Anda di halaman 1dari 43

TATALAKSANA UMUM

GIZI BURUK PADA BALITA


Irni Prihandhiny
Komitmen Internasional dan Nasional
SDGS butir kedua: pentingnya mengakhiri kelaparan,
mencapai ketahanan pangan dan perbaikan gizi, serta
menggalakkan pertanian yang berkelanjutan
Sasaran RPJMN 2020-2024: Stunting 14%, wasting 7 %
Klasifikasi WHO
Alur
penapisan
balita
gizi buruk/
kurang

Pencegahan dan Tata Laksana Gizi 1


Buruk pada Balita 2
10 (SEPULUH) LANGKAH TATA LAKSANA GIZI
BURUK

5
4 Fase Perawatan dan Pengobatan
Balita Gizi Buruk
1. Fase Stabilisasi

Fase stabilisasi merupakan fase


awal perawatan yang umumnya Tujuan fase stabilisasi
berlangsung 1-2 hari, tetapi dapat adalah untuk
berlanjut sampai satu minggu menstabilkan kondisi
sesuai kondisi klinis anak. klinis/fisiologis anak

Kegawatdaruratan (misalnya
hipoglikemi, hipotermi, Tidak untuk menaikkan
dehidrasi/syok) harus segera BB anak
diatasi, karena keterlambatan
penanganan dapat
mengakibatkan kematian. 6
4 Fase Perawatan dan Pengobatan
Balita Gizi Buruk

2 Fase Transisi
Lanjut dengan pengobatan
infeksi dan tatalaksana
Fase transisi komplikasi lain.
merupakan fase Pemantauan kemajuan terapi,
dimana secara termasuk tanda-tanda
bertahap tubuh bahaya.
beradaptasi terhadap Persiapan tindak lanjut
asupan energi dan perawatan di rumah (bila fase
protein yang lebih rehabilitasi dilakukan di
layanan rawat jalan)
tinggi
Tanda balita dapat masuk ke fase transisi
(biasanya setelah 2 – 7 hari):
Komplikasi medis teratasi
Nafsu makan pulih
Edema berkurang 7
4 Fase Perawatan dan Pengobatan Balita Gizi Buruk

3 Fase Rehabilitasi
• Mendorong balita untuk
Fase pemberian makan
makanan untuk tumbuh • Memulai kembali atau
kejar. mendorong untuk tetap
Umumnya menyusui
berlangsung selama • Stimulasi perkembangan
2 – 4 minggu mental dan fisik
• Menyiapkan ibu/pengasuh
untuk pengasuhan drumah

Kemajuan terapi dinilai dari


kenaikan berat badan
8
Pemantauan Kenaikan Berat Badan
Kurang, apabila kenaikan berat badan kurang dari 5 g/kg
BB/hari, balita membutuhkan penilaian ulang lengkap.
Cukup, apabila kenaikan berat badan 5-10 g/kg BB/hari, perlu
diperiksa apakah target asupan terpenuhi, atau mungkin ada
infeksi yang tidak terdeteksi.
Baik, apabila kenaikan berat badan lebih dari 10 g/kg BB/hari.

Kurang, yaitu bila kenaikan berat badan kurang dari 50


g/kg BB/per minggu, maka balita membutuhkan penilaian
ulang lengkap
Baik, yaitu bila kenaikan berat badan ≥ 50 g/kg BB/per
minggu 9
4 Fase Perawatan dan Pengobatan
Balita Gizi Buruk
4 Fase Tindak
Lanjut

Fase tindak lanjut adalah fase setelah anak


dipulangkan dari tempat perawatan

Pada fase ini merupakan lanjutan pemberian


makanan untuk tumbuh kejar dengan pemberian
makanan keluarga dan Pemberian Makanan
Tambahan – Pemulihan (PMT-P)

10
CARA MENGATASI HIPOGLIKEMIA
TANDA CARA MENGATASI

• Berikan larutan Glukosa 10% atau larutan gula


SADAR pasir 10%* secara oral/NGT (bolus)
sebanyak 50 ml
• Kemudian lanjutkan dgn F-75 setiap 2 jam

•Berikan Larutan Glukosa 10% iv (bolus) 5 ml/kgBB


TIDAK SADAR •Selanjutnya berikan larutan Glukosa 10% atau
(LETARGIS/>) larutan gula pasir 10% secara oral / NGT (bolus)
sebanyak 50 ml

*) 5 gram gula (= 1 sendok teh muncung) + 3


sendok makan air
PEMANTAUAN
HIPOGLIKEMIA
• Pemantauan kadar gula darah setelah 30 menit, dan
bila kadar gula darah masih di bawah 3 mmol/L (<
54 mg/dl), ulangi pemberian larutan
glukosa/gula10%.

