Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN
Telenursing yang merupakan contoh media teknologi

informasi kesehatan yang dapat diaplikasikan dalam

asuhan keperawatan sehingga masyarakat dapat mengakses

kebutuhan pelayanan keperawatan melalui media

telekomunikasi Telenursing salah satu teknologi yang

telah dilaksanakan dalam pelayanan keperawatan yaitu

penggunaan proses keperawatan dalam memberikan

perawatan kepada pasien melalui perangkat

telekomunikasi (AAACN, 2004).


Telenursing adalah pemberian servis dan perawatan

oleh perawat dengan menggunakan telekomunikasi,

meningkatkan akses untuk tindakan keperawatan kepada

pasien pada lokasi yang jauh atau perpencil.


Telenursing adalah upaya penggunaan teknologi

informasi dalam memberikan pelayanan keperawatan dalam

bagian pelayanan kesehatan dimana ada jarak secara

fisik yang jauh antara perawat dan pasien, atau antara

beberapa perawat. Sebagai bagian dari telehealth dan

beberapa bagian terkait dengan aplikasi bidang medis

dan non medis seperti telediagnosis, telekonsultasi

dan telemonitoring.
Telenursing menunjukkan penggunaan tehnologi

komunikasi oleh perawat untuk meningkatkan perawatan

pasien. Telenursing menggunakan channel

elektromagnetik (wire, radio, optical) untuk mengirim


suara, data dan sinyal video komunikasi. Dapat juga

didefinisikan sebagai komunikasi jarak jauh

menggunakan transmisi elektrik atau optic antara

manusia dan atau komputer.


Telenursing diartikan sebagai pemakaian

telekomunikasi untuk memberikan informasi dan

pelayanan keperawatan jarak-jauh. Aplikasinya saat

ini, menggunakan teknologi satelit untuk menyiarkan

konsultasi antara fasilitas-fasilitas kesehatan di dua

negara dan memakai peralatan video conference.

Telenursing bagian integral dari telemedicine atau

telehealth.

B. MANFAAT
Menurut Britton et all (1999), ada beberapa

keuntungan telenursing yaitu :


1. Efektif dan efisien dari sisi biaya kesehatan,

pasien dan keluarga dapat mengurangi kunjungan ke

pelayanan kesehatan (dokter praktek,ruang gawat

darurat, rumah sakit dan nursing home).


2. Dengan sumber daya yang minimal dapat meningkatkan

cakupan dan jangkauan pelayanan keperawatan tanpa

batas geografis.
3. Telenursing dapat menurunkan kebutuhan atau

menurunkan waktu tinggal di rumah sakit.


4. Pasien dewasa dengan kondisi penyakit kronis

memerlukan pengkajian dan monitoring yang sering

sehingga membutuhkan biaya yang banyak. Telenursing

dapat meningkatkan pelayanan untuk pasien kronis


tanpa memerlukan biaya dan meningkatkan pemanfaatan

teknologi.
5. Berhasil dalam menurunkan total biaya perawatan

kesehatan dan meningkatkan akses untuk perawatan

kesehatan tanpa banyak memerlukan sumber.

Model pelayanan ini memberikan keuntungan antara

lain :
1. Mengurangi waktu tunggu danmengurangi kunjungan

yang tidak perlu.


2. Mempersingkat hari rawat dan mengurangi biaya

perawatan.
3. Membantu memenuhi kebutuhan kesehatan.
4. memudahkan akses petugas kesehatan yang berada di

daerah yang terisolasi


5. berguna dalam kasus-kasus kronis atau kasus

geriatik yang perlu perawatan di rumah dengan jarah

yang jauh dari pelayanan kesehatan.


6. Mendorong tenaga kesehatan atau daerah yang kurang

terlayani untuk mengakses penyedia layanan melalui

mekanisme seperti : konferensi video dan internet.

(American Nurse Assosiation, 1999).

C. APLIKASI TELENURSING
Praktek telenursing dapat diaplikasikan dalam

berbagai setting area keperawatan. Perawat dapat

praktek dalam berbagai setting perawatan seperti

ambulatory care, call centers, home visit telenursing,

bagian rawat jalan dan bagian kegawatdaruratan.


