Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KASUS PERIODONSIA

DEPIGMENTASI GINGIVA

Disusun oleh :
Ayu Noermalasari 2015-16-127
Amelia Diansari W. 2015-16-128
Dinda Mousavi 2015-16-138
Gabriella Titahelu 2015-16-141

Pembimbing :
Erianti Dewi Utami, dg., Mpd

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)
JAKARTA
2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

Keseimbangan senyum dipengaruhi tidak hanya oleh bentuk, posisi, dan

warna gigi, namun dipengaruhi juga oleh jaringan gingiva. Kedokteran gigi estetik

atau kosmetik berusaha untuk menggabungkan fungsi dan keindahan dengan

nilai-nilai dan kebutuhan individu setiap pasien. Kesehatan gingiva dan

penampilan merupakan komponen penting dari senyum yang menarik. Gangguan

estetika yang sering dikeluhkan oleh pasien antara lain adalah perubahan warna

gingiva atau yang biasa disebut hiperpigmentasi gingiva.1

Pigmentasi oral dapat terjadi secara fisiologis atau patologis secara alami.

Lesi berpigmen biasanya ditemukan di dalam mulut.Pigmentasi gingiva

merupakan pewarnaan pada gingiva berupa warna gelap keunguan atau bercak-

bercak coklat terang yang tidak beraturan. Lesi biasanya mewakili berbagai

macam bentuk klinis, mulai dari perubahan manifestasi klinis sampai pada

penyakit sistemik dan sel neoplasma ganas (misalnya, melanoma dan kaposi

srkoma).2

Warna gingiva ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu jumlah dan ukuran

pembuluh darah, ketebalan epitel, jumlah keratinisasi dan pigmen dalam epitel

gingiva. Melanin, pigmen coklat, merupakan pigmen alami yang paling umum

berkontribusi terhadap pigmentasi endogen gingiva. Pigmentasi fisiologis mukosa

mulut secara klinis dinyatakan sebagai multifocal atau diffuse melanin pigmentasi

dengan jumlah bervariasi pada kelompok etnis yang berbeda di seluruh dunia.3

2
Pigmentasi coklat atau hitam dan perubahan jaringan gusi dapat

disebabkan oleh faktor lokal dan sistemik. Keadaan sistemik seperti gangguan

endokrin, Albrights syndrome, malignant melanoma, terapi anti malaria, Peutz

Jeghers syndrome, trauma, hemachromatosis, penyakit paru-paru kronis dan ras

atau etnik telah diketahui menjadi penyebab pigmentasi melanin pada rongga

mulut.3

Menghilangkan pigmentasi melanin pada gusi harus dilakukan dengan

hati-hati dan jangan sampai merusak gigi geligi. Apabila pengerjaannya tidak

tepat dapat menyebabkan resesi gusi, kerusakan periosteum dan tulang alveolar,

penyembuhan luka yang terganggu. Prosedur free gingiva graft dapat dilakukan

untuk menghilangkan pigmentasi gusi, prosedur ini memerlukan tindakan bedah

yang rumit karena memerlukan donor dan penyesuaian warna yang tepat, selain

itu umumnya terdapat garis atau batas gusi yang berbeda antara donor dan

resipien sehingga mengganggu masalah estetik.3

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gingiva

Secara anatomis, gingiva dibagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu

gingiva tepi, gingiva cekat dan interdental gingiva. Gingiva tepi dapat

didefinisikan sebagai daerah tepi dari gingiva yang berada disekeliling

gigi, sedangkan gingiva cekat merupakan bagian yang melekat erat dengan

periosteum dari tulang alveolar, dan interdental gingiva menempati daerah

embrasure gingiva.1

2.1.1 Gambaran klinis gingiva1,2

Warna gingiva pada gingiva yang sehat akan berwarna merah

muda. Namun pada setiap orang akan bervariasi warna dari gingivanya,

contohnya pada penduduk Afrika atau Asia, adanya sel-sel melanin

(melanosit) adalah normal. Kontur dari gingiva tepi normal adalah

berbentuk seperti scallop. Pada keadaan normal, konsistensi gingiva

biasanya kenyal dan yang bertanggung jawab akan konsistensi gingiva

adalah seluler dan cairan dan juga kolagen dari lamina propia. Pada

gingiva sehat tidak ada perubahan pada ukurannya (tidak membesar atau

membengkak), namun besar ukurannya bergantung pada elemen

interseluler dan vaskularisasi. Gingiva yang sehat akan terdapat stippling

4
pada daerah gingiva cekat. Adanya stippling ini menunjukkan adanya

perlekatan antara serat gingiva ke daerah tulang alveolar.

