Anda di halaman 1dari 26

BAB II

DASAR TEORI

A. Pengertian Sistem Penyaliran Tambang

Sistem penyaliran tambang adalah suatu usaha yang dilakukan untuk

mencegah, mengeringkan, atau mengeluarkan air yang masuk ke daerah

penambangan. Upaya ini bermaksud untuk mangatasi terganggunya aktivitas

penambangan akibat adanya air dalam jumlah yang berlebihan, terutama pada

musim hujan. Selain itu, sistem penyaliran tambang ini juga dimaksudkan untuk

memperlambat kerusakan alat serta mempertahankan kondisi kerja yang aman,

sehingga alat-alat mekanis yang digunakan pada daerah tersebut mempunyai

umur yang lama.

Pada sistem tambang terbuka, penanganan mengenai masalah air

tambang dalam jumlah besar dapat dibedakan menjadi beberapa metode, yaitu:

1. Mengeluarkan Air Tambang (Mine Dewatering)

Mine dewatering merupakan upaya untuk mengeluarkan air yang

telah masuk ke lokasi penambangan. Beberapa metode penyaliran tambang

kelompok mine dewatering adalah sebagai berikut:

a. Membuat sump di dalam front tambang (pit)

Sistem ini diterapkan untuk membuang air tambang dari lokasi

kerja. Air tambang dikumpulkan pada sumuran (sump), kemudian

dipompa keluar. Pemasangan jumlah pompa tergantung pada kedalaman

penggalian, dengan kapasitas pompa menyesuaikan debit air yang

masuk ke dalam lokasi penambangan.

5
6

b. Membuat paritan

Pembuatan parit sangat ideal diterapkan pada tambang terbuka

open cast atau kuari. Parit dibuat berawal dari sumber mata air atau air

limpasan menuju kolam penampungan, langsung ke sungai atau

diarahkan ke selokan (riool). Jumlah parit ini disesuaikan dengan

kebutuhan, sehingga bisa lebih dari satu. Apabila parit harus dibuat

melalui lalu lintas tambang maka dapat dipasang gorong-gorong yang

terbuat dari beton atau galvanis. Dimensi parit diukur berdasarkan

volume maksimum pada saat musim penghujan deras dengan

memperhitungkan kemiringan lereng. Bentuk standar melintang dari

parit umumnya trapesium.

2. Penyaliran Tambang (Mine Drainage)

Mine drainage adalah upaya untuk mencegah air masuk ke lokasi

penambangan dengan cara membuat saluran terbuka sehingga air limpasan

yang akan masuk ke lubang bukaan dapat langsung dialirkan ke luar lokasi

penambangan. Upaya ini umumnya dilakukan untuk penanganan air tanah

yang berasal dari sumber air permukaan.

Beberapa metode penyaliran tambang (mine drainage) adalah

sebagai berikut:

a. Metode siemens

Pada setiap jenjang dari kegiatan penambangan dipasang pipa

ukuran 8 inch, di setiap pipa tersebut pada bagian ujung bawah diberi

lubang-lubang, pipa yang berlubang ini berhubungan dengan air tanah,


7

sehingga di pipa bagian bawah akan terkumpul air, yang selanjutnya

dipompa ke atas secara seri dan selanjutnya dibuang.

b. Metode elektro osmosis

Bilamana lapisan tanah terdiri dari tanah lempung, maka

pemompaan sangat sulit diterapkan karena adanya efek kapilaritas yang

disebabkan oleh sifat dari tanah lempung itu sendiri. Untuk mengatasi

hal tersebut, maka diperlukan cara elektro osmosis. Pada metode ini

digunakan batang anoda serta katoda. Bila elemen-elemen ini dialiri

listrik, maka air pori yang terkandung dalam batuan akan mengalir

menuju katoda (lubang sumur) yang kemudian terkumpul dan dipompa

keluar.

c. Metode kombinasi dengan lubang bukaan bawah tanah

Dilakukan dengan membuat lubang bukaan mendatar didalam

tanah guna menampung aliran air dari permukaan. Beberapa lubang

sumur dibuat untuk menyalurkan air permukaan kedalam terowongan

bawah tanah tersebut. Cara ini cukup efektif karena air akan mengalir

sendiri akibat pengaruh gravitasi sehingga tidak memerlukan pompa.

B. Siklus Hidrologi

Hidrologi adalah suatu ilmu tentang kehadiran dan gerakan air di alam.

