Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kegiatan pinjam meminjam uang telah dilakukan sejak lama dalam


kehidupan masyarakat yang telah mengenal uang sebagai alat
pembayaran. Dapat diketahui bahwa hampir semua masyarakat telah
menjadikan kegiatan pinjam meminjam uang sebagai alat sesuatu yang
sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan kegiatan
perekonomiannya dan untuk meningkatkan taraf kehidupannya. Pihak
pemberi pinjaman yang mempunyai kelebihan uang bersedia
meminjamkan uang kepada yang memerlukan. Sebaliknya, pihak
peminjam berdasarkan keperluan atau tujuan tertentu melakukan
peminjaman uang tersebut. Secara umum dapat dikatakan bahwa pihak
peminjam meminjam uang kepada pihak pemberi pinjaman untuk
membiayai kebutuhan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari atau
untuk memenuhi keperluan dana guna pembiayaan kegiatan usahanya.

Selanjutnya dalam kegiatan pinjam meminjam uang yang terjadi di


masyarakat dapat diperhatikan bahwa umumnya sering dipersyaratkan
adanya penyerahan jaminan utang oleh pihak peminjam kepada pihak
pemberi pinjaman. Jaminan utang dapat berupa barang (benda) sehingga
merupakan jaminan kebendaan dan atau berupa janji penanggungan
utang sehingga merupakan jaminan perorangan. Jaminan kebendaan
memberikan hak kebendaan kepada pemegang jaminan.

Hukum jaminan merupakan himpunan ketentuan yang mengatur atau


berkaitan dengan peminjaman dalam rangka utang piutang (pinjaman
uang) yang terdapat dalam berbagai peraturan perundangan-undangan
yang berlaku saat ini.

Bank dalam memberikan kredit kepada pengusaha/nasabah wajib


mempunyai keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk
melunasi utangnya sesuai dengan yang diperjanjikan, krena kredit yang

1 | Perjanjian Kredit dan Jaminannya


diberikan oleh bank mengandung resiko, sehingga dalam pelaksanannya
bank harus memperhatikan asas perkreditan yang sehat.

Sehubungan dengan jaminan utang, pemahaman tentang hukum


jaminan sebagaimana yang terdapat dalam berbagai peraturan
perundangan-undangan yang berlaku sangat diperlukan agar pihak-pihak
yang berkaitan dengan penyerahan jaminan kredit dapat mengamankan
kepentingannya, antara lain bagi bank sebagai pihak pemberi kredit.
Peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan hukum jaminan
yang dikodifikasi adalah Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH
Perdata) dan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUH Dagang),
sedangkan yang berupa undang-undang, misalnya Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-
benda yang Berkaitan dengan Tanah (UU No. 4 Tahun 1996), dan Undang-
Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia (UU No. 42 Tahun
1999).[3]

Untuk mengurangi resiko tersebut, jaminan pemberian kredit dalam


arti keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi
utangnya merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh bank.
Untuk memperoleh keyakinan tersebut, sebelum memberikan kredit, bank
harus melakukan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan,
modal dan agunan serta prospek usaha debitur, yang dalam usaha
Perbankan dikenal dengan sebutan 5 c.

2 | Perjanjian Kredit dan Jaminannya


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pemberian Kredit

Dalam kegiatan pinjam-meminjam uang sering dipersyaratkan


adanya penyerahan jaminan utang oleh pihak peminjam kepada pihak
pemberi pinjaman. Jaminan utang dapat berupa barang (benda) sehingga
merupakan jaminan kebendaan dan atau berupa janji penanggungan
utang sehingga merupakan jaminan perorangan. Jadi sehubungan dengan
jaminan utang, maka kita harus tahu tentang apa itu hukum jaminan yang
terdapat dalam peraturan perundang-undangan agar pihak-pihak yang
berkaitan dengan penyerahan jaminan kredit dapat mengamankan
kepentingannya.

Pemberian kredit merupakan kegiatan utama bank yang


mengandung risiko yang dapat berpengaruh pada kesehatan dan
kelangsungan usaha bank. Namun mengingat sebagai lembaga
intermediasi, sebagian besar dana bank berasal dari dana masyarakat,
maka pemberian kredit perbankan banyak dibatasi oleh ketentuan
undang-undang dan ketentuan Bank Indonesia.

UU Perbankan telah mengamanatkan agar bank senantiasa


berpegang pada prinsip kehati-hatian dalam melaksanakan kegiatan
usahanya, termasuk dalam memberikan kredit. Selain itu, Bank Indonesia
sebagai otoritas perbankan juga menetapkan peraturan-peraturan dalam
pemberian kredit oleh perbankan. Beberapa regulasi dimaksud antara lain
adalah regulasi mengenai Pelaksanaan Kebijaksanaan Perkreditan Bank
bagi Bank Umum, Batas Maksimal Pemberian Kredit, Pemberian Kredit

3 | Perjanjian Kredit dan Jaminannya


Terkait dengan Ketentuan Pembinaan dan Pengawasan Bank, dan
pembatasan lainnya dalam pemberian kredit.

Berdasarkan pengertian kredit yang ditetapkan oleh undang-undang


sebagaimana tersebut diatas, suatu pinjam-meminjam uang akan
digolongkan sebagai kredit perbankan sepanjang memenuhi unsur-unsur
sebagai berikut:

1. Adanya penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan


dengan penyediaan uang
Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan
penyediaan uang tersebut dilakukan oleh bank. Bank adalah pihak
penyedia dana dengan menyetujui pemberian sejumlah dana yang
kemudian disebut sebagai jumlah kredit atau plafon kredit. Sementara
tagihan yang dapat dipersamakan dengan penyediaan uang dalam
praktik perbankan misalnya berupa pemberian (penerbitan) garansi
bank dan penyediaan fasilitas dana untuk pembukaan letter of credit
(LC).
2. Adanya persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank
dengan pihak lain
Persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam merupakan dasar dari
penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan
penyediaan uang tersebut.Persetujuan atau kesepakatan pinjam-
meminjam dibuat oleh bank dengan pihak debitur yang diwujudkan
dalam bentuk perjanjian kredit.
3. Adanya kewajiban melunasi utang
Pinjam-meminjam uang adalah suatu utang bagi peminjam. Peminjam
wajib melunasinya sesuai dengan yang diperjanjikan. Pemberian kredit
oleh bank kepada debitur adalah suatu pinjaman uang, dan debitur
wajib melakukanpembayaran pelunasan kredit sesuai dengan jadwal
pembayaran yang telah disepakatinya, yang biasanya terdapat dalam
ketentuan perjanjian kredit. Dengan demikian, kredit perbankan bukan
suatu bantuan dana bank yang diberikan secara cuma-cuma. Kredit
perbankan adalah suatu utang yang harus dibayar kembali oleh debitur.
4. Adanya jangka waktu tertentu

4 | Perjanjian Kredit dan Jaminannya


Pemberian kredit terkait dengan suatu jangka waktu tertentu. Jangka
waktu tersebut ditetapkan pada perjanjian kredit yang dibuat bank
dengan debitur. Jangka waktu tersebut ditetapkan merupakan batas
waktu kewajiban bank untuk menyediakan dana pinjaman dan
menunjukan kesempatan dilunasinyakredit.
5. Adanya pemberian bunga kredit
Terhadap suatu kredit sebagai salah satu bentuk pinjaman uang
ditetapkan adanya pemberian bunga. Bank menetapkan suku bunga
atas pinjaman uang yang diberikannya. Suku bunga merupakan harga
atas uang yang dipinjamkan dan disetujui bank kepada debitur. Namun,
sering pula disebut sebagai balas jasa atas penggunaan uang bank oleh
debitur. Sepanjang terhadap bunga kredit yang ditetapkan dalam
perjanjian kredit dilakukan pembayarannya oleh debitur, akan
merupakan salah satu sumber pendapatan yang utama bagi bank.
2.2 Ruang Lingkup Jaminan

Ruang lingkup hukum jaminan di Indonesia mencakup berbagai


ketentuan perundang-undangan yang mengatur hal-hal yang berkaitan
dengan penjaminan utang yang terdapat dalam hukum positif di
indonesia.

