Anda di halaman 1dari 21

REFERAT

ANESTESI PADA PASIEN OBSTETRI


Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di
Bagian Anestesi Rumah Sakit Umum Daerah Embung Fatimah

Pembimbing:
dr. Indra Hidayat Sp.An

Disusun oleh:
Rafika
61111008
KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BATAM
RUMAH SAKIT EMBUNG FATIMAH
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur patut dipanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terselesainya
pengerjaan makalah ini. referat ini disusun untuk memenuhi syarat dalam melengkapi tugas
dalam kegiatan kepaniteraan ilmu anestesi. Secara umum, materi yang dijelaskan dalam
referat ini berfokus pada obstetri anestesi
Penulis menyadari bahwa banyak uraian dalam referat ini yang masih jauh dari
sempurna. Penulis sadar bahwa kelemahan dan kekurangan pasti tampak dalam referat ini,
oleh karena itu saran dan kritik akan menjadi masukan yang berharga untuk perbaikan di
masa yang akan datang.
Penulis berharap karya yang kecil ini dapat menjadi bekal ilmu pengetahuan bagi
para pembaca dan menjadi rahmat yang tak terputus bagi kita semua, amin.

Batam, November 2016

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..........................................................................................................

Daftar Isi ...................................................................................................................

BAB I

Pendahuluan
Latar Belakang .....................................................................................

BAB II

Pembahasan
Fisiologi Kehamilan .............................................................................

Teknik Anestesi ....................................................................................

Anestesi Lokal ..............................................................................

Anestesi Intravena .........................................................................

Anestesi Regional .........................................................................

12

Kesimpulan .............................................................................................

16

Daftar Pustaka ...........................................................................................................

17

BAB III

BAB I
PENDAHULUAN
Di negara maju, pasien sudah terbiasa mendapatkan analgetika untuk mengurangi
rasa sakit pada saat persalinan, yaitu dengan penggunaan anestesia lokal dan umum. Di
Indonesia, rasa sakit waktu persalinan masih dapat ditolerir ibu sampai saat persalinan bayi
berlangsung, tetapi (pada umumnya) parturien tidak dapat menahan rasa sakit pada waktu
dilakukan penjahitan terhadap luka episiotomi, dan parturien minta dipati-rasa. Di samping
itu, anestesia lokal atau umum memang diperlukan oleh operator (penjahit luka), sehingga
ia dapat melakukan tugasnya dengan baik, tenang dan aman.
Sebaiknya, tindakan anestesia lokal maupun umum ini dapat dilakukan sendiri oleh
dokter yang menolong persalinan. Hal ini mengingat bahwa tindakan-tindakan ringan (yang
dilakukan oleh seorang ahli penyakit kandungan) sering kali hanya memerlukan waktu
anestesia yang sangat singkat. Terlebih lagi, bila tempat dimana ia bekerja belum ada
seorang teman sejawat yang ahli anstesia.
Ahli obstetri dan ginekologi seringnya semata-mata bertanggung jawab terhadap
anelgesia/sedasi dan blok regional sepanjang prosedur rawat jalan dan berbasis jasa.
Petunjuk The American Society of Anesthesiologists untuk ketetapan analgesia/sedasi bagi
kalangan

non-ahli

anestesi

memberikan

rekomendasi

yang

bermanfaat

untuk

memaksimalkan keamanan pasien selama prosedur rawat jalan dan berbasis jasa.
Tehnik analgesia untuk pasien-pasien obstetri dan ginekologi termasuk infiltrasi lokal
dan blok regional dengan atau tanpa sedasi, agen parenteral dan blokade neuraksial
sepanjang persalinan, dan anestesi umum untuk pembedahan yang lebih ekstensif dan,
adakalanya, untuk persalinan sesar. Meskipun the American College of Obstetricians and
Gynecologists (ACOG) dan the American Society of Anesthesiologists (ASA) telah
menetapkan tujuan untuk memastikan ketetapan yang tepat pada layanan anestesi di seluruh
rumah sakit yang menyediakan perawatan obstetri memastikan layanan seperti itu
menyisakan tantangan, khususnya pada rumah sakit yang lebih kecil atau di daerah
pedesaan.