Secara khusus menurut SNI No. 1724-1989-F, hidrologi didefenisikan sebagai

ilmu yang mempelajari sistem kejadian air di atas, pada permukaan dan di

dalam tanah. Daur atau siklus hidrologi menerangkan tentang gerakan air laut
8

ke udara, kemudian jatuh ke permukaan tanah dan akhirnya mengalir ke laut

kembali.

Air hujan yang jatuh di atas permukaan tanah, sebagian kecil akan

meresap (absorbsi) di dalam tanah (infiltrasi), sedang yang lainnya akan

menjadi limpasan permukaan (surface run off). Air meresap ini ada yang keluar

dan kembali ke permukaan melalui mata air (interflow), tapi sebagian besar

akan tetap tersimpan dalam tanah (ground water). Air tanah ini umumnya

membutuhkan waktu yang realtif lama untuk dapat muncul kembali ke

permukaan, yang biasa disebut dengan limpasan air tanah. Semua bagian-

bagian air yang disebut di atas tadi pada akhirnya akan mengalir menuju sungai,

waduk, danau, ataupun laut.

Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses

siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinyu. Air berevaporasi,

kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, hujan batu, hujan es dan

salju (sleet), hujan gerimis atau kabut. Pada perjalanan menuju bumi beberapa

presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang

kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah.

Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara

kontinyu dalam tiga cara yang berbeda, yaitu evaporasi/transpirasi merupakan

air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dan lain-lain, kemudian

akan menguap ke angkasa (atmosfer) yang selanjutnya akan menjadi awan.

Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang

selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, ataupun es.
9

Infiltrasi/perkolasi ke dalam tanah merupakan air bergerak ke dalam

tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air

tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara

vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki

kembali sistem air permukaan.

Air permukaan merupakan air bergerak diatas permukaan tanah dekat

dengan aliran utama dan danau. Semakin landai lahan dan semakin sedikit pori-

pori tanah, maka aliran permukaan akan semakin besar. Aliran permukaan tanah

dapat dilihat biasanya pada daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama

lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan

disekitar daerah aliran sungai menuju laut. Air permukaan, baik yang mengalir

maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa), dan sebagian air bawah

permukaan akan terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke

laut.

Proses perjalanan air di daratan itu terjadi dalam komponen-komponen

siklus hidrologi yang membentuk sisten Daerah Aliran Sungai (DAS). Jumlah

air di bumi secara keseluruhan relatif tetap, yang berubah adalah wujud dan

tempatnya.
10

Sumber: Google picture, tahun 2015


Gambar 1. Ilustrasi Siklus Hidrologi

C. Hujan

1. Pengertian Hujan

Terjadinya hujan disebabkan penguapan air, terutama air dari

permukaan laut yang naik ke atmosfer, mendingin dan kemudian menyuling

dan jatuh sebagian di atas laut dan sebagian ai atas daratan, sebagian

meresap ke dalam tanah (infiltrasi), sebagian di tahan tumbuh-tumbuhan

(intersepsi), sebagian menguap kembali (evaporasi) dan sebagian menjadi

lembab. Air yang meresap ke dalam tanah sebagian menguap melalui pori-

pori di dalam tanah (evapotranspirasi) dan demikian pula air yang ditahan

tumbuh-tumbuhan sebagian menguap (transpirasi), Air hujan yang

menguap, yang meresap ke dalam tanah, yang ditahan tumbuh-tumbuhan

dan transpirasi tidak ikut menjadi aliran air di dalam sungai dan disebut air

hilang.

Para pakar hidrologi telah lama mengetahui bahwa dari seluruh

jumlah prespitasi yang jatuh ke wilayah daratan, hanya seperempatnya yang


11

kembali ke laut melalui limpasan langsung (direct runoff) atau aliran air

tanah (ground water flow). Karena itu pada umumnya diyakini bahwa

penguapan dari daratan merupakan sumber lengas yang utama bagi hujan di

daratan. Kebanyakan gagasan untuk memperbesar hujan telah didasarkan

atas anggapan (yang sekarang ternyata salah) bahwa hujan yang lebih besar

dapat diperoleh dari peningkatan jumlah air di atmosfir. Sekarang disadari

bahwa penguapan dari permukaan laut adalah sumber utama air hujan, dan

diperkirakan tidak lebih dari sepuluh persen dari hujan di daratan berasal

dari penguapan dari daratan.

