Anda di halaman 1dari 2

BAB 1

PENDAHULUAN

Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan utama di masyarakat

yang sulit ditanggulangi khususnya di negara berkembang termasuk Indonesia

karena merupakan penyebab angka kesakitan dan kematian tertinggi pada

kelompok umur balita yaitu usia 1-4 tahun. Diare menyebabkan kematian tidak

kurang dari 1,5 juta anak setiap tahun di dunia dengan 17% kematian anak

disebabkan oleh diare terjadi di negara berkembang.1

Data World Health Organization tahun 2009, diare adalah penyebab

kematian kedua pada anak di bawah 5 tahun. Sebanyak 760.000 anak meninggal

setiap tahun karena diare. Secara global setiap tahunnya ada sekitar 1,7 miliar

kasus diare. Pada negara berkembang, anak-anak usia di bawah 3 tahun rata-rata

mengalami 3 episode diare per tahunnya. Hal ini sangat disayangkan mengingat

bahwa pengobatan diare sebenarnya tidak terlalu sulit.1

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013

insidensi diare pada semua kelompok umur di Indonesia adalah 3,5%. 2 Hasil Riset

Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007, prevalensi diare klinis adalah 9,0%

(rentang 4,2% - 18,9%), tertinggi di Provinsi Aceh (18,9%).3 Berdasarkan

karakteristik penduduk, kelompok umur balita adalah kelompok paling tinggi

menderita diare sebesar 6,7% karena anak mulai aktif bermain dan berisiko

terkena infeksi.3,4 Pada bayi dan balita khususnya kelompok usia 15-29 bulan diare

merupakan penyebab kematian utama.5 Menurut jenis kelamin prevalensi laki-laki

1
2

dan perempuan hampir sama, yaitu 8,9% pada laki-laki dan 9,1% pada

perempuan.3

Definisi diare adalah buang air besar (BAB) dengan frekuensi lebih dari 3

kali sehari dengan konsistensi tinja lembek atau cair. Diare akut didefinisikan

sebagai kejadian diare yang berlangsung selama 3-7 hari tetapi dapat pula hingga

14 hari. Diare dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri atau parasit. 6

Rendahnya cakupan hygene sanitasi dan perilaku yang rendah sering menjadi

faktor risiko terjadinya diare. Prevalensi diare paling tinggi terjadi pada anak yang

tinggal di rumah tanpa akses air bersih.3

Pengenalan dini kasus diare pada anak diharapkan dapat diketahui oleh

masyarakat dan harus dikuasai oleh seorang petugas kesehatan. Mengetahui tanda

dan gejala dehidrasi serta mencari etiologi penyebab diare dapat membantu dalam

tatalaksana diare yang tepat. Secara umum penanganan diare ditujukan untuk

mencegah dan menanggulangi dehidrasi serta gangguan keseimbangan elektrolit

dan asam basa. Pengetahuan petugas kesehatan tentang pengobatan diare yang

benar masih rendah sehingga tatalaksana diare sesuai standar di Puskesmas juga

masih kurang. Terdapat hubungan antara pengobatan diare dengan pendidikan ibu

dan status ekonomi rumah tangga. Semakin tinggi pendidikan ibu dan semakin

tinggi tingkat ekonomi rumah tangga, maka semakin tinggi persentase anak yang

diare yang mendapat perawatan dari tenaga kesehatan dibanding anak lainnya,

sehingga dibutuhkan kerjasama dan edukasi yang tepat untuk menanggulanginya.3