Dalam hukum positif di indonesia terdapat peraturan perundang-


undangan yang sepenuhnya mengatur tentang hal-hal yang berkaitan
dengan penjaminan utang. Materi (isi) peraturan-peraturan perundang-
undangan tersebut memuat ketentuan-ketentuan yang secara khusus
mengatur tentang hal-hal yang berkaitan dengan penjaminan utang.
Beberapa ketentuan yang terdapat dalam KUH perdata dan KUH Dagang
mengatur sepenuhnya atau berkaitan dengan penjaminan utang.
Disamping itu terdapat pula undang-undang tersendiri yaitu UU No. 4
Tahun 1996 dan UU No. 42 Tahun 1999 yang masing-masing khusus
mengatur tentang lembaga jaminan dalam rangka penjaminan utang.

Jaminan adalah sejenis harta yang dipercayakan kepada pengadilan


untuk membujuk pembebasan seorang tersangka dari penjara, dengan
pemahaman bahwa sang tersangka akan kembali k e persidangan atau

5 | Perjanjian Kredit dan Jaminannya


membiarkan jaminannya hangus (sekaligus menjadikan sang tersangka
bersalah atas kejahatan kegagalan kehadiran).

1. Ketentuan Hukum Jaminan dalam KUH Perdata


Dalam KUH perdata tercantum beberapa ketentuan yang dapat
digolongkan sebagai hukum jaminan.
a. Prinsip-prinsip Hukum Jaminan
Beberapa prinsip hukum jaminan sebagaimana yang diatur oleh
ketentuan-ketentuan KUH Perdata adalah sebagai berikut :
Kedudukan Harta Pihak Peminjam
Pasal 1131 KUH Perdata mengatur tentang kedudukan harta
pihak peminjam, yaitu bahwa harta pihak peminjam adalah
sepenuhnya merupakan jaminan (tanggungan) atas
utangnya. Pasal 1131 KUH Perdata menetapkan bahwa semua
harta pihak peminjam, baik yang berupa harta bergerak
maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun
yang akan ada di kemudian hari merupakan jaminan atas
perikatan utang pihak peminjam.
Ketentuan pasal 1131 KUH Perdata merupakan salah satu
ketentuan pokok dalam hukum jaminan, yaitu mengatur
tentang kedudukan harta pihak yang berutang (pihak
peminjam) atas perikatan utangnya. Berdasarkan ketentuan
pasal 1131 KUH Perdata pihak pemberi pinjaman akan dapat
menuntut pelunasan utang pihak peminjam dari semua harta
yang bersangkutan, termasuk harta yang masih akan
dimilikinya di kemudian hari. Pihak pemberi pinjaman
mempunyai hak untuk menuntut pelunasan utang dari harta
yang akan diperoleh oleh pihak peminjam di kemudian hari.
Kedudukan Pihak Pemberi Pinjaman
Kedudukan pihak pemberi pinjaman terhadap pihak pemberi
pinjaman dapat diperhatikan dari ketentuan pasal 1132 KUH
Perdata.
Berdasarkan ketentuan Pasal 1132 KUH Perdata dapat
disimpulkan bahwa kedudukan pihak pemberi pinjaman
dapat dibedakan atas dua golongan, yaitu (1) yang
mempunyai kedudukan berimbang sesuai dengan piutang
masing-masing, dan (2) yang mempunyai kedudukan

6 | Perjanjian Kredit dan Jaminannya


didahulukan dari pihak pemberi pinjaman yang lain
berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan.
Dalam praktik perbankan pihak pemberi pinjaman disebut
kreditor dan pihak peminjam disebut nasabah debitur atau
debitur.
Larangan memperjanjikan pemilikan objek jaminan
utang oleh pihak pemberi pinjaman
Pihak pemberi pinjaman dilarang memperjanjikan akan
memiliki objek jaminan utang bila pihak peminjam ingkar
janji (wanprestasi). Ketentuan yang demikian diatur oleh Pasal
1154 KUH Perdata tentang Gadai, Pasal 1178 KUH Perdata
tentang Hipotek.
Larangan yang sama terdapat pula dalam ketentuan
peraturan perundang-undangan lain, yaitu pada pasal 12 UU
No. 4 Tahun 1996 mengenai Hak Tanggungan, Pasal 33 UU No.
42 Tahun 1999 mengenai Jaminan Fidusia.
b. Gadai
Gadai diatur oleh ketentuan-ketentuan Pasal 1150 sampai dengan
Pasal 1160 KUH Perdata. Pengertian gadai dalam Pasal 1150 KUH
perdata adalah sebagai berikut.
Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas
suatu barang bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang
berutang atau seorang lain atas namanya, dan yang memberikan
kekuasaan kepada si berpiutang itu untuk mengambil pelunasan
dari barang tersebut secara didahulukan daripada orang-orang
berpiutang lainnya; dengan mengecualikan biaya untuk melelang
barang tersebt dan biaya yang telah dikeluarkan untuk
menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan, biaya-biaya
tersebut harus didahulukan.
Lembaga jamianan gadai dalam praktek perbankan hanya dipakai
sebagai jaminan tambahan, meskipun sebenarnya kreditur dalam
hal debiturnya ingkar janji, berhak untuk menjual objek gadai
melalui pelelangan yang dilaksanakan atas permohonan dari
kreditur oleh Kantor Lelang Negara. Dalam hal objek gadai adalah
saham atau surat-surat berharga lainnya dapat dilakukan di