Gambar 1. Gambaran Gingiva Sehat2

2.2 Pigmentasi Gingiva

Pigmentasi gingiva merupakan pewarnaan pada gingiva berupa warna

gelap keunguan atau bercak-bercak coklat terang yang tidak beraturan. Jika

terjadi pewarnaan berlebih paa gingiva, dapat dikatakan sebagai

hiperpigmentasi gingiva. Pewarnaan ini berasal dari granula melanin yang

diproduksi oleh sel-sel melanoblas. Melanin adalah pigmen dasar yang

memberi warna pada gingiva.6 Melanin merupakan pigmen non-hemoglobin

yang berasal dari sel melanosit, yang merupakan sel-sel dendrit dari lapisan

neuroektodermal yang terletak pada lapisan basal dan spinosum epitel

gingiva.6,7,8 Melanin berperan dalam pigmentasi fisiologis dalam rongga

mulut, biasanya dijumpai pada gingiva, palatum durum mukosa dan lidah.

Melanin juga merupakan penentu utama dari adanya pewarnaan jaringan pada

manusia, termasuk pada kulit, selaput mukosa, rambut, iris mata dan bagian

dari otak 6

5
Warna gingiva ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu jumlah dan

ukuran pembuluh darah, ketebalan epitel, jumlah keratinisasi dan pigmen


3,5,6,7
dalam epitel gingiva. Di antara batas normal ini, semua tergantung dari

intensitas melanogenesis, derajat epitelisasi lapisan korneum, kedalaman

epitelisasi dan vaskularisasi gingiva.3

Derajat pigmentasi dapat ditentukan dengan indeks pigmentasi

melanin3 :

Skor 0 : Tidak ada pigmentasi.

Skor 1 : Pigmentasi pada papila yang terpisah, tidak meluas ke papila

gingiva sebelahnya

Skor 2 : Membetuk formasi seperti pita yang meluas ke permukaan

sebelahnya.

2.3 Etiologi
Pigmentasi pada gingiva disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor

endogen dan faktor eksogen.


a. Endogen
A. Normal atau fisiologis
Sebagian besar pigmentasi ditentukan oleh 5 pigmen utama yaitu;

Melanin, Melanoid, Oxyhemoglobin, Reduced Hemoglobin, Karotin


1. Melanin
Melanin adalah pigmen coklat natural yang dihasilkan oleh

melanosit dan berada pada lapisan basal dari epitel. Pigmentasi

fisiologis pada mukosa oral memiliki manifestasi klinis berupa

pigmentasi melanin multifokal atau difus dengan prevalensi yang

beragam pada kelompok etnik yang berbeda. Melanin ditemukan

6
di dalam kulit pada semua orang. Pada orang berkulit gelap,

gingiva mengandung pigmen melanin dalam jumlah yang lebih

besar dibandingkan dengan mukosa alveolar di sekitarnya.9


2. Melanoid
Granula dari pigmen melanoid tersebar pada stratum lusidum dan

stratum korneum pada kulit. Melanoid menghasilkan warna kuning

terang pada kulit.9


3. Oxyhemoglobin dan Reduced Hemoglobin
Oxygemoglobin dan reduced hemoglobin merupakan pigmen yang

dihasilkan dari deposit hemosiderin. Hemoglobin dapat menyebabkan

warna biru, merah atau ungu pada mukosa mulut.9


4. Karoten
Karoten terdistribusi dalam lipid yang terdapat pada stratum

korneum dan stratum lucidum dan memberikan tampilan warna

kuning gelap pada kulit.9

B. Patologis
1. Peutz-Jeghers Syndrome
Peutz-Jeghers Syndrome adalah kelainan genetik ditandai dengan

adanya pigmentasi pada mukokutan dan harmatosus pada intestin.

Penyakit ini memiliki manifestasi berupa freckle like macula pada

tangan, kulit perioral, dan secara intraoral melibuti gingiva,

mukosa bukal dan mukosa labial. Daerah pigmentasi dapat

berukuran 1 sampai 10 mm dan pada umumnya ditemukan pada

bibir bawah dan mukosa bukal namun jarang ditemukan pada bibir

atas, lidah, palatum, dan gingiva.9


2. Addisons Disease
Addisons disease disebabkan oleh karena kerusakan dan

hipofungsi dari adreno korteks. Peningkatan pigmentasi pada bibir,

7
gingiva mukosa bukal dan lidah dapat terlihat. Pigmentasi oral

dapat merupakan gejala pertama pada penyakit ini. Bipsi pada lesi

oral menunjukkan adanya akantosis dengan granula silver-positive

pada sel dari stratum germinativum dan melanin terlihat pada

lapisan basal. 9
3. Hemachromatosis
Hemachromatosis (bronze diabetes) adalah penyakit kronis yang

