Anda di halaman 1dari 13

motivasi

Motivasiboyen.com
JUNI 19, 2013

Proposal Geologi tentang pemetaan geologi daerah Buton

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini bidang ilmu geologi mulai memiliki peranan sangat penting dikalangan masyarakat, khususnya informasi
mengenai kondisi geologi yang berkembang dan bekerja di daerah tersebut. Dari perkembangan dan kemajuan ilmu
ini akan mendorong para ahli untuk melakukan penelitian secara regional, namun masih diperlukan suatu penelitian
yang lebih detail guna melengkapi data geologi yang telah ada mencakup kondisi geomorfologi, stratigrafi, struktur
geologi serta aspek geologi teraplikasi lainnya.

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka penulis melakukan penelitian mengenai keadaan geologi daerah Wolowa dan
sekitarnya, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, Propinsi Sulawesi Tenggara.

Penelitian ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan data-data geologi daerah Wolowa yang secara administratif
masuk dalam wilayah Kecamatan Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, Propinsi Sulawesi Tenggara, terutama
untuk pengembangan daerah tersebut.

Penelitian geologi lapangan ini meliputi kegiatan pemetaan terhadap aspek geomorfologi yaitu dengan melihat
permukaan bumi diantaranya gerakan tanah proses erosi, bentukan sungai dan beberapa gejala lainnya. Aspek
stratigrafi membahas mengenai jenis batuan, urutan lapisan dan umur batuan yang ada di daerah penelitian. Struktur
geologi membahas mengenai pengaruh struktur yang bekerja serta hubungannya dengan stratigrafi di daerah
tersebut. Sedangkan potensi bahan galian membahas mengenai indikasi penyebarannya yang dapat dimanfaatkan
untuk keperluan penduduk di daerah sekitar maupun oleh penduduk di luar daerah tersebut, serta dapat menceritakan
sejarah geologi daerah penelitian.

1.4 Batasan masalah

Permasalahan dalam penelitian ini hanya mengkaji lingkup daerah Wolowa, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten
Buton, Propinsi Sulawesi Tenggara.

1.5 Rumusan masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang akan di ungkap pada penelitian ini adalah :

1. Bagaimana permasalahan geomorfologi pada daerah telitian?


Permasalahan yang timbul mengenai pembagian satuan geomorfik serta pola pengaliran dan stadia geomorfologi
daerah telitian.

1. Bagaimana permasalahan stratigrafi daerah telitian?


seperti kontak antar dua satuan batuan yang dapat berupa batas tegas maupun berangsur .

1. Bagaimana permasalahan struktur geologi daerah telitian?


Permasalahan yang timbul ialah mengenai struktur geologi apa saja yang mengontrol daerah telitian.

1.2 Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah untuk melakukan pemetaan geologi permukaan secara umum sebagai salah
satu upaya untuk menyajikan informasi geologi yang ada dengan menggunakan peta dasar skala 1: 25.000, serta
melakukan suatu analisa berdasar atas data pada daerah telitian, kemudian dibuat suatu laporan penelitian untuk
melengkapi persyaratan akademik yang sudah ditentukan oleh Program Studi Fisika, Konsentrasi Teknik Geologi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Haluoleo Kendari untuk mendapatkan gelar sarjana
program pendidikan strata-1 (S1) dengan topik sesuai dengan teori yang didapatkan di bangku perkuliahan serta
aplikasinya.

Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui kondisi geologi yang meliputi aspek geomorfologi, stratigrafi,
struktur geologi, sejarah geologi dan potensi bahan galian.

