Anda di halaman 1dari 29

PEMENUHAN KEBUTUHAN PASIEN AKIBAT KEGANASAN SALURAN

PENCERNAAN: KANKER KOLOREKTAL DENGAN MENGGUNAKAN PROSES


KEPERAWATAN SEBAGAI KERANGKA KERJA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Ajar


Keperawatan Medikal Bedah Lanjut III

Disusun Oleh:
1

ANCE M. SIALLAGAN
157046009

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016

BAB 1
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Kanker kolon dan rektum adalah kanker yang menyerang usus besar dan rektum.
Penyakit ini adalah kanker peringkat 2 yang mematikan. Usus besar adalah bagian dari sistem
pencernaan. Sebagaimana kita ketahui sistem pencernaan dimulai dari mulut, lalu
kerongkongan (esofagus), lambung, usus halus (duodenum, jejunum, ileum), usus besar
(kolon), rektum dan berakhir di dubur. Usus besar terdiri dari kolon dan rektum. Kolon atau
usus besar adalah bagian usus sesudah usus halus, terdiri dari kolon sebelah kanan (kolon
asenden), kolon sebelah tengah atas (kolon transversum) dan kolon sebelah kiri (kolon
desenden). Setelah kolon, barulah rektum yang merupakan saluran di atas dubur. Bagian
2

kolon yang berhubungan dengan usus halus disebut caecum, sedangkan bagian kolon yang
berhubungan dengan rektum disebut kolon sigmoid.
Kanker adalah penyakit pertumbuhan sel yang bersifat ganas. Bisa mengenai organ apa
saja di tubuh manusia. Bila menyerang di kolon, maka disebut kanker kolon, bila mengenai di
rektum, maka disebut kanker rektum. Bila mengenai kolon maupun rektum maka disebut
kanker kolorektal.
Kanker kolon sebagaimana sifat kanker lainnya, memiliki sifat dapat tumbuh dengan
relatif cepat, dapat menyusup atau mengakar (infiltrasi) ke jaringan disekitarnya serta
merusaknya, dapat menyebar jauh melalui kelenjar getah bening maupun pembuluh darah ke
organ yang jauh dari tempat asalnya tumbuh, seperti ke lever, paru-paru, yang pada akhirnya
dapat menyebabkan kematian bila tidak ditangani dengan baik.

2.

TUJUAN

1. Untuk menjelaskan anatomi dan fisiologi kolorektal


2. Untuk menjelaskan konsep kanker kolorektal
3. Untuk menjelaskan pengkajian Ca kolorektal beredasarkan riwayat kesehatan, pola
fungsional Gordon, dan pemerikasaan fisik,
4. Untuk mengidentifikasi proses keperawatan dengan menyusun rumusan diagnosa NANDA,
NIC, NOC.

BAB 2
TINJAUAN TEORITIS

1. ANATOMI DAN FISILOGI KOLOREKTAL


a) Usus Besar (Kolon)
Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan
rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses.
Usus besar terdiri dari :

* Kolon asendens (kanan)


* Kolon transversum
* Kolon desendens (kiri)
* Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum)
Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa
bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi
membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari
usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri
didalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir
dan air, dan terjadilah diare.
Usus besar membentang dari ujung ileum sampai ke anus.
Fungsi usus besar :

Absorpsi air, garam dan glukosa.


Pencernaan zat putih telur
Pencernaan hidrat arang
Pencernaan lemak
Menyekresi feses
Banyak nya bakteri yang terdapat didalam usus besar bverfungsi mencerna beberapa
bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri didalam usus besar juga berfungsi
membuat zat-zat penting, seperti Vitamin K. bakteri ini npenting untuk fungsi normal dari
usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri
didalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir
dan air, terjadilah diare.
Bagian- bagian usus besar :

Sekum
Pada sekum terdapat katup ileo-sekum. Katup ini merupakan sfinter dan mencegah isis
sekum masuk kembali kedalam ileum. Dengan masuknya makanan kedalam lambung,
kontraksi duodenum dimulaidan usus halus beristirahat, diikuti pasase isi ileum kedalam

sekum melalui katup ilo-sekum. Hal ini disebut refleks gastro-ileum.


Kolon asenden.
Kolon ini naik disisi kanan abdomen kepermukaan bawah hati, tempat ia menekuk
4

kedepan dan kekiri pada fleksura kolik kanan.


Kolon transversum.
Kolon ini berjalan menyilang abdomen kepermukaan baweah limpa pada arkus terinversi.

Disini, kolon menekuk dengan tajam kearah bawah pada fleksura kolik kiri.
Kolon desenden.
Kolon ini berjalan kebawah pada sisi kiri abdomen ke pintu masuk pelvis minor, dimana

ia menjadi kolon sigmoid.


Kolon sigmoid
Kolon ini membentuki lengkung yang panjang dan berdada dalam pelvis minor.
Usus buntu atau sekum dalam istilah anatomi adalah suatu kantung yang terhubung
pada usus penyerapan serta bagian kolon menanjak dari usus besar. Organ ini ditemukan pada
mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil. Sebagian besar herbivora memiliki sekum yang
besar, sedangkan karnivora eksklusif memiliki sekum yang kecil, yang sebagian atau
seluruhnya digantikan oleh umbai cacing.
Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu. Infeksi pada
organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing. Apendisitis yang parah dapat
menyebabkan apendiks pecah dan membentuk nanah di dalam rongga abdomen atau
peritonitis (infeksi rongga abdomen).
Pada orang dewasa, Umbai cacing berukuran sekitar 10 cm tetapi bisa bervariasi dari
2 sampai 20 cm. Walaupun lokasi apendiks selalu tetap, lokasi ujung umbai cacing bisa
berbeda bisa di retrocaecal atau di pinggang (pelvis) yang jelas tetap terletak di peritoneum.
b) Rektum
Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon
sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara
feses. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu
pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka
timbul keinginan untuk buang air besar (BAB). Mengembangnya dinding rektum karena
penumpukan material di dalam rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan
keinginan untuk melakukan defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material akan
dikembalikan ke usus besar, di mana penyerapan air akan kembali dilakukan. Jika defekasi
tidak terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi.

Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan
anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yang penting untuk
menunda BAB.
Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar ( setelah kolon
sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara
feses. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu
pada kolon desenden. Jika kolon desenden penuh dan tinja masuk kedalam rektum, maka
timbul keinginan untuk buang air besar. Mengembangnya dinding rektum karena
penumpukan material didalam rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan
keinginan untuk melakukan defekasi. Jika defekasitidak terjadi, seringkali material
dikembalikan ke usus besar, dimana [penyerpan air akan kembali dilakukan. Jika defekasi
tidak terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi.

2. KONSEP KANKER KOLOREKTAL


a) Pengertian
Kanker kolorektal merupakan suatu tumor malignant yang muncul pada
jaringan epithelial dari colon / rectum. Kanker Ca Kolorektal dapat menyerang dan
merusak jaringan-jaringan dan organ-organ yang berdekatan dimana sel-sel kanker
dapat pecah dan keluar menyebar pada bagian-bagian lain tubuh (seperti hati dan
paru-paru dimana tumor-tumor baru terbentuk). Secara global tumor ini adalah
penyebab kanker pada pria dan keempat pada wanita.

b) Etiologi
Penyebab dari Ca Colorektal tidak diketahui secara pasti, namun terdapat factor-factor
predisposisi yang terdiri dari:
1. Usia lebih dari 40 tahun
2. Riwayat keluarga

3. Riwayat kanker di bagian tubuh yang lain


4. Polip Benigna, Polip Kolorektal, Polip Adematosa atau adenoma Villus
5. Kolitis ulseratif lebih dari 20 tahun
6. Sedentary Life style, merokok, Obesitas.
7. Kebiasaan makan tinggi kolesterol/lemak dan protein (konsumsi daging) serta rendah serat /
Karbohidrat Refined

yang mengakibatkan perubahan pada flora feses dan perubahan

degradasi garam-garam empedu atau hasil pemecahan protein dan lemak yang bersifat
karsinogenik.
Tanda-tanda Ca Kolon (tergantung pada letak tumor)
1. Pendarahan pada rektal
2. Anemia
3. Perubahan feses
Adapun hal pertama yang ditunjukan oleh Ca Kolon adalah
1. Teraba massa
2. Pembuntuan kolon sebagian atau keseluruhannya
3. Perforasi pada karakteristik kolon dengan distensi abdominal dan nyeri.

c) Manifestasi Klinis
Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit dan fungsi segmen usus
tempat kanker berlokasi. Gejala paling menonjol adalah perubahan kebiasaan defekasi,
pasase darah dalam feses, anemia yang tidak diketahui penyebabnya, anoreksia, penurunan
berat badan dan keletihan. Selain itu gejala yang sering dihubungkan dengan lesi sebelah kiri
adalah nyeri dangkal abdomen dan melena (feses hitam seperti ter). Sedangkan lesi sebelah
kanan adalah nyeri abstruksi (nyeri abdomen dan kram, penipisan feses, konstipasi, dan
distensi) serta adanya darah merah dalam feses.
Gambaran klinis sangat bervariasi dan tidak spesifik. Bisa dijumpai tanpa keluhan
sampai adanya keluhan berat dan tergantung pada lokasi / besarnya tumor. Pada karsinoma
kolon kanan, klien datang dengan keluhan ada masa di abdomen kanan, obstruksi akan timbul
bila tumor sudah besar. Tumor kolon kiri lebih cepat terjadi obstipasi dan tanda-tanda
7

obstruksi.
Pada penderita Ca Colorektal umumnya Asymptomatis atau relative bergejala ringan
pada saat penyakit ditemukan. Gejala yang muncul dapat berkaitan dengan saluran cerna.
Tanda dan gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit dan fungsi segmen
usus tempat kanker berlokasi. Rasa tidak enak di perut atau Nyeri abdomen merupakan
keluhan paling sering disampaikan penderita. Perdarahan Peranal sebagai keluhan pertama
penderita dengan gejala berupa perdarahan segar bercampur atau tanpa disertai tinja.
Perubahan pola defekasi dapat berupa; diare/ konstipasi, bentuk tinja seperti pensil, serta
perut masih terasa penuh meskipun sudah buang air besar. Adapun gejala lain yaitu: Anemia
idiopatik, Nausea, malaisea, Haemoroid, Anoreksia, dan Perubahan Berat badan (BB
menurun) akibat iritasi dan respon refluks.

