Anda di halaman 1dari 8

PERCOBAAN V RESPONSE TIME DAN FLEKSIBILITAS

Kelompok 5 S1 Teknobiomedik, Fak. Sains dan Teknologi


Dosen : Irfiansyah Irwadi, dr., M.Si
Tanggal Percobaan: 16/03/2015
Fisiologi Manusia

Laboratorium Ilmu Faal Fak. Kedokteran Universitas Airlangga


Abstrak
Abstrak Setiap individu memiliki aktifitas yang berbeda-beda yang dapat mempengaruhi fisiologis
manusia. Fisiologis manusia erat kaitannya dengan adaptasi dan respon. Adaptasi otot misalnya, dari
aktifitas manusia yang mempengaruhi keterbatasan ruang gerak. Seseorang yang sering berolahraga
(atlet) akan memiliki tingkat fleksibilitas dan yang lebih baik dibandingkan orang biasa. Begitu pula
dengan respon terhadap stimulus. Berbeda refleks orang yang tiap hari menggunakan earphone dengan
orang yang tidak biasa, sehingga stimulus yang diberikan mempengaruhi respon (refleks) fisiologis
pendengaran manusia. Untuk itu dapat dilakukan pengukuran refleks dan fleksibilitas dalam mengetahui
parameter kesehatan/kenormalan seseorang. Metode yang digunakan untuk mengukur fleksibilitas
manusia adalah Standing Trunk Flexion (STF), Trunk Ekstension (TE), dan Sit and Reach Test (SRT).
Sedangkan pengukuran refleks menggunakan Reaction Time. Berdasarkan hasil pengamatan uji
fleksibilitas pada praktikan yakni dua wanita dan satu laki-laki, STF-nya (dalam cm) berturut-turut 23.6,
16.4, 15.7, sedangkan TE (dalam cm) 35.5, 38.2, 29.7, dan SRT (dalam cm) 42.5, 51.5, 42.5. Sedangkan
hasil pada Reaction Time (dalam s) masing-masing 0.528, 0.595, 0.504. Nilai STF dan TE pada wanita dan
laki-laki (usia 20) literatur adalah 15.5 dan 54.7 & 13.1 dan 54.9. Dari data hasil percobaan dan literature,
nilai fleksibilitas pada perempuan lebih besar dari pada laki laki dan aki-laki memiliki response time yang
lebih baik daripada perempuan.
Kata kunci: Respon Time, Standing Trunk Flexion, Trunk Ekstension, Sit and Reach Test, Adaptasi, Auditory
stimulus.
1. PENDAHULUAN
Semua respons yang timbul secara otomatis dapat disebut dengan refleks. Jenis-jenis refleks ada
yang tergolong refleks dasar dan refleks yang didapat dengan latihan atau belajar (acquired atau
conditional reflex). Karena itu Sherwood mendefinisikan refleks sebagai any response that occurs
automatically without conscious effort.
Alur sistem refleks dimulai dari rangsangan yang diterima suatu reseptor sampai terjadinya
jawaban (respon) yang dilakukan oleh efektor. Proses terjadinya refleks dan kecepatan refleks dapat
diketahui dengan menggunakan Whole Body Reaction Test.
Otot merupakan suatu jaringan yang dapat dieksitasi yang kegiatannya berupa kontraksi,
sehingga otot dapat digunakan untuk memindahkan bagian- bagian skelet yang berarti suatu
gerakan dapat terjadi. Hal ini terjadi karena otot mempunyai kemampuan untuk fleksibilitas,
eksibilitas. Fleksibilitas otot merupakan kemampuan suatu jaringan otot untuk memanjang
semaksimal mungkin sehingga tubuh dapat bergerak dengan lingkup gerak sendi yang normal
tanpa disertai rasa nyeri. Fleksibilitas otot merupakan faktor yang sangat penting dalam melakukan
suatu gerakan dalam kegiatan sehari- hari. Fleksibilitas berkaitan erat dengan jaringan lunak seperti
ligamen tendon dan otot, struktur tulang dan sendi. Peningkatan lemak tubuh, kurangnya aktivitas
tubuh seseorang akan diikuti penurunan fleksibilitas. Hal ini terjadi karena ketika aktifitas tubuh
berkurang dalam jangka waktu lama akan diikuti pemendekan jaringan lunaknya termasuk otot dan
ligamen. Kebiasaan sikap tubuh dalam dalam waktu yang lama akan membentuk postur tubuh
yang menetap dan akan terjadi pemendekan otot karena adaptasi. Secara umum menurunnya
fleksibilitas lebih disebabkan karena kebiasaan bergerak pada pola tertentu dan pada gerakan
tertentu (Heyward, 2006).