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun dari penelitian yang telah dilakukan dapat diperoleh manfaat-manfaat sebagai berikut :

1. Bagi keilmuan:
1. Mengetahui kondisi geologi daerah telitian.
2. Dapat mengetahui dan memahami alterasi hidrotermal dan hubungannya dengan proses mineralisasi yang
terbentuk serta faktor-faktor pengontrolnya.
2. Bagi pemerintah :
1. Mengetahui lokasi keberadaan daerah daerah yang berpotensi.
2. Sebagai acuan pengembangan lokasi penambanganbah
3. Sebagai tata guna lahan
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori Alterasi Hidrotermal

Bateman (1956), menyatakan bahwa larutan hidrotermal adalah suatu cairan atau fluida yang panas, kemudian
bergerak naik ke atas dengan membawa komponen-komponen mineral logam, fluida ini merupakan larutan sisa
yang dihasilkan pada proses pembekuan magma.

Alterasi dan mineralisasi adalah suatu bentuk perubahan komposisi pada batuan baik itu kimia, fisika ataupun
mineralogi sebagai akibat pengaruh cairan hidrotermal pada batuan, perubahan yang terjadi dapat berupa
rekristalisasi, penambahan mineral baru, larutnya mineral yang telah ada, penyusunan kembali komponen kimia-nya
atau perubahan sifat fisik seperti permeabilitas dan porositas batuan ( Pirajno,1992).

Alterasi dan mineralisasi bisa juga termasuk dalam proses pergantian unsur-unsur tertentu dari mineral yang ada
pada batuan dinding digantikan oleh unsur lain yang berasal dari larutan hidrotermal sehingga menjadi lebih stabil.
Proses ini berlangsung dengan cara pertukaran ion dan tidak melalui proses pelarutan total, artinya tidak semua
unsur penyusun mineral yang digantikan melainkan hanya unsur-unsur tertentu saja.

2.1.1 Alterasi Hidrotermal

Alterasi hidrotermal merupakan proses yang kompleks yang melibatkan perubahan mineralogi, kimiawi, tekstur, dan
hasil interaksi fluida dengan batuan yang dilewatinya. Perubahanperubahan tersebut akan bergantung pada karakter
batuan dinding, karakter fluida (Eh, pH), kondisi tekanan maupun temperatur pada saat reaksi berlangsung,
konsentrasi, serta lama aktifitas hidrotermal. Walaupun faktorfaktor di atas saling terkait, tetapi temperatur dan
kimia fluida kemungkinan merupakan faktor yang paling berpengaruh pada proses alterasi hidrotermal. (Creasy,
1961)

Menurut Corbett dan Leach (1996), faktor yang mempengaruhi proses alterasi hidrotermal adalah sebagai berikut :

1. Temperatur dan tekanan


Peningkatan suhu membentuk mineral yang terhidrasi lebih stabil, suhu juga berpengaruh terhadap tingkat
kristalinitas mineral, pada suhu yang lebih tinggi akan membentuk suatu mineral menjadi lebih kristalin, menurut
Noel White (1996), kondisi suhu dengan tekanan dapat dideterminasi berdasarkan tipe alterasi yang terbentuk.
Temperatur dan tekanan juga berpengaruh terhadap kemampuan larutan hidrotermal untuk bergerak, bereaksi dan
berdifusi, melarutkan serta membawa bahanbahan yang akan bereaksi dengan batuan samping.

1. Permeabilitas
Permeabilitas akan menjadi lebih besar pada kondisi batuan yang terekahkan serta pada batuan yang
berpermeabilitas tinggi hal tersebut akan mempermudah pergerakan fluida yang selanjutnya akan memperbanyak
kontak reaksi antara fluida dengan batuan.

1. Komposisi kimia dan konsentrasi larutan hidrotermal


Komposisi kimia dan konsentrasi larutan panas yang bergerak, bereaksi dan berdifusi memiliki pH yang berbeda-
beda sehingga banyak mengandung klorida dan sulfida, konsentrasi encer sehingga memudahkan untuk bergerak.

1. Komposisi batuan samping


Komposisi batuan samping sangat berpengaruh terhadap penerimaan bahan larutan hidrotermal sehingga
memungkinkan terjadinya alterasi.

