Anda di halaman 1dari 26

REFLEKSI KASUS

Anemia Defisiensi Besi


Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Kelulusan Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Penyakit Dalam di RSUD Muntilan

Disusun oleh :
Try Ariditya Utomo
20120310221
Dokter pembimbing :
dr. Zaenab, Sp. PD

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM RSUD SALATIGA
2016
2

HALAMAN PENGESAHAN

Telah disetujui dan disahkan, refleksi kasus dengan judul

Anemia Defisiensi Besi

Disusun oleh :
Nama: Try Ariditya Utomo
NIM: 20120310221

Disahkan oleh :
Dokter Pembimbing,

dr. Zaenab, Sp. PD


3

BAB I

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS
Nama : Nn. S
Usia : 71
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Kadiluwih, Magelang
Pekerjaan : Pijet Bayi
Masuk RS : 23 December 2016

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Nyeri ulu hati dan lemes
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan lemas dan nyeri di ulu hati menjalar hingga ke

punggung. Tidak ada mual maupun muntah. Perdarahan gusi, mimisan, BAB hitam

disangkal oleh pasien.


Riwayat Penyakit Dahulu
Pada bulan maret pasien menderita anmeia defisiensi besi
Riwayat Penyakit Keluarga
Di keluarga tidak ada yang memiliki keluhan yang serupa.
Riwayat Personal Sosial
Pasien tinggal bersama anak-anaknya. Sudah beberapa bulan tidak nafsu makan dan

mengaku biasanya hanya makan sekali sehari dan jenis makanannya kurang bergizi.
Anamnesis Sistem:
Kepala/Leher : Tidak ada keluhan
THT : Tidak ada keluhan
Respirasi : Tidak ada keluhan
Kardiovaskular : Pasien mengaku jantung nya berdebar-debar
Gastrointestinal : Tidak ada keluhan
Urogenital : Tidak ada keluhan
Muskuloskeletal : Tidak ada keluhan
Integumentum : Tidak ada keluhan

III. RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT PASIEN


1. S (Subjektif)
Pasien datang ke IGD RSUD Muntilan dengan keluhan lemas dan nyeri ulu hati

yang menjalar sampai ke punggung, nyeri hilang timbul. Perdarahan gusi, mimisan,

BAB hitam disangkal oleh pasien


4

2. O (Objektif)
a. Kesan Umum : Tampak lemas
b. Kesadaran : Compos Mentis
c. Vital Sign
-Tekanan darah : 110/70 mmHg
-Nadi : 80x/menit
-Frekuensi napas : 20x/menit
-Suhu : 360C
d. Kepala dan Leher
-Conjungtiva anemis : (+/+)
-Sklera ikterik : (-/-)
-Pembesaran limfonodi : (-)
e. Thorax
A. Paru-paru :

Inspeksi : Bentuk dada simetris (-) Retraksi (-)

Palpasi : Vocal Fremitus (-/-)

Perkusi : Redup (-/-), Sonor (+/+)

Auskultasi : Suara nafas paru vesikuler (+/+), wheezing (-/-), Ronkhi(-/-)

B. Jantung

Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi : Iktus kordis tidak teraba kuat angkat

Perkusi : Batas atas jantung pada SIC 2 linea parasternalis sinistra,

batas kanan jantung pada SIC 4 linea sternalis kanan, batas kiri jantung pada

SIC 4 linea midclavicula kiri.

Auskultasi : Bunyi jantung 1 dan 2 reguler, bising jantung (+)

f. Abdomen
Inspeksi : Tak tampak jejas dilapang perut. Lapang perut simetris, cembung
Auskultasi : Bising usus (+)

Perkusi : Suara timpani pada lapang perut.

Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), Hepar dan lien tidak teraba

Ekstremitas : Akral Dingin : -/-, CRT : < 2 detik


5

g. Pemeriksaan Penunjang
23 Desember 2016

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan


Hematologi
Lekosit 10.86 4.2-9.3
Eritrosit 2.8 4-5
Hemoglobin 5.2 12-15
Hematokrit 37-43
Trombosit 382 150-450
MPV 5.89 7.2-11.1
Index
RDW 15.3 11.5-14.5
MCV 54.5 80-100
MCH 18.5 26-34
MCHC 28.7 32-36
Golongan darah ABO O
Differential
Netrofil 57.4 50-70
Limfosit 33.4 25-40
Monosit 5.5 2-8
Eosinofil 2.6 2-4

