Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

CANCER NASOPHARYNX
Disusun untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Medikal di
Ruang 27 RSUD dr. Saiful Anwar Malang

Oleh:
Yodha Pranata
NIM. 150070300011038
Kelompok 4

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2017
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
CANCER NASOPHARYNX
DI RUANG 27 RSSA

Oleh :
Yodha Pranata
NIM. 150070300011038

Telah diperiksa dan disetujui pada :


Hari :
Tanggal :

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan


A. Definisi
Kanker Nasofaring adalah jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan
belakang langit-langit rongga mulut.Karsinoma nasofaring merupakan kanker ganas yang
tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller pada nasofaring yang
merupakan daerah transisional dimana epitel kuboid berubah menjadi epitel squamosa
(National Cancer Institude, 2009).
Kanker ganas nasofaring (karsinoma nasofaring) adalah sejenis kanker yang dapat
menyerang dan membahayakan jaringan yang sehat dan bagian-bagian organ di tubuh kita.
Nasofaring mengandung beberapa tipe jaringan, dan setiap jaringan mengandung beberapa
tipe sel. Dan kanker ini dapat berkembang pada tipe sel yang berbeda.Dengan mengetahui
tipe sel yang berbeda merupakan hal yang penting karena hal tersebut dapat menentukan
tingkat seriusnya jenis kanker dan tipe terapi yangakan digunakan (Wulan 2012).

B. Epidemiologi
Berdasarkan data IARC (International Agency for Research on Cancer) tahun 2002
ditemukan sekitar 80,000 kasus baru KNF diseluruh dunia dan banyak ditemukan di negara
Cina bagian Selatan, Asia, Mediterania dan Alaska.Meskipun banyak ditemukan di negara
dengan penduduk non-Mongoloid,namun demikian di daerah Cina bagian selatan masih
menduduki tempat tertinggi,yaitu mencapi 2500 kasus baru per tahun atau prevalensi 39,84
per 100.000 penduduk untuk propinsi Guangdong.Penduduk di provinsi Guang Dong ini
hampir setiap hari mengkonsumsi ikanyang diawetkan (diasap, diasin). Di dalam ikan yang
diawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine yang terbukti bersifat karsinogenik.
Insiden yang bervariasi dari KNF berbeda berdasarkan letak geografis,kelompok
etnik yang berkaitan dengan genetik dan faktor lingkungan yang juga memegang peranan
dalam perkembangan dari KNF.
Di Indonesia dengan variasi etnis yang besar, KNF merupakan kanker ganas daerah
kepala dan leher yang paling banyak ditemukan, yaitu sebesar 60%.Insidennya hampir
merata di setiap daerah. Angka kejadian KNF di Indonesia cukup tinggi, yakni
4,7kasus/tahun/100.000 penduduk atau diperkirakan 7000 8000 kasus per tahun diseluruh
Indonesia (survei yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan pada tahun1980 secara
pathology based).Di semua pusat pendidikan dokter di Indonesia dari tahun ke
tahun,karsinoma nasofaring selalu menempati urutan pertama di bidang THT. Frekuensinya
hampir merata di setiap daerah.Di RSCM Jakarta saja ditemukan lebihdari 100 kasus per
tahun.Di RS Hasan Sadikin Bandung rata-rata 60 kasus pertahun, Makassar 25 kasus per
tahun, Palembang 25 kasus per tahun, Denpasar 15kasus per tahun, dan di Padang
sebanyak 11 kasus per tahun. Frekuensi yang tidak jauh berbeda juga ditemukan di Medan,
Semarang, Surabaya dan kota-kota lain diIndonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kejadian
tumor ganas ini merata di seluruh Indonesia.