BAB II
PEMBAHASAN
Fisiologi Kehamilan
Sistem pernapasan
Perubahan pada fungsi pulmonal, ventilasi dan pertukaran gas. Functional residual
capacity menurun sampai 15-20 %, cadangan oksigen juga berkurang. Pada saat persalinan,
kebutuhan oksigen (oxygen demand) meningkat sampai 100%.
Menjelang atau dalam persalinan dapat terjadi gangguan / sumbatan jalan napas pada 30%
kasus, menyebabkan penurunan PaO2yang cepat pada waktu dilakukan induksi anestesi,
meskupun dengan disertai denitrogenasi. Ventilasi per menit meningkat sampai 50%,
memungkinkan dilakukannya induksi anestesi yang cepat pada wanita hamil.
Sistem kardiovaskular
Peningkatan isi sekuncup / stroke volume sampai 30%, peningkatan frekuensi denyut
jantung sampai 15%, peningkatan curah jantung sampai 40%. Volume plasma meningkat
sampai 45% sementara jumlah eritrosit meningkat hanya sampai 25%, menyebabkan
terjadinya dilutional anemia of pregnancy.
Meskipun terjadi peningkatan isi dan aktifitas sirkulasi, penekanan / kompresi vena cava
inferior dan aorta oleh massa uterus gravid dapat menyebabkan terjadinya supine
hypertension syndrome. Jika tidak segera dideteksi dan dikoreksi, dapat terjadi penurunan
vaskularisasi uterus sampai asfiksia janin.
Pada persalinan, kontraksi uterus/his menyebabkan terjadinya autotransfusi dari plasenta
sebesar 300-500 cc selama kontraksi. Beban jantung meningkat, curah jantung meningkat,
sampai 80%. Perdarahan yang terjadi pada partus pervaginam normal bervariasi, dapat
sampai 400-600 cc. Pada sectio cesarea, dapat terjadi perdarahan sampai 1000 cc.
Meskipun demikian jarang diperlukan transfusi. Hal itu karena selama kehamilan normal

terjadi juga peningkatan faktor pembekuan VII, VIII, X, XII dan fibrinogen sehingga darah
berada dalam hypercoagulable state.

Ginjal
Aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus meningkat sampai 150% pada trimester
pertama, namun menurun sampai 60% di atas nonpregnant state pada saat kehamilan aterm.
Hal ini kemungkinan disebabkan oleh aktifitas hormon progesteron. Kadar kreatinin, urea
dan asam urat dalam darah mungkin menurun namun hal ini dianggap normal.
Pasien dengan preeklampsia mungkin berada dalam proses menuju kegagalan fungsi ginjal
meskipun pemeriksaan laboratorium mungkin menunjukkan nilai normal.
Sistem gastrointestinal
Uterus gravid menyebabkan peningkatan tekanan intragastrik dan perubahan sudut
gastroesophageal junction, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya regurgitasi dan
aspirasi pulmonal isi lambung. Sementara itu terjadi juga peningkatan sekresi asam
lambung, penurunan tonus sfingter esophagus bawah serta perlambatan pengosongan
lambung. Enzim-enzim hati pada kehamilan normal sedikit meningkat.
Kadar kolinesterase plasma menurun sampai sekitar 28%, mungkin akibat hemodilusi dan
penurunan sintesis. Pada pemberian suksinilkolin dapat terjadi blokade neuromuskular
untuk waktu yang lebih lama.
Lambung harus selalu dicurigai penuh berisi bahan yang berbahaya (asam lambung,
makanan) tanpa memandang kapan waktu makan terakhir.
Sistem saraf pusat
Akibat peningkatan endorphin dan progesteron pada wanita hamil, konsentrasi obat inhalasi
yang lebih rendah cukup untuk mencapai anestesia; kebutuhan halotan menurun sampai
25%, isofluran 40%, metoksifluran 32%. Pada anestesi epidural atau intratekal (spinal),
konsentrasi anestetik lokal yang diperlukan untuk mencapai anestesi juga lebih rendah. Hal

ini karena pelebaran vena-vena epidural pada kehamilan menyebabkan ruang subarakhnoid
dan ruang epidural menjadi lebih sempit.
Faktor yang menentukan yaitu peningkatan sensitifitas serabut saraf akibat meningkatnya
kemampuan difusi zat-zat anestetik lokal pada lokasi membran reseptor (enhanced
diffusion).
Transfer obat dari ibu ke janin melalui sirkulasi plasenta
Juga menjadi pertimbangan, karena obat-obatan anestesia yang umumnya merupakan
depresan, dapat juga menyebabkan depresi pada janin. Harus dianggap bahwa semua obat
dapat melintasi plasenta dan mencapai sirkulasi janin.

