Anda di halaman 1dari 22

LABORATORIUM PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2015/2016

PRAKTIKUM PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI


MODUL

: Digester Anaerobik

PEMBIMBING

: Herawati Budiastuti, Ph.D

Praktikum

: 21 Desember 2015

Penyerahan

: 04 Januari 2016

(Laporan)
Oleh :
Kelompok

: II (Dua)

Nama

: 1. Rizwan Firzatulloh

Kelas

131411049

2. Sidna Kosim Amrulah

131411052

3. Wina Septiyanti

131411056

4. Rahmi Harlen F

131411060

: 3B

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dengan semakin bertambah dan meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia dengan segala
aktivitas dan kegiatan yang dilakukan, maka jumlah limbah yang dihasilkan pun sebanding
dengan peningkatan tersebut. Dari berbagai aktivitas tersebut manusia dapat menghasilkan
limbah padat, gas dan khususnya limbah cair. Pada umumnya limbah cair yang dihasilkan dari
berbagai macam sektor, baik rumah tangga (domestik), industri, pertokoan dan lain sebagainya
langsung dibuang ke badan air. Akan tetapi, kondisi lingkungan untuk saat ini tidak
mendukung hal tersebut. Karena limbah cair yang dihasilkan mengandung bahan yang tidak
dapat diuraikan oleh lingkungan. Sehingga perlu dilakukan proses pengolahan terlebih dahulu
sebelum limbah cair tersebut dibuang ke badan air hingga tercapai baku mutu yang telah
ditetapkan.
Proses pengolahan limbah cair dapat dilakukan dengan berbagai macam cara sesuai
kebutuhan dan kandungan yang ada dalam limbah cair itu sendiri. Salah satu proses pengolahan
yang dapat dilakukan adalah dengan proses pengolahan secara anaerobik. Proses ini dilakukan
untuk mengolah limbah cair yang mempunyai konsentrasi kandungan organik (Chemical
Oxygen Demand / COD) yang tinggi, yaitu lebih dari 2000 mg/L. Selain itu proses anaerob ini
juga mempunyai keunggulan diantaranya adalah menghasilkan biogas (CH4) sebagai
produknya. Biogas yang dihasilkan ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber energy untuk
memenuhi kebutuhan energi yang semakin meningkat. Sedangkan kendala dalam melakukan
proses anaerob diantaranya yaitu pada proses pertumbuhan mikroorganisme yang lambat,
sehingga membutuhkan waktu start-up yang lebih lama juga.

1.2 Tujuan
a. Menentukan konsentrasi kandungan organik (COD) influen, efluen reaktor 1 dan 2.
b. Menentukan kandungan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS) yang
mewakili kandungan mikroorganisme dalam reaktor.
c. Menghitung efisiensi pengolahan dengan cara menentukan persen (%) kandungan bahan
organik dalam reaktor terhadap kandungan bahan organik mula-mula.
d. Menentukan total gas yang terbentuk pada reaktor.

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pengolahan Limbah Cair secara anaerob
Pengolahan air limbah secara anaerob merupakan pengolahan air limbah dengan
mikroorganisme tanpa injeksi udara/oksigen kedalam proses pengolahan. Pengolahan air limbah
secara anaerob bertujuan untuk merombak bahan organik dalam air limbah menjadi bahan yang
lebih sederhana yang tidak berbahaya. Disamping itu pada proses pengolahan secara anaerob
akan menghasilkan gas-gas seperti gas CH4 dan CO2. Proses ini dapat diaplikasikan untuk air
limbah organik dengan beban bahan organik (COD) yang tinggi.
Limbah cair yang mengadung bahan organik tinggi diperlukan suatu pengolahan yang tepat
dengan memanfaatkan mikroorganisme. Mikroorganisme ini dikondisikan secara anaerob
sehingga dapat hidup dan tumbuh di lingkungan tanpa adanya oksigen sehingga aktivitas
mikroorganisme dapat berjalan secara optimal untuk mendegradasi bahan organik yang ada
dalam suatu limbah cair. Mikroorganisme tersebut dapat menkonversi bahan organik primer atau
sekunder menjadi gas. Gas yang terbentuk mengandung berbagai macam zat, diantaranya adalah
gas CH4 (biogas) yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. (Indriyati, 2005)
Pada proses pengolahan secara biologi anaerob terjadi empat (4) tahapan proses yang terlibat
diantaranya:
1. Proses hidrolisis: suatu proses yang memecah molekul organic komplek menjadi molekul
organic yang sederhana
2. Proses Acidogenisis: suatu proses yang merubah molekul organic sederhana menjadi asam
lemak
3. Proses Asetogenisis: suatu proses yang merubah asam lemak menjadi asam asetat dan
terbentuk gas-gas seperti gas H2, CO2, NH4 dan S
4. Proses Metanogenisis: suatu proses yang merubah asam asetat dan gas-gas yang dihasilkan
pada proses acetogenisis menjadi gas methane CH4 dan CO2.
Keempat proses tersebut terjadi secara berurutan dan dapat digambarkan seperti berikut:

Gambar 2.1 Skema Tahapan Proses Anaerobik


Sumber : Mes, T.Z.D, dkk. 2003. (dalam Muti, 2014. www.airlimbah.com/2014/03/prosesanaerob/)
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam operasional pengolahan air limbah secara
anaerob ini adalah:
1) Laju alir air limbah masuk, laju alir air limbah yang masuk perlu dilakukan pengendalian
agar waktu kontak antara air limbah dan mikroorganisme terpenuhi, laju alir air limbah yang
terlalu besar dapat mengakibatkan lepasnya mikroorganisme yang telah melekat pada media
porous
2) Bahan media porous, bahan media yang dipergunakan harus porous agar mikroorganisme
dapat melekat dengan kuat dan tidak mudah lepas akibat aliran air limbah
3) Penyusunan media porous, penyusunan media porous akan mempengaruhi waktu kontak
antara air limbah dan mikroorganisme. Media porous disusun sedemikian rupa sehingga
dapat memberikan waktu kontak yang agak lama.

Berdasarkan model pertumbuhan mikroorganisme, pengolahan air limbah secara anaerob


dibagi menjadi 2 (dua) model yaitu:
1) Model Pertumbuhan Mikroorganisme Tersuspensi
Model pertumbuhan mikroorganisme tersuspensi, yaitu suatu model pertumbuhan
mikroorganisme yang tersuspensi (tercampur merata) didalam air limbah. Model pertumbuhan
mikroorganisme tersuspensi pada pengolahan air limbah secara biologi anaerob seperti gambar
berikut:

Gambar 2.2 Tangki Digester


Sumber : Mes, T.Z.D, dkk. 2003. (dalam Muti, 2014. www.airlimbah.com/2014/03/proses-anaerob/)

Tangki digester (anaerobic reactor) dilengkapi dengan pengaduk yang bertujuan untuk
mensuspensikan mikroorganisme dalam digester. Pada bagian atas tangki terdapat lubang agar
manusia bisa masuk kedalam tangki digester untuk pemeliharaan dan juga lubang kecil untuk
pengukuran tekanan didalam tangki digester. Operasional pengolahan air limbah secara anaerob
seperti terlihat dalam gambar berikut:

Gambar 2.3 Operasional Pengolahan Air secara Anaerob (Sumber: Mahfudz, 2013)

Operasional instalasi pengolahan air limbah secara anaerob dengan model pertumbuhan
mikroorganisme tersuspensi dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pembiakan mikroorganisme dalam tangki digester, dan lakukan pengadukan agar
mikroorganisme tersuspensi
Alirkan air limbah kedalam tangki digester, besarnya aliran air limbah diatur sesuai
dengan waktu tiinggal dalam tangki digester
Pada proses pengolahan secara biologi anaerob akan dihasilkan gas-gas seperti CH4,
CO2 dan NH3, gas-gas ini akan memberikan tekanan pada tangki yang dapat
mengakibatkan pecahnya tangki digester akibat tekanan gas. Dalam rangka mengatasi
tekanan gas-gas tersebut, maka dibutuhkan pengeluaran gas-gas tersebut secara kontinyu
Air limbah yang telah diolah, dialirkan kedalam tangki clarifier yang bertujuan untuk
memisahkan antara air limbah hasil pengolahan dengan mikroorganismenya, air limbah
hasil pengolahan mengalir secara over flow dari bagian atas tangki clarifier sedangkan
mikroorganisme yang mengendap pada tangki clarifier dipompa dan dialirkan kembali
kedalam tangki digester.