• Jika suhu aksilar < 36°C atau bila kesadaran


memburuk, mungkin hipoglikemia disebabkan oleh
hipotermia, ulangi pengukuran kadar gula darah
dan tangani sesuai keadaan (hipotermia dan
hipoglikemia)

1
2
MENCEGAH
HIPOGLIKEMIA
1. Beri F-75 sesegera mungkin,
berikan setiap 2 jam selama 24 jam
pertama (siang dan malam).
2. Pemberian formula dalam jumlah
kecil dan sering untuk menghindari
beban berlebih pada usus, hati dan
ginjal
3. Menjaga balita tetap hangat.
4. Beri antibiotik sesuai protokol
5. Pantau tanda vital 1
3
Langkah 2: Mencegah dan mengatasi
hipotermia
• Hipotermia: suhu aksilar < 36⁰C.
• Biasanya terjadi bersama dgn hipoglikemia.
• Hipotermia + hipoglikemia merupakan tanda
adanya infeksi sistemik serius, sehingga harus
dilakukan terapi ketiganya (hipotermia +
hipoglikemia + infeksi)
• Cadangan energi anak gizi buruk sangat
terbatas, sehingga tidak mampu
memproduksi panas untuk
mempertahankan suhu tubuh

1
4
Tatalaksana dan mencegah hipotermia
Mencegah Tatalaksana hipothermia
1. Tindakan:
1.Pastikan seluruh tubuh, • Teknik Kangaroo (kontak kulit ibu-anak)
termasuk kepala tertutup • Pemanasan dengan lampu: jarak 50
pakaian dan diselimuti. cm dari anak.
2.Jaga ruangan perawatan tetap • Bila memungkinkan, anak tidur
dipeluk
hangat atau letakkan tempat ibu/pengasuh
tidur di area yang hangat, di 2. Ganti pakaian dan seprei yang basah,
bagian bangsal yang bebas angin. jaga agar anak dan tempat tidur tetap
3.Hindarkan anak dari kering.
paparan dingin (misalnya: 3. Pastikan seluruh tubuh, termasuk kepala
sewaktu/setelah mandi, selama tertutup pakaian dan diselimuti.
pemeriksaan). 4. Jaga ruangan perawatan tetap hangat atau
4.Ganti pakaian dan seprei letakkan tempat tidur di area yang hangat,
yang basah, jaga agar anak di bagian bangsal yang bebas angin.
dan tempat tidur tetap kering.
Hindari penggunaan botol air panas dan lampu
neon/TL.

Penceg n dan Tata Laksana Gizi Buruk pada Balita


aha
Langkah 3: Mencegah dan
mengatasi dehidrasi
Hati-hati dalam menegakkan
diagnosis dan derajat dehidrasi pada
balita gizi buruk.

Banyak tanda dan gejala dehidrasi


pada balita gizi baik tidak dapat
diterapkan secara akurat untuk
menegakkan diagnosis dan derajat
dehidrasi pada balita gizi buruk.
1
6
TANDA DEHIDRASI:
turgor menurun

Cubit selama 1 detik


dan lepaskan: Belum
balik > 2 detik  turgor


1
7
TANDA DEHIDRASI

mata
cekung
(“Sunken
Eye’s”)

1
Pencegahan dan Tata Laksana Gizi 8
Langkah 3: Mencegah dan mengatasi
dehidrasi
• Semua balita gizi buruk dengan
diare/penurunan jumlah urin dianggap
mengalami dehidrasi ringan.
• Hipovolemia dapat terjadi bersamaan
dengan adanya edema.