Teknik Anestesi
Prinsip teknik anestesi harus memenuhi kriteria:
1. Sifat anelgesi yang cukup kuat
2. Tidak menyebabkan trauma psikis terhadap ibu
3. Toksisitas rendah aman terhadap ibu dan bayi
4. Tidak mendepresi janin
5. Relaksasi otot tercapai tanpa relaksasi rahim
Risiko yang mungkin timbul pada saat penatalaksanaan anestesi adalah sebagai berikut.
1. Adanya gangguan pengosongan lambung
2. Terkadang sulit dilakukan intubasi
3. Kebutuhan oksigen meningkat
4. Pada sebagian ibu hamil, posisi terletang (supine) dapat menyebabkan hipotensi
(supine aortocaval syndrome) sehingga janin akan mengalami hipoksia/asfiksia.
Anestesi Lokal
Macam-macam anestesi lokal
a) Infiltrasi langsung di sekitar luka

Inervasi saraf di sekitar perineum berasal dari nervus pudendus. Untuk luka perineum
tingkat pertama dan kedua, cukup dilakukan infiltrasi lokal di sekitar lokasi jahitan
luka.
Bahan analgesia yang lazim dipergunakan adalah lidokain (2-3 ampul, untuk sisi
kanan dan kiri). Selanjutnya ditunggu dua menit, dan jahitan terhadap luka episiotomi
dapat dilakukan dengan aman dan tenang.
b) Blok nervus pudendus
Nervus pudendus menyarafi otot levator ani, dan otot perineum profunda serta
superfisialis. Dengan memblok saraf pudendus, akan tercapai anestesi setempat
sehingga memudahkanoperator untuk melakukan reparasi terhadap perineum yang
mengalami robekan. Teknik blok saraf pudendus:

Siapkan 10 cc larutan lidokain 0,5-1% untuk anestesia.

Tangan kanan dimasukkan kedalam vagina untuk mencapai spina iskiadika.

Jarum suntik ditusukkan sampai menembus ujung ligamentum sakrospinarium,


tepat dibelakang spina iskiadika.

Kemudian jarum diarahkan agak ke inferolateralis, dilakukan aspirasi, untuk


menghindarkan masuknya obat anestesi lokal ke dalam pembuluh darah.

Suntikan diberikan sebanyak 10 cc dan ditunggu selama 2-5 menit sehingga efek
anestesi tercapai.

c) Blok servikal
Lidokain 1% sebanyak 10 cc disuntikkan di bagian kanan dan kiri (pada jam 3 & 9),
sehingga didapat efek anestesi yang bersifat singkat. Setelah penyuntikan dilakukan,
tunggulah beberapa saat (3-5 menit) untuk mencapai keadaan anestetik, kemudian
tindakan intrauterin dapat dilakukan.
Komplikasi anestesi lokal
Komplikasi terjadi bila anestesia lokal masuk ke dalam pembuluh darah, sehingga
menimbulkan intoksikasi susunan saraf pusat. Oleh karena itu harus dilakukan upaya untuk

