Anda di halaman 1dari 8

1.

Efektifitas Penggunaan Buku Saku

Bahan ajar merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan di

sekolah. Melalui bahan ajar guru akan lebih mudah dalam melaksanakan

pembelajaran dan siswa akan lebih terbantu dan mudah dalam belajar. Bahan ajar

dapat dibuat dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik

materi ajar yang akan disajikan. Dalam PP nomor 19 tahun 2005 Pasal 20,

diisyaratkan bahwa guru diharapkan mengembangkan materi pembelajaran, yang

kemudian dipertegas malalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional

(Permendiknas) nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses, yang antara lain

mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi

pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP). Salah satu elemen dalam RPP adalah sumber belajar. Dengan

demikian, guru diharapkan untuk mengembangkan bahan ajar sebagai salah satu

sumber belajar (Depdiknas, 2008).

Lebih lanjut Depdiknas (2008) menyebutkan bahwa bahan ajar berfungsi

sebagai:

a. Pedoman bagi Guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses

pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya

diajarkan kepada siswa

b. Pedoman bagi Siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam

proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang

seharusnya dipelajarai/dikuasainya.

c. Alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran.


Kedudukan bahan ajar khususnya dan rancangan pembelajaran pada

umumnya dapat: 1) membantu dalam belajar secara perorangan (individu); 2)

memberikan keleluasaan penyajian pembelajaran jangka pendek dan jangka

panjang; 3) rancangan bahan ajar yang sistematis memberikan pengaruh yang

besar bagi perkembangan suber daya manusia secara perorangan; 4) memudahkan

proses belajar mengajar dengan pendekatan sistem; dan 5) memudahkan belajar

karena dirancang atas dasar pengetahuan tentang bagaimana manusia (Suhartati

2006 dalam Yaumi, 2013).

Sampai saat ini buku pelajaran masih merupakan sumber informasi atau

bahan ajar utama dalam proses pembelajaran, baik guru dan siswa. Buku teks

merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam pembelajran dan kurikulum sains

serta memegang peranan penting di dalam membentuk pembelajaran sains seperti

sekarang (Adisendjaja, 2007). Sejalan dengan Stinner (1992) (dalam Adisendjaja,

2007) menuliskan bahwa pembelajaran sains pada umumnya dan fisika pada

khususnya berpusat pada buku teks (textbook-centered) sejak tahun 1820-an.

Muhammad (2015) telah melakukan wawancara terhadap guru di SMAN 1

Tamalatea Kab. Jeneponto, pada pembelajaran biologi di kelas guru menggunakan

bahan ajar ajar berupa LKS dari penerbit sebagai sumber belajar siswa. Hasil

wawancara dengan beberapa siswa kelas XI yang menyatakan bahwa LKS yang

mereka miliki berisi rangkuman materi, latihan soal kurang menarik karena

penyajiannya yang sudah umum seperti essai dan pilihan ganda, materi yang

disajikan kurang lengkap, kurang gambar yang mendukung materi, gambar yang

tidak berwarna, menggunakan kertas buram dan ukuran LKS yang besar untuk
dibawa kemana-mana. Siswa menginginkan buku yang praktis agar mudah

digunakan saat ingin belajar dimanapun dan kapanpun yang lebih menarik dengan

materi yang lengkap dengan gambar yang berwarna.

Kondisi di atas memerlukan solusi untuk memotivasi siswa membaca buku

pelajaran biologi, sehingga diperlukan buku suplemen tambahan untuk mudahkan

siswa belajar. Olehnya itu, peneliti merasa penting untuk mengembangkan sebuah

bahan ajar untuk mata pelajaran biologi yang didesain secara menarik dan praktis

sebagai bahan ajar suplemen tambahan bagi siswa selain LKS yang disajikan

dalam bentuk buku saku Muhammad (2015).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), buku saku adalah buku

berukuran kecil yang dapat disimpan dalam saku dan mudah dibawa kemana-

mana. Buku saku yang akan dikembangkan melalui penelitian ini berukuran lebih

kecil dibandingkan buku pelajaran yang beredar selama ini sehingga mudah

dibawa kemana-mana. Buku saku ini berisi uraian materi tentang Sistem

Respirasi. Selain itu untuk menarik minat baca siswa maka buku saku akan

didesain dengan banyak gambar dan warna yang lebih menarik. Pemberian

gambar dapat memberikan kejelasan materi yang terkadang hanya disajikan dalam

uraian kalimat. Menurut Anna (2011) (dalam Ami, 2012) warna juga dapat

menjadi bentuk komunikasi non-verbal yang dapat menyampaikan pesan secara

instan dan lebih bermakna.

