Pengertian
Dalam pengelolaannya, Satpam (Satuan Pengamanan/Security Guard) dikoordinir secara
profesional oleh Badan Usaha Jasa Pengamanan (BUJP) yang merupakan perusahaan yang
berbentuk Perseroan Terbatas (PT) dan telah mendapatkan izin operasional dari Kapolri.
Pengelolaannya tidak saja dilakukan oleh pekerja Satpam / Satuan Pengamanan / Security Guard
yang memiliki kompetensi dibidang keamanan, tetapi juga dikelola oleh para Purnawirawan
POLRI, TNI, dan para pensiunan pada lembaga/instansi yang melanjutkan pengabdiannya
dibidang keamanan.
Klasifikasi
Jasa Konsultasi Keamanan (Security Consultant)
Jasa Penerapan peralatan Keamanan (Security Devices)
Jasa Diklat Keamanan (Security Training and Educations)
Jasa Kawal Angkutan Uang dan Barang berharga (Valuable Security Transport
Jasa Penyediaan Tenaga kerja Pengamanan (Guard Service)
Jasa Penyediaan Satwa (K9 Service)
Syarat Administrasi
Surat Permohonan Kepada KAPOLDA METRO JAYA up KARO BINAMITRA POLDA
METRO JAYA
AkTA Pendirian Badan Usaha dalam bentuk PT yang mencantumkan JASA PENGAMANAN
sebagai bidang usahanya.
Struktur Organisasi
Daftar Personil dan daftar Riwayat Hidup (Pimpinan, staf dan Tenaga Ahli)
Domisli Usaha
NPWP Perusahaan
SIUP/ Surat ijin Usaha Tetap dari BKPM untuk PMA
TDP
Surat Pernyataan di atas materai tidak menggunakan Tenaga Kerja Asing
Surat Pernyatan diatas materai akan menggunakan seragam satpam sesuai ketentuan POLRI.
Foto Copy KTP Pimpinan Badan Usaha
Surat Izin Kerja sebagai Tenaga Ahli Asing dari Depnakertrans, Dephukum dan Ham,
Baintelkam Polri apabila menggunakan tenaga kerja Asing.
Surat Keterangan Sebagai anggota AMSI/ABUJAPI.
SOP (Standart Operational Prosedure)
Badan Usaha Jasa Pengamanan (BUJP)
Badan Usaha Jasa Pengamanan (BUPJ)
Persyaratan BUPJ :
1. Surat Permohonan kepada KAPOLDA METRO JAYA U.p.KARO BINAMITRA POLDA
METRO JAYA.
2. Akte Pendirian Badan Usaha dalam bentuk PT yang mencatumkan JASA PENGAMANAN
Sebagai Bidang Usaha.
3. Struktur Organisasi Badan Usaha
4. Daftar Personil + Riwayat Hidup ( Pimpinan, Staf + Tenaga Ahli )
5. Surat Keterangan Domisili Badan Usaha dari Pemerintah Daerah Setempat.
6. NOMOR POKOK WAJIB PAJAK ( NPWP )
7. TANDA DAFTAR PERUSAHAAN ( TDP ) dari Dinas Perindustrian dan perdagangan
setempat.
8. SIUP, Surat Ijin Usaha Tetap dari BKPM untuk Menanam Modal Asing ( PMA )
9. Surat peryataan di atas MATERAI tidak menggunakan Tenaga kerja Asing.
10. Surat Pernyataan di atas Materai akan menggunakan Seragam Satpam sesuai ketentuan
Kapolri.
11. Foto copy KTP Pimpinan Badan Usaha.
12. Surat ijin kerja sebagai Tenaga Ahli Asing dari Depnakertrans,Dephukum dan Ham, Ba
Intelkam Polri apabila Menggunakan Tenaga Kerja Asing.
