Anda di halaman 1dari 2

Ilustrasi.

Foto: Rik Thijssen

oleh: Budi Utami

H
utan di Perbukitan Menoreh (yang juga disebut Bernegosiasi
Tanah Simpen) mencakup wilayah di Kab.
Magelang dan Purworejo di Jawa Tengah, serta Melihat kondisi hutan di Perbukitan Menoreh
Kulonprogo di Yogyakarta. Perbukitan Menoreh memiliki tersebut, pada tahun 2004 YBL Masta kemudian mem-
karakter mudah longsor dan endemik malaria. Kenapa fasilitasi untuk negosiasi masyarakat di 4 desa sekitar
demikian? Hal ini dikarenakan oleh jenis batuan dan Perbukitan Menoreh ke Perhutani, agar masyarakat
tanahnya. Di samping itu, hutan di kawasan ini desa bisa terlibat dalam pengelolaan hutannya.
merupakan hutan pinus yang dikelola oleh Perhutani. Tahap negosiasi ini berusaha memanfaatkan
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Bina peluang adanya peraturan Pengelolaan Hutan Bersama
Lingkungan (YBL) Masta sejak tahun 2000 hingga 2003, Masyarakat (PHBM) yang ada dalam Perhutani, di mana
disimpulkan bahwa terjadinya endemik malaria di masyarakat bisa mengelola hutan dengan sistem bagi
kawasan ini dikarenakan oleh wadah tempat menadah hasil dengan Perhutani. Sebenarnya dalam PHBM
getah pinus yang seringkali ditinggalkan di pohon. tersebut, perencanaan pengelolaan hutan seharusnya
Karena medan di perbukitan ini cukup sulit, di musim dari bawah (partisipatif) bersama masyarakat.
hujan wadah penadah getah yang ditinggalkan tersebut Masyarakat sebenarnya bisa bernegosiasi dengan
SEPTEMBER 2005

menampung air sehingga menjadi sarang nyamuk Perhutani mengenai jenis tanaman yang ditanam di
penyebab malaria. hutan Perbukitan Menoreh, bukan hanya pinus.
Hasil Penelitian tersebut lalu disampaikan Menurut Noerjoso, koordinator program YBL
kepada masyarakat. Sayangnya, mereka tidak bisa Masta, dengan memanfaatkan PHBM saat ini YBL
berbuat apa-apa karena tidak bisa terlibat dalam Masta memfasilitasi masyarakat melakukan negosiasi
pengelolaan hutan yang dikuasai oleh Perhutani. Di kenapa kontrak kerja sama dengan masyarakat hanya
samping itu walaupun masyarakat bisa masuk hutan, 15 tahun. Padahal, selain untuk memperbaiki
SALAM #12

