Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KUNJUNGAN RUMAH

SEORANG ANAK DENGAN BERSIN BERSIN

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat


Dalam menempuh Kepaniteraan Klinik
Ilmu Kesehatan Masyarakat

DisusunOleh:
Arifi (030.10.039)
FyrnazKautharifa (030.10.111)
JeffrieIrtan (030.10.140)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


PERIODE 25 MEI 2015 1 AGUSTUS 2015
PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Rinitis alergi merupakan penyakit imunologi yang sering ditemukan. Berdasarkan studi
epidemiologi, prevalensi rinitis alergi diperkirakan berkisar antara 10-20% dan secara
konstan meningkat dalam dekade terakhir. Definisi menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis
and its impact on Asthma) tahun 2001, rinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan
gejala bersin-bersin, keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak, rasa gatal dan tersumbat
setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh Ig E. Usia rata-rata onset
rinitis alergi adalah 8-11 tahun, dan 80% rinitis alergi berkembang dengan usia 20 tahun.
Biasanya rinitis alergi timbul pada usia muda (remaja dan dewasa muda). Dalam suatu
penelitian di Medan, dari 31 penderita rinitis alergi, ditemukan perempuan lebih banyak
daripada laki-laki dengan perbandingan 1.58 : 1. Keluarga atopi mempunyai prevalensi lebih
besar daripada nonatopi. Apabila kedua orang tua atopi, maka risiko atopi menjadi 4 kali
lebih besar atau mencapai 50%. Rinitis alergi dan atopi secara umum disebabkan oleh
interaksi dari pasien yang secara genetik memiliki potensi alergi dengan lingkungan. Genetik
secara jelas memiliki peran penting. Peran lingkungan rinitis alergi yaitu alergen, yang
terdapat di seluruh lingkungan, terpapar dan merangsang respon imun yang secara genetik
telah memiliki kecenderungan alergi. Pemeriksaan rutin yang dilakukan untuk mendiagnosis
rinitis alergi meliputi anamnesis, pemeriksaan THT dengan/tanpa naso-endososkopi, dan tes
alergi. Pada anamnesis perlu ditanyakan gejala-gejala spesifik yang mengganggu pasien
(seperti hidung tersumbat, gatal-gatal pada hidung, rinore, bersin), pola gejala (hilang
timbul, menetap) beserta onset dan keparahannya, identifikasi faktor predisposisi, kondisi
lingkungan dan pekerjaan. Rinitis alergi berdampak pada penurunan kualitas hidup
penderitanya, penurunan produktifitas kerja, prestasi di sekolah, aktifitas sosial dan malah
dapat menyebabkan gangguan psikologis seperti depresi. Total biaya langsung dan tidak
langsung rinitis alergi baru-baru ini diperkirakan menjadi $5,3 milyar per tahun. Dalam
sebuah penelitian retrospektif terhadap 12.946 orang pasien berumur 5-62 tahun yang datang
ke poliklinik sub bagian Alergi Imunologi bagian THT FKUI/RSCM selama tahun 1992,
ditemui penderita rinitis alergi sejumlah 147 orang, atau berkisar 1,14%. Gejala yang paling
banyak adalah bersinbersin/gatal hidung (89,80%), rinore (87,07%) dan obstruksi hidung
(76,19%). Kelompok umur 1-10 tahun berjumlah paling sedikit (3,40%) kemudian
meningkat dengan bertambahnya umur, dan selanjutnya menurun setelah berumur 40 tahun,
dengan frekuensi terbanyak pada kelompok umur 21-30 tahun (37,41%). Prevalensi rinitis
alergi di Amerika Utara sekitar 10-20%, di Eropa sekitar 10-15%, di Thailand sekitar 20%,
di Jepang sekitar 10% dan 25% di New Zealand. Insidensi dan prevalensi rinitis alergi di
Indonesia belum diketahui dengan pasti. pada penelitian di suatu daerah di Jakarta
mendapatkan prevalensi sebesar 23,47%, di Bandung memperoleh insidensi sebesar 1,5%,.
Berdasarkan survei dari ISSAC (International Study of Asthma and Allergies in Childhood),
pada siswa SMP umur 13-14 tahun di Semarang tahun 2001-2002, prevalensi rinitis alergi
sebesar 18%.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas maka rumusan masalah
dalam penulisan ini adalah; mengetahui hasil family folder pada salah satu keluarga pada
Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur

1.3 Tujuan
1.3.1.Tujuan Umum
Untuk mengetahui, menganalisa dan mendeskripsikan hasil family folder pada salah satu
keluarga di Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur.
1.3.2.Tujuan Khusus
Yang menjadi tujuan khusus dalam family folder ini adalah
i. Untuk mengetahui faktor resiko yang terdapat pada keluarga.
ii. Untuk mengetahui biologis, psikologis dan sosial keluarga.
iii. Untuk memberikan intervensi yang bisa diterapkan oleh keluarga.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Puskesmas
Manfaat bagi Puskesmas yaitu dapat membantu Puskesmas dalam memberikan alternatif
penyesaian terhadap masalah tersebut. dengan kegiatan ini dapat membantu Puskesmas dalam
meningkatkan pelayanan kesehatan dalam rangka meningkatkan upaya kesehatan perorangan.

1.4.2 Bagi Pasien dan Keluarga Pasien


Pasien dan keluarga dapat mengetahui penyakit yang dideritanya berserta penanganannya
sehingga pasien dan keluarga mengerti dan menerapkan masukan yang telah diberikan untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga pasien.

1.4.3 Bagi Mahasiswa


Manfaat family folder ini bagi mahasiswa yaitu sebagai syarat untuk mengikuti ujian
kepanitraan klinik Ilmu Kesahatan Masyarakat. Selain itu juga dapat melatih kemampuan
menganalisis dan pemecahan terhadap masalah yang ditemukan pada pasien dan keluarga pasien.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Rinitis alergi secara klinis didefinisikan sebagai gangguan fungsi hidung yang terjadi
setelah paparan alergen melalui inflamasi yang diperantarai IgE pada mukosahidung.

2.2 Epidemiologi
Rinitis adalah masalah klinis yang paling umum terjadi pada pasien dengan alergi. Rinitis
secara konsisten berada pada urutan enam penyakit kronis utama di Amerika Serikat. Morbiditas
dari rinitis menyebabkan kualitas hidup yang menurundi karenakan sakit kepala, mudah lelah,
gangguan kognisi, dan efek samping obatobatan. Rinitis alergi dapat menurunkan kualitas
hidup, antara lain fungsi fisik,problem bekerja, nyeri badan, vitalitas, fungsi sosial,
stabilitas emosi, bahkan kesehatan mental.