C. Faktor risiko
KNF merupakan penyakit multifaktorial dan belum diketahui secara pasti
penyebabnya. Beberapa faktor risiko yang kini masih diteliti di antaranya: faktor genetik,
infeksi Epstein-Barr virus, diet, dan lingkungan.
1. Faktor genetik
Karsinoma nasofaring tercatat sebagai keganasan yang jarang terjadi di sebagian
besar populasi dunia. Namun, keganasan ini tercatat sering terjadi di Cina selatan, Asia
Tenggara, Kutub Utara, dan Timur Tengah / Afrika Utara. Distribusi ras / etnis dan geografis
khas pada KNF di seluruh dunia menunjukkan bahwa faktor lingkungan dan sifat-sifat
genetik berkontribusi untuk perkembangan keganasan ini.
KNF cenderung teragregasi dalam suatu keluarga pada penelitian di Canton,
Provinsi Guangdong, Cina, dengan tidak ada peningkatan pada keganasan lain.Pada
penelitian lain di China KNF HLA (human leukocyte antigen) dikaitkan dengan KNF.
Keberadaan gen Cina Selatan yang spesifik terkait erat dengandaerah HLA sebagai penentu
utama risiko Cina untuk penyakit ini. Risiko relative KNF pada generasi pertama dari
penderita KNF adalah 8.0 pada 766 subyek penelitian yang dilakukan di Taiwan. Tendensi
familial KNF bisa disebabkan karena faktor genetik dan/atau faktor risiko lingkungan.
2. Infeksi Virus Eipstein-Barr (EBV)
Virus Epstein-Barr (EBV) adalah virus yang termasuk dalam famili Herpesvirus yang
menginfeksi lebih dari 90 % populasi manusia di seluruh dunia dan merupakan penyebab
infeksi mononukleosis. Infeksi EBV berasosiasi dengan beberapa penyakit keganasan
jaringan limfoid dan epitel seperti limfoma Burkitt, limfoma sel T, Hodgkin disease, karsinoma
nasofaring (KNF), karsinoma mammae dan karsinoma gaster.KNF adalah neoplasma epitel
nasofaring yang sangat konsisten dengan infeksi EBV.Infeksi primer pada umumnya terjadi
pada anak-anak dan asymptomatik. Infeksi primer dapat menyebabkan persistensi virus
dimana virus memasuki periode laten di dalam limfosit B memori. Periode laten dapat
mengalami reaktivasi spontan ke periode litik dimana terjadi replikasi DNA EBV, transkripsi
dan translasi genom virus, dilanjutkan dengan pembentukan (assembly) virion baru dalam
jumlah besar sehingga sel pejamu (host) menjadi lisis dan virion dilepaskan ke sirkulasi. Sel
yang terinfeksi EBV mengekspresikan antigen virus yang spesifik untuk masing-masing
periode infeksi.

3. Diet
Beberapa penelitian juga menunjukkan, bahwa mengonsumsi ikan asin menjadi
salah satu faktor penyebab timbulnya kanker atau karsinoma nasofaring (KNF).Salah satu
zat yang terkandung dalam ikan asin yang disebut nitrosamin adalah faktor penyebabnya.
KNF ditemukan endemik di negara China selatan yang sebagian besar penduduknya
mengonsumsi ikan asin.Dalam suatu penelitian di China selatan, terungkap bahwa
penduduk desa yang banyak makan ikan asin ternyata tinggi pula angka penderita
karsinoma nasofaringnya.
Khusus di Eropa, angka kejadian karsinoma nasofaring sangat jarang, bahkan
sampai sekarang belum ditemukan kasus KNF pada orang kulit putih.Ikan asin di China
selatan dan Indonesia memang ada perbedaan. Yang jelas, kadar toksinnya itu. Di
Indonesia belum ada penelitian yang mengatakan kalau ikan asin sebagai faktor penyebab.
Penelitian lain menunjukan bahwa konsumsi mentega tengik, lemak dan daging domba
tengik yang diawetkan (quaddid) di Afrika, dikaitkan dengan peningkatan risiko KNF yang
signifikan.Selain itu, konsumsi sayuran matang dan ikan yang diawetkan secara industry
dikaitkan dengan penurunan risiko. Dalam analisis multivariat, hanya mentegatengik,
sayuran lemak domba tengik yang secara signifikan terkait dengan KNF.Kebiasaan
penduduk Eskimo memakan makanan yang diawetkan seperti daging dan ikan, terutama
pada musim dingin juga meningkatkan kadar kejadian karsinoma nasofaring ini.Dalam
kaitan dengan zat penyebab yang mungkin, dinyatakan bahwa terdapat keterlibatan asam
butirat, yang merupakan aktivator potensial EBV.
4. Lingkungan
Faktor lingkungan yang berpengaruh adalah iritasi oleh bahan kimia, asap sejenis
kayu tertentu, kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu, dan
kebiasaan makan makanan terlalu panas. Terdapat hubungan antara kadar nikel dalam air
minum dan makanan dengan mortalitas karsinoma nasofaring, sedangkan adanya
hubungan dengan keganasan lain tidak jelas.

D. Anatomi nasofaring
Nasofaring terletak di belakang rongga hidung, di atas Palatum Molle dan di bawah
dasar tengkorak. Bentuknya sebagai kotak yang tidak rata dan berdinding enam, dengan
ukuran melintang 4 cm, tinggi 4 cm dan antero-posterior 2-3 cm.
Ke anterior berhubungan dengan rongga hidung melalui koana dan tepi belakang
septum nasi, sehingga sumbatan hidung merupakan gangguan yang sering timbul. Ke arah
posterior dinding nasofaring melengkung ke anterosuperior dan terletak di bawah os sfenoid,
sedangkan bagian belakang nasofaring berbatasan dengan ruang retrofaring, fasia pre-
vertebralis dan otot-otot dinding faring. Padadinding lateral nasofaring terdapat orifisium tuba
Eustachius dimana orifisium ini dibatasi superior dan posterior oleh torus tubarius, sehingga
penyebaran tumor ke lateral akan menyebabkan sumbatan orifisium tuba Eustachius dan
akan mengganggu pendengaran.

