Anda di halaman 1dari 45

Ilmu Penyakit Dalam

CATATAN TUTORIAL OPTIMA


Infeksi
Demam Berdarah
Dengue
Malaria
Demam Tifoid
Filariasis
Cacing Tambang
Demam?
Demam adalah peningkatan suhu Demam Remiten
tubuh yang melebihi variasi normal Ditandai oleh penurunan suhu tiap hari
sehari-hari dan terjadi dalam tetapi tidak mencapai normal dengan
hubungannya dengan peningkatan fluktuasi melebihi 0,5oC per 24 jam.
set point hipotalamus. Demam Intermitten
Jenis-jenis Demam Demam dengan suhu yang kembali normal
setiap hari, umumnya pada pagi hari.
Demam Kontinyu / Sustained Fever Contohnya demam pada malaria, limfoma,
Peningkatan suhu tubuh yg endokarditis.
menetap, dengan fluktuasi maks. Demam Septik / Hektik
0,4 C dalam 24 jam. terjadi saat demam remiten atau intermiten
Demam Bifasik menunjukkan perbedaan antara puncak dan
titik terendah suhu yang sangat besar.
menunjukkan satu penyakit
dengan 2 episode demam yang Demam Periodik
berbeda (camelback fever ditandai oleh episode demam berulang
pattern, atau saddleback fever). dengan interval regular atau irregular. Tiap
episode diikuti satu sampai beberapa hari
Gambaran bifasik juga khas atau beberapa minggu suhu normal.
untuk leptospirosis, demam Contohnya adalah malaria (istilah tertiana
dengue, demam kuning, dan digunakan bila demam terjadi setiap hari
African hemorrhagic fever ke-3, kuartana bila demam terjadi setiap
hari ke-4)
(Marburg, Ebola, dan demam
Lassa)
Demam Berdarah Dengue
Definisi Derajat
Penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus I : Demam disertai gejala konstitusional yang
dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk
Aedes aegypty dan Aedes albopictus serta tidak khas, manifestasi perdarahan hanya
memenuhi kriteria WHO untuk DBD berupa uji torniquet positif dan/atau mudah
Klinis memar
Kriteria diagnosis WHO 1997 untuk DBD harus II : Derajat I disertai perdarahan spontan
memenuhi:
Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 III : Terdapat kegagalan sirkulasi: nadi cepat dan
hari, biasanya bifasik lemah atau hipotensi, disertai kulit dingin dan
Terdapat minimal satu dari manifestasi lembab serta gelisah
perdarahan berikut ini: IV : Renjatan: tekanan darah dan nadi tidak
Uji torniquet positif (>20 petekie dalam teratur
2,54 cm2)
Petekie, ekimosis, atau purpura DBD derajat III dan IV digolongkan dalam
Perdarahan mukosa, saluran cerna, sindrom renjatan dengue
bekas suntikan, atau tempat lain
Hematemesis atau melena Tanda Bahaya/ Warning Sign :
Trombositopenia (<100.000/mm3)
Nyeri abdomen
Terdapat minimal satu tanda-tanda plasma
leakage: Muntah persisten
Hematokrit meningkat >20% dibanding Tanda klinis adanya akumulasi cairan
hematokrit rata-rata pada usia, jenis
kelamin, dan populasi yang sama Perdarahan mukosa
Hematokrit turun hingga >20% dari Letargi
hematokrit awal, setelah pemberian Hepatomegaly
cairan
Terdapat efusi pleura, efusi perikard, Lab : Peningkatan hematokrit dan atau
asites, dan hipoproteinemia trombositopenia.
Klasifikasi Demam Dengue
Klasifikasi WHO 1997 :
Demam dengue (Dengue Fever)
Demam berdarah dengue (Dengue Hemorrhagic
Fever)
Klasifikasi WHO 2011 :
Dengue tanpa tanda bahaya
Dengue dengan tanda bahaya
Dengue berat
Klasifikasi WHO 2011
Dengue tanpa tanda bahaya
Probable dengue tinggal atau bepergian ke area
endemic dengan gejala demam ditambah 2 dari gejala
berikut :
Demam
Nyeri kepala
Myalgia
Malaise
Mual
Muntah
Diare
Peteki
Confirmed dengue isolate kultur virus atau PCR
Dengue dengan tanda bahaya
Probable dengue tinggal atau bepergian ke
area endemic dengan gejala demam 2-7 hari
ditambah 1 dari gejala berikut :
Nyeri abdomen
Muntah persisten
Tanda klinis adanya akumulasi cairan
Perdarahan mukosa
Letargi
Hepatomegaly
Lab : Peningkatan hematokrit dan atau trombositopenia.
Confirmed dengue isolate kultur virus atau PCR
Dengue Berat
tinggal atau bepergian ke area
endemic dengan gejala demam
2-7 hari ditambah 1 dari gejala
dengue tanpa dan dengan tanda
bahaya di atas, ditambah 1 dari
tanda berikut :
Kebocoran plasma yang
menyebabkan shok atau
akumulasi cairan dengan atau
tanpa distress pernafasan
Perdarahan berat
Gangguan organ
Hepar : AST atau ALT > 1000
CNS : kejang, penurunan
kesadaran
Jantung : myocarditis
Ginjal : gagal ginjal
Management
Management cairan pasien rawat jalan (DF /
Dengue tanpa tanda bahaya)
Yang termasuk disini adalah pasien yang masih
dapat diberikan rehidrasi oral dan tanpa adanya
tanda bahaya. Berikan rehidrasi oral
berdasarkan berat badan / metode Ludan (Tabel
1)