26 Desember 2016

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan


Hematologi
Lekosit 7.61 4.2-9.3
Eritrosit 3.94 4-5
Hemoglobin 9.1 12-15
Hematokrit 28.5 37-43
Trombosit 399 150-450
MPV 4.83 7.2-11.1
Index
RDW 22.6 11.5-14.5
MCV 72.3 80-100
MCH 23.0 26-34
MCHC 31.9 32-36
Golongan darah ABO O
Differential
Netrofil 67.2 50-70
Limfosit 17.9 25-40
Monosit 8.4 2-8
Eosinofil 6.0 2-4
6

Hasil Pemeriksaan Morfologi Darah Tepi

Kesan Eritrosit : Anisositosis, mikrositik, makrosit +,

polikromasi +, sel cigar +, sel pencil +, hipokromi


Kesan Lekosit : Jumlah meningkat, morfologi tak ada kelainan
Kesan Trombosit : Jumlah meningkat, penyebaran merata,

morfologi tak ada kelainan


Kesimpulan : Gambaran anemia defisiensi besi tahap lanjut

Feses Rutin

Makroskopis :

Warna :Coklat Darah : Negatif

Konsistensi Lembek Lendir`: Negatif

Mikroskopis :

Sisa makanan : Positif Eritrosit : negatif

Leukosit : negatif Telur Ascaris : negatif

Telur Tricuris : negatif Telur Ankylos : negatif

E. histolitica : negatif E.coli : negatif

Amoeba : negatif Lemak : negatif


7

f) Therapy

1. Infus Nacl
2. Sangobion 1x1
3. Tranfusi PRC 5 koft
4. Ranitidin IA/12j
5. Asam folat 2 x1
a)

b) BAB II

c) TINJAUAN PUSTAKA
d)

e)
f) Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah

kurang dari normal. Faktor-faktor penyebab anemia gizi besi adalah status gizi yang

dipengaruhi oleh pola makanan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan dan status

kesehatan. Khumaidi (1989) mengemukakan bahwa faktorfaktor yang melatar

belakangi tingginya prevalensi anemia gizi besi di negara berkembang adalah keadaan

sosial ekonomi rendah meliputi pendidikan orang tua dan penghasilan yang rendah

serta kesehatan pribadi di lingkungan yang buruk. Meskipun anemia disebabkan oleh

berbagai faktor, namun lebih dari 50 % kasus anemia yang terbanyak diseluruh dunia

secara langsung disebabkan oleh kurangnya masukan zat gizi besi. Selain itu

penyebab anemia gizi besi dipengaruhi oleh kebutuhan tubuh yang meningkat, akibat

mengidap penyakit kronis dan kehilangan darah karena menstruasi dan infeksi parasit

(cacing). Di negara berkembang seperti Indonesia penyakit kecacingan masih

merupakan masalah yang besar untuk kasus anemia gizi besi, karena diperkirakan

cacing menghisap darah 2-100 cc setaip harinya.


g) Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan

pada pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak. Kekurangan kadar Hb dalam

darah dapat menimbulkan gejala lesu, lemah, letih, lelah dan cepat lupa. Akibatnya

dapat menurunkan prestasi belajar, olah raga dan produktifitas kerja. Selain itu anemia

gizi besi akan menurunkan daya tahan tubuh dan mengakibatkan mudah terkena

infeksi.
h) Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia yang telah dilakukan

selama ini ditujukan pada ibu hamil, sedangkan remaja putri secara dini belum terlalu

diperhatikan. Agar anemia bisa dicegah atau diatasi maka harus banyak

mengkonsumsi makanan yang kaya zat besi. Selain itu penanggulangan anemia

defisiensi besi dapat dilakukan dengan pencegahan infeksi cacaing dan pemberian

tablet Fe yang dikombinasikan dengan vitamin C.


i) Anemia adalah suatu keadaan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah

kurang dari normal, berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin dan kehamilan. Batas

normal dari kadar Hb dalam darah dapat dilihat pada tabel berikut :
j)
k)

l)
m) Sebagian besar anemia disebabkan oleh kekurangan satu atau lebih zat

gizi esensial (zat besi, asam folat, B12) yang digunakan dalam pembentukan sel-sel

darah merah. Anemia bisa juga disebabkan oleh kondisi lain seperti penyakit malaria,

infeksi cacing tambang.