Gambar 1. Anatomi Nasofaring

Ke arah postero-superior dari torus tubarius terdapat fossa Rosenmuller yang


merupakan lokasi tersering KNF.Pada atap nasofaring sering terlihat lipatan-lipatan mukosa
yang dibentuk oleh jaringan lunak submukosa, dimana pada usia muda dinding postero-
superior nasofaring umumnya tidak rata. Hal ini disebabkan karena adanya jaringan
adenoid.Di nasofaring terdapat banyak saluran getah bening yang terutama mengalir ke
lateral bermuara di kelenjar retrofaring Krause (kelenjar Rouviere).

E. Histologi nasofaring
Permukaan nasofaring berbenjol-benjol, karena dibawah epitel terdapat banyak
jaringanlimfosid,sehingga berbentuk seperti lipatan atau kripta. Hubungan antara epitel
dengan jaringanlimfosid inisangat erat, sehigga sering disebut " Limfoepitel Bloom dan
Fawcett ( 1965 ) membagi mukosa nasofaringatas empat macam epitel :

1. Epitek selapis torak bersilia " Simple Columnar Cilated Epithelium "
2. Epitel torak berlapis "Stratified Columnar Epithelium ".
3. Epitel torak berlapis bersilia "Stratified Columnar Ciliated Epithelium"
4. Epitel torak berlapis semu bersilia "Pseudo-Stratifed Columnar Ciliated
Epithelium ".
Mengenai distribusi epitel ini, masih belum ada kesepakatan diantara para ahli.60 %
persen darimukosa nasofaring dilapisi oleh epitel berlapis gepeng "Stratified Squamous
Epithelium", dan 80 % dari dinding posterior nasofaring dilapisi oleh epitel ini, sedangkan
pada dinding lateraldan depan dilapisi oleh epitel transisional, yang merupakan epitel
peralihan antara epitel berlapisgepeng dan torak bersilia.Epitel berlapis gepeng ini umumnya
dilapisi keratin, kecuali pada kripta yang dalam. Dipandang dari sudut embriologi, tempat
pertemuan atau peralihan dua macam epitel adalah tempatyang subur untuk tumbuhnya
suatu karsinoma.

F. Manifestasi Klinis
Penting untuk mengetahui gejala dini karsinoma nasofaring dimana tumor masih
terbatas di nasofaring, yaitu:
Gejala Dini
Gejala Telinga:
1. Kataralis/sumbatan tuba Eutachius
Pasien mengeluh rasa penuh di telinga, rasa dengung kadang-kadang disertai
dengan gangguan pendengaran.Gejala ini merupakan gejala yang sangat dini.
2. Radang telinga tengah sampai pecahnya gendang telinga.
Keadaan ini merupakan kelainan lanjut yang terjadi akibat penyumbatan muara tuba,
dimana rongga teliga tengah akan terisi cairan. Cairan yang diproduksi makin lama
makin banyak, sehingga akhirnya terjadi kebocoran gendang telinga dengan akibat
gangguan pendengaran.
Gejala Hidung:
1. Mimisan
Dinding tumor biasanya rapuh sehingga oleh rangsangan dan sentuhan dapat terjadi
pendarahan hidung atau mimisan.Keluarnya darah ini biasanya berulang-ulang,
jumlahnya sedikit dan seringkali bercampur dengan ingus, sehingga berwarna merah
jambu.
2. Sumbatan hidung
Sumbutan hidung yang menetap terjadi akibat pertumbuhan tumor ke dalam rongga
hidung dan menutupi koana.Gejala menyerupai pilek kronis, kadang-kadang disertai
dengan gangguan penciuman dan adanya hingus kental.
Gejala Mata dan Saraf: diplopia dan gerakan bola mata terbatas.
Gejala Lanjut
1. Limfadenopati servikal
Tidak semua benjolan leher menandakan pemyakit ini.Yang khas jika timbulnya di
daerah samping leher, 3-5 cm di bawah daun telinga dan tidak nyeri.Benjolan ini
merupakan pembesaran kelenjar limfe, sebagai pertahanan pertama sebelum sel
tumor ke bagian tubuh yang lebih jauh.Selanjutnya sel-sel kanker dapat berkembang
terus, menembus kelenjar dan mengenai otot di bawahnya.Kelenjarnya menjadi lekat
pada otot dan sulit digerakan.Keadaan ini merupakan gejala yang lebih lanjut
lagi.Pembesaran kelenjar limfe leher merupakan gejala utama yang mendorong
pasien datang ke dokter.
2. Gejala akibat perluasan tumor ke jaringan sekitar.
Tumor dapat meluas ke jaringan sekitar. Perluasan ke atas ke arah rongga tengkorak
dan kebelakang melalui sela-sela otot dapat mengenai saraf otak dan menyebabkan
gejala akibat kelumpuhan otak syaraf yang sering ditemukan ialah penglihatan dobel
(diplopia), rasa baal (mati rasa) di daerah wajah sampai akhirnya timbul kelumpuhan,
lidah, bahu, leher dan gangguan pendengaran serta gangguan penciuman. Keluhan
lainnya dapat berupa sakit kepala hebat akibat penekanan tumor ke selaput otak,
rahang tidak dapat dibuka akibat kekakuan otot-otot rahang yang terkena tumor.
Biasanya kelumpuhan hanya mengenai salah satu sisi tubuh saja (unilateral) tetapi
pada beberapa kasus pernah ditemukan mengenai ke dua sisi tubuh.
3. Gejala akibat metastasis jauh
Sel-sel kanker dapat ikur mengalir bersama aliran limfe atau darah, mengenai organ
tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring.Yang sering ialah pada tulang, hati dan
paru.Jika ini terjadi, menandakan suatu stadium dengan pronosis sangat buruk.