Tabel 1. Rehidrasi oral berdasar berat badan


(Ludan Method)

Berat Badan (kg) ORS ml/kg/hari


> 3 10 100
> 10 20 75
> 20 30 50 60
> 30 60 40 50
Management cairan Tabel 2. Kalkulasi
pasien rawat inap (DHF Rumatan Cairan Infus
grade 1-2 / Dengue tanpa Intravena (Metode
tanda bahaya) Holliday-Segar)
1. Cek darah rutin
2. Berikan cairan isotonic (RL, Berat Kebutuhan cairan total
NaCl 0,9%, D5 NS). badan (ml/hari)
Untuk anak < 6 bln lebih (kg)
baik menggunakan D5
NS.
0 10 100 ml/kg
3. Berikan cairan rumatan
intravena sesuai dengan > 10 1000 ml + 50 ml/kg tiap
perhitungan Holiday-Segar 20 >10 kg
(Tabel 2) atau Ludan (Tabel > 20 1500 ml +50 ml/kg tiap >
1) 20 kg
4. Apabila pasien menunjukkan Management cairan pasien
gejala dehidrasi ringan, maka rawat inap (Dengue dengan
cairan untuk memperbaiki
dehidrasi ditambahkan ke tanda bahaya, namun
cairan rumatan. tanpa shock)
Perhitungan cairan dehidrasi 1. Cek darah rutin (CBC &
ringan : Hmt) sebelum
Anak (<12 bulan) : 50 ml/kg pemberian cairan
Dewasa (> 12 bulan) : 30 ml/kg 2. Berikan cairan isotonic
Total Fluid Requirement (24jam) : 3. Berikan cairan intravena
Cairan rumatan + Cairan pengganti dehidrasi ringan
:
Mulai dengan 5-7 ml/kg/jam
dalam 1-2 jam, kemudian 3-5
ml/kg/jam dalam 2-4 jam,
5. Monitor secara periodic tanda kemudian 2-3 ml/kg/jam.
vital, urin output, dan 4. Nilai kembali keadaan
hematokrit. klinis dan cek darah rutin
lagi.
5. Apabila hematokrit tetap sama atau Panel Diagnostik
sedikit meningkat, lanjutkan pemberian NS1
cairan dengan kecepatan yang sama (2-3 Antigen nonstruktural untuk replikasi virus
ml/kg/jam) selama 2-4 jam. yang dapat dideteksi sejak hari pertama
6. Apabila ada perburukan tanda vital dan demam.
peningkatan hematokrit dengan cepat, Puncak deteksi Ns1 :hari ke 2-3 (sensitivitas
naikkan kecepatan pemberian cairan 75%) & mulai tidak terdeteksi hari ke 5 - 6
menjadi 5-10 ml/kg/jam selama 1-2 jam.
IgM & IgG Antidengue
7. Kurangi pemberian cairan intravena
secara bertahap bila kebocoran plasma Untuk membedakan infeksi dengue primer
telah berkurang yang ditandai dengan urin atau sekunder digunakan pemeriksaan ini.
output yang adekuat (0.5 ml/kg/jam) atau Infeksi primer IgM (+) setelah hari ke 3 6 dan
hematokrit yang turun menuju nilai hilang dalam 2 bulan, IgG muncul belakangan
normal. IgG bertahan berbulan bulan & dapat (+)
8. Pelacakan laboratorium lainnya (Analisis seumur hidup sehingga diagnosis infeksi
gas darah, elektrolit, gula darah sewaktu) sekunder dilihat dari peningkatan titernya.
harus dilakukan apabila tidak ada IgG antidengue dengan titer 1:2560 infeksi
perbaikan kondisi. sekunder
Management cairan pasien rawat inap dengan shock
terkompensasi (DHF grade 3 / Dengue Berat)
Management cairan pasien rawat inap dengan shock
tidak terkompensasi (DHF grade 4 / Dengue Berat)
Plasmodium Malaria tertiana
benignan/malaria
vivax vivax