Proses pengolahan dengan metode anaerobik digester dapat dioperasikan dengan multi-stage
process yaitu dua (2) atau empat (4) tahapan tergantung pada hasil pengolahan yang akan dicapai
dan besarnya bahan organik dalam air limbah.

2) Model Pertumbuhan Mikroorganisme Melekat


Model

pertumbuhan

mikroorganisme

melekat

yaitu

suatu

model

pertumbuhan

mikroorganisme yang melekat pada suatu media porous. Operasional instalasi pengolahan air
limbah secara biologi anaerob dengan model pertumbuhan mikroorganisme melekat seperti
berikut :
Pembiakan mikroorganisme dalam media trickling fliter, pembiakan mikroorganisme
dilakukan dengan mengalirkan mikroorganisme kedalam trickiling filter melalui
distributor, mikroorganisme akan mengalir dari bagian atas kebawah dan menempel pada
media porous, setelah mencapai ketebalan tertentu dan merata pada media porous aliran
mikroorganisme dihentikan.
Alirkan air limbah kedalam trickling filter melalui distributor, pastikan aliran air limbah
mengenai media porous secara merata agar terjadi kontak antara air limbah dengan
mikroorganismenya.
Air limbah yang telah berkontak dengan mikroorganisme akan keluar melalui bagian
bawah trickling filter, aliran air akan mengandung mikroorganisme dalam jumlah yang
kecil, mikroorganisme ini dipisahkan dalam tangki clarifier dan dialirkan kembali ke
dalam trickling filter, sedangkan air limbah hasil pengolahan akan mengalir secara over
flow dari bagian atas tangki clarifier.
Pada proses pengolahan secara biologi anaerob akan dihasilkan gas-gas seperti CH4,
CO2, NH3, gas-gas ini dikeluarkan dari bagian atas tangki trickling filter.
Gas-gas yang dihasilkan pada pengolahan air limbah secara biologi anaerob seperti CH4
dan CO2 dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar.

2.2 Perbedaan Proses Pengolahan Limbah Cair secara Aerob dan Anaerob

Gambar 2.4 Pengolahan Limbah Cair secara Anaerob

Pada pengolahan air limbah secara anaerob, bahan organik (COD) dikonversi menghasil
90% menjadi gas CH4, CO2 serta 10% lumpur. Gas-gas yang dihasilkan dapat dimurnikan
dengan proses absorbsi gas CO2, sehingga dihasilkan gas CH4 murni yang dapat dimanfaatkan
sebagai bahan bakar.

Gambar 2.5 Pengolahan Limbah Cair secara Aerob

Pada pengolahan air limbah secara biologi aerob, bahan organik (COD) dikonversi
menghasil 50% panas (gas CO2) dan 50% lumpur. Ini menunjukan pada pengolahan air limbah
secara anaerob akan menghasilkan lumpur jauh lebih kecil dibanding pengolahan secara biologi
aerob. Namun, waktu pengolahan air limbah secara anaerob lebih lama dibandingkan dengan
pengolahan air limbah secara biologi aerob.

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Anaerob


Lingkungan besar pengaruhnya pada laju pertumbuhan mikroorganisme baik pada proses
aerobik maupun anaerobik yaitu :
a. Temperatur
Pada proses anaerob, diperlukan temperatur yang lebih tinggi untuk mencapai laju reaksi yang
diperlukan. Bakteri akan menghasilkan enzim yang lebih banyak pada temperatur optimum.
Semakin tinggi temperatur reaksi juga akan semakin cepat tetapi bakteri akan semakin
berkurang.
Proses pembentukan metana bekerja pada rentang temperatur 30-40C, tapi dapat juga terjadi
pada temperatur rendah, 4C. Laju produksi gas akan naik 100-400% untuk setiap kenaikan
temperatur 12C pada rentang temperatur 4-65C.