Laporan Praktikum - Laboratorium Ilmu Faal Fak. Kedokteran Univ. Airlangga

Faktor yang dapat mempengaruhi fleksibilitas otot antara lain usia, latar belakang penyakit,
cidera yang pernah diderita, pola hidup. Contohnya seorang atlet lebih fleksibel daripada orang
awam yang tidak pernah olah raga, anak-anak lebih fleksibel dari pada orang dewasa di atas 45
tahun. Pada diri seseorang pun fleksibilitas tiap ototnya berbeda beda di mana sangat
dipengaruhi olah kegiatan sehari hari tergantung pada penggunaan otot otot. Ada bagian otot yang
selalu menerima beban berlebihan. Sebagai contoh seorang perawat yang dalam aktifitas sehari
hari banyak berdiri, jalan, mengangkat dan memindahkan pasien atau mendororng kursi roda.
Kegiatan ini memerlukan fleksibilitas otot hamstring yang memadai agar kualitas kerjanya bagus.
Dalam percobaan, gerakan gerakan seperti standing trunk flexion, trunk extension, dan sit and
reach merupakan beberapa contoh gerakan yang dilakukan untuk menguji fleksibilitas otot otot
hamstring. Menurut Stephen (2010), Hamstring merupakan suatu grup otot sendi panggul dan lutut
yang terletak pada sisi belakang paha yang berfungsi untuk gerakan fleksi lutut, ekstensi hip, dan
membantu gerakan eksternal dan internal rotasi hip. Grup otot ini terdiri atas beberapa otot yaitu
: M. biceps femoris, M. semitendinosus, M. semimembranosus. M. biceps femoris mempunyai
dua caput, yaitu caput longum dan caput brevis. M. biceps femoris caput longum bekerja pada dua
sendi, berasal dari tuberositas ischiadicum bersama sama dengan M. semitendinosus.
2. METODA
2.1

Alat dan Bahan


a. Whole Body Reaction Time
Alat yang terdiri atas 3 unit (Regulator, Stimulus Display Unit, dan Reaction Key)
b. Standing Trunk Flexion
Box
Connector (terdapat kursor)
c. Trunk Extension
Matrass
Chin Finger
d. Sit and Reach Test
Scale Arm

2.2

Tata Kerja
a. Persiapan Alat
Whole Body Reaction Time
Sebelum memulai praktikum pastikan kabel AC sudah terhubung ke sumber listrik, kabel
Reaction Key dan Stimulus Display Unit sudah terhubung dengan regulator, dan setelah itu
baru tombol ON siap dinyalakan.
Standing Trunk Flexion
Sebelum memulai praktikum box di tempatkan di tempat yang mudah dijangkau. Dalam
artian praktikan bisa menaiki box dengan mudah serta asisten dapat melihat angka pada
connector.
Trunk Extension
Sebelum memulai praktikum Chin Finger di letakkan di depan praktikan, kemudian Chin
Finger diposisikan pada angka 10 cm (dianggap nilai pertama pada kondisi sejajar yang
tertera pada display).
Sit and Reach Test
Laporan Praktikum - Laboratorium Ilmu Faal Fak. Kedokteran Univ. Airlangga

Sebelum memulai praktikum Scale arm diposisikan menghimpit kaki praktikan serta ujung
telapak tangan bisa menyentuh slide-nya pada kondisi duduk tegak lurus.
b. Persiapan Orang Coba
Whole Body Reaction Time
o

Orang coba hanya boleh melihat ke arah Stimulus Display Unit, tidak boleh melihat ke
arah regulator

Standing Trunk Flexion


o

Subyek berdiri di atas box, dengan posisi kedua tumit saling bersentuhan dan jarak
antara kedua ibu jari sekitar 5 cm.