Plasmodium Malaria tertiana


malignan/malaria
falciparum tropika

Plasmodium Malaria
kuartana/malaria
malariae malariae

Malaria
Plasmodium ovale/Malaria
ovale tertiana benignan
ovale

MALARIA
Definisi
Penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit Plasmodium dan ditularkan
melalui gigitan nyamuk anopheles
Siklus Hidup Plasmodium
Gambar. Siklus perkembangan
Plasmodium. Nyamuk akan
mengalami 2 tahapan, yaitu di dalam
nyamuk (siklus sporogoni) dan di
tubuh manusia. Di dalam nyamuk
mikrogametosit akan bergabung
dengan makrogametosit
membentuk zigot, yang nantinya
akan berkembang menjadi ookist.
Ookist pecah menjadi sporozoit dan
menginfeksi manusia. fase ekso-
eritrositik terjadi di dalam sel hati.
Disni sporozoit mengalami
multiplikasi dan berkembang
menjadi skizon. Skizon keluar dan
pecah di peredaran darah, menjadi
merozoit, menginfeksi sel darah
merah (siklus eritrositik).
Multiplikasi terjadi kembali
(tropozoit), kemudian pecah
(merozoit) dam menimbulkan
menifestasi klinis (Referensi :
Malaria, Center for Diseases Control
and Prevention, available from
http:// www.cdc.gov/malaria/
about/biology.htm)
GEJALA KLASIK MALARIA

berkeringat
dingin (cold demam
(sweating
stage) (Hot stage)
stage).