2.3 Prevalensi
Rinitis alergi telah menjadi masalah kesehatan global yang ditemukan diseluruh
dunia, sedikitnya terdapat 10-25 % populasi dengan prevalensi yang semakin meningkat
sehingga berdampak pada kehidupan sosial, kenerja di sekolah serta produktivitas kerja.
Diperkirakan biaya yang dihabiskan baik secara langsung maupun tidak langsung akibat rinitis
alergi ini sekitar 5,3 miliar dolar amerika pertahun. Di Amerika Serikat diperkirakan sekitar 40
juta orang menderita rinitis alergi atau sekitar 20% dari populasi. Secara akumulatif prevalensi
rinitis alergi sekitar 15%pada laki-laki dan 14% pada wanita, bervariasi pada tiap negara.
Ini mungkin diakibatkan karena perbedaan geografik, tipe dan potensi alergen.Rinitis alergi
dapat terjadi pada semua ras, prevalensinya berbeda-beda tergantung perbedaan genetik,
faktor geografi, lingkungan serta jumlah populasi. Dalam hubungannya dengan jenis kelamin,
jika rinitis alergi terjadi pada masa kanak kanak maka laki-laki lebih tinggi daripada wanita
namun pada masa dewasa prevalensinya sama antara laki-laki dan wanita. Dilihat dari segi
onset rinitis alergi umumnya terjadi pada masa kanak-kanak, remaja dan dewasa muda.
Dilaporkan bahwa rinitis alergi 40% terjadi pada masa kanak-kanak. Pada laki-laki terjadi antara
onset 8-11 tahun, namun demikian rinitis alergi dapat terjadi pada semua umur.
2.4 Etiologi
Rinitis alergi melibatkan interaksi antara lingkungan dengan predisposisigenetik
dalam perkembangan penyakitnya. Faktor genetik dan herediter sangatberperan pada
ekspresi rinitis alergi.Penyebab rinitis alergi tersering adalah alergen inhalan pada dewasa
dan ingestan pada anak-anak. Pada anak-anak sering disertai gejala alergi lain, sepertiurtikaria
dan gangguan pencernaan. Penyebab rinitis alergi dapat berbeda tergantung dari klasifikasi.
Beberapa pasien sensitif terhadap beberapa alergen. Alergen yang menyebabkan rinitis alergi
musiman biasanya berupa serbuk sari atau jamur. Rinitis alergi perenial (sepanjang tahun)
diantaranya debu tungau, terdapat dua spesies utama tungau yaitu Dermatophagoides
farinae dan Dermatophagoides pteronyssinus, jamur, binatang peliharaan seperti kecoa dan
binatang pengerat.. Faktor resiko untuk terpaparnya debu tungau biasanya karpet serta sprai
tempat tidur, suhu yang tinggi, dan factor kelembaban udara. Kelembaban yang tinggi
merupakan faktor resiko untuk untuk tumbuhnya jamur. Riwayat hobi berkebun/rekreasi ke
pegunungan membantu identifikasi untuk terpaparnya serbuk sari. Berbagai pemicu yang bisa
berperan dan memperberat adalah beberapa factor nonspesifik diantaranya asap rokok, polusi
udara, bau aroma yang kuat atau merangsang, perubahan cuaca, dan kelembaban yang tinggi.

2.5 Klasifikasi
Rinitis alergi sebelumnya dibagi berdasarkan waktu pajanan menjadi rhinitis alergi
musiman (seasonal), sepanjang tahun (perenial) dan akibat kerja (occasional). Rinitis alergi
musiman hanya ada di negara yang memiliki empat musim. Alergen penyebabnya spesifik, yaitu
tepungsari dan spora jamur. Gejala ketiganya hamper sama, hanya sifat berlangsungnya yang
berbeda. Gejala rinitis alergi sepanjang tahun timbul terus menerus atau intermiten. Namun
sekarang klasifikasi rinitis alergi menggunakan parameter gejala dan kualitas hidup, berdasarkan
lamanya dibagi menjadi intermiten dengan gejala 4 hariperminggu atau 4 minggu dan
persisten dengan gejala >4 hari perminggu dan >4minggu. Berdasarkan beratnya penyakit dibagi
dalam ringan dan sedang-berat tergantung dari gejala dan kualitas hidup. Dikatakan ringan yaitu
tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktivitas harian, bersantai, olah raga, belajar, bekerja
dan lain-lain yang mengganggu. Dikatakan sedang-berat jika terdapat satu atau lebih gangguan
tersebut di atas.
Intermiten Persisten
Gejala Gejala
4 hari per minggu > 4 hari per minggu
atau 4 minggu dan > 4 minggu

Ringan Sedang-Berat
Satu atau lebih gejala
tidur normal tidur terganggu
aktivitas sehari-hari, saat olah raga dan santai aktivitas sehari-hari, saat olah raga dan santai
normal terganggu
bekerja dan sekolah normal masalah dalam sekolah dan bekerja
tidak ada keluhan yang mengganggu ada keluhan yang mengganggu