7 | Perjanjian Kredit dan Jaminannya


tempat-tempat tersebut, asalkan dengan perantaraan dua orang
makelar yang dalam perdagangan barang-barang itu.
c. Hipotek
Lembaga jaminan yang diatur oleh ketentuan KUH Perdata, pasal
1162 sampai dengan Pasal 1232 adalah Hipotek. Akan tetapi,
dengan berlakunya UU No. Tahun 1996, objek jaminan utang
berupa tanah sudah tidak dapat diikat dengan hipotek. Hipotek
pada saat ini hanya digunakan untuk mengikta objek jaminan utang
yang ditunjuk oleh ketentuan peraturan perundang-undangan lain.
d. Penanggungan Utang
Dalam bahasa Belanda disebut Borgtocht, dalam bahasa Inggris
disebut Guarantee, yang diatur dalam pasal 1820 sampai dengan
pasal 1850 KUH Perdata, tidak banyak dipakai dalam bisnis
perbankan, dan andainya pun dipakai, hanya sekedar sebagai
jaminan tambahan. Hal itu disebabkan, oleh karena baik dalam
personal, maupun Corporate Guarantee, penanggung, Borg atau
Guarant, tetap menguasai harta yang dijaminkan, seperti telah
tidak terjadi apa-apa, dan ia tetap dapat secara leluasa menjual,
mengoperkan dan membebankan hartanya itu dengan lembaga
jaminan yang lain, dengan perkataan lain, justru oleh karena
penanggung diperkenankan secara bebas melakukan hal-hal itu,
maka kreditur tidak terjamin secara sempurna.
Adapun pengertian dari penanggungan utang dalam pasal 1820
KUH Perdata adalah sebagai berikut.
penanggungan utang adalah suatu perjanjian penjaminan utang
yang sangat terkait kepada perorangan (individu atau badan
hukum) yang mengikat dirinya sebagai jaminan atas utang dari
pihak peminjam dan pihak yang mengikat dirinya disebut
penaggung atau penjamin.

2.3 UU No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan


UU No. 4 Tahun 1996 mengatur lembaga jaminan yang disebut Hak
Tanggungan. Lembaga jaminan hak tanggungan digunakan untuk
mengikat objek jaminan utang yang berupa tanah atau benda-benda
yang berkaitan dengan tanah yang bersangkutan. Dengan berlakunya
UU No. 4 Tahun 1996, maka hipotek yang diatur oleh KUH Perdata dan

8 | Perjanjian Kredit dan Jaminannya


credit verband yang sebelumnya digunakan untuk mengikat tanah
sebagai jaminan utang, untuk selanjutnya sudah tidak dapat
digunakan oleh masyarakat untuk mengikat tanah sebagai jaminan
utang.
Sejak berlakunya UU No. 4 Tahun 1996 pada tanggal 9 April 1996,
pengikatan objek jaminan utang berupa tanah sepenuhnya dilakukan
melalui lembaga jaminan hak tanggungan.
Adapun pengertian hak tanggungan dalam Pasal 1 angka 1 UU No. 4
Tahun 1996 adalah : Hak tanggungan adalah hak jaminan yang
dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam
undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentamg Peraturan Dasar Pokok-
pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang
merupakan suatu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang
tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada
kreditor terhadap kreditor- kreditor lain.

Ciri-ciri Hak Tanggungan

Secara singkat dapat dikemukakan bahwa U No. 4 Tahun 1996


mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.

1. Memberikan kedudukan yang diutamakan atau mendahului kepada


pemegangnya.
2. Selalu mengikuti objek jaminan utang dalam tangan siapa pun
objek tersebut berada.
3. Memenuhi asas spesialitas dan asas publisitas.
4. Mudah dan pasti pelaksanaan eksekusinya.

2.4 UU No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia


1. Pengertian fidusia dan jaminan fidusia
Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas
dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak
kepemiliknnya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan
pemilik benda (pasal 1 angka 1).
Jaminan fidusia adalah hak jaminan atas benda yang
bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud
dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak
dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud

9 | Perjanjian Kredit dan Jaminannya


dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak
Tanggungan yang tetap berada dalam penguasaan pemberi
fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan utang tertebtu, yang
memberika kedudukan diutamakan kepada penerima fidusia
terhadap kreditor lainnya (Pasal 1 angka 2).
2. Ciri-ciri jaminan fidusia diantaranya adalah :
a. Memberikan hak kebendaan
b. Memberikan hak didahulukan kepada kreditor
c. Memungkinkan kepada pemberi jaminan fidusia untuk tetap
menguasai objek jaminan utang
d. Memberikan kepastian hukum
e. Mudah dieksekusi
3. Ruang Lingkup Jaminan Fidusia
a. Undang-undang ini berlaku terhadap setiap perjanjian yang
bertujuan untuk membebani benda dengan jaminan fidusia
(Pasal 2)
b. Undang-undang ini tidak berlaku terhadap hak-hak berikut:
Hak tanggungan yang berkaitan dengan tanah dan
bangunan, sepanjang peraturan perundang-undangan yang
berlaku menentukan jaminan atas benda-benda tersebut
wajib didaftar (Pasal 3 huruf a)
Penjelasan Pasal 3 huruf a menjelaskan: berdasarkan
ketentuan ini, bangunan diatas tanah milik orang lain yan
tidak dapat dibebani dengan hak tanggungan berdasarkan
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak
Tanggungan, dapat dijadikan objek jaminan fidusia.
Hipotek atas kapal yang terdaftar dengan isi kotor berukuran
dua puluh M3 atau lebih (pasal 3 huruf b).
Hipotek atas pesawat terbang (Pasal 3 huruf c)
Gadai (Pasal 3 huruf d)
2.5 Peraturan Pelaksanaan dari Undang-Undang tentang
Penjaminan Utang
Ketentuan hukum jaminan terdapat pula pada berbagai peraturan
perundang-undangan lain sebagai peraturan pelaksanaan dari
undang-undang yang mengatur peminjaman utang. Beberapa di
antara peraturan pelaksanaan tersebut berupa Peratura Pemerintah
(PP) misalnya PP No. 86 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pendaftaran
Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia, PP No. 27

10 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, dan atau peraturan dari
departemen atau instansi yang terkait, misalnya peraturan perundang-
undangan yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional
yang mengatur antara alin tentang penerbitan Akta Pemberian Hak
Tanggungan . ketentuan dari peraturan pelaksanaan kedua undang-
undang tentang lembaga jaminan tersebut merupakan pula bagian
dari hukum jaminan dalam rangka pengaturan objek jaminan utang
dan pengikatannya.

2.6 Peraturan Perundang-undangan Lain yang Berkaitan dengan


Penjaminan Utang

Selain peraturan perundang-undangan yang sepenuhnya atau


khusus mengatur tentang hal-hal yang berkaitan dengan penjaminan
utang, terdapat pula peraturan perundang-undangan lain yang dalam
salah satu ketentuannya mengatur tentang penjaminan utang,
ketentuan penjaminan utang yang terdapat dalam berbagai peraturan
perundang-undangan lain tersebut dapat dikatakan sebagai bagian
dari hukum jaminan yang berlaku.
Beberapa di antara ketentuan penjaminan utang yang terdapat
dalam peraturan perundang-undangan lain misalnya yang berupa
undang-undang adalah sebagai berikut:
a. Pasal 51 UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-
pokok Agraria, yang menetapkan tentang lembaga jaminan yang
dapat dibebankan atas tanah dan disebut Hak Tanggungan.
b. Pasal 12 A UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
sebagaimana telah diubah dengan UU No. 10 Tahun 1998, yang
mengatur mengenai pembelian objek jaminan kredit oleh bank
pemberi kredit dalam rangka penyelesaian kredit macet debitur.
c. Pasal 12 UU No. 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan, yang
menetapkan mengenai pembebanan hipotek atas pesawat udara
dan helicopter.
d. Pasal 49 UU No. 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran, yang
menetapkan mengenai pembebanan hipotek atas kapal.
e. Pasal 11 ayat (2) UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia
sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004, yang

11 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
menetapkan tentang agunan untuk pemberian kredit atau
pembiayaan berdasarkan prinsip Syariah oleh Bank Indonesia
kepada bank yang mengalami kesulitan pendanaan jangka
pendek
f. Di samping ketentuan yang hanya menunju kepada pasal-pasal
tertentu dalam undang-undangnya beserta penjelasannya, perlu
pula diperhatikan dan dipatuhi ketentuan yang ada dalam
peraturan pelaksanaannya (misalnya yang berupa peraturan
pemerintah dan atau peraturan dari instansi terkait) sepanjang
memuat ketentuan yang mengatur penjaminan utang.