2. Limpasan Permukaan

Limpasan permukaan atau aliran permukaan adalah bagian dari

curah hujan yang mengalir diatas permukaan tanah dan mengangkut

partikel-partikel tanah. Limpasan terjadi karena intensitas hujan yang jatuh

di suatu daerah melebihi kapasitas infiltrasi, setelah laju infiltrasi terpenuhi

air akan mengisi cekungan-cekungan pada permukaan tanah. Setelah

cekungan-cekungan tersebut penuh, selanjutnya air akan mengalir

(melimpas) diatas permukaan tanah (surface run off).

Jika aliran air terjadi di bawah permukaan tanah disebut juga

sebagai aliran di bawah permukaan dan jika yang terjadi adalah aliran yang

berada di lapisan equifer (air tanah), maka disebut aliran air tanah. Air

limpasan permukaan di bedakan menjadi: sheet dan rill surface run-of akan

tetapi jika aliran air tersebut sudah masuk ke sistem saluran air atau kali,

maka disebut sebagai stream flow run-off.


12

Dalam penjelasan limpasan air permukaan dikenal koefisien

limpasan. Besarnya koefisien limpasan (C) pada berbagai macam kondisi

daerah aliran disajikan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 1. Nilai koefisien limpasan (C) pada kondisi tertentu


No Kemiringan Tata Guna Lahan Nilai C
a. sawah dan rawa 0,2
Datar,
1 b. hutan dan kebun 0,3
<3%
c. pemukiman dan taman 0,4
a. hutan dan kebun 0,4
Menengah, b. pemukiman 0,5
2
3% - 5% c. tumbuhan yang jarang 0,6
d. tanpa tumbuhan dan daerah penimbunan 0,7
a. hutan 0,6
Curam, b. pemukiman dan kebun 0,7
3
> 15 % c. tumbuhan yang jarang 0,8
d. tanpa tumbuhan dan daerah tambang 0,9
Sumber: Dr. Ir. Rudy Sayoga Gautama dalam Intan Agra Siwi, tahun 2015

3. Analisa Data Curah Hujan

Data curah hujan yang tercatat diproses berdasarkan areal yang

mendapatkan hujan sehingga didapat tinggi curah hujan rata-rata dan

kemudian meramalkan besarnya curah hujan pada periode tertentu.

a. Menentukan Curah Hujan Areal

Dengan melakukan penakaran dan pencatatan curah hujan, kita

hanya mendapatkan data curah hujan di suatu titik tertentu (point

rainfall). Jika dalam suatu areal terdapat beberapa alat penakar atau

pencatat curah hujan, maka dapat diambil nilai rata-rata utnuk

mendapatkan nilai mcurah hujan areal.

Ada tiga macam cara yang berbeda dalam menetukan tinggi

curah hujan pada areal tertentu dari angka-angka curah hujan di


13

beberapa titik pos pencatat curah hujan atau AWLR (Automatic Water

Level Recorder), antara lain:

1) Cara Tinggi Rata-Rata (Arithmatic Mean)

2) Cara Poligon Thiessen

3) Cara Isohyet

b. Perhitungan Parameter Statistik

Adapun parameter statistik yang digunakan untuk menentukan

jenis distribusi data ialah sebagai berikut:

1) Harga rata rata ()

Dimana :

= Curah hujan rata rata (mm)

= Curah hujan di stasiun hujan ke i (mm)

= Jumlah data

2) Standar deviasi ()

( )2
= =1
1

Dimana :

= Deviasi standar

= Curah hujan rata rata (mm)

= Curah hujan di stasiun hujan ke i (mm)

= Jumlah data
14

3) Koefisien Skewness (Cs)

Kemencengan (Skewness) adalah suatu nilai yang

menunjukan derajat ketidaksimetrisan dari suatu bentuk distribusi.

=1( )3
=
( 1) ( 2) 3

Dimana:

= Koefisien Skewness

= Deviasi standar

= Curah hujan rata rata (mm)

= Curah hujan di stasiun hujan ke i (mm)

= Jumlah data

c. Distribusi Frekuensi Curah Hujan

Sistem-sistem sumber daya air harus dirancang bagi hal-hal

yang akan terjadi pada masa yang akan datang, yang tak dapat dipastikan

kapan akan terjadi. Oleh karena itu, ahli hidrologi harus memberikan

suatu pernyataan probabilitas bahwa aliran-aliran sungai akan

menyamai atau melebihi suatu nilai yang telah ditentukan. Probabilitas

adalah suatu basis matematis bagi peramalan, dimana rangkaian hasil

lengkap yang didapat merupakan rasio hasil-hasil yang akan

menghasilkan suatu kejadian tertentu terhadap jumlah total hasil yang

mungkin.