kawasan ini tidak bisa ditanami apa-apa karena sinar kesejahteraan rakyat kebutuhan untuk memperbaiki
matahari tidak bisa menembus hutan pinus. siklus air membutuhkan proses yang berkelanjutan,
18
tidak hanya 15 tahun. Bisa saja setelah 15 tahun adanya legal formal untuk ruang kelola masyarakat di
kontrak habis, Perhutani mengganti tanaman dengan hutan Perbukitan Menoreh.
pinus lagi dan masyarakat menghadapi persoalan yang
pelik lagi, tambahnya. Proses ini menghasilkan kesepakatan antara
Proses negosiasi dengan Perhutani ini bertujuan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Selatan
untuk membuka ruang kelola rakyat di hutan negara (Perhutani), Dinas Kehutanan Kab. Purworejo, Komisi B
sehingga kepentingan rakyat bisa diakomodir dan DPRD Kab. Purworejo, Ketua LKAD Kab. Purworejo,
memberi landasan hukum untuk ruang kelola rakyat di Kepala Bapedda Kab. Purworejo dan Direktur YBL
hutan negara, yang artinya ruang kelola ini disahkan Masta mengenai pengelolaan sumber daya hutan di
dalam kebijakan (perda). Untuk mendorong lahirnya Kab. Purworejo. Mereka bersepakat untuk mendorong
perda yang bisa mengakomodasi kepentingan apa yang menjadi keinginan masyarakat. Walaupun
masyarakat desa di sekitar hutan Perbukitan Menoreh legal formalnya sendiri belum ada, saat ini proses untuk
ini secara berkelanjutan. Sampai saat ini Masyarakat terwujudnya legal formal tersebut sedang dilakukan oleh
dengan difasilitasi oleh YBL Masta telah melakukan Pemda setempat dan pihak DPRD.
beberapa tahapan proses, yaitu: Noerjoso mengungkapkan bahwa saat ini mereka
sedang melakukan sosialisasi hasil-hasil kesepakatan
1. Perencanaan Desa tersebut ke masyarakat di 8 desa dampingan mereka,
sekaligus melakukan pendekatan pada isu kemiskinan
Kegiatan perencanaan desa ini dilakukan secara desa hutan kepada masyarakat. Pendekatan isu ini
partisipatif oleh masyarakat desa. Proses yang dilakukan agar dapat dilakukan analisis kemiskinan
berlangsung di bulan Oktober 2004 ini dilakukan di 4 partisipatif oleh masyarakat desa dengan YBL Masta
desa dampingan YBL Masta, yaitu: Desa Benowo, Desa sebagai fasilitatornya. Ini akan menjadi landasan bagi
Kali-tapas, Desa Ngargosari di Kec. Bener dan Desa rencana kegiatan berikutnya, yaitu belajar agroforestri
Sedayu di Kec. Loano. Di empat desa ini wilayah hutan antardesa, revitalisasi keuangan mikro di desa dan
Perbukitan Menoreh mencakup luas 850 ha. Kegiatan pendokumentasian praktek-praktek kehutanan yang
perencanaan desa tersebut membahas tentang potensi, dilakukan oleh rakyat. Hasil dokumentasi ini rencananya
persoalan dan cita-cita desa sehingga warga desa me- akan dipublikasikan ke publik di Purworejo sehingga
ngetahui bahwa hutan tersebut merupakan wilayahnya, masyarakat mengetahui bahwa rakyat sebenarnya bisa
di mana mereka bisa turut andil dalam pengelolaanya. dan telah melakukan praktek-praktek pengelolaan hutan
Dalam proses ini muncul 2 isu besar, yaitu secara benar.
peningkatan perekonomian dan pengelolaan hutan untuk
meningkatkan perekonomian desa. Di Desa Ngargosari Intinya, Penguatan Masyarakat
proses ini menghasilkan 3 perdes, yaitu Perdes tentang
Pengelolaan air, Perdes tentang Penataan dan Sampai saat ini masyarakat di sekitar hutan
Pengelolaan Lingkungan serta Perdes tentang Perbukitan Menoreh sudah mulai melibatkan diri dalam
Pengelolaan Hutan. Sedangkan di Desa Benowo baru pengelolaan hutan tersebut. Masyarakat sudah mulai
menghasilkan Perdes tentang Pengelolaan hutan. mengganti tanaman pinus menjadi tanaman-tanaman
Perdes-perdes tersebut menjadi landasan para eksekutif potensial, antara lain tanaman yang dapat menyimpan
desa untuk bergerak agar kepentingan masyarakat desa air, seperti gayam, beringin, bambu, pucung, dll, serta
bisa diakomodir oleh Perhutani. tanaman yang bernilai ekonomi, seperti kakao, albesia,
mahoni, salam, jatilanang, dll.
Keempat desa ini lalu dipertemukan dan
Kegiatan-kegiatan pendampingan masyarakat
terbentuklah Lembaga Kerja sama Antar Desa (LKAD)
tentunya tetap membangun dan menguatkan kapasitas
sebagai jembatan kerja sama dalam pengelolaan eko-
masyarakat (desa) yang didampingi. Demikian pula
nomi dan pengelolaan hutan. Istilah LKAD ini sengaja
dengan masyarakat di desa-desa dampingan YBL
digunakan karena istilah ini dimandatkan dalam UU Oto-
Masta. Dengan difasilitasi oleh LSM ini, masya-rakat
nomi Daerah. Jadi, secara legal akan menjadi lembaga
melakukan praktek-praktek wanatani, membuat pupuk
yang cukup kuat karena memiliki landasan hukum.
organik, termasuk melakukan pengelolaan lahan dengan
Kerja sama ini juga akan menghindari konflik dan mem-
sistem TOT (tanpa olah tanah) di kawasan hutan
bangun kekuatan untuk bernegosiasi dengan Perhutani.
Perbukitan Menoreh. Selain itu, kini masyarakat Desa
Benowo dan Ngargosari telah memiliki kebun bibit desa
2. Perencanaan Kelola Hutan dan Kelola Ekonomi
(KBD) yang akan mensuplai kebutuhan bibit untuk
Desa
ditanam di hutan Perbukitan Menoreh.
Dalam kegiatan yang berlangsung di bulan Maret
SALAM #12

2005 ini diundang 3 desa yang juga ada di sekitar hutan


Perbukitan menoreh, yaitu: Desa Ngargoretno,
Pagerharjo dan Sambak untuk turut serta dalam proses
ini. Hasil dari proses ini lalu dinegosiasikan masyarakat
SEPTEMBER 2005

dengan Perhutani. Hal-hal yang dinegosiasikan adalah: Liputan: hasil wawancara dengan Noerjoso,
Koordinator Program YBL Masta
Dibukanya ruang kelola yang lebih luas di Perbukitan Jl. Potrobangsan 2 no. 20A,
Menoreh untuk masyarakat. Magelang, Jawa Tengah
Perubahan atau variasi jenis tanaman di hutan telp: 0293-364 895
Perbukitan Menoreh. email: yblmasta@indo.net.id

19