Nadi cepat tetapi Muka merah, kulit kering pasien berkeringat


lemah, bibir dan dan terasa sangat panas banyak sekali,
seperti terbakar, nyeri
jari-jari pucat atau kepala, nadi menjadi
tempat tidurnya
sianosis, kulit kuat lagi. Biasanya pasien basah, kemudian
kering dan pucat. menjadi sangat haus dan suhu badan
Stadium ini suhu badan dapat menurun dengan
meningkat sampai 41 C
berlangsung antara atau lebih. Stadium ini cepat, kadang-
15 menit sampai 1 berlangsung antara 2-12 kadang sampai
jam. jam dibawah normal.
MANIFESTASI KLINIS
Plasmoduim Malariae Plasmodium Ovale
(Malaria Kwartana) (Malaria Ovale)
Berlangsung ringan, Gejala klinis hampir sama
anemia jarang terjadi, dengan Malaria Vivax,
splenomegali ringan. lebih ringan, puncak
Serangan paroksismal panas, lebih rendah lebih
terjadi tiap 3-4 hari, pendek, dapat sembuh
biasanya pada sore hari spontan. menggigil jarang
dan parasitemia sangat terjadi dan splenomegali
rendah <1%. jarang sampai dapat
teraba.
MANIFESTASI KLINIS
Plasmodium Vivax(Malaria Tertiana)
Pada hari pertama panas ireguler, kadang-kadang remitten
atau intermitten, pada saat tersebut perasaan dingin atau
menggigil jarang terjadi.
Pada akhir minggu tipe panas menjadi intermitten dan
periodik setiap 48 jam dengan gejala klasik trias malaria.
Serangan paroksismal biasanya terjadi waktu sore hari.
Pada minggu kedua limpa mulai teraba.
Parasitemia mulai menurun setelah 14 hari, limpa masih
membesar dan panas masih berlangsung.
Pada akhir minggu ke-5 panas mulai turun secara klinis.
MANIFESTASI KLINIS
Plasmodium falcifarum
(Malaria Tropika)
Gejala prodromal:
Sakit kepala, nyeri belakang/tungkai, lesu, perasaan dingin, mual, muntah, dan
diare. Panas ireguler dan tidak periodik, sering terjadi hiperpirekisia dgn T 40.
Gejala Lain:
Konvulsi, pneumonia aspirasi, banyak keringat.
Infeksi berat:
Nadi cepat, nausea, muntah, diare berat dll. Splenomegali, kelainan urin, dan
anemia.
Malaria pada Kehamilan
Plasmodium beredar dalam mikrosirkulasi plasenta.
Infeksi malaria pada kehamilan mengakibatkan fetal distress, kelahiran premature,
bayi lahir meninggal (stillbirth), bayi lahir dengan berat badan rendah, dan congenital
malaria (<5%).
Klinis
Klinis Perdarahan spontan dari hidung, gusi, saluran
riwayat demam intermiten atau terus menerus, cerna, dan/atau disertai gangguan koagulasi
riwayat dari atau pergi ke daerah endemik intravaskular
malaria, trias malaria Kejang berulang lebih dari 2 kali dalam 24 jam
konjungtiva pucat, sklera ikterik, splenomegali setelah pendinginan pada hipertermia
Lab: sediaan darah tebal dan tipis ditemukan Asidemia (pH 7,25) atau asidosis (bikarbonat
plasmodium, serologi malaria (+) [sebagai plasma <15 mEq/l)
penunjang] Hemoglobinuria makroskopik oleh karena infeksi
Malaria berat: ditemukannya P. falciparum dalam malaria akut (bukan karena efek samping obat
stadium aseksual disertai satu atau lebih gejala antimalaria pada pasien dengan defisiensi G6PD)
berikut: Diagnosis pasca-kematian dengan ditemukannya
Malaria serebral: koma dalam yang tak P. Falciparum yang padat pada pembuluh darah
dapat/sulit dibangunkan dan bukan disebabkan kapiler jaringan otak
oleh penyakit lain Beberapa keadaan yang juga digolongkan sebagai
Anemia berat (normositik) pada keadaan hitung malaria berat sesuai dengan gambaran klinis
parasit >10.000/ul; (Hb <5 g/dl atau hematokrit daerah setempat:
<15%) Gangguan kesadaran
Gagal ginjal akut (urin <400 ml/24 jam pada orang
dewasa, atau <12 ml/kgBB pada anak-anak setelah Kelemahan otot tanpa kelainan neurologis (tak
dilakukan rehidrasi disertai kreatinin >3 mg/dl) bisa duduk/jalan)
Edema paru/acute respiratory distress syndrome hiperparasitemia >5% pada daerah hipoendemik
(ARDS) atau daerah tak stabil malaria
Hipoglikemia (gula darah <40 mg/dl) Ikterus (bilirubin >3 mg/dl)
Gagal sirkulasi atau syok (tekanan sistolik <70
mmHg, disertai keringat dingin atau perbedaan Hiperpireksia (temperatur rektal >40C)
temperatur kulit-mukosa >10C)
KOMPLIKASI
Malaria Serebral Gagal Ginjal Akut (GGA)
Paling berbahaya Kelainan fungsi ginjal dapat terjadi pre-renal
karena dehidrasi (>50%), dan hanya 5-10 %
Gejala ditandai dengan koma. Sebagian disebabkan oleh nekrosis tubulus akut.
penderita terjadi gangguan kesadaran yang lebih
ringan seperti apatis, somnolen, delirium Gangguan fungsi ginjal ini oleh adanya anoksia
karena penurunan aliran darah ke ginjal akibat
Diduga terjadi sumbatan kapiler pembuluh dari sumbatan kapiler.
darah otak sehingga terjadi anoksia otak.
Sumbatan karena eritrosit berparasit sulit Apabila berat jenis (BJ) urin <1.01 menunjukkan
melalui kapiler karena proses sitoadherensi dan dugaan nekrosis tubulus akut;
sekuestrasi parasit.
urin yang pekat dengan BJ >1.05, rasio
Kadar laktat pada cairan serebrospinal (CSS) urin:darah > 4:1, natrium urin < 20 mmol/L
meningkat yaitu >2.2 mmol/L (1.96 mg/dL) dan menunjukkan dehidrasi.
dapat dijadikan indikator prognostik: bila kadar
laktat >6 mmol/L memiliki prognosa yang fatal. klinis terjadi oligouria atau poliuria. Beberapa
faktor risiko terjadinya GGA ialah
Biasanya disertai ikterik, gagal ginjal, hiperparasitemia, hipotensi, ikterus,
hipoglikemia, dan edema paru. Bila terdapat >3 hemoglobinuria.
komplikasi organ, maka prognosa kematian >75
%.
KOMPLIKASI
Kelainan Hati (Malaria Biliosa)
ikterus sering dijumpai pada infeksi malaria falcifarum.
Hipoglikemia
Hal ini karena kebutuhan metabolic dari parasit telah menghabiskan
cadangan glikogen dalam hati
Malaria Haemoglobinuria (Black Water Fever)
Adalah suatu sindrom dengan dejala karakteristik serangan akut,
menggigil, demam, hemolisis intravascular, hemoglobinemia,
hemeglobinuria dan gagal ginjal.
Malaria Algid
Terjadi gagal sirkulasi atau syok, tekanan sistolik <70 mmHg, disertai
gambaran klinik berupa perasaan dingin dan basah pada kulit,
temperatur rectal tinggi, kulit tidak elastic, pucat, pernafasan
dangkal,nadi cepat, tekanan darah turun dan sering tekanan sistolik
tak terukur dan nadi yang normal.
KOMPLIKASI
Kecenderungan Perdarahan
Edema Paru
Edema paru dapat terjadi karena kelebihan cairan atau adult
respiratory distress syndrome. Beberapa factor yang
mempermudah timbulnya edema paru ialah kelebihan cairan,
kehamilan, malaria serebral, hiperparasitemi, hipotensi, asidosis
dan uremi..
Hiponatremia
Terjadinya hiponatremia disebabkan karena kehilangan cairan dan
garam melalui muntah dan mencret
Gangguan Metabolik Lainnya.
Asidosis metabolic ditandai dengan hipervelensi(pernafasan
kussmaul), peningkatan asam laktat, pH turun dan penigkatan
bikarbonat. Asidosi biasanya disertai edema paru, hiperparasitemia,
syok, gagal ginjal dan hipoglekimia.
Yang harus diperhatikan dlm
pemeriksaan parasit ini yaitu : PLASMODIUM FALCIPARUM
1. Eritrosit tidak membesar Stadium skizon (jarang ditetmukan di dlm darah
2. Terdapat titik maurer disekitar tepi)
Ciri-ciri:
parasit
- Eritrosit tidak membesar
3. Bentuk titik Maurer kasar - Parasit: jumlah inti 2 - 24
4. Stadium yang ditemukan umumnya - pigmen sudah menggumpal berwarna hitam
trofozoit dan gametosit
5. Bila ditemukan stadium skizon di
sediaan darah tepi menandakan
adanya infeksi berat

