Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
Penyebab kematian janin dalam rahim paling tinggi yang berasal dari faktor ibu
adalah penyulit kehamilan seperti ruptur uteri dan diabetes melitus. Perdarahan masih
merupakan trias penyebab kematian maternal tertinggi, di samping preeklampsi/eklampsi dan infeksi. 1,2
Ruptur uteri merupakan salah satu bentuk perdarahan yang terjadi pada kehamilan lanjut dan persalinan, selain plasenta previa, solusio plasenta, dan gangguan
pembekuan darah. Batasan perdarahan pada kehamilan lanjut berarti perdarahan pada
kehamilan setelah 22 minggu sampai sebelum bayi dilahirkan, sedangkan perdarahan
pada persalinan adalah perdarahan intrapartum sebelum kelahiran. 1,2
Penyebab kematian janin dalam rahim paling tinggi oleh karena faktor ibu yaitu
ibu dengan penyulit kehamilan ruptur uteri dan penyulit medis diabetes melitus.
Frekuensi ruptur uteri di rumah sakit besar di Indonesia berkisar antara 1:92
sampai 1:294 persalinan. Angka-angka ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan
negara-negara maju (antara 1:1250 dan 1:2000 persalinan). Hal ini disebabkan karena
rumah sakit di Indonesia menampung banyak kasus darurat dari luar. 1,2
Secara klasik, ruptur uteri ditandai dengan nyeri abdomen akut dan perdarahan
pervaginam berwarna merah segar serta keadaan janin yang memburuk 1,2
Ruptur uteri sendiri merupakan kasus gawat darurat yang harus terdiagnosis
dan ditangani segera untuk menyelamatkan ibu dan janin. Oleh karena itu diagnosis
dan manajemen ruptur uteri sangatlah penting.1,2
Oleh sebab itulah laporan kasus mengenai ruptur uteri ini dibuat serta untuk
membahas lebih lanjut mengenai rupture uteri, faktor resikonya, etiologinya,
bagaimana mendiagnosisnya serta penatalaksanaannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Ruptur Uteri adalah robekan pada rahim sehingga rongga uterus dan rongga
peritoneum dapat berhubungan. Yang dimaksud dengan ruptur uteri komplit adalah
keadaan robekan pada rahim dimana telah terjadi hubungan langsung antara rongga
amnion dan rongga peritoneum. Peritoneum viserale dan kantong ketuban keduanya
ikut ruptur dengan demikian janin sebagia atau seluruh tubuhnya telah keluar oleh
kontraksi terakhir rahim dan berada dalam kavum peritonei atau rongga abdomen. 1,2
Pada ruptura uteri inkomplit hubungan kedua rongga tersebut masih dibatasi
oleh peritoneum viserale. Pada keadaan yang demikian janin belum masuk ke dalam
rongga peritoneum. Apabila pada rupture uteri peritoneum pada permukaan uterus
ikut robek, hal tersebut dinamakan rupture uteri komplet. 1,2
ETIOLOGI
Ruptura uteri bisa disebabkan oleh anomali atau kerusakan yang telah ada
sebelumnya, karena trauma, atau sebagai komplikasi persalinan pada rahim yang
masih utuh. Paling sering terjadi pada rahim yang telah diseksio sesarea pada
persalinan sebelumnya. Lebih lagi jika pada uterus yang demikian dilakukan partus
percobaan atau persalinan dirangsang dengan oksitosin atau sejenisnya.1, 2, 3
Pasien yang berisiko tinggi antara lain :
a. Persalinan yang mengalami distosia, grande multipara, penggunaan oksitosin
atau prostaglandin untuk mempercepat persalinan
b. Pasien hamil yang pernah melahirkan sebelumnya melalui bedah seksio
sesarea atau operasi lain pada rahimnya
c. Pernah histerorafi
d. Pelaksanaan trial of labor terutama pada pasien bekas seksio sesarea, dan
sebagainya.
2

Oleh sebab itu, untuk pasien dengan panggul sempit atau bekas seksio sesarea
klasik berlaku adagium Once Sesarean Section always Sesarean Section. Pada
keadaan tertentu seperti ini dapat dipilih elective cesarean section (ulangan) untuk
mencegah ruputura uteri dengan syarat janin sudah matang. 1