BAB III

TINJAUAN KASUS

3.1 Kronologis Kasus

Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak


Tanggungan Atas Tanah beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan

12 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
Tanah (selanjutnya disingkat sebagai UUHT) berbunyi Hak Tanggungan
atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah, yang
selanjutnya disebut Hak Tanggungan, adalah hak jaminan yang
dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok
Agraria, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu
kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang
memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu
terhadap kreditor-kreditor lain;

Klasifikasi Objek dari Hak Tanggungan jika ditinjau dari yang


ditunjuk oleh UUPA (Pasal 4 ayat 1 UUHT) maka yang bisa menjadi objek
hak tanggungan hanyalah Hak Milik (Pasal 25 UUPA), Hak Guna Usaha
(Pasal 33 UUPA), Hak Guna Bangunan (Pasal 39 UUPA). Kemudian apabila
ditinjau dari yang ditunjuk oleh UUHT (Pasal 4 ayat 2), dapat ditambahkan
satu lagi macam hak tanggungan ialah Hak Pakai atas tanah negara yang
menurut ketentuan yang berlaku wajib didaftar dan menurut sifatnya
dapat dipindahtangankan. Sedangkan pada tahapan akhir perkembangan
hak tanggungan sebagaimana Yang ditunjuk oleh UU No. 16 tahun 1985
tentang Rumah Susun (Pasal 27 UUHT) menyatakan bahwa adapula
tambahan objek hak tanggungan ialah Rumah Susun yang berdiri di atas
tanah Hak Milik, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai yang diberikan oleh
Negara serta Hak Milik atas Satuan Rumah Susun (HMSRS) yang
bangunannya didirikan di atas tanah Hak Milik,Hak Guna Bangunan, dan
Hak Pakai yang diberikan oleh Negara.

Dalam prakteknya, perolehan objek tanggungan yang kemudian


dijaminkan kepada kreditur dapat melalui hasil dengan cara melawan
hokum. Seperti yang terjadi dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor
1842/K/Pdt/2003.

Koesnoto (Tergugat 1) hendak memberi pinjaman kepada Penggugat


uang sebesar Rp. 4. 500. 000 (empat juta lima ratus ribu rupiah) dengan
memberikan jaminan berupa Sertifikat Hak Milik Nomor ak Milik
No.194/Gambar Situasi No.125/tahun 1983 tertulis atas nama penggugat,

13 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
yakni atas tanah dan rumah yang terletak di Desa Cerme Kidul,
Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, seluas kurang lebih 669 meter
persegi.

Akan tetapi sebelum penggugat menerima uang yang akan


dipinjamkan oleh Tergugat 1, Tergugat 1 mengajak Penggugat dating ke
Notaris Irine Manibuy. SH untuk melakukan Perjanjian Jual-Beli pura-pura
(schjn handeling) yang ketika diminta keterangan oleh Penggugat,
dikatakan oleh Tergugat 1 bahwa tidak ada dampak hokum, bahwa tanah
yang dijaminkan tersebut tetaplah milik Penggugat dan bahwa perjanjian
jual-beli tersebut adalah perjanjian simulatif dan atau formalitas belaka,
sehingga kemudian terbitlah akta Nomor 93/30/CRM/V/1996, tertanggal
07 Mei 1996 yang dibuat dihadapan Notaris/PPAT Irine Manibuy. SH. ;

Tanpa sepengetahuan Penggugat, tergugat 1 membalik nama


Sertifikat Hak Milik No.194/Gambar Situasi No.125/tahun 1983 atas nama
penggugat, yang disertakan pula Akta Jual Beli tersebut, sehingga timbul
Sertifikat baru Nomor 668/Gambar Situasi No.6487/1996, tertanggal 01
Agustus 1996 ; atas nama Tergugat 1.

Tergugat 1 kemudian meminjam uang kepada Perseroan Terbatas


Bank Duta Cabang Surabaya (Tergugat 2) sebesar Rp. 125. 000.000
(seratus lima puluh juta rupiah) yang mengakibatkan timbulnya Akta
Pengakuan Hutang No.4 tertanggal 03 Oktober 1996 dan Akta Kuasa
Memasang Hak Tanggungan No.5 tertanggal 03 Oktober 1996 yang
keduanya sama-sama dibuat dihadapan Notaris/PPAT H.Abdul Wahid
Zainal, SH. dan akta Hak Tanggungan No.188/21/WS/CRM/X/1996
tertanggal 17 Oktober 1996 yang dibuat di hadapan Notaris/PPAT
Wimphry Suwidnyo, SH., demikian pula sertifikat Hak Tanggungan
No.808/1996 yang menyangkut jaminan tanah sengketa milik Penggugat.

Lama setelah itu, setelah Tergugat terus berkelit ketika ditanya


keberadaan Sertifikat milik Penggugat oleh Penggugat tersebut, akhirnya
diketahui bahwa SHM milik Penggugat telah dibalik nama menjadi nama
Tergugat 1 dan telah dijaminkan kepada Tergugat kedua. Penggugat dan

14 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
Tergugat 1 kemudian membuat dan menandatangani Surat Persetujuan
yang isinya antara lain bahwa jual beli tanah sengketa berdasarkan akta
PPAT No. 93/30/CRM/V/1996, tertanggal 07 Mei 1996 adalah tidak benar
dan batal demi hukum, dan tanah sengketa adalah sepenuhnya milik
Penggugat ; Demikian pula mengenai hutang Penggugat kepada pihak
Tergugat I telah dinyatakan lunas ;

Bahwa, disamping itu untuk meluruskan kembali hubungan hukum


yang sebenarnya antara Penggugat dengan Tergugat I, maka antara
Penggugat dengan pihak Tergugat I sama-sama menghadap Notaris di
Gresik, untuk membuat akta Legalisasi Notaris, yang isinya antara lain
bahwa hubungan hukum antara Penggugat dengan Tergugat I dalam hal
ini hutang piutang dinyatakan selesai ; Karenanya Tergugat I
berkewajiban untuk mengembalikan Sertifikat Hak Milik No. 668/Gambar
Situasi No.6487/1996, tertanggal 01 Agustus 1996 yag telah dibalik nama
menjadi atas nama Tergugat I dengan tanpa syarat dan dalam keadaan
baik kepada Penggugat selaku pemiliknya yang sah ; Dan antara
Penggugat dengan Tergugat I, masing-masing sama-sama menyatakan
bahwa akta Jual beli No. 1842 K/Pdt/2003 93/30/CRM/V/1996, tertanggal
07 Mei 1996 adalah akta jual beli tanah sengketa yang seharusnya batal
demi hukum ;

Pada Putusan Pengadilan Negeri Surabaya No.