menghindarkan masuknya obat anestesi ke dalam pembuluh darah, dengan jalan melakukan
aspirasi, sebelum penyuntikan dilakukan. Gejala intoksikasi obat anestesi lokal adalah :
Pusing dan kepala terasa ringan
Tinitus
Perilaku aneh
Kejang-kejang
Terdapat gangguan pernapasan
Intoksikasi pada sistem kardiovaskuler, dengan gejala awal hipertensi dan takikardi,
kemudian diikuti hipotensi dan bradikardi.
Penanganan intoksikasi obat anestesi lokal yang masuk ke pembuluh darah
Bila terjadi kejang, dapat diatasi dengan memberikan :
Pentotal
Valium
Bila terjadi gangguan pada sistem kardiovaskuler:
Berikan infus secepatnya
Berikan efedrin hingga tekanan darah naik
Bila keadaan pasien gawat, maka pasien dapat dirujuk ke rumah sakit yang
mempunyai fasilitas cukup.
Apabila dalam melakukan pertolongan sederhana, diperkirakan dapat terjadi
komplikasi yang serius, maka pasien perlu dipasangi infus, karena akan memudahkan
pemberian obat-obat antidotum (jika diperlukan).
Anestesi Intravena
Indikasi :
1. Gawat janin
2. Ada kontraindikasi atau keberatan terhadap anestesia regional
3. Diperlukan keadaan relaksasi uterus

Keuntungan :
1. Induksi cepat
2. Pengendalian jalan napas dan pernapasan optimal
3. Risiko hipotensi dan instabilitas kardiovaskular lebih rendah
Kerugian :
1. Risiko aspirasi pada ibu lebih besar
2. Dapat terjadi depresi janin akibat pengaruh obat
3. Hiperventilasi pada ibu dapat menyebabkan terjadinya hipoksemia dan asidosis pada
janin
4. Kesulitan melakukan intubasi tetap merupakan penyebab utama mortalitas dan
morbiditas maternal
Macam-macam anestesi intravena
a) Pentotal
Penggunaan pentotal dalam bidang obstetri dan ginekologi banyak ditujukan untuk
induksi anestesia umum dan sebagai anestesia singkat.
Dosis pentotal
Dosis pentotal yang dianjurkan adalah 5 mg/kg BB dalam larutan 2,5% dengan pH
10.8, tetapi sebaiknya hanya diberikan 50-75 mg.
Keuntungan pentotal

Cepat menimbulkan rasa mengantuk (sedasi) dan tidur (hipnotik).


Termasuk obat anestesia ringan dan kerjanya cepat.
Tidak terdapat delirium
Cepat pulih tanpa iritasi pada mukosa saluran napas.
Komplikasi pentotal

Lokal (akibat ekstravasasi), dapat menyebabkan nekrosis

Rasa panas (bila pentotal langsung masuk ke pembuluh darah arteri)

Depresi pusat pernapasan

Reaksi vertigo, disorientasi, dan anfilaksis

Kontraindikasi pentotal
Pentotal merupakan kontraindikasi pada pasien-pasien yang disertai keadaan berikut:

Gangguan pernafasan
Gangguan fungsi hati dan ginjal
Anemia
Alergi terhadap pentotal
Apabila dilakukan anestesi intravena menggunakan pentotal, sebaiknya pasien dirawat
inap karena efek pentotal masih dijumpai dalam waktu 24 jam, dan hal ini
membahayakan bila pasien sedang dalam perjalanan.

b) Ketamin
Ketamin termasuk golongan non barbiturat dengan aktivitas rapid setting general
anaesthesia, dan diperkenalkan oleh Domine dan Carses pada tahun 1965.
Sifat ketamin :
o Efek analgetiknya kuat
o Efek hipnotiknya ringan
o Efek disosiasinya berat, sehingga menimbulkan disorientasi dan halusinasi
o Mengakibatkan disorientasi (pasien gaduh, berteriak)
o Tekanan darah intrakranial meningkat
o Terhadap sistem kardiovaskuler, tekanan darah sistemikmeningkat sekitar20-25%
o Menyebabkan depresi pernapasan yang ringan (vasodilatasi bronkus)

Premedikasi pada anestesia umum ketamin

Pada anestesia umum yang menggunakan ketamin, perlu dilakukan premedikasi


dengan obat-obat sebagai berikut:

Sulfas atropin, untuk mengurangi timbulnya rasa mual / muntah

Valium, untuk mengurangi disorientasi dan halusinasi

Dosis ketamin
Dosis ketamin yang dianjurkan adalah 1-2 mg/kg BB, dengan lama kerja sekitar 10-15
menit. Dosis ketamin yang dipakai untuk tindakan D & K (dilatasi dan kuretase) atau
untuk reparasi luka episiotomi cukup 0,5 1 mg/Kg BB.
Indikasi anestesi ketamin

Pada opersasi obstetri dan ginekologi yang ringan dan singkat


Induksi anastesia umum
Bila ahli anastesia tidak ada, sedangkan dokter memerlukan tindakan anastesia
yang ringan dan singkat.