PATOFISIOLOGI
Saat his korpus uteri berkontraksi dan mengalami retraksi. Dengan demikian,
dinding korpus uteri atau segmen atas rahim menjadi lebih tebal dan volume korpus
uteri menjadi lebih kecil. Akibatnya tubuh janin yang menempati korpus uteri
terdorong ke dalam segmen bawah rahim. Segmen bawah rahim menjadi lebih lebar
dan karenanya dindingnya menjadi lebih tipis karena tertarik keatas oleh kontraksi
segmen atas rahim yang kuat, berulang dan sering sehingga lingkaran retraksi yang
membatasi kedua segmen semakin bertambah tinggi. 1,4
Apabila bagian terbawah janin tidak dapat turun oleh karena suatu sebab
(misalnya : panggul sempit atau kepala besar) maka volume korpus yang bertambah
mengecil pada waktu ada his harus diimbangi perluasan segmen bawah rahim ke atas.
Dengan demikian lingkaran retraksi fisiologis semakin meninggi kearah pusat
melewati batas fisiologis menjadi patologis yang disebut lingkaran bandl (ring van
bandl). Ini terjadi karena, rahim tertarik terus menerus kearah proksimal tetapi
tertahan dibagian distalnya oleh serviks yang dipegang ditempatnya oleh
ligamentumligamentum pada sisi belakang (ligamentum sakrouterina), pada sisi
kanan dan kiri (ligamentum cardinal) dan pada sisi dasar kandung kemih (ligamentum
vesikouterina). 1,4
Jika his berlangsung terus menerus kuat, tetapi bagian terbawah janin tidak
kunjung turun lebih ke bawah, maka lingkaran retraksi semakin lama semakin tinggi
dan segmen bawah rahim semakin tertarik ke atas dan dindingnya menjadi sangat
tipis. Ini menandakan telah terjadi rupture uteri iminens dan rahim terancam robek.

Pada saat dinding segmen bawah rahim robek spontan dan his berikutnya datang,
terjadilah perdarahan yang banyak (rupture uteri spontanea). 1,2
Ruptur uteri pada bekas seksio sesarea lebih sering terjadi terutama pada parut
pada bekas seksio sesarea klasik dibandingkan pada parut bekas seksio sesarea
profunda. Hal ini disebabkan oleh karena luka pada segmen bawah uterus yang
tenang pada saat nifas memiliki kemampuan sembuh lebih cepat sehingga parut lebih
kuat. Ruptur uteri pada bekas seksio klasik juga lebih sering terjadi pada kehamilan
tua sebelum persalinan dimulai sedangkan pada bekas seksio profunda lebih sering
terjadi saat persalinan. Rupture uteri biasanya terjadi lambat laun pada jaringan di
sekitar luka yang menipis kemudian terpisah sama sekali. Disini biasanya peritoneum
tidak ikut serta, sehingga terjadi rupture uteri inkompleta. Pada peristiwa ini
perdarahan banyak berkumpul di ligamentum latum dan sebagian lainnya keluar. 1,2
KLASIFIKASI
1.

Menurut tingkat robekan : 1,2


a. Ruptur uteri komplit, bila robekan terjadi pada seluruh lapisan dinding
uterus.
b. Ruptur uteri inkomplit, bila robekan hanya sampai miometrium, disebut
juga dehisensi. Diagnosis pasti ditegakkan dengan melakukan eksplorasi
dinding rongga uterus setelah janin dan plasenta lahir.
c. Ruptur uteri imminens, bila baru ada gejala akan terjadi ruptur. Penderita
merasa kesakitan terus menerus baik waktu his maupun di luar his. Teraba
ligamentum rotundum menegang. Teraba cincin Bandle setinggi pusat.
Segmen bawah rahim menipis, Urine kateter kemerahan, terdapat tandatanda obstruksi.

2.

Menurut etiologinya: 1, 2, 6, 7
a.