2.6 Patofisiologi
Awal terjadinya reaksi alergi dimulai dengan respon pengenalan alergen/antigen oleh
sel darah putih yang dinamai sel makrofag, monosit dan atau sel dendrit. Sel-sel tersebut
berperan sebagai sel penyaji ( antigen presenting cell/sel APC), dan berada di mukosa
saluran pernafasan. Antigen yang menempel pada permukaan mukosa tersebut ditangkap
oleh sel-sel APC, kemudian dari antigen terbentuk fragmen peptida imunogenik. Fragmen
pendek peptida ini bergabung dengan MHC-II yang berada pada permukaan sel APC. Komplek
peptida-MHC-II ini akan dipresentasikan ke limfosit T yang diberi nama Helper-T cells (TH0).
Apabila sel TH0 memiliki reseptor spesifik terhadap molekul komplek peptida-MHC-II tersebut,
maka akan terjadi penggabungan kedua molekul tesebut. Sel APC akan melepas sitokin yang
salah satunya adalah IL-1. IL-1 akan mengaktivasi TH0 menjadi TH1 dan TH2. Sel TH2
melepas sitokin antara lain IL-3, IL-4, 3IL-5 dan IL-13. IL-4 dan IL-13 akan ditangkap
resptornya pada permukaan limfosit-B, akibatnya akan terjadi aktivasi limfosit-B. Limfosit-B
aktif ini memproduksi IgE. Molekul IgE beredar dalam sirkulasi darah akan memasuki
jaringan dan ditangkap eleh reseptor IgE pada permukaan sel mastosit atau sel basofil. Maka
akan terjadi degranulasi sel mastosit dengan akibat terlepasnya mediator alergis.Mediator yang
terlepas terutama histamin. Histamin menyebabkan kelenjar mukosa dan goblet mengalami
hipersekresi, sehingga hidung beringus. Efek lainnya berupa gatal hidung, bersin-bersin,
vasodilatasi dan penurunan permeabilitas pembuluh darah dengan akibat pembengkakan
mukosa sehingga terjadi gejala sumbatan hidung. Reaksi alergi yang segera terjadi akibat
histamin tersebut dinamakan reaksi alergi fase cepat (RAFC), yang mencapai puncaknya pada
15-20 menit pasca paparan alergen dan berakhir pada sekitar 60 menit kemudian. Sepanjang
RAFC mastosit juga melepas molekul-molekul kemotaktik yang terdiri dari ECFA (eosinophil
chemotactic factor of anaphylatic) dan NCEA (neutrophil chemotactic factor of
anaphylatic). Kedua molekul tersebut menyebabkan penumpukkan sel eosinofil dan neutrofil di
organ sasaran. Reaksi alergi fase cepat ini dapat berlanjut terus sebagai reaksi alergi fase lambat
(RAFL) sampai 24 bahkan 48 jam kemudian. Tanda khas RAFL adalah terlihatnya
pertambahan jenis dan jumlah sel-sel inflamasi yangberakumulasi di jaringan sasaran
dengan puncak akumulasi antara 4-8 jam. Sel yang paling konstan bertambah banyak
jumlahnya dalam mukosa hidung dan menunjukkan korelasi dengan tingkat beratnya gejala
pasca paparan adalah eosinofil.

2.7 Penilaian Klinis


Diagnosis rinitis alergi ditegakkan berdasarkan:
2.7.1. Anamnesis
Anamnesis sangat penting karena seringkali serangan tidak terjadi dihadapan pemeriksa.
Diagnosis rinitis alergi ditegakkan dari anamnesis dengan adanya trias gejala yaitu beringus
(rinorea), bersin dan sumbatan hidung, ditambah gatal hidung. Perlu diperhatikan juga gejala
alergi di luar hidung (asma, dermatitis atopi, injeksi konjungtiva, dan lain sebagainya).

2.7.2. Pemeriksaan fisik


Pemeriksaan fisik untuk rinitis alergi berfokus pada hidung, tetapi pemeriksaan wajah,
mata, telinga, leher, paru-paru, dan kulit juga penting.
a. Wajah
- Allergic shiners yaitu dark circles di sekitar mata dan berhubungan dengan vasodilatasi atau
obstruksi hidung
- Nasal crease yaitu lipatan horizontal (horizontal crease) yang melalui setengah bagian bawah
hidung akibat kebiasaan menggosok hidung keatas dengan tangan.