b. pH (Keasaman) dan Alkalinitas


Proses anaerob yang memanfaatkan bakteri methanogen lebih sensitif pada pH dan bekerja
optimum pada kisaran pH 6,5 7,5. Sekurang-kurangnya, pH harus dijaga pada nilai 6,2 dan jika
konsentrasi sulfat cukup tinggi maka kisaran pH sebaiknya berada pada pH 7 8 untuk
menghindari keracunan H2S. Alkalinitas bikarbonat sebaiknya tersedia pada kisaran 2500 hingga
5000 mg/L untuk mengatasi peningkatan asam-asam volatil dengan menjaga penurunan pH
sekecil mungkin. Biasanya dilakukan penambahan bikarbonat ke dalam reaktor untuk
mengontrol pH dan alkalinitas.

c. Konsentrasi Substrat
Sel mikroorganisme mengandung Carbon, Nitrogen, Posfor dan Sulfur dengan perbandingan
100 : 10 : 1 : 1. Untuk pertumbuhan mikroorganisme, unsur-unsur di atas harus ada pada sumber
makanannya (substrat). Konsentrasi substrat dapat mempengaruhi proses kerja mikroorganisme.
Kondisi yang optimum dicapai jika jumlah mikroorganisme sebanding dengan konsentrasi
substrat.
Kandungan air dalam substart dan homogenitas sistem juga mempengaruhi proses kerja
mikroorganisme. Karena kandungan air yang tinggi akan memudahkan proses penguraian,
sedangkan homogenitas sistem membuat kontak antar mikroorganisme dengan substrat menjadi
lebih intim.
Dalam pengolahan air limbah secara anaerobik mempunyai kelebihan dan kekurangan bila
dibandingkan dengan proses pengolahan lainnya. Kelebihan pengolahan anaerob adalah efisiensi
yang tinggi, mudah dalam konstruksi dan pengoperasiannya, membutuhkan lahan/ruang yang
tidak luas, membutuhkan energi yang sidikit, menghasilkan lumpur yang sedikit, membutuhkan
nutrien dan kimia yang sedikit. Sedangkan kekurangan dari pada pengolahan anaerob:
penyisihan kandungan nutrient dan patogen yang rendah, membutuhkan waktu yang lama untuk
start-up, menimbulkan bau (Metcalf and Eddy, 2003).

2.2 MLVSS
Mixed-liqour volatile suspended solids (MLVSS). Porsi material organik pada MLSS
diwakili oleh MLVSS, yang berisi material organik bukan mikroba, mikroba hidup dan mati, dan

hancuran sel (Nelson dan Lawrence, 1980). MLVSS diukur dengan memanaskan terus sampel
filter yang telah kering pada 600 - 6500C, dan nilainya mendekati 65-75% dari MLSS.
Untuk menghitung MLVSS digunakan rumus sebagai berikut:

( )
)=
106

(
Keterangan:

c = Berat Cawan Pijar+Kertas Saring+Sampel setelah di Oven (gram)


d = Berat Cawan Pijar+Kertas Saring+Sampel setelah di Furnace (gram)
b = Berat Kertas Saring konstan (gram)
2.3 COD
Chemical oxygen Demand (COD) atau kebutuhan oksigen kimia merupakan jumlah oksigen
yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat- zat organik yang ada dalam sampel air atau banyaknya
oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat- zat organik menjadi CO2 dan H2O. Pada
reaksi ini hampir semua zat yaitu sekitar 85% dapat teroksidasi menjadi CO2 dan H2O dalam
suasana asam, sedangkan penguraian secara biologi (BOD) tidak semua zat organik dapat
diuraikan oleh bakteri. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat- zat organik
yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis, dan mengakibatkan
berkurangnya oksigen terlarut didalam air .
Untuk menghitung nilai COD digunakan rumus berikut::
(

( ) 1000

)=

Keterangan:
a = mL FAS untuk Blanko
b = mL FAS untuk sampel
Berat Ekivalen (BE) Oksigen = 8