dikarakteristikan dengan adanya deposisi berlebih dari iron (ferritin

dan hemosiderin) pada jaringan tubuh, menyebabkan fibrosis dan

insufisiensi fungsional dari organ yag terlibat. Hiperpigmentasi

dapat timbul pada kulit dan membrane mukoasa (oral dan

konjungtiva). Pigmentasi gingiva dilapotkan terjadi pada 15 sampai

25% dari pasien dengan hemochromatosis. Mukosa oral

menampilkan pigmentasi homogenus yang difus berwarna abu

kecoklatan atau coklat gelap pada 20% dari kasus. Mukosa bukal

dan gingiva cekat merupakan daerah yang sering terlibat. 9

4. Melanoma
Melanoma adalah kondisi kanker dari melanosit. Sel darah pada sel

ini yaitu melanosome memiliki enzim (tyrosine) yang dapat

merubah asam amino menjadi melanin. Sebagian besar lesi (sekitar

70-80%) terjadi pada palatum, gingiva atas, dan mukosa alveolar.

Gambaran klinis berupa makula berwarna coklat atau hitam yang

asimptomatik.9

b. Eksogen
1. Amalgam

8
Pigmentasi dari oral mukosa oleh karena restorasi amalgam

merupakan hal yang sering dijumpai. Pigmentasi amalgam disebut

juga dengan amalgam tattoo. Gambaran lesi berupa partikel

amalgam yang tertanam dan pada umumnya memiliki tampilan

berupa macula berwarna hitam di beberapa tempat pada rongga

mulut. Warna yang sering dideskripsikan adalah hitam, biru dan

abu-abu. Sebagian besar berlokasi pada gingiva dan mukosa

alveolar, regio mandibula lebih sering terkena dibanding dengan

regio maksila9
2. Logam Berat
Logam berat yang diabsorbsi dari penggunaan terapeutik atau

lingkungan dapat menyebabkan perubahan pada gingiva dan

daerah lain pada mukosa rongga mulut. Bismuth, arsen dan

merkuri menyebabkan terbentuknya garis hitam yang mengikuti

kontur gingiva tepi sehingga menghasilkan pigmentasi linear

berwarna merah kebiruan atau biru gelap pada gingiva tepi (garis

Burtonian). Eksposur pada perak menyebabkan terbentuknya garis

tepi berwarna ungu dan terkadang disertai dengan diskolorasi biru

keabuan yang difus pada mukosa oral.9


3. Pemakaian obat-obatan dalam jangka waktu lama

Penggunaan obat obatan dalam jangka waktu yang lama juga bisa

dapat menyebabkan pigmentasi. Contohnya adalah quinine,

chloroquine, minocyclinr, zidovudine, chlorpromazine,

ketokonazole, bleomycin, cyclophosphamide, dan sebagainya.

Obat-obat tersebut dapat menyebabkan pigmentasi melanin. Hal

9
tersebut dapat menyebabkan akumulasi dari pigmen melanin akibat

pengaruh dari obat atau deposisi dari zat besi yang dapat

mempengaruhi dermis. Terapi dengan penggunaan minocycline

juga dapat menyebabkan pigmentasi. Pemeriksaan histopatologis

dari biopsi spesimen dari gingiva dan bibir membuktikan adanya

peningkatan melanin/melanosit pada epitel dan

melanin/melanophages pada jaringan ikat.10

2.4 Mekanisme Melanin

Melanositik Stimulating Hormone (MSH) meningkatkan pigmentasi

kulit dengan merangsang penyebaran butiran melanin di melanosit, sehingga

menyebabkan penggelapan kulit. Sekresi hormon ini dirangsang oleh MSH

stimulating factor. glukokortikoid memilikiefekmenghambat pada MSH,

ketika ada insufisiensi adrenal, ada berkurang peningkatan glukokortikoid

sekresi di MSH meningkatkan pigmentasi melanin.6

2.5 Perawatan Hiperpigmentasi

Depigmentasi gingiva merupakan prosedur bedah plastik periodontal

dengan menghilangkan atau mengurangi hiperpigmentasi gingiva.3,4,6 Indikasi

utama dan yang terpenting untuk depigmentasi adalah kebutuhan pasien

10
untuk meningkatkan estetika.3 Menghilangkan pigmentasi melanin pada gusi

harus dilakukan dengan hati-hati dan jangan sampai merusak gigi geligi.