Bentuk-bentuk telenursing dapat berupa

triage telenursing, call-center services, konsultasi

melalui secure email messaging system, konseling


melalui hotline service, audio atau videoconferencing

antara klien dengan petugas kesehatan atau dengan

sesama petugas kesehatan, discharge planning

telenursing, home-visit telenursing dan websites untuk

sebagai pusat informasi dan real-time counseling pada

pasien (CNA, 2005).


Aplikasi telenursing dapat diterapkan di rumah,

rumah sakit melalui pusat telenursing dan melalui unit

mobil. Telepon triase dan home care berkembang sangat

pesat dalam aplikasi telenursing. Di dalam home care

perawat menggunakan system memonitor parameter

fisiologi seperti tekanan darah, glukosa darah,

respirasi dan berat badan melalui internet. Melalui

system interaktif video, pasien contact on-call

perawat setiap waktu untuk menyusun video konsultasi

ke alamat sesuai dengan masalah, sebagai contoh

bagaimana mengganti baju, memberikan injeksi insulin

atau diskusi tentang sesak nafas. Secara khusus sangat

membantu untuk anak kecil dan dewasa dengan penyakit

kronik dan kelemahan khususnya dengan penyakit

kardiopulmoner. Telenursing membantu pasien dan

keluarga untuk berpartisipasi aktif di dalam

perawatan, khususnya dalam management penyakit kronis.

Hal ini juga mendorong perawat menyiapkan informasi

yang akurat dan memberikan dukungan secara online.

Kontinuitas perawatan dapat ditingkatkan dengan


menganjurkan sering kontak antara pemberi pelayanan

kesehatan maupun keperawatan dengan individu pasien

dan keluarganya.

D. KUALIFIKASI DAN SKILL PERAWAT DALAM TELENURSING


Menurut Scotia (2008), kompetensi yang diperlukan

oleh seorang perawat untuk melakukan telenursing

adalah sebagai berikut: memiliki karakteristik

personal: sikap positif, terbuka terhadap teknologi

dan memiliki skill yang baik tentang teknologi;

memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk

mengoperasikan teknologi informasi, seperti kemampuan

untuk mengoperasikan kamera, videoconferencing,

computer dan lain-lain, mengerti tentang keterbatasan

dari teknologi yang digunakan; kemampuan untuk

mempertimbangkan sesuai atau tidaknya kondisi klien

untuk dilakukan telenursing; mengetahui protocol dan

prosedur telehealth, memiliki kemampuan komunikasi

yang baik dan melakukan praktek berdasarkan evidence

based dan riset.

E. TELENURSING DAN KEPATUHAN DALAM PROGRAM PENGOBATAN


Menurut Verma (2012) Sebagian besar biaya

tambahan dapat dikaitkan dengan non-kepatuhan terhadap

rejimen obat dan komplikasi yang terjadi akibat dari

ketidakpatuhan. Komplikasi lebih lanjut dapat menambah

masalah psikologis dan patologis juga. Hal ini tentu

mempengaruhi terhadap kualitas hidup, meningkatkan

lama tinggal pengobatan dan hari rawat dan


menghabiskan sumber daya kesehatan yang berharga yang

pada sebenarnya bisa digunakan untuk pasien yang

memang benar-benar membutuhkan. Karea akses kesehatan

yang terbatas dan penerimaan informasi yang tersedia

terbatas sehingga dapat menimbulkan dampak klinis dan

keuangan bagi pasien yang sedang mengalami penyakit

kronis, Telenursing ini sangat membantu terutama untuk

negara-negara berkembang dalam menjembatani

kesenjangan antara kebutuhan dan infrastruktur

kesehatan yang tersedia. Perawat dapat membantu pasien

penyakit kronis dengan memberikan pendidikan,

konseling, review dan memonitor status kesehatan

dengan rutin. Proses ini bahkan dapat memastikan untuk

mengingatkan pasien dari janji mereka du untuk

konsultasi dan penyelidikan. Selain SMS otomatis dan

pengingat telepon meningkatkan kemungkinan pasien

menjaga janji mereka dan mengikuti jadwal obat resep.

Perbaikan kecil namun signifikan seperti dalam

protokol perawatan dan otomatisasi proses administrasi

memiliki potensi besar penghematan biaya dan

meningkatkan kepatuhan. Beberapa studi mendukung bukti

bahwa intervensi berbasis telepon oleh seorang perawat

terlatih meningkatkan hasil pada pasien penyakit

kronis. Manfaat klinis diperoleh secara tidak langsung

dengan kepatuhan pasien membaik teradadap pengobatan,

pengkajian, dan tindak lanjut janji dengan dokter.