Pemeriksa meluruskan/menyejajarkan cursor pada connector.

Trunk Extension
o

Subyek berbaring tengkurap, mengatupkan kedua tangannya di belakang panggul dan


memposisikan kedua kakinya sehingga jarak antara kedua ibu jari 45 cm.

Seperti yang tampak pada gambar di buku praktikum, asisten meletakkan tubuhnya di
antara kaki subyek dan menahan lutut subyek dengan lututnya, dan menahan paha
subyek dengan tangannya. Jangan sampai mendorong panggul subyek.

Sit and Reach Test


o

Subyek duduk di lantai sambil meluruskan kakinya (telapak kai menempel pada bantalan
karet alat). Kepala punggung atas dan bawah harus menempel di dinding.

Subyek meluruskan kedua lengannya ke depan. Posisi telapak tangan kanan di atas
telapak tangan kiri, dimana jari tengah keduanya saling menempel dan berhadapan.

c. Pelaksanaan
Whole Body Reaction Time
o

Aksi
a. Operator memilih frekuensi suara yang dikehendaki lalu menekan tombol auditory.
b. Pada stimulus display unit akan keluar suara degan frekuensi tersebut, orang coba
segera memencet tombol pada Reaction Key sesuai dengan frekuensi suara yang
terdengar.

Pengukuran
a. Operator mencatat angka yang tertera pada regulator
b. Percobaan dilakukan sebanyak lima kali, hasilnya dimasukkan dalam tabel dan
dihitung rata-ratanya.

Standing Trunk Flexion


o

Aksi
a. Dengan kedua kaki dan tangan lurus, bungkukkan badan ke depan pelan-pelan dan
turnkan cursor sepanjang penyangganya.
b. Tidak boleh menggunakan momentum atau menekuk lutut.

Pengukuran
a. Pemeriksa mencatat hasil yang tertera pada cursor.

Laporan Praktikum - Laboratorium Ilmu Faal Fak. Kedokteran Univ. Airlangga

b. Ulangi pengukuran in tiga kali berturut-turut, dengan waktu istirahat 30 detik


sebelum test berikutnya. Hasil yang digunakan adalah yang terjauh dari ketiga
pengukuran.

Gambar 1 Posisi
Standing Trunk
Flexion

Trunk Extension
o

Aksi
a. Subyek
berusaha
menaikkan
dagunya
setinggi
membengkokkan opunggungnya ke arah atas.

mungkin

dengan

cara

b. Pemeriksa menaikkan Chin Finger pada alat setinggi dagu subyek.

Pengukuran

Gambar 2 Posisi Trunk


Extension

a. Baca hasil pengukuran yang tertera pada display.


b. Yang diukur adalah jarak posisi tertunggi dagu dengan lantai.
c. Ulangi pengukuran ini tiga kali berturut-turut, dengan waktu istirahat 30 detik
sebelum test berikutnya. Hasil yang digunakan adalah yang terjauh dari ketiga
pengukuran.
Sit and Reach Test
o

Aksi
a. Subyek menggerakkan tangannya ke depan sejauh mungkin (dengan cara menekuk
tubuh pada pinggang) sehingga ujung jari tengah akan mendorong scale arm.
b. Jika lutut subyek menekuk, atau menggunakan momentum untuk meningkatkan
jarak tempuh, maka pengukuran dinyatakan gagal dan harus diulang.

