Anda di halaman 1dari 6

PAJAK DAERAH

A. Pengertian Pajak Daerah


Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah pengertian Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut pajak, adalah kontribusi
wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan
digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Dengan demikian pajak daerah adalah iuran wajib pajak kepada daerah untuk
membiayai pembangunan daerah. Pajak Daerah ditetapkan dengan undang-undang yang
pelaksanaannya untuk di daerah diatur lebih lanjut dengan peraturan daerah. Pemerintah
daerah dilarang melakukan pungutan selain pajak yang telah ditetapkan undang-undang
(Pasal 2 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
Menurut Tony Marsyahrul (2004:5): Pajak daerah adalah pajak yang di kelola oleh
pemerintah daerah (baik pemerintah daerah Tingkat.I maupun pemerintah daerah Tingkat.II)
dan hasil di pergunakan untuk membiayai pengeluaran rutin dan pembangunan daerah
(APBD).
Menurut Mardiasmo, (2002:5): Pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh
orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang yang dapat di
paksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di gunakan untuk
membiayai penyelenggarakan pemerintah daerah dan pembangunan daerah. Ciri-ciri dari
pajak daerah antara lain sebagai berikut:

Dipungut oleh Pemda, berdasarkan kekuatan peraturan perundang-undangan.

Dipungut apabila ada suatu keadaan, peristiwa dan perbuatan yang menurut peraturan
perundang-undangan dapat dikenakan pajak daerah.

Dapat dipaksakan, yakni apabila wajib pajak tidak memenuhi kewajiban pembayaran
pajak daerah, yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi (pidana dan denda).

Tidak terdapat hubungan langsung antara pembayaran pajak daerah dengan imbalan
atau balas jasa secara perseorangan.

B. Jenis dan Objek Pajak Daerah

Pengelolaan pajak daerah dibagi atas pajak yang dikelola oleh provinsi dan pajak
yang dikelola oleh kabupaten/kota berdasarkan UU No. 28 Tahun 2009 Pasal 2 (1), (2)
Bagian Kesatu mengenai Jenis Pajak.
Jenis pajak daerah yang dikelola oleh provinsi adalah sebagai berikut.
a. Pajak Kendaraan Bermotor. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yaitu pajak atas
kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor. Objek Pajak Kendaraan Bermotor
adalah kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor. (Bagian Kedua mengenai
Pajak Kendaraan Bermotor Pasal 3 (1) UU No. 28 Tahun 2009).
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah pajak
atas penyerahan hak milik kendaraan bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak atau
perbuatan sepihak atau keadaan yang terjadi karena jual beli, tukar menukar, hibah,
warisan, atau pemasukan ke dalam badan usaha. Objek Pajak Bea Balik Nama Kendaraan
Bermotor adalah penyerahan Kendaraan Bermotor. (Bagian Ketiga mengenai Bea Balik
Nama Kendaraan Bermotor Pasal 9 (1) UU No. 28 Tahun 2009).
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
(PBBKB) adalah pajak atas bahan bakar yang disediakan atau dianggap digunakan untuk
kendaraan bermotor, termasuk bahan bakar yang digunakan untuk kendaraan diatas air.
Objek Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
yang disediakan atau dianggap digunakan untuk kendaraan bermotor, termasuk bahan
bakar yang digunakan untuk kendaraan di air. (Bagian Keempat mengenai Pajak Bahan
Bakar Kendaraan Bermotor Pasal 16 UU No. 28 Tahun 2009).
d. Pajak Air Permukaan. Objek Pajak Air Permukaan menurut Pasal 21 (1) UU No. 28 Tahun
2009 adalah pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Permukaan. Objek Pajak Air
Permukaan yang dikecualikan menurut Pasal 21 (2) UU No. 28 Tahun 2009, yaitu:

Pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Permukaan untuk keperluan dasar rumah


tangga, pengairan pertanian dan perikanan rakyat, dengan tetap memperhatikan
kelestarian lingkungan.

Pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Permukaan lainnya yang ditetapkan dalam


Peraturan Daerah.

e. Pajak Rokok. Pajak rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh
pemerintah pusat. Cukai rokok di Indonesia dipungut berdasarkan Undang-Undang Nomor
11 Tahun 1995 tentang Cukai sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 39

Tahun 2007. Objek pajak rokok adalah konsumsi rokok. (Bagian Keenam Pasal 26 UU No.
28 Tahun 2009).
Sedangkan pengelolaan pajak daerah yang dikelola oleh kabupaten/kota adalah
sebagai berikut:
a. Pajak Hotel
Objek Pajak Hotel adalah pelayanan yang disediakan oleh Hotel dengan pembayaran,
termasuk jasa penunjang sebagai kelengkapan Hotel yang sifatnya memberikan
kemudahan dan kenyamanan, termasuk fasilitas olahraga dan hiburan. (Bagian Ketujuh
Pasal 32 (1) UU No. 28 Tahun 2009).
b. Pajak Restoran
Objek Pajak Restoran adalah pelayanan yang disediakan oleh Restoran (Bagian
Kedelapan Pasal 37 (1) UU No. 28 Tahun 2009). Pelayanan yang disediakan Restoran
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pelayanan penjualan makanan dan/atau
minuman yang dikonsumsi oleh pembeli, baik dikonsumsi di tempat pelayanan maupun di
tempat lain (Pasal 37 (2) UU No. 28 Tahun 2009). Tidak termasuk objek Pajak Restoran
sebagaimana pada ayat (1) adalah pelayanan yang disediakan oleh Restoran yang nilai
penjualannya tidak melebihi batas tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah
(Pasal 37 (3) UU No. 28 Tahun 2009).
c. Pajak Hiburan
Objek Pajak Hiburan adalah jasa penyelenggaraan Hiburan dengan dipungut bayaran
(Bagian Kesembilan Pasal 42 (1) UU No. 28 Tahun 2009). Hiburan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) adalah: tontonan film; pagelaran kesenian, musik, tari, dan/atau
busana; kontes kecantikan, binaraga, dan sejenisnya; pameran; diskotek, karaoke, klub
malam, dan sejenisnya; sirkus, akrobat, dan sulap; permainan biliar, golf, dan boling;
pacuan kuda, kendaraan bermotor, dan permainan ketangkasan; panti pijat, refleksi, mandi
uap/spa, dan pusat kebugaran; pertandingan olahraga (Bagian Kesembilan Pasal 42 (2) UU
No. 28 Tahun 2009). Penyelenggara Hiburan sebagimana dimaksud pada ayat (2) dapat
dikecualikan dengan Peraturan Daerah.
d. Pajak Reklame
Objek Pajak Reklame adalah semua penyelenggara reklame (Bagian Kesepuluh Pasal
47 (1) UU No. 28 Tahun 2009). Objek Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi: Rekalme papan/billboard/videotron/megatron, dan sejenisnya; reklame kain;
reklame melekat, stiker; reklame selebaran; reklame berjalan termasuk pajak kendaraan;
3