Kontra indikasi anastesia ketamin (ketalar)

Hipertensi yang melebihi 150 / 100 mmHg

Dekompensasi kordis

Kelainan jiwa

Komplikasi anastesia ketamin

Terjadi disorientasi
Mual / muntah, diikuti aspirasi yang dapat membahayakan pasien dan dapat
menimbulkan pneumonia.

Untuk menghindari terjadinya komplikasi karena tindakan anastesia sebaiknya


dilakukan dalam keadaan perut / lambung kosong.

Setelah pasien dipindahkan ke ruangan inap, pasien diobservasi dan posisi


tidurnya dibuat miring (ke kiri / kanan), sedangkan letak kepalanya dibuat sedikit
lebih rendah.
c) Anastesia analgesia dengan valium
Valium tergolong obat penenang (tranquilizer), yang bila diberikan dalam dosis rendah
bersifat hipnotis. Obat ini jarang digunakan secara sendiri (tunggal), dan selalu
diberikan secara IV bersama dengan ketamin, dengan tujuan mengurangi efek
halusinasi ketamin.
Dosis Valium
10 g IV atau IM. Bila digunakan untuk induksi anastesi, dosis nyasebesar 0,2 0,6
mg/kg BB.
d) Diprivan
Komposisi diprivan adalah sebagai berikut :

10 % minyak kacang kedelai


1,2 % fosfatida telur
2,25 % gliserol
Keseluruhannya merupakan larutan 1% dalam air, dalam bentuk emulsi.
Diprivan sangat baik karena tidak memerlukan obat premedikasi. Disamping itu
kesadaran pasien pulih dengan cepat, tanpa terjadi perubahan apapun. Diprivan juga
tidak menimbulkan depresi pusat pernafasan ataupun gangguan jantung. Oleh karena
itu, ketika diprivan digunakan untuk pertama kalinya pada tahun 1977, obat ini
langsung menduduki tempat tertinggi untuk kepentingan operasi-operasi yang ringan
dan singkat.
Anestesi Regional

Pelaksanaan blok epidural (blok spinal) bersifat spesialistik, sehingga sebaiknya diserahkan
kepada dokter ahli anastesia. Sebagai gambaran, berikut ini dikemukakan beberapa hal
tentang anastesia epidural atau spinal.
Obat anastesia yang banyak dipakai adalah :

Lidonest

Bupivacain (Marcain)

Lidokain

Dalam melakukan tindakan kecil pada obstetri dan ginekologi, seperti : penjahitan kembali
luka episiotomi, dilatasi dan kuretase, atau biopsi dianjurkan untuk melakukan anastesia
secara intravena (lebih mudah dan aman). Dinegara yang sudah maju, kebanyakan kasus
persalinannya memerlukan tindakan anastesia lumbal, sakral, atau kaudal.
Analgesi/blok epidural (lumbal) : sering digunakan untuk persalinan per vaginam.
Anestesi epidural atau spinal : sering digunakan untuk persalinan per abdominam/sectio
cesarea.
Keuntungan :
Mengurangi pemakaian narkotik sistemik sehingga kejadian depresi janin dapat
dicegah/dikurangi.
Ibu tetap dalam keadaan sadar dan dapat berpartisipasi aktif dalam persalinan.
Risiko aspirasi pulmonal minimal (dibandingkan pada tindakan anestesi umum)
Jika dalam perjalanannya diperlukan sectio cesarea, jalur obat anestesia regional
sudah siap.
Kerugian :
1. Hipotensi akibat vasodilatasi (blok simpatis)
2. Waktu mula kerja (time of onset) lebih lama
3. Kemungkinan terjadi sakit kepala pasca punksi.