Ruptur uteri spontan


Rupture uteri spontanea dapat terjadi akibat dinding rahim yang lemah
seperti pada bekas operasi sesar, bekas miomektomi, bekas perforasi
4

tindakan kuret atau bekas tindakan plasenta manual. Rupture uteri


spontan dapat pula terjadi akibat peregangan luar biasa dari rahim seperti
pada ibu dengan panggul sempit, janin yang besar, kelainan kongenital
dari janin, kelainan letak janin, grandemultipara dengan perut gantung
(pendulum) serta pimpinan persalinan yang salah . Oleh banyak penulis
dilaporkan pula bahwa kebiasaan yang dilakukan oleh dukun dukun
memudahkan timbulnya ruptur uteri.
Pada persalinan yang kurang lancar, dukun dukun biasanya melakukan
tekanan keras kebawah terus menerus pada fundus uteri, hal ini dapat
menambah tekanan pada segmen bawah uterus yang sudah meregang dan
mengakibatkan terjadinya ruptur uteri. Pemberian oksitosin dalam dosis
yang terlampau tinggi dan atau atas indikasi yang tidak tepat, bisa pula
menyebabkan ruptur uteri.
b.

Ruptur uteri traumatika 7


Ruptur uteri yang disebabkan oleh trauma dapat terjadi karena jatuh,
kecelakaan seperti tabrakan dan sebagainya. Robekan demikian itu yang
bisa terjadi pada setiap saat dalam kehamilan, jarang terjadi karena
rupanya otot uterus cukup tahan terhadap trauma dari luar. Yang lebih
sering terjadi adalah ruptur uteri yang dinamakan ruptur uteri violenta.
Rupture uteri violenta dapat terjadi akibat tindakan tindakan seperti
misalnya Ekstraksi forceps, versi dan ekstraksi ,embriotomi ,braxton
hicks version, manual plasenta,kuretase ataupun trauma tumpul dan tajam
dari luar.

c.

Ruptur uteri pada parut uterus


Ruptur uteri demikian ini terdapat paling sering pada parut bekas
seksiosesarea, peristiwa ini jarang timbul pada uterus yang telah dioperasi
untuk mengangkat mioma (miomektomi) dan lebih jarang lagi pada
uterus dengan parutkarena kerokan yang terlampau dalam. Di antara
parut-parut bekas seksio sesarea, parut yang terjadi ssesudah seksio
5

sesarea klasik lebih sering menimbulkan ruptur uteri daripada parut bekas
seksio sesarea profunda. Perbandingannya ialah 4:1. Hal ini disebabkan
oleh karena luka pada segmen bawah uterus yang menyerupai daerah
uterus yang lebih tenang dalam masa nifas dapat sembuh dengan lebih
baik, sehingga parut lebih kuat.
Ruptur uteri pada bekas seksio bisa menimbulkan gejala-gejala
seperti telah diuraikan lebih dahulu, akan tetapi bisa juga terjadi tanpa
banyak menimbulkan gejala. Dalam hal yang terakhir ini tidak terjadi
robekan secara mendadak, melainkan lambat laun jaringan disekitar bekas
luka menipis untuk akhirnya terpisah sama sekali dan terjadilah ruptur
uteri. Disini biasanya peritoneum tidak ikut serta, sehingga terdapat
ruptur uteri inkompleta.
3.

Menurut waktu terjadinya: 2,3,5


a.

Ruptur Uteri Gravidarum, terjadi waktu sedang hamil, sering berlokasi


pada korpus

b.

Ruptur Uteri Durante Partum, Terjadi waktu melahirkan anak, lokasinya


sering pada SBR. Jenis inilah yang terbanyak.

4.

Menurut lokasi: 2, 5
a.

Korpus uteri, biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami
operasi, seperti seksio sesarea klasik (korporal) atau miomektomi.

b.

Segmen bawah rahim (SBR), biasanya pada partus sulit dan lama (tidak
maju). SBR tambah lama tambah regang dan tipis dan akhirnya terjadilah
ruptur.

c.

Servik uteri, biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi forcep atau
versidan ekstraksi, sedang pembukaan belum lengkap.

d.

Kolpoporeksis-kolporeksis, robekan-robekan diantara servik dan vagina.