Pada kesetimbangan tertentu, proses hidrothermal akan menghasilkan kumpulan mineral tertentu yang dikenal
sebagai himpunan mineral (mineral assemblage) (Corbett & Leach, 1996). Secara umum himpunan mineral tertentu
akan mencerminkan tipe alterasinya.

Menurut Sikumbang, N., dkk., (1995) dalam Hadiwastra (2008), tektonik telah terjadi beberapa kali dimulai sejak
Pra-Eosen, dimana pola tektoniknya sukar ditentukan disebabkan seluruh batuannya telah mengalami beberapa kali
perlipatan dan pensesaran. Gerak tektonik utama yang membentuk pola struktur hingga sekarang diperkirakan
terjadi pada masa Eosen Oligosen yang membentuk struktur imbrikasi berarah Timurlaut Baratdaya. Kegiatan
tektonik berikutnya terjadi antara Pliosen Plistosen yang mengakibatkan terlipatnya batuan Pra-Pliosen. Kegiatan
tektonik terakhir terjadi sejak Plistosen dan masih berlangsung hingga sekarang yang mengakibatkan terangkatnya
Pulau Buton dan Pulau Muna secara perlahan, seirama dengan pembentukan batu gamping terumbu Formasi
Wapulaka yang menunjukkan undak-undak.

Peristiwa tektonik yang terjadi berulang-ulang menyebabkan batuan-batuan yang berumur lebih tua mengalami
beberapa kali deformasi struktur, sehingga batuan yang lebih tua umumnya dijumpai dengan kemiringan lapisan
yang relatif tajam, sedangkan batuan yang lebih muda kemiringannya lapisan relatif lebih landai dibandingkan
dengan batuan yang berumur tua ( Tobing dkk,2008).

2.2 Keadaan Geologi


2.1.1 Geologi Regional

Daerah penyelidikan termasuk bagi an peta geologi lembar Buton, Sulawesi Tenggara. Keadaan umum daerah
penye lidikan sebagian besar merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian antara 100 m sampai maksimal 700
m dpl serta mempunyai kemiringan lereng yang sangat terjal.

2.1.2 Tataan Stratigrafi

Dengan mengacu pada Peta Geologi Lembar Buton , Sulawesi Tenggara, maka di daerah selidikan terdapat 5
formasi batuan di mana urutannya dari tua ke muda adalah : Komplek Ultrabasa Kapontori Merupakan komplek
batuan malihan tertua, umur formasi ini sekitar Permo Kar bon. Batuannya terdiri atas peridotit, serpenti nit dan
gabro, setempat terbreksikan dan terge ruskan.

Penyebaran batuan komplek Ultra basa ini memanjang dengan arah Timurlaut Barat daya. Dibagian Barat daya
Komplek Ultra basa Kapontori ini muncul sebagai Horst dengan kontak tidak selaras terhadap beberapa formasi
yang lebih muda.

Formasi Winto
Formasi Winto terdiri atas perseli ngan serpih, batupasir, konglomerat, dan sisi pan batu gamping berumur Trias
Atas. Serpih biasanya berlapis tipis sampai sedang, berwar na abu-abu sampai kecoklatan atau kehi ta man,
berbitumen, sering bersisipan dengan ba tupasir halus sampai sedang dan batugamping tipis berwarna putih.
Terdapat sisa tumbuhan berwarna coklat sampai kehitaman, berlem bar, sisipan tipis batubara dijumpai hanya
pada tempat tertentu berlapis dan dijumpai perlapisan sejajar, silang siur dan gelembur gelombang.

Batupasir berwarna abu-abu sampai kecoklatan, gampingan, padat, sering terdapat urat kuarsa, dibeberapa tempat
dalam formasi Winto menyebabkan rembesan minyak. Salah satu conto rembesan minyak tersebut diantara nya yang
muncul di Kumele Winto yaitu pada lokasi singkapan AKB 48 A.