434/Pdt.G/1999/PN.SBY., tanggal 20 September 2000 yang dikuatkan oleh
Putusan Pengadian Tinggi Surabaya No. 713/Pdt/2001/PT.SBY tanggal 8
Jauari 2002, menyatakan dan mengabulkan gugatan gugatan rekovensi
tergugat 1 dan 2. Akan tetapi kedua putusan tersebut dibatalkan melalui
Putusan Mahkamah Agung No.1842/K/Pdt/2003 yang mengabulkan
permohonan kasasi dari Penggugat tersebut diatas, yang menyatakan
bahwa penggugat adalah pemilik sah tanah dan rumah sengketa yakni
tanah dan rumah seluas kurang lebih 669 meter persegi yang terletak di
Desa Cerme Kidul, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik sebagaimana
terurai dalam Sertifikat Hak Milik No. 668/Gambar Situasi No.6487/1996,
tertanggal 01 Agustus 1996, semula atas nama Penggugat dan diubah

15 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
menjadi atas nama Tergugat I ; Membatalkan Akta Jual beli No.
93/30/CRM/V/1996, tertanggal 07 Mei 1996 yang dibuat di hadapan
Notaris/PPAT Irine Manibuy, SH. ; Membatalkan Akta Pengakuan Hutang
No.4 tertanggal 03 Oktober 1996 dan membatalkan Akta No.5 tertanggal
03 Oktober 1996 tentang Kuasa Memasang Hak Tanggungan masing-
masing yang dibuat dihadapan Notaris/PPAT H.Abdul Wahid Zainal, SH.;
Membatalkan pula Akta Hak Tanggungan No.188/21/WS/CRM/X/1996
tertanggal 17 Oktober 1996 yang dibuat di hadapan Notaris/PPAT
Wimphry Suwidnyo, SH., demikian pula sertifikat Hak Tanggungan
No.808/1996.

Permasalahan baru timbul ketika akta jual beli tanah dan Akta hak
tanggungan turut dibatalkan oleh Mahkamah Agung. Padahal Akta Hak
Tanggungan bukan accesoir dari perjanjian jual beli melainkan accesoir
pada perjanjian yang menimbulkan hubungan hukum hutang piutang
yaitu perjanjian kredit. Selain itu kreditur yang beritikad baik dalam hal ini
adalah pihak bank yang telah memberikan piutang kepada debitur tidak
memperoleh suatu perlindungan hukum. Dengan demikian rasanya perlu
ditelaah lebih lanjut mengenai dasar dicetuskannya putusan pada hal-hal
tersebut.

16 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
BAB IV

ANALISA KASUS

4.1 Perbuatan Hukum Dalam Konteks Perdata

Perbuatan Melawan Hukum (onrechtmatige daad) dalam konteks


perdata diatur dalam Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
atau Burgerlijk Wetboek (BW), dalam Buku III BW, pada bagian Tentang
perikatan-perikatan yang dilahirkan demi Undang-Undang, yang
berbunyi:

Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada


orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan
kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.

Menurut Rosa Agustina, dalam bukunya Perbuatan Melawan Hukum,


terbitan Pasca Sarjana FH Universitas Indonesia (2003), hal. 117, dalam
menentukan suatu perbuatan dapat dikualifisir sebagai melawan hukum,
diperlukan 4 syarat:

o Bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku


o Bertentangan dengan hak subjektif orang lain
o Bertentangan dengan kesusilaan
o Bertentangan dengan kepatutan, ketelitian dan kehati-hatian.

17 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
Perbedaan perbuatan melawan hukum dalam konteks Hukum Pidana
dengan dalam konteks Hukum Perdata adalah lebih dititikberatkan pada
perbedaan sifat Hukum Pidana yang bersifat publik dan Hukum Perdata
yang bersifat privat. Munir Fuady dalam bukunya Perbuatan Melawan
Hukum (Pendekatan Kontemporer), terbitan PT. Citra Aditya Bakti
(Bandung: 2005), hal. 22, yang menyatakan:

Hanya saja yang membedakan antara perbuatan (melawan hukum)


pidana dengan perbuatan melawan hukum (perdata) adalah bahwa sesuai
dengan sifatnya sebagai hukum publik, maka dengan perbuatan pidana,
ada kepentingan umum yang dilanggar (disamping mungkin juga
kepentingan individu), sedangkan dengan perbuatan melawan hukum
(perdata) maka yang dilanggar hanya kepentingan pribadi saja.

Dalam hal ini, Tergugat 1 telah melakukan perbuatan melawan


hokum yang menyebabkan kerugian materiil kepada penggugat yaitu
dengan mengajak penggugat yang awam hokum untuk melakukan
perjanjian jual-beli pura-pura di depan Notaris, tanpa sepengetahuan
penggugat, SHM tersebut dibalik nama menjadi nama Tergugat 1 dan
kemudian dijaminkan kepada tergugat 2, Penggugat dalam permohonan
kasasinya menjelaskan dalil-dalil permohonan bahwa pengadilan Negeri
dan Tinggi yang memutus menolak gugatan Penggugat teraebut
mengabaikan bukti berupa Surat Persetujuan yang isisnya antara lain
bahwa jual-beli tanah sengketa berdasarkan akta PPAT nomor
93/30/CRM/V/1996 tertanggal 07 mei 1996 adalah tidak benar dan batal
demi hukum dan tanah sengketa adalah sepenuhnya milik penggugat
dengan demikian pula hutang penggugat kepada pihak tergugat 1 telah
dinyatakan lunas, dan akta Legalisasi Notaris, yang isinya antara lain
bahwa hubungan hokum antara penggugat dengan tergugat 1 dalam hal
ini hutang-piutang dinyatakan selesai; karenanya tergugat 1 berkewajiban
untuk mngembalikan sertifikat hak milik nomor 668/Gambar Situasi nomor
6487/1996 tertanggal 01 agustus 1996 yang telah dibalik nama menjadi
atas nama tergugat 1 dengan tanpa syarat dan dalam keadaan baik

18 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
kepada penggugat selaku pemiliknya yang sah dan antara penggugat
dengan tergugat 1 masing-masing sama-sama menyatakan bahwa akta
jual-beli nomor 93/30/CRM/5/1996 tertanggal 7 mei 1996 adalah akta jual-
beli tanah sengketa yang seharusnya batal demi hokum.

