Anda di halaman 1dari 4

Review Kuliah : PENGENDALIAN

LIMBAH INDUSTRI
Posted on March 28, 2010 by wiedy yangessa
oleh Wiedy Yang Essa- 25309044
Magister Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung

Permasalahan apa yang timbul apabila tidak dilakukan pengelolaan lingkungan


terhadap PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap)?
PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) sebagai penyuplai energi listrik untuk masyakat dan
Negara saat ini mulai dikembangkan oleh pemerintah Indonesia, mengingat kebutuhan akan
listrik cenderung meningkat dari tahun ke tahun. PLTU merupakan unit pemasok energi yang
bahan bakarnya berasal dari batu bara. Indonesia adalah salah satu negeri yang memiliki
sumber daya batu bara yang melimpah, oleh karena itu sistem ini feasible untuk dilakukan.
Selain itu biaya operasional penggunaan batu bara paling murah dibandingkan dengan sistem
pembangkit listrik lainnya.
Batu bara merupakan bahan tambang yang berasal dari fosil makhluk hidup jutaan tahun
yang lalu, yang berarti bahwa batu bara ini bersifat organik. Terdapat dua jenis batu bara,
yaitu yang berkualitas baik, dimana akan sedikit sekali menghasilkan unsur berbahaya
sehingga tidak mencemari lingkungan. Kemudian batu bara yang berkualitas rendah, maka
akan menghasilkan berbagai macam unsur berbahaya yang dapat mencemari lingkungan,
seperti gas Sulfur, Nitrogen dan Sodium. Inilah permasalahan yang banyak terjadi di
Indonesia akibat dari pemanfaatan batu bara. Dan pula jika pembakaran pada batu bara
tersebut tidak sempurna, akan menghasilkan gas beracun CO (karbon monoksida).
Batu bara digunakan dalam PLTU dengan cara dibakar dalam suatu ruang pembakaran boiler.
Dari proses pembakaran ini akan dihasilkan pencemar udara dan padat, yaitu gas SOx
(sulphur oksida), NOx (nitrogen oksida), CO2 (karbon dioksida), dan CO (karbon
monoksida), serta limbah padat berupa debu (bottom ash) dan partikulat logam berat seperrti
SiO2 (silikat).
Permasalahan yang terjadi apabila PLTU tidak dikelola dengan baik:
1. Hujan Asam
Hujan asam terutama terjadi diakibatkan karena tingginya gas sulphur oksida dan nitrogen
oksida (Peavy,et al,1985).Gas SOx dan NOx akan bereaksi dengan uap air yang terdapat
dalam atmosfer dan mengalami oksidasi. Oksidasi gas SOx akan menghasilkan H2S, HSO3
dan H2SO4 yang bersifat asam kuat, sedangkan oksidasi gas NOx akan menghasilkn asam
nitrat (HNO3) sehingga menurunkan nilai pH air hujan sampai mencapai nilai 2 dan 3
(Sawyer, 1978) (lihat Gambar.1). Pengaruh hujan asam adalah asidifikasi (pengasaman) yang

mengakibatkan : Terganggunya kesetimbangan ion pada banyak organisme akuatik, sehingga


akan menyebabkan kematian organisme akuatik; Meningkatkan kadar logam, karena
pengasaman akan melarutkan banyak logam di perairan, misalnya merkuri dan aluminium;
Menjadikan terganggunya siklus nutrient ; Mengganggu proses dekomposisi, karena akan
mengubah komposisi mikroba ; mengakibatkan penurunan alga yang hidup di perairan;
merusak bangunan karena mengakibatkan pengkaratan, dan lain-lain.
2. Green House Effect
CO2 yang dihasilkan dari PLTU dapat menyebabkan efek rumah kaca, karena kumpulan gas
tersebut akan menyelubungi permukaan bumi. Oleh karena itu, cahaya matahari yang masuk
ke bumi tidak dapat lagi dipantulkan ke angkasa, sebab terperangkap di dalam bumi. Bumi
diibaratkan seperti rumah kaca (Green House), seolah-olah diselubungi kaca yang berupa gas
pencemar yang memerangkap panas. Akibatnya, suhu bumi semakin meningkat secara global
(Effendi, 2003).
3. Penyakit pada Manusia
PLTU menghasilkan berbagai limbah partikulat dan debu,seperti fly ash, debu silikat, oksida
besi, dan lain sebagainya. Limbah tersebut dapat menyebabkan gangguan dan penyakit
pernapasan pada manusia, contohnya adalah Pneumoconiosis, atau penyakit pengerasan paruparu, sehingga tidak dapat mengembang dan mengempis secara normal. Selain itu, limbah
radioaktif dari PLTU juga dapat mengganggu organ tubuh manusia, karena umumnya bersifat
karsinogen.
4. Kerusakan Biota
Logam-logam berat seperti Pb, Hg, Ar, Ni, Se juga dihasilkan oleh PLTU. Logam berat ini
apabila terakumulasi di perairan dapat menyebabkan kematian organisma, terutama bila
logam tersebut tersuspensi dalam air limbah yang dibuang oleh PLTU dan kemudian menuju
laut, maka akan mencemari biota di laut lebih luas lagi.
Apa teknologi spesifik yang digunakan untuk pengelolaan PLTU berbahan bakar
batu bara dan apa yang telah diterapkan di Indonesia?
Dalam melakukan pengelolaan lingkungan di PLTU berbahan bakar batu bara, harus lah
bersifat komprehensif, dengan melakukan pengendalian pada seluruh aspek , yaitu ditinjau
dari karakteristik limbah yang dikeluarkan, antara lain:
1. Pengelolaan Limbah Padat dan Gas
a. Best Practice Sistim pembakaran batu bara bersih Pembakaran Lapisan
Mengambang /Fluidized Bed Combustion (FBC) di PLTU Tarahan Indonesia
Prinsip kerja PLTU adalah batu bara yang akan digunakan/dipakai dibakar di dalam boiler
secara bertingkat. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh laju pembakaran yang rendah dan
tanpa mengurangi suhu yang diperlukan sehingga diperoleh pembentukan NOx yang rendah.
Bila suhu pembakaran pada Bioler biasa adalah sekitar 1400 1500, maka dengan
menggunakan FBC, suhu pembakaran berkisar antara 850 900 saja sehingga
kadar thermal NOx yang timbul dapat ditekan. Proses pembakaran suhunya lebih rendah