Formasi Tobelo
Formasi Tobelo tersebar mengikuti pola umum perlipatan didaerah itu. Litologi nya tersusun atas kasilitit, berlapis
baik, kaya akan radilaria. Umur For masi diperkirakan antara KapurPaleosen dan terbentuk pada lingkungan
pengendapan Batial

Formasi Tondo
Formasi Tondo tersusun atas konglo merat, batupasir kerikilan, perselingan batu pasir, batulanau dan
batulempung. Pada forma si Tondo ini seringkali dijumpai rembesan as pal kepermukaan membentuk urat-urat
aspal. Formasi Tondo diendapkan dalam lingkungan pengendapan neritik hingga Batial Bawah pada Miose
Tengah sampai Miosen Atas.
Formasi Sampolakosa
Litologi terutama terdiri atas batupa sir gampingan-lempung gampingan. Batupasir gampingan umumnya berukuran
butir halus sampai sedang abu-abu sampai abu-abu kehitaman, berlapis tebal sampai massif. Pada banyak tempat
seperti di Desa Wining terim pregnasi oleh aspal, mengandung bitumen,dan pada tempat-tempat tertentu dijumpai
rem besan aspal murni menembus sampai keper mukaan. Formasi Sampolakosa diendapkan dalam lingkungan
pengendapan neritik-batial pada Miosen atas sampai Pliosen bawah.

Formasi Wapulaka
Formasi ini sebagian besar berupa ba tugamping, batugamping pasiran, batupasir gampingan. Batugamping
terutama sebagai gamping terumbu ganggang atau koral, topografi batuan ini memperlihatkan undak- undak
pantai purba dan topografi karst. Diendapkan pada kala Plistosen (Sikumbang dkk, 1995).

2.1.3 Struktur Geologi

Peristiwa Tektonik yang terjadi pada Anjungan ButonTukangbesi setidaknya terjadi sebanyak 3 kali. Ketiganya
turut berperan dalam tataan stratigrafi dan struktur didaerah ini. Struktur geologi yang berkembang terdiri atas
antiklin, sinklin, sesar anjak, sesar normal dan sesar geser mendatar. Sesar-sesar utama yang terjadi pada umumnya
mempunyai arah sejajar dgn arah memanjang nya tubuh batuan Pra Tersier dan sumbu ceku ngan sedimen Miosen
Kegiatan tektonik pada Plio- Plistosen mengakibatkan terlipatnya kembali batuan yang lebih tua (PraPliosen)
dan menggiatkan kembali sesar-sesar yang telah terbentuk sebelumnya.

Struktur geologi yang terdapat didae rah penyelidikan berupa struktur lipatan dan patahan. Sumbu lipatan umumnya
Timurlaut Baratdaya. Struktur lipatan berupa sinklin dan antilklin tersebut mempengaruhi hampir semua formasi
yang ada didaerah penyelidi kan terutama dibagian Tenggara daerah penye lidikan mulai dari Utara sampai ke
Selatan . (Sukamto, 1975)

Patahan utama mempunyai arah Ti murlautBaratdaya dan nampaknya mengikuti arah memanjangnya tubuh batuan
Pra Tersier dan Sumbu cekungan Miosen Anjungan Buton-Tukangbesi. Patahan Utama ini umum nya berupa sesar
naik dan sesar normal. Salah satu patahan utama yang sangat penting adalah sesar naik Winto, sesar ini
mengangkat Formasi Winto kepermukaan dan diper kirakan berpotensi sebagai jalur rembesan minyak serta
munculnya endapan aspal murni kepermukaan, selain itu jalur sesar ini me munculkan beberapa mata air panas.
Selain pa tahan utama, terdapat juga patahanpatahan ikutan atau sekunder yang mempunyai arah Baratlaut
Tenggara dan UtaraSelatan. Pata han Utama dan sekunder didaerah penye lidikan memotong hampir semua
formasi batuan yang berumur Tersier dan Pra Tersier.