G. Stadium

Penentuan stadium bedasarkan nilai TNM


1. T = Tumor primer
T0 - Tidak tampak tumor
T1 - Tumor terbatas pada satu lokalisasi saja
(lateral/posterosuperior/atap dan lain-lain).
T2 - Tumor terdapat pada dua lokalisasi atau lebih tetapi masih
terbatas di dalam rongga nasofaring.
T3 - Tumor telah keluar dari rongga nasofaring (ke rongga hidung
atau orofaring dsb)
T4 - Tumor telah keluar dari nasofaring dan telah merusak tulang
tengkorak atau mengenai saraf-saraf
otak
TX - Tumor tidak jelas besarnya karena pemeriksaan tidak lengkap

2. N =Nodule (Pembesaran kelenjar getah bening regional)


Tidak ada
N0 - pembesaran
N1 - Terdapat penbesaran tetapi homolateral dan masih dapat di
gerakkan
Terdapat pembesaran kontralateral/bilateral dan masih dapat
N2 - di
Gerakkan
Terdapat pembesaran, baik homolateral, kontralateral,
N3 - maupun
bilateral yang sudah melekat pada jaringan sekitar.

3. M = Metastasis
M0 - Tidak ada metastasis jauh
M1 - Terdapat Metastasis jauh

Stadium I :
T1 dan N0 dan M0
Stadium II :
T2 dan N0 dan M0
Stadium III :
T1/T2/T3 dan N1 dan M0 atau
T3 dan N0 dan M0
Stadium IV :
T4 dan N0/N1 dan M0 atau
T1/T2/T3/T4 dan N2/N3 dan M0 atau
T1/T2/T3/T4 dan N0/N1/N2/N3 dan M1
Menurut American Joint Committee Cancer tahun 1988, tumor staging dari nasofaring
diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Tis : Karcinoma in situ
2. T1 : Tumor yang terdapat pada satu sisi dari nasofaring atau tumor yang tak dapat
dilihat, tetapi hanya dapat diketahui dari hasil biopsi
3. T2 : Tumor yang menyerang dua tempat, yaitu dinding posterosuperior dan dinding
lateral
4. T3 : Perluasan tumor sampai ke dalam rongga hidung atau orofaring
5. T4 : Tumor yang menjalar ke tengkorak kepala atau menyerang saraf kranial (atau
keduanya)

H. Pemerilsaan Diagnosis
Jika ditemukan adanya kecurigaan yang mengarah pada suatu KNF, protokol di
bawah ini dapat membantu untuk menegakkan diagnosis pasti serta stadium tumor :
1. Anamnesis dan pemeriksaan fisik (Pemeriksaan nasofaring dan neuro-
oftalmologi)
2. Pemeriksaan penunjang (Biopsi, radiologi, dan serologi)
Hal-hal yang dapat ditanyakan pada anamnesis :
Gejala dini
Penyakit terdahulu ( peradangan pada THT )
Riwayat terdapatnya kanker dalam keluarga
Riwayat kontak dengan zat karsinogen
Lingkungan dan gaya hidup
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi/ palpasi: benjolan pada leher (lateral)
Massa di nasofaring (rinoskopi, laringoskopi)
Otoskopi, tes pendengaran
Pemeriksaan saraf cranial
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan radiologi konvensional foto tengkorak potongan antero-postoriolateral,
dan posisi waters tampak jaringan lunak di daerah nasofaring. Pada foto dasar
tengkorak ditemukan destruksi atau erosi tulang daerah fosa serebri media.
2. CT-Scan leher dan kepala
Merupakan pemeriksaan yang paling dipercaya untuk menetapkan stadium tumor
dan perluasan tumor.Pada stadium dini terlihatasimetri torus tubarius dan dinding
posterior nasofaring. Scan tulang dan foto torak untuk mengetahui ada tidaknya
metatasis jauh.
3. Pemeriksaan serologi, berupa pemeriksaan titer antibodi terhadapvirus Epsten-Barr (
EBV ) yaitu lg A anti VCA dan lg A anti EA.
4. Pemeriksaan aspirasi jarum halus, bila tumor primer di nasofaringbelum jelas dengan
pembesaran kelenjar leher yang diduga akibatmetastaisis KNF.
5. Diagnosa pasti ditegakkan dengan melakukan biopsi nasofaring. Biopsi nasofaring
dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu : dari hidung atau dari mulut.
6. Biopsi melalui hidung dilakukan tanpa melihat jelas tumornya ( blind biopsy ). Biopsi
melalui mulut dengan memakai bantuan kateter nelaton yang dimasukkan melalui
hidung.Kemudian dengan kaca laring di lihat daerah nasofaring. Biopsi dilakukan
dengan melihat tumor melalui kaca tersebut atau memakai nasofaringoskop yang
dimasukkan melalui mulut, masa tumor akan terlihat lebih jelas.
7. Pemeriksaan darah tepi, fungsi hati, ginjal untuk mendeteksi adanya metatasis.