Gambar 3 Posisi Sit and Reach Test


o

Pengukuran

Laporan Praktikum - Laboratorium Ilmu Faal Fak. Kedokteran Univ. Airlangga

a. Catat hasil yang ditunjukkan sekarang sampai ketelitian 0,5.


b. Ulangi pemeriksaan ini tiga kali berturut-turut, dengan waktu istirahat 30 detik
sebelum test berikutnya. Hasil yang digunakan adalah hasil terjauh dari ketiga
pengukuran tersebut.
3. HASIL DAN ANALISIS PENGAMATAN
3.1.

Whole Body Reaction Time


Stimulus

Auditory
Stimulus

500H
z

1000H
z

3000H
z

No
1
2
3
4
5
Rata-Rata

3.2.

Hana
0,442
s
0,574
s
0,529
s
0,561
s
0,535
s
0,528
s

Tarikh
0,636
s
0,478
s
0,519
s
0,463
s
0,422
s
0,504
s

Standing Trunk Flexion


Nama Praktikan
Tarikh Omar
Hana Zahra
Jualita Kusuma

3.3.

3.4.

Juju
0,610
s
0,310
s
0,388
s
1,139
s
0,531
s
0,595
s

STF 1 (cm)
15,7
23,1
15,7

STF 2 (cm)
14,8
23,1
16,4

SFT 3 (cm
13,4
23,6
16

Trunk Extension
Nama Praktikan

TF 1 (cm)

TF 2 (cm)

TF 3 (cm

Tarikh Omar

29,7

29,5

25,5

Hana Zahra

25,6

30

35,5

Jualita Kusuma

37,4

40,6

38,2

Sit and Reach Test


Nama Praktikan
Tarikh Omar
Hana Zahra
Jualita Kusuma

SaRT 1 (cm)
35
37,5
46,5

SaRT 2 (cm)
40
39,5
51

Laporan Praktikum - Laboratorium Ilmu Faal Fak. Kedokteran Univ. Airlangga

SaRT 3 (cm
42,5
42,5
51,5

4. PEMBAHASAN
4.1.

Reaction Time

Pada percobaan ini kami hanya dapat menggunakan satu stimulus yaitu Auditory dikarenakan
alat tidak dapat menampilkan warna pada stimulus visual.
Lord Rutherford, menyatakan bahwa gelombang suara menyebabkan seluruh membran
basiralis bergetar dan kecepatan getaran membran menentukan kecepatan impuls serabut saraf
disaraf auditoris. Jadi, nada 1000Hz menyebabkan membran basilaris bergetar 1000 kali perdetik,
yang menyebabkan saraf disaraf auditoris memincu 1000 impuls perdetik dan otak
menginterpretasikan hal ini sebagai nada tertentu karena teori ini menyatakan bahwa
pendengaran nada tergantung pada bagaimana suara bervariasi menurut waktu dengan
dinamakan teori temporal atau teori frekuensi.
Percobaan visual menggunakan alat yang memiliki Regulator, Stimulus Display Unit, dan
Reaction Key. Dari gabungan alat itu orang coba dapat mendengar auditory yang muncul pada
Stimulus Display Unit dan kemudian orang coba menentukan dengan menekan tombol pada
Reaction Key. Regulator berisi stimulus yang akan disimulasikan melewati Stimulus Display Unit.
Regulator ini berisi tombol untuk visual dan auditory. Ketika kursor di Regulator diarahkan ke
frekuensi tertentu dan dipencet, maka akan terdengar suara sesuai dengan frekuensi di Stimulus
Display Unit. Pada Reaction Key ada tiga tombol, urutan frekuensi dari paling kiri sampai kanan
yaitu 500Hz, 1000Hz dan 3000Hz. Pada saat percobaan keadaan jari dan tangan harus di luar
Reaction Key, untuk menghindari kecurangan yaitu menekan semua tombol secara bersamaan.
Tiap orang coba melakukan tes Auditory sebanyak lima kali. Orang coba tidak diberitahu
berapa frekuensi yang akan didengar pada Stimulus Display Unit. Maka dari itu orang coba harus
berkonsentrasi lalu menekan tombol, jika tombol yang ditekan orang coba salah , maka waktu akan
terus berputar hingga orang coba menebak secara benar.
Di data hasil pengamatam didapatkan hasil percobaan dari tiga orang coba, orang pertama
perempuan (Hana) memiliki rata-rata response time 0,528 s, orang kedua laki-laki (Tarikh) memiliki
rata-rata response time lebih baik yaitu 0,504 s, dan orang coba ketiga perempuan (Juju) memiliki
rata-tara lebih rendah yaitu 0,595 s. Data yang dihasilkan tidak jauh berbeda antara ketiga orang
coba, namun dapat disimpulkan bahwa laki-laki memiliki response time yang lebih baik daripada
perempuan.
Sebenarnya, terdapat berbagai faktor lain yang mempengaruhi response time dari praktikan,
yakni :