d) Patofisiologi
Kanker kolon dan rektum terutama (95%) adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel
usus). Dimulai sebagai polip jinak tetapi dapt menjadi ganas dan menyusup serta merusak
jaringan, meluas kedalam struktur sekitarnya. Sel kanker dapat terlepas dari tumor primer dan
menyebar ke bagian tubuh yang lain (sering ke hati).
Umumnya tumor kolorektal adalah adenokarsinoma yang berkembang dari polyp
adenoma. Insidensi tumor dari kolon kanan meningkat, meskipun umumnya masih terjadi di
rektum dan kolon sigmoid. Pertumbuhan tumor secara tipikal tidak terdeteksi, menimbulkan
beberapa gejala. Pada saat timbul gejala, penyakit mungkin sudah menyebar kedalam lapisan
lebih dalam dari jaringan usus dan oragan-organ yang berdekatan. Kanker kolorektal
menyebar dengan perluasan langsung ke sekeliling permukaan usus, submukosa, dan dinding
luar usus. Struktur yang berdekatan, seperti hepar, kurvatura mayor lambung, duodenum,
usus halus, pankreas, limpa, saluran genitourinary, dan dinding abdominal juga dapat dikenai
oleh perluasan. Metastasis ke kelenjar getah bening regional sering berasal dari penyebaran
tumor. Tanda ini tidak selalu terjadi, bisa saja kelenjar yang jauh sudah dikenai namun
kelenjar regional masih normal (Way, 1994). Sel-sel kanker dari tumor primer dapat juga
menyebar melalui sistem limpatik atau sistem sirkulasi ke area sekunder seperti hepar, paruparu, otak, tulang, dan ginjal. Penyemaian dari tumor ke area lain dari rongga peritoneal
8

dapat terjadi bila tumor meluas melalui serosa atau selama pemotongan pembedahan.
Awalnya sebagai nodul, kanker usus sering tanpa gejala hingga tahap lanjut. Karena
pola pertumbuhan lamban, 5 sampai 15 tahun sebelum muncul gejala (Way, 1994).
Manifestasi tergantung pada lokasi, tipe dan perluasan, dan komplikasi. Perdarahan sering
sebagai manifestasi yang membawa klien datang berobat. Gejala awal yang lain sering terjadi
perubahan kebiasaan buang air besar, diarrhea atau konstipasi. Karekteristik lanjut adalah
nyeri, anorexia, dan kehilangan berat badan. Mungkin dapat teraba massa di abdomen atau
rektum. Biasanya klien tampak anemis akibat dari perdarahan
Prognosis kanker kolon tergantung pada stadium penyakit saat terdeteksi dan
penanganannya. sebanyak 75 % klien kanker kolorektal mampu bertahan hidup selama 5
tahun. Daya tahan hidup buruk / lebih rendah pada usia dewasa tua (Hazzard et al., 1994).
Komplikasi primer dihubungkan dengan kanker kolorektal : (1) obstruksi usus diikuti dengan
penyempitan lumen akibat lesi; (2) perforasi dari dinding usus oleh tumor, diikuti
kontaminasi dari rongga peritoneal oleh isi usus; (3) perluasan langsung tumor ke organorgan yang berdekatan.

e) Pemeriksaan diagnostik
Pendekatan diagnosis pada penderita kanker kolorektal tergantung pada gejala
klinik yang muncul. Sebagian kecil penderita yang datang dalam kondisi gawat yang
segera memerlukan tindakan pembedahan sehingga diagnosis dapat segera dibuat,
atau kadang-kadang diagnosis dapat dibuat melalui pemeriksaan colok dubur.
Pada pemeriksaan colok dubur mungkin teraba adanya masa. Pemeriksaan
darah samar pada tinja dapat mengindikasikan adanya kanker. Identifikasi dini polip
dengan pemeriksaan colok dubur, prokto-sigmoidoskopi/ kolonoskopi serta
pengangkatan secara bedah seluruh polip yang dapat mencegah pembentukan kanker.
Pemeriksaan darah untuk antigen-antigen spesifik berhubungan dengan Ca kolorektal
terutama antigen karsinoembrionik (CEA).

Adapun tes laboratorium yang dianjurkan sebagai berikut:


1. Jumlah sel-sel darah untuk evaluasi anemia. Anemia mikrositik, ditandai dengan sel9

sel darah merah yang kecil, tanpa terlihat penyebab adalah indikasi umum untuk tes
diagnostic selanjutnya untuk menemukan kepastian kanker kolorektal.
2. Test Guaiac pada feses untuk mendeteksi bekuan darah di dalam feses, karena semua
kanker kolorektal mengalami perdarahan remitten.
3. CEA (carcino Embrioniogenic Antigen) adalah ditemukannya glikoprotein dimembran
sel pada banyak jaringan, termasuk kanker kolorektal. Antigen ini dapat dideteksi oleh
Radioimmunoassay dari serum atau cairan tubuh lainnya dan sekresi.
4. Pemeriksaan kimia darah alkaline phospatase dan kadar bilirubin dapat meninggi,
indikasi telah mengenai hepar. Tes laboratorium lainnya hanya meliputi serum
protein, kalsium, dan kreatinin.
5. Barium Enema sering digunakan untuk deteksi atau konfirmasi ada tidaknya dan
lokasi tumor.
6. X-ray dada untuk mendeteksi metastase tumor ke paru-paru.
7. CT (computed tomography)- Scan, Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau
pemeriksaan ultrasonic dapat digunakan untuk mengkaji apakah sudah ada metastase.
8. Endoskopi

(sigmoidoscopy

atau

Colonoskophy)

adalah

test

diagnostic

utamadigunakan untuk mendeteksi dan melihat tumor. Sekalian dilakukan biopsy


jaringan.Pemeriksaan

endoskopi

dari

kolonoskopi

direkomendasikan

untuk

mengetahui lokasi dan biopsy lesi pada klien dengan perdarahan rectum.
Pengamatan saluran cerna dilakukan dengan pemeriksaan barium enema atau
kolonoskopi serat lentur. Pemeriksaan kolonoskopi merupakan pilihan dan cara membuat
diagnosis kanker kolorektal yang akurat. Dengan pemeriksaan kolonoskopi dapat dilakukan
biopsi untuk memastikan ada tidaknya suatu kanker. Dapat pula dilakukan polipektomi pada
polipsinkronos jinak, karena sinkronos polip jinak.