13. Surat keterangan sebagai Anggota AMSI ( Asosiasi Manajer Security Indonesia )
PENGGOLONGAN BUPJ:
1. Jasa Konsultasi Keamanan ( Security Consultant )
2. Jasa Penerapan Peralatan Keamanan ( Security Devices )
3. Jasa Diklat Keamanan ( Security Training And Educations )
4. Jasa Kawal Angkut Uang dan Barang Berharga ( Valuable Security Transport )
5. Jasa Penyediaan Tenaga Pengamanan ( Guard Services )
6. Jasa Penyediaan Satwa ( K9 Services )
PERSYARATAN UNTUK MENJADI ANGGOTA BPD ABUJAPI JAYA
DOKUMEN DOKUMEN YANG HARUS DIPERSIAPAKAN UNTUK PEMBUATAN
KTA ABUJAPI
PERMOHONAN MENJADI ANGGOTA ABUJAPI
1. Mengisi Formulir Pendaftaran
2. Mengisi dan menandatangani Pakta Integritas
3. Surat Permohonan Menjadi Anggota ABUJAPI (ditujukan kepada Ketua Umum BPP
ABUJAPI)
4. Akte Pendirian Perusahaan
5. Struktur Organisasi Perusahaan
6. Daftar Personel (Pimpinan, Staff dan Tenaga Ahli) / CV
7. Keterangan Domisili Perusahaan
8. NPWP (Pajak)
9. TDP (Dispendag)
10. SIUP (Dispendag)
11. Menggunakan Tenaga Kerja Asing (Naker, Kumham, Polri)
12. Tidak Menggunakan Tenaga Kerja Asing (Surat Pernyataan Bermaterai)
13. Pernyataan Menggunakan GAM SATPAM (Bermaterai)
14. Fotocopy KTP Pimpinan
15. Surat Pernyataan Bersedia Screening Dokumen
16. Pas Foto Direktur ukuran 34 berwarna (2 lembar)
17. Di jilid (rapih)
RINCIAN BIAYA :
PERMOHONAN MENJADI ANGGOTA ABUJAPI
Uang Pangkal Rp. 1.000.000,-
Membayar biaya administrasi pendaftaran untuk anggota baru Rp. 200.000,-
Uang iuran / 1 bulan Rp. 100.000,-/SIUP Kecil (dibayarkan 12 bulan kedepan
Rp.1.200.000,-)
Uang iuran / 1 bulan Rp. 200.000,-/SIUP Menengah (dibayarkan 12 bulan kedepan
Rp.2.400.000,-)
Uang iuran / 1 bulan Rp. 300.000,-/SIUP Besar (dibayarkan 12 bulan kedepan
Rp.3.600.000,-)
PEMBAYARAN MOHON DI TRANSFER KE REKENING ABUJAPI BANK MANDIRI
CAB. WISMA TUGU
A/C. 124-000-562-7055
A/N ABUJAPI
BUKTI PEMBAYARAN DI FAX KE ABUJAPI: 021 723 3967
u.p Bpk. Fany/Ibu. Mega
(CANTUMKAN: NAMA BUJP DAN JENIS PEMABAYARAN MASING MASING)
Badan Usaha di bidang Jasa
Pengamanan
Pengaturan Pemberian Izin
Terhadap Badan Usaha di bidang Jasa PengamananOleh : Prof. DR. Awaloedin Djamin
I. Pendahuluan
Bulan November 2005 merupakan bulan yang patut dibanggakan oleh jajaran Polri, karena
merupakan bulan keberhasilan dengan nilai yang tinggi menurut standard kepolisian dunia, yaitu :
Pertama, terbunuhnya tokoh terorisme Dr. Azahari di Batu, Jawa Timur.
Kedua, terbongkarnya pabrik extasi dan sabu sabu nomor tiga terbesar di dunia, setelah Chili
dan China.
Namun dibelakang keberhasilan yang kedua ini, masih banyak pertanyaan yang harus dijawab,
antara lain :
a. Apa nama perusahaan yang menggantikan bekas pabrik kabel milik PT. Sumaco di Serang itu ?
b. Apa izin usahanya ? Apa celup textil ?
c. Instansi mana dan siapa pejabat yang memberi izin pabrik itu ?
d. Kenapa mesin dan bahan baku yang dipakai berbeda dengan kebutuhan celup textil ? Apa ada
spesifikasi yang disyaratkan dalam pemberian izin ?
e. Siapa (pejabat/instansi) yang mengawasi? Apa ada pengawasan ?
f. Izin kerja asing, China, Belanda dan Perancis dari Depnaker, apa kualifikasinya ?
Jawaban atas pertanyaan tersebut diatas, tentu mencakup beberapa instansi, seperti izin usaha
oleh Departemen Perdagangan, Pengesahan Akta Notaris oleh Departemen Hukum dan HAM,
izin pabrik oleh Departemen Perindustrian, izin kerja tenaga asing oleh Departemen Tenaga Kerja
dan Transmigrasi, pemeriksaan impor mesin dan bahan baku (ketami) oleh DitJen Bea dan Cukai.
Apa ada koordinasinya ? Siapa yang bertanggung jawab.