1. Klasifikasi Anemia

n) Secara morfologis, anemia dapat diklasifikasikan menurut ukuran sel

dan hemoglobin yang dikandungnya.

1. Makrositik
o) Pada anemia makrositik ukuran sel darah merah bertambah besar dan

jumlah hemoglobin tiap sel juga bertambah. Ada dua jenis anemia makrositik

yaitu :
p) 1. Anemia Megaloblastik adalah kekurangan vitamin B12, asam folat

dan gangguan sintesis DNA.


q) 2. Anemia Non Megaloblastik adalah eritropolesis yang dipercepat dan

peningkatan luas permukaan membran.


2. Mikrositik

Mengecilnya ukuran sel darah merah yang disebabkan oleh defisiensi besi,

gangguan sintesis globin, porfirin dan heme serta gangguan

metabolisme besi lainnya


3. Normositik

Pada anemia normositik ukuran sel darah merah tidak berubah, ini disebabkan

kehilangan darah yang parah, meningkatnya volume plasma secara berlebihan,

penyakit-penyakit hemolitik, gangguan endokrin, ginjal, dan hati.

r)

Klasifikasi Anemia menurut etiopatogenesis :

s) A. Anemia karena gangguan pembentukan eritrosit dalam sumsum tulang

t) 1. Kekurangan bahan esensial pembentuk eritrosit


u) a. Anemia defisiensi besi
v) b. Anemia defisiensi asam folat
w) c. Anemia defisiensi vitamin B12
x) 2. Gangguan penggunaan besi
y) a. Anemia akibat penyakit kronik
z) b. Anemia sideroblastik
aa) 3. Kerusakan sumsum tulang
ab) a. Anemia aplastik
ac) b. Anemia mieloptisik
ad) c. Anemia pada keganasan hematologi
ae) d. Anemia diseritropoietik
af) e. Anemia pada sindrom mielodisplastik

ag) B. Anemia akibat perdarahan


ah) 1. Anemia pasca perdarahan akut
ai) 2. Anemia akibat perdarahan kronik
aj) C. Anemia hemolitik
ak) 1. Anemia hemolitik intrakorpuskular
al) a. Gangguan membran eritrosit (membranopati)
am) b. Gangguan enzim eritrosit (enzimopati): anemia akibat defisiensi

G6PD
an) c. Gangguan hemoglobin (hemoglobinopati)
ao) - Thalasemia
ap) -Hemoglobinopati struktural : HbS, HbE, dll
aq) 2. Anemia hemolitik ekstrakorpuskuler
ar) a. Anemia hemolitik autoimun
as) b. Anemia hemolitik mikroangiopatik
at) c. Lain-lain
au) D. Anemia dengan penyebab tidak diketahui atau dengan patogenesis yang

kompleks
av)

Klasifikasi anemia berdasarkan morfologi dan etiologi:


aw) I. Anemia hipokromik mikrositer
ax) a. Anemia defisiensi besi
ay) b. Thalasemia major
az) c. Anemia akibat penyakit kronik
ba) d. Anemia sideroblastik
bb) II. Anemia normokromik normositer
bc) a. Anemia pasca perdarahan akut
bd) b. Anemia aplastik
be) c. Anemia hemolitik didapat
bf) d. Anemia akibat penyakit kronik
bg) e. Anemia pada gagal ginjal kronik
bh) f. Anemia pada sindrom mielodisplastik
bi) g. Anemia pada keganasan hematologik
bj) III. Anemia makrositer
bk) a. Bentuk megaloblastik
bl) 1. Anemia defisiensi asam folat
bm) 2. Anemia defisiensi B12, termasuk anemia pernisiosa
bn) b. Bentuk non-megaloblastik
bo) 1. Anemia pada penyakit hati kronik
bp) 2. Anemia pada hipotiroidisme
bq) 3. Anemia pada sindrom

mielodisplastik
br)
2. Anemia Defisiensi besi

bs) Anemia Defisiensi Besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan

zat besi dalam darah, artinya konsentrasi hemoglobin dalam darah berkurang karena

terganggunya pembentukan sel-sel darah merah akibat kurangnya kadar zat besi

dalam darah.
bt) Jika simpanan zat besi dalam tubuh seseorang sudah sangat rendah