Probabilitas-probabilitas tersebut penting artinya bagi evaluasi

ekonomi dan sosial dari suatu perencanaan bangunan air. Perencanaan

untuk mengendalikan banjir yang mempunyai probabilitas tertentu


15

mengandung pengakuan bahwa kemampuan proyek sekali-sekali dapat

dilampaui dan kerusakan harus dialami. Namun, biaya perbaikan

kerusakan itu akan lebih murah setelah periode pengoperasian yang

panjang jika dibandingkan dengan pembuatan bangunan yang khusus

dimaksudkan sebagai perlindungan terhadapa keadaan yang paling

buruk. Tujuan perencanaan itu bukan untuk menghilangkan semua

banjir tersebut, melainkan untuk mereduksi frekwensi banjirnya, yang

berarti juga mengurangi kerusakan yang ditimbulkan.

Curah hujan rancangan dihitung berdasarkan analisis

Probabilitas Frekuensi seperti yang yang mengacu pada SK SNI M-18-

1989 tentang Metode Perhitungan debit banjir. Tujuan dari analisa

distribusi frekuensi curah hujan adalah untuk memperkirakan besarnya

variate-variate masa ulang tertentu. Banyak macam distribusi teoritis

yang kesemuanya itu dapat dibagi dua, yaitu diskrit dan kontinu. Diskrit

diantaranya adalah Binominal dan Poisson, sedangkan kontinu adalah

Normal, Log Normal, Gamma, Beta, Pearson dan Gumbel. Untuk

menganalisis probabilitas banjir biasanya dipakai beberapa macam

distribusi yaitu: Distribusi Gumbel, Log Pearson Type III, Normal, dan

Log Normal.

Pada project job ini digunakan distribusi log person type III,

maka yang akan dijelaskan berikutnya hanya tentang analisis data

menggunakan distribusi log person III.


16

1) Distribusi Log Pearson Type III

Metode Log Pearson tipe III apabila digambarkan pada

kertas peluang logaritmik akan merupakan persamaan garis lurus,

sehingga dapat dinyatakan sebagai model matematik dangan

persamaan sebagai berikut (Soewarno, 1995):

= +

Dimana :

= Curah hujan (mm)

= Nilai logaritmik dari X atau log X dengan periode ulang

tertentu

= Rata-rata hitung (lebih baik rata-rata geometrik) nilai Y

= Deviasi standar nilai Y

= Karakteristik distribusi peluang log-pearson tipe III (dapat

dilihat pada Tabel II-8)

Langkah-langkah perhitungan kurva distribusi Log Pearson

Tipe III adalah:

a) Tentukan logaritma dari semua nilai X

b) Hitung nilai rata-ratanya:

log()
=
log()

c) Hitung nilai deviasi standarnya dari :

)2
(log() log()
=
log()
1
17

d) Hitung nilai koefisien kemencengan ()

)3
(log() log()
=
)3
( 1) ( 2) ( log()

Sehingga persamaannya menjadi:

+ ( log()
log = log() )

e) Tentukan anti log dari log XT, untuk mendapatkan nilai XT yang

diharapkan terjadi pada tingkat peluang atau periode ulang

tertentu sesuai dengan nilai CS-nya. Nilai k dapat dilihat pada

Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2. Harga k untuk Distribusi Log Pearson Type III

Koef Kala Ulang Tahun


Skew 1.01 2 5 10 25 50
0.5 -1.955 -0.083 0.808 1.317 1.880 2.261
0.4 -2.029 -0.066 0.816 1.309 1.849 2.211
0.3 -2.104 -0.050 0.824 1.301 1.818 2.159
0.2 -2.178 -0.033 0.830 1.292 1.785 2.107
0.1 -2.252 -0.017 0.836 1.282 1.751 2.054
0.0 -2.326 0.000 0.842 1.282 1.751 2.054
-0.1 -2.400 0.017 0.846 1.270 1.716 2.000
-0.2 -2.472 0.033 0.850 1.258 1.680 1.945
-0.3 -2.544 0.050 0.853 1.245 1.643 1.890
-0.4 -2.615 0.066 0.855 1.231 1.606 1.834
-0.5 -2.686 0.083 0.856 1.216 1.567 1.777
Sumber: Dalam materi perkuliahan Tamrin, tahun 2010

d. Perhitungan Intensitas Curah Hujan

Untuk menentukan Debit Banjir Rencana (Design Flood), perlu

didapatkan harga suatu Intensitas Curah Hujan terutama bila digunakan

metoda rational. Intensitas curah hujan adalah ketinggian curah hujan

yang terjadi pada suatu kurun waktu di mana air tersebut berkonsentrasi.
18

Analisis intensitas curah hujan ini dapat diproses dari data curah hujan

yang telah terjadi pada masa lampau.