Stadium gametosit
- eritrosit tidak membesar
- Parasit:
* bentuk pisang agak lonjong atau seperti sosis
(mikrogametosit)
* plasma biru atau merah muda (mikrogametosit)
* inti padat (kalau mikrogametosit tdk padat)
* pigmen di sekitar inti atau tersebar (mikrogametosit)
Stadium skizon
PLASMODIUM VIVAX Ciri-ciri : - eritrosit : membesar
- jumlah inti 12 - 24
Yang harus diperhatikan dlm - pigmen : kuning tengguli berkumpul
pemeriksaan parasit ini yaitu : - titik schuffner masih tampak dibagian
1. Eritrosit membesar pinggir eritrosit
2. Terdapat titik schuffner disekitar
parasit Stadium makrogametosit
3. Titik Schuffner bentuknya halus dan Ciri-ciri : - eritrosit membesar
tersebar merata di sekitar parasit - inti kecil, padat, pigmen tersebar
4. Stadium yang ditemukan : - protoplasma biru
trofozoit, skizon dan gametosit (semua - titik schuffner masih tampak di pinggir
stadium)

Stadium trofozoit
Ciri-ciri :
- eritrosit membesar
- bentuk cincin ( besarnya 1/3 eritrosit)
- mulai tampak titik schuffner.
Maurers dot pada P. falciparum Schufner pada P.vivax
PLASMODIUM MALARIA
Plasmodium malariae terutama
menyerang eritrosit yang telah
matang.
Biasanya parasit menyerang
kurang dari 1% dari jumlah
eritrosit.
Parasit pada sediaan darah tepi
tipis berbentuk khas seperti pita
(band form), skizon berbentuk
bunga ros(rosette form),
tropozoit kecil bulat dan kompak
beisi pigmenyang menumpuk,
kadang-kadang menutupi
sitoplasma/inti atau keduanya.
PLASMODIUM OVALE
Red cells enlarged.
Comet forms
common (top right).
Rings large and
coarse.
Schuffners dots,
when present, may
be prominent.
Mature schizonts
similar to those of P.
malariae but larger
and more coarse.
Tata Laksana
Terapi Simtomatik dan Suportif Malaria tanpa Komplikasi
Monitoring keadaan umum dan tanda Rekomendasi WHO : kombinasi
vital obat dengan dasar artemisin (ACT
Demam : parasetamol, dosis Artemisin based Combination
10mg/kg/kali dengan pemberian 4-6 Therapy) dalam bentuk kombinasi
jam, dan kompres hangat
obat tetap selama 3 hari
Kejang :
- Dewasa : diazepam 5-10mg IV secara Alternatif (lebih inferior dari ACT)
perlahan, dapat diulang setiap 15 : kombinasi obat anti malaria
menit, maksimum 100mg/24jam. Lini skozontosidal, seperti
kedua : fenobarbital 100mg/kali sulfadoxine-pyrimethamine plus
- Anak : diazepam 0.3-0.5mg/kg/kali chloroquine (SP+CQ) atau
secara intravena atau per rektal amodiaquine (AP+AQ).
sebanyak 5 mg (berat badan <10kg) dan
10mg (berat badan >10kg) kejang Artemisin menghilangkan
belum teratasi setelah 2x pemberian parasitemia dan perbaikan gejala
fenitoin, loading dose 20mg/BB dalam klinis secara cepat dengan cara
NaCl 0.9%, berikan secara bolus mengurangi jumlah parasit 100-
intravena perlahan. Pemberian ini 1000kali per siklus aseksual
diikuti oleh dosis rumatan 4-
8mg/kg/hari (dbagi dalam 2 dosis) (jumlah parasit mencapai 10.000
per siklus aseksual 48 jam)
Tabel . Kombinasi Obat Tetap untuk Terapi Malaria
Lini Pertama (p. falciparum dan p. vivax, p. ovale)
Dihydroartemisin + piperaquine (DHA+PPQ) plus primakuin
Isi FDC 40mg dihydroartemisin dan 320mg piperaquin