I. Penatalaksanaan Medis
1. Radioterapi
Sampai saat ini radioterapi masih memegang peranan penting dalam
penatalaksanaan karsinoma nasofaring.Penatalaksanaan pertama untuk karsinoma
nasofaring adalah radioterapi dengan atau tanpa kemoterapi.
Syarat-sarat bagi penderita yang akan di radioterapi:
Keadaan umum baik
Hb> 10 g%
Leukosit> 3000/mm3
Trombosit> 90.000 mm3
Tujuan pre operatif terapi:
1. Mencegah metastasis ke perifer
2. Mengecilkan volume tumor sehingga menjadi operable
3. Perdarahan berkurang karena vaskularisasi tumor berkurang
Tujuan post operasi: Mengatasi sisa sel Ca

Efek radiasi terhadap beberapa jaringan:

Kulit

1. Dermatitis akut : Terkelupasnya selaput lendir fibrinous,

kulit hitam merah dan edema. Epilasi

permanen dengan dekstruksi


epidermis,

ulserasi, nyeri.

2. Dermatitis Kronis : Kulit kering, hipertrofi/keratosis,

veruka vulgaris. Ca

3. Late Dermatitis Accute effect : Pigmintasi, atrofi, talengiektasi,


ulserasi dan epitelioma.

Sistem hemopoetik dan darah


Efek langsung pada sel darah / pada jaringan hemopoitik
Sistem Pencernaan
1. Reaksi eritematus pada selaput lendir yang nyeri
2. Disfagia
3. Reaksi fibrinous pada selaput lendir dengan nyeri yang lebih hebat
4. Nausea, muntah, diare, ulserasi dan perforasi (Dosis di tingkatkan)
Alat Kelamin
1. Sterilitas
2. Kelainan kelamin
3. Mutasi gen
Mata
1. Konjungtivitis dan keratitis
2. Katarak
Paru-paru
1. Batuk dan nyeri dada
2. Sesak nafas, fibrosis paru
Tulang
1. Gangguan pembentukan tulang
2. Osteoporosis
3. Patah Tulang (dosis ditambah)
Syaraf
1. Urat saraf menjadi kurang sensitive terhadap stimulus
2. Mielitis
3. Degenerasi jaringan otak

2. Kemoterapi
Kemoterapi sebagai terapi tambahan pada karsinoma nasofaring ternyata dapat
meningkatkan hasil terapi.Terutama diberikan pada stadium lanjut atau pada
keadaan kambuh.

3. Operasi
Tindakan operasi pada penderita karsinoma nasofaring berupa diseksi leher radikal
dan nasofaringektomi.Diseksi leher dilakukan jika masih ada sisa kelenjar pasca
radiasi atau adanya kekambuhan kelenjar dengan syarat bahwa tumor primer sudah
dinyatakan bersih yang dibuktikan dengan pemeriksaan radiologik dan serologi.
Nasofaringektomi merupakan suatu operasi paliatif yang dilakukan pada kasus-
kasus yang kambuh atau adanya residu pada nasofaring yang tidak berhasil diterapi
dengan cara lain.

4. Imunoterapi
Dengan diketahuinya kemungkinan penyebab dari karsinoma nasofaring adalah virus
Epstein-Barr, maka pada penderita karsinoma nasofaring dapat diberikan
imunoterapi.

J. Pencegahan
1. Ciptakan lingkungan hidup dan lingkungan kerja yang sehat, serta usahakan agar
pergantian udara (sirkulasi udara) lancar.
2. Hindari polusi udara, seperti kontak dengan gas hasil zat-zat kimia, asap industry,
asap kayu, asap rokok, asap minyak tanah dan polusi lain yang dapat
mengaktifkan virus Epstein bar.
3. Hindari mengonsumsi makanan yang diawetkan, makanan yang panas, atau
makanan yang merangsang selaput lender.
Pemberian vaksinasi pada penduduk yang bertempat tinggal di daerah dengan risiko tinggi.
Penerangan akan kebiasaan hidup yang salah serta mengubah cara memasak makanan
untuk mencegah kesan buruk yang timbul dari bahan-bahan yang berbahaya. Akhir sekali,
melakukan tes serologik IgA-anti VCA dan IgA anti EA bermanfaat dalam menemukan
karsinoma nasofaring lebih dini.

ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN

1. Pola Persepsi Kesehatan Manajemen Kesehatan


Tanyakan pada klien bagaimana pandangannya tentang penyakit yang dideritanya
dan pentingnya kesehatan bagi klien? Biasanya klien yang datang ke rumah sakit sudah
mengalami gejala pada stadium lanjut, klien biasanya kurang mengetahui penyebab
terjadinya serta penanganannya dengan cepat. Kebiasaan makan makanan yang terpapar
ebstein barr virus, makanan yang mengandung pengawet (karsinogenik), terpapar bahan-
bahan kimia seperti tinggal di area dekat pabrik, pengolahan limbah, asap kayu bakar.
2. Pola Nutrisi Metabolic
Kaji kebiasaan diit buruk (rendah serat, aditif, bahan pengawet), anoreksia,
mual/muntah, mulut rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat badan, perubahan
kelembaban/turgor kulit. Biasanya klien akan mengalami penurunan berat badan akibat
inflamasi penyakit dan proses pengobatan kanker.
3. Pola Eliminasi
Kaji bagaimana pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin,
perubahan bising usus, distensi abdomen. Biasanya klien tidak mengalami gangguan
eliminasi.
4. Pola aktivas latihan
Kaji bagaimana klien menjalani aktivitas sehari-hari. Biasanya klien mengalami
kelemahan atau keletihan akibat progresivitas tumor.
Stadium pertama dan dua : Sesak nafas,
Stadium tiga : Tidak bisa menggerakan kepala.
Stadium empat : Sakit kepala, hambatan mobilisasi.
5. Pola istirahat tidur
Kaji perubahan pola tidur klien selama sehat dan sakit, berapa lama klien tidur dalam
sehari? Biasanya klien mengalami perubahan pada pola istirahat. Adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.
6. Pola kognitif persepsi
Kaji tingkat kesadaran klien, apakah klien mengalami gangguan
penglihatan,pendengaran, perabaan, penciuman,perabaan dan kaji bagaimana klien dalam
berkomunikasi? Biasanya klien mengalami gangguan pada indra penciuman.
7. Pola persepsi diri dan konsep diri
Kaji bagaimana klien memandang dirinya dengan penyakit yang dideritanya? Konsep
diri pasien terutama gambaran diri terhadap perubahan tubuh misalnya adanya massa yang
nampak pada hidung, massa yang mengalami penyebaran ke depan sehingga
bermanifestasi gejala leher gondok, polip pada hidung, tuba eustachius pada telinga.
Apakah klien merasa rendah diri terhadap penyakit yang dideritanya ? Biasanya klien akan
merasa sedih dan rendah diri karena penyakit yang dideritanya. Ideal diri terhadap
kesembuhan pasien. Harga diri mengenai penyakitnya yang mempengaruhi aktivitas
sehingga tidak bias berkerja. Identitas diri mengkaji pekerjaan pasien, peran diri pasien
sebagai kepala rumah tangga.
8. Pola peran hubungan
Kaji bagaimana peran fungsi klien dalam keluarga sebelum dan selama dirawat di
Rumah Sakit? Dan bagaimana hubungan sosial klien dengan masyarakat sekitarnya?
Biasanya klien lebih sering tidak mau berinteraksi dengan orang lain. Malu berinteraksi,
takut merepotkan orang lain, dan keluarga sangat berperan dalam proses penyembuhan
pasien.
9. Pola reproduksi dan seksualitas
Kaji apakah ada masalah hubungan dengan pasangan? Apakah ada perubahan
kepuasan pada klien? Biasanya klien akan mengalami gangguan pada hubungan dengan
pasangan karena sakit yang diderita oleh klien.
10. Pola koping dan toleransi stress
Kaji apa yang biasa dilakukan klien saat ada masalah? Apakah klien menggunakan
obat-obatan untuk menghilangkan stres? Biasanya klien akan sering bertanya tentang
pengobatan, proses pengobatan yang membutuhkan waktu yang lama, kualitas hidup
bagaimana?
11. Pola nilai dan kepercayaan
Kaji bagaimana pengaruh agama terhadap klien menghadapi penyakitnya? Apakah
ada pantangan agama dalam proses penyembuhan klien? Biasanya klien lebih
mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d terdapat benda asing di jalan nafas.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d nyeri menelan
3. Nyeri akut b/d agen-agen penyebab cidera
4. Ansietas b/d ancaman kematian.
5. Defisiensi pengetahuan b/d keterbatasan kognitif.
6. Gangguan pertukan gas b/d perubahan membrane kapiler-alveolar
7. Ketidakefektifan pola nafas b/d hiperventilasi
8. Gangguan presepsi sensori pendengaran b/d perubahan resepsi, transmisi, dan/
integrasi sensori
9. Resiko infeksi b/d imunitas tubuh menurun
10. Hambatan mobilitas fisik b/d gangguan neuromuskular.
11. Resiko kerusakan integritas kulit b/d factor mekanik (mis: terpotong, terkena tekanan
dan akibat restrain)
12. Resiko cedera b/d disfungsi sensori.
13. Hambatan komunikasi verbal b/d defek anatomis pita suara.