Apabila pengerjaannya tidak tepat dapat menyebabkan resesi gingiva,

kerusakan periosteum dan tulang alveolar, penyembuhan luka yang

terganggu. Depigmentasi merupakan kontraindikasi untuk pasien yang tidak

membutuhkan estetik, memiliki kondisi imuno compromised, dan pasien

dengan resesi gingiva yang cukup parah.5

Banyak cara untuk menghilangkan hiperpigmentasi gingiva, seperti

pemakaian bahan kimia, tindakan abrasi dengan menggunakan bor diamond,

gingivektomi, autograft jaringan lunak, operasi flap partial, cryosugery,

pemakaian laser. Hasil yang diperoleh dari macam-macam cara tersebut

sangat bervariasi. Salah satu cara depigmentasi yang masih popular adalah

pembedahan dengan memakai scalpel.6

Macam macam tehnik depigmentasi gingiva4,6 :


1. Metode dengan tujuan pengambilan lapisan pigmen
a. Tindakan bedah
1) Teknik bedah dengan scalpel :
- Slicing
- Penggundulan tulang
- Scraping
- Abrasi
2) Cryosurgery
3) Electrosurgery
4) Laser
- Neodymiun : Aluminium-Yutrium-Gamer (Nd:YAG)
- Erbiium:YAG (Er:YAG)
- Carbon Dioxide (CO2)
b. Depigmentasi dengan bahan kimia memakai bahan-bahan kaustik

(tidak lagi dipakai)


2.
Metode dengan cara menutupi gingiva dengan graft: Free gingiva graft.
Tindakan pigmentasi dengan bedah scalpel4 :
a. Slicing

11
Setelah infiltrasi anestesi lokal, dua insisi akan ditempatkan secara

memanjang dari margin gingiva ke area vestibular, sedikit di luar

batas dari daerah berpigmen. Iinsisi vertikal membatasi daerah yang

akan di bedah.Sebuah pisau atau blade No.11 atau 15 BP diletakkan

sejajar dengan permukaan gingiva, epitel dan sebagian dari C.T.

adalah pembedahan secara pelan dari satu ujung sayatan vertikal.

Perawatan tidak merobek jaringan atau meninggalkanbekas pigmen.

Periodontal pengganti diterapkan selama 1 minggu.


b. Scraping
Setelah area sudah terinfiltrasi dengan anastesi local, pisau dengan

gagangNo.15 atau 11 B.P. digunakan untuk mengikis epitel dengan

lapisan berpigmen yang mendasari secara hati-hati. Permukaan

diirigasi, dibersihkan dan pak diberikan selama 1 minggu.


c. Abrasi
Menggunakan hand piece yang high speed. Setelah anastesi local

telah adekuat hand piece high speed dengan diamond bur (No.8

Lurus) dengan berisi air sebagai pilihan. Disarankan menggunakan

ukuran diamond bur yang lebih besar karena bur kecil tidak

memperlancar permukaan dengan mudah dan memiliki

kecendrungan terjadinya lubang didaerah yang akan diperbaiki.

Light brushing digunakan untuk menghapus daerah berpigmen tanpa

memegang bur di satu tempat.

d. Kauterisasi kimia
Menggunakan 90% fenol.

12
Kekurangan : berbahaya untuk jaringan mulut. Band gingiva sulit

dihapus dan kedalaman tindakan tidak terkontrol.


e. Gingivektomi
Prosedur ini berhubungan dengan kehilangan tulang alveolar, proses

penyembuhan lama dengan penyembuhan sekunder dan nyeri pasca

operasi berlebihan. Hal ini juga menghasilkan depigmentasi yang

tidak permanen.
f. Penggundulan tulang
Setelah anestesi lokal, dua insisi vertikal ditempatkan, masing-

masing membentang dari margin gingiva ke area vestibular, sedikit

di luar batas band berpigmen. Papila di splint dari arah labial dan

lingual bagian dengan pisau B.P. Sebuah insisi horizontal dibuat di

daerah vestibula, apical terhadap pimen band, dan berhubungan

dengan 2 insiis vertical. Dengan elevator periosteal, jaringan

periosuteum yang lembut dipisahkan dengan tulang alveolar dan

menghapus sepenuhnya tulang alveolar yang terekspos. Periodontal

pak digunakan selama seminggu.


g. Cryosurgery
Cryosurgery adalah metode perusakan jaringan oleh pembekuan

cepat. Sitoplasma sel membeku, menyebabkan denaturasi protein

dan kematian sel.Tidak memerlukan penggunaan anestesi lokal atau

periodontal dressing, relatif tidak sakit dan telah menunjukkan hasil

yang sangat baik. Prosedur cryotherapy memerlukan tempat khusus

untuk penyimpanan nitrogen cair, dan pengeluaran sulit karena

sangat mudah berubah (-190 C) dan sulit untuk mempertahankan

selama 20-30 detik aplikasi pembekuan. Selain itu, kedalaman

13
penetrasi sulit untuk dikontrol dan pembekuan berkepanjangan dapat

menyebabkan kerusakan jaringan yang berlebihan. Metode Dip-stick

menggunakan cotton bud / swab kecil dicelupkan ke dalam nitrogen

cair, yang dapat di aplikasikan pada daerah berpigmen dan dibiarkan

kontak sekitar 20-30 detik seperti yang dijelaskan oleh Tal dkk.

