Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS JURNAL INPATIENT OCCUPATIONAL THERAPISTS HAND-SPLINTING

PRACTICE FOR CLIENTS WITH STROKE: A CROSS-SECTIONAL SURVEY FROM


IRELAND

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Keperawatan Medikal Bedah pada Program
Profesi Ners

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXIX


UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
BANDUNG
2015

1
DAFTAR ISI

Cover .....1
Daftar Isi.....2
Bab I : Pendahuluan....3
Bab II: Tinjauan Jurnal....4
Bab III: Pembahasan5
Bab IV: Simpulan ...6
Daftar pustaka 7
Lampiran

2
BAB I

PENDAHULUAN

Ny.R 72 tahun dirawat di ruang Azalea, klien masuk rumah sakit pada tanggal 10 Juli
2015. Saat ini klien dirawat dengan diagnose medis stroke + DM tipe 2 + hipertensi stage II.
Pada saat pengkajian didapatkan hasil: kesadaran somolen,GCS 11, TD 150/80 mmHg, N
92x/menit, RR 20x/menit, suhu 36,6C, bising usus 12x/menit, terpasang iv cath ditangan kanan,
NGT dan keluarannya berwarna hitam dan DC. Stridor (+), abdomen teraba cembung dan
lembut, keluaran urine 1000ml/24 jam.

Hasil lab pada tanggal 10 Juli 2015 didapatkan: HB: 15,4, Ht: 43, leukosit: 22100,
trombosit: 180000, MCV: 84,8, MCH: 30,5, MCHC: 36, ureum: 45, kreatinin: 0,79, GDS: 333,
natrium: 133, kalium: 4. Saat ini klien mendapatkan terapi NaCl 0,9% 1500cc/24jam,
omeprazole 40 mg 2x1 vial, ceftriaxone 2x1gr, sucralfat sirup 3x1cc per NGT, paracetamol 500
gr 4x1 per NGT, KSR 1200gr 1x1 per NGT, cefotaxime 3x1gr, manitol 2% 200-150-150cc/8
jam, mika miki/ 24 jam.

Riwayat kesehatan sebelumnya keluarga mengatakan sejak 10 tahun yang lalu pasien
diketahui mengidap DM, control teratur, dan mengkonsumsi obat glimepiride dan melformin
namun gula darah klien tidak pernah diperiksa lagi. Terdapat keluhan baal di kedua tungkai,
bengkak kaki (-), bengkak pada sekitar mata (-). Tidak diketahui adanya riwayat menderita
kolerterol tinggi. Keluarga mengatakan klien memiliki riwayat darah tinggi, tekanan darah
tertinggi klien dalah 160/90mmHg.

3
BAB II

TINJAUAN JURNAL

Stroke merupakan penyakit neurologis yang sering dijumpai dan harus ditangani secara
cepat dan tepat. Stroke merupakan kelainan fungsi otak yang timbul mendadak yang disebabkan
karena terjadinya gangguan peredaran darah otak dan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan
saja (Muttaqin, 2008).

Salah satu akibat dari stroke adalah tergangguanya mobilitas fisik yang dapat diakibatkan
karena kelumpuhan. Kelumpuhan sendiri diakibatkan karena vasospasme arteri cerebral yang
dapat menyababkan iskemik atau infark yang berakibat pada kelumpuhan/paralisis.

Intervensi yang dapat dilakukan untuk mengurangi kontraktur atau atropi pada sendi atau
ekstermitas yang terkena adalah dengan ROM. Namun pada beberapa kondisi ROM tidak dapat
digunakan karena menjadi kontraindikasi seperti pada klien dengan adanya thrombus/emboli dan
peradangan pada pembuluh darah, kelainan sendi atau tulang, klien dengan fase imobilisasi
karena penyakit jantung, trauma baru dengan kemungkinan ada fraktur yang tersembunyi, sendi
yang kaku atau tidak dapat bergerak. ROM dapat digunakan pada pasien dengan stroke atau
penurunan tingkat kesadaran, kelemahan otot, fase rehabilitasi fisik dan pasien dengan tirah
baring yang lama.

Pada jurnal ini disebutkan bahwa latihan ROM dapat mengurangi hemiplagi pada tangan
setelah serangan stroke. Pasien-pasien yang mengalami serangan stroke dan mendapatkan latihan
ROM secara berkelanjutan menunjukkan perkembangan otot yang lebih baik dari pada pasien
yang tidak melakukan latihan ROM.

4
BAB III

PEMBAHASAN

Stroke adalah salah satu penyakit yang dapat mengakibatkan kecacatan permanen.
Derajat dari kecacatan pada setiap penderita berbeda tergantung dari saraf yang terkena, secara
spesifik seperti hemiplegia pada tungkai atas maupun bawah. Rehabilitasi menjadi salah satu
kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat kecacatan dan memfasilitasi
kemandirian pasien.

Salah satu komplikasi dari kelumpuhan pada bagian bawah tungkai ialah kontraktur,
keterbatasan dalam fungsinya, menyebabkan nyeri, dan membatasi aktifitas sehari-hari. Untuk
mengurangi komplikasi belat dapat digunakan. Tujuan dari pengguanaan belat adalah
mengurangi spasme otot, mengelola nyeri, meningkatakan ROM, mencegah/ mengurangi
kontraktur, meningkatkan kemandirian dalam aktivitas sehari hari, mencegah peregangan
berlebihan dan edema.

Hasil penelitian yang dilakukan di Irlandia menunjukkan bahwa sebesar 85,5% dari 62
responden survey memilih menggunakan belat saat diminta untuk memilih terapi yang akan
digunakan. Terapis juga mengatakan bahwa belat adapat mengurangi spasme, memperbaiki
kontraktur sehingga dapat meningkatkan jangkauan gerak. Para terapis merasa belat cukup
efektif untuk digunakan pada pasien stroke. Sebuah belat buatan tangan pada pergelangan tangan
merupakan belat yang banyak disukai para terapis karena dapat meningkatkan ROM, peregangan
kontraktur pada jaringan lunak, dan mengurangim spasme pada ekstremitas bawah.

5
BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Stroke merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi, salah satu akibat yang
ditimbulkan adalah gangguan mobilitas fisik. Untuk mengurangi komplikasi lanjutan pasien
dengan stroke dapat dilatih ROM, salah satunya dengan penggunaan belat untuk mencapai hasil
ROM yang lebih maksimal dan didampingi oleh terapis.

Saran

Diharapkan keluarga dapat membantu pasien untuk melakukan latihan ROM dan
memberikan dukungan yang cukup .

6
7