1. Tingkat ketegangan praktikan


Studi telah menunjukkan bahwa response time tercepat bila orang coba berada pada tingkat
ketegangan menengah, dan akan semakin lambat bila terlalu rileks atau terlalu tegang.
2. Latihan sebelum uji
Ketika subjek baru mencoba uji response time, maka hasilnya akan kurang konsisten bila
dibandingkan dengan apabila telah melalui sejumlah latihan yang cukup.
3. Tingkat kelelahan praktikan
Semakin lelah subjek, maka semakin lambat kecepatan responnya (Welford, 1968).
4. Gangguan dan pengalihan perhatian
Suara berisik dan gaduh dari praktikan lainnya dapat mengganggu praktikan yang sedang diuji,
serta mengurangi kecepatan responnya
5. Urutan stimuli
Stimuli yang sama, bila muncul berurutan (pengulangan) maka respon akan lebih cepat,
dibandingkan dengan stimuli berbeda yang muncul sepenuhnya acak.
6. Kebiasaan olahraga praktikan
Orang coba dalam kondisi fit cenderung memiliki respon time yang lebih cepat. Levitt dan Gutin
(1971) dan Sjoberg (1975) dalam studinya menunjukkan bahwa subject memiliki response time
tercepat bila olahraga secara teratur untuk memproduksi heart rate hingga 115 beat/min.
4.2.

Fleksibilitas
Laporan Praktikum - Laboratorium Ilmu Faal Fak. Kedokteran Univ. Airlangga

Pada percobaan fleksibilitas, pengukuran dilakukan terhadap jarak terjauh yang berhasil diraih
praktikan dalam melakukan percobaan standing trunk flexion, trunk extension, dan sit and reach
test. Pengukuran dilakukan berulang, sebanyak tiga kali dan diambil jarak terjauhnya. Berikut
adalah hasil percobaan:
Nama Praktikan

STF (cm)

Tarikh Omar (L)


Hana Zahra (P)
Jualita Kusuma (P)
Sedangkan literature percobaan yang ada
sebagai berikut:
Jenis Kelamin

TE (cm)

SaRT (cm

15.7
29.7
23.6
35.5
16.4
38.2
untuk pria dan wanita berusia 20 tahun

42.5
42.5
51.5
adalah

STF (cm)

TE (cm)