Namun, penghapusan pigmen tidak dapat dievaluasi secepat

perubahan klinis dan karenanya memerlukan beberapa aplikasi.

BAB III
LAPORAN KASUS

Nama O.S. : Karsinah Nama/NIM:1. Ayu Noermalasari (2015-16-080)


Tanggal Lahir : 17 Februari 1967 2. Amelia Diansari (2015-16-
081)

14
Jenis kelamin : Perempuan 3. Dinda Mousavi (2015-16-
138)
Alamat : Ulujami 4. Gabriella Titahelu (2015-16-
141)

Pembimbing : Erianti Dewi Utami, drg., Mpd

Anamnesa:
Pasien datang dengan keluhan gusi depan atas dan bawah berwarna
kehitaman serta mengganggu penampilan. Pasien tidak memiliki kebiasaan
merokok, namun memiliki kakak dan adik kandung dengan warna gusi yang
serupa. Gusi tidak pernah terasa sakit dan pasien datang dalam keadaan tidak
sakit. Pasien tidak memiliki penyakit sistemik dan tidak sedang mengonsumsi
obat-obatan. Pasien belum pernah melakukan perawatan pada gusinya yang
berwarna kehitaman tersebut. Pasien datang dan ingin dirawat
Status Umum : Pasien tidak memiliki riwayat penyakit sistemik
Status Lokal :
1) Pemeriksaan ekstra oral:
Wajah : Simetris
Mata : Pupil: isokor, Konjungtiva : non anemik,
Sklera: non ikterik
Pipi : Tidak ada pembengkakan
Bibir : Kompeten
Kelenjar submandibularis: teraba, lunak, tidak sakit
Kelenjar Limfe : teraba, lunak, tidak sakit
2) Pemeriksaan intra oral:
Missing gigi : 37, 38, 47, 48
Sisa akar : 16, 26
Gigi goyang :-
Malposisi :-
Diastema : 11-21
Migrasi :-
Karies : 17, 23, 27, 28, 36

15
Resesi : 14, 24, 27, 36, 33,32,31,41,42,43,44,45,46
Restorasi amalgam : -
Atrisi : 17, 15, 14,13,12,11,21,22,23,24,25,27,28, 36, 35, 34, 33,
32, 31, 41, 42, 43, 44, 45, 46
Abrasi : -
Perlekatan frenulum RA : - Bukal Kanan : sedang
- Bukal Kiri : sedang
- Labial : sedang
Perlekatan frenulum RB : - Bukal Kanan : sedang
- Bukal Kiri : sedang
- Labial : sedang
- Lingual : sedang
Open bite :-
Edge to edge :-
Ekstrusi :-
Intrusi :-
Crowding :-
Trauma oklusi :-

a. Gingiva:
b. RA. KA: Bengkak (+) Merah (+) Kehitaman (+) Interdental Papil Tumpul (+)

BOP (+) Stippling (-)


c. RA. M : Bengkak (+) Merah (+) Kehitaman (+) Interdental Papil Tumpul (+)

BOP (-) Stippling (-)


d. RA. KR: Bengkak (+) Merah (+) Kehitaman (+) Interdental Papil Tumpul (+)

BOP (+) Stippling (-)


e. RB. KA: Bengkak (+) Merah (+) Kehitaman (+) Interdental Papil Tumpul (+)

BOP (+) Stippling (-)


f. RB. M : Bengkak (+) Merah (+) Kehitaman (+) Interdental Papil Tumpul (+)

BOP (+) Stippling (-)


g. RB. KR: Bengkak (+) Merah (+) Kehitaman (+) Interdental Papil Tumpul (+)

BOP (+) Stippling (-)

16
Mesi Medi Mesia
Distal
Medial Distal
Gigi al Gigi
al l
14 3 214 3 3 2 2
13 3 2 2
13 2 2 2
12 2 2 3
11 2 212 3 2 3 3
21 2 2 3
21 2 2 3
22 3 2 3
23 3 321 3 2 2 2
24 2 2 4
22 2 2 3
34 3 2 2
33 3 323 3 3 3 3
32 2 224 4 3 2 3
31 3 2 2
41 2 234 3 2 2 3
42 2 233 4 2 2 2
43 3 2 4
44 3 232 3 4 2 2
31 2 2 2
41 2 2 3
42 2 2 3
43 3 2 2
a. Keadaan44 3 :
gigi geligi 2 4

BUKAL PALATAL

17
3) Pemeriksaan radiografi : -

Etiologi:
1. Primer : Bakteri plak
2. Predisposisi :
a) Lokal : - Kalkulus RA dan RB
- Karies pada gigi 17, 23, 27, 28, dan 36
b) Sistemik : -
c) Genetik : Peningkatan produksi melanin.