II. Pengaturan Perizinan
1. Pemberian izin bagi badan usaha di bidang jasa pengamanan, bila disalahgunakan mungkin
tidak akan berdampak seperti pabrik extasi dan sabu sabu tersebut diatas, namun bila tidak
diatur secara tepat, juga dapat menimbulkan masalah masalah yang memusingkan kepala.
2. Undang undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI Pasal 15 (1) e menyatakan :
Kepolisian Negara RI berwenang mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup wewenang
administratif kepolisian
Penjelasannya menyatakan : Cukup Jelas.
Penulis, waktu menjabat Menteri Tenaga Kerja yang juga menjabat Ketua Tim Pembantu
Presiden untuk Penyempurnaan Administrasi dan Aparatur Pemerintahan (hampir 40 tahun yang
lalu) telah merumuskan, khususnya bagi Departemen departemen Pemerintahan, bahwa
diantara fungsi fungsi pemerintahan yang penting adalah fungsi pengaturan regulerende
functie atau policy making function yang mengikat masyarakat atau sebagian masyarakat
tertentu. Pada umumnya pengaturan atau policy tersebut dirumuskan secara tertulis dalam
bentuk peraturan perundang undangan.
Kepolisian Negara RI menurut pasal 15 (1) e tersebut diatas diberi wewenang mengeluarkan
peraturan kepolisian (yang ditanda tangani KAPOLRI) yang bersifat teknis (dalam lingkup
administratif kepolisian).
Seperti dinyatakan diatas, peraturan kepolisian, bukan yang berlaku untuk intern POLRI, tapi
yang mengikat sebagian anggota masyarakat tertentu. Dalam pasal 15 (2) f adalah badan usaha di
bidang jasa pengamanan. Peraturan Kepolisian tentu tidak hanya mengenai badan usaha di bidang
jasa pengamanan, tapi yang lain-lain sepanjang dalam lingkup wewenang administratif
Kepolisian.
3. Banyak pula fungsi pengaturan yang terkait dengan fungsi pemberian izin, agar terdapat
kepastian hukum, keadilan dan keteraturan.
Wewenang pemberian izin, bila tidak diatur secara jelas dan transparan, dapat merupakan
kerawanan untuk disalahgunakan, sehingga tujuan pemberian izin tidak mencapai sasaran.
Contoh pabrik extasi dan sabu sabu di Serang itu.
4. Salah satu wewenang perizinan, yang diberikan UU No. 22 Tahun 2002 kepada POLRI adalah
Pasal 15 (2) f, yaitu : memberi Izin operasional dan melakukan pengawasan terhadap badan
usaha di bidang jasa pengamanan.
Walaupun demikian istilah izin operasional harus dijelaskan, Penjelasan UU No. 2 Tahun 2002
juga menyatakan Cukup Jelas.
Izin operasional bukanlah wewenang memberi izin usaha. Wewenang pemberian izin usaha
adalah wewenang Departemen Perdagangan. Pengesahan Akta Notaris perusahaan, merupakan
wewenang Departemen Hukum dan HAM dan izin kerja tenaga asing adalah Departemen Tenaga
Kerja dan Transmigrasi.
Karena itu, penulis sejak lama telah menyarankan agar ada kerja sama antara POLRI dengan
Departemen departemen tersebut, apakah dalam bentuk SKB atau lainnya.
5. Karena itu pertama yang harus diteliti oleh POLRI dan dijabarkan adalah apa saja bidang usaha
jasa pengaman itu. Lihat SK KAPOLRI terdahulu, yang terakhir adalah SK KAPOLRI
Rusmanhadi.
Bidang Usaha pengamanan antara lain adalah :
a. Konsultasi (teknis pengamanan dan manajemen pengamanan atau security manajemen).
b. Perdagangan alat-alat pengamanan (security equipment atau security devices) yang cukup luas
dan canggih dewasa ini.
c. Angkutan uang dan surat berharga (cash in transit).
d. Pelatihan SATPAM (security guards).
e. Menyewakan tenaga SATPAM (contract security service).
Kapolri Rusmanhadi dalam SK nya, memasukkan search and rescue. Kiranya yang akhir ini
(search and rescue , SAR) perlu diteliti, apa ada perusahaaan yang bergerak di bidang ini. Bila
dimaksud evakuasi ini memang merupakan bagian dari security MANAGEMENT.
6. Setelah Polri merumuskan secara jelas bidang usaha pengamanan tersebut, maka dalam rangka
pemberian izin operasional, Polri kiranya merumuskan secara tertulis dan selengkap mungkin
semua persyaratan untuk mendapat izin masing masing bidang usaha tersebut.