berarti orang tersebut mendekati anemia walaupun belum ditemukan gejala-gejala

fisiologis. Simpanan zat besi yang sangat rendah lambat laun tidak akan cukup untuk

membentuk selsel darah merah di dalam sumsum tulang sehingga kadar hemoglobin

terus menurun di bawah batas

normal, keadaan inilah yang disebut anemia gizi besi. Menurut Evatt, anemia

Defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh berkurangnya cadangan besi

tubuh. Keadaan ini ditandai dengan menurunnya saturasi transferin, berkurangnya

kadar feritin serum atau hemosiderin sumsum tulang. Secara morfologis keadaan ini

diklasifikasikan sebagai anemia

mikrositik hipokrom disertai penurunan kuantitatif pada sintesis hemoglobin.


bu) Defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia. Wanita usia subur

sering mengalami anemia, karena kehilangan darah sewaktu menstruasi dan

peningkatan kebutuhan besi sewaktu hamil.


bv)

3. Patofisiologi Anemia
bw) Zat besi diperlukan untuk hemopoesis (pembentukan darah) dan juga

diperlukan oleh berbagai enzim sebagai faktor penggiat. Zat besi yang terdapat dalam

enzim juga diperlukan untuk mengangkut elektro (sitokrom), untuk mengaktifkan

oksigen (oksidase dan oksigenase). Defisiensi zat besi tidak menunjukkan gejala yang

khas (asymptomatik) sehingga anemia pada balita sukar untuk dideteksi.


bx) Tanda-tanda dari anemia gizi dimulai dengan menipisnya simpanan zat

besi (feritin) dan bertambahnya absorbsi zat besi yang digambarkan dengan

meningkatnya kapasitas pengikatan besi. Pada tahap yang lebih lanjut berupa

habisnya simpanan zat besi berkurangnya kejenuhan transferin, berkurangnya jumlah

protoporpirin yang diubah menjadi heme, dan akan diikuti dengan menurunnya kadar

feritin serum. Akhirnya terjadi anemia dengan cirinya yang khas yaitu rendahnya

kadar Rb
by) Bila sebagian dari feritin jaringan meninggalkan sel akan

mengakibatkan konsentrasi feritin serum rendah. Kadar feritin serum dapat

menggambarkan keadaan simpanan zat besi dalam jaringan. Dengan demikian kadar

feritin serum yang rendah akan menunjukkan orang tersebut dalam keadaan anemia

gizi bila kadar feritin serumnya <12 ng/ml. Hal yang perlu diperhatikan adalah bila

kadar feritin serum normal tidak selalu menunjukkan status besi dalam keadaan

normal. Karena status besi yang berkurang lebih dahulu baru diikuti dengan kadar

feritin.
bz) Diagnosis anemia zat gizi ditentukan dengan tes skrining dengan cara

mengukur kadar Hb, hematokrit (Ht), volume sel darah merah (MCV), konsentrasi Hb

dalam sel darah merah (MCH) dengan batasan terendah 95% acuan

4. Etiomologi Anemia Defisiensi Besi

ca) Penyebab Anemia Defisiensi Besi adalah :

A. Asupan zat besi


cb) Rendahnya asupan zat besi sering terjadi pada orang-orang yang

mengkonsumsi bahan makananan yang kurang beragam dengan menu makanan yang

terdiri dari nasi, kacang-kacangan dan sedikit daging, unggas, ikan yang merupakan

sumber zat besi. Gangguan defisiensi besi sering terjadi karena susunan makanan

yang salah baik jumlah maupun kualitasnya yang disebabkan oleh kurangnya

penyediaan pangan, distribusi makanan yang kurang baik, kebiasaan makan yang

salah, kemiskinan dan ketidaktahuan.


B. Penyerapan zat besi
cc) Diet yang kaya zat besi tidaklah menjamin ketersediaan zat besi dalam

tubuh karena banyaknya zat besi yang diserap sangat tergantung dari jenis zat besi dan

bahan makanan yang dapat menghambat dan meningkatkan penyerapan besi.