13.1
15.5

54.9
54.7

Pria
Wanita

Dari data hasil percobaan dan literature, nilai fleksibilitas pada perempuan lebih besar dari
pada laki laki, seperti yang tercantum dalam buku panduan praktikum. Fleksibilitas seseorang
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: aktivitas, kegemukan, usis, gender, latihan angkat beban,
struktur tulang, otot, struktur sendi, dan jaringan ikat sekitar sendi. Akan tetapi, jika dibandingkan
antara hasil percobaan dengan literatur yang ada, maka fleksibilitas praktikan saat percobaan
standing trunk flexion berada diatas rata rata. Ini mungkin saja terjadi karena aktivitas atau
kebiasaan kebiasaan praktikan yang sehingga otot otot harmstring menjadi lebih elastis.
Sedangkan pada percobaan trunk extension, hasil percobaan berada jauh dibawah literatur. Ada dua
perbedaan yang bertolak belakang dalam pengukuran sifat fleksibilitas otot otot harmstring ini.
Kemungkinan kemungkinan ini bisa saja berasal dari faktor faktor eksternal seperti:
1. Alat yang sudah tua
2. Alat yang tidak dapat di kalibrasi
3. Pemasangan yang tidak pas saat percobaan
4. Kesalahan dalam membaca data
Oleh karena itu, untuk percobaan selanjutnya pastikan alat alat yang digunakan berada dalam
kondisi yang baik, tidak karatan, dan bisa di kalibrasi. Secara garis besar, perobaan percobaan
standing trunk flexion, trunk extension, dan sit and reach test ini sudah cukup bisa mewakili
pengujian fleksibilitas otot otot harmstring.
5. KESIMPULAN
5.1.

Reaction Time

Dapat disimpulkan bahwa laki-laki memiliki response time yang lebih baik daripada perempuan.
Terdapat berbagai faktor lain yang mempengaruhi response time dari praktikan, yakni : tingkat
ketegangan praktikan; latihan sebelum uji; tingkat kelelahan praktikan; gangguan dan pengalihan
perhatian; urutan stimuli; dan kebiasaan olahraga praktikan
5.2.

Fleksibilitas

Dari data hasil percobaan dan literature, nilai fleksibilitas pada perempuan lebih besar dari pada
laki laki. Fleksibilitas seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: aktivitas, kegemukan,
usia, gender, latihan angkat beban, struktur tulang, otot, struktur sendi, dan jaringan ikat sekitar
sendi.

UCAPAN TERIMA KASIH


Pertama-tama kami panjatkan puji syukur setinggi-tinggnya terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat dan karuniaNya sehingga laporan ini dapat terselesaikan tepat waktu.

Laporan Praktikum - Laboratorium Ilmu Faal Fak. Kedokteran Univ. Airlangga

Ucapan terima kasih kami peruntukkan untuk para dosen pembimbing praktikum, terutama dr. Irfiansyah
Irwadi, M.Si selaku dosen pembimbing percobaan Response Time dan Fleksibilitas.
Kami sampaikan pula ucapan terima kasih sebesar-besarnya terhadap Departemen Ilmu Faal Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga atas kesempatannya sehingga kami bisa menggunakan fasilitas
laboratorium praktikum Ilmu Faal.
Adapun terhadap segala kekurangan pada laporan ini, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami
mengharapkan segala bentuk kritik dan saran agar bisa menjadi acuan untuk karya yang lebih baik.
Semoga Laporan Praktikum Response Time dan Fleksibilitas ini dapat menjadi manfaat bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA
[1]

Guyton & Hall. 2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi II. Jakarta: EGC

[2]

Heward, William L. John O. Cooper. Timothy L.Heward. 2006. Applied Behavior Analysis, 2/E. Online
Publication date : 28-Dec-2006

[3]

Pui W.Kong, Stephen F.Burns.2010. Bilateral diffrerence in hamstrings to quadriceps ratio in healthy
males and females. Physical Therapy in Sport 11, 12-17. Online publication date: 1-Feb-2010

[4]

Wismanto. 2011. Pelatihan Metode Active Isolated Stretching lebih efektif daripada Contract Relax
Stretching dalam Meningkatkan Flexibilitas Otot Hamstring. Bandung. Jurnal Fisioterapi.

[5]

Purwanto, Bambang dkk. 2015. Panduan Praktikum Fisiologi Manusia. Surabaya: PT Revka Petra
Media.

Laporan Praktikum - Laboratorium Ilmu Faal Fak. Kedokteran Univ. Airlangga