Pasal 1365 KUHPerdata memberikan beberapa jenis penuntutan, yaitu:

1. ganti rugi atas kerugian dalam bentuk uang


2. ganti rugi atas kerugian dalam bentuk natura atau pengembalian
pada keadaan semula
3. pernyataan bahwa perbuatan yang dilakukan adalah bersifat
melawan hokum
4. larangan untuk melakukan suatu perbuatan
5. meniadakan sesuatu yang diadakan secara melawan hokum
6. pengumuman daripada keputusan atau dari sesuatu yang telah
diperbaiki

Ganti rugi menurut Pasal 1246 KUHPerdata memperincikan ke dalam 3


kategori yaitu:

o biaya, artinya setiap cost yang harus dikeluarkan secara nyata oleh
pihak yang dirugikan, dalam hal ini adalah sebagai akibat dari
adanya tindakan wanprestasi.
o Kerugian, artinya keadaan merosotnya (berkurangnya) nilai
kekayaan Kreditor sebagai akibat dari adanya tindakan wanprestasi
dari pihak Debitor.
o Bunga, adalah keuntungan yang seharusnys diperoleh tetapi tidak
jadi diperoleh oleh pihak Kreditor, dikarenakan adanya tindakan
wanprestasi dari pihak Kreditor.

Kerugian yang timbul karena adanya perbuatan melawan hukum


menyebabkan adanya pembebanan kewajiban kepada pelaku untuk
memberikan ganti rugi kepada penderita adalah sedapat mungkin
mengembalikan ke keadaan semula yakni sebelum terjadinya perbuatan
melawan hukum, maka menurut undang-undang dan yurisprudensi
dikenal berbagai macam penggantian kerugian yang dapat dituntut
berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata oleh penderita, sebagai upaya untuk
mengganti kerugian maupun pemulihan kehormatan.

19 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
Macam kerugian tersebut yaitu:

1. ganti rugi dalam bentuk uang atas kerugian yang ditimbulkan


2. ganti kerugian dalam bentuk natura atau dikembalikan dalam
keadan semula
3. pernyataan, bahwa perbuatan yang dilakukan adalah melawan
hukum
4. dilarang dilakukannya suatu perbuatan
5. pengumuman dalam putusan hakim.

Penilaian mengenai apakah suatu perbuatan termasuk perbuatan


melawan hukum, tidak cukup apabila hanya didasarkan pada pelanggaran
terhadap kaidah hukum, tetapi perbuatan tersebut harus juga dinilai
dari sudut pandang kepatutan. Fakta bahwa seseorang telah
melakukan pelanggaran terhadap suatu kaidah hukum dapat menjadi
faktor pertimbangan untuk menilai apakah perbuatan yang menimbulkan
kerugian tadi sesuai atau tidak dengan kepatutan yang seharusnya
dimiliki seseorang dalam pergaulan dengan sesama warga masyarakat.

4.2 Dasar putusan Hakim dalam membatalkan Hak Tanggungan


yang disebabkan oleh batalnya jual-beli obyek Hak
Tanggungan yang diperoleh secara melawan hukum.
Majelis Hakim tidak memberikan alasan dan dasar putusan tentang
pembatalan Akta Pengakuan Hutang, Akta Kuasa Memasang Hak
Tanggungan, Akta Hak Tanggungan serta Sertifikat Hak
Tanggungannya ditinjau dari pertimbangan hukum dalam putusan
kasasinya. Dalam pertimbangan hukumnya, Majelis Hakim hanya
memberikan alasan dan dasar putusan tentang pembatalan Akta Jual
Beli yang telah dilakukan oleh Penggugat dan Tergugat I yaitu bahwa
akta tersebut hanya bersifat formalitas saja, sebagaimana dituangkan
dalam Surat Perjanjian tanggal 1 April 1999 (bukti P-I dan P-II) adalah
berupa perjanjian pinjam meminjam uang sebesar Rp. 4.500.000,-
(empat juta lima ratus ribu rupiah) dengan jaminan Sertifikat Tanah
No. 668 milik Penggugat dan bahwa tindakan Tergugat I yang telah
melakukan balik nama Sertifikat Tanah No. 668 dari nama Penggugat
menjadi Tergugat I dan telah menjaminkannya kepada Tergugat II

20 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
adalah perbuatan melawan hukum. Oleh karena itu, yang menjadi
dasar putusan Majelis Hakim dalam membatalkan Akta Pemberian Hak
Tanggungan dalam perkara tersebut adalah berdasarkan adanya unsur
kepura-puraan dalam peristiwa jual beli obyek Hak Tanggungan antara
Juliati Rahayu sebagai Penggugat dan Koesnoto sebagai Tergugat I.
Di sini, hakim tidak memberikan dasar dan alasan yang jelas dalam
membatalkan Hak Tanggungannya. Hakim menganggap bahwa
pembatalan Hak Tanggungan tersebut karena obyek jaminannya
adalah bukan milik debitur. Walaupun Akta Jual Beli No.
93/30/CRM/V/1996 tertanggal 7 Mei 1996 yang dibuat di hadapan
Notaris/ PPAT Irine Manibuy, S.H. terkandung unsur perbuatan pura-
pura ( schjn handeling ) tetapi tata cara peralihan hak atas tanah
sengketa tersebut telah dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum
yang berlaku yaitu Pasal 27 Ayat (1) dan Pasal 38 Ayat (1) dan (2)
Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997
Begitu pula dengan penerbitan Sertifikat Hak Milik No. 668/Cerme
Kidul tertanggal 6 September 1996, sebagaimana diuraikan dalam
Gambar Situasi No. 6487/1996 tertanggal 1 Agustus 1996 tercatat
nama pemegang hak : Koesnoto sebagai pengganti Sertifikat Hak Milik
No. 194/Cerme Kidul tercatat pemegang hak : Juliati Rahayu oleh
Kantor Pertanahan Kabupaten Gresik telah dilaksanakan sesuai
ketentuan perundang-undangan, yaitu: (a) Pasal 19 Undang-Undang
No. 5 Tahun 1960, (b) PP No. 10 Tahun 1961 jo PP No. 24 Tahun 1997.
Bahwa berdasarkan keterangan saksi yang diajukan oleh Tergugat II
dalam hal ini adalah Bank Duta Cabang Surabaya, Irine Manibuy, S.H.
menyatakan bahwa benar Penggugat dengan didampingi dan atas
persetujuan suaminya, pada tanggal 7 Mei 1996 telah datang kepada
saksi selaku Notaris/ PPAT untuk melakukan transaksi jual beli dengan
Tergugat I atas sebidang tanah yang di atasnya berdiri sebuah
bangunan dengan luas lebih kurang 669 meter persegi, No 194/
Gambar situasi No. 125/1983 yang terletak di Desa Cerme Kidul,
Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik dan pada saat dilakukan
transaksi tersebut, baik Penggugat maupun Suaminya dan Tergugat I
dalam keadaan bebas untuk mengemukakan pendapatnya.