Dalam sebuah penelitian, pasien yang dihubungi dan

dididik oleh perawat pada kasus diabetes yang tidak

terkontrol dan hipertensi mengikuti saran dengan

sungguh-sungguh.
Dalam sebuah studi di India untuk menyelidiki

efektivitas perawat dipimpin telepon menindaklanjuti

kontrol glikemik kepatuhan terhadap rekomendasi

kontrol diabetes. Laporan tersebut menunjukkan bahwa

dukungan telepon perawat dapat meningkatkan kontrol

glukosa darah dan meningkatkan kepatuhan dengan

rekomendasi lainnya termasuk pola makan, olahraga dll,

obat. Dalam studi lain interaksi dengan pasien asma

melalui telenursing untuk menjawab pertanyaan pada

obat-obatan, saran, dan janji rawat jalan. Laporan

tersebut menyatakan peningkatan yang signifikan dalam

kepatuhan terhadap rawat jalan. Ini mengakibatkan

berkurangnya jumlah re-rawat inap dan berkurangnya

jumlah kunjungan darurat, menyelamatkan yang juga

berdampak terhadap finansial pasien.

F. MODEL TELENURSING
Model telenursing yang salah satunya telah

diaplikasikan oleh Kawaguchi (2004) dari dari

University of Tsukuba, Jepang, model ini lebih

menekankan kepada pengembangan sistem telenursing

untuk pasien dengan kondisi kronik, yaitu diterapkan

pada klien diabetes mellitus tipe 2. Klien dengan

penyakit kronis seperti DM atau penyakit jantung


sangat sesuai untuk melakukan telenursing, mengingat

klien dengan kondisi ini memerlukan pembelajaran dan

pemeliharaan kondisi kesehatan secara terus menerus.

Mereka mungkin memiliki motivasi yang tinggi tetapi

kurang mendapatkan pengetahuan dan kemampuan, dengan

adanya telenursing maka mereka dapat mengakses

informasi dan kontak secara terus menerus dengan

petugas kesehatan, sehingga mereka bisa

menginformasikan kondisi kesehatan mereka secara up to

date dan mereka akan mendapat pengananan segera

melalui telenursing system. Model yang diaplikasikan

Kawaguchi (2004) terdiri dari:


1. Database server: yang berlokasi di pusat kesehatan

universitas wilayah regional, berfungsi sebagai

pusat penyimpan dan penyampai data dan informasi.

Melalui database server ini, klien, perawat dan

dokter dapat melihat dan memasukkan data dalam

website.
2. Health subcenter: berlokasi di seluruh wilayah di

daerah-daerah, dimana di pusat kesehatan ini

terdapat perawat-perawat on call, yang akan

mendapatkan instruksi dari database server, jika

ada klien yang membutuhkan bantuan maka klien akan

didatangi oleh perawat dari pusat subcenter

terdekat dengan lokasi klien. Sistem telenursing

ini menginformasikan tiga tipe informasi yang akan


dikirim klien kepada perawat. Informasi tersebut

adalah:

a. Email dari pasien tentang laporan mengenai status

kesehatan dan hal lain yang dianggap penting oleh

klien. Pasien mengisi email untuk menuliskan apa

yang dirasakan klien atau untuk bertanya mengenai

status kesehatannya. Mereka akan menulis keadaan

kesehatannya saat ini dengan skala visual analog

dari skala 1 (sangat baik) sampai skala 5

(buruk), hal ini memungkinkan tenaga kesehatan

dapat mengkaji klien lebih baik dan memberi

respon sesuai dengan kebutuhan pasien.

b. Vital Sign: yaitu tekanan darah, denyut nadi,

pernafasan, suhu, diukur oleh klien karena klien

memiliki alat-alat pengukurnya. Selain itu pasien

juga memiliki alat finger pletysmography yang

dipasang pada jari klien untuk mengukur gelombang

tubuh sebagai indikator kesehatan klien, alat ini

dibuat oleh A BACS detector, Computer Convenience

Ltd, Jepang. Data pletysmography ini ditransfer

secara otomatis melalui laptop klien via data

cabel.

c. Video mail: yang akan mengirimkan gambar klien,

hal ini penting agar perawat bias melihat atau

mengevaluasi keadaan kliennya secara langsung

melalui visualisasi gambar atau video


denagn webcam Sanwa Supply dan Window MovieMaker.