2.2.1 Morfologi Daerah Penyelidikan

Morfologi daerah penyelidikan sebagian besar terbentuk oleh batugamping, kong lomerat, batuan ultrabasa dan
batuan pra tersier lainnya dan membentuk daerah perbukitan dengan kemiringan lereng antara 2050 dan pada
beberapa tempat mencapai 80. Pada beberapa tempat kenampakan morfologi batu gamping membentuk ciri yang
khas sebagai plateau. Ketinggian rata-rata didaerah penyeli dikan antara 100 m sampai 400 m dpl, pada daerah
tertentu mencapai ketinggian sampai 750 m dari permukaan laut. Pola aliran sungai umumnya Sub Dendritik
dengan Erosi sungai antara stadium muda dan stadium dewasa. Kebanyakan su ngai-sungai kecil didaerah
penyelidikan tidak berair, kemungkinan keringnya air sungai aki bat ku rangnya daya serap tanah terhadap air
akibat tidak adanya vegetasi yang dapat me nyerap air hujan. Atau akibat banyaknya aliran sungai bawah tanah
dan membentuk rongga-rongga atau gua-gua dalam tanah. (Sikumbang, 1995).

BAB 3

METODELOGI PENELITIAN

1.3 Lokasi Penelitian

Lokasi daerah penelitian terletak di Kelurahan Wolowa dan sekitarnya yang secara administratif termasuk
dalam wilayah Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, Propinsi Sulawesi Tenggara. Secara Geografis terterletak
pada koordinat 122 45 BT 123 00 BT dan antara 5 15 LS 5 30 LS.

3. 1 Metode Penelitian

Pemetaan geologi yang dilakukan bersifat pemetaan permukaan melalui observasi lapangan yang menggunakan
jalur lintasan tertentu. Observasi yang dilakukan di lapangan meliputi orientasi medan, pengamatan morfologi,
pengamatan singkapan dan batuan, pengukuran, serta pengambilan sampel batuan.

Sebelum melakukan observasi ke lapangan, terlebih dahulu melakukan analisis data sekunder yang didapatkan dari
pustaka dan sumber yang lain yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan sebelum melakukan observasi
lapangan secara detail. Setelah mendapatkan data dari hasil observasi lapangan, langkah selanjutnya adalah
melakukan analisis data tersebut yang kemudian disusun sebagai laporan. Adapun beberapa metodologi yang
dipergunakan dalam penelitian dan pembuatan laporan geologi ini adalah sebagai berikut :

1. Studi pustaka
Studi pustaka mempelajari geologi daerah Sulawesi dan daerah penelitian berdasarkan publikasipublikasi dan
literaturliteratur yang telah dibuat oleh peneliti terdahulu. Hal ini sangat penting untuk mengetahui geologi dan
aspekaspek teoritis dalam ilmu geologi yang berguna sebagai dasar pemikiran dalam penyelesaian masalah geologi
yang dihadapi di lapangan. Tahapan ini dilakukan sebelum penelitian lapangan dilaksanakan.

1. Pemetaan awal
Pemetaan awal ini sangat berguna untuk mengetahui namanama desa atau daerah yang ada pada daerah penelitian,
serta mengetahui macammacam lithologi dan penyebarannya. Kegiatan semacam ini sangat berguna untuk
menentukan jalur dan kegiatan penelitian.

1. Pemetaan
Pemetaan ini meliputi :

1. Pengamatan jenis batuan.


2. Hubungan antar jenis batuan.
3. Struktur geologi.
4. Struktur sedimen, maupun gejala-gejala geologi lainya.
5. Hubungan struktur geologi terhadap keberadaan hidrotermal.
6. Analisis kemungkinan pembentukan proses alterasi.
Apabila mendapatkan kesulitankesulitan dalam tahapantahapan ini, maka diadakan diskusi bersama dengan tim
dan pembimbing lapangan dalam mencari penyelesaian masalahnya. Kemudian disinkronkan dengan penyebaran
lateral geologi dengan daerah yang bertampalan dan bila dianggap perlu diadakan penelitian lapangan bersama
sama.