INTERVENSI
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d terdapat benda asing di jalan nafas.
Data subyektif:
- Menyatakan kesulitan untuk bernafas.
Data obyektif:
- Sesak nafas
- Frekwensi nafas > 20 x/menit
- Nampak kebiruan
- Suara serak
NOC: kepatenan jalan napas.
Intervensi Rasional
1. Kaji frekuensi, kedalamaan, dan upaya 1. Takipneu biasanya ada pada beberapa derajat
pernapasan. dan dapat ditemukan pada penerimaan/selama
2. Instruksikan kepada pasien tentang stress/adanya proses infeksi akut.
batuk dan teknik napas dalam. 2. memudahkan pengeluaran sekret.
3. Atur posisi pasien dengan bagian kepala 3. Memungkinkan untuk pengembangan maksimal
tempat tidur dtitinggikan 450. rongga dada.
4. Penghisapan nasofaring untuk 4. Mempermudah pengeluaran sekret.
mengeluarkan sekret. 5. Kelembaban menurunkan kekentalan sekret
5. Berikan udara/oksigen yang telah mempermudah pengeluaran dan dapat
dihumidifikasi sesuai dengan kebijakan membantu menuerunkan/mencegah
institusi. pembentukan mukosa tebal pada nasofaring.

2. Nutrisi, ketidakseimbangan: kurang dari kebutuhan tubuh b/d nyeri menelan.


Data subyektif:
- Mengemukakan tidak nafsu makan, sakit saat mengunyah.
- Kadang-kadang mual
Data obyektif:
- BB menurun
- Kulit kering
- Turgor kurang baik
- Tampak lemas.
NOC: asupan makanan dan cairan adekuat

Intervensi Rasional
1. Pantau kandungan nutrisi dan kalori 1. Untuk mengetahui tentang keadaan dan
pada catatan asupan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat
2. Anjurkan pasien untuk mematuhi diet diberikan tindakan dan pengaturan diet
yang telah diprogramkan. yang adekuat.
3. Berikan pasien minuman dan kudapan 2. Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah
bergizi, tinggi protein, tinggi kalori yang komplikasi terjadinya
siap dikonsumsi hipoglikemia/hiperglikemia.
4. Timbang pasien pada interval yang 3. Untuk memenuhi kebutuhan asupan kalori
tepat. yang adekuat.
5. Ubah posisi pasien semi Fowler atau 4. Mengetahui perkembangan berat badan
Fowler tinggi. pasien (berat badan merupakan salah
6. Identifikasi perubahan pola makan. satu indikasi untuk menentukan diet).
7. Konsultasikan pada ahli gizi untuk 5. Untuk memudahkan menelan dan untuk
memeberikan makanan yang mudah mencegah aspirasi.
dicerna, secara nutrisi seimbang. 6. Mengetahui apakah pasien telah
melaksanakan program diet yang
ditetapkan.
7. Metode makan dan kebutuhan kalori
didasarkan pada situasi/kebutuhan
individu unutk memberikan nutrisi
maksimal dnegan upaya minimal
pasien/penggunaan energi.

3. Nyeri akut b/d agen-agen penyebab cidera


Data subyektif:
- Menyatakan nyeri kepala
Data obyektif:
- Raut muka menyeringai
- Perilaku berhati-hati
- Perilaku mengalihkan: menangis, merintih
NOC: pengendalian nyeri

Intervensi Rasional
1. Minta pasien untuk menilai nyeri atau 1. Informasi memberikan data dasar untuk
ketidaknyamanan pada skala 0 sampai mengevaluasi kebutuhan/keefektifan
10. intervensi
2. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi. 2. dapat mengurangi rasa ketidaknyamanan
3. Bantu pasien untuk lebih berfokus pada karena nyeri
aktivitas, bukan pada nyeri dan rasa 3. meningkatkan relaksasi dan pengaliha
tidak nyaman dengan melakukan perhatian. Menghilangkan
pengalihan melalui televisi, radio, tape, ketiadaknyamanan dan meningkatkan efek
dan interaksi dengan pengunjung. terapi nonfarmakologis.
4. Jadwalkan periode istirahat, berikan 4. Penurunan kelemahan dan menghemat
lingkungan yang tenang. energi, meningkatkan kemampuan koping.
5. Gunakan pendekatan yang positif Untuk 5. Membantu memurunkan ambang persepsi
mengoptimalkan respons pasien nyeri dan mengoptimalkan respon
terhadap analgesik. terhadap analgesik.
6. Kelola nyeri pascabedah awal dengan 6. Mempertahankan kadar obat lebih konstan
pemberian opiat yang terjadwal. menghindari puncak periode nyeri.