• Beri ReSoMal :
- dehidrasi (-) : balita < 2 thn : 50 -
100 ml setiap diare balita > 2 thn :
100-200 ml setiap diare
- dehidrasi (+) : rencana terapi sesuai
kondisi 1
9
Langkah 4:
Memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit
• Sebaiknya rehidrasi balita gizi buruk dilakukan secara oral.
• Hindari pemberian cairan IV kecuali pada kondisi syok.
• Umumnya, balita gizi buruk mengalami gangguan keseimbangan
elektrolit, yaitu kekurangan kalium dan kadar natrium tinggi,
sehingga rehidrasi pada balita gizi buruk tidak cocok
menggunakan cairan oralit yang biasa digunakan pada balita
gizi baik.
• Beri ReSoMal (Rehydration Solution for Malnutrition). ReSoMal dapat
dibuat dari cairan oralit standar dengan menambahkan mineral mix
dan glukosa/gula

Hindari menggunakan infus pada anak gizi buruk.


Jumlah cairan yang masuk ke tubuh anak gizi buruk
harus
diperhitungkan dan jangan berlebihan
2
0
Langkah 5: Mengobati infeksi
Tatalaksana
•Berikan kepada semua balita gizi buruk antibiotika
dengan spektrum luas.
•Imunisasi campak jika balita berusia ≥ 6 bulan dan
belum pernah diimunisasi atau mendapatkan imunisasi
campak sebelum usia 9 bulan. Imunisasi ditunda bila
balita dalam keadaan syok

Imunisasi termasuk imunisasi campak


pada gizi buruk diberikan sebelum
anak pulang dari perawatan (pada fase
rehabilitasi)
2
1
Pemberian antibiotika
KONDISI TATALAKSANA
Tanpa komplikasi Amoksisilin (15 mg/kg per oral setiap 8 jam)
selama 5 hari.
Dengan Berikan antibiotika parenteral (IM/IV) :
komplikasi Ampisilin (50 mg/kg IM Ditambah :
(hipoglikemia, atau IV setiap 6 jam) Gentamisin (7.5
hipotermia, selama 2 hari, mg/kg IM atau
penurunan dilanjutkan Amoksisilin IV) sehari sekali
kesadaran/ oral (15 mg/kg setiap 8 selama 7 hari14.
letargi, atau jam selama 5 hari);
terlihat sakit)
atau
komplikasi
lainnya

Pemilihan jenis antibiotika juga disesuaikan dengan pola resistensi


kuman setempat.
Penyakit infeksi (seperti malaria, meningitis, TB dan HIV) diberikan 5
Pencegahan dan Tata Laksana Gizi
terapi sesuai dengan standar terapi yang berlaku. 5
Langkah 6: Memperbaiki kekurangan zat gizi mikro
• Semua anak Balita gizi buruk mengalami
defisiensi vitamin dan mineral.
• Jika anak Balita gizi buruk mendapat mendapat
RUTF (dengan komposisi sesuai dengan
rekomendasi WHO), tidak perlu diberikan
suplementasi zat gizi mikro. Suplementasi
Vitamin A tetap diberikan bila ada tanda- tanda
defisiensi Vitamin A atau menderita campak
dalam 3 bulan terakhir.
• Jika anak Balita gizi buruk diberikan F75 dan
F100 yang dibuat sendiri, maka suplementasi
zat gizi mikro diberikan seperti penjelasan
pada Rawat Jalan.

2
3
Suplementasi zat gizi mikro
Vitamin A
Tanda defisiensi vitamin A atau riwayat
campak dalam 3
bulan terakhir
Tidak Ya
Bila dengan Tidak diberikan Vitamin A
RUTF suplementasi dosis tinggi
Vitamin A dosis sesuai umur (3
tinggi. kali)
Bila dengan Hari ke-1, ke-2
Vitamin A dosis
F75 atau F100 dan ke-15).
tinggi (1 x) - hari ke-
1 sesuai umur.