C. Kebutuhan meningkat
cd) Kebutuhan akan zat besi akan meningka pada masa pertumbuhan

seperti pada bayi, anakanak, remaja, kehamilan dan menyusui. Kebutuhan zat besi

juga meningkat pada kasus-kasus pendarahan kronis yang disebabkan oleh parasit.
D. Kehilangan zat besi
ce) Kehilangan zat besi melalui saluran pencernaan, kulit dan urin disebut

kehilangan zat besi basal. Pada wanita selain kehilangan zat besi basal juga

kehilangan zat besi melalui menstruasi. Di samping itu kehilangan zat besi disebabkan

pendarahan oleh infeksi cacing di dalam usus.


5. Gejala Klinis

cf)

A. Gejala umum anemia adalah gejala yang timbul pada setiap kasus

anemia, apapun penyebabnya, apabila kadar hemoglobin turun

dibawah harga tertentu.Gejala umum anemia ini timbul karena : a.

Anoksia organ b.Mekanisme kompensasi tubuh terhadap

berkurangnya daya angkut oksigen


Affinitas oksigen yang berkurang Untuk peningkatan

pengangkutan oksigen ke jaringan yang efisien, dilakukan

dengan cara mengurangi affinitas hemoglobinuntuk oksigen.

Aksi ini meningkatkan ekstraksi oksigen dengan jumlah

hemoglobin yang sama.


Peningkatan perfusi jaringan Efek dari kapasitas

pengangkutan oksigen yang berkurang pada jaringan dapat

dikompensasi dengan meningkatkan perfusi jaringan dengan

mengubah aktivitas vasomotor dan angiogenesis


Peningkatan cardiac output Dilakukan dengan mengurangi

fraksi oksigen yang harus diekstraksi selama setiap sirkulasi,

untuk menjaga tekanan oksigen yang lebih tinggi. Karena

viskositas darah pada anemia berkurang dan dilatasi vaskular

selektif mengurangi resistensi perifer, cardiac

output yang tinggi bisa dijaga tanpa peningkatan tekanan

darah.
Peningkatan fungsi paru Anemia yang signifikan

menyebabkan peningkatan frekuensi pernafasan yang

mengurangi gradien oksigen dari udara di lingkungan ke


udara di alveolar, dan meningkatkan jumlah oksigen yang

tersedia lebih banyak daripada cardiac output yang normal.


Peningkatan produksi sel darah merah Produksi sel darah

merah meningkat 2-3 kali lipat pada kondisi yang akut, 4-6

kali lipat pada kondisi yang kronis, dan kadangkadang

sebanyak 10 kali lipat pada kasus tahap akhir. Peningkatan

produksi ini dimediasi oleh peningkatan produksi eritropoietin.

Produksi eritropoietin dihubungkan dengan konsentrasi

hemoglobin. Konsentrasi eritropoietin dapat meningkat dari

10 mU/mL pada konsentrasi hemoglobin yang normal sampai

10.000 mU/mL pada anemia yang berat. Perubahan kadar

eritropoietin menyebabkan produksi dan penghancuran sel

darah merah seimbang.

cg) Gejala umum anemia menjadi jelas apabila kadar

hemoglobin telah turun dibawah 7 gr/dL. Berat ringannya gejala

umum anemia tergantung pada :


ch) a. Derajat penurunan hemoglobin
ci) b. Kecepatan penurun hemoglobin
cj) c. Usia
ck) d. Adanya kelainan jantung atau paru sebelumnya

B. Gejala khas masing-masing anemia

cl) Gejala ini spesifik untuk masing-masing jenis anemia.

Sebagai contoh:

- Anemia defisiensi besi : disfagia, atrofi papil lidah, stomatitis

angularis, dan kuku sendok (koilonychias)


- Anemia megaloblastik : glositis, gangguan neurologik pada

defisiensi vitamin B12


- Anemia hemolitik : ikterus, splenomegali dan hepatomegali
- Anemia aplastik : perdarahan dan tanda-tanda infeksi
C. Gejala penyakit dasar
cm) Gejala yang timbul akibat penyakit dasar yang

menyebabkan anemia sangat bervariasi tergantung dari penyebab

anemia tersebut. Misalnya gejala akibat infeksi cacing tambang :

sakit perut, pembengkakan parotis dan warna kuning pada telapak

tangan. Pada kasus tertentu sering gejala penyakit dasar lebih

dominan, seperti misalnya pada anemia akibat penyakit kronik oleh

karena atritis rheumatoid.