4. Untuk persalinan per vaginam, stimulus nyeri dan kontraksi dapat menurun, sehingga
kemajuan persalinan dapat menjadi lebih lambat.
Kontraindikasi :
a) Pasien menolak
b) Insufisiensi utero-plasenta
c) Syok hipovolemik
d) Infeksi / inflamasi / tumor pada lokasi injeksi
e) Sepsis
f) Gangguan pembekuan
g) Kelainan SSP tertentu
Teknik :

Pasang line infus dengan diameter besar, berikan 500-1000 cc cairan kristaloid (Ringer
Laktat).

15-30 menit sebelum anestesi, berikan antasida

Observasi tanda vital

Epidural : posisi pasien lateral dekubitus atau duduk membungkuk, dilakukan punksi
antara vertebra L2-L5 (umumnya L3-L4) dengan jarum/trokard. Ruang epidural
dicapai dengan perasaan hilangnya tahanan pada saat jarum menembus ligamentum
flavum.

Spinal / subaraknoid : posisi lateral dekubitus atau duduk, dilakukan punksi antara
L3-L4 (di daerah cauda equina medulla spinalis), dengan jarum / trokard. Setelah
menembus ligamentum flavum (hilang tahanan), tusukan diteruskan sampai menembus
selaput duramater, mencapai ruangan subaraknoid. Identifikasi adalah dengan
keluarnya cairan cerebrospinal, jika stylet ditarik perlahan-lahan.

Medulla spinalis berada didalam kanalis spinalis dikelilingi oleh cairan serebrospinal,
dibungkus oleh meningens (duramater, lemak dan pleksus venosus). Pada dewasa berakhir
setinggi L1, pada anak L2 dan pada bayi L3.
Persiapan anestesi spinal
Persiapan anestesi spinal seperti persiapan pada anestesi umum. Daerah disekitar tempat
tusukan diteliti apakah akan menimbulkan kesulitan, misalnya ada kelainan anatomis tulang
punggung atau pasien gemuk sekali sehingga tidak teraba tonjolan prosesus spinosus.
Selain itu harus puladilakukan :
1. Informed consent
2. Pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan laboratorium anjuran

Kemudian obat anestetik diinjeksikan ke dalam ruang epidural / subaraknoid.

Keberhasilan anestesi diuji dengan tes sensorik pada daerah operasi, menggunakan
jarum halus atau kapas.

Jika dipakai kateter untuk anestesi, dilakukan fiksasi. Daerah punksi ditutup dengan
kasa dan plester.

Kemudian posisi pasien diatur pada posisi operasi / tindakan selanjutnya.


1. Jarum spinal

Jarum pinsil (whitecare)

Jarum tajam (QuinckeBabcock)

Teknik analgesia spinal


Posisi duduk atau posisi tidur lateral decubitus dengan tusukan pada garis tengah ialah
posisi yang

paling sering dikerjakan. Biasanya dikerjakan diatas meja operasi tanpa

dipindahkan lagi dan hanya diperlukan sedikit perubahan posisi pasien. Perubahan posisi
berlebihan dalam 30 menit pertama akan menyebabkan menyebarnya obat.
1. Setelah dimonitor, tidurkan pasien dalam posisi dekubitus lateral atau duduk dan
buat pasien membungkuk maksimal agar procesus spinosus mudah teraba.
2. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua Krista iliaka dengan tulang
punggung ialah L4 atau L4-L5, tentukan tempat tusukan misalnya L2-L3, L3-L4
atau L4-L5. Tusukan pada L1-L2 atau atasnya berisiko trauma terhadap medulla
spinalis.
3. Sterilkan tempat tusukan dengan betadine dan alcohol
4. Beri anestetik lokal pada tempat tusukan misalnya lidokain 1% 2-3ml.

5.

Cara tusukan adalah median atau paramedian. Untuk jarum spinal besar 22G, 23G,
atau 25G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk jarum kecil 27G atau 29G
dianjurkan menggunakan penuntun jarum (introducer), yaitu jarum suntik biasa
semprit 10cc. Jarum akan menembus kutis, subkutis, ligamentum supraspinosum,
ligamentum interspinosum, ligamentum flavum, ruang epidural, duramater dan
ruang subarachnoid. Setelah mandrin jarum spinal dicabutcairan serebrospinal akan
menetes keluar. Selanjutnya disuntikkan larutan obat analgetik lokal kedalam ruang
subarachnoid tersebut.