b. Hidung
- Pada pemeriksaan hidung digunakan nasal speculum atau bagi spesialis dapat menggunakan
rhinolaringoskopi
- Pada rinoskopi akan tampak mukosa edema, basah, berwarna pucat, disertai adanya sekret
encer yang banyak.
- Tentukan karakteristik dan kuantitas mukus hidung. Pada rinitis alergi mukus encer dan tipis.
Jika kental dan purulen biasanya berhubungan dengan sinusitis. Namun, mukus yang kental,
purulen dan berwarna dapat timbul pada rinitis alergi.
- Periksa septum nasi untuk melihat adanya deviasi atau perforasi septum yang dapat disebabkan
oleh rinitis alergi kronis, penyakit granulomatus.
- Periksa rongga hidung untuk melihat adanya massa seperti polip dan tumor. Polip berupa massa
yang berwarna abu-abu dengan tangkai. Dengan dekongestant topikal polip tidak akan menyusut.
Sedangkan mukosa hidung akan menyusut.

c. Telinga, mata dan orofaring


- Dengan otoskopi perhatikan adanya retraksi membran timpani, airfluid level, atau bubbles.
Kelainan mobilitas dari membran timpani dapat dilihat dengan menggunakan otoskopi
pneumatik. Kelaianan tersebut dapat terjadi pada rinitis alergi yang disertai dengan disfungsi
tuba eustachius dan otitis media sekunder.
- Pada pemeriksaan mata
- Akan ditemukan injeksi dan pembengkakkan konjungtiva palpebral
yang disertai dengan produksi air mata.
d. Leher. Perhatikan adanya limfadenopati

e. Paru-paru. Perhatikan adanya tanda-tanda asma

f. Kulit. Kemungkinaan adanya dermatitis atopi.

2.7.3. Pemeriksaan sitologi hidung.


Tidak dapat memastikan diagnosis pasti, tetap berguna sebagai pemeriksaan pelengkap.
Ditemukan eosinofil dalam jumlah banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalen. Jika
basofil mungkin disebabkan alergi makanan, sedangkan jika ditemukan PMN menunjukkan
adanya infeksi bakteri.

2.7.4. Hitung eosinofil dalam darah tepi.


Jumlah eosinofil dapat meningkat atau normal. Begitu juga dengan pemeriksaan IgE total
seringkali menunjukkan nilai normal, Kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu
penyakit, misalnya selain rinitis alergi juga menderita asma bronkial atau urtikaria.

2.7.5. Uji kulit.


Uji kulit alergen penyebab dapat dicari secara invivo. Ada beberapa cara, yaitu uji
intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End-point Titration/SET), uji
cukit (Prick Test), dan uji gores (Scratch Test). Kedalaman kulit yang dicapai pada kedua uji
kulit (uji cukit dan uji gores) sama. SET dilakukan untuk alergen inhalan dengan menyuntikkan
alergen dalam berbagai konsentrasi yang bertingkat kepekaannya. Keuntungan SET, selain
alergen penyebab, juga derajat alergi serta dosis inisial untuk desensitisasi dapat diketahui.

2.7.6. Tes penunjang lainnya


Yang lebih bermakna namun tidak selalu dikerjakan adalah tes IgE spesifik dengan
RAST (Radio Immunosorbent test) atau ELISA (Enzyme linked immune assay). IgE total >
200 IgE RAST untuk alergen alergen dengan tingkat skor 1+ s/d 4+.

2.8 Ko-Morbiditas
Inflamasi alergi tidak terbatas hanya pada rongga hidung. Berbagai komorbiditas telah
diketahui berhubungan dengan rinitis.
2.8.1. Asma
-Mukosa nasal dan bronkus mempunyai banyak kesamaan
-Banyak penderita rinitis rinitis alergi mengalami peningkatan hipereaktivitas bronkus yang non-
spesifi
-Banyak penderita rinitis juga menderita asma
-Saluran nafas atas dan bawah diduga diepngaruhi oleh suatu proses inflamasi yang serupa yang
mungkin dapat menetap dan diperberat oleh mekanisme yang saling berhubungan ini.
-Penyakit alergi dapat bersifat sistemik.Provokasi bronchial menyebabkan inflamasi nasal dan
provokasi nasal menyebabkan inflamasi bronkial.
2.8.2. Sinusitis dan konjungtivitis
2.8.3. Hubungan antara rinitis alergi, polip nasal dan otitis media belum dipahami dengan baik.