sehingga NOx yang dihasilkan kadarnya menjadi rendah, dengan demikian sistim
pembakaran ini bisa mengurangi polutan. Bila ke dalam tungku boiler dimasukkan kapur
(Ca) dan dari dasar tungku yang bersuhu 750 950oC dimasukkan udara, akibatnya terbentuk
lapisan mengambang yang membakar. Pada lapisan itu terjadi reaksi kimia yang
menyebabkan sulfur terikat dengan kapur sehingga dihasilkan CaSO4 yang berupa debu
sehingga mudah jatuh bersama abu sisa pembakaran. Hal inilah yang menyebabkan
terjadinya pengurangan emisi sampai 98% dan abu CaSO4-nya bisa dimanfaatkan.
Keuntungan sistim pembakaran ini adalah bisa menggunakan batu bara bermutu rendah
dengan kadar belerang yang tinggi, dan banyak ditemukan di Indonesia (Anonim5, 2009).
b. Electrostatic Precipitator
Electrostatic Precipitator (ESP) adalah salah satu alternatif penangkap debu dengan effisiensi
tinggi (mencapai diatas 90%) dan rentang partikel yang didapat cukup besar. Dengan
menggunakan electrostatic precipitator (ESP) ini, jumlah limbah debu yang keluar dari
cerobong diharapkan hanya sekitar 0,16 % (efektifitas penangkapan debu mencapai
99,84%). Alat ini sudah digunakan di PLTU di Indonesia. Cara kerja dari electrostatic
precipitator (ESP) adalah (1) melewatkan gas buang (flue gas) melalui suatu medan listrik
yang terbentuk antara discharge electrode dengan collector plate, flue gas yang mengandung
butiran debu pada awalnya bermuatan netral dan pada saat melewati medan listrik, partikel
debu tersebut akan terionisasi sehingga partikel debu tersebut menjadi bermuatan negative.
(2) Partikel debu yang sekarang bermuatan negatif (-) kemudian menempel pada pelat-pelat
pengumpul (collector plate).Kemudian debu yang dikumpulkan di collector plate
dipindahkan kembali secara periodik dari collector plate melalui suatu getaran (rapping).
Debu ini kemudian jatuh ke bak penampung (ash hopper)
FGD (Flue Gas Desulfurization)
FGD (Flue Gas Desulfurization) adalah alat yang berguna untuk
menghilangkan/mereduksi Sulfur Dioksida (SO2) dari flue gas (gas buang) hasil
pembakaran batubara PLTU.
Hasil samping proses FGD disebut gipsum sintetis karena memiliki senyawa kimia yang
sama dengan gipsum alam. Gipsum tersebut dapat digunakan untuk bahan bangunan. Reaksi
pembentukan asam pada FGD adalah sebagai berikut:
SO2 (gas) + H2O + O2 (gas) SO42- (solid) + 2H+
HCO3 + H+ H2O + CO2 (gas)
d. Reuse and Recycle Material
Contoh limbah padat yang dihasilkan dari PLTU batu bara adalah fly bottom ash yang masih
mengandung fixed carbon, sehingga apabila tidak dikelola dengan baik akan menghasilkan
gas metana. Partikulat ini dapat di recycle untuk industri semen sebagai pengganti batuan
trass yang bersifat pozzolanic untuk pembuatan semen tahan asam (PPC)
2. Pengelolaan Limbah Cair

Best Practices Waste Water Treatment Plant (WWTP) di PLTU Tanjung Jati
Indonesia.
Limbah cair keluaran dari PLTU TJB berasal dari beberapa tempat antara lain air sisa boiler
(Boiler Blowdown), air sublimasi dari FGD (FGD Blowdown), air limpasan hujan di kolam
abu (Ash Run Off) dan air limpasan hujan di penampungan batu bara (Coal Run Off). Air
tersebut dialirkan untuk diolah dalam WWTP yang sebelumnya disimpan sementara dalam
kolam retensi. Di sini air yang masih mengandung material berbahaya diolah dalam beberapa
proses antara lain, netralisasi dan sedimentasi.
Tahapan proses yang terjadi adalah
Netralisasi yaitu proses penyesuaian pH air limbah. pH air limbah harus disesuaikan dengan
kondisi ideal ekosistem biota laut yakni antara 6-9. Air limbah dengan kadar pH yang masih
berbahaya dicampurkan dengan senyawa lain agar menjadi lebih ramah lingkungan.
Flokulasi yaitu proses penggumpalan bahan-bahan terlarut sehingga mudah untuk
diendapkan.Setelah mengendap, endapan tersebut dipadatkan. Padatan itu kemudian
ditempatkan di Kolam Abu. Kolam Abu ini dilapisi oleh plastik dengan tingkat kekedapan air
yang amat tinggi sehingga menutup kemungkinan limbah berbahaya di atasnya dapat terserap
ke dalam tanah. Semua proses tersebut mengubah material berbahaya menjadi material yang
bersahabat dengan lingkungan