Jika tidak tersedia kapsul Vitamin A dosis


tinggi dapat diberikan Vitamin A dosis 5000 SI
per hari selama proses pemulihan. 2
4
Suplementasi zat gizi mikro

Asam Folat Multivitami


n
Bila dengan
RUTF Tidak perlu diberikan karena
RUTF sudah mengandung
vitamin dan mineral dengan
jumlah yang cukup.
Bila 5 mg pada hari Vitamin C dan
dengan pertama, dan vitamin B
F75 atau selanjutnya 1 kompleks
F100 mg/hari

2
5
Langkah 7: Memberikan makanan
untuk fase stabilisasi dan transisi
Langkah 7:
Pada anak usia < 6 bulan

1. Ada kemungkinan pemberian ASI


• Bayi masih mendapat ASI tapi kurang gizi;
• Bayi sudah tidak mendapat ASI tetapi ibu masih ingin
menyusui;
• Bayi sudah berhenti menyusu (misalnya: ibu meninggal),
tetapi ada ibu pesusuan yang dapat memberikan ASI.

2. TIDAK ada kemungkinan pemberian ASI:


• Bayi tidak pernah mendapat ASI dan ibu tidak mau mencoba
relaktasi;
• Bayi sudah berhenti menyusu dan ibu tidak mau relaktasi,
• Tidak ada ibu dan ibu pesusuan.

7
6
Langkah 8: Memberikan makanan untuk
tumbuh kejar anak usia 6 – 59 bulan

Fase Rehabilitasi
Pada fase rehabilitasi terjadi replesi (pemulihan)
jaringan tubuh sehingga diperlukan energi dan
protein yang cukup, sbb:
 Energi : 150 – 220 Kkal/kgBB/hari
 Protein : 4 – 6 g/kgBB/hari
 Cairan : 150 – 200 ml/kgBB/hari
 lemak minimal 40 % total energi
Fase rehabilitasi dapat dilakukan di rawat jalan
atau tetap rawat inap. Bila masih menyusui, ASI
tetap diberikan sebagai tambahan.
Pencegahan dan Tata Laksana Gizi 6
Buruk pada Balita 7
Ready to Use
Therapeutic
Food (RUTF)

Setiap bungkus mengandung 90


g - 500 kcal
2
9
Langkah 9: Memberikan stimulasi
untuk tumbuh kembang
• Balita gizi buruk mengalami keterlambatan perkembangan
mental dan perilaku.
• Keterlibatan keluarga terutama ibu sangat
diperlukan dalam memberikan stimulasi untuk
tumbuh kembang anak
• Stimulasi diberikan secara bertahap dan berkelanjutan
sesuai umur anak terhadap empat aspek kemampuan dasar
anak:
• gerak kasar
• gerak halus
• bicara dan bahasa
• sosialisasi dan kemandirian
• Stimulasi terstruktur selama 15 – 30 menit/hari 3
0
Langkah 10: Mempersiapkan untuk
tindak lanjut di rumah
 Persiapan dilakukan sejak anak dalam perawatan baik di layanan
rawat inap atau di layanan rawat jalan.
 Bila di layanan rawat inap, maka libatkan ibu/pengasuh dalam
kegiatan merawat anaknya, seperti dalam pemberian formula.
 Berikan konseling mengenai pola pemberian makan balita gizi
buruk dan stimulasi tumbuh kembang.
 Anjurkan untuk kontrol teratur setelah pulang sesuai dengan
protokol layanan rawat jalan (Materi Inti 4).
 Melengkapi imunisasi dasar ataupun ulangan sesuai program PPI
(Program Pengembangan Imunisasi).

3
1
Pemulihan anak gizi buruk memerlukan waktu kurang
lebih 6 bulan

Perawatan di layanan rawat inap dapat


dilakukan sampai anak mencapai kondisi:
• Tidak ada komplikasi medis
• Edema berkurang
• Nafsu makan baik
Tanpa melihat status gizi berdasarkan indeks
antropometri

Pemulihan gizi hingga BB/PB atau BB/TB > -2 SD


dan/atau LiLA ≥ 12,5 cm dan tanpa edema bilateral
dapat tetap dilanjutkan di layanan rawat jalan.