DIAGNOSIS
Pada ruptura uteri iminens umumnya mudah dikenal pada ring van Bandl
yang semakin tinggi dan segmen bawah rahim yang tipis dan keadaan ibu yang
gelisah takut karena nyeri abdomen atau his kuat yang berkelanjutan disertai tandatanda gawat janin. 1, 2
Gambaran klinik ruptura uteri adalah khas sekali. Oleh sebab itu pada
umumnya tidak sukar menetapkan diagnosisnya atas dasar tanda-tanda klinik yang
telah diuraikan. Untuk menetapkan apakah ruptura uteri itu komplit perlu dilanjutkan
dengan periksa dalam. 1,2
a)

Pada ruptura uteri komplit jari-jari tangan pemeriksa dapat menemukan beberapa
hal berikut :
1. Jari jari tangan dalam bisa meraba permukaan rahim dan dinding perut yang

licin
2. Dapat meraba pinggir robekan, biasanya terdapat pada bagian depan di

segmen bawah rahim


3. Dapat memegang usus halus atau omentum melalui robekan
4. Dinding perut ibu dapat ditekan menonjol ke atas oleh ujung-ujung jari-jari
tangan dalam sehingga ujung jari-jari tangan luar saling mudah meraba ujung
jari-jari tangan dalam.

Gambar. ring van Bandl


b)

Ruptur uteri iminens (membakat/mengancam) 1,2


Terlebih dahulu dan yang terpenting adalah mengenal betul gejala dari ruptur

uteri mengancam (threatened uterine rupture) sebab dalam hal ini kita dapat
bertindak secepatnya supaya tidak terjadi ruptur uteri yang sebenarnya.
Gejala ruptur uteri iminens/mengancam :
1. Dalam anamnesa dikatakan telah ditolong/didorong oleh dukun/bidan, partus
sudah lama berlangsung
2. Pasien tampak gelisah, ketakutan, disertai dengan perasaan nyeri diperut
3. Pada setiap datangnya his pasien memegang perutnya dan mengerang
kesakitan bahkan meminta supaya anaknya secepatnya dikeluarkan.
4. Pernafasan dan denyut nadi lebih cepat dari biasa.
5. Ada tanda dehidrasi karena partus yang lama (prolonged labor), yaitu mulut
kering, lidah kering dan haus, badan panas (demam).
6. His lebih lama, lebih kuat dan lebih sering bahkan terus-menerus.
7. Ligamentum rotundum teraba seperti kawat listrik yang tegang, tebal dan
keras terutama sebelah kiri atau keduanya.

8. Pada waktu datang his, korpus uteri teraba keras (hipertonik) sedangkan SBR
teraba tipis dan nyeri kalau ditekan.
9. Diantara korpus dan SBR nampak lingkaran Bandl sebagai lekukan melintang
yang bertambah lama bertambah tinggi, menunjukan SBR yang semakin tipis
dan teregang. Sering lengkaran bandl ini dikelirukan dengan kandung kemih
yang penuh, untuk itu dilakukan kateterisasi kandung kemih. Dapat
peregangan dan tipisnya SBR terjadi di dinding belakang sehingga tidak dapat
kita periksa, misalnya terjadi pada asinklitismus posterior atau letak tulang
ubun-ubun belakang.
10.

Perasaan sering mau kencing karena kandung kemih juga tertarik dan

teregang ke atas, terjadi robekan-robekan kecil pada kandung kemih, maka


pada kateterisasi ada hematuri.
11.

Pada auskultasi terdengar denyut jantung janin tidak teratur (asfiksia)

12.

Pada pemriksaan dalam dapat kita jumpai tanda-tanda dari obstruksi,

seperti oedem porsio, vagina, vulva dan kaput kepala janin yang besar.
PENANGANAN
Dalam menghadapi masalah ruptura uteri semboyan prevention is better than
cure sangat perlu diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap pengelola persalinan di
mana pun persalinan itu berlangsung. Pasien risiko tinggi haruslah dirujuk agar
persalinannya berlangsung di rumah sakit yang mempunyai fasilitas yang cukup dan
berpengalaman. Bila telah terjadi ruptura uteri tindakan terpilih hanyalah histerektomi
dan resusitasi serta antibiotika yang sesuai. Diperlukan infus cairan kristaloid dan
transfusi darah yang banyak, tindakan antisyok, serta pemberian antibiotika spektrum
luas, dan sebagainya.1, 7, 8