Diagnosa : Periodontitis kronis generalis disertai Hiperpigmentasi gingiva


anterior rahang atas dan rahang bawah
Prognosis : Baik, tidak ada penyakit sitemik, pasien kooperatif
Rencana terapi :
Fase Pendahuluan (fase preliminary) :Penjelasan kepada pasien mengenai
keadaan rongga mulutnya serta menjelaskan prosedur yang akan
dilakukan
Fase I (fase inisial) :
1. Scaling

18
2. OHI
3. Pencabutan sisa akar 16, 26
Fase II(Fase bedah) :
1. Depigmentasi gingiva RA & RB anterior
Fase III (Fase restorasi) :
1. Penambalan karies dengan komposit gigi 17, 23, 27, 28, dan
36.
2. Pembuatan gigi tiruan gigi 16, 26, 37, 38, 47 dan 48
Fase IV (Fase re-evaluasi):
1. Evaluasi paska depigmentasi (1 minggu paska
depigmentasi)

Rujukan:
1) Bagian Konservasi
2) Bagian Prosthodonsi

GAMBARAN KLINIS INTRA ORAL

19
Rencana Perawatan:

Perawatan yang dilakukan pada

kasus ini adalah depigmentasi dengan tehnik scalpel.

Alat :

Alat Standar:

o Nierbekken

o Kaca mulut no. 4

o Pinset

o Sonde

o Ekskavator

Lap putih

Syringe 27Gauge/3ml

Scalpel dengan blade no 15

Cheek retractor

Large diamond round burring blue(2- 2,5mm) .

20
Handpiece high speed

Suction

Glass plate

Semen spatel

Plastis filling

Bahan:

o Tissue

o Gelas kumur

o Cotton pellet

o Larutan 10%povidon iodine

o Lidocain gel 2%

o Larutan anestesi lokal 2% lidocaine dengan 1: 200.000 adrenalin.

o Petroleum jelly

o Kasa steril

o Larutan saline (garam fisiologis).

o Periodontal pack.

Tahapan perawatan :

A. Tahap perawatan Rahang Atas:

21
1) Pengisian dan persetujuan lembar informed consent oleh pasien

untuk persetujuan dilakukan perawatan depigmentasi rahang

atas
2) Tindakan aseptik pada daerah kerja(bibir dan gingiva labial

regio 13 23)menggunakan larutan 10%povidon iodine

sebagai antiseptik, dari pertengahan bibir lalu ke bibir atas dan

bibir bawah (dari dalam ke arah luar) dengan sekali usapan

searah jarum jam.


3) Aplikasikan gel lidocaine 2% pada daerah yang akan dilakukan

anestesi infiltrasi
4) Lokal infiltrasi untuk nervus alveolaris superior anterior dextra

dan nervus alveolaris superior anterior sinistra. Anestesi

dilakukan dengan menggunakan larutan anestesi lokal 2%

lidocaine dengan 1: 200.000 adrenalin


5) Daerah hiperpigmentasi melanin (area of interest) ditandai

dengan dua garis vertikal dan horisontal untukdemarkasi dari

daerah tidak terlibat. prosedur ini menguraikan daerah itu ketat

dilakukan dengan memintapasien untuk tersenyum, sehingga

untuk mengetahui ekstensi yang tepat dari daerah yang

memerlukan estetik. Untuk menandai ekstensi, digunakan

ujung belakang blade.


6) Aplikasikan petroleum jelly di bagian sudut bibir untuk

menghindari cedera pada sudut bibir, lalu pasang cheek

retractor untuk meretraksi bibir pasien.


7) Lapisan pigmentasi diambil dengan menggunakan scalpel

(dengan blade no. 15) dengan kedalaman sampai perbatasan

22
epitel danjaringan ikat (hal ini ditandai dengan sedikit terdapat

pendarahan).
8) Pendarahan ditanggulangi dengan menggunakan kasa steril

yang telah direndam dengan larutan anastesi lokal.