21 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
Bahwa dari keterangan saksi tersebut, terbukti pada saat dilakukan
transaksi (jual beli) tanah tersebut tidak terdapat adanya paksaan
ataupun tekanan dari masing-masing pihak oleh karena pada saat
tersebut kedua belah pihak dalam keadaan sehat jasmani, ditambah
pula baik Penggugat maupun Suaminya bukan orang yang tidak
mengerti baca tulis, oleh karena Penggugat sebagai seorang guru dan
Suaminya sebagai seorang pegawai negeri meskipun dengan alasan
awam hukum, tentunya apa yang dikemukakan di hadapan Notaris/
PPAT telah dimengerti akan akibat hukumnya oleh karena Notaris/
PPAT tugasnya hanya mencatat apa yang dikemukakan oleh
Penggugat selaku penjual dan Tergugat I selaku pembeli, tetapi Notaris
tidak diwajibkan untuk menyelidiki kebenaran materiil dari apa yang
dikemukakannya.
Selain hal tersebut, baik Penggugat maupun Tergugat I sebelum
menandatangani Akta Jual Beli tersebut, isi dari Akta tersebut oleh
Notaris telah dibacakan dan dimengerti kedua belah pihak. Begitu
pula dengan prosedur pemberian kredit antara Tergugat II sebagai
kreditur dan Tergugat I sebagai debitur berdasarkan Akta Pengakuan
Hutang dengan Pemberian Hak Tanggungan No. 4/ 1996 dan Akta
Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan No. 5/ 1996 yang dibuat
di hadapan Haji Abdul Wahib Zainal, S.H., Notaris di Surabaya, sah
menurut hukum karena telah sesuai dengan ketentuan Pasal 1320 KUH
Perdata sehingga mempunyai kekuatan mengikat kedua belah pihak
sesuai ketentuan Pasal 1338 KUH Perdata.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 48 Tahun
2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, dalam Bab IX Pasal 50 Ayat (1)
tentang Putusan Pengadilan disebutkan bahwa: Putusan pengadilan
selain harus memuat alasan dan dasar putusan, juga memuat pasal
tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau
sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili.
Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 1842 K/Pdt/2003,
yang menjadi pertimbangan Majelis Hakim adalah karena Akta Jual Beli
tersebut hanya bersifat formalitas dan merupakan perjanjian pinjam
meminjam uang sebesar Rp. 4.500.000,- (empat juta lima ratus ribu

22 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
rupiah) dengan jaminan Sertifikat Tanah No. 668 milik Penggugat dan
tindakan Tergugat I yang telah melakukan balik nama Sertifikat Tanah
no. 668 tersebut dari nama Penggugat menjadi Tergugat I dan telah
menjaminkannya kepada Tergugat II yang terbukti bahwa obyek
jaminan bukan milik dari debitur, adalah perbuatan melawan hukum.
Dalam pertimbangannya, Hakim tidak mencantumkan bahwa
perbuatan melawan hukum tersebut tercantum dalam Pasal 1365 KUH
Perdata. Begitu juga dengan pembatalan Akta Jual Belinya, Hakim
tidak memuat pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan
yang bersangkutan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
49 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang- Undang Nomor
2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum, Pasal 68A Ayat (1) dan (2) juga
ditegaskan bahwa (1) Dalam memeriksa dan memutus perkara, hakim
harus bertanggung jawab atas penetapan dan putusan yang
dibuatnya, (2) Penetapan dan putusan yang sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) harus memuat pertimbangan hukum hakim yang didasar
pada alasan dan dasar hukum yang tepat dan benar. Jadi berdasarkan
kedua Undang-Undang di atas, Putusan Mahkamah Agung RI No. 1842
K/Pdt/2003 didasari oleh alasan dan dasar bahwa karena Akta Jual Beli
yang menjadi obyek Hak Tanggungan hanya bersifat formalitas saja
dan sebenarnya adalah perjanjian pinjam meminjam uang sebesar Rp.
4.500.000,- (empat juta lima ratus ribu rupiah). Pertimbangan tersebut
membatalkan Akta Jual Beli No. 93/30/CRM/V/1996 tertanggal 7 Mei
1996 berikut membatalkan pula Akta Pemberian Hak Tanggungannya
tetapi tidak memuat pasal tertentu dari peraturan perundang-
undangan yang bersangkutan tentang pembatalan Akta Jual Beli dan
Hak Tanggungan tersebut.
Putusan Hakim yang ideal ialah apabila mengandung unsur-unsur
keadilan (gerechtigkeit), kemanfaatan ( zweckmassigkeit ), dan
kepastian hukum ( rechtssicherheit ) secara proporsional (Radbruch,
1946:30). Suatu putusan hakim harus adil, tetapi harus pula
bermanfaat bagi yang bersangkutan maupun bagi masyarakat, dan
terjamin kepastian hukumnya. Pada praktiknya, dapat dikatakan tidak
mungkin untuk menghadirkan ketiga unsur Ideedes Recht itu secara

23 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
proporsional dalam suatu putusan. Sering terjadi ketegangan atau
konflik antara ketiga unsur itu. Agar dalam menjatuhkan putusan yang
adil, tetapi tidak menyimpang dari peraturan hukum, hakim harus
mengusahakan terciptanya keseimbangan antara ketiga unsur Ideedes
Recht tersebut.
Untuk mengusahakan adanya keseimbangan antara tiga unsur
Ideedes Recht secara proporsional dalam suatu putusan tidaklah
mudah. Kalau keadilannya lebih dipentingkan, kepastian hukumnya
dikorbankan. Kalau kepastian hukumnya didahulukan, keadilannya
dikorbankan.Dalam hal terjadi konflik antara keadilan dan kepastian
hukum, maka hakim berdasarkan Freies Ermessennya (kebebasannya)
dapat memilih keadilan dengan mengabaikan kepastian hukum
sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan umum atau
negara.
Di sini hakim harus lebih mengutamakan kepentingan pihak yang
bersangkutan daripada kepastian hukum, tetapi tidak bertentangan
dengan kesusilaan, kepentingan umum atau negara. Pemikiran ini
dikenal sebagai problem oriented thinking. Di sini hakim lebih
memperhatikan kepentingan atau masalah yang dihadapi pihak yang
bersangkutan daripada hukumnya. Hakim pada dasarnya tidak boleh
melanggar Undang- Undang, tidak boleh melanggar sistem, harus
berpikir system oriented . Akan tetapi, kalau terjadi konflik antara
kepastian hukum dan keadilan dalam keadaan tertentu, kepentingan
pihak harus diutamakan.
Majelis Hakim dalam memutuskan perkara di atas tidak memberikan
keadilan bagi pihak bank selaku kreditur yang beritikad baik. Bank
dalam memberikan piutangnya kepada debitur telah melaksanakan
prosedur sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku yaitu
melalui lembaga jaminan Hak Tanggungan. Jika Majelis Hakim hanya
mempertimbangkan adanya unsur kepura- puraan dalam proses jual
beli yang dijadikan obyek Hak Tanggungan, maka hal ini dapat
dijadikan modus untuk membobol bank oleh debitur yang tidak
beritikad baik.