Kolonoskopi Versus Barium Enema

10

Kemampuan kolonoskopi lebih baik dibandingkan pemeriksaan barium enema


kontras ganda. Kemampuannya mendeteksi polip berukuran > 7 mm. Kemampuan kombinasi
pemeriksaan barium enema dan sigmoidoskopi pada kasus perdarahan saluran cerna bawah
lebih baik daripada pemeriksaan kolonoskopi terutama untuk mendiagnosis kelainan jinak
seperti divertikel, tetapi kolonoskopi tetap lebih sensitif dan spesifik untuk mendiagnosis
neoplasma.

CT Scan
Klien kanker kolorektal tanpa komplikasi tidak memerlukan pemeriksaan CT Scan
rutin. Pemeriksaan CT Scan pada kanker rectum lanjut sangat akurat untuk menilai adanya
invasi ke jaringan sekitarnya. Kemampuannya sangat terbatas untuk mendeteksi lesi primer
kecil. USG efektif untuk menampilkan lapisan dinding rectum dan kemampuan untuk
mengamati kelenjar limfe serta untuk menilai metastase di hati.

Endosonografi
Stadium kanker kolorektal mencerminkan derajat penyebaran penyakit. Pada dasarnya
stadium penyakit terbagi atas tiga komponen yaitu: invasi lokal, penyebaran ke kelenjar getah
bening dan metastasis ke lain organ. Metastase pada kelenjar getah bening dapat juga dilihat
dengan EUS. Namun EUS sulit untuk membedakan sebab pembesaran kelenjar apakah
disebabkan peradangan atau suatu proses metastasis. EUS pada metastasis kelenjar getah
bening tampak lebih hipoechoik di daerah jaringan parirektal.

f) Komplikasi
Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan abstruksi usus parsial/lengkap. Pertumbuhan
dan ulserasi dapat juga menyerang pembuluh darah sekitar kolon yang menyebabkan
hemologi. Perforasi dapat terjadi dan mengakibatkan pembentukan abses. Peritanitis dan atau
sepsis dapat menimbulkan syok. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi yaitu:
11

1. Obstruksi usus parsial atau lengkap diikuti penyempitan lumen akibat lesi.
2. Haemorrhagi/ perdarahan
3. Pembentukan Abses akibat Perforasi dinding usus oleh tumor diikuti kontaminasi dari
rongga peritoneal oleh isi usus.
4. Shock akibat peritonitis dan sepsis
5.

Mestatase ke organ lain yang berdekatan. Terjadi fistel pada kantong kemih, vagina /

usus.
6. Prolapsus rektum adalah turunnya rektum melalui anus, prolapsus yang hanya bersifat
sementara dan hanya mengenai lapisan rektum (mukosa), sering terjadi pada bayi normal, hal
ini disebabkan karena bayi mengedan selama buang air besarnya dan jarang berakibat serius.
Sedangkan pada orang dewasa, prolapsus bagian lapisan rektum cenderung menetap dan bisa
memburuk, sehingga lebih banyak bagian dari rektum yang turun.
Adapun penyebabnya yaitu,
1.
2.
3.
4.
5.

Enterobiasis
Trikuriasis
Fibrosis kistik
Malnutrisi dan malabsorsi
Sembelit.
Gejalanya, prolapsus rektum menyebabkan rektum berpindah keluar, sehingga lapisan

rektum terlihat seperti jari berwarna merah gelap dan lembab yang keluar dari anus.

g. Penatalaksanaan
Keberhasilan pengobatan kanker kolorektal ditentukan oleh stadium saat diagnosis
dibuat. Terdapat berbagai macam stadium penyakit kanker kolorektal. Penentuan stadium
sebelum tindakan operasi, khususnya pada kanker rectum, berguna untuk menentukan strategi
pengobatan seperti pemberian khemoterapi ajuvan, pemilihan jenis operasi yang akan
dilakukan. Pemerikasaan Ro foto dada harus dikerjakan untuk memastikan ada tidaknya
12

proses metastasis di paru. Test fungsi hati tidaklah terlalu diperlukan, Pemeriksaan CEA
kadang-kadang diperlukan untuk menilai keberhasilan pengobatan.
Dalam penatalaksanaan medik diberikan terapi adjuvant, mencakup kemoterapi, terapi
radiasi, dan ataupun imunoterapi. Terapi radiasi diberikan pada periode praoperatif, intra
operatif dan pascaoperatif. Untuk tumor yang tidak di operasi atau di reseksi, radiasi
digunakan untuk menghilangkan gejala

Penatalaksanaan Medik berdasarkan stadium:


1. Pada stadium 0, Berupa polip di mukosa colon disebut juga dengan precursor Ca.
Penatalaksanaannya dengan pemotongan polip (colonoskopi)
2. Pada stadium 1, Tumor tumbuh di mukosa usus. Penatalaksanaanny dengan
pembedahan.
3. Pada stadium 2, Tumor menyebar hingga lapisan muskularis mukosa (lap Usus).
Penatalaksanaanya: pembedahan.
4. Pada Stadium 3, Tumor menyebar ke kelenjar getah bening.
5. Penatalaksanaannya: pembedahan, kemoterapi, Radiasi terapi.
6. Pada Stadium 4, Tumor bermetastase. Penatalaksanaannya: kemoterapi.