6. Diagnosis
cn) 1. Anamnesis
co) 1). Riwayat faktor predisposisi dan etiologi :
a) Kebutuhan meningkat secara fisiologis terutama pada masa

pertumbuhan yang cepat, menstruasi, dan infeksi kronis


b) Kurangnya besi yang diserap karena asupan besi dari makanan tidak

adekuat malabsorpsi besi


c) Perdarahan terutama perdarahan saluran cerna (tukak lambung,

penyakit Crohn, colitis ulserativa)

cp) 2).Pucat, lemah, lesu, gejala pika


cq) 2.Pemeriksaan fisis

a) anemis, tidak disertai ikterus, organomegali dan limphadenopati


b) stomatitis angularis, atrofi papil lidah
c) ditemukan takikardi ,murmur sistolik dengan atau tanpa pembesaran jantun

cr) 3.Pemeriksaan penunjang

a) Hemoglobin, Hct dan indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC) menurun


b) Apus darah tepi menunjukkan hipokromik mikrositik
c) Kadar besi serum (SI) menurun dan TIBC meningkat , saturasi menurun
d) Kadar feritin menurun dan kadar Free Erythrocyte Porphyrin (FEP)

meningkat
e) sumsum tulang : aktifitas eritropoitik meningkat

cs)
ct)

Akibat Anemia Defisiensi Besi


cu) Akibat-akibat yang merugikan kesehatan pada individu yang menderita anemi

gizi besi adalah


cv) 1. Bagi bayi dan anak (0-9 tahun)
cw) a. Gangguan perkembangan motorik dan koordinasi.
cx) b. Gangguan perkembangan dan kemampuan belajar.
cy) c. Gangguan pada psikologis dan perilaku
cz) 2. Remaja (10-19 tahun)
da) a. Gangguan kemampuan belajar
db) b. Penurunan kemampuan bekerja dan aktivitas fisik
dc) c. Dampak negatif terhadap sistem pertahanan tubuh dalam melawan

penyakit infeksi
dd) 3.Orang dewasa pria dan wanita
de) a. Penurunan kerja fisik dan pendapatan.
df) b. Penurunan daya tahan terhadap keletihan
dg) 4.Wanita hamil
dh) a. Peningkatan angka kesakitan dan kematian ibu
di) b. Peningkatan angka kesakitan dan kematian janin
dj) c. Peningkatan resiko janin dengan berat badan lahir rendah
dk)
dl) Ada tiga uji laboratorium yang dipadukan dengan pemeriksaan kadar

Hb agar hasil lebih tepat untuk menentukan anemia gizi besi. Untuk menentukan

anemia gizi besi yaitu :

a. Serum Ferritin (SF)


dm) Ferritin diukur untuk mengetahui status besi di dalam hati. Bila kadar SF < 12

mg/dl maka orang tersebut menderita anemia gizi besi.


b. Transferin Saturation (ST)
dn) Kadar besi dan Total Iron Binding Capacity (TIBC) dalam serum merupakan

salah satu menentukan status besi. Pada saat kekurangan zat besi, kadar besi menurun

dan TIBC meningkat, rasionya yang disebut dengan TS. TS < dari 16 % maka orang

tersebut defisiensi zat besi.


c. Free Erythocyte Protophorph
do) Bila kadat zat besi dalam darah kurang maka sirkulasi FEB dalam darah

meningkat. Kadar normal FEB 35-50 mg/dl RBC.


dp) heme.

7. Pencegahan dan Pengobatan Anemia Defisiensi Besi

dq)
a. Terapi kausal: tergantung penyebabnya, misalnya, pengobatan cacing tambang,

pengobatan hemoroid, pengobatan menoragia. Terapi kausal harus dilakukan,

kalau tidak maka anemia akan kambuh kembali.


b. Pemberian preparat besi untuk mengganti kekurangan besi dalam tubuh
dr) 1) Besi per oral merupakan obat pilihan pertama karena efektif, murah,

dan aman. preparat yang tersedia, yaitu: a) Ferrous sulphat (sulfas ferosus):

preparat pilihan pertama (murah dan efektif). Dosis: 3 x 200 mg. b) Ferrous

gluconate, ferrous fumarat, ferrous lactate, dan ferrous succinate, harga lebih

mahal, tetepi efektivitas dan efek samping hampir sama.