1. Tahapan pemeriksaan ulang


Tahapan ini dilakukan bersamasama dengan dosen pembimbing yang bertujuan untuk memecahkan masalah
masalah dan kesulitankesulitan geologi yang penulis hadapi selama melakukan penelitian di lapangan.

1. Analisa
Tahapan analisa ini meliputi berbagai macam kegiatankegiatan laboratorium, diantaranya adalah :

1. Tahap analisis geomorfologi


Meliputi analisis data lapangan, pengelompokan dan pemerian satuan geomorfik, analisis sungai, analisis stadia
daerah dan morfogenesis.

1. Tahap deskripsi petrografi


Melakukan pengamatan sayatan tipis batuan yang meliputi pengamatan struktur, tekstur dan komposisi
mineralogi/materi penyusun batuan dengan bantuan mikroskop polarisasi dengan tujuan mengklasifikasikan batuan
dan membantu interpretasi petrogenesa batuan.

1. Tahap identifikasi paleontologi


Melakukan pengamatan makropaleontologi dan atau mikropaleontologi dengan tujuan untuk membantu menentukan
umur.

1. Tahap analisis struktur geologi


Melakukan analisis data struktur geologi dengan bantuan metode-metode yang ada (diagram kipas, stereonet) dan
merekonstruksi struktur geologi dengan mengacu pada teori dan model yang sudah ada.

1. Sintesa
Tahapan ini adalah kelanjutan dari tahapan analisa yang selanjutnya penulis mencoba untuk menerapkan konsep
atau model serta teoriteori geologi yang ada dalam memecahkan fenomenafenomena geologi yang ada pada
daerah penelitian.

1. Pembuatan laporan
Pembuatan laporan merupakan kegiatan paling akhir setelah tahapantahapan tersebut di atas dilakukan dan
selanjutnya nanti dipresentasikan.

3.2 Pengumpulan Data

3.2.1 Sumber Data

Sumber data diperoleh dari hasil survei lapangan (data primer) dan data yang diperoleh melalui survei instansional
(data sekunder), yaitu:

1. Data primer adalah data yang langsung diambil dari lapangan, yaitu:
Data bentuklahan (morfografi, morfometri dan morfogenesa) dan hubungannya dengan sebaran daerah telitian.
Data geologi (litologi, stratigrafi dan struktur geologi) di lokasi penelitian
Data pengukuran-pengukuran kedudukan batuan dan kedudukan struktur geologi di lapangan.
1. Data sekunder adalah data yang diambil secara tidak langsung, yaitu:
Data peta geologi berikut laporan yang diperoleh dari instansi terkait seperti dinas energi dan sumberdaya
mineral Propinsi Sulawesi Tenggara, hasil penelitian dari pemerintah kabupaten Buton.
Data hasil analisa laboratorium dari sampel yang sudah diambil di lokasi penelitian
3.2.2 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data diperoleh dengan dua cara, yaitu:

1. Pengumpulan data sekunder, diperoleh dari:


Peta rupabumi dari pusat ESDM Sulawesi Tenggara.
Peta geologi regional dari Pusat ESDM Sulawesi Tenggara.
Hasil analisa laboratorium yang berasal dari laboratorium terkait
1. Pengumpulan data primer diperoleh dari:
Pemetaan langsung dilapangan, melalui pemetaan awal dan pemetaan semi detail dengan skala 1:25.000.
Pengamatan langsung di lapangan, meliputi aspek geologi (batuan, struktur geologi dan sedimentologi),
geomorfologi dan stratigrafi.
3.3 Bahan dan Alat

Beberapa peralatan dan bahan yang dipergunakan untuk kelancaran penelitian geologi ini adalah sebagai berikut :

1. Peta topografi skala 1 : 25.000.


Digunakan sebagai peta dasar untuk melakukan orientasi medan dan pengeplotan titik pengamatan di lapangan.