Penatalaksanaan Keperawatan
Perawatan Klien dengan bedah usus:
1. Pra-Operatif
a) Pastikan tanda-tanda valid untuk prosedur. Ini berguna bagi pasien dan
anggota keluarga untuk memahami prosedur dan kemungkinan risiko dan
keunggulan, sebaiknya altenatif untuk persiapan prosedur. Penandatanganan
Format persetujuan khususnya untuk prosedur sebagai dokumentasi bahwa
klien dan keluarga setuju.
b) Kaji pemahaman klien dan keluarga tentang prosedur, klarifikasi dan
interpretasikan sesuai kebutuhan. Beri instruksi apa yang diharapkan selama
periode post operatif, meliputi penanganan nyeri, pemasangan selang
13

NGT/IVFD, latihan pernafasan, reintroduksi intake oral makanan dan cairan.


Klien yang dipersiapkan dengan baik selama praoperatif biasanya tidak cemas
dan mampu lebih baik mendukung perawatan pasca operatif. Persiapan
adekuat

juga

mengurangi

kebutuhan

narkotik

untuk

analgesic

dan

meningkatkan pemulihan klien.


c) Pemasangan NGT. Meskipun sering dilakukan pemasangan di kamar bedah
hanya untuk pembedahan, NGT dapat dipasang preoperative untuk membuang
sekresi dan mengosongkan isi lambung.
d) Prosedur persiapan usus. Antibiotok oral dan parenteral sebaiknya kathartik
dan enema/ ditelan dapat diberikan preoperative untuk membersihkan usus
dan mengurangi risiko kontaminasi

peritoneal oleh isi usus selama

pembedahan.
Tujuan Perawatan pre-operatif:
1. Menghilangkan nyeri
2. Meningkatkan toleransi Aktivitas
3. Memberikan tindakan nutrisional
4. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
5. Menurunkan Ansietas
6. Mencegah Infeksi
7. Pendidikan Klien Pra-operatif

2. Pasca-Operatif
a) Perawatan rutin untuk klien bedah. Monitor TTV dan intake dan output, meliputi
drainase lambung dan lainnya dari drain luka. Kaji perdarahan dari insisi abdomen
dan perineal, kolostomi, atau anus. Evaluasi komplikasi luka yang lainya dan
14

pertahankan integritas psikologi.


b) Monitor bising usus dan derajat distensi abdomen. Manipulasi pembedahan dari usus
manghentikan peristaltic, menyebabkan ileus. Adanya bising usus dan pasase flatus
indikasi kembalinya peristaltic.
c) Sediakan obat mengurangi nyeri dan pemeriksaan rasa nyaman seperti perubahan
posisi
d) Kaji status pernafasan, sangga abdomen dengan selimut atau bantal untuk membantu
batuk
e) Kaji posisi dan Patensi NGT, persambungan suction. Bila selang terlipat, irigasi
dengan salin steril secara hati-hati.
f) Kaji warna, jumlah, dan bau drainase dan kolostomi (bila ada) catat berbagai
perubahan atau adanya bekuan atau perdarahan berwarna merah terang.
g) Hindari pemasangan temperature rectal, suppositoria atau prosedur rectal lain sebab
dapat merusak garis jahitan anal, menyebabkan perdarahan, infeksi atau gangguan
penyembuhan.
h) Pertahankan cairan intravena ketika masih dilakukan suction naso gastric
i) Pemberian antacid, antagonis histamine 2 reseptor dan terapi antibiotic dianjurkan.
Tergantung pada prosedur yang dilakukan. Terapi antibiotic untuk mencegah infeksi
akibat kontaminasi rongga abdomen dengan isi usus.
j) Anjurkan ambulasi untuk merangsang peristaltic
k) Mulai pengajaran dan perencanaan pulang. Konsultasikan dengan ahli gizi untuk
instruksi diet dan menu, beri penguatan pengajaran.

Tujuan Perawatan pasca-operatif:


1. Perawatan luka
2. Pendidikan klien dan pertimbangan perawatan di rumah
3. Citra tubuh positif
4. Pemantauan dan penatalaksanaan Komplikasi

15

BAB 3
PROSES KEPERAWATAN

1. Pengkajian Ca Colorektal
Tahap pengkajian keperawatan pada klien dengan Ca Colorektal sama seperti kasus
keperawatan lainnya :
a.

Identitas klien:
Terdiri dari nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, diagnose
medis, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian.

b. Riwayat kesehatan klien :

Alasan masuk perawatan :


Menggambarkan tentang hal-hal yang menjadikan pasien dibawa ke rumah sakit dan

dirawat.
Keluhan utama:
Keluhan utama ini diambil dari data subjektif atau objektif yang paling menonjol yang

dialami oleh klien.


Riwayat kesehatan sekarang:
Pengembangan dari keluhan utama dan data yang menyertai menggunakan

pendekatan PQRST, yaitu paliatif, qualitas, region, severity, dan time.


Riwayat kesehatan masa lalu
Pada kesehatan masa lalu ini dikaji tentang factor resiko penyebab masalah kesehatan
sekarang serta jenis penyakit dan kesehatan masalah lalu. Pada klien post operasi Ca
Colorektal perlu dikaji mengenai riwayat penyakit saluran pencernaan seperti : ( ) dan

riwayat pembedahan sebelumnya.