ds) 2) Besi parenteral Efek samping lebih berbahaya, serta harganya lebih

mahal. Indikasi, yaitu : a) Intoleransi oral berat b) Kepatuhan berobat kurang 20

c) Kolitis ulserativa d) Perlu peningkatan Hb secara cepat (misal preoperasi,

hamil trimester akhir).

dt)
du) Upaya yang dilakukan dalam pencegahan dan penanggulangan anemia adalah

a) Suplementasi tabet Fe
b) Fortifikasi makanan dengan besi
c) Mengubah kebiasaan pola makanan dengan menambahkan konsumsi pangan yang

memudahkan absorbsi besi seperti menambahkan vitamin C.


d) Penurunan kehilangan besi dengan pemberantasan cacing. Dalam upaya mencegah

dan menanggulangi anemia adalah dengan mengkonsumsi tablet tambah darah. Telah

terbukti dari berbagai penelitian bahwa suplementasi, zat besi dapat meningkatkan

kadar Hemoglobin.
e) Pengobatan Anemia Defisiensi Besi Sejak tahun 1997 pemerintah telah merintis

langkah baru dalam mencegah dan menanggulangi anemia, salah satu pilihannya

adalah mengkonsumsi tablet tambah darah. Telah terbukti dari berbagai peneltian

bahwa suplemen zat besi dapat meningkatkan hemoglobin.

dv)
Pencegahan dan Penanggulangan Anemia Defisiensi Besi dapat dilakukan antara lain

dengan cara:
c. Meningkatkan konsumsi zat besi dari makanan.

dw) Mengkonsumsi pangan hewani dalam jumlah cukup. Namun

karena harganya cukup tinggi sehingga masyarakat sulit menjangkaunya. Untuk

itu diperlukan alternatif yang lain untuk mencegah anemia gizi besi. Memakan

beraneka ragam makanan yang memiliki zat gizi saling melengkapi termasuk

vitamin yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi, seperti vitamin C.

Peningkatan konsumsi vitamin C sebanyak 25, 50, 100 dan 250 mg dapat

meningkatkan penyerapan zat besi sebesar 2, 3, 4 dan 5 kali. Buah-buahan segar

dan sayuran sumber vitamin C, namun dalam proses pemasakan 50 - 80 % vitamin

C akan rusak. Mengurangi konsumsi makanan yang bisa menghambat penyerapan

zat besi seperti : fitat, fosfat, tannin.

d. Suplementasi zat besi

dx) Pemberian suplemen besi menguntungkan karena dapat memperbaiki

status hemoglobin dalam waktu yang relatif singkat. Di Indonesia pil besi yan

umum digunakan dalam suplementasi zat besi adalah frrous sulfat. Efek samping

dari pemberian besi feroral adalah mual, ketidaknyamanan epigastrium, kejang

perut, konstipasi dan diare. Efek ini tergantung dosis yang diberikan dan dapat

diatasi dengan mengurangi dosis dan meminum tablet segera setelah makan atau

bersamaan dengan makanan.

e. Fortifikasi zat besi

dy) Fortifikasi adalah penambahan suatu jenis zat gizi ke dalam bahan

pangan untuk meningkatkan kualitas pangan . Kesulitan untuk fortifikasi zat besi

adalah sifat zat besi yang reaktif dan cenderung mengubah penampilanm bahan
yang di fortifikasi. Sebaliknya fortifikasi zat besi tidak mengubah rasa, warna,

penampakan dan daya simpan bahan pangan. Selain itu pangan yang difortifikasi

adalah yang banyak dikonsumsi masyarakat seperti tepung gandum untuk

pembuatan roti.

f. Penanggulangan penyakit infeksi dan parasit

dz) Penyakt infeksi dan parasit merupakan salah satu penyebab anemia

gizi besi. Dengan menanggulangi penyakit infeksi dan memberantas parasit

diharapkan bisa meningkatkan status besi tubuh.