9) Setelah pengambilan seluruh epitel yang telah terpigmentasi

dan selapis jaringan ikat dibawahnya dengan scalpel, kemudian

dilakukan tindakan abrasi dengan menggunakan large diamond

bur ring blue diameter 2-2.5mm untuk mendapatkan kontur

gingiva fisiologis. Pengeboran ini dilakukan dengan tekanan

ringan dan gerakan seperti menyikat gigi serta dilakukan tidak

pada satu tempat, secara berhati-hati sampai seluruh lapisan

pigmen terambil.
10) Irigasi mengggunakan larutan saline.
11) Tekan daerah operasi dengan menggunakan kasa steril yang

telah direndam dengan larutan anastesi lokal, sampai

perdarahan berhenti
12) Penutupan luka menggunakan periodontal pack:
Siapkan pasta periodontal pack (pasta accelerator dan pasta

base) dengan perbandingan 1:1


Kedua pasta dicampur hingga homogen menggunakan

semen spatel
Oleskan petroleum jelly pada tangan operator
Bentuk pasta yang sudah homogen menjadi seperti batang
Keringkan daerah luka.
Tempatkan periodontal pack dengan panjang dari gigi 14

sampai 24, dan lebar dari batas mukosa bergerak dan tidak

bergerak sampai 1/3 servikal gigi / batas titik kontak antar

gigi serta memperhatikan bagian frenulum rahang serta

23
memperhatikan batas senyum dan tidak mengganggu

pergerakan otot.
Lakukan molding dengan cara menarik bibir atas pasien ke

depan dan bawah, lalu lakukan penekanan ringan pada bibir

luar, sedangkan pada sisi interproksimal dengan bantuan

alat plastis filling.


13) Pasien diberikan instruksi:
a) Tidak menyentuh perban atau membuka perban.
b) Jika perban lepas atau terjadi sesuatu, segera hubungi

operator.
c) Jangan berkumur terlalu keras selama 1 x 24 jam
d) Menghindari makanan pedas, asam, dan keras.
e) Menghindari makan dan minum panas 2 x 24 jam pasca

operasi.
f) Menggosok gigi pada area yang tidak ditutup pack.
g) Menggunakan obat kumur khlorheksidin dua kali sehari

(pada pagi dan malam hari setelah sikat gigi) selama satu

minggu. Cara penggunaannya yaitu dengan dikulum selama

30 detik.
h) Datang 1 minggu kemudian untuk dilakukan evaluasi dan

depigmentasi untuk rahang bawah.

14) Terapi obat:


a. Amoxillin 500 mg, 3 kali sehari selama 5 hari
b. Cataflam 50 mg, 2 kali sehari selama 5 hari
c. Khlorheksidin, 2 kali sehari

B. Tahap perawatan rahang bawah:

1) Pengisian dan persetujuan lembar informed consent oleh

pasien untuk persetujuan dilakukan perawatan depigmentasi

rahang bawah.

24
2) Tindakan aseptik pada daerah kerja (bibir dan gingiva labial

regio 33 43)menggunakan larutan 10%povidon iodine

sebagai antiseptik, dari pertengahan bibir lalu ke bibir atas dan

bibir bawah (dari dalam ke arah luar) dengan sekali usapan

searah jarum jam.


3) Aplikasikan gel lidocaine 2% pada daerah yang akan dilakukan

anestesi infiltrasi.
4) Lokal infiltrasi untuk nervus alveolaris inferior dextra dan

nervus alveolaris inferior sinistra. Anestesi dilakukan dengan

menggunakan larutan anestesi lokal 2% lidocaine dengan 1:

200.000 adrenalin.
5) Daerah hiperpigmentasi melanin (area of interest) ditandai

dengan dua garis vertikal dan horisontal untukdemarkasi dari

daerah tidak terlibat. prosedur ini menguraikan daerah itu ketat

dilakukan dengan memintapasien untuk tersenyum, sehingga

untuk mengetahui ekstensi yang tepat dari daerah yang

memerlukan estetik. Untuk menandai ekstensi,digunakan

ujung belakang blade.


6) Aplikasikan petroleum jelly di bagian sudut bibir untuk

menghindari cedera pada sudut bibir, lalu pasang cheek

retractor untuk meretraksi bibir pasien.


7) Lapisan pigmentasi diambil dengan menggunakan scalpel

(dengan blade no. 15) dengan kedalaman sampai perbatasan

epitel dan jaringan ikat (hal ini ditandai dengan sedikit terdapat

pendarahan).

25
8) Pendarahan ditanggulangi dengan menggunakan kasa steril

yang telah direndam dengan larutan anastesi lokal.


9) Setelah pengambilan seluruh epitel yang telah terpigmentasi

dan selapis jaringan ikat dibawahnya dengan scalpel, kemudian

dilakukan tindakan abrasi dengan menggunakan large diamond

bur ring blue diameter 2-2.5mm untuk mendapatkan kontur

gingiva fisiologis. Pengeboran ini dilakukan dengan tekanan

ringan dan gerakan seperti menyikat gigi serta dilakukan tidak

pada satu tempat, secara berhati-hati sampai seluruh lapisan

pigmen terambil.
10) Irigasi mengggunakan larutan saline.
11) Tekan daerah operasi dengan menggunakan kasa steril yang

telah direndam dengan larutan anastesi lokal, sampai

perdarahan berhenti
12) Penutupan luka menggunakan periodontal pack:
Siapkan pasta periodontal pack (pasta accelerator dan pasta

base) dengan perbandingan 1: 1.