reklame udara; reklame apung; reklame suara, reklame film atau slide, reklame peragaan
((Bagian Kesepuluh Pasal 47 (2) UU No. 28 Tahun 2009)
e. Pajak Penerangan Jalan (PPJ) adalah pajak yang wajib dibayar oleh pelanggan listrik PLN.
Objek Pajak Penerangan Jalan adalah penggunaan tenaga listrik, baik yang dihasilkan
sendiri maupun yang diperoleh dari sumber lain (Bagian Kesebelas Pasal 52 (1) UU No.
28 Tahun 2009).
f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan. Objek Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan
adalah kegiatan pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan. Contohnya seperti:
asbes, grafit, mika, magnesit, tawas, batu apung, marmer, tanah liat, pasir, dan sebagainya.
(Bagian Keduabelas Pasal 57 (1) UU No. 28 Tahun 2009).
g. Pajak Parkir. Pajak parkir adalah pajak atas penyelenggaran tempat parkir diluar badan
jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan
sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor. Objek
Pajak Parkir adalah penyelenggaraan tempar Parkir di luar badan jalan, baik yang
disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan suatu usaha, termasuk
penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor (Bagian Ketiga Belas Pasal 62 (1) UU
No. 28 Tahun 2009).
h. Pajak Air Tanah. Pajak Air Tanah adalah pajak atas pengambilan dan atau pemanfaatan air
tanah. Objek Pajak Air Tanah adalah pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah.
Pengambilan dan atau pemanfaatan air tanah adalah pengambilan dan atau pemanfaatan air
tanah yang digunakan oleh orang pribadi atau badan untuk berbagai keperluan, antara lain
konsumsi perusahaan, perkantoran dan rumah tangga (Bagian Keempat Belas Pasal 67 (1)
UU No. 28 Tahun 2009).
i. Pajak Sarang Burung Walet. Pajak Sarang Burung Walet adalah pajak atas setiap
pengelolaan sarang burung walet. Objek Pajak Sarang Burung Walet adalah pengambilan
dan/atau pengusahaan Sarang Burung Walet (Bagian Kelima Belas Pasal 72 (1) UU No. 28
Tahun 2009).
j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan. Pajak Bumi dan Bangunan
Perdesaan dan Perkotaan

adalah pajak atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki,

dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan, kecuali kawasan yang
digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan, dan pertambangan. Objek Pajak
Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah Bumi dan/atau Bangunan yang
dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan, kecuali kawasan

yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan, dan pertambangan (Bagian
Keenam Belas Pasal 77 (1) UU No. 28 Tahun 2009).
k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan adalah pungutan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Perolehan
hak atas tanah dan atau bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang
mengakibatkan diperolehnya hak atas dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan.
Objek Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Perolehan Hak atas Tanah
dan/atau Bangunan (Bagian Ketujuh Belas Pasal 85 (1) UU No. 28 Tahun 2009) .
C. Hubungan Antara Pajak Daerah dan Pajak Pusat
Pajak Pusat dan Pajak Daerah mulai muncul di Indonesia sejak diberlakukannya
sistem otonomi daerah. Otonomi daerah dapat diartikan sebagai kewajiban yang diberikan
kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat menurut aspirasi masyarakat untuk meningkatkan daya
guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap
masyarakat dan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
dalam konteks otonomi di Indonesia, daerah otonom tersebut merupakan provinsi-provinsi di
Indonesia.
Semangat desentralisasi fiscalpun mulai disebarluaskan dan menjadi program
ambisius pemerintah Indonesia sejak awal dekade 2000 tepatnya mulai tahun fiskal 2001.
Pada tahun itu, pemerintah mulai dari provinsi, kabupaten, dan kota diberikan wewenang
yang lebih luas untuk mengatur dan bertanggung jawab terhadap pembelanjaan di beberapa
sektor baru. Konsekuensi logis dari perluasan wewenang itu adalah meningkatnya
pengeluaran daerah. Peningkatan itu dapat terlihat jelas ketika pada tahun 2001, jumlah
belanja daerah mencapai kurang lebih 30% dari total belanja nasional.
Desentralisasi fiskal inilah yang menjadi hubungan antara Pajak Pusat dengan Pajak
Daerah di Indonesia. Perluasan wewenang keuangan pemerintah pusat dalam hal mengatur
keuangan tersebut perlu diimbangi dengan perluasan otoritas daerah untuk memperoleh
pendapatan daerahnya sendiri yaitu dengan perluasan otoritas pemerintah daerah untuk
menambah objek pajak pada daerahnya sendiri. Dari sinilah tercipta adanya Pajak Pusat yang
dipungut untuk pendapatan APBN dan Pajak Daerah yang dipungut untuk pendapatan APBD.
Keduanya merupakan pungutan sebagai pendapatan pada anggaran hanya saja Pajak Pusat
mengambil porsi lebih luas secara skala anggaran nasional dan Pajak Daerah hanya berfokus
pada pendapatan daerahnya saja.
5

DAFTAR PUSTAKA
Wirawan B. Ilyas, Richard Burton.2001. Hukum Pajak.Jakarta:Salemba Empat
Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah UUU Nomor 28 Tahun 2009