Tindakan tindakan pada rupture uteri : 6,7,8


a. Histerektomi
Histerektomi adalah operasi pengangkatan kandungan (rahim dan uterus) pada
seorang wanita, sehingga setelah menjalani operasi ini dia tidak bisa lagi hamil
dan mempunyai anak. Histerektomi dapat dilakukan melalui irisan pada bagian
perut atau melalui vagina. Pilihan ini bergantung pada jenis histerektomi yang
akan dilakukan, jenis penyakit yang mendasari, dan berbagai pertimbangan
lainnya.
Ada beberapa jenis histerektomi yang perlu kita ketahui. Berikut ini adalah
penjelasannya :
Histerektomi parsial (subtotal). Pada histerektomi jenis ini, rahim diangkat,
tetapi mulut rahim (serviks) tetap dibiarkan. Oleh karena itu, penderita masih
dapat terkena kanker mulut rahim sehingga masih perlu pemeriksaan pap
smear (pemeriksaan leher rahim) secara rutin.
Histerektomi total. Pada histerektomi ini, rahim dan mulut rahim diangkat
secara keseluruhannya.
Histerektomi

dan

salfingo-ooforektomi

bilateral.

Histerektomi

ini

mengangkat uterus, mulut rahim, kedua tuba fallopii, dan kedua ovarium.
Histerektomi radikal. Histerektomi ini mengangkat bagian atas vagina,
jaringan, dan kelenjar limfe disekitar kandungan. Operasi ini biasanya
dilakukan pada beberapa jenis kanker tertentu untuk bisa menyelamatkan
nyawa penderita.

10

Gambar. Hysterectomy
b. Histerorafi

Histerorafi adalah tindakan operatif dengan mengeksidir luka dan dijahit


dengan sebaik-baiknya. Jarang sekali bisa dilakukan histerorafia kecuali bila luka
robekan masih bersih dan rapi pasiennya belum punya anak hidup.
PROGNOSIS
Prognosis bergantung pada apakah ruptur uteri pada uterus yang masih utuh
atau pada bekas seksio sesarea atau suatu dehisens. Bila terjadi pada bekas seksio
sesarea atau pada dehisens perdarahan yang terjadi minimal sehingga tidak sampai
menimbulkan kematian maternal dan kematian perinatal. Faktor lain yang
mempengaruhi adalah kecepatan pasien menerima tindakan bantuan yang tepat
dan cekatan. Ruptura uteri spontan dalam persalinan pada rahim yang tadinya
masih utuh mengakibatkan robekan yang luas dengan pinggir luka yang tidak rata
dan bisa meluas ke lateral dan mengenai cabang-cabang arteri uterina atau ke
dalam ligamentum latum atau meluas ke atas atau ke vagina disertai perdarahan
yang banyak dengan mortalitas maternal yang tinggi dan kematian yang jauh lebih
tinggi. 1,2

11

BAB III
KASUS
IDENTITAS
No. RM

: 383001

Tanggal Pemeriksaan : 12 September 2014

Nama

: Ny. N

Nama Suami : Tn. M

Umur

: 32 tahun

Umur

: 37 tahun

Alamat

: Mamuju Utara

Alamat

: Mamuju Utara

Pekerjaan

: IRT

Pekerjaan

: Tani

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pendidikan

: SD

ANAMNESIS
G5P4A0 Usia Kehamilan : 42 minggu (berdasarkan hasil pemeriksaan USG)
HPHT

: lupa

TP

: ???

Menarke

: 13 tahun

Perkawinan

: I ( 14 tahun)

Keluhan utama

Pasien mengeluh sakit perut tembus belakang


Riw. Penyakit Sekarang :
Pasien merupakan rujukan dari PKM Sarjo Mamuju Utara dengan diagnosa G5P4A0
gravid 42 minggu + kala II lama + susp. Bayi besar + edema portio dan vulva. Pasien
datang ke Puskesmas karena persalinan yang tidak berhasil di dukun yang kemudian
pasien dirujuk ke RSU Anutapura. Saat ini pasien mengeluh sakit perut yang terusmenerus tembus sampai belakang. Tidak ada mual/muntah.