BAB III
METODOLOGI PEERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
Tabel 3.1 Alat yang Digunakan
Nama
Spesifikasi

No

Jumlah

Buret

25 mL

1 buah

Cawan Porselin

30 mL

1 buah

Corong Poreselim

2 buah

Desikator

1 buah

Furnace

1 buah

Hack COD
Digester

1 set

Labu Erlenmeyer

250 mL

2 buah

Labu Takar

25 mL

1 buah

Neraca Analitik

1 buah

10

Oven

1 buah

11

Penjepit cawan

1 buah

12

Pompa

1 set

13

Statif dan Klem

1 set

14

Tabung Hach

3 buah

No

Tabel 3.2 Bahan yang digunakan


Nama
Spesifikasi

Asam Sulfat

Kalium Bikromat

Kertas Saring

Whatman

Larutan FAS

0,1405 N

Sampel Air Limbah

Jumlah

Pekat

2 buah

3.2 Gambar Alat alat yang digunakan

Peralatan Anaerobik
Digester diengkapi jaket

Peralatan Anaerobik Digester

Hach COD Digester

Dosimat untuk titrasi

Neraca Analitik

Oven

Desikator

Furnace

Tabung Hach

3.3 Prosedur Kerja


3.3.1 Penentuan Kandungan Organik (COD) dari sampel

Masukkan 1 mL sampel
ke dalam labu takar 25
mL, tambahkan aquades
hingga tanda batas.
Homogenkan larutan.

Masukkan 2,5 mL
sampel yang telah
diencerkan ke dalam
tabung Hach

Tambahkan 1,5 mL
pereaksi kalium
bikromat dan 3,5 mL
pereaksi sulfat ke dalam
tabung Hach

Masukkan tabung Hach


pada Hach COD
Digester dan panaskan
pada suhu 150 selama
dua jam

Keluarkan tabung Hach,


dinginkan, tambahkan 23 tetes indikator ferroin

Titrasi dengan larutan


FAS hingga larutan
berubah warna dari hijau
menjadi coklat

3.3.2 Penentuan Kandungan Mixed Liquor Volatile Susupended Solids (MLVSS)


Panaskan cawan pijar dalam
furnace selama satu jam
dengan suhu 600. Panaskan
kertas saring dalam oven
selama satu jam dengan suhu
105

Timbang berat cawan pijar (a)


dan kertas saring (b) hingga
konstan.

Saring 40 mL air limbah


dengan kertas saring yang
sudah diketahui beratnya

Masukan kertas saring


tersebut ke dalam cawan pijar,
lalu panaskan dalam oven
selama satu jam dengan suhu
105 oC

Timbang berat cawan pijar


yang berisi kertas saring dan
endapan hingga konstan (c)

Panaskan cawan pijar yang berisi


kertas saring dan endapan tersebut
dalam Furnace selama 2 jam dengan
suhu 600 oC, lalu timbang beratnya
hingga konstan (d)

BAB IV
Hasil dan Data pengamatan
4.1 Data Pengamatan

Titrasi
[(NH4)2Fe(SO4)2] = 0,25 N
Pengenceran

= 10 kali

1) Data Perhitungan COD


Tabel 5.1 Volume FAS yang digunakan untuk Titrasi

Reaktor 1
Reaktor 2

Blanko
(a)
0,75
0,45

Sampel
1 (b1)
0,75
0,5

Sampel
2 (b2)
0,55
0,3

Rata
rata
0.6
0.4

2) Data Perhitungan MLVSS


Tabel 5.2 Berat perhitungan MLVSS

Reaktor 1
Reaktor 2

a
33,6980
31,4062

b
1,1969
1,2075

c
d
35,1118 33,7012
32,8424 31,4077

Keterangan:
a = Berat Cawan Pijar Konstan (gram)
b = Berat Kertas Saring Konstan (gram)
c = Berat Cawan Pijar + Kertas Saring Setelah di Oven (gram)
d = Berat Cawan Pijar + Kertas Saring Setelah di Furnace (gram)
3) Data Tinggu Reaktor Digester
Tabel 5.3 Tinggi Reaktor Digester
Reaktor
Tinggi tabung kosong (cm)
1.75
1
2

20.4

4.2 Hasil Percobaan


Tabel 5.4 Hasil Perhitungan

Reaktor

COD awal
(influen)(mg
O2/l)

1
2

3270

COD akhir
(efluen) (mg O2/l)

MLVSS (mg/l)

Efisiensi

1200

5340

63,303

Volume gas
terbentuk
(L)
0.514

400

5680

87,78

6.002

BAB V
PEMBAHASAN

BAB V
SIMPULAN
a.