Misalnya, bila pemohon izin untuk cash in transit, apa ia memiliki mobil lapis baja yang
memadai, bukan bajaj atau mobil kijang biasa. Demikian bila pemohon izin usaha pelatihan
SATPAM, bagaimana fasilitas pelatihan, tenaga pelatihan, kurikulum dan sebagainya. Juga usaha
penyewaan tenaga SATPAM, berupa jumlah tenaga SATPAM nya, apa sudah lulus pelatihan dan
sebagainya.
Sepanjang mengenai SATPAM yang jumlahnya sudah ratusan ribu, kebanyakan telah
menyimpang dari SK KAPOLRI tahun 1980, khususnya mengenai pakaian seragam, tanda
pengenal sebagainya (Skep KAPOLRI itu sekarang telah diperkuat dengan UU No. 2 Tahun
2002).
Perumusan dan perincian persyaratan untuk mendapat izin ini perlu bagi semua bidang usaha
pengamanan. Usaha konsultan pengamanan, bila memerlukan tenaga kerja asing (agar jangan
seperti tenaga asing pabrik extasi dan sabu-sabu di Serang yang merupakan mafia narkoba dari
China dan pakar pembuat extasi dari Belanda). Polri harus mengecek kualifikasinya.
Persyaratan untuk mendapatkan izin masing-masing bidang usaha jasa pengamanan tersebut
diatas yang perlu dirumuskan dalam peraturan KAPOLRI. Disamping itu, bagaimana prosedur
untuk mendapat izin operasional harus pula jelas perumusannya. Siapa pejabat yang ditugaskan
KAPOLRI untuk menandatangani izin operasional ? Berapa biayanya ?
Seperti dimaklumi, biaya untuk mendapatkan izin termasuk penerimaan negara bukan pajak yang
harus dikelola dengan baik.
Apakah semua perizinan juga bagi badan usaha yang beroperasi hanya di satu Polda dan izin
untuk seluruh Indonesia, semua dikeluarkan oleh MABES POLRI ?. Sebaiknya memang
dipusatkan di MABES POLRI dengan melibatkan POLDA yang bersangkutan, sebab ini terkait
dengan kewajiban pengawasan.
Semua ini seharusnya dituangkan dalam Peraturan KAPOLRI tentang : Pemberian Izin
Operasional bagi Badan Usaha di bidang Jasa Pengamanan.
Bila sudah ada koordinasi dengan Departemen Perdagangan dan Departemen Tenaga Kerja dan
Transmigrasi, maka izin usaha dan Departemen Perdagangan dalam konsideransnya seyogianya
mencantumkan : Sesuai rekomendasi KAPOLRI ... Juga izin tenaga asing,
Departemen Tenaga Kerja mencantumkan : Sesuai rekomendasi
KAPOLRI.
Pencantuman sesuai rekomendasi KAPOLRI dalam izin usaha Departemen Perdagangan dan izin
tenaga kerja asing oleh Departemen Tenaga Kerja, karena yang harus melakukan pengawasan
adalah Polri, sesuai pasal 15 (2) f tersebut diatas.
III. Keadaan Perizinan Badan Usaha bidang Jasa Pengamanan Dewasa Ini.
1. Menurut informasi, jumlah perusahaan yang telah mendapat izin dari Polri berjumlah 294
perusahaan, 237 berdomisili di Jakarta. Yang sedang mengajukan permohonan izin ada sekitar
200.
Menurut Toto Trihamtoro, Presdir PT Putratama Bhakti Satria yang juga Presiden Indonesian
Chapter dari Regional Asian Professional Security ASSOCIATION dari hampir 300 perusahaan
jasa pengamanan hanya 20 yang dapat dikatakan profesional (Jakarta Posy 28 November 2005,
hal 2).
2. Bidang-bidang usaha jasa pengamanan berdasarkan SK KAPOLRI Rusmanhadi ada 6, yaitu :
a. Konsultasi.
b. Cash in Transit (angkutan uang).
c. Perdagangan alat security.
d. Pelatihan SATPAM.
e. Penyewaan Tenaga SATPAM.
f. Search and Rescue.
3. Biaya untuk mendapatkan satu izin usaha Rp. 2 juta @ Rp.2,5 juta. Pada umumnya pemohon
mengajukan izin untuk semua bidang usaha tersebut diatas dengan total biaya Rp. 15, juta.
