiliki prioritas
atas kelas lain sesuai dengan pasal-pasal dalam anggaran dasar perseroan
atau sesuai dengan perjanjian kontraktual. Preferen likuidasi dari saham
preferen mungkin sama dengan nilai pari atau nilai yang ditetapkan per
saham atau itu juga dapat mencakup premium. Biasanya, dividen preferen
yang tertunggak dimasukkan jika dividen preferen bersifat kumulatif.
Preferen likuidasi, karenanya, tidak sama seperti modal legal atau
yang ditetapkan. Jika suatu perusahaan yang menguntungkan tidak
mempunyai maksud untuk likuidasi , preferensi likuidasi mungkin secara

relatif tidak penting. Tetapi jika total preferensi menjadi lebih besar dalam
proporsinya dengan total aktiva bersih atau jika likuidasi sebagaian atau
akhir tamapak mungkin terjadi, pengungkapan harus dibuat dalam laporan
keuangan.
IV.

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI


Apabila suatiu perseroan mempunyai kepemilikan mayoritas dan
pengendalian dalam satu atau lebih anak perusahaan yang berhubungan, informasi
yang berharga dapat diperoleh dan disajikan dalam menggabungkan data keunagn
dan menyiapkan laporan keuangan konsolidasi untuk keseluruhan kelompok itu.
Persyaratan untuk konsolidasi diatur oleh paragraf semula No. 2 dan 3 dari
ARB 51 yang ditetapkan tahun 1959. Yang pertama dari paragraf ini menyatakan
bahwa:
Kondisi biasa untuk kepentingan keuangan yang mengendaliakn adalah
kepemilikan hak suara mayoritas, dan, karenanya, sebagai aturan umum
kepemilikan oleh suatu perusahaan, langsung dan tidak langsung, atau atas lebih
dari lama puluh persen saham suara yang beredar dari perusahaan lain, adalah
kondisi yang mengarah pada konsolidasi.
Yang kedua dari paragraf- paragraf itu kemudian menambahkan
peringatan bahwa: laporan yang terpisah atau laporan yang digabungkan akan
lebih baik untuk anak perusahaan atau kelompok anak perusahaan jika penyajian
informasi leuangan mengenai aktivitas tertentu dari anak-anak perusahaan itu
akan lebih informatif bagi pemegang saham saham dan kreditor induk perusahaan
daripada pemasukan anak-anak perusahaan itu dalam konsolidasi. Misalnya,
laporan terpisah dapat disyaratkan bagi anak perusahaan yang merupakan bank
atau perusahaan asuransi dan mungkin lebih baik bagi perusahaan keuangan di
mana induk perusahaan dan anak-anak perusahaan lain terlibat dalam proses
pabrikasi.

Meski kelompok yang dikonsolidasi umumnya dipandang sebagai unit


ekonomi tunggal, prosedur akuntansi konsolidasi sering menyangkal ini dalam
perlakuan mereka atas kepentingan minorotas. Tampaknya tidak ada pengandalan
pada satu teori, seperti teori kepemilikan, teori ekuitas, atau teori dana yang
berlaku sebagai pedomandalam penetapan prosedur logis yang konsisten untuk
konsolidasi.
1. Prosedur Konsolidasi
Konsolidasi induk perusahaan dengan anak perusahaannya dalam
prinsipnya bersifat langsung. Dua perusahaan atau lebih dikonsolidasikan dengan
menambahkan aktiva dan kewajiban mereka. Perbedaan antara jumlah jumlah
itu merupakan ekuitas dari perusahaan terkonsolidasi.
Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan. Yang pertama adalah bahwa
akun ekuitas pemilik konsolidasi tidak dipengaruhi oleh tingkat kepemilikan
pemegang saham mayoritas. Yang kedua adalah bahwa nilai aktiva anak
perusahaan dipengaruhi oleh tingkat kepemilikan pemegang saham mayoritas.
Nilai aktiva anak perusahaan dalam laporan konsolidasi = nilai buku
aktiva + persentase kepentingan mayoritas x (nilai wajar nilai buku)
Alternatifnya :

Nilai yang disesuaikan = a +

x (f a)