Klien dapat mengirim videonya melalui fasilitas

ini.

Alur dalam pelaksanaan telenursing yang

diaplikasikan Kawaguchi et al (2004) adalah sebagai

berikut:
1. Klien akan memasukkan informasi setiap hari dengan

memasukkan data-datanya pada website pasien. Pasien

juga dapat melihat data-data sebelumnya di homepage

pasien dan melihat saran/instruski dari dokter atau

perawat sesuai dengan kondisinya.


2. Informasi dari pasien akan disimpan oleh pusat data

dan dapat dilihat oleh perawat dan dokternya setiap

hari. Kemudian perawat dan dokter melakukan analisa

data dan memutuskan apakah pasien hanya memerlukan

intervensi melalui telenursing atau perlu dilakukan

homevisit. Jika klien bisa diberikan intervensi

melalui telenursing maka perawat akan memberikan

instruksi-instruksi pada website pasien, dan

memastikan apakah pasien melakukan instruksi

tersebut atauu tidak denga menelpon pasien atau

melakukan video conference dengan pasien. Jika

pasien tersebut perlu dilakukan home visit maka

perawat di subcentered terdekat akan mendatangi

pasien.

G. ASPEK LEGAL DAN ETIK YANG BERHUBUNGAN TELENURSING


Dalam memberikan asuhan keperawatan secara jarak

jauh maka diperlukan kebijakan umum kesehatan

(terintegrasi) yang mengatur praktek, SOP/standar

operasi prosedur, etik dan profesionalisme, keamanan,

kerahasiaan pasien dan jaminan informasi yang

diberikan. Kegiatan telenursing mesti terintegrasi

dengan startegi dan kebijakan pengembangan praktek

keperawatan, penyediaan pelayanan asuhan keperawatan,

dan sistem pendidikan dan pelatihan keperawatan yang

menggunakan model informasi kesehatan/berbasis

internet.

Perawat memiliki komitmen menyeluruh tentang

perlunya mempertahankan privasi dan kerahasiaan pasien

sesuai kode etik keperawatan. Beberapa hal terkait

dengan isu ini, yang secara fundamental mesti

dilakukan dalam penerapan tehnologi dalam bidang

kesehatan dalam merawat pasien adalah :

1. Jaminan kerahasiaan dan jaminan pelayanan dari

informasi kesehatan yang diberikan harus tetap

terjaga.

2. Pasien yang mendapatkan intervensi melalui

telehealth harus diinformasikan potensial resiko

(seperti keterbatasan jaminan kerahasiaan

informasi, melalui internet atau telepon) dan

keuntungannya.
3. Diseminasi data pasien seperti identifikasi pasien

(suara, gambar) dapat dikontrol dengan membuat

informed consent (pernyataan persetujuan) lewat

email.

4. Individu yang menyalahgunakan kerahasiaan, keamanan

dan peraturan dan penyalah gunaan informasi dapat

dikenakan hukuman/legal aspek.

Gambar 1.1 Alur telenursing

(Sumber http://www.telehealth.ca/imgs/works.gif,diperoleh

Taggal 4 Pebruari 2014).


Gambar 1.2 Tiga level keamanan untuk proteksi data pasien

Gambar 1.3. Tehnologi teleheath pada daerah pedesaan

(Sumber:http://ijahsp.nova.edu/articles/1vol2/telehealth.

jpg,diperoleh tanggal 4 Pebruari 2014)


BAB III

PEMBAHASAN

A. TELENURSING

Perkembangan yang sangat pesat dibidang teknologi

informasi berdampak terhadap dunia kesehatan, dimana

penggunaan teknologi informasi dapat dimanfaatkan

sebagai sarana dalam mendukung perkembangan pelayanan

kesehatan. Hal ini terbukti dengan adanya tekhnologi

terbaru dalam dunia kesehatan yaitu telenursing.

Adapun beberapa riset yang telah dipublikasikan

Susan Kay Bohnenkamp mengungkapkan bahwa Telenursing

meningkatkan kepuasan pada pasien. Pasien percaya

bahwa telenursing membuat perawatan lebih accessible,

dia suka dengan telemedicine dari pada face to face,

tetapi menganggap face to face adalah yang terbaik.