4. Yang mengeluarkan izin adalah Karo BIMMAS, Deops KAPOLRI.
5. Pertanyaan :
a. Apa sudah ada persyaratan untuk masing-masing bidang usaha jasa pengamanan? Bila ada
persyaratan seperti yang dimaksud ad II diatas, maka kiranya akan sukar bagi pemohon untuk
memenuhi persyaratan 6 bidang usaha sekaligus.
b. Polri hanya berwenang untuk pemberian izin operasional. Bagaimana izin usaha yang
merupakan wewenang Departemen Perdagangan ? Bagaimana izin tenaga kerja asing yang jadi
wewenang Departemen Tenaga Kerja ?
c. Siapa yang menetapkan biaya setiap perizinan Rp. 2 @ Rp. 2,5 juta ? Karena ini penerimaan
negara non pajak, bagaimana pengelolaannya dan pertanggung jawabannya ?
d. Dari mana wewenang Karo Bimmas, Deops KAPOLRI untuk menandatangani izin ? Ini bukan
penandatangan surat biasa yang dapat di atas nama kan. Perlu ada SK dari Kapolri.
e. Siapa dan bagaimana pengawasan terhadap badan usaha di bidang jasa pengamanan ?
Mengingat jumlahnya sudah 294 (237 berdomisili di Jakarta). Apa langsung oleh Karo Bimmas ?
Apa sudah pernah dilakukan pengawasan ? Apa hasilnya ?
f. Bagaimana keterlibatan Polda dalam prosedur pemberian izin dan pengawasan? Khusus bagi
usaha yang tidak berdomisili di Jakarta ?
g. Berkenaan dengan pertanyaan pertanyaan tersebut diatas, apa perlu penelitian ulang bagi 294
perusahaan yang telah mendapat izin ? Bagaimana penanganan 200 permohonan baru ?
IV. Saran dan Penutup
1. Melihat perkembangan di banyak negara, khususnya negara maju, badan usaha di bidang jasa
pengamanan akan berkembang pesat di masa mendatang.
2. Badan usaha di bidang jasa pengamanan tidak sama dengan badan usaha lain yang tidak
memerlukan izin operasional dari Polri. Izin operasional perlu karena langsung terkait dengan
tugas pokok Polri.
3. Peran badan usaha di bidang jasa pengamanan adalah penting dalam membantu kepolisian di
bidang preventif (crime prevention dan loss prevention)
4. Bila badan usaha di bidang jasa pengamanan tidak diatur dan diawasi dengan baik, dapat
mengakibatkan hal yang negatif. Seperti perdagangan senjata api dan alat penyadap (bugging
devices) oleh perusahaan alat alat pengamanan. Pengamanan ala mafia dan yakuza bagi
perusahaan yang menyewakan tenaga SATPAM (antara lain menggunakan tenaga preman yang
tidak terlatih). Pelatihan yang asal-asalan oleh perusahaan pelatihan SATPAM. Memasukkan
tenaga kerja asing, yang sebenarnya anggota mafia, seperti pada pabrik extasi di Serang dan
sebagainya.
5. Karena itu, saran saran tersebut diatas hendaknya menjadikan perhatian Polri sedini
mungkin, seperti :
a. Kerja sama dengan Departemen Perdagangan dan Departemen Tenaga Kerja.
b. Rancangan Peraturan KAPOLRI yang berisikan :
Persyaratan izin bagi masing-masing bidang usaha jasa pengamanan.
Prosedur untuk mendapatkan izin.
Biaya yang ditetapkan serta pengelolaannya.
Pejabat yang diberi wewenang oleh KAPOLRI untuk menandatangani izin.
Pengawasan oleh MABES POLRI dan POLDA
6. UU No. 2 Tahun 2002 mencantumkan pemberian izin operasional badan usaha di bidang jasa
pengamanan, sebagai bagian dari bentuk-bentuk pengamanan swakarsa. Keberadaannya bila
berjalan dengan baik akan membantu Polri dalam meningkatkan kesadaran pengamanan (security
awareness) pimpinan perusahaan, instansi pemerintah dan lain lain serta berkembangnya
industrial security di Indonesia.
7. Keberadaan asosiasi badan usaha di bidang jasa pengamanan akan membantu Polri, baik dalam
pembinaan teknis, koordinasi maupun pengawasan atas semua badan usaha di bidang jasa
pengamanan.
8. Semoga tulisan ini dapat menjadi tambahan masukan dalam usaha reformasi Polri.