Menurut Dr. Mononobe Untuk menghitung intensitas curah

hujan, dapat digunakan Rumus:


2
24 24 3
= [ ]
24

Dimana :

= Intensitas curah hujan (mm/jam)

24 = Curah hujan maksimum dalam 24 jam (mm)

= Lamanya curah hujan (jam)

e. Perhitungan Debit Rancangan

Untuk menentukan debit aliran pada penelitian tugas akhir ini

digunakan metode Rasional yang diubah. Cara rasional merupakan salah

satu cara tertua dalam memperkirakan debit limpasan dari curah hujan.

Pertama kali dikembangkan ole Lloyd-Davis 1906. Sifat kesederhanaan

rumusnya mengandung arti penyederanaan berbagai proses alami,

menjadi proses sederhana seingga arti mempunyai kendala dan

keterbatasan dalam pemakaiannya. Cara tersebut didasarkan atas rumus:

= 0.278

Dimana:

= Debit limpasan (3 /)

= Intensitas hujan (/)


19

= Luas daerah pengaliran (3 )

= Koefisien pengaliran

D. Sumuran (Sump)

Sumuran berfungsi sebagai penampung air sebelum dipompa ke luar

tambang. Dengan demikian, dimensi sumuran ini sangat tergantung dari jumlah

air yang masuk serta keluar dari sumuran (Rudy, tahun 1999 dalam proposal

TA Intan Agra Siwi, tahun 2015).

Jumlah air masuk masuk ke dalam sump merupakan jumlah air yang

dialirkan oleh saluran-saluran, jumlah limpasan permukaan yang langsung

mengalir ke sumuran dengan curah hujan jauh di sump. Sedangkan jumlah air

keluar dapat dianggap sebagai kapasitas pompa, karena penguapan tidak terlalu

berarti. Dengan adanya masukan (input) dan keluaran (output) maka dapat

ditentukan dimensi sump.

1. Tata letak sumuran

Tata letak sumuran dipengaruhi oleh sistem pnyaliran tambang

yang digunakan serta disesuaikan dengan letak geografis daerah tambang

dan kestabilan lereng tambang. Berdasarkan tata letak sumuran (sump),

sistem penyaliran dapat dibedakan menjadi:

a. Sistem penyaliran terpusat. Pada sistem ini sump ditempatkan pada

setiap jenjang bench. Sistem penyaliran dilakukan dari jenjang paling

atas menuju jenjang-jenjang yang berada di bawahnya, sehingga airnya

akan terpusat pada main sump untuk kemudian dikeluarkan dari areal

penambangan.
20

b. Sistem penyaliran tidak terpusat. Sistem ini diterapkan untuk daerah

tambang yang relative dangkal dengan keadaan geografis daerah luar

tambang yang memungkinkan untuk mengalirkan air secara langsung

dari sump ke luar tambang.

2. Jenis sumuran dan penempatannya

Berdasarkan penempatannya, sump dapat dibedakan menjadi

beberapa jenis, yaitu:

a. Travelling sump. Sump ini berada pada pada areal penambangan.

Tujuannya dibuat sump ini adalah untuk menanggulangi air

perumakaan. Jangka waktu penggunaan sump ini relatif singkat dan

selalu ditempatkan sesuai dengan kemajuan tambang.

b. Sump jenjang. Sump ini dibuat secara terencana baik dalam pemilihan

lokasi maupun volumenya. Penempatan sump ini adalah jenjang

tambnag dan biasanya dibagian tepi lereng tambang. Sump ini disebut

sebagai sump permanen karena dibuat untuk jangka waktu yang cukup

lama dan biasanya dari bahan kedap air dengan tujuan untuk mencegah

meresapnya air yang dapat menyebabkan longsornya jenjang.

c. Main sump. Sump ini dibuat sebagai tempat penampungan air terakhir.

Pada umumnya sump dibuat pada elevasi terendah dari dasar tambang.