Bila tidak tersedia layanan rawat jalan, maka pemulihan


gizi hingga sembuh dilakukan di layanan rawat inap.
3
2
Keluar rawat jalan
No. KATEGORI Penjelasan dari hasil

1 Sembuh Telah mencapai kriteria untuk keluar

2 Drop Out Absen pada 2 kunjungan berturut-turut ( 2


minggu)

3 Tidak sembuh Tidak mencapai kriteria sembuh setelah 4


bulan perawatan

4 Meninggal Meninggal dalam menjalani rawat jalan

5 Pindah dari layanan rawat Pindah ke rawat inap


jalan ke rawat inap

6 Pindah ke faskes lain Pindah ke faskes lain


Tiga Tanda bahaya dan Tanda
penting
RENJATAN ( crt > 3 detik)

LETARGIS

DIARE &/ muntah &/ dehidrasi


Lima Kondisi Klinis Balita Gizi Buruk
Berdasarkan 3 tanda bahaya dan tanda penting terdapat
5 kondisi klinis yang tata laksananya mengacu pada
10 langkah tata laksana gizi buruk pada
balita Bahaya dan
Tanda Kondisi Klinis
Tanda I II III IV V
Penting

Renjatan + - - - -
Letargis + + - + -
Diare/muntah dengan + + + - -
atau tanpa
dehidrasi
Pencegahan dan Tatalaksana Gizi
Buruk Pada Balita 3
Perawatan dan Pengobatan Balita Gizi Buruk pada
Fase Stabilisasi Sesuai dengan 5 (lima) Kondisi Klinis
Tindakan pada fase stabilisasi disesuaikan dengan kondisi
klinis balita yaitu:
a. rencana I untuk kondisi klinis 1
b. rencana II untuk kondisi klinis 2
c. rencana III untuk kondisi klinis 3
d. rencana IV untuk kondisi klinis 4
e. rencana V untuk kondisi klinis 5
Tindakan pada ke-5 kondisi klinis tersebut berbeda, khususnya
dalam hal mengatasi kegawatdaruratan serta dalam
pemberian cairan dan makanan/formula
Penyakit Penyerta
1. ISPA / Pneumonia
2. Diare Persisten
3. Kecacingan
4. Tuberkulosis
5. Malaria
6. HIV/AIDS
7. Gangguan Pada mata akibat kekurangan Vitamin A
8. Dermatosis
9. Anemia
Kriteria pindah ke layanan rawat jalan

1 Kondisi klinis baik, bayi sadar dan tidak ada komplikasi medis

2 Tidak ada edema

Kenaikan berat badan minimal 20 g/hari atau > 5g/KgBB/ hari


3 selama 5 hari berturut-turut
4 Ibu dan bayi mendapatkan akses ke pelayanan rawat jalan

5 Ibu sudah mendapat konseling menyusui dan gizi seimbang


untuk ibu menyusui (untuk bayi yang mendapat ASI Ekskusif).

Ibu sudah mendapat konseling cara penyiapan dan pemberian


formula
serta pemberian makan sesuai umur.
7
Ibu/pengasuh dan keluarga dapat mengakses susu formula untuk terapi
gizi secara berkelanjutan (untuk bayi yang tidak mendapat ASI).
5
Pencegahan dan Tatalaksana Gizi 9
Buruk Pada Balita
Kriteria sembuh/selesai perawatan/ keluar dari
semua layanan gizi buruk

1 Kondisi klinis baik, balita


sadar dan tidak ada
2 komplikasi medis.
3 Kenaikan berat

4 badan cukup. Tidak


ada edema
BB/PB ≥ -2 SD
6
Pencegahan dan Tatalaksana Gizi 0
Buruk Pada Balita
Kriteria gagalnya perawatan balita gizi
buruk
Kriteria Hari setelah ditangani di
layanan rawat inap
Nafsu makan belum 4 – 7 hari
pulih
Edema tidak 4 – 7 hari
berkurang
Edema masih ada 10 hari
Berat badan gagal selama 3 hari berturut-turut
naik < 5 gr/kg BB/hari pada fase
rehabilitasi
Pencegahan dan Tatalaksana Gizi 6
Buruk Pada Balita 8
Keluar dari layanan rawat Sembuh
inap ke
rawat jalan
Selama 2 minggu berturut-turut
mempunyai kondisi :
 Tidak ada komplikasi  LiLA ≥ 12.5cm
medis, dan (hijau) dan/atau
 Edema berkurang, dan Skor-Z
BB/PB(BB/TB) ≥
 Nafsu makan baik, dan -2 SD
 Secara klinis baik.  Tidak ada edema,
 Klinis baik

7
Pencegahan dan Tatalaksana Gizi 0
RUTF
Terima kasih