12

Riw. Penyakit Sebelumnya :


Pasien memiliki riwayat di urut didukun, saat persalinan di Puskesmas dibantu
dengan mendorong perut pasien, riwayat kejang tidak ada, riwayat tekanan darah
tinggi tidak ada, riwayat penyakit gula tidak ada.
Riw. Operasi :
Tidak ada
Riw. Obstetri
Tahun
Partus/Usia
anak
sekarang
11 thn
7 thn
5 thn
3 thn

Tempat
Partus

Rumah
Rumah
Rumah
PKM

Umur
Jenis
kehamilan Persalinan

Aterm
Aterm
Aterm
Aterm

Penolong

Normal
Dukun
Normal
Dukun
Normal
Dukun
Normal
Bidan
Hamil Sekarang

JK/BB

Lupa
Lupa
Lupa
Lupa

Keadaan
anak
sekarang
Hidup
Hidup
Hidup
Hidup

Riw. ANC : 4x di Pustu Desa Saruje Kec. Sarjo Mamuju Utara


Riwayat Imunisasi : Tidak Ada
PEMERIKSAAN FISIK
KU

: Sakit Sedang

Tanda Vital

TD

: 130/90

Nadi

: 98x/m

Kesadaran

: Komposmentis

Resp. : 32x/m
Suhu : 36,7C
Kepala-Leher :

13

Konjunctiva anemis (-/-), sklera ikterus (-/-), edema palpebra (-/-), pembesaran
KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-).
Thorax

I : Pergerakan thoraks simetris, retraksi (-), sikatrik (-)


P : Nyeri tekan (-), massa tumor (-)
P : Sonor kedua lapang paru, pekak pada jantung, batas paru hepar SIC VI linea
midclavicula dextra, batas jantung dalam batas normal.
A: Bunyi pernafasan vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-, BJ I/II murni
reguler.
Abdomen

I : Membesar, memanjang, tidak terlihat adanya bentukan cincin retraksi


patologis Bandl.
P : Nyeri tekan epigastrium (-), hepar dan lien tidak teraba
P : Timpani
A : Bising usus normal
Pemeriksaan Obstetri :
Situs

: Memanjang

Leopold I : TFU 36 cm, teraba bokong


Leopold II : Teraba punggung di sisi kanan abdomen ibu
Leopold III : Letak terbawah kepala
Leopold IV : Divergen
TBJ : 3870 gram
DJJ : 160 kali per menit
His/kontraksi : 6 kali/ 10 menit durasi 60 detik
Vaginal touch : Edema vulva, vagina normal, edema portio pembukaan
lengkap, ketuban (-), kepala hodge II (caput)
Ekstremitas : edema -/PEMERIKSAAN PENUNJANG
14

Darah Lengkap
WBC
Hb
Hct
Trombosit

23.80 ribu/uL
11.8 g/dL
35.3%
196 ribu/uL
Kimia Darah

GDS

100 mg/dL
Immunoserologi

HbsAg

Nonreaktif

RESUME :
Pasien wanita 32 tahun rujukan dari PKM Sarjo Mamuju Utara dengan
diagnosa G5P4A0 gravid 42 minggu + kala II lama + susp. Bayi besar + edema portio
dan vulva. Riwayat persalinan yang lama di dukun dan Puskesmas. Saat ini pasien
mengeluh sakit perut yang terus-menerus tembus sampai belakang. Riwayat di urut
didukun (+), riwayat dilakukannya Kristeller (+) saat di PKM.
Pemeriksaan fisik TD: 130/90, Nadi: 98x/m, Resp.: 32x/m. Pemeriksaan
Obstetri: Situs : Memanjang, Leopold I : TFU 36 cm, teraba bokong Leopold II:
Punggung kanan Leopold III : Letak terbawah kepala Leopold IV : Divergen, TBJ :
3870 gram dengan DJJ : 160 kali per menit dan His/kontraksi : 6 kali/ 10 menit durasi
60 detik. Dari hasil Vaginal touch : Edema vulva, vagina normal, edema portio
pembukaan lengkap, ketuban (-), kepala hodge II (caput).
Dari hasil pemeriksaan penunjang darah rutin didapatkan WBC 23.80 ribu/uL
Hb 11.8 g/dL. Kimia darah: GDS 100 mg/dL.