2.9 Penatalaksanaan
Menurut ARIA penatalaksanaan rinitis alergi meliputi :
a. Penghindaran alergen.
Merupakan terapi yang paling ideal. Cara pengobatan ini bertujuan untuk mencegah
kontak antara alergen dengan IgE spesifik dapat dihindari sehingga degranulasi sel mastosit tidak
berlangsung dan gejalapun dapat dihindari. Namun, dalam praktek adalah sangat sulit mencegah
kontak dengan alergen tersebut. Masih banyak data yang diperlukan untuk mengetahui
pentingnya peranan penghindaran alergen.
b. Pengobatan medikamentosa
Cara penngobatan ini merupakan konsep untuk mencegah dan atau menetralisasi kinerja
molekul-molekul mediator yang dilepas sel-sel inflamasi alergis dan atau mencegah pecahnya
dinding sel dengan harapan gejala dapat dihilangkan. Obat-obat yang digunakan untuk rinitis
pada umumnya diberikan intranasal atau oral. Antihistamin yang dipakai adalah antagonis
histamin H-1, yang bekerja secara inhibitor kompetitif pada reseptor H-1 sel target, dan
merupakan preparat farmakologik yang paling sering dipakai sebagai lini pertama pengobatan
rhinitis alergi. Antihistamin diabsorbsi secara oral dengan cepat dan mudah serta efektif untuk
mengatasi gejala pada respons fase cepat seperti rinore, bersin, gatal, tetapi tidak efektif untuk
mengatasi obstruksi hidung pada fase lambat. Preparat simpatomimetik golongan agonis
adrenergik alfa dipakai sebagai dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasi denfgan
antihistamin atau topikal. Namun pemakaian secara topiukal hanya boleh untuk beberapa hari
saja untuk menghindari terjadinya rinitis alergi medikamentosa. Preparat kortikosteroid dipilih
bila gejala sumbatan hidung akibat respons fase lambat tidak dapat diatasi dengan obat lain.
Kortikosteroid topikal bekerja untuk mengurangi jumlah sel mastosit pada mukosa hidung,
mencegah pengeluaran protein sitotoksik dari eosinofil, mengurangi aktifitas limfosit. Preparat
antikolinergik topikal bermanfaat untuk mengatasi rinore, karena aktifitas inhibisi reseptor
kolinergik pada permukaan sel efektor. Pengobatan baru lainnya untuk rinitis alergi di masa yang
akan datang adalah anti leukotrien, anti IgE, DNA rekombinan. Obat-obat tidak memiliki efek
jangka panjang setelah dihentikan. Karenanya pada penyakit yang persisten, diperlukan terapi
pemeliharaan.
c. Imunoterapi spesifik
Imunoterapi spesifik efektif jika diberikan secara optimal. Imunoterapi subkutan masih
menimbulkan pertentangan dalam efektifitas dan keamanan. Oleh karena itu, dianjurkan
penggunaan dosis optimal vaksin yang diberi label dalam unit biologis atau dalam ukuran masa
dari alergen utama. Dosis optimal untuk sebagian besar alergen utama adalah 5 sampai 20 g.
Imunoterapi subkutan harus dilakukan oleh tenaga terlatih dan penderita harus dipantau selama
20 menit setelah pemberian subkutan.
Indikasi imunoterapi spesifik subkutan
- Penderita yang tidak terkontrol baik dengan farmakoterapi konvensional
-Penderita yang gejala-gejalanya tidak dapat dikontrol baik dengan antihistamin H1 dan
farmakoterapi
- Prnderita yang tidak menginginkan farmakoterapi
- Penderita dengan farmakoterapi yang menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan
- Penderita yang tidak ingin menerima terapi farmakologis jangka panjang.
- Dapat digunakan dengan dosis sekurang-kurangnya 50-100 kali lebih besar dari pada yang
digunakan untuk imunoterapi subkutan.
- Pada penderita yang mempunyai efek samping atau menolak imunoterapi subkutan
- Indikasinya mengikuti indikasi dari suntikan subsukatan Pada anak-anak, imunoterapi spesifik
adalah efektif. Namun tidak direkomendasikan untuk melakukan imunoterapi pada anak dibawah
umur 5 tahun.
d. Imunoterapi non-spesifik
Imunoterapi non-spesifik menggunakan steroid topikal. Hasil akhir sama seperti
pengobatan imunoterapi spesifik-alergen konvensional yaitu samasama mampu menekan reaksi
inflamasi, namun ditinjau dari aspek biomolekuler terdapat mekanisme yang sangat berbeda.
Glukokortikosteroid (GCSs) berikatan dengan reseptor GCS yang berada di dalam sitoplasma
sel, kemudian menembus membran inti sel dan mempengaruhi DNA sehingga tidak membentuk
mRNA. Akibat selanjutnya menghambat produksi sitokin pro-inflammatory.
e. Edukasi
Pemeliharaan dan peningkatan kebugaran jasmani telah diketahui berkhasiat dalam
menurunkan gejala alergis. Mekanisme biomolekulernya terajadi pada peningkatan populasi
limfosit TH yang berguna pada penghambatan reaksi alergis, serta melalui mekanisme
imunopsikoneurologis.
f. Operatif
Tindakan bedah dilakukan sebagai tindakan tambahan pada beberapa penderita yang
sangat selektif. Seperti tindakan konkotomi (pemotongan konka inferior) perlu dipikirkan bila
konka inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan cara kauterisasi memakai
AgNO3 25 % atau triklor asetat.