2. Maksud dan Tujuan


Accounting Research Bulletin No.51, stndar semula dan masih berlaku
atas konsolidasi, menyatakan bahwa :
Tujuan dari laporan konsolidasi adalah untuk menyajikan, terutama untuk
kepentingan pemegang saham dan kreditor induk perusahaan, hasil hasil operasi
dan posisi keuangan induk perusahaan dan anak perusahaan yang pada dasarnya

seolah kelompok suatu perusahaan tunggal dengan satu atau lebih cabang atau
divisi.
3. Neraca Konsolidasi.
Dalam neraca, praktik menambahkan bersama klasifikasi terpisah aktiva dan
kewajibaninduk dan anak perusahaan adalah sejalan dengan gagasan menyajikan
laporan keuangan perusahaan secara keseluruhan. Agar konsisten dengan
pendekatan entitas pada laporan konsolidasi, revisi penilaian aktiva anak
perusahaan harus mencakup tidak hanya jumlah yang dibayarkan ke induk
perusahaan, tetapi jga bagian kepentingan minoritas dalam penilaian yang
meningkat. Biaya adalah relevan pada saat akuisisi hanya karena itu merupakan
bukti terbaik dari nilai. Apabila hanya sebagian dari kepentingan yang diperoleh,
biaya dari kepentingan sebagian harus digunakan sebagai bukti dati nilai
keseluruhan.
4. Laporan Laba Rugi Konsolidasi.
Penjualan antar perusahaan dan laba antar perusahaan dihilangkan per
entitas, dan penjualan serta beban lain digabungkan untuk menunjukkan aktivitas
perusahaan secara keseluruhan. Laba bersih adalah bukan laba secara
keseluruhan, tetapi hanya bagian yang dialokasikan ke kepentingan mayoritas.
Laba bersih konsolidasi merupakan ekuitas kepemilikan dari pemegang saham
induk perusahaan dalam laba keseluruhan perusahaan.
5. Klasifikasi Ekuitas Konsolidasi
Mengungkapkan Modal Legal. Kreditor anak perusahaan harus
memperhatikan masing masing laporan anak perusahaan untuk menentukan
modal legal relevan dan hubungannya dengan kreditor lain. Kreditor induk
perusahaan juga harus memperhatikan laporan terpisah induk perusahaan untuk
menentukan hubungan spesifik mereka pada pemegang saham dan kreditor lain
karena mereka hanya mempunyai klaim sekunder atas aktiva anak perusahaan,

tetapi klaim primer atas aktiva induk. Karena itu, penyajian modal legal dan hak
para kreditor tidak dapat dan tidak boleh merupakan tujuan utama dalam
klasifikasi ekuitas perusahaan konsolidasi.
Mengungkapkan Sumber Modal. Ada beberapa kendala dalam laporan
konsolidasi. Pertama, modal yang diperoleh dari pemegang saham mayoritas
dicerminkan oleh saham modal dan tambahan modal disetor dari induk
perusahaan dalam kebanyakan kasus. Kepentingan minoritas pada umumnya
termasuk di antara kewajiban atau sebagai pos terpisah di antara kewajiban dan
ekuitas pemegang saham. Yang kedua, praktik konvensional klasifikasi menurut
sumber adalah bahwa jumlah modal yang diperoleh dari laba ditahan tidak
disajikan secara jelas. Kepentingan minoritas tidak diklasifikasi sesuai dengan
sumber sumber terpisah modal yang diinvestasikan oleh pemegang saham dan
laba yang ditahan oleh anak perusahaan.
Pemecahan yang disarankan adalah dengan menyertakan di dalam modal
investasi konsolidasi, kepentingan minoritas dalam total ekuitas pemegang saham
pada tanggal konsolidasi, dan untuk mengklasifikasikan laba ditahan sebagai :
1. Yang diperoleh dari laba yang ditahan oleh induk perusahaan sejak
pendiriannya.
2. Yang ditahan

oleh

anak

perusahaan

sejak

konsolidasi

(tanpa

mempertimbangkan kepentingan mayoritas dan minoritas yang terpisah


dalam laba ditahan anak perusahaan)
Mengungkapkan Kemungkinan Distribusi. Klasifikasi konvensional
dari ekuitas perusahaan konsolidasi gagal mengungkapkan kemungkinan
distribusi laba kepada pemegang saham mayoritas dan minoritas. Jika anak
perusahaan beroperasi dengan rugi, laba konsolidasi dapat dibagikan seluruhnya
kepada pemegang saham mayoritas tanpa membayar dividen kepada kelompok
minoritas. Di pihak lain, jika laba bersih konsolidasi diperoleh seluruhnya dari
operasi anak perusahaan, dividen yang cukup besar mungkin diperlukan untuk
dibayarkan kepada pemegang saham minoritas sebelum pemegang saham induk
bisa menerima suatu dividen.
Kreditor anak perusahaan tidak mempunyai klaim atas aktiva terpisah
induk, dan karenanya, hutang yang terikat pada anak dan iduk tidak boleh

digabung jika tujuannya adalah untuk mengungkapkan prioritas. Kreditor induk


perusahaan hanya mempunyai klaim sekunder atas aktiva anak perusahaan, pada
tingkat yang sama seperti klaim kepentingan minoritas.