Kedua pasta dicampur hingga homogen menggunakan

semen spatel.
Oleskan petroleum jelly pada tangan operator.
Bentuk pasta yang sudah homogen menjadi seperti batang.
Keringkan daerah luka.
Tempatkan periodontal pack dengan panjang dari gigi 34

sampai 44, dan lebar dari batas mukosa bergerak dan tidak

bergerak sampai 1/3 servikal gigi / batas titik kontak antar

gigi serta memperhatikan bagian frenulum rahang serta

memperhatikan batas senyum dan tidak mengganggu

pergerakan otot.

26
Lakukan molding dengan cara menarik bibir atas pasien ke

depan dan bawah, lalu lakukan penekanan ringan pada bibir

luar, sedangkan pada sisi interproksimal dengan bantuan

alat plastis filling.

13) Pasien diberikan instruksi:


a) Tidak menyentuh perban atau membuka perban.
b) Jika perban lepas atau terjadi sesuatu, segera hubungi

operator.
c) Jangan berkumur terlalu keras selama 1 x 24 jam.
d) Menghindari makanan pedas, asam, dan keras.
e) Menghindari makan dan minum panas 2 x 24 jam pasca

operasi.
f) Menggosok gigi pada area yang tidak ditutup pack.
g) Menggunakan obat kumur khlorheksidin dua kali sehari

(pada pagi dan malam hari setelah sikat gigi) selama satu

minggu. Cara penggunaannya yaitu dengan dikulum

selama 30 detik.
h) Datang 1 minggu kemudian untuk dilakukan evaluasi dan

depigmentasi untuk rahang bawah.


14) Terapi obat:
a. Amoxillin 500 mg, 3 kali sehari selama 5 hari
b. Cataflam 50 mg, 2 kali sehari selama 5 hari
c. Khlorheksidin, 2 kali sehari

27
BAB V

KESIMPULAN

Pigmentasi gingival merupakan pewarnaan pada gingival berupa warna

gelap keungunan atau bercak-bercak coklat terang yang tidak beraturan. Melanin

adalah pigmen dasar yang memberi warna pada gingival. Hiperpigmentasi coklat

atau hitam dan perubahan jaringan gusi dapat disebabkan oleh faktor eksogen dan

endogen.

Pada laporan kasus ini, hiperpigmentasi yang terjadi pada pasien

disebabkan oleh faktor genetik akibat produksi melanin yang berlebihan.

Depigmentasi gingiva merupakan prosedur bedah plastik periodontal dengan

menghilangkan atau mengurangi hiperpigmentasi gingival. Banyak cara untuk

menghilangkan hiperpigmentasi gingival, namun berdasarkan banyak

pertimbangan, tehnik skalpel merupakan tehnik yang digunakan. Hal ini

dikarenakan tehnik skalpel merupakan cukup sederhana, relatif mudah dilakukan,

murah serta tidak memerlukan banyak peralatan.

DAFTAR PUSTAKA

28
1. Reddy, Shantipriya. Clinical Periodontology and Periodontics, 4th Edition.

New Delhi : Jaypee Brothersc Medical Publishers. 2014 : 7-9


2. Reddy, Shantipriya. Manual of Clinical Periodontics. New Delhi : Jaypee

Brothers Medical Publishers. 2014. 6-9.


3. Karina V.M, Soesilowati A.S.K . Perawatan Perioestetik dengan Frenektomi dan

Depigmentasi Gingiva (Laporan Kasus). 1-11


4. Chattarjee A, et al. Gingival pigmentation and its treatment modalities.

Journal of Dental Sciences and Oral Rehabilitation. 2012: 11-14.


5. Putro HS, Herawati D. Teknik De-epithelisasi untuk Perawatan

depigmentasi Gingiva dengan Desain Split mouth: Telaah Pustaka. FKG

UGM
6. Kodir A.I.A. Teknik Bedah dengan Skalpel pada Hiperpigmentai Gingiva.

ODONTO Dental Journal. 2014; 1(2):43-48


7. Balcheva G. Balcheva M. Depigmentation of Gingiva. Journal of IMAB- Annual

Proceeding (Scientific Papers). 2014; 20(1).


8. Alqahtani S.M. Management of Gingiva Hyperpigmentation by The Surgical

Abrasion: A case report. International Journal of Medical and Dental Case

Reports.(2015): 3
9. Gulati N, Dutt P, Gupta N, Tyagi P. Gingival Pigmentation: Revisited.

Journal of Advanced Medical and Dental Sciences Research.2016; 4(1):

48-57
10. Madan E, Madan R, Agarwal MC, Agarwal S. Gingival Pigmentation Revisited.

International Journal of Dental and Health Science

29