1. Peta geologi lembar Lasusua skalai 1:250.000


2. Palu geologi.
Digunakan untuk mengambil sampel batuan yang ada di lokasi pengamatan.

1. Lup.
Digunakan untuk mengamati sampel batuan yang diambil serta untuk mengamati komposisi penyusun batuan
tersebut.

1. Komparator lithologi, ukuran butir serta klasifikasi dasar penamaan batuan.


2. Kantong sampel.
Digunakan sebagai tempat sampel untuk digunakan pada saat analisa laboratorium.

1. Kompas geologi.
Digunakan untuk melakukan orientasi medan/pengeplotan titik pengamatan, mengukur kelerengan morfologi dan
untuk mengukur data struktur baik struktur primer maupun sekunder.

1. Buku catatan lapangan.


Digunakan untuk mencatat data-data yang ada pada saat melakukan observasi lapangan.

1. Clipboard.
Digunakan sebagai alas peta topografi dan sebagai alat bantu dalam melakukan pengukuran data-data di lapangan.

1. Alat tulis.
Digunakan sebagai alat untuk tulis-menulis di lapangan.

1. Penggaris dalam berbagai bentuk.


Digunakan sebagai alat bantu untuk melakukan pengeplotan titik pengamatan.

1. Busur derajat.
Digunakan sebagai alat bantu dalam orientasi medan.

1. Kamera
Digunakan untuk mengambil data lapangan.

1. HCl 0,1 M.
Digunakan untuk mengetes ada tidaknya kandungan karbonat dalam suatu batuan.

1. Tas ransel
Digunakan sebagai tempat untuk menyimpan semua peralatan yang digunakan di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA

Creasy, S.C., 1961, Hydrothermal Alterations in Geology of Porphyry Copper Deposits (S.R.Tettley &
C.L.Hickx,ed), Tuscon:Univ. of Ariz. Press, pp.

Sikumbang, N, Sanyoto.P, Supandjono, R.J.B dan Gafoer.S, 1995. Peta Geologi Lembar Buton, Pusat Penelitian
dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Sukamto, Rab 1975, Perkembangan tektonik dengan membagi pulau Sulawesi dan pulau-pulau disekitarnya
kedalam tiga mandala geologi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Direktorat Geologi dan Sumber Daya
Mineral, Departemen Pertambangan dan Energi.

Subarnas, S, dkk, 2001. Penyelidikan geomorfologi Di Daerah Pasarwajo Dan Sekitarnya, Kabupaten Buton,
Propinsi Sulawesi Tenggara, DIM, Bandung.

Tobing, S.M dan Widiarto, F.X, 2008, Analisis dan Kajian Geokimia Hidrokarbon

Corbett, G.J & Leach, T.M. (1996), Southwest Pasific Rim Gold / Copper System : Structure, Alteration and
Mineralitation, A workshop presented for the Society of Eksploration Geochemist, Townsville.

Share this:
Twitter
Facebook1

Terkait
Identifikasi Mineal
Identifikasi Batuan Beku
Bingkisan dari lubuk hati

Bookmark the permalink.


Tinggalkan komentar

NAVIGASI POS

PREVIOUSNEXT

TINGGALKAN BALASAN

POS-POS TERBARU

Anugerah yang paling berharga


Bingkisan dari lubuk hati
Bicara dengan bahasa hati
Alasan dibalik kegagalan
suarat suara
KOMENTAR TERBARU

John di Cara Membuat Link di Word

ARSIP

Juni 2013
KATEGORI

Uncategorized
META

Daftar
Masuk
RSS Entri
RSS Komentar
WordPress.com
Blog di WordPress.com.
Ikuti