E. Saluran Tambang

Pembuatan saluran tambang dilakukan untuk air limpasan permukaan

pada suatu daerah dan mengalirkannya ke tempat pengumpulan (sumuran) atau


21

tempat lainnya. Saluran ini juga digunakan untuk mengalirkan air hasil

pemompaan keluar areal penambangan (sungai).

Rudy Sayoga (1999) dalam proposal TA Intan Agra Siwi (2015)

menyatakan saluran tambang harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai

berikut:

a. Dapat mengalirkan debit air yang direncanakan.

b. Kemiringan sedemikian sehingga tidak terjadi pengendapan/sedmentasi.

c. Kecepatan air sedemikian sehingga tidak merusak saluran (erosi).

d. Kemudaha dalam penggalian.

Bentuk penampang saluran air pada umumnya dapat dipilih

berdasarkan debit air, tipe material pembentuk saluran serta kemudahan dalam

pembuatannya. Saluran air dengan penampang segi empat atau segitiga

umumnya untuk debit kecil. Sedangkan untuk penampang trapezium untuk

debit yang besar. Bentuk penampang yang paling sering dan umum dipakai

adalah bentuk trapezium, sebab mudah dalam pembuatannya, murah, efisien,

dan mudah dalam perawatannya serta stabilitas kemiringannya (z) dapat

disesuaikan menurut keadaan topografi dan geologi. Perhitungan kapasitas

pengaliran suatu saluran air dilakukan dengan rumus Manning.

1 2/3
= 1/2

Dimana:

= Debit aliran pada saluran (m3/detik)

= Jari-jari hidrolik = /

= Kemiringan dasar saluran (%)


22

= Keliling basah

= Luas penampang

= Koefisien manning yang menunjukkan kekerasan dinding saluran.

Harga koefisien manning dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 3. Harga koefisien manning (n)

No. Tipe Elemen (n)


1. Semen 0.010 0.014
2. Beton 0.011 0.016
3. Bata 0.012 0.020
4. Besi 0.013 0.017
5. Tanah 0.020 0.030
6. Gravel 0.022 0.035
7. Tanah yang ditanami 0.025 0.040
Sumber: Rudy Sayoga, tahun 1999 dalam proposal TA Intan Agra Siwi, tahun 2015

Dimensi penampang yang dapat dikatakan efisien, yaitu apabila dapat

mengalirkan debit aliran secara maksimum. Beberapa jenis penampang efisien

yang paling sering digunakan adalah sebagai berikut:

a. Penampang Saluran Trapesium

Sumber: Bambang Triatmodjo, tahun 2008 dalam Intan Agra Siwi, tahun 2015
Gambar 2. Penampang Saluran Trapesium
23

Keterangan:

b = Lebar Saluran

y = Kedalaman Saluran

tan a = Kemiringan tebing

b. Penampang Saluran Segi Empat

Sumber: Bambang Triatmodjo, tahun 2008 dalam Intan Agra Siwi, tahun 2015
Gambar 3. Penampang Saluran Segi empat

Keterangan:

b = Lebar Saluran

y = Kedalaman Saluran

c. Penampang Saluran Setengah Lingkaran

Sumber: Bambang Triatmodjo, tahun 2008 dalam Intan Agra Siwi, tahun 2015
Gambar 4. Penampang Saluran Setengah Lingkaran
24

Keterangan:

r = Jari-jari liangkaran

Saluran dalam areal penambangan berfungsi untuk mengeluarkan air

limapasan ke luar tambang, sleain itu saluran juga terdapat di luar areal

penambangan. Saluran yang berada di luar areal penambangan ini dikatakan

sebagai saluran pengelak. Saluran pengelak merupakan saluran yang berfungsi

untuk mencegah masuknya air limpasan ke dalam areal penambangan.

F. Pompa

1. Pengertian pompa

Pompa adalah suatu peralatan mekanik yang digerakkan oleh

tanaga mesin yang digunakan untuk memindahkan dan mensirkulasikan

cairan (fluida) dari suatu tempat ke tempat yang lainnya, dimana cairan

tersebut hanya mengalir apabila terdapat perbedaan tekanan.

Selain itu dapat memindahkan cairan, pompa juga dapat berfungsi

untuk meningkatkan kecepatan, tekanan, dan ketinggian suatu cairan.