Nilai COD efluen reaktor 1 adalah 1200 mg O2/L dan nilai COD efluen reaktor 2 yang
adalah 400 mg O2/L.

b.

Nilai MLVSS reaktor 1 adalah 5340 dan nilai MLVSS efluen reaktor 2 yang adalah 5680.

c.

Efisiensi mengolah bahan-bahan organik pada reaktor 1 adalah 63,303 % dan pada reaktor 2
adalah 87,78 %.

d.

Total volume gas yang terbentuk pada reaktor 1 adalah 0,514L dan pada reaktor 2 adalah
6,002 L.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2013.

Pengolahan

Air

Limbah

Secara

Anaerobik

(online).

Tersedia

http://wiedeva.wordpress.com/seputar-tl/ diakses tanggal 28 Desember 2015.

Budiastuti, Herawati. 2010. Jobsheet Pengolahan Limbah Industri Modul Pengolahan Air
Limbah secara Anaerobik. Politeknik Negeri Bandung.
JEMAI.1999.Pengetahuan Dasar pada Penanggulangan Pencemaran Lingkungan Air. 2nd ed.,
pp 188-206. JETRO.
Kim,M.,Ahn,Y.IL. Speece,R.E,.2002.Comparative Process Stability and Efficiency of
Anaerobic Gigestion.Water Research vol. 36. pp 4369-4385.
Metcalf & Eddy.1991.Waste Engineering. Treatment. Disposal and Reuse.3rd ed.,pp 378-429,
Mc Graw Hill Book Co.Singapore.

Sumada, Ketut. 2012. Pengolahan Air Limbah secara Biologi Anaerob (online) . Tersedia :
http://ketutsumada.blogspot.com/2012/04/pengolahan-air-limbah-secara-biologi_10.html
diakses tanggal 28 Desember 2015.

LAMPIRAN
1) Penentuan kadar organik (Chemical Oxygen Demand/COD)

(
a.

) = 3270 mg O2/L

(
=

( ) 1000

(0,75 0,6) 0,25 1000 8 10

)=

2,5

( ) = 1200 mg O2/L
(

b.

(
=

( ) 1000

(0,45 0,4) 0,25 1000 8 10

)=

2,5

( ) = 400 mg O2/L
(

2) Penentuan kadar Mixed Liquor Volatile Susupended Solid (MLVSS)


a. MLVSS Reaktor 1

()

) = 10

(35.1118 33.698 1.1969)

)=
10

40

) =5420 mg/l

)=

()

106

(35.1118 33.7012 1.1969)


)=
106

40

( ) = 5340 mg/l
(

) =

) = 5420-5340
) =80 mg/l

b. MLVSS Reaktor 2

4) (

()

) = 10

(32.8424 31,4062 1,2075)

( ) =
10

40
(
5) (

) =5720 mg/l

)=

()

106

(32,8424 31,4077 1,2075)


)=
106

40

( ) = 5680 mg/l
(

6) (

) =

) = 5720 5680

( ) = 40 /

d. Penentuan Efisiensi Reaktor


1. Reaktor 1
=


100 %

3270 1200
100 %
3270
= 63,303 %

2. Reaktor 2


100 %

3270 400
100 %
3270
= 87,78 %

e. Volume Gas yang Terbentuk


Reactor 1
1
= ( 3,14 (13,69 )2 ) 1.75
2
= 514.923
= 0.514
Reactor 2
1

= ( 2 3,14 (13,69 )2 ) 20.4 cm


= 6002 3
= 6.002