2.10 Komplikasi
Komplikasi rinitis alergi yang sering ialah :
1. Polip hidung
Beberapa peneliti mendapatkan, bahwa alergi hidung merupakan salah satu faktor
penyebab terbentuknya polip hidung dan kekambuhan polip hidung. Polip hidung biasanya
tumbuh di meatus medius dan merupakan manifestasi utama akibat proses inflamasi kronis yang
menimbulkan sumbatan sekitar ostia sinus di meatus medius. Polip memiliki tanda patognomonis
: inspisited mucous glands, akumulasi sel-sel inflamasi yang luar biasa banyaknya (lebih
eosinofil dan limfosit T CD4+), hiperplasia epitel, hiperplasia goblet, dan metaplasia skuamosa.
Ditemukan juga mRNA untuk GM-CSF, TNF-alfa, IL-4 dan IL-5 yang berperan meningkatkan
reaksi alergis.
2. Otitis media yang sering residif, terutama pada anak-anak
3. Sinusitis paranasal
Merupakan inflamasi mukosa satu atau lebih sinus para nasal. Terjadi akibat edema ostia
sinus oleh proses alergis dalam mukosa. Edema mukosa ostia menyebabkan sumbatan ostia.
Penyumbatan tersebut akan menyebabkan penimbunan mukus sehingga terjadi penurunan
oksigenasi dan tekanan udara rongga sinus. Hal tersebut akan menyuburkan pertumbuhan bakteri
terutama bakteri anaerob. Selain dari itu, proses alergi akan menyebabkan rusaknya fungsi barier
epitel antara lain akibat dekstruksi mukosa oleh mediatormediator protein basa yang dilepas sel
eosinofil (MBP) dengan akibat sinusitis akan semakin parah. Pengobatan komplikasi rinits alergi
harus ditujukan untuk menghilangkan obstruksi ostia sinus dan tuba eustachius, serta
menetralisasi atau menghentikan reaksi humoral maupun seluler yang terjadi lebih meningkat.
Untuk tujuan ini maka pengobatan rasionalnya adalah pemberian antihistamin, dekongestan,
antiinflamasi, antibiotia adekuat, imunoterapi dan bila perlu operatif

BAB III
METODE

3.1 Desain
Desain family folder yang digunakan adalah wawancara, observasi dan konseling

3.2 Lokasi dan waktu penelitian


3.2.1 Lokasi
Family folder dilakukan dirumah pasien yaitu Komplek Polri Ragunan Jalan R No. 27
RT/RW 010/06 Kelurahan Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan

3.2.2Waktu
Family folder dilakukan pada bulan Juli 2015

3.3 Cara Pengumpulan Data


Pengumpulan data diperoleh dengan cara primer, yaitu mendapat data langsung dari
responden melalui wawancara dan observasi secara langsung.

4.5 Instrumen Penelitian


Instrumen penelitian yang digunakan adalah stetoscope, tensimeter, buku, alat tulis, penlight