Dalam penggunaannya pompa dapat dikelompokka berdasarkan beberapa

hal yaitu berdasarkan pemakaian, prinsip kerja, cairan yang dialirkan serta

material atau bahan kontruksinya.

Dalam memilih sebuah pompa untuk suatu maksud tertentu,

terlebih dahulu harus diketahui kapasitas aliran serta head yang diperlukan

untuk mengalirkan zat cair yang akan dipompa. Selain dari pada itu, agar

pompa dapat bekerja tanpa mengalami kavitasi, perlu diperkirakan berapa

tekanan minimum yang tersedia pada sisi masuk pompa yang terpasang
25

pada instalasi. Atas dasar tekanan isap yang ada maka putaran pompa dapat

ditentukan.

Kapasitas aliran, head dan putaran pompa dapat ditentukan, apabila

terjadi perubahan kondisi operasional, maka putaran dan ukuran pompa

yang akan dipilih harus dieprhitungkan kembali. Di bawah ini merangkum

data-data yang diperlukan untuk pemilihan sebuah pompa yaitu sbeagai

berikut:

Tabel 4. Data pemilihan pompa

No. Data yang diperlukan Keterangan


1. Kapasitas Diperlukan keterengan tentang
kapasitas minimum dan maksimum
2. Kondisi isap Tinggi isap dari permukaan air isap ke
level pompa. Tinggi fluktuasi
permukaan air isap. Tekanan yang
bekerja pada permukaan isap. Kondisi
isap pipa.
3. Kondisi keluar Tinggi permukaan air keluar ke level
pompa. Tiggi fluktuasi permukaan air
permukaan. Besarnya tekanan pada
permukaan air keluar. Kondisi pipa
keluar.
4. Head total pump
5. Jenis cairan yang Air tawar, air laut, minyak, dll. Berat
dipompa jenis, viskositas, kandungan padatan,
temperatur, dll.
6. Jumlah pompa
7. Kondisi kerja Kejra terus menerus, terputus-putus,
jumlah jam kerja dalam setahun
8. Penggerak Motor listrik, motor bakar torak,
turbin uap.
9. Poror tegak atau
mendatar
10. Tempat instalasi
11. Dan lain-lain
Sumber: Sularso & Tahara, tahun 2006 dalam Intan Agra Siwi, tahun 2015
26

Sebagai langkah optimalisasi dalam penggunaaan pompa dapat

dilakukan sengan melakukan pemilihan pompa yang sesuai dengan keadaan atau

kondisi yang ada. Untuk menentukan jenis pompa yang sesuai untuk keadaan atau

kondisi yang ada dapat dilihat pada tabel 4, berikut:

Tabel 5. Pompa-pompa yang sesuai untuk kondisi pemakaian tertentu

No. Kondisi pemakaian Pompa yang sesuai


1. Untuk luas ruangan Pompa tegak
yang terbatas
2. Untuk sumur dalam Pompa tegak dengan motor di atas
atau motor di bawah
3. Untuk fluktuasi yang Pompa tegak
besar pada permukaan
air hisap
4. Untuk ruang pompa Pompa tegak dengan lantai ganda
yang dapat terendam
air
5. Untuk memompa air Pompa volut dengan jenis sumuran
limbah dan berlumpur kering (dry pit) pompa inline dengan
untuk penguat ukuran kecil.
(booster)
6. Untuk mencegah Pompa volut mendatar atau pompa
pengotoran air yang tegak dengan pelumas air.
dipompa.
7. Untuk mengurangi Pompa dengan motor terendam,
kebisingan pompa tegak jenis tromol sumuran.
8. Bila kebocoran keluar Pompa motor berselubung.
pompa tidak diizinkan
Sumber: Sularso & Tahara, tahun 2006 dalam Intan Agra Siwi, tahun 2015

Dalam memilih sebuah pompa yang digunakan perlu diketahui

beberapa hal sebagai berikut:

a. Sifat-sifat zat cair

Kemampuan sebuah pompa akan berubah-ubah tergantung

pada karakteristik zat cair yang akan dialirkan, maka hal ini harus

diperhatikan sebelum memilih suatu pompa tertentu.


27

b. Tahanan (Head) pompa

Dalam pemompaan dikenal istilah julang (head), yaitu energi

yang diperlukan untuk mengalirkan sejumlah air pada kondisi tertentu.