8. Pemantauan
a. Periksa kadar hemoglobin setiap 2 minggu
b. Kepatuhan orang tua dalam memberikan obat
c. Gejala sampingan pemberian zat besi yang bisa berupa gejala gangguan

gastrointestinal misalnya konstipasi, diare, rasa terbakar diulu hati, nyeri abdomen

dan mual. Gejala lain dapat berupa pewarnaan gigi yang bersifat sementara.
d. Penimbangan berat badan setiap bulan
e. Perubahan tingkah laku
f. Daya konsentrasi dan kemampuan belajar pada anak usia sekolah dengan

konsultasi ke ahli psikologi


g. Aktifitas motorik

ea)

eb) BAB III

ec) PEMBAHASAN
ed)

ee) Pada kasus ini manifestasi klinis yang

muncul pada pasien adalah lemas, nyeri ulu hati, pusing, pucat,

mual, nafsu makan menurun pada saat pasien datang ke rumah

sakit
ef) Sel darah merah (eritrosit) berfungsi

sebagai transport atau pertukaran O2 dan CO2, berkurangnya

jumlah eritrosit maka pengiriman O2 ke jaringan akan menurun,

karena sirkulasi bersifat sistemik maka efeknya bia sampai ke otak,

otak adalah organ yang sangat mutlak membutuhkan O2 maka dari

itu berkurangnya eritrosit bisa berdampak pada fungsi otak dapat

terjadi penurunan kesadaran dan pusing. Pada jaringan perifer

suplai darah, O2 tidak maksimal karena distribusinya akan

didahulukan ke organ yang lebih vital, maka dari itu metabolisme

anaerob dapat meningkat dan menyebabkan seseorang merasa

lemas dan cepat lelah. Untuk memaksimalkan distribusi O2 ke organ

vital maka respon pada pembuluh darah adalah vasokonstriksi maka

dapat timbul pucat.

eg) Seperti yang telah disebutkan di atas,

salah satu penyebab dari kemungkinan terjadinya anemia defisiensi

besi adalah karena kurang nya intake yang bergizi atau mengalami

kehilangan nafsu makan dan seringkali hanya memakan makanan

yang kurang memiliki gizi tinggi. Hal ini dapat memicu terjadinya

anemia defisiensi besi karena kurangnya intake sumber zat besi

yang dikonsumsi oleh pasien. Hal ini di dukung dengan berdasarkan

dari gejala klinis serta pemeriksaan penunjang yang ada pada

pasien. Tidak terbukti adanya penyakit kronis atau perdarahan yang

ada pada pasien, tidak terbukti adanya cacing dan kelainan lainnya

pada system pencernaan pasien.


eh) Pemberian terapi pasien pada anemia

defisiensi besi adalah dengan pemberian suplemen besi untuk

menggantikan kekurangan zat besi pada tubuh pasien. Dengan

melihat keadaan Hb yang sangat rendah pada pasien menunjukan

bahwa pasien pada stadium severe anemia sehingga perlu diberikan

tranfusi darah untuk meningkatkan Hb pasien guna menstabilkan

keadaan pasien.

ei) .
ej) BAB IV

ek) KESIMPULAN
el)

em) Dapat disimpulkan penegakan diagnosis pada pasien Nn. S

adalah berdasarkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan


penunjang mengarahkan diagnosis severe anemia defisiensi besi. Dari

anamnesis diketahui bahwa pasien memiliki gejala klinis berupa lemas,

pucat, pusing, nyeri ulu hati, serta pemeriksaan penunjang yang

menunjukan bahwa kadar hemoglobin yang meningkat serta MDT yang

menunjukan gambaran anemia defisiensi besi. Pemberian terapi secara

suportif pada pasien anemia defisiensi besi berupa pengobatan

pemberian tambahan besi dan pemberian transfusi darah. Perlu dilakukan

pemantauan untuk mencegah terjadinya kemungkinan kekambuhan

terjadinya anemia pada pasien,

en)

eo) DAFTAR PUSTAKA

ep)

eq) Masrizal, Anemia Defisiensi Besi. Jurnal Kesehatan

Masyarakat. 2007. Hal 140-145

er) Beta I, et al. Anemia Defisiensi Besi. Buku Ajar Penyakit Dalam

Edisi Keenam. Interna Publihising : Jakarta. Hal :2589-2599

es) Gasche, C et al. Guidelines on the Diagnosis and Management

of Iron Deficiency and Anemia in Inflammatory Bowel Diseases. 2007 hal

1545-1553

et) Abdulsalam, M., Daniel, A. Diagnosis, Pengobatan dan

Pencegahan Anemia
eu) Defisiensi Besi. Sari Pediatri, Vol. 4, No. 2, September 2002: 74

77

ev) Dahlerup, J., et al. Diagnosis and treatment of unexplained

anemia with iron deficiency without overt bleeding.Danish Medical Journal.

2014