Riwayat kesehatan keluarga
Pada riwayat kesehatan keluarga ini dikaji tentang penyakit yang menular atau
penyakit menurun yang ada dalam keluarga.

c.

Pola fungsional Gordon:

Persepsi dan penanganan kesehatan


16

Gambaran umum kesehatan saat ini


Alasan kunjungan dan harapan
Gambaran terhadap sakit, penyebabnya dan penanganan yang dilakukan
Kepatuhan terhadap pengobatan
Pencegahan/ tindakan dalam menjaga kesehatan
Penggunaan obat resep dan warung
Penggunaan produk/ zat dalam kehidupan sehari-hari
Penggunaan alat keamanan di rumah dan factor resiko timbulnya penyakit
Gambaran kesehatan keluarga

Nutrisi dan metabolic:

Gambaran komposisi makanan


Tipe dan intake cairan
Kondisi nafsu makan, kesulitan dan keluhan yang mempengaruhi nafsu makan
Penggunaan obat diet
Makanan kesukaan, pantangan, dan alergi
Penggunaan suplemen makanan
Gambaran BB, perubahan BB dalam 6-9 bulan
Perubahan pada kulit
Proses penyembuhan luka
Factor resiko terkait ulcer kulit

Eliminasi

Berapa kali miksi dalam sehari, karakteristik urin


Apakah ada masalah dalam proses miksi, penggunaan alat bantu untuk miksi
Gambaran pola defekasi, karakteristik
Penggunaan alat bantu
Bau badan, keringat berlebihan, lesi, dan pruitus

Aktivitas dan latihan

Gambaran tingkat aktivitas, kegiatan sehari-hari, dan olahraga


Aktivitas saat senggang/ waktu luang
Apakah ada kesulitan dalam bernafas, lemah,batuk, nyeri dada, palpasi, nyeri pada tungkai
Gambaran dalam pemenuhan ADL
-level fungsional (0-IV)
-kekuatan otot (1-5)

Tidur dan istirahat

17

Berapa lama tidur dimalam hari


Jam berapa tidur-bangun
Apakah ada kebiasaan sebelum tidur
Apakah mengalami kesulitan dalam tidur

Kognitif-persepsi

Kemampuan menulis dan membaca


Kemampuan berbahasa
Kesulitan dalam mendengar
Penggunaan alat bantu mendengar/melihat
Bagaimana visus
Apakah ada keluhan pusing, bagaimana gambaran
Apakah mengalani sensitivitas terhadap dingin, panas, nyeri
Apakah merasa nyeri

Persepsi diri-konsep diri

Bagaiman gambaran diri klien


Apakah ada kejadian yang mengubah gambaran diri klien
Apa yang membebani pikiran
Apakah sering merasa marah, cemas, depresi,takut

Peran- hubungan

Gambaran pengaturan kehidupan


Apakah mempunyai orang dekat? bagaimana kualitas hubungannya?
Perbedaan peran dalam keluarga, apakah ada saling keterkaitan?
Bagaimana dalam pengambilan keputusan dan penyelesaian konflik
Keadaan keuangan
Apakah mempunyai kegiatan social?

Seksualitas dan reproduksi

Apakah kehidupan seksual aktif?


Apakah menggunakan alat bantu?
Apakah mengalami kesulitan / perubahan dalam memenuhi kebutuhan seks
Khusus wanita: gambaran pola haid, usia menarche/ menopause, riwayat kehamilan, masalah
terkait dengan haid

Koping toleransi stress


18

Apakah selalu mendapatkan apa yang diinginkan


Apakah ada tujuan, cita-cita, rencana dimasa yang akan datang

Nilai dan kepercayaan

Apakah nilai atau kepercayaan pribadi yang ikut berpengaruh


Apakah agama merupakan hal penting dalam hidup

d. Pemeriksaan fisik

Auskultasi bising usus


Palpasi abdomen untuk area nyeri tekan, distensi, dan masa padat
Inspeksi specimen terhadap karakter dan adanya darah.

19

4. DIAGNOSA NANDA, NIC, DAN NOC

PREOPERATIF
NANDA
1.

Nyeri
kronika.
berhubungandengan
proses penyakit
Definisi:
Pengalaman
emosional dan sensori
yang
tidak
menyenangkan
yang
muncul dari kerusakan
jaringan secara aktual
dan
potensial
atau
menunjukkan
adanya
kerusakan

Do : pasien tampak
meringis karena nyeri
perutnya.
Nadi :110 x/mnt
anorexia

Ds: pasien mengatakan


nyeri hebat di perut
bahkan ke punggungnya.
Pasien mengatakan tidak
bisa tidur karena nyeri
yang dirasakannya

NOC

NIC

Kontrol Nyeri
a. Manajemen nyeri
Definisi : Tindakan pribadi
untuk mengontrol nyeri.
Definisi : Penanggulangan nyeri
atau penurunan nyeri sampai
Indikator:
tingkat kenyamanan yang dapat
diterima oleh pasien.
-Mengenali faktor penyebab
Aktivitas :
-Mengenali onset (lamanya
sakit)
Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif termasuk lokasi
-Menggunakan
metode karakteristik, durasi, frekuensi,
pencegahan
kualitas, dan factor presipitas
Observasi reaksi non verbal dari
-Menggunakan
metode ketidaknyamanan
nonanalgetik
untuk
Gunakan teknik komunikasi
mengurangi nyeri
terapeutik
untuk
mengetahui
pengalaman nyeri pasien
-Menggunakan
analgetik Kaji budaya yang mempengaruhi
sesuai kebutuhan
respion nyeri
Determinasi akibat nyeri terhadap
-Mencari bantuan tenaga kualitas hidup
Bantu pasien dan keluarga untuk
kesehatan
mencari dan menemukan dukungan
Control ruangan yang dapat
-Melaporkan gejala pada
mempengaruhi nyeri
tenaga kesehatan
Kurangi factor presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan penanganan
-Menggunakan
sumbernyeri
sumber yang tersedia
Ajarkan pasien untuk memonitor
-Mengenali
gejala-gejala nyeri
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
nyeri
menentukan intervensi
Berikan
analgetik
untuk
-Mencatat pengalaman nyeri
mengurangi nyeri
sebelumnya
Evaluasi keefektifan control nyeri
-Melaporkan