DIAGNOSIS
G5 P4 A0 gravid 42 minggu + inpartu kala II lama + gawat janin.
PENATALAKSANAAN
15

Operasi seksio sesarea cyto


DIAGNOSA PRE-OPERATIF
G5 P4 A0 gravid 42 minggu + inpartu kala II lama + gawat janin.
DIAGNOSA POST-OPERATIF
P5 A0 aterm + Hysterectomi a/i Ruptur uteri Inkomplit + Asfiksia bayi baru Lahir
PENATALAKSANAAN INTRAOPERATIF
Histerectomy Subtotalis
PENATALAKSANAAN POSTOPERATIF
-

Inj. Cefotaxim 1 gr/12 jam/ IV

Inj. Alinamin F 1 amp/8 jam/ IV

Drips. Metronidazole /12 jam/IV

Inj. Ranitidin 1amp/8 jam/IV

Inj. Ketorolak 1amp/8 jam /IV

Inj. Transamin 1amp/8 jam/IV

Inj. Ondancetron 1amp/8jam/IV

Drips oxytocin

Drips metergin

Obs. KU, TTV, perdarahan

Cek Hb 2 jam Post Operatif

Transfusi WB 1 kantong
FOLLOW UP

Tanggal
13-September- 2014

Catatan Observasi
S : Nyeri luka operasi (+)
O : KU baik, kesadaran composmentis
16

TD : 120/70 mmHg, N : 90x/i, RR : 24x/i, T : 36,7 C


Hb Post Operatif dan post transfusi: 9,2 gr/dL
A : Post SC hari I a/i gawat janin + post Hysterectomy H I
P:

14-September- 2014

Inj. Cefotaxim 1 gr/12 jam/ IV

Inj. Alinamin F 1 amp/8 jam/ IV

Drips. Metronidazole /12 jam/IV

Inj. Ranitidin 1amp/8 jam/IV

Inj. Ketorolak 1amp/8 jam /IV

Inj. Transamin 1amp/8 jam/IV

Inj. Ondancetron 1amp/8jam/IV

Drips oxytocin dan metergin

Dulcolax Suppositoria

Obs. KU, TTV, perdarahan

Mobilisasi Aktif

S : Nyeri luka operasi (+), flatus (+), BAK via kateter


O : KU baik, kesadaran composmentis
TD : 120/80 mmHg, N : 96x/i, RR : 21x/i, T :37,2C
Abd : tampak perban menutup luka operasi kering.
A : Post SC hari II a/i gawat janin + post Hysterectomy H II
P : - Lanjut terapi injeksi
-

15-September- 2014

Obs. KU, TTV

- Mobilisasi aktif
S : Nyeri luka operasi (+), BAB (+), BAK via kateter
O : KU baik, kesadaran composmentis
TD : 120/80 mmHg, N : 96x/i, RR : 21x/i, T :37,2C
A : Post SC hari III a/i gawat janin + post Hysterectomy H III
P : - Mengganti terapi injeksi menjadi oral
17

Cefixime 2x100 mg tab/oral

Metronidazole 3x1 tab/oral

Asam Mefenamat 3x500mg/oral

Lactavit 2x1 tab/oral

Aff Infus dan kateter

Obs. KU, TTV

Ganti verban luka kering

Mobilisasi aktif

BAB IV
PEMBAHASAN
Dari laporan kasus yang telah dipaparkan, didapatkan diagnosa akhir yaitu
diagnosa post operatif berupa P5 A0 aterm + Hysterectomi a/i Ruptur uteri inkomplit.
Diagnosa tersebut didasarkan dari temuan saat dilakukan seksio sesarea oleh dokter
18

spesialis kandungan. Dan sebelumnya memang telah terdapat kecurigaan pada pasien
berupa anamnesa dimana keluhan utama pasien berupa nyeri perut hebat disertai
frekuensi nafas yang meningkat. Selain itu, pasien memiliki riwayat persalinan yang
lama di dukun dan riwayat dilakukannya Kristeller (+) saat di PKM. Hasil
pemeriksaan fisik menunjukkan tanda-tanda gawat janin dimana frekuensi denyut
jantung janin menunjukkan 160x/menit,dan dari hasil pemeriksaan khusus obstetri
juga didapatkan tanda-tanda obstruksi berupa edema vulva dan portio.