Penyusunan anatomi buku saku dapat merujuk pada anatomi buku yang

dituliskan oleh Sitepu (2012) kemudian dimodifikasi sesuai kebutuhan, adapun

anatomi buku saku ini yaitu:


a. Kulit Buku

Kulit buku terdiri atas kulit depan, kulit punggung, dan kulit belakang. Buku

memiliki kulit punggung apabila buku itu cukup tebal dan dijilid dengan lem

(perfect binding) atau jahit benang. Buku yang dijilid kawat biasanya tidak

menggunakan kulit punggung.

1) Kulit Depan atau Kulit Muka

2) Punggung Buku (bila ada)

3) Kulit Belakang

b. Bagian Depan Buku

Bagian depan buku memuat

1) Halaman judul seperuh (halaman kanan)

2) Halaman kosong (halaman kiri)

3) Halaman judul utama (halaman kanan)

4) Halaman hak cipta/halaman katalog (halaman kiri)

5) Halaman daftar isi (halaman kanan)

6) Halaman kata pengantar (halaman kanan)

c. Bagian Teks Buku

Bagian teks buku pelajaran memuat bahan pelajaran yang disampaikan kepada

siswa. Isi buku berkaitan dengan tuntutan kurikulum yang berlaku seperti

kompetensi inti, kompetensi dasar dan indikator kompetensi. Untuk mencapai

kompetensi itu dalam kurikulum telah disebutkan materi pokok bahan ajar.

Penyusun buku mengembangkan materi pokok itu sehingga dapat mencapai

masing-masing kompetensi dasar. Kedalaman dan keluasan uraian bergantung


pada indikator kompetensi yang hendak dicapai. Konsep dan teori yang

disampaikan harus relevan dengan pokok bahasan, mutakhir dan benar

berdasarkan disiplin ilmunya (Sitepu, 2008). Bagian teks ini terdiri atas:

1) Judul bab

2) Sub judul

3) Sub-sub judul (bila ada)

d. Bagian Belakang Buku

Bagian belakang buku terdiri atas:

1) Soal Evaluasi

2) Daftar Pustaka

Berdasarkan susunan buku tersebut diharapkan mampu menjadi bahan ajar

yang dapat dimanfaatkan oleh peserta didik sebagai suplemen tambahan buku

paket dan LKS Biologi untuk mencapai hasil belajar yang maksimal.

Godinho dkk (2014) yang memproduksi buku saku dengan mengintervensi

pengetahuan siswa sekolah menengah di sebuah sekolah komunitas adat terpencil

di Northern Territory tentang daerahnya, nilai gizi makanan semak, dan perawatan

pertolongan pertama untuk gigitan berbisa dan sengatan. Siswa di daerah terpencil

tersebut menggunakan buku saku pada pertolongan pertama untuk pengobatan

gigitan berbisa dan sengatan. Selain itu, penelitian Wahyudi (2013) yang

membandingkan rata-rata hasil belajar kelas eksperimen yang menggunakan Buku

Saku Geografi (BSG) dengan kelas kontrol, terdapat perbedaan yaitu rata-rata

kelas kontrol sebesar 75,2% sementara kelas eksperimen 79,2% yang berarti kelas
eksperimen yang menggunakan bahan ajar BSG memiliki hasil belajar lebih tinggi

dari pada kelas kontrol yang tidak menggunakan bahan ajar BSG.

Selanjutnya pada penelitian yang dilakukan oleh Muhammad (2015)

menunjukkan bahwa keefektifan buku saku dapat diketahui hasil belajar siswa

SMA Negeri 1 Tamalatea Kab. Jeneponto kelas XI IPA2diperoleh skor rata-rata

85,42. Skor minimum yang diperoleh siswa adalah 70 dan skor maksimum yang

diperoleh siswa adalah 100. Tes hasil belajar menunjukkan bahwa seluruh siswa

mencapai standar ketuntasan belajar.

2. Materi Biologi Sel di SMA Kelas XI

Materi Biologi Sel di kelas XI SMA dibagi menjadi dua yaitu Organisasi

Tingkat Sel dan Organisasi Tingkat Jaringan. Secara garis besar materi Organisasi

Tingkat Sel dan Organisasi Tingkat Jaringan dapat dilihat pada peta konsep

berikut:
Gambar 1. Peta Konsep Materi Organisasi Tingkat Sel
Gambar 2. Peta Konsep Materi Organisasi Tingkat Jaringan