nyeri

sudah
20

terkontrol

Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan dokter jika
ada keluhan dan tindakan nyeri
tidak berhasil
b.Pemberian analgetic

b. Tingkat nyeri
Defenisi:
menggunakan
agen
Defenisi : Seberapa besar farmakologi untuk mengurangi
seseorang melaporan dan nyeri.
mendemontrasian nyeri
Aktifitas:
indikator:
- Menentukan lokasi, karakteristik,
-melaporkan adanya nyeri
mutu, dan intensitas nyeri sebelum
mengobati pasien
-luas bagian tubuh yang - Periksa order/pesanan medis untuk
terpengaruh
obat, dosis, dan frekuensi yang
ditentukan analgesic
-frekuensi nyeri
- Cek riwayat alergi obat
- Tentukan analgesic yang cocok,
-panjangnya episode nyeri
rute pemberian dan dosis optimal.
- Utamakan pemberian secara IV
-pernyataan nyeri
dibanding IM sebagai lokasi
penyuntikan, jika mungkin
-ekspresi nyeri pada wajah
- Monitor TTV sebelum dan sesudah
pemberian obat narkotik dengan
-posisi tubuh protektif
dosis pertama atau jika ada catatan
luar biasa.
- Cek pemberian analgesic selama
24 jam untuk mencegah terjadinya
puncak nyeri tanpa rasa sakit,
terutama dengan nyeri yang
menjengkelkan
- Mengevaluasi efektivitas analgesic
pada interval tertentu, terutama
setelah dosis awal, pengamatan
juga diakukan melihat adanya tanda
dan gejala buruk atau tidak
menguntungkan ( berhubungan
dengan pernapasan, depresi, mual
muntah,
mulut
kering
dan
konstipasi)
- Dokumentasikan respon pasien
tentang analgesic, catat efek yang
21

merugikan

Pengurangan Kecemasan
Definisi:Meminimalkan
kekhawatiran,ketakutan,firasat, atau
kegelisahanyang berkaitan
dengansumberyang tidak
teridentifikasibahayayang
diantisipasi.

Aktivitas:
-menggunakanpendekatan
yangtenangmeyakinkan
-menyatakanharapanuntuk
perilakupasien
-menjelaskan
semuaprosedur,termasuksensasidip
erkirakan akan dialamiselama
prosedur
-Tinggal denganpasienuntuk
-mempromosikankeselamatan
danmengurangi rasa taku
-menyediakanobjek
yangmelambangkanperasaan aman
-mendengarkan dgn perhatian
-mendorongkeluargauntuk tinggal
denganpasien

b.Terapirelaksasi
Definisi:
menggunakanteknik
untukmendorong

22

danmendapatkanrelaksasiuntuk
tujuanpenurunantanda-tandayang
tidak diinginkandan gejalaseperti
nyeri,ketegangan otot ataucemas.

Aktivitas:
-

Ansietas
bd
strees,perubahan status Tingkat cemas
kesehatan,ancaman
Definisi: keparahan
kematian
diwujudkan ketegangan
Definisi: perasaan tidak ketakutan atau kegelisahan
enak atau ketakutan yang timbul dari sumber yang
disertai dengan respon tidak dapat diidentifikasikan
otonom (sumber sering
tidak spesifik atau tidak
diketahui
individu),
perasaan ketakutan yang Indikator:
disebabkan
oleh
tidak
ada
kegelisahan
antisipasi bahaya. Ini
adalah sinyal peringatan
- tidak ada penderitaan
yang
memperingatkan
- serangan panik
bahaya yang akan datang
dan
memungkinkan
-Masalah kebiasaan
individu
untuk
mengambil
langkah
untuk menangani dengan
mengobati.
DO : pasien tampak
gelisah, ini terlihat dari
raut wajah pasien
Klien terlihat sangat
kuatir dapat dilihat
dengan sering nya klien

b.

Coping

Definisi:Tindakan
pribadiuntuk
mengelolastessor pada
individu

menjelaskanalasan untukrelaksasi
danmanfaat,batas,dan
jenisrelaksasiyang
tersedia
(misalnya
musik,
meditasi,
pernapasan berirama, relaksasi
rahang,dan relaksasiotot progresif.
menentukan
apakahintervensirelaksasidi masa
lalutelah berguna.
mempertimbangkankesediaan
individuuntuk
berpartisipasi,kemampuan
untuk
berpartisipasi,
preferensi,pengalaman masa lalu,
kontraindikasi,
sebelummemilihstrategirelaksasikh
usus.
memberikanpenjelasan
tentangpilihanintervensirelaksasi.
mengajakpasien untukbersantai dan
membiarkansensasiterjadi.
menggunakan nada suara dengan
kecepatan yang lambat, ritmis kata.
menunjukkan dan mempraktekkan
teknik relaksasi dengan pasien
h.mengantisipasi kebutuhan untuk
penggunaan relaksasi
menganjurkanseringmengulang
ataumempraktekkanlatihan
yang
dipiliih

mengembangkanrekamanteknikrela
ksasibagiindividu untuk digunakan,
yang sesuai
mengevaluasi
23

bertanya tentang operasi


yang akan dilakukannya

danmendokumentasikanrespon
terhadap terapirelaksasi
Indikator:

DS : Pasien mengatakan
a.
kalau ia sangat cemas sekali, karena takut Mengidentifikasipolakopinge
fektif
operasinya akan gagal
-

Gangguan Managemen Makan


Menetapkan jumlah berat badan
harian yang diinginkan
Berdiskusi dengan ahli gizi untuk
-Mengindentifikasi
pola menentukan asupan kalori harian
yang diperlukan untuk mencapai
koping tidak efektif
dan / atau mempertahankan target
berat
-laporanpenurunanstres
- Ajarkan dan memperkuat konsep
gizi yang baik dengan pasien (dan
-menyesuaikan
lain-lain yang signifikan, yang
denganperubahan hidup
sesuai)
Dorong
pasien
untuk
mendiskusikan dengan ahli diet
preferensi makanan
- Kembangkan hubungan yang
mendukung dengan pasien
- Memonitor intake dan output
cairan, yang sesuai
- memantau asupan kalori makanan
sehari-hari
- mendorong pasien asupan makanan
pemantauan diri atau harian dan
berat badan / pemeliharaan, jika
diperlukan
membangun harapan untuk
perilaku makan yang tepat, asupan
makanan / cairan, dan jumlah
aktivitas fisik
b. Management Cairan
- Timbang tren harian dan pantau
- Menjaga asupan akurat dan
merekam output
- Masukkan kateter urin, jika sesuai
- Status hidrasi memantau (misalnya,
membran
mukosa
lembab,
kecukupan pulsa, dan tekanan darah
ortostatik), yang sesuai
- Memantau hasil laboratorium yang
relevan dengan retensi cairan
(misalnya, peningkatan berat jenis,
peningkatan
BUN, penurunan
24

hematokrit, dan tingkat osmolalitas


urin meningkat)
a. Management Nutrisi
- menanyakan apakah memiliki
alergi makanan
- memastikan pasien preferensi
pangan
- menentukan-bekerja sama dengan
ahli gizi, sesuai-jumlah kalori dan
jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk
memenuhi persyaratan gizi
- mendorong asupan kalori yang
sesuai untuk tipe tubuh dan gaya
hidup

3 Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh b.d
mual,muntah
dan
anorexia
DO :
- Klien tampak lesu dan
lemah

25

- Muntah (+)
- Mual (+)
- Porsi makan tidak habis,
hanya porsi , 2 x
makan
- Konjunctiva anemis

DS :
-

Klien mengeluh lemah


Klien mengeluh tidak
nafsu makan
- Klien mengeluh mual
dan muntah

a. Status nutrisi
Indikator :
Intake nutrisi terpenuhi
Intake makanan dan cairan
terpenuhi sesuai keb. tubuh
Energi dalam batas normal
Massa Tubuh dalam batas
normal
Berat Tubuh kembali normal

b. Pemasukan nutrisi
Indikator :
Pemasukan kalori
Pemasukan protein
Pemasukan lemak
26

Pemasukan karbohidrat
Pemasukan vitamin
Pemasukan mineral
Pemasukan ion
Pemasukan kalsium

c. Kontrol berat badan


Indikator :

Menyeimbangkan latihan
dengan intake kalori

Memilih nutrisi makanan dan


snack

Menggunakan seplemen
nutrisi jika perlu

Mempertahankan pola
makan yang dianjurkan
Mempertahankan
keseimbangan cairan

d. Status nutrisi
Indikator :
-

Intake nutrisi terpenuhi


Intake makanan dan cairan
terpenuhi sesuai keb. tubuh
- Energi dalam batas normal
- Massa Tubuh dalam batas
normal
- Berat Tubuh kembali normal

e. Pemasukan nutrisi

27

Indikator :
-

Pemasukan kalori
Pemasukan protein
Pemasukan lemak
Pemasukan karbohidrat
Pemasukan vitamin
Pemasukan mineral
Pemasukan ion
Pemasukan kalsium

f. Kontrol berat badan


Indikator :
-

Menyeimbangkan
dengan intake kalori

latihan

- Memilih nutrisi makanan dan


snack
-

Menggunakan
nutrisi jika perlu

seplemen

- Mempertahankan pola makan


yang dianjurkan
-

Mempertahankan
keseimbangan cairan

28

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed.6, EGC, Jakarta
Gale, Danielle & Charette, Jane, Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi, EGC, Jakarta,
2000.
Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC,
Jakarta
Price, Sylvia A., & Wilson, Lorraine M., Patofisiologi ; Konsep Klinis ProsesProses
Penyakit Vol. 1, Edisi 4, EGC, Jakarta, 1995.
Schrock, Theodore R. MD. 1999. Ilmu Bedah ( Hand Book of Surgery ) Edisi 7. Penerbit :
EGC, Jakarta.
Closkey JC & Bulechek. 1996. Nursing Intervention Classification. 2nd ed. Mosby
Nursing Outcome Classification (NOC). Second edition. Mosby.
NANDA. 2005-2006. Nursing Diagnosis: Deffinition & Classification. Philadhelphia

29