Berdasarkan anamnesa pasien, didapatkan bahwa kemungkinan ruptur uteri


terjadi pada saat proses persalinan berlangsung. Hal tersebut ditunjang dengan
beberapa faktor resiko seperti yang disebutkan di atas. Dari manifestasi klinis yang
didapatkan pada pasien terutama nyeri seluruh lapangan perut dan di tunjang dengan
tanda-tanda vital yang meningkat memungkinkan adanya kecurigaan terjadinya
robekan pada uterus ataupun
mengiritasi

adanya perdarahan di dalam peritoneum sehingga

dan menyebabkan rasa nyeri. Selain itu, kedatangan pasien dengan

tachicardia dapat menjadi suatu tanda adanya syok yang terkompensasi. Pemeriksaan
DJJ yang dilakukan saat di ruang VK menghasilkan nilai 160x/menit.
Pada saat intraoperatif tampak janin yang masih tertahan oleh peritoneum
viseral (Ruptur Inkomplit) atau belum keluar ke dalam cavum abdomen karena

19

adanya bagian uterus yang telah mengalami ruptur di bagian SBR yang tampak
sebagai hematom dan sebagian lagi telah mengalami nekrosis.

Pada pemeriksaan VT didapatkan kepala sudah turun ke hodge II, hal ini
dapat menjelaskan kenapa tidak ditemukan perdarahan pervaginam sebagai
manifestasi klinis. Hal tersebut akibat tertutupnya pintu panggul oleh kepala bayi
sehingga tidak memungkinkan darah mengalir keluar.
Penatalaksanaan yang dilakukan pasien ini yakni histerektomi subtotalis
karena bagian yang nekrosis sangat luas dan robekan yang terjadi mencapai lig.
Rotundum, sehingga sangat sulit untuk dilakukan histerorafi. Selain itu pertimbangan
lainnya adalah agar tindakan operasi bisa segera diselesaikan sehingga mengurangi
resiko pasien kehilangan banyak darah saat intraoperatif.

DAFTAR PUSTAKA

20

1. Sarwono. Ilmu Kebidanan. Ed. 3. Jakarta: Yayasan Bina pustaka Sarwono


Prawiroharjo 2006
2. Qazi Q. et. al., Woman Health; Uterus Rupture, Its Complications and
Management in Teaching Hospital Bannu, Pakistan. Medica a Journal of
Clinical
Medicine.
2012
(7)
p:
49-53.
Available
from:
http://www.maedica.org/articles/2012/1/2012_Vol7(10)_No1_pg49-53.pdf
3. Pappalardo EM, et al., Case Report: Uterine Rupture after Prostaglandin
Analogues to Induce Midtrimester Abortion. Journal of Prenatal 2010; 4 (1):
p; 9-11. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3263936/
4. Cunningham F. Gary et al. Obstetri Williams. Vol. 1. Ed. 21. Penerbit buku
kedokteran. Jakarta. EGC. 2005.
5. Rochelle, ML et.al., Risk of Uterine Rupture During Labor Among Women
with a Prior Caesaran Delivery. The New England Journal of Medicine. 2001
(1) 345. Available from
http://humrep.oxfordjournals.org/content/15/5/1198.full.pdf
6. Hui WP, et al., Case Report: Posterior Uterine Wall Rupture During Labour.
Human Reproduction. 2000 (5) 15 p: 1198-99. Available from
http://humrep.oxfordjournals.org/content/15/5/1198.full.pdf
7. Damiani, GF et. al., Uterine rupture in a nulliparous woman with septate
uterus of the second trimester pregnancy and review in literature. International
Journal of Surgery Case Report. 2013 (4) p: 259-61. Available in
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2210261212002416
8. Gueye M, et al., Case Report: Spontaneus Uterine Rupture of an Unscarred
Uterus before Labour. Hindawi Publishing Corporation Case Report in
Obstetric
and
Gynecology.
2012
p:
1-3.
Available
from:
http://www.hindawi.com/journals/criog/2012/598356/

21