24 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
Penulis sependapat dengan Putusan Mahkamah Agung Republik
Indonesia dalam membatalkan Akta Jual Beli antara Penggugat dan
Tergugat karena terbukti adanya unsur kepura-puraan (schn
handeling). Akan tetapi, Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
No. 1842 K/Pdt/2003 kurang bijaksana karena Majelis Hakim pada
tingkat kasasi tidak berlaku adil terhadap pihak Bank dalam kasus ini
adalah Bank Duta, yang telah beritikad baik memberikan kredit
terhadap debitur dengan prosedur pemberian kredit melalui lembaga
jaminan Hak Tanggungan. Kepastian hukum prosedur pemberian kredit
tersebut jelas, sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pihak bank yang beritikad baik memberikan kredit kepada debitur
tidak mendapatkan suatu perlindungan hukum dari putusan hakim
yang membatalkan Hak Tanggungannya. Hal ini bisa saja
direncanakan oleh debitur yang tidak beritikad baik untuk melakukan
pembobolan terhadap bank dengan melakukan jual beli pura-pura.
Majelis Hakim Mahkamah Agung dalam memutus perkara antara
Penggugat dan Tergugat tersebut, berdasarkan Freies Ermessen
(kebebasannya) lebih memilih keadilan bagi pemilik sertifikat tetapi
tidak memperhatikan keadilan bagi pihak bank selaku kreditur yang
beritikad baik dengan mengabaikan kepastian hukumnya. Hal ini
nampak dengan dikabulkannya gugatan Penggugat dan dibatalkannya
Akta Jual Beli, Akta Pengakuan Hutang, Akta Kuasa Memasang Hak
Tanggungan, Akta Hak Tanggungan dan Sertifikat Hak Tanggungan
walaupun ditilik dari prosedur pembuatan seluruh akta-akta tersebut
adalah sah menurut hukum.

25 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Ketentuan yang terdapat dalam KUH perdata dan KUH Dagang


mengatur sepenuhnya atau berkaitan dengan penjaminan utang.
Disamping itu terdapat pula undang-undang tersendiri yaitu UU No. 4
Tahun 1996 dan UU No. 42 Tahun 1999 yang masing-masing khusus
mengatur tentang lembaga jaminan dalam rangka penjaminan utang.

Pasal 1131 KUH Perdata mengatur tentang kedudukan harta pihak


peminjam, yaitu bahwa harta pihak peminjam adalah sepenuhnya
merupakan jaminan (tanggungan) atas utangnya. Ketentuan pasal 1131
KUH Perdata merupakan salah satu ketentuan pokok dalam hukum
jaminan, yaitu mengatur tentang kedudukan harta pihak yang berutang
(pihak peminjam) atas perikatan utangnya. Berdasarkan ketentuan pasal
1131 KUH Perdata pihak pemberi pinjaman akan dapat menuntut
pelunasan utang pihak peminjam dari semua harta yang bersangkutan,
termasuk harta yang masih akan dimilikinya di kemudian hari. Pihak
pemberi pinjaman mempunyai hak untuk menuntut pelunasan utang dari
harta yang akan diperoleh oleh pihak peminjam di kemudian hari.

Ketentuan Pasal 1132 KUH Perdata dapat disimpulkan bahwa


kedudukan pihak pemberi pinjaman dapat dibedakan atas dua golongan,
yaitu (1) yang mempunyai kedudukan berimbang sesuai dengan piutang
masing-masing, dan (2) yang mempunyai kedudukan didahulukan dari
pihak pemberi pinjaman yang lain berdasarkan suatu peraturan
perundang-undangan.

26 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
Dari tinjauan kasus diatas dapat disimpulkan bahwa :

1. Apa yang telah dilakukan tergugat 1 kepada penggugat adalah


perbuatan yang digolongkan perbuatan melawan hokum, dimana
penggugat menderita kerugian baik materiil dan immaterial,
sehingga dalam gugatannya sudah tepat dengan menyatakan
bahwa penggugat 1 telah melakukan perbuatan melawan hokum.
Tergugat 2 tidak melakukan perbuatan melawan hokum, akan tetapi
dikarenakan terancamnya tanah dan rumah sengketa milik
penggugat yang nantinya dapat disita dan dijual kepada pihak lain
oleh tergugat 2, maka penggugat turut meminta pembatalan atas
akta pengakuan hutang, akta hak tanggungan dan sertifikat hak
tanggungan.
2. Akan tetapi putusan Mahkamah Agung yang turut membatalkan
Akta Hak Tanggungan yang timbul akibat perbuatan dari tergugat 1
merugikan Tergugat 2. Jika hakim membatalkan Akta Hak
Tanggungan dengan pertimbangan karena adanya unsur kepura-
puraan dalam Akta Jual Beli Obyek Jaminannya maka dikhawatirkan
hal ini dapat dijadikan modus oleh debitur nakal untuk membobol
bank, karena orang dapat melakukan jual beli pura-pura dan
kemudian dijadikan obyek jaminan di bank. Bank sebagai badan
usaha yang memberikan kredit dan telah beritikad baik tidak
memperoleh suatu perlindungan hukum walaupun telah melakukan
pengikatan obyek Hak Tanggungan berdasarkan UUHT No. 4 Tahun
1996 melalui lembaga jaminan Hak Tanggungan.Putusan hakim
yang demikian sangat merugikan pihak bank dan tidak berlaku adil
bagi pihak bank.

5.2 Saran

Membahas aspek hukum bagi pemohon kredit atau pemilik jaminan


bertujuan agar bank memahami secara pasti apakah pemohon kredit atau
pemilik jaminan termasuk orang atau badan usaha yang berhak untuk
melakukan tindakan hukum atau tidak.

27 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
Sedangkan jika dilihat dari aspek legalitas bertujuan agar bank dapat
memastikan apakah usaha yang dikelola pemohon kredit atau pemilik
jaminan merupakan usaha yang legal dan tidak melanggar hukum dan
telah memenuhi segala persyaratan hukum yang ditentukan oleh hukum
perundang-undangan yang berlaku untuk menjalankan usahanya.

Pada prinsipnya yang menjadi subyek hukum dalam perkreditan adalah


perorangan atau manusia pribadi dan badan usaha. Dalam hal ini yang
dimaksud dengan perorangan atau manusia pribadi adalah setiap orang
yang lahir dan masih hidup dan telah cakap dalam melakukan tindakan
hukum. Cakap dapat diartikan telah dewasa atau sudah menikah dan
sedang tidak berada dibawah pengampuan. Jadi dengan kata lain untuk
pengajuan kredit atau menjadi debitur harus telah berusia 21 tahun atau
sudah menikah.

Sedangkan badan usaha dapat diartikan suatu perkumpulan yang


memenuhi syarat-syarat tertentu berdasarkan hukum perundangan yang
berlaku. Badan usaha tidak hanya dapat diartikan perseroan terbatas tapi
juga persekutuan perdata, firma atau perseroan komanditer yang lebih
dikenal masyarakat dengan CV. Syarat-syarat umum yang harus dipenuhi
oleh badan usaha dalam pengajuan kreditpun harus jelas.

28 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a
DAFTAR PUSTAKA

Kitab Undang Undang Hukum Perdata

Undang Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas


Tanah beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-


Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan

Putusan Mahkamah Agung Nomor 1842/K/Pdt/2003

Munir Fuady dalam bukunya Perbuatan Melawan Hukum (Pendekatan


Kontemporer), terbitan PT. Citra Aditya Bakti (Bandung: 2005)

Rosa Agustina, dalam bukunya Perbuatan Melawan Hukum, terbitan Pasca


Sarjana FH Universitas Indonesia (2003)

29 | P e r j a n j i a n K r e d i t d a n J a m i n a n n y a