Dosis
DHA 2-4mg/kg (3 hari)
PPQ 16-32mg/kg (3 hari)
Primakuin 0.75mg/kg (p. falci-parum) 14 hari
0.25mg/kg (p. vivax)
Artesunate + amodaquine (AS+AQ) plus primakuin
Isi FDC 25/67.5mg; 50/135mg; 100/270mg

Dosis
AS 4mg/kg/hari
AQ 10mg/kg/hari
Primakuin 0.75mg/kg (p. falcipa-rum)
0.25mg/kg (p. vivax)
Lini Kedua pada p. falciparum
Kina + doksisiklin
Dosis
Kina 3x10mg/kg/hari (7hari)
Doksisiklin 2x3.5mg/kg/hari pada anak 15tahun (7hari)
2x2.2mg/kg/hari pada anak usia 8-14 tahun (7hari)

Tetrasiklin + primakuin
Dosis
Tetrasiklin 4x4-5mg/kg
Primakuin 0.75mg/kg (14hari)
Lini Kedua untuk p. vivax dan p. ovale
Kina + primakuin
Dosis
Kina 3x10mg/kg/hari (7hari)
Primakuin 0.75mg/kg (14hari)
Malaria pada kehamilan Malaria Berat
3 prinsip pengobatan malaria berat (malaria
dengan komplikasi):
Terapi yang diberikan berdasar - Pengobatan obat anti malaria yang efektif
pada umur kehamilan dan - Penanganan komplikasi
tidak diberikan primakuin - Pengobatan simtomatik

Infeksi P. falciparum
Lini pertama : artesunat/artemeter intravena
- Trisemester 1 : kina 3x2tablet - Dosis artesunat : 2-4mg/kg secara intravena
plus klindamisin 2x300mg pada jam ke 0, 12, dan 24 jam lalu tiap 24 jam
sampai pasien dapat minum obat per oral.
selama 7 hari Pengobatan dilanjutkan dengan ACT lini
- Trisemester 2 dan 3 berikan pertama.
- Dosis artemeter : 1.6mg/kg intramuscular pada
ACT tablet selama 3 hari jam ke 0 dan 12. lalu tiap 24 jam sampai
Infeksi P. vivax pasien dapat minum obat peroral.
Alternatif : kina HCL
- Trisemester 1 : kina tablet Untuk ibu hamil :
selama 7 hari - Trisemester 1 : kina HCL secara drip dengan
dextrose 5-10%
- Trisemester 2 dan 3 : ACT - Trisemester 2 dan 3 : artemisin/artemeter
tablet selama 3 hari
Tabel . Dosis dan Cara Pemberian Kina
Jam Dosis
0 20mg/kg dalam dextrose 5% atau NaCl
0.9%
4 dextrose 5% atau NaCl 0.9%

8 10mg/kg (dosis rumatan) dalam


dextrose 5% atau NaCl 0.9%
12 dextrose 5% atau NaCl 0.9%

16 dan Berikan kina dosis rumatan berselingan


selanjutnya dengan Dextrose 5% atau NaCl sampai
dengan pasien dapat minum kina per
oral

Kina diberikan selama 7 hari


Dosis kina untuk anak : 10mg/kg, bayi <2bulan 6-8mg/kg dengan
cara pemberian yang sama dengan dewasa.
Pada penderita gagal ginjal dosis rumatan kina diturunkan 1/3 1/2
dari dosis yang seharusnya.
Pencegahan & Vaksinasi Malaria
Pencegahan :
- Tidur dengan kelambu yang telah dicelup pestisida
- Menggunakan obat pembunuh nyamuk (mosquito repellants)
- Proteksi diri saat keluar dari rumah (baju lengan panjang, kaus/stocking)
- Proteksi kamar atau ruangan menggunakan kawat anti nyamuk
- Kemoprofilaksis saat akan bepergian ke daerah endemis malaria.
* Daerah klorokuin sensitive, pada ibu hamil dan orang dengan
imunitas rendah : 2 tablet klorokuin (250mg) tiap minggu 1
sebelum berangkat dan 4 minggu setelah kembali.
* Daerah klorokuin resisten : doksisiklin 100mg/hari atau
meflokuin 250mg/minggu atau klorokuin 2 tablet/ minggu +
proguanil 200mg/hari
* Alternatif : primakuin 0.5mg/kg/hari
Vaksin malaria dalam tahap pengembangan
Definisi
Penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella
typhi atau Salmonella partatyphi