Keuntungan anestesi spinal dibandingkan anestesi epidural :

Obat anestesi lokal lebih sedikit


Onset lebih singkat
Level anestesi lebih pasti
Teknik lebih mudah

Obat anestetik yang digunakan

Lidocain 1-5%, chlorprocain 2-3% atau bupivacain 0.25-0.75%. Dosis yang dipakai untuk
anestesi epidural lebih tinggi daripada untuk anestesi spinal.

Komplikasi yang mungkin terjadi


Jika terjadi injeksi subarachnoid yang tidak diketahui pada rencana anestesi epidural dapat
terjadi total spinal anesthesia, karena dosis yang dipakai lebih tinggi. Gejala berupa
nausea, hipotensi dan kehilangan kesadaran, dapat sampai disertai henti napas dan henti
jantung. Pasien harus diatur dalam posisi telentang / supine, dengan uterus digeser ke kiri,
dilakukan ventilasi O2 100% dengan mask disertai penekanan tulang cricoid, kemudian
dilakukan intubasi. Hipotensi ditangani dengan memberikan cairan intravena dan
ephedrine.
Injeksi intravaskular ditandai dengan gangguan penglihatan, tinitus, dan kehilangan
kesadaran. Kadang terjadi juga serangan kejang. Harus dilakukan intubasi pada pasien,
menggunakan 1.0 1.5 mg/kgBB suksinilkolin, dan dilakukan hiperventilasi untuk
mengatasi asidosis metabolik.
Komplikasi neurologik yang sering adalah rasa sakit kepala setelah punksi dura. Terapi
dengan istirahat baring total, hidrasi (>3 L/hari), analgesik, dan pengikat / korset perut
(abdominal binder).

BAB III
KESIMPULAN
Perubahan fisiologis kehamilan akan mempengaruhi tekhnik anestesi yang akan
digunakan. Risiko yang mungkin timbul pada saat penatalaksanaan anestesi adalah seperti
adanya gangguan pengosongan lambung, terkadang sulit dilakukan intubasi, kebutuhan
oksigen meningkat, dan pada sebagian ibu hamil posisi terletang (supine) dapat
menyebabkan hipotensi (supine aortocaval syndrome) sehingga janin akan mengalami
hipoksia/asfiksia.
Teknik anestesi local (infiltrasi) jarang dilakukan, terkadang setelah bayi lahir
dilanjutkan dengan pemberian pentothal dan N2O/O2 namun analgesi sering tidak memadai
serta pengaruh toksik obat lebih besar. Anestesi regional (spinal atau epidural) dengan
teknik yang sederhana, cepat, ibu tetap sadar, bahaya aspirasi minimal, namun sering
menimbulkan mual muntah sewaktu pembedahan, bahaya hipotensi lebih besar, serta
timbul sakit kepala pasca bedah. Anestesi umum dengan teknik yang cepat, baik bagi ibu
yang takut, serba terkendali dan bahaya hipotensi tidak ada, namun kerugian yang
ditimbulkan kemungkinan aspirasi lebih besar, pengaturan jalan napas sering mengalami
kesulitan, serta kemungkinan depresi pada janin lebih besar.

DAFTAR PUSTAKA

1. Barrash PG. Handbook of clinical anesthesiology. 2001. USA: Lippincott WilliamsWilkins


2. Boulton TB, Blogg CE, Anestesiologi, Edisi 10. EGC : Jakarta 1994
3. dr. Muhardi Muhiman, dr. M. Roesli Thaib, dr. S. Sunatrio, dr. Ruswan Dahlan,
Anestesiologi. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan terapi Intensif FKUI
4. Hurford WE. Clinical anesthesia procedures of the massachussetts general hospital.
2002. USA:Lippincott Williams-Wilkins.
5. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR, Petunjuk Praktis Anestesiologi: Edisi Kedua.
2009. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI
6. Miller RD 2000. Anesthesia 5th Edition. Philadhelphia: Churcill Livingston
7. Miller RD.Anesthesia, 5th ed. Churchill Livingstone. Philadelphia. 2000
8. Wargahadibrata AH. Anestesiologi. 2008. Bandung: SAGA