4. Ansietas b/d perubahan status kesehatan.


DS: Pasien mengeluh ketakutan.
DO:
- Gelisah
- Wajah tegang
NOC: menunjukkan pengendalian diri terhadap ansietas.
Intervensi Rasional

1. Kaji dan dokumentasikan tingkat 1. Memberikan informasi yang perlu untuk


kecemasan pasien. memilih intervensi yang tepat.
2. Beri dorongan kepada pasien untuk 2. Membuat kepercayaan dan menurunkan
mengungkapkan secara verbal pikiran kesalahan persepsi/salah interpretasi
dan perasaan untuk terhadap informasi.
mengeksternalisasikan ansietas. 3. Dapat membantu menurunkan ansietas
3. Pada saat ansietas berat, dampingi dan membantu memampukan pasien
pasien, bicara dengan tenang, dan mulai membuka/menerima kenyataan
berikan ketenangan serta rasa kanker dan pengobatannya.
nyaman. 4. Menurunkan ansietas dan memperluas
4. Sediakan pengalihan melalui televisi, fokus.
radio, permainan, serta okupasi. 5. Mengurangi ansietas karena tindakan
5. Dampingi pasien (misalnya, selama prosedur.
prosedur) untuk meningkatkan 6. Membantu menurunkan ansietas melalui
keamanan dan mengurangi rasa takut. terapi farmakologis.
6. Berikan obat untuk menurunkan
ansietas.
5. Defisiensi pengetahuan b/d keterbatasan kognitif.
DS: Pasien mengungkapkan masalah secara verbal
DO:
- Tidak mengikuti instruksi yang diberikan secara akurat
- Pasien tampak histeris
NOC: memperlihatkan pengetahuan proses penyakit.
Intervensi Rasional

1. Lakukan penilaian terhadap 1. Memberikan informasi yang perlu untuk memilih


tingkat pengetahuan pasien saat intervensi yang tepat.
ini dan pemahaman terhadap 2. Mempermudah proses pembelajaran/penyuluhan
materi. prosedur terapi yang diberikan.
2. Bina hubungan saling percaya. 3. Terdapat stresor yang berlebihan dan mungkin
3. Beri penyuluhan sesuai dengan disertai dengan pengetahuan yang terebatas.
tingkat pemahaman pasien, Salah konsep kadang tak dapat dihindari, namun
ulangi informasi bila diperlukan. ketidakberhasilan untuk menggali dan
4. Ikutsertakan keluarga atau orang memperbaikinya dapat mengakibatkan
terdekat. kegagalan pasien mencapai kemajuan
5. Ciptakan lingkungan yang kesehatan.
kondusif untuk belajar. 4. Membantu pasien untuk lebih mudah
6. Rencanakan penyesuaian dalam memperoleh informasi dan memahami mengenai
terapi bersama pasien dan masalah kesehatannya.
dokter. 5. Meningkatkan kenyamanan dan mengurangi
stresor sehingga pemahaman informasi lebih
akurat.
6. Memfasilitasi kemampuan pasien mengikuti
program terapi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Panduan Nasional


Penanggulangan Kanker Nasofaring. Jakarta: Komite Penanggulangan Kanker
Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia.
2. Lee KJ. 2008.Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 9th ed USA: The
McGraw-HillCompanies, Inc.
3. Anil KL. 2008. Current Diagnosis & Treatment in Otolaryngology Head & Neck
Surgery. 2nd ed. USA: The McGraw-Hill Companies, Inc.
4. Hsien YC, Abdullah MS, Telesinghe PU, Ramasamy R. 2009.Nasopharyngeal
carcinoma in Brunei Darussalam: low incidence among the Chinese and an
evaluation of antibodies to Epstein-Barr virus antigens as biomarkers.Singapore
Medical Journal.50(4): 371 377.
5. Clifton PTJr. 2001.High Incidence of Nasopharyngeal Carcinoma in Asia.Journal of
Insurance Medicine. 33: 235 238.
6. David M, James Kand Holger S, 2008.Recent Advances in Otolaryngology 8. United
Kingdom: The Royal Society of Medicine Press Limited. 116 119.
7. Dhingra PL, Dhingra S, Dhingra D. 2010. Diseases of Ear, Nose & Throat.5 th ed.
India: Elsevier.
8. Brennan B. 2006. Nasopharyngeal carcinoma, Orphanet Journal of Rare Diseases.
1(23): 1 5.
9. Ellen TC dan Hans-OA. 2006.The Enigmatic Epidemiology of Nasopharyngeal
Carcinoma.Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention. 15: 1765 1777.
10. Mark HB. 2003. The Merck Manual of Medical Information Home Edition. 2 nd ed.
New York: Merck & Co, Inc.
11. Randall L. Plant, M. (2009). Neoplasm of the Nasopharynx. Philladelpia. pp.1081-
1089
12. Wei, W.I.(2006) Nasopharyngeal Cancer In : Bailey, B.J., Johnson, J.T., Newlands,
S.D. (eds) Head & Neck Surgery Otolaryngology. 4th ed. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins. pp. 1657-1671.