DEMAM TIFOID
Demam Tifoid

EPIDEMIOLOGI:
DEFINISI:
Masih endemis di
Demam tifoid: Indonesia.
ETIOLOGI:
penyakit sistemik yang
- Salmonellae
-genus dalam keluarga ditandai dengan FAKTOR RISIKO:
Enterobacteriaceae/ demam dan nyeri -Kondisi ekonomi
-anaerob fakultatif perut yang disebabkan -Higienis buruk
-tidak membentuk spora. karena penyebaran S. -Populas padat
-Sebagian besar motil typhi atau S. -Sanitasi dan sarana air
-Pertumbuhan S. typhi dan paratyphi.. bersih sulit didapat
S. Paratyphi terbatas pada -Pekerjaan (lab/ RS)
pejamu manusia, dan -Faktor imunitas
SKDI: KATEGORI 4A -Resistensi antibiotik
menyebabkan enteric
(typhoid) fever.

Sumber: Todar, Kenneth. Salmonella and Salmonellosis In: Todars online textbook of bacteriology.
cited from: http://textbookofbacteriology.net/salmonella.html (September, 12th 2013)
Plak Peyer

Patogenesis
Sumber: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M,
Setiati S. Demam Tifoid. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan IPD FKUI; 2006: 1774-77.
Sumber: Kuehnel, W. Color atlas of cytology, hystology and
microscopic anatomy. 4th ed. New York: Thieme Stuttgart;
2003. p. 272-338.
DIAGNOSIS
TANDA-TANDA KEHAMILAN
Pemeriksaan Penunjang:
- Darah perifer: anemia
leukopenia, limfositosis
Anamnesis : reaktif,, trombositopenia
-Gejala klinis bervariasi Pemeriksaan Fisik: - Kimia darah: peningkatan
(ringan sampai berat) 1. Kesadaran menurun, fungsi hati
-Demam naik bertahap delirium
- Pemeriksaan serologi:
mencapai suhu tertinggi 2. Bradikardia relatif
3. Lidah tifoid (coated Serologi widal (kenaikan
pada akhir minggu
tongue, hiperemis, titer S. typhi titer O 1:200
pertama, minggu kedua
demam terus tinggi tremor) atau kenaikan 4x fase akut
-Anak sering mengigau 4. Meteorismus ke fase konvalesens; kadar
(delirium), malaise, letargi, 5. Hepato/splenomegali IgM dan IgG (Typhi-dot)
-anoreksia, nyeri kepala, 6. Rose spots pada dinding - Pemeriksaan biakan
nyeri perut, diare atau abdomen
Salmonella: gold
konstipasi, muntah, perut
standard
kembung
- Pemeriksaan radiologi
(sesuai indikasi)
Klinis
Demam naik secara bertangga pada minggu pertama lalu demam menetap (kontinyu) atau
remiten pada minggu kedua. Demam terutama sore/malam hari, sakit kepala, nyeri otot,
anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare.
febris, kesadaran berkabut, bradikardia relatif (peningkatan suhu 1 C tidak diikuti peningkatan
denyut nadi 8x/menit), lidah yang berselaput (kotor di tengah, tepi dan ujung merah, serta
tremor), hepatomegali, splenomegali, nyeri abdomen, roseolae (jarang pada orang
Indonesia).
Lab: dapat ditemukan lekopeni, lekositosis, atau lekosit normal, aneosinofilia, limfopenia,
peningkatan LED, anemia ringan, trombositopenia, gangguan fungsi hati.
Kultur darah (biakan empedu) positif atau peningkatan titer uji Widal >4 kali lipat setelah satu
minggu memastikan diagnosis.
Kultur darah negatif tidak menyingkirkan diagnosis. Uji Widal tunggal dengan titer antibodi O
1/320 atau H 1/640 disertai gambaran klinis khas menyokong diagnosis.
Hepatitis tifosa bila memenuhi 3 atau lebih kriteria Khosla (1990): hepatomegali, ikterik,
kelainan laboratorium (antara lain: bilirubin >30,6 umol/l, peningkatan SGOT/SGPT,
penurunan indeks PT), kelainan histopatologi.
Tifoid karier: ditemukannya kuman Salmonella typhi dalam biakan feses atau urin pada
seseorang tanpa tanda klinis infeksi atau pada seseorang setelah 1 tahun pasca-demam tifoid.