Semakin besar debit air yang dipompa, maka head juga akan semakin

besar. Head total pada pompa merupakan penjumlahan dari head angkat

dan beberapa kerugian dengan kondisi yang direncakan. Sularso, tahun

2000 dalam Intan Agra Siwi, tahun 2015 menjelaskan persamaan untuk

menghitung Head total adalah sebagai berikut:

= + + + +

Keterangan:

= Head total pompa (m)

= Head statis (m)

Hp = Perbedaan head tekan yang bekerja di permukaan air (m)

= Kerugian pada jalur pipa yang sangat panjang (m)

= Kerugian akibat fiting-fiting (belokan) pada pipa (m)

= Head kecepatan pada ujung pipa keluar (m)

Untuk menentukan head total pompa terlebih dahulu harus

ditentukan kerugian yang terjadi pada instalasi pompa yang digunakan.

1) Head statis (Hs)

Head statis merupakan perbedaan elevasi muka air di sisi

keluar dan di sisi isap.

=
28

2) Perbedaan tekanan atmosfer pada permukaan air (Hp)

Hp = Hpa Hpb

ha 5.256
Hpa = 10.33 (1 0.0065 )
288

hb 5.256
Hpb = 10.33 (1 0.0065 )
288

Keterangan:

Hp = perbedaan tekanan pada permukaan air (m)

Hpa = tekanan pada permukaan air yang akan dipindahkan

Hpb = tekanan pada permukaan air buangan

Ha = elevasi sisi isap (m)

Hb = elevasi sisi keluar (m)

10.33 = tekanan udara pada ketinggian 0 m

3) Head gesekan (Hf)

Rumus ini umumnya digunakan untuk menghitung head

gesekan pada pipa, dapat menggunakan persamaan Hazen-Williams.

10.6661.85
= 1.85 4.85

Hf = Julang kerugian (m)

Q = Laju aliran (m3/s)

D = Diameter pompa (m)

L = Panjang pipa (m)

C = Koefisien
29

4) Kerugian head pada belokan (fiting-fiting) (Hsv)

3.5 0.5
= [0.31 + 1.847 ( ) ] ( )
2 90

Keterangan:

D = Diameter dalam pipa (m)

R = Jari-jari lengkung sumbu belokan (m)

= Sudut belokan (derajat)

5) Kerugian head kecepatan ujung keluar (Hv)

2
=
2

Keterangan:

g = Percepatan gravitasi (9.8 m/s2)

v = kecepatan aliran rata-rata di dalam pipa (m/s)

2. Konstruksi Pompa

Konstruksi sebuah pompa agar dapat memindahkan cairan adalah

sebagai berikut:

1) Mesin Penggerak (motor)

Penggerak yang pada prosesnya merubah energy listrik

menjadi energi mekanik yang diperlukan untuk menggerakkan pompa.

Energi ditransmisi ke pompa oleh suatu belt ke pully penggerak pompa.

2) Pompa

Penggerak energi mekanik untuk menggerakkan atau

mengalirkan cairan yang diproses melalui pompa pada kapasitas cairan

yang diperlukan serta untuk memindahkan energi ke dalam cairan yang


30

di proses, yang dapat dilihat dengan bertambahnya tekanan cairan pada

lubang keluar pompa.

3) Sistem pipa masuk dan keluar

Sistem pipa ini berfungsi untuk memindahkan cairan yang

masuk dan keluar dari pompa.

3. Klasifikasi pompa

Berdasarkan klasifikasi standar yang sering dipakai. Ada tiga kelas

yang digunakan sekarang ini, sentrifugal, rotary, dan torak reciprocating.

Istilah ini banyak berlaku pada mekanik fluida bukan pada desain pompa itu

sendiri. Ini penting karena banyak pompa yang dijual untuk keperluan yang

khusus, hanya dengan melihat detail dan desain yang terbaik saja, sehingga

masalah yang berdasarkan kepada kelas dan jenis pompa menjadi sejumlah

yang berbeda-beda sesuai dengan pompa tersebut. Untuk lebih jelas dapat

dilihat klasifikasi pompa, di bawah ini:

Tabel 6. Kelas dan jenis pompa

Kelas Jenis
Sentrifugal Ikat. Difuser. Turbin-regeneratif.
Turbin-vertikal. Aliran-
campuran. Aliran aksial
(propeller)
Rotary Roda gigi. Baling-baling.
Sakrup. Kuping. Kumparan
blok.
Reciprocating Aksi langsung. Tenaga.
Diafragma. Piston rotary.
Sumber: Sularso & Tahara, tahun 2006 dalam Intan Agra Siwi, tahun 2015