Tata Laksana
Nonfarmakologis: tirah baring, makanan
lunak rendah serat Kasus toksik tifoid (demam tifoid disertai
Farmakologis: gangguan kesadaran dengan atau tanpa
Simtomatis kelainan neurologis lainnya dan hasil
Antimikroba: pemeriksaan cairan otak masih dalam
Pilihan utama: Kloramfenikol 4 x 500 mg batas normal) kombinasi kloramfenikol
sampai dengan 7 hari bebas demam.
Alternatif lain:
4 x 500 mg + ampisilin 4 x 1 gram +
Tiamfenikol 4 x 500 mg (komplikasi deksametason 3 x 5 mg.
hematologi lebih rendah dibandingkan
kloramfenikol) Steroid hanya pada toksik tifoid atau
Kotrimoksazol 2 x 2 tablet selama 2 demam tifoid dengan syok septik dengan
minggu
Ampisilin dan amoksisilin 50-150
dosis 3 x 5 mg
mg/kgBB selama 2 minggu Perhatian: Pada kehamilan
Sefalosporin generasi III; yang terbukti
efektif adalah seftriakson 3-4 gram dalam fluorokuinolon dan kotrimoksazol tidak
dekstrosa 100 cc selama jam per-infus boleh digunakan. Kloramfenikol tidak
sekali sehari, selama 3-5 hari
Fluorokuinolon (demam umumnya lisis dianjurkan pada trimester III.
pada hari III atau menjelang hari IV): Tiamfenikol tidak dianjurkan pada
Siprofloksasin 2 x 500 mg/hari selama 6
hari trimester I. Obat yang dianjurkan
Ofloksasin 2 x 400 mg/hari selama 7 hari golongan beta laktam: ampisilin,
amoksisilin, dan sefalosporin generasi III
(seftriakson)
Penyakit yang disebabkan cacing Filariidae, dibagi menjadi 3 berdasarkan
habitat cacing dewasa di hospes:
Kutaneus: Loa loa, Onchocerca volvulus, Mansonella streptocerca
Limfatik: Wuchereria bancroftii, Brugia malayi, Brugia timori
Kavitas tubuh: Mansonella perstans, Mansonella ozzardi

FILARIASIS
Filariasis limfatik Pemeriksaan penunjang:
Deteksi mikrofilaria di darah
Mikrofilaremia asimtomatik Deteksi mikrofilaria di kiluria dan cairan hidrokel
Gejala akut: Antibodi filaria, eosinofilia
Demam berulang ulang selama 3-5 Biopsi KGB
hari Pengobatan:
Adenolimfangitis akut: limfadenopati Tirah baring, elevasi tungkai, kompres
yang nyeri, limfangitis retrograde
Antihelmintik (ivermectin, DEC, albendazole)
tropical pulmonary eosinophilia Suportif
(batuk, mengi, anoreksia, malaise,
sesak) o Pengobatan massal dengan albendazole+ivermectin
(untuk endemik Onchocerca volvulus) atau
Limfedema, hidrokel ireversibel albendazole+DEC (untuk nonendemik Onchocerca
kronik dan kiluria volvulus) guna mencegah transmisi
Gejala menahun terjadi 10-15 tahun o Bedah (untuk kasus hidrokel/elefantiasis skrotal)
setelah serangan akut pertama. o Diet rendah lemak dalam kasus kiluria
Limfedema : Infeksi Wuchereria yang
bisa menimbulkan limfedema testis
(hidrokel)
Kiluria : Kencing seperti susu,
kebocoran sel limfe di ginjal, jarang
ditemukan
Grading limfedema (WHO, 1992):
Grade 1 - Pitting edema reversible
with limb elevation
Grade 2 - Nonpitting edema
irreversible with limb elevation
Grade 3 - Severe swelling with
sclerosis and skin changes
Cacing Tambang
Disebabkan Ancylostoma Telur cacing
duodenale & Necator
americanus
Gejala:
Pruritus lokal pada tempat
yang mengalami invasi
Nyeri abdomen, diare, muntah
Anemia defisiensi besi
Infeksi berat menyebabkan
pneumonitis (Loefflerlike
syndrome)
Tatalaksana
Antihelmint
ALbendazole 400 mg oral dosis
tunggal
Mebendazole 500 mg dosis
tunggal
Sulfat Fe 3x1 untuk anemia